FF/ FROM NOW ON I LOVE YOU/ GOT7/ pt. 2


Author : PANDAKIM

Genre: School Life, Teenager, Romance

Lenght: Chapter

Cast :

Im Jaebum – JB GOT7

Mark Yi-En Tuan – Mark GOT7

Park Jinyoung – JR GOT7

Jackson Wang – Jackson GOT7

Choi Youngjae – Youngjae GOT7

Kunpimook Bhuwakul – Bam Bam GOT7

Kim Yugyeom – Yugyeom GOT7

Song Jaeya – OC

Li Mingxia – OC

Ahn Jikyung – OC

Lee Aera – OC       

Kim Hara – OC

Shin Sunhee – OC

Park Hyunra – OC

Other Cast

A/N: part kali ini panjang kaya jurnal. Harap tidak bosan membacanya. Selamat membaca.

Author Pov

Jaeya menatap dirinya di pantulan cermin besar dikamarnya. Ini adalahnya hari kedua bersekolah di sekolah barunya.

Setelah rasanya sudah sempurna diraihnya tas ransel roxy baby blue nya yang tidak berada jauh di dekatnya.

“Pagi appa” sapanya kepada ayahnya yang sudah siap sedia dengan pakaian kantornya di meja makan.

“Pagi.. bagaimana hari pertamanya ?”

“Hmm.. I feel the best” kemudian Jaeya tertawa renyah. Di comotnya roti panggang yang terpampang di mukanya. Dikunyahnya rotinya dengan terburu – buru. Feel the best apanya batinnya. Di penghujung hari pertama sekolah dan awal pertama ia mendapat sesuatu yang memperburuk kesan hari pertama sekolah.

“Hmm.. sepertinya nanti appa tidak bisa menjemputmu. Nanti pulang naik taksi lagi ya ?” ayahnya menatap Jaeya berharap anaknya tidak mengambek.

Bukannya marah atau mengambek. Jaeya malah tersenyum tanda ia mengerti. Ia selalu mengerti keadaan ayahnya.

“Baiklah appa” jawabnya.

***

Jaeya berjalan diantara murid murid sekolah Royal melewati lapangan hijau yang luas. Tidak seperti yang lain. Berjalan tanpa memperdulikan sekitaran sekolahnya. Mata Jaeya menjuru kesemua inci sekolah barunya ini.

“Pagi”

Jaeya menoleh. Dilihatnya Jikyung yang sudah di sampingnya. Ditatapnya Jikyung heran. Kapan ia disampingku pikirnya.

“Masih asing di sekolah?”

“Syndrom anak baru” balas Jaeya asal membuat Jikyung tertawa kecil hingga lesung pipinya kelihatan.

Jaeya menatap tempat di seberang pandangnya. Tempat yang di penuhi siswi – siswi. Seperti tempat nongkrong.

“Itu tempat apa ?”

Jikyung memicingkan matanya melihat yang di tuju Jaeya. Kemudian Jikyung membentuk huruf O di bibirnya.

“Itu tempat anak populer. Semua murid disini juga tahu. Ingin kesana kau harus populer”

“Apa disini ada kesenjangan sosial atau semacamnya begitu ?”

Jikyung menoleh “Hm.. setiap sekolah ada seperti itu. Apa sekolah mu tidak ada ?”

Jaeya menaikan tautan kedua alisnya tampak berfikir “Ada.. tapi tidak terlalu ketara “

“Sayangnya disekolah ini perbedaan sosial itu ada dan ketara sekali” tandas Jikyung. Jaeya pun mengangguk tanda mengerti. Mereka pun melangkah lebih jauh kedalam sekolah sampai memasuki koridor dengan aksen eropa yang classic. Langkah mereka terhenti saat anak – anak murid yang lain berhamburan kedepan mereka hingga mengenai bahu mereka masing.

“Ada apa sih” Jaeya memegang bahu dengan jengkel yang terkena senggolan siswa yang lain.

Sedangkan Jikyung ia hanya bersikap biasa saja.

“Wow.. “ Jaeya berwow ria melihat 7 siswa tampan lewat di depan mereka. Walaupun di tutupi siswa yang lain.

“Apa nya yang wow” desis Jikyung menatap datar mereka.

Ekspresi wow nya Jaeya terhenti saat ia melihat wajah Jaebum. Ditatapanya wajah Jaebum. Alisnya kembali bertaut mengingat wajah tersebut. Ini alisnya tidak kembali bertaut mengingat siapa wajah itu. Kini ekspresinya sama dengan Jikyung datar tak berekspresi tapi ekspresinya Jaeya lebih kearah kesal.

***

Yugyeom menatap ngeri pesan yang dikirim ibunya kepadanya. Kemudian ekpresinya berubah menjadi frustasi.

“Apa yang harus kulakukan” jeritnya sambil menjambak rambutnya. Yugyeom bangkit dengan mengigit bibirnya dan berjalan bolak – balik.

“Sepupu mu kenapa ?” Jackson berbisik ke Jinyoung. Jinyoung hanya mendengar bisikan Jackson tanpa menolehkan pandangannya dari pspnya.

“Jinyoung bisakah kau hentikan Yugyeom yang berjalan bolak – balik di hadapanku” sentak Mark frustasi melihat Yugyeom yang seperti anak kecil merengek dengan mengigit jarinya.

“Kenapa harus aku” protes Jinyoung kesal.

“Aaarrgghhh”

Kini Jinyoung menjerit tiba – tiba. “Lihat aku menjadi kalahkan” Jinyoung bangkit dan menjerit marah.

“Hyuuung” Yugyeom memanggil semua hyungnya kecuali Bambam yang hanya di tatapnya saja.

Mereka diam melihat Yugyeom. Entah kenapa Yugyeom sangat menjijikkan bagi mereka saat Yugyeom merengek seperti tadi.

“Hyuuung” panggilnya lagi. Mungkin bagi siswi diluar sana. Yugyeom saatlah menggemaskan tetapi tidak dengan mereka.

“Ada apa” Bambam memilih mewakili menjawab panggilan Yugyeom.

“Aku disuruh masuk ekstrakuliler sastra. Sastra ‼ Sastra ‼ Apa eomma dan appa tidak tahu nilai sastra ku itu rendah ?” mata Yugyeom melotot melihat mereka satu persatu.

Hening

Jaebum, Mark, Jackson, Jinyoung, Youngjae, maupun Bambam diam menatap Yugyeom dingin, tak berekspresi.

“Kenapa hanya melihat ku saja ? Kasih jalan keluar dong” Yugyeom menghentak – hentakan kakinya seperti anak kecil.

“Aku keluar dulu” Jinyoung bangkit dan keluar dengan gerakan pelan yang disengaja dan menatap teman – temannya dengan tatapan yang ada artinya.

Jackson bangkit. Ia tau maksud tatapan Jinyoung. “Aku juga”

“Aku juga” sahut Jaebum ikutan.

“A-aku ikut hyung” dengan langkah gagap Youngjae bangkit. Bambam pun menyusul dengan berpura – pura menelfon seseorang padahal ponselnya mati total.

Yugyeom menatap Mark yang tinggal sendirian. Mark juga menatapnya. Mark menatap Yugyeom ngeri saat Yugyeom tersenyum kearahnya.

“Yugyeom. No. Aku tidak bisa mendengarkan ocehan mu. Not now” Mark bangkit dan berjalan melewati Yugyeom.

Yugyeom menatap kepergian Mark melewati pintu bewarna coklat itu.

“AAAAAHHH HYUUUUNG” jeritnya kuat.

***

Yugyeom berjalan dengan malas – malasan. Tapi mulutnya tidak berhenti menggerutu. Diremasnya kertas yang berisi formulir pendaftaran ekstrakuler kelas sastra.

“Kenapa harus sastra sih” gerutunya. Dia tak habis pikir. Bagaimana bisa orang tuanya menyuruhnya masuk kelas sastra. Apa yang difikirkan ibu ayahnya saat ini hingga ia disuruh masuk ekskul sastra.

***

Kini Yugyeom berdiri di depan ruangan eksrakuler kelas sastra. Di tatapnya pintu ini dengan pandangan benci, kesal, dan tak suka dalam sekaligus.

TOK‼TOK‼

Dengan ogah – ogahan Yugyeom mengetuk pintu berwarna abu – abu.

Yugyeom terdiam. Tak ada sahutan dari dalam. Diberanikannya menyentuh kenop pintu. Saat tangganya sudah di kenop pintu. Pintu tersebut terbuka dari dalam membuat Yugyeom sedikit terkejut.

Annyeonghaseo” sapa Yugyeom dengan sopan dan sedikit menunduk kepada Hyunra siswi yang membuka pintu dari dalam. Yugyeom menatap binggung Hyunra sebagian wajahnya tertutupi scar yang ia pakai.

“Eh.. ini.. aku..” Yugyeom menatap binggung kertas yang ia pegang. Hyunra mengintip apa yang di pegang Yugyeom.

“Ingin masuk ekskul sastra ? Seulbi eonni sedang ke toilet. Anda bisa menunggu di dalam.” jelas Hyunra mempersilahkan Yugyeom masuk. Dengan gerakan takut – takut Yugyeom masuk ke dalam ruangan ekskul sastra. Di dudukannnya tubuhnya di bangku kayu. Selagi menunggu Yugyeom melihat seisi ruangan ini. Ia bangkit dan melihat segala sertifikat, piagam dan piala – piala yang terdapat di ruangan ini.

“Park Hyunra, Park Hyunra, Park Hyunra, Park Hyunra, Park Hyunra…” Yugyeom terus mendesiskan nama yang tertera di piala, sertifikat dan piagam yang ia lihat.

“Kenapa namanya terus”

“Karena dia kebanggaan kelas sastra. Ia yang membuat ruangan ini penuh dengan piagam, sertifikat dan piala”

Yugyeom menoleh kebelakang. Dilihatnya murid perempuan sudah berdiri dengan sempurna di belakangannya. Yugyeom melihat simbol yang tertera di depan jas almaternya. Ia senior Yugyeom.

“Ada gerangan apa Kim Yugyeom datang kemari ?” Seulbi sang ketua ekskul sastra ini melihat binggung Yugyeom.

Yugyeom menatap kertas yang ia pegang. “Saya ingin masuk ekskul ini sunbae” jelas Yugyeom tak ikhlas.

Seulbi mengambil kertas formulir Yugyeom dan beranjak duduk ke mejanya. “Benarkah kau mau ikut ? Menyukai sastra ?” Seulbi menatap Yugyeom sarkatis.

Yugyeom menggeleng samar. Seulbi yang melihat Yugyeom tersenyum simpul. “Aku senang, ada yang masuk ekskul ini apalagi yang masuk murid populer seperti mu. Tapi aku khwatir secara kau salah satu anak populer, takutnya nanti reputasi mu akan hancur karena masuk ekskul yang membosankan ini”

“Reputasi ? apa itu penting ?”

Seulbi tergelak. “Kau berbeda dengan sepupumu. Baiklah kalau begitu. Ekskul ini dibuka setiap hari selasa, kamis, dan jumat. Kalau datang setiap hari juga tidak masalah”

Yugyeom mengangguk mengerti. “Murid tadi itu apa anak ekskul sastra juga ?”

Seulbi menatap diam Yugyeom. “Kau tidak kenal dia ? Hyunra ? Park Hyunra anak kebanggan kelas sastra ?”

Yugyeom menggeleng sekilas. “Aku cuma mengenal teman sekelas dan Jinyoung hyung dan temannya yang lain”

Seulbi menggeleng melihat Yugyeom.

“Eonni..”

Seulbi menoleh. “Ada apa ?”

“Hari ini boleh tidak masuk ? Ada urusan penting dengan Hyunsik oppa. Boleh ya eonni” bujuk Hyunra.

Seulbi tampak berfikir. “Baiklah. Oh ia Kim Yugyeom ini Park Hyunra. Dan Park Hyunra ia Kim Yugyeom anggota baru ekskul ini” Seulbi memperkenalkan mereka satu sama lain. Yugyeom dengan malu – malu menjabat tangan Hyunra yang sudah duluan menyodorkan tangannya.

“Hyunra”

“Yugyeom. Mohon bantuannya”

***

Yugyeom menatap tangannya sambil berjalan kearah kelasnya. Mukanya memerah, tangannya masih gemetaran sampai kehatinya. Terkesan berlebihan tapi itulah yang dirasakan Kim Yugyeom.

“Tangannya…” lirihnya senang sambil ia membuat sebuah lengkungan senyum di bibirnya.

“Lembut.. Hangat” lanjutnya kini ia tersenyum lebar. Walaupun ia hanya bisa melihat matanya gadis itu saja. Tapi itu cukup membuat Yugyeom tersenyum.

Yugyeom menjerit saat ada tangan yang memegang tangan kanan yang ia pandangi sedari tadi.

“AAAAHHHHHH”

Dilihatnya kesamping. Bambam dengan santainya menggengam tangannya. “Kau ingin tanganmu di genggamkan ?”

Dihempaskannya tangan Bambam. “Kenapa kau genggam tangan ku ?” air mukanya berubah menjadi sedih dan kecewa. Baru saja ia merasakan lembut dan hangatnya tangan Hyunra. Eh Bambam tiba – tiba datang dan menghampus jejak – jejak kelembutan dan kehangatan tangan Hyunra yang tertinggal di telapak tangan kanannya.

Diliriknya kesamping tangan Bambam dengan sinis. Ditariknya tangan Bambam kemudian. Di usap – usapnya tanganya Bambam ke almamaternya dengan kasar bermaksud menghilangkan bekas jejak – jejak tangan Hyunra. Setelah ia rasa sudah cukup. Dihempaskannya tangan Bambam. Dan di tinggalkanya Bambam yang terbengong melihat tingkah aneh Yugyeom.

“Hei..” jerit Bambam.

Saat ia ingin mengejar Bambam. Matanya terpantulkan cahaya yang seperti berasal dari kamera. Di edarkannya pandangannya. Tapi tidak ada siapa – siapa. Hanya dia, tembok – tembok lorong, dan mading – mading yang terpampang di dinding. Bambam mengangkat bahunya. Kemudian melangkah meninggalkan tempatnya.

Tapi di balik tembok besar di lorong seseorang sedang merutuki kebodohannya.

“Kenapa aku hidupkan flashnya” keluhnya.

***

Jackson mengelap dahinya yang berkeringat setelah ia memasukan bola basket ke ringnya dengan three-point. Sebuah lengkugan senyum puas terukir di bibirnya. Jackson melangkah mundur kemudian berbalik menuju bangku – bangku kayu yang berada di dekat lapangan basket out-door ini. Setengah berbaring Jackson meminum air mineral yang ia bawa. Di lepasnya 3 kancing kemejanya hingga dada bidangnya terbiaskan cahaya siang matahari. Di tatapnya sekolahnya yang sepi. Karena ini masih jadwal proses belajar mengajar hanya dia yang keluar di saat teman – temannya belajar. Jackson lebih memilih keluar ketimbang mengikuti pelajaran kimia. Lebih baik ia mengikuti pelajaran olahraga 6 jam sehari selama seminggu penuh ketimbang pelajaran kimia yang hanya 2 jam sekali seminggu.

Jakunnya naik turun saat ia meminum hingga bunyi glek..glek..glek di kerongkongannya. Pandangannya terfokusnya melihat siswi yang kesusahan membawa sejaring yang berisi bola basket. Jackson memicingkan matanya agar melihat lebih fokus.

Entah gerakan darimana ia segera bergerak cepat dan menghampiri siswi itu. Di tariknya sejaring bola di genggaman siswi ini hingga bolanya tercecer kelantai.

“Apa yang kau lakukan” tukas Aera kesal tapi nadanya pelan. Dengan gerakan pelan diambilnya jaring yang berada di tangan Jackson tanpa paksaan. Lalu mengutip bola yang berceceran di lantai kemudian dimasukannya ke dalam jaring tersebut. Jackson heran menatap tingkah Aera kali ini. Masih dengan ide jahil Jackson membuang bola basket yang belum masuk keranjang kearah lapangan jauh – jauh.

Aera menatap Jackson tak percaya. “Apa ‼ mau marah hah ?” tantang Jackson. Aera menghembuskan nafasnya. Tak mau ambil pusing, ia beranjak kearah lapangan lalu mengambil bola basket tersebut. Jackson semakin binggung melihat tingkah Aera. Biasa nya juga ia akan marah – marah dan berakhir dengan perkelahian.

Tapi Jackson tak mau diam begitu saja. Dilangkahkanya kakinya mendekat kearah Aera. Ide jahilnya masih melingkupinya. Tinggal satu bola lagi yang belum masuk ke jaring. Jackson setengah berlari dan menendang bola tersebut hingga jauh sekali sampai masuk ke kolam ikan yang berada di tengah – tengah lapangan ini.

Aera menggenggam erat tangannya. Kepalanya sudah pusing sekali, perutnya juga sakit, tubuhnya lemas. Dan kini Jackson datang untuk mengjahilinya.

“Jackson aku tidak mencari masalah kepadamu. Jadi tolong jangan ganggu aku”

Jackson tersenyum sinis “Tapi aku yang ingin cari masalah kepadamu”

Aera menatap Jackson benci. Tiba – tiba perutnya yang nyeri ini semakin nyeri.

“Aaakhh” Aera memegang perutnya yang sakit.

Jackson yang melihat Aera menggerang kesakitan menjadi binggung. “A-aera kau kenapa ?” tangannya terulur menggengam tangan Aera. Tapi segara di tangkis Aera.

“Sana pergi” usirnya ketus.

Perlahan Aera meninggalkan Jackson. Tangannya masih memegang perutnya. Aera terduduk saat perutnya semakin nyeri dan seperti dililit.

Antara sadar dan tidak Jackson menggendong Aera ala bridal. “Kita ke ruang kesehatan”

***

Aera perlahan membuka matanya. Samar – samar ia melihat selulet ruangan yang ia tempai. Ruang kesehatan batinnya.

“Sudah baikan ?”

Aera menoleh. Kenapa ia disini batinnya lagi.

“Kau tertidur saat habis meminum obat peredah nyeri datang bulan” jelas Jackson.

Aera tersadar kini ia tidak merasakan sakit yang melilit di perutnya saat ia mendapatkan datang bulan. Kepalanya juga tidak pusing lagi. Kemudian di tatapnya Jackson tak senang. Saat ia mengingat ia dijahili oleh Jackson beberapa menit atau jam yang lalu.

“Apa ?” Aera menatap Jackson.

“Kau seharusnya mengatakan sesuatu kepadaku”

Aera berdecak kesal. “Aku tidak meminta bantuanmu” tandas Aera kemudian beranjak dari kasur. Dan berjalan meninggalkan Jackson yang menatapnya tak percaya.

“Tunggu” ditariknya lengan Aera.

“Kau harus mengucapkan terima kasih kepadaku”

“Cih.. kau mengharapkan ucapan terima kasih kepadaku huh ?” nada Aera begitu mengejek. Di hempaskannya tangan Jackson. Lalu melenggang meninggalkan Jackson.

“Seharusnya kubiarkan dia kesakitan memegangi perutnya” desis Jackson kesal.

***

Mark bolak – balik menguap mendengarkan penjelasan Mrs.Zhu yang menjelaskan tentang bahasa mandarin. Dia sudah sudah tahu sedari kecil tentang bahasa yang berasal dari negeri China tersebut. Ya karena ia keturunan Taiwan. Tidak mungkin ia tidak mengetahui bahasa Mandarin.

“Sudah tidur saja”

Mark menoleh. Di lihatnya Mingxia yang menatapnya. Lalu Mark melirik Mrs.Zhu di depan kelas kemudian melirik Mingxia. “Bangunkan aku kalau Mrs.Zhu mengarah kesini”

Mingxia mengangguk mengerti. Lalu tangan menyerahkan buku besar kepada Mark. “Ini buat menutupi wajahmu”

Mark mengambil kemudian tersenyum sekilas ke Mingxia.

***

“Mark.. bangun Mark..” Mingxia mengoyang – goyangkan badan Mark. Tapi tetap saja Mark tidak mau bangun. Dilihatnya tumpukan buku yang ia harus bawa ke ruangan Mrs.Zhu. Tapi tidak mungkin ia meninggalkan Mark.

“Mark…” panggilnya sekali lagi.

Mingxia menghelah nafasnya. Di dekatkannya wajahnya ke Mark. “Tidak menyangka sedingin dirimu tidur seperti bayi seperti ini” lirih Mingxia pelan. Lalu tangannya tergerak kepipi Mark.

“AAAHHHH”

Mark menjerit hebat saat tangan Mingxia mencubit pipinya. Di usap – usapnya pipinya yang kini mungkin sudah memerah “Sakit Ming” keluhnya. Tapi Mingxia hanya tertawa kecil melihat ekspresi kaget Mark.

“Siapa suruh susah di bangunin”

Mark menatap ke sekeliling sudah sepi. “Mereka sudah pulang semua” jelas Mingxia yang kini sedang merapikan buku – buku yang akan di bawa ke ruangan Mrs.Zhu.

Mark mengacak – ngacak rambutnya. “Kalau begitu aku pulang juga”

Mingxia hanya berdehem lalu fokus menyusun buku agar mudah bawa. Langkah Mark terhenti saat melihat pantulan Mingxia di kaca pintu yang sedang berusaha mengangkat buku yang bertumpuk.

“Kenapa tidak meminta bantuan ku” tangannya Mark sudah bergerak mengambil setengah tumpukan buku yang berada di tangan Mingxia.

“Aku masih canggung meminta bantuanmu” jawab Mingxia dengan senyuman kecil. Mark mendecak. “Kau ini ketua kelas, sudah sepantasnya kau menyuruh siapa pun. Termasuk aku”

***

Mark mau pun Mingxia meletakkan buku yang mereka bawa. Kemudian mereka sama – sama keluar. Saat mereka berjalan lurus menuju pintu keluar. Jaeya dari arah samping menuju mereka hingga mereka berpas – pasan. Jaeya menundukan kepalanya sekilas. Ke arah Mingxia dan Mark. Mark menatap jelas wajah Jaeya.

“Sepertinya dia anak baru ya ?”

Mark menoleh ke Mingxia sedetik kemudian menoleh ke Jaeya yang sudah sedikit jauh berjalan di koridor. Mark hanya berdehem masih dengan melihat Jaeya.

“Mark..”

Mark diam tak bergeming. Mingxia menyenggol bahu Mark. “Melihatnya terus. Kau menyukainya ya ?” tebak Mingxia asal. Tapi itu malah membuat Mark menoleh dan menatap Mingxia binggung dan gugup.

“Ti-tidak”

Mingxia tergelak tawa. “Kenapa kau menjawab gugup ?” ditatapnya Mark dengan tatapan jahil.

“Wah.. wah baru kali ini aku melihat mu jatuh cinta. Kau jatuh cinta kan ? Hayooo”

Mark memutar bola matanya. “Whatever

Ditinggalnya Mingxia yang masih tertawa. Hentakan – hentakan antara sepatu dan lantai marmer di koridor yang sepi membuat Mingxia semakin menaikan volume ketawanya.

***

Rabu pagi Hara sudah di sibukkan dengan kertas – kertas yang berisikan data – data tentang acara yang akan di adakan. Ya, karena bulan depan akan ada acara tahunan kreasi seni dan kali ini diadakan di sekolah mereka. Bagi yang lain bulan depan mungkin lama, tapi tidak dengan Hara. Bulan depan seperti minggu depan baginya.

Hara mendengus kesal melihat banyaknya data yang belum terisi. Persetujuan kepala yayasan sja belum di tanda tangani.

Hara mengusap wajahnya kasar. “Bagaimana belum di tanda tangani”.

“Pagi..”

Hara mendongak. Di dapatnya Youngjae sedang tersenyum kearahnya.

“Youngjae-shi kenapa ini….”

“Ini masih pagi Hara-shi. Jangan merusak pagi mu dengan emosimu” ucap Youngjae sambil membuka bekal makanan yang ia punya.

“Makan” tawar Youngjae sambil mengosok – gosok kedua sumpitnya bersamaan.

Hara melirik Youngjae yang dengan lahapnya menyantap bekalnya. Apa dia belum sarapan pikir Hara.

Hara terkesiap saat Youngaje menyodorkan eggrolls ke dia. “Mau ?” Hara menggeleng cepat.

“Kau pasti belum makan kan ? Ayo buka mulutmu”

“Jangan asal. Aku sudah sarapan”

Youngjae tersenyum simpul lalu mendesah kecewa. “Baiklah kalau tidak mau”

Tapi sedetik kemudian, perut Hara berbunyi. Hara menahan nafasnya. Bukan hanya menahan nafasnya. Juga menahan malunya.

Youngjae jelas mendengarnya. Perlahan ia sodorkan bekalnya ke Hara. “Makanlah. Nanti kau bisa sakit” Youngjae tersenyum ke Hara. Hara meneguk ludahnya kasar. Benar – benar malu dia kali ini.

***

Jaebum berjalan dengan santai dengan earphone di kedua telinganya. Dia lumayan risih mendengar sanjungan – sanjungan siswi – siswi yang ia lewati. Dimasukannya tangannya ke kantung celanya sambil menatap ke arah lapangan. Disana terlihat Jackson sedang bermain basket dengan Mark dan yang lain. Tapi Jaebum lebih memilih melihat mereka sambil berjalan.

BRUK‼

Dengan cepat Jaebum menoleh. Melihat kemejanya sekolahnya sudah basah dan berwarna kuning. Di gerakkannya kepalanya melihat kedepan. Ditatapnya lama melihat gadis di depannya.

“Kau…”

“Ma-maaf” lirih Jaeya menyesal.

“Maaf ? Lihat kan kemejaku jadi kotor kau buat” Jaebum mengusap – ngusap kemejanya dan meninggalkan Jaeya yang sebelumnya sengaja menabrak bahu Jaeya.

Jaeya meniup poninya kesal. Di balikkannya badannya melihat punggung Jaebum yang seiring menjauh. “Sombong sekali” maki Jaeya pelan.

***

Jaebum membuka kancing baju kemejanya satu persatu. Diambilnya baju kemeja yang tersedia di lemari tempat ia dan teman – temannya berkumpul. Ruangan yang dibuat Jinyoung seperti kamar bagi mereka. Semua ada tersedia disana.

Di buangnya kemejanya yang sudah kotor ke tong sampah. Sambil memakai kemejanya lagi. Jabeum tampak berfikir. “Kenapa aku cuma meniggalkannya saja ? Kenapa tidak membalasnya ?”

Jaebum menaikan satu bibirnya. Sebuah ide jahil terlintas di benaknya.

***

Di dalam kamar mandi Sunhee tersenyum melihat hasil jepretannya. “Kenapa ia semakin tampan ?” lirihnya pelan.

Di tatapnya layar kamera DSLR nya. Senyum nya pun tak luntur – luntur melihat foto Bambam. Senyumnya semakin menggembang saat melihat Bambam tersenyum. Di elus – elusnya wajah Bambam melalui layar kameranya.

“Kapan aku bisa menatap wajahmu secara langsung?”

***

Sunhee berjalan santai menuju kelasnya sambil menenteng kamera DSLR kesayangannya. Sunhee menatap binggung saat teman – teman sekelasnya satu persatu – satu keluar dari kesal sambil membawa tas.

“Ada apa ?” Sunhee bertanya ke Jin Ah teman sebelahnya yang barusan ajah keluar dari kelas.

“Kita belajar di ruang auditorium Lee seongsangnim tidak datang, jadi kita di gabungkan di kelas Choi seongsangnim”

Sunhee mengkerutkan dahinya kemudian masuk kedalam mengambil tasnya dan bergabung bersama teman –temannya berjalan menuju ruang auditorium.

Sunhee sengaja mencari tempat duduk di ujung. Kali ini ia sedikit malas melanjutkan pelajarannya.

Riuh suara dari siswa dan siswi gabungan kelas ini membuat Sunhee sedikit terganggu. Sedetik kemudian Sunhee mengalihkan pandangannya ke dalam tasnya. Mengambil kameranya bermaksud melihat kembali isi gallery kameranya. Tapi gerakannya tersebut terhenti saat ada seseorang duduk di sampingnya. Dengan gerakan cepat dimasukkan kembali kameranya. Lalu menoleh kesamping. Retina Sunhee membesar melihat siapa yang disampingnya ini. Sunhee meneguk ludahnya kasar. “Ini tidak mungkin” batinnya.

Seseorang tersebut tersenyum sekilas ke arah Sunhee, tubuh Sunhee mendadak kaku seketika.

Di tolehkannya wajahnya kesamping. “Tidak.. tidak.. tidak mungkin.. aku pasti bermimpi.. dia berada di sampingku” lirihnya sendiri.

Riuh suara siswa dan siswi di auditorium ini mendadak meleyap saat Choi seongsangnim masuk.

“Selamat siang semua”

“Siang ssaem” jawab mereka serempak.

“Berhubungan Lee seongsangnim harus absen 2 bulan. Jadi pelajaran biologi ini di serahkan ke saya, dan berhubungan jadwalnya sama jadi setiap rabu kelas 10-1 dan 10-4 akan bergabung”

Perlahan bola mata Sunhee bergerak ke samping. Melihat Bambam dari ekor matanya. “Setiap rabu aku kan melihatnya secara langsung” desis nya pelan. Sangat pelan.

“Langsung saja kita mulai pelajarannya. Keluarkan buku kalian semua anak – anak”

***

Jaebum, Mark, Jinyoung, Jackson duduk di taman belakang menikmati semilir angin yang menerpa wajah tampan mereka masing – masing.

“Aku bosan” keluh Jinyoung.

“Kau anak yang punya yayasan ajah bosan apalagi kami” celetuk Jackson. Jaebum dan Mark hanya mengangguk menyetujui perkataan Jackson.

Pandangan lurus kedepan mereka kini teralihkan oleh siswi yang berjalan sendirian di koridor keluar dari perpustakaan. Jackson mengkerutkan keningnya. “Itu sepertinya anak baru itu tidak ?”

Jinyoung memicingkan matanya “Sepertinya ia. Siapa namanya”

“Song Jaeya” sahut Mark cepat tanpa ia sadari.

Karena jarak koridor dan tempat mereka hanya berjarak beberapa meter jadi tidak mereka masih bisa melihat jelas.

Jackson melihat kesamping. “Bagaimana kita masuk di kelasnya saja ?”

“Buat apa ?” protes Mark.

“Ya buat berkenalan dengan nya dong. Jadi buat apa lagi. Ya.. mana tau bisa jadi pacar baru begitu” Jackson tertawa dan berhighfive dengan Jinyoung. Mark menatap Jackson dari ujung ekor matanya dengan tajam. Jaebum menyadari itu.

“Sepertinya ide bagus. Lagi pula aku belum pernah mencoba masuk di kelas umum” Jaebum tersenyum miring.

***

Hening. Itulah yang terjadi di 12-2 kelas umum. Jaeya maupun yang lain menatap seksama apa yang di jelaskan Saerin seongsangnim.

TOK‼TOK‼

Pandangan mereka ini teralihkan ke ambang pintu. Di sana sudah berdiri 4 murid lelaki. Yang siapa tidak mengenal mereka.

“Permisi ssaem. Boleh kami masuk ke kelas ini dan mengikuti pelajaran ssaem?” tanya Jackson dengan nada lembut.

Kelas langsung riuh oleh celoteh – celotehan kecil dari murid wanita.

“B-boleh” jawab Saerin seongsangnim. Sebenar nya kalau bukan mereka Saerin ssaem jelas mengatakan TIDAK dengan tegas.

Jackson segera menarik Jinyoung dan melangkah masuk. Bukan Jackson namanya kalau tidak tebar pesona. Setiap ia siswi yang di lewati Jackson langsung menjerit kecil.

Langkah Jackson dan diikuti Jaebum, Jinyoung, Jaebum dan Mark berhenti tepat di depan meja Jaeya.

Jackson dan Jinyoung saling tersenyum sama lain kemudian menatap Jaeya yang terbenggong menatap mereka berempat “Hai cantik” .

Kelas langsung riuh akibat sapaan Jackson dan Jinyoung ke murid baru bernama Song Jaeya.

Tanpa di sangka Jaebum tiba – tiba bergerak menggeser tubuh Jackson dan Jinyoung lalu berdiri sempurna di depan bangku Jaeya. Di tariknya dagu Jaeya. “Annyeong Song Jaeya” kemudian memberi wink ke Jaeya. Lalu tersenyum miring

“Senang berkenalan dengan mu Song Aggashi

Jaeya menahan nafasnya. Lalu tersenyum samar. Lalu Jaeya melirik ke belakang Jaebum, dilihatnya Mark yang menatapnya dingin.

***

Sunhee berharap waktu berjalan dengan lama. Tapi sayang harapannya pupus begitu saja. karena semenit yang lalu ia mendengar bel pulang.

“Sebelum pulang saya akan memberi tugas”

“YAAAAA SSAEEMMM” protes yang lain.

“Tugas nya kelompok dan saya akan bacakan”

Sunhee mengeluh melalui hembusan nafasnya. Ia sedikit tidak suka kerja kelompok. Karena pada akhirnya ia yang mengerjakannya sendiri tanpa di bantu teman – teman sekelompoknya.

Sunhee diam mendengarkan nama – nama yang di ucapkan Choi seongsangnim. Ia berharap mendapat teman sekelompoknya yang bisa di ajak bekerja sama.

“Shin Sunhee dengan Kunpimook Bhuwakul”

Sunhee memutar bola matanya. “Hah ? Kunpimook Bhuwakul ? Siapa lagi dia” ucapnya tanpa sadar.

“Apa kau Shin Sunhee ?”

Sunhee menoleh dengan malas.

Sunhee diam menatapnya.

Sedetik

Dua detik

Tiga detik

Retina matanya mendadak membesar. Detak jantungnya mendadak bergemuruh dengan hebat. Bagaimana ia bisa sadar kalau yang di sebutkan gurunya tadi itu nama asli Bambam.

“Apa kau Shin Sunhee ? Apa kau sekelompok dengan ku ?”

Sunhee meneguk ludahnya kasar. Tidak mungkin batinnya. Dengan Bambam. Rasanya ia ingin menjerit. Menjerit sekuat – kuatnya.

“Benar kau Shin Sunhee ?” Bambam bertanya kembali.

Sunhee. Gadis ini ? ia hanya mengangguk tanpa menjawab. Rasanya lidahnya keluh menyatakan IYA.

Dan ia sudah membayangkan bagaimana ia akan menjerit di kamarnya nanti.

***

Lapangan sekolah Royal di penuhi oleh siswa dan siswi yang ingin pulang. Jaeya terus mengapit tangan Jikyung seakan ia akan hilang.

“Jikyung mereka semua menatapku” desis Jaeya karena sepajang koridor ia terus di liatin.

“Abaikan saja”

Jaeya menoleh cepat menatap Jikyung. “Abaikan ? Bagaimana aku mengabaikan tatapan sinis mereka. Aku seakan di terkam mereka” protes Jaeya tegas.

Jikyung tertawa kecil. Ia menoleh melihat Jikyung. “Ada angin apa mereka berkenalan dengan mu ?”

“Aku juga tidak tahu. Kan aku anak baru disini” Jaeya mempoutkan bibirnya.

***

Jaebum, Mark, Jackson, Jinyoung,Youngjae, Bambam dan Yugyeom kini tengah berkumpul di kamar Jaebum yang bernuansa classic dengan warna putih dan hitam saja membuat kamarnya sangat lelaki.

Jaebum berkutat dengan ponselnya begitu juga Mark. Yugyeom dan Bambam sedang berteriak tidak jelas sambil memainkan X-BOX kepunyaan Jaebum. Youngjae diam tanpa berbicara sedikitpun karena ia sedang fokus dengan laptop dan tugasnya sebagai osis.

Jinyoung dan Jackson saling berbisik satu sama lain kemudian beranjak mendekati Mark dan Jaebum.

“Jaeya cantik ya” Jinyoung menaikan turunkan alisnya menatap Jaebum dan Mark bergantian.

“Cantik ? biasa saja” sahut Jaebum. Jinyoung dan Jackson menanggapi dengan desisan cibiran.

She is beautiful ” Mark menyahuti tanpa mengalihkan pandangannya dari ponselnya.

Mereka bertiga menatap Mark dengan penuh tanda tanya. Mark menoleh melirik mereka “She indeed beautiful right?” Mark menatap mereka bergantian menegaskan statmentnya.

“Jadikan pacar…”

PLAK‼!

Refleks Jaebum memukul kepala Jackson. “KENAPA KAU MEMUKULKU‼” bentak Jackson.

“Mau sebanyak apa mantanmu disekolah hah ?”

“YA TERSERAHKU” sunggut Jackson sambil mengusap – ngusap kepalanya.

“Jackson hyung playboy” timpal Yugyeom dan Bambam bersamaan.

“YAA HYUNG‼!” Yugyeom dan Bambam menoleh kebelakang karena dalam hitung detik mendapat lemparan bantal. Dan itu jelas dari Jackson.

***

“Terima kasih”

Jaeya melepaskan helmnya dan memberikannya ke Jikyung. Jikyung mendongak menatap rumah Jaeya. “Rumah mu bagus”

Jaeya menoleh kebelakang “Biasa saja “ ucapnya.

“Kalau begitu aku pulang. Sampai juga besok” Jikyung segera menggaskan motornya. Jaeya melihat kepergian Jikyung lalu berjalan masuk kerumah.

Jikyung sedikit menambah kecepatan gas motornya menuju kerumah.

Selama perjalanan Jikyung terus menerus melihat jam tangannya. Mulutnya tak berhenti menggerutu mendesiskan betapa lamanya ia sampai di rumah.

***

Jikyung tersenyum senang saat ia sudah melihat selulet rumahnya.

“Eomma… aku pulang” buru – buru Jikyung memarkirkan asal motornya. “Eomma… “ jeritnya lagi. Tak ada sahutan Jikyung langsung masuk ke rumahnya.

“Eomma..”

Dilihatnya ibunya sedang mencuci piring. “Eomma.. bukankah eomma ada…”

Ibunya menoleh. “Pemiliknya rumahnya bilang dia ingin pekerja rumah tangga tetap, tidak bekerja setengah hari” lalu ibunya tersenyum ke Jikyung. Jikyung menghelah nafasnya.

“Kalau begitu izinkan aku bekerja ya eomma” pinta Jikyung. Ia tidak tega hanya ayahnya saja yang berkerja. Apalagi ia dan adiknya masih sekolah.

“Ya.. bu..” kali ini Jikyung sedikit merengek ke ibunya. Ibunya menatap Jikyung diam, bukannya tidak ingin, tapi ibunya takut Jikyung kelelahan.

“Hanya separuh waktu kok eomma” lanjut Jikyung seakan tahu isi pikiran ibunya. “Ya eomma..”

“Kalau appa mu tahu bagaimana ?” tanya ibunya. “Ya eomma jangan kasih tahu appa dong” sunggut Jikyung.

“Kalau appa bertanya bagaimana ?”

Jikyung terdiam. Iya juga pikirnya. Bagaimana kalau ayahnya bertanya. Apa yang harus di jawab ibunya. Jikyung tampak berfikir.

“Ehmm.. bilang saja ke appa.. ada pelajaran tambahan lalu pulangnya kerja kelompok”

“Tapi itu tidak mungkin setiap hari kan Jikyung”

Jikyung menghelah nafasnya. Lalu menatap ibunya. “Ya.. eomma… “

Ibunya menggelengkan kepala menatap anak sulungnya ini. “Baiklah. Tapi kalau eomma lihat kau kelelehan. Kau harus berhenti kerja dan jangan sampai nilaimu turun. Mengerti”

“Mengerti eomma” dipeluknya ibunya erat. Dan ibunya mengusap kepala anaknya dengan sayang.

***

Setelah makan siang, Jikyung langsung mandi dan bersiap – siap. Bersiap – siap mencari pekerjaan part time.

“Eomma aku pergi” teriaknya sambil memakai sepatu kets merahnya.

“Tidak membawa motor Jikyung ?” teriak ibunya. Dilihatnya motor terparkir tenang di halaman rumah.

“Tidak eomma” sahut Jikyung dari kejauhan.

***

Jikyung mengelap keringatnya dengan punggung tanggannya lalu tersenyum puas melihat gedung supermarket di hadapannya ini. Akhirnya ia mendapat pekerjaan part-time juga.

Dilangkah kan kakinya menuju halte bis yang jaraknya kira kira 100 meter dari ia berdiri.

“YAAAA” pekiknya pada mobil yang melaju kencang sehingga ia mendapat cipratan kubangan di sampingnya.

“Haiiissshhh” di usap – usapnya T-shirt nya yang basah. Jikyung menatap kesal mobil berwarna hitam metalic tersebut.

“Dasar orang kaya” cibirnya pelan . Dilihatnya mobil itu berbelok ke supermarket tempat ia bekerja nanti.

***

Jinyoung melirik kaca spion bagian dalamnya melihat penampilannya kemudian dilihatnya supermarket di depannya melalui kaca mobilnya. Setengah mendengus Jinyoung keluar dari mobilnya.

Dengan langkah malas Jinyoung berjalan memasuki supermarket yang dikatakan lumayan terkenal di kota Seoul. Bola matanya berputar malas ketika seseorang pria bertubuh gemuk setengah tergopoh – pogoh menghampirinya.

“Ke-kenapa tidak memberi tahu kalau Tuan mau datang”

“Saya tidak punya waktu Manager Woo , mana berkas – berkas yang harus saya tanda tangani” pinta Jinyoung cepat.

“Ada di ruangan silahkan ikut saya” ucap Manager Woo sopan.

***

Jinyoung mendecakkan lidahnya melihat setumpuk berkas yang harus ia tanda tangani.

“Sebanyak ini ?”

Manager Woo mengangguk pelan. “Kenapa harus aku ?” protes Jinyoung. Diambilnya ponsel dari saku kantung celananya. Jinyoung menghentak – hentakkan kakinya secara cepat ke lantai marmer.

“Appa kenapa harus aku yang menangani ini semua ? Aku masih pelajar Appa ! Lagi pula kenapa harus supermarket. Kenapa tidak bagian real-estate yang ku tangani , atau perusahaan property punya Appa ? Kenapa harus aku yang menangani supermarket ini ? Why must me ‼” nafas Jinyoung putus – putus setelah mengeluarkan unek – unek yang ada di kepalanya.

Tuan Park hanya terkekeh mendengar kekesalan anaknya. Jinyoung yang mendengar suara tertawa ayahnya semakin kesal. “Appa ! Don’t laugh okay!” suruh Jinyoung sedikit memaksa.

“Setelah selesai langsung pulang mengerti” perintah Tuan Park kepada Jinyoung kemudian memutuskan panggilan secara sepihak. Jinyoung mendelikkan matanya saat mendengar bunyi klik. Dilihatnya ponselnya. Ternyata benar panggilan sudah diputus. Diremasnya ponselnya hingga tangannya mulai memerah.

Manager Woo menyerahnya berkas – berkas yang harus di tanda tangani Jinyoung dengan sedikit senyuman. Jinyoung melirik Manager Woo yang tersenyum tipis ke arahnya, walaupun tipis tapi ia tahu itu senyuman ikhlas tidak di buat – buat. Mau tak mau Jinyoung mengambil dan lalu menandatanganinya tanpa membaca sedikitpun deretan kata – kata yang tertera di lembar kertas putih tersebut. Jinyoung menyerahkan semua berkas – berkas ke Manager Woo tanpa senyuman.

“Perlu saya antar tuan ?”

“Tidak perlu saya bisa sendiri” jawab Jinyoung saat hendak keluar dari ruangan Manager Woo.

***

Dengan langkah tergesah – gesah Jinyoung memasuki rumahnya. Derap langkah antara sepatu dan lantai marmer rumahnya kerasa jelas sekali mengisi rumahnya yang super mewah.

Dibukanya pintu kerja ayahnya tanpa di ketuk dahulu. Jinyoung mendengus melihat ayahnya sedang tertawa sambil menelfon. Ia tahu ayahnya seperti itu bila sedang menelfon anak perempuannya atau kakak nya. Park Jiyeon.

“Appa” panggilnya dengan nada lumayan keras. Ayahnya menoleh. “Sudah pulang ?” tanyanya kepadanya sendiri. Jinyoung hanya menatap datar ayahnya.

“Sudah ya adikmu sudah pulang. Appa tutup dahulu telfonnya” ucap ayahnya ke Jiyeon.

Jinyoung memutar bola matanya. Lalu ia mencibir mengulang perkataan ayahnya ke kakaknya.

“Appa senang sekali. Kakak mu bulan ini menaikan kembali persen penjualan real-estate di California” ucap ayahnya dengan senang.

Jinyoung mendudukan tubuhnya ke sofa besar di ruangan kerja ayahnya. “Lalu aku harus bilang WOW ke dia begitu ?”

Ayahnya sedikit menatapnya tidak senang. “Kau harus mencontoh kakakmu Jinyoung”.

Jinyoung mengeleng – gelengkan kepalanya. “Appa..appa..appa.. aku ini masih sekolah dan aku harus banyak belajar. Dan juga kenapa harus mencontoh dia ? Seperti tidak ada orang lain saja” Jinyoung melipat tangannya di dada. Tuan Park tertawa kecil melihat Jinyoung yang marah. Tidak menyangka anaknya sudah besar seperti ini tapi masih bisa mengambek seperti anak kecil.

Kemudian Jinyoung bangkit dari duduknya. “Aku mau keluar “ ucapnya seraya berjalan keluar.

“Jangan pulang lama – lama” saran ayahnya. Langkah Jinyoung terhenti kemudian menoleh kebelakang. “Appa aku bukan anak kecil” sunggutnya kesal.

Jinyoung terus berjalan sambil mencibir tak jelas. Sampai ia menemukan ibunya keluar dari kamar. “Jinyoungie mau kemana nak ?”

Dihampirinya ibunya “Mau pergi, bye eomma” dikecupnya pipi ibunya kanan kiri membuat ibunya menatapnya heran. Lalu menggeleng menatap anaknya berjalan menuju pintu keluar dengan gerutuan – gerutuan kecil yang tak jelas.

***

“Belajar yang baik” nasehat Tuan Song kepada anaknya. Jaeya. Dan Jaeya mengangguk mengerti. Setelah melihat mobil ayahnya menjauh barulah Jaeya melangkahkan kakinya memasuki sekolahnya. Jaeya menatap sekolahnya yang masih terbilang sepi. Ia sengaja datang sedikit pagi. Jaeya masih trauma di lihat sinis oleh siswi – sisiwi yang lain. Diingatnya keempat anak populer di sekolah ia berada mendatanginya lalu menyapanya. Jaeya menghela nafasnya mengingat kejadian semalam yang dialaminya. Jaeya mendongakkan kepalanya menatap kedepan. Pandangannya teralihkan ke siswi yang sedang kesusahan membawa tumpukan buku. Dengan sigap Jaeya berlari mengampirinya karena melihat siswi tersebut hampir menjatuhkan bukunya.

“Mari aku bantu” tawar Jaeya. Siswi tersebut tercengang tapi selanjutnya memberikan sebagian bukunya yang ia bawa ke Jaeya. Ya ia melakukan itu karena ia butuh batuan Jaeya.

***

Jaeya meletakkan buku yang ia bawa tepat bersebelahan dengan buku yang dibawa oleh siswi yang ia bantu.

“Terima kasih e…”

“Jaeya. Song Jaeya “ ucap Jaeya kemudian menyodorkan tangannya.

“Terima kasih Song Jaeya. Aku Li Mingxia”

Jaeya terkesima mendengar nama Mingxia. “Kau bukan dari Korea ?”

Mingxia menggeleng. “Aku dari Taiwan tapi hanya saja sedari kecil sudah tinggal di Korea” jelas Mingxia. Kemudian Jaeya mengangguk – ngangguk mengerti.

“Aku tidak pernah melihatmu sbelumnya ? Apa kau anak baru ?”.

Jaeya menanggapinya dengan senyuman. “Ya, aku baru pindahan Busan”.

Kini giliran Mingxia yang mengangguk mengerti. “Kalau begitu aku permisi. Sampai jumpa kembali Mingxia “ ucap Jaeya ramah.

***

Jaeya memasuki kelasnya dengan langkah yang pelan tanpa tergesa – gesa. Jaeya cukup terkejut melihat sudah ada Jikyung disana dengan diam duduk di bangkunya sambil fokus membaca buku.

“Sudah lama datang ?” tanya Jaeya sambil mendudukan tubuhnya di bangkunya.

“Cuma 10 menit yang lalu” ucap Jikyung santai sembari menutup bukunya lalu menoleh ke Jaeya. Jaeya yang dilihat tercenggang. “Pagi sekali datangnya” ucap Jaeya. Jikyung hanya tersenyum mendengarnya.

Jikyung menatap Jaeya yang mukanya sedikit tegang. “Nervous buat ujian nanti ?” tebak Jikyung.

Jaeya menoleh. Sedetik kemudian Jaeya menggeleng.

“Tidak. Aku hanya tegang akan berjumpa kembali dengan….eee.. siapa namanya ?”

Jikyung mengkerutkan keningnya. “Siapa ? Jaebum ? Im Jaebum”

“Hah,, ia dia” jawab Jaeya cepat. Kemudian ia menghelah nafasnya. Jaeya bangkit dari duduknya. “Aku ke kamar mandi dulu”

“Perlu aku temani ?”

Jaeya tersenyum sekilas. “Tidak perlu aku bisa sendiri”

***

“Aku dengar Jaebum sunbae semalam menggoda siswi. Aku rasa dia murid baru”

“Mungkin dia yang menggoda Jaebum sunbae. Bukannya Jaebum sunbae, Jinyoung, Jackson dan Mark sunbae juga datang ke kelas dia”

“Benarkah ?”

“Hmm… mungkin ia yang menggoda. Apalagi Mark sunbae. Tidak mungkin sekali dia mendatangi wanita”

Dari dalam bilik toilet Jaeya duduk mendengarkan perbincangan siswi dari luar. Di genggamnya tangannya erat.

***

Jaeya menhentakkan – hentakan kakinya berjalan dari toilet menuju kelasnya. Ia benar – benar kesal. Bagaimana ia dituduh menggoda seorang Jaebum. Jelas jelas Jaebum sendiri yang datang ke kelasnya.

Mulut Jaeya tidak berhenti berkomat – kamit. Mendesiskan kekesalannya. Langkahnya terhenti saat seseorang menepuknya bahunya dari belakang. Mau tak mau Jaeya menoleh. Walaupun ia masih kesal.

Jaeya menatap heran seseorang di hadapannya yang menepuk bahunya. Kepalanya di tutupi snapback hingga menutupi wajahnya.

“Hei…” pekik Jaeya tiba – tiba karena tanganya ditarik. Jaeya berusaha berontak tapi tetap saja tangannya tidak bisa lepas.

Jaeya terheran saat ia dibawa lapangan basket indoor yang sepi. Kemudian tangan Jaeya di hempaskan.

Jaeya mengelus – ngelus tangannya yang kini memerah. Jaeya mendengus saat seseorang tersebut membuka snapbacknya .

“Hai Song Jaeya “

Jaeya memutar bola mata nya. Dan secepat mungkin berlalu dari hadapan Jaebum.

“Sial aku di abaikan” desis Jaebum kesal. Sedetik kemudian ia mengejar Jaeya.

“Tunggu” cegah Jaebum menarik tangan Jaeya yang hendak menarik knop pintu.

“Im Jaebum ! Tolong lepaskan tanganku”

“Kenapa aku harus melepaskan tanganmu ?”

Jaeya menggretakkan giginya. “Cukup semalam kau membuat ku menjadi bahan pembicaraan penggemarmu. Dan kali ini aku tidak mau semakin menjadi topik hangat di kalangan penggemar – penggemar mu”

“Kau menjadi pembicaraan ? Benarkah ?” tanya Jaebum tak percaya. Jaeya semakin kesal. Diabaikan Jaebum sekali lagi.

Baru selangkah Jaeya melangkah Jaebum menariknya hingga Jaeya berbalik menghadapnya.

CUP

Bibir mereka seling menempel. Jaeya maupun Jaebum terpaku. Jaebum menarik tangan Jaeya terlalu kuat hingga tubuh Jaeya terlalu mencondong ke Jaebum.

Jaeya mendorong tubuh Jaebum. Di tatapnya Jaebum tajam.

“Kau…” desisnya.

Jaebum meneguk ludahnya kasar. Ia benar – benar tidak tahu kalau tarikanya membuat ia bibir mereka saling menempel.

“A-aku tidak sengaja. Sumpah aku tidak sengaja. Itu kecelakan”

“KAU SENGAJAKAN MENARIK KU LAGI MENCIU..mmb” Jaebum segera membungkam mulut Jaeya dengan tangannya.

“Orang – orang akan tau jika kau berteriak” desis Jaebum memohon. “Arrgghhh” pekik Jaebum karena tangannya di gigit oleh Jaeya.

“Kau..kau..kau..” Jaeya menunjuk – nujuk Jaebum dan menatap Jaebum sambil menggosok – gosok kasar bibirnya.

BLAM!!

Pintu tertutup kuat. Jaebum menatap pintu yang di tutup oleh Jaeya dalam diam. Kemudian tangannya terulur perlahan ke bibirnya.

“Aku tadi kan tidak sengaja” lirih Jaebum.

***

Sekolahnya mulai ramai. Dan Jaeya berjalan dengan tergesa – gesa diantara murid – murid sekolah ini. Masih dengan menggosok – gosok bibirnya dengan kasar dan menyumpahkan Jaebum dengan sumpah serapah Jaeya terus berjalan. Hingga ia saat akan berbelok ke lorong arah kelasnya. Ia menabrak seseorang.

“Oh..maaf .. maaf “ ucap Jaeya merasa bersalah.

It’s okay

Jaeya menatap seseorang yang mengucapkan balasan maafnya. Jaeya mencoba mengingat wajah didepannya ini. Tapi Jaeya tidak mengingat siapa namanya. Jaeya meneguk ludahnya saat Mark menatapnya tajam.

“Maaf” ucap Jaeya sekali lagi. Mark hanya menatapnya kemudian berlalu pergi tanpa menjawab.

Jaeya menarik kedua sudut bibirnya menatap punggung Mark.

***

Pandangan Mark mencari keberadaan Mingxia di kelasnya. Tas nya ada tapi orangnya tidak ada di kelasnya. Ponselnya Mark bergetar dilihatnya caller ID, Mark menyunggingkan senyumnya.

“Aku ada di atap, kau seperti anak hilang” terdengar di seberang sana Mingxia cekikikan.

Mark mengerutkan keningnya. “Aku dapat melihatmu arah jam 12” ucap Mingxia. Mark segera menatap kedepan. Dilihatnya di atap sekolahnya seorang murid sekolah dengan memakai teropong mengarah ke jendela kelasnya.

***

“Apa kau sekarang jadi mata – mata ?” Mark segera mendudukan dirinya tepat di samping Mingxia.

Mingxia menggeleng. “Tidak, aku hanya iseng ingin melihat seluruh sekolah. Dan aku tidak sengaja melihatnya seperti anak hilang di depan mejaku. Mencari ku ?” Mingxia tersenyum ke Mark.

Mark menatap Mingxia datar tapi detik kemudian ia tersenyum. “Hmm.. aku mencari mu”

What happend

“Apa kau mentertawakan ku”

“Tergantung” Mingxia menaikan bahunya. Wajahnya Mark berubah ditatapnya Mingxia tajam.

“Ok.OK aku tidak akan tertawa” ucap Mingxia akhirnya.

“Tadi aku berjumpa dengannya”

Mingxia mengkerutkan keningnya ditatapnya Mark binggung. “Dengan nya ? Dengan siapa ?”

Girl ?”

Who that’s girl ?”

Bukannya menjawab Mark hanya menyungging kan senyumnya. Dipukulnya bahu Mark

“Jangan buat aku penasaran Mark. Who that’s girl ?”

“Belum saatnya kau tahu” Mark mengacak rambut Mingxia kemudian menarik tangan Mingxia untuk masuk ke kelas.

***

Sepanjang pelajaran Jaebum hanya diam sambil memegang bibirnya.

“Jaebum, Jaebum” panggil Jinyoung. Jaebum hanya meliriknya.

“Ayo kita taruhan siapa yang bisa…” belum selesai Jinyoung berbicara Jaebum membuang mukanya dan memunggungi Jinyoung yang terheran melihatnya.

Di pangkunya dagunya dengan tangannya. Di terawanginya jendela kelasnya mengingat kejadian tadi pagi yang ia alami.

***

Meja yang berhadapan langsung ke jendela yang memberi pemandangan yang indah karena menjuru langsung ke taman sekolah. Membuat tempat ini tempat favorit Jikyung di perpustakaan ini. Kini Jikyung berkutat serius mengerjakan tugas – tugas latihan. Karena sebentar lagi ia akan mengikuti olimpiade matematika.

Sedang serius – seriusnya ia mengerjakan kalkulus di depan matanya. Bahunya di tepuk – tepuk seseorang dari belakang.

“Jaeya jangan ganggu aku dulu. Aku sedang sibuk” ucapnya tanpa menoleh kebelakang.

Sekali lagi bahunya di tepuk – tepuk dari belakang. “Jaeya aku sedang sibuk” tandas Jinyoung.

“Bisa kau pindah dari sini”

Jikyung menghentikan kegiatan mendengar suara lelaki dari arah belakang. Jikyung tertegun menatap Jinyoung di belakangnya dengan tangan terlipat di dadanya.

“Bisa pindah dari tempat itu” ucap Jinyoung sekali lagi.

Jikyung menarik kedua sisi sudut bibirnya. “Maaf tapi saya duluan disini dan masih banyak yang kosong” ujar Jikyung tenang.

Jinyoung memutar bola matanya. “Aku tidak peduli. Aku mau disini. Dan tempat itu tempat favoritku”

“Ini juga tempat favoritku dan aku duluan menempati ini”

“Kita bisa berbagi dan kau tidak mau kau bisa pergi” lanjut Jikyung kemudian ia melanjutkan tugasnya. Mendengarnya hal itu Jinyoung mendengus “Sayangnya aku tidak suka berbagi dengan orang tidak dikenal”

Jikyung tidak membalas perkataan Jinyoung. Dia lebih memilih diam dan melanjutkan mengerjakan latihan – latihan.

Merasa tidak ada jawaban. Jinyoung menarik buku Jikyung.

“Hei.. apa yang kau lakukan ?” tanya Jikyung tak senang.

“Aku ingin membuatmu pergi dari sini”

“Tapi aku duluan disini”

“Tapi tidak suka kau disini. Karena aku ingin disini. Dan aku tidak suka berbagi”

Jikyung menatap shock Jinyoung.

“Kenapa, kau tidak senang hah ?” ditatapnya Jikyung dengan tajam.

Jikyung menghelah nafasnya dengan berat. “Aku tau kau punya sekolah ini. Tapi aku tidak suka belajarku di ganggu” ucap Jikyung dingin. Kemudian disusunnya bukunya untuk segera pergi dari tempat tersebut.

“Cih.. apa – apaan dia” cibir Jinyoung

***

Bel sekolah baru saja berbunyi. Semua murid sekolah Royal segera menyusun buku – buku mereka. Tapi tidak dengan Jaeya. Jaeya hanya diam. Pandangannya menerawang.

“Jaeya” panggil Jikyung. Tapi Jaeya tetap diam. “Jaeya” panggil Jikyung sekali lagi dan kali ini dengan menyengol bahu Jaeya.

“Hmm.. ya.. “ kini Jaeya sadar dan menatap Jikyung yang menatapnya aneh.

“Kau kenapa ? dari tadi diam saja, pandangan menerawang”

“Hm.. aku baik – baik saja” ucap Jaeya. Dilihatnya teman – temannya sudah sebagaian pulang.

“Loh sudah pulang ?” tanya heran. Jikyung menatapnya semakin heran. “Kau tidak tahu bel sudah berbunyi ?”

Di tatapnya Jikyung lalu Jaeya menggeleng. Tangan Jikyung terulur. Di letakkannya telapak tangannya ke kening Jaeya. “Kau tidak demam” lirih Jikyung.

Jaeya memutar bola matanya. “Kau tidak kerja ?”

Jikyung menepuk dahinya sendiri. “Ah, aku hampir lupa. Maaf Jaeya aku harus pulang duluan” ucap Jikyung yang sedang tergesa – gesa memasukan bukunya.

Jaeya melambaikan tangannya ke Jikyung yang setengah berlari kearah pintu. Kini hanya Jaeya sendirian di kelas. Di susun bukunya perlahan. Tapi kejadian ciuman terlintas kembali di pikirannya.

“Lupakan Jaeya itu hanya insiden. Lupakan – lupakan “ Jaeya memukul – mukul pelan kepalanya

***

Aera menarik sisi kanan lemas tas nya kebahunya. Hari ini ia benar – benar lelah. Latihan sebagai pemain bola voli membuatnya ia benar – benar lelah. Dengan badan yang hampir remuk, Aera melangkahkan kakinya perlahan hingga ia melewati lapangan bola basket. Dipicingkan matanya melihat Jackson yang sendirian bermain basket.

Aera terus berjalan tapi pandangannya tidak lepas dari Jackson yang men-dribbel bola basket. Harus Aera akuin Jackson itu keren saat ia olahraga. Aera berhenti sebentar saat Jackson dapat memasukan bola basket tersebut dari three-point. Kemudian Aera tertegun melihat Jackson yang tidak jauh darinya mengelap dahinya dengan tangannya.

Jackson menoleh kesamping. Dilihatnya Aera diam ditempat sambil melihatnya. Di tatapnya juga Aera lalu tersenyum ke Aera. Aera segera membuang mukanya dan berjalan meninggalkan Jackson.

“Kenapa dia tersenyum ke arahku” desis Aera yang kini wajahnya sedikit memerah.

***

Jaebum merebahkan tubuhnya ke kasur king bed milik Jinyoung.

“Jinyoung” panggil Jaebum. Dipandangnya langit – langit kamar Jinyoung. Jinyoung hanya berdehem sambil minum. Sudah berulang kali Jaebum memanggil namanya. Tapi hanya memanggil saja. Tidak mengatakan apapun.

Pelayan rumah Jinyoung masuk hati – hati ke kamarnya. “Tuan tadi pesan tuan besar. Nona Jiyeon lusa akan pulang dari Amerika” ucap pelayan tersebut.

UHUK!!

Jinyoung mengusap air yang jatuh ke dagunya.

“APA!! DIA AKAN PULANG LUSA ? LUSA ? NENEK SIHIR ITU PULANG LUSA ?” teriak Jinyoung shock. Pelayannya menatap Jinyoung takut – takut kemudian mengganguk.

Jaebum mengalihkan pandangannya ke Jinyoung. Di dekatinya Jinyoung. “Jiyeon noona akan berada disini lusa” tanya Jaebum senang. Jinyoung menoleh dan menatap Jaebum nanar.

“Bisakah aku menjemput Jiyeon noona ?” ditatapnya Jinyoung dengan mata yang berbinar. Jinyoung menatap temannya ini dengan iba.

“Kenapa kau bisa suka dengan nenek sihir seperti dia. Dia sudah menolakmu berulang kali” ucap Jinyoung dengan hati – hati.

Bukannya sedih Jaebum malah semakin tersenyum. “It’s okay. That’s love”

Jinyoung memegang kepalanya yang mendadak pusing. “Terserah mu saja. Kalau kau sakit hati aku tidak tanggung jawab” ucap Jinyoung pasrah.

“Boleh aku mengirim sms ke Jiyeon noona ?”

“Terserah mu” Jinyoung memijit – mijit kepalanya. Mendengar itu Jaebum mendadak senang. “Baiklah”

Diambilnya ponselnya. Lalu ia terdiam, dilihatnya wallpaper tersebut.

“Ini bukan ponselku” ucap Jaebum. Jinyoung menoleh dan melihat. “Jadi punya siapa ?”

What!! Ini bukannya punya anak baru itu. Song Jaeya. Benar tidak ?” tanya Jinyoung heboh.

“Kapan kau bertukar ponsel dengannya ?”

Jaebum berusah mengingat kejadian yang ia alami tadi disekolah. “Ah ia, aku tau” ditepuknya dahinya.

***

Jaebum memanuver mobilnya dengan ponsel di telinga kirinya. “Kenapa tidak dianggkat” rancaunya. Dimatikannya panggilan tersebut karena tidak mendapat jawaban. Di telfon nya lagi nomor ponselnya.

“Aiiisshhh” gerutunya saat ponsel yang ia pegang jatuh. Mau tak mau Jaebum mengambil telfon tersebut.

Jaebum menginjak remnya mendadak karena melintas tepat didepannya seorang gadis dengan berpakain sekolah yang sama dengannya.

***

Jaeya menggerutu saat tasnya bergetar. “Siapa sih yang menelfon” diambilnya ponsel dari dalam tasnya sambil berjalan menyebrang tanpa melihat – lihat ke kanan dan ke kiri. Tepat saat Jaeya mendapat ponsel di dalam tasnya. Jaeya mendegar decitan aspal dengan ban yang begitu kuat memekikkan telingannya. Jaeya menoleh kesamping. mobil tersebut semakin mendekat kearahnya. Dan berhenti tepat di samping kakinya. Jaeya meneguk ludahnya. Kemudian pandangannya berkunang – kunang. Dan…

BRUK!!

“Hei.. kau tidak apa – apa ?” Jaeya mendengar pemilik mobil tersebut keluar dan bertanya kepadanya.

“Song Jaeya” pekik pemilik mobil tersebut. Dan disaat itu juga pandangannya Jaeya benar – benar gelap lalu ia tidak sadarkan diri

TBC

 

Akhirnya. Selesai juga. EGILA SEKIAN LAMA MENGANGGUR AKHIRNYA SELESAI PART INI. ALHAMDULILLAH !!! *Salto bolak – balik*

Yang nanyain kenapa lama ?

Maaf ya, pandakim ngepostnya lama karena pandakim harus nyelesain tugas proposal kampus. Jadi gak sempat – sempat dan beneran tidak sempat buat melanjutkan ff ini.

Yang nanyain kenapa panjang ?

Karena pandakim mau balas dendam masa udah lama isi ff nya dikit. Kan gak enak bgt ya :’)

Oh, ia. Pandakim mau REST ALIAS HIATUS dulu dari nulis ff. Karena pandakim lagi sibuk – sibuknya dengan urusan kampus. Dan ini gak bisa di kompromi lagi.

Mungkin pandakim balik tahun depan habis pandakim nyelesain uas.

Buat yang nanyain lanjutan foolish love, school love affair sama from now on I love you ini pandakim akan post tahun depan J

Makasih udah baca ff pandakim sebelumnya. Tapi lebih berterima kasih lagi sama reader yang udah koment. Lope lope deh buat kamyu kamyu.

Dan begitu juga dengan ff ini pandakim mengharapkan komentnya walaupun satu kata ajah *Eciiieee bahasanya*

BUAT READERS SELAMAT MEMBACA DAN DIHARAPKAN KOMENTNYA.

SAMPAI JUMPA DENGAN FF PANDAKIM TAHUN DEPAN. BUBUY~~~~

About fanfictionside

just me

23 thoughts on “FF/ FROM NOW ON I LOVE YOU/ GOT7/ pt. 2

  1. Ya ampun yugyeom, kamu polos sekali nak.. ak suka karaktrrnya mark di sini, dingin cuek, huah pria idama bgt😀 ak tunggu thn depan thor

  2. KEREN BANGEETTT ;-;
    thor gamau tau pokoknya jaera harus sama mark banyakin moment mark-jaera juga dong hehehe jebbaaalll~
    keep writing! fighting! ♥

  3. fuuuiihh…
    akhirnya dpost jg…
    ni br panjang saeng…
    hehehe…
    wah, kyknya couple2nya dah ketauan nih…
    ahaha…
    seru2…
    btw jeaya knp?
    jgn lama2 ya saeng hiatusnya..
    gk sabar nih…
    hehehe…
    c u next year…🙂

  4. makasih thor udah nyempetin lanjutin ni ff di segala semua kesibukan itu>.<
    yugyeom nya lucuuu xD
    sepanjang jurnal gini asik kok thor! wkwk
    semoga lancar uas sama tugas" kuliah nya ya pandakim, see u next year!! 2015년 있다 만나요 ㅅoㅅ~

  5. Walau lupa yang part awal,tpi aku suka sama part ini.
    Apalagi Sunhee,mirip banget kisahnya sama aku,tpi gak smpai ngestalk ke kamar mandi.
    Oh ya,aku rindu sma pandakim.
    And masih ada typo,but never mind🙂

  6. akhirnya di post juga, udah lama bgt nunggu thor….
    jackson serakah bgt ya, haha.
    triangle love mark, jaeya, jb.
    ditunggu taun depan thor, fighting…

    • Haiii..annyeong! Aku readers baru di sinii *sangat baru malah* *mangkanya telat komen:(*
      Eh sumpeee sukaaa sama ff iniiii! Iye bener kopel2nya udah keliatan..suka bgttt kopel Jinyoung-Jikyung :*** /nge bayangin gue jd jikyung/
      Btw typo nya dikurangin yah min:)
      Over all.. Good job thorrr! Cepet kombek yah thorr! See ya next year! Muahhh:*

  7. Keren, tapi please banget nih thor jaeya sama jaebum ya please jangan mark, cukup sekali sakit hati karna baca ff doang :v Betewe keren banget dah pokoknya😀

  8. Menurut gue thor, ff ini terlalu terperinci/? Tiap cast dibahas permasalahannya, seakan akan disini ga ada pemeran utama, kalo dari gue pribadi sih, sedikit membosankan. Udah gitu aja sih :^)

  9. Akusuka banget ffnyaa… Lanjutunnya kapan? . Aku baru baca ini ff maaf baru comment di part 2nyaa… Akusuka banget ffnyaa… Lnjutin secepatnyaa yahh ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s