FF/ 30DAYS CUPID/ BTS-BANGTAN/ pt. 8


30 DAYS CUPID (1)

Author: Anditia Nurul||Rating: PG-13||Length: Chaptered||Genre: Fantasy, School-life, Friendship||Main Characters: (BTS) Jungkook, (BTS) Jin/Seokjin, (BTS) V/Taehyung & (OC) Oh Shina||Additional Characters: (OC) Jeon Junmi, (BTS) Suga/Yoongi, (Girl’s Day) Minah||Disclaimer: I own nothing but storyline and the OCs. Inspirated by film My Name Is Love, Tooth Fairy 2 & Korean Drama 49 Days||A/N: Edited! Sorry if you still got typo(s).

“Saat ini kau adalah cupid-30-hari. Kau akan diberi kesempatan selama 30 hari untuk menjalankan hukumanmu. Jika kau gagal, kau tidak akan hidup sebagai manusia lagi. Kau akan menjadi cupid selamanya.”

HAPPY READING \(^O^)/

@@@@@

Jungkook terlihat duduk di tepi tempat tidurnya. Menikmati irisan apel yang baru saja dibawakan Junmi untuknya. Pemuda itu sudah terlihat membaik hari ini. Wajahnya tidak terlalu pucat lagi, suhu tubuhnya pun mulai menurun mendekati suhu tubuh normal. Meski begitu, ia masih nampak lemas.

“Tok! Tok!”

Terdengar suara ketukan pintu dan sepersekian detik kemudian, pintu kamar Jungkook terbuka. Pemuda yang tengah sakit itu sedikit terkejut mendapati sahabatnya, Taehyung, berjalan masuk ke dalam kamarnya sambil membawa sebuah bungkusan. Namun, hal yang lebih membuat Jungkook terkejut adalah… seorang gadis yang berjalan di belakang Taehyung sambil membawa parcel buah.

“Bagaimana kabarmu, Brother?” tanya Taehyung, duduk di sebelah Jungkook. Tangan kanan pemuda itu memegang bahu kiri Jungkook.

Jungkook mengulum senyum. “Sudah agak mendingan,” jawabnya.

“Baguslah kalau begitu,” komentar Taehyung. “Oh, ya, aku datang bersama Shina ke sini. Tidak apa-apa, kan!? Dia… mau melihat keadaanmu.”

Pemuda berambut merah marun itu melihat ke arah Shina sejenak, mendapati gadis itu tersenyum canggung padanya.

“Semoga kau cepat sembuh, Jungkook-ssi,” ujar gadis itu kalem.

Jungkook mengangguk pelan, lalu berkata, “Ya, terima kasih.”

“Oh, ya, aku membawa roti dan biskuit kesukaanmu,” Taehyung mengambil alih pembicaraan seraya meletakkan bungkusan yang dibawanya di atas nakas, “Dan, Shina membawakan buah untukmu~” lanjut pemuda berambut light caramel itu, mengambil parcel dari tangan Shina, kemudian meletakkannya di atas nakas, berdekatan dengan bungkusannya.

“Terima kasih,” ucap Jungkook sekali lagi. “Oh, ya, kau bisa duduk di situ, Shina-ssi~” kata Jungkook, menunjuk kursi di dekat meja belajarnya ketika menyadari Shina masih saja berdiri di dalam kamarnya.

Gadis manis itu mengangguk pelan, lalu duduk di tempat yang dimaksud Jungkook.

“Bagaimana dengan acara perkemahan?” tanya Jungkook.

“Seperti yang aku bilang, Brother, acaranya seru. Sayang sekali kau tidak bisa ikut sampai selesai. Waktu pulang tadi kita bahkan sempat mampir ke kebun binatang. Aku benar-benar sangat menyayangkan kau tidak bisa ikut.”

Lagi-lagi Jungkook hanya mengulum senyumnya. “Ya, kedengarannya menyenangkan. Sayang aku tidak bisa ikut.”

“Maaf,” ucap Shina tiba-tiba, sontak membuat 2 pemuda di dekatnya melihat ke arahnya, “gara-gara aku, kau jadi tidak bisa ikut acara perkemahan sampai selesai~” lanjut gadis manis itu.

“Tidak usah dipikirkan. Aku memang sedang sakit saat ikut perkemahan. Bukan salahmu,” kata Jungkook, membuat Taehyung cukup terkejut mendengarnya. Oh, wow, Jungkook berbicara dengan nada yang tidak ketus pada Shina!? Apa mungkin orang ini sudah berubah!? Atau mungkin hujan yang membasahi tubuhnya saat di hutan itu sukses melunturkan perasaan bencinya pada Shina!?

Entahlah. Hanya Jungkook dan Tuhan yang tahu.

“Kalau begitu… terima kasih,” ucap gadis itu kemudian.

Jungkook hanya mengangguk saja.

“Oh, ya, apa besok kau sudah bisa masuk sekolah, Jungkook-ah?” Lagi-lagi Taehyung mengambil alih pembicaraan.

Jungkook menghela napas. “Entahlah. Kalau keadaanku baik-baik saja, aku akan masuk sekolah.”

Taehyung mengangguk paham. “Hmm, ya. Sebaiknya tidak usah paksakan dirimu untuk masuk kalau kau masih butuh istirahat,” pesan Taehyung, menepuk-nepuk pundak Jungkook.

“Ya, aku tahu.”

Jungkook dan Taehyung terlihat asik berbicara satu sama lain, meski Taehyung lebih sering menguasai pembicaraan. Sesekali Shina ikut berbicara—jika ditanya oleh Taehyung. Tidak terlalu lama Taehyung dan Shina menjenguk Jungkook. Toh, mereka tahu bahwa Jungkook masih butuh istirahat.

“Hmm… kalau begitu aku pulang sekarang, Jungkook-ah~” kata Taehyung berdiri dari duduknya.

Jungkook mengulum senyum. “Ya, terima kasih sudah datang,” katanya. “Kau juga Shina-ssi. Terima kasih sudah datang.”

Gadis itu pun membalas dengan sebuah senyuman, lalu berkata, “Ya. Semoga cepat sembuh~” katanya untuk kedua kalinya hari ini.

Jungkook mengangguk lagi.

“Oke. Istirahatlah yang banyak supaya besok kau bisa masuk sekolah,” pesan Taehyung. “Kami pulang dulu,” pamit pemuda itu.

Taehyung melangkah duluan meninggalkan kamar Jungkook, disusul Shina yang berjalan di belakangnya. Gadis itu sempat melihat ke arah Jungkook sebelum menutup pintu kamar pemuda itu, mengangguk sambil tersenyum. Dan…, Jungkook membalas senyuman itu.

Oh, ya, mungkin kebenciannya pada Shina benar-benat sudah luntur oleh hujan.

@@@@@

“Eungh~”

Jungkook terbangun begitu menyadari ada seseorang yang menyentuh dahinya. Perlahan ia membuka kedua matanya, mendapati noona-nya berdiri di sisi tempat tidur dengan tangan kanan menyentuh dahinya. Tampak gadis itu sudah berpakaian rapi, bersiap untuk ke kantor.

“Ah, apa aku membangunkanmu?” tanya Junmi, agak terkejut melihat Jungkook membuka kedua matanya. Lekas gadis itu menyingkirkan tangannya dari dahi Jungkook.

Jungkook menggeleng pelan.

“Tubuhmu masih sedikit hangat. Sebaiknya hari ini kau tidak usah masuk sekolah,” kata Junmi. Pemuda berambut merah marun itu mengangguk.

“Itu sarapanmu. Kau harus makan. Jangan lupa minum obat,” pesan gadis itu. Lagi, Jungkook mengangguk.

“Hari ini noona tidak bisa menemanimu. Ada rapat penting dengan atasan. Kau… tidak apa-apa, kan, tinggal sendiri di rumah?” tanya Junmi, duduk di tepi tempat tidur, menatap Jungkook yang masih terbaring.

“Ya. Aku tidak apa-apa. Noona pergi saja.”

Seulas senyum terukir di wajah Junmi. “Baiklah. Kalau kau merasa tidak enak badan, lekas hubungi noona, oke!?”

“Ya~”

“Kalau begitu noona berangkat sekarang. Baik-baik di rumah, hm!?” pamit gadis itu, menepuk-nepuk pelan kaki kiri Jungkook yang tertutupi selimut coklat.

“Ya. Hati-hati di jalan, Noona~” balas Jungkook.

Sepeninggal Junmi, Jungkook mengambil posisi duduk. Menyibak selimutnya, membiarkan kedua kakinya menapak pada lantai. Pemuda berambut merah itu melihat sarapan yang sudah disediakan Junmi di atas nakasnya, semangkuk bubur dan air putih. Tidak lupa obat penurun panas dan vitamin berada di dekatnya.

Jungkook menghela napas.

Bukan! Bukan karena harus memakan makanan lembek dan meminum obat yang agak pahit itu. Tapi…, karena keadaannya yang sakit seperti ini, ruang geraknya menjadi terbatas untuk menjalankan misinya. Terlebih, saat ini waktunya tinggal 9 hari lagi.

God! Apa yang harus aku lakukan?

Jungkook menundukkan kepalanya, menatap lantai. Ia mengacak rambutnya, frustasi.

“Ehem!”

Seketika pemuda berambut merah itu menegakkan lehernya, mendapati sosok berpakaian merah muda berdiri di hadapannya. Jin.

“Apa yang harus aku lakukan sekarang, Jin? Waktuku tidak banyak lagi,” keluh Jungkook, menatap Jin sendu.

“Kau harus tenangkan pikiranmu agar kau cepat pulih, mengerti!?”

“Tapi, waktuku…”

“Karena itu, aku minta kau tenang. Yang penting sekarang adalah kau harus segera memulihkan keadaanmu,” kata Jin. “Aku akan membantumu sebisaku agar kau bisa menyelesaikan misi ketigamu.”

Jungkook mengerutkan keningnya. “Maksudmu? Apa… tidak apa-apa bagi cupid untuk membantu cupid-30-hari? Bukankah tugasmu hanya mengajari dan mengawasiku?”

“Aku tahu. Tapi, misi ketigamu ini sedikit berkaitan dengan masa laluku yang belum selesai saat aku terpaksa harus menjadi cupid.”

Pemuda berambut merah marun itu menatap Jin lamat, lalu berkata pelan, “Maksudmu… Junmi Noona?”

Jin mengangguk. “Ya. Aku akan menemuinya sekali lagi untuk menyelesaikan semuanya,” ucap Jin. “Ah, dan kau. Kau harus ingat bahwa kau tidak boleh membocorkan identitasmu. Junmi mulai curiga ada sesuatu yang kau sembunyikan darinya, mengerti?”

“Aku mengerti, tapi… bagaimana kau menemui Junmi Noona, hah? Kau mau berubah menjadi manusia lagi?”

Jin mengangguk. “Ya.”

“Lalu?”

“Aku akan datang menemui Junmi di kantornya atau mungkin… saat jam makan siang.”

“Bagaimana dengan Yoongi Hyung?” tanya Jungkook lagi.

Jin memutar kedua bola matanya, sedikit jengah. “Itu urusanmu. Aku hanya punya urusan dengan Junmi yang harus aku selesaikan. Karena itu, kau harus lekas sembuh, oke?”

“Ya, aku tahu.”

“Kalau begitu aku pergi dulu. Sampai ketemu lagi~” pamit Jin. Seperti biasa hanya meninggalkan selembar bulu sayapnya yang terayun-ayun lembut terbawa angin dan mendarat di atas kepala Jungkook.

Hah~ benar kata Jin. Aku harus menenangkan pikiranku agar lekas pulih.

@@@@@

Suasana di sebuah kantor akuntan di kawasan Mapo-gu terlihat cukup sepi. Hanya ada beberapa karyawan yang duduk di balik meja kerjanya, termasuk Junmi. Ya, saat ini memang sedang jam makan siang, sebagian besar karyawan telah beranjak dari meja kantor untuk mengisi perut masing-masing.

“Junmi-ssi, kau tidak makan?” tanya Minah, si sekretaris, saat hendak berjalan menuju lift, melintas di depan meja Junmi dan mendapati gadis itu masih mengetik sesuatu.

Junmi mengalihkan pandangannya dari layar laptop sekilas, lalu menjawab, “Sebentar lagi, Minah-ssi. Tanggung.”

Okay. Kalau begitu akau duluan~” ujar Minah berlalu.

Gadis berambut sebahu itu kembali fokus menatap layar laptopnya. Terlihat lembar kerja Microsoft Excel dengan angka-angka yang terketik di dalam kolomnya. Masih ada sebaris kolom yang harus ia ketik sebelum ia mengambil haknya untuk makan siang. Sekitar 10 menit membiarkan jari-jemarinya beradu dengan keyboard, gadis itu pun beranjak untuk makan siang.

Menggunakan lift, gadis yang hari ini memakai baju oranye pastel turun ke lantai 1. Memilih untuk makan di restoran yang berada di lantai bawah dari pada harus jauh-jauh makan di luar gedung kantor. Setelah memesan makanan, gadis itu pun memilih duduk di sebuah meja yang tidak jauh dari tempat pemesanan. Dia bisa menikmati tayangan televisi sambil menunggu makanannya disajikan. Tapi, tiba-tiba…

“Jeon Junmi?”

Gadis itu mengalihkan pandangannya dari layar TV yang dipajang di tembok di sudut restoran ke arah seseorang yang menyebut namanya. Kedua iris gadis itu mendapat sosok Jin berdiri di dekat mejanya, menatapnya.

“K-Kau…?” gumam Junmi terkejut. Refleks gadis itu berdiri dari duduknya, hendak menjauh dari Jin—yang saat ini menjadi Seokjin, tapi… cupid itu lebih dulu meraih tangannya, mencegah gadis itu pergi.

“Aku ingin bicara sekali lagi denganmu. Hanya sebentar,” ucap Seokjin. Kedua tangannya masih memegang erat pergelangan tangan kanan Junmi. “Aku mohon~” lirihnya.

Junmi terpaku di tempatnya, menatap manik mata milik Seokjin. Gadis itu menggigiti bagian bawah bibirnya diam-diam. Ragu, antara ingin memenuhi permintaan Seokjin atau… tidak.

“Hanya sebentar, Jeon Junmi. Aku janji,” tambah Seokjin melihat ada kemungkinan Junmi akan menolak.

Gadis itu mengembuskan napasnya. “Tapi, tolong lepaskan tanganmu,” sahut gadis itu datar.

Seokjin mengangguk pelan, lalu melepaskan pegangannya dari pergelangan mungil gadis itu. Tidak lama, Junmi kembali duduk di tempatnya, disusul Seokjin yang duduk di bangku kosong yang berhadapan dengan gadis di dekatnya.

“Bagaimana kabar, Jungkook? Aku dengar dia sakit,” tanya Seokjin basa-basi.

Gadis itu agak menundukkan pandangannya, menghindari kontak mata dengan pemuda berkemeja biru tua di hadapannya. “Dia sudah mulai baikan,” jawab Junmi seadanya.

“Syukurlah kalau begitu,” ucap Seokjin. “Oh, ya, bagaimana kabarmu selama 6 tahun belakangan ini?” tanya Jin lagi.

“Baik.”

Seokjin mengangguk kecil. Jawaban singkat bernada dingin dari Junmi cukup membuatnya paham bahwa gadis itu terpaksa meladeninya berbicara. Tapi, Seokjin tidak boleh menyerah. Semua yang pernah terjadi di antara mereka harus selesai hari ini juga. Harus.

“Sekarang kau bekerja dimana?”

“Kupikir kau sudah tahu.”

Lagi-lagi Seokjin hanya mengangguk pelan. “Ya. Di lantai 6 gedung ini, kan!?”

Junmi tidak merespon.

“Oke. Aku tahu kau tidak begitu suka dengan kehadiranku sekarang. Aku mengerti. Tapi, aku datang menemuimu untuk menjelaskan apa yang pernah terjadi di masa lalu.”

Gadis itu sedikit mengangkat kepalanya untuk sedetik melakukan kontak mata dengan pemuda di hadapannya.

Seokjin lalu melanjutkan ucapannya, “Aku tahu 6 tahun lalu aku tiba-tiba menghilang dari sekolah. Tapi, itu terjadi bukan karena kemauanku, Junmi-ssi. Ada sesuatu yang terjadi padaku, tapi aku tidak bisa mengatakannya padamu.”

“Kenapa?” tanya Junmi datar.

“Aku… benar-benar tidak bisa mengatakannya.”

Junmi mendecih samar. Mungkin kalimat Seokjin terdengar klise di telinganya.

“Ya, aku tahu kau tidak akan semudah itu menerima ucapanku. Tapi, aku minta maaf, aku tidak bisa mengatakan alasan mengapa aku menghilang 6 tahun lalu.”

“Hanya untuk itu kau datang menemuiku?” tanya Junmi terkesan ketus.

Seokjin menggeleng. “Masih ada 1 lagi,” gumamnya.

Junmi menegakkan kepalanya, kali ini membiarkan dirinya membuat kontak mata dengan Seokjin. “Apa?” tanyanya, masih dengan suara datar.

“Tentang kau.”

Kedua mata gadis itu agak membulat. “Memangnya… kau mau tahu apa tentangku?”

“Kau… sudah punya kekasih?”

Junmi tidak atau mungkin belum ingin menjawab mengetahui bahwa saat ini seorang pelayan sedang menyajikan makanan pesanannya di atasnya. Setelah pelayan itu beranjak, Junmi menghela napas, lantas meraih gelas jus jeruk dan meminumnya sedikit.

“Kenapa kau bertanya seperti itu? Apa pentingnya untukmu?” Junmi bertanya balik.

“Aku hanya penasaran. Aku tidak pernah mendengar kabar kau dekat dengan seseorang belakangan ini,” tutur Seokjin.

Junmi menghela napas. “Jungkook yang bilang seperti itu padamu, hm?”

“Bukan. Anak itu tidak ada hubungannya dengan pertanyaan ini.”

“Bohong!” tuding Junmi yang belum menyentuh makanannya. “Pasti Jungkook yang memberitahumu hal itu, kan!?” tuduh Junmi. “Katakan padaku, apa yang kau rencanakan dengan Jungkook?”

Seokjin mengernyitkan dahinya, pura-pura tidak tahu arah bicara Junmi. “Apa maksudmu?”

“Kau jangan berlagak bodoh, Kim Seokjin! Kau pasti merencanakan sesuatu dengan Jungkook, kan!? Apapun yang kau rencanakan, aku mohon padamu, jangan libatkan adikku, mengerti?”

“Aku benar-benar tidak mengerti apa yang kau bicarakan, Jeon Junmi!” elak Seokjin.

Junmi memutar kedua bola matanya jengah. “Belakangan Jungkook selalu menanyakan tentang laki-laki di masa laluku. Apa bukan karena kau yang menyuruhnya?”

Seokjin tertawa samar. “Untuk apa aku menyuruhnya, hah? Tidak ada pentingnya untukku. Lagi pula, untuk apa aku menanyakan hal yang sudah aku ketahui!?”

“Maksudmu?”

Seokjin mencondongkan tubuhnya, menatap Junmi sedikit tajam. “Kita berdua tahu, di masa lalu, kau sangat menyukaiku!” tukasnya. “Dan sampai sekarang, kau masih menyukaiku. Aku benar, bukan?” Seokjin balik bertanya, lalu menunjukkan senyuman menyeringai.

“Lagi-lagi sok tahu!”

Entah untuk keberapa kalinya Seokjin tertawa samar. “Sudahlah. Berhenti mengelak dari perasaanmu sebenarnya. Kita sama-sama dewasa, tidak ada gunanya menyembunyikan perasaan. Lebih baik kau katakan terus terang bahwa apa yang aku bilang tadi memang benar. Kau… masih menyukaiku!”

Junmi menghirup dan mengembuskan napasnya beberapa kali untuk menenangkan dirinya. Tidak peduli makanan yang dipesannya belum tersentuh sama sekali. Meladeni Seokjin berbicara seperti membuat rasa laparnya menghilang. “Jika iya, kenapa?” tanyanya lirih.

“Kau mengaku juga akhirnya,” ucap Seokjin, lalu menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi. “Aku katakan padamu, Jeon Junmi, ada seseorang yang lebih pantas untuk kau sukai. Aku tidak akan menyuruhmu untuk berhenti menyukaiku atau apapun yang pernah aku katakan padamu 6 tahun yang lalu, tapi… aku benar-benar bukan orang yang pantas untuk kau sukai. Kau terlalu baik untuk laki-laki jahat sepertiku.”

“Lalu, apa maumu?”

Seokjin mengalihkan pandangannya sejenak ke arah samping, lantas kembali menatap Junmi. “Sudah cukup kau membuang-buang waktumu untuk seseorang sepertiku, Junmi. Aku ingin kau menyukai seseorang yang jauh lebih pantas untuk seorang gadis sebaik dirimu.”

“Maksudmu?”

“Kita sama-sama tahu bahwa sejak dulu ada seseorang yang selalu melindungimu, selalu membelamu dan selalu bersamamu.”

“Apa orang yang kau maksud adalah Min Yoongi?” tebak Junmi.

Seokjin tersenyum, lalu mengangguk.

“Tapi aku—”

“Cobalah untuk belajar menyukainya. Aku pikir, dia orang yang tepat untukmu,” potong Seokjin. “Karena jika kau terus menutup pintu hatimu untuk orang lain, aku… aku takut kau tidak akan bahagia.”

Junmi menghela napas. “Jadi…, kau datang menemuiku hanya untuk mengatakan sekali lagi bahwa aku harus berhenti menyukaimu dan belajar menyukai Min Yoongi? Begitu?”

“Aku tahu ini kedengarannya seperti paksaan untukmu, tapi… ini demi kebaikanmu,” tutur Seokjin. “Dan juga demi kebaikan adikmu,” lanjutnya dalam hati.

Junmi tertawa samar. “Aku tidak tahu apa kau bisa melakukannya. Aku sudah mencobanya, tapi… tidak pernah berhasil,” katanya. “Aku… memang masih menyukaimu.”

Seokjin mengangguk paham. “Aku tahu memang tidak mudah melupakan seseorang yang kita sukai. Itu sama saja dengan melupakan hal yang membuat kita bahagia, tapi… kalau kau berhasil melakukannya, kau akan mendapat kebahagiaan yang lebih dari itu. Berjanjilah padaku, Junmi, kau akan melupakanku untuk kebahagiaanmu yang sebenarnya.”

Junmi menggeleng pelan, menahan air di kedua pelupuk matanya. “Aku… benar-benar tidak bisa menjanjikan hal itu, Kim Seokjin. Aku… benar-benar tidak bisa berjanji.”

Dan tiba-tiba saja, Seokjin meraih tangan kanan Junmi, sukses membuat gadis itu terkejut. Menggenggam telapak tangan gadis itu erat. Kedua matanya menatap ke dalam manik mata gadis di hadapannya. “Kalau begitu, berjanjilah melakukan hal itu demi Jungkook,” pintanya. “Aku tahu menurutmu, ini tidak ada hubungannya dengan Jungkook. Tapi, sejujurnya, ini berhubungan dengan adikmu. Aku hanya tidak bisa mengatakan sebabnya.”

“….”

“Aku tahu kau sangat menyayangi Jungkook. Karena itu aku mohon, jika kau tidak bisa melakukan itu untuk dirimu, setidaknya lakukan itu demi Jungkook,” lirih Seokjin.

“….”

“Aku mohon, Junmi. Demi Jungkook.”

@@@@@

“Eungh~”

Jungkook terbangun dari tidurnya. Tiba-tiba saja ia merasa haus dan hal itu yang membuatnya terbangun di tengah malam. Di tengah cahaya temaram lampu duduk di atas nakas, pemuda itu bergerak mengambil posisi duduk, lantas meraih sebuah mug stainlees di atas nakas. Sayang, begitu Jungkook membuka penutup mug, ternyata air di dalamnya sudah habis.

Pemuda itu menghela napas. Tangan satunya ia gunakan untuk menyibak selimut, lantas bergerak turun dari tempat tidur. Kedua kakinya ia selipkan ke dalam sandal berwarna cokelat, kemudian mengayunkan langkah menuju pintu kamar.

“CKLEK!”

Jungkook keluar dari kamarnya dan mendapati televisi masih menyala meski lampu di ruangan itu telah di padam. Pemuda itu bergerak mendekati sofa, melihat Junmi tertidur di sana. Hei! Apa yang dilakukan Junmi Noona sampai dia ketiduran di sini? Dan sedetik kemudian, Jungkook mendapat jawaban atas pertanyaannya barusan.

Dilihatnya sebuah buku yang tertelungkup di atas tubuh gadis itu. Mungkin saja Junmi tertidur saat membaca buku itu. Ekor mata pemuda itu pun menangkap sebuah album tergeletak di atas meja. Kedua benda itu sukses mengusik rasa penasaran Jungkook. Membuat pemuda itu rela menahan haus yang membuatnya terbangun.

Perlahan, Jungkook duduk bersila di lantai di dekat sofa. Diletakkannya mug di atas meja, kemudian mengambil album foto dan meletakkan benda itu di atas pahanya. Tangannya bergerak membuka lembar demi lembar halaman album sembari memperhatikan satu per satu foto yang tertempel di dalamnya. Foto Junmi semasa SMA. Foto yang sebagian besar menampilkan foto Junmi berdua dengan Yoongi. Ya, Jungkook tahu, noona-nya bukan orang yang pandai berteman. Sama dengan dirinya, bukan? Tapi, dari dulu Jungkook tahu kalau Yoongi beruntung mempunyai teman seperti noona-nya.

Jungkook masih ingat, dulu Junmi pernah menceritakan bagaimana ia bisa berkenalan dengan Min Yoongi. Kejadiannya ketika mereka berdua sedang menjalani masa orientasi siswa baru di Paran High School.

Sekitar 7 tahun yang lalu, halaman sekolah Paran High School ditutupi oleh lautan manusia—para siswa-siswi baru yang sedang menjalani masa orientasi sekolah. Dengan patuh para anak baru itu mendengarkan apa yang disampaikan oleh senior mereka, meski ada beberapa yang sialnya mendapat hukuman karena datang terlambat atau mengenakan atribut yang tidak lengkap.

“Kau! Mana kalung dari biji kacang polong yang aku perintahkan kemarin? Kenapa aku tidak melihatnya, hah!?” seru seorang siswi—terlihat dari badge kelasnya, dia kelas 3—tampak galak memaki seorang adik kelasnya.

Sang adik kelas—yang juga seorang perempuan—menundukkan kepalanya sambil berkata pelan, “Aku… aku… tidak menemukan kacang polong, Sunbaenim. Kemarin… aku sudah mencarinya, tapi… aku tidak berhasil.”

Sang senior mendengus sebal. “Kalau begitu, hari ini kau harus aku hukum!”

“Dihukum?” gumam gadis itu lirih sembari mendongakkan kepalanya melihat wajah sang senior.

“Ya. Kau harus menangkap 4 ekor belalang di taman belakang sekolah!”

Sang adik kelas, Junmi, membulat kedua matanya. “Uh? Belalang?”

“Iya, belalang! Kau harus menangkap 4 ekor dalam waktu 30 menit.”

“Uh?”

“Dan waktumu dimulai dari sekarang!”

“Apa?”

“CEPAT PERGI CARI BELALANG!” bentak senior itu.

Junmi pun beranjak ke taman belakang seperti apa yang diperintahkan oleh senior galak itu. Meski kesal, tapi dia tidak bisa melawan. Toh, ini memang salahnya karena tidak bisa memenuhi apa yang diperintahkan oleh senior itu kemarin. Huh~

Tiba di taman belakang, Junmi terkejut. Bagaimana bisa sebuah sekolah memiliki sebuah taman-yang-tidak-bisa-disebut-sebagai-taman, hah? Rumputnya tinggi, terlihat kotor dan… ya, tempat yang cocok untuk hewan seperti belalang. Tapi, yang benar saja? Junmi harus mencari belalang di tempat ini? Di bawah sinar matahari yang siap menghitamkan kulitnya!? Aish! Senior itu benar-benar menyebalkan!

Sudah 20 menit Junmi berkeliaran di antara rerumputan tinggi yang membuat tubuh mungilnya nyaris tak terlihat. Bergerak ke sana kemari, mencari belalang yang hinggap di rerumputan, tapi… ia tidak melihat 1 pun. Dimana belalang-belalang itu?

“HAP!”

“YAAAA!!!”

Gadis itu menjerit ketika seseorang tiba lompat dari pohon dimana ia berdiri untuk beristirahat sejenak. Dilihatnya seorang pemuda berkulit putih, bermata sipit dengan rambut sedikit kecoklatan.

“K-Kau… kau siapa?” tanya Junmi takut-takut.

Pemuda itu tersenyum. Memperlihatkan deretan gigi putihnya. Manis. “Yoongi. Min Yoongi,” jawab pemuda itu. “Kau sendiri?”

“Jeo-Jeon Junmi.”

“Oh, Junmi. Apa yang kau lakukan di sini, hah?” tanya pemuda itu sambil berkacak pinggang.

“Itu… aku… aku disuruh mencari belalang.”

Pemuda itu mengangguk paham. “Kalau begitu, kita sama. Aku juga disuruh mencari belalang. Kau disuruh mencari berapa ekor?”

Junmi menunjukkan 4 jarinya seraya berkata, “Empat.”

“Oh, cuma 4. Aku malah disuruh mencari 10!” katanya.

“Kau disuruh mencari sebanyak itu, tapi… kenapa kau… terlihat santai?” tanya Junmi heran. Ya, seharusnya pemuda itu sibuk berkeliaran di antara rerumputan yang tinggi ini, kan!? Bukannya melompat dari atas pohon dan mengagetkan seseorang!

“Itu… karena…” pemuda itu menggantungkan ucapannya. Perlahan, ia berjalan mendekati Junmi. Setiap pemuda itu mengambil 1 langkah maju, Junmi mengambil 1 langkah mundur. Belum lagi pemuda itu menatapnya dengan tatapan yang… err… seperti ingin melakukan sesuatu yang tidak boleh dilakukan oleh orang terpelajar!

“Ka-kau… kau mau apa?” tanya Junmi panik. Gadis itu menyilangkan kedua tangannya di depan dada, melindungi sesuatu yang berharga miliknya. Tapi, pemuda itu tidak menjawab, malah terus melangkah dan melangkah.

“Uh!” Junmi mengerang pelan ketika tubuh mungilnya tertahan oleh batang pohon. Gawat! Ia tidak bisa mundur lagi. Dan dalam 1 gerakan cepat, pemuda bernama Yoongi itu mengunci pergerakan Junmi. Kedua tangannya ia letakkan di sisi kiri dan kanan kepala gadis itu, lantas membiarkan kedua matanya menatap 2 manik hitam milik Junmi. Tak lama, bibirnya menyunggingkan sebuah smirk.

“Aku… mau…” Yoongi lagi-lagi menggantungkan kalimatnya seraya tangan kanannya dengan jahil memainkan surai kehitaman milik Junmi. Gadis itu menelan ludah. Takut kalau apa yang ia pikirkan benar-benar terjadi.

Jangan-jangan… laki-laki ini mau—Oh! Tidak! Jangan!

“Aku… mau… mengambil ini!” Pemuda itu menunduk tiba-tiba, kemudian mengambil sesuatu di dekat kaki Junmi, lalu berdiri lagi. “TARAAAA!!!” serunya riang sembari menunjukkan sebuah botol yang di dalamnya terdapat 10, ah bukan, lebih dari 10 ekor belalang. Ya, lebih dari 10 ekor belalang.

Junmi mengerjap-ngerjapkan kedua matanya. Kaget. Bingung. Heran.

Sementara pemuda di hadapannya tertawa cengengesan. “Maaf membuatmu takut. Aku hanya bercanda,” katanya, membuyarkan keterkejutan, kebingungan dan keheranan Junmi.

“Uh, itu…, ya… tidak apa-apa,” sahut Junmi setelah sadar dengan apa yang baru saja terjadi. Pantas saja ia tidak berhasil menemukan 1 belalang pun. Rupanya… semua belalang itu sudah ditangkap oleh pemuda ini?

“Ya, sudah. Ayo kita menemui senior yang menyuruhmu itu.”

Dan keduanya pun beranjak dari taman-yang-tidak-bisa-disebut-sebagai-taman.

Jungkook mengulum senyum. Meski hanya mendengar ceritanya, tapi… Jungkook bisa membayangkan bahwa itu adalah suatu hal yang lucu. Junmi dan Yoongi berkenalan dan menjadi teman karena belalang. Benar-benar bodoh!

Setelah puas melihat isi album foto itu, Jungkook beralih ke arah sebuah buku yang tertelungkup di atas tubuh Junmi. Entah buku apa itu, tapi… Jungkook penasaran dengan isinya. Hati-hati pemuda itu menggerakkan tangannya mengambil buku, takut jika Junmi terbangun akibat pergerakan yang dibuatnya.

Beruntung, Junmi tertidur sangat lelap hingga tidak menyadari buku di atas tubuhnya telah berpindah ke tangan Jungkook. Pemuda itu membuka halaman pertama buku itu dan menemukan sebaris tulisan: JUNMI’S DIARY.

Untuk sesaat, pemuda itu merasa ragu, apakah ingin meneruskan membaca isi buku ini atau… berhenti. Bukankah… buku diary itu adalah… tempat dimana orang-orang biasanya menuliskan hal-hal yang bersifat rahasia!? Jungkook takut Junmi akan marah kalau tahu dia membaca buku diary-nya.

Tapi, di satu sisi, ia juga semakin penasaran. Bisa saja ia menemukan sesuatu yang bisa membantunya untuk segera menyelesaikan misi ketiganya.

Jungkook mengembuskan napasnya.

Maafkan aku, Noona. Aku membaca buku diary-mu.

@@@@@

Hari yang sangat cerah untuk Jungkook kembali ke sekolah setelah beberapa hari terbaring di rumahnya. Sinar matahari menelusup di antara dedaunan dan ranting pohon, kicau burung-burung yang bertengger di dahan dan udara yang masih cukup segar menyambut Jungkook yang saat ini berjalan menuju bangunan sekolah, melintasi halaman.

Sebenarnya, ia belum terlalu pulih betul. Tapi, berdiam diri di rumah—hanya berbaring dan makan bubur—cukup membuatnya merasa bosan. Karena itu, ia memutuskan untuk ke sekolah. Selain ada Taehyung yang menyebalkan, tapi selalu sukses membuatnya tidak akan merasa bosan, ia… juga harus melakukan 1 hal.

Semalam, Jin mengatakan bahwa kemarin siang ia bertemu dengan Junmi. Mereka membicarakan banyak hal, termasuk perasaan Junmi padanya. Tentu saja Jin juga mengatakan pada Jungkook bahwa ia memohon agar Junmi membuka perasaannya pada orang lain—dalam hal ini, Jin berharap orangnya adalah Yoongi. Bahkan, Jin meminta Junmi untuk berjanji padanya… demi Jungkook.

“Hei! Kenapa kau memaksa noona-ku seperti itu?” protes Jungkook semalam usai Jin mengatakan bahwa ia meminta Junmi berjanji.

“Aku tidak punya pilihan lain, Jungkook! Jika tidak begitu, aku takut Junmi akan terus terperangkap dengan perasaan masa lalunya. Kau mau kalau misi ke-3-mu ini gagal, hah? Kau mau jadi cupid?”

Jungkook menggeleng cepat seraya berkata, “Tentu saja aku tidak mau, Jin.”

“Lalu, kenapa protes?”

“Aku hanya tidak suka kau memaksa noona-ku melakukan hal yang tidak mau ia lakukan, terlebih demi aku.”

Jin memutar kedua bola matanya. “Sudahlah! Kau tidak perlu memikirkan itu. Sekarang kau hanya perlu memikirkan cara agar misimu berhasil sebelum waktumu semakin sedikit. Kau harus ingat, masih ada misi ke-4 dan bisa aku pastikan, misi ke-4 ini lebih susah dari misi-misi sebelumnya! Dan kau harus ingat, waktumu tinggal 8 hari lagi,” jelas Jin.

Jungkook menghela napas. “Ya, baiklah. Besok aku akan ke sekolah untuk bertemu dengan Yoongi Hyung.”

“Sebaiknya begitu, Jungkook,” ucap Jin.

Ya, kalau bukan karena ingin bertemu dengan Yoongi, mungkin Jungkook belum masuk sekolah. Ia bahkan tidak perlu menghabiskan 5 menit waktu pagi tadi untuk membujuk Junmi yang belum mengizinkannya sekolah. Hmm~

“Uh, Jungkook-ah? Kau sudah sehat?” tanya Taehyung, terkejut melihat Jungkook berada di depan pintu kelas, tepat di saat ia hendak keluar.

“Ya, begitulah,” jawab Jungkook sekenanya. “Kau mau kemana?”

“Kantin. Aku belum sarapan,” jawab Taehyung. “Kau mau ikut?”

Jungkook mengangguk. “Tunggu sebentar, aku simpan tasku dulu.”

Sekitar beberapa menit kemudian, kedua pemuda itu duduk di sebuah meja di dalam kantin. Taehyung nampak asik menikmati sebungkus roti, sedangkan Jungkook asik menyedot susu kotak.

“Ada berita seru apa selama aku tidak masuk sekolah?” tanya Jungkook memulai pembicaraan.

Taehyung mengunyah cepat roti di dalam mulutnya, menelan kunyahan itu, lantas menjawab, “Namjoon Sunbae sekarang pacaran dengan… eung… aku lupa nama senior perempuan itu.”

“Han Gyeoul!?” celetuk Jungkook tiba-tiba. Ya, seharusnya Namjoon Sunbae bersama Han Gyeoul Sunbae.

Pemuda berambut light caramel itu membulatkan kedua bola matanya. “Uh, ya, Han Gyeoul Sunbae. Tapi, bagaimana kau bisa tahu?” kagetnya.

Seketika Jungkook menggaruk-garuk belakang lehernya yang tidak gatal. “Aku… aku hanya asal menebak saja. Hehe.”

“Oh, begitu.”

Fiuh~ hampir saja. Untung Taehyung mudah percaya kata-katanya.

Jungkook kembali menyedot isi susu kotaknya, sedangkan Taehyung kembali melanjutkan makan rotinya. Sesekali keduanya masih mengobrol sambil melihat-lihat suasana di sekitar kantin yang tidak begitu ramai, hanya ada 5 orang selain mereka yang juga sedang sarapan.

“Uh, Jungkook-ah, kau sudah masuk sekolah?” Jungkook dan Taehyung sontak mengalihkan pandangan ke arah seseorang yang bersuara.

“Uh, Min Ssaem!?” seru pemuda itu agak terkejut. “Ya, aku sudah masuk,” jawabnya.

“Mau ikut sarapan, Ssaem?” tawar Taehyung.

Guru muda itu melihat ke arah Taehyung, tersenyum, lantas menjawab, “Ya, nanti,” jawabnya. “Oh, ya, boleh aku pinjam Jungkook sebentar, Kim Taehyung? Ada yang ingin aku bicarakan dengannya,” ucap Min Ssaem kemudian.

Jungkook agak terkejut mendengar kalimat Min Ssaem. Ini seperti… sebuah kebetulan. Dia juga ingin membicarakan sesuatu dengan guru muda ini.

“Ya, boleh saja, Ssaem,” jawab Taehyung.

“Oke. Ayo, Jungkook. Ikut aku sebentar~” ajaknya.

Min Sonsaengnim dan Jungkook duduk berdua di atas bangku taman yang tidak jauh dari kantin. Sebuah tempat yang masih cukup sepi karena hanya sedikit siswa-siswi yang melintas di sekitar tempat ini.

“Bagaimana keadaanmu? Sudah baikan, hm?” tanya Min Sonsaengnim, melihat ke arah Jungkook.

Yang dilihat hanya mengangguk sebagai jawaban atas pertanyaan itu.

Min Ssaem mengembuskan napas. “Ada sesuatu yang membuatku penasaran, Jungkook-ah,” ucap Min Sonsaengnim memulai pembicaraan yang sebenarnya.

“Apa?” Jungkook menoleh ke arah guru di sebelahnya.

Min Sonsaengnim menoleh ke arah depan sembari menyandarkan punggungnya pada sandaran bangku. Kedua tangannya sengaja ia lipat di depan dada dan pandangannya nampak menerawang. “Sewaktu kau pingsan di perkemahan, aku mendengar kau mengigau. Kau bilang ‘Waktuku tinggal sedikit. Aku haru segera menyatukan Junmi Noona dengan…’.”

Jantung Jungkook berdetak kencang. Ia menelan ludah. Tidak! Bagaimana mungkin ia bisa seceroboh itu? Bagaimana bisa ia menggumamkan kalimat yang bisa saja membuatnya membongkar identitasnya sebagai cupid-30-hari? Astaga!

“Sebenarnya apa yang kau sembunyikan dari Junmi?” lanjut Min Sonsaengnim, menoleh perlahan ke arah Jungkook.

“Tidak! Tidak ada,” elak pemuda itu.

Namun, Min Sonsaengnim tidak semudah itu percaya. “Ayolah, Jungkook. Aku tidak akan memberitahu Junmi tentang hal yang kau igaukan itu. Tapi, setidaknya, katakan padaku, apa yang sedang kau rencanakan, hm?” tanya Min Sonsaengnim agak memaksa. “Apa… ada kaitannya dengan… kemunculan Kim Seokjin?” tanyanya curiga.

“Memangnya… kenapa kalau ada kaitannya dengan Kim Seokjin?” Jungkook malah bertanya balik. Entahlah, dia sendiri juga tidak mengerti mengapa mulutnya mengeluarkan kalimat itu. Spontan saja. Ia merasa ada kesempatan untuk memancing jawaban dari Min Sonsaengnim atas pertanyaannya di perkemahan pada malam itu.

Apakah Min Sonsaengnim masih mencintai mencintai Junmi?

Ditanya seperti itu sontak membuat Min Sonsaengnim berdehem, lalu menjawab, “Tidak apa-apa. Aku hanya ingin tahu saja. Junmi mengatakan padaku bahwa kau mulai terlihat aneh semenjak mengenal orang bernama Kim Seokjin itu. Jadi, bisa saja sesuatu yang kau sembunyikan dari Junmi itu berkaitan dengan Seokjin, bukan?”

Jungkook menggeleng. “Tidak. Aku sama sekali tidak menyembunyikan apapun dan aku sama sekali tidak ada kaitannya dengan orang bernama Kim Seokjin itu.”

“Lantas, apa alasan kau selalu menanyakan tentang masa lalu Junmi?”

“Aku hanya ingin tahu. Apakah itu salah, Ssaem?” balas Jungkook. Sebisa mungkin ia mengelak dari semua kecurigaan Yoongi padanya. “Aku sudah pernah mengatakan hal itu, bukan?”

“Kau… yakin bukan karena kau merencanakan sesuatu?” Min Ssaem mendelik.

Jungkook mengembuskan napas untuk menghilangkan sedikit kegugupannya. “Tidak, Sonsaengnim. Aku benar-benar hanya ingin tahu,” jelas Jungkook, lalu tersenyum.

Min Sonsaengnim menatap pemuda itu beberapa saat. “Baiklah, aku percaya,” ucap pemuda itu kemudian. Mengalah dengan semua jawaban Jungkook. Ya, mungkin memang tidak ada apa-apa. Mungkin Jungkook memang hanya ingin tahu saja. “Tapi, aku ingatkan padamu, sebaiknya kau jangan terlalu bergaul dengan Kim Seokjin, paham?”

Jungkook mengangguk, lalu membalas, “Ya, Sonsaengnim.”

Setelah Junmi Noona, sekarang Min Sonsaengnim yang melarangku untuk menjauhi Seokjin. Ckckck, sebegitu parahnyakah kau di masa lalu, Kim Seokjin?

“Oke. Aku hanya ingin membicarakan hal itu,” kata Min Sonsaengnim, berdiri dari duduknya.

Tepat di saat guru muda itu ingin beranjak, Jungkook langsung berkata, “Sonsaengnim, bisakah sore ini kau datang ke Rainbow Cafe?”

“Untuk apa?”

“Hari ini aku ulang tahun. Kalau kau sempat, aku harap kau datang,” tutur pemuda itu.

Min Sonsaengnim mengangguk pelan. “Baiklah~”

@@@@@

Junmi baru saja tiba di lobi gedung ketika ponsel di dalam tasnya berdering. Agak buru-buru gadis itu merogoh hobo bag cokelatnya, mengeluarkan ponsel yang menerakan tulisan Jungkook’s calling di layarnya. Uh? Ada apa? Tumben anak itu menelepon.

“Halo, Jungkook-ah?” ucap Junmi saat menjawab panggilan dari pemuda di seberang.

Noona. Noona bisa tolong aku?” Suara pemuda itu terdengar panik.

Perlahan, perasaan cemas mulai menyelimuti gadis itu. “Kau kenapa?” tanyanya.

“Aku makan di Rainbow Café, tapi aku lupa membawa dompetku. Noona bisa tolong datang ke café ini sekarang? Aku tidak mau disuruh cuci piring atau dilempar keluar café oleh bodyguard yang menyeramkan, Noona~” ujar Jungkook dengan nada memelas.

Junmi menutup mulutnya tidak percaya, lantas berkata, “Astaga. Baiklah. Noona akan segera ke sana. Kau tunggu, ya.”

“Baik, Noona. Terima kasih.”

Buru-buru Junmi melangkah keluar dari gedung, menyetop taksi yang kebetulan melintas tepat di saat ia keluar dari halaman gedung. Sesekali ia melirik jam tangan hitam yang melingkar di pergelangan tangan kirinya setiap kali taksi yang ditumpanginya terjebak macet. Maklum saja, sekarang memang jam pulang kerja.

Menghabiskan waktu sekitar 20 menit di jalan, akhirnya Junmi tiba di sebuah café yang berada di kawasan Yongsan-gu itu. Café yang sudah tidak asing baginya mengingat 6 tahun lalu, ia cukup sering datang ke café ini untuk sekedar menikmati red velvet cake-nya yang terkenal sangat lezat.

Mengingat Jungkook yang pasti sedang menunggunya, gadis itu bergegas masuk ke dalam café. Kedua matanya bergerak mencari keberadaan Jungkook di dalam café tersebut, tapi—Hei! Dimana anak itu? Dia… tidak ada di sini!

Junmi lantas berjalan menghampiri kasir yang berada di depan sana.

“Permisi,” ujarnya di antara lantunan lagu Because You Love Me-nya Celine Dion yang menggema ke seluruh penjuru café.

“Ya, ada yang bisa saya bantu, Nona?” tanya kasir itu ramah.

“Apakah… tadi di sini ada seorang pemuda yang tidak membayar makanan karena lupa membawa dompet?”

Sang kasir mengernyit heran, lalu menggeleng. “Tidak ada, Nona,” sahutnya.

Loh? Lantas, dimana anak itu?

“Kalau begitu…, apa beberapa saat lalu ada pemuda… mm… umurnya sekitar 18 tahun yang datang ke tempat ini?” tanya Junmi lagi.

Kasir itu menggeleng sekali lagi. “Sekitar beberapa menit terakhir, tidak ada pemuda yang datang café ini, Nona.”

Sebenarnya apa yang direncanakan Jungkook? Dia bilang ada café ini, kan? Kenapa dia tidak ada? Ck! Apa anak itu mengerjaiku?

Agak kesal, Junmi memutuskan untuk duduk di salah satu kursi yang tidak jauh dari meja kasir. Mengambil ponsel dari dalam tasnya, lantas menghubungi Jungkook yang sekarang entah berada di mana.

“Nomor yang Anda tuju sedang sibuk. Silakan tinggalkan pesan Anda setelah bunyi ‘bip’. Bip~”

Junmi mendengus. Ish! Jungkookie, kau berani mengerjai noona lagi, hah?

“Hei! Acaranya sudah selesai, ya?” Junmi terperanjat kaget mendengar suara seseorang diiringi sebuah tepukan di bahu kirinya. Seketika ia menghela napas lega setelah melihat orang tersebut duduk di kursi yang berhadapan dengannya.

“Aish! Ternyata kau. Kupikir siapa,” gumam Junmi.

Yoongi terkekeh sejenak, lantas bertanya, “Dimana orang yang berulang tahun itu?”

Gadis yang diajak bicara menautkan kedua alisnya, bingung. “Siapa yang ulang tahun?”

“Jungkook. Hari ini hari ulang tahunnya, kan?” balas Yoongi tak kalah bingungnya.

“Ulang tahun Jungkook tanggal 1 September. Minggu depan. Sekarang masih bulan Agustus, Yoongi-ya,” balas Junmi. Gadis itu mengembuskan napas. “Astaga! Ternyata anak itu mengerjai kau juga, hah?”

“Apa maksudmu?”

“Jungkook. Anak itu menelponku dan bilang ia makan di café ini, tetapi lupa membawa dompetnya. Aku ke sini untuk membayar makanannya, tapi… dia malah tidak ada,” jelas Junmi.

Yoongi terkekeh. “Jangan-jangan… Jungkook sengaja mempertemukan kita di sini,” katanya.

“Untuk apa?” tanya Junmi sembari menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi.

“Mana aku tahu.” Yoongi menggidikkan kedua bahunya, lalu ikut menyandarkan punggungnya.

Keduanya terdiam, sedikit canggung memulai pembicaraan di acara pertemuan mendadak ini. Junmi, gadis itu diam-diam merutuki tindakan adiknya yang lagi-lagi mempertemukannya dengan seseorang tanpa memberi tahunya terlebih dahulu—meski itu adalah sahabatnya. Gadis berbaju cokelat itu memainkan ponselnya untuk menghilangkan kecanggungannya.

Di sisi lain, Yoongi sibuk membiarkan pandangannya melihat seluruh penjuru café sembari mendengarkan lagu I Do-nya Colbie Caillat yang dinyanyikan oleh penyanyi café. Pikirannya berkecamuk, antara ingin memulai pembicaraan atau tidak. Jika dia yang harus memulai, dia harus mulai dari mana?

Tidak lama kemudian, lagu Colbie Caillat itu selesai dan digantikan oleh sebuah lagu yang tidak asing di telinga keduanya—Junmi dan Yoongi. Tanpa sadar keduanya saling melihat satu sama lain.

“Hei! Ini kan…” gumam Yoongi merasa tidak asing.

“… lagunya Bee Gees,” sambung Junmi.

Yoongi mengangguk. “How deep is your love,” sahutnya, kemudian terkekeh.

Keduanya pelan-pelan menyenandungkan lagu yang dinyanyikan oleh penyanyi café. Lagu yang dulu menjadi favorit keduanya saat menikmati red velvet cake dan orange punch di tempat ini. Sesekali keduanya tertawa, mungkin mengingat beberapa kenangan yang pernah terjadi di tempat ini bertahun-tahun yang lalu. Begitu lagu selesai, keduanya saling memandang 1 sama lain.

“Hei. Bagaimana kalau… kita memesan red velvet cake dan orange punch?” tawar Yoongi. “Kau… sedang tidak terburu-buru, kan?”

Junmi mengangguk pelan. “Ya~,” jawabnya singkat.

Yoongi pun mengangkat tangannya untuk memanggil pelayan. Memesan 2 porsi red velvet cake dan 2 gelas orange punch. Dan, tidak lama kemudian, keduanya menikmati pesanan mereka sambil menceritakan beberapa hal yang pernah mereka lakukan di tempat ini, tempat kenangan mereka, tanpa menyadari… seseorang yang baru saja turun dari panggung—orang yang beberapa saat lalu menyanyikan lagu How Deep Is Your Love—tengah memperhatikan mereka.

Ya.

Jungkook.

Beruntung dia bisa meminta izin sang pemilik café untuk menjalankan rencana yang telah ia susun seorang diri. Rencana yang tidak akan terpikirkan olehnya jika malam tadi ia tidak membaca buku diary Junmi.

Tentu saja.

Kalau bukan karena buku diary itu, Jungkook tidak akan tahu-menahu tentang Rainbow Café, red velvet cake dan lagu How Deep Is Your Love itu.

Dan sekarang…, pemuda itu hanya perlu menunggu.

Menunggu kalungnya berpendar sebagai tanda bahwa… rencananya berhasil

@@@@@

Tiga buah bentuk hati di dalam bandul.

Ya, usaha Jungkook untuk menyelesaikan misi ketiganya tidak sia-sia. Sekitar 15 menit setelah pemuda itu meninggalkan Rainbow Café, bandul kalung miliknya berpendar, tanda bahwa rencananya berhasil. Sekarang, tinggal 1 pasangan lagi yang harus ia satukan agar hukuman bodoh ini bisa selesai dan Jungkook akan tetap hidup sebagai manusia.

Tiba di rumah, pemuda langsung mengambil love-tablet-nya. Tanpa buang waktu, Jungkook menyalakan benda itu untuk melihat target selanjutnya, target terakhir.

“Hah~ akhirnya misi ketigamu selesai juga.”

Seperti biasa, Jin, si cupid itu, selalu muncul tiba-tiba. Duduk di tepi tempat tidur Jungkook, melihat ke arah pemuda yang duduk di kursi sembari memegang love-tablet-nya.

Mendengar apa yang diucapkan cupid mentornya, Jungkook tersenyum. “Tidak akan berhasil tanpa bantuanmu, Jin. Terima kasih~” ucapnya.

Jin mengangguk, lalu tersenyum.

“Oh, ya, Jin, boleh aku bertanya sesuatu padamu?”

Cupid itu melipat kedua tangannya di depan dada seraya berkata, “Kau mau bertanya apa?”

Jungkook terlihat mengembuskan napas. “Kalau… kalau nanti aku berhasil menyelesaikan hukuman ini dan tetap menjadi manusia, apa… kita masih bisa bertemu?”

“Bisa. Jika aku berubah menjadi manusia untuk 1 jam,” jawab Jin. “Aku sudah pernah mengatakan padamu bahwa yang bisa melihatku hanya cupid dan cupid-30-hari, kan!?”

Jungkook mengangguk.

“Memangnya kenapa kau bertanya seperti itu, Jungkook?”

Pemuda itu menggeleng, lalu berkata, “Tidak apa-apa.”

Jin mengangguk paham. Tidak mau meneruskan ucapan yang agak menyedihkan itu. Ya, bagaimana pun, jika Jungkook berhasil, dia tidak akan sering bertemu dengannya lagi seperti sekarang. Toh, jika Jungkook tetap hidup sebagai manusia setelah menjalankan hukumannya, mereka tidak akan punya hubungan apa-apa lagi. Jungkook akan menjalankan hidup seperti biasa, begitu juga dengan Jin yang akan tetap menjadi cupid.

“Siapa target terakhirmu, hm?” tanya Jin mengalihkan topik pembicaraan.

Jungkook tersadar. Dia hampir lupa untuk melihat siapa target terakhirnya. Target yang menentukan berhasil atau tidaknya Jungkook menyelesaikan hukuman bodoh ini. Namun…, seketika Jungkook membulatkan kedua matanya begitu melihat 2 buah foto yang tertera di layar love-tablet-nya.

Mustahil!

Ini tidak mungkin!

Kenapa harus… Kim Taehyung dan Oh Shina?

-TaehyungBelumCebok (^/\^)-

Anditia Nurul ©2014

-Do not repost/reblog without my permission-

-Do not claim this as yours-

Also posted on author’s personal blog (Noeville) & Read Fanfiction / Fanfiction Side

A/N: Aaaaa~ akhirnya, masalah Seokjin-Junmi-Yoongi selesai juga. Fiuh~ Dan… TARAAAA~~~~ YEYEYEYE… kita sampai di target terakhir, loh. Yang kemarin-kemarin nebak Taehyung-Shina, selamat… KALIAN BENAR! Tapi sayang ini bukan kuis, jadi kalian gak dapat apa-apa… hehehe. Buat Jungkook-Shina shippers(?) *emang ada, gitu?* sabar, ya~

Oke deh. Silakan komen. ^^

About fanfictionside

just me

9 thoughts on “FF/ 30DAYS CUPID/ BTS-BANGTAN/ pt. 8

  1. akhh Taehyung sama Shinaaaaa
    ini apaaa
    kasian jungkook yah *pok pok
    Berharap aja semoga dia bisa nyelesain misinyaa \(^_^)/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s