FF/ POOR BANGTAN/ BTS-BANGTAN/pt. 2


IMG_9763192194052

Title : “Poor Bangtan” Part 2

Author : Mao1004

Genre : Comedy, Yaoi(?) /pokoknya tentukan saja sendiri/

Cast :

  • All BTS member (Suga as main cast)
  • A.P Zelo
  • Yoon Shinrae (OC)

Lenght : Chaptered

Annyeong yeorobun~ author absurd namun kece kembali membawa keceriaan diharimu *-*)/ (abaikan)

Maaf munculin part 2-nya lama banget, soalnya author gak tau kalo ff ini jadinya dipost :’3 /lah

Liat respon yang bagus di part pertama bikin author terhura-hura dan terseduh-seduh(?) karena berarti author tidak gagal membuat readers ngakak :’) dan hal itu menjadi semangat author untuk melanjutkan cerita dan mengirimkan next part-nya *^*)9

Nah, segini dulu curhatnya author, maaf kalo kali ini curhatnya sedikit /eh, maksudnya maaf kalo part kali ini ceritanya agak sedikit, soalnya sengaja takut ntar next part gak ada bahan(?)

Dan sekali lagi maaf kalo ada typo dan kata-kata atau alur cerita yang menistakan cast, bukan maksud menjelekkan atau mengolok, semuanya JFF karena author juga fans para cast :’3 (?)

So, happy reading~^ ^

==================================================================================

Setelah sembilan bulan menghilang, Jin pun pulang bersama seseorang yang tak pernah ku kenal. Ah, rasanya rindu juga pada makhluk yang selalu membuat bulu kudukku berdiri mendadak ini.

“Yoongi.” panggil Jin padaku yang saat itu sedang merangkak untuk mengepel lantai rumahku.

“Oh, darimana saja kau?” tanyaku. “Aku dimarahi kedua orangtuamu karena kau pergi.”

Jin terdiam sejenak. “Aku ingin memperkenalkan seseorang padamu.”

“Hm?” aku berdiri. “Ya? Orang ini maksudmu?” aku menunjuk orang di samping Jin.

“Ini anak kita.” ucap Jin dengan mata berbinar. “Namanya Jimin.”

Ck, benar-benar gila! Maksudnya dia menyuruhku menghidupi satu manusia lagi di sini?! Ah, baiklah Min Yoongi, anggap ini sebagai lelucon, jalankan dramanya seperti apa yang Namjoon katakan.

“Maaf aku pergi terlalu lama. Aku hanya tidak ingin kau repot saat aku ha-”

“Cukup.” aku memotong kata-kata Jin. “Apakah aku hitam? Bagaimana bisa kau menjadikan dia sebagai anakku?!” tanyaku. Tampaknya aku mulai sinting dan tak normal juga.

Raut kesal tampak jelas di wajah anak bernama Jimin itu.

“Golongan darahmu?” tanyaku pada Jimin.

“A.”

“Margamu?”

“Park.”

“Sudah jelas, dia bukan anakku.”

“Tapi, setidaknya dia sama bantet sepertimu.” ucap Jin. Maksudnya? Bantet?

**

“Baiklah, aku akan menemuimu nanti. Ne, annyeong!” aku mengakhiri panggilan di hpku.

“Kau akan pergi?” tanya Jimin. “Kau tidak memikirkan perasaan istrimu?”

“Aku belum menikah. Dan aku normal, jadi wajar jika aku pergi menemui seorang perempuan. Ok?”

“Aku tahu kau memang keren dan sangat stylist. Tapi, sekarang kau bukan orang kaya lagi.”

“Lalu apa? Kau tak berhak mengatur hidupku.”

“Tentu saja aku berhak melarangmu, aku kan anakmu!”

Aku menjitak keningku. Ternyata dia juga sama sintingnya dengan keluarga Namjoon.

“Kalau begitu hormati aku sebagai ayahmu.” akupun memutuskan untuk pergi.

**

“Suga!” sapa Shinrae, perempuan yang menghubungiku tadi siang atau bisa disebut mantan kekasihku.

“Oh, Shinrae-ya.” aku berdiri menyambut kehadirannya.

Setelah cipika-cipiki melepaskan rasa rindu (?), kami pun memesan makanan lalu berbincang. Bukan membahas soal masa lalu, tapi dia ingin membantuku untuk bangkit kembali. Dia memang sangat baik, dia memang mantan terindahku. /eaaa

Tiba-tiba Jin dan Jimin datang menghampiri meja yang ku tempati.

“Min Yoongi!!” bentak Jin disertai suara petir yang menggelegar. Ini pasti perbuatan Jimin! Dia mengadu pada Jin dan menyeting suara petir itu di langit agar aku ketakutan!

Shinrae memasang wajah bingungnya. “Siapa lelaki tampan ini?” pertanyaan Shinrae membuat wajah Jin sedikit memerah.

Jimin menyiku lengan Jin karena Jin malah diam. “K-kau! Siapa dia?!” tanya Jin.

“Temanku, memangnya kenapa? Ada apa kalian menyusulku kemari?” tanyaku.

“A-aku dan Jimin.. kelaparan! Dan kau malah di sini, bersama perempuan ini!” ucap Jin terbata-bata. Aku tahu dia berbohong jika sudah seperti itu. “K-kau memang seorang… suami yang buruk!”

“APA?! Suami? Maksudnya?” Shinrae semakin kebingungan. Jin, Jimin, kalian benar-benar keterlaluan.

“Suga, katakan padaku kalau kau masih normal.”

“Ck, tentu saja aku masih normal, Shinrae-ya.”

“Suga, aku tahu kau pasti terpukul karena perusahaanmu bangkrut. Tapi, kenapa kau jadi seperti ini? Aku sangat ngeri melihatmu seperti ini, lebih baik kita batalkan saja kerjasamanya.”

“Shinrae-ya! Yoon Shinrae, ini tak seperti yang kau bayangkan!” aku berusaha mengejar Shinrae tapi Jin dan Jimin menarikku. Sial!

**

Setelah berhasil memergokiku dengan Shinrae, Jin dan Jimin membawaku ke gubuk Namjoon. Aish, benar-benar! Sebenarnya ini tak perlu dipermasalahkan bahkan bukan sebuah masalah jika mereka NORMAL!

“Apa lagi yang kau perbuat, Min Yoongi?” tanya Namjoon.

“Aku hanya menemui temanku agar aku bisa kembali membangun karirku. Apa itu salah?” tanyaku.

“Jin sangat mudah cemburu, harusnya kau minta persetujuan darinya sebelum pergi.” ucap Hoseok.

“Bisakah kalian melepaskanku? Biarkan aku menjalani hidupku sendiri.”

“Kau yang datang pada kami, bukan kami yang menarikmu. Dan kami sudah menganggapmu bagian dari kami.” ucap Namjoon.

“Kenapa harus dengan cara seperti ini?!” aku mulai frustasi dengan hidupku.

“Jin, siapa dia?” tanya Hoseok.

“Dia cucumu.” jawab Jin.

“Tahun berapa kau lahir, nak?” tanya Hoseok pada Jimin.

“1995.” jawab Jimin.

“Oh, hanya berbeda satu tahun. Kau terlalu tua untuk menjadi cucu kami, dan kami terlalu muda untuk menjadi kakek dan nenekmu.” ucap Hoseok. “Tapi, itu tidak masalah. Jadilah anak yang baik.” Hoseok menepuk-nepuk kepala Jimin pelan.

“Jin, mau kau apakan dia? Menghajarnya? Mencincangnya? Menguburnya hidup-hidup?” pertanyaan Namjoon membuat mataku yang sipit bisa terbelalak.

“Aku maafkan saja dia.” jawab Jin.

“Kau memang terlalu baik, Jin.” ucap Namjoon. “Yoongi, jangan kau ulangi lagi perbuatan burukmu.”

**

Aku, Jin dan Jimin pun kembali ke rumahku. Aku benar-benar kesal dengan perbuatan Jimin karena dia membuat kesempatan emas melayang begitu saja!

“Pasti kau yang memberitahu Jin, kan?” tanyaku pada Jimin.

“Tentu saja, itu agar kau jera.” jawab Jimin.

“Oh, jadi ceritanya kau ingin memberiku pelajaran?” tanyaku. “Aku akan menghukumu.”

“Ya! Kau tak bisa melakukan itu!”

“Tentu saja aku bisa. Kau bilang aku adalah ayahmu!”

“Bisakah kalian berhenti bertengkar?!” bentak Jin pada kami. “Yoongi, kau benar-benar tak suka pada Jimin karena dia hitam? Kau benar-benar tak mau mengakuinya?” aku terdiam, begitu pula dengan Jimin. Ini pertama kalinya aku melihat Jin marah.

“Aku akan pergi.” ucap Jin.

“Ya! Kau mau kemana lagi?” tanyaku.

“Bukan urusanmu. Lagipula kau kan sering bilang bahwa aku bukan istrimu.” Jin pun pergi. Ya, memang bukan urusanku tapi aku pasti dimarahi Namjoon lagi.

“Lihat apa yang kau perbuat.” ucap Jimin.

“Sudahlah, aku ingin istirahat.” aku pun pergi ke kamarku.

**

Keesokan harinya, aku melihat Jimin sedang menyapu. Ada untungnya juga dia di sini, jadi aku tak perlu membersihkan rumah lagi setiap pagi.

“Kau lapar?” tanyaku, mencoba lebih akrab dengan Jimin. Tentu aku sangat lelah jika harus ribut dengannya setiap hari.

Jimin menoleh ke arahku. “Tentu saja, ini ‘kan sudah masuk jam makan siang. Tapi, tidak ada makanan di sini.” Jimin melanjutkan kegiatan menyapunya.

“Aku akan mencari makan. Jika Namjoon dan Hoseok datang, jangan beritahu mereka kalau Jin pergi.” ucapku.

“Siapa itu Namjoon dan Hoseok?” tanya Jimin.

“Dua lelaki yang tinggal di sebuah gubuk kemarin.” jawabku.

“Oh, kakek dan nenekku?”

“Ya, terserah kau sajalah.”

“Lalu apa yang harus ku katakan?” tanya Jimin.

“Aku akan mencari makanan sambil mencari Jin. Bilang saja kalau kemarin Jin tersesat di hutan saat mencari kayu bakar, dan aku pergi mencarinya.”

“Ya, aku mengerti.”

**

Panas matahari yang menyengat dan debu yang lembut menerpa wajahku. Dengan tenaga yang ada aku berusaha bertahan dalam perjalanan mencari makanan untukku dan Jimin. Keringat mulai bercucuran dan aku harus tetap bertahan berjalan dengan sendal jepit yang hampir putus ini.

Aku pun melihat anak muda yang berteriak-teriak menawarkan dagangannya pada orang yang berlalu lalang di sekitar sini.

“Beli dua gratis satu! Beli dua gratis satu!” sekiranya itulah tawaran yang diberikan oleh seorang penjual kerak telur muda itu.

“Berapa harganya?” tanyaku.

“10 won.” jawabnya.

“Mahal sekali!”

“Kau akan mendapat satu dengan cuma-cuma.”

“Baiklah, ini.”

Aku memberikan uangku dan menerima tiga bungkus kerak telur yang cukup besar. Semoga saja porsi makan Jimin tidak lebih banyak dari satu setengah.

“Oh, kau Suga pemilik perusahaan penerbit itu, kan?” tanya penjual itu.

“Ya, tapi sekarang aku sudah bangkrut.” jawabku.

“Wah, aku tidak tahu… maklum saja aku tak ada tv ataupun radio di rumah, sementara iPhone ku tak bisa terhubung ke internet karena tak ada kuota. Hehe…” penjual itu nyengir kuda. “Namaku Zelo.” ia mengulurkan tangannya padaku dan kami berjabat tangan.

“Senang bertemu denganmu Suga-ssi.” ucap Zelo. Nama yang bagus untuk seorang pedagang kerak telur.

“Tadinya aku ingin menerbitkan sebuah karya tulisku… judulnya ‘Mengkonsumsi bambu setiap hari lebih cepat menambah tinggi badan’, menarik bukan?” tanya Zelo.

“Itukah caramu mendapat tinggi seperti sekarang ini?” tanyaku.

“Tentu saja. Faktor ekonomi yang mendesakku untuk mengkonsumsi bambu setiap hari. Aku memerlukan waktu 12 tahun untuk membeli iPhone. Jadi, agar tidak mengurangi tabunganku, aku memakan bambu yang banyak tumbuh di belakang rumahku.”

“Berapa usiamu sekarang?” tanyaku.

“19 tahun.”

“Selama 12 tahun kau sudah berjualan kerak telur?” tanyaku. “Dan hasilnya kau gunakan untuk membeli sebuah iPhone?”

“Ya, benar. Dengan fitur yang tersedia aku bisa mengedit fotoku agar tampak keren sehingga banyak perempuan yang menyukaiku. Miskin pun tak apa, asal tetap dicintai banyak orang.”

“Ada-ada saja kau ini. Hahaha..” aku tertawa mendengar penjelasannya.

“Awalnya aku dimarahi ibuku karena menghamburkan uang untuk membeli ponsel canggih ini.” Zelo melanjutkan ceritanya. “Tapi, setelah dia melihat foto-fotoku, akhirnya dialah yang sering menggunakan ponsel ini.”

“Ibumu pasti orang yang menyenangkan.”

“Tidak, dia menyebalkan. Aku selalu ribut dengannya. Tingkahnya bagaikan seorang anak bungsu, padahal sudah jelas akulah anak bungsunya. Lebih baik Uppie hyung saja yang menjadi ibu di keluargaku.”

“Tunggu… ibumu laki-laki?” tanyaku.

“Ya, namanya Kim Himchan. Kim-Him-Chan yang menyebalkan itu.”

Kim Himchan? Dia teman mainku dulu! Kenapa semuanya jadi tidak normal?!!!

**

“Aku pulang.” ucapku.

“Lama sekali…” ucap Jimin sambil mengelus perutnya.

Bersambung… (?)

Hanya segitu yang bisa author persembahkan kepada para readers, author tau kali ini tak sebanyak part 1. Tapi, tolong jangan hantui author, soalnya author takut. Nanti author usahakan memperbanyak persembahannya, ya. (?)

Readers suka ataukah kecewa sama part ini? Yang jelas responnya tetap ditunggu~ xp

Gamsahamnida~~~~~ /kiss bye(?)/

About fanfictionside

just me

5 thoughts on “FF/ POOR BANGTAN/ BTS-BANGTAN/pt. 2

  1. Kamu kasian yoongi oppa hidup dalam drama yang mengerikan.
    Bertemu dengan penjual kerak telur satu-satunya dikorea yang punya iPhone,punya anak hitam bantet pula,istri pecemburu nan sok manis,mertua yang naudzubillah.
    Ok buat author permainan diksinya bagus kok,ini ff genre yaoi yang pertama yang buat aku ngakak dan ngeri sendiri pas baca.
    Next chap

  2. Sumpah keren thor, gue baca ampe ketawa. Ngga punya tv tapi punya iphone, aduh -_-. Sumpah kasian yoonginya, kenapa berasa jadi semua abnormal wkwk

  3. Aduh ngakak, Jin ngatain Suga bantet xD
    Mana member B.A.P nyempil jd maho jg..
    Gpp kok nistain member BTS. Malah aku suka nistain bias sendiri #plakk

  4. ahh,
    lagi seru kenapa udahan -_-
    Ini smakin GILA😀
    yaampun, sumpah Namja di sini ga ada yg beres
    tingal Jeonkook nih
    apa Dia MASI WARAS ?😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s