FF/ HERO AND HEROINE/ BTS-BANGTAN/ pt. 5A


HERO-HEROINE-BTS (1)

Author: Anditia Nurul||Rating: PG-13||Length: Chaptered||Genre: School-life, Friendship, Romance, a bit comedy||Main Characters: (BTS) Suga/Yoongi, & (OC) Geum Hajin||Additional Characters: (BTS) Jin/Seokjin, (BTS) J-Hope/Hoseok, (BTS) Jimin & (FX) Sulli||Disclaimer: I own nothing but storyline and the OCs. Inspirated by a fiction story titled ‘Crazy’ By Emolicious. Original ver casted by (B1A4) Jinyoung & OC||A/N: Edited! Sorry if you still got typo(s). [!!!] Used some ‘frontal(?)’ words. Please don’t bash!

@@@@@

Suga tidak langsung mengantarku pulang, tapi… ia membawaku ke sebuah taman. Aku tahu taman ini, taman di dekat Anyang Middle School, sekolah Sujin, adikku. Laki-laki itu, Min Suga, keluar dari mobil dan berjalan menuju sebuah bangku taman yang berada di bawah pohon. Taman yang sepi, cocok untuk menyendiri. Belum lagi lampu taman yang menyala temaram, sangat mendukung suasana galau.

Aku sendiri masih duduk di dalam mobil Suga, memandangi laki-laki itu dari sini. Kau tahu? Terkadang laki-laki butuh waktu untuk dirinya sendiri. Karena itu, aku membiarkan Suga di sana. Walau sebenarnya, aku ingin menemaninya.

Uh? Ya, ampun! Tadi aku bilang apa? Ingin menemaninya?

Astaga…, lagi-lagi terbawa suasana!

Suga masih di sana, duduk di bangku taman itu. Kali ini kulihat dia tengah menghisap sebatang rokok sambil menatap kosong ke arah jalan. Beberapa kali kulihat ia menghembuskan asap rokoknya dari mulut kuat-kuat.

Terlihat sedang sangat memikirkan sesuatu.

Cih! Bodoh!

Dia tidak sekuat dan setegar kelihatannya.

Dari 7 milyar manusia di muka bumi ini, dia—Min Suga yang sok berkuasa di Shinhwa High School itu—galau hanya karena seorang gadis?!

Aku ulang!

Dia galau hanya karena seorang gadis?

Oh, ayolah, Min Suga! Mana dirimu yang biasanya?

Mana dirimu dan genk-mu yang selalu menjadi bahan perbincangan anak-anak se-Shinhwa setiap pagi?

ISH!

Entah kenapa, di satu sisi, aku kasihan melihat Suga sedih. Tapi, di sisi lain, aku juga tidak suka melihatnya sedih seperti ini. Seperti bukan Min Suga yang aku tahu.

Selama hampir 10 menit aku membiarkan dia duduk menyendiri. Kemudian, aku pun keluar dari mobil dan menghampirinya. Aku duduk di sampingnya, melihat ke arahnya.

“Hei! Kau mengenal gadis tadi?” tanyaku pura-pura tidak tahu.

Suga diam saja.

“A-Apa… apa gadis itu Park Chorong yang kau mimpikan malam itu?” tanyaku lagi.

Suga masih tetap diam.

“Ya, sudah kalau kau tidak mau cerita,” ujarku, lalu berdiri, berniat untuk beranjak kembali ke mobil, tapi… Suga langsung meraih tanganku. Sedikit terkejut, aku melihat ke arahnya dan kudapati ia menatapku dengan sepasang mata sipitnya itu.

“Temani aku,” pintanya lirih.

Aku menghela napas.

Perlahan, aku duduk di tempatku semula. Sepersekian detik setelah aku duduk, Suga melepas pegangan tangannya dari pergelangan tanganku.

“Bagaimana kau bisa mengenal gadis itu?” tanya Suga padaku, melihat ke arahku, kemudian menghisap rokoknya.

“A-Aku… aku kenalan dengannya di toilet rumah sakit ke-ketika kau mengusirku waktu itu,” jawabku.

Dia menghembuskan asap rokok dari mulutnya lagi.

“Waktu itu… dia bilang ingin menjenguk temannya. Tapi, tidak jadi, katanya…,” tambahku. “A-Aku rasa… dia ingin menjengukmu.”

“Cih!” umpat Suga singkat.

Hening sejenak.

“O, ya, Suga-ya, kenapa kau… kenapa kau tidak bilang kalau Himchan adalah kakakmu?” tanyaku.

Suga menghisap batang rokoknya—yang tersisa setengah—dalam-dalam, lalu bertanya, “Apa Seokjin yang memberitahukanmu hal itu?”

Aku pun mengangguk.

“Iya, dia memang kakakku.”

“Tapi, kenapa… waktu itu… kau memukulnya? Ma-maksudku, kenapa kau… terlihat seperti membencinya?”

Suga mengalihkan pandangannya dariku. Ia menatap lurus ke depan—mungkin memperhatikan mobilnya yang mengkilat itu. “Seokjin pasti juga sudah menceritakan hal itu, kan? Kenapa kau bertanya lagi?”

Iya, sih. Seokjin Sunbae memang sudah menceritakannya padaku. Tapi, darimana orang ini tahu kalau Seokjin Sunbae sudah menceritakan hal itu? Apa orang ini benar-benar bisa membaca pikiran?

Uh, ternyata kau misterius juga, ya, Suga.

Atau, kau sok-sok-an misterius supaya dibilang cool?

Week… bagaimana pun, kau itu tidak cool! Lebih cool Seokjin Sunbae, tahu!

“Chorong ternyata ada di Korea, ya? Dia tidak memberitahuku sama sekali kalau dia ada di sini,” ujar Suga kemudian, terdengar lirih. Dari samping, kulihat bibirnya membuat sebuah senyum getir.

Aku sedikit mengerti perasaan Suga saat ini. Pasti…, sedih sekali, ya? Gadis itu datang ke Seoul, tapi… dia tidak memberitahumu kalau dia ada di sini. Bahkan, dia seolah ragu atau mungkin memang tidak berniat untuk menemuimu.

Kuberanikan diriku untuk menyentuh bahu kirinya, lalu bertanya, “Kau… mencintai… Park Chorong?”

Suga menoleh padaku, menatapku dalam. Diperlakukan seperti itu olehnya, cukup membuatku agak risih. Buru-buru kuturunkan tanganku dari bahunya. Setelah memperhatikanku beberapa saat, ia kembali mengalihkan pandangannya ke arah depan.

“Ayo, pulang. Tempat ini seram,” katanya, mengalihkan pembicaraan. Ia kemudian berdiri, lalu berjalan menuju mobilnya seolah tidak terjadi apa-apa.

Tidak menjawab, artinya… iya, kan?

Berarti Suga masih mencintai Chorong.

Karena itu dia cemburu.

“Hei! Apa yang kau lakukan di situ? Kau mau aku tinggal, hah?” Ia berhenti sesaat sambil melihat ke arahku. Aku pun bergerak dari tempatku, menyusulnya.

“Huu~ bilang saja kau takut, kan?” ledekku saat aku berjalan di sampingnya.

“Kau sudah bosan hidup?” balasnya, sudah kembali pada jati dirinya: Suga-si-toko-emas-berjalan-yang-sok-berkuasa-di-Shinhwa-High-School.

“Suga penakut… yeyeyeye… Suga penakut… yeyeyeyeyeye…,” ledekku, lalu berlari mendahuluinya menuju mobil golden brown yang terparkir manis di tepi jalan raya.

“HEI! GEUM HAJIN! Kau benar-benar sudah bosan hidup?” geramnya. Masih berlari pelan menuju mobil sambil melihat ke arahnya, aku memeletkan lidahku.

“Weeek!”

“ISH! NAKAL!” Suga mengejarku. Buru-buru, aku membuka pintu mobilnya. Sialnya, pada saat aku mau masuk, kepalaku terantuk.

“JDUUUUT!” Bunyinya keras sekali.

“HAHAHAHA… RASAKAN!” tawa Suga penuh kemenangan. Aku hanya bisa melihat kesal ke arahnya, meringis sambil menggosok-gosok dahiku yang baru saja menerima ‘hadiah’. Sampai kami masuk ke dalam mobilnya pun, ia masih tertawa.

Tertawa lepas.

Well, ini pertama kalinya aku melihat Suga tertawa seperti itu.

Dia… tidak tampak seperti Suga-si-toko-emas-berjalan-yang-sok-berkuasa-di-Shinhwa-High-School.

Semakin diperhatikan dan dikenal, Suga tidak nakal-nakal juga. Dia cukup baik, walau lebih sering bikin jengkel. Romantis? Ya, sedikit…. Perhatian? Ehm, bisa dibilang Suga sudah cukup perhatian padaku. Yah, intinya, dia tidak nakal-nakal amat seperti yang aku kira sebelumnya.

Ditambah dengan dia tertawa lepas seperti ini, ada sensasi tersendiri. Seolah, aku ikut senang karena melihat dia tertawa. Setidaknya, aku berhasil membuatnya tidak merasa sedih seperti beberapa saat lalu. Hehehe.

“Hei! Kenapa kau memperhatikanku sambil senyum-senyum seperti itu?” tegur Suga membuatku tersadar kalau aku sedang memperhatikannya, BAHKAN SAMBIL TERSENYUM! AKU PASTI SUDAH GILA!

“Tidak!” elakku.

Ih! Kenapa juga aku mesti senyum-senyum melihat Suga tertawa?

Dia menatapku jahil. “Kau mulai suka padaku, ya?”

What?

“Ih! GR! Siapa yang suka padamu? Bukankah sudah sering aku bilang kalau aku tidak menyukaimu!”

“Bohong! Buktinya tadi kau senyum-senyum saat melihatku tadi.” Dia semakin menatapku jahil, seolah menggodaku.

“Iiiiih! Siapa yang senyum-senyum? Ish! Lebih baik kau segera nyalakan mesin mobilmu dan antar aku pulang!” elakku lagi, kemudian memukul kepalanya dengan kotak tisu dari karton yang berada di dashboard mobilnya. Ia meringis pelan.

“Iya, iya, Tuan putri,” katanya. Tiba-tiba saja pipiku terasa sedikit panas. Uuuh, kenapa aku tersipu-sipu karena diperlakukan seperti ini oleh si Mashimaro KW1?

AAAA! AKU TIDAK BOLEH SUKA PADA MIN SUGA!

TIDAK BOLEEEEEH!

HUWAAA… SEOKJIN SUNBAE, SELAMATKAN AKU!!!

@@@@@

Selama di perjalanan, aku dan Suga tidak terlalu banyak mengobrol. Aku sedang malas bicara. Dan, aku rasa dia juga sedang malas bicara. Sebagai ganti keributan di dalam mobil, Suga menyalakan alat pemutar musik di dashboard mobilnya. Tidak lama, intro lagu pertama pun terdengar.

Ya! Ini lagu Jang Miyeon, kan?” tebakku.

Suga menoleh sekilas padaku. “Iya.”

“Kau menyukai penyanyi itu? Jang Miyeon?”

“Ya. Kau?”

Aku membulatkan kedua mataku saking terkejutnya. “Benarkah? Sama! Aku dan eomma-ku penggemar Jang Miyeon. Aku dan eomma punya albumnya di rumah.”

Lagi, bertambah satu hal yang aku ketahui dari Suga. Dia ternyata penggemar Jang Miyeon, penyanyi wanita korea tempo dulu (A/N: ini ngarang, ya. Hehe). Sayang, Jang Miyeon sudah lama meninggal. Walau begitu, eomma masih suka memutar lagu-lagunya di rumah dan aku suka dengan lagu-lagunya itu.

“Penyanyi hebat,” gumam Suga.

“Ya. Suaranya khas. Sayang hidupnya tidak lama.”

“Ya,” sahut Suga. “Mungkin…, kalau dia masih hidup sampai sekarang, dia sudah jadi produser musik,” tambah Suga, membuatku sedikit terkejut.

“Sepertinya kau tahu banyak tentang penyanyi itu. Kau benar-benar fans beratnya?”

“Bisa dibilang seperti itu.”

Aku terkagum-kagum. “Whoa~, jarang sekali anak muda yang menyukai lagu-lagu lawas. Tapi, tidak kusangka kalau kau salah satunya.”

“Aku juga tidak menyangka kalau kau salah satunya,” balas Suga, membuatku tersenyum simpul. Kami berdua pun terdiam, mendengarkan lantunan suara indah dari Jang Miyeon. Sampai…, sekitar 15 menit kemudian, aku merasakan sesuatu.

“Suga-ya, aku mau ke toilet,” pintaku kepada Suga.

Sambil tetap fokus menyetir mobil dengan kecepatan yang bisa membuat jemuran terbang seperti di iklan-iklan, Suga membalas, “Untuk apa? Kau mau muntah?”

“Ya. Aku juga mau buang air.”

“Apa? Jangan-jangan sekarang kau bercel di mobilku,” katanya panik, tapi masih tetap fokus dengan kemudi.

“TIDAK!” elakku, “Aku mau buang air kecil, tau! Cepat, cari toilet umum!”

Suga mendengus sebal.

Tidak lama kemudian, ia memutar balik mobilnya, menyusuri jalanan yang kami lewati barusan. Lalu, begitu tiba di sebuah pertigaan, dia membelokkan mobilnya ke kiri. Ah, ya, aku tahu kemana tujuannya. Pasti toilet umum di dekat stadion.

“Cepat!” perintah Suga saat dia baru saja menepikan mobilnya di depan stadion. Buru-buru aku keluar dari mobilnya, kemudian berlari menuju toilet umum yang berada di bagian samping stadion. Letaknya agak jauh dari tempat Suga memarkirkan mobilnya.

Begitu tiba, tanpa basa-basi aku langsung masuk. Untunglah, lampunya menyala terang, jadi suasananya tidak menyeramkan. Setelah urusan selesai, aku pun keluar dari toilet, namun…

“Hei!” Ada 3 orang laki-laki yang tidak aku kenal, berdiri di depan toilet. “Kau pacarnya Suga?” tanya salah satu dari mereka, laki-laki bertubuh tinggi besar.

Aku terkejut. Bagaimana mereka bisa tahu kalau aku pacar Suga? A-Apa… apa jangan-jangan mereka… mereka ini musuh Suga? A-astagaaa!

“Tidak menjawab berarti iya, kan?!” ujarnya. Mampus! “Bawa dia!” lanjutnya. Dua orang dari temannya menghampiriku dan langsung menyergapku. Masing-masing dari mereka memegang lenganku kuat-kuat.

“YA! APA YANG KALIAN LAKUKAN? LEPASKAN!” Aku berusaha berontak.

“DIAM!” bentak laki-laki bertubuh kekar.

“ISH! PERCUMA KALIAN MENANGKAPKU! AKU TIDAK ADA HUBUNGAN APAPUN DENGAN MIN SUGA!”

“Bohong! Kami sudah beberapa hari ini mengikutimu. Kau pacarnya!”

Aaarrggh! Aku memang sudah yakin kalau suatu saat pasti aku akan mengalami hal ini. Menjadi pacar seorang laki-laki yang suka berkelahi dan punya musuh dimana-mana sungguh sangat berbahaya! Seperti di drama-drama yang biasa aku tonton, aku pasti akan dijadikan sandera untuk memancing Suga, lalu begitu Suga datang, mereka akan memukul Suga ramai-ramai.

HUWAAA!!!

“UKH!”

Karena tidak mau hal itu terjadi, aku berusaha melepaskan diri dengan menginjak kaki salah satu orang yang memegang kedua lenganku. Seperti harapanku, dia melepas pegangannya di lenganku, lalu laki-laki yang satu lagi aku dorong dan… aku berhasil lolos.

Sayang, kebebasanku hanya beberapa detik karena laki-laki bertubuh kekar itu berhasil menangkapku lagi.

“Jangan coba-coba kabur!” Dia menjambak rambutku.

“SUDAH KUBILANG AKU TIDAK ADA HUBUNGAN DENGAN MIN SUGA! LEPASKAN AKU! KALIAN SALAH ORANG!”

“PLAAAKKK!”

Dia menamparku. Perih sekali rasanya.

“TERSERAH KATAMU!” balasnya. “Kalian, bawa gadis ini ke mobil!” Lagi, dua orang yang tadi memegang lenganku, kembali melakukan hal itu padaku.

APA?

Mereka benar-benar mau menyanderaku.

Tidak!

TIDAK!

“SUGA-YA!!!” teriakku sekeras mungkin.

“Masih mau bohong padaku, hm? Kau memanggil Suga, kan? Berarti dia ada di sini. Bagus!”

“Berisik! Kalian akan mati kalau Suga tahu kalian memperlakukan aku seperti ini,” bentakku, menatap laki-laki bertubuh kekar itu tajam.

“Oh, ya? Kita lihat saja nanti!”

Mereka terus menyeretku menuju tempat mereka memarkir mobil, sedangkan aku masih berteriak-teriak memanggil Suga. Uuuh, awas saja kau, Min Suga! Kalau kau tidak menolongku dan aku mati di tangan mereka, aku akan menghantuimu seumur hidup!

“SUGA-YA!!!”

“Teriak saja terus! Panggil dia dan suruh berhadapan denganku!”

Kenapa kau tidak mendengar teriakanku, Min Suga?

Apa kau terlalu sibuk memikirkan Chorong sampai-sampai kau tidak memperhatikan berapa lama aku pergi ke toilet?

Grr… Min Suga, kau benar-benar….

“HEI!” Mendengar suara Suga, aku merasa lega. Akhirnya, dia mendengar teriakanku juga… huhuhu. Suga menghampiri laki-laki bertubuh kekar itu.

“Oh, ternyata kau benar-benar ada di sini!”

“APA YANG KALIAN LAKUKAN PADA PACARKU? LEPASKAN DIA!” bentak Suga. Laki-laki bertubuh kekar itu, menatap aku dan Suga bergantian.

“Suga-ssi,” ujarnya dengan nada meledek sambil pura-pura membersihkan debu di bahu kanan Suga, “Gadis itu tidak mengakuimu sebagai pacarnya. Jadi, untuk apa kau menolongnya? Berikan saja dia pada kami.”

“BUGH!” Tanpa diduga, Suga langsung memukul wajah laki-laki itu sampai laki-laki itu terjatuh. Wiiih, hebat! Kecil-kecil begitu, Suga ternyata bisa merubuhkan laki-laki yang lebih besar darinya.

Cool~

“DIA PACARKU, MENGERTI! JANGAN BERANI-BERANI MENYENTUHNYA KALAU KALIAN BELUM MAU MATI!” bentak Suga.

“CIH! Apa yang kalian lakukan? HAJAR DIA!” perintah laki-laki kekar pada dua orang temannya yang memegangku.

Beberapa detik kemudian, aku seperti menonton film action secara langsung dengan bintang utama Suga. Aku tidak tahu harus melakukan apa karena aku sendiri juga sudah kehabisan tenaga karena berontak dan berteriak-teriak memanggil Suga. Akhirnya, aku hanya bisa berdiri, menonton Suga berkelahi dengan 3 laki-laki tersebut.

“BUKH!”

“DUKH!

“AKH!”

“JDUUT!”

“HIAAAAATTT!”

“DZIIIGH”

“BRUUUK!”

Suga jatuh.

“ASTAGA!”

Aku menghampirinya.

“HAHAHA… HEH, GADIS JELEK, KAU LIHAT? PACARMU INI LEMAH!” ledek si laki-laki kekar sambil berkacak pinggang. Dia menatap Suga yang terduduk di tanah penuh rasa puas.

Aku melihat ke arahnya, “JUSTRU KALIAN YANG LEMAH! BERANINYA KEROYOKAN!”

“APA?” geram laki-laki itu. Kalau ini sedang syuting sinetron, saat laki-laki itu mengucapkan ‘APA?’, wajahnya akan di-shoot dengan kamera berlensa zoom yang diberi sedikit efek slow-motion dan musik dramatis.

“Heh! Apa yang kau lakukan? Kau mau mati, hah? Jangan menantangnya!” bisik Suga memperingatkan.

Aku melihat ke arah Suga dan balas berbisik, “Apa maksudmu?”

“Ah! Sudahlah! Aku hitung sampai 3, kita lari, oke?” bisik Suga lagi. Dengan sisa-sisa tenaganya, ia berdiri, “APA YANG KAU KATAKAN TADI? AKU LEMAH, HAH? JADI, BEGITU MENURUTMU?”

Apa-apaan Suga ini? Tadi dia melarangku menantang laki-laki kekar itu, sekarang dia yang malah menantang laki-laki itu.

“Satu…,” bisik Suga memulai hitungannya. Berdasarkan pengamatanku di film, kalau sudah seperti ini, Suga pasti berniat kabur.

“YA! CIH, TERNYATA CUMA SEGINI KEKUATANMU, HAH? RUPANYA ORANG-ORANG BOHONG PADAKU! KATA MEREKA KAU YANG PALING JAGO SE-SHINHWA! MANA?”

“MEREKA TIDAK BOHONG PADAMU, BODOH! AKU MEMANG YANG PALING JAGO! KAU HARUS CAMKAN DI KEPALAMU YANG ISINYA KENTUT ITU!”

Suga benar-benar sudah sinting! Dia masih sempat-sempatnya narsis dalam keadaan seperti ini.

“Dua,” bisik Suga lagi. Tangan kanannya memegang pergelangan tangan kiriku. Seiring dengan hitungan Suga yang semakin mendekati angka tiga, jantungku mulai berdetak tidak karuan. Sebentar lagi aku akan menjalani adegan kejar-kejaran seperti di film-film.

“APA KAU BILANG? KAU MENANTANGKU? AYO, MAJU SINI! AKAN KUHABISI KAU!”

“AKU YANG AKAN MENGHABISIMU! TAPI, TIDAK SEKARANG!” balas Suga, “TIGA!” tambahnya, lalu berlari menarikku.

“KEJAR MEREKA!”

Aku dan Suga berlari sekencang mungkin, sedangkan ketiga laki-laki itu terus mengejar kami. Sesekali aku melihat ke belakang, ingin tahu seberapa dekat jarak kami dengan ketiga laki-laki yang mengejar.

“HUWAA! MEREKA SEMAKIN DEKAT!”

“LARI LEBIH CEPAT!” ucap Suga sambil terus menarikku. Kami berlari keluar dari area stadion menuju kompleks perumahan yang ada di sekitar stadion. Perlahan, aku mulai ngos-ngosan begitu juga dengan Suga. Sementara, ketiga laki-laki itu masih mengejar kami.

“HEI! KALIAN BERDUA JANGAN LARI!” teriak mereka.

Semakin mereka berteriak, semakin Suga menyuruhku untuk berlari lebih cepat. Okelah, aku pernah menyombongkah kehebatan lariku, tapi… hhh… kali ini… hh….

“Uhh… aku… hh… tidak kuat lagi… hhh,” kataku.

“HEI! KALIAN BERHENTI!”

“Bertahanlah sebentar! Kau mau mati di tangan mereka, hah?”

Suga masih terus menyuruhku untuk berlari. Lalu, tiba-tiba saja dia menarikku masuk ke dalam sebuah gang kecil yang berada di antara dua rumah. Gang ini cukup gelap, memang cocok untuk tempat persembunyian.

“Jangan berisik,” bisik Suga.

Bagaimana aku bisa berisik kalau kau membenamkan wajahku di dadamu, hah?

Saat ini posisi aku dan Suga dalam posisi berpelukan. Eh, bukan berpelukan, ding! Tapi, Suga yang memelukku. Aku tidak balas memeluknya, jadi tidak bisa disebut berpelukan, kan? Mungkin maksudnya untuk melindungiku agar tidak terlihat oleh ketiga laki-laki itu, tapi apapun maksudnya, aku tidak peduli.

Di posisi yang seperti ini, aku lebih mempedulikan aroma tubuh Suga yang seolah menghipnotisku. Baunya wangi, tidak seperti bau laki-laki biasanya. Aku tidak tahu dia pakai parfum apa, tapi bisa jadi parfum mahal. Belum lagi, aku bisa merasakan deru nafas tersengal-sengal yang keluar dari hidung Suga di puncak kepalaku. Lembut sekali. Aku juga bisa mendengar detak jantungnya yang begitu cepat dan aku bisa merasakan kedua lengannya melingkari tubuhku.

Oh, astaga~

Romantis sekali~~~

Seperti di film-film.

Hohohoho.

Semakin lama berada di posisi ini, semakin aroma tubuh Suga menghipnotisku. Ah, bukan… sepertinya aroma ini mulai merusak sistem kerja otakku. Huaaa… aku jadi ingin terus berada di dalam posisi ini. Wanginya sexy sekali~~~

“Sepertinya hhh… sudah… hhh… aman.”

Entah kenapa aku mulai merasa nyaman berada di dekat laki-laki ini. Apa jangan-jangan aku mulai suka padanya?

HUWAAA! TIDAAAAKKK!!!

Aku langsung tersadar dan menjauhkan tubuhku dari tubuhnya.

“A-Apa mereka sudah pergi?” tanyaku.

“Ya… hh… sepertinya… begitu,” kata Suga. Kami lalu keluar dari gang itu, kemudian melihat-lihat ke sekitar. Ya, sepertinya mereka benar-benar sudah pergi, tapi

“Kau tidak apa-apa?” tanyaku pada Suga ketika dengan jelas kulihat wajahnya dihiasi luka lebam lagi. Bahkan, kedua sudut bibirnya terluka. Sudut kanan terlihat parah, sampai berdarah segala.

Suga menyeka darah itu dengan punggung tangannya. “Tidak apa-apa. Ini luka kecil.”

“Luka kecil apanya? Kalau infeksi bisa parah, Bodoh! Sebaiknya kita obati lukamu dulu.”

“Kalau begitu kita ke apartemenku. Apartemenku dekat dari sini.”

“Ya, tapi… apa kau bisa menyetir mobil dengan keadaan seperti ini?” tanyaku ragu. Melihat kondisinya seperti ini—berjalan saja dia mungkin sudah tidak sanggup—aku tidak yakin dia bisa menyetir. Kalau pun nekat, bisa bahaya.

“Taksi,” ucapnya. Ah, iya.

Aku merogoh saku celanaku, lalu menelepon taksi untuk segera menjemput kami. Hampir 10 menit menunggu, akhirnya taksi yang aku telepon datang. Aku membopong Suga masuk ke dalam taksi. Begitu kami duduk di dalam taksi, Suga menyebutkan alamat apartemennya.

“Hhh~” Aku menghela nafas. Sungguh melelahkan.

“PLUK!”

Tiba-tiba laki-laki ini, Min Suga menyandarkan kepalanya di bahu kananku. “Aku capek. Bangunkan aku kalau sudah sampai, oke?” Dan ia pun memejamkan matanya.

Kuperbaiki posisi dudukku, lalu kugeser posisi Suga sehingga ia tertidur di pangkuanku. Well, hari ini dia sudah saaaaaaaaaaangat baik padaku, jadi… aku rasa tidak ada salahnya kalau aku membalas kebaikannya hari ini dengan bertingkah seperti selayaknya seorang kekasih.

@@@@@

Aku dan Suga telah tiba di depan sebuah sebuah gedung apartemen di kawasan Dongjak-gu. Kubopong Suga keluar dari taksi, kemudian berjalan menyusuri lobi menuju lift. Karena sekarang sudah cukup malam, jadi hanya beberapa orang saja yang melihat ke arah kami yang memang menarik perhatian dengan Suga yang terlihat nyaris babak belur. Untungnya, ada salah satu pegawai apartemen itu yang membantu membopong Suga sampai ke kamarnya di lantai 4.

Keluar dari lift, aku dibantu pegawai apartemen itu masih membopong Suga menyusuri lorong di lantai 4, mencari kamar bernomor 44. Suga membisikkan kode pengunci otomatis pintunya padaku.

“CKLEK!”

Kuncinya pun terbuka.

“Ng, biar aku saja yang membopongnya masuk,” kataku pada si pegawai itu. Dia mengangguk, mengerti, kemudian meninggalkan kami.

Kubuka pintu ruang apartemen Suga lebar-lebar. Kubopong Suga masuk, namun… langkahku terhenti ketika kulihat bagian dalam ruang apartemen Suga. Mewah dan… berwarna golden brown!?

Aku tidak tahu apa yang membuat laki-laki ini sangat menyukai warna emas, tapi… karena kesukaannya itu, hampir semua barang di dalam rumahnya berwarna golden brown. Sofa, karpet bulu, beberapa pajangan dinding, taplak meja, bahkan… di atas meja yang berada di ruang tamu, ada beberapa bunga imitasi berwarna golden brown.

“A-Apa yang kau la-lakukan? Ke-kenapa berdiri di sini?” tegur Suga, membuatku sadar kalau aku harus segera mengurusnya terlebih dulu. Lekas kududukkaan Suga di sofa.

“Ng, dimana kotak obatmu?” tanyaku setelah ia duduk bersandar di sofanya.

“Hhh… dapur,” jawabnya.

Aku pun melesat menuju dapur sambil melihat-lihat bagian lain dari ruang apartemen ini, sekalian mencari dimana letak dapurnya. Aku kan tidak tahu dimana dapurnya. Setelah pencarian dapur yang membuatku hampir tersesat di apartemen Suga, akhirnya aku berhasil menemukan kotak obat.

“Plester, kapas, betadine, cairan antiseptic, cotton buds, gunting, kasa… Wah, lengkap sekali,” gumamku ketika melihat isi kotak obatnya. Ya, sebenarnya aku tidak perlu kaget. Aku seharusnya sudah bisa menebak isi kotak obatnya pastilah obat-obatan untuk mengobati luka setelah berkelahi.

Kubawa semua obat-obatan itu ke hadapan Suga, lalu kembali ke dapur untuk mengambil semangkuk air hangat dan selembar handuk untuk membersihkan lukanya terlebih dahulu. Setelah semuanya lengkap, aku siap menjadi ‘suster gadungan’.

“Lihat sini,” ucapku sambil mengalihkan wajah Suga ke arahku. Kuambil handuk yang telah kubasahi dengan air hangat, lalu kubersihkan luka-luka di wajah Suga.

“Akh! Sakit, Bodoh!” ringisnya.

“Tahan sedikit,” balasku.

“Kau terlalu kasar!” protesnya.

Aku mendengus. Ish! Masih untung aku mau membantumu membersihkan lukamu, Min Suga!

Seperti seorang suster sungguhan, dengan telaten aku membersihkan luka di wajah pasienku yang super bawel ini. Aku tidak tahu dia sengaja atau memang dia sungguh kesakitan, tapi… suara ringisannya itu benar-benar mengganggu. Belum lagi kalau ditambah omelan yang mengatakan kalau aku sebenarnya tidak cocok dilahirkan sebagai wanita karena terlalu kasar.

UGH! Ingin rasanya kusumpal mulutnya dengan kaus kaki.

“Memangnya siapa yang membersihkan lukamu kalau kau habis berkelahi?” tanyaku sambil mengoleskan sebatang cotton bud—yang telah diberikan betadine di salah satu ujungnya—di luka yang berada di sudut bibir Suga.

“Sssh,” desisnya menahan perih, “Ya, aku sendiri. Memangnya siapa lagi? Tapi, mulai sekarang, kau harus siap sedia kalau aku panggil untuk membersihkan lukaku,” katanya.

Aku melihat ke arahnya, kemudian dengan sengaja memencet luka di sudut bibirnya itu dengan cotton bud.

“AAAKKKH!” ringisnya kesakitan.

HAHAHAHA.

“Memangnya aku suster pribadimu?” ketusku.

“Tentu saja. Kau kan pacarku. Jadi, kau yang harus merawatku!” ucapnya dengan nada kesal.

“IH! Aku kan sudah bilang, aku tidak menyukaimu. Kenapa kau masih bersikeras kalau aku ini pacarmu?!”

“Aku tidak peduli kau suka atau tidak, yang penting, saat aku memintamu menjadi pacarku, kau mengatakan ‘mau!’. Nah, itu sudah cukup bagiku!”

Aku memanyunkan bibirku. Selalu saja dia menggunakan alasan itu. Dasar egois! Huh, kenapa juga hari itu aku mengatakan ‘mau’? Kalau aku mengatakan tidak, kan tidak akan begini jadinya. Uh, tapi… tidak ada gunanya juga menyesali semuanya. Aku sudah menjadi pacarnya, walaupun… aku sendiri belum menyukai pacarku ini.

“Sudah selesai,” seruku. Aku berniat merapikan peralatan yang aku pakai tadi, tiba-tiba Suga mencegahku.

“Kau juga terluka, Bodoh!” ujarnya. Dia merebut handuk basah yang aku pegang, kemudian mencelupkannya ke dalam mangkuk berisi air hangat.

Kusentuh pipiku kiriku yang memang sedikit terasa perih. Pasti bekas tamparan laki-laki gila tadi. Ternyata bekasnya masih terlihat, ya?

“Apa yang mereka lakukan padamu, hah?” tanya Suga. Tangan kirinya memegang daguku, sementara tangan kanannya dengan lembut membersihkan pipi kiriku dengan handuk basahnya.

“Tidak.”

“Kenapa kau menyembunyikannya? Katakan saja. Biar aku yang membalas apa yang mereka lakukan padamu!”

Aku terharu mendengar kalimatnya ini.

“Tidak usah.”

“Kenapa?”

Aku mengembuskan napas. “Sudahlah. Memangnya kau tidak capek berkelahi terus? Memangnya kau suka kalau wajahmu penuh luka, begitu? Kau suka kalau kau dipukuli? Jujur saja,aku tidak suka!”

Tiba-tiba dia berhenti melakukan kegiatannya, kemudian menatapku sambil tersenyum. “Baiklah, aku tidak akan membalas mereka,” ucapnya.

HAAA?

Apa laki-laki di depanku ini benar-benar Min Suga?

Kenapa… dia tiba-tiba bicara selembut itu padaku?

Bahkan, sambil tersenyum segala.

Dan… se-senyumannya itu manis sekali. Apalagi dalam jarak sedekat ini. Aku… aku jadi merasa seperti es krim yang meleleh.

DUH! Min Suga ini benar-benar berbahaya! Aku tidak boleh dekat-dekat dengan dia! Bisa-bisa aku jatuh cinta padanya. Huwaaaa… tidak boleh! Jangan sampai hal itu terjadi. Ih! Amit-amit!

Setelah membersihkan luka di pipiku, Suga kemudian menyingkap poniku, bermaksud untuk mengompres benjol di dahiku akibat terantuk di mobilnya tadi.

“Eh, ada luka di dahimu, ya?” tanyanya setelah melihat ada luka di dahiku.

Aku mengangguk. “Ya.”

Luka di dahiku adalah luka yang aku dapat ketika aku di Busan dulu. Luka yang disebabkan oleh beberapa anak nakal yang memukulku. Lagi pula, bentuknya jelek. Coba saja bentunyak seperti petir, akan terlihat sangat keren seperti bekas luka di dahi Harry Potter. Dengan begitu, aku bisa mengganti namaku menjadi Hajin Potter.

Aish! Apa yang aku pikirkan di saat-saat seperti ini!?

“Ckckck… dasar ceroboh!” ledeknya, masih telaten mengompres benjol di dahiku.

Kumanyunkan bibirku. “Uh! Luka ini sangat berharga bagiku, tahu!”

“Berharga kenapa?” tanyanya ingin tahu. Dia menghentikan kegiatannya, lalu menatapku.

Dengan malu-malu aku menjawab, “Luka ini… saksi bisu pertama kalinya aku bertemu cinta pertamaku.”

“Pfffft…” Dia menahan tawanya.

“ISH! Apanya yang lucu?” tanyaku kesal. Huh, kenapa juga aku mengatakan hal itu pada manusia tidak berperasaan seperti Suga? Dia mana mengerti arti cinta pertama?

“Kasihan sekali… hahaha. Saksi bisu cinta pertamamu adalah luka? Hahaha… sungguh bodoh!” ledeknya.

Aku memanyunkan bibirku lagi, lalu berkata, “Memang kau punya kenangan tentang cinta pertamamu? Kau pasti tidak punya, kan? Kasihan sekali~~” balasku.

“Siapa bilang aku tidak punya? Aku punya,” balasnya.

“Apa?” tanyaku dengan nada menantang.

“Aku tidak mau memberitahukan hal itu padamu. It’s my big secret!”

“Uhh~ curang!” Aku memanyunkan bibirku untuk ketiga kalinya.

Dia kembali mengompres benjol di dahiku setelah berhasil mengerjaiku. Pasti sebuah benda jelek. Benda jelek yang menjadi saksi cintanya pada Chorong. Uh~

“Sudah selesai,” katanya.

“Terima kasih,” ucapku gugup.

“Ya, sama-sama.

“Ma-maksudku… terima kasih untuk semuanya. Terima kasih sudah menyelamatkanku tadi,” ulangku lirih.

Lagi-lagi Suga tersenyum. “Tentu saja. Kau kan pacarku, jadi aku wajib melindungimu.”

“Ya.”

“Mulai sekarang, kau tidak usah cemas. Selama ada aku, tidak akan ada orang yang berani menyakitimu.”

“EH?” seruku terkejut.

Kalimat itu….

“Kenapa?” tanya Suga.

Aku menggeleng cepat. “Ah, Tidak.”

Kalimat yang diucapkan Suga barusan, persis dengan kalimat yang dikatakan laki-laki itu—cinta pertamaku—saat menolongku dari bocah-bocah nakal dulu. Uh, kebetulan yang aneh.

Dia kemudian berdiri. “Sudah malam sekali. Sebaiknya kau menginap di sini saja.”

Terkejut, aku mendongak untuk melihatnya. “Menginap?”

Terbayang dibenakku saat mendengar satu kata itu. Menginap di apartemen semewah ini, aku mau saja kalau pemiliknya seorang gadis. Tapi…, kalau laki-laki… apalagi Min Suga, bisa-bisa… terjadi hal yang mengancam masa depanku.

“Tidak mau!” tolakku sembari menyilangkan kedua tanganku di depan dada.

“Hei! Kau mau pulang sendiri naik taksi, hah? Kalau kau diperkosa, bagaimana? Tidak ada orang yang menyelamatkanmu!”

“Tapi, kalau aku tinggal di sini… kau… juga… bisa… melakukan hal yang… yang sama, kan?”

Suga mendengus, lalu melipat kedua tangannya di depan dada. “Heh! Aku ini laki-laki, bohong kalau tidak mau melakukan hal begituan! Tapi, aku ini masih tahu cara menghormati wanita!”

Tahu cara menghormati wanita katanya?

Membentakku setiap hari, memaksaku ikut dengannya dan hampir menjadikan aku pembantunya, itu yang dia sebut sebagai TAHU CARA MENGHORMATI WANITA?

OTAKNYA PASTI TIDAK BERES!

“Terserah kau saja. Kalau mau pulang sekarang, cari taksi sendiri dan bayar sendiri,” ucapnya kemudian berlalu dari hadapanku.

UKH! MIN SUGA INI BENAR-BENAR MENYEBALKAN!

“Baiklah, aku tetap di sini,” ucapku, kemudian menyusulnya.

Aku pun jadi menginap di apartemen super mewah ini. Dan seperti katanya, yah… dia lumayan tahulah bagaimana menghormati wanita. Dia menyuruhku tidur di kamarnya yang luasnya 2x dari dari kamarku. Sedangkan, dia sendiri tidur di kamar lain yang lebih kecil dan tanpa seprei.

Di kamar Suga—yang lagi-lagi didominasi warna golden brown—aku berbaring di atas tempat tidur berukuran king size yang saaaangat empuk. Sepreinya pun lembut. Aku bagaikan tidur di awan.

Belum lagi, aroma tubuh Suga yang menempel di permukaan seprei… huaaa… bisa-bisa malam ini aku memimpikan orang itu. Dan juga beberapa foto keren Suga terpajang di dinding kamarnya, aaaa… rasanya besok aku harus membawa pulang satu dari foto itu… hehehehe.

AISH! HAJIN-AH, INGAT! KAU TIDAK BOLEH MENYUKAI MIN SUGA! DIA ITU JELEK DAN MENYEBALKAN!

Berkali-kali kuperingatkan diriku agar tidak memikirkan Suga, tapi… aku malah semakin memikirkannya. Aku pun jadi tidak bisa tidur. Karena itu, kuputuskan untuk melihat-lihat isi kamar Suga.

Kudekati meja belajar Suga. Di atasnya ada tas sekolah, beberapa buku, ad sebuah kotak berukuran sedang, beberapa kotak rokok, eh… ada foto Jang Miyeon yang di-frame. Dia benar-benar fans berat Jang Miyeon. Dan… Ih! Apa ini? Ini kan majalah… Ish! Dasar porno! Otak mesum! Majalah beginian harus segera dimusnahkan dari kamar Suga! Bisa-bisa otaknya semakin mesum dari yang sekarang!

Selain benda-benda itu, ada beberapa lembar kertas partitur yang sedikit berserakan di sekitarnya.

Dia bisa bikin lagu ternyata.

Hebat.

Dibalik otak mesumnya, dia punya bakat yang bisa dibanggakan… hahaha.

Let me know~” gumamku saat kubaca judul lagu dari salah satu lembaran partitur itu. Kubaca terus mulai dari judul hingga ke lirik-liriknya, sampai… mataku terpaku pada sebaris tulisan kecil di bagian bawah lembaran partitur.

For Park Chorong?

Jadi, dia menulis lagu ini untuk Chorong?

Uh~

Aku tidak tahu, entah kenapa tiba-tiba aku merasa dadaku sedikit sesak. Aku tidak sedang cemburu, kan?

Kuletakkan kembali kertas partitur itu di tempatnya semula, kemudian aku kembali berbaring di atas tempat tidur Suga. Dadaku masih sesak, bahkan… pikiranku mulai agak gelisah.

Hey, ayolah… aku kan tidak suka Min Suga, jadi untuk apa aku cemburu?

Pasti ada yang salah dengan kinerja otakku.

AAARRGGGH!!! MENYEBALKAN!

-TaehyungBelumCebok (^/\^)-

Anditia Nurul ©2013

-Do not claim this as yours-

-Do not re-blog / re-post without permission-

A/N: Halo~ ^^/

Makasih ya atas komennya di chapter yang lalu. Maaf kalo balas komennya telat… hehe ^^V

Oh, ya, mungkin dari chapter ini, comedy-nya sudah agak berkurang. Soalnya, di chapter ini sudah menyentuh(?) masalah-masalah yang bertebaran(?) di FF ini. So, mulai dari chapter ini, ceritanya sudah agak serius(?)… hehe ^^v

Segitu aja sih yang mau aku bilang.

Thank you for reading.

P.S: Yang komen pasti orang kece… kkk~😄

About fanfictionside

just me

25 thoughts on “FF/ HERO AND HEROINE/ BTS-BANGTAN/ pt. 5A

  1. aku ketawa sendiri bacanya kkk~
    gak kebayang tidur diranjang dgn bau yoongi disana….aaaa iri jg sih sama hajin hahaha
    hajin kayanya emg udh suka suga dan suga apa blm bisa ngelupain chorong?
    next nya ditunggu thor ^^

  2. Yaaah pertahankan komedinya dong… ak suka kalo bnyak adegan lucu suga sama hajin.. adegan romancenya bkm dpt feelnya, hhh~

  3. Duh akhirnya update juga. Ff ini tambah keren dan tambah bikin gue senyum2 sendiri. Sampe capek bibir gue senyum trus heheh. Gue harap chapter 5b cepet di update biar gue gak jamuran.-.

  4. Oke karna aku kece aku komen :v
    Baru baca ff ini lucu pas liat TBC nya itu loh hahahahaha😀
    Ditunggu kelanjutannya, jangan lama lama ya min fighting😉

  5. aku suka banget ff ini. Akhirnya muncul juga, udh nunggu in lama juga. Ahh~~ makin cinta sama suga, ya author banyakin romance nya hajin-suga, ada comedy nya juga gapapa. Cepet di post part 5B nya ya authornim🙂 fighting

  6. huaaaaa authooorrr !! akhirnya keluar juga ^^ makin seru aja😀 ahahaha ciee ciee hajin mulai suka ama suga😉 pleaseee suga jadinya ama hajin yaaa😉 hehe^^ di tunggu lanjutannya, KEEP WRITING THOR!!!!!!! ^^

  7. huwaaa akhirnya ff ini apdet jugaaa yeayy\^^/
    aku baru baca walopun telat lima hari dari apdet xD

    cieee hajinn cieee ekhemm udah mulai suka nihh ciee
    makin lama tuh kapel makin lengket yeth makin saling ekhm nih😉
    lagian sih suga kenapa katakatamu romantis sekalee hajinnya kan jadi galau ama perasaanya sendiri wkwk
    eh iya itu kayanya si suga masih belum bisa mup on yak dari corong’-‘

    kaakkk aku tunggu part 5b nya yaaa. kalo bisa cepetannn udah gak sabar hihi xD
    keep writing and fighting^^9

  8. ahhh baru tau kalo hero and heroin udah diupdate>< huhu makin greget aja nih ff wkwk lanjut thor jan lama2 ya nanti keburu pikun aku nya lol

  9. Uhuuu… berarti ceritanya hajin dulu harus flashback nii… mmmmm apa yang nolong wktu itu suga??? Aaaa… klo bener kren nih ffnyaa… setelah emmmmm misalnya hajin cerita ttg lukanya itu… ah enggak enggak… tiba tiba suga kayak flashback gituu… pokonya sma sma flashback… mmmmm “luka itu tak asing bagiku..apakah dia cinta pertamaku yang kutunggu lama ???” Terus flashback dehh… hahahhhaha… itu sepertinya keren …. aduuuh bebeb suga makin keren aja… mmmm thor klo bisa sifat merokoknya diilangin aja thor…
    Jeballllll……… /\
    Aku yakin yang tentang cinta pertama nya suga itu hajin.. krna suga bilang its ny big secret….
    Jangan lama lama yaah lanjutannyaaa…. brapakali updtethor??? Sebulan sekali????????? Uang penting lanjut.. foghting!!!! Gogo chapter 5B….. :*

  10. Daebak tmbah kren ajja thor..udh ada romance x…
    Cie yng ibu nya penynyi (Jang miyeon) *nunjuk suga
    Cie yng cinta pertama x suga *nunjuk hajin
    Cie yng sok tw *nunjuk diri sendiri

    Next x lbih cpat ya thor…kepoo bingits.. perthankan yong-jin moment x ttap bnyak thor…lbih bnyak lbih baik…*dh tlat koment bnyak tngkah (mian thor😔😔)
    Fighting thor…

  11. KYAAAAAAA~~~~~~chingu..aq sukaaaa bnget ma ff mu….mian bru bsa comment..coz q bru“ bbrapa hri ini bca..cerita nya keren + lucu abiieezzz.. fighting…

    o ya slm knal…🙂

  12. Oke gw kaget waktu tw part 5b udh ada, jadilah gw baca ulang chapter ini ahahah

    Dannn ternyta gw gak bosen bacanya wkwkwkw

    Btw ada bagian ah maksd gw kalimat yg kayaknya punya arti yg sama jadi gaj ush d tulis dobel2🙂
    Kalimat waktu suga sedih d taman, hajin bilang “di satu sisi aku kasihan melihat suga sedih, tpi di sisi lain aku tidak suka melihatnya sedih”
    Nah itu pada intinya hajin gak sukanliat suga sedihkan? Jadi kayaknya enaknya gak ush d dobel2 deh nulisnya🙂

    Oh iya, aku jga pernah loh baca crazy😀 ceritanya lucu lolol

  13. kaaa~
    di bagian adegan kejar2annya keren, seru bgt😀
    hayoo Hajin mulai kejebak perasaan tuh sama Suga😀 wkwkwk

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s