FF oneshot/ I’M BACK, CHAGI!/ BTS-BANGTAN


Iam Back, Chagi! Poster

Waiting For Snowfall. 24 December.

Title                 : Iam Back, Chagi!

Scriptwriter     : PYoonR (PYR_Yunda)

Main Cast        : Jung Eunsoo (OC), Kim Seokjin (BTS), Park Jimin (BTS)

Support Cast   : Choi SeoHee (OC), Jung Ahjumma, Park Ahjumma.

Genre              : School Life, Romance, Little Bite Horror

Duration          : Oneshoot

Rating             : PG 15+

Notes               :

Annyeong^^ Gue kembali dengan FF bergenre Horror gue yang kedua. Tapi gak tau deh ini bisa disebuh Horror, soalnya ini lebih banyak drama dan romancenya. Bacanya harus teliti nih, banyak flashback dimana-mana. FF ini udah gue post difacebook pribadi gue https://www.facebook.com/ayundaputri99

Semoga suka yaa dan Happy Reading…

“ Aku kembali, Oppa. Untuk menunggu semua ini. Tepat tanggal 24 Desember. Bukankah kau menungguku, Oppa?”

Senin, 17 Desember 2012

“ Oppa, besok sudah musim dingin. Aku ingin menghabiskan waktu bersamamu.” Kata seorang yeoja berparas imut itu bergandeng manja dengan namjachingu-nya.

“ Kuharap, aku tidak sibuk dengan tugas disekolahku ya chagi. Doakan aku tidak sibuk ne.” Kata namjachingu-nya yang mengecup manis kening yeojachingu-nya itu.

“ Oh iya oppa, tanggal 24 Desember aku harus pergi ke Tokyo untuk mengunjungi nenekku. Kau harus datang dipertemuan terakhir kita ya. Aku mohon.”

“ Aku janji, aku akan menemuimu. Aku juga akan menunggumu sampai kembali dari Tokyo. Jangan nakal ya disana.”

“ Aku tidak akan pernah nakal selain denganmu oppa. Percayakan saja padaku.”

“ Jangan berbicara seperti itu. Aku jadi ingin menerkammu saat ini.”

“ Terkam saja kalau bisa.” Yeoja itu berlari kaarah kamar apartemennya. Hanya suara tawa dan desahan yang menggema diapartemen yeoja itu.

Rabu, 17 Desember 2013

“ Yak… Park Jimin, kembalikan tas-ku.” Teriakan yeoja dan kegaduhan yang kedua remaja menggema di sepanjang koridor sekolah. Hari masih pagi, tapi keduanya tidak memperdulikan apa yang terjadi. Setiap murid hanya berdecak kesal, karna memang setiap harinya mereka seperti itu.

“ Kau harus mengambilnya Jung Eunsoo.” Kata namja yang bernama Park Jimin itu. Ia terus berlari ke lapangan di belakang sekolah, tepatnya lapangan basket.

“ Jimin-ah, aku capek.” Yeoja itu jatuh terduduk menandakan ia sangat kelelahan. Namja yang tadi berlari berhenti sejenak dan menghampiri yeoja yang jatuh terduduk itu. Jung Eunsoo, nama yeoja itu.

“ Kau kenapa? Lelah? Tidak biasanya kau lelah seperti ini.” Kata Jimin menghampirinya. Memberikan tas-nya kemudian membangunkan yeoja berparas cantik.

“ Pabo. Kau tidak menyadarinya? Hampir setiap hari kau melakukan ini terhadapku.” Kata Eunsoo kesal.

“ Hehe, mianhae Sachon.” Kata Jimin sambil menelus kepala Eunsoo. Seluruh warga sekolah memang mengetahui bahwa Jimin dan Eunsoo adalah saudara sepupu. Tapi disekolah, mereka tidak pernah bertindak layaknya sepupu.

“ Kajja kita kekelas.” Kata Jimin yang langsung menarik tangan Eunsoo. Eunsoo dengan malas meladeni ajakan Jimin. Entah dari mana datangnya, bola basket menggelinding dan mengenai kaki Eunsoo. Spontan Eunsoo menghentikan langkahnya dan membuat Jimin juga menghentikan langkahnya.

“ Wae? Kenapa berhenti?” Kata Jimin bingung. Eunsoo melepaskan genggaman tangannya dan mengambil bola basket yang berada dikakinya.

“ Bisakah kau kembalikan bola itu padaku?” Eunsoo dan Jimin langsung menengok kedepannya. Seorang namja dengan wajah yang sangat datar menatap mata Eunsoo.

“ Ini punyamu?” Kata Eunsoo gugup dan tetap menatap kedua mata namja yang berada 3 meter didepannya. Namja itu menatap mata Eunsoo. Mereka berdua terus bertatapan. Jimin yang melihat kejadian itu malah mengulum senyumnya.

“ Ekhmmm….” Eunsoo dan namja yang didepannya itu langsung menoleh kearah Jimin yang berada disamping Eunsoo.

“ Aku tidak akan meminta bola itu jika itu bukan punyaku.” Namja itu dengan datar menjawab pertanyaan Eunsoo sebelumnya.

“ Judes sekali namja ini. Cih.” Batin Eunsoo. “ Ah, mian.” Eunsoo langsung melempar bola basket itu ke namja yang berada didepannya.

“ Gomawo. Senang bertemu denganmu, Jung… Eunsoo…” Namja itu segera berlari meninggalkan Eunsoo yang terus mematung memperhatikannya.

“ Eunsoo-ah, kajja kita kekelas.” Jimin langsung menarik tangan Eunsoo yang terus mematung.

Selama perjalanan menuju kelas, Eunsoo terus memikirkan namja tampan yang tadi ada didepannya.

“ Tampan sekali dia.”

“ Siapa yang tampan?” Untung saja Eunsoo tidak berteriak. Jimin mengaggetkannya.

“ Apa? Memang aku membicarakan apa?”

“ Kau memikirkan namja yang tadi kan? Janganlah bohong.” Eunsoo merdecak kesal. Ia terlalu keras mengatakannya tadi.

“ Jangan dekati namja itu. Dia tidak menyukai yeoja. Dia itu gay.” Spontan Eunsoo langsung kaget dan menatap aneh kearah Jimin.

“ Soal Gay, aku hanya bercanda. Nama dia Seokjin, Kim Seokjin. Dia anak kelas 12C. Dia terkenal sangat pendiam dan dia hanya menghabiskan waktunya dengan bermain basket, bermain gitar, dan memotret berbagai macam objek dengan kameranya. ”

“ 12C? Aku tidak pernah melihat saat aku kesana. Apa dia anak baru?”

“ Tidak. Dia masuk sekolah bersama dengan kita. Dia itu memang anaknya pendiam dan saat istirahat dia akan pergi kelapangan basket belakang sekolah yang terkenal sangat sepi dan kotor. Tapi dia rela meminta untuk membersihkan lapangan itu sendirian.” Jelas Jimin panjang lebar.

“ Oh begitu. Dan apa maksudmu dia tidak menyukai yeoja?”

“ Dia menolak cinta semua yeoja. Disekolah ini hampir semua sih. Mungkin hanya kau yang belum untuk menyatakan cinta kepadanya. Dia seperti tidak memikirkan tentang yeoja. Dia hanya memikirkan belajar, basket, dan musik. Dia juara pertama dikelasnya.”

“ Waw. Aku belum tertarik kepadanya.”

“ Belum tertarik? Kau mengatakan kalau dia itu tampan.”

“ Dia memang tampan.”

“ Kau tau, aku sepupumu. Seharusnya gelar tampan yang kau sebut itu untukku.”

“ Yaa, pede sekali kau ini.”

Bel tanda masuk berbunyi. Murid Seoul International High School bergegas untuk memasuki kelasnya masing-masing.

Selasa, 18 Desember 2012

Seorang yeoja terus menelfon namjachingunya. Musim dingin sudah tiba. Sekolah juga sudah diliburkan. Tapi, namja itu beralasan masih mengerjakan pekerjaan tugas sekolah.

“ Aku bosan disini. Apakah aku boleh mengunjungi rumahnya?” Yeoja itu terus menelfon namjachingu-nya. Entah beberapa kali ia harus menelfon namjachingu-ya. Selalu saja sibuk.

‘ Yeobseyo?’

“ Oppa, aku…”

‘ Sudahku bilang bukan, aku sedang sibuk sekarang ini. Tugas sekolahku sedang sangat banyak. Apakah kau tidak bisa mengerti, Choi SeoHee? Kau tidak mengerti aku.’

“ Oppa, aku hanya…”

“ Oppa yeobseo….” Hanya suara isakan tangis yang terdengar dari yeoja itu.

“ Oppa, mianhae. Aku salah.” Yeoja itu terus mengumpat dan menyesal telah menelfon berkali-kali dan mengganggu aktifitas namjachingu-nya itu.

Rabu, 18 Desember 2013

Hari ini adalah hari terakhir sekolah. Besok adalah awal musim dingin tahun 2013. Tapi sudah kewajiban pelajar untuk mendapatkan banyak tugas.

“ Jimin-ah, kau mau kemana?” Kata Eunsoo di pojok kelas.

“ Kekantin. Sudah waktunya istirahat.”

“ Bisakah kau temani aku makan bekal? Aku malu untuk memakannya sendiri.” Jimin terdiam, dan dia tidak berhasil menahan tawanya yang ditunjukkan kepada Eunsoo.

“ Apa yang kau tertawakan?” Kata eunsoo sambil memukul keras kepala Jimin dengan buku.

“ Ahh appo… Kau membawa bekal? Haha. Rajin sekali eomma-mu membuatkan makanan.”

“ Yak…” Satu jitakan mendarat dikepala Sepupu laki-lakinya itu. “ Bukannya kau juga dibuatkan? Tandanya eomma sayang pada kita. Cih sepupu menyebalkan.”

“ Aku tidak membawanya. Kau juga menyebalkan Nuna.” Kata Jimin lagi. Eunsoo berhasil membulatkan matanya. Tatapan aneh para murid yang masih ada dikelas, hanya karena Jimin memanggil Eunsoo dengan sebutan Nuna.

“ Jangan panggil aku Nuna disekolah. Namja pabo.” Satu jitakan kembali mendarat di kepala Jimin.

“ Yak… Eunsoo-ah. Aku tidak sengaja memanggilmu dengan sebutan itu.” Kata Jimin yang sedari tadi mengelus kepalanya karena sakit mendapat jitakan dari Eunsoo. Eunsoo hanya mengehela nafas.

“ Jimin-ah, ayo kita kekantin.” Ajakkan Taehyung, teman sebangkunya Jimin menyadarkan namja yang berada didepan Eunsoo.

“ Ne, tunggu aku. Makan sendiri bekalmu, Eunsoo-ah.” Jimin berlalu dari kelas dan pergi kekantin bersama teman-temannya.

“ Sepupu tak berguna.” Gumam Eunsoo. Eunsoo terus memandangi bekalnya diatas meja. Dia ingin memakannya, tapi malu karna hanya ia yang membawa bekal dikelas.

“ Aku akan ke halaman belakang.” Eunsoo langsung membawa tas bekalnya dan pergi keluar kelas. Eunsoo melihat Jimin dan Taehyung yang sedang berbincang dengan yeoja dari kelas sebelah. Jimin memang terkenal playboy disekolah.

EUNSOO ‘POV

Aku terus melihat kearah Jimin sampai mataku memandang yeoja didepan kelas 12C. Aku hanya memandangin yeoja itu. Dia memandang kebawah, memakai jaket biru dan celana jeans, rambutnya berantakan dan banyak luka disekujur tubuhnya, ia juga tidak memakai alas kaki. Lusuh sekali yeoja itu. Dia tepat dibelakang Jimin dan Taehyung.

“ Jim…” Yeoja itu langsung memandang kearahku. Wajahnya sangat hancur. Kepalanya seperti retak, mulutnya robek sampai telinga, dan dimata kanannya terdapat ranting yang menancap tepat dibola mata yeoja itu.

“ Mwo?………..” Tangan kekar membalikkan tubuhku kearah lain dan menutup mataku.

“ Kau mau memakan bekalmu? Sebaiknya ikut aku. Aku melihat apa yang kau lihat.”

AUTHOR ‘POV

Eunsoo memakan bekalnya dengan sangat lahap. Dia sangat lapar, tetapi sebenarnya rasa lapar itu sangat mengalahkan rasa takutnya melihat yeoja yang tidak ia ketahui siapa itu. Namja disampingnya hanya melihat yeoja itu makan, dan kemudian ia ikut memakan bekalnya juga.

“ Kenapa kau bisa melihatnya?” Kata Eunsoo setelah makan dan membereskan tempatnya. Namja disampingnya terus mengunyah makanan yang ada dimulutnya sampai selesai.

“ Aku tidak tau. Dan kenapa kau juga melihatnya?” Kata namja itu sambil memasukkan makanannya lagi kedalam mulutnya.

“ Aku juga tidak tau. Aku langsung melihatnya berdiri dibelakang Jimin dan Taehyung. Ia tepat berada didepan kelasmu.”

“ Dia menyeramkan.” Aku menatapnya sejenak. Seokjin, dia memang sangat tampan jika dilihat dari dekat.

“ Ya… Jangan melihatku seperti itu.”

“ Aku hanya heran. Apakah hanya aku disekolah ini yang baru mengenalmu? Aku tidak pernah melihatmu sebelumnya.”

“ Kau terlalu sibuk dengan aktifitasmu mengejar Jimin setiap pagi.” Wajah Eunsoo langsung merah padam. Ia bahkan tau Eunsoo, sedangkan yeoja itu tidak mengetahui Seokjin sebelumnya.

“ Liburan musim dingin, kau ada acara?” Seokjin berbicara tapi tidak menatap Eunsoo. Eunsoo hanya terdiam.

“ Eunsoo-ah…”

“ Ne? Aku tidak mempunyai acara. Aku hanya dirumah atau menjaga Jimin.” Kepala Eunsoo langsung tertunduk. Wajahnya kembali panas, ia sangat sudah menduga bahwa wajahnya kembali merah. Eunsoo menggaruk tengkuknya dan langsung menatap kedepan. Pemandangan yang ia lihat sangatlah menyeramkan. Yeoja yang ia lihat di belakang Jimin dan Taehyung berada didepannya. Dia berdiri dikoridor, menatap Eunsoo sendu.

“ Apa kau mau menemaniku selama musim dingin?” Seokjin menggaruk tengkuknya. Malu, Seokjin sangat malu. Seokjin menyadari bahwa tangan Eunsoo meremas ujung blazer milik Seokjin. Seokjin melihat Eunsoo menatap lurus ketakutan.

“ Eunsoo? Kau…”

“ Kita pergi dari sini.” Seokjin langsung membereskan tempat makannya asal kedalam tas kecilnya.

“ Kajja.” Tangan kekar Seokjin menarik tangan Eunsoo pergi dari lapangan belakang sekolah. Eunsoo berkeringat dan dia juga sangat ketakutan.

“ Eunsoo-ah? Gwenchana? Sudah tidak ada.” Seokjin sudah membawanya ke depan kelasnya.

“ Yeoja itu… Siapa dia?” Eunsoo masih terus bergetar dan tidak mempercayai keberadaan yeoja menyeramkan itu. Eunsoo dangat ketakutan. Seokjin diam.

“ Yak! Kau apakan dia?” Jimin datang dan mendorong Seokjin. Tangan Seokjin masih terus menggenggam tangan Eunsoo. Jimin melihat itu dan tidak berbicara apa-apa lagi.

“ Aku tidak apa-apa. Aku hanya ketakutan tadi. Seokjin sedang menenangkanku. Minta maaflah.” Eunsoo berbicara lembut dengan Jimin. Hening yang dirasakan dikoridor, semua murid juga melihat. Bukan karna Eunsoo dengan Seokjin, tapi suara tenang yang berbicara dengan Jimin.

“ YAK! Jangan bisanya hanya menonton Pabo!” Teriakan Eunsoo sukses membuat murid yang dari tadi melihat langsung masuk kedalam kelas.

“ Kau masuklah kekelas. Aku tidak apa-apa.” Kata Eunsoo sambil melpaskan tangannya dari genggaman Seokjin.

“ Jjinja? Jika ada apa-apa, langsung hubungi aku.” Dengan jawaban datar, Seokjin langsung masuk kedalam kelas.

“ Nuna, apa yang kau lakukan dengannya?” Bisik Jimin dengan nada yang sangat tidak suka.

“ Dia baik.” Eunsoo langsung masuk kedalam kelas dan meninggalkan Jimin yang masih diam mendengar jawaban singkat sepupunya itu.

Minggu, 23 Desember 2012

            Salju turun dimalamnya kota Seoul. Musim salju sudah tiba. Semua orang sangat senang, tapi tidak dengan yeoja yang duduk disofa apartemennya

“ Aku merindukanmu Oppa.” Sudah seminggu ini, namja chingu yeoja itu tidak memberi kabar sama sekali, nomor ponselnya juga tidak pernah aktif. Padahal, besok ia harus pergi ke Tokyo. Ia mau satu hari ini bersama namjachingunya.

“ Oppa, kau kemana? Aku merindukanmu.” Tangisan menggema diseluruh ruangan apartemen dikota Seoul. Dia terus menangis, menangisi namjachingunya yang entah ada dimana. Suara telfon berbunyi. Terpampang nama ‘Eomma’ dilayar ponsel.

‘ Yeobseyo? Choi SeoHee? Sudah membereskan barang-barangmu? Besok Appa akan menjemputnya. Dari Busan, dia akan langsung menjemputmu.’

“ Sudah Eomma. Aku sudah menyiapkannya.”

‘ Yasudah. Apa kau sudah mengabarinya-nya? Apa dia akan datang ke bandara besok?’

“ Molla, eomma. Dia masih sibuk dengan tugas sekolahnya. Aku akan tidur. Sampai bertemu di Tokyo, Eomma.”

‘ Ne… Jalja Seohee-ya’

Telfon kemudian ditutup. Tangis yeoja itu kembali terdengar. Dia sangat merindukkan namjachingunya. Nomornya masih saja tidak aktif. Dia bangkit dan membereskan barang bawaannya untuk besok. Ternyata dia berbohong kepada eomma-nya.

Senin, 23 Desember 2013

“ Eonni…”

“ Nuguya? Dimana kau?”

“ Eonni… Tolong”

“ Nuguya? Jangan membuatku takut. Kau siapa?”

“ Dia jahat Eonni, dia jahat. Aku akan membawanya.”

“ Kau dimana?! Siapa kau?! Jebal…”

Eonni… Eonni…”

“ Nuna… Nuna…”

“ Kyaaaaaaa………..” Kamarnya gelap dan namja disampingnya membangunkannya tadi.

“ Kau kenapa? Mimpi buruk?”

“ Jimin-ah, aku takut.” Eunsoo memeluk Jimin sangat erat. Jimin saat kebingungan dengan tingkah nuna-nya akhir-akhir ini.

“ Gwenchana. Aku disini. Tidurlah lagi.” Jam masih menunjukkan pukul 2 Pagi. Eunsoo mencoba untuk tidur lagi dan Jimin keluar dari kamarnya.

“ Siapa yeoja itu?” Gumam Eunsoo dalam hati. Ponsel Eunsoo kemudian bergetar. Ada telfon.

“ Yeobseyo…”

‘…’

“ Aku segera kesana.”

Eunsoo berjalan sendiri dipagi yang masih sangat buta. Tapi udara segar yang sangat menyejukkan enggan mengurungkan niatnya menemui orang yang menelfonnya tadi.

“ Seokjin-ah.” Yang ditemui Eunsoo adalah namja. Kim Seokjin. Seokjin hanya melambaikan tangannya menyambut Eunsoo datang.

“ Ada apa menyuruhku kemari?”

“ Aku merasakan bahwa kau mimpi buruk. Lagi.” Eunsoo menatap Seokjin tidak percaya. Bagaimana dia mengetahuinya?

“ Aku bermimpi kau bertemu dengan yeoja menyeramkan selama hampir seminggu ini. Aku takut, kau bermimpi tentang itu.”

“ Seokjin-ah. Aku bermimpi tentangnya lagi. Dan kali ini dia minta tolong.” Seokjin langsung menatap mata Eunsoo dengan seksama. Tapi rasa takut keduanya hilang sampai butiran Kristal berjatuhan. Ya, salju turun hari ini.

“ Yeobseyo? Nuna? Kau dimana hah? Kenapa kau meninggalkan rumah?”

‘ Aku sedang bersama temanku diluar. Nanti pagi aku pulang. Tenang saja.’

“ Yak. Nuna… Siapa… Yeobseyo? Nuna? Ahh, Sepupu menyebalkan.”

Jimin menyadari bahwa Nuna-nya, lebih tepatnya Kakak sepupunya tidak ada dirumah, semenjak mantelnya hilang dan pintu kamar Eunsoo terbuka, dan pintu rumah bagian depan tidak tertutup rapat. Jimin yang tadinya memasak kimchi untuk dirinya, langsung panik. Tapi ia juga tidak mau membangunkan Eomma dan Appa-nya Eunsoo dirumah. Dia langsung mendudukkan dirinya didepan TV untuk menonton siaran sepakbola kesukaannya. Jimin sedang berada dirumah Eunsoo, ia ditinggal orangtuanya keluar negeri untuk dinas.

“ Siapa lawan siapa kali ini?” Jimin masih terus menyesap kimchi buatannya. Sampai ada yang membuka pintu depan.

“ Nuna? Kau kah itu?” Jimin masih tetap menyantap kimchi-nya dan menonton bola. Tidak ada jawaban.

“ Nuna?” Kali ini dia menoleh kearah pintu. Tidak ada siapa-siapa. Jimin tidak memperdulikannya. Dia tetap memakan kimchi-nya dan menonton bola. Lampu padam.

“ Ahh jjinja? Dengan keadaan seperti ini masih saja lampu padam.” Jimin terus mengumpat. Terpaksa Jimin menyalakan ponselnya untuk penerangan dan mencari lilin. Ia mendengar pintu depan dibuka dan hentakkan kaki menuju lantai atas. Jimin menengok dan langsung pergi keruang keluarga. Jimin melihat yeoja menggunakan jaket berwarna biru masuk kekamar Eunsoo.

“ Nuna? Kau bilang akan pulang pagi nanti?” Jimin mendengar keheningan saat itu juga. Lampu kembali menyala.

“ Sudah 1-0? Aku tidak melihat golnya.” Jimin masih terus mengomel.

“ Jimin-ah, tidurlah. Masih pagi kau tau.” Teriakan dari kamar Eomma-nya Eunsoo. Beliau sangat terganggu dengan suara diluar.

“ Mianhae ahjumma.” Jimin langsung mematikan tv. Dia pergi kedapur untuk mencuci piring dan panci yang ia gunakan untuk memasak kimchi tadi.

“ Park Jimin…”

“ Ne, ahjumma?” Tidak ada jawaban.

“ Ahjumma?” Jimin mematikan keran air dan menuju keruang tamu.

“ Sebaiknya aku tidur.” Jimin langsung berlari menuju lantai dan pergi tidur. Dikamar, Jimin hanya memejamkan matanya. Ia sangat ketakutan sekarang ini.

“ Apa aku kekamar Nuna saja ya?” Jimin melangkahkan kakinya menuju kamar Eunsoo dengan penerangan dari cahaya ponselnya.

“ Nuna?” Tidak ada jawaban.

“ Apa nuna sudah tidur? Nuna…” Jimin terus memanggil Eunsoo dari luar kamar. Pintu terbuka sendiri.

“ Tau gitu, Aku sudah membukanya sejak tadi. Nuna, aku tidur denganmu ya.” Jimin memasuki kamar Eunsoo dengan hati-hati. Kasurnya sangat rapih, Eunsoo tidak ada dikamar.

“ Nuna…” Getaran ponselnya mengagetkannya. Terpampang nama ‘Eunsoo Nuna’ dilayarnya.

“ Dia mau mengajak bercanda rupanya.” Jimin hanya tersenyum.

“ Yeobseo, nuna?”

‘ Jimin-ah, tadi aku lupa menutup pintu kamarku saat pergi. Bisakah kau tutup? Aku takut ada banyak nyamuk yang masuk ke kamarku nantinya. Jebal.’

“ Mwo? Kau dimana? Apa maksudmu menutup pintu?” Jimin bergetar didepan kasur Eunsoo.

‘ Aku ada dirumah temanku. Tadikan sudah aku bilang. Aku akan pulang pagi nanti. Cepat tutup pintu kamarku.’

“ Nuna… Nuna…” Eunsoo memutuskan telfonnya dengan Jimin. Jimin masih diam dan memikirkan kejadian yang dialami tadi.

“ Berarti yang masuk kamar tadi bukan…” Sebuah tangan bertengger diatas pundaknya. Jimin sudah berkeringat sekarang.

“ Aku kembali oppa. Kau menungguku bukan?”

“ Nu… nugu… ya…” Jimin sudah sangat bergetar. Dengan perlahan ia membalikkan badannya.

“ Yeojachingu-mu. Choi SeoHee.”

Senin, 24 Desember 2012

“ Yeobseo. Seohee?”

‘ Oppa… Aku merindukkanmu. Bisakah kau datang kebandara sekarang? Aku ingin melihatmu yang terakhir kalinya.’

“ Aku tidak bisa kesana. Aku sedang berlibur kepulau Jeju bersama keluargaku. Nomorku tidak aktif, karna disini tidak ada sinyal. Kau baik-baik ya disana. Kita harus melihat salju bersama tahun depan. Aku menunggumu. Cepatlah kembali.”

‘ Ah ne gwenchana. Salam untuk keluargamu ya oppa. Aku akan merindukan kalian. Salam juga untuk Eunsoo eonni. Aku sangat merindukkannya.Oke, aku janji.’

“ Ne, akan kusampaikan padanya. Aku mencintaimu Choi Seohee.”

‘ Aku juga mencintaimu Park Jimin oppa.’

“ Sudah selesai menelfonnya?”

“ Sudah chagi.”

“ Liburan bersama keluarga ya? Bilang saja padanya bahwa kau berlibur denganku.” Namja itu hanya tersenyum mendengar yeoja yang sedang memeluknya itu.

“ Yaa, Lee Soyeon. Aku berbicara seperti itu agar dia cepat pergi. Sudahku bilang padamu bahwa hanya kau yang aku cintai. Kita hanya memeran drama saja, kau ingat?”

“ Ne ne. Sampai kapan kita bermain drama seperti ini?”

“ Sampai dia tidak ada didunia ini, chagi.”

“ Seohee-ya? Kau sudah siap?”

“ Ne, aku sudah siap appa. Ayo kita berangkat.” Seohee sangat merasa terpaksa meninggalkan Seoul karena Jimin. Ia sangat tidak ingin meninggalkan namjachingu yang sangat ia cintai.

“ Aku akan kembali, Oppa. Aku terlah berjanji padamu. Aku tidak mau kau menungguku.”

Pesawat menuju sudah lepas landas dari Bandara Incheon, Seoul. Seohee masih terus memikirkan Jimin. Sampai ia tidak mendengarkan intruksi dari pramugari tentang Pelampung Darurat yang ada dibawah kursinya. Ia terus mendengarkan kata hatinya untuk kembali ke Seoul menemui Jimin dan terus memegang jaket berwarna biru kesukaannya yang diberikan oleh Jimin. Ia tertidur. Bermimpi tentang kenangannya bersama Jimin. Berjalan-jalan dan melakukan hal apapun dengan namjachingu-nya setelah menjalani hubungan kurang lebih 3 tahun yang lalu.

“ Seohee? Bangun. Pesawat akan jatuh.” Seohee masih setengah sadar untuk menangkap perkataan Appa-nya.

“ Pesawat akan jatuh Seohee. Cepat pakai pelampungnya.”

“ Pelampung apa? Dimana pelampungnya?” Belum sempat Appa-nya Seohee menjawab, ekor pesawat sudah meledak. Pesawat terbelah menjadi dua. Seohee jatuh dan ia belum sempat memakai pelampung darurat-nya.

“ SeoHee!!”

“ Jimin oppa. Mianhae. ” Seohee terjatuh dihutan Aokigahara, Jepang. Badannya terbentur batang pohon. Karena ia terus berteriak, mulutnya terkena batang sampai membuat mulutnya robek hingga telinga. Matanya tertancap ranting pohon dan terjatuh di sebuah hutan. Sampai sekarang mayatnya belum juga ditemukan.

Selasa, 24 Desember 2013

“ Aku benar-benar melihatmu masuk kamar, Nuna.” Jimin baru saja sadar setelah pingsan selama 1 hari.

“ Jangan bercanda Jimin-ah. Aku baru pulang pukul 8 pagi kemarin. Dan aku langsung melihatmu pingsan dengan tangan tergores banyak luka seperti ini.” Kata Eunsoo sambil memarahi Jimin.

“ Aku melihat kau berjaket biru.” Jimin bersikeras dengan perkataannya.

“ Mwo? Aku memakai mantel. Mantelmu warna coklat kulit kan?” Jimin terdiam. Ia yakin, yang ia lihat saat itu ada Eunsoo yang memakai jaket berwarna biru. Itu warna kesukaan Eunsoo.

“ Choi Seohee… Dia kembali nuna.” Eunsoo langsung menatap Jimin aneh. Dia sudah meninggal tahun lalu karna kecelakaan pesawat saat perjalanannya ke Tokyo.

“ Jimin-ah…”

“ Dia kembali Nuna. Aku takut.” Jimin langsung menangis, Eunsoo tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Ia hanya memandang Jimin iba. Pintu kamar Jimin terbuka, Seokjin memasuki kamar Jimin dengan membawa nampan yang berisikan makanan.

“ Kau sudah sadar. Aku membawakan makanan untukmu.” Seokjin langsung meletakkan nampan itu dimeja belajar Jimin.

“ Seokjin? Sedang apa kau disini?” Jimin kaget saat melihat Seokjin berada dirumah Eunsoo.

“ Aku menyuruhnya datang. Ia akan membantuku untuk menjagamu selama Orangtuaku tidak ada dirumah. Eomma-mu akan pulang besok.” Kata Eunsoo menatap Jimin datar.

“ Gomawo, Seokjin-ah.” Kata Jimin yang masih mengeluarkan airmata.

“ Ne, gwenchana.” Jimin ingin kekamar mandi karna ia sangat ingin buang air kecil. Tapi seorang yeoja menyeramkan berdiri didepan pintu kamar mandi. Menatap sendu kearah Jimin.

“ Pergi!” Teriakan Jimin langsung mengagetkan Eunsoo dan Seokjin yang hendak ingin keluar dari kamarnya.

“ Oppa…”

“ Andwae! Pergi!”

“ Jimin-ah… Kau kenapa? Jimin…” Kata Eunsoo panik.

“ Andwae! Pergi dari sini. Kau menyeramkan. Pergi!”

“ Bukankah kau menungguku? Aku kembali, oppa.”

“ Jimin-ah… Ini aku, Eunsoo. Kau kenapa hah?” Eunsoo masih terus menyadarkan Jimin yang sedang ketakutan menatap pintu kamar mandi.

“ Seokjin, bantu aku.” Seokjin terlihat aneh menatap pintu kamar mandi. Eunsoo makin panik saat Jimin berlari kearan luar kamarnya. Eunsoo dan Seokjin mencoba berlari mengikut Jimin berlari kearah luar. Jimin terus berlari sehingga ia tidak mengetahui jika ada Truk dijalan.

“PARK JIMIN…………….”

“ Cepat kembali ahjumma. Jimin tertabrak truk dan ia koma sekarang ini.”

Eunsoo masih menangis perihal Jimin yang tertabrak truk dan kakinya harus diamputasi karna hancur terlindas. Jimin koma sekarang ini. Seokjin hanya merangkul dan terus menenangkan Eunsoo.

“ Tidurlah. Aku akan menjaganya selagi kau tidur.” Seokjin kembali merangkul pundak Eunsoo dan mengelus kepalanya. Eunsoo hanya terdiam menatap mata Seokjin kemudian ia menyenderkan kepalanya dipundak namja itu. Tidak lama kemudian, Eunsoo tertidur. Seokjin juga agak mengantuk dan ia juga ikut tidur bersama Eunsoo.

“ Eunsoo? Kau kah itu?” Seokjin berjalan dihutan yang sangat ia tidak ketahui dimana itu. Sudah malam hari, ia melihat Eunsoo berjalan kedalam hutan yang menyeramkan itu, dan Seokjin terus mengikutinya.

“ Seokjin? Kau kah itu?” Eunsoo berjalan didekat sungai dan melihat Seokjin menyebrangi sungai. Eunsoo mengikutinya menyebrangi sungai itu dan berjalan terus kedalam hutan.

Keadaan hutan sangat mencekam. Hanya ditemani sinar rembulan menerangi tiap jalan dihutan. Tak ada binatang buas sampai saat ini. Hanya ada keheningan yang menyelimuti hutan menyeramkan itu.

“ Jung Eunsoo?”

“ Kim Seokjin?” Mereka berdua bertemu tepat ditengah hutan.

“ Sedang apa kau disini? Ini dihutan, Eunsoo-ah.” Teriak Seokjin dengan nada khawatir.

“ Dan kau juga kenapa ada disini? Kita sebenarnya ada dimana?” Mereka berdua menerawang sekitarnya. Eunsoo kemudian berjalan menghampiri Seokjin yang mengkhawatirkan ia didepannya.

“ Kyaaaaaaa…”

“ Eunsoo!” Eunsoo jatuh ke lubang yang berukuran sebadannya. Ternyata tumpukan ranting pohon adalah penutup sebuah lubang.

“ Seokjin… Ada yeoja.” Eunsoo terkaget melihat pemandangan dibelakangnya. Mayat yang sudah membusuk dan berbau itu tertunduk.

“ Eunsoo, cepat keluar dari situ. Kita harus keluar dari hutan ini dan melapor polisi.” Eunsoo masih terdiam melihat mayat itu didepannya.

“ Jung Eunsoo, cepat keluar dari situ.” Seokjin menarik badan Eunsoo menjauh dari mayat itu dan menariknya keluar dari lubang.

“ Eonni…” Eunsoo dan Seokjin tersentak mendengarnya. Mayat itu mendongakkan kepalanya dan menatap Eunsoo sendu. Yeoja yang sering ia lihat disekolah dan dimimpinya.

“ Eunsoo kajja.” Seokjin menarik tangan Eunsoo menjauh dari lubang yang berisikan hantu itu.

“ Eonni…” Mayat yeoja itu merangkak keluar dari dalam lubang. Kaki Eunsoo ditarik oleh tangan kasar mayat yeoja itu.

“ Eunsoo…” Seokjin menarik Eunsoo dengan sekuat tenaga. Tapi sia-sia saja. Eunsoo menangis menatap mayat yeoja itu yang tertancap ranting dimata sebelah kanan.

“ Aokigahara…”

“ Kyaaaaaaaaaaaa…………”

Suster yang berada diruangan itu sangat kaget mendengar teriakan kedua orang yang sedang tidur terduduk disofa.

“ Agassi, kalian tidak apa-apa? Mimpi buruk?” Mereka saling bertatapan. Seokjin dan Eunsoo berkeringat setelah tidur semalam.

“ Kami tidak apa-apa. Kami minta maaf telah mengganggu.” Kata Seokjin sambil berdiri dan membungkukkan badannya.

“ Ne. Saya keluar dulu. Permisi.” Suster itu keluar dari ruangan Jimin dirawat. Jimin masih belum sadarkan diri.

“ Aokigahara? Itu hutan yang ada di Jepang bukan?” Kata Seokjin sambil menatap penasaran kearah Eunsoo. Eunsoo terdiam menatap Jimin yang masih belum sadarkan diri dan melihat kejadian yang ada didalam mimpinya. Eunsoo langsung menatap Seokjin, seperti ingin memberitahukan sesuatu melewati matanya. Semacam kontak batin.

“ Kita pergi ke Hutan Aokigahara saat Nyonya Park ada disini.”

“ Kau yakin ingin pergi berlibur disaat Jimin sedang seperti ini. Eunsoo-ah?” Eomma-nya mulai khawatir dengan keadaan Jimin dan sekarang harus ditinggal berlibur oleh anaknya sendiri Eunsoo.

“ Eomma, jangan khawatir. Jimin akan segera sadar. Aku juga akan kembali. Hanya sebentar Eomma. Rencana berlibur ini sudah kurencanakan dari beberapa minggu yang lalu bersama Seokjin.” Kata Eunsoo menggenggam tangan Eomma-nya. Eunsoo berhasil membulatkan mata Seokjin yang sedari tadi berada disampingnya.

“ Baiklah. Hati-hati ya. Aku tidak ingin kehilanganmu. Seokjin, jaga Eunsoo dengan baik.”

“ Ne, ahjumma. Aku akan selalu menjaganya.”

Eunsoo dan Seokjin diam memperhatikan tempat yang ada didepannya. Hutan Aokigahara yang terdengar sangat angker dengan teriakan jiwa mati didalamnya.

“ Kau yakin?” Eunsoo menatap Seokjin intens saat bertanya seperti itu.

“ Kita harus tau, Seokjin-ah. Aku ingin ini berakhir.” Eunsoo menghela nafas berat pasrah.

“ Hari sudah mulai gelap. Sebaiknya kita cepat.” Seokjin menarik tangan Eunsoo masuk kedalam hutan. Mereka mulai mencari mayat itu dengan cepat.

Pukul sudah menunjukkan waktu 11 malam. Mereka makin masuk kedalam hutan yang gelap dan tanpa penerangan. Mereka lupa membawa senter. Tidak ada suara apapun di hutan itu. Hanya suara langkah mereka terseok-seok berjalan lebih dalam menuju hutan.

“ Aku lelah.” Eunsoo mulai jatuh terduduk. Seokjin juga ikut jatuh terduduk karna sedari tadi ia menggenggam tangan Eunsoo.

“ Aku akan mencari kayu bakar. Kita beristirahat sebentar disini.” Langkah Seokjin terhenti. Tangan lembut Eunsoo menahan langkah Seokjin yang ingin mencari kayu bakar.

“ Jangan tinggalkan aku.” Eunsoo menatap Seokjin. Ia hanya ingin bersama Seokjin sebentar. Seokjin tersenyum yang juga menatap mata Eunsoo.

“ Aku tidak akan kemana-mana.”

Keheningan menyelimuti mereka sampai mereka benar-benar terjaga. Hembusan angin malam mengakibatkan mereka langsung tertidur ditengah-tengah hutan. Suara gemericik air membangunkan mereka dari kepenatan yang mereka rasakan dari sore menjelang tengah malam seperti ini.

“ Seokjin… Ireona palli. Kau tidak mendengar?” Seokjin setengah sadar mendengar suara gemericik air dari kejauhan. Mereka berlari menuju sumber suara. Sungai. Yang mereka temukan adalah sungai.

“ Kuharap disebrang sana. Semoga kami menemukannya.” Gumam Eunsoo dalam hati.

Keduanya menyebrangi sungai dan terus berjalan. Tak jauh dari sungai, mereka menemukan tumpukan ranting dan patahan bangkai pesawat disekitarnya. Seokjin menelan saliva-nya dan Eunsoo menghela nafasnya.

“ Kita harus periksa.” Seokjin menggenggam tangan Eunsoo dan menariknya kearah tumpukan ranting. Dengan hati-hati, mereka menyingkarkan tumpukan ranting. Dan benar, sesuai mimpi mereka. Ada mayat yeoja berjaket biru. Seokjin mengambil ranting yang sangat panjang untuk menyingkirkan ranting yang menimpa tubuh mayat yeoja itu. Jaket biru itu bertuliskan ‘JS’ dan bergambar hati.

“ Choi Seohee?” Isakan tangis Eunsoo terdengar. Mayat itu adalah Choi Seohee. Yeojachingu-nya Jimin yang menghilang karna kecelakaan pesawat yang ingin menuju Tokyo.

“ Seohee-ya….” Seohee adalah yeoja yang berparas imut dan sangat cantik. Dulunya ia sangat dekat dengan Eunsoo. Jimin sering membawa Seohee kerumah untuk bermain dan tertawa bersama Eunsoo. Eunsoo juga sudah menganggap Seohee adik. Eunsoo sangat terpukul bahwa mayat Seo belum ditemukan tahun lalu.

“ Aku akan menelfon polisi.” Seokjin langsung merogoh kantung celananya dan menghubungi polisi.

Pemakaman telah dilaksanakan. Eunsoo masih terus menangis dipelukkan Seokjin dari awal pemakaman hingga selesai. Jimin dengan tatapan datar melihat kearah nisan yang terpampang nama ‘Choi Seo Hee’, yeojachingu-nya yang ia khianati setahun yang lalu.

“ Sebaiknya kita pulang. Jimin-ah kau harus segera kebandara sekarang.” Kata Nyonya Park selaku Eomma dari Jimin.

“ Ne, eomma. Nuna, aku ingin kau ikut kebandara bersama Seokjin.” Kata Jimin menatap Eunsoo yang masih berada dipelukkan Seokjin.

“ Baiklah. Kita akan bersamamu kebandara.” Seokjin mewakilkan pernyataan Jimin pada Eunsoo. Jimin hanya menghela nafas. Dia telah menceritakkan kejadian setahun yang lalu. Alhasil Eunsoo mendiami sejak awal pemakaman.

Eunsoo berjalan menuju mobil dan Seokjin berusaha membantu Jimin berjalan. Dari kejauhan, Seokjin melihat seorang yeoja yang ia yakini arwah dari Seohee. Masih memakai jaket biru pemberian Jimin. Arwah itu menunjuk Jimin.

“ Jin-ah, waeyo? Kau melihat apa?” Jimin menyadarkan Seokjin yang tiba-tiba menghentikan langkahnya.

“ Ah, gwenchana. Aku tadi melihat kelinci. Mungkin ia sudah lari.” Kata Seokjin berbohong.

“ Yak, kalian berdua cepat.” Nyonya Park berteriak dari dalam mobil. Seokjin langsung membawa Jimin dengan hati-hati masuk kedalam mobil. Seokjin sejenak melihat kearah ia melihat arwah Seohee. Hilang.

“ Nuna, aku minta maaf. Aku akan pergi. Maafkan aku.” Jimin masih terus meminta maaf kepada Eunsoo yang masih terus mendiaminya. Eunsoo menghelas nafas berat dan menatap Jimin.

“ Kau tau? Aku kecewa, Jimin-ah. Pergilah. Aku akan merindukanmu.” Ucap Eunsoo datar sambil menatap Jimin yang sudah mengeluarkan air matanya.

“ Nuna….” Jimin memeluk Eunsoo untuk terakhir kalinya. Air matanya sudah tidak bisa ditampung lagi. Jimin menangis dipundak Eunsoo.

“ Jangan melakukan itu lagi. Aku menyayangimu.”

“ Aku juga menyayangimu, Nuna.”

“ Sekarang pergilah.” Seokjin hanya melihat mereka sambil tersenyum. Yang biasanya mereka sangat rusuh disekolah, suka membuat keributan, tapi mereka saling menyayangi. Seokjin beralih pandang kearah luar. Seokjin kembali melihat Seohee dipintu pesawat.

“ Aku akan pergi. Seokjin-ah, jaga baik-baik Eunsoo ya. Saat aku kembali, kalian harus sudah mempunyai hubungan yang lebih dari ini.”

“ Yak! Cepat pergi…” Eunsoo mendorong pelan lengan Jimin.

“ Wajahmu sudah memerah Nuna. Annyeong… Sampai bertemu lagi.” Jimin pergi bersama kedua orangtua-nya untuk pengobatan dan akan terbang ke Amerika. Disana terdapat kaki palsu yang sangat mirip dengan kaki asli. Dia akan kesana untuk operasi. Jimin sudah berada ditangga pesawat dan akan segera terbang ke Amerika.

“ Itu pesawatnya?” Kata Seokjin masih terus menatap Jimin dari kejauhan.

“ Ne. Dia akan pergi dan akan kembali dengan dua kaki lagi.”

“ Aku tidak yakin dia akan kembali.” Hening. Eunsoo menatap kearah Seokjin dengan tajam.

“ Apa maksudmu?” Eunsoo setengah berteriak menghadap Seokjin. Seokjin menghela napas dan kemudia menatap Eunsoo takut.

“ Aku melihat Seohee. Lagi.” Eunsoo langsung berlari menuju luar menghampiri pesawat yang Jimin tumpangi.

“ Eunsoo… Ahh tidak lagi.” Seokjin berlari mengejar Eunsoo yang sudah berada diluar tapi tertahan oleh petugas keamanan.

“ Jimin… Turun cepat! Seohee bersamamu…”

“ Nona, pesawat tidak akan bisa dihentikkan.”

“ Adik sepupuku dalam bahaya. Aku harus memperingatkannya.”

“ Eunsoo…”

“ Apakah dia kekasihmu? Tenangkanlah dia.” Petugas keamanan itu menyerahkan Eunsoo ke Seokjin.

“ Seokjin-ah. Jimin…” Jimin melihat Eunsoo menangis dipelukan Seokjin dan melihat arah pesawat yang ia tumpangi.

“ Eomma, apa pesawat ini tidak bisa dihentikkan?” Jimin terus melihat kearah Eunsoo dari dalam pesawat.

“ Kurasa tidak. Kau akan menemaniku, oppa.” Jimin tersentak. Dengan perlahan ia memutarkan kepalanya menghadap kesampingnya. Yeoja yang sama ia lihat sebelumnya. Masih dengan mata sebelah kanan yang tertancap ranting pohon dan mulut yang robek hingga telinga.

“ Bukankah kau menungguku, Oppa?”

“ Nunaaaaaaaaaaaaaaaaaa………….”

Seokjin masih menenangkan Eunsoo yang melihat pesawat yang Jimin tumpangi terbang. Eunsoo masih terus memanggil nama Jimin dan menangis.

“ Eonni, Oppa…” Seokjin dan Eunsoo langsung menengok kearah samping kanan mereka. Terlihat Seohee dengan penampilan yang sangat cantik saat ia hidup dulu.

“ Seohee-ya…”

“ Aku menyayanginya. Biarkan ia bersamaku.”

“ Andwae. Kau sudah meninggal Seohee-ya. Pergilah dengan tenang.” Seohee hanya tersenyum dan mengalihkan matanya kepesawat yang belum jauh terbang dari Seoul. Pesawat itu langsung meledak dan terbakar diudara.

“ Jimin oppa sudah bersamaku, eonni.”

“ JIMIN……………………….”

END

Akhirnya FF gaje ini selesai. Semoga suka ya semuanya. Maaf jika banyak typo dimana-mana. Author-nya khilaf. Maaf jika FFnya jelek dan gak jelas. Saran dan kritikkannya ditunggu ya. Terima kasih sudah membaca. Tunggu FF selanjutnya ya…

About fanfictionside

just me

7 thoughts on “FF oneshot/ I’M BACK, CHAGI!/ BTS-BANGTAN

  1. Untuk kedua kalinya aku baca ff ini lagi hihihi ><
    Pokoknyaa daebaak laaah.. Ditunggu yaa ff lainnya😀

    Salam : Amelia 97 line🙂

  2. Omonaa.. Komenanku kepotong u.u padahal udh komen panjang lebar hiks
    Pokoknya ini ff horror yg gak asal horror😀 punya alur cerita yg ditata apik dan beruntun.. Kereen
    Dan jujur aja pas pertama kali baca ini yg duluan km post di IFK aku nangis .. Terlebih pas tau jiminnya mati di ending. Dan kata2 ini yg entah knpa aku jadi merinding “aku menunggu. Cepat kembali” “aku kembali. Kau merindukanku bukan?”
    Huweeee pokoknyaa ditunggu karyaa lainnya hwaitinggggg

  3. omooo aigoooo daebak bangett lah thor ceritnyaaaaa
    aku baca ini pas jam 12 malem loh jadi ngefeel bngtt:D
    yg pertama tama aku kira cowoknya itu jin lohh ternyata jimin haha xD
    keren thor;)
    keep writing and fighting^^9

  4. aaa kacau, Seohee kauu….
    Jimin yg malang, -_-
    ini seru, seru banget
    aku suka
    unsur horornya bagus
    dipaduin sma komedi jdi ga terlalu tegang😀
    bagus bagus bagus🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s