FF/ 30DAYS CUPID/ BTS-BANGTAN/ pt. 10


30 DAYS CUPID (1)

Author: Anditia Nurul||Rating: PG-13||Length: Chaptered||Genre: Fantasy, School-life, Friendship||Main Characters: (BTS) Jungkook, (BTS) Jin/Seokjin, (BTS) V/Taehyung & (OC) Oh Shina||Additional Characters: (OC) Jeon Junmi, (BTS) Suga/Yoongi, (A-Pink) Bomi, (BAP) Youngjae, (OC) Gu Sonsaengnim||Disclaimer: I own nothing but storyline and the OCs. Inspirated by film My Name Is Love, Tooth Fairy 2 & Korean Drama 49 Days||A/N: Edited! Sorry if you still got typo(s).

“Saat ini kau adalah cupid-30-hari. Kau akan diberi kesempatan selama 30 hari untuk menjalankan hukumanmu. Jika kau gagal, kau tidak akan hidup sebagai manusia lagi. Kau akan menjadi cupid selamanya.”

Prolog|Chp.1|Chp.2|Chp.3|Chp.4|Chp.5|Chp.6|Chp.7|Chp.8|Chp.9>>Chp.10

HAPPY READING \(^O^)/

@@@@@

“Aku pulang~” ujar Taehyung, melangkah masuk ke dalam rumahnya sambil membawa 2 buah kantong plastik bertuliskan nama minimarket yang baru saja dikunjunginya. Pemuda berambut light caramel itu terus berjalan ke ruang dapur, mencari eomma-nya.

“Ah, kau sudah pulang!?” gumam Eomma Taehyung, menyadari keberadaan putranya di dapur setelah sesaat ia sibuk memotong-motong sayuran untuk persiapan makan malam.

Taehyung meletakkan barang belanjaannya di atas meja, berikut dengan struknya. “Semuanya 187.000 won, Eomma. Kembaliannya boleh untukku, ya?”

Eomma Taehyung menghampiri meja, hendak mengecek barang belanjaan Taehyung. “Untuk apa? Mau beli komik lagi?”

Pemuda itu hanya terkekeh. His mom really knows him so well, huh~

Sambil mengecek barang belanjaan, Eomma Taehyung lantas berkata, “Oh, ya, Jungkook ada di kamarmu sekarang. Sejak tadi dia menunggumu.”

“Di kamarku?” seru Taehyung terkejut.

GAWAT!

Sepersekian detik kemudian, pemuda itu berlari menapaki tangga. Tampak sangat mencemaskan sesuatu. Jantungnya berdetak tidak karuan. Begitu tangannya menyentuh knop pintu, tanpa menunggu lebih lama ia membuka pintu kamar. Betapa terkejutnya ia melihat Jungkook berada di sisi ranjang dalam posisi membelakanginya.

“APA YANG KAU LAKUKAN, JUNGKOOK?” teriaknya di ambang pintu kamar.

Jungkook tidak bergerak. Ia terkejut bukan main. Apalagi mendengar Taehyung yang berteriak dengan suara deep husky-nya, bisa ia pastikan bahwa Taehyung sangat marah. Tidak lama, Jungkook mendengar suara hentakan langkah yang cukup keras. Ya, Taehyung menghampirinya. Dikuasai oleh emosinya, Taehyung langsung menarik Jungkook dan mendorong pemuda itu menjauh dari kotak rahasia yang tutupnya sudah dibuka. Melihat benda rahasianya sudah dibongkar, Taehyung tidak bisa menahan emosinya.

“Tae-Taehyung-ah, a-aku…” Jungkook mencoba menjelaskan, tapi…

“DIAM KAU!” Taehyung menoleh ke arah Jungkook sambil berteriak. Kilatan emosi tampak jelas di kedua mata pemuda berambut light caramel itu. Kedua bahunya terlihat naik turun akibat napasnya yang memburu. Bahkan, tangan kanannya mengepal, siap untuk memukul wajah seseorang.

Tidak lama Taehyung mengayunkan langkah menghampiri Jungkook yang berdiri di dekat jendela kamarnya. Tidak mempedulikan apapun, pemuda itu langsung mencengkram erat kerah baju Jungkook. Pemuda berambut merah marun itu tampak panik. Ini pertama kalinya ia melihat Taehyung semarah ini. Dia tahu bahwa ia benar-benar melakukan kesalahan yang sangat fatal bagi hubungan persahabatan mereka.

“SIAPA YANG MENYURUHMU MEMBUKA KOTAK ITU, HAH?” bentak Taehyung di depan wajah Jungkook. Tatapan matanya setajam pisau baru saat menatap Jungkook. Tangan kanannya sudah bersiap untuk menghadiahkan sebuah bogem untuk wajah ketakutan milik Jungkook.

Jungkook menelan ludah. “A-aku… aku minta maaf, Taehyung-ah. Aku benar-benar minta maaf. Aku tidak bermaksud untuk melihat isi kotak rahasiamu itu. Aku minta maaf. Aku benar-benar minta maaf, Taehyung-ah~”

“Aku sudah menulis larangan untuk tidak membuka kotak itu, Jungkook-ah,” geram Taehyung. “KENAPA KAU MALAH MEMBUKANYA???”

Taehyung mengayunkan pukulannya wajah Jungkook, sementara pemuda berambut merah marun itu langsung memejamkan kedua matanya rapat-rapat. Namun di detik dimana seharusnya Jungkook merasakan sebuah pukulan di wajahnya, ia malah tidak merasakan apa-apa. Pelan-pelan ia membuka kedua matanya, melihat pukulan Taehyung tertahan sekitar 2 cm di depan wajahnya. Tangan kanan itu terlihat bergetar.

“ARGH!”

Dan sedetik kemudian, Taehyung mendorong Jungkook hingga tubuh pemuda itu membentur teralis jendela yang berada di belakangnya. Taehyung kemudian berbalik membelakangi Jungkook, mencengkram rambut light caramel-nya dengan kesepuluh jemarinya. Jujur, ia tidak tega memukul Jungkook. Bagaimana pun, Jungkook adalah sahabatnya. Sahabat baiknya.

Jungkook bernapas lega. Ia benar-benar berterima kasih Taehyung tidak jadi memukulnya. Tapi melihat Taehyung yang mengamuk benar-benar membuatnya merasa sangat bersalah. Dilihatnya Taehyung berdiri membelakanginya sambil meremas rambut. Pemuda itu masih kesal. Pasti!

“Taehyung-ah, aku…”

“Tolong jangan bicara dulu, Jungkook!” tegasnya. Pelan-pelan pemuda itu mulai menenangkan dirinya. Kedua tangannya tidak lagi mencengkram rambut berwarna mencolok itu. Namun kedua bahunya masih terlihat naik-turun perlahan, seperti mengatur helaan napasnya yang tersengal.

Jungkook terdiam. Ya. Untuk saat ini, ia harus membiarkan Taehyung mendinginkan pikirannya.

Beberapa saat kemudian, Taehyung melangkah menuju kotak rahasianya yang tergeletak di lantai. Dilihatnya setangkai bunga berada di luar kotak. Ya, bunga yang dibuang oleh Shina dan dipungut oleh Jungkook pagi tadi. Jemari Taehyung memungut bunga itu, lalu memasukkannya ke dalam kotak bersama dengan bunga-bunga mawar yang lainnya.

Ia lantas duduk di tepi tempat tidur sambil memangku kotak rahasia yang sekarang sudah tidak menjadi rahasia—setidaknya untuk ia dan Jungkook. “Apa yang ingin kau katakan, Jungkook?” tanya Taehyung kemudian, menunduk, menghindari kontak mata dengan pemuda berbaju hijau muda yang tengah berjalan ke arahnya.

“Maafkan aku, Taehyung-ah. Aku tidak bermaksud untuk membuka benda itu. Tapi, aku penasaran. Pagi tadi, aku melihat Shina…” Jungkook menggantung ucapannya, agak tidak tega mengatakan yang sebenarnya.

“Kau melihat Shina kenapa?”

Jungkook menghela napas. Lebih baik ia berkata jujur, meski yang akan ia ucapkan mungkin saja membuat Taehyung sakit hati. “Aku… melihat Shina membuang mawar yang ia temukan di lokernya.”

“Lantas? Kau memungut bunga itu dari tempat sampah?” tebak Taehyung.

“I-iya,” sahut Jungkook sambil mengangguk. “Ta-tadinya…, tadinya aku pikir bahwa orang yang menaruh mawar di loker Shina adalah Youngjae Sunbae, senior yang biasa datang ke kelas kita untuk menemui Shina karena pagi tadi aku mendengar orang itu mengaku bahwa ia yang setiap hari meletakkan bunga mawar itu di loker Shina. Tapi…, begitu aku menemukan kotak rahasiamu itu dan membukanya… aku… berpikir kalau… Youngjae Sunbae berbohong pada Shina.”

Taehyung tidak membalas. Ia hanya mendengar dengan cermat setiap kata yang keluar dari mulut sahabatnya.

“Tae-taehyung-ah, a-apakah… selama ini… kau yang meletakkan bunga mawar itu di loker Shina?” tanya Jungkook dengan nada hati-hati.

Pemuda berambut light caramel itu terlihat rakus meraup oksigen di sekitar hingga kedua pipinya menggembung. Secara pelan ia mengembuskan napasnya, lalu balas menatap Taehyung yang berdiri tidak jauh darinya.

“Iya. Aku orangnya. Aku yang meletakkan bunga mawar itu di loker Shina.”

Jungkook terhenyak. “Ja-jadi, kau… menyukai… Oh Shina?”

Dan sebuah anggukan pelan dari Taehyung pun menjawab pertanyaan Jungkook.

@@@@@

Jungkook duduk di teras rumahnya. Menyandarkan punggung pada salah satu tiang penyangga atap sambil memandang ke arah langit malam yang tidak terlihat bintang barang 1 pun. Kedua lubang telinganya tertutup rapat oleh earphone yang terhubung dengan MP3 player di saku celananya.

Saat ini… dia sedang memikirkan pembicaraannya dengan Taehyung sore tadi. Pembicaraan yang mungkin merupakan pembicaraan paling serius semenjak ia bersahabat dengan seorang Kim Taehyung.

Ya, Jungkook sudah tahu kebenaran bahwa Taehyung menyukai Shina. Ia sangat tahu karena Taehyung sudah menceritakan hal itu padanya. Membenarkan ucapan Jungkook yang dulu—ketika Shina memperhatikan Jungkook di kantin sekolah lewat kacamatanya. Ucapan ketika Jungkook menuduhnya menyukai Shina sesaat setelah Taehyung mengatakan bahwa Shina selalu memperhatikannya.

“Aku menyukai Shina sejak pertama ia datang ke kelas. Jujur, kupikir aku hanya sekedar menyukainya. Ya, aku pikir perasaan itu akan hilang. Tapi, semakin lama aku memperhatikannya, aku semakin menyukai. Terlebih saat ia memutuskan untuk melepas kacamatanya. Ia terlihat manis,” kata Taehyung sore tadi, masih duduk di tepi tempat tidurnya.

“Ja-jadi…, sudah lama sekali, hm?” tanya Jungkook yang duduk di sebelah Taehyung.

Taehyung mengangguk. “Tapi…, semakin sering aku memperhatikan Shina, aku menyadari kalau ia menyukaimu, Jungkook,” ujar Taehyung. “Pada awalnya, aku mengabaikan kenyataan itu. Sampai… kau membuat Shina menangis di UKS waktu itu. Setelah menemuimu, aku kembali menemui Shina. Aku memintanya untuk tidak bersedih atas apapun yang kau lakukan sehingga ia menangis. Lalu, aku bertanya padanya ‘apa kau menyukai Jungkook?’.”

Jungkook terdiam. Ia mendengar setiap perkataan yang keluar dari mulut Taehyung dengan baik. Sepersekian detik kemudian, ia melihat Taehyung menoleh padanya, lantas bertanya, “Kau mau tahu Shina menjawab apa waktu itu?”

“Y-Ya~”

“Shina bilang, ‘Ya, aku menyukai Jungkook, Taehyung-ssi. Aku menyukainya. Tapi, dia baru saja membuatku sakit hati’.”

Pemuda berambut merah marun itu menghela napas.

“Kau tahu? Sejak hari itu aku berjanji pada diriku untuk melakukan apapun yang bisa membuatnya melupakan rasa sakit hatinya. Aku memikirkan apapun yang bisa membuat ia mengalihkan pikirannya darimu.”

“Dan karena itu kau menjadi Tuan Mawar, hm?”

Taehyung mengangguk. “Aku pikir cara itu cukup berhasil. Terlebih saat kutahu Shina tidak mengundangmu ke acara ulang tahunnya. Ya, kupikir dia benar-benar sudah tidak menyukaimu. Kupikir aku ada kesempatan meski aku tahu banyak juga siswa lain yang mendekati Shina. Tapi…, aku yakin, sejak Shina mendapat bunga di lokernya setiap hari, dia pasti memikirkan siapa yang meletakkan bunga itu di lokernya,” tutur Taehyung. “Apa aku jahat, Jungkook?” tanya Taehyung kemudian.

Jungkook menelan ludah. Agak salah tingkah dan gugup diberi pertanyaan seperti itu. “A-aku pikir… ti-tidak,” jawab Jungkook akhirnya.

Taehyung lantas tertawa hampa. “Tapi, belakangan ini kulihat Shina kembali menyukaimu,” katanya terdengar putus asa. “Mungkin…, sebaiknya aku berhenti dan mengubur perasaanku padanya,” lanjut Taehyung sembari menundukkan kepalanya. “Lagi pula, kau bilang Youngjae Sunbae sudah mengaku sebagai Tuan Mawar itu, kan!? Itu berarti Tuan Mawar sudah tidak perlu meletakkan bunga lagi di loker Shina.”

Jungkook bisa melihat Taehyung benar-benar sedih kali ini. Bahkan, ia melihat sebulir air mata mengalir di pipi bagian kiri pemuda itu.

“Ka-kau… kau tidak bisa berkata seperti itu, Taehyung-ah!” Jungkook berdiri dari duduknya. “Kau… kau tidak boleh mengubur perasaanmu seperti itu!”

Pemuda berambut light caramel itu mendongak untuk menatap wajah Jungkook. “Kenapa? Bukankah tidak ada gunanya tetap mencintai seseorang yang bahkan sedetik pun tidak pernah memikirkan kita, hah? Lagi pula, kuperhatikan kau juga sudah mulai baik pada Shina. Apa itu… tidak berarti kau mulai menyukainya, hm?”

Jungkook menggeleng, namun terkesan ragu. “Ti-tidak. Aku tidak menyukai Shina. Aku tidak menyukainya!” tegas Jungkook. Pemuda berambut merah marun itu lantas menghela napas. “Kau… kau harus mengatakan yang sebenarnya pada Shina, Taehyung-ah. Kau harus mengatakannya,” kata Jungkook, menggeser sedikit topik pembicaraan agar tidak berfokus padanya.

Untuk kedua kalinya, Taehyung tertawa hampa. “Tidak! Aku tidak akan mengatakan perasaanku pada Shina. Aku tidak mau ia menjauhiku setelah tahu bahwa aku menyukainya. Aku tidak mau ia tahu setelah ia tahu bahwa Tuan Mawar yang sebenarnya adalah aku, Kim Taehyung!” tegas Jungkook.

Jungkook mengelap wajahnya, frustasi. Misi terakhir yang sempat ia pikir akan mudah ternyata sulit. Benar apa yang dikatakan Jin, misi ini… sepertinya akan lebih sulit dibandingkan dengan misi ketiganya.

Pemuda itu menghela napas panjang setelah puas membiarkan pikirannya memutar ulang percakapannya dengan Taehyung. Tangan kanannya bergerak memijat pelan bagian atas hidungnya, agak pening.

Apa yang harus ia lakukan sekarang?

Taehyung benar-benar berniat untuk mengubur perasaannya pada Shina.

Sementara Shina… masih menyukainya.

Apa yang harus aku lakukan sekarang?

Apa?

@@@@@

Jungkook baru tiba di sekolah. Tampak berdiri di depan majalah dinding, membaca artikel-artikel yang dipajang oleh para siswa-siswi di klub jurnalis dengan ransel yang masih berada di punggungnya. Di saat sedang asik membaca sebuah artikel tentang otomotif, tiba-tiba seseorang berdiri di sebelah kanannya merangkul bahunya. Sontak, Jungkook menoleh, mendapati orang itu menatap ke arah artikel ramalan bintang yang terpajang di depannya—di sebelah kiri artikel otomotif.

“Hoseok Sunbae?”

“Zodiakmu apa, Jungkook?” tanya Hoseok, membuat Jungkook meliukkan kedua alisnya.

“Virgo,” jawabnya polos.

Hoseok mengangguk-angguk pelan seraya mencari nama zodiak yang disebut oleh Jungkook. “Virgo. Umum: kau akan mengalami masa-masa sulit minggu ini, tapi tidak perlu khawatir karena akan ada sesuatu yang menyenangkan setelah masa sulit itu berakhir. Keuangan: rejeki mengalir dengan lancar. Asmara: Kau akan patah hati,” baca Hoseok. “Hmm… keuanganmu cukup bagus minggu ini,” ujar Hoseok, menoleh ke arah Jungkook, lalu tersenyum sambil menaik-turunkan kedua alisnya.

“Apa?” tanya Jungkook bingung.

“Kau masih punya utang 1 kali traktir padaku, Bro. Sekarang aku lapar. Belum sarapan. Kau mengerti, kan?” Lagi-lagi Hoseok menyengir sambil menaik-turunkan alisnya.

Jungkook tersenyum masam. “Iya. Aku ingat, Sunbae,” katanya datar.

Hoseok menepuk-nepuk bahu Jungkook, lantas berkata, “Kalau begitu ayo ke kantin~”

Sekitar beberapa menit kemudian, Jungkook dan Hoseok duduk berhadapan di salah satu meja kosong di kantin yang tidak begitu ramai. Hoseok terlihat sangat lahap menikmati soondaeguk-nya, sementara Jungkook hanya bisa menghabiskan waktunya menemani Hoseok sarapan.

“Oh, ya, bagaimana dengan hukumanmu, hm? Target ke berapa sekarang?” tanya Hoseok, lalu menyuapkan soondaeguk ke dalam mulutnya.

“Target terakhir, Sunbae. Tapi, waktuku tinggal 5 hari lagi.”

“Kalau begitu kau harus cepat,” komentar pemuda berwajah lonjong itu.

“Ya. Aku tahu. Tapi masalahnya…” Jungkook terlihat ragu menyebutkan masalah yang dia hadapi untuk menyelesaikan misi terakhirnya. Bukan apa-apa, tapi… mengingat Hoseok adalah orang yang… ehm, agak tidak bisa diajak untuk membicarakan hal serius, jadi… Jungkook merasa ragu. Entah bagaimana reaksi Hoseok kalau tahu target perempuan Jungkook kali ini ternyata memiliki perasaan pada Jungkook.

“Khenhapha?” tanya Hoseok dengan mulut penuh makan.

Jungkook menggeleng cepat. “A-ah, ti-tidak apa-apa, Sunbae. Bukan hal penting,” sahut pemuda berambut merah marun itu kemudian.

Hoseok mendelik. “Kau… tidak mau menceritakannya padaku, ya?”

Lagi, Jungkook menggeleng cepat seraya berkata, “Tidak, Sunbae. Tidak. Bukan begitu maksudku, tapi—”

“HOSEOK-AH!!!”

Jungkook bernapas lega. Ia tidak perlu menjelaskan alasan mengapa ia tidak mau menceritakan masalahnya pada Hoseok. Namun, leganya Jungkook tidak berlangsung lama karena…

“Ah, Namjoonie, Youngjae~” gumam Hoseok, menoleh ke arah orang yang memanggilnya.

Pemuda berambut merah marun itu menelan ludah kala melihat Namjoon dan Youngjae mendekat ke meja mereka—ia dan Hoseok. Namjoon melihat ke arah Jungkook, begitu pun dengan Youngjae.

Apa Youngjae Sunbae mengenaliku?

“Ah, kau bersama anak ini lagi?” tanya Namjoon, menunjuk ke arah Jungkook sambil menarik kursi kosong yang berada di sebelah Hoseok. Jungkook hanya mengulum senyum, bersikap sok sopan kepada senior tergalak di sekolah. Jantungnya berdebar-berdebar ketika Youngjae mengambil tempat di sebelahnya. Jangan sampai senior yang 1 itu masih mengenalinya sebagai adik kelas yang beberapa kali ditegurnya kemarin.

“Ya, seperti yang kau lihat,” balas Hoseok, lalu menyuapkan sarapannnya ke dalam mulut. “Ngomong-ngomong, kalian mau apa ke sini, hah?” tanya Hoseok, melihat Namjoon dan Youngjae bergantian.

“Menurutmu?” Namjoon melihat ke arah Youngjae sambil tersenyum jahil, seolah memberi kode.

Hoseok terlihat bingung.

“Kau punya utang kepada kami, Hoseok!”

“Utang apa? Sejak kapan aku punya utang pada kalian, hah?!” seru Hoseok tidak terima.

“Argentina kalah melawan Jerman, Jung Hoseok!” seru Namjoon agak gregetan.

Ah, Hoseok ingat yang 1 ini. Ia lantas menghela napas. “Ah, iya, iya. Aku ingat. Ya sudah, pesan saja makanan yang kalian suka~” ujarnya agak kesal.

Namjoon dan Youngjae tertawa senang, lalu beranjak memesan sarapan. Sementara Jungkook yang tidak mengerti apa-apa, lalu bertanya, “Sebenarnya apa yang terjadi, Sunbae? Kenapa mereka… tertawa seperti itu, hah?”

Hoseok mendengus. “Kemarin aku taruhan dengan mereka. Kau tau, kan!? Pertandingan terakhir Piala Dunia. Aku pikir Argentina yang akan menang, ternyata malah Jerman. Sialan!” gerutu Hoseok.

Jungkook sekali lagi menelan ludah. Lebih baik segera beranjak dari kantin sebelum… Hoseok Sunbae melakukan sesuatu yang sedang ia pikirkan: MEMBAYARKAN MAKANAN NAMJOON DAN YOUNGJAE!

SuSunbae, aku boleh ke kelas sekarang?” Hoseok yang hendak memasukkan soondaeguk ke dalam mulutnya, seketika meletakkan sumpitnya kembali.

“Kenapa?”

Pemuda berwajah bulat itu menggaruk-garuk pipinya kikuk. “Anu, hari ini hari piketku. Lagi pula kau bisa makan dengan teman-temanmu, kan!?”

“Kau takut aku menyuruhmu membayarkan makanan Namjoon dan Youngjae, ya?!” tebak Hoseok, sontak membuat Jungkook terbatuk pelan. Alasan sebenarnya untuk meninggalkan kantin mudah sekali ditebak Hoseok. “Ya, sudah. Pergilah. Jangan lupa bayarkan makanan ini sebelum meninggalkan kantin!”

“Iya, Sunbae. Aku mengerti. Aku pergi dulu.”

Jungkook kemudian beranjak membayar seporsi soondaeguk yang dimakan Hoseok. Setelah itu, ia beranjak meninggalkan kantin. Ia cukup bernapas lega. Utangnya pada Hoseok sudah terbayar—meski, itu artinya lagi-lagi ia tidak akan makan saat jam istirahat nanti.

Ketika berjalan menyusuri koridor menuju kelas, Jungkook melihat Taehyung berjalan beberapa meter di depannya. Ia lalu berlari untuk menyusul Taehyung. Menepuk pundak pemuda itu saat jarak mereka sudah sangat dekat.

Taehyung menoleh, agak terkejut. “Jungkook-ah? Bikin kaget saja,” gerutunya pelan. “Kau baru datang, hah?” tanyanya.

“Tidak. Sudah dari tadi. Tapi, ada urusan sebentar di kantin.”

“Oh~” Hanya itu yang keluar dari mulut Taehyung. Sedikit aneh. Padahal biasanya ia selalu ingin tahu.

Keduanya kembali berjalan bersisian, namun tiba-tiba… GREP! Seseorang menarik tangan kanan Jungkook cukup kencang. Dalam gerakan cepat, tahu-tahu Jungkook sudah bersandar pada salah satu tiang penyangga atap koridor. Youngjae tampak berdiri di hadapannya. Melihat itu, Jungkook dan Taehyung terkejut.

“Hei! Sunbae, kau apakan temanku?” tanya Taehyung.

Youngjae menoleh ke arah Taehyung, menatap pemuda itu sinis. “Ini bukan urusanmu! Pergi!” bentaknya. Taehyung memandang ke arah Jungkook, sedikit kasihan melihat sahabatnya berurusan dengan salah 1 senior di sekolah. Terlebih, dari gelagat senior itu, masalah yang dihadapi Jungkook cukup membahayakan.

“Pergi, Taehyung. Aku tidak apa-apa. Nanti aku ceritakan,” ujar Jungkook, meminta Taehyung pergi. Pemuda berambut light caramel itu menatap Jungkook sejenak, kemudian berjalan meninggalkan keduanya—Jungkook dan Youngjae.

“A-ada apa, Sunbae?” tanya Jungkook setelah Taehyung pergi. Tatapan Youngjae yang tajam cukup membuatnya gugup.

Ah, ini pasti ada kaitannya dengan kejadian kemarin.

Youngjae menunjukkan seringaiannya, lantas bertanya, “Jadi, kau yang bernama Jeon Jungkook?”

Ah, Youngjae pasti tahu dari Hoseok.

Jungkook pun mengangguk.

Youngjae tertawa samar. “Jadi…, ternyata kau yang disukai Shina, hah?”

Jungkook tidak membalas. Bukankah Youngjae sudah tahu jawaban dari pertanyaannya barusan, hah?

Youngjae yang masih memegang pergelangan tangan kanan Jungkook lantas mempererat genggamannya. Sepersekian detik kemudian, Jungkook meringis. Sakit. “Kulihat kemarin kau mengambil mawar yang dibuang Shina. Kau tahu siapa Tuan Mawar sebenarnya, hah?”

Jungkook diam. Ia tidak mungkin mengatakan bahwa Taehyung-lah Tuan Mawar yang sebenarnya.

“Jawab, Jeon Jungkook!” geram Youngjae tertahan sembari makin mempererat genggaman tangannya pada pergelangan tangan Jungkook. Ia tidak mau orang-orang yang berlalu lalang di koridor menyangka mereka sedang bertengkar.

“Ti-tidak, Sunbae,” gumam Jungkook.

“Lalu, kenapa kau mengambil mawar itu, hah?” tanya Youngjae lagi. “Atau…, jangan-jangan kau adalah Tuan Mawar yang asli!” Youngjae mendelik. “Cepat jawab!” tuntut Youngjae.

Dengan ragu, Jungkook berkata, “I-iya.”

Bodoh! Jungkook bodoh! Kenapa kau berkata seperti itu. Aish! Kenapa aku benar-benar bodoh?

Youngjae mengalihkan wajahnya dari Jungkook, mendecih. Sepersekian detik kemudian, ia kembali menatap Jungkook tajam. “Jadi, kau menyukai Shina, hah?”

Jungkook memilih diam.

“Dengar baik-baik, Jeon Jungkook. Jauhi Oh Shina atau kupastikan sesuatu yang buruk terjadi padamu. Mengerti?” ancam Youngjae, lalu menghentakkan tangan Jungkook yang dipegangnya sedari tadi, lantas meninggalkan Jungkook.

Pemuda itu melirik pergelangannya. Terlihat jelas bekas kemerahan horizontal di sana. Sepertinya Youngjae benar-benar tidak main-main dengan ucapannya. Dan kali ini Jungkook benar-benar menyadari kalau… misi terakhir ini benar-benar sulit.

Sangat sulit.

@@@@@

“Jadi, minggu depan, setiap kelompok harus menyiapkan bahan-bahan yang telah saya sebutkan tadi. Jangan sampai ada yang terlupa, paham?” tanya Han Sonsaengnim sebelum mengakhiri pelajarannya hari ini.

“PAHAM, SONSAENGNIM!!!” teriak seluruh penghuni kelas.

“Baik. Kalau begitu, cukup untuk hari ini. Selamat beristirahat.” Han Sonsaengnim pun keluar dari ruang kelas 1.2 disusul beberapa siswa-siswi yang sudah tidak sabar untuk mengisi perut mereka.

“Kau tidak ke kantin?” tanya Taehyung yang melihat sahabatnya malah duduk sambil memainkan game di ponselnya setelah memasukkan buku catatan dan buku paket biologinya ke dalam laci.

Tanpa melihat ke arah Taehyung, Jungkook menggeleng.

“Kenapa? Takut dengan senior yang tadi?”

Dan kali ini, Jungkook memutuskan untuk melihat ke arah Taehyung seraya berkata, “Tidak. Aku tidak takut padanya. Aku… hanya lupa membawa uang jajan,” jawab Jungkook, kembali melihat layar ponselnya.

Taehyung menghela napas. “Ya, sudah. Kalau begitu aku traktir.”

“Tidak usah, Tae-ya. Aku tidak apa-apa.”

“Baiklah. Nanti aku belikan roti saja, oke? Aku ke kantin dulu~” Taehyung pun beranjak meninggalkan ruang kelas.

Beberapa saat kemudian, di saat Jungkook sedang asik memainkan game di ponsel untuk mengalihkan rasa laparnya, Shina menghampirinya. Sedikit heran, gadis itu mendekat ke arah Jungkook. Di saat hampir semua siswa-siswi di dalam kelas berada di kantin, kenapa Jungkook masih berada di kelas, hm?

“Jungkook-ssi?” panggil Shina pelan, takut mengganggu Jungkook.

Merasa mendengar namanya disebut, Jungkook mendongakkan kepalanya, mendapati Shina berdiri tidak jauh dari mejanya. “Ada apa?” tanya Jungkook.

“Kau… tidak ke kantin?” tanya Shina ragu.

Jungkook menggeleng. “Aku lupa bawa uang jajan,” katanya.

“Eh? Lupa bawa uang jajan?” ulang Shina.

Pemuda berambut merah marun itu hanya mengangguk. Namun, tidak lama kemudian, ia melihat Shina bergerak cepat kembali ke bangkunya. Melihat gadis itu mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya, sebuah kotak bekal sepertinya. Sesaat setelahnya, ia melihat Shina berdiri di dekat mejanya dan meletakkan kotak bekal berwarna pink di hadapannya.

“Ini apa?” tanya Jungkook bingung.

“Bekalku,” jawab Shina. “Kalau kau mau, makan saja.”

Jungkook terkejut. Cepat ia menolak. “Tidak, Shina-ssi. Terima kasih. Aku tidak lapar. Lebih baik kau saja yang makan bekalmu~” ujar Jungkook seraya menggeser kotak bekal itu menjauh darinya.

Shina kembali menggeser kotak tersebut ke arah Jungkook. “Tidak apa-apa, Jungkook-ssi. Aku sedang diet, tapi eomma malah membuatkan bekal untukku. Lebih baik kau saja yang makan. Tidak apa-apa.”

Tapi, pemuda berambut merah marun itu bersikeras menolak. “Tidak, Shina-ssi. Terima kasih,” katanya lagi.

Shina duduk di bangku kosong yang berada di depan Jungkook. “Nanti kau lapar. Bagaimana kalau kau sakit lagi seperti waktu itu?”

Jungkook menggaruk pipi kirinya yang tidak gatal. Bohong kalau ia mengatakan dirinya tidak lapar. Tapi, ia juga tidak mau memakan bekal yang diberikan oleh Shina. Bukannya takut keracunan atau apa, hanya saja—bagaimana mengatakannya? Shina masih menyukainya. Bisa saja kan Shina semakin menaruh harapan padanya kalau… ia memakan bekalnya!?

“Kriuuuk~”

“Ck! Kenapa perutku malah berbunyi?” gerutu Jungkook dalam hati begitu mendengar suara ‘pengkhianat’ di dalam perutnya.

“Tuh, kan!? Perutmu bunyi. Kau pasti lapar,” sahut Shina, mendengar suara perut Jungkook. “Sudah. Makan saja bekalku. Tenang, aku tidak menaruh racun di dalamnya~” tambah Shina, lalu membuka penutup bekalnya. Terlihat gimbap, telur gulung, kimchi dan sayur-sayur rebus tertata rapi di dalam kotak bekal itu. “Bagaimana? Makan saja~”

Jungkook menatap Shina sedikit ragu. “Benar-benar… tidak apa-apa?” Pemuda itu menunjuk makanan di kotak bekal. Haha, dia akhirnya luluh.

“Tentu. Makan saja~”

Pemuda itu lalu mengambil sepasang sumpit di sebelah kotak bekal, kemudian memasukkan gimbap ke dalam mulutnya.

“Bagaimana? Enak?” tanya Shina, memandang Jungkook sambil tersenyum.

Sambil mengunyah, Jungkook mengangguk. “Eomma-mu pintar memasak. Ini sangat enak,” ucap Jungkook setelah menelan kunyahannya.

“Tapi, pasti lebih enak masakan eomma-mu, kan?” Shina mencoba bercanda, namun melihat Jungkook yang tiba-tiba meletakkan sumpitnya di tepi kotak bekal, gadis itu merasa ada sesuatu yang tidak beres. “Ke-kenapa, Jungkook-ssi? A-apa… aku salah bicara?”

“Aku sudah lama tidak memakan masakan eomma-ku,” jawabnya datar.

“Ke-kenapa?” tanya Shina, kali ini terdengar hati-hati.

Jungkook mengalihkan wajahnya sejenak dari Shina, lalu mengembuskan napasnya pelan. Sepersekian detik kemudian, ia kembali memandang Shina, lalu berkata, “Aku sudah lama tidak tinggal bersama eomma-ku.”

“A-ah, maafkan aku, Jungkook-ssi. Aku tidak tahu kalau—”

“Tidak apa-apa,” potong Jungkook.

Suasana menjadi sangat canggung. Demi apapun Shina merutuki dirinya sendiri. Aish! Dia benar-benar tidak tahu kalau topik ‘eomma’ ini malah membuat suasana menjadi tidak enak. Padahal, dia sudah cukup senang Jungkook mau menikmati masakan eomma-nya, meski itu baru sepotong gimbap.

Aish! Oh Shina, kau benar-benar bodoh! Bodoh! Bodoh!

“Oh, ya, Shina,” kata Jungkook, membuat Shina menyeret dirinya dari alam bawah sadarnya sendiri.

“A-ada apa, Jungkook-ssi?”

“Aku ingin bertanya sesuatu padamu,” ujar Jungkook.

Shina memandang Jungkook agak takut. Dia teringat kejadian di UKS berminggu-minggu yang lalu. Bukankah…, rasa sakit yang dialaminya waktu itu bermula dari kalimat ‘aku ingin bertanya sesuatu padamu’ yang diucapkan Jungkook!? Jangan-jangan kali ini… Jungkook… mau melakukan sesuatu… yang… membuatnya sakit hati lagi.

“A-Apa?”

Jungkook mengembuskan napas. “Jawab pertanyaanku dengan jujur. Kau… masih menyukaiku, hm?”

Tidak!

Pertanyaan itu lagi!

Gadis itu langsung menundukkan kepalanya, menghindari kontak mata dengan pemuda id hadapannya. Jungkook bisa melihat Shina menggigiti bibir bagian bawahnya. Gadis itu terlihat takut—mungkin saja trauma dengan kejadian hari itu.

“Aku harus menjawab apa sekarang? Aku harus jawab apa? Aku tidak mau kejadian hari itu terulang. Bagaimana kalau Jungkook menjauhiku lagi? Tidak! Aku tidak mau itu terjadi. Aku… aku takut Jungkook akan… bersikap dingin padaku. Tapi…” gumam Shina dalam hati.

“Uh? Shina? Sedang apa kau di sini?” Suara berat itu terdengar. Seketika Shina bernapas lega. Ia benar-benar berterima kasih kepada satu-satunya manusia di kelas ini yang memiliki suara berat dan serak, Kim Taehyung. “Hei! Jungkook-ah, kau membawa bekal, hah? Kenapa tidak bilang? Aku sudah membelikanmu roti!” kata Taehyung usai ia melihat kotak bekal di hadapan sahabatnya.

“Ah, itu—”

“Iya. Maaf. Aku lupa kalau aku bawa bekal.” Jungkook memotong ucapan Shina. Bisa ia lihat Shina mengernyit heran padanya. Oh, ayolah. Jungkook tidak mau Taehyung sakit hati kalau tahu bekal yang ia makan ini adalah bekal dari Shina.

Taehyung tersenyum kecut. “Lalu roti ini bagaimana, Jeon Jungkook?”

Jungkook terkekeh—tepatnya memaksakan dirinya untuk terkekeh. “Eum, kau makan saja,ya!? Hehe.”

“Aish! Kau ini benar-benar. Aku sudah berbaik hati membelikanmu makanan, ternyata kau sudah bawa bekal. Ish!” gerutu Taehyung, kemudian duduk di tempatnya.

“A-anu… aku pergi dulu, ya, Jungkook-ssi, Taehyung-ssi,” ujar Shina, mengambil kesempatan untuk melarikan diri dari pertanyaan Jungkook.

Jungkook dan Taehyung mengangguk bersamaan.

Sepeninggal Shina, Taehyung langsung berkata, “Sebenarnya… kotak bekal itu… bukan punyamu, kan!?”

Pemuda berambut merah marun itu menoleh kepada Taehyung dan menunjukkan mimik wajah ‘bagaimana-kau-bisa-tahu?’. Pemuda berambut light caramel itu tersenyum samar. Sesaat kemudian, ia berkata, “Itu hadiah yang aku berikan pada Shina saat ia ulang tahun.”

UHUK!

Jungkook ketahuan bohong!

@@@@@

Jungkook terlihat duduk di halte, di antara siswa-siswi yang juga menunggu bis. Namun, kali ini kelihatan berbeda. Tidak ada pemuda berambut light caramel di sebelahnya. Kata Taehyung, hari ini dia ada pertemuan dengan klub saxophone sepulang sekolah.

Sembari menunggu bis yang akan mengantarnya pulang, Jungkook memainkan ponselnya seperti biasa. Ayolah. Di antara siswa-siswi yang berada di sekitarnya, tidak ada seorang pun yang ia kenal akrab, meski ada beberapa yang merupakan teman sekelasnya. Tapi, ya… kau tahu Jungkook, siswa terdingin di kelas 1.2.

“Jungkook-ssi~” Suara lembut itu terdengar di telinga Jungkook. Sontak membuatnya mengalihkan pandangan dari layar ponsel ke asal suara. Melihat siapa yang menegurnya, ia mengulum senyum.

Oh Shina.

“Sendiri?” tanya Shina yang duduk di sebelah Jungkook.

Pemuda berambut merah marun itu mengangguk. “Kau?”

“Sama,” jawabnya. “Hari ini Bomi ada pertemuan di klub cheers-nya,” jelas gadis manis itu.

“Oh~” komentar Jungkook singkat.

Shina tidak membalas komentar itu. Membiarkan Jungkook kembali asik dengan ponselnya, sementara ia sendiri melihat-lihat sekitar. Sesekali melempar senyum kepada beberapa teman sekelas yang kebetulan berada di halte yang sama.

Tidak lama kemudian, bis yang ditunggu pun berhenti di depan halte. Para siswa-siswi yang menunggu bergegas masuk ke dalam bis, berlomba untuk mengambil tempat duduk. Tapi, pada akhirnya, ada beberapa siswa-siswi yang terpaksa berdiri karena tempat duduk yang sudah penuh, termasuk… Shina dan Jungkook.

Bis perlahan melaju. Shina mengencangkan pegangannya pada pegangan tangan yang berada di atas kepalanya. Hal yang sama juga dilakukan oleh Jungkook dan para penumpang yang tidak beruntung mendapatkan tempat duduk.

“Jungkook-ssi?” Shina menoleh, menatap Jungkook yang berdiri di sebelah kirinya.

“Ya?” sahut pemuda berambut merah marun itu.

“Besok, jangan lupa kembalikan kotak bekalku,” pesan Shina.

Jungkook mengangguk paham. “Ya. Besok akan aku kembalikan~”

Gadis manis itu lantas tersenyum, kemudian mengangguk. Kepalanya ia tolehkan ke arah yang berlawanan dengan Jungkook, melihat situasi di depan bis yang tengah melaju cukup kencang. Namun tiba-tiba…

“CKIIITTT!!!”

Supir bis menginjak rem mendadak, membuat penumpang kehilangan keseimbangan, terlebih untuk mereka yang berdiri. Suara jeritan pun para siswi yang terkejut terdengar di sana-sini, termasuk Shina.

“Yaaa~~” Gadis itu menjerit karena bis yang berhenti mendadak membuatnya kehilangan keseimbangan hingga nyaris terjatuh. Beruntung… ‘hap’ Jungkook yang berdiri di dekatnya dengan sigap menangkap tubuh mungilnya dengan 1 tangan.

DEG!

DEG!

DEG!

DEG!

Jantung keduanya berdebar kencang ketika mereka saling berkontak mata untuk beberapa detik. Sepersekian detik kemudian, Shina langsung menegakkan tubuhnya kembali, buru-buru memegang pegangan di atas kepala yang tadi sempat ia lepas karena rem mendadak.

“Ka-kau… tidak apa-apa?” tanya Jungkook.

Sedikit menundukkan kepalanya, Shina menggeleng cepat. Ayolah, ia tidak mau memperlihatkan pipi yang kemerahan itu pada Jungkook. “Te-terima kasih,” gumam gadis itu pelan.

“I-iya,” sahut Jungkook.

Pemuda itu tampak gugup setelah kejadian beberapa detik lalu. Jantungnya masih berdebar-debar. Ia terlihat menghela napas berkali-kali, berusaha menenangkan organ tubuh yang seperti hendak melompat keluar dari rongga dadanya.

Ayolah, masa hanya karena bertatapan dengan Shina, ia sampai seperti itu?

Kedua mata elang Jungkook diam-diam memandang Shina yang berada di dekatnya, masih menundukkan kepalanya dengan posisi tubuh yang agak membelakangi Jungkook. Tidak jauh beda dengan Jungkook, gadis itu masih merasakan hal yang sama. Gugup setengah mati! Belum pernah ia bertatapan dengan Jungkook seintens itu.

Bis kembali melaju setelah rem mendadak yang dilakukan oleh supir bis karena seorang pengendara motor tiba-tiba menyalip jalurnya. Lagi, Shina melihat ke arah depan untuk mengalihkan perasaan gugupnya, begitu pun Jungkook yang melihat situasi di luar melalui jendela samping kanan yang berada di hadapannya.

Sekitar beberapa menit melaju, bis pun berhenti di salah satu halte. Beberapa penumpang turun dan Shina salah satunya.

“Jungkook-ssi, aku duluan,” pamit gadis itu, sebisa mungkin membuat es kecanggungan di antara ia dan Jungkook segera mencair.

Pemuda itu mengangguk dan berkata, “Ya.”

“Hati-hati di jalan.”

“Kau juga.”

Dan kedua mata Jungkook bisa melihat gadis manis itu turun dari bis. Lagi, terbersit perasaan itu. Perasaan yang membuatnya tidak rela akan sesuatu. Apa… dia tidak rela berpisah dengan Shina?

Tapi, kenapa?

@@@@@

Setiba di rumah, Jungkook langsung masuk ke dalam kamarnya dan mengunci pintu rapat-rapat seolah ada seseorang di luar yang sedang mengejarnya. Agak terburu-buru pemuda itu melepas tas dan meletakkanya di atas meja belajar, lantas… ia beringsut ke depan cermin, menatap pantulan dirinya sendiri.

Semenjak kejadian tadi, kejadian dimana ia menolong Shina yang hampir terjatuh tadi, bayang Shina seolah menari-nari di kedua pelupuk matanya.

OH-SHI-NA!

Ya, gadis manis itu.

Aneh?

SANGAT!

Bahkan Jungkook pun merasa seperti itu. Ia bahkan tidak tahu persis mengapa ia memikirkan Shina, gadis baik hati yang mau memberinya bekal saat jam istirahat tadi. Apa yang terjadi pada anak ini, hm? Apa dia sudah mulai gila? Atau jangan-jangan…

“Kau terlihat memikirkan sesuatu. Ada apa, hm?” Jungkook mengalihkan pandangannya dari langit-langit kamar ke arah seseorang—lebih tepatnya, makhluk merah muda bersayap—yang duduk di kursi dekat meja belajarnya.

Jungkook langsung menghadap ke arah Jin, lalu berkata, “Aku merasa ada sesuatu yang aneh terjadi padaku, Jin.”

Jin tertawa pelan. “Sesuatu yang aneh apa maksudmu, hm?”

“Aku… tidak tahu kenapa, tapi… tiba-tiba saja aku memikirkan seseorang,” jawab Jungkook terdengar ragu.

Jin agak membulatkan kedua matanya dan berkata, “Benarkah? Siapa?”

Jungkook agak mengalihkan pandangannya dari Jin, menghindari kontak mata atau mungkin malu untuk mengatakan yang sebenarnya. “Ehm, Oh Shina.”

“Oh Shina?” ulang Jin sambil mengenyitkan dahinya. “Nama itu tidak asing. Siapa?”

Pemuda berambut merah marun itu mendengus. “Tentu saja tidak asing. Dia adalah gadis yang membuatku menjalani hukuman bodoh ini dan dia adalah gadis yang menjadi target perempuan untuk misi terakhirku, Jin!” jawab Jungkook agak geregetan. Kedua matanya menatap Jin seperti ingin memakan cupid itu hidup-hidup.

Aish! Bagaimana Jin bisa lupa dengan gadis bernama Oh Shina itu, hah?

“Memangnya apa yang terjadi pada gadis itu, hm? Bukankah wajar kalau kau memikirkannya? Dia targetmu. Lagi pula, kau harus bergerak cepat karena waktumu tidak banyak lagi, Jeon Jungkook.”

“Aku tahu dia targetku, Jin. Tapi, aku merasa ada sesuatu yang berbeda. Aku merasa dia tidak seperti target perempuanku yang sebelumnya.”

“Apanya yang berbeda? Dia sama dengan yang lain,” balas Jin.

Jungkook menghela napas. “Bukan itu maksudku, Jin. Tapi, aku merasa ada sesuatu yang aneh terjadi padaku ketika tahu gadis itu adalah target terakhirku. Aku… merasa sedikit tidak rela, tapi… aku juga tidak yakin. Aku bingung,” tutur pemuda itu.

“Maksudmu, kau merasa… kau tidak mau menyatukan gadis itu dengan target laki-laki yang dipasangkan untuknya, hah?”

Jungkook mengangguk.

“Kenapa?” tanya Jin.

“Aku juga tidak tahu Jin. Di satu sisi, aku merasa tidak rela jika gadis itu bersama Taehyung. Tapi, di sisi lain, aku harus menyatukan gadis itu dengan Taehyung. Apalagi, Taehyung juga menyukai gadis itu. Seharusnya ini mudah untukku, Jin, hanya saja… aku tidak mengerti apa yang terjadi padaku, aku… benar-benar merasa ada sesuatu yang aneh terjadi padaku beberapa hari belakangan ini.”

Jin terdiam. Bingung harus membalas apa.

“Jin-ah?” panggil Jungkook kemudian.

“Ya?”

“Apa… cupid-30-hari… juga bisa menjadi target para cupid? Maksudku…, apakah aku… bisa jatuh cinta?”

UHUK!

“Bagaimana, ya? Kau masih manusia. Jadi, tentu saja kau masih bisa menjadi target para cupid,” jawab Jin.

Jungkook membulatkan kedua matanya. Kaget. “Apa mungkin… aku… mulai menyukai Oh Shina?” Pemuda itu melihat ke arah cupidnya.

Jin menggidikkan kedua bahunya, lalu berkata, “Aku tidak tahu, Jungkook. Tapi kalau itu benar, kau sungguh sial.”

TaehyungBelumCebok-

-TaehyungBelumCebok (^/\^)-

Anditia Nurul ©2014

-Do not repost/reblog without my permission-

-Do not claim this as yours-

Also posted on author’s personal blog (Noeville) & Read Fanfiction / Fanfiction Side

About fanfictionside

just me

8 thoughts on “FF/ 30DAYS CUPID/ BTS-BANGTAN/ pt. 10

  1. LANJUT LANJUT LANJUT!!!
    Ak suka bgt sama ff ini. Walaupun nungguin updatenya lama😦
    Kookie nyadarnya telat ah

  2. sumpah ini keren banget,bikin gregetan..
    ya ampun Kookie nyawamu udah diujung tanduk,jd jgn buat hal2 yg bikin nyesel nantinya
    nexttt .. DAEBAK❤❤❤

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s