FF ficlet/ PERMISSION/ BTS-BANGTAN


cover (5)

Title : Permission

Author: windJ

Cast :

– Park Jimin

– And you

Genre : Fluff, maybe

Rating : G

Length : Ficlet

Si pendek Jimin. Itu julukan yang kuberikan saat pertama kali mengenal seorang Park Jimin ketika kami bertemu di sebuah taman kanak-kanak. Dia tentu saja protes saat kupanggil si pendek, tapi aku tidak peduli. Selama aku bisa membuatnya kesal, aku senang. Karena ekspresi-ekspresi yang Jimin keluarkan selalu membuatku tertawa. Yah suatu hiburan tersendiri.

Sebaliknya, Jimin memanggilku pao. Singkatan dari bakpao. Karena katanya pipiku seperti bakpao. Heol, sepertinya dia buta. Aku kan tinggi dan kurus, eomma sampai-sampai sering menasihatiku untuk banyak makan karena khawatir melihat bentuk tubuhku yang berbeda dengan anak kebanyakan, terlalu tinggi untuk usia anak 5 tahun saat itu.

“Pao!”

“Kenapa pendek?” tatapanku tidak beranjak dari buku matematika dasar yang kubaca sejak 1 jam yang lalu. Sementara Jimin, entah sejak kapan sudah duduk di depanku. Bertopang dagu menatapku.

“Kalau aku pergi sebentar, apa kau mengijinkanku?”

Pertanyaan Jimin refleks membuat dahiku mengerut. Aku menutup buku matematika dasarku kemudian menatap Jimin dengan tatapan bertanya.

“Apa maksudmu?”

Jimin memutar topinya ke belakang sebelum menjawab pertanyaanku. Ekspresinya yang tadi ceria berubah menjadi serius. Jarang sekali aku melihat Jimin yang seperti ini. Membuatku semakin bertambah bingung.

“Aku mau melanjutkan sekolah ke luar negeri. Appa dan eomma sudah setuju dengan usulanku,”

Aku mengerjapkan mataku tidak percaya. Nafasku entah kenapa serasa tercekat. Ada perasaan aneh yang menyergap dadaku tepat setelah Jimin menyelesaikan kalimatnya. Ini…terlalu mendadak.

“Kau serius?” aku berusaha mengontrol raut wajahku agar terlihat biasa, tapi sepertinya gagal karena Jimin kini mengusap-usap puncak kepalaku, kebiasaan yang ia lakukan sejak kecil untuk menenangkanku. Aku menunggu selama 1 menit untuk mendengarkan jawaban Jimin, tapi lelaki itu hanya melanjutkan kegiatannya mengusap kepalaku. Aku menepis tangannya.

“Jawab aku Park Jimin.”

Jimin menurunkan tangannya dari kepalaku kemudian menatapku.

“Ya, aku serius,”

“Kenapa?”

“Kalau aku bilang aku melakukan ini karena seorang gadis apa kau percaya?”

Ini kedua kalinya dalam hari ini Jimin membuat jantungku bereaksi aneh. Seorang gadis? Jimin menyukai seseorang? Kenapa dia tidak pernah bercerita padaku?

Aku tersenyum kecut. “Siapa gadis itu?”

Jimin ikut tersenyum tapi berbeda dengan senyumanku, senyum yang membuat matanya hilang membentuk setengah bulan sabit. Dan jujur, aku selalu menyukai senyum Jimin yang seperti itu.

“Kau, pao.”

Hah? Dia bilang apa barusan? Aku tidak salah dengar kan?

“Ini salah satu tipuanmu kan pendek?” aku masih sangsi. Jangan-jangan Jimin ingin mengerjaiku. Itu bisa saja, mengingat lelaki di hadapanku ini senang membuatku panik seperti saat kami baru masuk kelas 1 tingkat atas kemarin, ia mengatakan anjing kesayanganku Chico bertingkah aneh karena Jimin salah memberinya makan satu hari sebelumnya. Itu membuatku panik setengah mati dan langsung berlari kembali ke rumah. Dan yang kudapati adalah Chico masih sehat-sehat saja. Dan aku ingat kalau setelah itu aku menghujani Jimin dengan cubitan.

“Kau belum sadar juga?” Jimin menggelengkan kepalanya, memasang raut wajah prihatin yang aku tahu kalau itu hanya ia buat-buat. “Menurutmu kenapa aku selalu bersamamu selama 13 tahun? Kenapa aku selalu mengancam lelaki lain yang menyukaimu? Kenapa aku selalu peduli padamu meskipun kau menyebalkan karena memanggilku pendek?” Jimin kini meraih tanganku dan menyelipkan jari-jarinya sendiri yang besar ke jari-jariku yang lebih kecil darinya. Aku terdiam.

“Karena aku menyukaimu. Sejak dulu sampai sekarang.” Aura di sekeliling kami berubah menjadi aneh, kaku. Aku bisa merasakan tangan Jimin berkeringat. Jantungku kembali bereaksi aneh, berdetak cukup kencang sampai-sampai aku yakin Jimin pasti bisa mendengarnya, apalagi ruang perpustakaan sore ini memang hanya dihuni kami berdua.

“Jadi, aku mau pergi untuk sementara waktu. Belajar dengan giat, lulus dengan nilai yang bagus, mendapatkan pekerjaan yang layak dan aku akan kembali padamu. Karena sekarang aku bukan siapa-siapa.” lanjut Jimin. Genggaman tangannya di tanganku terasa semakin kuat. Kata-kata Jimin barusan sukses membuatku termenung.

Aku menarik nafas samar, hanya untuk sekedar meredakan jantungku yang semakin menggila. Aku berdehem pelan, membuat Jimin kini balik menatapku dengan tatapan bertanya.

“Aku mengijinkanmu,” aku beranjak berdiri kemudian mencondongkan tubuhku mendekat ke Jimin, tersenyum kecil dan…

‘Cup’

“Dan aku akan menunggumu, Park Jimin.”

END

Author note:

Yeyeye lalala~ hollaaaaaaa semuanya. Rasanya sudah lama aku gak nulis ff di blog ini. Pasti kalian ngerasa asing kan melihat uname author? FYI, uname aku adalah choco tapi berganti jadi windJ. Yang penasaran kenapa aku memutuskan untuk ganti penname, silahkan lihat di page Author ya :p *promosi(?)*

Aku gak mau banyak cuap-cuap, yang udah baca silahkan komen ff ini. Yang gak komen? Awas abs jimin melayang #plak!

About fanfictionside

just me

7 thoughts on “FF ficlet/ PERMISSION/ BTS-BANGTAN

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s