FF/ HERO AND HEROINE/ BTS-BANGTAN/ pt. 5B


HERO-HEROINE-BTS (1)

Author: Anditia Nurul||Rating: PG-13||Length: Chaptered||Genre: School-life, Friendship, Romance, a bit comedy||Main Characters: (BTS) Suga/Yoongi, & (OC) Geum Hajin||Additional Characters: (BTS) Jin/Seokjin, (BTS) J-Hope/Hoseok, (BTS) Jimin & (BAP) Himchan as Min Himchan|Disclaimer: I own nothing but storyline and the OCs. Inspirated by a fiction story titled ‘Crazy’ By Emolicious. Original ver casted by (B1A4) Jinyoung & OC||A/N: Edited! Sorry if you still got typo(s). [!!!] Used some ‘frontal(?)’ words. Please don’t bash!

@@@@@

Seperti hari-hari sebelumnya, ada saja yang dihebohkan oleh siswa-siswi Shinhwa High School. Mulai dari Suga and the genk, masalah PR, masalah pacar sampai masalah yang tidak penting, seperti: kepala sekolah punya istri muda.

Hello~

Suka-suka kepala sekolah mau punya istri muda atau tidak.

Berjalan dari gerbang, menyusuri koridor utama, kemudian berbelok menyusuri koridor kelas satu, aku berusaha menebalkan telingaku, pura-pura tidak dengar. Terlebih saat mereka membicarakan Suga begitu melihat batang hidungku.

Hei, ayolah… jangan membicarakan aku seperti ini.

Menjadi pacar Min Suga bukan keinginanku.

ISH!

Aku sudah hampir tiba di kelasku, ketika kulihat Jimin keluar dari kelas dan berjalan ke arah kantin. Jangan-jangan anak itu mau pergi sarapan.

“HOOI! JIMIIIIINNN-AH!” teriakku, menyusul Jimin. Laki-laki itu mendengar teriakanku, lalu menghentikan langkahnya dan menoleh ke arahku.

“Mau pergi sarapan?” tanyaku begitu aku berdiri di hadapannya.

“Iya. Kenapa?”

Aku menyengir. “Hehehe… aku ikut.”

“Tapi, BSS, ya?”

“BSS? Bayar Sendiri-Sendiri, maksudnya?”

Jimin menggeleng, lalu tersenyum, kemudian membalas, “Bayarkan Saya Sekalian… heheheh.”

“Week! Maunya! Tidak, bayar sendiri-sendiri. Aku tidak punya banyak uang,” kataku, langsung menarik Jimin menuju kantin.

Setibanya di kantin, aku—yang masih lengkap dengan tas di punggung—dan Jimin langsung duduk di salah satu tempat kosong, kemudian memesan makanan untuk sarapan. Ya, aku memang belum sempat sarapan di rumah. Entah kenapa, tumben-tumbenan eomma-ku bangun terlambat dan ujung-ujungnya tidak menyiapkan sarapan.

“Kau benar-benar jadi pindah ke Busan?” tanya Jimin. Sembari menunggu dua porsi soondaeguk yang kami pesan, Jimin mengajakku mengobrol.

“Ya. Appa dan eomma sudah mengirim beberapa barang-barang di rumah ke rumah baru kami di Busan.”

“Lalu, kapan kau pindah?”

“Setelah penerimaan rapor.”

“Apa… apa Suga Sunbae sudah tahu?” tanya Jimin.

Aku diam sejenak. Sejujurnya, di Shinhwa High School, satu-satunya teman yang tahu aku akan pindah ke Busan cuma Jimin. Suga belum tahu. Ya…, itu karena aku memang tidak berniat memberitahukan hal ini padanya. Dia kan… tidak ada hubungannya denganku. Iya, kan?

“Belum.”

Jimin sedikit terkejut. “Kau belum memberitahu Suga Sunbae? Kenapa?”

“Untuk apa?” Aku malah bertanya balik.

“Tentu saja dia harus tahu. Kalian kan pacaran.”

Pacaran? Kami memang pacaran… tapi, itu menurut penglihatan kalian. Dalam hati, aku tidak pernah mengakui diriku sebagai pacarnya. Yah, walaupun ada saat-saat dimana aku juga senang menjadi pacarnya. Tapi, sekali lagi aku tekankan kalau aku tidak menyukai Min Suga!

“Sudahlah! Aku malas membahasnya!”

Beberapa saat kemudian, dua porsi soondaeguk pun dihidangkan di hadapan kami. Dan tepat di saat aku baru ingin menyumpitkan soondaeguk ke dalam mulutku, mereka datang, 2 anggota Bangtan Boys, Seokjin Sunbae dan Hoseok.

Kedua pipiku langsung bersemu merah ketika mataku melihat sosok Seokjin Sunbae duduk di sampingku. Ia menoleh padaku, lalu tersenyum. Oh my… what the handsome face!

“Hajin-ah, semalam kau dan Suga dikejar-kejar musuh kami?” tanya Hoseok, mengganggu kegiatanku, setelah ia sendiri memesan makanan untuk dia dan Seokjin Sunbae.

Sedikit gugup aku menjawab. “Uh, eh… ya. Ng, dari mana kau tahu?” tanyaku.

“Suga meneleponku tadi pagi. Aku disuruh membawa mobilnya yang dia tinggal di dekat stadion ke apartemennya,” jawab Seokjin Sunbae.

Ah, ya, tadi pagi, sebelum aku pulang ke rumah, masih di apartemen Suga, aku memang sempat mendengar Suga menelepon seseorang dan berbicara tentang mobilnya itu di kamar tempat dia tidur semalam. Rupanya… dia menelepon Seokjin Sunbae.

“Lho? Kenapa dia menyuruhmu, Sunbae? Memang kau punya kunci cadangan mobil Suga Sunbae?” tanya Jimin.

“Kebetulan saja kunci cadangan mobil Suga ada padaku. Waktu Suga di rumah sakit, Suga menyuruhku membawa mobilnya ke bengkel untuk diperbaiki. Kunci itu juga sudah aku kembalikan ke Suga.”

“Lalu, dimana dia?” tanyaku.

“Di kelas,” jawab Hoseok. “Hari ini dia aneh sekali. Dalam perjalanan ke sekolah, dia uring-uringan sendiri sampai sekarang. Iya, kan, Seokjin?”

Uring-uringan? Kenapa lagi dia? Padahal, tadi pagi… dia baik-baik saja. Malah, dengan sukses dia menghancurkan mood-ku. Aku memang tidak begitu berharap Suga akan mengantarku pulang naik taksi atau setidaknya membayarkan ongkos taksiku pulang ke rumah.

Tapi, mengingat kata-katanya semalam: “Hei! Kau mau pulang sendiri naik taksi, hah? Kalau kau diperkosa, bagaimana? Tidak ada orang yang menyelamatkanmu!”, kesannya dia akan mengantarku pulang, kan? Nyatanya… aku tetap dibiarkan pulang sendiri. Hiks.

Pasti kata-kata semalam itu cuma modus! Dia sengaja menyuruh aku menginap karena dia takut tinggal sendiri di apartemennya setelah nonton film horor! GRRR… dasar tukang modus!

“Ya. Sepertinya… ada sesuatu yang menganggu pikirannya. Apa kau tahu, Hajin?” Seokjin Sunbae membuyarkan lamunanku.

Sesuatu yang menganggu pikiran Suga, ya? Hhh, satu-satunya hal yang menganggu pikiran Suga yang aku tahu adalah Park Chorong.

“Apa mungkin… karena Chorong?”

“Park Chorong?” ulang Hoseok dan Seokjin Sunbae memastikan. Aku mengangguk.

“Siapa Park Chorong?” tanya Jimin ingin tahu.

“Kau tidak perlu tahu!” tukas Hoseok.

“Tunggu, apa Suga lagi-lagi mengigaukan nama gadis itu?” tanya Seokjin Sunbae.

Aku menggeleng. “Semalam, aku dan Suga bertemu dengan Chorong di mall. Gadis itu bersama Himchan. Dan…, aku rasa… Suga cemburu melihat Chorong dengan Himchan,” jelasku.

“Maksudmu, Chorong ada di Seoul?” tanya Hoseok. Aku mengangguk.

“Astaga,” ucapnya dan Seokjin Sunbae bersamaan. Dari tadi mereka berdua bicara bersama terus. Kompak sekali.

Seokjin Sunbae lalu mengangguk-angguk seolah mengerti situasi. “Jadi, itu yang membuat Suga uring-uringan?”

Huh~ dari pada uring-uringan memikirkan Chorong, akan lebih baik kalau dia itu uring-uringan memikirkan ujian semester minggu depan. Lagi pula, dia juga sudah kelas 3! Jauh lebih baik lagi kalau dia memikirkan bagaimana cara bisa mendapat nilai bagus di ujian akhir dan bisa tembus masuk universitas.

ISH! Min Suga bodoh!

“TEEEET!”

Begitu bel masuk terdengar, kami berempat buru-buru menghabiskan soondaeguk di hadapan masing-masing. Uh, gara-gara membicarakan Suga, kami sampai lupa memakan soondaeguk yang menjadi niat awal kami ke kantin. Begitu seporsi soondaeguk masuk ke dalam perut kami masing-masing, bergegas kami menuju kelas.

@@@@@

“Tolong pahami dengan baik materi yang telah saya berikan tadi! Akan masuk di ujian semester kalian nanti,” pesan Gu Sonsaengnim sebelum beliau keluar dari kelas.

“Ya~” koor teman-teman sekelasku. Begitu beliau keluar, satu per satu dari kami pun beranjak dari bangku masing-masing. Huwaaa… akhirnya, pulang!

“Hei! Nanti aku datang ke rumahmu jam berapa?” tanya Jimin padaku sambil kami berdua berjalan bersisian menuju pintu kelas.

“Ya, seperti biasa saja,” jawabku. Hari ini, lagi, aku dan Jimin janjian mengerjakan tugas bersama, sekalian belajar bersama juga mengingat sebentar lagi kami akan mengikuti ujian semester.

“Hei!” seru Suga yang tiba-tiba saja menghadangku di ambang pintu kelas. Bikin kaget saja!

“Ada apa?” tanyaku. Selama berstatus sebagai pacarnya, ini pertama kali dia datang menyambangiku di kelas. Kalau dihitung dengan waktu itu—waktu dia datang mencariku—ini sudah kedua kalinya.

“Ikut aku!” ucapnya, lalu menarik tangan kananku. Refleks, tangan kiriku menarik tangan kanan Jimin sehingga laki-laki itu ikut juga.

“Kau mau bawa aku kemana?” tanyaku masih dalam keadaan ditarik paksa oleh Suga. Semua siswa yang kami lewati melihat ke arah kami.

“Hari ini kau harus belajar bersamaku!”

Apa?

“Be-belajar?” tanyaku heran. Akhirnya, dia berhenti, lalu menoleh padaku. Dia melirik Jimin yang berada di belakangku. “Heh! Apa-apaan kau!” Dia menunjuk tanganku yang memegang pergelangan tangan Jimin. Buru-buru aku lepas.

Ia kemudian melihat ke arahku. “Iya, belajar!” tegasnya.

“Tapi…, aku sudah janji dengan Jimin mau belajar bersama,” ucapku sambil menunjuk Jimin. Niatnya, aku ingin menolak ajakan Suga. Tapi, jadinya malah….

“Ah…, tidak apa-apa, tidak apa-apa. Kalau Suga Sunbae mau belajar dengan Hajin, silakan. Park Jimin ini bisa belajar sendiri,” ucap Jimin dengan nada yang dibuat sebaik dan seramah mungkin ketika Suga melihatnya dengan tatapan: YOU’LL DIE!

Harusnya aku tidak berharap banyak pada Jimin kalau sudah menyangkut soal Suga. Dia mana berani?

Suga kemudian menarikku lagi menuju tempat dia memarkir mobilnya secara istimewa. Aku langsung di suruh masuk ke mobilnya. Begitu aku duduk di dalam, aku tidak melihat ada Seokjin Sunbae atau pun Hoseok. Mana dua orang itu?

“Mereka sudah pulang duluan,” kata Suga saat ia duduk di balik kemudi, seolah tahu aku mencari dua orang itu. Aku hanya ber-O saja.

“Pasang safety belt-mu,” perintahnya. Buru-buru kupasang safety belt-ku, lengkap dengan tangan yang berpegangan pada kedua sisi jok yang aku duduki seperti biasa. Dan, masih seperti biasa, Suga mengemudikan mobilnya seperti jalan raya punya nenek moyangnya.

@@@@@

UJIAN SEMESTER!

Hal itu yang membuat Suga uring-uringan hari ini. Kata Suga, kalau kali ini nilai semester Suga tidak bagus seperti semester-semester sebelumnya, maka appa-nya tidak akan melanjutkan pendidikan Suga ke tingkat kuliah dan begitu Suga berusia 20 tahun, dia akan diikutkan kegiatan wajib militer.

“Aku tidak mau ikut wamil secepat itu,” ucap Suga mengakhiri ceritanya.

“Lalu, apa hubungannya denganku? Bukannya lebih baik kalau kau belajar dengan Seokjin Sunbae atau Hoseok?”

“Aku butuh orang yang bisa membantuku!”

Aku mengerutkan keningku. “Membantu? Memang aku bisa bantu apa? Aku ini baru kelas 1 dan kau sudah kelas 3. Aku tidak tahu pelajaran kelas 3, jadi… aku tidak bisa membantumu!”

Suga tidak membalas ucapanku. Sampai kami tiba di apartemennya pun, ia diam saja. Uh, memangnya apa yang bisa aku lakukan untuk membantunya? Walaupun di kelasku aku cukup… yah… pintar, tapi… kalau berkaitan dengan pelajaran kelas 3 yang sama sekali belum pernah aku pelajari… aku tidak tahu.

Di apartemennya, setelah mengganti baju dan berisitirahat sebentar, Suga mulai belajar di kamarnya. Sedangkan aku yang masih tidak tahu apa maksud sebenarnya dari Suga membawaku ke sini, duduk di ruang tengah sambil menonton TV.

“Hei! Hajin-ah, ambilkan minum aku haus!” teriaknya dari dalam kamar.

ISH! Mengganggu saja!

Aku beranjak dari tempatku menuju dapur, kemudian membuatkannya minum. Lalu, aku membawakan minuman itu ke kamarnya.

“Astaga! Apa yang terjadi?” tanyaku ketika aku masuk dan kudapati kamarnya begitu berantakan—banyak buku yang tergeletak di lantai—padahal dia baru belajar 1 jam.

Dia menoleh ke arahku. “Tentu saja belajar, Bodoh!”

“Ini yang kau sebut belajar? Ini namanya be-ran-ta-kan!” balasku penuh penekanan.

“BERISIK!” kata itu keluar lagi. “Mana minumanku? Aku haus!”

Ish!

“Ini,” ucapku seraya menyodorkan minuman yang telah aku buatkan untuknya. Ia meraih gelas yang kusodorkan, lalu meneguknya minumannya sedikit.

“Ukh! Kenapa ini susah sekali,” gerutunya, melihat ke arah buku matematika yang berada di hadapannya.

“Hei! Sebaiknya kau sewa guru privat untuk mengajarimu!”

“Tidak mau! Di sekolah aku sudah bertemu guru, masa di apartemen juga kau harus bertemu dengan guru? Aku tidak mau!”

“Mana mungkin kau bisa kalau tidak ada yang mengajarimu, Bodoh!”

“Ah, berisik! Sudah sana! Kau di luar saja. Aku mau belajar lagi,” usirnya.

Sambil mendecak sebal, aku kembali ke ruang tengah, melanjutkan kegiatan menonton TV yang beberapa saat lalu tertunda karena Mashimaro itu. Namun, baru beberapa menit aku duduk, dia berteriak lagi.

“Hajin-ah, ambilkan aku cemilan di kulkas!”

Lagi….

“Hajin-ah, nyalakan AC!”

Lagi….

“Hajin-ah, kecilkan suara TV-mu. Mengganggu!”

Dan lagi….

“Buatkan aku makanan. Aku lapar!” perintahnya.

“Hei! Min Suga, di kulkasmu itu tidak ada bahan makanan, tahu!” bentakku sambil berkacak pinggang. Kepalaku mulai nyut-nyutan dan sejak tadi aku merasa gerah karena masih mengenakan seragam sekolah.

“Kalau begitu beli!”

GRRRRR! MIN SUGA! KAU INI BENAR-BENAR MAKHLUK PALING MENYEBALKAN DI MUKA BUMI!

Aku jadi tahu maksud dari kata ‘Aku butuh orang yang bisa membantuku!’ yang ia ucapkan padaku. Maksudnya, aku bisa membantunya mengambil air minum, menyalakan AC, membelikan makanan dan lain-lain. ARRGGGHH! Kenapa aku mau saja dijadikan pembantunya seperti ini?

“Hei! Kenapa kau diam saja? Cepat! Aku tidak bisa belajar dengan perut keroncongan seperti ini!”

“Mana uangmu?” kataku dengan nada kesal.

“Memang kau tidak punya uang?”

“Aku punya, tapi yang lapar kan kau, bukan aku. Jadi, pakai uangmu!” balasku, ingin membuatnya kesal.

Dia merogoh sakunya, lalu mengeluarkan dompetnya. Kemudian, ia memberikan selembar uang 50.000 won padaku.

“Kau mau makan apa?”

“Apa saja, yang penting cepat!”

Setelah mendapatkan uangnya, aku pun keluar dari apartemen, berjalan menyusuri emperan sekitar untuk mencari tempat yang jualan makanan. Suasana di luar sudah gelap. Tentu saja, sekarang sudah jam 7 malam dan aku masih belum pulang ke rumah. Pantas saja dari tadi eomma meneleponku, tapi aku sengaja tidak mengangkatnya.

Beberapa menit berjalan, aku menemukan sebuah tempat makanan cepat saji. Aku masuk ke dalam tempat itu, lalu berdiri di barisan antrian orang yang juga ingin memesan makanan. Hmmm… tahu begini, kenapa aku tidak memakai layanan delivery saja tadi?

Ini semua gara-gara Min Suga yang memaksaku cepat-cepat. Aku jadi tidak ingat kalau di tahun 2014 ini, beberapa restoran telah menyediakan layanan delivery. Terlalu!

“Hei!” Seseorang di belakang menegur sambil menepuk bahu kananku.

Sedikit terkejut, aku menoleh ke arahnya.

Oh, a-astaga!

“Hi-Himchan-ssi?” seruku. Uh, kenapa aku harus bertemu Himchan?

“Sendiri?” tanyanya.

Aku tersenyum simpul, lalu mengangguk. “Kau?”

“Sama.”

“Oh~” responku.

“Ng, kau mau menemani aku makan?” tanyanya kemudian.

Aku diam sejenak.

“Ada yang ingin aku bicarakan denganmu,” sambungnya ketika melihat aku agak ragu, bahkan hampir menolak ajakannya itu.

Aku pun mengangguk pelan. “Ya.”

Maaf, Suga…, sepertinya kau harus menunggu. Kakakmu ini ingin bicara denganku dan ada beberapa hal juga yang ingin aku tahu darinya. Jadi, bersabarlah menahan laparmu. Anggap saja pembalasan karena telah menjadikan aku pembantu.

Beberapa menit kemudian, aku dan Himchan duduk berhadapan di meja yang berada di dekat jendela. Di atas meja sudah tersedia makan malam kami masing-masing. Sambil makan, aku menunggu Himchan mengatakan apa yang ingin dibicarakannya denganku. Namun, sepertinya… dia agak ragu untuk memulai. Huuuh~

“Hei! Kenapa waktu itu kau tidak bilang kalau kau dan Suga itu bersaudara?” tanyaku memulai percakapan.

Himchan menatapku sejenak, mungkin kaget karena aku tahu kalau dia dan Suga itu bersaudara. “Uh… itu karena aku rasa, lebih baik kalau Suga yang mengatakannya padamu,” jawabnya.

Benar juga. Akan lebih bagus kalau Suga yang mengatakannya padaku. Bagaimana pun, dia kan yang punya hubungan lebih dekat denganku. Tapi, kenyataannya… aku tahu semua dari Seokjin Sunbae.

“Suga…,” gumam Himchan, “Apa… kemarin malam dia baik-baik saja? Maksudku, setelah melihat Chorong.”

Aku menghela napas. “Dia… tidak begitu baik. Aku rasa… dia… cemburu.”

Himchan juga menghela napas. “Aku tidak bermaksud untuk membuatnya cemburu. Kemarin malam, setelah dari mall itu, aku dan Chorong berniat untuk menemui Suga di apartemennya, tapi… ya, kau tahu kejadiannya bagaimana.”

“Kalian… mau menemui Suga untuk apa?”

Himchan mengalihkan pandangannya ke arah jendela, melihat orang-orang dan kendaraan-kendaraan yang berlalu lalang di depan sana. “Memperbaiki hubungan kami. Sudah beberapa tahun ini hubungan antara aku, Suga dan Chorong tidak begitu baik. Karena itu, ketika mendengar kabar Chorong datang ke Seoul untuk liburan, aku sudah berencana untuk memperbaiki hubungan kami bertiga.”

“Tapi, kenapa Chorong tidak memberitahu Suga tentang keberadaannya di Seoul? Suga… sedih karena hal itu.”

Himchan mengalihkan pandangannya ke arahku. “Aku tidak tahu. Mungkin… dia belum siap bertemu Suga.”

“Belum siap?”

“Mungkin kau belum tahu kalau sebelum Chorong berangkat ke luar negeri, hubungannya dengan Suga memburuk karena—”

“Pertandingan balap mobil. Chorong tidak suka kau dan Suga melakukan hal berbahaya seperti itu hanya untuk memutuskan siapa yang berhak menjadi pacarnya, kan?” potongku, membuat Himchan terkejut, tapi sepersekian detik kemudian, dia mengangguk.

Benar juga kata Himchan. Chorong belum siap bertemu dengan Suga. Karena itu… ketika di rumah sakit, dia tidak jadi menjenguk Suga.

“Hmm~ Tapi, sepertinya, kejadian kemarin malam malah akan memperburuk hubungan kami,” sahut Himchan.

“Apa… sekarang, kau dan Chorong pacaran?” tanyaku hati-hati. Aku tahu ini pertanyaan yang bersifat pribadi. “Kalau kau tidak mau jawab juga tidak apa-apa,” lanjutku cepat.

“Ti-tidak.”

“Ke-kenapa?” tanyaku semakin ingin tahu.

Himchan hanya tersenyum simpul. “Suga tahu kau di sini?” tanyanya, membelokkan pembicaraan. Sepertinya dia tidak mau menjawab pertanyaanku.

“Uh, ya. Justru aku di sini karena disuruh olehnya.”

“Disuruh?”

“Ya. Dia lapar dan menyuruhku beli makanan.”

“Jadi…, kau dari apartemennya?”

Aku mengangguk. “Ya, sejak pulang sekolah aku di apartemennya. Sekarang dia sedang mati-matian belajar untuk menaikkan nilai semesternya. Kata Suga, kalau kali ini nilainya tidak naik—”

“Dia tidak akan lanjut kuliah dan appa akan mengikutkan dia wajib militer di umur 20 tahun,” potong Himchan, membuatku terkejut. Kenapa dia bisa tahu?

Laki-laki itu tersenyum sehingga membuat kedua matanya membentuk eye-smile. “Aku mendengar pembicaraan appa dengan Suga di telepon pagi tadi,” jelasnya. Oh, pantas saja.

“Sekarang kau kuliah dimana…, Himchan… Oppa?”

Lagi-lagi laki-laki itu tersenyum. Murah senyum sekali. “Canberra University. Bisnis. Sekarang sedang musim liburan jadi, aku ada di Seoul.”

“Bisnis?” seruku dengan mata berbinar. “Hebat. Kau pasti pintar sekali. Kuliah di luar negeri pula,” pujiku.

“Hehehe.” Dia hanya terkekeh.

Pembicaraan kami selanjutnya tidak menyinggung tentang Chorong lagi. Kali ini lebih ke arah masa kecil Himchan Oppa dan Suga. Dari Himchan Oppa, aku tahu bagaimana Suga waktu kecil. Seperti kata Seokjin Sunbae, Suga memang lebih dekat dengan eomma mereka. Dulu, Suga juga anak yang baik, tidak suka berkelahi, beda sekali dengan sekarang. Beberapa kali aku tertawa ketika Himchan Oppa menceritakan hal-hal lucu tentang Suga dan juga beberapa sifat Suga.

“Sebenarnya, Suga itu bisa menurutimu kalau kau mengancamnya. Coba saja, kapan-kapan ancam dia,” kata Himchan. Ya, aku setuju dengan yang satu ini. Masih ingat waktu aku dan Suga mau pergi kencan? Aku mengancam tidak akan ikut kalau dia tidak membuang rokoknya… hehehe.

Masalahnya, aku tidak bisa sering melakukan ini padanya, karena dia akan balas mengancamku dengan tatapan pembunuhnya itu. Atau… paling standar, dia akan mengucapkan satu kata yang paling aku benci kalau dia yang mengucapkan: BERISIK!

“Sepertinya kau harus pulang sekarang. Suga pasti sudah lama menunggu,” ucap Himchan setelah kami selesai makan.

“Uh, ya.”

Aku dan Himchan pun beranjak keluar dari gedung restoran, kemudian kami berjalan sama-sama menuju apartemen Suga. Himchan bermaksud untuk menemaniku sembari melanjutkan obrolan kami di restotan tadi.

“Tidak apa-apa kau membuat Suga menunggu? Bukannya kau bilang dia lapar?” tanya Himchan, mungkin merasa tidak enak karena telah mengajakku makan, padahal aku sedang ditunggu oleh Suga.

“Tidak apa-apa. Anggap saja balasan karena hari ini dia menjadikan aku pembantunya,” balasku. Kami berdua terkekeh.

“Anak itu masih belum berubah~” ujar Himchan.

“Maksudmu?”

“Ya, dulu… waktu aku, Suga dan Chorong masih duduk di sekolah dasar, Suga selalu menyuruh-nyuruh Chorong setiap kali kami bertiga belajar bersama.”

“Belajar bersama?”

“Ya, belajar bersama. Kadang-kadang aku yang jadi guru mereka. Aku kan satu tingkat di atas Suga dan Chorong,” jelas Himchan. Aku mengangguk paham. Ah, pasti sangat menyenangkan punya kakak seperti Himchan, dia dengan senang hati mengajar adiknya. Coba aku juga punya kakak, ya? Sayangnya, yang aku punya hanyalah seorang adik yang sangat bawel setiap kali aku ajari sesuatu.

EH!

Tunggu dulu!

Aku berhenti berjalan, begitu juga Himchan Oppa yang ikut berhenti karena melihatku berhenti.

“Himchan Oppa, kau bilang kau mau berbaikan dengan Suga, kan?”

Laki-laki itu mengangguk.

“Dan kau juga bilang, waktu kecil, kau sering mengajari Suga, kan?”

Dia mengangguk lagi.

“Bagaimana kalau kali ini kau juga mengajarinya? Kalau aku lihat, Suga sepertinya butuh pembimbing. Yaaah~, walaupun tadi dia bilang malas bertemu guru, sih. Tapi, kalau kau… mungkin dia mau.”

Himchan Oppa agak ragu. “Aku mau saja, tapi bagaimana dengan Suga?”

Dengan nada penuh percaya diri, aku mengatakan, “Gampang! Suga pasti mau diajar olehmu. Serahkan padaku!”

“Baiklah….”

Hohoho… Geum Hajin, kau memang gadis yang pintar dan juga baik hati. Tuhan pasti mengutusmu sebagai malaikat cantik yang akan mengakurkan dua kakak-adik tampan dari keluarga Min.

Setelah beberapa menit berjalan, akhirnya aku dan Himchan tiba juga di depan pintu ruang apartemen Suga. Himchan Oppa terlihat agak ragu, tapi sebisa mungkin aku meyakinkan dia kalau Suga tidak akan bertingkah seperti anjing liar saat melihatnya.

Oppa tunggu di sini sebentar, aku masuk dulu. Nanti aku beritahu kalau Suga sudah aku jinakkan…,” pesanku pada Himchan Oppa. Laki-laki itu mengangguk pelan. Aku pun membuka pintu ruang apartemen Suga, lalu masuk ke dalamnya.

“Suga-ya?” teriakku, mencari si Mashimaro itu sambil terus berjalan memasuki ruang apartemennya.

Tiba-tiba dia muncul dari balik pintu dapur. “Kau dari mana saja? Kenapa lama sekali? Mana makananku?” tanyanya dengan wajah yang kesal setengah mati. Hahaha… rencana balas dendam sukses besar!

Aku berjalan memasuki dapur mengikuti Suga yang berjalan menuju meja makan. Kuletakkan sebuah kantung yang didalamnya ada kotak berisi beberapa ayam krispi dari restoran cepat saji tempat aku dan Himchan Oppa makan.

“Antriannya lama,” jawabku bohong.

Dengan satu gerakan cepat, Suga langsung mengeluarkan kotak itu dari kantung plastik, membukanya, lalu mengambil sepotong ayam, kemudian memakannya. Terlihat seperti anjing yang sangat-sangat kelaparan.

“Hei! Makan pelan-pelan. Nanti kau tersedak, bagaimana?”

“Kan ada kau!” jawabnya enteng.

Aku pun duduk di kursi yang berhadapan dengan Suga, memperhatikan laki-laki itu menikmati sepotong paha ayam. Beberapa saat aku menyiapkan mental untuk mengatakan apa yang telah aku rencanakan dengan Himchan Oppa.

“Ng, Suga-ya,” panggilku. Laki-laki itu melirikku untuk sepersekian detik.

“Ya?”

“Aku bertemu seseorang yang mau membantu mengajarimu supaya nanti nilaimu bagus.”

“Benarkah? Siapa?”

“Mmm… tapi, kau harus janji padaku… kau tidak akan marah padanya, tidak akan memukulnya, apa lagi membunuhnya. Bisa?”

“Kau pikir aku psikopat?” balasnya. Aku ingin bilang, “Ya, kau kan psikopat,” tapi, kuurangkan niat itu. Yang ada, Suga malah tidak mau.

“Berarti kau mau diajar orang itu, kan?”

Dia berhenti mengunyah, lalu melihatku. “Memangnya siapa?”

Aku menghela napas, lalu dengan mantap kuucapkan nama laki-laki itu, “Min Himchan!”

-TaehyungBelumCebok (^/\^)-

Anditia Nurul ©2014

-Do not claim this as yours-

-Do not re-blog / re-post without permission-

About fanfictionside

just me

19 thoughts on “FF/ HERO AND HEROINE/ BTS-BANGTAN/ pt. 5B

  1. Mudahan mereka cepet baikan suga-himchan&chorong!! Tapi, suga tetep hrs sma hajin*,*
    Jdi, hajin ntr pindah ke busan?? Kira2 suga ikut nyusul ksna gk??
    Oke oke nexttt chap jgan kelamaan ^^!!

  2. akkkk makin penasaran kakk*-*
    semoga mereka bertiga-suga,himchan,chorong- cepet baekan ya^^
    omg hellaaww hajin mau ke busan?! suga gimana dongg u,u?
    pokoknya suga harus tetep sama hajin yaaaa~
    dichap ini kayaknya si hajin cuman sedikit ya ngomong kata2 frontalnya:v
    aku tunggu terus chap selanjutnya yaa kakkk;)
    keep writing and fighting^^9

  3. Akhirnya ff kesayanganku datang,witwiwwww senangnya. Ngomong” jgn terlalu lama ya post nya,aku suka kangen gitu sama kelakuan hajin haqhaqhaq ,author i love you yeahhh~

  4. Semoga himcham sama suga bisa baikan lagi, makin penasaran sama ceritanya. Jangan lama lama post ceritanya, udah greget ini🙂 . Hajin mau pindah kebusan terus gimana nasib sugaaa

  5. Kau memang psikopaaattt ahahaha
    Sni gw yg bilang😀

    Wahh nasib hajin sama chorong 11 12 ya, sama2 d jadiin pembokat #tepokjidat

    Ahh kalo suga tw hajin mw k busan gmna ya
    Brarti waktu hajin kurang lebih 2 minggu ya bwt bilang, argghhh buruan bilang lebih cepat lebih baik

    Uh oh, himchan masuk k kandang singa lolol😀

  6. wuaaaaa. daebak. saya new reader Kak Anditia. heheh
    bagus nih. storyline nya kuat. Penulisannya bagus. Penjelasannya juga. sipppp banget.
    Jang MiYeon (?) itu pasti ibunya Suga kan ?? (maaf part sblmnya aku komen disini.)
    Itu Hajin harus pamit sma Suga!!! (gila guenya).
    Himchan sma Chorong baikan gih. eh knpa Chorong marahnya sama Suga ? yg ngajak taruhan kan Himchan ? (ato gue yg slah baca. ampun Qaqa).
    btw aku prnh bca Novel Crazy. emang kocak banget sih. ini tadi aku baca lagi trs aku bayangin Kazuma-Suga, Taiki-Jin, Yusuke-HoSeok, Himchan-HanBum (wahahah. ga ngefeel klu ini), Hyori-Chorong, trs Emi ??? nope. ga mungkin kan aku tega mbayangin muka Jimin pake wig. muahahahaha.
    oke maaf kepanjangan. ditunggu part selanjutnya kak.

  7. Hahhhhha
    Yakin bgt seyakin yakinnya .. makanan yg ada di mulut suga.. nyembur….
    Terus dia bilang aku tidak mau..
    Yerus si hajin ngancem lagi deh… hahahah
    Gogo chapter selanjutnya.. jo suwe suwee….

  8. elaaaahhhh, lanjutan mana? gua tunggu trus nih, gua pantengin. tiap minggu gua cek blom ada lanjutn nya. ngereget. cepetan yaaahh chapter brikutnya ✌✌✌

  9. duar ayam goreng seketika meledak😄 wkwkwk
    kayaapa tuh reaksi Suga pas tau mau di ajarin sama Himchan, duh duh duh semoga Suga tepatin janjinya ya untk ga NGAMUK😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s