FF/ CLAN/ INFINITE/ pt. 3


Title: Clan (Chapter 3)

Author: Junryu (former A-Mysty)

Genre: Fantasy, Friendship, A little bit Thriller, Supernatural.

Duration: Chapter

Rating: Teen

Cast:    Hyun Joo Rim – Katarina Jackocevic (Original Cast)

            Urara Kim / Yamada Kim (Original Cast)

            Kim Myung Soo

            (And More… Coming soon)

Poster by: Arin Yessy (http://posterfanfictiondesign.wordpress.com/)

Simple Warn:             Already edited. Sorry if you still find any typo(s).

 request-pc32-junryu (1)

Aku memejamkan mataku rapat-rapat seakan-akan sudah siap untuk ditembak. Aku dapat merasakan kerutan dahiku saat aku memejamkan mataku terlalu rapat. Tidak ada pergerakan apapun yang dapat kurasakan. Setelah beberapa lama memejamkan mata rapat-rapat, aku membuka kelopak mata kananku terlebih dahulu. Demi keselematan diriku.

Ujung sepatu Myungsoo sudah tidak menginjak kedua jariku lagi. Senang, namun jari-jariku sudah terlanjur membengkak karena diinjak terlalu keras. Belum sempat aku membuka kedua kelopak mataku sepenuhnya, tangan Myungsoo menyentuh tulang rahangku. Dengan kasar, ia mengadahkan kepalaku dengan sedikit menekan daging yang melekat pada pipiku ini. Dingin. Itulah yang aku rasakan ketika kulitnya menyentuh kulit pipiku.

Gun yang ia pegang sebelumnya sudah digantikan oleh pisau saku. Ujung pisau itu diarahkan pada pipi kiriku. Secara refleks mataku kembali terpejam. Aku takut. Aku takut dibunuh. Sungguh, aku sangat takut. Myungsoo benar-benar bukan laki-laki biasa, melainkan kelainan. Apa dia seorang psikopat?

“Buka kelopak matamu, sebelum aku benar-benar menusuk matamu dengan pisau ini.” Myungsoo mengancamku untuk membuka kelopak mataku yang secara refleks terpejam rapat ini. “Buka!”

Dengan terpaksa, aku membuka kelopak mataku perlahan. Tatapan matanya terlihat berbeda dari biasanya. Jujur, tatapan ini membuatku–lebih–takut.

“Bukankah aku sudah memberi peringatan untukmu untuk jangan bertingkah macam-macam?” Myungsoo berujar dengan nada dingin. “Jangan salahkan aku jika kau terluka. Kau terluka karena ulahmu juga. Aku juga sudah memberitahumu sebelumnya kalau kau tidak mungkin lepas dari pengawasan. Tapi, kenapa kau belum mengerti meskipun sudah diperingatkan?”

“…” Aku hanya bisa mematung sambil terus terpaku menatap bola matanya.

“Sebagai hukumannya, kau harus menerima ini…”

Sret

Ujung pisau itu menekan pipi kiriku, kemudian ia menggoreskannya hingga menyisakan luka garis namun dalam. Mirip scaple dokter bedah yang hendak membedah bagian dada kiri saat operasi jantung. Perih dan sakit. Genangan air mata mengerubungi mata kananku, sedangkan mata kiriku kering.

“Bagaimana? Ringan bukan hukumannya?” Myungsoo mendengus meledekku. “Semakin kau banyak melanggar, semakin cepat pula wajahmu hancur karena pisau ini atau… dengan revolver ini.”

Tangannya sengaja memijatkan pipi kiriku keras agar darahku semakin banyak mengalir keluar dari luka goresan pisau yang ia buat. Karena terlalu sakit, kedua tanganku bergerak sesuai tugas mereka. Tanganku yang bengkak aku gunakan untuk melepaskan tangan Myungsoo yang terus memijat pipiku itu. Sedangkan tanganku yang satunya, aku gunakan untuk menampar wajahnya langsung.

“Sakit! Hentikan!”

Plak!

Tanganku langsung menamparnya ketika aku berhasil melepaskan tangannya yang terus membuat darahku sulit berhenti mengalir. Aku menutup luka goresan dalam itu sebisanya, yaitu dengan tangan kosong. Sayangnya itu tidak terlalu berpengaruh, darahku mengalir menyusuri tanganku sampai siku. Kemudian, menetes tepat diatas celana panjangku.

Myungsoo yang menerima tamparanku langsung tersenyum meremehkan. Kemudian, raut wajah kembali dingin dan serius. Ia melangkahkan kakinya mendekatiku. Sontak, aku langsung menyeret kakiku mundur juga. Aku tidak mau darahku habis hanya karena orang yang kelainan ini.

Tangan Myungsoo menarik tanganku yang bengkak, hingga aku berdiri dan berhadapan dengan wajahnya yang begitu dekat. “Jangan coba-coba melanggar. Mengerti?” Bisikkannya terdengar sebagai ancaman terbesarku. Hingga pada akhirnya, aku hanya bisa mengangguk dengan kaku.

Kemudian Myungsoo mendorongku hingga aku jatuh duduk. Darahku yang masih mengalir sedikit terciprat di lantai. Myungsoo mendelik sekilas, kemudian berlalu keluar kelas.

Laki-laki sialan!

///

“Ya ampun, Joo Rim! Kenapa bisa terluka seperti ini?!”

Lengkingan suara Ibu membuatku ingin menangis. Aku tidak bisa menceritakannya padanya. Kalau aku menceritakannya, aku tahu Myungsoo akan menambahkan luka pada wajahku hingga hancur. Atau bisa saja sebagai sentuhan terakhir, ia akan menembakkan pelurunya tiga kali hingga wajahku tidak berbentuk. Tunggu dulu, apa yang aku pikirkan?! Sepertinya hal itu terlalu sadis.

Kalau dipikir-pikir, lebih baik aku digigit vampire daripada dianiaya hanya karena hal seperti ini. Karena digigit vampire membuat kita berpontensi berubah menjadi vampire juga, bukan? Dimana kita bisa menjadi makhluk abadi seperti di cerita fiksi, Twilight. Di sana Bella bertemu dengan Edward yang merupakan seorang vampire. Lalu, pada buku seri terakhir karya Stephanie Meyer itu mengatakan Bella berubah menjadi vampire. Keren, bukan?

Daripada aku, bertemu dengan laki-laki yang berfisik tampan. Namun, kelakuannya tidak setampan fisiknya. Sepertinya, cerita hidupku akan bertolak belakang dengan cerita Twilight.

Sepertinya aku sudah termakan cerita fantasy tentang makhluk supernatural itu.

“Joo Rim! Kau dengar Ibumu sedang berbicara tidak?!”

Aku langsung tersadar dari pikiranku. Ibuku sudah berdiri di hadapanku sambil bersiap menempelkan kasa halus yang sudah diberikan alkohol untuk membersihkan luka di pipiku ini. Tatapan Ibu terlihat sangat khawatir.

“Y-ya?” sahutku gelagapan.

“Kau kenapa bisa sampai seperti ini, Love?” Ibu melembutkan suaranya. ‘Love’ adalah panggilan sayangnya untukku. Dan, Ibuku yang merupakan warga asli Korea ini, ternyata masih fasih berbicara Bahasa Inggris.

“Aku tidak apa-apa, bu. Tadi secara tak sengaja, wajahku tersangkut kusen besi jendela yang terbuka di dekat laboratorium.” jawabku dengan penuh kebohongan.

Tersangkut kusen besi jendela merupakan jawaban kebohongan yang tidak terdengar keren. Apa mungkin aku harus menjawab seperti ini, ‘Itu karena aku menolong nenek yang akan dicopet. Kemudian, pisau pencopet itu mengenai wjahku.’ Aku rasa itu lebih parah konyolnya.

Setelah aku menjawab pertanyaan penuh kasih sayang Ibuku, kasa beralkohol tadi sudah menempel pada pipiku yang terluka. Rasa perih itu kembali datang. Kini, aku langsung menangis. Tanganku menggenggam lengan Ibu, kemudian sedikit mencakarnya.

“Tahan sedikit. Lukamu sudah panjang, dalam pula.” Ibu terus membersihkan lukaku dengan perlahan. Setelah selesai, ia menempelkan kasa yang baru dengan cairan iodine pada lukaku dengan perban. “Selesai.” Ibu langsung mencium dahiku.

“Terima kasih, Bu.” Aku mengapus air mataku yang sempat mengalir menggunakan ujung ibu jariku.

“Astaga! Tanganmu kenapa?!” Ibu sepertinya melihat tanganku yang membengkak akibat diinjak oleh Myungsoo dengan sengaja itu. “Love, apa kau di-bully oleh teman-temanmu? Apa yang terjadi dengan kau dan teman-temanmu?” tanya Ibuku dengan penuh perhatian.

“Tidak, Bu. Aku tidak apa-apa. Ini karena…” Aku terdiam sejenak untuk memikirkan alasan kebohongan apalagi yang cocok untuk digunakan. “Ini karena aku ceroboh. Ketika teman-temanku sedang menggeser meja, secara tak sengaja tangan ku terjepit mejanya dengan mejaku.” Sekali lagi, ini alasan yang tidak keren. Sangat tidak keren.

“Kau harus berhati-hati. Jangan sampai kau seperti ayahmu.” Ibu kembali mencium dahiku lembut, kemudian memberikan pelukan hangat dan damai. “Karena ibu tidak mau kehilangan salah satu permata kehidupan ibu lagi.”

Aku membalas pelukan ibuku dengan erat. “Tentu, Bu. Aku akan selalu bersama Ibu.” Aku berujar dengan penuh rasa tersentuh.

Aku tahu Ibu merasa sangat kehilangan Ayah karena kecerobohan Ayahku sendiri. Dan, kini aku ada untuk meneruskan pekerjaan Ayah. Ahli dalam bidang laboratorium dan sedikit handal dalam persenjataan.

Kedua mataku yang masih sedikit terbuka menatap ke arah jendela. Di sana, aku menangkap seseorang sedang memerhatikanku dan ibuku dengan senyum meremehkan, kemudian pergi dengan langkah kaki yang santai.

Apa itu Myungsoo? Dia… benar-benar mengawasiku?

///

Sudah berapa hari Urara menjauhiku?

1, 2, 3? Atau bahkan 1 minggu? Entahlah, aku sudah tidak menghitungnya lagi. Semenjak hari dimana Urara merasa tersinggung, ia menjaga jarak denganku. Ia sama sekali tidak menatapku. Kini, ia hanya duduk bersama Myungsoo saja. Sedangkan aku, aku hanya duduk sendirian di sebelah jendela. Dan, aku sudah memesan tempat duduk itu sampai blok dan semester ini berakhir. Setidaknya, aku bisa membuat jarak untuk mengawasi sahabatku dari kejauhan. Aku tidak ingin Urara kenapa-kenapa. Cukup hanya aku saja yang disayat.

Omong-omong luka sayat, luka sayat empat hari yang lalu masih harus diperban. Karena kecerobohanku, aku tertimpa beberapa buku tebal ketika mencari bahan untuk laporan. Sakit memang, tapi mau bagaimana lagi? Pendarahan kecil itu terjadi lagi. Lukaku yang sebenarnya sudah mengering, kembali basah dengan darah dan daging yang belum tertutupi kulit.

Sampai di ruang kelas ini–yang kini aku anggap seperti neraka bumi– aku hanya duduk diam. Hanya selembar kertas dan sebatang pensil HB yang menemaniku untuk mengisi rasa kekosonganku. Terkadang, aku lebih memilih diam untuk membaca buku fiksi-fantasy terbaru atau lama. Namun, sepertinya aku tidak berniat demikian. Dengan pikiran yang terus berkobar tak sesuai, aku menggambar asal kertas yang berada di hadapanku ini.

“Joo Rim?”

Suara seseorang mengagetkan kuhingga pensil HB yang berada digenggamanku terlepas. Kyu Myeong menatapku dengan tatapan khawatir. Mengapa ia menatapku seperti itu? Apa ada yang salah dengan penampilanku?

“Ya?” sahutku dengan menerjapkan mataku cepat-cepat.

“Apa kau baik-baik saja?” tanya Kyu Myeong.

“Aku baik-baik saja. Memang ada apa denganku?” Aku sengaja bertanya balik untuk memastikan tidak ada yang salah dengan diriku.

“Tidak. Hanya saja, kau lebih pendiam daripada sebelumnya. Biasanya, kau dan Urara sedang jahil mengganggu yang lain dan tertawa bersama. Apa ada masalah diantara kalian?” Sepertinya, baru Kyu Myeong saja yang menyadari kerenggangan persahabatanku dengan Urara.

“Tidak ada apa-apa. Aku dan Urara baik-baik saja. Kami hanya ingin membuat waktu untuk bersama yang lain juga. Karena tidak mungkin kami bermain berdua saja, kalau masih banyak teman sebaya yang seru untuk diajak bermain?” Aku menjawab dengan tingkat kebohongan tertinggi yang pernah aku capai. Setidaknya, kebohongan yang satu ini terdengar lebih keren.

“Oh, baiklah. Lekas sembuh ya. Hati-hati kalau sedang bekerja.” Kyu Myeong tersenyum tipis sambil menganggukkan kepalanya, kemudian mengacungkan ibu jarinya ke arahku.

“Terima kasih, Myeong-ah!” balasku singkat, kemudian kembali menggambar.

Mataku terpaku kaku ketika melihat gambarku sendiri. Aku juga tidak menyadari kenapa aku menggambar ini. Coretan tanganku pada kertas ini adalah gambar mata yang rapih, namun bukan bola mata manusia biasa yang tampak lembut. Melainkan, tampak menusuk dan menyeramkan. Seperti bola mata… Myungsoo, ah bukan, yang ini lebih tajam. Seakan-akan bola mata itu bisa mengendalikan dirimu secara tak langsung, jika memang bola mata itu benar ada.

Joo Rim! Ada apa denganmu? Kenapa kau bisa menggambar hal yang tidak berguna seperti ini?!

Tetapi, entah mengapa ada rasa di dalam batinku untuk menyimpan gambar ini. Seperti, sebuah petunjuk untuk melihat kepribadian Myungsoo lebih dalam lagi.

///

Pikiranku semakin melayang ketika melihat Myungsoo dan Urara mulai menonjolkan kedekatan mereka berdua di lingkungan universitas. Bukannya aku cemburu, tapi Urara tidak tahu latar belakang yang terjadi padaku. Baru seminggu aku disayat oleh laki-laki itu, kini di wajahku sudah menambah dua goresan lain. Di dekat ujung bibirku dan di bawah mataku. Dan, aku beruntung pisau itu tidak ditusukkan ke mataku.

Itu karena aku tak sengaja memberi peringatan ke Urara melalui gambar-gamberku belakangan ini. Dan, Myungsoo kembali memergokinya. Gambar-gambarku ia bakar tepat di hadapanku, kemudian berakhir seperti ini. Beruntung, tidak terjadi pendarahan seperti kemarin. Entahlah, aku merasa beruntung–­tidak sepenuhnya beruntung.

Kelas seharusnya selesai 1 lagi, namun aku memutuskan pulang lebih cepat dengan alasan lukaku yang berdenyut nyeri hingga mengganggu konsentrasiku. Padahal bukan karena itu. Aku takut dicegat oleh Myungso seperti kemarin. Masalah untuk hari ini adalah Myungsoo memergokiku ketika mengirimkan memo kepada Urara untuk memberitahukan tentang kepribadian Myungsoo yang sebenarnya. Aku tahu aku nekat.

Ketika aku tengah berjalan berbelok setelah keluar dari gerbang, tanpa sengaja aku menabrak seorang laki-laki yang bertubuh cukup tinggi. Karena memang sejak awal langkah kakiku gontai, aku langsung terjatuh duduk di hadapan laki-laki itu.

“Kau tak apa?” tanya laki-laki ketika uluran tangannya sudah terlihat di depan mataku.

Aku masih mendesis kesakitan. Wajahku yang terbentur tubuh laki-laki itu terasa sangat berdenyut. Rasa nyeri mencengkram wajahku, seakan-akan seseorang sedang menarik daging wajahku dari segala arah. Memangnya sturktur tubuh laki-laki ini selain terdiri dari tulang, sendi, darah, dan daging, ada apalagi? Beton? Atau besi? Keras sekali.

Tiba-tiba kedua tangan laki-laki itu mencengkram kedua lenganku, kemudian membantu berdiri. Bibir laki-laki itu tak henti-hentinya mengucapkan rasa bersalah dan permohonan maaf. “Apakah kau baik-baik saja? Sungguh, aku minta maaf akan hal ini.”

“Tidak, tidak.” Aku merasa risih ketika lenganku dicengkram oleh orang lain yang tak kukenal, apalagi ini adalah seorang laki-laki. “Aku tidak apa-apa. Santai saja.” Aku menerjapkan mataku untuk menatap laki-laki itu.

Laki-laki yang berada dihadapanku ini bukanlah laki-laki perkuliahan yang hendak kabur dari jam kampusnya. Melainkan, ia adalah laki-laki berseragam sekolah lengkap dengan almamaternya. Aku dapat melihat tanda lokasi seragam sekolah yang ia kenakan itu. Sekolahnya adalah sekolahku dulu. Ketika aku menatap wajahnya, tubuhku terasa membeku. Garis wajah, rahang, serta bentuk mata laki-laki itu mirip sekali dengan Myungsoo.

“Myungsoo?” ujarku tanpa sadar.

Laki-laki itu mengerutkan dahinya dengan sebelah alis yang terangkat. “Kau kenal kakakku? Apa kau orang dimaksud kakakku?”

Kini aku yang menatapnya dengan kerutan di dahi. Aku terkejut ketika mengetahui laki-laki itu adalah adik laki-laki Myungsoo. “Orang yang dimaksud kakakmu? Aku tidak mengerti dengan apa yang sedang kau bicarakan. Aku hanya merasa kau mirip dengan Myungsoo itu.”

“Apa kakakku belum memberitahumu? Kau ini adalah…”

“Kau ini laki-laki, seharusnya kau bisa menyimpan rahasia!” sela seseorang dengan cepat.

Suara dingin tanpa alunan terdengar begitu saja, membuatku dan laki-laki yang berada dihadapanku ini menoleh ke arah yang sama. Myungsoo berjalan dengan santai dengan kedua tangan yang dimasukkan ke dalam saku celananya, serta tali ransel yang hanya disampirkan di sebelah bahu saja.

“Ah, Hyeong…” Laki-laki yang berada dihadapanku ini hanya bisa membuang arah penglihatannya kaku. Sepertinya ia begitu terkejut.

“Kau harus ikut aku pulang sekarang!” Myungsoo mengucapkannya dengan penuh penekanan. Laki-laki dihadapanku hanya bisa menerjap beberapa saat, kemudian membalikkan badannya. “Jangan coba-coba kau mencari informasi tentang diriku melaluinya.” ujar Myungsoo ketika ia lewat di depanku.

Kakak-beradik itu berjalan meninggalkan kawasan universitas ini. Tunggu dulu, bukankah kelas selesai 1 jam lagi? Tapi, kenapa ia juga meninggalkan kelas dijam yang sama sepertiku? Apakah Myungsoo seorang…

Penguntit?

///

Urara sepertinya benar-benar sudah tidak menganggapku sebagai teman lagi. Aku juga tidak tahu apa yang salah dengan ucapanku. Oke, aku tarik kembali ucapanku. Dan, ini mungkin sudah kesekian kalinya aku membahas Myungsoo dan pendapat Urara. Pendapat dia dan aku sangat bertolak belakang–itu sudah pasti. Tapi, mengapa laki-laki itu bisa menutupi sikat kejam bagaikan psikopatnya di hadapan Urara? Baiklah, aku kembali mengulang ucapanku beberapa hari yang lalu.

Dan hari ini, sebuah kabar beredar dan ramai membuatku bertohok dan tersenyum pahit. Kalian tahu apa? Kabar yang tak seharusnya terdengar kepenjuru Universitas. Kabar yang benar-benar tak aku harapkan. Kabar yang benar-benar akan membawa bencana…

Kabar dimana… Urara dan Myungsoo resmi berpacaran.

Terlalu cepat? Mungkin. Tapi, bagiku adalah iya. Bayangkan saja baru beberapa minggu ia menginjakkan kaki di kelas ini. Kemudian mendekatkan diri dengan sahabatku, dan membuatku tersingkir dari kesadaran sahabatku. Lalu, mereka bersama membawa kabar yang selama ini aku pikirkan. Aku tidak ingin Myungsoo melukai sahabatku.

Ketika kabar itu beredar luas, aku hanya bisa menenggelamkan wajahku di buku fiksi tentang kekuatan supernatural. Ya kalian bisa menebaknya… Twilight Saga: Ecplise. Dibuku itu hanya menceritakan balas dendam Victoria karena James dibunuh oleh keluar Cullen. Ia berniat membunuh Bella Swan untuk membalas dendam. Tapi, ya, Edward selalu melindunginya. Romantis, hanya saja aku bertohok pahit ketika membaca setiap adegan romantisnya.

Hidupku kebalikannya Bella Swan. Ingat itu. Bella bertemu laki-laki aneh yang ternyata vampire ‘baik-baik’. Sedangkan aku, bertemu laki-laki aneh yang masih manusia murni tetapi seorang psikopat kronis.

“Urara Kim! Selamat atas hari jadi kau dengan Myungsoo! Wah! Kalian cocok sekali!”

“Betul! Semoga hubungan kalian akan tetap kuat sampai lulus! Ah tidak, maksudku sampai kau menikah dengannya dan mati bersama!”

“Kyaa! Kalian pasangan yang imut! Urara berwajah oriental yang manis, sedangkan Myungsoo berwajah tampan nan dingin!”

Aku hanya bisa memutar bola mataku ketika mendengar segala macam kalimat ujaran untuk mengucapkan selamat pada sepasang kekasih yang baru itu. Kalau sudah begini, Urara akan semakin sulit untuk direnggangkan dan kembali disadarkan. Bahkan, aku juga semakin mudah direnggangkan, atau dienyahkan.

Ketika aku sedang menggaris bawahi sebuah kalimat di novel Eclipse–yang kugaris bawahi merupakan kaliamt favorit atau bahkan quote terbaik, seseorang berbisik ditelingaku dengan suara berat namun hanya sepintas.

“Kau kalah.” ujar Myungsoo singkat.

Aku menoleh cepat sambil menyentuh daun telingaku yang terkena embusan napasnya. Ia menatapku dengan senyum meremehkan yang tak pernah ia tunjukkan sebelumnya. Senyuman khusus untuk meledek karena aku gagal. Sudah gagal, koleksi luka gores pisau semakin banyak pula. Padahal… aku tidak melakukan apapun. Sepertinya, ia ingin membunuhku dengan goresan sedikit-sedikit ini, lalu sengaja menunggu agar terinfeksi.

“Sialan.” umpatku dengan nada pelan, namun dengan penekanan.

Sepertinya aku benar-benar akan kalah…

///

Selesainya kelas, orang-orang berkumpul untuk pergi bersama. Hitung-hitung me-refreshing kepala mereka. Akhir bulan yang menyedihkan bagiku. Hanya aku satu-satunya mahasiswi yang memutuskan untuk menyelinap pergi sebelum Myungsoo memergokiku, lalu menambah jumlah luka goresan.

Sejenak aku kembali memikirkan sesuatu yang lain. Setiap kali ia menggoreskan pisau sakunya di wajahku, ia tidak pernah mengelap atau mencucinya. Melainkan langsung ia lipat, dan dimasukkan ke dalam saku celananya. Apakah tidak amis? Menjijikkan. Omong-omong, aku mengetahuinya karena aku melihat darah kering yang melekat di pisau itu.

Sekarang, apakah Urara masih baik-baik saja? Pikiranku terlalu bergelut.

“Kau yang kemarin, kan?”

Seseorang membuatku tersentak dari ayunan yang sedang kududuki di taman dekat perumahan tempat tinggal aku dan ibuku. Aku mengadahkan kepala untuk melihat siapa yang sedang mengajakku berbicara. Laki-laki itu menatapku datar dan dingin. Aku dapat mengingat siapa orang itu. Orang yang kemarin diseret Myungsoo secara paksa. Laki-laki itu adalah adiknya Myungsoo.

“Kau?” tanyaku terkejut ketika melihat laki-laki tinggi itu. “Sedang apa kau di sini? Ah maksudku, kenapa kau bisa di sini?”

“Baru pulang sekolah. Aku memang sering datang ke taman ini. Kau sendiri?” tanyanya yang kemudian duduk di ayunan kosong tepat sebelahku. “Kenapa kau melamun di sini sendirian?”

Aku menggelengkan kepalaku cepat, memilih untuk tidak menjawabnya. Aku tidak mungkin mengatakan kalau aku melamunkan kakaknya itu. Bisa-bisa salah paham terjadi, dan Urara semakin membenciku.

“Kau masih SMA?” Aku sengaja bertanya demikian untuk mengalihkan topic pembicaraan yang terkesan mengintimidasiku.

“Ya, begitulah. Kau dapat melihatnya memaluli seragamku,” Laki-laki itu menjawab dengan mengganggukkan kepalanya pasti. “Hyeong bilang hari ini ia akan pergi bersenang-senang bersama teman-teman sekelasnya. Bukankah, kau juga salah satu teman kelasnya? Kenapa kau tidak ikut pergi?”

“Cerewet!” bentakku kasar. Meskipun begitu, ia tetap berekspresi datar dan santai. Ia tidak terlihat tersentak karena bentakanku. “Maaf. Lupakan saja. Aku melamun karena ada sedikit masalah. Aku tidak ikut pergi karena aku ingin menenangkan pikiranku dari pikiran-pikiran menganggu ini.”

Laki-laki itu meresponku hanya dengan anggukkan kepalanya. “Oh ya, kita belum sempat berkenalan.” Aku menoleh menatapnya. “Namaku, Kim Moonsoo. Umurku berpaut dua tahun dari hyeong.” ujarnya tanpa mengulurkan tangan sepeti orang kebanyakan ketika mengajak berkenalan.

Sepertinya, rasa ketidaksopanannya itu diturunkan dari seorang Kim Myungsoo. Kakak maupun adik sama-sama tidak sopan.

“Hyun Joo Rim. Karena kau menyebutkan umur pautan, aku lahir tahun 1994. Kau bisa menghitung umurku sendiri.” balasku cuek.

“Kita seumuran, tapi kenapa kau bisa berada dijenjang Universitas lebih dahulu dibandingku?” Moonsoo menatap bola mataku dengan begitu serius. Berbeda dengan tatapan Mungsoo yang menusukku, tatapan Moonsoo terlihat mengintimidasi namun tidak menusuk.

“Dulu aku tidak tinggal di sini. Aku mendapat sekolah yang mengadakan akselerasi. Dan, jadilah aku di sini. Jadi, kau juga keliharan tahun ’94?”

“Ya, begitulah. Aku ingin bertanya, apakah kau seorang blasteran?” tanya Moonsoo lagi. Tatapan bola matanya sama sekali tidak lepas dari bola mataku.

“Y-ya.” jawabku tergagap. Lalu, aku memalingkan wajahku agar tidak menatap bola matanya yang terus mengintimidasiku. Aku tidak suka hal itu. Namun, tangannya memutar daguku agar kembali menatapnya.

“Sebentar. Biarkan aku menatap kedua bola matamu sebentar.” Ia menangkupkan tangan dingin ke kedua pipiku.

Ia pertama kalinya ada seorang laki-laki yang berani menyentuh pipiku seenaknya–sepertinya Myungsoo yang pertama, tapi aku tidak yakin membuat orang lain pendarahan dapat disebut sentuhan.

Moonsoo terus menatap bola mataku dalam. Wjahnya juga semakin lama, semakin dekat dengan wajahku. Aku dapat merasakan embusan napasnya. Tanpa basa-basi lagi, aku langsung melepaskan kedua tangannya dari pipiku dengan kasar lalu memukul pipi kirinya dengan kepalan tanganku. Ia terlihat terkejut akan hal itu. Sepertinya tidak salah lagi, Moonsoo sama tidak sopannya dengan Myungsoo.

Bugh!

“Dasar gila!” umpatku tanpa melihat sekitar. “Dasar tidak sopan!”

Aku menyelempang tasku cepat, menatap Moonsoo tajam. Kemudian, berjalan pergi meninggalkan laki-laki yang merupakan adik dari Kim Myungsoo itu. Aku kira Moonsoo akan memiliki sifat yang berbeda dengan kakaknya, ternyata gen memang mempengaruhi.

Orang seperti itu memang perlu diberikan pelajaran tentang tatakrama.

///

Sudah beberapa hari ini aku memilih untuk menetap di kelas sampai lingkungan universitas benar-benar sepi. Aku pulang ketika satpam penjaga mengetoki kelas dan menyuruhku pulang sebelum gelap dan gerbang universitas ini dikunci.

Sekarang sudah pukul 6 sore. Tetapi, satpam itu belum mengetokiku juga. Perasaanku menjadi tidak enak karena tidak ada yang mengingatkanku untuk segera pulang, aku pun menyelempang tasku cepat. Lalu, berjalan menyusuri koridor kelas dan laboratorium yang sangat lenggang.

Ketika aku sedang berjalan cepat, seseorang menarik tanganku dan membawaku masuk ke dalam laboratorium penelitian bakteri. Aku menjerit tertahan ketika tangan orang itu membungkam mulutku. Aku tidak dapat melihat paras orang itu. Gelap.

Kret!

Pintu yang dibuka oleh orang itu mengeluarkan hawa dingin yang lembab. Perasaanku semakin tidak enak. Badanku bergerak meronta keras. Tetapi, orang itu terus menyeretku. Lalu, mendorong tubuhku kasar ke dalam ruang lembab itu hingga tersungkur. Itu adalah ruang yang digunakan untuk pengembangbiakan bakteri pada cawan petri. Dingin dan lembab.

Sebelum pintu ditutup oleh orang itu, aku segera bangkit dan menggapai kenop pintu itu. Naasnya, pintu itu sudah dikunci dari luar oleh orang misterius itu. Tapi dengan adanya kaca pada pintu ini, aku dapat melihat orang misterius itu meskipun tidak begitu jelas. Karena laboratorium ini sudah gelap–begitu juga dengan tempat pengembangbiakkan bakteri ini, aku tidak dapat melihat wajahnya secara keseluruhan. Namun, dapat aku pastikan itu adalah seorang laki-laki. Bibir tipisnya tersungging senyum licik. Kemudian, ia pergi begitu saja sambil memakaikan hoodie ke kepalanya.

“Hei! Kau! Bukakan pintunya!” Aku berteriak sekencang-kencangnya dari dalam ruangan lembab ini. Tanganku tak berhenti mengutak-atik kenop pintu ini.

“Bukakan pintunya!” Kakiku mulai turun tangan untuk membuka pintu ini. Aku sudah mencoba untuk mendobraknya berkali-kali, tapi tidak ada hasil yang dapat membuatku keluar dari sini. Melainkan hasil yang lain, tangan kananku memar dan kakiku keram begitu saja.

Selama beberapa menit aku terus berteriak dan menggedor-gedor pintu ini meminta pertolongan. Tapi, nihil. Aku menyerah. Aku sungguh menyerah. Parahnya, ruangan lembab ini tidak berventilasi. Sudah lembab, ruangan ini juga terasa sangat pengap.

“Ibu… Tolong aku…” ujarku pelan. Aku memeluk kedua lututku yang aku tekuk untuk meminimalisir hawa dingin yang lembab. “Ayah… aku takut.” Keram kakiku ini tidak bisa membuatku berdiri.

Air mataku mengalir begitu saja. Apa aku akan mati karena dikunci diruangan ini oleh orang yang sialan itu? Baiklah, saatnya untuk menerima takdir.

Aku, Hyun Joo Rim atau Katarina Jackocevic mati karena kehabisan oksigen diruangan lembab ini…

To Be Continue

About fanfictionside

just me

3 thoughts on “FF/ CLAN/ INFINITE/ pt. 3

  1. bagaimana kalau keadaan jadi berbalik? Myungsoo cemburu sama adiknya dan jatuh cinta sama joo rim? Cerita ini masih berputar putar dalam satu lingkaran, itu itu terus dari awal tanpa ada penambahan alur, maju atau mundurnya alur ceritanya. Sorry ya thor jangan tersinggung dengan commentku ini. Hanya saja itu yang aku rasakan dari awal chap 1-3.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s