FF oneshot/ YOU’RE THE BEST FOR ME LEE JINKI/ F(X)-SHINee


punya nai

Tittle : “You’re the best for me Lee Jinki”
Author : Deja Vu
Main Cast : Krystal f(x) , Onew (SHINee)
Other Cast : Sulli f(x), Minho (SHINee)
Genre : Romance, Sad, Comedy
Length : Oneshot

KRYSTAL POV

“Eomma, aku berangkat.” Kataku sambil menalikan tali sepatuku. Cepat-cepat aku menaiki sepedaku dan berangkat sekolah. Aku tahu hari ini aku pasti terlambat lagi.
“Hey…. sarapan dulu,” teriak Eomma ku. Aku hanya mengangkat tanganku dan terus mengayuh sepedaku menjauh.

AUTHOR POV

Gadis itu terus mengayuh sepedanya dengan sangat cepat di tengah indahnya persawahan. Sekolahnya cukup jauh dari rumahnya, tapi tidak ada pilihan lain bagi dia yang hanya seorang gadis biasa yang tinggal di pedesaan, karena itu merupakan satu-satunya sekolah setingkat SMA di desanya.
Sesampainya di sekolah…
dig..dug..dig..dug suara kaki Krystal yang mengendap memasuki kelas lewat pintu belakang.
“Hai Krystal kau mau kemana?” guru itu membalikkan badannya dari papan dan melihat Krystal yang celingukan.
“Emm.. A..A..Annyeonghaseo Soensaengnim.” Katanya menunduk sambil memegang lehernya dan tersenyum menggoda.
“Sekarang apalagi alasanmu, Haa?” bentak Soensaengnim
“Aku, aku ketiduran.” Jawabnya polos, setelah matanya melebar ketika mendengar bentakan gurunya.
“Aish, kau ini. Kapan kau akan berubah? Sudah duduklah, hari ini aku malas memarahimu, kondisiku sedang tidak baik.”
Krystal pun kemudian duduk dengan perasaan menang.

————-

Ketika jam pelajaran sudah berjalan 30 menit tiba-tiba ada seseorang yang mengetok pintu kelas. Terlihat ada seorang guru bersama murid laki-laki disampingnya masuk ke dalam kelas. Guru itu pun pergi meninggalkan laki-laki itu di depan kelas.
“Anak-anak dia adalah murid baru disini. Mulai sekarang dia akan menjadi teman baru kalian.” Jelas Soensaengnim
“huuuuu…huuuuuu…” teriak semua siswa

“Diam semua, ayo perkenalkan dirimu.”
“Annyeonghaseo, joneun Lee Jinki imnida.”
Semua anak-anak tak memperhatikannya, mereka sibuk dengan kegiatan mereka masing-masing.
“Krystal lihatlah dia. Dia sangat jelek, lihatlah rambutnya Aigoo dia pasti dari keluarga tidak mampu. Kelihatannya dia tidak berbakat.” Komentar Sulli, teman akrab Krystal.
“Hey kau ini jangan berkata begitu. Tapii.. kalau dilihat-lihat iya juga sih dia memang jelek.” Tambah Krystal sambil melihat Jinki yang masih di depan kelas dengan bibir diangkat sebelah.
Soensaengnim pun menyuruh Jinki duduk di samping Krystal. Semua murid memperhatikan Jinki yang jalan mendekati tempat duduknya. Jinki hanya fokus ke depan tanpa memperdulikan semua. Krystal pun demikian, dia sama sekali tidak tertarik dengan orang itu.
Saat pulang sekolah tiba. Semua murid membereskan barang-barangnya, tak terkecuali Jinki

KRYSTAL POV

“Hai, mau ku antar pulang?” suara itu. Suara itu lagi-lagi terdengar ditelingaku hampir setiap hari saat pulang sekolah. Suara menjijikkan dari Choi Minho, orang yang selalu mengejarku meskipun sudah kutolak ratusan kali.
“Sudah berapa kali ku bilang, aku naik sepeda setiap hari. Jadi kau tak usah repot-repot mengantarku pulang.” Kataku jutek meninggalkannya.
“Eitz, naik mobil denganku lebih enak, panas-panas gini apa kau tak takut hitam?” Minho menghadangku dan mulai menggodaku.
“Ani, aku lebih takut duduk denganmu daripada menjadi hitam -_-“ Jawabku ketus, lantas meninggalkannya.
Aku berjalan keluar kelas meninggalkan Minho yang terlihat sebal. Tapi aku merasa aneh, aku menoleh kebelakang dan ku tengok Jinki yang sedang membereskan bukunya. Kenapa aku merasa dari tadi dia memperhatikanku, tapi ah tidak mungkin dia kan tidak mengenalku, lagi pula apa yang diketahui cowok culun itu.”

—————

KRYSTAL POV

“Kya >< kenapa nilaiku menurun? Aishh padahal aku sudah belajar keras L “ ku lihat hasil ulanganku, sungguh tidak diharapkan. Ku tengok nilai Jinki yang ada disampingku. Nol, ya nilai yang sudah kuduga, setiap kali ulangan dia pasti mendapat nilai itu. Tapi satu hal yang membuatku heran, kenapa dia selalu diam saja tanpa ekspresi setiap kali melihat nilainya yang seperti telur itu? Karena penasaran aku pun bertanya kepadanya,
“Hey, dapat nol lagi?” tanyaku mencoba basa-basi
“Emm.” Jawabnya tanpa menoleh kepadaku. Aigoo orang ini sombong sekali, bahkan membuka mulutnya saja ia enggan.
“Aku bukannya ingin mengejekmu, tapi berusahalah lebih giat lagi Jinki-a. Kau ini jelek dan itu tidak bisa dirubah, jadi pintarlah sedikit supaya jelekmu sedikit tertutupi, ok?” aku pun menepuk pundaknya memberi semangat.
Dia melirik kepadaku lalu melihat bukunya kembali. Aku terkejut melihatnya, lalu aku meletakkan bibirku lebih dekat dengan telinganya dan bertanya sesuatu padanya.
“Hai Jinki-a apakah kau menyukaiku?” akupun menjauhkan bibirku setelah mengatakan itu karena dia menoleh kaget kepadaku.
“Kenapa kau berpikir begitu?” akhirnya dia membuka mulutnya.
“Karena kau selalu memperhatikanku selama ini,” aku agak ragu mengatakannya. Apakah aku berkata dengan benar? Apakah selama ini hanya perasaanku saja? Diapun sedikit memiringkan kepalanya dan mengangkat sedikit alisnya yang bertanda bahwa dia memang tidak tahu apa-apa. Dasar otak udang, apa yang barusan kau katakan Krystal. Kau mempermalukan dirimu sendiri.
“Ah, bukan apa-apa. Aku hanya bercanda. Haha.. lanjutkan membacamu.” Aku mulai seperti orang kikuk di depannya.
Dia menggeleng kepalanya dan melihat bukunya kembali. Lagi-lagi buku, dia sering membaca buku tapi dia sama sekali tidak menunjukkan perubahan di otaknya.

——————-

AUTHOR POV

Hari berganti hari, tak ada yang berubah dengan kebiasaan Krystal setiap hari Minggu. Dia harus membantu ibunya berjualan ikan di pasar. Dia lakukan dengan senang hati tanpa ada beban dihatinya. Ketika dia membuka pintu rumah…
“Bunga? Ini bunga siapa?” dia menemukan bunga yang tergeletak di depan pintu rumahnya, dia mengambil bunga tersebut dan menemukan sebuah kartu yang bertulisan “Semoga harimu menyenangkan”. Dia bertanya-bertanya dalam hatinya, apakah ini untuknya. Dia pun masuk dan meletakkan setangkai bunga mawar merah itu di kamarnya.
Setelah semua siap, dia kembali mengayuh sepedanya dan menyusul ibunya yang sudah lebih dulu ada di pasar.
“Tolong bungkuskan 2 ekor ikan ini untukku!” perintah seorang pelanggan kepada Krystal.
“Ne Ahjuss… Jinki-a?” Krystal mengangkat kepalanya dan telah menemukan Jinki telah ada di depannya, dia kaget lalu bertanya kembali,
“Sedang apa kau disini?”
“Sedang apa? Kau tak melihat, aku ingin membeli ikan.” Jawabnya ketus.
Krystal menyempitkan kedua matanya dan memanyunkan bibirnya bertanda bahwa dia sangat sebal dengan orang yang ada di depannya saat ini.
“Baiklah aku akan membungkuskan ikan yang terbaik sejagad raya, ikan yang bisa merubah orang menjadi lebih pintar dan bisa membuat seseorang menghargai orang lain.” Katanya menyindir.
“Mwo?” Jinki heran, apa yang dikatakan gadis itu.

—————–

KRYSTAL POV

Ini adalah minggu ke-7 semenjak ada seseorang yang tiba-tiba memberiku bunga setiap minggu. Apa jangan-jangan Taemin? Kulirik Taemin yang sedang berkaca dan membenahkan rambutnya, ah tidak mungkin. Apa Jonghyun? Ku tengok Jonghyun yang sedang menunjukkan ototnya kepada teman-teman cowok lainnya. Ini lagi tidak mungkin, cowok kasar seperti dia mana mungkin memberi ku bunga. Apa jangan-jangan…..
“Hey ngelamun aja, entar kesambet loh.” Sulli mengagetkanku dan lantas duduk di sampingku
“Apa yang membuatmu mengabaikan buku yang ada di depanmu? Tak biasanya kau seperti ini” tanyanya.
“Beberapa minggu ini ada seseorang yang memberiku bunga secara diam-diam. Menurutmu siapa orang itu?” akupun akhirnya menceritakan semuanya kepada Sulli, aku tidak tahan jika terus memendamnya sendirian.
“Emmmmm, siapa pun orang itu pasti dia sangat menyukaimu.” Jawab Sulli yakin dan mengangguk-anggukkan kepalanya.
“Ah, aku tahu siapa orang itu,” Sulli melanjutkan, dan menunjuk Minho yang baru saja masuk kelas.
“Apa kau yakin dia?”
“100%, coba pikir siapa di sekolah ini yang selalu mengejarmu, yang menyukaimu. Coba pikir, siapa lagi kalau bukan Minho. Choi Minho ya Choi Minho, orang yang paling tampan di sekolah ini yang dengan bodohnya selalu kau sia-siakan. Coba pikir apa yang akan terjadi jika kau bersamanya, duniamu akan berubah Krystal” Jelas Sulli panjang lebar
“Aku juga berpikir demikian, mungkin kau benar. Dia orang tertampan dan terkaya di sekolah ini, aku akan berubah mendadak jika bersamanya. Baiklah telah kuputuskan.”

AUTHOR POV

“Akhirnya nilaiku meningkat juga, aku senang sekali.” Krystal terlihat senang dengan nilainya itu, diapun menengok ke arah Jinki dan mendapatkan nilai nol di depan Jinki. Dia pun bertanya kepada Jinki,
“Kau ini kasian sekali, aku ikut prihatin dengan apa yang terjadi dengan mu Jinki-a. Apakah kau mau aku bantu? Ya itung-itung membantu temanku yang tak mampu.”
“Apa membantuku? Bagaimana caranya?” Responnya
“Mari belajar bersamaku. Akan ku ajari kau sampai pandai.”

——————-

KRYSTAL POV

“Ah akhirnya kita sampai juga, silahkan masuk.” Aku mempersilahkan Jinki masuk ke rumahku. Ini pertama kalinya aku membawa teman laki-laki masuk ke rumahku, dia melihat rumahku terheran-heran.
“Ada yang aneh? Rumahku memang sederhana, duduklah akan aku ambilkan minum dan beberapa buku untuk kita. Aku tahu walaupun rumahku kecil, tapi rumahmu tak sebagus rumahku kan?”
“Mwo?” tanyanya kaget dan heran.
Kami akhirnya belajar bersama hingga beberapa jam lamanya, tiba-tiba…
“Itu bunga milikmu semua?” tanyanya, lantas membuatku menengok ke tumpukan bunga milikku tersebut.
“Ah, ne itu pemberian seseorang yang tak ku kenal. Mungkin dia sangat menyukaiku,”
“Kau yakin?”
“Apa maksudmu?”
“Kau yakin seseorang yang memberikanmu bunga itu benar-benar menyukaimu? Jangan terlalu percaya dengan keadaan, bisa saja keadaan itu membohongimu.” Wow, inikah Jinki? Ini pertama kalinya dia berbicara panjang lebar kepadaku. Aku melihatnya tak percaya, dia hanya melihat kearah bunga itu dan mengabaikanku.
“Aku, aku harus pulang.” Dia membereskan buku-bukunya lalu pulang tanpa melihatku,
“Tapi..” aku berdiri juga dan melihat dia sudah jauh mengayuh sepedanya.

JINKI POV

Apa, apa yang barusan aku katakan di rumah gadis itu. Tak seharusnya aku mengatakan hal itu kepadanya.
“Halmeoni aku pulang.” Aku meletakkan tasku dan langsung berbaring di kursi kayu itu.
“Kau sudah pulang? Ini Halmeoni membuatkanmu teh hangat, minumlah.”
Halmeoniadalah seseorang yang sangat memperhatikanku, aku senang sekali bisa tinggal bersamanya.

———————

AUTHOR POV

Rumah Krystal

“Jinki-a menurutmu apa yang harus aku lakukan?”
“Tentang apa?” Jinki berbalik bertanya kepada Krystal
“Tentang Minho, apalagi. Apakah aku harus menerima cintanya?”
Jinki terlihat lesu setelah mendengar pertanyaan itu. Dia bingung apa yang harus dia katakan saat ini.
“Menurutku kau harus mengikuti kata hatimu. Apakah kau benar-benar mencintai Minho atau kau hanya kasihan dengannnya ,” jelas Jinki
“Minho sangat mencintaiku, selain itu nasibku bisa berubah jika aku bersamanya. Dan aku tidak perlu pergi ke pasar lagi setiap minggu, dengan begitu aku bisa menggapai cita-citaku dengan mudah. Apakah alasan itu kurang untuk aku menerimanya?”
“Bagaimana jika aku seorang anak seorang pengusaha sukses seperti Minho, apakah kau mau menerimaku juga?”
“Hahaha, kau ini bicara apa. Mungkin itu akan aku pertimbangkan jika kau sukses 10 tahun mendatang,haha. Sudahlah, ayo kita belajar lagi.” Ajak Krystal
“Hem baiklah Jika itu yang terbaik untukmu, lakukanlah.” Jinki menambahkan dengan cueknya.
Krystal terdiam memikirkan apa yang harus dia lakukan berikutnya. Hari itu mereka belajar dengan lancar seperti biasannya, hubungan mereka terlihat semakin membaik hari demi hari.

——————

KRYSTAL POV

Hari ini aku resmi menjadi pacar Minho. Ya, aku menerimanya. Aku pikir ini yang terbaik untukku maupun untuk Minho sendiri. Tapi bagiku ada sesuatu yang masih menggangguku di dalam hati, akankah itu…
“Hay Jinki-a rambutmu menggangguku sekali. Tak bisakah kau memotongnya?” bentak ku kepadanya. Sekarang aku mengerti, sesuatu yang menggangguku saat ini. Rambutnya Jinki, membuat mataku enggan menatapnya lama-lama.
“Siapa kau beraninya menyuruhku ha?”
“Tak apa jangan malu, aku yang akan bayar,” Krystal mengambil tasnya dan menarik tangan Jinki keluar kelas lalu lekas menuju tukang potong rambut.
Dari kejauhan terlihat Choi Minho yang sedang memperhatikan mereka. Dia terlihat kecewa dengan perlakukan pacarnya itu terhadap Lee Jinki. Minho hanya menghela nafas lalu pergi pulang dengan mobilnya.

———————-
“Wah daebak Jinki-a… kau terlihat jauh lebih tampan dari sebelumnya, tapi sepertinya wajahmu tidak asing.”
“Tentu saja tidak asing, kau selalu bertemu dengan ku setiap hari, kau ini.” Dia mengacak-ngacak rambutku, lalu pergi meninggalkanku.
“Aniya, bukan itu maksudku. Kau seperti mirip seseorang, tapi siapa? Coba ku lihat.” Aku memegang wajahnya denga paksa, dia dengan spontan menolak dan memegang tanganku. Mata kami bertemu cukup lama. Kenapa denganku ada apa ini, baru kusadari dia memiliki mata yang cukup indah.
“Apakah aku bertambah tampan, ha? Bertambah tampan seperti aktor-aktor yang ada di tv itu?” dia mendekatkan wajahnya kepadaku, aku melebarkan mataku. Jinki-a ini apa?…
“Kau benar, mungkin kau memang seperti aktor yang ada di tv itu. Aku salah.” Aku langsung memalingkan wajahku dan pergi meninggalkannya.

———————

AUTHOR POV

Semua mata menatap Jinki yang baru saja masuk kelas.
“Wa… apakah itu Lee Jinki”
“Benar, dia terlihat sangat tampan sekali”
“Aku ingin jadi pacarnya”
Semua murid membicarakannya, Jinki hanya diam tak menanggapi semua celoteh teman-temannya. Dia memilih duduk dan mulai membuka bukunya.
“Krystal, coba lihat Jinki. Dia berubah menjadi lebih tampan.” Teriak Sulli kepada Krystal.
“Ne, arasseo.” Krystal malas menanggapi temannya itu.
“Ada apa denganmu, apakah kau sakit?”
“Ani, aku hanya ingin sendiri saat ini.” Krystal pun meletakkan kepalanya di atas meja dan menutupnya dengan buku.
Minho melihat Krystal yang seperti itu dari bangku yang ia duduki, diapun mendekatinya dan duduk di depan Krystal.
“Hai, kau tidak terlihat baik hari ini. Apakah ada yang mengganggumu?” Tanyanya
Krystal mengangkat kepalanya dan menemukan Minho telah nyaman duduk di depannya.
“Ani, kau tak usah terlalu mengkhawatirkanku, aku tidak apa-apa.”
“Kalau begitu, maukah kau menemaniku jalan-jalan ditaman?” Minho tahu suasana hati Krystal kurang baik hari ini, jadi dia memutuskan mengajaknya jalan-jalan.
“Emm?”

Di taman
            Mereka berjalan santai di atas rumput-rumput yang cantik. Krystal menundukkan kepalanya terlihat bahwa dia kurang menikmati perjalanannya dengan Minho. Melihat itu Minho membuka percakapan dengannya.
“Waktu kecil apa yang kau suka?”
“Aku sangat menyukai bunga. Waktu kecil Appa sering mengajakku ke toko bunga setiap hari minggu, lalu kami berjalan-jalan di taman dan bermain bersama sepanjang hari. Waktu itu aku senang sekali hingga aku selalu menangis jika senja datang.
FLASHBACK
“Appa ayo bermain lagi, aku masih belum puas untuk hari ini.” Rengek Krystal.
“Hari sudah hampir malam Krystal, Eomma sudah menunggu kita di rumah. Apakah kau tak kasihan dengan Eomma mu? Appa janji minggu depan kita kemari lagi.”
“Appa janji, janji?” Krystal terlihat semangat dengan janji Appanya itu.
Mereka tersenyum bersama, senyum antara Ayah dan anak. Akhirnya mereka pulang, sang Ayah menggedong Krystal dengan manjanya dan tertawa bersama sepanjang perjalanan pulang.
FLASHBACK END
“Tapi..” Krystal memutuskan ceritanya
“Ada apa?” Minho terlihat heran ketika melihat wajah Krystal kembali murung lagi.
Lalu Krystal duduk di kursi taman dan Minho pun mengikutinya.
“Appaku seorang pembohong, dia tidak menepati janjinya. Dia menghilang tak tahu kemana. Sampai sekarang aku tak tahu dia dimana, jika aku bertemu dengannya aku tak akan memaafkannya.”
Tanpa sadar Krystal meneteskan air matanya dan sebisa mungkin menutupinya dari Minho. Tapi Minho tak sebodoh itu, dia tahu Krystal menangis dan mencoba menghapus air mata itu dengan sapu tangan miliknya.
“Ah, gwencana,” Krystal mengalihkan wajahnya dari tangan Minho
“Krystal..” Minho memegang wajah Krystal dan mencoba membuatnya menatap wajahnya.
Cup, ciuman itu mendarat tepat di bibir Krystal. Minho mencium Krystal dengan lembutnya.
“Ah, mianhae aku harus pergi,” Krystal berdiri dan meninggalkan Minho yang terlihat kecewa. Minho duduk sendirian dan menghela napas melihat Krystal menjauh darinya.

——————-

KRYSTAL POV

Rumah Krystal

Apa yang dia lakukan tadi. Kenapa dia melakukan itu kepadaku. Ah benar, dia adalah namjaku jadi wajar jika dia melakukan itu padaku. Seharusnya tadi aku tidak meninggalkannya sendirian, apa yang harus aku lakukan? Kenapa aku seperti ini?
tok…tok…tok…
“Nugu ya?” siapa malam-malam begini bertamu, apa orang itu tidak tahu sekarang jam berapa.
Aku berdiri dengan malasnya dan membukakan pintu rumahku, tiba-tiba…
“Ah, kau siapa?” Seseorang menjatuhkan tubuhnya dengan tiba-tiba ke pundakku, aku terkejut dan mengangkat tubuhnya perlahan. Jinki-a ?
Aku membawanya masuk dan menjatuhkannya di sofa, sepertinya dia mabuk. Ada apa dengannya, ini pertama kalinya aku melihatnya seperti ini. Aku membawakan air untuknya dan menyuruhnya untuk meminumnya.
“Sebenarnya ada apa denganmu, kenapa kau seperti ini?”
“Krystal, Krystal…” panggilnya. Dia memanggil namaku dengan sempoyongan, matanya antara terbuka dan tertutup. Dia benar-benar mabuk berat hari ini.
“Ne?”
“Kau tahu… rasanya sakit. Disini, disini… kau melihatnya? Selama ini aku telah menahan rasa sakit ini, tapi sekarang rasa sakit ini tidak bisa aku tahan lagi.” Dia mulai mengoceh dan berbicara hal yang aneh serta memegang dadanya dan menepuk-nepuknya.

————————–

KRYSTAL POV

Aku memberanikan diri mendekati Jinki, aku ingin bertanya sebenarnya apa yang terjadi dengannya kemarin.
“Jinki-a boleh aku bertanya?”
“Emm,”
“Kemarin kau,,” dia menutup mulutku dengan tiba-tiba dengan tangannya dan menoleh kesana-kemari.
“Kau tak boleh mengatakan apa yang terjadi semalam kepada siapapun, kau faham?”
“ha, arasseo. Tapi tak biasanya kau mabuk seperti itu, seharusnya kau menabung uangmu itu untuk masa depanmu bukan menghamburkannya dengan mabuk-mabukan.” Sebagai teman yang baik aku mengingatkan temanku yang keras kepala ini.
“Aisshh kau ini, bisakah kau mengecilkan suaramu bodoh? Aku kemarin tidak sengaja minum dan aku tidak tahu kenapa aku kerumahmu, kau puas?”
“Tapi kemarin kau mengatakan kau merasa sakit disini. Apakah kau punya penyakit serius? Apakah kau akan mati?” aku bertanya dan memegang dadaku, aku khawatir kalau dia benar-benar mempunyai penyakit kronis, kasihan sekali dia.
“Penyakit apa? Kemarin aku mabuk, dan omonganku hanya ngawur,”
Orang ini memang aneh, selain itu dia sulit dimengerti. Aku pun menyerah dan berdiri pergi dari hadapannya.
“Krystal ayo makan siang,” tiba-tiba Minho masuk kelas dan mengajakku makan, aku memang ingin pergi. Aku sudah muak dengan muka Jinki.
Aku mengiyakan ajakan Minho dan menggandeng tangannya. Terlihat Minho yang menatap Jinki serius, dan Jinki menatap Minho sekilas lalu mengalihkan pandangannya. Ada apa dengan mereka, apakah mereka ada masalah? Aku tidak pikir panjang, dan meninggalkan Jinki begitu saja dengan Minho

—————–

AUTHOR POV
Hari ini siswa kelas XII akan melasanakan tes saringan siswa berprestasi. Semua siswa mempersiapkan untuk ujian ini, mereka berharap bisa mendapat nilai terbaik.
“Ottoke, aku takut. Bagaimana kalau ujiannya sangat sulit dan nilaiku menjadi jelek?” Krystal terlihat cemas dan memegang tangannnya yang berkeringat dingin
“Gwencana, kau pintar. Kau pasti bisa mengerjakannya. Lihat aku, aku tak begitu pintar, tapi aku baik-baik saja. “ Sulli menyinggungkan senyum polosnya terhada Krystal.
Berbeda dengan Lee Jinki. Ketika semua orang sibuk dengan kehawatirannya, dia malah tidur dengan pulas di mejanya.
Akhirnya 2 orang Guru masuk ke kelas Krystal dan menyuruh siswanya bersiap-siap, lalu membagikan soal tes kepada para siswa.
Jinki terbangun dari tidurnya dan melirik Krystal, lalu dia mengerjakan soal yang ada didepannya.

———————–

AUTHOR POV

Dua minggu telah berlalu, hari ini saatnya pengumuman hasil tes tersebut. Semua siswa telah berkumpul di depan mading dan ingin melihat peringkat mereka masing-masing. Saat itu mereka terlihat terkejut,
“Permisi, maaf aku mau melihatnya.” Krystal datang dan masuk ke kerumunan para siswa lantas melihat hasil tes tersebut.
“Mwo, Jinki? Lee Jinki?” Krystal terkejut setelah melihat hasil itu, dia melebarkan matanya. Dia berusaha keluar dari kerumunan tersebut dan berencana mencari Lee Jinki. Ketika dia berhasil keluar, dia melihat Jinki di depannya. Merasa ada seseorang yang memperhatikannya, Jinki menghentikan langkahnya dan melihat Krystal yang bengong melihatnya.
“Jinki-a?” Krystal memanggil nama itu denga pelan, tapi siswa-siswa itu dapat mendengar suara Krystal dan memalingkan perhatiannya ke Jinki.
Jinki merasa bingung, kenapa mereka memperhatikannya serius seperti itu, apakah ada yang salah dengannya. Krystal melangkah mendekatkan dirinya ke arah Jinki. Minho melihat hal tersebut, tapi dia diam saja menunggu apa yang akan terjadi.
“Kau siapa?”
“Untuk apa kau bertanya, kau lupa ingatan atau apa. Aku Lee Jinki.” Jawab Jinki bingung menjawab pertanyaan yang diajukan gadis di depannya itu.
“Ya… kau Lee Jinki.” Krystal menatap mata Jinki kecewa, matanya mulai berkaca-kaca dan berlari meninggalkan cowok itu.
“Krystal, Krystal !!” teriak Jinki
“Dia begitu setelah melihat hasil tes ini.” Kata seorang siswa.
Jinki mendekat ke arah hasil tes itu di tempel, dan berlari begitu saja untuk mengejar Krystal.
Minho masih diam di posisinya. Ingin sekali dia menyusul Krystal, tapi dia berpikir akan lebih baik jika dia membiarkannya saja.
“Krystal tunggu aku,” Jinki menyusul Krystal dan memegang tangannya untuk berhenti.
“Apa, apa yang mau kau katakan? Apa kau belum puas menipuku dan menipu semua teman-temanmu, ha?” Krystal melepaskan tangannya dari genggaman Jinki dan menatap matanya dengan kecewa.
“Bukan begitu maksudku. Tolong dengarkan penjelasanku!”
“Apa yang mau kau jelaskan? Kau mau bicara bahwa kau mendapatkan mukjizat dan tiba-tiba pintar dalam waktu semalam? Kau pura-pura bodoh selama ini. Kau mendapatkan nilai sempurna dan mendapat peringkat 1 dalam tes itu. Bukankah semua ini sudah jelas?” Krystal sangat marah saat itu, dan membentak Jinki. Dia merasa tak dihargai sebagai teman selama ini, dia merasa telah dibohongi dengan kelakukan Lee Jinki.
“Bukan seperti itu. Aku punya alasan mengapa aku melakukan hal tersebut.”
“Sudahlah aku tidak mau mendengarkan apa-apa yang keluar dari mulutmu.” Krystal meninggalkan Jinki yang berdiri tanpa daya itu. Jinki hanya diam dan tak mampu berkata apa-apa.

Bangku taman
       “Boleh aku duduk?” Minho mendekati Krystal yang duduk menangis di taman.
“Ne,” Krystal menoleh ke arah Minho dan kembali menundukkan kepalanya.
“Kau masih kecewa dengan apa yang dilakukan Jinki selama ini?” tanya Minho.
“Ne, aku tak habis pikir apa yang dilakukannya. Tega-teganya dia membohongi kita selama ini.”
“Dia mungkin punya alasan tersendiri mengapa dia melakukan semua itu. Jangan ikuti emosimu, beri dia kesempatan untuk menjelaskan semuanya.” Jelas Minho mencoba menenangkan Krystal
Krystal merasa sedikit membaik dengan adanya Minho disampingnya. Dia meletakkan kepalanya di pundak Minho dan menutup matanya

——————-

KRYSTAL POV

Mungkin Minho benar, aku terlalu keterlaluan tehadap Jinki. Aku harus minta maaf padanya, dan meminta penjelasan mengapa dia melakukan hal seperti ini.
Hari sudah semakin sore waktunya untuk pulang, dan aku tidak melihat Jinki sama sekali. Dia tidak masuk sekolah, tapi kenapa? Apakah dia merasa bersalah dan malu untuk masuk ke sekolah. Ah ini semua salahku.
Sulli berlari memasuki kelas dan sekarang dia tepat di depanku dengan wajah ngos-ngosan.
“Kau kenapa?”
“Jinki, Jinki…” Sulli masih belum bisa menenangkan dirinya, dia terlihat kecapean karena berlari tadi.
“Jinki kenapa?” aku mulai panik ketika Sulli menyebut nama Jinki.
“Dia sekarang di rumah sakit, dia koma.”
“Apa Jinki koma? Tapi kenapa?” aku terkejut dengan apa yang aku dengar barusan, apa yang terjadi dengan Jinki?
“Dia mengalami kecelakaan kemarin sore, dan belum sadar sampai sekarang.”
Aku langsung berlari menuju rumah sakit dan meninggalkan Sulli begitu saja. Aku khawatir dengan keadaan Jinki, aku belum sempat minta maaf padanya. Bagaimana kalau di mati? Ah tidak, kau harus bertahan Lee Jinki.

Rumah Sakit
       “Jinki kau kenapa? Maafkan aku untuk yang kemarin, aku menyesal. Tolong bukalah matamu!” aku memegang tangan Jinki yang tergeletak lesu dan menangisi keadaan Jinki sekarang.
Terdengar suara pintu yang terbuka, aku menoleh ke sumber suara tersebut dan seorang nenek tua masuk ke dalam.
“Kau teman Jinki? Aku Halmeoni nya,”
Ternyata dia Halmeoni Jinki, cepat-cepat aku berdiri dan membungkuk mengucapkan salam,
“Annyeonghaseo, Krystal imnida”
“Krystal?” Halmeoni terlihat terkejut setelah mendengar namaku, aku hanya menatapnya sebentar lalu kami duduk bersama.
“Kau pasti lelah menjaga Jinki, maukah kau mampir sebentar ke rumah ku untuk sekedar minum teh panas?”
Halmeoni tiba-tiba mengajakku ke rumahnya, ya ke rumah Jinki. Aku mengiyakan ajakan itu dan beberapa saat kemudian kami menuju rumahnya.

Rumah Jinki

Ternyata selama ini aku salah, rumah Jinki lebih besar dari rumahku bahkan lebih dari yang aku pikirkan. Walaupun rumahnya terlihat sederhana tapi terkesan indah. Halmeoni menyuruhku duduk di ruang tamu dan beliau membuatkan teh panas untukku.
“Ini minumlah, kau harus mencoba teh buatan nenek tua ini,”
“Ah, ne,” aku mengambil gelas yang tengah di pegang Halmeoni itu.
“Tunggu sebentar ada yang mau aku tunjukkan kepadamu,”
Halmeoni pergi meninggalkan ku dan menuju salah satu kamar di rumahnya. Beberapa saat kemudian dia datang kepadaku dengan membawa sebuah buku.
“Ini buku diary Jinki, bacalah!” Halmeoni menyodorkan sebuah buku kepadaku yang ternyata adalah diary Jinki, dan aku mengambilnya.
“Nugu? Itu milik Jinki jadi saya tidak berhak untuk membacanya.”
“Aku percaya kamu orang yang tepat untuk ini. Bacalah!”
Halmeoni terus menyuruhku untuk membacanya, aku tidak punya pilihan lain. Halmeoni meninggalkanku sendiri dan aku mulai membukanya
‘Milik Onew’
Milik Onew? Siapa Onew, apa itu nama lainnya Jinki? Karena penasaran aku membuka halaman selanjutnya.
‘Mulai hari ini aku akan meninggalkan Seoul untuk menemuhi seseorang yang telah aku suka sejak kecil, aku meninggalkan semua yang aku miliki, orang tua ku, teman-temanku, hartaku, dan sekolahku. Aku akan memulainya dari nol sekarang.’
Ternyata Jinki selama ini menyukai seseorang, nugu? Ku buka halaman selanjutnya, sepertinya ini akan menarik.
‘Ini adalah hari pertamaku di sekolah. Aku menatapnya, menatap wajah seseorang yang selama ini aku rindukan. Dia semakin cantik saja.’
‘Aku tak punya pilihan lain selain menyamar. Aku menjadi anak bodoh dan jelek di tempat baruku ini. Aku melakukan ini agar aku dapat bersamanya, itulah kenapa aku selalu diam melihat hasil nol yang ku peroleh setiap kali ujian. Aku sungguh menyukainya, akankah dia bisa menyadari siapa diriku?’
Aku terus membaca curahan hati Jinki, ternyata dia telah mengobarkan semuanya demi gadis yang disukainya itu. Kasian sekali dia.
‘Demi meluapkan rasa cintaku kepadanya, setiap hari minggu aku selalu memberinya bunga dengan berbagai ucapan yang menyatakan isi hatiku saat itu. Tapi aku merasa kecewa ketika dia mengira Minho yang memberikannya bunga selama ini.’
Jadi selama ini? Jinki?
‘Dia menawarkan diri untuk mengajariku, sebenarnya aku tak memerlukan itu tapi karena dia akupun mengiyakannya, aku sangat senang saat itu. Tapi… aku telah melakukan kesalahan, mengapa aku mengatakannya. Kata-kata yang tak seharusnya aku katakan padanya, sepertinya dia mulai curiga kepadaku. Paboya!!’
‘Hari ini dia mengajakku memotong rambutku, sebenarnya aku sudah menolaknya tapi dia tetap memaksaku. Aku takut identitasku terbuka, tapi karena lai-lagi dia yang memintaku aku tak bisa berbuat apa-apa. Ternyata perkiraanku benar dia mulai mengenaliku, ku tatap wajahnya meyakinkan dia bahwa dia tidak mengenalku.’
Aku mengenalnya? Siapa Jinki sebenarnya? Semakin dalam aku membacanya semakin aku penasaran dengannya.
‘Kemarin aku mabuk, tanpa ku sadari aku telah minum terlalu banyak. Halmeoni pasti merasa kesulitan mengatasiku. Lagi-lagi aku melakukan kesalahan, aku kerumahnya disaat aku tak sadarkan diri. Apa yang aku katakan semalam, apakah aku mengatakan sesuatu yang aneh kepadanya? Ini karena kecemburuanku terlalu amat dalam kepadanya sehingga aku menjadi seperti ini, ya dia pacaran dengan Choi Minho. Semua ini membuatku semakin frustasi.’
‘Mungkin ini saatnya aku harus pergi, telah ada seseorang yang menjaganya saat ini, perasaanku tak berarti apa-apa sekarang. Janjiku kepada Tuan Jung telah aku lakukan, sekarang waktunya aku harus pergi darinya…
Tuan Jung? Apa hubungannya dengan Appaku, apakah dia tahu dimana appaku sekarang berada? Dia semakin membuatku ingin lebih tahu tentangnya.
….. Maka dari itu aku akan menunjukkan kemampuanku di ujian nanti. Setelah semua orang tahu diriku yang sebenarnya aku pasti akan dipindahkan ke sekolah di Seoul.’
‘Sebelum aku mengerjakan soal di depanku aku melirik ke arah Krystal, aku menatapnya dalam. Krystal sebentar lagi kita akan berpisah, setelah ini selesai aku akan pergi dan takkan menemuimu lagi.’
Tanpa sadar aku mulai meneteskan air mataku, ternyata selama ini kau mengobarkan segalanya demi aku. Jinki-a kenapa kau melakukan semua ini demi aku? Bodohnya aku tak menyadarinya. Ku tutup buku diarynya, aku membayangkan masa-masa kebersamaan kita yang singkat itu. Air mataku terus menetes tanpa henti membayangkan betapa susahnya kehidupan Jinki selama ini karena aku. Jinki-a mianhae.
Halmeoni datang menghampiriku dan memegang wajahku serta menghapus air mataku.
“Mianhae aku ingin bertanya lagi Halmeoni. Kenapa Halmeoni memperlihatkan diary Jinki kepadaku?”
“Saat dia mabuk dia selalu memanggil namamu..

FLASHBACK

“Krystal… Krystal apakah kau mendengarku, aku mencintaimu. Kenapa kau bersamanya, kenapa kau tak memilihku. Dadaku terasa sakit, dapatkah kau merasakannya?”
“Cucuku kau kenapa?”
“Halmeoni…orang yang aku cintai menjadi milik seseorang. Halmeoni apakah ini akhir untukku? Aku harus pergi, ya aku harus pergi.”
“Onew… Onew”

FLASHBACK END

“Dia pergi saat itu tak tahu kemana, dia seperti orang yang kehilangan arah.Dia terlihat sangat menyedihkan, dia selalu memanggil namamu dan menangis. Ini pertama kalinya aku melihatnya seperti itu.”

——————

Rumah Sakit

AUTHOR POV

Terlihat Krystal yang berjalan menuju rumah sakit dengan mata berkaca-kaca. Dari kejauhan Minho yang ingin menjenguk Jinki melihat pacarnya itu berjalan sambil mengusap matanya, dia menghampirinya.
“Minho?”
“Boleh minta waktumu sebentar?”
Taman Rumah Sakit

“Minho-a mianhae, maafkan aku selama ini aku tak bisa mencintaimu sepenuh hatiku. Aku berusaha mencobanya tapi aku tetap tak bisa melakukannya.” Krystal mulai membuka percakapan.
“Aku tahu selama ini kau menyukai Jinki tapi kau masih belum menyadarinya. Aku tahu semuanya, aku tahu tentang Jinki yang menyamar.”
FLASHBACK
“Aku mau bicara denganmu, ayo ikut aku” Minho menatap wajah Jinki dengan serius dan menarik tangannya keluar dari kelas.
“Jika kau mau bicara, biacaralah jangan menarik tanganku seperti ini.” Jinki terlihat sangat sebal, dia menyatukan kedua alisnya dan menatap Minho sebal.
“Siapa kau sebenarnya?”
“Apa maksudmu?”
“Kau bukan orang biasa yang selalu terlihat bodoh, jadi katakan siapa kau sebenarnya!”
“Aku datang kesini untuk menemui Krystal. Aku berpura-pura bodoh agar bisa selalu bersamanya.”
“Mworago? Kau melakukan ini hanya untuk menemui Krystal, memangnya Krystal itu siapa sehingga kau jauh-jauh kesini hanya untuk itu?”
“Krystal adalah teman masa kecilku, aku dan dia selalu bermain di taman kesukaan kita. Jika Krystal ingat, dia pasti tahu siapa diriku. Selain itu… aku mencintainya.”
Minho melebarkan matanya, dia terkejut dengan pengakuan Jinki. Mana bisa dia menyukai pacar orang lain.

FLASHBACK END

Krystal berjalan memikirkan kata-kata Minho tadi, dia berpikir keras mengingat siapa Jinki.

FLASHBACK

“Kau kenapa?”
“hik…hik…hik aku terjatuh, kakiku berdarah.”
anak laki-laki itu melihat lutut anak perempuan itu dan mengobatinya.
“Kau siapa?” tanya gadis itu
“Namaku Onew J, kau? “ anak itu tersenyum menunjukkan giginya yang tersusun rapi kepada gadis itu.
“Aku Krystal J”
Setelah Onew mengobati kaki Krystal mereka berlarian bermain di taman. Mereka baru kenal tapi mereka terlihat sangat akrab sekali.

FLASHBACK END

Dia sekarang ingat siapa Jinki, dia terkejut ketika tahu ternyata Jinki adalah Onew teman masa kecilnya itu. Krystal bingung apa yang harus dilakukannya sekarang.
Dia telah sampai di depan kamar Jinki dan membuka pintunya. Dia terkejut ketika melihat Onew sudah sadar dan tengah duduk membaca bukunya. Ketika sadar seseorang masuk ke kamarnya, dia meletakkan bukunya dan tersenyum melihat kedatangan Krystal.
“Hai, kau datang?” tanya Onew
Krystal menangis melihat Onew, dia berlari dan memeluk Onew erat-erat.
“Kajima, jangan tinggalkan aku Jinki-a!”
“Kenapa kau menangis? Apakah Minho melakukan sesuatu yang buruk kepadamu?” Onew terlihat cemas, dia memegang pundak Krystal dan menatap matanya yang mulai sembab.”
“Aku sudah tahu semuanya, aku tahu kau Onew.” Krystal menatap mata Onew dalam-dalam.
“Jadi kau sudah tahu?”

Taman Rumah Sakit

Krystal mendorong kursi roda Onew. Mereka berjalan-jalan menghirup udara sore yang sejuk.
“Bisakah kau mengatakan padaku apa hubunganmu dengan Appaku? Dan apakah kau tahu dimana dia sekarang?” Krystal bertanya dengan ragu, dia masih tak bisa memaafkan perlakuan Appanya yang meninggalkannya dan Eommanya sendirian.
“Tuan Jung bekerja di perusahaan Appaku. Sebelum di menghembuskan nafas terakhirnya karena sebuah penyakit yang dideritanya, beliau memanggilku dan menyuruhku untuk menjagamu. Dia masih mengingatku sebagai teman baikmu sewaktu kecil, karena itu aku datang kesini.”
“Jadi Appa sekarang sudah meninggal?”
“Mianhae,” Onew merasa bersalah dengan ceritanya barusan.
“Gwencanayo,” Krystal memaksakan senyumnya, dia tak mau melihat Onew bersedih karenanya. Sekarang dia mengerti alasan Appanya meninggalkannya.
“Ngomong-ngomong bagaimana hubunganmu dengan Minho?” Onew mencoba mencari topik baru untuk dibahas.
“Sebenarnya…”

FLASHBACK

Taman Rumah Sakit

“Sekarang mungkin kau telah menyadari itu.”
“Minho-a,”
“Aku mengetahui dirimu melebihi siapapun :’) “ Minho berdiri dan menahan tangis dalam dadanya.
“Minho-a,” Krystal pun ikut berdiri. Sekarang mereka saling menatap satu sama lain. Krystal terlihat tidak percaya dengan semua ini.
Minho mengulurkan tangannya, Krystal pun meraih tangan itu. Sekarang mereka bersalaman dan saling tersenyum.
“Terima kasih telah menemaniku selama ini, sekarang kembalilah pada Onew, J”

FLASHBACK END

“Begitu ceritanya. Aku ikut menyesal atas semua yang menimpamu.”
“Gomawo Jinki-a,” Krystal terus mendorong kursi roda itu dengan tersenyum bahagia.
“Jadi maukah kau menerima orang yang ada di depanmu ini?” tanya Onew.
“Ne?” Krystal menghentikan langkahnya, dia merasa terkejut dengan pertanyaan Onew. Dia memajukan langkahnya dan tepat di depan Onew lalu merendahkan tubuhnya.
“Kau yakin mau menerima orang aneh ini?” Krystal tersenyum sinis.
Melihat itu Onew tersenyum dan memeluk Krystal dalam bahagianya.

THE END

Advertisements

About fanfictionside

just me

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s