FF/ THE PART OF SIXTH SENSE/ BTS-bangtan/ pt. 7


THE PART OF SIXTH SENSE PART 7

Title                       : THE PART OF SIXTH SENSE / Part 7 /
Author                  :
SonDaenaPark97
Main Cast
            :

  • Baek Naera (OC/YOU)
  • Kim Taehyung/V (BTS)
  • Kim Seok Jin (BTS)

Other Cast          :

  • Han Yoonmi (OC)
  • Jeon Jungkook (BTS)
  • Jung Daehyun (BAP)
  • Byun Baekhyun (EXO)
  • Other member of Bangtan

Length                  : Chaptered
Genre                   : Supranatural, School-life, Fantasy, Romance, Friendship, Family, etc.
Rating                   : PG-16

.

.

Kau tahu hal klasik apa yang bisa jadi mengerikan di dunia ini?

‘Jatuh cinta dan patah hati’

.

-Enjoy and happy reading-

.

Musim gugur kala itu terasa begitu dingin. Kepingan dedaunan kering yang tertiup angin bertebangan kesana kemari. Dengan langkah santai sembari mengeratkan syal, Jin melambaikan tangan begitu melihat Yoon Gi tersenyum dari seberang jalan.

“Kau menunggu lama?” ujarnya setelah berdiri di samping Yoon Gi.

“Hm, sepertinya begitu” balas Yoon Gi sambil menelusupkan tangannya ke dalam saku celana.

Sesaat Jin melirik Yoon Gi yang terlihat berbeda dari biasanya. Alisnya berkerut, menebak ada sesuatu yang tengah dirasakan sahabatnya yang dingin itu. Namun ia memilih tak menanyakannya hingga langkah mereka berdua sudah memasuki sebuah kafe berkelas di dekat stasiun subway.

“Bagaimana perjalananmu?” Tanya Yoon Gi basa-basi.

“Menyesakkan.”

“Huh, sudah tahu begitu, kenapa kau tak pergi dengan mobil dan supir pribadimu saja?”

“Ha ha ha, aku hanya ingin mengenang masa kecilku bersama nenek saat pertama kalinya mengajakku naik subway”

Seketika Jin kembali mengenang neneknya. Walau orang tuanya sekarang adalah konglongmerat, Jin tahu bahwa hal itu dulunya tidak didapatkan dengan mudah. Dulu sewaktu Jin masih SD, orang tuanya hanya keluarga sederhana yang tinggal di Daegu bersama neneknya.

Saat ini Jin baru saja kembali dari Daegu setelah seminggu pergi kesana untuk bertemu neneknya yang baru meninggal dunia. Ia dan neneknya sangat dekat. Bahkan sesaat sebelum meninggal, neneknya yang dalam keadaan sakit keras meminta Jin untuk mengunjunginya pun tidak diabaikan oleh lelaki itu. Neneknya yang mencintai kampung halamannya itu memang masih tinggal disana, sementara keluarga Jin sudah pindah ke Seoul. Dan hal itu membuat hatinya miris. Ia merasa sangat kehilangan neneknya. Lalu Yoon Gi datang kemari untuk datang menjemputnya. Bukan karena apa, tapi mereka berdua memang bisa dikatakan sangat dekat. Nampak seperti saudara.

Mereka sudah berteman sejak kecil. Jin yang sempat melewati masa jatuh bangun dan susah waktu kecil, merasa hidupnya tak jauh berbeda dengan Yoon Gi. Sewaktu ia masih miskin, ia berfikir kalau orang kaya seperti Yoon Gi pasti hidup menyenangkan. Dulu, ia mengira kalau Yoon Gi hanya lelaki kaya angkuh dan sombong. Tetapi setelah memasuki kehidupan lelaki itu, melihatnya setiap hari mendapat penderitaan dari ayahnya karena Yoon Gi anak haram, ia jadi merasa bahwa hidup lelaki itu sangat menyedihkan. Begitu juga dengan dirinya sendiri, meski ia sudah kaya, ia merasa hidupnya tak seindah dulu. Ayah Jin jadi super sibuk, sementara ibunya terus saja mengurusi butiknya yang mulai berkembang.

Ia fikir saat itu ia akan kesepian. Namun, ia ternyata bertemu dengan Yoon Gi, bocah yang terlihat jauh kesepian ketimbang dirinya. Mereka berkenalan di sebuah lapangan basket kala itu.

‘Kau bermain sendirian saja?’

‘…….’

‘Aku boleh ikut ya?’

‘……’

‘Hei. Kenapa diam saja?’

‘Aku tak butuh teman..’

‘Apa? memangnya seru ya bermain basket sendirian?’

‘Ya.’

‘Padahal kau terlihat kesepian’

‘Bukan urusanmu.’

Jin kecil tak memedulikan tatapan dingin bocah di hadapannya yang sedang bermain bola sendirian itu. Ia yang masih polos berusaha mendekat dan merebut bola itu dengan sebelah tanggannya lalu memantul-mantulkan bola itu asal.

‘Kau ini bodoh ya? bermain saja tidak bisa. Jangan ganggu aku’

‘Makannya ajari aku. Nanti kalau aku sudah bisa, kita kan bisa bermain bersama’

‘Dasar keras kepala.’

‘Kau tahu? aku ini juga kesepian.’

‘Lalu apa hubungannya denganku?’

Jin berdecak sebelum akhirnya berkata, ‘Aku ingin tak kesepian lagi dan membuatmu tak murung begitu’

Bocah di hadapannya tak menjawab dan menatap Jin dengan datar. Jin tak memedulikannya. Ia malah tetap bersikeras memainkan bola itu lalu melompat tinggi dan melemparkannya ke ring. Entah karena permainannya yang payah atau bagaimana, bola itu malah mengenai tepi ring dan memantul balik kea rah kepalanya dengan keras.

‘Ah, sakit!’ rengeknya sambil memegangi kepalanya yang berdenyut.

Tanpa ia sadari, bocah dengan wajah dingin itu tertawa. Jin melihatnya.

Ia tak tersinggung ditertawakan, Jin justru senang bisa membuatnya tertawa seperti itu. Bisa tertawa juga dia, batinnya

‘Ah, memalukan sekali. Permainanku ini memang payah ya?’

‘Bukan seperti itu cara melempar bolanya, tapi begini..’ bocah itu pun memberikan contoh bagaimana cara memainkannya dengan baik. Jin hanya manggut-manggut dengan mata berbinar karena kagum.

‘Kau keren juga ya. Namaku Kim Seok Jin, senang bisa mengenalmu. Bisakah kita berteman?’

‘Namaku…. Min Yoon Gi’

Jin tersenyum sendiri ketika memori itu berputar di otaknya. Ia tak menyangka jika pertemuan sederhana itu nyatanya mampu mengawali kisah persahabatan mereka menjadi begitu erat. Jin memperhatikan wajah Yoon Gi yang sedang duduk di hadapannya. Ia begitu menyayangi sahabatnya ini seperti bagian dari keluarganya. Ia begitu memahaminya, lebih dari siapapun.

“Kau ini, kenapa tersenyum seperti itu? kau membuatku merinding.” Kata Yoon Gi tiba-tiba. Saat itu pelayan datang untuk membawakan pesanan mereka. Setelah pelayan kafe itu pergi, Jin membuka mulutnya,

“Karena aku merindukanmu”

Ditempatnya Yoon Gi benar-benar merasa merinding. “Sejak kapan kau jadi gay? aku tak mau dekat-dekat lagi denganmu.”

Mendengar itu tawa Jin pun lepas. “Ha ha ha, leluconku tak lucu ya? tapi aku memang merindukan sahabatku ini. Ha ha ha” Jin tertawa terbahak-bahak karena melihat ekspresi konyol Yoon Gi yang nampak geli.

“Jin, omong-omong, menurutmu konyol tidak menyatakan perasaan kepada gadis yang baru dikenal selama beberapa hari?”

Seketika tawa Jin mereda karena suasana mendadak jadi serius. Ia menyeka air matanya di sudut akibat tertawa tadi.

“Memangnya, kenapa?” Tanya Jin curiga. Ia baru menyadari wajah Yoon Gi berubah jadi merah.

“Hah, kenapa responmu begitu? aku jadi mengurungkan niat untuk berbagi cerita denganmu.”

“Ha ha. Oke oke. Menurutku, itu tak masalah. Di dunia ini, banyak yang mengalami cinta pada pandangan pertama. Meskipun terkesan konyol, tapi ada banyak orang yang langsung mengungkap isi hatinya begitu ia merasa suka pada orang itu. Tak peduli baru berapa hari ia kenal, kalau hatinya sudah tak bisa ditahan, ya ia akan mengatakan perasaannya dengan jujur.”

“Ah begitu….”

“Tunggu dulu… apa kau….” Jin menatap Yoon Gi penuh selidik. Melihat gelagat Yoon Gi, ia yakin kalau Yoon Gi sedang jatuh cinta. Ia hanya tak menyangka. Ia pikir hati Yoon Gi sekeras batu. Selama ini, ia tak pernah mendapat kabar kalau Yoon Gi benar-benar pacaran atau suka pada orang lain. Bahkan julukan playboy yang diberikan pada sahabatnya itu, hanyalah sebuah sebutan kebetulan karena Yoon Gi sering didekati gadis dan tak menolak.

“Begini.. akhir-akhir ini aku merasa seperti orang bodoh. Aku baru mengenal gadis itu beberapa hari. Bahkan pertemuan awal kita sangat menyebalkan. Tapi saat aku melihatnya tertawa seriang itu, aku jadi merasa tak biasa. Dia adalah gadis paling menyebalkan yang pernah kutemui, tapi melihat senyum ringannya yang seolah tanpa beban, aku merasa semua bebanku terangkat bersama keceriaannya. Suara gadis itu hangat. Setiap mendengarnya, hatiku berdebar tak karuan.” Sesaat Yoon Gi kembali teringat akan sosok yang membuatnya merasakan hal tak biasa baginya itu.

Jin mendengarkan cerita Yoongi dengan tenang. Namun samar-samar, ia mengulas senyum tipis. Ternyata kalau Yoon Gi sedang jatuh cinta lucu juga ya.

“Hah, aku benar-benar merasa bodoh. Dan kau tahu, kemarin aku bilang padanya agar menjadi pacarku. Arrghh, payah sekali! bisa-bisanya aku berkata begitu. Tak ada kesan romantisnya sama sekali!”

“Kau? melakukan hal itu? memangnya siapa gadis yang berhasil membuatmu seperti ini? lucu sekali” akhirnya Jin kembali tertawa. Membayangkannya saja membuatnya ingin jungkir balik. Dalam banyangannya, Yoon Gi yang kaku akan terlihat konyol saat mengungkapkan perasaannya. Kenapa Yoon Gi harus terburu-buru? apa karena ia tak pernah berpacaran atau tak suka pada gadis sebelumnya?

“Kau ingat kan gadis yang mempermalukanku di hadapan Mark Tuan itu?”

“Naera maksudmu? apa hubungannya dengannya?”

“Gadis itu… gadis itu yang berhasil membuatku seperti ini…”

Tanpa disadari Yoon Gi, raut wajah Jin tersentak dan berubah muram.

3 Hari setelah pengakuan Yoon Gi di kafe itu, Jin mendegar kabar kalau Yoon Gi dan Naera berpacaran. Yoon Gi memang sudah menyatakan perasaannya 5 hari yang lalu, tapi hubungan mereka baru dimulai hari ini.

Jin sama sekali tak terkejut. Ia hanya merasa,

Terbebani?

Ya mungkin begitu. Apa hatinya sakit? Rasanya tak mudah memaparkan rasa nyeri yang menyergap hatinya. Hanya saja, ia tak mampu mendeskripsikan perasaannya kali ini. Rasa terkejutnya sudah membeludak di kafe dekat subway ketika Yoon Gi menceritakan perasaannya padanya.

Jin memang menyukai Naera. Sungguh. Bahkan ia selalu memperhatikannya sambil tersenyum apabila bertemu dengannya. Bahkan ia tak pernah menyangka di usianya yang masih 17 tahu ia bisa merasakan cinta sedalam ini. Ia ber-angan bisa memiliki gadis itu sepenuhnya dan seutuhnya. Tetapi harapan itu sepertinya harus ia singkirkan.

Karena…..

Naera sudah jadi milik Yoon Gi.

Yoon Gi adalah sahabatnya dan ia sayang padanya. Sesulit apapun Jin ingin mengalah. Setidaknya ia bisa membuat kehidupan sahabatnya itu lebih bewarna dengan kehadiran Naera. Yoon Gi orang baik dan bertanggung jawab, pasti ia bisa menjaga Naera.

Tapi meski begitu hatinya tetap saja sakit. Mau menyembunyikanya pun, sepertinya Jin tak bisa. Tak mungkin kan ia tiba-tiba datang menemui Yoon Gi dan bilang kalau ia lebih dulu menyukai Naera lalu berkata, ‘Hei, aku menyukainya lebih dulu. Bisakah kau menjaga perasaan sahabatmu ini?’ . Tidak bisa. Ia tak tega. Dan itu justru akan membebani Yoon Gi karena ia tahu bagaimana rapuhnya lelaki itu. Bisa tidak ia merelakan Naera untuk Yoon Gi agar sahabatnya itu bisa bahagia sekalipun ia sendiri juga menyukai Naera?

Jin tersenyum.

Aku pasti bisa merelakannya.

Persahabatan dan cinta, semuanya memang begitu rumit.

*

Perlahan Jin membuka mata. Semuanya terlihat samar seperti di dalam air, tapi lama-kelamaan penglihatannya jadi jelas. Ia melihat langit-langit kamar yang nampak asing. Aroma obat-obatan pun langsung menyengat. Ia tahu dimana ia sekarang begitu menyadari ada selang infuse pada lengannya. Bahkan nyeri di wajahnya masih terasa. Saat ia menoleh kesamping, nampaklah wajah mungil tengah menyandarkan kepala di sisi ranjangnya sambil memejamkan mata.

Jin mengernyit. Apa ia bermimpi?

Wajah mungil yang tengah tidur tertelungkup di pinggir ranjangnya itu adalah Naera. Kelopak matanya yang tengah tertutup, hidungnya yang mancung, serta bibir mungilnya terlihat menawan di mata Jin. Ia pun tak bisa menahan diri untuk tak menyentuh wajah gadis itu. Awalnya ia membelai lembut rambutnya, kemudian tangannya yang halus membelai pelan wajahnya. Kalau tertidur begini, Naera terlihat tenang dan damai.

Hatinya berdesir hangat. Bisa tidak Naera menjadi miliknya kali ini? Yoon Gi sudah tiada, jadi bolehkah ia menggantikan posisinya? Mungkin pemikirannya terkesan jahat. Tapi Jin tak bisa menyembunyikannya lagi bahwa ia begitu menginginkan Naera.

Semalam ia memimpikan Yoongi. Dan begitu bangun, dadanya mendadak sesak karena merindukan sosok dingin itu. Namun begitu melihat wajah Naera di sisinya, hatinya berubah hangat.

Apa ia kesini untuk menjengukku? tahu dari mana dia kalau aku sedang di rumah sakit? ucap Jin dalam hati.

Jin terkesiap dan segera menarik tangannya begitu Naera mulai bergerak. Gadis itu dengan perlahan menegakkan kepalanya lalu mengucek-ngucek matanya. Pemandangan seperti ini membuat jantungnya berdetak keras.

“Ah, sun-sunbae sudah siuman?” Naera sontak kelabakan. Sementara rasa kantuknya sudah menghilang, Ia pun segera menegakkan tubuhnya dan menatap Jin khawatir. “Mianhae karena aku sembarangan tidur disini”

“Apa sunbae sudah merasa lebih baik? apa perlu kupanggilkan dokter?” Cecar Naera panik. Namun ketika ia hendak beranjak, Jin menahan tangannya dan memancarkan senyum hangat.

Mungkin Naera bersikap begini lantaran ia khawatir juga malu karena seenaknya tertidur di sisinya. Tapi tatapan Jin seolah menitahkannya untuk tenang.

“Aku senang kau disini. Jangan kemana-mana, tetaplah berada di dekatku”

Kalimat lirih itu menggetarkan hati Naera. Dengan bibir tertutup rapat, ia pun kembali duduk di dekat Jin dan memperhatikan wajah Jin yang di tempeli banyak plester dan perban.

Sunbae…”

“Tetaplah seperti itu. Aku senang kau mengkhawatirkanku”

Disaat seperti ini, rasa bersalah dalam benak Naera begitu membebaninya. Tatapan serta senyuman tulus Jin ini membuat air matanya ingin mengalir. Tangannya saja masih terus di genggam erat oleh Jin. Kenapa lelaki ini harus bersikap sehangat ini padanya? tidak bisakah ia bersikap sedikit jahat pada Naera? Dengan begitu Naera tak akan merasa bersalah karena sudah menolak perasaan lelaki itu.

Mereka saling bertatapan cukup lama sampai pintu kamar rumah sakit itu terbuka secara perlahan.

“Ah, apa aku mengganggu kalian?” sebuah suara lain langsung terdengar sedikit parau dan canggung. Jin maupun Naera pun menoleh dan mendapati Yoonmi berdiri di ambang pintu sambil membawa bungkusan tas plastic dengan tatapan tak dapat diartikan.

“Kupikir oppa belum makan, jadi aku bawakan bubur hangat untukmu” lanjutnya lagi dengan senyum terpaksa. Entah kenapa, ia tak tahu harus berbuat apa sekarang.

“Kemarilah. Terimakasih sudah perhatian padaku” Sambut Jin hangat

Yoonmi dengan sedikit ragu melangkah mendekat, lalu meletakkan bungkusan itu di atas nakas. Sejemang, Ia menoleh kearah Naera namun gadis itu sama-sekali tak mengacuhkannya seakan tak menanggapi kehadirannya.

“Ah, apa kau sudah lama disini Naera? kenapa kau tidak mengajakku untuk menjenguk Jin oppa? ku pikir kita bisa pergi bersama.”

Berbeda dengan Yoonmi yang berusaha keras untuk terlihat sok akrab dengannya, Naera justru tersenyum miring dan segera berdiri.

“Kau pikir kau siapa seenaknya bicara seperti itu padaku?

Di tempatnya Yoonmi dibuat syok dengan mulut ternganga. Tak menyangka akan kalimat tajam Naera.

“K-kau ini bicara apa sih, Naera? selama ini aku sangat mengkhawatirkanmu”

“Jangan berpura-pura begini. Berapa banyak topeng lagi yang kau gunakan agar terlihat baik di depan orang lain, Han Yoonmi?” katanya lagi dengan dingin.

“Maafkan aku sunbae, tapi sepertinya aku harus pergi. Semoga keadaanmu segera pulih. Annyeong” dengan sopan Naera membungkuk dan segera pergi meninggalkan ruangan itu, Jin yang terkejut, juga Yoonmi yang masih mematung.

Setelah berhasil mengontrol diri, Yoonmi mengumpat dalam hati. Sial! bisa-bisanya dia berkata seperti itu di hadapan Jin oppa? lihat saja, akan kubalas kau Naera!

Dengan senyum canggung Yoonmi menghadap Jin, memastikan lelaki itu tidak berfikiran yang bukan-bukan tentangnya.

“Maafkan aku. Kehadiranku yang tiba-tiba ini membuat semuanya jadi kacau. Aku hanya mengkhawatirkan keadaan oppa” ujarnya sangat lirih seolah ia sangat menyesal. “Ku pikir Naera masih membenciku, padahal aku sangat ingin bisa kembali bersahabat dengannya seperti dulu.”

Jin mendapati Yoonmi seakan mau menangis dan menyuruhnya untuk duduk. Walau masih dalam keadaan berbaring, tangan Jin tergerak untuk mengusap pundak gadis itu. “Tidak. Kau tidak salah. Maafkan Naera, ku rasa dia masih mengira kau marah padanya perihal kematian Yoon Gi dulu.”

Jin memang tak tahu kebencian apa yang ditanam Yoonmi pada Naera. Ia hanya mengira kalau hubungan persahabatan mereka kandas karena insiden setahun silam. Yoonmi menjauhinya sama seperti teman-temannya yang lain karena takut pada Naera. Naera mungkin kecewa dan jadi benci pada Yoonmi. Lalu sepertinya Yoonmi merasa bersalah karena tak bersikap selayaknya sahabat dan ingin mencoba untuk memperbaiki persahabatannya kembali. Setidaknya itu yang ada di pikiran Jin.

“Tidak oppa. Aku yang salah. Sebagai sahabat, seharusnya aku ada di dekatnya bukannya malah membuatnya semakin menderita.” Akhirnya Yoonmi menangis sesenggukan dan Jin terus menepuk-nepuk pundaknya.

“Bicaralah baik-baik dengannya, dia pasti mau mendengarkanmu.”

Mendengar itu Yoonmi mengangguk lemah. Berbeda dengan hatinya yang tersenyum puas melihat sikap Jin padanya. Ia senang karena berhasil menarik simpati orang ini.

.

.

Di tempat lain, Naera menyandarkan punggungnya di tembok. Suara keran air mengucur deras bersamaan dengan air mata yang mengalir melalui pelupuk matanya. Entah kenapa ia menangis.

Terlebih, ia sedih kenapa harus menangisi Yoonmi. Biasanya Naera menangis karena Yoon Gi. Tapi kali ini, kenapa ia harus menangisi orang yang tak punya hati itu? kalau gadis itu tau Naera seperti ini di toilet wanita rumah sakit, ia pasti akan tertawa. Naera tak ingin terlihat menderita di depan mantan sahabatnnya itu.

Tapi hatinya sudah tak kuat lagi. Ia sudah lelah perasaannya diinjak-injak oleh orang itu. Barusan Yoonmi tak melakukan apa-apa padanya. Justru perkataan sok ramah gadis itu barusan membuat Naera kembali teringat akan pelakuan buruk Yoonmi. Bisa-bisanya ia bersikap sok baik depan Jin padahal jelas-jelas ia bilang kalau ia membenci Naera?

Bagaimana bisa Yoonmi bersikap selicik itu?

Bukankah ia sudah melukai perasaannya dengan menjauhinya, menghinanya, menyakiti perasaannya selama ini? Naera tak masalah kalau Yoonmi merebut posisinya dulu atau bahkan merebut Jin. Ia hanya tak ingin gadis itu benar-benar tertawa diatas penderitaannya dan melakukan semuanya dengan sengaja, lalu di hadapan orang lain ia malah bersikap kalau justru ialah yang tertindas selama ini. Naera tak suka itu.

Apa gunanya persahabatan mereka dulu? apa gunanya mereka pernah tertawa dan berduka bersama? Naera sama-sekali tak membenci Yoonmi. Kalaupun gadis itu datang kembali padanya, ia pasti akan mengulurkan tangan dan memeluknya. Tapi sepertinya hal itu mustahil.

“Aku benci karena aku terlihat menyedihkan seperti ini” ujarnya sambil terisak. Tak ada yang lebih menyedihkan selain dikhianati oleh sabahat yang paling kau sayangi.

Ditengah isak tangisnya, ponsel Naera tiba-tiba bedering namun hal itu diabaikan olehnya. Tetapi ponselnya terus saja berdering, mau tak mau Naera mengusap air matanya, mengontrol napasnya dan mengangkat telfon itu.

“Ha—“

“Kau sedang dimana?”

Alis Naera berkerut. Ia mengenal suara ini. Dengan cepat ia menjauhkan telfon itu dan menatap layar. Nama Taehyung tertera disana. Seketika itu juga jantungnya berdetak cepat.

“Aku sedang di luar. Untuk apa menelfon?”

“Kau jangan kemana-mana. Aku akan datang kesana”

KLIK

Dasar aneh, apa maksudnya dia bilang akan kemari? dia bahkan tak tahu aku sedang dimana. Kenapa berkata seperti itu?

Dengan perasaan aneh Naera memasukkan ponselnya kembali ke saku. Entah kenapa, walau perkataan Taehyung tak masuk akal, Naera berharap kalau laki-laki itu akan segera datang.

Tepat saat Naera membuka pintu toilet, sebuah topi sedikit kebesaran melekat di kepalanya, sedikit menutupi keadaan wajahnya yang sendu.

“Nah, kalau seperti ini tak akan ada yang tahu kalau kau baru saja menangis.”

Mata Naera mendongkak dan menerjab-nerjab begitu mendapat Taehyung berdiri tepat di hadapannya dengan senyuman manis. Namun anehnya Naera menangkap ada rasa kekhawatiran besar di raut Taehyung.

“B-bagaimana kau…?”

“Bisa kita keluar sekarang? sepertinya akan tabu kalau orang lain menemukan kita berdua disini” tanpa basa-basi lagi, Taehyung menggenggam tangannya dan membawanya pergi entah kemana. Naera hanya menurut sambil terus berusaha mengejar langkah Taehyung yang lebar.

.

.

“Aku khawatir akan V”

Bentangan sungai luas mengalir deras. Latar langit kemerahan serta hawa panas yang menyelimuti bangunan tua itu nampak beradu dengan tatapan dalam dari kedua sosok yang sedang berdiri disana.

“Kenapa Ayah baru mengkhawatirkannya kali ini? sejak ayah menyuruhnya untuk menjaga gadis bernama Naera itu di bumi, aku menjadi sangat was-was”

Sosok besar itu menengadahkan kepalanya, “Karena ramalan itu mengarah pada V, Baekhyun. Apabila V melaksanakan tugasnya dengan benar, maka bumi dan alam kita ini akan tenang. Aku tak ingin lagi alam kita ini kembali terlibat dengan bumi hanya karena ada Daehyun disana yang ingin melenyapkan Naera. Sudah cukup bangsa kita diberi hukuman seperti ini.”

“Apa selama ini ayah hanya khawatirkan kalau V akan kalah dari Daehyun? aku justru mengkhawatirkan hal lain.”

“Maksudmu?”

Baekhyun menghembuskan nafasnya berat sebelum kembali berkata, “Aku justru khawatir kalau V lah yang menyalahi takdir itu sendiri”

Alis ayahnya semakin bertaut.

“Bagaimana kalau sampai V jatuh cinta pada gadis itu? bukankah itu akan jadi bencana baru?”

Seketika mata ayahnya membelalak. Hal ini baru bisa ia sadari setelah lamanya ia memberi tugas pada anak bungsunya itu untuk tinggal di bumi.

.

.

“Bagaimana kau tahu aku berada disana? bahkan tak sampai 1 menit kau sudah berada di hadapanku”

“Sebenarnya aku sudah melihatmu dan Yoonmi di kamar Jin” jawab Taehyung datar. Mereka berdua sedang duduk di bawah pohon rindang yang terletak di taman belakang rumah sakit.

“Apa?”

“Awalnya aku mau masuk. Tapi melihatmu memandang Yoonmi seperti itu melalui celah pintu, aku jadi mengurungkannya. Benar saja, tak lama setelahnya aku melihatmu keluar.”

“Jadi kau mengikutiku?” balas Naera tak habis pikir.

“Maaf.”

Mereka pun terdiam dan Naera meneguk cola yang baru saja di berikan Taehyung untuknya. Sebenarnya ucapan Taehyung barusan tak sepenuhnya benar. Ia tadi memang berniat menjenguk Jin disaat teman-temannya yang lain tak ada disana. Namun ia malah melihat Naera ada di sana sambil tertidur bertumpu lengan di sisi ranjang Jin. Pemandangan Jin mengusap-usap rambut gadis itu pun tak luput dari pandangannya. Hatinya mendadak sakit. Karena itu ia memutuskan untuk pergi saja meninggalkan tempat itu. Namun saat di lobi, ia melihat Yoonmi mendekati tempat administrasi dan menanyakan dimana kamar Jin. Dengan sekali dugaan, Taehyung menebak kalau setelah ini akan ada hal buruk terjadi. Awalnya ia berusaha tak peduli. Namun saat ia sudah berada jauh dari rumah sakit, ia mencoba menghubungi Naera. Benar saja, ia mendengar suara keran air dan sahutan Naera yang terkesan parau. Ia bisa menebak dimana gadis itu berada dan apa saja yang baru terjadi antara dia dan Yoonmi. Dengan sekali hembusan, ia kembali menggunakan teleportnya untuk segera mendatangi gadis itu.

“Cola itu tak gratis ya” kata Taehyung akhirnya.

“Maksudmu?”

“Yak, kau harus menggantinya setelah ini. Karena saat ini, aku sedang tak memiliki banyak uang”

Naera mendengus dan dengan kesal membuang kaleng kosong itu tepat pada tong sampah di dekatnya. “Huh, dasar perhitungan. Tahu begitu kenapa harus membelikannya untuk ku?”

“Ya karena aku ingin berbuat baik”

“Baik apanya?! dasar menyebalkan”

“Biar saja, yang penting aku tampan”

“Idih, tampan dari mananya?”

“Sudah, jujur padaku saja, kau sendiri mengakui kan kalau aku ini tampan kan? semua bilang begitu kok.” wajah Taehyung mendekat kearahnya dengan tatapan jahil, membuat Naera jadi terkikik geli.

“simpan mimpimu itu, Taehyung!” Naera tertawa melihat Taehyung merapikan rambutnya seolah menebarkan pesona kalau ia memang tampan.

“Sudah baikan rupanya” kata Taehyung pelan. Dan saat mendengarnya, tawa Naera otomatis terhenti. Ia baru saja menyadari sesuatu. Rasa sedihnya akan Yoonmi barusan tiba-tiba saja hilang. Apakah Taehyung baru saja menghiburnya?

“Gomawo, Taehyung”

Taehyung yang tengah menatap kedepan menoleh, “Untuk?”

“Semuanya” Naera menjawab tanpa berani melihat Taehyung. Ia menatap kebawah, melihat kakinya terayun-ayun tanpa tujuan yang jelas.

Taehyung hanya membalasnya dengan hati terlampau lega, membuat hati gadis itu tak bersedih, adalah sebuah kebahagiaan baginya. Dan ia baru menyadarinya sekarang.

Tawa anak kecil menyeruak di udara. Terlihat dari kejauhan anak-anak kecil tengah berlarian sambil disuapi oleh baby sisternya. Nampak pula beberapa orang dengan kursi roda ditemani oleh sanak saudara, berlalu lalang di sekitar taman ini yang cukup ramai.

“Apa menurutmu aku ini menyedihkan?” gumam Naera tiba-tiba. Mendengar itu Taehyung terdiam sesaat kemudian menjawabnya dengan tenang,

“Dimataku kau adalah gadis paling kuat. Walaupun kau sering mendapat perlakuan buruk, kau bisa tegar.”

“Tapi aku sering menangis bahkan di hadapanmu. Bagaimana bisa kau bilang aku ini tegar?”

“Setidaknya kau tak mengumbar kesedihanmu. Di dunia ini, orang yang paling kuat adalah orang yang mampu melawan kesedihannya sendiri. Meski sudah diinjak-injak dan terabaikan, kau tak mengeluh, kau tetap bisa bertahan, dan kau tetap bisa tersenyum. Mampu membuat orang lain merasa bahagia walaupun hatimu sedang kacau, adalah hal yang paling luar biasa dalam dirimu. Orang lain belum tentu bisa melakukannya.”

Mendengar itu, Naera merasa ada kekuatan tengah membantunya bangkit. Bagaimana bisa Taehyung mengatakan hal yang sebelumnya ia sendiri tak merasakannya? sekuat itukah dirinya selama ini?

“Tapi aku tak merasa kalau kehadiranku membuat orang bahagia. Justru sebaliknya.”

“Kau bisa membuat orang lain bahagia hanya karena melihatmu tersenyum, termasuk aku”

Mata Naera membelalak. Taehyung sendiri tersentak akan ucapannya yang meluncur tanpa perhitungan. Tapi ia sama-sekali tak menyesal telah mengucapkannya. Rasanya ia ingin Naera mengetahui apa yang tengah mengganggu perasaannya akhir-akhir ini. Perasaan apa memangnya? Taehyung sendiri belum tahu.

.

.

Oppa harus habiskan, bagaimanapun kau harus makan teratur” Yoonmi dengan sabar menyuapi Jin yang mengeluh sudah kenyang.

“Tapi—“

“Kali ini oppa harus menurut padaku” Balasnya lagi sembari kembali menyuapkan sesendok bubur lagi pada Jin.

“Sepertinya di luar sangat sejuk ya” Ujar Jin begitu ia memandang kea rah luar jendela. Kebetulan ranjangnya terletak di dekat jendela yang langsung memperlihatkan keindahan taman belakang rumah sakit. Ditambah lagi, kamar Jin terletak di lantai satu.

Yoonmi pun ikut menengok keluar. Dengan perasaan ceria ia kembali menatap Jin, “Apa oppa mau jalan-jalan di taman itu setelah ini? sepertinya akan menyenangkan”

Sejenak ia menyahut ragu melihat tanggapan Yoonmi, “Kupikir begitu. Tapi apa tak kenapa?”

Yoonmi dapat mengerti apa maksud kalimat Jin. Lelaki ini pasti merasa tak enak dengan Jungkook. Bagaimanapun, Yoonmi adalah kekasih Jungkook. Pastilah Jin harus menjaga perasaan sahabatnya dan menghindari kesalahpahaman sekalipun lelaki itu tak ada di sini.

Oppa tak perlu khawatir pada Jungkookie, bagaimanapun oppa ‘kan sudah ku anggap seperti oppa-ku sendiri. Dia pasti mengerti.”

Mendengar itu Jin pun mengangguk. Ia memang merasa sedikit jenuh berada di kamar ini dan juga masih memikirkan bagaimana perasaan Naera karena gadis itu pergi begitu saja. Dengan menikmati kesejukkan udara di luar, sepertinya akan lebih baik.

.

.

Awan nampak kembali bergumul. Akhir-akhir ini memang musim hujan sehingga suhunya lebih dingin dari biasanya. Beberapa orang terlihat meneguk kopi panas yang baru saja diambil dari mesin kopi sembari duduk santai di pinggiran kursi taman. Naera dan Taehyung berjalan beriringan menelusuri tapak yang masih berada di sekitaran taman rumah sakit.

“Orang-orang itu pasti sedang menjenguk sanak saudara mereka”

“Tentu saja”

“Mereka baik sekali ya mau menjaga keluarga mereka. Apa mereka sampai menginap?” Tanya Taehyung antusias.

Selama perjalanan, ia melihat orang-orang yang menemani keluarga mereka yang sakit. Sampai ada yang membeli makan di kantin rumah sakit lalu kembali ke kamar untuk berjaga. Ada juga beberapa orang yang menyuapi orang sakit itu, entah itu pacarnya, anaknya, atau orang-tuanya di tempat ini dan sesekali mereka tertawa bersama. Hal itu membuat hati Taehyung terenyuh.

“Itu pasti karena mereka mengkhawatirkan keadaan keluarganya dan menginginkannya cepat sembuh.” jawab Naera sambil ikut sesekali memperhatikan sekitarnya.

“Kalau aku sakit, ada tidak ya yang memperhatikanku”

Tiba-tiba ia kembali teringat dengan Jin yang terbaring lemah. Apa Naera juga bersikap semanis itu padanya? menyuapinya, menemaninya, bahkan sampai tertidur di sisinya? Ah, hatinya mendadak tak enak lagi saat memikirkan kemungkinan itu.

Sementara Naera malah tertawa akan ucapan Taehyung.

“Kau ini. Memangnya kau tak pernah sakit? ada-ada saja”

Naera tertawa seperti anak kecil tanpa beban. Taehyung jadi merasa dirinya sudah mengembalikan kebahagiaan gadis ini. Kalau benar, Taehyung akan merasa senang sekali. Ia pun jadi ingin sakit sungguhan. Dengan begitu, apa Naera akan menjaganya?

“Ah hujan!”

“Ayo kembali! sepertinya akan deras!”

Terdengar suara gemerisik orang-orang diikuti dengan kepanikan mereka yang berlari mencari tempat untuk berteduh. Hujan turun kembali tanpa peringatan dan mulai deras.

“Astaga, kenapa hujannya langsung deras begini” ujar Naera sambil menutupi kepalanya dengan telapak tangan.

Di tempatnya, Taehyung bukannya malah segera mencari tempat berteduh, ia justru melepas hodienya kemudian menarik bahu Naera untuk mendekat padanya. Kini tubuh mereka bernaung di bawah hodie hitam tebal itu. Anehnya, mendapat perlakuan seperti ini Naera malah terdiam. Ia seperti mengalami déjà-vu.

‘Sial. Kenapa harus dingin seperti ini?’

‘Bagaimana? Sudah hangat?.’

Tiba-tiba kenangan setahun silam itu kembali menyelimuti ingatannya. Kalimat singkat itu kembali tergiang. Dimana Yoon Gi menarik pundaknya dan memeluknya hangat, membuatnya tak mampu berkutik dan terdiam. Masa itu, sama seperti hari ini. Ketika dinginnya hujan menyergap tubuhnya yang mulai mengigil.

Berbeda dengan Naera. Taehyung justru tak tahu apa yang tengah terjadi dengan gadis dalam dekapannya ini. Tiba-tiba saja hodienya nyaris terbang terbawa angin. Ia lantas menangkupnya lebih erat kemudian menunduk dan memastikan bagaimana keadaan gadis di sisinya. Dan parahnya, ia tak tahu kalau Naera tiba-tiba ikut menolehkan kepala ke arahnya. Akibatnya, bibir mereka pun bertemu.

Keramaian hujan yang semakin beradu semakin memperingatkan akan dinginnyan sekitar. Tapi kedua insan itu hanya diam membeku dengan mata yang membulat. Bibir Taehyung melekat lembut di atas bibir ranum Naera. Kehangatan seketika menyergap keduanya terlebih nafas mereka saling berhembus meniupi wajah yang berdekatan itu. Akan tetapi ini berlangsung tak cukup lama karena si gadis tersadar dan dengan panik melepaskan bibirnya.

“Hu-hujannya se-semakin deras saja….. A-ayo, kita berteduh disana…” katanya terbata. Ia tahu ini semua hanya kecelakaan sehingga ia benar-benar merasa malu dan canggung sekarang.

Namun Taehyung tak bergeming sedikitpun dan memandangi wajah Naera lebih lamat. Sampai tangannya tanpa sengaja menjatuhkan hodienya, beralih menarik gadis itu kedalam pelukannya, kemudian menciumnya lagi lebih dalam.

.

.

“Ah, rupanya hujan. Sepertinya kita tak bisa pergi ke taman.” Yoonmi berujar kecewa lantaran datangnya hujan yang deras. Pupus sudah harapannya untuk menemani Jin jalan-jalan di taman.

Mereka berdua baru saja berpijak di teras belakang rumah sakit yang berhadapan langsung dengan taman.

“Sayang sekali ya. Rupanya langit sedang tak berpihak pada kita” jawab Jin setengah bercanda. Lagipula ia bisa pergi kalau hujannya sudah reda.

Yoonmi mengangguk sepintas, ia pun memutar kursi roda Jin. Namun, tiba-tiba matanya menangkap sesuatu tak asing. Lantas penasaran, ia menghentikan gerakannya dan mengalihkan pandangannya. Di sana, di tempat yang tak jauh darinya, ia melihat Naera dan juga….. Kim Taehyung?

“Kenapa berhenti?” Tanya Jin binggung. Melihat Yoonmi yang mendadak mematung itu membuatnya penasaran. Ia pun mengikuti arah pandang Yoonmi. Begitu ia tahu penyebabnya, tenggorokannya terasa tercekat.

Kali ini Jin berharap ia salah lihat. Hatinya benar-benar terasa tertumbuk dan dunia seakan runtuh. Di bawah rintihan hujan itu, ia melihat dengan jelas bahwa Taehyung dan Naera sedang berciuman.

.

.

Suasana kelas masih sangat sepi. Terlalu pagi dan dingin untuk di lalui siswa-siswi SMA Younghae. Tapi hal itu kini tak menyulitkan Naera. Gadis itu datang lebih pagi dari biasanya dan sudah duduk manis di bangkunya. Sedangkan bola matanya tak lepas dari bangku Taehyung di hadapannya.

Sesekali ia mengigit bibir bawahnya. Ia tentu tak melupakan kejadian kemarin saat Taehyung tiba-tiba menciumnya. Mungkin yang pertama memang hanya kecelakaan. Tapi untuk ciuman yang kedua? Naera tak mengerti kenapa Taehyung melakukannya. Semalaman ia tak bisa tidur hanya memikirkan itu. Bahkan tubuhnya mendadak seperti demam. Lantaran datang pagi, itu karena ia merasa waktu berjalan lebih lama dari biasanya. Ia ingin hari kemarin, ini, besok, dan seterusnya segera berlalu dan ia akan melupakan ciuman itu.

Tapi sepertinya salah. Ia jadi serba salah sekarang. Karena merasa aneh di kelas sendirian, ia memutuskan untuk keluar kelas dan diam di balkon saja. Baru saja sampai di bibir pintu kelas, Yoonmi sudah menyambutnya dengan tatapan acuh.

“Kebetulan sekali. Aku sedang mencarimu”

Naera membalas tatapan itu dengan malas. “Untuk apa kau mencariku? tumben sekali.”

“Aku kemari untuk memberikanmu satu peringatan lagi!”

“Peringatan apalagi? kau pikir aku takut padamu? sudah cukup semua sandiwaramu. Aku akan menyudahi semua kelicikanmu ini Han Yoonmi!”

Yoonmi tertawa sakartis lalu membuang wajahnya, “Cih, benarkah itu? tapi kurasa kau belum mengetahui satu hal.”

Ekspresi Naera berubah dan hal itu sukses membuat Yoonmi kembali tersenyum penuh kemenangan.

“Satu hal?”

“ahhh, bagaimana ini.. ternyata kau memang tidak tahu ya? ugh kasihan sekali” Yoonmi semakin tertawa puas seolah mengolok-oloknya. “Aku tahu kalau kau bisa mengetahui keadaan Jin karena Jimin sunbae yang menghubungimu.”

“Tapi jangan senang dulu. Karena kudengar dari Jungkook, Jimin sunbae melakukannya karena Jin oppa terus menyebut namamu dan Yoon Gi saat koma. Makannya dengan terpaksa ia menghubungimu” Yoonmi melipat kedua tangannya di depan dada sebelum kembali bicara, “Tapi sayangnya, dia tak memberitahumu apa yang menyebabkan Jin oppa sampai terluka seperti itu”

“Maksudmu?”

“Temanmu barumu itu. Siapa namanya? Kim Taehyung? kudengar dia sengaja menghantam Jin oppa dengan bola sampai membuat wajahnya lebam begitu. Katanya juga, dia melakukannya karena cemburu padamu yang selalu dekat dengan Jin oppa.”

Mulut Naera menganga. Ia memang tak tahu apa-apa karena saat di telfon Jimin bilang kalau Jin hanya mengalami kecelakaan ringan. Ia sempat mengira kalau Jimin sedang berbohong, namun ia tak mau membaca fikiran lelaki itu lebih jauh lantaran langsung khawatir mendengar keadaan Jin dan segera mendantangi rumah sakit.

“Ti-tidak mungkin…”

“Aku bahkan ingat saat dia muncul kali pertama dan bilang padaku bahwa dia adalah penjagamu. Kau tahu, bahkan dia tahu semua akal licikku dan ikut mengancamku. Lalu sekarang dia nyaris membuat Jin oppa mati hanya karena cemburu padamu?” Yoonmi menatap Naera tajam.

“Kau telah menyebabkan cinta segitiga dan melukai orang lain lagi. Bukankah aku sudah bilang kalau kehadiranmu hanyalah kutukan? Dulu kau membunuh Yoon Gi, dan sekarang kau mau melenyapkan Jin oppa melalui Taehyung, hah?!”

“Hentikan…. aku bukan penyebab semua kesialan ini!”

.

.

Taehyung terus saja bersenandung kala kakinya menapaki tiap petak lantai yang di laluinya mulai dari gerbang sekolah. Senyum konyol dan desiran aneh terus saja menyergapnya seolah membuatnya seperti orang gila. Ia tak mengerti kenapa jadi seperti ini. Pipinya tiba-tiba memanas saat mengingat ciuman kemarin. Ah bodoh sekali! Taehyung memang tahu kalau ciuman pertama adalah kecelakaan, tapi bagaimana dengan yang kedua? semuanya terjadi begitu saja dan Taehyung benar-benar merasa aneh dibuatnya. Tetapi setelah ia mencium gadis itu dengan lembut, ia sepertinya menemukan jawaban atas kerisauannya.

Apakah …….Ah sudahlah!

Ciuman itu rupanya membawa perubahan besar seakan hatinya baru saja terbuka lebar. Walau seperti itu, ia justru nyaman dengan perasaannya yang mendadak mendambakan sosok Naera.

Belum usai ia tersenyum dalam hati, dari kejauhan ia melihat Naera dan Yoonmi saling berhadapan di depan kelas. Ia pun segera berlari menghampiri keduanya dengan dugaan tak enak.

“Wah, wah.. yang ditunggu sudah datang ternyata” Dengan santainya Yoonmi memberi akses Taehyung untuk semakin mendekat.

“Ada apa ini?” Ujar Taehyung kebingungan. Wajah Naera terlihat pucat pasi dan bibirnya bergetar. Dengan perasaan khawatir, ia memeriksa keadaan gadis itu, “Kau, tidak apa-apa?”

Tapi sayangnya dengan perlahan Naera malah menolak uluran tangan Taehyung dan mundur selangkah. Melihat itu, hati Taehyung menyusut perih.

“Naera, kau—“

“Jangan mendekat”

“Naera?” Taehyung berusaha mendekat, tapi lagi-lagi Naera melangkah mundur dengan tatapan kosong.

“Kumohon, jangan mendekat! Aku…..”

Gadis itu terus mundur dengan perlahan.

“Aku membencimu Taehyung…..”

Di tempatnya Naera sama-sekali tak menangis. Tatapannya kosong dan ia terlihat seperti tak bernyawa. Ia membalikan badan dan melangkah lemas menjauh serta meninggalkan tempat itu. Entah kenapa, Taehyung tak mampu mengejarnya. Tungkainya terasa berat untuk digerakan meski sedikit. Ia hanya mampu melihat punggung gadis itu semakin menjauh. Rupanya kalimat ‘aku membencimu’ terasa menelan dirinya dalam-dalam.

Apa… Naera sudah tahu semuanya?

Tanpa ia ketahui, Yoonmi tersenyum licik sambil melipat tangan di atas dada. “Aku sudah membalasmu, Kim Taehyung.”

Di tempatnya Taehyung menghembuskan nafas berat seraya memejamkan mata sesaat. Tangannya terkepal lalu berbalik menatap Yoonmi.

“K-kau…”

“Kenapa? ada yang salah?” kata Yoonmi menantang.

“Apa saja yang kau katakan padanya?!”

Yoonmi mendekat tanpa takut sembari membalas tatapan Taehyung dengan tajam. “Kau boleh mengancamku di pertemuan pertama kita dulu. Tapi aku jauh lebih pintar darimu, Kim Taehyung!”

Yoonmi terus maju selangkah demi langkah sampai jaraknya benar-benar dekat dengan Taehyung. “Kau pikir aku ini bodoh? Dengan melihat tingkahmu yang berlagak seperti malaikat untuk Naera saja aku bisa menebak kalau kau menyukainya, Kim Taehyung.”

Taehyung sama sekali tak bergeming sementara Yoonmi tersenyum simpul.

“Sudah kuduga. Jadi…aku tak salah ‘kan bilang pada Naera kalau insiden kecelakaan itu karena kau memang cemburu pada Jin oppa?”

“Apa yang sebenarnya kau inginkan?!”

“Keinginanku? huh, aku ingin Naera merasakan semua penderitaanku dulu! aku benci melihatnya bahagia! aku benci menerima kenyataan bahwa Yoon Gi sunbae mati! aku tak ingin ia merampas Jin, dan…..” Yoonmi mendekatkan bibirnya di telinga Taehyung. “Dan aku benci orang yang suka ikut campur sepertimu”

“Kau … kau ini sebenarnya apa? kenapa kau bisa berfikiran sejahat itu!”

“Kau tak akan mengerti jika kau tak mengalaminya seperti aku”

“Maksudmu?”

“Kau tahu hal klasik apa yang bisa jadi mengerikan di dunia ini?”

Taehyung hanya diam dan menanti kalimat Yoonmi.

“Jatuh cinta dan patah hati. Kau akan paham ketika kau mengalaminya” Setelah mengucapkan itu, Yoonmi pergi meninggalkan Taehyung. Dalam langkahnya, ia kembali berkata lirih, “Aku akan mengawasimu, Kim Taehyung. Lihat saja.”

.

.

-TBC-

Buat part 7 ini mian bgt ya readersdeul karena aku buatnya pendek gini hehe. Karena disini aku fokusin buat Naera dan Taehyung. Ya mungkin kesannya kurang gmana gtu, tapi ini sengaja kubuat begini biar nyambung ama part 8nya nanti hehe. Part 8nya mungkin bakal jauh lebih panjang dari ini ^^

Dan entalah feel romancenya ngena ato gak disini.. aku lemah bgt di genre yg satu itu dan mesti banyak belajar lagi🙂 jangan lupa RCL ya ~

Sampai ketemu lagi di part 8, annyeong!

About fanfictionside

just me

41 thoughts on “FF/ THE PART OF SIXTH SENSE/ BTS-bangtan/ pt. 7

  1. sumpah ya gue benci banget sama yoonmi !!! klo deket pengen gue cekek sumpah !!! next chap jangan lama2 oke authornim😀

  2. uwaa akhirnya dipost jugak part8 nya yeayy^^
    sumpahh ya di part ini tuh gue keselll battt ama si yunmi!
    akkk gilakk si tae nge-kiss naera dibawah ujann gilakkk demi apapun kalo gua ngeliat langsung pasti itu romantis bingitttt!😀
    dipart ini gak ada nge bahas masa lalunya daehyun ya._.
    uuuhhh pokoknya daebakk bingitt deh wkwk
    ff ini salah satu ff yang selalu aku tunggu diffside lohhh^^

    next chapnya aku doain semoga cepett yaapp
    keep writing and fighting^^9

  3. aaarrrgggghhh…
    sumpag ngeselin bgt yoonmi…
    dasar medusa…
    >_<
    wah, tae nyium naera? tp naera gk bs nrima.. gmn dong?? pd kenyataannya mrk jg gk boleh bersatukan?? kasian tae…
    uuggg…
    part ini msh pnasaran…
    mwnya apa c tuh yoonmi pake ngancem tae segala… ;(

    • wah wah semua pada kesel ama yoonmi ya hehe
      emg ngeselin bgt sih *plak
      taehyung masih ragu tuh, dia kayaknya perlu ngeyakinin dirinya lagi hihi
      mkasih yaa sudah komentar^^

  4. yeeaayyy berarti Taehyung jatuh cinta donk sama Naera, mudah2n aja tidak terjadi apa2 buat takdir mereka .
    dan juga aku benci Yoomi kayak gitu ke Naera, jangan lupa part selanjutnya ada Daehyun yaa pengen tahu cerita versi dia
    aku suka banget part ini.. next chapter chingu~ fighting

    • doakan ne kkk ^^ kita tunggu deh gimana kedua insan itu kedepannya /?
      kebetulan part 8 nya udh aku rilis. dan mian belum ada versi daehyung. tapi next chapnya daehyun pasti ada🙂
      siaaaap^^

  5. DEMI APA TAEHYUNGGGG KAMU KISS NAEA?!!!! ><
    Omooo entahlah aku mau komen apalagi yg jelas aku suka part ini !!! Buruaan di lanjuttt neeee🙂 fightingggg

  6. Sumpah ya yoonmi ngeselin bgtt-_-
    Disini kaga aada partnya daehyun ya?
    Kasian ama jin😦 dia kan syg bgt ama naera
    Taehyung kamu udh suka ama naera tuh.. Yakinin dong perasaan kamu🙂
    Oke fix feelnya ngenaa thor. Buat next chapnya buruan dilanjut yaa ! ^^

  7. yoonmiiiiii pengen gue cabik-cabik -_- kesel bnget sama dia….
    thor part 8 nya tmbh keren😀 next chapther jgn lama-lama takut nya entar lupa sama alur cerita nya heheheh
    d tunggu thor ^^

  8. Wahhhhhhhhh,,,,
    Ff ini aku nunggu banget,,kirain aku belum ada pt.7 eh ternyata sudah nongol..
    C yoonmi pengen gw petes tuch anak,jahat banget jd orng..
    D tunggu banget pkknya pt.8 nya

    • mian yaa karena ngandet u.u tapi makasih bgt udh nungguin ff ini🙂
      nextnya udh kelar kok. tinggal nunggu di posting aja🙂

  9. Gregetn m tae…
    Huft mudah”n haera jdian m uri tae….
    Moga happy end….

    Ouh… ea author,,,, knp msti ada org ky yoomi?? Huh jd pengen nyekik leher nya…. beri dia pemmbalasan yg setimpal thoooorrrr…..

  10. Wow, daebakkk . Mkin seru az nih crita’y . Gemes bgt ma yoonmi rsa’y pngn gntung az tu ornk dphon toge, haha . Btw bwt part slnjut’y jgn lma” y thor, dh lumutan bgt nih nunggu ff nie kluar . Fighting🙂

  11. Ditunggu part 8nya…
    Tak bisakah naera memimpikan suga.. Suga minta maaf dengan kejadian dulu.. dan memibta ubtuk melupakannya.. Haha
    Taehyung… Aduuh kisseu..
    Mungkin ada hal lain yoonmi jahat..
    Tak taulah…
    Kelompok bangtan kpan keluar lagi??

    Kira kira nunggu postingan berapa bulan ya?

    • hihi miaan kelompok bangtannya blm pada keluar /?
      kebetulan part 8nya udh kelar kok. ditunggu yaa cerita selanjutnyaa.. makasih atas reviewnyaa🙂

  12. annyeonghaseyo…aq reader bru, slm knal ya thor…
    aq gk hbiz pkir trnyata sahabat bsa jd musuh bebuyutan kya si yoonmi..

    critanya mnarik bnget..I LIKE IT…🙂 ditunggu chapter slnjutnya…fighting!!!!!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s