FF/ CLAN/ INFINITE/ pt. 4


request-pc32-junryu (3)

Title: Clan (Chapter 4)

Author: Junryu (former A-Mysty)

Genre: Fantasy, Friendship, A little bit Thriller, Supernatural.

Duration: Chapter

Rating: Teen

Cast:    Hyun Joo Rim – Katarina Jackocevic (Original Cast)

            Urara Kim / Yamada Kim (Original Cast)

            Kim Myung Soo

            Kim Moon Soo

            (And More… Coming soon)

Poster by: Arin Yessy (http://posterfanfictiondesign.wordpress.com/)

Simple Warn:             Already edited. Sorry if you still find any typo(s).

Aku menerjapkan mataku berkali-kali. Sinar lampu yang menempel pada plavon membuatku kesulitan untuk membuka mata lebar. Tangan kananku juga terasa nyeri. Indera penciumanku mencium bebauan yang sangatku tak suka. Ini bebauan khas rumah sakit.

Mataku mendelik perlahan ke arah tangan kiriku yang terasa sangat nyeri itu. Selang infuse terpasang di sana cukup dalam. Ketika aku ingin menegakkan badanku untuk bangkit, tulang punggung terasa sangat amat nyeri. Pada akhirnya, aku hanya bisa mendesah kecil. Saat aku menoleh, aku mendapati Ibuku sedang berbicara dengan Myungsoo dan dokter.

Mereka bertiga berdiri beberapa kaki dari ranjang rawatku. Tenggorokkanku terasa sangat kering. Bibirku menering dan kulitnya terkelupas. Rasa dingin dan lembab dari laboratorium bakteri itu masih sangat terasa. Seketika aku kesulitan bernapas. Rasanya seperti dicekik.

Aku menatap sayu punggung Ibuku yang berdiri berdampingan di sebelah Myungsoo Kepalaku seperti diputar-putar. Penglihatanku kembali kabur. Saat itu, aku membuka mulutku untuk mengeluarkan suara meskipun bergumam saja.

“Ibu…” gumamku, kemudian semuanya kembali gelap.

///

Sesuatu berawarna jingga menyilaukan mataku. Kelopak mataku juga seperti ada yang memaksanya agar terbuka. Tangan kananku seperti digenggam seseorang yang membuatku merasa lebih hangat dan nyaman. Aku tidak mengingat sepenuhnya. Aku hanya ingat setelah aku berhasil menyadarkan diriku sendiri, kegelapan kembali menyelimuti.

Ketika tangan yang memaksaku untuk membuka mata sudah lepas, aku mencoba menerjapkan mataku perlahan. Kepalaku masih sangat pusing, pandanganku juga masih kabur. Semua yang aku lihat saat ini berbayang. Hanya satu sosok saja yang tidak terlihat berbayang dimataku, sosok itu adalah laki-laki psikopat bernama Myungsoo.

“Nyonya Hyun, putri anda sudah sadar.” ujar seseorang yang mengenakan jas putih lengkap. Aku mulai melantur sekarang, sudah jelas itu adalah dokter. Kemudian, dokter itu tersenyum dan berlalu begitu saja.

Ketika mendengar berita baik atas kesadaranku, Ibuku senantiasa tak bisa menahan rasa syukurnya. Ia semakin menggenggam tangan ku erat dan menciumnya. Aku bisa merasakan tanganku mulai basah. Basah karena air mata ibuku sendiri.

“I-bu?” ujarku terbata. Leherku masih terasa seperti tercekik.

Tangan Ibu terulur ke arahku, kemudian ia mengelus puncak kepalaku. Ia tersenyum bahagia meskipun air matanya mengalir di pipinya yang mulai keriput. “Love, akhirnya kau sadar juga. Ibu sangat takut akan kehilanganmu. Terima kasih, ya Tuhan.”

Aku tersenyum kaku. Aku terharu mendapati ibuku yang terus mengucapkan syukur. Sementara itu, Myungsoo terduduk di sisi kiriku tanpa berkedip. Tatapannya masih menusuk dan raut wajahnya dingin. Ia menatapku dengan kedua tangan yang terlipat di depan dada. Bibir tipis laki-laki itu terkatup rapat.

“Nyonya Hyun, anda diminta untuk menemui Dokter Song sekarang.” Seorang perawat mendatangi kawasan ranjang tempat aku berbaring linglung. Perawat itu melemparkan senyum manis dengan bola mata yang hitam pekat mengkilat. Wajahnya sama sekali tidak seperti warga Negara Korea. Mungkin, ia berasal dari luar negeri yang bertugas di rumah sakit ini.

“Oh, ya. Saya akan ke sana sebentar lagi.” Ibuku menyahut sambil mengelap air matanya yang tersisa di pelupuk matanya. Ia kembali menggenggam tanganku halus, kemudian berkata, “Joo Rim, ibu harus bertemu dengan Dokter Song. Kau tunggu saja. Lagi pula, kau akan ditemani oleh Myungsoo.”

Pada awalnya aku mengangguk setuju akan menunggu ibuku meskipun sendirian. Namun, setelah mengetahui Myungsoo akan menemaniku di sini. Kedua mataku langsung terbelalak saking terkejutnya. Sepertinya, Ibuku sudah berkenalan denagn Myungsoo ketika aku pingsan. Makanya, ibu terlihat seperti akrab saja denagn laki-laki psikopat itu.

“Myungsoo-ssi?” panggil Ibu dengan suara yang sedikit serak.

Dengan cepat, Myungsoo menatap ibuku dengan tatapan yang santai. Tidak menusuk seperti ia menatapku tadi. Raut wajahnya terlihat lebih ramah sekarang.

“Kau temani Joo Rim di sini beberapa saat saja, oke?” Ibuku berujar kepada Myungsoo dengan suara seraknya, kemudian Myungsoo meresponnya dengan anggukkan kepala dan senyuman tipis.

Senyuman tipis Myungsoo itu terlihat ceria dan bersahabat. Bahkan, aku baru menyadari bahwa laki-laki psikopat ini memilki lesung pipi pada pipi kanannya. Jujur saja, aku mematung ketika melihat lesung pipinya itu. Entahlah, aku suka dengan seseorang berlesung pipi. Tapi, sepertinya hal tidak berlaku untuk Myungsoo.

“Kalau begitu, Ibu pergi menemui dokter Song dulu. Cepat pulih, putriku.” Sebelum Ibuku pergi, beliau mengecup dahiku dalam. Kemudian, mengacak sayang rambutku yang terasa sedikit lembab ini.

Ibu menatap Myungsoo dengan senyum pasti. Itu tandanya Ibuku mempercayakan semuanya pada Myungsoo. Asataga! Ibu! Asal kau tahu saja, laki-laki ini sedang mencoba membunuhku secara perlahan!

Setelah Ibuku benar-benar pergi dari kamar rawatku. Tatapan Myungsoo tidak seperti tadi. Ia menoleh ke arahku secara tiba-tiba, hingga membuatku tersentak. AKu seperti orang yang tertangkap basah mencuri sesuatu. Dengan cepat, aku membuah wajah dan menatap ke jendela kamar rumah sakit yang tirainya belum lama dibukakan Ibuku.

Myungsoo masih menatapku tanpa berkedip. Tatapannya sangat menusuk, seperti ia sedang mengintimidasi diriku. Mencari sesuatu yang tersimpan pada pikiran dan batinku dan mengacak-acaknya. Ia mendengus pelan yang membuat senyum liciknya terlihat. Aku bias melihat semuanya dari ujung mataku yang mendelik ini.

Aku menerjapkan mataku, kemudian memasang ekspresi sedingin yang aku bisa. AKu bangkit sedikit dari posisiku. Meskipun aku sudah mendesis nyeri, Myungsoo hanya menatapku tanpa ekspresi. Bahkan, ia malah tersneyum aneh. Benar-benar! Laki-laki ini senang sekali melihat aku menderita!

Aku meremas kuat selimutku untuk melampiaskan rasa nyeri pada punggungku. Aku menatapnya dengan mata menyipit dan raut wajah dingin yang dibuat-buat.

“Kenapa kau di sini?” tanyaku denagn tenggorokkan yang begitu kering.

Aku dapat mendengar ia mengembuskan napas malasnya. “Menolong dirimu yang sudah lembab di dalam laboratorium.” Ia menjawab tanpa nada, tanpa ekspresi.

“Darimana kau bisa tahu aku di sana?” tanyaku tanpa menatapnya.

“Karena pintu utama laboratorium terbuka lebar. Aku kira masih ada orang di sana. Dan bernar saja, kau terkunci di dalam ruang pengembangbiakkan bakteri.” jelasnya santai.

Aku terdiam sebentar mendengar ucapannya. Kalau bukan dia yang menguncikanku di ruangan lembab itu, lalu siapa? Bukankah dirinya yang selama ini ingin aku mati secepatnya?

“Seseorang menculikku dan memasukkanku ke dalam ruangan itu. Semuanya gelap. Aku kira kau yang melakukan itu.” sahutku denag nsuara yang semakin lama semakin pelan. Tenggorokkanku sangat sakit, kepalaku pening, tatapanku mulai kabur.

Myungsoo mendengus pelan. Ia bangkit dair posisi duduknya, lalu mendekat ke arahku. Ia menumpu kedua tangannya di atas kasur ini. Aku bisa merasakan ia sedang menatapku dengan tatapan gelap dan tajamnya. “Atas dasar apa kau bisa seenaknya mengatakan bahwa orang tersebut adalah aku? Jadi, kau mengira aku adalah pelakunya?”

“Karena… karena kau yang paling ingin membunuhku agar aku tidak mengusik rencanamu. Rencana dimana kau ingin menginfeksi sahabatku.” Jawabku terbata. Aku tidak tahu kenapa aku menjadi takut sendirian. Seperti ada orang lain sedang mengintaiku. Bukan Myungsoo, tapi yang lain lagi. Seseorang yang tidak terlihat di sini.

“Bodoh,” Dengan santainya, Myungsoo meluncurkan kata tersebut ke arahku.

Merasa tidak terima, aku langsung menoleh ke arahnya dengan tatapan marah. “Ak…ku…”

Lidahku menjadi kelu ketika mataku langsung bertemu dengan matanya dengan jarang yang begitu dekat seperti ini. Ia menatapku sambil menunggu apa yang akan aku lontarkan pada dirinya. Namun, semua makian dan kemarahanku sudah tertelan habis ketika aku menatap matanya. Ada yang salah dengan bola matanya.

“Kau? Kau kenapa? Tidak bisa memaki? Atau, itu memang sudah fakta dirimu?” ujar Myungsoo santai. Ia menegakkan tubuhnya lagi. Kemudian, tersenyum mengejek. “Kalau begitu, aku pamit pulang. Sampaikan salamku pada Ibumu, Hyun Joo Rim.”

Myungsoo berbalik, kemudian berjalan meninggalkanku sendirian dengan suhu tubuh yang semakin tinggi. Suhu tubuhku meninggi, namun tubuhku semakin menggigil. Kepalaku semakin berat. Tenggrokkanku seperti terluka hingga terasa sangat perih. Mataku tidak bisa melihat sesuatu dengan pas.

Aku memijat dahi perlahan, kemudian menjilat bibirku. Bola mata Myungsoo sangat aneh. Ada yang salah denagn bola matanya. Bagaimana bisa matanya yang semulanya hitam keduanya, berubah menjadi keabuan pada mata kanannya di hadapanku?

Jika benar ia menggunakan softlens, seharusnya ada sesuatu yang terlihat bening di pelupuk matanya. Tapi, warna abu-abu itu muncul dari satu titik menjadi keseluruhan. Lensa mata laki-laki itu bisa berubah seperti bunglon.

Tapi, ini lebih mengerikan.

///

Aku hanya perlu dirawat di rumah sakit semalam saja. Hari ini aku memaksakan diriku untuk langsung masuk kuliah. Aku sakit bukan karena lembab dari ruangan itu, tetapi bakteri-bakteri yang sedang dikembangbiakkan itu terhirup olehku. Kemudian, membuatku seperti zombie. Kulitku terlihat pucat, mataku terlihat sayu, bibirku kering hingga kulitnya pecah, napas panas, dan masih banyak lagi.

Meskipun kelas sudah selesai, aku masih harus mengerjakan beberapa materi yang sempat tertinggal. Aku memang masuk kuliah hari ini, tetapi aku masuk pada pertengahan jam pelajaran setelah mendapat izin dari dosen dan Ibuku, tentunya.

Urara yang biasanya paling menyadari perubahan pada diriku bertindak semakin acuh. Ia hanya mendelik sekilas dan mengabaikanku begitu saja. Oke, aku tidak mengharapkan rasa belas kasihannya. Yang aku butuhkan dari hanyalah kemengertian diri terhadap Myungsoo yang sebenarnya jahat itu. Kemudian, berhenti menatapku seolah-olah akulah yang jahat. Baiklah akan aku ulang, Urara sepertinya sudah buta.

Bahkan, Myungsoo juga demikian. Ia mendelik ke arahku sekali saja, setelah itu tidak pernah lagi. Ia tidak pernah menatapku tajam seperti biasanya untuk hari ini. Bahkan, ia malah lebih sering membuang tatapan matanya. Mengingat hal itu, jadi ingat ketika aku menyaksikan bola matanya berubah warna denagn sendirinya. Dan, itu hanya terjadi pada sebelah mata saja.

Aku berjalan menyusuri trotoar jalan pulangku. Kemudian aku menatap taman yang g biasanya kujadikan tempat melamun dan menenangkan diriku. Ketika aku tenggelam dalam tatapanku sendiri terhadap taman itu, suara seseorang menyadarkanku hingga membuat tubuhku menggelinjang kaget.

“Mau mampir ke ayunan?” Suara itu terdengar seperti alunan yang menenangkan. Entahlah, mengapa aku mengatakan demikian. Kepalaku masih berat. Aku memang benar-benar belum sehat, atau lebih tepatnya sangat sakit.

Aku menoleh ke sumber suara. Mataku kembali berbayang dan tidak dapat melihat dengan baik siapa pemilik suara itu. Jadi, aku hanya memicingkan mataku dan bertanya, “Si-siapa?”

Laki-laki itu mendengus pelan, “Baru 3 hari tidak bertemu saja, kau sudah lupa padaku. Aku adalah laki-laki yang sempat menemanimu diayunan, dan kemudian kau memukulku. Kau lupa?”

Aku mencoba mengingat perlahan, meskipun kepalaku sudah berdenyut agar aku tidak memaksa. Baiklah, aku ingat. Kim Moonsoo, laki-laki ini adalah Kim Moonsoo. Sekarang, aku dapat melihat wajahnya yang mirip dengan Myungsoo. Hanya saja ia terlihat sedikit nirus.

“Moonsoo?”

“Tepat sekali. Baiklah, Joo Rim. Dari pada kita berdiri di sini menghalangi orang jalan, ayo kita ke ayunan. Dari wajahmu, sepertinya kau terlihat sedang tidak baik.” Moonsoo mengulurkan tangannya ke hadapanku sambil tersenyum tipis.

Ah, senyum itu mirip dengan senyum orang yang mengunciku di laboratorium. Apa jangan-jangan, Moonsoo pelakunya? Entahlah. Kepalaku yang berdenyut dan pening ini sedang tidak bisa di ajak untuk berpikir kritis.

Aku menatap tangan yang terulur itu, kemudian menyambutnya denagn tanagnku yang dingin dan bergetar. Sepertinya, demamku akan kembali naik malam ini.

///

“Kudengar kau masuk rumah sakit semalam. Hyeong bilang kondisimu sangat buruk, tapi kenapa kau sudah memaksakan diri masuk? Kalau aku jadi kau, aku akan menjadikan alas an sakit untuk libur dari kelas. Haha.” Moonsoo menyesap coffee cupnya dan terkekeh pelan.

Aku hanya diam dengan senyum tipis sebagai respon. Aku tidak tahu apakah orang sakit boleh minum kopi atau tidak, tapi aku memaksa untuk minum sekarang. Kami berdua duduk di ayunan yang bersebelahan seperti waktu itu.

“Omong-omong, kenapa kau bisa sakit sampai perawakanmu tidak ada bedanya dengan mayat hidup?” tanya Moonsoo datar.

Ah, sialan. Mayat hidup? Hmm… sepertinya aku sudah mengatakan hal itu pada diriku sendiri sebelum seseroang mengatakannya padaku secara blak-blakan seperti ini.

“Aku diculik dan dikunci di dalam ruangan pengembangbiakkan bakteri. Aku bisa sakit separah ini karena bakteri-bakteri yang sedang dikembangbiakkan itu terhirup olehku,” Aku menyahut beberapa menit kemudian. “Aku tidak mau asal menuduh. Tapi, aku hanya ingin memastikan saja. Moonsoo-ssi, apa kau pelakunya?”

Aku ingin menyilet lidahku ketika menanyakan hal yang sudah pasti belum terbukti itu. Aku hanya mengatakan demikian karena 1) Ia adalah adik dari Kim Myungsoo. Laki-laki yang ingin sekali melihatku menderita dan mati secara perlahan-lahan. 2) Senyum ceria Moonsoo mirip sekali dengan sneyum dari laki-laki yang menyekapku.

Moonsoo menoleh ke arahk udengan dahi yang mengernyit bingung. “Maksudmu? Kau menuduhku? Kau menuduh seseorang yang baru kenal denganmu? Atas dasar apa kau menuduhku?”

Atas dasar apa kau menuduhku?

Atas dasar apa kau bisa seenaknya mengatakan bahwa orang tersebut adalah aku?

Kedua kalimat itu yang memiliki kata penyusun yang berbeda, bahkan yang mengucapkannya juga berbeda. Tetapi, kenapa aku merasakan mereka berdua mengatakan hal yang sama? Apa ini yang dinamakan sugesti dan telepati kakak-beradik?

Aku terdiam kikuk. Aku mencoba menyesap kopi perlahan. Aku merasa malu ketika mendengar kalimat yang memiliki arti yang kurang lebih sama itu.

“Kenapa kau tidak menjawabku?” Suara Moonsoo membuatku kembali tersadar dari semua kekikukanku.

“Itu karena…” Aku mengembuskan napasku perlahan-lahan. “Kau adalah adik dari seorang Kim Myungsoo.” Baiklah, aku harus menjelaskan apa lagi? Haruskah aku menceritakan padanya bahwa kakaknya adalah psikopat yang mencoba membunuhku? Haruskah aku menceritakan bahwa kakaknya memiliki virus dan ingin menginfeksikannya pada temanku?

Aku rasa tidak. Tapi, aku harus mengucapkan satu dari pertanyaan-pertanyaan tadi.

“Memangnya kenapa jika aku adalah adik dari Myungsoo Hyeong?” Moonsoo memiringkan kepalanya kebingungann. Suaranya terdengar meninggi.

“Entahlah,” Aku mengembuskan napasku, kemudian menunduk. “Ia ingin sekali melihatku mati secara perlahan-lahan. Aku tidak tahu ada apa dengan pikirannya itu.”

Moonsoo terdiam. Terdengar deru napas kebingungan. Aku tidak tahu jawaban apa yang akan ia gunakan untuk menanggapi ucapanku. Mungkin dia kesal karena aku asal menuduh atau dia terkejut mendengar bahwa kakaknya seorang psikopat.

“Apa kau merasa demikian?” Moonsoo kembali berbicara setelah beberapa saat terdiam.

Aku menganggukkan kepalaku. Tanganku membeku karena angin yang bertiup membawa suhu dingin. Bahkan, aku seperti mati rasa. Kepalaku juga mulai tidak bisa berpikir banyak. Pandanganku mulai kabur.

“Bukan aku pelaku, begitu juga dengan Hyeo—“

“Ya! Hyun Joo Rim!”

Aku hanya mendengar itu saja. Pandanganku sudah mulai menggelap. Dapat kurasakan tubuhku terpelanting ke belakang, hingga terjatuh dari ayunan. Aku sempat melihat wajah Moonsoo yang mendekat karena panik.

Hingga akhirnya, aku seperti orang buta.

///

“Bakteri yang terhirup olehnya belum sepenuhnya memasuki fase kematian. Melainkan masih fase log. Bakteri-bakteri ini masih berkembang biak berkali-kali lipat. Sepertinya, system imun Joo Rim sedang menurun ketika terkunci di tempat tersebut. Karena sebelum-sebelumnya, gadis itu memiliki sistem imun yang terlalu kuat untuk ditembus.”

Aku hanya mendengarkan Dokter yang sedang menjelaskan singkat kepada ibuku di salah satu sisi ranjangku. Beruntung sekali, aku tidak dilarikan ke rumah sakit kembali. Aku tidak suka dengan bebauan obat di sana. Dan speertinya, Moonsoo yang membawaku pulang.

“Ia bisa melakukan aktivitasnya. Namun, jangan sampai diluar batasan tubuhnya. Ada beberapa obat yang harus ia minum untuk menghilangkan sakit kepalanya yang berkepanjangan. Selain itu, suhu tubuh akan mudah sekali berubah.”

Ibu terlihat mengangguk paham dengan apa yang dikatak oleh Dokter itu. Dokter itu mengambil sebuah kertas dan menggoreskan pulpennya dengan cepat, kemudian diakhiri dengan stempel klinik miliknya.

“Ini surat sakit yang bisa Joo Rim gunakan jika sewaktu-waktu ia kolaps atau kondisinya memburuk.” Dokter itu menyerahkan kertas yang sebelumnya ia gores dan diberikan stempel kepada Ibu.

Aku menatap punggung dokter itu dengan mata yang sedikit mengernyit. Oh, astaga! Ini bukanlah dokter yang dipanggil untuk memenuhi panggilan pasiennya. Melainkan, dokter ini adalah adik perempuan Ibu! Beliau adalah Hyun Chae Yong.

Dokter Hyun membalikkan badannya sebelum ia keluar dari kamar. Beliau menatapku denagn tersenyum hangat, kemudian menghampiriku. Tangannya yang agak kasar namun hangat itu, mengelus kepalaku lembut. “Cepat sembuh, Katarina.” Kemudian, Beliau mengecup pipiku.

Aku hanya bisa mengangguk lemas dan memasang senyum lelah. Ibuku menatapku dengan tatapan khawatir, meskipun ada sorot mata kelegaaan di sana. Aku memaksakan diriku untuk tersenyum lebih lebar. Senyum itu menandakan bahwa aku baik-baik saja. Padahal, aku tidak sebaik senyumku. Aku lelah dengan tubuhku yang lemah ini. Aku juga lelah dijauhi oleh sahabatku, serta dikuntit oleh seseorang.

///

Tengah malam. Ah, bukan. Ini sepertinya lebih pantas disebut dini hari. Aku terbangun karena mendengar suara gemersik kantong plastik yang biasanya aku letakkan di sudut kamarku. Ini bukan suara gemersik kantong yang terseret angin, melainkan seperti seseorang sedang menginjaknya.

Karena kepalaku masih sakit, tidak dapat fokus untuk mencari tombol lampu meja tidurku. Dari sudut ruangan itu, ada bayangan seseorang yang semakin lama semakin mendekat. Tubuh dari bayangan itu cukup tinggi dan sepertinya laki-laki.

Tunggu sebentar… Bagaimana bisa ada orang yang masuk ke dalam kamarku?

Aku menoleh ke arah jendela kamarku. Jendela tersebut terbuka, hingga membiarkan angin yang cukup dingin masuk ke dalam kamarku. Bayangan itu semakin lama mendekati tepi ranjangku.

Aku mencengkram selimutku gemetar. Tubuhku berkeringat karena panas, tapi aku merasakan kedinginan sekarang. Jantungku berdebar-debar tak terkendali. Ketika aku hendak berteriak, tubuh asli dari bayangan itu sudah berada dihadapanku.

Ternyata benar laki-laki, tapi…

“Jangan berteriak, gadis manis.” ujar laki-laki itu.

Kedua mataku membulat terkejut. Wajah laki-laki itu tidak terlihat familiar. Kulit laki-laki itu terasa sangat dingin. Bola matanya mengkilat keabuan seperti bola mata Myungsoo yang berubah dihadapanku. Tapi, laki-laki yang sedang membekapku ini bukanlah Myungsoo.

Laki-laki itu mendengus dengan alunan yang mengejek. “Aku tidak mengira kalau kau sedang sakit. Ini semakin memudahkanku untuk menyuntikan virus ke tubuhmu. Kemudian, menculikmu.”

Aku merinding mendengar ujarannya itu. Tangannya yang masih membekapku menekat keras. Laki-laki ini memiliki tujuan yang sama dengan Myungsoo, hanya saja target laki-laki yang sudah naik ke tempat tidurku ini adalah aku.

Sejujurnya, aku tahu posisi aku dan laki-laki misterius yang menyeramkan itu tidak enak dipandang. Tanganku yang lemas mulai bergerak menuju lehernya. Ketika berada di kondisi seperti ini, aku hanya bisa mengandalkan cara ini. Cara yang pernah diajarkan ayahku.

“Argh!” Ringisan laki-laki terdengar keras ketika aku mencubit kulit lehernya denagn keras, kemudian menekannya dengan kuku ibu jariku. Laki-laki bangkit sambil memegangi lehernya yang dapat aku pastikan terasa sangat nyeri itu.

“Joo Rim?!” Dari luar, terdengar suara Ibu yang terdenagr panik.

Aku tidak dapat menyahut dan masih menatap laki-laki itu terkejut. Dilehernya tidak terlihat bekas kuku-ku. Tapi, di lehernya terlihat jelas warna nadinya. Laki-laki ini terlihat seperti berkulit transparan. Nadi dan pembuluh darahnya terlihat cukup jelas.

“Gadis sialan!” umpatnya keras. Kemudian, ia bergegas menuju jendela kamarku. “Lihat saja nanti, kau akan mati secepatnya.”

Brak!

Tepat ketika laki-laki itu terjun, Ibu membuka kamarku. Ibu berlari kecil menghampiriku denagn sorot mata yang dipenuhi kekhawatiran. Beliau memelukku yang merasa kedinginan ini.

Tapi masalahnya, ini ‘kan lantai dua.

Love, kau tak apa?” tanyanya yang mengecup puncak kepalaku.

“Tidak, bu. Aku baik-baik saja.” jawabku membalas pelukan hangat ibuku. Hangatnya pelukan dari seorang ibu. Dimana ibu adalah orang yang paling mengerti anak-anaknya dari pasangan hidup.

“Tapi, tadi Ibu dengar ada suara teriakan. Apa benar kau baik-baik saja?” Ibu melepaskan pelukan hangatnya, kemudian mengamati perawakanku.

Jujur saja, aku tidak suka diperhatikan perawakanku. Maupun itu ibu atau bukan, tetap saja aku tidak suka. “Ibu, percaya pada Kat. Kat baik-baik saja.”

Aku memang baik-baik saja… hanya untuk saat ini. Tapi, aku tidak tahu apakah besok atau seterusnya aku akan baik-baik saja. Apalagi, aku baru saja bertatap langsung dnegan penguntit misterius yang ingin melakukan hal yang sama seperti yang direncanakan Myungsoo kepada Urara.

Atau jangan-jangan, laki-laki itu yang telah mengunciku di laboratorium waktu itu?

///

Karena kemarin sempat kolaps di taman, kini suhu tubuhku semakin meninggi. Tapi, aku tetap memaksakan diriku untuk tetap masuk kelas meskipun hanya sanggup setengah hari. Cuaca di luar terasa dingin karena embusan angin yang menandakan bahwa musim dingin akan segera tiba. Debu kuning juga mulai bertebangan hingga pada akhirnya menempel pada rambut.

Aku tahu Urara mengetahui bahwa aku sakit parah. Aku tahu ia memerhatikanku, namun gengsi untuk menjauhiku ia pertahankan. Sehingga, wajah dinginnya terhadapku masih ia pertahankan. Aku tidak mengerti kenapa ada orang sekeras kepala sepertinya, ketika ada masukan demi keselamatan dirinya.

Aku berjalan menyusuri lorong menuju ruangan sepi yang biasanya digunakan sebagai ruang tunggu mahasiswa pindahan baru. Aku berjalan ke sana karena aku bisa meminjam tempat tersebut–atas persetujuan dosen tentunya– untuk mengejar materi yang tertinggal pada jam makan siang seperti ini.

Aku berbohong! Aku pergi ke ruangan sepi tersebut karena Myungsoo memintaku ke sana. Dan, anehnya aku menurut saja. Meskipun, aku masih terkejut melihat matanya yang dapat berubah warna seperti sepuhan makanan.

Sepertinya, hari ini aku bisa masuk kelas satu hari penuh. Ya, meskipun kepalaku sering kali berkunang dan tatapanku berbayang. Sial! Kenapa bakteri-bakteri ini bisa berumru berhari-hari?! Dan, jenis bakteri apa saja yang terhirup olehku? Bacillus anthraxis? Tidak, aku sedang tidak sakit antraks. Lactobacillus casei? Oke, itu hanya untuk keju.

Sepertinya, sakit ini membuatku melindur dengan mudah.

Tanganku yang sedikit bergetar lesu menyentuh kenop pintu ruangan tersebut. Ruangan ini seperti ruang tamu rumah, hanya saja lebih kecil. Mataku yang melihat sekililing dengan berbayang ini, menatap Myungsoo yang sedang santai atas sofa ruangan tersebut.

“Aku kira kau tidak akan datang.” ujarnya sarkastik. Tidak ada tatapan tajam di sana, melainkan tatapan datar tanpa ekspresi.

Aku mengendus malas. Kepalaku sudah sakit, sekarang aku diajak bicara denagn nada menyindir seperti itu. “Ada apa? Aku tidak punya banyak waktu untuk mendnegar nada bicaramu. Aku harus segera pulang untuk checkup.” tanyaku tanpa memedulikan nada sarkastiknya.

Myungsoo mendengus, kemudian bangkit dari posisi duduknya. Kakinya melangkah mendekatiku. Kini, ia berdiri tepat di hadapanku dengan radius 50 senti meter. “Apa tadi malam ada laki-laki yang masuk kamarmu?”

Degh!

Mataku terbelalak seketika. Bagaimana dia bisa tahu? Bagaimana ia bisa mengetahui bahwa tadi malam ada seorang laki-laki misterius yang mengusikku? Aku masih menatapnya dalam diam. Sedangkan, tatapan matanya menunjukkan bahwa ia menunggu sahutan dariku.

“Dari mana kau tahu? Maksudku, jika itu benar. Kenapa kau bisa mengetahuinya?” Aku menyipitkan mataku menatapnya sinis.

“Jangan alihkan pembicaraan. Kau cukup jawab ‘ya’ atau ‘tidak’.” Myungsoo menatapku dingin. Baiklah, aku takut melihat bola matanya lagi.

“Tapi, bagaimana kau bisa tahu? Bagaimana kau bisa tahu alat rumahku, jika kau melihat semua kejadian itu?! Tunggu dulu. Kalau kau melihat juga, berarti selama ini ada dua orang laki-laki yang tidak berkepentingan berada di dalam kamarku?!” Aku tak henti-hentinya bertanya dengan nada meninggi pada Myungsoo. Kepalaku yang sudah sakit, semakin sakit.

“Jawab pertanyaanku sebelumnya, Joo Rim.” Myungsoo terus memaksaku untuk menjawab.

Jujur, aku merasa sangat terkejut. Ia bisa tahu apa yang terjadi pada diriku semalam. Padahal, aku yakin tidak ada siapapun di sana. Kecuali, laki-laki kemarin yang sama sialannya dengan laki-laki yang berpikiran seenaknya. Mulutku masih setengah menganga. Aku tidak mau menjawabnya sebelum ia menjelaskan bagaimana bisa ia mengetahui hal tersebut.

“Joo Rim.” Myungsoo menyebutkan namaku dengan nada yang lebih dingin lagi. Tangan kanannya merogoh saku celanannya. Oh tidak, sepertinya ia akan mengeluarkan pisau lagi.

“Baik!” Aku menyerah daripada aku harus digores pisau. Suaraku melemah akibat sakit kepalaku yang semakin mencengkam. “Ya! Seperti yang kau katakan, tadi malam ada laki-laki misterius yang mengusikku. Kau sudah puas mendengarnya sekarang?!”

Myungsoo memiringkan kepalanya dengan alis yang terangkat. Ia masih menatapku dengan tatapan mengintimidasi, tapi sebisa mungkin aku menjauhi tatapan itu. “Lalu, apa kau menceritakan sesuatu kepada Urara tentang mataku waktu itu?”

Mata.

Mulutku kembali terbungkam. Ia bisa mengetahui semuanya dengan akting bahwa tidak ada sesuatu yang terjadi. Namun, ia langsung memojokkan seseorang seperti ini. Ia menunggu jawabanku selanjutnya. Masalahnya, laki-laki ini kembali menuduhku. Dan ini, berhasil membuat kelenjar adrenalinku meningkat dan rasa marahku memuncak.

“Kenapa kau selalu menuduhku?!” Aku membentaknya keras. Di saat membentak itu, tubuhku hamper terjengkang ke belakang.

“Karena kau melihat warna bola mataku berubah kemarin.” sahut Myungsoo begitu santai.

Tanganku terkepal erat. “Karena aku melihatnya bukan berarti aku akan membeberkan hal tersebut ke siapapun. Aku saja yang melihatnya secara langsung hanya bisa terdiam. Aku tidak menceritakan tentang matamu dan tentang rencana jahatmu terhadap sahabatku. Atau lebih tepatnya mantan sahabatku.” Aku berujar dengan awalkan keras yang berujung suara serak. Oh tidak, aku ingin menangis sekarang.

Menangis karena ditinggal sahabat yang sudah buta akan segalanya. Kemudian, ia membenciku dan juga membuangku.

“Mantan sahabat?” tanyanya seperti orang yang baru tahu. Atau lebih tepatnya, berpura-pura baru tahu.

“Ya! Itu semua karena kau! Kau telah merubah sahabatku menjadi orang seperti itu. Orang yang buta karena perasaannya sendiri terhdap dirimu. Ia tidak pernah mau mendengarkanku berbicara. Dia tidak pernah mau berbicara padaku lagi! Lebih buruknya lagi, kini ia membenciku. Aku dibuang sahabatku sendiri, hanya karena kau, Kim Myungsoo!” Aku mengumpatkan semuanya kesal. Aku langsung menatap bola matanya. Aku tahu aku masih takut melihat, tapi untuk saat ini aku ingin ia melihat mataku yang berair ini.

Berair karena lelah dibuang seperti ini.

“Kau puaskan sekarang? Setiap kali kau menuduhku, aku sebenarnya tidak pernah melakukan apapun yang kau uraikan. Hingga pada akhirnya, kau selalu menggoreskan pisau kantongmu ke wajahku. Kau tidak tahu sakitnya dibuang sahabat karena ia sudah dekat dengan orang lain.”

Myungsoo masih diam menungguku menyelesaikan ucapkanku. Ekspresinya datar. Tidak ada ekspresi iba atau kasihan. Laki-laki ini memang tidak memiliki perasaan! Dasar psikopat!

“Jadi, bagaimana aku bisa mengatakan apa yang aku lihat terhadap dirimu, kelakuanmu, dan juga rencana jahatmu kepada Urara? Kalau ia saja tid—“

Kepalaku yang sudah terlalu sakit ini membuat tubuhku terhuyung ke depan. Kemudian, Myungsoo yang berada di hadapanku menangkap tubuhku yang jatuh ke depan itu. Aku kira ia akan menyingkir dari sana dan membiarkan diriku terjatuh membentur lantai. Tapi, pada kenyataannya ia menangkapku.

“Terima kasih,” Aku bergumam lemas. Kepalaku seperti dipukul dan aku bisa merasakan tubuhku menjadi mengigil sekarang. Kemudian, aku mencoba berdiri sendiri dan melepaskan dekapan refleksnya itu. Namun, ia tidak melepaskannya melainkan mengeratkannya.

“Diam,” ujarnya singkat.

Apa-apaan dia?!

“Myungsoo, lepaskan. Aku hanya terhuyung. Sekarang lepaskan, aku ingin pulang.” Aku memberontak lesu. Suhu badanku sepertinya semakin meninggi. Bahkan, sekarang aku tidak ada tenaga untuk mengepalkan tanganku.

“Kita sedang dalam bahaya sekarang. Tetaplah begini selama beberapa saat.” ujarnya dingin.

Aku tidak mengerti maksudnya. Ruangan ini kosong tidak ada siapapun. Apa dia melindur?

Aku tidak suka dipeluk seperti ini, apalagi oleh laki-laki ini. Aku menggunakankan tubuh lesuku untuk lepas darinya. Sepertinya, ia juga menyerah karena aku tidak berhenti memberontak. Myungsoo-pun melepaskan dekapannya.

Setelah lepas, aku berniat untuk menamparnya. Tapi, aku urungkan niatku itu. Karena bagaimanapun juga ia tidak membiarkanku terjatuh. Ia juga menolongku.

“Permisi.” ujarku dengan anda serak. Kemudian, melangkahkan kakiku meninggalkan ruangan itu dan juga Myungsoo yang masih berdiri di sana.

///

Keesokkan harinya, aku masih memaksakan tubuhku yang kurang menentu ini untuk masuk kuliah. Namun, sesuatu mengejutkanku. Semua teman-teman sekelasku menatapku dengan tatapan sinis, terkejut, benci, dan sambil berbisik-bisik. Aku tidak tahu apa yang membuat mereka semua menatapku demikian.

Aku terkejut melihat kondisi tempat dudukku sekarang. Sampah berjenis kertas memenuhi meja, kolong meja, serta kursiku. Aku menatap sekeliling bingung. Kenapa hanya mejaku saja yang kotor seperti ini?

Disaat aku sedang menyibak sedikit sampah berjenis kertas itu dari mejaku, aku menemukan sebuah amplop berwarna biru yang sengaja tidak di segel. Aku mengerutkan dahiku bingung. Aku kembali menatap konidisi kelasku yang semau orang menatapku sambil berbisik-bisik.

Akupun membuka amplop itu kemudian melihat isinya. Isi dari amplop itu membuat aku membisu dan membeku. Isinya adalah lima lembar foto. Dan foto-foto itu adalah foto dirikua dan Myungsoo yang sedang berpelukan. Ini pertanda tidak baik. Pasti Urara akan salah paham.

Foto ini diambil saat aku terhuyung jatuh kemarin dan Myungsoo menolongku.

Tapi, siapa yang memfotonya? Bukankah diruangan itu hanya ada aku dan Myungsoo saja?

To Be Continue

About fanfictionside

just me

4 thoughts on “FF/ CLAN/ INFINITE/ pt. 4

  1. ada orang misterius lagi, dan dia musuh siapa sebenarnya. para tokohnya disini semuanya seperti teka teki. kok sepertinya myunggsoo mulai suka ya sama sahabat urara

  2. Suka bgt am ekspresi myungsoo, bikin aww! Aku baru baca ini udah sreg ama ceritanya.. bagus thor, dtunggu kelanjutanny. 🙂

  3. kyaa.. ceritanya makin seru dan penuh dengan misteri thor.. aku suka >__< ditunggu yaa thor next partnya.. kalau bisa sih secepatnya karna aku penasaran banget sama cerita selanjutnya kaya gimana.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s