FF/ ADAGIO/ EXO-MISS A-A PINK-F(X)/ pt. 1


  • Author                 : yoongiya
  • Cast                 : – Sulli or Choi Jinri
  • Kim Jongin
  • Wu Yi Fan
  • Son Naeun
  • Park Chanyeol
  • Kim Jongdae
  • Bae Suzy
  • Genre : Romance, School Life, NC
  • Length : Chapter
  • Disclaimer : This fanfiction is purely mine. I’m watching you.

adagio cover

 

Lelaku itu. Datang dan pergi. Hanya sejuta kesedihan ia tinggalkan. Membentuk ruam – ruam kesakitan pada hati. Menorehkan setitik kebahagian yang berganti pedih. Terjebak dalam status tanpa perasaan. Dalih tak ingin menyakiti, didasari oleh kebodohan. Keegoisan semata. Sesal tak berujung. Kata yang tak terucap. Seolah logika mengendalikan hati. Omong kosong. Alunan nada indah, diam – diam merobek dinding perasaan sang empunya. Kata – kata manis mengukir kesakitan, kesakitan bak palung terdalam. Kenangan. Kenangan indah terkubur, meninggalkan busuknya bangkai dendam.

Sulli’s POV

Semburat cahaya warna – warni berkilauan bak mutiara. Warna demi warna menarik perhatian setiap orang untuk menoleh, menatapnya. Aku memainkan rambut. Sesekali menghentakkan kaki sesuai dentuman musik menusuk telingaku. Mataku tak henti menatap ke arah timur, dimana matahari tanpa segan memberi sekelumit cahayanya pada hujan demi membentuk karya Tuhan yang memanjakan mata setiap insan.

Disini, di halte bus. Aku mengawali bulan Maret dengan rok mini merah marun dan kemeja hitam berlengan panjang yang dimasukkan. Tak lupa dengan sneakers dan heaset yang terpasang di kedua telinga. Tentunya dengan senyuman. Bukankan segalanya harus diawali dengan hal baik? Contohnya saja senyuman. Terkadang hal kecil perlu diperhatikan. Karena tak ayal hal kecil dapat mengubah segalanya. Ya. Tahun ajaran baru, sekolah baru. Adaptasi. Hal yang paling kubenci sekaligus hal yang paling aku kuasai. Sudah setengah jam aku habiskan duduk disini. Namun tak satupun bus terlihat. Kulihat ada seseorang berseragam sama denganku, tepatnya anak laki – laki. Perawakannya tinggi, berkantung mata. Wajahnya bisa dibilang… Menyeramkan. Ia menoleh ke arahku tajam. Seperti mengatakan ‘hindari aku dari tatapanmu, atau kau akan mati.’ Aku pun sontak mengalihkan pandangan dengan poker face.Tak lama terlihat sebuah motor bercat biru gelap datang. Nampaknya pemilik motor itu satu sekolah denganku. Ia menoleh ke arah lelaki menyeramkan itu dan mengalihkan pandangannya kepadaku sekitar dua detik. “Cepat naik.” Lelaki di atas motor itu berujar. Tak lama kemudian lelaki menyeramkan itu mengikuti perintah lelaki di atas motor tersebut. Tampan. Ah, Choi Sulli apa yang kau pikirkan. Mereka pastilah bukan orang biasa. Wajah menyeramkan, motor besar, tatapan tajam…

Ah, tunggu. Jam berapa ini? Seketika aku melihat jam tangan yang kukenakan. Ternyata benar, sekarang jam tujuh lewat dua puluh. Sepuluh menit lagi gerbang akan ditutup. “Ah, apa yang harus aku lakukan…” Aku mengetuk – ngetuk kepala kebingungan. Sesekali menghentak – hentakan kaki seperti orang bodoh. Disaat orang lain sudah menyerah menunggu bus datang, aku masih disini dengan bodohnya menunggu bus. Pantas saja lelaki tadi melihatku dengan tatapan meremehkan. “Kau.” Suara berat terdengar. Aku enggan menoleh, tahu suara itu tak memanggilku. Aku tetap menunduk sembari menutup wajah dengan kedua telapak tangan. “Siswi Jeonju Art High School!”

“Eung?” Aku mengangkat wajah.

“Ya, kau. Sedang apa kau disitu?” Aku masih menatap lelaki itu kebingungan. “Choi… Sulli? Apa yang kau lakukan?”

“Ah, aku? Menunggu bus.”

“Bodoh. Pohon tumbang di ujung jalan. Tak ada kendaraan roda empat yang dapat melalui jalan ini.”

“Ah, mengapa aku tidak tahu? Apa yang harus aku lakukan?” Lagi – lagi aku menutup muka.

“Ayo naik.”

“A… Apa?”

“Ayo cepat naik. Hari pertamamu sekolah. Benar kan?”

“Bagaimana kau bisa tahu?”

“Aku tak pernah melihat wajahmu. Sudah pasti kau murid baru. Cepat naik. Atau kau dan aku akan kena hukuman.”

“Ah, baiklah.” Aku segera turun dari halte dan menaiki motor hitam milik seseorang yang kuyakini sebagai kakak kelasku ini. Ia lalu melajukan motornya dengan cepat. Sangat cepat. Ditambah keadaan jalan yang sepi, membuatnya semakin memacu kecepatan. Aku hanya memegang pundaknya kuat – kuat, takut akan terjatuh.

“Kalau kau takut, peluk saja pinggangku. Aku tak keberatan demi keselamatanmu.” Ia menoleh kebelakang, menunggu lampu merah berganti menjadi hijau. “Perjalanan masih lumayan jauh. Akan memakan waktu lama jika aku mengurangi kecepatan.” Aku mengangguk. Tak lama ia memacu motornya lagi, tak memperdulikan lampu merah yang belum berganti warna. Aku bersikukuh tak mau memeluknya. Harga diriku akan kutaruh dimana. Memeluk seorang lelaki yang bahkan namanya saja aku tak tahu.

Ia mengurangi kecepatan motornya secara tiba – tiba. Membuat aku mau tak mau terdorong ke depan. Ia kembali menaikkan kecepatan, aku menutup mata ketakutan. Aku jarang sekali naik motor, apalagi dengan kecepatan seperti ini. Lama – lama aku bisa gila.

“Sampai. Sekarang cepat pergi ke lapangan. Sebentar lagi acara akan dimulai.”

“Acara? Acara apa?”

“Payah sekali. Pengumuman orientasi siswa baru.”

“Oh, itu. Aku tahu.”

“Baiklah, aku duluan.”

“Tunggu. Nama. Namamu?”

“Chanyeol. Park Chanyeol.”

“Chanyeol ssi, terimakasih banyak!” Aku berteriak mengingat jaraknya yang sudah cukup jauh. Ia hanya mengacungkan jempol seraya bergerak menjauh. Aku pun langsung berlari kecil ke lapangan. Lapangan sepak bola yang cukup luas. Dihiasi dengan pohon dan lampu taman di sekitarnya. Aku segera duduk asal.

“Hari ini adalah waktu kalian semua untuk berkemas. Meninggalkan segala fasilitas mewah dan menanggalkannya untuk berpindah kesini. Peraturan asrama sudah tertera pada kertas di tangan kalian. Kalian akan kembali kesini empat sore, lengkap dengan ketentuan yang tertera di kertas yang sama. Mengerti?”

“Mengerti” Jawab kami serempak.

“Kalau begitu, silakan kalian melaksanakan instruksi.” Seluruh siswa baru pergi meninggalkan lapangan. Sementara aku hanya terdiam, bingung.

“Ah, nona. Maaf. Bolehkah aku melihat kertas yang tadi dibagikan? Aku belum dapat.” Aku menepuk seorang gadis berparas manis dengan mata yang tak terlalu sipit. Ia tersenyum lalu memberikan kertas itu kepadaku. “Mengapa tidak?”

“Tiga buah telur mentah, garam, tepung,… Apakah kita akan memasak?” Aku membulatkan mata. Gadis itu terkekeh.

“Mungkin. Umm, bagaimana kalau kita menyiapkannya bersama? Akan lebih mudah, bukan?”

“Ah, terdengar menyenangkan.”

“Son Naeun.” Gadis itu menjulurkan tangan

“Choi Sulli.” Aku menjabat tangannya, tersenyum.

“Kuharap kita bisa berteman dengan baik.”

“Berteman baik adalah ide yang bagus.”

Detik demi detik berjalan begitu cepat. Kami telah pergi ke beberapa tempat. Ke swalayan, pasar tradisional, bahkan toko perlengkapan bayi pun kami datangi setelah sebelumnya kami berganti baju dan membawa koper. Kali ini kami menggunakan mobilku. Satu per satu barang telah kami temukan. Tinggal satu yang tersisa, yaitu bunga anggrek biru. Hanya bunga anggrek, cat telah kami siapkan sebelumnya.

Wangi bunga telah tercium dari radius dua puluh meter. Aku dan Naeun ternyata sama – sama menyukai bunga. Kami melangkah cepat – cepat hendak membeli anggrek sesuai perintah. “Ini dia!” Naeun mengangkat pot anggrek itu lalu hendak berjalan ke kasir. Aku pun mengikuti langkah Naeun.

PRAAAAK

“Ah!!!” Naeun berteriak.

“Naeun?! Kakimu… Ayo cepat ke rumah sakit!”

“Tidak… Belilah bunganya. Cepat!”

“Ta…”

“Maafkan aku, aku akan bertanggung jawab. Tetapi tidak sekarang. Maaf, ada seseorang yang menungguku.”

“Ah… Sulli… Sakit…”

“Hey, kau! Tunggu! Kau siswa Jeonju Art High School, benar?”

“Tingkat dua, tepatnya dua A jurusan seni suara. Jongdae.”

“Lelaki macam apa dia?” Aku membantu Naeun berdiri. Sang pemilik toko pun ikut membantu.

“Hanya sedikit, tidak apa – apa. Belilah bunganya.”

“Seoul Hospital Center tak jauh dari sini. Mari kubantu.”

“Bunganya?”

“Aku akan kembali dan membelinya.”

“Tidak. Ahjumma, tolong anggreknya dua. Beserta anggrek yang jatuh ini. Semua jadi berapa?”

Kaki Naeun telah diobati, lengkap dengan perban membaluti. Ia bersikukuh untuk tetap mengikuti kegiatan sekolah. Toh lukanya ternyata tak terlalu besar. Kami bergegas menuju sekolah, hendak mewarnai anggrek dan berdandan sesuai permintaan panitia. Aku menguncir kuda rambutku tinggi – tinggi dengan ikatan yang super duper kencang. Dengan memakai baju tidur berwarna pink mencolok, dan sendal rumahan aku memoles wajahku dengan make up. Eyeshadow warna hijau untuk pipi, dahi bertuliskan ‘ZONK’ yang ditulis dengan lipstick merah menyala. Ditambah dengan lukisan kumis di dagu. Kami terlihat kacau. Tak jarang kami saling menertawai satu sama lain.

Riasan selesai, anggrek selesai. Tepat lima belas menit lagi acara dimulai. Siswa – siswi baru telah memenuhi aula yang terbilang cukup besar ini. Keadaan Naeun sudah jauh lebih baik. Ia tertawa – tawa bersama siswi lain, membicarakan hal – hal konyol. Sesekali aku ikut tertawa mendengarnya.

Pada akhirnya kami terpisah karena panitia yang mengatur letak duduk berdasarkan jurusan. Aku tarik suara, sementara Naeun tari. Naeun beberapa kali melambaikan tangannya dari kejauhan kepadaku. Aku membalasnnya dengan senyuman.

“Perhatian, semuanya. Acara akan segera dimulai, harap diam.” Seorang wanita mengumumkan.

“Dia Chorong. Kakak kelas, tingkat tiga. Terlihat lucu bukan? Kita lihat saja nanti, apakah ia benar – benar lucu atau hanya topeng.” Jieun memulai topik pembicaraan.

“Maksudmu?”

“Iya. Penampilannya memang manis, tetapi ia pribadi yang sangat keras.”

“Ssh, kau akan terdengar.” Aku menunjuk ke sekeliling aula yang mulai hening.

“Eung.” Jieun menganggukkan kepala.

Tak lama kemudian acara dimulai. Sambutan demi sambutan telah diucapkan. Begitu pula peraturan. Setelah ini, kami akan dibagi kamar dan juga pasangan laki – laki dengan perempuan untuk tiga hari masa orientasi kedepan. “Kalian akan dipandu oleh masing – masing penanggung jawab per jurusan. Dalam surat tersebut telah tercantum nomor kamar beserta penghuni kamar lainnya dan pasangan selama masa orientasi.” Selama pengumuman tersebut dilontarkan, penanggung jawab jurusan kami membagikan surat satu per satu.

Setelah mendapatkan surat, aku segera membukanya. Tertera namaku dibawah kop surat. Aku menelusuri keseluruhan isi surat. Menemukan bahwa aku ditempatkan di asrama ‘Rose’. “Jadi teman sekamarku ada Bae Suzy dan Son Naeun.” Aku bergumam pelan. “S… Son Naeun?!” Aku nyaris berteriak. Untung saja suasana aula gaduh, kalau tidak bisa – bisa aku kena semprot. “Dan partner orientasiku adalah Kim Jongin. Kira – kira seperti apa orangnya.” Aku menggaruk dahi.

“Sudah – sudah. Sekarang kalian masuk ke kamar masing – masing untuk menaruh koper. Tinggalkan perlengkapan orientasi di loker yang terletak di belakang asrama. Kalian diberi waktu lima belas menit. Ingat, hanya untuk menaruh barang. Nama tertera pada bagian depan loker.” Semua siswa terdiam, menunggu instruksi selanjutnya.

What are you waiting for? Do. It. Now.” Semua peserta masa orientasi berhambur keluar pada detik yang sama. “Oh,wait. Kembali dengan pasangan kalian masing – masing!” Suasana aula menjadi gaduh dengan langkah kaki dan teriakan – teriakan para murid. Mereka terdengar sedang mencari pasangannya masing – masing. Aku memutuskan untuk menaruh barang – barang terlebih dahulu.

Kondisi kamar sepi sekaligus kosong. Naeun dan Suzy dapat dipastikan belum singgah ke kamar ini. Kamar kami terletak di gedung yang terbilang cukup besar berdekorasi soft pink dan beberapa ornamen dengan warna merah menyala. Seluruh kamar dipenuhi dengan jendela kaca super besar yang tak tampak dari luar. Tempat tidur yang sangat nyaman, lantai kayu dengan karpet bulu putih besar ditengahnya. Ruangan yang sangat manis. Ah, benar juga. Apa yang kulakukan disini? Tak ada waktu. Aku tak punya waktu. Aku harus mencari siswa bernama Kim Jongin itu. Aku berlari ke ruang loker yang ternyata letaknya lebih dekat dari yang kupikirkan sebelumnya. Setelah selesai dengan barang – barang itu, aku berlari keluar gedung. Aku sesekali menggaruk kepala, bingung bagaimana caranya menemukan Kim Jongin itu dengan waktu yang sesingkat ini. Aku hanya terdiam di pintu masuk asrama. “Choi Sulli?” Tiba – tiba aku mendengar seseorang memanggilku. Terdengar seperti suara laki – laki. Aku sontak menoleh.

“Kau Choi Sulli. Benar kan?”

“Bagaimana kau bisa tahu namaku? Oh, kau! Lelaki yang tadi pagi bertemu di halte?”

“Ayo cepat.” Jawabnya acuh tak acuh. Aku mengikutinya dengan malas. Sepertinya bukan orang yang menyenangkan.

“Darimana kau tahu namaku?” Ia kemudian menyodorkan selembar kertas. Kertas pengumuman! “Ja… Jadi kau Kim Jongin?” Ia diam saja. “Hey! Aku berbicara padamu, tuan.” Aku mendekatkan wajah pada punggungnya dari belakang, karena ia jalan mendahuluiku.

BUK

Dia tiba – tiba berhenti berjalan. Wajahku berbenturan dengan punggungnya. “Berisik.”

“Menyebalkan.”

“Apa kau bilang?”

“Menyebalkan. Kau menyebalkan.”

“Terserah.” Ternyata dia memang orang yang tidak menyenangkan.

Akhirnya kami tiba di aula. Aku masih membuntutinya dari belakang. Ia berjalan ke arah kanan. Lalu duduk di bangku paling pojok. Aku mengikutinya dan duduk di bangku sebelahnya. “Kau dari jurusan apa?” Aku membuka pembicaraan. Ia tetap terdiam. “Kim Jongin?” Ia tetap tak menjawab. “Menyebal…”

Dance. Kalau kau tak mengerti bahasa Inggris, silakan cari tahu sendiri artinya.” Ia balik menghadapku dan menatapku tajam.

“Kau dingin sekalil.”

Bukannya menanggapi, Jongin malah melipat kedua tangannya dan menutup mata.

“Pria ini. Dingin, menyebalkan, kejam. Dari beratus – ratus siswa disini, mengapa harus dia yang jadi pasanganku?” Aku membuang nafas berat.

“Cepat duduk! Hey kau yang berlari, aku kau tak punya telinga?” Terdengar suara kakak kelas berteriak disana – sini. Sementara recet suara siswa – siswi baru yang sibuk mencari tempat duduk. Terlihat beberapa kakak kelas menempati bangku – bangku kosong. Sepertinya mereka sengaja agar yang lain tak kebagian duduk.

“Kim Jongin. Bangun. Waktu kita hampir habis.” Aku berbisik. “Kim Jongin?! Hey! Acara akan segera dimulai.” Ia tak bergeming. Tetap menutup matanya. “Aish, benar – benar kau ini.”

“Ya, dengar semuanya. Tanpa basa – basi saya akan mulai acara ini. Seperti yang kalian tahu, akan ada beberapa misi yang harus kalian selesaikan bersama ‘pasangan’. Untuk misi pertama, kalian akan diberi waktu tiga puluh menit penuh. Misinya adalah, kalian harus mencari barang pasangan kalian yang tak ada dalam loker. Entah itu ada pada panitia, atau mungkin dibuang. Bagaimanapun caranya kalian harus mendapatkannya. Bagi orang yang tak mendapatkan barang pasangannya kembali, maka pemilik dari barang tersebut akan dikenai hukuman. Mengerti?”

“Mengerti.”

“Baiklah, waktu kalian dimulai dari… SEKARANG!”

Seperti biasa, siswa siswi sontak berhambur melaksanakan misi. Suasana menjadi gaduh. Sementara aku masih duduk, mencerna hal yang harus aku lakukan. Tiba – tiba kurasakan Jongin berdiri. “Eh? Mau kemana kau?”

“Menjalankan misi.”

“Bukankah kau tidur?”

“Kata siapa?”

“Berarti perkataanku tadi…”

“Aku dengar semuanya.” Jongin melenggang pergi.

“Kim Jongin, tunggu.” Ia tak mendengarku dan tetap pergi. “Kim Jongin! Kau mau kemana? Ah, benar – benar menyebalkan.”

Aku memutuskan untuk mencari barang milik Jongin yang hilang. Tetapi aku tak tahu barang apa saja yang ia bawa, apa yang hilang… Tuhan tolong aku. Tetapi tak ada salahnya mencoba.

Aku melangkahkan kaki menuju asrama siswa. Letaknya di seberang asrama siswi. Setelah beberapa kali melangkah, aku terdiam. Aku baru ingat bahwa pembagian kamar tak didasari oleh jurusan, melainkan dibagikan secara acak. Aku hanya tahu ia Kim Jongin, dari jurusan tari. Tak lebih. Aku memukul – mukul kepala, bingung. Rasanya aku ingin menangis. Saat Jongin tahu letak asramaku, namaku… Aku tak tahu menahu segala hal tentang dia kecuali dua hal tersebut. Aku berjalan menjauhi asrama siswa, berbalik arah menuju asrama putri.

BRUK

“Ah…”

“Kau baik – baik saja?” Sebuah tangan terjulur dihadapanku.

“Ah, iya aku baik – baik saja.” Aku sibuk membersihkan tubuhku dari kotoran.

“Kau Sulli kan?”

“Eung?” Aku mencoba melihat orang yang menabrakku. “Ah, Chen…”

“Chanyeol.”

“Ah, iya. Chanyeol ssi, apa yang kau lakukan disini?”

“Aku panitia.” Chanyeol tersenyum. “Mau kubantu?”

“Kau selalu menolongku.” Chanyeol terkekeh.

“Tak ada salahnya bukan? Siapa pasanganmu?”

“Kim Jongin, jurusan tari.”

“Sebutkan sifatnya.”

“Hmm?”

“Sifat. Apakah ia baik, lemah lembut…”

“Kasar, tidak peduli, dingin.”

“Asrama Black.”

“Hah?”

Black, hitam.”

“Bagaimana kau…”
“Setiap murid dibagikan kamar sesuai dengan karakteristik masing – masing. Dekorasi dan peraturan tambahan per asrama pun beda. Agar murid dapat mengikuti aturan, karena setiap individu berbeda. Maaf aku tak dapat mengantarmu, aku hanya dapat memberitahu bahwa kau tak dapat masuk ke sana. Sekarang, cari pasanganmu juga barangmu yang hilang.”

“Begitu?”

“Maaf aku tak dapat lama – lama berbincang dengamu. Sampai jumpa.”

“Ah, Chanyeol ssi! Terimakasih banyak!” Chanyeol tersenyum.

Oke, jadi aku harus kembali ke asramaku dan mencari barang. Aku langsung berlari sekuat tenaga, mengingat banyaknya waktu yang terbuang dan jarang asrama siswa dan siswi yang terbilang lumayan jauh. Setibanya aku di asrama Rose, aku langsung menuju loker. Melihat barang apa saja yang hilang. Telur. Telurku hilang satu. Ah, pasti tak jauh dari sini. Aku mencoba melihat sekeliling, mencari apa yang harus kucari.

“Sulli?” Kudengar seseorang memanggilku.

“Naeun?”

“Apa yang kau lakukan?”

“Mencari telur. Kau?”

“Mengecek barang.” Naeun tersenyum lalu membuka lokernya. “Ah, telurku. Banyak sekali!”

“Hah? Banyak? Coba kulihat.” Benar saja, di dalam loker Naeun ada sekitar sepuluh butir telur.

“Apakah ada milikku?”

“Kau sudah menamainya, kan?”

“Sudah.”

“Hmm, Sulli.. Sulli… Sulli…”

“Bagaimana?”

“Maaf, tak…”

“Tak apa, bukan salahmu.” Aku hendak pergi. Mungkin nasibku menerima hukuman.

“Tunggu.”

“Ya?”

“Tak salah lagi. Telurmu ada di dalam lokerku.” Naeun tersenyum dan menyodorkan sebutir telur padaku.

“Terimakasih banyak, Naeun! Sekarang aku harus membantu Kim Jongin mencari barangnya.”

“Kim… Jongin?”

“Ya. Mengapa?”

“Nanti kuceritakan.”

“Baiklah, aku duluan.” Aku meninggalkan ruangan loker yang tak begitu ramai.

Aku berlari keluar mencari Kim Jongin. Menelusuri lorong, turun ke lantai bawah menuju pintu keluar. Aku merasa sudah kehabisan tenaga, padahal ini baru misi pertama. Aku menggunakan seluruh tenagaku untuk berlari kesini.

BRUK

Lagi – lagi aku menabrak seseorang hingga terjatuh. “Maaf.” Tanpa berkata lebih banyak aku bangkit dan lanjut berlari.

“Choi Sulli.”

“Eung?” Aku memegangi kepala yang pusing sehabis terjatuh sebelum melanjutkan perjalanan.

“Yak, Choi Sulli!” Aku berbalik.

“Kim Jongin?” Aku terdiam. Jongin menghampiriku, mengambil tanganku yang kosong dan menaruh sebuah kaleng cat kecil ke dalam tanganku. “Ini…”

“Barangku yang hilang.” Ia berbalik dan berjalan pergi.

“Kim Jongin, tunggu!” Aku berlari ke arahnya.

“Ini.” Aku mengulurkan telur padanya. Terimakasih.” Ia mengambil telur dari tanganku dan pergi sembari memainkan telur yang kuberi. “Kim Jongin, tunggu aku!” Aku berlari mengikuti Jongin.

Sesampainya kami di dalam aula, sudah terlihat beberapa murid yang dipanggil kedepan. Mungkin mereka tak berhasil mendapatkan barang yang hilang itu. Aku berpaling pada beberapa anak di kelompokku dan Jongin yang berkumpul pada penanggung jawab kelompok. Beberapa dari mereka tak aku kenali. Mungkin tadi tak kebagian tempat duduk. Tanpa bicara Jongin menghampiri penanggung jawab kelompok dan memberikan telur milikku. Aku mengikutinya dengan menyerahkan kaleng cat milik Jongin.

“Bagi kalian yang gagal, tinggalah disini untuk bersenang – senang dengan hukuman kalian. Dan bagi kalian yang lolos, kami akan memberikan kelonggaran bagi tiap – tiap kelompok untuk mengenal lebih jauh. Tiap – tiap kelompok boleh berkumpul dan melakukan games yang sudah diatur para penanggung jawab. Bagi para penanggung jawab, silakan membawa anggota kelompok ke masing – masing kelas yang telah ditentukan.”

“Moon Jongup, Lee Kaeun, Bang Myungra, Seong Sujin bersama pasangan masing – masing tinggal disini. Kalian akan dipandu oleh Joonmyeon untuk menerima hukuman. Dan enam pasang lainnya ikut saya ke tingkat dua B jurusan tari.” Kami hanya mengangguk dan berbaris sesuai permintaan penanggung jawab. Selanjutnya, kami menuju ke kelas yang telah disebutkan.

Sunbae, games apa yang akan kita mainkan nanti?” Seorang siswi berambut sepinggang bertanya.

Pepero games.”

“…Pepero?

“Iya. Kalian bersama pasangan akan menggigit masing – masing ujungnya dan…”

Sunbae, kita semua tahu permainan itu.” Lelaki disebelah siswi yang bertanya tadi menyahuti.

“Tsk, iya.”

Terdengar riuh pasangan lain saling mengobrol, mencari tahu lebih banyak tentang pasangannya masing – masing. Bagiamanapun, tiga hari kedepan kami dituntut untuk saling bahu – membahu menyelesaikan rentetan misi yang harus kami selesaikan.

“Jongin?”

“…” Ia tak bergeming. Atau tak peduli?

“Jongin?”

“…”

“Jong…”

“Apa maumu?”

“Kenapa kau selalu begini? Apa aku melakukan kesalahan?”

“Tidak.”

“Lalu?”

“Sulli?” Suara lain terdengar memanggil namaku.

“Ah, Chanyeol ssi?”

“Panggil aku Chanyeol sunbae.” Chanyeol berjalan mengimbangi langkahku.

“Kau penanggung jawab di kelompokku?”

“Iya.” Chanyeol tersenyum.

“Dan kau… Kim Jongin?”

“Tidak usah pura – pura tak mengenaliku.”

“Kalian saling kenal?” Aku menatap keduanya bingung.

“Ayah Jongin adalah rekan kerja ayahku.”

“Tetapi tadi kau seolah tak mengenalnya.”

“Jadi kau tak mengenalku, Park Chanyeol?” Jongin merangkul Chanyeol sembari sesekali memukulinya pelan. Jongin tertawa. Pertama kalinya aku melihat Jongin yang keras itu tertawa.

“Jongin-ah, lepaskan. Kita sudah sampai. Pepero!” Chanyeol melirikku dan Jongin bergantian sambil memegangi bibirnya lalu terkekeh.

“Kalian tak salah memilih permainan ini?”

“Tentu tidak, Choi Sulli. Ini kesepakatan bersama.”

“Eung.” Aku memajukan bibir. Merasa jengkel dengan permainan konyol ini sekaligus merasa konyol menjadi bagian dari orang – orang konyol. Setidaknya mereka yang menyarankan dan memainkan permainan ini adalah orang – orang konyol, termasuk diriku.

Sunbae menjelaskan aturan permainan dan tujuan permainan ini adalah untuk membuat kami semakin dekat. Lama – lama masa orientasi berubah menjadi ajang pencarian jodoh.

“Ayo kalian semua bersiap.” Aku duduk dihadapan Jongin. Tanganku meremas ujung kaos yang kukenakan. Aku mengigit bibir. Gugup. Jongin terlihat santai, bahkan ia sekarang sedang menatapku.

“Sulli kau tak apa?” suara Chanyeol terdengar dari arah belakang.

“Oh, first kiss ya?” Seorang sunbae perempuan menghampiri kami.

“Eung, bukan begitu…”

“Lalu?”

“Tak apa.” Aku tersenyum kikuk.

“Kau tahu? Jongin telah berkali – kali kissing.”

“A… Apa? Bohong kau, Park Chanyeol!” Jongin menentang perkataan Chanyeol.

“Myungeun, Yura, Yoo…”

“Harap diam. Permainan akan segera dimulai. Harap menempatkan pepero di mulut masing – masing.” Jongin meletakkan ujung pepero di bibirnya, lalu dengan matanya ia mengisyaratkan aku untung menggigit ujung yang lain. Dengan ragu – ragu aku menggigit ujung pepero seperti yang Jongin isyaratkan. “Semuanya sudah siap?” Sebagian peserta mengehembuskan nafas berat, bahkan ada yang mendengus. “Hey, hentikan. Bagaimanapun juga, kalian harus siap. Baiklah, saya akan jelaskan aturan permainannya. Nanti, ada musik yang akan dimainkan. Kalian hanya diperbolehkan memakan pepero selama musik berputar. Saat musik berhenti, kalian tak boleh bergerak sedikitpun. Kalian juga hanya diperbolehkan menatap mata partner kalian masing – masing. Dan yang paling penting, DILARANG BERCIUMAN. Jika ada yang melanggar, maka akan dikenai hukuman.”

“Bagaimana caranya kau bermain pepero game tanpa berciuman? Aneh.” Seorang murid lelaki terlihat protes.

“Karena ini permainan resmi dari sekolah, dan sekolah melarang untuk melakukannya.”

“Lalu, kenapa permainan ini yang dipilih?” Seorang murid perempuan disebelahku mempertanyakan hal yang kupertanyakan daritadi.

“Mungkin kau dapat bertanya pada panitia inti, itupun kalau kau berani.” Park Chanyeol terkekeh. Lelaki ini, hobby sekali terkekeh seperti itu.

“Baiklah, jangan banyak tanya. Hanya memakan pepero apa susahnya?” Sunbae yang memberitahukan peraturan permainan ini mengambil alih pembicaraan. “Bersiap… Satu… Dua…” Jongin menatap mataku tajam dan… dingin? Tangan dan kakiku dingin layaknya bongkahan es. “Mulai!”

Musik mulai mengalun. Aku mengenali lagu ini, sayang tak mengetahui judulnya. Instrumental, hanya piano tepatnya. Aku tak berani memulai. Sementara Jongin terus menghabiskan peperonya sedikit demi sedikit. Ia terlihat santai. Aku tak mau kalah, aku mencoba memasukkan pepero bagianku sedikit demi sedikit ke dalam mulut. Kudengar seseorang memekik, lalu tawaan terdengar setelahnya diikuti dengan rangkaian kata ‘mengapa-kau-tertawa?’. Lalu mereka tertawa bersama. Beberapa panitia terdengar ikut tertawa. “Kang Seung Yoon – Song Eun Hye, out.” Terdengar suara panitia mengumumkan. Sementara aku terus memperhatikan Jongin dan seluruh pergerakannya. Musik berhenti mengalun. Aku mematung, begitu juga Jongin. Pandangan kami bertemu. Aku gugup. Bukan karena wajahnya, atau mungkin cinta pada pandangan pertama. Omong kosong. Cinta pada pandangan pertama pada abad ke dua puluh satu hanyalah omong kosong. Seburuk – buruknya hal itu terjadi, hanya terjadi dalam novel atau film. Aku gugup karena tatapannya yang membara seperti api, tepat ke pupilku. “Jeong Jieun – Oh Sanjeon, Gong Chansik – Park Somin out.”

Musik kembali mengalun. Aku mulai mematahkan pepero menjadi potongan lebih kecil dengan lidahku. Pepero kami mungkin hanya tersisa sekitar enam sampai tujuh senti. “Ah, jatuh!Hyunso, aaaah apa yang harus kulakukan?” seorang siswi merengek. “Nam Seolhee – Kim Hyunso, out! Dua pasangan lagi. Lee Yonho – Cho Raein dan Kim Jongin – Choi Sulli!” Aku fokus pada pepero kami. Hanya tersisa tiga senti. Musik kembali berhenti. Kulihat Jongin telah memiringkan kepalanya, menghindari hidung kami yang nyaris bersentuhan. Dapat kurasakan hembusan nafasnya dengan jelas. Musik belum juga kembali diputarkan. Membiarkan kami dengan posisi yang sangat canggung. Sekitar lima belas detik kemudian, musik kembali terdengar. ”Sekali lagi saya peringatkan. Dilarang berciuman.”

KREK

Jongin menggigit pepero bagiannya, mematahkannya dengan pepero bagianku. Ia menjauh, menyandarkan tubuhnya pada kursi lalu mengunyah pepero dengan santainya. Ia tersenyum padaku, senyum sinis. Entah ia tak tahu bagaimana caranya untuk tersenyum, atau ia gugup. Tapi ia terlihat santai. Aku tak peduli. “Kim Jongin – Choi Sulli, out! Satu – satunya pasangan yang bertahan adalah Lee Yonho dan Cho Raein!”

“Kalian telah bermain dengan baik. Sayangnya, kita tak menganut hukum rimba saat ini. Salah satu perwakilan dari tiap pasangan silakan maju ke depan untuk mengambil kertas skor.” Aku menatap Jongin, memintanya untuk maju. Sementara ia dengan santainya memperhatikan ke depan.

“Kim Jongin, siapa yang maju?” Tanpa berbicara ia lenyap dari hadapanku, ia melangkah kedepan. Satu persatu dari mereka mengambil selembar kertas yang dilipat – lipat. Tak lama kemudian, Jongin kembali dengan skor kami. Jongin memberikannya padaku. Aku membuka kertas itu dan melihat isinya. Delapan puluh sembilan. Bukan angka yang buruk.

“Jeong Jieun – Oh Sanjeon?” Panitia mulai mengambil nilai kami.

“Delapan puluh lima.”

“Kang Seung Yoon – Song Eun Hye?”

“Sembilan puluh.”

“Kim Jongin – Choi Sulli?”

“Delapan puluh sembilan.”

Setelah semua nilai dimasukkan, kami berbaris. Panitia di ruangan kami berbaris sejajar dihadapan kami. “Setelah ini, kalian menuju kantin untuk makan malam. Berisitirahat selama tiga puluh menit dan kembali menuju aula, bersiap untuk jurit malam. Sekarang kalian boleh menuju kantin. Semoga berhasil!” Kami pun bubar. Koridor telah dipenuhi oleh siswa – siswi lain yang berlalu lalang.

“Kim Jongin, kau tak takut hantu kan?”

“Kenapa?”

“Aku takut.”

“Hmm.”

“Kim Jongin.”

“Apa lagi.”

“Seandainya ada hantu yang ingin memakanku, kau akan melindungiku kan?”

“Tidak.”

“Yak, Kim Jongin!” Aku mendengus.

“Kim Jongin!” Seseorang bertubuh tinggi dengan kulit putih menghampiri kami, tepatnya Jongin. “Ini pasanganmu? Cantik. Oh Sehun.” Lelaki itu menjulurkan tangannya padaku.

“Umm? Aku…”

“Mau apa kau, Oh Sehun. Ayo pergi.” Jongin menarik tangan Sehun, mengajaknya pergi. Aku mendengus. Baru saja akan mendapatkan teman baru, tetapi Jongin merenggutnya.

“Choi Sulli?” seseorang menepuk pundakku.

“J… Junhong?”

TBC

Advertisements

About fanfictionside

just me

7 thoughts on “FF/ ADAGIO/ EXO-MISS A-A PINK-F(X)/ pt. 1

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s