FF oneshot/ POTION OR A POISON/ EXO


potion or poison poster

Author                            :        Baby Deer

Cast                                :        – Kim Minna (OC)

  • Park Chanyeol
  • Xi Luhan

Genre                             :        Life, Romance, NC , Yadong

Rate                                :        Mature

Summary                        :        Ini FF hasil dari ide saya sendiri.mungkin ceritanya ga bakal

sesuai dengan judul, Hehehe.

Cast (selain OC) adalah milik Tuhan dan keluarganya, tapi cerita ini murni dari pemikiran saya pribadi. Jika ada kesamaan cerita mungkin adalah kebetulan semata.

“Kau seperti obat sekaligus racun untukku. Memilikimu membuatku bahagia, tapi bersamamu membuatku terluka.”

 

@@@ HAPPY READING @@@

 

AUTHOR POV

“Aanggh…Luhaan..aahhh..”

Minna meringis ketika junior Luhan terus menghujam kasar lubang vaginanya. Ini sudah ronde ketiga mereka melakukannya malam ini.

Suara decitan demi decitan guncangan ranjang memenuhi ruangan itu. lagi-lagi tubuh Minna menggelinjang saat mencapai puncak kenikmatannya kembali.

“Akh..akh…Lu-ahh… akh…”

Luhan melepaskan juniornya dari vagina Minna secara perlahan. Bibirnya mengulum bibir Minna sebelum menegakkan kepalanya dan menatap Minna dalam diam, memberi Wanita itu waktu untuk menormalkan napasnya kembali, begitu juga dengan dirinya.

‘Olahraga’ mereka malam ini benar-benar liar dari malam-malam sebelumnya.

“Kau baik-baik saja?” Luhan mengambil rambut Minna yang menutupi wajah Wanita itu lalu menyelipkan di balik telinga Minna.

Minna menganggukkan kepalanya setelah yakin dengan keadaannya. Namun permainan mereka tentu tidak berhenti sampai disini saja, dia mengenal baik siapa Xi Luhan, dan jika seorang Xi Luhan bertanya ‘Kau baik-baik saja?’ itu berarti dia masih ingin melanjutkan permainan mereka.

Dan tebakan Minna terbukti benar saat Luhan mulai menundukkan kepalanya di depan selangkangan Minna kembali.

“Aaaghhhh~” Minna kembali mendesah.

Luhan mencium klirotisnya. Memjilat-jilat vagina kekasihnya itu seperti menjilati es krim favoritnya.

Minna melengkungkan tubuhnya, tangan kanannya menekan kepala Luhan agar meneruskan aktifitasnya itu. sedangkan tangan kirinya meremas-remas payudaranya sendiri. menambah kenikmatan pada tubuhnya.

“Akkhh Luhan-aahhh… kau me-mhang he-bhat…”

Luhan tersenyum mendengar pujian dari bibir Wanita itu. Dilepaskannya bibirnya dari tempat sensitif Minna dan memindahkannya ke buah dada Minna yang kembali terlihat mengencang.

“ARRKKK….”

Minna menjambak rambut Luhan keras saat Luhan menggigit puting payudaranya. Tapi bukannya menghentikan kegiatan mereka sekarang, Luhan malah semakin bersemangat.

Tangan kanannya berpindah ke bokong Minna lalu meremasnya dengan gemas. Bibirnya kini bermain di leher jenjang Wanita itu.

“Aku lelah Luhan-ah” Minna mulai merengek karena rasa lemas tubuhnya. “Bisa kita hentikan sekarang?”

“Aku rasa aku tidak akan bisa berhenti, Baby” bisik Luhan di sela-sela gigitannya di bagian dada dan perut Minna. “Tidak sampai matahari bersinar”

@@@

 

MINNA POV

Aku bisa merasakan lembutnya selimut yang menyentuh permukaan kulitku. Dadaku terasa sesak dan tubuhku rasanya sakit sekali. Ku buka mataku dan mendapati lengan Luhan yang sedang melilitku. Pantas saja dadaku merasa sesak, ternyata kepalanya berada di dadaku. Tepat diantara kedua payudaraku. Dengan perlahan aku membuka pelukannya dan menempatkan kepalanya ke atas bantal.

Ku lirik jam yang terletak di dinding kamarnya. “Sial! Aku terlambat!”

Buru-buru aku memunguti pakaian-pakaianku yang bertaburan dimana-mana dan memakainya satu persatu. Rasanya seluruh bagian tubuhku terasa lemas karena aktifitas yang telah kami lakukan semalam.

Aku berlari ke kamar mandi, mencuci mukaku, menyikat gigi, merapikan rambut dan hiasan wajahku. Ku cek satu persatu bagian tubuhku. Menghela napas lega karena Luhan tidak memberikan bekas apapun di sana.

“Kau sudah mau pulang, Baby?” tanya Luhan dengan suara serak khas orang yang baru bangun tidur. Rambutnya yang tampak sangat acak-acakkan, memperjelas keadaan kami yang baru saja selesai bercinta. Dia berjalan ke arahku dengan bertelanjang dada dan hanya mengenakan boxernya.

“Jangan pulang dulu” bisiknya sembari menarikku ke dalam pelukannya. Aku bisa merasakan hembusan napasnya di tengkukku. Tangan nakalnya mulai bergerak untuk menggerayangi tubuhku. Dan sebelum tubuhku terangsang kembali, dengan kecepatan kilat aku menepisnya.

“Aku harus pulang sekarang, Luhan. Sampai jumpa” ku kecup bibirnya sekilas sebelum melangkah meninggalkannya yang masih berdiri di sana dengan senyuman kecewa.

@@@

 

Entah mengapa matahari sangat bersemangat hari ini. cahayanya begitu terang meskipun arlojiku baru menunjukkan pukul 6 pagi. Aku menancapkan gas mobilku semakin cepat, melajukan Audi SUV merahku dengan kecepatan tinggi di jalan yang masih lenggang ini. aku harus cepat pulang.

Ku masukkan pasword apartemen tempatku tinggal dan melangkahkan kakiku masuk ke dalamnya. Kulirik arlojiku kembali, jarumnya sudah menunjukkan pukul 06.27 .Oh Tidak! Semoga saja dia belum bangun.

Aku memasuki kamar tidurku, menyimpan tasku dan segera melangkah ke kamar mandi. Tapi baru saja aku membungkus tubuhku dengan baju mandiku, tiba-tiba saja pintu kamarku terbuka. Dan dia ada di sana.

“Selamat pagi, Minna” sapanya.Aku tertegun karena dia sudah tampak rapi. Padahal ini masih sangat pagi. Dia mengenakan kemeja linen putih dengan dasi biru lautnya yang begitu pas di lehernya.

“Se-selamat pagi Chanyeol oppa” jawabku gugup. “Kau sudah akan ke rumah sakit sekarang?”

“Begitulah, aku baru saja mendapat telpon tadi, ada pasien yang akan dioperasi jam 7 nanti. Apa kau baru pulang ?”

Melihatku menganggukkan kepalaku, dia berjalan masuk dan memelukku dengan lembut.

“Kau sering lembur kerja akhir-akhir ini. aku tau kau sangat mencintai pekerjaanmu, tapi ku harap kau tetap menjaga kesehatanmu” bisik Chanyeol oppa dengan lembut. Selembut perasaan bersalah yang kini telah menyusupi hatiku karena telah membohonginya.
“Aku tau” jawabku. berusaha menyembunyikan kegugupan yang setengah mati ingin membunuhku. “Oppa tenang saja, oppa tidak perlu mengkhawatirkan aku”

Senyuman tipis terukir dibibirnya yang indah. Memperdalam rasa bersalah karena telah membohonginya selama ini.“Baiklah kalau begitu, aku pergi sekarang ya?” dia melepaskan pelukannya dan mencium dahiku sekilas sebelum berjalan menjauhiku.

Aku segera masuk ke kamar mandi yang berada di kamarku dan menarik napas lega saat mendengar suara pintu apartemen kami tertutup. Namun setiap kali aku menarik napas, terasa seperti ada duri yang menancap di paru-paruku.

Oh Tuhan, apa yang telah aku lakukan pada laki-laki selembut dia?

 

@@@

“Kau baru datang?” kaget Hyunji, teman sekantorku sambil melirik jam tangan biru langitnya. “Kau telat dua jam lebih, Kim Minna! Empat puluh lima menit lagi kita akan istirahat makan siang, apa kau bercanda? Kau pasti akan disemprot direktur habis-habisan! Beliau sudah datang sejak satu setengah jam yang lalu”

“Bukankah lebih baik datang terlambat dari pada tidak datang sama sekali?”

Hyunji menatapku dengan tatapan ‘Apa kau sudah gila?’ miliknya. Aku tidak tahu harus bagaimana menghadapi perhatiannya. Aku hanya bisa memberikan senyuman tipisku padanya sebelum berjalan memasuki ruanganku.

Aku bekerja sebagai Kepala Menejer bagian Pengiklanan di salah satu perusahaan elektronik terbesar di Korea.

Baru saja aku mendudukkan bokongku di kursi putarku, tiba-tiba saja telepon di atas mejaku berdering. Ternyata telepon ini dari Hera, salah satu sekretaris bosku. Menurut perkataan Hera, sang direktur memanggilku ke ruangannya. Jadi dengan segera aku mengiyakannya.

.

.

.

Aku menganggukkan kepalaku sedikit ke arah Hera dan Chesang sebelum membuka pintu ruangan direktur perusahaan ini.

Ketika aku memasuki ruangan kantor ini, aroma mint yang lembut segera menyentuh indra penciumanku. Seorang laki-laki tampan yang merupakan direktur perusahaan ini tampak sibuk dengan berkas-berkas di depannya.

“Ada perlu apa memanggilku kemari, Xi Luhan Sajangnim?”

Luhan tersentak kaget mendengar ucapan tanpa hormatku, tapi sedetik kemudian, senyuman geli terbentuk di bibir tebalnya. “Kau datang terlambat hari ini, Baby. Jadi aku ingin menghukummu dengan mengajakmu makan siang.” Luhan terkekeh geli karena pikirannya sendiri. “Tapi kaulah yang akan menjadi makanannya”

Luhan menarikku ke pangkuannya dan memeluk pinggangku dengan posesif. Aku bersyukur karena tidak menggunakan rok pensilku hari ini, jadi aku bisa mengangkangi pinggangnya dengan mudah.

“Ku mohon Minna-ya… Menikahlah denganku” Bisik Luhan memohon sambil menjilati telingaku dan menggigitinya, menimbulkan gejolak sensual dari tubuhku.

“Kau tau aku tidak bisa, aku sudah menikah, Lu”

“Maksudmu dengan si dokter itu?” Luhan menatapku malas lalu memutar matanya.” Oh ayolah Kim Minna~ Aku tau kalian tidak saling mencintai, kalian menikah hanya karena perjodohan bodoh yang dilakukan oleh kedua orang tuamu kan? Kenapa kau harus mempertahankan pernikahan itu? Kau bahkan tidak pernah bercinta dengannya selama ini”

“Ya,, tapi jika aku menceraikannya, orangtuaku akan-MMPPHHH” belum selesai aku menyelesaikan perkataanku. Luhan sudah membungkamnya dengan mengemut bibir bawahku dengan ganas. Lidahnya memasuki mulutku dan bermain lembut dengan lidahku.

Aku memejam mataku dan mendorong tengkuknya, memperdalam ciuman kami. Bibir Luhan berpindah ke rahangku dan semakin turun hingga leherku. Tangan kirinya dengan lembutnya berjalan memasuki rokku dan mengelus permukaan pahaku, sedangkan tangannya kanannya membuka kancing atas kemeja merahku

“Assh…Luhaaan-aakhh..”

aku mendesah kembali saat rasa tangan kanannya mulai membelai payudaraku yang masih terbungkus oleh bra.

Tiba-tiba gendang telingaku mendengar suara ketukan pintu dari luar. Saat aku berniat turun dari pangkuannya, Luhan memeluk pinggangku dan seketika mengunciku di posisi kami sekarang.

“Luhan, Lepas!”

“Tidak”

“Aku bilang lepas!”

“Eh-Hm”

Baru saja aku mau memberontak, mataku sudah menangkap Hera yang masuk dari balik pintu. Matanya terbelalak dan pipinya merona saat melihat posisi kami. Tapi dengan segera dia bersikap profesional kembali dan menyerahkan sebuah map kepada Luhan.

“Terima kasih Hera, kau boleh istirahat makan siang sekarang” perintah Luhan dengan senyuman manisnya yang langsung di patuhi Heraa.

Hera melangkah keluar dengan langkah tenang yang tampak dipaksakan.

Tepat ketika dia menutup pintun ruangan ini aku langsung turun dari pangkuan Luhan secara paksa.

“Hei Baby. Ad ap-“

“KAU GILA! Bagaimana mungkin kau biarkan Hera melihat kita dengan posisi seperti itu? Dia tahu aku sudah menikah! semua orang di kantor tahu itu! Kau ingin mempermalukan aku?!”

“Hei..hei…hei…tenanglah, OK?” Luhan berdiri dari kursinya lalu kembali mendekapmu. “Dia tidak akan mengatakan tentang kita kepada siapa pun juga” Jari jempolnya menekan lalu membelai bibirku dengan lembut. “Kau tau kenapa? Karena dia masih memerlukan pekerjaannya”

@@@

AUTHOR POV

Minna melangkahkan kakinya lemas ke dalam sebuah apartemen mewah yang ditinggalinya. Tubuhnya seketika ia daratkan di sofa yang terdekat. Wanita itu membaringkan seluruh tubuhnya di sofa sambil kembali menghela napasnya dengan berat. Semakin hari tingkah Luhan semakin parah saja. Malam ini laki-laki itu kembali meminta Minna untuk kembali menginap di rumahnya. memintanya untuk kembali bercinta.

‘aku sudah bermain dengannya selama tiga malam berturut-turut dalam seminggu ini. mengapa dia belum merasa puas juga?’

“Kau sudah pulang?”

Minna mendongakkan wajahnya dan menemukan Park Chanyeol dengan wajah lelahnya berdiri di sana. Dengan segera wanita itu bangun dari posisinya lalu mengangguk dengan senyuman yang sedikit dipaksakan. “Eum.. oppa juga?”

“Ne, aku tidak ada jadwal piket malam hari ini” jelas Chanyeol sambil meletakkan tasnya di meja dan duduk bersama Minna.

Keheningan kembali melanda atmosfir sepasang suami-istri itu. Chanyeol melepas dasinya dengan perlahan. Sedangkan Minna tiba-tiba tertarik dengan lantai yang dipijaknya.

Selalu saja seperti ini jika mereka sudah berdua. Entah mengapa rasa canggung selalu saja berhasil mengambil alih suasana. Padahal mereka sudah menikah dan hidup bersama selama setengah tahun lebih, tapi tidak ada juga ada yang mencair di antara mereka.

Chanyeol mengambil remot lalu menyalakan televisi. Membuka asal chanel yang entah menampilkan film apa. yang dipikirannya saat ini adalah bagaimana caranya membuat suasana mereka sedikit lebih nyaman.

“Tadi aku bertemu ummanim di rumah sakit.” Chanyeol mulai memecah keheningan diantara mereka. Minna mendongakkan wajahnya, menatap wajah Chanyeol yang kini justru menatap fokus ke layar TV. “Beliau bertanya kapan beliau akan menimang cucu”

Jantung Minna sontak terasa meloncat dari letaknya. Wajahnya memucat. Bibirnya kelu hingga tidak ada sepatah kata pun yang bisa di ucapkannya.

Chanyeol menolehkan wajahnya dan melihat Minna yang menatapnya dengan bisu. Laki-laki tersenyum menenangkan. Belaian lembut di kepalanya kembali Minna rasakan dari tangan seorang Park Chanyeol. “Tapi kau tenang saja, aku tahu kau masih ingin fokus pada kariermu. Aku sudah mengatakan itu pada umma”

“Go-gomawo oppa”

Chanyeol beranjak dari duduknya lalu kembali memberikan senyuman manis pada wanita itu. “Ne..” bisiknya lembut sebelum masuk ke kamarnya.

Mereka berdua memang memiliki kamar yang berbeda.

Chanyeol tidur di ruang kerja yang kini disulap menjadi kamarnya. Sedangkan Minna tidur di kamar utama. Minna menghela napasnya. Park Chanyeol adalah laki-laki yang baik. Minna menghormatinya. Sangat. Tapi itu hanya sekedar hormat. Dia tidak sama sekali memiliki perasaan lebih pada laki-laki yang kini berstatus sebagai suaminya itu.

Beginilah kehidupan pernikahan Minna & Chanyeol. Mereka tidak semanis pasangan-pasangan yang sudah menikah pada umumnya, kekakuan masih saja melingkupi kehidupan mereka .

@@@

Dipagi minggu yang cerah ini. Bunyi dentingan piring dan sendok memenuhi ruang makan itu. Minna dan Chanyeol tampak sibuk dengan makanan mereka masing-masing. Tidak ada pembicaraan di sana. Tidak ada juga yang berniat membuat pembicaraan, seolah mereka sama-sama merasa nyaman dengan kediaman ini.

Setelah mereka selesai sarapan , Minna langsung mengambil piring Chanyeol dan membawanya ke tempat pencuci. Chanyeol berjalan mendekati Minna, bermaksud membantu Wanita itu mencuci piring. Tapi Minna malah menghentikannya dan menyuruhnya duduk.

“Biar aku saja, oppa.” Minna mengambil piring yang berada di tangan Chanyeol. “Oppa santai saja di ruang TV, akan ku bawakan cemilan setelah aku menyelesaikannya”

Chanyeol sebenarnya ingin membantah, tapi dia putuskan untuk mematuhinya saja. Dia tidak ingin bertengkar dengan Minna hanya karena hal kecil seperti ini. Meskipun dia ingin juga sesekali bertengkar dengan Minna seperti pasangan-pasangan lainnya.

Chanyeol menyenderkan dirinya di sofa dan menyalakan TV. Seperti biasa, dia akan memutar chanel yang menayangkan tentang kesehatan. Tidak lama kemudian, dia bisa merasakan Minna berjalan di dekatnya. Wanita itu membawakannya segelas capuchino hangat dan setoples cookies yang Chanyeol kenali dengan cookies buatan ummanya.

“Kemarin sepulang dari kantor ummanim menyuruhku mampir ke rumahnya, lalu membekalkukan cookies ini. Kata ummanim cookies ini adalah cookies kesukaan oppa” jelas Minna sambil mendudukkan dirinya di pinggir sofa.

Chanyeol tersenyum karena tebakkannya yang jitu. “Iya, Cookies itu memang kesukaanku” ujarnya membenarkan.

Lagi-lagi mereka saling bungkam. Entah mereka kehabisan kata-kata atau memang lebih fokus pada tanyangan yang saat ini mereka tonton, tapi yang jelas hanya terdengar suara TV di ruangan itu.

Mereka bahkan duduk saling berjauhan. Ada jarak pemisah yang membentang di antara mereka. Chanyeol duduk di ujung sofa bagian kanan, sedangkan Minna duduk di bagian sebaliknya.

Tiba-tiba suara Handphone Minna memecah keheningan. Chanyeol bisa melihat Minna yang begitu tampak panik saat melihat nama si penelpon di layar HP-nya.

“Kenapa tidak diangkat?” tanya Chanyeol. Minna mematikan HP-nya sebelum memasukkannya kembali ke dalam saku.

“Eung..hanya nomor iseng” jawab Minna dengan senyuman yang tampak jelas dipaksakan.

Chanyeol terdiam, lalu mengalihkan matanya kembali ke layar TV.”Oh begitu”

Minna kembali tersenyum tak nyaman. Setelah beberapa menit duduk dengan gelisah, akhirnya Minna bangkit dari duduknya dan menoleh ke arah Chanyeol.

“O-oppa.. aku mandi duluan ya.”

“Eum.. baiklah”

Minna tersenyum sekilas sebelum berjalan meninggalkan ruang TV dan masuk ke dalam kamarnya.

 

BLAAMM

 

Minna menyenderkan dirinya di belakang pintu dengan wajah yang kacau. Napasnya terengah-engah karena perasaan yang bergejolak di hatinya.

‘Park Chanyeol.. kenapa dia harus sebaik ini ?’

@@@

“Jadi sekian dulu untuk rapat kita pagi ini, saya harap rancangan kita kali ini bisa lebih sukses di pasaran dari produk kita lainnya” tutup Luhan pada rapat hari ini. Luhan membungkukkan kepalanya sebentar sebelum berjalan keluar meninggalkan ruangan.

Semua peserta rapat yang merupakan petinggi-petinggi perusahaan tampak meninggalkan ruangan dengan senyuman puas akan hasil rapat kali ini. Tidak terkecuali Minna. Wanita itu tampak bersemangat saat akan keluar dari ruang rapat. Tapi baru saja dia melangkahkan kakinya keluar, Luhan ternyata berdiri di depan pintu ruangan rapat dengan wajah yang sulit dibaca.

“Ikut aku!”

Belum sempat Minna mengerti akan arti ekspresi di wajah Luhan sekarang, laki-laki itu sudah menarik tangannya dan masuk ke dalam lift khusus direktur.

“Apa yang-MMPPPH”

Mata Minna membulat saat bibir tipis Luhan sudah melumat bibirnya dengan gerakan kasar. Tanpa ampun, Luhan menggigit bibir bawah Minna dan langsung memasukkan lidahnya ke dalam mulut Minna saat Wanita itu meringis karena luka pada bibirnya.

TING~

Pintu lift terbuka, begitu juga dengan lumatan Luhan pada bibir Minna. Laki-laki berambut cokelat itu melepaskan tautan bibir mereka dan menarik Minna ke dalam ruangannya.

Dengan nada perintahnya yang kasar, Luhan menggeram pada dua sekretarisnya yang berada di luar ruangannya. “Dengarkan aku! Jangan izinkan siapa pun masuk ke dalam ruanganku sampai mendapat peritah dariku! “

“Baik, Pak “ patuh dua sekretarisnya yang masih bisa Minna dengar sebelum laki-laki yang menjabat sebagai direkturnya itu dengan kasarnya menarik Minna ke balik pintu.

Tapi baru saja suara pintu yang tertutup terdengar di telinga Minna. Laki-laki di depannya sudah menghempaskan tubuh Minna ke sofa dan menindihnya.

“Kenapa kau tidak mengangkat telponku kemarin ?!” cerca Luhan bahkan sebelum Minna sempat mengatakan apa pun padanya.

Luhan menatap Minna dengan penuh amarah. Napasnya terengah-engah menahan gejolak berbagai emosi di hatinya. Minna sampai merinding ketika melihat Luhan seperti ini. Seingat Minna, Luhan tidak meledak dihadapnnya.

“A-aku tidak bisa mengangkatnya, Luhan. Chanyeol oppa ada disana saat kau menelponku”

“Lalu mengapa kau mematikan HP-mu seharian kemarin, Huh?! Apa kau tidak tahu betapa cemasnya aku saat kau melakukannya?!”

“Apa yang harus kau cemaskan?”tanya Minna yang mulai kesal dengan sikap paranoid Luhan yang tidak pernah ada batasnya .”Chanyeol oppa tidak mungkin melakukan hal buruk padaku”

“Tentu saja aku cemas! Kau pikir laki-laki normal mana yang tidak cemas karena memikirkan kekasihnya bersama laki-laki lain?”

“Tapi Lu, dia suamiku” suara Minna tercekat. Wanita itu seketika menyadari kebodohannya saat mata Luhan memicing ke arahnya. Menyebut Park Chanyeol dengan sebutan ‘suami’ adalah hal terlarang yang dilakukan di hadapan Luhan.

Luhan semakin mempersempit jaraknya dan Minna. Tubuhnya semakin ia tindihkan ke tubuh Wanita yang menjadi alasan kemarahannya saat ini Matanya begitu dingin.

Dalam hati Minna berharap dia bisa menarik kata-kata yang tadi. “Apa kau mulai jatuh cinta padanya, Kim Minna?”

“Aku-.”

Minna melenguh ketika hembusan napas Luhan menggelitik leher jenjangnya.

“Teruskan Kim Minna.. beri aku jawaban”

Jantung Minna berdetak saat belaian tangan Luhan terasa di kulit Wanita itu. Jari-jari panjang Luhan sudah bekerja dengan membuka kancing atas kemeja Minna satu persatu.

“Aku tidak..assh~” Minna kembali mendesah karena remasan kasar Luhan di payudaranya yang masih berbungkus kemeja.

“Luhan-ah~”

Luhan tersenyum saat Wanita itu melengkungkan tubuhnya ke arah Luhan. Menekan dadanya ke dada laki-laki itu.

“Aku tahu kau menginginkanku” bisik Luhan di sela-sela lumatan bibirnya. Tangannya mulai menurunkan rok yang Minna gunakan. Minna kaget melihat laki-laki itu yang entah kapan sudah menurunkan celananya.

Dan jangan di tanya lagi kemungkinan apa yang mereka lakukan selanjutnya. Suara desahan dan decitan kursi yang bergeser terus saja terdengar dari mulut keduanya, memenuhi ruangan minimalis itu. Peluh bercucuran di sekujur tubuh mereka, padahal itu adalah ruangan ber-AC.

Luhan semakin mempercepat genjotan juniornya di dalam daerah sensitif Minna dengan kasar. Tidak sama sekali menghiraukan permintaan Minna untuk menghentikan aktifitas mereka saat ini.

“Aku masih marah padamu. kau ingat?” tanya Luhan ketika Minna merengek karena rasa perih dibagian bawah tubuhnya. “Ini adalah hukuman karena kau membuat cemas seharian, Baby

Kedua wanita yang merupakan sekretaris Luhan memerah ketika mendengar pekikan pelepasan yang keluar dari mulut Minna. Mereka sudah tahu jika memang ada sesuatu diantara Luhan dan Minna. Meski keduanya tidak pernah mengakuinya.

Tapi orang bodoh mana yang tidak bisa melihat wajah kaku Luhan saat menghadiri pesta pernikahan Minna dan Park Chanyeol?

Luhan benar-benar tampak seperti akan meledak, tapi dengan pintarnya laki-laki itu memilih untuk meninggalkan pesta setelah memberikan sebuah kado kepada Minna. Dia bahkan tidak bersalaman dengan Chanyeol.

Luhan jelas menginginkan Minna.

Sangat menginginkan Wanita itu hingga tidak masalah meski menjadi orang ketiga dalam hubungan rumah tangga Minna.

Luhan mungkin tidak akan sesantai itu menghadapi hubungan Minna jika saja bukan karena hadiah yang Wanita itu berikan padanya di setiap minggu. Minna berjanji akan berrcinta dengannya setiap seminggu sekali. Dan Wanita itu memang menepatinya. Tapi entah mengapa akhir-akhir ini , sekali dalam seminggu tidak cukup untuknya, terlebih lagi semenjak Wanita itu mulai bersikap aneh. Wanita itu jarang mengangkat telponnya saat Wanita itu bersama suaminya, dan ini membuat kekhawatiran di hati Luhan. Dia takut kalau Wanita itu akan berpindah hati.

Karena itu lah Laki-laki itu tidak pernah bosan untuk meminta Wanita itu agar mau menjadi istrinya. Menjadi miliknya seutuhnya.

Cinta itu buta, itu lah yang orang katakan. Dan sekarang Luhan mengerti betapa butanya sebuah cinta.

Sofa yang mereka tiduri kembali keluar dari posisi yang seharusnya akibat genjotan cepat yang di lakukan oleh Luhan. “Kau milikku, Kim Minna.” Bisik Luhan sembari mendekap tubuh Wanita itu lalu mencium bibir Minna dengan penuh gairah.”Kau hanya milikku”

@@@

Sementara itu, Chanyeol memasuki ruangannya dan mendudukkan dirinya di kursi yang tereletak di belakang meja kerjanya. Dia baru saja melakukan operasi siang ini. Untungnya semua berjalan dengan sukses seperti biasanya.

Tidak lama kemudian suara ketukan terdengar dari pintu ruangannya dan seorang wanita cantik berpakian perawat muncul dari balik pintu dengan secangkir minuman yang asapnya masih tampak mengepul.

“Dokter Park, ini kopi anda” ujar wanita itu sambil meletakkan cangkir kopi itu di atas meja Chanyeol.

Chanyeol tersenyum sebelum menerimanya dan tidak lupa mengucapkan terima kasih saat perawat itu beranjak pergi.

Dengan perlahan laki-laki berwajah tampan itu menyesap kopi panasnya. Matanya tampak kosong saat pahitnya kopi melewati lidah dan kerongkongannya.Tubuhnya memang ada disini, tapi tidak dengan pikirannya.

Seorang Wanita kini tengah memenuhi pikirannya. Matanya melirik sekilas ke benda platina yang tengah melingkar di jari manisnya. Entah apa yang dipikirkannya, Chanyeol tampak kembali menghela napasnya.

Pikirannya kembali ke beberapa tahun yang lalu, saat dia pertama kali melihat wanita itu.

FLASHBACK

Hari ini matahari bersinar sangat terik hingga menyebar kehangatan di musim yang dingin. Chanyeol keluar dari mobilnya dan menghela napasnya penuh beban saat ayahnya memintanya untuk datang membantu ke pusat sukarelawaan.

 

Chanyeol mengambil tas dokternya. Saat ini laki-laki itu tengah duduk di semester akhir jurusan kedokteran di Universitas EXO, Universitas yang sangat terkenal dengan kehebatan untuk jurusan bidang kesehatan.

 

Saat Chanyeol berjalan ke arah pos tempat dimana ayahnya memintanya untuk membantu pekerjaan sukarelawaannya saat ini, laki-laki itu tertegun saat melihat seorang gadis yang tampak lebih muda dari anggota sukarelawaan lainnya.

 

Tanpa Chanyeol rencanakan, pikirannya seketika menebak-nebak kira-kira berapa umur gadis yang sedang membagikan obat verbal ke orang-orang berumur senja yang duduk di dalam tenda.

 

“Ini obatnya halmonie, tolong diminum dengan teratur ya”

 

Kulit keriput nenek tertarik membentuk senyuman bahagia saat seorang gadis menyerahkan beberapa bungkusan obat verbal kepadanya.

 

“Kau gadis yang manis, Minna-ya. ku harap aku punya punya cucu laki-laki agar bisa dinikahkan padamu”

 

Gadis yang bernama Minna dan beberapa orang disana tertawa mendengarnya. Bagaimana tidak? Minna baru duduk di kursi tiga SMA saat ini, dia masih sangat amat muda untuk menikah.

 

“keundeyo halmonie, meskipun anda memiliki cucu laki-laki, anda tidak akan bisa menikahkan cucu anda dengan Minna-shi. Soalnya saya sudah berencana menikahkannya dengan putra saya” sambung Dr.Park Jang Woon, dokter yang menjadi ketua tim sukarelawaan kali ini. Mendengar ucapan sang dokter, sontak saja mengundang pecahan tawa semua orang.

 

Wajah Chanyeol seketika memerah saat tanpa sengaja mendengar ucapan ayahnya. ‘Apa yang ayah bicarakan?’ pikir laki-laki tampan itu.

 

Yaps.. Mereka sekarang ini ada di pusat sukarelawan kesehatan. Minna adalah salah satu sukarelawan disini. Gadis itu memang memiliki rasa sosial yang tinggi. Hidup dengan ibu yang sakit-sakitan membuat Minna lebih memikirkan kesehatan orang-orang berusia tua melebihi orang-orang yang seumuran dengannya.

 

Seolah tersadar dengan kehadiran anaknya, Dr. Park Jang Woon menoleh ke arah Chanyeol tepat saat laki-laki tinggi itu membatin. “Oh kau sudah datang,Yeol-ah. Kemarilah”

 

Chanyeol berjalan mendekati ayahnya dengan ragu. Perasaannya benar-benar tidak enak saat mendapat tatapan dari orang-orang disekitarnya. Terlebih lagi saat dia berdiri tepat di samping Minna, gadis muda yang tadi jadi pusat perhatiannya. ‘Ini pasti karena ucapan ayah yang tadi’ pikir Chanyeol.

 

Tapi biar bagaimana pun Chanyeol tidak bisa membohongi perasaannya. Jantung Chanyeol berdebar-debar kencang dan perasaannya bercampur aduk saat melihat Minna yang tengah tersenyum ramah ke arahnya.

FLASHBACK END

 

@@@

Kegelapan kini semakin banyak menelan langit. Sedangkan sang dewi malam bersembunyi di balik awan. Minna dengan mengendap-ngendap masuk ke dalam apartemennya. Wanita itu menghela napas lega saat menyadari bahwa ternyata tidak ada satupun orang di ruangan itu.

Dengan langkah cepat Minna memasuki kamarnya dan segera bergegas membersihkan dirinya. Dia harus sudah tampak rapi sebelum Chanyeol sampai di rumah. Dia harus bersikap seolah-olah dia tidak pulang terlambat hari ini.

Minna tidak tahu mengapa dia harus seperti ini. Padahal dia tahu bahwa Chanyeol tidak pernah mempermasalahkan kepulangan Minna sama sekali. Mereka memang tidak merasa terikat dan tidak mengikat satu sama lainnya, bukankah pernikahan ini hanyalah wujud dari kepatuhan seorang anak kepada orang tuanya?

Dia dan Chanyeol sama-sama tahu bahwa tidak ada rasa sama sekali di antara mereka. setidaknya itulah yang Minna pikirkan saat ini.

CKLEK

Suara pintu apartemen yang terbuka terdengar di telinga Minna, dengan segera Wanita itu memakai piyamanya dan naik ke atas tempat tidur. Berbaring disana dengan selimut yang menutupi setengah tubuhnya.

Minna memejamkan matanya. Berusaha mengantur napasnya agar menghembus dengan lembut dan seteratur mungkin.

Seperti yang Minna duga, Chanyeol masuk ke kamar Wanita itu dan memastikan bahwa Wanita itu sudah pulang ke rumah mereka. Dan seperti yang Minna duga juga, Chanyeol akan menarikkan selimutnya hingga ke bagian lehernya.

Namun.. ada sesuatu yang terjadi diluar dugaan Minna, bahwa tidak hanya itu saja yang Chanyeol lakukan. Diruangan yang hanya di terangi keremangan lampu tidur itu, Minna dapat merasakan deru napas Chanyeol yang semakin menyentuh kulit wajahnya.

Untuk beberapa detik, saat benda kenyal yang begitu lembut menyapu di bibir Minna, seketika saja Wanita itu merasa oksigen tiba-tiba terasa punah.

Paru-parunya seolah lupa bahwa masih ada udara residu yang berada di dalam tubuhnya. Minna benar-benar mematung ketika benda genyal yang diyakini sebagai bibir milik Chanyeol itu melumat dan menghisap bibirnya dengan kelembutan yang tiada tara.

Minna kembali teringat ke moment pernikahannya dan Chanyeol, dimana mereka mengikat janji suci di hadapan Tuhan dan berciuman sebagai bukti akan janji itu. Minna ingat dengan rasa ciuman itu. Rasanya persis seperti saat ini.

Minna kembali meninggalkan memorinya saat aktifitas dibibirnya terasa berhenti. Namun deru napas yang hangat masih terasa jelas di wajahnya.

“Sleep tight, My Minna. Saranghae”

DEGDEG… DEGDEG… DEGDEG…

Mati-matian Wanita itu menahan rasa gejolak dan sesak di dadanya. Ia ingin membuka matanya dan melihat bagaimana ekspresi Chanyeol saat ini namun dia tidak bisa. Dia terlalu takut untuk mengambil keputusan meski dia tahu apa yang seharusnya dia pilih.

Demi Tuhan! Minna bukan anak kecil lagi atau anak ABG yang pemikirannya masih sangat labil. Dia tahu cara membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. Namun dia tidak bisa memutuskan mana yang baik dari mana yang terbaik untuk dirinya sendiri.

BLAM

 

Dan suara pintu tertutup pun terdengar setelah beberapa kali terdengar suara langkah berat yang menjauh. Minna membuka matanya. Wanita itu tampak shock dengan wajah horor yang tidak akan bisa mengalahkannya.

‘Tuhan.. apa ini?’ Minna menyentuh dadanya. Bulir-blir keringat bercucuran dari pelipis Wanita itu. ‘Benarkah Chanyeol oppa… mencintaiku?’

 

@@@

Wajah Minna muram sepanjang hari ini. Hyunji yang merupakan teman sekantornya terus bertanya apa yang terjadi pada Wanita itu, namun Minna hanya menjawab dengan senyuman lelah.

Mati-matian dia memusatkan pikirannya ke pekerjaannya hari ini, tapi pikiran tentang tadi malam kembali berputar di kepalanya.

“Hhhh~”

Untuk kesekian kalinya, Minna menghela napas dengan berat. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, dia tidak fokus seperti ini. pikiran-pikiran tentang Chanyeol yang mencintainya sungguh membuatnya sesak. Rasa bersalah karena telah meluka di hati laki-laki sebaik itu membuat Minna mengutuk dirinya sendiri.

Selama ini dia berhasil menghiraukan rasa bersalahnya memiliki kekasih lain karena dia berpikir bahwa tidak ada cinta diantara dia dan Chnayeol, sehingga rasa bersalah itu hanya muncul karena disebabkan kebohongannya. Tapi sekarang rasa bersaalah itu terasa semakin membesar, karena bukan hanya sebuah kebohongan yang dia lakukan, melainkan juga sebuah penghianatan.

TOK..TOK..TOK..

“Minna, kau mau ikut makan siang bersama kami?” tanya Hyunji dan Jaeni yang saat ini berdiri di depan pintu ruangannya.

Minna sebenarnya tidak berselera makan, tapi terus di ruangannya seperti ini juga tidak baik untuknya. Jadi dia memutuskan untuk mengangguk dan berkumpul dengan teman-teman sekantornya. Berharap bisa melepaskan beban pikirannya meski hanya sementara.

.

.

.

“Jadi, kau akan datang ke pesta ultah perusahaan besok dengan suamimu, kan?”

Minna menyedot jus mangganya. Mengaduk-ngaduk jus itu dengan sedotannya sebelum menjawab pertanyaan Jaeni.

“Jika dia tidak punya jadwal operasi besok, mungkin iya”

Hyunji dan Jaeni menyunggingkan senyuman puas mereka. “Kami tidak sabar untuk melihat suamimu yang tampan itu lagi”

“Kau beruntung memiliki suami seperti dia. Dia tidak hanya dokter yang tampan, dia juga tinggi dan memiliki sopan santun yang baik. Dan terlebih dari itu, dia mencintaimu. Demi Tuhan Kim Minna, aku akan melakukan apa pun demi bertukar posisi denganmu!”

Minna tercekat mendengar perkataan Hyunji. “Kau pikir dia mencintaiku?”

“Tentu saja” yakin Hyunji dengan keyakinan bahwa rasa gula itu manis. “Hanya dari melihat tatapan matanya kepadamu di hari pernikahan kalian siapa pun pasti tau bahwa Chanyeol tergila-gila padamu”

“benarkah?”

Hyunji dan Jaeni membelakkan mata mereka . “Ada apa denganmu Kim Minna? Apa pernikahan kalian ada masalah?”

“Tidak. Tentu saja tidak” jawab Minna secepatnya. “Kami baik-baik saja”

Hyunji seolah ingin mengatakan sesuatu lagi, tapi kemudian dengan bijaknya wanita itu membatalkan niatnya.

.

.

.

“Apa besok malam oppa ada waktu bebas?” tanya Minna saat dia dan Chanyeol tengah makan malam bersama.

“Ada apa memangnya?”

“Aku ingin mengajak oppa ke pesta ulang tahun perusahaanku” Minna memasukkan sesendok nasi ke mulutnya. “tapi kalau oppa tidak bisa, tidak apa-apa kok”

“Aku bisa ” jawab Chanyeol dengan senyuman manisnya. “Besok kebetulan aku tidak ada jadwal operasi”

Jantung Minna berdegub kencang karena senyuman manis milik Chanyeol. tanpa diaba-aba matanya tertuju ke bibir Chanyeol yang entah sejak kapan terlihat menggairahkan.

‘Oh Astaga! Apa yang aku pikirkan?’

“Minna-ya, apa kau mendengar ucapanku?”

“He?”

“Kau pasti memikirkan pekerjaanmu lagi ya?”

‘Tidak. Yang ku pikirkan itu justru apa yang harus ku lakukan terhadapmu, oppa.’

“Eung i-iy oppa.. B-besok pagi aku ada rapat” Minna kembali tertawa di paksakan.

Chanyeol tertawa geli. Dia mencodongkan tubuhnya ke depan lalu mengacak rambut Minna dari seberang meja.

Minna merinding karena belaian tangan Chanyeol di kepalanya. jujur saja, ini mengejutkan Minna, Wanita itu tidak pernah merasa seperti sebelumnya.

’Kim Minna , ada apa denganmu??’

@@@

MINNA POV

Pesta perusahaan kali ini diadakan di ballroom hotel berbintang seperti yang selalu kami lakukan sebelumnya. Tapi perayaan kali terasa agak berbeda untukku. Jika kemarin-kemarin aku selalu pergi dengan Luhan sebagai seorang kekasih, kali ini aku pergi dengan Chanyeol sebagai seorang istri.

Kalian benar. Hubunganku dan Luhan sebenarnya sudah terjalin bahkan sebelum aku menikah dengan Chanyeol.

Malam ini aku mengenakan gaun merah cerah panjang tanpa lengan yang mengikuti bentuk tubuhku. Aku sengaja ingin mencuri perhatian dengan mulusnya kulitku dan bentuk indah tubuhku yang selalu menjadi topik rayuan laki-laki tidak tau malu. Sedangkan Chanyeol mengenakan stelan tuxedo putihnya dengan dasi kupu-kupu berwarna hitam. Meski warna putih bukanlah warna yang mencolok, namun dia masih berhasil menjadi pusat perhatian wanita-wanita disekitar kami.

Aku berjalan menggandeng tangannya ke dalam ruangan. Beberapa kali menyapa orang-orang yang ku kenal sebagai rekan sekantor ataupun kolega bisnis kantorku yang diundang.

Dan dengan profesinya serta silsilah keluarga yang merupakan pemilik salah satu rumah sakit terbesar di Seol membuat Chanyeol cukup terkenal. Buktinya saja aku tidak perlu memperkenalkan nama Chanyeol kepada kenalan-kenalanku karena mereka semua mengenalnya. Dan Ini adalah sesuatu yang baru untukku.

“Aku tidak tau kalau oppa seterkenal itu” godaku dengan suara yang hanya bisa ditangkap olehnya saja.

“Benarkah? Sepertinya kau harus banyak belajar tentang aku”

Aku tersentak, bukan karena jawabannya yang penuh percaya diri itu, melainkan karena bibirnya yang mengecup dahiku di tengah pesta sekarang.

Dan jantungku kembali berdegub dengan kencang. Tapi mati-matian aku menyembunyikannya.

‘Ini hanya sebuah kecupan dahi, tapi kenapa aku bisa seberdebar-debar ini?’

Setelah menyapa beberapa orang dan meneguk beberapa gelas minuman, akhirnya puncak acara dimana pemimpin kami yang tidak lain adalah Luhan memberi sambutan.

Seperti biasa, Luhan tampak tampan dan besinar seperti biasanya. Stelan tuxedo hitamnya yang tampak mahal mampu membuat wanita-wanita di ruangan ini dengan sukarela melemparkan diri mereka ke tempat tidur Luhan dan mengangkang di depan laki-laki itu.

Sulit memang membayangkan bahwa laki-laki itu adalah orang yang sama dengan laki-laki yang bercinta denganku selama ini.

Mata kami bertemu.

Luhan menatap tajam ke arahku. Aku tau apa yang membuat kilatan marah dimatanya, benar,Chanyeol. Tapi aku tidak mau memikirkannya untuk sekarang. Aku bisa memujuknya nanti.

“Apa hanya perasaanku saja atau bosmu memang sedang menatap tajam ke arahku?” bisik Chanyeol oppa tepat di telingaku, dan aku bisa melihat penambahan jumlah kilatan di wajah Luhan sebelum dia mengalihkan pandangannya ke arah lain.

“Ya, sepertinya memang begitu”

.

.

.

Ku oleskan kembali bibirku dengan lipstik merah yang ku bawa. Aku sedang berada di toilet sekarang. Jangan ditanya untuk apa, tentu saja untuk memperbaiki make-up ku. Menjaga penampilan adalah sesuatu yang selalu dilakukan wanita ketika mereka berada di pesta.

Baru saja aku mau mencari kotak bedakku dari dalam tas, tiba-tiba saja aku mendengar suara-suara aneh dari salah satu bilik toilet dengan pintu yang tertutup.

Aku mengenali suara ini. ini suara desahan.

‘Astaga! Ada yang sempat bercinta di saat pesta formal seperti ini?’

Aku menggeleng-gelengkan kepalaku. Berjalan kembali di depan cermin wastafel dan berniat untuk menghiraukan suara-suara itu. tapi baru saja aku menebalkan bedakku, tiba-tiba nama yang tidak asing menerobos gendang telingaku

“Arkk..Tuan Luhan~…ash…pe-lan-pe-aah,,, tuaann~”

Luhan?

Seketika saja jantungku lupa bagaimana caranya berdetak. Napasku terasa sesak, seolah paru-paruku pun ikut lupa bagaiman caranya bernapas.

Ku kuatkan diriku untuk berjalan perlahan ke pintu toilet yang tertutup itu dan memasang telinga baik-baik disana. Berharap aku salah dengar.

“Angh… Tuan Luhan… akh,, akh.. an-da..akh…nikhmat..”

Spontan aku menutup mulutku dengan tangan kiriku. Ku ambil HP-ku lalu mendial nomor Luhan, aku ingin membuktikan bahwa apa yang ku dengar itu-

Drt…Drt…Drt…Drt…

Benar.

Dari balik pintu, aku bisa mendengarnya menetralkan napasnya sebelum berkata. “Hallo Baby?”

Aku terdiam saat mendengar suaranya yang terdengar lebih jelas dari balik pintu dari pada dari balik telfonku.

Bajingan!

Dia merengek-merengek ingin melamarku tapi bercinta dengan wanita lain dibelakangu?

Brengsek! Sialan!

“Baby?kau di sana?”

“Ya, Lu. Aku disini.” Aku menatap tajam ke arah pintu. “Aku di balik pintu toilet dimana kau sedang bercinta”

BRAAAK

Aku mendengar suara barang terhempas dari balik pintu disusul suara sambungan telfon yang terputus.

Aku tau apa yang terjadi disana. aku tarik napasku dan berniat untuk menjauh dari sana. Namun belum sempat aku melakukannya pintu toilet itu sudah terbuka, dan laki-laki yang selama ini menjadi kekasihku berdiri di depanku dengan penampilan yang acak-acakan dan napas yang terengah-engah

“Minna”

Hanya kata itu yang keluar dari bibirnya. Aku melirik ke samping kanannya dan menemukan Hera, sekretarisnya, berdiri di balik tubuhnya sambil mengacingkan kemejanya.

“Minna, aku –”

“Jangan sentuh aku!”

Aku sontak melangkah mundur saat dia maju untuk menggapaiku. Wajahnya menegang saat melihatku memandangnya dengan tatapan yang entahlah.. aku juga tidak mengerti tatapan apa ini.

Emosi terasa membakar rongga dadaku. Tiba-tiba saja aku ingin mengucapkan segala jenis kutukan kepadanya

Luhan kembali mencoba mendekatiku dan menarikku ke dalam pelukannya tapi aku menepis tangannya.

Baby, please..

“Jangan!” Aku bisa merasakan emosiku mengalir ke setiap nadiku dan telah sampai ke ubun-ubun. Perasaanku bercampur aduk. Aku tidak heran kalau aku ingin menangis sekarang. Tapi aku tidak akan menangis sekarang. TIDAK DI DEPANNYA!

Dengan penuh kebencian ku tatap dia dengan lurus. Berusaha menghunus jantungnya dengan tatapanku jika aku memang bisa melakukannnya.

Baby –“

“Jangan memanggilku seperti itu, Lu! I’M NOT YOUR ‘BABY’ ANYMORE!!”

AUTHOR POV

Dengan air mata yang bercucuran, Minna melangkahkan kakinya menjauh. tapi baru beberapa langkah Luhan sudah menarik pergelangan tangannya dan menempelkan tubuh Wanita itu ke dinding lalu menghimpitnya.

Minna mengalihkan wajahnya saat Luhan akan menciumnya. Tangannya dengan cepat berada di dada Luhan dan mendorong tubuh laki-laki itu menjauhnya dari tubuhnya.

BRAAAK

Luhan tersentak kaget karena rasa sakit dan dingin lantai ubin tiba-tiba menghamtam bokong dan punggungnya. Melihat Luhan yang terjungkang, Minna langsung mengambil kesempatan.

“Kau tau?! Inilah yang membuatku tidak pernah ingin memiliki hubungan serius denganmu. Kau itu Bajingan Pemaksa! Brengsek Egois! Sialan Tak Tau Diri!!” suara Minna tercekat.

Entah sejak kapan wajahnya sudah basah. Hatinya benar-benar panas sekarang. Tatapan laki-laki di depannya seperti menyiram bensin ke bara api di hatinya.

“ Dengarkan aku Tuan Xi Luhan! Aku bukan mainanmu! Jika kau hanya ingin bermain-main maka carilah wanita lain!!Dasar Bajingan!”

Seketika saja ekspresi Luhan berubah. Air mukanya tiba-tiba saja seperti tersambar petir di siang bolong. Hanya keterkejutan yang menghiasi wajah tampan itu.

Minna menatap Luhan tajam sekali lagi sebelum melenggang keluar dari ruangan laki-laki itu. Tapi Luhan tidak menghentikannya kembali. Yaa.. jangankan menghentikannya. Laki-laki itu bahkan tidak mampu berkedip karena ucapan yang Minna ucapkan padanya.

Di saat pintu ruangannya tertutup, di saat itu jugalah pertahanannya roboh. Luhan seketika terduduk lemas di lantai. Kaki kuatnya itu bahkan tidak mampu menahan beban tubuhnya lagi. Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Luhan menangis karena penyesalan.

‘Aku mencintaimu, Minna-ya…’

@@@

Chanyeol terdiam saat melihat wanita yang berstatus sebagai istrinya itu tiba-tiba saja mengajaknya pulang dengan mata yang sembab. Dan didetik mereka sampai di apartemen mereka, didetik itu juga Minna masuk ke dalam kamarnya dan membenamkan wajahnya di bantal kepalanya. Berusaha membungkam suara tangisannya agar tidak meraja lela.

Hatinya sakit bagaikan terantai kawat duri. Bagaimana tidak? Setelah semua yang dia lakukan untuk laki-laki itu bagaimana mungkin Luhan semudah itu menyakitinya?

Dia bahkan sampai rela berbohong pada Chanyeol dengan alasan kerja lembur hanya demi memenuhi nafsu Luhan akan tubuhnya

Dia bahkan tidak menyadari perasaan Chanyeol selama ini dan menjadi istri yang buruk hanya karena terlalu fokus melihat ke arah Luhan.

Tapi apa yang laki-laki itu lakukan di belakangnya? Laki-laki itu malah bercinta dengan wanita lain!

HP Minna terus bergetar sejak tadi, sang penelfon dengan nama kontak ‘My Dear Deer’ terus berusaha menghubunginya. Tapi sesering apa pun Luhan menghubunginya, sesering itu juga Minna mematikan telfonnya. Wanita itu bahkan melepas baterai HP-nya agar Luhan tidak bisa menghubunginya.

TOKK.. TOKK ..TOKK..

“Minna-ya..”

Minna bisa merasakan Chanyeol masuk ke kamarnya dan berjalan mendekatinya.

Chanyeol duduk di tepi ranjangnya dan mengelus rambutnya lembut sama seperti seorang ayah yang mengelus rambut anaknya dengan penuh kasih sayang.

“Apa kau baik-baik saja?” suara Chanyeol yang lembut dan kelakuannya yang baik semakin membuat Minna menangis. Wanita itu tidak mampu menjawab pertanyaan Chanyeol dan berpura-pura untuk bersikap baik-baik saja.

“Apa yang terjadi sebenarnya, Minna-ya? Apa kau sakit?”

Minna menggelengkan kepalanya. wajahnya masih engan diangkatnya dari bantal.

Chanyeol terdiam sesaat. Suara isakan tangis terdengar jelas di kamar yang berwarna Safir Blue itu.

“Apa ini karena Luhan?”

Minna tersentak mendengar nama Luhan dari bibir Chanyeol. dengan perlahan Wanita itu mengangkat wajahnya dari bantal dan menatap lurus ke arah mata Chanyeol, mencari sesuatu yang bisa dijadikan clue di sana. Bukankah mata adalah jendela hati?

Namun Minna tidak menemukan apa pun dimata Chanyeol selain gurat pengertian dan terluka yang tidak bisa disembunyikannya.

Laki-laki itu kembali mengelus rambut Minna dengan senyuman yang menggambarkan kepedihan. “Aku bukan orang bodoh, Minna-ya. Aku mencari tau apa pun tentangmu sebelum hari pernikahan kita. Aku tau apa pun tentang dirimu, termasuk kenyataan kalau kau tidak tau apa pun tentang diriku”

Minna bisa merasakan kegetiran di setiap tarikan napas Chanyeol ketika dia berbicara tadi. Hanya orang idiot yang tidak bisa melihat betapa dalamnya luka pada hati Chanyeol saat ini, dan Minna baru menyadarinya bahwa selama ini dia telah menjadi orang idiot.

Minna bangun posisinya dan mendudukkan dirinya di samping Chanyeol. menatap laki-laki yang juga sedang membalas menatapnya dalam.

“Aku tau kau masih berhubungan dengan Luhan selama ini. aku tau itu. kau tidak akan bisa membayangkan bagaimana rasa sakitnya ketika kau selalu melihat seseorang, namun orang itu tidak pernah melihatmu”

Minna diam. wanita itu terlalu shock untuk mengeluarkan kata-kata.

Chanyeol mengalihkan pandangannya ke foto pernikahan mereka yang terpajang di dinding kamar itu.

“jadi.. oppa tau kalau aku… aku…”

“kalau kau bercinta dengannya setiap kali kau bilang kau sedang lembur? Ya. Aku tau” Wajah Chanyeol tampak suram sekarang. “Seorang dokter selalu bisa membedakan yang mana kelelahan karena pekerjaan dan yang mana kelelahan karena bercinta, Minna-ya. Dan sekedar mengingatkanmu kalau kau lupa, aku adalah seorang dokter”

‘Jadi selama ini dia tau? Oh Tuhanku! Apa yang harus aku lakukan?!’

Tubuh Minna menengang. Dia ingin tau mengapa Chanyeol diam saja selama ini jika Chanyeol memang tau segalanya. Tapi sayangnya lidahnya mendadak terasa kelu. Dan bibrnya mendadak berat dibuka seperti di tarik batu.

Tapi seolah mengerti dengan apa yang Minna pikirkan, laki-laki itu kembali tersenyum. Meski bukan senyuman manis Chanyeol yang biasanya, tapi cukuplah untuk mengembalikan sedikit keberanian dan ketenangan Minna.

“Aku pria yang egois Minna-ya. Aku tidak ingin melepasknmu meski aku tau kau tidak mencintaiku. Bagiku, rasa sakit karena kau bohongi masih lebih baik dari pada melihatmu terikat hubungan resmi dengan pria lain”

“kau seperti obat sekaligus racun untukku Minna-ya. memilikimu membuatku bahagia, tapi bersamamu membuatku terluka.”

“Maafkan aku, oppa” Minna menunduk saking malunya. Wanita itu tidak tau lagi harus mengatakan apalagi sekarang.

“Kau tau bukan kata maaf yang aku ingikan, Minna-ya. Tapi aku mengingkanmu” Bisik Chanyeol dengan nada rendah yang terdengar seksi. “Aku tidak bisa menahannya lagi sekarang”

Belum sempat otak Minna meloading arti dari perkataan Chanyeol, tiba-tiba saja bibir pria itu sudah menempel bibirnya dan melumatnya dengan lembut. Minna terbuai dengan permainan Chanyeol.

Selama ini dia selalu terbiasa dengan permaianan Luhan yang liar, tapi kali ini segalanya berbeda. Bibir Chanyeol begitu lembut dan manis. Minna membalas ciuman Chanyeol yang bergerak menggunakan tempo itu. tangannya sudah mengelilingi leher Chanyeol dan barmain-main di sela-sela rambut Chanyeol yang selembut sutra.

Dengan perlahan bibir Chanyeol berpindah dari bibir ke rahangnya. Tangan Chanyeol dengan lembutnya menyingkap gaun merah Minna dan membelai belahan pahanya.

“Anggh… Chanyeol-aaah~ ”

Minna menggelinjang tidak karuan saat bibir Chanyeol berada di atas puting payudaranya dan mengemutnya dengan penuh kelembutan.

Entah bagaimana Minna naik ke pangkuan Chanyeol dan menggesek-gesekkan daerah sensitifnya yang masih berbalut celana dalam ke perut Chanyeol yang kotak-kotak.

“Aangghhh~”

Chanyeol menggerang nikmat saat Minna dengan ahlinya membelai juniornya yang saat ini masih terbungkus celana.

Minna terbuai dalam permaianan Chanyeol, dan begitu juga sebaliknya, tanpa sadar seluruh pakaian mereka sudah terlepas sempurna.

Dan Minna memekik nikmat saat Junior Chanyeol yang besar memasuki dirinya dan bersentuhan dengan dinding rahimnya,

Chanyeol memggenjotnya dengan ritme yang santai, membuat Minna meram melek karena kenikmatan yang jarang dirasakannya. Biasanya permaianan Luhan yang kasar membuat Minna terbiasa merasakan perih yang dibarengi dengan kenikmatan. Namun ketika bersama Chaneyol, rasanya semuanya total tentang kenikmatan.

“Akh…Akh…Akh…Akh..”

Genjotan demi genjotan, pelepasan demi pelepasan, mereka nikmati bersama, hingga akhirnya Chanyeol menghentikan permaianan mereka dan memeluk Minna ke dalam pelukannya.

“Jangan menangisi pria lain lagi di depanku, maka aku akan memaafkan setiap kebohongan dan penghianatanmu dulu” ujar Chanyeol di sela belaian tangannya di tubuh Minna yang polos. “Tapi untuk kali ini aku ingin bersikap posesif padamu, Minna-ya. Maukah kau mencoba untuk mencintaiku dan berhenti menemui pria itu lagi?”

Melihat Minna yang terdiam, Chanyeol kembali melanjutkan perkataannya. “Jika aku tau kau menemuinya lagi, aku akan menghukummu.”

Minna mengerutkan alisnya. “menghukumku?”

“ya, aku akan bercinta denganmu sampai membuatmu tidak mampu untuk bangun pagi”

@@@ FIN @@@

About fanfictionside

just me

8 thoughts on “FF oneshot/ POTION OR A POISON/ EXO

  1. nyesek bacanya. ternyata chanyeol simpen perasaan buat minna. huhuhu jahat bgt luhan tau minna dah pny suami masih aja deketin. ff bagus. ditunggu karya selanjutnya

  2. Aaaaaaaa aaaaa aaa aku sukaaa aaa aaa. banget!! ff nya kerennnn!! daebakkk!! dasar Luhan brengsekk !! kkkk~ 😂😂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s