FF/ HERO AND HEROINE/ BTS-BANGTAN/ pt. 6A


HERO-HEROINE-BTS (1)

Author: Anditia Nurul||Rating: PG-13||Length: Chaptered||Genre: School-life, Friendship, Romance, a bit comedy||Main Characters: (BTS) Suga/Yoongi, & (OC) Geum Hajin||Additional Characters: (BAP) Himchan as Min Himchan, (BTS) Jimin, (BTS) Jungkook & (OCs) Hajin’s Family||Disclaimer: I own nothing but storyline and the OCs. Inspirated by a fiction story titled ‘Crazy’ By Emolicious. Original ver casted by (B1A4) Jinyoung & OC||A/N: Edited! Sorry if you still got typo(s). [!!!] Used some ‘frontal(?)’ words. Please don’t bash!

@@@@@

Begitu mulutku mengucapkan nama itu, jantungku mulai berdetak lebih cepat, menunggu reaksi Suga yang sekarang tengah menatapku.

“Tidak mau!”

Sudah kuduga, dia pasti menolak. Hajin-ah, kau harus berusaha!

“Kenapa? Bukankah dia kakakmu?” ujarku. “Lagi pula, waktu kecil, kau sering diajar olehnya, kan?”

Suga menatapku curiga. “Dari mana kau tahu?”

“I-Itu—”

Bodoh! Keceplosan!

“Aku yang mengatakan hal itu padanya,” sahut Himchan Oppa, berdiri di ambang pintu dapur. Suga langsung menoleh ke arahnya, menatap dia dengan tatapan yang sama ketika di pantai waktu itu.

“HEI! APA YANG KAU LAKUKAN DI APARTEMENKU? KELUAR!” usir Suga, menghampiri Himchan Oppa. Segera aku beranjak dari tempatku, lalu berdiri mencegat Suga yang sepertinya berniat mengusir paksa kakaknya itu. Kurentangkan tanganku di hadapannya.

“Apa yang kau lakukan, Hajin-ah? Menyingkir dari hadapanku!” bentaknya.

Sedikit mendongak, aku menatapnya. “Tidak mau!”

Dengan nada geram, Suga membalas, “Hajin-ah, menyingkir atau a—”

“Aku yang membawa Himchan Oppa ke sini. Kalau kau mengusirnya, aku juga akan pulang!”

“Hei! Kenapa kau membelanya? Sebenarnya kau ini pacar siapa? Aku atau dia?”

“Ini tidak ada hubungannya dengan hal itu Suga! Kau bilang kau butuh orang yang bisa membantumu, kan? Himchan Oppa bisa membantumu. Lalu, apa salahnya?”

Suga menghela napas dalam-dalam sambil memejamkan matanya, seolah menahan keinginannya untuk marah. “Aku tidak mau diajar oleh dia!” ucap Suga geram sambil menunjuk ke arah Himchan Oppa yang berada di belakangku.

“Kenapa? Dia kakakmu. Dia satu-satunya saudaramu. Kenapa kau tidak mau diajar oleh dia?”

“BERISIK!”

“Sudahlah, Hajin. Dia tidak mau! Aku pulang saja,” ucap Himchan Oppa, hendak beranjak meninggalkan dapur.

“Tidak! Jangan pulang dulu,” cegahku. “Dengar, Min Suga, aku tahu kau membenci Himchan Oppa. Aku tahu itu. Tapi, bisakah kau sedikit demi sedikit menghilangkan kebencianmu itu pada kakakmu sendiri? Walau bagaimana pun, darah yang mengalir dalam tubuhmu itu juga mengalir dalam tubuhnya. Kalian juga lahir dari satu rahim yang sama, dibesarkan oleh orang tua yang sama dan kalian melewati masa kecil bersama-sama,” ucapku panjang lebar. Aku sendiri tidak mengerti kenapa aku bisa mengucapkan kalimat-kalimat ini. “Jadi, kau bisa kan kembali bersikap seperti layaknya seorang adik dari Himchan Oppa?”

Suga diam. Dia hanya menatapku dalam-dalam untuk beberapa saat, lalu mengalihkan pandangannya ke arah lain. Mungkin otak di balik kepalanya itu sedang berusaha mencerna kata-kataku barusan.

“Di dunia ini, tidak ada namanya mantan saudara, Suga,” tambahku.

“Be-berisik!” balasnya ketus, namun tidak terkesan membentak. Kulihat ada setetes cairan bening di sudut mata kirinya. Apa dia menangis?

Dia lalu kembali duduk di kursi, kemudian menyantap sepotong paha ayam lagi. Sedikit bingung, aku menghampirinya. Berdiri di sampingnya.

“Jadi…, kau mau kan diajar oleh Himchan Oppa?” tanyaku hati-hati.

“….”

“Suga-ya?”

“Nanti. Aku makan dulu!” jawabnya ketus, tapi membuatku senang sekali. Aku terharu. Tidak sia-sia aku berbicara panjang lebar. Ingin rasanya aku memeluk laki-laki ini, tapi lagi-lagi harus kutahan keinginan itu mengingat dia sedang makan. Bagaimana kalau nanti dia tersedak tulang paha ayam?

“Terima kasih,” ucapku lirih. Aku menoleh ke arah Himchan sambil tersenyum dan laki-laki itu membalas senyumku. Kemudian, kuhampiri laki-laki itu untuk menemaninya menunggu si Mashimaro KW1 ini selesai makan di ruang tengah.

“Hei! Kau mau kemana, Geum Hajin? Temani aku makan!” cegah Suga tanpa melihat ke arahku.

“Kau temani saja dia,” ucap Himchan Oppa, kemudian melangkah menuju ruang TV. Aku pun berbalik, berjalan menuju kursi yang berada di hadapan Suga, menemani dia makan.

@@@@@

Dua kakak-beradik itu telah memulai ‘acara belajar-mengajar’ sejak 20 menit lalu di ruang tamu. Keduanya masih kelihatan canggung satu sama lain. Beberapa kali kudengar Himchan Oppa menggunakan bahasa formal saat menjelaskan, sementara adiknya itu dari tadi cuma menekuk wajahnya. Persis seperti baju yang belum disetrika. Bahkan, ketika ditanyai oleh Himchan Oppa, ‘apa kau sudah mengerti?’, dia cuma membalas dengan satu deheman singkat: ‘Mm~’.

Ckckck… Min Suga ini benar-benar….

Menunggu mereka selesai, aku memilih untuk menonton TV. Sesekali memperhatikan mereka saat jeda iklan berlangsung. Agak lucu melihat tingkah mereka yang canggung itu, padahal mereka adalah sepasang kakak-adik. Sama-sama tampan pula. Ah, kedua orang orang tua mereka makan apa sampai bisa ‘memproduksi’ dua anak yang tampan? Hehehehe.

Sedikit bosan menonton, aku memutuskan untuk bergabung dengan mereka. Aku duduk di samping Suga, memperhatikan laki-laki itu mengerjakan sebuah soal kimia yang diberikan Himchan Oppa.

“Susah, ya?” godaku saat kulihat Suga mengerutkan keningnya.

Dia menoleh padaku, memandangku sinis. “Apa yang kau lakukan di sini? Kau mengganggu, tau!”

“Uh~”

Tidak lama kemudian, kulihat Himchan Oppa melirik jam tangan yang melingkar manis di pergelangan tangan kirinya. Dia kemudian memandangi aku dan Suga bergantian, “Sepertinya ini sudah malam sekali untuk belajar. Jadi—”

“Jadi, kau bisa datang ke sini lagi besok, kan?” potongku. Kedua adik-kakak itu menatapku.

“Hei! Hei! Geum Hajin, apa maksudmu? Kau mau menyuruh laki-laki ini mengajariku terus?” sewot Suga.

Aku menoleh ke arahnya. “Ya. Tidak apa-apa, kan, Himchan Oppa?” Aku melihat ke arah Himchan Oppa.

“Aku sih… tidak keberatan.” Himchan melirik Suga.

Suga ingin menolak, “Tap—”

“Himchan Oppa mengajarimu atau kita putus?” ancamku cepat.

Suga melotot. “Kau… kau berani mengancamku seperti itu?” geramnya.

Sambil menunjukkan sebuah senyum menantang, aku mengangguk pelan. Ayo, Suga, pick one. Himchan Oppa mengajarimu atau LO GUE END?

Suga mendecih. “Cih! Baiklah, aku mau diajar oleh dia, tapi… kau, Geum Hajin, juga harus datang ke sini setiap hari selama dia mengajariku.”

What?

“Hei! Hei! Kenapa aku ha—”

Dengan tatapan dan senyum menantang, Suga memotong kata-kataku, “Datang atau… aku tidak mau diajari oleh dia!”

MENYEBALKAAAAAAAAAN!!!

ISH! Kenapa selalu seperti ini?

“Ayo, Hajin, pick one!” sahutnya. Keterlaluan!

Sambil menahan rasa kesal yang sudah hampir mencapai ubun-ubun, aku mengiyakan syaratnya itu. Kulihat senyumnya berubah menjadi senyum kemenangan. Laki-laki ini benar-benar paling tahu cara membuatku kesal! Arrrgggghh!

“Ya sudah, kalau begitu, aku mau pulang,” pamit Himchan beranjak menuju pintu.

“Aku juga,” ucapku.

“Bagaimana kalau kita pulang sama-sama, Hajin?” tawar Himchan Oppa. Aku melirik Suga yang terlihat agak kesal dengan ajakan kakaknya padaku.

“Tapi…, kau kan tidak bawa mobil.”

“Tidak apa-apa. Aku bisa menyuruh taksi untuk mengantarmu lebih dulu.”

Seolah ada sepasang tanduk yang tumbuh di kepalaku, aku melihat Suga yang menatapku tajam, menyuruhku untuk menolak tawaran itu. “Ya, aku ambil tasku dulu,” balasku. Aku mau balas dendam lagi. Siapa suruh tadi dia membuatku kesal lagi! Week!

Setelah mengambil tasku yang berada di sofa di depan TV, aku pun menghampiri Himchan. Laki-laki itu keluar duluan dari ruang apartemen Suga, kemudian aku. “Kami pulang, ya?” pamitku pada Suga yang sudah bersiap untuk menutup pintu.

“Ya, sana pulang! Hush! Hush!”

Dia pikir aku dan Himchan Oppa ini anak ayam tetangga yang buang hajat di teras rumahnya apa? Kenapa cara mengusirnya seperti itu? Ukh!

“BLAM!” Dan dia pun menutup pintunya. Hahaha.

Aku dan Himchan Oppa pun berjalan bersampingan menyusuri lorong lantai 4 menuju lift yang berada di ujung.

“Terima kasih sudah membantuku,” sahut Himchan Oppa, melihat ke arahku.

Aku tersenyum. “Ya, sama-sama.”

“Mmm… kelihatannya, kau dan Suga sudah pacaran sungguhan, ya?”

“Ah! Tidak! Masih sama seperti dulu. Cuma dia yang menganggapku pacarnya. Aku belum menganggapnya pacarku, tahu!”

“Oh, ya? Tapi, kelihatannya—”

“Cuma kelihatannya,” potongku cepat.

“Oh~”

Ditengah-tengah acara mengobrolku dengan Himchan Oppa, tiba-tiba saja ada seseorang yang secara kasar mengambil tempat di antara aku dan Himchan Oppa. Aku ingin memarahinya, tapi… melihat jaket berwarna golden brown yang norak itu….

“Aku antar kalian pulang,” ucap orang itu, Suga, berjalan beberapa langkah di depan. Aku melihat ke arah Himchan Oppa dan ia juga melihat ke arahku. Kami berdua tersenyum. Hehehe… usahaku benar-benar tidak sia-sia.

Huwaaa… Suga-ya, hari ini kau membuatku kesal, tapi… hari ini kau juga membuatku senang.

@@@@@

Aku baru saja tiba di sekolah, berjalan sedikit sempoyongan menuju kelas. Sejujurnya, hari ini aku saaaaaaangat mengantuk. Banyak yang aku kerjakan kemarin malam: memasukkan barang-barangku ke dalam kardus—persiapan untuk pindah rumah, membantu eomma menyiapkan makan malam, kemudian pergi ke apartemen Suga.

Selama beberapa hari ini, seperti apa yang aku janjikan pada si Mashimaro jelek sialan itu, aku datang ke apartemennya. Bedanya dengan hari itu, selama beberapa hari ini, aku datang setelah makan malam. Jam setelah pulang sekolah aku gunakan untuk memasukkan barang-barangku ke dalam kardus atau sekedar membantu eomma.

Begitu tiba di kelas, aku berjalan ke bangkuku, lalu menyandarkan kepalaku di meja, tidur. Uuh, seandainya hari ini tidak ada penjelasan soal matematika yang akan masuk ujian, mungkin hari ini aku tidak akan masuk sekolah.

“Hajin-ah~”

Uh, jangan mengganggu aku dulu, Park Jimin.

“Hei! Geum Hajin, kau tidak apa-apa?” Jimin mulai mengguncang-guncang bahuku.

“GEUM HAJIN, ADA SEOKJIN SUNBAE LEWAT DI DEPAN KELAS!”

“HA? MANA? MANA?” Aku langsung duduk tegap, hampir berlari ke arah pintu, namun segera kusadari kalau Jimin hanya mengerjaiku ketika kudengar dia menggerutu.

“Huu~, dengar nama Seokjin Sunbae langsung bangun.”

Aku menoleh ke arahnya, memandangnya kesal. “Ada apa? Kau tidak lihat aku sedang berusaha mencuri waktu untuk tidur?”

“Memangnya semalam kau tidak tidur?”

“Tidak!”

“Kenapa?”

“….”

“Hei! Kalau kau pindah ke Busan, berarti nanti kau bisa bertemu ng… siapa nama cinta pertamamu? Keok… Kook—” Rupanya dia tahu kalau aku sedang tidak ingin membahas hal itu.

“Kookie!” potongku cepat. Dan dia juga tahu, saat mengangkat topik pembicaraan tentang Kookie, aku selalu antusias… hehehe.

“Iya, Kookie.”

“Semoga saja aku bisa bertemu dengannya lagi.” Pasti akan sangat menyenangkan kalau bertemu dengan laki-laki itu… hehehe. Uh, seperti apa dia sekarang, ya? Apakah dia semakin tampan? Waktu kecil saja dia sudah tampan sekali… hohoho. Baik hati pula.

“Kenapa senyum-senyum seperti orang gila? Apa yang kau pikirkan?” tanya Jimin.

“Hehehe… Kookie,” jawabku malu-malu.

“Huu~”

“Hei! Jangan begitu, Jimin-ah. Kau tidak tahu betapa baiknya Kookie padaku. Karena itu… cinta pertamaku yang tulus dan suci kuberikan padanya,” kataku, disambut sebuah tabokan pelan dari Jimin karena kata-kataku yang sok-sok romantis.

“Memang apa yang dia lakukan padamu waktu kecil? Dia menyelamatkanmu dari pasukan tentara Korea Utara?”

“Bukan, Bodoh! Begini ceritanya.”

-Flashback-

5 Years Ago

“Eomma-ya, aku pergi main dulu~”

Sore itu, aku pamit kepada eomma untuk pergi bermain di lapangan yang berada di dekat rumah. Sambil membawa sebuah boneka Mario Bros, aku pun berjalan menuju lapangan itu.

Setibanya di lapangan, aku duduk bersandar di batang sebuah pohon yang daunnya cukup rimbun. Sendiri, aku bermain-main dengan bonekaku. Mengajak boneka itu bicara, menggerak-gerakkan tangannya atau sekedar melempar-lemparnya ke udara. Uh, kurang menyenangkan bermain sendiri. Hmm…, teman-temanku, semuanya pergi liburan dengan keluarga mereka. Uh~

Tapi, saat aku sedang asik bermain dengan bonekaku, tiba-tiba ada 5 orang anak laki-laki datang menghampiriku. Dari penampilan mereka, aku rasa mereka adalah anak-anak SMP.

“Hei! Anak kecil! Apa yang kau lakukan di sini?” tanya salah satu dari mereka. Uh, seenaknya saja mengatakan aku anak kecil, padahal mereka juga masih kecil.

“Main,” jawabku singkat.

“Anak perempuan dilarang main di sini, mengerti?” bentaknya.

“Kenapa? Ini kan tempat umum!”

Dia melotot. “Kau berani melawan kami?”

Aku diam sambil memandangi wajah mereka satu per satu. Lalu, dengan satu gerakan cepat, salah satu dari mereka merebut bonekaku. “Hei!” pekikku.

“Apa? Kau berani mengambil boneka ini dari kami?” tantang mereka.

“Itu kan punyaku! Kembalikan!” Aku berusaha merebut.

Mereka mempermainkanku. Mereka memindah-tangankan bonekaku dari satu tangan ke tangan lainnya sambil tertawa-tawa. Ya, mereka benar-benar sukses mempermainkan gadis kecil sepertiku.

Mungkin, karena bosan, salah satu dari mereka mulai main kasar. Aku didorong sampai terjatuh di atas rumput. Melihat aku jatuh, semuanya pun ikut main kasar. Aku mulai ditendang dan dipukuli. Aku hanya bisa menangis saat itu.

Sampai… seseorang datang menolongku. “Hei!” serunya. Samar-samar kulihat sosoknya menghampiriku. Saat itu, aku sudah kehabisan tenaga. Aku terbaring di atas rumput, hanya memperhatikan sosok laki-laki itu melalui pandanganku yang mulai agak kabur. Yang bisa kupastikan, dia adalah sosok berbaju biru.

“Kau tidak apa-apa?” tanyanya padaku.

Dengan suara parau dan lemah, aku menjawab, “Ya. Tolong aku.”

“Ya. Mulai sekarang, kau tidak usah cemas. Selama ada aku, tidak akan ada orang yang berani menyakitimu,” ucapnya padaku. Aku mengangguk pelan.

“Hei! Kau siapa?” tanya anak-anak yang memukulku tadi.

“Kenapa kalian mengganggu dia? Dia kan perempuan!” balas si laki-laki berbaju biru. Pandanganku pun semakin kabur.

“Memangnya kau siapa? Pacarnya?”

“Kalian tidak boleh melakukan ini pada perempuan! Kalian tidak tahu cara menghormati perempuan?”

“Aaah! Banyak bicara! Ayo, pukul dia!”

Dan tepat di saat itu, pandanganku gelap.

A few minutes later

“Uh~” ringisku saat aku sadar dari pingsanku beberapa saat lalu. Perlahan, kurasakan dahiku nyeri. Kugerakkan tangan kananku untuk menyetuh dahiku, lalu kurasakan ada cairan di sana. Ketika aku lihat, ternyata darah. Uh, pasti gara-gara anak-anak yang memukulku tadi.

Ah, iya, tadi… kalau tidak salah ada seorang anak berbaju biru datang menolongku saat aku diganggu oleh anak-anak nakal. Pasti anak-anak itu sudah dikalahkan oleh anak berbaju biru itu. Tapi, dimana anak berbaju biru itu sekarang?

Ah, dan bonekaku? Dimana bonekaku?

Apa… apa diambil oleh anak-anak nakal itu?

“Hei! Kau sudah sadar?” seru seseorang menghampiriku, membuatku sedikit terkejut. Seorang anak berbaju biru, dia membawa sesuatu di tangannya.

“Kau siapa?” tanyaku ketika laki-laki itu duduk di hadapanku.

Menunjukkan sebuah senyum ramah, ia pun menjawab pertanyaanku. “Panggil saja aku Kookie.”

“Kook…ie?” ulangku sambil menatapi wajahnya dalam-dalam. Oh, jadi dia yang menolongku tadi? Uh, dia baik sekali. Tampan juga.

“Iya. Aku lihat dahimu terluka, jadi… aku pergi membeli ini,” ucapnya sambil mengeluarkan beberapa lembar kasa, plester dan sebotol kecil betadine. “Aku obati lukamu dulu, ya?” ucapnya lembut. Aku mengangguk.

Saat Kookie mengobati luka di dahiku, aku terus memperhatikan wajahnya. Bibirnya tersenyum dan kedua matanya itu… teduh sekali. Dia… dia seperti malaikat yang dikirim Tuhan untuk melindungiku dari anak-anak nakal tadi.

“Sudah selesai,” ucapnya riang, lalu tersenyum. Uh, dia benar-benar terlihat seperti malaikat.

“Terima kasih,” balasku. “O-Oya, aku Hajin. Geum Hajin.”

“Oh, ya. Senang berkenalan denganmu, Hajin-ssi.”

Aku tersenyum.

“Uh, maaf, Hajin-ssi. Aku harus pergi.” Dia pun beranjak meninggalkanku.

Aku pun berdiri, lalu meneriakinya, “Terima kasih atas semua pertolonganmu, Kookie-ssi.”

Kookie telah berjalan beberapa meter di depan sana. Tapi, dia masih bisa mendengar teriakanku. Buktinya, dia menoleh sambil tersenyum padaku. Kedua mataku tidak lepas memandangi punggung Kookie yang semakin menjauh dariku. Seiring sosoknya menghilang, senyumannya pun seolah bermain-main di pikiranku. Aku rasa… aku… menyukainya.

Aku juga hendak beranjak pulang ke rumah, namun… mataku tidak sengaja melihat seonggok kantong kresek yang berada di dekat kakiku. Bukan. Bukan kantong kresek berisi peralatan pengobatan yang tadi dibawa Kookie. Kutundukkan tubuhku, lalu memungut kantong kresek itu, kemudian melihat isinya.

“Susu kotak?”

Ya, di dalam kulihat ada 3 kotak susu rasa stroberi. Ah, jangan-jangan ini punya Kookie. Uh, bagaimana ini? Dia pasti lupa mengambil susu-susu ini. Tapi, bagaimana aku bisa mengembalikannya? Aku kan… tidak tahu dimana dia tinggal.

Kupandangi ketiga kotak susu di dalam kantong kresek itu. Aku merasa sedikit haus. Kalau aku minum satu, Kookie mungkin tidak akan marah. Tangan kananku pun merogoh kantong kresek itu dan mengeluarkan satu kotak susu stroberi. Kutusuk pipet pada bagian lubang yang sudah disediakan, lalu kusedot.

“Mm… enak~”

Sambil berjalan menuju rumah, kusedot susu dalam kotak itu. Rasanya enak sekali. Entah karena susu rasa stroberi itu benar-benar enak atau… ini karena aku sedang suka pada pemilik susu kotak ini. Sepertinya, Kookie sangat menyukai susu rasa stroberi. Dia sampai beli 3.

Hmm… baiklah, mulai sekarang… aku juga menyukai susu kotak rasa stroberi.

-End Of Flashback-

“Oh~, jadi… gara-gara Kookie juga kau jadi suka susu kotak rasa stroberi? Sampai-sampai kau tidak mau mencoba susu rasa cokelat ataupun vanila?” komentar Jimin setelah kuakhiri ceritaku.

Aku mengangguk. “Ya.”

“Huu~”

“Hei! Kalau kau bertemu dengannya, aku yakin kau pasti akan menyukainya juga.”

Jimin melotot. “Apa? Hei! Aku ini masih normal, Geum Hajin.”

“Bukan suka seperti itu maksudku, Jimin!”

“Oh, aku pikir….” Jimin menggaruk-garuk kepalanya.

“Ah, sudahlah! Aku mau tidur! Bangunkan aku kalau sonsaengnim sudah masuk ke dalam kelas,” ucapku, lalu kembali pada posisiku semula, menyandarkan kepala pada meja. Hoaheeeem~.

@@@@@

Busy Sunday!

Dari pagi sampai menjelang makan malam, aku, appa, eomma dan Sujin sibuk mengepak barang-barang.

“Astaga, masih banyak~” gumamku saat kulihat tumpukan koleksi kaset drama dan film yang belum aku masukkan ke dalam kardus.

Eonniya, kau masih butuh kardus, tidak? Aku masih punya lebih,” tawar Sujin, masuk ke kamarku sambil menunjukkan beberapa kardus lipat miliknya yang masih tersisa. Sebenarnya, yang aku butuhkan saat ini bukanlah kardus-kardus, tapi… bantuan.

“Hei! Sujin, bantu aku memasukkan barang-barangku ke kardus,” perintahku.

Sujin menolak. “Tidak mau. Aku mau istirahat. Aku juga lelah seharian memasukkan barang-barangku ke kardus, Eonni.”

“Sujin-ah?” gumamku sambil menunjukkan tatapan kematian yang biasa digunakan Suga.

“Tidak mau!” Sujin melenggang pergi begitu saja dari kamarku.

Sial! Tidak mempan!

Baby baby geudaeneun caramel macchiato
Yeojeonhi nae ipgaen geudae hyanggi dalkomhae
Baby baby tonight~

Baru tangan kananku terjulur mengambil setumpuk lagi dari koleksi kaset DVD-ku untuk kumasukkan ke dalam kardus, kudengar ponselku yang berada di atas tempat tidur berdering. Aku menghela nafas sebentar, kemudian beranjak untuk mengambil ponselku.

‘SUAMIKU’

Uh, rupanya orang ini. Dengan setengah malas aku menjawab, “Ya? Halo?”

“Kenapa belum datang?” tanyanya dengan nada tinggi.

“Memangnya kenapa? Himchan Oppa sudah datang?”

“Ya.”

“Lalu, kenapa kalau dia sudah datang? Belajar saja dulu. Aku masih ada kerjaan.”

Kudengar dia mendengus sebal. “Memang apa yang lakukan?”

“Ah, sudahlah… tidak ada hubungannya denganmu.”

“Ish! Baiklah, begitu kau selesai, cepat ke sini! Aku tidak suka tinggal berdua dengan dia, kau tahu?”

“Iya.”

“Jangan lupa bawa makanan yang banyak.”

“Iya~.”

“Ya, sudah.”

Setelah mengakhiri panggilannya, kuletakkan kembali ponselku di tempat semula, lalu kembali memasukkan kaset-kaset DVD-ku ke dalam kardus. Hmm, hari ini hari terakhir Himchan Oppa akan mengajari adiknya yang menyebalkan itu. Begitu semua kaset-kasetku selesai kumasukkan ke dalam kardus, aku beranjak ke dapur.

Eommaya, dimana kotak bekal yang tadi aku siapkan?” tanyaku, celingak-celinguk di dapur mencari kotak bekal yang sudah siapkan untuk kubawa ke apartemen Suga sebagai menu makan malam, maksudku isi kotak bekalnya yang jadi menu makan malam, bukan kotak bekal.

“Oh, di sini,” jawab eomma sambil membuka pintu bawah lemari piring. Dia mengeluarkan kotak bekal yang sore tadi sudah aku siapkan.

Kotak bekal itu terdiri dari 3 susun. Di kotak pertama isinya nasi, kotak kedua isinya lauk-pauk dan kotak ketiga isinya buah yang sudah aku potong kecil-kecil. Selama belajar seminggu ini, aku, Suga dan Himchan Oppa hanya makan makanan cepat saji. Jadi, aku putuskan, hari terakhir ini, aku akan membuatkan menu makanan sehat… hehehe.

“Kau mau ke apartemen laki-laki itu lagi?” tanya eomma saat melihatku membungkus kotak bekal tersebut dengan selembar kain berwarna merah.

“Iya, Eomma.”

Ya, eomma dan appa sudah tahu kalau beberapa malam terakhir, aku belajar di rumah si ‘laki-laki hilang tempo hari’.

“Manis sekali,” goda eomma-ku.

“Apa?” balasku, pura-pura tidak mengerti.

“Suga itu pacarmu?” tanya eomma-ku lagi. Aku memang belum mengatakan pada mereka kalau Min Suga itu pacarku. Toh, aku belum mengakui status itu, kan?

“Bukan.”

“Lalu, kenapa seperhatian ini? Pergi ke apartemennya tiap malam….”

Uh? Benar juga. Kenapa aku baru menyadarinya sekarang? Kenapa aku baru sadar kalau aku sudah terlalu perhatian kepada si Mashimaro jelek itu, ya?

“Ah, entahlah,” balasku. “Aku berangkat sekarang, Eomma~” Aku melangkah keluar dari dapur.

“Iya, hati-hati, ya,” teriak eomma yang masih di dapur. “Salam untuk calon menantu, Eomma.”

APA?

Eommaya, aku bilang, dia bukan pacarku!” teriakku saat langkahku telah sampai di ruang keluarga. Appa yang kebetulan berada di dekatku—menonton berita di TV—pun ‘bereaksi’ begitu mendengar kata pacar.

“Hajin-ah, kau sudah punya pacar?” tanyanya.

“TIDAK!” teriakku. “Ish! Aku belum punya pacar! Aku pergi!” kataku kesal, berjalan sambil menghentak-hentakkan sendalku di lantai. Uh, kenapa semua orang menganggap Suga itu pacarku? Menyebalkan!

@@@@@

“BLAM!”

Bunyi pintu taksi yang mengantarku dari rumah ke apartemen Suga. Setelah keluar dari taksi, aku pun melangkah masuk ke dalam bangunan apartemen, menyusuri lobi menuju lift, kemudian menunggu lift membawaku sampai di lantai 4.

“Ting!”

Aku sudah tiba di lantai 4. Melangkah keluar dari lift yang hanya ada aku seorang, kemudian menyusuri lorong menuju ruangan nomor 44 sambil mengirim pesan kepada Suga, memberitahu dia kalau aku sudah berada di depan pintu ruangannya.

“CKLEK!”

“Kenapa lama sekali?” tanyanya kesal ketika melihat aku berdiri di depan pintunya.

Dengan kesal juga, aku membalas, “Kan sudah kubilang kalau aku ada kerja—Hei! Pipimu kenapa?” Aku merasa sedikit cemas saat kudapati ada bekas kemerahan di pipi kirinya. Dia memalingkan wajahnya ke kiri, tidak mau aku memperhatikan bekas kemerahan itu.

“Tidak apa-apa. Cepat! Masuk!”

Aku pun melangkah masuk ke dalam ruangan yang didominasi warna golden brown itu sesuai perintahnya sebelum ia membentakku. Tapi, aku masih penasaran dengan pipinya itu. Apa terjadi sesuatu saat dia hanya berdua dengan Himchan Oppa? Apa… mereka bertengkar lagi?

“Suga-ya? Apa tadi terjadi sesuatu?” tanyaku hati-hati.

“Berisik!”

Uh~ dia tidak mau memberitahukan apa yang terjadi padaku.

Aku terus melangkah ke dalam dan kudapati Himchan Oppa duduk di ruang tengah.

“Sudah lama, Oppa?” tanyaku padanya.

“Tidak. Baru setengah jam,” jawabnya, lalu tersenyum.

“Hei! Mana makan malamku. Aku lapar!” tanya Suga.

Aku mengangkat bungkusan merah yang dari tadi aku tenteng, kuperlihatkan di depan wajahnya. “Ini.”

Oppaya, ayo makan,” ajakku, lalu berjalan menuju dapur diikuti oleh dua adik-kakak itu. Setibanya di dapur, kuletakkan bungkusan itu di meja, membukanya, lalu kususun di atas meja, di hadapan dua kakak-adik yang sekarang sudah duduk berhadapan.

“Ini apa?” tanya Suga, terlihat kurang suka dengan makanan yang telah aku buat susah payah.

“Tentu saja ini makanan, Bodoh. Memangnya apa yang terlihat di matamu?” Aku mengambil tempat di samping Suga. Suga menyumpit dadar gulung yang ada di kotak lauk, kemudian memasukkannya ke dalam mulut.

“Bagaimana? Enak, kan? Aku yang buat sendiri semua ini,” pamerku.

“Benarkah? Wah, kau hebat,” puji Himchan Oppa.

Aku tersenyum malu. “Terima kasih.”

“Rasanya hambar!” komentar Suga dengan mulut yang masih penuh.

Himchan Oppa sepertinya kurang yakin. Dia pun ikut mencoba telur gulung buatanku. Tidak lama kemudian, Himchan Oppa pun berkomentar. “Enak kok. Lumayan.”

Aku mendelik ke arah Suga. Dia pura-pura tidak mendengar kata-kata Himchan dan pura-pura cuek dengan delikanku. Tapi…, tangan kanannya itu sibuk menyumpitkan satu per satu makanan yang aku bawa ke dalam mulutnya. Cih! Tidak mau mengakui kehebatanku!

“Hei! Kenapa kau makan semuanya?”

Dia menoleh ke arahku, lalu berkata, “Kenapa? Makanan ini untukku, kan?”

“Hei! Sisakan untuk Himchan Oppa juga! Aku membuat makanan ini bukan kau saja, tahu!”

“Tapi, aku lapar sekali!” Suga menarik satu kotak bekal berisi lauk ke arahnya.

“Ish! Suga-ya, berhenti bertingkah seperti anak kecil!”

“Siapa yang kau sebut anak kecil? Memangnya salah kalau aku mau makan banyak? Aku lapar!”

“Tapi, Himchan Oppa juga lapar, tahu!”

“KENAPA KAU TIDAK BAWA MAKANAN YANG BANYAK? KENAPA CUMA SEDIKIT?”

Ditengah-tengah adu mulut antara aku dan Suga, kudengar Himchan Oppa menggumam, mungkin bermaksud untuk menyuruh kami diam. “Suga-ah, Hajin-ah.”

“MANA AKU TAHU KALAU KAU LAPAR SEKALI? BIASANYA KAU JUGA MAKAN SEDIKIT.”

“ISH! HARUSNYA KAU BAWA BANYAK SAJA WALAUPUN TAHU AKU MAKAN SEDIKIT. BAGAIMANA KALAU SEPERTI SEKARANG? NAFSU MAKANKU MENINGKAT!”

“Suga-ah, Hajin-ah!”

“MANA AKU TAHU KALAU NAFSU MAKANMU MENINGKAT!” balasku.

“KARENA ITU AKU BILANG, BAWA MAKANAN YANG BANYAK!”

“Suga-ah, Hajin-ah!”

“BERISIK!” ucapku dan Suga bersamaan ke Himchan Oppa, menatap tajam laki-laki itu.

“Maaf…,” sahut Himchan Oppa pelan.

Suga pun menghela nafas pelan. “Baiklah. Ini, makan….” Dia menyodorkan kotak bekal lauk ke hadapan Himchan Oppa.

Setelah perdebatan kecil yang cukup menguras tenaga, kami bertiga pun mulai makan malam dengan tenang. Uh, tidak begitu tenang juga, karena Suga selaluuuuuuu~ saja ada cara untuk membuatku ingin mencungkil mata sipitnya itu.

Ya, Tuhan, kenapa aku harus bertemu dengan orang yang sangat menyebalkan seperti Min Suga?

“Suga-ya, hari ini aku mau pulang cepat, ya?” ucapku di tengah-tengah acara makan malam.

“Kenapa?”

“Besok kan kita ujian. Aku mau tidur cepat.”

“Tidur di sini saja!”

Kubulatkan kedua mataku. “Apa? Tidak mau!”

Suga mendengus. “Ish! Iya, iya. Berisik!”

Setelah makan malam, Himchan Oppa dan Suga melanjutkan acara belajar bersama yang sempat tertunda, sedangkan aku mencuci bekas peralatan makan kami. Begitu aku selesai dengan kegiatan cuci piring, aku pun menyusul pasangan kakak-adik itu.

“Kau sudah mengerti, kan? Kalau soal seperti ini, kerjakan dengan rumus ini,” kata Himchan Oppa menjelaskan sambil menunjuk-nunjuk rumus yang tertulis di buku cetak di hadapan Suga.

Aku duduk di samping Suga. “Kau mengerti, tidak?” godaku.

Dia menoleh, menatapku sinis. “Iya, rumusnya gampang.”

“Kalau begitu, coba kerjakan soal ini,” potong Himchan Oppa kemudian.

HAHAHA! RASAKAN!

Sedikit menggerutu, dia mencoba mengerjakan soal yang diperintahkan Himchan Oppa. Huh, selama seminggu ini, mereka masih terlihat canggung satu sama lain. Bahkan, kelihatan lebih canggung dari hari pertama. Sebenarnya apa yang terjadi tadi?

Sementara Suga sibuk mengerjakan soal latihan, aku sibuk membaca buku pelajaran yang akan diujiankan besok. Hanya me-review sekali lagi. Jaga-jaga, siapa tahu ada yang kelupaan dan ujung-ujungnya besok masuk di soal ujian. Gawat kan kalau aku tidak tahu.

“ISH!”

Laki-laki di sebelahku menggerutu lagi.

“Hei! Jelaskan ulang bagian ini. Aku lupa,” pinta Suga pada Himchan Oppa.

Aku menegurnya. “Suga-ya, kenapa kau tidak memanggil Himchan Oppa dengan sebutan ‘hyung’? Dia kan lebih tua darimu!”

Suga menatapku sinis. “Lalu, kau sendiri kenapa kau tidak memanggilku ‘Oppa’? Aku ini 2 tahun lebih tua darimu!” balasnya penuh penekanan pada kalimat ‘2 tahun lebih tua darimu!’.

Ukh!

“Itu karena kau tidak pantas aku panggil dengan sebutan itu!”

Dia melotot, lalu dengan sewotnya dia berkata, “Hei! Tidak pantas bagaimana? Kau panggil dia ‘Oppa’,” Suga menunjuk Himchan Oppa, “Apa bedanya dia denganku? Aku juga lebih tua darimu!”

KENAPA SELALU SEPERTI INI?

Aku yang ingin menasehatinya, ujung-ujungnya malah dia yang menasehatiku.

Aku yang ingin membuatnya kesal, ujung-ujungnya malah dia yang membuatku kesal.

Aku yang ingin… ingin… apa lagi, ya?

Ah, sudahlah!

“Terserah kau saja kalau begitu,” balasku akhirnya.

Menuruti permintaan adiknyanya, Himchan Oppa pun kembali menjelaskan ulang materi yang barusan dia ajarkan pada Suga. Tidak lama setelah itu, Suga kembali mengerjakan soal latihan yang tadi.

Sekitar 1 jam kemudian, kulihat jam dinding di ruang tamu telah menunjukkan pukul 08.41 malam dan bertepatan dengan Himchan Oppa mengakhiri masa jabatannya sebagai guru private Min Suga. Akhirnya…, bisa pulang juga. Untung Himchan Oppa mengerti kalau hari ini aku mau pulang cepat… hehe.

Setelah membereskan buku-buku pelajarannya dan mengambil kunci mobilnya di kamar, Suga pun mengantar kami—aku dan Himchan Oppa—pulang. Rutenya sama seperti malam-malam sebelumnya, mengatar Himchan Oppa dulu, baru aku.

Posisi duduk di dalam mobilnya pun masih sama, Suga di balik kemudi, aku di sampingnya dan Himchan Oppa duduk sendirian di belakang. Awalnya sih, aku meminta Himchan Oppa duduk di depan, tapi… kau tahu sendiri, kan? Adiknya itu… tidak mau. Entah kapan Suga akan menunjukkan sikapnya sebagai adik yang baik.

“CKIIIT!”

Mobil golden brown Suga berhenti di depan rumah Himchan Oppa—yang rumahnya juga, sih. Mereka berdua kan saudara.

“Kau… tidak mau masuk, Suga-ya? Memberi salam pada appa?” tawar Himchan Oppa. Suga pura-pura tidak dengar. Selalu seperti ini. Setiap malam, setiap mengantarnya pulang, Himchan Oppa selalu mengajak Suga masuk, tapi… Suga tidak mau.

“Suga-ya, sebaiknya kau masuk,” bujukku.

Suga bergeming. Uh, memang susah membujuk makhluk yang satu ini.

“Ya, sudah. Kalian berdua hati-hati di jalan,” ucap Himchan, lalu keluar dari mobil Suga. Namun, tiba-tiba saja, Suga menurunkan kaca jendela mobil di sampingnya.

HHyungah!” teriaknya memanggil Himchan Oppa yang berjalan menuju pagar tanpa melihat ke arah laki-laki itu. Himchan Oppa berbalik, menunjukkan mimik wajah terkejutnya, sama sepertiku. “Terima kasih,” lanjutnya, masih tidak melihat ke arah Himchan Oppa.

“Sama-sama~” balas Himchan Oppa.

Segera Suga menaikkan kembali kaca jendela mobilnya, kemudian mulai melajukan mobilnya menuju rumahku. Aku masih terkejut dengan sikapnya tadi. Pertama kalinya aku mendengar dia memanggil Himchan Oppa dengan sebutan ‘hyung’. Bahkan, dia juga berterima kasih dengan menggunakan bahasa formal.

“Barusan kau benar-benar seperti seorang adik,” ucapku. Bisa dibilang aku sedang memberi pujian atas sikapnya tadi.

“Hmm~” Dia hanya membalas dengan sebuah deheman.

Aku tidak tahu kenapa… tapi, rasanya menyenangkan melihat Suga seperti tadi. Dan jujur saja, semakin mengenal Suga, pelan-pelan aku merasa kalau dia sebenarnya bukan anak yang nakal seperti apa yang dia perlihatkan pada semua orang.

“Terima kasih,” ucapnya tiba-tiba, membuatku terkejut untuk kedua kalinya dalam perjalanan mengantarku pulang hari ini.

Aku menoleh ke arahnya, melihatnya sedang fokus menyetir mobil. “Untuk?”

“Atas semua bantuanmu.”

“Hei! Yang membantumu belajar kan bukan aku, tapi Himchan Oppa.”

“Tidak. Kau juga membantuku. Kau lebih banyak membantuku dari pada Himchan Hyung.”

“Itu—” Aku menggaruk-garuk belakang leherku, salah tingkah.

“Aku memang tidak salah pilih.”

Aku semakin terkejut. “Maksudmu?” Tidak salah pilih calon istri maksudnya? Huwaaa… tidaaaak!

“Aku tidak salah pilih orang untuk membantuku. Kau.”

“Memangnya atas dasar apa kau memilihku? Kan belum tentu aku akan membantumu seperti beberapa hari belakangan.”

“Tidak. Aku tahu kau pasti akan membantuku, karena itu aku memilihmu.”

WUSSSS~

Seperti ada hembusan angin segar yang menerpaku. Membuatku diam, tidak tahu harus mengatakan apa untuk merespon ucapan Suga. Rasanya… seperti ada sesuatu yang… beda. Dan entah bagaimana caranya, rasa itu pelan-pelan membuat pipiku terasa panas, jantungku berdebar-debar seolah ingin meledak dan 47 otot-otot wajahku bereaksi membentuk sebuah lengkungan senyum di bibirku.

“Terima kasih,” ucapku lirih.

Suga menyempatkan diri untuk menoleh ke arahku sesaat, lalu tersenyum dan dengan lembutnya berkata, “Ya.”

DEG!

DEG!

DEG!

Tidak lama setelah itu, mobil Suga pun berhenti di depan rumahku. Aku pamit, lalu keluar dari mobilnya, berlari pelan menuju pintu rumahku. Buru-buru kubuka pintu yang tidak dikunci. Aku masuk, lalu menutup pintu masih dalam keadaan terburu-buru. Kusandarkan tubuhku di balik pintu dan seolah terjadi secara refleks, tangan kananku menyentuh bagian kiri dadaku, merasakan jantung yang masih berdebar-debar begitu cepat.

Ya Tuhan…, apa aku mulai jatuh cinta pada laki-laki itu?

-TaehyungBelumCebok (^/\^)-

Anditia Nurul ©2015

-Do not claim this as yours-

-Do not re-blog / re-post without permission-

About fanfictionside

just me

33 thoughts on “FF/ HERO AND HEROINE/ BTS-BANGTAN/ pt. 6A

  1. finallyyyyyy setelah sekian lama~ /dangdutan/ huwaaa eciyeciyee hajin udah mulai luluh sama si mashimaro~ ayola jujur aja sih kalo lo demen kkkk~ moga kedepannya hubungan suga x himchan makin membaik ya~ ditunggu next chapnya~ fightingggg

  2. HUAAAA AKHIRNYAA SETELAH PENANTIAN SEKIAN LAMAA:””
    INU MAKIN SERU EONNII

    HAHA CIEE hajin udh mulai jatuh cinte nih ama sugaa cieee ;;)
    Seneng ngeliat suga udh baekan gitu ama himchan:)
    Tetep aja ya nih ff tuh ada ajaa selalu yg bikin ngakak xD
    Sekarang udh fokus ke sugahajin yaa ceritanya’-‘ sukjinhoseok udah ganongol lagi._.

    eh, kayanyaaa kode kode bakal nambah cast baru nan unyuk itu nihh. Babykuki bakal main disini yeayyy
    Ahhh udah mana dia dapet peran cowok keren, baik kek maikat lagih O:)

    Gak sabar nunggunyaaa.
    keep writing and fighting^^9

  3. Ahahah sumpah bagian kata memproduksi itu bkin gw langsung ngakak xD
    Haduh pdhal gw udh ngira kalo yg nolong hajin dlu suga, tpi d sni kok bukan
    Ahhh bkin galau

  4. Yeay akhirnya dipublish juga!
    Wah Jungkook jd first love nya Hajin!!!!!
    Lucu deh pas bagian Hajin&Suga ngebentak Himchan. Yg berisik siapa yang dikatain siapa. Wkwkw
    Ditunggu part selanjutnya!!!!!

  5. autorrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrr akhir nya ini ff di posting jga T_T
    aduh” please thor jgn lama” chapther berikut nya?
    tmbh keren thor😀
    thor jujur yah aku pernah bca novel judul nya CRAZY cwo nya rda” mirip suga songong nya?
    author pernah bca gk?

  6. akhirnya di posting juga. aku kangen sama Min Suga disini
    aduuuhh Suga masih sungkan ya ma Himchan,. ckck
    tp gk sia2 juga hajin bantuin mereka,toh membuahkan hasil, seperti jatuh cinta ciecieee tuingggg tuingggg
    next ceritanya seru,bikin ngakak juga,gk pernah bosen deh klo dah mampir kesini,
    ku tunggu kelanjutannya chingu KEEP WRITING

    • Hehe…. maaf ya lama.
      Iya. Kan baru2 ini deket lagi.
      Kkk~ iya. Ga sia2 bolak-balik ke apartemen Suga, berantem ama Suga tiap hari😄

      Sering2 mampir ke sini.
      Makasih udah RC^^

  7. cieee….
    Yg mulai jatuh cinta😀
    dan tapi sebentar lagi Hajin juga mau pergi ningalin Suga -_-” dan teman2 tersayang terutama Jimin T_T haduh haduh kenapa jadi sedih gini ya😥

    lanjut ya thor ditungguloh
    penasaran terutamaa…
    Sama org yg di bilang ‘cinta pertamanya’ Hajin dan Suga itu, akankan ada sebuah keajaiban yg akan terjadi 😀 hihihi

  8. Haaaaahhhh…stelah skian lama mnunggu akhirnya ni ff muncul jga.. top dah ni ff..daebak thor..smoga lanjutan kisahnya makin seru..

  9. Haaaaahhhh…stelah skian lama mnunggu akhirnya ni ff muncul jga.. top dah ni ff..daebak thor..smoga lanjutan kisahnya makin seru..

  10. maaf kak bru bsa ngoment skarang . kartu aku tu jaringan nya lemot bgt jdi bru bsa sekarang . aku sih nunggu bgt kelanjutannya. mga aja admin di snimuncul dan ngepost kelanjutannya hihihi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s