FF vignette/ I SWEAR/ BTS-BANGTAN


NaHyivyr

Tittle                      : I Swear
Author                  : Min97 (@AhnKaera)
Main Cast           : Nana Lee (OC) and Park Jimin BTS
Length                  : Vignette
Genre                    : Friendship, AU, Romance
Rating                   : PG-16

“Kau ingat ‘kan?”

.

.

“Kau janji padaku ‘kan?”

.

.

“I Swear”

.

.

-Happy Reading-

And Please don’t copy my idea about this story

.

.

“Kau ingat ‘kan, Jim?”

Lagi-lagi kalimat itu terlantun dari bibir mungil gadis itu. Suaranya yang cukup pelan semakin terdengar kurang jelas lantaran ranting-ranting pepohonan yang bernaung di bawah kepalanya saling bergesakan tertiup angin.

Gadis itu memeluk lututnya dengan lemas serta menopang dagunya disana. Wajahnya terlihat muram dan garis-garis ketakutan di rautnya nampak semakin jelas.

Sementara seorang lelaki dengan hoodie bewarna biru gelap di sampingnya lebih memilih diam sembari memandangi panorama danau dengan latar langit senja dihadapannya.

“Lihat, sekarang usia kita sudah 19 tahun. Kita sudah setua ini Jimin”

“Lalu?”

Jimin pun menjawabnya dengan nada rasional. Ia yang tengah duduk diatas kursi panjang bersama gadis itu lantas mengayun-ayunkan kakinya tanpa memiki tujuan yang jelas.

“Bisa tidak, kita kembali ke masa kecil kita?”

Cicitan burung mulai bersiul ramai. Sayapnya mengepak-ngepak cepat di atas awan dan terbang dengan bebasnya. Bola mata bermanik caramel milik gadis itu sempat merekam pemandangan cantik disana, dimana burung-burung gereja memantulkan bayangannya di atas danau yang berkilau jingga. Hanya untuk beberapa saat sampai gadis itu kembali berucap,

“Dulu waktu kecil, aku, kau, Taehyung, juga Jungkook, pasti akan heboh bila burung-burung gereja itu hendak kembali ke sarang mereka. Sama seperti senja hari ini, dimana mereka bertebangan bebas dengan siluet pepohonan di sekitar tempat ini”

Jimin hanya tersenyum tipis. Rupanya gadis ini tengah memutar ingatan dalam benaknya.

“Biasanya sepulang sekolah kita akan langsung kemari tanpa mau ganti baju dulu. Taehyung bilang, kalau kita pulang, nantinya akan tambah melelahkan karena taman ini letaknya dekat sekolah. Maka dengan polosnya aku, kau, dan Jungkook menurut saja lalu kita bermain sepuasnya sampai sore disini. Kau ingat ‘kan, Jim?” ia lantas tertawa kecil.

“Kita akan bermain petak umpet, bola yang dibawa Jungkook, kemudian bermain lumpur sampai badan kita yang bau keringat bercampur dengan aroma lumpur kental itu. Kalau sudah begitu, kita pasti akan langsung berenang di danau ini dan pulang dengan basah kuyup. Ahhh, dan aku ingat sekali bagaimana ibu Jungkook memukili bokong anak itu sampai menangis saat kita sampai di rumah. Hahaha, bukankah itu sangat menggemaskan, Jim?”

Jimin terhenyak lantaran gadis berambut hitam itu mulai terisak di tempatnya.

“Nana….”

Jimin tergerak untuk menyentuh pundaknya, memastikan bagaimana keadaan gadis itu sembari mengelus pundaknya lembut. Hingga tanpa pikir panjang lagi, ia pun langsung menariknya dalam rangkulan. Meletakkan kepala Nana untuk bersandar pada dadanya yang bidang.

Kalau sudah begini, siapa yang mau menolaknya? Nana pun menurut saja.

“Aku merindukan mereka, Jim.” ujarnya melemah disela-sela isakan tangisnya yang semakin menjadi-jadi.

“Saat SMP, kita masih sering bersama ‘kan? walau jarak sekolah kita cukup jauh, kita masih tetap bisa menempuhnya dan berjalan bersama-sama. Kalau hujan, kita pasti akan berteduh di kedai bibi Jung atau di teras toko paman Oi. Dan aku hapal betul bagaimana watak paman Oi. Ia akan marah apabila kita membasahi terasnya karena ulah baju kita yang basah dan juga jejak kotor dari sepatu kita. Kau ingat ‘kan?”

Jimin mengangguk pelan.

“Lalu saat masuk SMA, kita masih sering bersama sampai Taehyung memiliki pacar dan Jungkook jatuh cinta pada sunbae satu tingkat diatasnya. Semuanya mendadak berubah. Taehyung hanya menghabiskan waktu dengan pacarnya, sementara Jungkook sering menghilang secara tiba-tiba. Kita jadi jarang bersama. Hanya aku dan kamu yang masih tersisa, Jim”

“Jangan berkata begitu, Nana. Bagaimanapun mereka adalah sahabat kita”

“Tapi bagaimana dengan hubungan kita? bukankah sahabat selalu ada dan akan selalu bersama? bahkan mereka benar-benar tega lantaran pergi meninggalkan kita disini”

Jimin menatap Nana. Ibu jarinya yang tak cukup panjang mengusap lembut sisa-sisa air mata yang mulai terasa lengket di pipi tambam gadis itu. Matanya menatap tepat pada manik caramel dihadapannya.

“Salah.”

Nana melukiskan guratan panjang pada dahinya.

“Sahabat tak berarti harus ada dimanapun kita berpijak. Mereka bukan Bodyguard atau Tuhan atau bahkan sebuah bayangan yang harus selalu bersama kita. Mereka juga memiliki kehidupannya masing-masing. Walau kita sudah bersama sejak kecil, bukan berarti kita mengetahui apa saja yang mereka alami atau rasakan. Kita juga tak berhak seenaknya mengatur kehidupan mereka. Jangan berfikir jika memiliki sahabat, berarti kita bisa melakukan apa saja yang diharapkan terhadap persahabatan itu sendiri. Jangan nilai persahabatan dengn egomu.”

Tanpa disadari, Jimin yang awalnya hanya diam saja akhirnya menggumam cukup panjang. Sejenak ia melirik singkat kea rah Nana dan seketika itu pula ia terkikik kecil karena Nana tengah menatapnya dengan tatapan sepolos bayi, seakan-akan gadis itu belum paham atas apa yang barusan ia katakan.

“Kelak, mereka pasti akan menikah, mempunyai anak, dan mengurus keluarganya. Kau mau terus saja mengekori mereka sampai tua?”

Nana terhentak.

“Maka dari itu, ada masa dimana kita tak lagi bisa seperti dulu. Kita tak akan selamanya bermain bola, bermain petak umpet, atau bermain lumpur layaknya anak kecil. Kita akan tambah besar, menjadi dewasa, sibuk dengan urusan kita sendiri, dan akan menua. Waktu akan terus bergerak maju tanpa memperdulikan apa saja yang dilewati, dan kita mau tak mau harus mengikutinya.”

Jimin mempererat rangkulannya pada pundak Nana karena gadis itu ingin menangis lagi. Pundaknya terasa bergetar.

“Jangan menyerah. Kau harus bisa menerima kenyataan. Kita masih bisa terus bersama-sama kok. Tapi tentunya dengan cara yang berbeda. Persahabatan akan tetap terjalin namun tanpa sikap kekanak-kanakan lagi. Sahabat itu bukan berapa lama kita saling mengenal, tetapi seberapa jauh kita saling memahami satu sama lain.”

Ternyata Nana menangis lagi. Buliran air matanya kini jatuh lebih deras dari sebelumnya. Tetapi, kali ini bukanlah air mata yang berisikan kepedihan mendalam atau rasa menuntut, melainkan perasaan haru. Perkataan Jimin terdengar bagai penyemangat untuknya. Suaranya lirih tanpa bermaksud menggurui. Jimin benar.

“Kau harus bisa mengerti mengapa Taehyung dan Jungkook melakukan hal itu. Kau tak bisa memaksanya untuk tak jatuh cinta. Bahkan pilihan mereka yang melanjutkan study ke luar negeri, kau pun harus dapat merestuinya. Apapun jalan yang dipilih mereka, itulah yang terbaik. Taehyung dan Jungkook pasti sudah memikirkannya baik-baik. Sebagai sahabat, bukankah kita harus men-support mereka?”

Nana mengangguk antusias dan tanpa aba-aba, ia lantas memeluk Jimin sangat erat. Sementara lelaki itu membelalakkan mata saking terkejutnya. Walau merasa canggung, ia pun menepuk-nepuk punggung sahabat wanitanya itu dengan sayang. Setidaknya ia merasa cukup lega karena Nana rupanya terlihat membaik.

“Aku menyesal. Saat Taehyung dan Jungkook mau ke Amerika setahun lalu pun, aku tak datang ke bandara sekadar memberi salam perpisahan. Aku ini keterlaluan ya. Bisa-bisanya aku mementingkan egoku dan berfikir mereka sudah tak peduli lagi terhadapku.”

“Kau sih, makannya kalau berfikiran jangan sempit.” Jimin menjitak kening Nana, sampai gadis itu meringis―tentunya tanpa melepaskan pelukannya― “Kau tahu betapa murungnya wajah mereka saat kau tak kesana?”

“Masa sih?”

“Huh, kau pikir mereka bisa tenang setelah kau menangis selama dua hari karena mereka akan pergi? tentu mereka sangat menghawatirkanmu.”

“Maafkan aku.”

“Mereka hebat bisa mendapat beasiswa sampai kesana. Sekarang, tugas kita adalah mendoakan mereka agar kembali sebagai orang sukses.”

Mereka terdiam cukup lama sampai rasa canggung semakin menyelusup dalam benak mereka berdua.

“Jim?”

“Hm?”

“Cuma kamu yang masih bersamaku sampai saat ini. Kau tahu ‘kan aku ini sangat sulit beradaptasi dan tak bisa sendirian?”

“Ya, aku tahu. Lalu?”

“Jangan pernah pergi”

“……..”

“Aku tak ingin kehilangan sahabat yang pernah kumiliki. Kau yang terbaik. Kau yang paling mengerti bagaimana lemahnya aku. Taehyung memang selalu membuatku tertawa, Jungkook memang selalu membuatku gemas, tapi kau… kau yang paling bisa memahami perasaanku dan membuatku merasa lebih baik. Ini bukan masalah tentang siapa sahabat yang terbaik bagiku… tapi— aku hanya tak ingin jika kau tak ada di sisiku lagi. Aku terlalu takut Jim.”

“……….”

“Walaupun nanti kau akan menikah dengan wanita lain, memiliki anak, dan jadi Ayah yang super sibuk, kumohon tetaplah peduli padaku. Meskipun kau tak melakukannya, setidaknya jangan pernah lupakan aku. Tetap jadi dirimu yang selalu baik terhadap siapapun.”

Jimin kembali diam seribu bahasa. Nafasnya yang berhembus teratur, sangat hangat untuk dirasakan Nana.

“Kau harus berjanji padaku”

“Iya, aku janji” jawab Jimin lirih namun dalam dan penuh makna.

“Benar?”

“Iya. Aku tak akan membiarkanmu sendiri. Selama aku masih bisa menjagamu, aku akan melakukannya.”

“Kau janji padaku ‘kan?” Tanya Nana memastikan. Terdengar keraguan disana.

“I Swear”

Cukup dengan satu kalimat itu, hati Nana terasa berdesir. Ia lega, sangat tenang. Setidaknya, apapun yang dikatakan Jimin, ia yakin kalau lelaki itu tak akan berbohong.

Setelah merasa hatinya benar-benar mencelos lega, ia pun melepaskan pelukannya pada Jimin. Ia berlalu bangkit dari kursi yang sedari tadi ia duduki. Tangannya terangkat, dijunjungnya jari kelingking miliknya sampai tinggi.

“Untuk Taehyung dan Jungkook yang sedang di Amerika, aku tak mau kalah dari kalian! walaupun aku dan Jimin tetap di Korea, kita juga memiliki banyak kesempatan jadi orang sukses. Ayo semangat! aku akan belajar dengan baik. Aku tak ingin jadi orang gagal di mata kalian. Hahaha”

Melihat itu, Jimin tak mau kalah. Kali ini ia juga ikut bersanding di sisi Nana sambil mengangkat kelingkingnya.

“Ayo kita buktikan!” ujarnya tak kalah lantang.

Langit senja kini semakin menggelap. Mentari pun sedikit demi sedikit mulai menyembunyikan sinarnya di balik bentangan danau yang luas.

Jimin yang sedari tadi tersenyum konyol, pelan-pelan menurunkan kelingkingnya lalu ditautkannya di jemari putih Nana.

“Eh?” Nana sedikit terperanjat.

Entah ini hanya perasaannya saja atau bagaimana, tatapan Jimin kali ini terasa berbeda dari biasanya.

“Hei, Lee Nana bodoh”

“Apa?” Nana yang awalnya sedikit salah tingkah karena Jimin menatapnya cukup lama, kini mengerucutkan bibirnya lantaran Jimin kembali bersikap seperti biasanya, konyol dan menyebalkan.

“Kau masih belum tahu sesuatu, lho”

“Apa memangnya?”

Cup!

deg

Apa-apaan ini? Bahkan Nana sendiri masih diam mematung ditempatnya sambil mengedip-ngedipkan matanya berulang kali. Apa yang memang barusan terjadi? Sulit dipercaya! Dihadapannya, Jimin sedang menggaruk kepalanya dengan kikuk. Walau sekitar sudah gelap, tak menjadi pengghalang bagi Nana untuk dapat melihat rona kemerahan di wajah lelaki itu.

Apa jangan-jangan…

yang barusan itu…

“Yaaaak Jimin! apa yang barusan kau lakukaaaan???!!!!” Nana berteriak seraya memukuli Jimin dengan brutal. Kalau saja Jimin tahu, ia merasa shock setengah mati.

Namun..

Cup!

Lelaki itu nyatanya melakukannya lagi. Ia mengecup bibir Nana. Bibirnya yang lembab hanya menempel saja di bibir gadis itu dalam diam. Meski begitu Nana tak bisa berbohong kalau ia merasa melayang sampai awan. Jantungnya ikut berdegup kencang, sampai mau nafas saja rasanya susah sekali. Apa ini mimpi? apa Nana sedang memimpikan hal yang sebelumnya sama-sekali tak pernah ia bayangkan?

Lalu yang sekarang terjadi ini apa? kenapa Jimin melakukannya?

Meski tergiang banyak pertanyaan dikepalanya, Nana nyatanya malah memejamkan matanya perlahan. Ini kali pertama ia merasakannya. Ciuman pertama yang dicuri oleh sahabatnya sendiri, Park Jimin.

Harusnya Nana menolak. Tak seharusnya mereka melakukan ini. Tapi nyatanya? Nana membalas ciuman lelaki itu lebih dalam.

Melumatnya lembut dengan perasaan dan rasa sayang. Namun…

Rasa sayang yang mana? Atas dasar sahabat atau….

Belum sempat Nana terbang lebih tinggi diatas awan, Jimin dengan perlahan melepaskan ciumannya. Garis matanya yang panjang, hidung proposional, serta bentuk rahang tegas miliknya semakin memperjelas bentuk wajahnya yang tampan.

“Salahkah?”

Katanya dengan hati-hati, membuat gadis itu kembali pada kesadarannya, terlebih atas kalimat barusan.

“Salah tidak kalau aku menyukaimu, Nana? rasa suka melebihi seorang sahabat”

Dari cara Jimin berbicara, ingin rasanya Nana menangis. Ia memang gadis yang mudah menangis. Tapi kalimat Jimin benar-benar terdengar sangat tulus, seolah-olah ia memohon terhadapnya. Apa ia terlalu terharu? Atau sedih karena ia baru saja menerima kenyataan yang sebelumnya tak pernah ia sangka?

Kenapa jimin? kenapa kau melakukan ini?

“Sejak kapan?”

Jimin menunduk, memberanikan diri untuk menggapai jemari Nana walau takut.

“Sejak lama. Sebelum Taehyung dan Jungkook bisa jatuh cinta dengan orang lain. Tidakkah kau sadar itu?”

Nana menggeleng. “Kau tahu kan yang kau lakukan ini salah?”

Jimin menggangguk.

“Kau tipe orang yang paling benci jika persahabatanmu rusak karena hal sepele seperti cinta. Maka dari itu aku memilih untuk menyembunyikan perasaanku karena tak ingin kau sakit hati. Aku… aku tak bermaksud menyakitimu dengan pernyataanku ini, tapi…. bisakah kau tetap memberiku kesempatan untuk menepati janjiku? Aku tak bisa berlama-lama membiarkanmu tak tahu akan perasaanku, Nana.”

Melihat Nana yang membatu ditempat tanpa respon sedikitpun, Jimin jadi merasa bersalah. Ia salah jika menyatakan perasaannya sekarang. Ia sungguh menyesal. Ini sama saja ia mempermaikan perasaan Nana. Baru saja ia membuat gadis itu tenang, sekarang malah membuatnya lebih sakit. Betapa bodohnya dia tak bisa menahan dirinya untuk mengatakan hal itu. Kalau sudah begini, ia bisa apa? Nana akan membencinya.

Akhirnya ia memutuskan untuk pergi. Namun….

“Tunggu!”

Tanpa ia sangka, Nana memeluknya dari belakang.

“Bukankah kau sudah berjanji padaku untuk tidak pegi? Bukankah kau sendiri yang bilang akan terus bersamaku dan menjagaku?”

Jimin membalikkan tubuhnya, digenggamnya kedua tangan gadis itu.

“Nana….”

“Kau bodoh jika kau mengira aku akan marah karena kau bilang sudah menyukaiku.”

“Nana….”

“Aku menyukaimu bodoh! sangat menyukaimu! kupikir kau sudah peka sejak awal. Aku membohongi perasaanku padamu, karena aku takut nanti hubungan persahabatan kita akan hancur setelah Jungkook dan Tae pergi. Aku hanya tak ingin kebersamaan kita berubah.”

Lagi-lagi keheningan menyelimuti mereka. Entahlah ini sudah keberapa kalinya, menjadi bisu secara tiba-tiba rupanya tengah menjadi profesi yang mereka geluti.

Telapak tangan Jimin terangkat untuk mengacak puncak rambut Nana. Ia tersenyum lega. Meski sulit dipercaya kalau cintanya tak bertepuk sebelah tangan, ia lebih tak percaya lagi kalau orang yang ia cintai sekaligus sahabatnya ini ternyata mengucapkan kalimat sedramatis itu.

Sungguh moment yang tak pernah terbayang sebelumnya

Dua orang sahabat yang dulunya selalu bermain di bawah teriknya matahari layaknya anak kecil lainnya,

Nyatanya kini memilih ke dalam tahap yang berbeda…

Menjalin ikatan cinta kasih?

Apa ini salah?

Atau terlalu klasik seperti cerita kebanyakan?

Tapi tak akan ada yang tahu bagaimana akhir sebuah cerita itu sendiri.

Semuanya memiliki makna yang terkadang tak mampu di paparkan, tetapi masih dapat dihami.

Semua sederhana saja,

Karena pada dasarnya,

Cinta itu mudah dan indah.

Ia tak memandang siapa yang melakoninya.

Namun, tetap….

semuanya tergantung dari bagaimana kita menjalani, mengartikan, serta memaknainya.

Bahkan Jimin tak tahu. Kalau alasan Nana menyuruhnya untuk tetap berada di sisinya itu, karena Nana sangat mencintainya. Sejak Awal Nana memang sudah sangat mencintai Park Jimin melebihi seorang sahabat.

“Sekarang kau milikku, dan aku milikmu”

Untaian kata itu menutup pembicaraan mereka berdua yang kini saling bergandengan, menggiring langkah bersama di bawah sinar rembulan yang terang.

Sekarang hanya satu yang ada dalam pikiran Nana kali ini.

Apa jadinya kalau Taehyung dan Jungkook mengetahui hubungannya setelah mereka kembali ke korea nanti?

Apapun itu, Nana tak perlu takut karena ada Jimin bersamanya.

Seperti kata lelaki itu,

“Selama aku masih bisa menjagamu, aku akan melakukannya.”

 

FIN

.

.

I love u park jimin! /…../

What do u think aout this story?

gatau kenapa kepikiran buat cerita aneh macam gini. bisa-bisanya cerita yang awalnya mau aku buat tentang persahabatan aja malah jatuh ke genre romance gini. Ff ini kubuat gara-gara pas lagi ngayalin bisa punya sahabat kaya jimin gitu. Yang sifatnya…. Hm, semacam hangat dan dewasa, ya walaupun koplak tapi bisa bikin hati lumer gitu. Entahlah feelnya dapet ato kaga.

ps : kalo ada yang mau dibuatin seuquel, insyaallah akan kupersiapin *tendang. kalo ga ada juga gapapa karena aku sadar cerita ini paling absurd .___.v

About fanfictionside

just me

3 thoughts on “FF vignette/ I SWEAR/ BTS-BANGTAN

  1. terharu sekali…. gitu ya kalo jatuh cinta sama sahabat sendiri susah diungkapin tapi kalo dari kedua pihak ngerasa sama, indah banget… such a sweet story….

    • Ah mengapa jimin sangat so sweet??? Terharu sangat apalagi bagian akhirnya… bagus thor.. keep writing!! Request castnya suga bangtan dong..^^9

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s