FF/ THE PART OF SIXTH SENSE/ BTS-bangtan/ pt. 8


The part of sixth sense

Title                       : THE PART OF SIXTH SENSE / Part 8 /
Author                  :
SonDaenaPark97
Main Cast
            :

  • Baek Naera (OC/YOU)
  • Kim Taehyung/V (BTS)
  • Kim Seok Jin (BTS)

Other Cast          :

  • Han Yoonmi (OC)
  • Jeon Jungkook (BTS)
  • Jung Daehyun (BAP)
  • Byun Baekhyun (EXO)
  • Other member of Bangtan

Length                  : Chaptered
Genre                   : Supranatural, School-life, Fantasy, Romance, Friendship, Family, etc.
Rating                   : PG-16

.

Dihindari dan dijauhi adalah salah satu penyebab rasa kehilangan.

.

-Warning for the typo and happy reading-

 

Hari-hari berlalu begitu saja tanpa ada kesan sedikitpun. Sebuah perubahan kembali dirasakan oleh Taehyung. Mulai dari sikap Naera yang seperti tak mengenalnya, gadis itu bahkan tak pernah lagi mencoba untuk memulai pembicaraan sekalipun mereka selalu bertemu. Apa kesalahannya sangatlah besar sampai harus menerima balasan seperti ini? Ia ‘kan hanya lepas kendali pada Jin. Apa itu tak termaafkan bagi Naera? Kenapa Naera harus membencinya karena itu? apa jangan-jangan ia sudah membalas perasaan Jin makannya begini?

“Gen warna merah pada bunga tersebut bersifat semidominan terhadap gen warna putih sehingga semua tanaman F1 akan memiliki bunga bewarna merah muda….” jelas Shindong songsaengnim. Di tangannya terdapat 3 bunga mawar yang masing-masingnya bewarna merah, putih, dan juga pink.

Hari ini kelas XI-A sedang melakukan pembelajaran outdoor yang dilakukan di halaman belakang sekolah, dimana ini cukup disenangi oleh kebanyakan. Mungkin karena langsung membaur dengan alam dan bisa menikmati udara sejuk, materi pembahasan terasa lebih mudah untuk diserap. Kebetulan pelajaran biologi kali ini mengarah pada materi hereditas.

“Dalam sifat intermindet, penyimpangan dengan satu sifat beda, yang mana sifat dominan tidak mampu menutupi sifat resesif, tetapi menampakkan sifat diantara keduanya. Hal ini disebabkan beberapa gen yang tidak dominan dan juga resesif…..”

Semua murid yang duduk bersimpuh di atas rerumputan hijau tengah mendengarkannya dengan baik sambil sesekali mencatat point penting.

Berbeda dengan apa yang malah dilakukan Taehyung.

Ditengah keseriusan murid lainnya, lelaki itu justru mengarahkan pandangan pada Naera yang duduk sedikit berjauhan darinya. Gadis itu terlihat begitu tertarik akan apa yang dijelaskan Shindong Songsaengnim. Dan Taehyung tak bisa mengalihkan pandangan darinya.

Karena Naera lah, ia tak bisa berkonsentrasi sedikitpun. Semenjak hari itu, Naera benar-benar menghindarinya. Dan ini terasa sangat tak nyaman.

Naera sering acuh meski mereka kerap kali berpapasan. Namun bodohnya Taehyung tak pernah mencoba untuk menyapa gadis itu duluan. Awalnya ia mengira kalau gadis itu menjauhinya hanya untuk sementara waktu, lalu akan kembali padanya bila keadaan hatinya sudah membaik. Tapi sudah hampir seminggu, ia masih betah mendiaminya.

Mungkin gadis itu benar-benar marah padanya.

“Aku minta maaf” Akhirnya Taehyung memberanikan diri untuk menyapa gadis itu duluan saat semua murid di beri tugas melakukan pengamatan pada setiap tanaman berbunga di halaman itu.

Jujur saja, hati Taehyung berdebar saat ini.

“Untuk apa?”

Taehyung sedikit senang karena gadis itu langsung menyahuti ucapannya. Tapi diwaktu bersamaan ia juga merasa resah karena responnya yang dingin dan tak mau melihatnya. Gadis itu sibuk mencatat sambil mengamati bunga.

“Soal.. Jin. Aku melakukannya tak sengaja— Sungguh, ini tak seperti yang kau pikirkan—“

“Memangnya kau kira aku memikirkan apa?” Akhirnya Naera balas melihat kearahnya.

Taehyung mengerutkan dahi.

“Kalau kau memang merasa bersalah, kau seharusnya meminta maaf padanya. Bukan padaku”

“Kenapa kau bicara sedingin ini padaku?” Taehyung sungguh tak suka dari cara bicara gadis itu. Ini seperti kali pertama saat ia mencoba berbicara padanya dulu. Dingin dan seolah malas untuk merespon.

Kalau dulu mungkin Taehyung bisa memakluminya. Tapi sekarang, setelah mereka mengenal satu sama lain, ia sama sekali tak bisa terima.

“Menurutmu hampir membuat orang lain terbunuh bukanlah suatu kesalahan yang besar? Kau harusnya bisa berfikir lebih rasional”

“Aku tahu kesalahanku memang sulit termaafkan. Tapi apakah tidak berlebihan ucapanmu itu? Meskipun aku sangat lemah dalam mengatasi emosiku saat itu, aku bukan orang jahat yang sembarang bisa membunuh orang lain!” Tanpa sadar intonasi itu meluncur begitu saja.

“Kau ini kekanak-kanakan sekali ya. Apa kau tidak bisa menghormatinya sebagai sunbae-mu? sekalipun kau emosi, tak seharusnya kau bersikap di luar batas. Aku bahkan tak mengira orang sepertimu bisa membentakku seperti ini.” balasnya tajam dengan wajah datar. Setelah menghembuskan nafas, ia berbalik. “Kau benar-benar membuatku kecewa, Kim Taehyung.”

“Apa salah jika itu ku lakukan karena dia melarangku untuk menjauhimu?”

Mendengar itu, Naera menghentikan langkahnya.

“Kau pikir kenapa aku begini? Apa menurutmu mudah melepaskanmu begitu saja setelah kau memberikan banyak kesan padaku? kau kira mudah menghindarimu begitu saja setelah kau membuatku merasa nyaman?”

“……..”

“Bisakah… kau tak hanya mengkhawatirkannya saja?”

Naera diam terpaku. Apa benar kata-kata itu ia dengar dari Taehyung? mendadak hatinya terasa sesak. Ini perasaan yang aneh dan tak biasa. Bahkan bibirnya terkatup rapat tanpa tahu apa yang harus ia katakan. Saat ia berniat berbalik untuk memastikan Taehyung, ternyata lelaki itu sudah pergi meninggalnya.

.

.

“Apa kau bermaksud mengancamku, Han Yoonmi?”

Hawa tegang membaur bersamaan dengan kalimat itu. Sepatah kata pun rasanya tak mampu keluar dari bibirnya begitu ia merasakan suara dingin berderu di sisi kanan lehernya. Nafasnya tersendat karena tubuhnya digapit dari arah belakang.

“K-kim Taehyung, k-kau?”

“Kenapa? kau terkejut?” pemilik suara itu menyeringai seram. Ia tak membiarkan gadis itu untuk lepas sekalipun ia memberontak.

“Apa mau mu!?”

“Dengar ya Yoonmi. Ucapan yang kau lontarkan bahwa kau lebih pintar dariku itu mungkin benar. Tapi ketahuilah, aku jauh lebih kuat darimu. Sekali lagi kau coba untuk menganggu Naera…kupastikan… kau akan kubuat menderita”

“Si-siapa kau sebenarnya..wae…”

“Seperti yang pernah kukatakan padamu dulu. Aku, adalah pelindung Naera”

Yoonmi melipat kedua tangan di atas bangkunya. Tatapannya kosong. Kejadian beberapa hari itu masih berputar apik di ingatannya. Bahkan dekapan kuat di sekitar lehernya masih terasa menyakitkan.

Hari itu, ia baru saja memberi pelajaran kepada Taehyung karena pertemuan awal pertama mereka yang tak menyenangkan. Ia sangka telah berhasil memberi balasan terhadapnya. Tapi, sesaat setelah ia melangkah pergi, tiba-tiba sebuah dekapan kuat menariknya dari arah belakang. Begitu kuat sampai rasanya sulit bernafas. Terlebih lagi, kalimat tak masuk akal dilontarkan oleh lelaki itu selayaknya ancaman. Bahkan dia ingat, tak lama setelahnya lelaki itu menghilang bak kepulan asap.

“Bagaimana… bisa dia menghilang dengan cepat….”

Apa saat itu ia hanya berhalusinasi? tidak mungkin! Yoonmi tentu masih waras untuk membedakan mana yang khayalan maupun nyata.

“Kim Taehyung…. Siapa kau sebenarnya…”

Ketika ia melihat secara langsung Taehyung dan Naera berciuman, ia berfpkir akan menjadikan itu sebagai senjata untuk membalas keduanya. Namun ternyata ini malah melimpahkan masalah baru baginya.

“Yoonmi, ada yang mencarimu” mendadak seorang gadis berponi menghampirinya.

“Siapa?”

Gadis itu menunjuk kearah pintu menggunakan dagunya. Terlihatlah di sana sosok tampan Jungkook yang sudah menunggu dengan senyum manisnya. Pemandangan itu sontak membuat siswi di kelas itu mendadak gaduh dan bersorak begitu Yoonmi menghampirinya. Memang sih, sudah bukan hal yang mengejutkan lagi, tapi tetap saja tatapan iri dari lainnya tak mungkin sirna dengan cepat. Bagaimanapun Jungkook masuk dalam kalangan kingka yang digilai banyak gadis.

Mian aku tak menghampirimu, kau jadi sampai kemari”

Jungkook hanya menimpalinya dengan senyuman seraya merangkul bahu gadis itu, “Kenapa nuna bicara begitu? Ah iya, ayo ke kantin! Jin sudah mulai bersekolah hari ini, dan yang lainnya juga sudah berkumpul disana.”

Jinjja? syukurlah kalau begitu”

Seketika sosok Taehyung terlupakan olehnya.

Setelah kedua pasangan itu tak terlihat lagi, beberapa siswi langsung membuat sebuah perkumpulan kecil sambil menampakkan ekspresi menyebalkan mereka.

Seorang gadis bertubuh semampai bernama Kaeun mendudukkan dirinya di atas meja, “Bukankah dia menyukai Jin? Tapi kenapa dia malah berpacaran dengan Jungkook?”

Huh, apa gadis cantik selalu memanfaatkan paras mereka?” balas Chanmi si gadis perponi tadi.

“Pasti dia hanya pura-pura memacari Jungkook agar dekat dengan Jin!”

“Tapi, bukankah dia sudah dekat dengan seluruh anggota bangtan boys dan anak-anak dari klub basket? Bagaimana caranya dia bisa seperti itu ya…” timpal gadis yang ber-nametag ‘Kim Yooyoung’.

Kemudian Chanmi menyahut lagi dengan misterius, “Dia itu gadis licik! Kau tahu ‘kan kalau dia pernah berteman dengan Naera?”

“Naera siswi kelas XI-A? gadis yang membunuh Yoon Gi sunbae dengan kekuatan supernatural itu?”

“Benar! Dulu ‘kan Naera adalah pacar Yoon Gi sunbae dan berteman baik dengan anggota Bangtan boys lainnya. Secara tidak langsung, Yoonmi jadi dekat dengan mereka juga. Dan aku tak menyangka setelah insiden itu, Yoonmi ikut menjauhi Naera dan justru semakin mendekati Jin dan Jungkook sunbae.”

“Astaga… ternyata dia itu rubah berekor sembilan ya. Tega sekali dia”

“Ha ha ha .. dia bahkan lebih menyeramkan dari Naera”

Tawa ketiga gadis itu terdengar membahana memenuhi setiap sudut kelas. Sepertinya, di jaman sekarang ini manusia sudah dibutakan oleh kedengkian. Siapapun, kapanpun, dan dimanapun, kau akan menemukan orang yang diam-diam menghujatmu dari belakang.

.

.

Suasana kemewahan kantin terlihat begitu elegan. Aksen cokelat muda rupanya memberi kesan kehangatan tersendiri. Siswa-siswi dengan disiplin dan tenang memilih makanan yang sudah disediakan. Mereka bisa sesenang hati memilih makanan nikmat siap saji lalu meletakkannya di nampan. Beberapa terlihat berbincang-bincang seru sambil sesekali melahap santapan mereka di meja makan.

Hal itu pun tak jauh berbeda dari 1 meja makan panjang yang terlihat lebih ramai dari lainnya. Disanalah anggota klub basket berkumpul. Jin baru saja memulai hari pertamanya sekolah semenjak insiden itu, dan hal itu tentunya tak di lewatkan oleh Namjoon untuk merayakannya bersama dengan yang lain. Tak terkecuali untuk Taehyung. Meski ia sempat didiamkan oleh yang lain, tapi rupanya mereka memilih untuk menganggap insiden itu hanya kecelakaan semata dan melupakannya. Lagi pula Taehyung sudah meminta maaf.

Yang tak habis fikir, kenapa mereka bisa semudah itu memaafkannya termasuk Jin sendiri? apa selama ini hanya Taehyung yang beranggapan bahwa ia akan dibenci? melihat sikap Jin yang kembali ramah membuatnya jadi tak enak hati.

Saat Jin berjalan sendirian untuk mengambil makanan, ternyata diam-diam Taehyung mengikutinya.

“Bagaimana keadaanmu?” tanyanya dengan aksen datar meski ia mencoba untuk peduli.

Tangan Jin yang mengambil sepotong kimbab otomatis terhenti.

“Kau bisa lihat sendiri. Aku jauh lebih baik sekarang” jawabnya sedikit bercanda dan riang. Sama-sekali tak menunjukkan kalau ia marah pada Taehyung.

“Maafkan aku. Kejadian itu—“

“Tak perlu kau pikirkan. Lagipula aku sudah melupakannya”

Jin kembali melanjutkan aktifitasnya dan mengambil beberapa sendok saus.

“Aku sengaja melakukannya. Seharusnya kau—“

“Marah?” potong Jin cepat. Sontak Taehyung membulatkan mata. “Untuk apa aku marah kalau aku memang pantas menerimanya”

“Tapi…”

“Kau menyukai Naera ‘kan?”

Sejurus kemudian Taehyung terdiam. Rupanya Jin tak kapok untuk kembali mengulang pertanyaan klise itu.

“Kalau aku jadi kau, saat ada orang lain melarangku untuk menjauhi gadis yang kusukai, aku pasti akan melakukan hal yang sama.”

Belum sempat Taehyung membuka bibir, Jin menepuk pundaknya dan kembali bicara, “Aku tak berhak menghalangimu. Seharusnya aku sadar kalau sudah ditolak olehnya. Dan mungkin, aku akan merelakan Naera lagi.”

“Apa kau sangat mencintainya, Jin?” kini girilannya yang bertanya.

Baginya, Jin adalah orang paling bodoh di dunia. Masa dia langsung menyerah begitu saja? Payah! Melihat wajah sok tegar lelaki itu semakin menguatkan pendapatnya kalau Jin sangat mencintai Naera, atau mungkin lebih dari dugaannya. Ia sadar bahwa lelaki ini memang orang baik. Lalu, apa dia tega merebut gadis itu darinya?

“Entah aku menyukainya atau tidak. Tapi jangan karena kehadiranku, kau menyerah begitu saja Jin. Pertahankan Naera kalau kau memang mencintainya.”

.

.

Taehyung memutuskan untuk kembali ke kelas setelah lega akan tindakannya barusan. Ia memang tak bisa membenci Jin. Kalaupun akhirnya ia menyukai Naera, ia tak memiliki alasan untuk mencegah Jin. Begitu juga sebaliknya.

“Eh, kau!”

Di ujung koridor dekat kantin, terlihat Jungkook berlari kecil menghampirinya.

“Kau kenapa disini? tak ikut bergabung dengan yang lain?” sambungnya.

Dan ia sedang tak sendirian kemari.

“Kau baru datang? Segera temui mereka, aku baru saja dari sana” balas Taehyung. Ia pun meilirik sekilas kea rah Yoonmi. Gadis itu terlihat muram dan menunduk, menyembunyikan tubuhnya di belakang Jungkook.

“Oh, baiklah”

Tepat saat Yoonmi melintas di sebelahnya, Taehyung bergumam lirih dan gadis itu mendegarnya.“Aku akan mengawasimu, Yoonmi-ssi.”

.

.

Di seberang sebuah toko buku terjadi keributan kecil yang di sulut oleh seorang berbadan tinggi besar dan kekar dengan kacamata hitam.

“Apa anda bilang? saya akan celaka?” ejeknya kepada orang lain yang nampak sudah menua.

“Saya bukannya mengancam anda. Tapi saya hanya memberikan anda peringatan” balas kakek itu dengan tenang. “Kalau anda tetap mengendari motor anda kea rah utara setelah ini, sebuah truk akan menabrak anda”

“Apa? astaga lihatlah orang aneh ini. Bukannya kau minta maaf padaku, sekarang kau malah mengatakan hal aneh? kau memang orang tua gila rupanya.” Orang berbadan besar itu menggelengkan kepalanya lalu segera beranjak pergi. Ia dengan cepat menaiki kendaraannya lalu dikendarai kea rah utara. Mengabaikan pesan kakek itu.

Sementara itu, Taehyung yang baru saja keluar dari toko buku sedari tadi memperhatikan pemandangan itu. Ia sedikit mendengar apa saja yang di katakan oleh keduanya meski berada di seberang jalan. Ia masih mengenakan seragam karena sepulang sekolah ia berniat ke tempat ini untuk mencari beberapa tambahan buku pelajaran.

Penasaran akan kejadian berikutnya, lantas matanya beralih melihat motor itu melaju kencang menuju lampu merah. Kebetulan lampu lalu lintas dari arah selatan berpendar hijau. Belum terlaju cukup jauh, sebuah truk lepas kendali yang bermuatan barang-barang besar tengah melaju kencang dari timur dan menerobos lampu merah itu begitu saja.

CIIIITTTTT

Mulut Taehyung ternganga tanpa ada suara.

Sepertinya ia tahu apa yang akan terjadi setelah ini.

TIINNNNNNN

BRAAAAAAAK

Truk itu menghantam kendaraan yang melaju dari arah selatan, tak terkecuali motor milik lelaki berbadan kekar tadi.

BRAAAAAKKK

Begitu menerima hantaman dari truk tadi, motor itu melayang dan kembali dihantam oleh kendaraan besar lain dari jalur barat yang baru saja berganti hijau.

KYEEETTT BRAAAKKK

Seketika teriakan memilukan disertai bunyi bel kendaraan menyeruak di udara secara bersamaan. Orang berbadan kekar itu, mungkin saja sudah mati di tempat.

Orang-orang yang awalnya berlalu lalang di sekitarnya mendadak berlarian mendekat ke lokasi kejadian. Bahkan tak sedikit orang yang mematung dengan ekspresi shock.

“Tidak mungkin….” Lutut Taehyung melemas. Bibirnya bergetar. Tatapannya mendadak kosong.

Dua kali. Dua kali sudah ia melihat kematian tragis semacam ini. Ini bahkan lebih menyeramkan dari kecelakaan yang di alami oleh Sohyun dulu.

Pikiran Taehyung kembali mengarah pada satu hal. Pandangannya pun meyapu sekitar. Di seberang jalan tadi, ia masih melihat sosok kakek tua itu memutar arah dengan langkah rentanya.

Entah kenapa, ia merasa orang itu mengingatkannya pada sesuatu.

Tanpa berfikir panjang ia segera menyebrang jalan dengan cepat. Bahkan ia tak melihat kiri kanan. Nyaris saja ambulans yang tengah melintas itu menabraknya. Namun ia tetap berlari tak gentar untuk mencapai langkah kakek itu.

“Tunggu!”

Kakek itu menghentikan langkah tatkala bahunya terasa disentuh.

Nde? apa anda memanggil saya?”

Taehyung menggangguk pasti. “Kau… bisa jelaskan apa yang baru saja terjadi?”

Mwo?”

.

.

Lampu kamar Naera nampak meremang. Aroma melati tengah berbaur dengan nuansa cokelat muda yang mendominasi kamarnya. Satu kata bila kau melihat kamar ini, rapi. Buku-buku maupun barang-barang kecil tertata apik di setiap rak yang tersedia di sana.

Cuaca di luar terkesan dingin meski hujan belum berkunjung, terlihat dari cara Naera menyembunyikan dirinya di balik selimut tebal. Mungkin angin luar menelusup lincah melalui sela-sela jendela besar itu.

Hari belum disambut malam. Matahari bahkan baru menyembunyikan sebagian sinarnya di balik peristirahatannya, tanda ini masih Sore. Tapi gadis itu sudah melekatkan diri dengan kasur empuknya.

“Ugh…”

Rupanya gadis itu belum tidur atau lebih tepatnya tengah berusaha memejamkan mata. Sayang gagal.

Pikirannya malah mengarah pada sosok Yoonmi dan segala perkataannnya di hari itu.

“Temanmu barumu itu. Siapa namanya? Kim Taehyung? kudengar dia sengaja menghantam Jin oppa dengan bola sampai membuat wajahnya lebam begitu. Katanya juga, dia melakukannya karena cemburu padamu yang selalu dekat dengan Jin oppa.”

“Itu tidak mungkin…” Ia terduduk diatas kasurnya dengan rambut sedikit berantakan.

“Aku bahkan ingat saat dia muncul kali pertama dan bilang padaku bahwa dia adalah penjagamu. Kau tahu, bahkan dia tahu semua akal licikku dan ikut mengancamku. Lalu sekarang dia nyaris membuat Jin oppa mati hanya karena cemburu padamu?”

Aku dan Taehyung hanya berteman! dia tak mungkin melakukan hal sebodoh itu!” Naera menggeleng kuat. Sementara wajahnya mengguratkan kegelisahan.

“Kau telah menyebabkan cinta segitiga dan melukai orang lain lagi. Bukankah aku sudah bilang kalau kehadiranmu hanyalah kutukan? Dulu kau membunuh Yoon Gi, dan sekarang kau mau melenyapkan Jin oppa melalui Taehyung, hah?!”

“Aku… tidak pernah berniat seperti itu….” Suaranya melemas. Kalimat terakhir Yoonmi kala itulah yang paling membuatnya tak bisa berbuat apa, tak mampu membela diri, sekaligus membuatnya diperlakukan tak adil.

Kenapa harus diarinya? kenapa harus dia yang terus disalahkan?

Cintanya pada Yoon Gi masih teramat besar. Menghapusnya begitu saja sepertinya tak akan mudah. penyesalan dan rasa bersalah pada lelaki itu teramat sangat. Lalu, apa Yoonmi tak bisa memahaminya? gadis itu selalu saja mengungkit dosa besar itu tanpa tahu betapa sakitnya hati Naera.

Dan sekarang, kenapa Taehyung yang jadi alasan? Lelaki itu tak jahat dan tak mungkin melukai Jin dengan alasan kalau ia menyukainya.

Tidak!

Yang Naera kenal, Taehyung bukanlah orang seperti itu. Ia lelaki baik yang selama ini sudah mengembalikan sebagian kebahagiannya.

Lalu Jin?

Luka di wajah tampannya itu karena Taehyung.

“Kenapa semua ini harus terjadi padaku….”

Dan alasannya, karena Naera sendiri. Ia tak ingin dosa besarnya terulang untuk kedua kali. Cukup Yoon Gi yang jadi korban karenanya.

Sejujurnya, Naera tak membenci Taehyung. Entahlah. Meski Yoonmi sudah memperburuk keadaan, perbuatan Taehyung sebelumnya sudah meluluhkan hatinya lebih dulu. Ia tak akan lupa perbuatan baik lelaki itu padanya. Dimana saat ia mau menemani, menjadi sandaran untuknya, dan juga cara lelaki itu memperlakuannya.

Walau Jin jauh lebih baik dan mencintainya, Naera merasa Taehyung berbeda.

Ia menolak perkiraan bila Taehyung suka padanya. Tapi…..

Ciuman itu. Naera bisa merasakan perasaan lelaki itu meski tanpa mengungkapkan apa-apa melalui ciuman itu.

Ditambah lagi kalimat laki-laki itu saat di sekolah tadi yang membuatnya semakin bimbang,

“Apa salah jika itu ku lakukan karena dia melarangku untuk menjauhimu?”

“Kau pikir kenapa aku begini? Apa menurutmu mudah melepaskanmu begitu saja setelah kau memberikan banyak kesan padaku? kau kira mudah menghindarimu begitu saja setelah kau membuatku merasa nyaman?”

“Bisakah… kau tak hanya mengkhawatirkannya saja?”

Apa benar jika Taehyung menyukainya?

Apapun itu. Naera tak boleh membalasnya. Ia harus menjauhi lelaki itu. Bahkan ia rela bersikap tak peduli kalaupun itu berarti melindungi Taehyung.

.

.

Sixth Sense?”

Lelaki tua itu menganggukkan kepala. “Apa anda pernah mendengarnya sebelumnya?”

Taehyung menyandarkan kepalanya pada kursi.

Aroma ‘khas tanah liat menusuk hidung. Maklum saja, kedua orang itu tengah berada di dalam toko keramik milik si kakek.

“Kebetulan saat hendak menyebrang jalan, entah ini salahku yang kurang hati-hati atau motor itu yang tak bisa mengendarai, ia nyaris saya menabraku. Bukannya minta maaf, ia malah memarahiku.” Ia memulai ceritanya. “Tapi saat melihatnya dari dekat… aku melihat sesuatu buruk akan menimpanya. Aku mencoba memberikannya peringatan… tapi dia malah mengataiku orang gila”

Taehyung tak bergeming. ‘Sesuatu ‘ itu. Sama seperti yang dimiliki oleh Naera.

Mampu melihat masa depan, insting paling kuat, membaca pikiran, bahkan mengetahui garis kematian orang lain. Tak disangka kalau ia menemukan pemilik Sixth Sense lain.

“Omong-omong, kenapa anda begitu penasaran dengan saya? ”

Tadi sore, Taehyung sedikit memaksanya untuk menjelaskan insiden kecelakaan tragis yang menimpa lelaki malang tadi. Ia sudah melihat semua dan rasa penasarannya telanjur membuncah, itu alasannya.

Awalnya sang kakek ragu, tapi Taehyung bersikeras. Maka dari itu, ia membawa Taehyung ke toko keramiknya yang tak jauh dari lokasi sebelumnya.

Entah kenapa, ia tak bisa menolak permintaan Taehyung. Padahal kalau dicerna, ini bukanlah pembahasan yang mudah ‘diterima’ oleh akal sehat.

“Karena aku pernah melihat hal seperti yang kau lakukan.”

“Apa?”

“Beberapa waktu lalu seorang gadis mengatakan hal seperti apa yang anda katakan. Dan setelahnya, ucapannya terwujud dengan cepat.”

Kakek itu mendengarkannya dengan seksama. Tapi diam-diam, batinnya sedkit tersentak akan hal itu.

“Lalu, apa anda memiliki kekuatan supernatural?”

Seketika , raut terkejut tergambar jelas di wajah keriputnya. “Bagaimana—“

“Saya hanya bertanya” jawab Taehyung tenang.

Ia berpikir sejenak kemudian menjawab, “Saya hanya seorang cenanyang biasa. Kemampuan saya hanya sebatas itu saja. Tapi di dunia ini, mungkin terlahir seseorang yang dianugrahi kekuatan istemewa.”

Kalau begitu Naera apa? Ia kembali teringat Naera.

“Kenapa anda penasaran akan hal itu? Apa gadis yang anda maksud tadi memiliki kekuatan supernatural?” Kini gilirannya yang penasaran pada Taehyung. Lelaki semuda itu bagaimana tahu istilah ‘supernatural’? Bukahkan di jaman modern seperti sekarang, hal semacam itu dianggap sebagai tahayul belaka?

Anehnya, saat mencoba membaca diri Taehyung, yang terlihat hanya kekosongan. Ia juga tak mampu mendengar isi hati lelaki itu.

“Ah tidak. Aku hanya ingin memastikan”

Setelah itu, dengan tidak sopannya Taehyung berdiri. Ia rasa sudah cukup informasi dari rasa penasarannya barusan. Mungkin apa yang baru saja dilakukannya memang tak penting, tapi ia memiliki tujuan dibalik semua ini. Setidaknnya hal ini semakin menguatkan kepercayaannya pada ramalan itu bahwa mengapa Naera dilahirkan ‘berbeda’.

“Ah, seperinya saya harus segera kembali. Ada hal yang harus ku kerjakan. Terimakasih atas waktu anda, permisi” Begitu pamitnya seraya membungkukkan badan.

Sang kakek ikut membungkuk sopan. Meski ia terlihat menyikapinya dengan santai, sebenarnya ia menaruh rasa curiga terhadap Taehyung. Hanya saja, ia tak mau memikirkannya lebih lanjut karena suatu hal.

Begitu pintu toko itu di tutup dari luar, ia bergumam lirih, “Siapa sebenarnya dia?”

Dalam benaknya ia yakin kalau akan bertemu dengannya lagi.

.

.

Pintu kamar Naera berdenyit. Sedikit terkesiap ia mendapati siluet memasuki lorong kamarnya.

“Ayah?”

Tapi ternyata dugaannya salah.

“Ayahmu sedang lembur kerja?” suara itu menderu datar.

“Ibu? sedang—“

“Kau jangan senang hati dulu. Aku kemari karena ada temannmu yang menunggumu di luar. Aku sudah mengetuk pintu kamarmu berkali-kali, tapi kau tak membukannya untukku.”

“Siapa?”

“Entahlah, sebaiknya kau periksa sendiri” tuturnya singkat kemudian kembali melangkah pergi.

Seumur-umur, ini kali pertama ibunya mengunjungi kamarnya dan mau berbicara beberapa kalimat dengannya. Kalau diingat, biasanya orang itu hanya menggumamkan satu atau dua patah kata saja padanya. Ini moment langka bagi Naera.

Tapi setidaknya ia merasa senang. Sekalipun ia tak pernah mendapat kasih sayang maupun perhatian sekecil apapun, perlakuan sederhana itu saja sudah membuatnya bersyukur.

“Siapa yang mencariku ya? tumben sekali” ujarnya kemudian seraya membenahi diri di depan cermin.

.

.

“Yoonmi? kau….”

Yoonmi yang tengah duduk di sofa ruang tamu lantas berdiri, menyambut kehadiran Naera yang memancarkan ekspresi terkejut.

“Aku datang kemari bukan untuk menyulut api denganmu. Jadi bersikap baiklah pada tamu mu ini” katanya enteng tanpa memedulikan tatapan Naera.

Sejak setahun lalu, baru kali ini Yoonmi datang ke rumah Naera lagi.

Cih” Meski tak tahu pasti atas dasar apa mantan sahabatnya itu kemari, ia lantas ikut duduk di hadapannya.

“Setahun rupanya tak selama seperti yang kubayangkan. Tempat ini sama sekali tak berubah ya” Pandangan Yoonmi menyapu sekitar.

“Kenapa kau datang kemari?” tembak Naera langsung. Ia tak mau basa-basi sekarang.

“Jin oppa sudah kembali”

“Aku sudah tahu itu”

Keheningan tiba-tiba menyapa mereka. Mulut kedua gadis remaja itu tertutup rapat. Mereka seperti bergelut dengan pikiran masing-masing sampai bibi Nam datang membawakan nampan berisikan 2 gelas jus orange dan beberapa potong kue lalu meletakkannya di meja.

“Apa kau kemari hanya untuk membahas itu lagi? memperingatkanku untuk menjauhi Jin sunbae?”

“Naera..”

“Kau tak perlu khawatir akan hal itu, Yoonmi. Kalau memang dengan tak terlibat lagi dengan Jin sunbae dapat membuatku bebas darimu, aku akan melakukannya.”

“Sebenarnya…”

“Mungkin kehadiranku hanya menghancurkan kebahagiaan orang lain. Meski aku mencoba bersikap baik dan melakukan apapun dengan tulus, aku sadar bahwa itu hanya akan berdampak buruk.” ia mengatur nafasnya sejenak, “Dan kau tak perlu lagi menggunakan Taehyung sebagai alasan. Aku kenal siapa dia.”

Naera terus berkata. Padahal seharusnya Yoonmi yang berkata sepanjang itu karena ia berniat menyampaikan sesuatu. Melihat Naera mengumamkan kata-kata itu membuatnya lupa akan tujuan awalnya kemari. Di matanya sekarang, gadis itu nampak berbeda.

“Ambilah semua yang kau inginkan. Aku tak akan mengalangimu, Han yoonmi. Dan setelah ini… berhenti mengganggu hidupku”

.

.

Beberapa helai rambut Yoonmi berkibar ringan mengikuti desiran angin. Ia berdiri di depan ruang lap kimia yang terletak di lantai dua gedung barat yang mengarah pada lapangan basket. Dari sini, tempat itu terlihat sangat jelas.

Nampaklah disana beberapa anggota klub basket tengah melakukan pemanasan. Sepertinya mereka mendapat dispen untuk persiapan lomba yang diadakan tiga hari lagi. Maka tak heran kalau mereka bermain di jam istirahat kedua seperti sekarang.

Yoonmi meletakkan dagunya pada balkon. Ada kekosongan tak berdasar yang tengah ia rasakan.

Tiba-tiba ingatannya mengarah pada masa-masa setahun silam. Di tempat ini, adalah lokasi favoritnya, tempat yang menyisakan sejuta kenangan usang baginya.

“Kau suka sekali mengajakku kemari”

Yoonmi sama sekali tak menghiraukan pertanyaan itu.

Setiap pulang sekolah, ia akan mengajak Naera ke tempat ini lalu memandang kea rah lapangan basket sambil tersenyum. Matanya terfokus pada 1 orang yang mengisi kinerja otaknya.

“Apa ada yang kau sukai dari para sunbae yang sedang latihan basket itu?”

Yoonmi tak pernah mau menjawab pertanyaan Naera yang satu itu. Tapi manik matanya memberi jawaban. Ia hanya memandang Yoon Gi seorang yang dahinya dibanjiri keringat, dengan lincah menuntun sang bola kesana-kemari. Hanya lelaki itu yang menguasai lapangan dengan semangatnya yang tak sekalipun menyusut. Kulit putihnya bersinar di bawah pancaran cahaya matahari. Sosok itu. Hanya dengan melihatnya saja sudah membuat hatinya berdesir baahagia. Meski lelaki itu tak pernah melihat kearahnya, ia tak merasa keberatan. Yang ia sadari, ia mengaguminya, sangat menyukainya, dan berharap agar suatu hari nanti lelaki itu tahu apa yang tengah ia rasakan.

Namun Naera tak pernah peka terhadap sahabatnya ini.

“Ah tidak. Mereka semua tampan, jadi aku senang melihatnya”

Ia berbohong. Sementara Naera tak tahu itu. Kalau sudah begitu, ia akan mendengarkan music sambil membaca buku. Sesekali juga mereka akan membahas banyak hal. Entah itu masalah pelajaran sekolah, tentang keluarga, atau kejadian-kejadian yang mereka alami. Mereka akan berbagi pendapat dan saran yang berguna.

Sampai suatu ketika, untuk kali pertama Yoonmi berani melihat Yoon Gi lebih dekat. Saat itu ia bersama Naera menonton latihan basket di kursi penonton yang letaknya sangat dekat dengan lapangan. Dari situ ia bisa melihat pesona lelaki pujaannya lebih jelas sampai rasanya tak rela melewatkan gerakan Yoon Gi sedikitpun.

Detak jantungnya kembali terpacu kala lelaki itu menoleh kearahnya sambil tersenyum teduh. Akan tetapi, ia tak mampu membalasnya. Karena senyum manis itu bukanlah untuknya, melainkan sahabat yang selalu berada disisinya, Naera.

Yoonmi mendesah kecewa. Ingatan itu hanya menyisakan kebencian baginya. Jatuh cinta dan patah hati memang mampu merubah seseorang.

Bahkan ia sampai tega membalas semua perbuatan Naera karena sakit hatinya. Entah salah siapa, ia tetap tak bisa terima.

Yang lebih tak adil, saat ia berhasil melupakan Yoon Gi dan menyukai Jin, ternyata lelaki itu juga menyukai Naera. Menyebalkan!

Ternyata sikap baik Jin yang berhasil meluluhkan hatinya tak berarti apa-apa.

Tetapi…. walau sisi jahat tengah menguasai akal sehatnya, tapi sisa kebaikan di sebagian jiwanya masih ada.

Perkataan Naera kemarin malam membuatnya merenung. Kata-kata gadis itu menyayat batinnya. Apa Yoonmi terlihat sejahat itu di mata Naera sampai-sampai rela mengalah demi dirinya? Awalnya ia kesana karena ingin menanyakan siapa sebenarnya Taehyung. Tapi sepertinya gadis itu justru tak tahu mengenai kejanggalan lelaki itu.

Selama ini, walau Yoonmi telah mendapat semua yang dia inginkan, ia tetap tak merasa bahagia. Ada yang hilang. Ia merasa kesepian. Dan ia menampik kalau kekosongan di renung hatinya itu karena kehilangan sahabat terbaiknya, Naera.

“Melamun lagi”

Yoonmi terasadar sepenuhnya begitu tepukan ringan mendarat di pundaknya. Orang itu adalah Jeon Jungkook.

Ia menyandarkan dada di balkon.

“Ba-bagaimana kau tahu aku disini?”

“Dari bawah, aku melihat nuna melamun sendirian disini. Aku juga melambaikan tangan, tapi nuna sama-sekali tak melihat ke arahku. Apa ada yang dipikirkan?”

“Ah begitu…” Yoonmi baru teringat kalau tadi Jungkook ikut latihan. “Sebenarnya tidak ada yang ku pikirkan, aku hanya menikmati udara segar disini”

“Benarkah? tapi ini sudah jam masuk pelajaran. Apa nuna sedang bolos?”

Yoonmi tertawa kecil mendengar pertanyaan Jungkook yang terkesan polos itu. Padahal dia sudah kelas 3 SMA, tapi tingkahnya seperti anak SMP. Memang sih dia setahun lebih muda darinya dan dua kali sudah masuk kelas percepatan karena terlampau cerdas.

“Jam di kelasku sedang kosong. Guru yang harusnya mengajar hari ini sedang ada pembinaan di luar kota”

“Hmm, kalau begitu pergi dari sini yuk! mau ku traktir?”

.

.

Anggota senior maupun junior team basket tengah bersandar sambil menyelonjorkan kaki mereka. Peluh membasahi dahi dengan nafas terengah-engah tanda latihan telah usai.

“Besok kita latihan lagi seperti sekarang. Aku sudah meminta surat dispen dari kepala sekolah” Namjoon mengakhiri kalimatnya dan diikuti dengan bubarnya yang lain.

“Jin mana?” Tanya Jimin yang sedang membenahi barang bawaannya.

“Katanya dia tadi ada urusan di kantor guru, mungkin sebentar lagi akan kembali” jawab Hoseok sekenanya sembari meneguk ganas air mineralnya.

“Ckckck, anak itu benar-benar murid yang diandalkan banyak guru” sahut Minhyun.

“Ah, padahal aku mau pulang sekarang. Bagaimana ini? tasnya masih ada padaku” protes Jimin akhirnya. “Oh ya Taehyung, kau bilang tadi mau menemui Shindong songsaengnim ‘kan? tolong sekalian berikan tas ini pada Jin ya!”

Dengan sekali sigap, Taehyung berhasil menangkap tas ransel yang di lemparkan Jimin padanya itu.

“Aku pulang dulu ya! sampai jumpa besok!” pamit Jimin ke semuanya.

“Dasar anak itu, kalau urusan pulang saja pasti terburu-buru” Sanggah Namjoon seraya menggelengkan kepala.

Sementara Taehyung tak menyahut dan menenteng tas Jin tanpa keberatan

.

.

Bel pulang sudah dibunyikan, maka siswa-siswi akan membaur untuk pulang ke rumah masing-masing. Diantaranya ada juga yang tak langsung pulang karena sedang ada jadwal ekstra kulikuler, dan tak sedikit pula beberapa siswa yang datang menemui guru untuk konsultasi mengenai pelajaran sekolah.

Kelas XI-A masih terisi beberapa murid tak terkecuali Naera. Sedikit-demi sedikit mereka meninggalkan ruangan itu dan menyisakan Naera seorang diri. Gadis itu tak kunjung beranjak karena ada sesuatu tengah mengganggu keadaannya.

Wajahnya pucat pasi dan perutnya nyeri luar biasa. Akhir-akhir ini siklus menstruasinya memang tak teratur. Sekalinya tamu bulanannya datang, perutnya terasa seperti dililit. Benar-benar sakit!

Perlahan ia mencoba bangkit. Menahan sakit sambil melangkah pelan-pelan. Namun saat di ambang pintu ia tak mampu menahannya lagi.

“Ayolah sedikit lagi”

.

.

Taehyung menelusupkan kedua tangannya kedalam saku celana. Langkah lebarnya menyusuri lantai koridor. Dua tas sekaligus si sampirkan pada bahu kanan dan kirinya. Beberapa siswi yang berpapasan dengannya hanya mampu tersenyum kecil. Taehyung memang tampan, jadi tak aneh kalau ia menjadi pusat perhatian para gadis-gadis itu sekalipun ia sedang melakukan kekonyolan. Ditambah lagi ia jadi tambah terkenal karena sering menghabiskan waktu bersama anggota klub basket sekaligus anggota Bangtan Boys. Kalau saja ia lebih sering menampilkan diri di luar kelas, bisa dijamin ia akan memiliki lebih banyak fans.

Kebetulan untuk menuju kantor guru, ia harus melewati ruang kelasnya sendiri. Ia sedikit ragu untuk melanjutkan langkah karena enggan berpapasan dengan Naera. Berhubung sudah setengah jalan dan malas memutar arah, ia pun memilih tak peduli. Lagipula gadis itu pasti sudah pulang, pikirnya.

Samar-samar terdengar rintihan dari dalam kelasnya. Berbekal penasaran, mau tak mau Taehyung mencoba menyelidiki. Benar saja, disana ia melihat seseorang sudah terkapar di lantai. Matanya seketika membelalak.

“Naera.. Naera.. sadarlah! kau kenapa?!” Taehyung panik setengah mati. Pikirannya telanjur memikirkan kemungkinan yang tidak-tidak. Dengan cekatan ia segera menggendong gadis itu—masih dengan dua tas di kedua bahunya— menuju ruang UKS.

Dalam pikirannya, ia ingin segera menyelamatkan gadis ini.

Di dunia ini, manusia kerap kali membohongi dirinya sendiri. Sekalipun ia bertingkah seolah tak peduli, nyatanya ia malah menunjukkan kepeduliannya itu dengan cara lain.

.

.

Taehyung memastikan Naera sudah berada di ranjang UKS itu. Tapi kekhawatiran dan kepanikannya kian membuncah karena dokter yang harusnya berjaga malah tak ada. Ia pun hendak beranjak untuk mencari dokter UKS itu, barangkali ia masih berada di area sekolah.

“Apa ada yang perlu kubantu?” Di luar dugaan, ternyata seorang dokter wanita tiba-tiba datang.

“Tadi dia pingsan”

Dokter itu memeriksa keadaan Naera yang tak tersadarkan diri. “Dari keadaannya, kurasa ini karena PMS”

“P M S?” eja Taehyung yang kurang paham.

“Untuk beberapa orang, terkadang saat mentruasi memang terasa menyakitkan. Ini biasanya disebabkan oleh makanan dan minuman yang di konsumsi atau bisa juga siklus menstruasinya yang tak teratur. Bagi yang belum terbiasa, rasanya memang sakit tak terhankan bahkan bisa pingsan.”

“Kau tak perlu khawatir. Tak lama lagi ia akan sadar” sambung dokter itu lagi dengan nada teduh dan berhasil melegakan Taehyung. “Apa, kau ini pacarnya?”

“Eh?”

“Tak perlu kaget begitu. Kau terlihat begitu khawatir”

Tanpa sadar Taehyung menggaruk kepalanya yang tak gatal. “Ten-tentu saja bukan…”

“Kalau begitu kau temannya? Kau ini masih muda tapi baik sekali ya. Anak remaja jaman sekarang biasanya jarang sekali yang sepertimu” puji dokter itu tulus.

Ia hanya mengangguk serta tersenyum menanggapinya. Kemudian ia teringat sesuatu. Tugas tambahan yang harus ia serahkan pada Shindong songsaemnim! Astaga, bagaimana ia bisa lupa?!

“Ah, iya.. aku harus segera pergi”

“Kemana? bukankah temanmu belum sadar?”

“Aku harus ke kantor guru sekarang. Tapi secepatnya aku akan kembali” Setelah membungkuk sopan, ia mengambil salah-satu tas yang sebelumnya diletakkan di atas laci lalu lari tergesa-gesa —takut kalau guru biologi itu sudah pulang ke rumahnya.

.

.

Naera menggeliat di ranjangnya. Perlahan-lahan ia membuka mata dan mencium aroma minyak kayu putih. Rasa sakit di perutnya juga sudah tak sesakit tadi.

“Wah, kau sudah sadar? apa perutmu masih sakit?”

Ia sedikit kaget begitu mendengar suara wanita mendekat ke arahnya.

“Kau siapa? Dimana ini?” tanyanya cukup panik seraya memperhatikan sekitar.

“Tadi kau pingsan. Syukurlah ada temanmu yang membawamu kemari. Dia benar-benar khawatir atas kondisimu”

“Temanku?”

“Astaga aku lupa tanya siapa namanya.” sesal dokter itu. Sejurus kemudian ia menunjuk tas ransel hitam yang tergeletak di atas laci, “Tapi kurasa dia adalah pemilik tas itu”

Narea menatap lamat tas itu. Tentu ia tahu siapa pemiliknya.

Jin Sunbae, gumamnya nyaris tanpa suara.

.

TBC

.

HAFTT akhirnya kelar Juga ya part 8 yang sempet bikin aku mampet di ide cerita ini haha ><

And then,

Maaf. Aku buatnya ga kaya yg ku janjiin kalo di part ini bakal sepanjang yang dikira Hiks. As always, panjang-pendek setiap chapternya gak menentu juga… so be carefull^^

Eumm, about previous…

Maaf banget kalau misalnya kalian kurang puas sama alur cerita ini…. mungkin barangkali ada yang nanya kenapa sih di setiap alur harus ada penjelasan disetiap tokohnya? terus kenapa sih sudut pandang Yoonmi juga mesti di paparin segala, dia kan cuma tokoh pendukung?

Nah itu dia! ff ‘The Part Of Sixth Sense’ ini emang sengaja ku buat untuk menunjukkan masing-masing karakter itu sendiri lebih dalam. Aku punya tujuan supaya readers gak memandang setiap karakternya cuma dari satu sisi aja.

Hehe, mungkin cara penyampaian melalui tulisanku ini memang tak seapik author kebanyakan. Tulisanku masih terbilang lemah dan terkesan bertele-tele…

But, I’ll do my best! Jadi readers jangan sungkan buat kasih aku kritik saran ya🙂 aku selalu belajar dari kalian. Makasih banget buat readers yang masih berkenan baca ff amberegul ini🙂

Okelah, sampai ketemu lagi di part 9! Annyeooongg!

About fanfictionside

just me

36 thoughts on “FF/ THE PART OF SIXTH SENSE/ BTS-bangtan/ pt. 8

  1. akhirnya yg ditunggu update jg….sbenernya jalan critanya udh bgus, malah bagus bgt thor, tp kyknya critanya kelamaan deh thor….hahahahaha (efek gk sabaran nih :-P) btw tetep dtunggu part selanjutnya thor…keep writing😀

  2. akhirnya apdet yeayy\^^/
    oh yaampun makin seruu lah kak ceritanyaaa
    ih kesel dah sumpahh padahal kan itu yang nolongin lu sitae nearaaa. argh-‘- *taera shipper😀

    iya kak aku setuju sama pendapat kaka yang harus dijabarin sudut pandang tiap castnya, soalnya kan jadi readers juga gak memandang sebelah mata(?) aja kayak tadi si yunmi tuh._. tadinya aku berpikir dia jahat banget loh’-‘ tapi karna kaka jabarin isi hatinya juga aku jadi merasa eumm rada kesian juga sih ㅇ.ㅇ

    panjang pendeknya tiap chap itu juga terserah kaka aja sih:) tapi aku request aja ngapdetnya jangan lama2 yaa hehe soalnya aku keseringan lupa sama chap sebelumnyaxD gimana kalo enggak di awal chap selanjutnya itu ada sedikit potongan ending chap sebelumnya aja, jadi kalo yang udah lupa langsung inget lagi😀 -itu sih saran aja hehe-

    oh iya aku mohon ‘TPOSS’ ini ditamatin ya kakk jeball;_; abisnya sayang kalo dicancel ceritanya seru banget sumpah.-.

    eh iya itu yang bagian masalah plesbek daehyun gimana ya’-‘? sekarang keknya lagi fokus maslah naera-tae-jin._.

    maap yak kebanyakan komen hehe =D
    okeyy ditunggu chap selanjutnya yaaa
    keep writing and fighting^^9

    • btw makasih ya udh mau nungguin ff ini ><

      hehehe iya, aku pgn aja kasih liat sisi lain dri setiap tokoh itu sendiri, dan syukurlah klo km setuju dengan itu🙂

      emmm buat k=next partnya sih lagi dlm proses nih hhehe karena aku baru aja selesei ujian praktek .. tp kuusahakan agar cepet kelar🙂

      ne chingu. aku pasti bakal tamatin ff ini bagaimanapun caranya /? hehehe
      daehyun bakal muncul kok di next chapter😀

      • oh iya, nanti aku bakal kasih potongan ending chapnya+ preview part sebelumnya di nextnya nanti:) btw makasih ya saranyaa😀

      • Eh tadi salah komen malah dipart 7 wkwk, yaudah aku komen lagi aja disini 😁😁
        YAAMPUN AUTHORRR SonDaenaPark97 dirimu kapan kambekk uuuuh AKU UDAH LUMUTAN NUNGGUIN INI GA APDET APDET 😭😭
        kalo masih belum rampung yaa aku doain semoga cepet rampung😄 dan kalo emang lagi sibuk direallife nyaa yaaa SEMANGAT aja, tp jan sampe melupakan ff ini yaaaaaa plis plis plis🙏🙏 aku sangat menunggu ff muuu😉

        Keep writing and fighting^^9

      • Eh tadi salah komen malah dipart 7 wkwk, yaudah aku komen lagi aja disini 😁😁
        YAAMPUN AUTHORRR SonDaenaPark97 dirimu kapan kambekk uuuuhh AKU UDAH LUMUTAN NUNGGUIN INI GA APDET APDET 😭😭
        kalo masih belum rampung yaa aku doain semoga cepet rampung😄 dan kalo emang lagi sibuk direallife nyaa yaaa SEMANGAT aja, tp jan sampe melupakan ff ini yaaaaaa plis plis plis🙏🙏 aku sangat menunggu ff muuu😉

        Keep writing and fighting^^9

  3. daebak., makin seru.,.
    sempat merinding disaat taehyung brtanya sma kakek itu,perihal sixth sence n naera
    akhirnya yonmi sadar jg,,
    taehyung cpt k UKS naera udh siuman tuh..
    jgn smpe dia ngira jin penyelamatnya..
    keren deh pokoknya. . next keep writing

  4. Gpp thor, qw mlh seneng smua tokoh dtonjolin karakter’y . Smkin seru az nih crita’y🙂 . Next jgn tlalu lma post’y y, dtunngu part slnjut’y🙂

  5. Okeee sepertinya Naera salah paham :”” waah!!! Tambah seru yah thorr😄 moment naera ama taehyung-nya ditambah lagi dongg hahaha😄 nextnya ditunggu yah thor…FIGHTINGG!!!🙂

  6. Sumpah ni ff kereeeennnn..
    Panjang binggo aku sampe baca nya 3x banyak iklan nya alias banyak yg ganggu..
    Itu ending nya kesel banget kenpa harus tas nya c jin sc..arrggtthhh padahal kan tae yg nyelametinnn..
    Next part d tunggu banget

  7. gwenchana thor, justru bgs ada penjelasan detailnya jd readers ngerti..🙂
    daebak nih, jd smkn ngerti jlnnya.. kasian tae ya, c naera nyangka itu jin, gmn klu tae sampe taw ya, makin sakit dah hatinya…😦
    next chap assaaap ya thor..🙂🙂

  8. bukan komentator yang baik.
    hanya bisa meminta untuk segera melanjutkan.
    .-.
    jangan lama2 yah thor lanjutinnya😀

  9. eh eh *ngerusuh* gue mwu tau kalo part 9 nya udah di post belom siih plis thor bales komen-nan gue… udah gk sabar nih ??

    thor punya fb gk ?? kalo punya boleh tau gk namanya? *niorangSKSD* maapin aku ya thor. * manyunbarengkookie* yaudah aku harap authornya ff ini nge bales komen nan gaje dari gue ini Amin *sujudbarengV*

  10. Semalem aku baru baca ff ini dr part pertama smpe 8. Cerita nya kerennnn. Suka deh, emg sih rada bertele2 dan ada beberapa kata yg kurang pas, tp baguss bgt, tp knapa part 9 nya kgak muncul2 sih? lanjutin dongg thorrr, gasabar nih hehe

  11. Omaygadd, gilaa ka rame bngt ceritanyaaa, maaf baru komen do chp ini hehee✌, btw thor tbcnya jgn lama bngt yaa☺☺, tapi aku setia menunggu thorr, fighting!!😆😆

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s