FF anime SONGFIC/ THE WOLF THAT FELL IN LOVE WITH LITTLE RED RIDING HOOD / UTAPURI


Author             : Karupin~

Genre              : Romance, Drama, Fantasy, A Little Hurt

Pairing             : Ichinose Tokiya & Nanami Haruka

Rating              : Teen

Disclaimer       : FF ini terinspirasi dari lagu Hanatan dan Pokota yang memiliki judul yang sama. Kalo ada yang tahu Vocaloid pasti bilang lagu itu dinyanyikan Len sama Rin ^^
Pairing atau karakter utama bukan milik author, melainkan milik A-1 Pictures. Sifat dari karakter utama sedikit author bedakan dari aslinya.

Saa, Happy Reading!

 

Hembusan angin bergerak menari menyusuri hutan dengan lembut. Matahari tersenyum ramah, sinarnya menengok dari celah – celah daun pohon. Menenangkan Ichinose- Si Serigala yang tertidur pulas di bawahnya. Tertidur sangat pulas, sampai saat kedua telinganya mendengar suara langkah kaki mendekat. Ia terbangun, dan segera bersembunyi dibalik pohon besar.

Tap Tap Tap

Suara langkah kaki itu mendekat, semakin dekat, dan terlihatlah sosok seseorang pemilik langkah kaki itu. Tak perlu bertanya siapa sosok tersebut, terlihat dari jubah merah yang ia kenakan, tentu saja Nanami-Si Kerudung Merah.

Nanami POV

Aku sampai di tengah hutan, mengikuti jalan setapak yang tak begitu terlihat. Sampai saat hembusan angin menerbangkan sapu tanganku ke arah lain. Aku tersesat, ingin pulang. Namun, sapu tangan itu pemberian Obaa-chan. Aku terus mencarinya, sampai aku merasa ada sesuatu yang aneh di balik pohon besar itu. Sebuah bayangan, yang hanya menampakkan telinga besar dan sebuah ekor panjang. Aku terperanjat. Serigala.

“Pergilah”

Suara tenang itu terdengar jelas pada indera pendengaranku. Tak mengerti apa yang terjadi, tubuhku tak bisa bergerak. Bukan karena ketakutan, tapi karena suara tenang itu.

“Aku memang berniat pergi. Tapi-”

“Kau mencari sesuatu?”

“Iya. Sapu tangan”

“Di bawah pohon cemara itu”

Sebuah tangan dari balik bayangan itu menunjuk ke arah pohon cemara di belakangku. Segera aku mengambil sapu tangan di bawah pohon yang ia tunjuk. Benar, ini sapu tanganku.

“Jika sudah menemukannya. Cepat pergilah, jalannya di sebelah timur”

Suara tenang itu. Mengusirku.

“Ano . .”

“Ada apa?”

“Siapa nama mu?”

“Ichinose”

“Terima kasih, Ichinose-san”

Angin berhembus melewati celah – celah daun pohon yang berada di hadapannya.

Berselang beberapa detik tak ada suara apapun di balik bayangan itu. Angin berhembus melewati celah – celah daun pohon yang berada di hadapannya, menampakkan samar paras sosok tersebut. Tersenyum.

“Hm”

Hanya dehaman kecil. Segera aku berlari, kembali pulang ke desa.

Guuzen kara hajimaru hitsuzen no wanshi-n

(Salah satu adegan yang tak terelakkan, dimulai dari kebetulan)

Tooku ni mieta no wa nigeru aka iro

(Aku melihat sebuah warna merah bergoyang di kejauhan)

Ichinose POV

Aku yakin, hari ini kau akan datang melewati jalan ini lagi. Tapi sampai saat ini, aku tak dapat melakukan apa – apa. Tidak tahu harus bagaimana melakukannya. Bahkan hati ini mulai bertanya, kenapa aku harus melakukannya, kenapa aku tak bisa melakukannya. Aku terlalu pusing memikirkan hal yang tak dapat ku jelaskan, yang akhirnya aku hanya memandangmu dari kejauhan.

Nanami POV

Sejak kejadian itu, aku mulai mengambil jalan yang lebih jauh dari biasanya. Menghindari pertemuan yang mungkin akan memunculkan suatu hal yang rumit. Melarikan diri, terlalu takut akan muncul sebuah perasaan yang seharusnya tak ada. Mencoba tidak memikirkan keinginan untuk bertemu, untuk berbicara, bahkan untuk menyentuh sedikit pun. Karena jika itu terjadi, akan cepat berakhir. Jika pikiran itu terlintas lagi, aku merutuki diriku sendiri karena nasib tidak akan berubah.

Ku lihat kau bersembunyi dibalik pohon itu. Kau melakukan itu setiap kali aku lewat dan berpura – pura tak melihatmu.

Ichinose POV

Mata kita tak bisa saling bertemu, suara kita tak bisa mencapai satu sama lain. Yang kita lakukan hanya menghela nafas berat karena menyimpan suatu hal yang menumpuk namun tak bernyawa. Bahkan jika kita tak dapat bertemu, tak bisa menyentuh, tak dapat saling bicara. Itu tidak apa – apa bagiku. Karena jika hal ini bukanlah sebuah cinta, maka tidak perlu kata-kata untuk menjelaskannya. Tidak peduli bagaimana aku memikirkannya, takdir tidak akan berubah.

“Ichinose-san”

 

Aitakattanda

(Aku ingin bertemu dengan mu)

Furetakattanda

(Aku ingin menyentuhmu)

Hanashitakatta, honto wa

(Aku ingin bicara, untuk mengatakan yang sebenarnya)

Kawaii kimi to yasashii boku ga

(Dirimu yang manis dan sifatku yang lembut)

Deai, musubareru endo

(Harus bertemu dan bersatu pada akhirnya)

Nankai datte nankai date

(berkali-kali)

Kami-sama ni negatta yo demo

(Aku meminta sebuah keinginan kepada Tuhan)

Kanashii kurai, kanashii kurai

(Tapi sayangnya, sayangnya)

Ookami to akazukin, nanda

(Kami masih tetaplah Serigala dan Si Kerudung Merah)

Naiteru kimi wo nagusametakute nobashita ude ga

(Ingin menghiburmu saat kau menangis)

Furueru

(Dengan lenganku yang terentang, gemetar)

Aishiteiru yo dakishimetai yo dakedo

(Aku mencintaimu, ingin memelukmu tapi-)

Dekinainda yo!

(Aku tidak bisa melakukan itu!)

Dou agaita tte

(Tidak peduli bagaimana aku berjuang)

Dou negatta tte

(Tidak peduli bagaimana aku berharap)

Tsume mo kiba mo kienai

(Cakar dan taring ini tidak akan hilang dari tubuhku)

Dakara, tada matteru yo

(Jadi, aku hanya akan menunggu)

Kimi no namida ga yamu made, ano ki no saki de

(Sampai kau kehabisan air mata, di pohon itu)

Zutto

(Selalu)

END

 

About fanfictionside

just me

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s