FF/ FOOLISH LOVE/ BTS-BANGTAN/ pt. 6 (FINAL)


PART6

Cast:

Kim Seok Jin – Jin BTS

Ryu Hyosi – OC

Ryu Hwayoung (Ex T-ara)

Ryu Hyoyoung ( 5 Dolls )

Yu Barom – Rome C-Clown

Yukaris – OC

Other Cast

 

Author : pandakim

Rating: Teenager, NC

Genre : Romance, Life, Sad

Lenght : Chapter

a/n : maaf kalau endingnya tidak mengindahkan para readers. Pandakim semaksimal mungkin membuat ending ini tidak mengecewakan. TYPO BERTEBARAN. Happy reading. HAPPY READINGGGGGG‼‼

 

Dentingan antara logam sendok dan kaca gelas membuat Hyosi samar – samar membuka matanya. Di tolehkannya sedikit wajahnya. Disampingnya Yukaris sedang membuatkannya teh.

Hyosi berdehem kecil.

“Hyo.. sudah sadar” Yukaris segera mendekat ke Hyosi. Hyosi mengangguk lemah. Kepalanya masih pusing. Di pegangnya kepalanya yang sedikit berdenyut saat ia ingin bangkit.

“Jangan banyak bergerak dulu Hyo..”

Yukaris menggigit bibirnya. “Hyo.. maaf.. tadi aku membacanya” ragu – ragu Yukaris mengeluarkan surat yang di baca Hyosi sampai Hyosi pingsan mendadak.

Hyosi menundukkan kepalanya. Air matanya dengan cepat mengenang di pelupuk matanya.

Ia tidak tahu harus berkata apa. Lidahnya keluh. Tapi ia ingin mengatakan apa yang di pikirannya. Yukaris menatapnya sedih. Dipeluknya Hyosi dengan pelan. Air mata Hyosi yang mengenang kini mengalir deras.

***

“Jin..”

Jin tersentak saat namanya di panggil seseorang. “Suara itu” batinnya.

“Jin..”

Jin menoleh kebelakang. Dadanya berdetak cepat seketika.

“Hyosi”

Hyosi yang di panggil Jin tersenyum. “Lama tidak bertemu”

Jin meneguk ludahnya. “Hyosi benarkah itu dirimu ?”

Hyosi mengangguk senang.

Perlahan Jin menggerakan kakinya. Tapi mendadak kakinya kebas. Jin tetap berusaha menggerakan kakinya.

Satu langkah.

Dua langkah.

Tiga langkah.

Tanpa sadar Jin tersenyum saat dirinya semakin dekat ke Hyosi.

Dan kini ia benar – benar di dekat Hyosi.

Di depan Hyosi. Tepat di depan gadisnya. Ryu Hyosi.

“Hyosi” lirihnya.

Hyosi tersenyum manis ke Hyosi. Jin menggerakan tangannya yang gemetaran membelai pipi putih Hyosi.

Senyum Jin luntur saat ia tidak bisa menyentuh Hyosi. Menyentuh gadisnya.

“Hyosi” lirihnya panik.

Jin berusaha menggapainya lagi. Menyentuh gadis ini. Tapi tetap tidak bisa. Jin serasa menggapai angin.

“HYOSI‼” teriaknya saat angin menyapa lembut gadis ini. Tapi juga gadis ini menghilang seperti debu yang di sapu angin.

KRIIIIIIING‼!

Suara berisik jam beker mengusik mimpinya. Jin tersentak. Di rabah – rabahnya tangannya di buffet kecil di meja tidurnya mencari jam beker. Sedikit di hentaknya jam beker tersebut, seketika tidak ada lagi suara berisik yang memenuhi kamarnya.

Dibukanya matanya cepat. “Tadi cuma mimpi” desisnya.

Dengan gerakan lemah Jin beranjak dari tempat tidurnya. Ia berjalan menuju jendela kamarnya. Di bukanya jendela kamarnya. Cahaya matahari pagi membias matanya sehingga ia memicingkan matanya.

Jin tersenyum merasakan kehangatan matahari pagi menyapa hangat wajahnya. Tapi sebulir air mata mengalir mulus ke pipinya.

***

Jin melihat pantulan diri nya di cermin besar di kamarnya. Di kancingkannya kemejanya satu persatu hingga terkancing semua. Setelah itu ia memasang sendiri dasi berwarna merah marun. Setelah rapi menurutnya. Di balutnya tubuhnya dengan jas hitam yang sangat pas di badan atletisnya.

Sekali lagi Jin merapikan penampilannya. Jin menoleh melihat ponselnya bergetar. Di angkatnya cepat saar di lihatnya Ryu Hwayoung tertera di layar LCD ponselnya.

“Ada apa Hwa ?”

“Appa..” lirih Hwayoung bergetar.

Jin menegang. “Kenapa dengan ahjussi ?”

“Appa mengalami kejang – kejang lagi”

“Sebentar aku akan kesana”

Jin segera bergerak keluar kamarnya dan menuju rumah sakit.

***

Setengah berlari Jin menyusuri lorong – lorong koridor rumah sakit.

Nafasnya sedikit tidak teratur disaat ia sampai di ruangan yang ia tuju. Di lihatnya Hwayoung dan Hyoyoung serta ibu mereka.

“Jin” Hwayoung menoleh melihat Jin yang mendekat ke mereka.

“Bagaimana dengan Ahjussi ?” tanya Jin dengan nada khawatir. Dilihatnya ibu mereka yang menunduk. “Ahjumma” Jin mendekat ke ibu mereka.

“Ahjumma baik – baik saja ?”

Ny.Ryu malah menatap diam Jin. “Jangan bertingkah perhatian”

Jin terdiam. Bukan sekali dua kali Jin di ginikan oleh Ny.Ryu. Tapi Jin membalasnya dengan senyuman.

“Ahjumma sudah makan ? Lihatlah muka ahjumma pucat”

Ny.Ryu membuang mukanya. Hyoyoung yang di samping ibunya tersenyum kecut. “Eomma” desisnya tak enak terhadap Jin.

Jin menghelah nafasnya. “Hyo jaga ahjumma, aku beli makanan dulu”

***

“Eomma” pekik Hwayoung tidak terlalu keras.

“Mau sampai kapan eomma tidak menganggap Jin hah ? Tidak bisa eomma membalas kebaikan Jin ?”

Ny.Ryu malah menunduk. “Aku terlalu jahat kepadanya”

Hwayoung menengadahkan kepalanya sambil mengusap perutnya yang sudah membucit.

“Apa Jin pernah mengungkit hal yang tidak baik yang kalian lakukan kepadanya ?”

“Tidak pernah kan ?”

“Apa Jin pernah protes tentang niat appa dan eomma terhadapnya ? Tidak pernah kan ? Malah sebaliknya Jin tidak menganggapnya sama sekali”

“Hwa sudah.. ingat kandunganmu” saran Hyoyoung karena melihat urat – urat Hwayoung di lehernya.

“Eomma… tolong jangan jahat lagi kepada Jin. Jin mengurus kalian dengan baik. Jangan mengacuhkan Jin lagi” nasehat Hyoyoung.

“Apa Jin akan memaafkan aku dan appa kalian ?”

Hwayoung dan Hyoyoung lantas tersenyum. “Jin tidak pernah marah kepada appa dan eomma. Dan tidak ada alasan Jin memaafkan eomma dan appa”

Ny.Ryu tersenyum kepada kedua anak kembarnya. Terdengar hentakan – hentakan antara sepatu dan lantai. Jin setengah berlari mengarah mereka.

“Maaf Ahjumma. Hanya bubur yang ada tersisa” jelas Jin sedikit tak enak hati.

Ny.Ryu tersenyum ke arah Jin. “Tidak masalah” diusapnya keringat yang mengalir di dahi Jin.

“Maafkan aku dan suamiku”

Jin tersentak. Lalu ia lekas tersenyum. Entah kenapa ia senang sekali. Jin menggeleng. “Tidak ada yang perlu di maafkan. Kalian berdua sudah ku anggap orang tuaku sendiri” aku Jin jujur.

Sebulir air mata mengalir dari mata Ny.Ryu. Di peluknya Jin. Ny.Ryu menangis menyesali perbuatannya dulu kepada Jin.

Hyoyoung dan Hwayoung saling berpengan tangan lalu sama – sama tersenyum.

“Andai Hyosi melihat ini. Dia pasti senang” lirih Hyoyoung dann diangguki cepat oleh Hwayoung.

***

Hyosi menatap pedih surat yang di terimanya semalam.

“Apa yang harus aku lakukan ?” batinnya. Hyosi mengusap kasar air mata yang ingin hampir jatuh saat mendengar decitan pintu terbuka.

Sorry make you waiting me” Mrs.Hellen tersenyum sembari meletakkan berkas – berkas yang ia bawa.

Dengan cepat dimasukannya surat tersebut ke dalam tasnya. Sedikiti Hyosi mengangguk mengerti.

What happend Hyosi ?”

Hyosi menggigit bibirnya. “Eh…. It’s about interviewing eee…..” lidah Hyosi keluh menyebutnya.

“Kim Seokjin ?”

Jantung Hyosi seakan berhenti berdetak saat Mrs.Hellen menyebutkan nama tersebut.

You should interview him. Him businessmen which again hotly discussed

But…

Mrs.Hellen langsung menyelah perkataan Hyosi. “I am sure, will go up a few percent of the current readers of this magazine review about the young entrepreneurs

Hyosi menghelah nafasnya. Di satu sisi ia senang. Ia akan berjumpa dengan seseorang yang ia rindukan tersebut tapi di satu sisi lain ia belum siap.

Mrs.Hellen mengambil amplop putih di laci mejanya. Hyosi terbengog saat Mrs.Hellen selaku bosnya ini menyerahkan amplop putih tersebut kepadanya.

What it is ?”

Tickets go to Seoul to interview

Rasanya Hyosi ingin menjatuhkan tubuhnya begitu saja seperti es yang mencair di terpa sengatan panasnya matahari.

Mrs.Hellen menarik tangan Hyosi.

I hope you can bring good results interview reviews

I can’t” ucap Hyosi setengah menyesal.

I’m sure you can. Your work has been very good. So I am very confident this time can bring great interview review as usual

Hyosi menatap bosnya ini. Hyosi memejamkan matanya. Ia harus bersikap profesional. Hyosi membuka matanya kemudia tersenyum samar.

***

Yukaris keluar dari kamar dengan membawa sebungkus besar stick rolls. Di hampirinya Hyosi termenung menopang wajahnya. Tangannya melambai – lambai di depan muka Hyosi.

Hyosi tersentak. “Kau bisa kerasukan kalau termenung seperti tadi” cetus Yukaris sambil memasukan 3 sampai 4 stick ke mulutnya.

“Rasanya aku ingin bunuh diri saja”

UHUK‼

Yukaris tersedak mendengar ucapan gila Hyosi.

Anata ga kurutte iru ( apa kau gila ) ?”

Hyosi hanya menatap Yukaris dengan datar. Di jejelinnya mulut Yukaris dengan 5 stick rolls sekaligus saat Yukaris hendak mengeluarkan protesnya.

“Aku tadi hanya bercanda. Aku tidak gila ingin mati muda. Aku masih ingin merasakan menikah dan punya anak “ lalu Hyosi berlalu dengan santainya dari hadapan Yukaris.

***

Hyosi berkutat serius dengan tugas – tugas kantor hingga ia tidak memperhatikan penampilanya.

Sorry I’m busy” ucap Hyosi tanpa menoleh kebelakang saat bahunya di colek.

PLAK!!

Yukaris memukul kepala Hyosi dengan ponselnya.

“Ya!! What are you doing” Hyosi menoleh dan mendelik marah kepada yang memukul kepalanya.

“Cih! Kau seperti wanita tua. Lihat penampilan mu” Yukaris duduk di depan meja kerjanya.

“Sudah makan ?”

Hyosi menggeleng. “Belum lapar” jawabnya singkat. Yukaris melihat jam beker di meja kerja Hyosi. “Sudah jam tiga siang dan kau belum lapar ?” Yukaris menatap Hyosi.

“Tugas ini membuatmu kenyang. Ada apa kau kemari ?”

“Tidak. Ada. Aku hanya ingin memberi tahumu kalau aku akan ikut kau ke Seoul” Yukaris menyengir kecil ke Hyosi.

Just It ? Itu bisa kau katakan dirumah Yu” ucap Hyosi dengan datar.

“Hmm. That’s no no. Aku ingin mengatakannya sekarang” balas Yukaris. “Cepat selesaikan tugas mu aku lapar” lanjutnya.

Hyosi memutar bola matanya. “Wait

***

“Kapan rencana ke Seoul” Yukaris membuka permbicaraan mereka. Hyosi menatap Yukaris “Mungkin minggu depan” ucap Hyosi singkat.

“Kenapa kau tidak senang kembali ke Seoul”

Hyosi menghentikan makanannya. “Banyak alasan untuk aku untuk tidak excited kembali ke Seoul”

Kini Yukaris yang menghentikan makananya. “Kenapa, kau masih kepikiran bagaimana reaksi Jin terhadap mu karena kau tinggal 3 tahun belakangan ini hum ?”

Hyosi menundukan kepalanya. Di tusuk – tusuknya daging steak dengan garpu. “Aku takut dia marah” ucap Hyosi sedih.

“Tidak mungkin Jin marah kepadamu. Pasti dia merindukan mu seperti kau merindukannya”

Hyosi mengangkat kepalanya. “Bagaimana kalau dia sudah ada pasangan ?”

“Ya!! Kau terlalu parno”

Hyosi mempoutkan bibirnya. “Kau tau semenjak aku melihatnya di televisi, aku yakin dia pasti sudah punya kekasih. Siapa yang tidak tertarik dengan pengusaha muda dan tampan seperti dia” cecar Hyosi.

Yukaris menatapnya datar. “Kalau begitu kau tanya dia sudah punya pacar atau belum kalau belum berarti kesempatanmu mendapatkan dia 100 %. Ah tidak 1000%. Kalau dia sudah punya pacar. Rebut dia dari pacarnya. Gampangkan ?” Yukaris tersenyum kemudian membuat V line dengan tangan di dagunya.

“Cih !” kemudian Hyosi tersenyum manis ke Yukaris. “Tapi aku benar – benar merindukannya” ucap Hyosi. Dada terasa sesak saat ia mengenang Jin. Dia. Hyosi benar – benar merindukan Jin.

***

Uhuk..uhuk..

Jin mengepalkan tanganya lalu menutup mulutnya.

“Hyung gwenchana ?” tanya Kim Taehyung. Assistant nya.

Dilihatnya Taehyung sekilas. “I’m okay” ucapnya singkat.

“Apa hyung mengingat tentang Hyosi noona” tanya Taehyung penasaran. Jin menghentikan kerjanya. “Taehyung fokus” ucap Jin singkat.

Taehyung mendengus. “Ah, hyung kau selalu begitu kalau ku tanya” sunggutnya.

Jin kemudian menatap Taehyung sekilas yang merengut kemudian melanjutkan kerjanya. Jin kembali fokus. Tapi tidak bisa. Jin meletakkan pulpennya. Di hembuskannya nafas kasarnya. Bayang – bayang Hyosi seketika memenuhi pikirannya.

***

Jin mengelap tangan Tuan Kim pelan dan lembut dengan handuk basah.

“Ah kau sudah datang ternyata” sahut Hyoyoung dari pintu bersama dengan ibunya. Jin menoleh lalu menganguk.

“Wah appa kau sudah bersih sekarang” ucap Hyoyoung sambil memegang tangan ayahnya. Jin lantas tersenyum mendengar ucapan Hyoyoung.

“Ahjumma sudah makan ?” tanya Jin melihat Ny.Kim yang duduk di samping suaminya.

Ny.Kim menggeleng. “Aku sudah kenyang melihat suamiku”

Jin memasang muka cemberutnya. “Ahjumma harus makan, nanti sakit bagaimana” tanya Jin. Sedetik kemudian Ny.Kim tersenyum ke Jin.

“Ck.. kau ini terlalu perhatian” di tepuk – tepuknya punggung tangan Jin. Kemudian Jin bangkit dari duduknya. “Hyoyoung , Ahjumma aku pergi dulu nanti malam aku kembali lagi”

“Hati – hati” ucap Hyoyoung yang sibuk membersihkan ruangan ayahnya. “Hati – hati Seokjin” tambah Ny.Kim

Jin membalasnya dengan senyuman hangat. Lalu ia bergerak keraha pintu dan menghilang di balik pintu.

***

Jin duduk terdiam di sofa kamar rehabilitasinya dahulu yang ia tempati. Kamar yang ia datangi bila ia benar – benar merindukan Hyosi. Dan kali ini ia benar – benar sosok wanita tersebut.

Ditopangnya dagunya dengan tangan yang mengepal. Nafas berat keluar dari hidungnya.

“Hyosi” desisnya. Dipejamkannya matanya mencoba mengingat kenangan – kenangan bersama ia dan Hyosi. Jin tersenyum tapi di balik senyumannya air matanya mulai menitik dan mengalir perlahan ke pipinya.

Ddrrtttt

Getaran ponselnya membuyarkan semuanya. Mau tak mau Jin membuka matanya dan mengambil ponselnya.

“Ya Taehyung. Baiklah aku akan ke Incheon sekarang” ucap Jin kepada Taehyung yang sudah sampai di bandara Incheon duluan.

Jin bangkit dari duduknya. Di edarkannya pandangannya ke seluruh penjuru kamar. Di hapusnya air matanya lalu Jin menghilang dari balik pintu.

***

Derapan – derapan langkah kaki Jin tenggelam diantara hiruk pikuk dibandara. Setelah chek-in Jin terus berjalan hingga ia menemukan sosok Taehyung yang melipat tanganya.

“Kau lama sekali hyung, kemana sih ? Aku cari di rumah sakit juga tidak ada” cecar Taehyung.

“Maaf” itulah jawaban Jin kepada Taehyung yang merengut melihatnya. Mendengar ucapan singkat Jin Taehyung semakin merengut. Lalu ia menggeleng memaklumi bosnya ini.

“Ayo masuk sebentar lagi boarding” Taehyung kemudian berjalan duluan lalu diikuti Jin. Kerena besok Jin harus menghadiri rapat salah satu cabang perusahaanya di New york.

***

Hyosi merenggangkan tubuh – tubuhnya yang kaku. “Akhirnya selesai juga” ucap Hyosi senang melihat tugasnya yang menumpuk lebih dari seminggu kini sudah selesai dan tinggal di beri ke redaksi.

Hyosi mendongak saat Ms.Hellen datang menghampirinya.

What happend miss ?” tanya Hyosi sopan.

Oh nothing, just make sure it is in the prepared questions for interviews later

?”

Ekspresi Hyosi langsung berubah menjadi datar. “Hmm.. stay a little longer miss

Oh Well then , I hope this interview satisfying as you interview before

” lalu Ms.Hellen tersenyum dan meninggalkan Hyosi yang membalas senyumnya dengan senyuman terpaksa.

Hyosi mengusap tenguknya. Dihembuskannya nafasnya yang tertahan di dadanya.

***

Tidak seperti Yukaris yang sibuk menyiapkan baju untuk di bawa ke Seoul. Hyosi malah berdiri depan cermin memandang tubuhnya dan memikirkan apa yang ia katakan kepada Jin. Apa Jin masih mengingatnya ? Apa Jin akan marah kepadanya ? Atau Jin sengaja mengacuhkannya ? Pertanyaan – pertanyaan memenuhi pikiran Hyosi yang ia rasa hampir gila.

“Hyosi kau tidak menyiapkan bajumu?” tanya Yukaris yang memandang lemarinya yang dipenuhi baju – baju.

Hyosi melirik Yukaris yang berkacak pingging di depan lemarinya. “Nanti saja. Aku masih memikirkan kata apa yang pertama aku ucapkan dengan Jin” ungkap Hyosi gelisah.

Yukaris membalikan badannya. “Tinggal sapa HAI. Apa susahnya ?” cecar Yukaris cepat.

Hyosi sedikit kesal dibuat Yukaris. “Tidak sesederhana itu yu”

“Aku tidak sanggup berjumpa dengannya tapi disisi lain aku senang akhirnya bisa berjumpa dengannya” tambah Hyosi dengan raut wajah berbinar.

Yukaris berjalan mendekat ke Hyosi. Di pegangnya bahu Hyosi. “Hyo, sudah cukup lama kau berpisah dengannya. Dan saat inilah waktunya kau berjumpa dengannya dan bersatu dengannya dan melanjutkan hubunganmu dengannya” jelas Yukaris. Hyosi menunduk dan menghelah nafasnya.

“Apa seserdehana itu ?”

“Hm. Sesederhana itu. Love is simpel girl” Yukaris meyakin Hyosi.

***

Jin menatap tajam Taehyung yang menunduk.

“Kenapa harus tengah malam” suara Jin begitu tenang. “Maaf hyung” balas Taehyung keteledorannya atas mengatur jadwal pulang mereka dari New York ke Seoul.

Jin membalikkan badannya. “Ayo jalan – jalan masih banyak waktu” ucap Jin enteng, sehingga Taehyung mendongak dan menatap bosnya dengan heran. Taehyung lalu mengikuti Jin.

***

Jin dan Taehyung melangkah ke daerah Bryant Park yang tak jauh dari kantor cabang milik Jin.

Taehyung terperangah melihat booth booth makanan yang berjejer disekitar Bryan Park. Jin tertawa kecil melihat ekspresi Taehyung yang ia yakin Taehyung akan merengek meminta makan kepadanya. Dan benar saja. Taehyung menoleh ke arahnya.

“Hyung lapar” rengeknya seperti anak kecil. Jin menggeleng sekilas. Lalu mengangguk.

Taehyung memakan pesanan dengan lahap tidak seperti Jin yang hanya fokus ke iPadnya sesekali menyerup honey green tea miliknya.

Jin menoleh kesamping dengan tiba – tiba. Dia merasa di perhatikan tapi yang ia lihat hanya orang – orang berlalu lalang. Jin menghelah nafasnya. Ia bangkit dari duduknya.

“Sebentar aku kekamar mandi dulu” izinnya kepada Taehyung, yang diangguki sekilas oleh Taehyung.

***

“Yu palli” senggak Hyosi.

“Sebentar” ucap Yukaris yang kewalahan membawa belanjaanya. Hyosi menoleh kebelakang lalu ia mendengus. Padahal belanjaan Yukaris sudah bawanya sebagian. Tapi tetap saja Yukaris kewalahan.

“Hyo wait for second” ucap Yukaris lalu ia melesak pergi ke booth hotdog yang berada di pinggir Bryan Park yang mereka lewatin.

Hyosi menghelah nafas. Tapi Hyosi lebih memilih berdiri menunggu Yukaris daripada menyusulnya. Kerena ia benar – benar lelah untuk bergerak ke area Bryant Park.

Sambil menunggu Hyosi mengedarkan pandanganya ke sekelingnya dan ke dalam area Bryan Park yang dipenuhi dengan booth booth makanan dan ada juga cafe yang terselip diantara booth booth tersebut.

Sudah lama Hyosi tidak pergi ketaman ini padahal Bryant Park tidak jauh berada dari apartment nya yang terletak di 5th Avenue. Area publik diantara gendung – gendung pencakar langit. Area yang asri dan penghijauan yang baik. Yang membuat banyak orang menghabiskan waktunya disini.

Hyosi mengedarkan pandangannya ke sudut sudut Bryant Park yang sebagian besar dilingkupi berwarna hijau. Membuat Hyosi sedikit relaks. Pandangan mata Hyosi terhenti ke sudut 30 ⁰ dari pandangan lurusnya yang. Dikerjab – kerjabkannya matanya melihat ke arah yang jauhnya sekitar 100 meter darinya.

What do you looking ?” Yukaris sudah disampingnya. Hyosi menoleh ragu. “Hm.. nothing” ucapnya. Lalu dilihatnya kembali. Apa yang ia lihat sudah tidak ada.

“Kajja. Aku sudah lelah” ucap Hyosi menghapus pikiran yang ia lihat tadi.

Tidak mungkin itu dia ucap Hyosi dalam hati.

***

Yukaris menatap aneh Hyosi yang dari apartment mereka hingga ke bandara. Sedari tadi Hyosi bernafas putus – putus seperti orang sesak nafas. Dan pasport di remas – remasnya.

Are you okay ?” tanya Yukaris khawatir. Sudah berulang kali bertanya kepada Hyosi jawabannya tetap “I’m okay

“Ketemu cinta lama kok nervous” ucap Yukaris sengit lalu ia meninggalkan Hyosi yang terpaku mendengar ucapannya.

***

“Yu..” bisik Hyosi saat Yukaris dan dia berjalan untuk chek-in .

Yukaris hanya mendehem tanpa melihat Hyosi.

“Perasaanku tidak enak” desis Hyosi. Dengan gerakan cepat Yukaris menoleh ke Hyosi.

What do you mean” sentaknya.

I don’t know” keluh Hyosi pasrah.

“Jangan bilang nanti terjadi kecelakan” ucap Yukaris horror.

WHAT!! ARE YOU CRAZY ?” kali ini Hyosi yang menyentak.

Not like this” tambah Hyosi.

So

“Like… Ah no no. Aku hanya terlalu gugup” ujar Hyosi kemudian berjalan duluan menuju boarding meninggal Yukaris yang menatapnya horror.

***

Hyosi meremas kedua tangannya. Diaturnya nafasnya agar teratur. Yukaris disampingnya hanya menatapnya datar. Lalu diraihnya tangan Hyosi yang sudah dingin karena gugup. “Just relax

Hyosi mengangguk. Disandarkannya punggungnya ke sandaran tempat duduk. Ditolehkannya pandangnya keluar lagit gelap. Karena mereka berangkat malam dan akan sampai Seoul pagi hari.

“Sebaiknya kau tidur” Yukaris memberi nya selimut. Diambilnya selimut pemberian Yukaris.

“Hyo aku kedepan dulu. Temanku ada di seat depan” pamit Yukaris lalu ia berjalan kedepan meninggalkan Hyosi yang menatapnya dengan setengah mengantuk.

Setelah Yukaris pergi Hyosi segera mengambil posisi agar ia tidur. Matanya memang sudah mengantuk. Sebelum ia memejamkan matanya Hyosi mengambil ponselnya. Di buka galeri yang ia beri password. Di pandangnya lelaki yang ia rangkul dengan manja. Sedetik kemudian airmata mengenang dipelupuk matanya. Di pejamkanya matanya dan dalam beberapa detik saja, Hyosi sudah tertidur. Mengubur dirinya dalam kenangan tersebut.

***

Setelah dari ruang makan. Taehyung berjalan melewati kelas ekonomi menuju kelas bisnis. Taehyung berjalan santai karena jam menunjukkan pukul 01.34 dimana semua penumpang lebih memilih tidur. Hanya sebagian yang masih terjaga. Langkah Taehyung terhenti saat ia menoleh ke samping, di kucek – kucek matanya memfokuskan pandangannya. Taehyung memperdekat jarak pandangnya. Dilihatnya wanita yang sedang tertidur. Wajah yang familiar bagi Taehyung. Yang sering Taehyung lihat bila ia bersama Jin. Taehyung menutup mulutnya.

“Mungkinkah ?” desisnya. Tak butuh waktu lama Taehyung melesat ke kelas Bisnis.

“Hyung..hyung..” Taehyung menggoyang – goyangkan tubuh Jin yang sudah tertidur dengan lelap.

Jin membuka matanya sedikit. “Ada apa ?” tanya dengan pelan.

“Mana ponselmu hyung ?” tanya Taehyung setengah mendesak. Jin segera memberikannya. Dengan gerakan cepat Taehyung membuka unlock ponsel Jin. Terpampang disana wajah Hyosi yang menjadi wallpaper ponsel Jin.

Taehyung meneguk ludahnya. “Berarti yang tadi… “ Taehyung menoleh kearah Jin yang tertidur.

“Hyung” panggil Taehyung pelan. Jin menanggapinya dengan deheman.

“Hyung” panggil Taehyung lagi. “Aku mengantuk Taehyung”

“Hyung”

Jin membuka matanya paksa. “Ada apa ?” sentaknya kesal.

“Hyosi noona” lirih Taehyung. Jin hanya menatapnya dengan datar, masih belum tau maksud Taehyung.

“Hyosi noona disini” ucap Taehyung serius. Jin menghelah nafasnya. “Jangan bercanda Taehyung”

Taehyung mendadak kesal mendengar jawaban Jin. “Tidak aku tidak bercanda”

“Mungkin kau salah lihat”

“Tidak hyung aku tidak salah lihat”

“Ck. Kau ini” Jin kemudian melanjutkan tidurnya. Sebelum Jin menyandarkan tubuhnya, Taehyung sudah duluan menarik lengan Jin.

“Aku tidak bohong hyung. Kau bisa memecatku kalau aku bohong. Hyosi noona di kelas ekonomi seat 125 C. Aku benar – benar melihatnya hyung”

Kini Jin menatap Taehyung dengan serius. “Aku akan membuangmu dari sini. Kalau Hyosi tidak ada”

Taehyung menganguk cepat. Seketika itu juga Jin bangkit dari duduknya.

***

Jin terpaku melihat wajah Hyosi yang tertidur. Ia benar – benar menemukan Hyosi. Ia benar – benar melihat sosok Hyosi. Ryu Hyosi.

Tubuh Jin mendadak bergetar. Di hapusnya cepat – cepat airmatanya yang mengenang di pelupuk matanya.

Dengan langkah bergetar Jin melangkahkan kakinya mendekat ke Hyosi. Di dudukkannya pelan tubuhnya ke bangku kosong disamping Hyosi. Di tatapnya lekat – lekat wajah Hyosi. Wajah yang ia rindukan.

***

Dalam tidurnya Hyosi merasakan pipinya di belai dengan lembut. Dan indra penciumannya dipenuhi dengan wangi tubuh Jin. Dan dalam tidurnya Hyosi menyankinkan itu adalah mimpi.

Tapi belaian di pipinya berubah menjadi kecupan singkat. Seketika Hyosi membuka matanya.

“Hanya mimpi” desinya cepat. Tapi wangi tubuh Jin mengiang di indra penciuamannya.

“Tidak. Kau tidak bermimpi Ryu Hyosi”

Tubuh Hyosi menegang. Sekali lagi Hyosi menyakinkan dirinya tadi hanya bermimpi. Tapi perasaan Hyosi tidak enak. Perlahan ia menoleh kesamping. Matanya melebar. Debaran jantungnya berdetak cepat. Darah berdesir hebat.

“Tidak Hyosi, itu hanya ilusimu saja” batin Hyosi. Hyosi mengkerjab kan matanya. Dia nyata batin Hyosi lagi.

Keterkejutkan Hyosi tidak sampai disitu saja. Tiba – tiba bibirnya di cium dengan singkat. Lalu pipinya di tangkup pelan.

“Aku merindukanmu” ucap Jin tulus. Jelas tersirat melalui pandanganya ke Hyosi. Pandangan yang merindu terlalu dalam.

Air matanya Hyosi mengenang cepat dan mengalir ke pipinya. “Benarkah itu kau Jin” tanya Hyosi dengan suara serak. Jin mengangguk, menahan tangisan yang tertahan di bibirnya.

Perlahan Hyosi mengangkat tangannya disentuhkan pipi Jin. Matanya, hidungnya, rambutnya hingga bibirnya.

“Aku merindukan mu” lirih Hyosi kali ini tangisnya sudah pecah. Ditariknya tubuh Hyosi kepelukannya. Di peluknya erat tubuh Hyosi, dengan sayang. Di elusnya rambut Hyosi dengan lembut. Menenangkan gadisnya.

“Kim Seokjin aku merindukanmu” lirih Hyosi lagi.

“Arra-yo” balas Jin. Sedetik kemudian Jin menarik Hyosi ke kamar mandi.

***

“Euummhhppp” Hyosi mencoba menarik nafas. Tapi sepertinya itu sia – sia. Karena Jin membekapnya dengan bibirnya.

“J..in..” panggil Hyosi. Tapi Jin mengabaikannya. Dan lebih memilih mencumbu Hyosi dengan kasar. Ditariknya kerah kemeja Jin menahan getaran di tubuhnya.

“Jin..ss..sttoppss..” pinta Jin. “I can’t” balas Jin cepat di sela ciuamannya. Ditarik leher Hyosi memperdalam ciuamannya.

Jin semakin gencar memberi Hyosi ciumannya hingga Hyosi membalasnya. Dan kamar mandi yang berukuran 2 x 1 dipenuhi dengan decapan – decapan mereka berdua.

Hyosi mendesah hebat saat bibir Jin sudah beralih ke lehernya. Di ramasnya rambut Jin. Dan menarik memperdalam ciuman Jin di lehernya.

Hyosi menggigit bibirnya saat gigi – gigi Jin mengigit pelan lehernya.

“Sshhh” sebisa mungkin Hyosi mengecilkan volume desahannya. Hyosi mendorong Jin saat sebuah gelombang ingin meledak di dalam dirinya. Tapi sayangnya Jin tenaga Jin lebih kuat ketimbang Hyosi. Jin semakin mendekap dirinya ke Hyosi. Setelah puas mengecup leher Hyosi. Kali ini Jin mengisap kecil hingga Hyosi menjerit kecil.

“Jin.. hentikan..”

Jin mendadak menghentikan kegiatannya. Di tatapnya Hyosi lekat.

“Kau tau berapa lama aku menunggumu? Kau tau berapa lama aku merindukanmu ? Dan kau tau berapa lama aku menginginkan sentuhanmu”

Hyosi terdiam. Betapa senangnya dia mendengar ucapan Jin tadi. Beribu kupu – kupu bertebangan di perutnya. Di tangkupnya wajah Jin dengan kedua tangannya.

“Jin not there”

“Jadi.. ?”

Hyosi mengkerlingkan matanya ke Jin. Di kecupnya bibir Jin singkat. Lalu di tariknya keluar Jin dari dalam kamar mandi.

***

Jin membelai lembut pipi Hyosi yang berada di sampingnya. Di bawanya Hyosi ke seat nya dan di pindahkannya Taehyung ke seat Hyosi.

Hyosi menatap Jin dengan lamat. Hyosi masih tidak percaya atas perubahan Jin. Antara ia bersyukur dan terpukau dengan Jin sekarang.

“Kenapa menatapku ?” tanya Jin. Hyosi menggeleng pelan. “Tidak. Hanya saja aku tidak percaya kau seperti ini” tangannya membelai pipi Jin.

“Kau merindukanku ?”

Hyosi menggeleng cepat. “Sangat” lalu dikecupnya bibir Jin singkat. Jin tersenyum hangat menatap Hyosi.

“Tidurlah” pinta Jin lalu membelai Hyosi dan masih menatap gadisnya itu.

***

Yukaris menatap horror Hyosi yang sedari semalam mereka sampai di korea hingga siang ini masih tersenyum.

“Apa senyummu itu tidak ada habisnya ?”

Hyosi menatap Yukaris dengan tersenyum. Ia menggeleng. Yukaris memegang kepalanya yang mendadak pusing. Di hempaskannya tubuhnya ke samping Hyosi. Diliriknya sekilas Hyosi yang masih tersenyum sambil membaca hasil interview nya dengan Jin.

Yukaris mengubah posisi duduknya menatap Hyosi. “Hyo..”

Hyosi hanya berdehem. “Hyo..” panggil Yukaris sekali lagi.

“Ada apa ?”

“Tidak ingin bertemu kedua kakakmu ?”. Seketika itu juga senyum Hyosi luntur. Ia terdiam. Ia hampir lupa kalau dia sekarang di Seoul. Tidak bisa dipungkuri ia merindukan kedua kakak kembarnya. Yukaris menyengol bahu Hyosi. Hyosi tampak berfikir. Diambilnya ponselnya. Di carinya ID Barom. Di tekan nya cepat call di LCD ponselnya.

“Halo oppa..”

***

Hyosi menatap nanar ayahnya sedang tertidur pulas di kamar rumah sakit. Di sentuhnya bayangan ayahnya melalui kaca pintu kamar.

“Hyosi..”

“Benarkah itu dirimu ?” seketika tubuh Hyosi menegang. Suara itu ? Suara kakaknya. Perlahan Hyosi menoleh. Dapat dilihatnya jelas kakaknya Hwayoung dan Hyoyoung beserta ibu mereka.

Hyosi tidak dapat menahan kuasa. Air matanya tumpah seketika melihat keluarganya. Hyosi menutup mulutnya menahan isak tangisnya. Hyoyoung segera mendekat ke Hyosi dan memeluknya. Hyosi maupun Hyoyoung tak kuasa menahan tangis. Hyoyoung melepaskan pelukannya. “Benar ini kau ?” tanya Hyoyoung di sela isak tangisnya. Hyosi mengangguk pelan. Hyosi menoleh kesamping. Dilihatnya Hwayoung berdiri diambang ibunya. Hwayoung membuka tangannya lebar – lebar. Dengan cepat Hyosi berlari ke arah kakak kembarnya. Memeluk erat Hwayoung.

“Jangan terlalu erat. Kasian anakku” canda Hwayoung. Hyosi melepaskan pelukannya.

“Benarkah ini ?” ditatapnya perut buncit Hwayoung. Hwayoung mengangguk sekilas sembari mengelus kepala Hyosi.

“Aku akan punya keponakan ?” tanya Hyosi bersemangat. Hwayoung mengangguk senang.

“Aku merindukanmu” ucap Hwayoung. “Aku juga” sela Hyoyoung lalu memeluk Hyosi dari belakang.

“Eomma juga merindukanmu Hyosi”

Hyosi menoleh kesamping. Air mata nya yang hampir reda kini bersimbah air mata kembali. Melihat ibunya menangis menatapnya.

“Boleh eomma berbicara dengan mu ?” pinta ibunya. Hyosi menatap satu – satu kakaknya. Hwayoung maupun Hyoyoung mengangguk.

***

Kini mereka berdua berada di taman yang berada di rumah sakit. Taman yang cukup sepi.

“Maafkan eomma” sahut ibunya. Hyosi diam tanpa berkata – kata. Mengharapkan kata – kata selanjutnya yang ibunya katakan.

“Maafkan atas perlakuan eomma terhadapmu selama ini. Dan juga maafkan appamu. Dia sangat merindukanmu. Dia merasa bersalah telah membuat mu seperti ini” ucap ibunya menahan tangis.

Hyosi diam menahan sesak di dadanya. Sebisa mungkin ia tahan air mata agar tidak lolos, tetapi itu tidak berhasil. Air matanya lolos begitu saja. Cepat – cepat ia hapus jejak – jejak air matanya.

“Eomma boleh minta sesuatu kepadamu ?”

Hyosi menoleh menatap ibunya. “Bisakah kau berbahagia dengan Seokjin ?”

“…….Eomma” desis Hyosi.

“Eomma dan Appa mu telah banyak salah terhadapmu. Dan eomma juga appa mu akan senang bisa kau dengan Jin”

“Kenapa eomma baru bilang sekarang” lirih Hyosi menahan amarahnya. Rasanya Hyosi ingin meluapkan kemarahannya kepada eommanya. Tapi ia tidak bisa.

“Maafkan eomma. Selama ini kami dibutakan oleh harta. Sampai kami tidak tahu betapa kau mencintai Jin”

Ny.Ryu mendekat lalu memeluk Hyosi dengan sayang. “Maafkan eomma. Maafkan appa mu. Maafkan kami berdua. Maafkan telah membuatmu seperti ini. Maafkan “ Ny.Ryu terisak sedih di pelukannya dengan Hyosi. Hyosi menghelah nafasnya. Ragu – ragu ia peluk ibunya.

“Aku menyayangi mu Hyo”

Kini Hyosi memeluk ibunya erat. Bagaimana marahnya Hyosi terhadap orang tuanya. Tapi Hyosi tidak bisa mempungkiri ia menyayangi orangtua nya.

“Aku juga menyayangi eomma, appa dan eonni. Aku menyayangi kalian semua” ucap Hyosi tulus disertai air mata mengalir dipipinya.

***

Hyosi menatap ruangan bertuliskan nama Kim Seokjin. Tulisan nama yang sudah sedikit usang.

“Apa ia masih tinggal disini” tanya Hyosi sendiri.

Perlahan ia membuka kenop pintu tersebut. Hyosi terkejut mendapatkan Jin sedang tertidur pulas di kasur. Dengan langkah pelan Hyosi bergerak pelan ke arah Jin. Hyosi tersenyum melihat Jin tertidur seperti bayi. Di dudukkannya tubuhnya ke sisi ranjang.

“Sudah lama aku tidak melihatnya tidur seperti bayi” di belainya pelan surai rambut Jin. Lalu belaiannya turun ke pipi mulus Jin. “Kau lebih tampan kalau sedang tidur seperti ini”. Di kecupnya pipi Jin sekilas. Hyosi tertawa kecil melihat Jin menggeliat. Kemudian Hyosi mengecup bibir Jin pelan. Jin kembali menggeliat. Hyosi menutup mulutnya. Agar suara tawa nya tidak terdengar.

Jin perlahan membuka matanya. Samar – samar ia melihat sosok Hyosi tersenyum kepadanya.

“Apa tidur mu nyenyak sayang ?” Hyosi membelai pipi Jin. Jin mengangguk. “Aku memimpikan mu” ujar Jin dengan suara serak.

Hyosi mencibir. “Jangan menggombal”. Jin menggelak “Aku tidak menggombal” Jin mempoutkan bibirnya. Dengan cepat Hyosi mengecupnya. “Kau menggemaskan”

Jin menggeserkan tubuhnya, lalu menepuk – nepuk sisi kosong di ranjang. Hyosi menurutinya. Di rebahkannya tubuhnya ke sisi samping Jin menghadap lelaki ini. Jin mengelus pipi Hyosi.

“Kau tau berapa kali aku bermimpi tidur bersama mu seperti ini”.

Hyosi menggeleng. “Berkali – kali, berpuluh kali, berribu kali” ucap Jin menatap lembut Hyosi.

“Apa kau tahu kalau aku juga memimpikanmu, merindukanmu, membayangkanmu” ucap Hyosi sambil memainkan poni Jin yang sedikit panjang. Jin menggeleng.

“Setiap saat aku memikirkanmu. Setiap aku memikirkanmu. Dadaku terasa sesak” keluh Hyosi. Jin menggeserkan tubuhnya agar lebih dekat ke Hyosi. Memeluk gadisnya dengan erat hingga tidak ada celah diantara mereka. Ditatapnya Hyosi intens. Wajahnya mendekat ke arah Hyosi dan memagut pelan bibir Hyosi. Hyosi memejamkan matanya merasakan sensasi gerakan bibir Jin. Hyosi menggenggam kaos Jin erat. Jin menghisap bibirnya kuat. Hyosi membuka mulutnya, disaat itu juga Jin melesakkan lidahnya. Dan kini lidah mereka saling beradu. Membelit satu sama lain. Tangan Jin yang menganggur begitu saja perlahan membelai tubuh Hyosi dari punggungnya berpindah ke paha dan memasuki blous Hyosi. Merabah perut datar Hyosi, menggelitik denga usil hingga si empunya tertawa kecil di sela ciumannya. Jin mengangkat tubuhnya sehingga ia berada di atas gadisnya.

Jin memperdalam ciumannya. Hyosi tidak mau kalah, menarik leher Jin dan memperdalam ciumannya. Tiba – tiba Hyosi melepaskan ciumannya. Jin menatapnya dengan tak senang.

“Aku ingin melihat bunga baby breath” ujar Hyosi dengan imutnya. Di tatapnya Jin dengan puppy eyes andalannya.

Jin menatapnya tajam, kemudian tertawa melihat ekspresi imut Hyosi. “Baik – baiklah” ucapnya, sebelumnya di kecupnya kening gadis ini dan bangkit dari posisinya.

***

Kini Hyosi tengah berdiri di taman belakang tempat rehabilitasi di tempat Jin berada. Air mata Hyosi menggenang di pelupuk matanya. Taman ini sangat indah. Taman hasil kerja Jin sendiri. Taman yang hanya di penuhi oleh bunga baby breath dan lily putih kesukaannya.

“Aku marawatnya untukmu” sahut Jin dari belakang sambil memeluk tubuh Hyosi dari belakang. Hyosi menoleh kebelakang. “Ini sangat indah” ungkap Hyosi. Jin tersenyum ke gadisnya. “Ya ini memang indah. Seindah dirimu” di kecupnya bibir Hyosi singkat. Di balikkannya tubuh Hyosi hingga menghadapnya.

“Tutup matamu” pinta Jin. “Buat apa ?” tanya Hyosi heran berserta binggung. Jin mencubit kedua pipi Hyosi gemas. “Sudah tutup saja” pinta Jin sekali lagi. Mau tak mau Hyosi menutup matanya.

Jin mengeluarkan sebuah kotak putih dari sakunya. Entah kapan ia menggambil. Yang penting ia mengambilnya tanpa sepengetahuan Hyosi. Di bukanya kotak putih tersebut, hingga terpampang jelas cincin putih dengan permata mengelilingi bagian atas cincin tersebut. Cincin dengan mode simple tapi terlihat mewah.

“Sekarang buka matamu” pinta Jin.

Pelan – pelan Hyosi membuka matanya. Betapa terkejutnya ia. Sebuah cincin indah berada di tengah – tengah kotak bewarna putih. Mata Hyosi berkaca – kaca melihatnya. Di alihkannya pandangannya menatap Jin. Tak ada satu pun kata yang terucap dari bibir Hyosi. Rasa nya bibir nya keluh.

“Ini sudah aku siap kan, jauh sebelum kau pergi. Dirimu mungkin tidak mempercayai apa yang aku katakan barusan. Aku menyiapkan ini jauh sebelum aku seperti ini” Jin meneguk ludahnya kasar.

“Aku disini berdiri di depan dirimu. Karena aku tulus mencintaimu. Dan aku ingin membangun kehidupan baru dengan mu. Dengan wanita yang aku cintai. Aku mungkin belum sempurna dima—“ Hyosi meletakkan jari telunjuknya tepat di bibir Jin. Di tangkup nya lembut pipi Jin dengan kedua tangannya.

“Aku akan menerima mu apa adanya. Aku mencintai mu sebelum kau berdiri seperti ini di depanku. Aku mencintai dirimu yang dulu dan sampai sekarang, ah tidak ! Aku mencintaimu sampai aku menghembuskan nafas terakhirku. Aku mencintai mu selamanya” di tatapnya Jin menyakinkan lelaki ini.

Jin menyungingkan bibirnya. “Apa kau menggombalku ?” Ditariknya satu alisnya ke atas. Hyosi mendadak cemberut melihatnya. “Aku serius”. Lelaki ini tersenyum. Jin menjatuhkan satu lututnya ke tanah. Di raihnya satu tangan Hyosi.

“Apa kau mau menikah dengan ku ?.” Hyosi mengangguk. Di sejajarkannya wajahnya dengan Jin. Lalu di kecupnya bibir lelaki ini. “Aku menerima lamaranmu.” lalu ia tersenyum ke Jin dengan manisnya.

***

Hyosi menyandarkan dirinya ke tempat tidur. Mencoba mengulang kejadian tadi pagi yang ia lewati. Mengingat ucapan janji suci antara ia dan Jin. Mengingat ciuman mereka di altar. Hyosi mendadak tersipu, sangat mengingat ucapan Jin. “Kau tahu. Berkali – kali aku melihat kencantikanmu. Dan kali ini dirimu sangat cantik luar biasa. Aku berharap waktu berhenti sejenak. Aku harus menyimpan memori bahwa saat ia kau sangat – sangat cantik.” Hyosi memegang pipinya yang memanas.

Setelah melewati sekitar 5 bulan semenjak Jin melamarnya. Barulah tadi pagi mereka melaksanakan pernikahan mereka. Hyosi menolak acara pernikahan di minggu Jin melamar Hyosi. Karena alasan banyak yang harus selesaikan terutama di perkerjaannya. Dan Hyosi berniat menetap di Korea mau tidak mau Hyosi harus resign dan mengurus kepindahannya. Dan juga disaat itu juga ternyata pekerjaan Jin sama banyaknya dengan Hyosi. Dan Hyosi bersikeras Jin harus menyelesaikan pekerjaannya terlebih dahulu.

Dengan berkenakan kimono Hyosi menenangkan dirinya. Membayangkan hari ini dan selanjutnya ia sudah berstatus menikah. Dan tak lupa Hyosi menenangkan kegugupannya atas yang namanya malam pertama. Hyosi menggeleng – gelengkan kepalanya. “Bagaimana aku bisa memikirkan itu” desisnya berusah tenang. Di ambilnya buku diambang meja samping tempat tidurnya. Di bacanya buku tersebut dengan seksama dan juga mereksflesikan pikirannya. Tapi percikan air dari kamar mandi mengusik pikirannya. Hyosi menjadi tidak fokus dengan buku bacaannya. Tapi malah sebaliknya, ia membayangkan Jin yang sedang mandi. Di tutupnya bukunya kasar. Nafasnya menjadi tidak beraturan. Hyosi mengkipas – kipaskan dirinya dengan telapak tangannya.

Air keran mati. Itu menandakan Jin sudah selesai dengan mandinya. Cepat – cepat Hyosi membuka buku bacaannya dan membaca nya asal. Wangi sampo dan sabun menguar ke kamar. Hyosi meneguk ludahnya mencoba fokus ke bukunya. Sayangnya itu tidak bisa, Hyosi melirik pelan – pelan melalui ekor matanya. Jin berbalut handuk di pinggangnya, dan handuk kecil di lehernya. Hyosi meneguk ludahnya. Bulir – bulir air masih mengalir di tubuhnya putih Jin. Badannya semakin bagus batin Hyosi. Cepat – cepat Hyosi menoleh ke depan melihat Jin menoleh kearahnya. Aku harap ia tidak melihatku memperhatikanya tadi batin Hyosi lagi.

Tubuh Hyosi menegang. Aroma sabun Jin semakin menyeruak keindra penciuamannya. Dengan gerakan cepat Jin manarik buku Hyosi. Lalu di tatapnya Hyosi lekat – lekat. Hyosi memundurkan wajahnya hingga posisi nya kini tertidur. Jin tersenyum licik. Di raubnya cepat bibir Hyosi tanpa minta izin si empunya. Di hisapnya kuat bibir bawah Hyosi, dan di gigitnya gemas. Hyosi membuka mulutnya. Dan langsung saja lidah Jin menyambut belaian lidah Hyosi. Hyosi yang tak mau kalah. Hyosi meraba dada telanjang Jin yang masih basah. Sampai Jin menahan nafasnya saat jemari – jemari lentik Hyosi menggrayangi dadanya. tak sampai disitu saja, Hyosi manarik rambut basah Jin memperdalam ciuamannya. Jin dengan senang hati menyambutnya. Hyosi membalas ciuaman panas Jin dan membuat ciuman mereka semakin panas. Gerakan lidah satu sama lain, desahan yang keluar di sela ciuman mereka membuat libido satu sama lain menaik. Jin merubah posisinya yang tadi duduk di pinggir kasur menjadi di atas Hyosi. Jin tak sabaran membuka kimono tidur Hyosi dan membuangnya begitu saja. Ciuman Jin turun ke leher gadis ini. Di endusnya wangi wanitanya kemudian di kecup dan dihisap kuat sehingga menimbul bercak merah keunguan. Setelah puas dengan leher jenjang Hyosi, Jin menurunkan ciuamannya ke dada Hyosi yang masih terbalut bra. Jin mencium gundukan ranum dengan penuh nafsu. Dilepaskannya bra yang membungkus dada Hyosi. Jin mengisap dan menjilat dengan tempo yang tak tentu. Sampai Hyosi merapatkan kedua kakinya menerima sensasi lidah Jin. Setelah puas dengan kedua dada Hyosi, Jin kembali menurunkan ciuamannya ke pusar Hyosi, menggelitik perut datar wanita ini dengan lidahnya. Hyosi merasa beribu kupu – kupu mengitarinya. Jin terpaku tepat di pusat gairah gadis ini yang masih tertutupi. Jin menoleh sebentar ke atas melihat Hyosi yang nafasnya sudah putus – putus. Jin menyeringai. Dibukanya cepat paha Hyosi yang merapat, lalu tanpa babibu Jin menarik celana dalam gadis ini hingga terlepas dan terpampang kewanitaanya.

“Jin…” panggil Hyosi sedikit serak. Tubuh Hyosi melengkung, nafas hangat Jin menyapu lembut pusat gairahnya. Sensasi listrik menjalar ke seluruh tubuhnya. Lidah basah Jin mencecap di pusat gairah Hyosi hingga gadis ini berjengit dan sedikit berteriak. Bukan hanya mencecap Jin mempermainkan lidahnya dengan posesif. Hyosi mendadak pusing. Dia berusaha mencapai ambang sadarnya. Tapi tidak bisa. Jin membuatnya melayang penuh.

Jin meranjak naik, handuk di pinggangnya sudah entah kemana ia buang. Di tatap Hyosi dengan nafsu yang membara. Jin tidak tahan lagi, wajah memerah Hyosi yang penuh peluh membuat libidonya meledak. Di kecupnya kembali bibir Hyosi yang sudah membengkak. Tangan kanannya menopang tubuhnya dan tangan kirinya berusaha menyatukan dirinya dan Hyosi.

Jin berusaha selembut mungkin memasuki titik pusat gadis ini. “Kenapa masih se-sempit.”Dipukulnya bahu Jin.

“Kau kira aku melakukan dengan lelaki lain hah ?” erang Hyosi. Mendengar hal itu sontak Jin tertawa senang. Hyosi mengerang kecil ketika pusat tubuhnya dimasuki penuh oleh Jin. Jin menggertakan giginya menahan sensasi pijatan yang berikan oleh Hyosi. Hyosi masih sempit seperti dulu. Diusapnya punggung Jin menandakan ia sudah siap.

Mengikuti perintah, Jin menggerakan tubuhnya, perlahan – lahan dengan lembut tanpa menyakiti wanitanya. Hyosi memejamkan matanya. Ia masih merasakan sakit. Tapi lama – kelamaan sakit itu hilang berganti menjadi sensasi yang memabukkan. Di cengkramnya bahu Jin kuat. Hyosi yang sudah terbakar nafsu ikut menggerakan pinggulnya. Melihat Hyosi ikut membalas. Jin mempercepat tempo gerakannya. Hyosi mendesah kuat saat Jin memperdalam dirinya. Desahan demi desahan tercipta di setiap hentakan mereka. Jin menyangkat kaki Hyosi hingga memeluk pinggang nya penuh. Desahan Hyosi semakin kencang. Hentakan yang di berikan Jin semakin dalam. Dan semakin penuh, hingga tepat di titik spotnya. Titik yang memabukkan Hyosi. Tak mau menganggur begitu saja. Tangan kiri Jin menggrayangi nakal dada Hyosi kembali. Hyosi semakin tak berdaya dibuat Jin.

“K-kau be-laajar d-dari ma-manah” ucap Hyosi putus – putus. Jin mendekat kan wajahnya ke telinga Hyosi. “Aaku belajar dari dirimuhh” suara seksi Jin membuat Hyosi semakin panas.

“A-aku… ahh” Hyosi berusah menahan gelojak orgasme yang akan meledak di tubuhnya.

“Ak-aku sudah… ti-tidak k-kuat” Hyosi menengadahkan wajahnya.

“Sss..sebentar lagihh” balas Jin. Di percepat temponya, agar gadisnya tidak menahan lebih lama lagi. Hyosi menggerang kembali. Hentakan cepat dan kuat membuatnya tak berdaya. Tak tahan menahan lagi, Hyosi melepaskan pusara gelombang orgasmenya. Dan tak lama kemudian Jin mengikutinya. Hyosi merasakan kehangat membasahi pusat dirinya. Tak sampai disitu. Jin menarik tubuh Hyosi, mengganti posisi mereka. Jin menyandarkan dirinya ke ranjang, dan Hyosi berada di pangkuannya.

Hyosi mengerling nakal ke Jin. Rasa lelah yang ia rasakan tadi berubah cepat. Di cumbunya bibir lelaki ini dengan ganas. Kedua tangan Jin mengangkat paha Hyosi, dan Hyosi menurutinya kemudian Jin memegang pinggulnya membantu hentakan Hyosi. Hyosi terus menaik – turunkan pinggulnya. Kali ini, Jin lah yang dibuat tak berdaya oleh Hyosi. Pijatan dan hentakan gadis ini membuat dirinya lemas. Dengan jahilnya Hyosi menggoda Jin, digesekkannya dadanya ke dada bidang Jin. Jin menggerang, dalam hitungan detik Jin meraub dada sintal Hyosi. Hyosi meramas lalu menekan kepala Jin. Hyosi terus menghentak hingga pusara orgasme nya memucak kembali. Hyosi sedikit mengapit pahanya. Mengetahui akan hal itu Jin melesakkan kembali cairannya dan Hyosi mengikutinya. Dan cairan mereka melebur menjadi satu. Hyosi lemas menjatuhkan dirinya ke pelukan Jin.

Jin menangkup gadis ini dan menidurkan disampingnya. Di hadapnya Hyosi, lalu di tariknya selimut menutupi tubuh polos mereka. Di kecupnya gadis nya ini. Lalu tersenyum. Begitu juga Hyosi, dibalasnya senyum Jin. tangan Jin tergerak mengelus perut Hyosi.

“Semoga ini menjadi jagoan kecil” ucap Jin berharap. Hyosi malah menggeleng. “Aku ingin dia menjadi perempuan Jin.” Jin mengecup bibir Hyosi. “Panggil aku oppa” nada Jin mengancam. Hyosi malah memeletkan lidahnya. “Tapi aku ingin perempuan oppa” rengek Hyosi. Jin menatap gadisnya dengan gemas. “Kalau begitu bagaimana kalau kembar ? Lelaki dan Perempuan” Jin menaik turunkan alisnya.

“Hah ide bagus” ucap Hyosi cepat.

“Kalau begitu tidak cukup sampai disini.” Jin segera mengubah posisinya menjadi di atas Hyosi.

“YA ! KIM SEOKJIN AKU LELAH!!”

——————– END !!!!!!

……………………………………fiuh. akhirnya selesai. Setelah hiatus dan merasakan writer block. Akhirnya ff ini ending. Selesai sudah foolish love. Fiiiuuuhh~

Maaf , kalau tidak mengindahkan para reader reader sekalian. Pandakim berusaha semaksimal mungkin (caileh bahasanya).

Walaupun ini ending. Pandakim mengaharapkan koment. Agar ff selanjutnya lebih baik.

Sekianlah ff ini. Yg sudah baca dan koment, PANDAKIM ucapkan kamsia, very very kamsia. Yang udah nungguin juga very very kamsia. Poko nya kamsia lah semua.

Buat yg nanyain school love affair dan from now on I love you. Sabar menanti ya. Pandakim usahain segera di selesaikan.

Sudahlah kalau begitu. Bye bye ~~Pyooong~~

About fanfictionside

just me

16 thoughts on “FF/ FOOLISH LOVE/ BTS-BANGTAN/ pt. 6 (FINAL)

  1. Udah agak lupa sama previw chap nya, tapi syukur deh sekarang Jin sama Hyosi bisa bareng tanpa ada halangan..
    Kalo ada sequelnya ditunggu loh thor,,

  2. Huaaaaaa….
    Saya rindu dengan idiotnya Jin dan ke pervet-an dari Hyosi.
    Endingnya kayak keburu-bu ada beberapa typo but no problem.
    Yang penting sequel nya thor anaknya harus kembar loh !
    Nice FF yuhuu

  3. Whooaaahhhh Setelah lama menunggu,akhirnya ff nya nongol jugaaa,whoah DAEBAKK abis deh nih ff…Jdi kangen sama Hyosi yg galak deh,wkwk

  4. sedih deh karna ff ini udah end. tpi gak papa ending nya kereeen bisa bikin gue senyum2 gaje😀 entah kenapa bayangan gue itu si jin image nya sexy banget di sini , jadi kepengen deh jadi hyosi😄 #yadongmodeon di tunggu ya thor ff lain bercast bebeb gue seokjin. luv you author pandakim❤

  5. ada yg kurang thor, jangan lupa squel nya yaaa ?? okeee?? wajib ada pko nya #maksa #readerrese fighting pandakimmie unnie😀

  6. Yahhhh jin nafsu bgt sih ma hyosi .
    Keren” sumph nie ff, ngena bgt k hti😥

    Lma bgt nunggu nie ff, eh udh end y .
    Tp qw puas kok coz mpe first night’y uga dcerita’n .

    Fighting thor🙂

  7. huaa final yaa? tapi puas kok jin akhirnya ketemu sama hyosi . thor req dong next FF si jehop yang jd main castnya ok;0

  8. Oh ayolah aku sampai speechless pas liat ada part 6 dan LEBIH SPEECHLESS/? saat baca ff nya
    THIS IT MY LOVELY STORY FANFICTION !!
    DAEBBBAAAAAAAAAKKKKKKKK !!
    lagi berkhayal jadi hyosi hihi
    *TEBARBUNGA*

  9. Omo! Omo! Omo!
    Harusnya aku belum boleh baca yg beginian!! *tutup mata*
    Tapi karena main cast-nya Jin oppa, tetap aku baca juga meski ada beberapa scene yg aku lewatin ._.v *maaf ya thor*

    Aku berasa banget bahagia dan sedihnya. Feel-nya itu lho😄

    Sequel! Sequel!

    Thank you, min udah lanjutin ff ini hingga akhir😀 *bungkuk hormat bareng Jin oppa*

  10. Aigoo.. akhirnya ff ini dipublish hehe
    Jin makin mempesona aja nih wkwk
    Ini daebak banget.. fighting buat ff yg lainnya😀

  11. Sebelum cuap-cuap tentang ff ini/? Aku mau minta maaf karna baru sekarang aku comment karna aku penasaran sama ceritanya jadi gak comment di part sebelumnya.
    Hadeeeehhhh thor aku baca bagian NC sampe tahan napas/? Kekekkkk pokoknya ff ini Very Very nice (y)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s