FF vignette/ HEARTBREAKER/ GOT7


Poster Heartbreaker

Tittle: Heartbreaker

Author: bamiya

Cast: Jang Inhae (OC) & Im Jaebum (GOT7)

Genre: Angst, Romance, Fluff

Length: Vignette

Ratting: PG-17

Summary: “Jangan jatuh cinta padaku, karena tak akan ada kesempatan untuk kita bersama.”

A/N: maaf dengan typo yang bertebaran. Selamat membaca karyaku

Seperti kebanyakan orang lain, aku begitu bahagia ketika hari Jumat datang. Lepas dari segala kewajiban untuk mengikuti mata kuliah. Rehat sejenak dari tugas-tugas para dosenku. Aku sudah bersiap menuju salah satu klab malam langgananku tempatku menghabisakn Friday night ku. Apa kalian berpikir aku adalah gadis nakal? Oh, ayolah! Sekarang sudah 2014, dimana cyber memimpin dunia. Jangan menilai seorang mahasiswa sepertiku jika kalian belum pernah masuk ke dalam klab malam. Kalian akan lebih terkejut melihat siapa saja yang ada di sana. Tak ada yang pernah protes dengan kebiasaanku itu selama aku tetap masuk di setiap mata kuliah, dan mengerjakan tugas-tugas dari dosen. Termasuk, kedua orang tuaku yang sok sibuk itu! ah, mereka mana peduli padaku. Aku bahkan tak ingat kapan terakhir kali kami makan malam bersama. Aku selalu menghabiskan waktuku di rumah sendirian. Dan aku paling benci sendirian atau berada di tempat yang sunyi. Jadi, untuk menghindari kesunyian, aku mengunjungi tempat ramai seperti klab malam. Aku tentu saja legal untuk masuk ke tempat seperti itu mengingat umurku yang menginjak dua puluh.

Aku sudah mencium aroma cocktail dan musik disko dari luar. Penjaga Octagon Club membiarkan saja diriku masuk ke dalam dunia malam ini. beberapa orang menyapaku, termasuk para dancer, DJ, dan bartender yang sudah mengenalku. Para dancer menari dengan iringan musik. Pakaian mereka bahkan lebih parah dariku yang sekarang ini menggunakan black mini dress. Aku memilih duduk di meja bartender daripada harus menghabiskan energiku di panggung dansa.

“Cocktail seperti biasa!” pintaku pada Jackson, bartender yang cukup dekat denganku.

“Tidak ingin mencoba red wine impor ini?” tanya Jackson sambil menunjuk sebuah botol wine.

“Nanti saja, dia masih belum datang.”

“Kau akan bertemu dengannya lagi? Kalau begitu sekalian akan kusiapkan.”

Aku tersenyum geli. “Jika kau benar-benar memberiku minuman itu, kau sama saja dengan membunuhku!”

“Hanya beberapa teguk tak akan membuatmu mati. Kau harus mencobanya. Banyak pelanggan yang bilang wine ini memiliki sensasi berbeda—“

“Kau menungguku cantik?” bisikan halus menyapa telingaku. Deru nafas yang sangat kurindukan. Aku menatap sosok yang baru saja mendesahkan kata-kata di dekat telingaku itu. kemudian, ku kecup bibirnya pelan.

“Kau lama sekali! Aku sangat merindukanmu.”

“Aku juga merindukanmu,” lelaki itu akan menciumku tapi tiba-tiba Jackson menghentikan kami.

“Kalian berdua! Jangan pernah lakukan itu di hadapanku! Cari tempat lain yang lebih tertutup!”

Aku melirik tajam Jackson yang sudah mengganggu acara saling lepas rinduku. “Baiklah, kami akan pergi!” lelaki itu menarik pinggang rampingku agar pergi dari hadapan Jackson. Aku bersandar pada lengan kokohnya dan ikut melingkarkan lenganku di pinggangnya. Dapat kucium aroma Gucci Guilty Black yang menempel di tubuhnya. Ia mengajakku ke sebuah bilik yang di sediakan bagi pengunjung yang ingin bersenang-senang tanpa harus terganggu musik DJ yang keras itu. di meja sudah tersedia minuman yang bisa kutebak telah dipesan oleh lelaki ini sebelumnya. Dia menarikku agar aku duduk di atas pangkuannya. Dari belakang dia memelukku erat sambil menciumi pundakku yang terbuka. Aku selalu menyukai setiap sentuhannya itu.

“Bagaimana harimu sayang?” suaranya yang berat terdengar sangat menggoda. Aku memposisikan diriku agar bisa menatap maniknya.

“Aku hampir-hampir tidak bisa bernafas karena sangat merindukanmu.”

“Kau lucu sekali!” ia mencubit pipiku saking gemasnya.

“Kau tahu, aku tak akan kemana-mana.” Aku hanya tersenyum simpul menanggapi ucapannya. Entah kenapa hatiku merasa sedikit sesak.

“Mau ke apartemenku? Aku butuh ketenangan hanya untuk kita berdua.”

“Tidakkah disini cukup tenang?”

“Ya, tapi aku juga butuh kebebasan.”

“Ah, aku mengerti maksudmu!” aku menyeringai kecil seolah bisa membaca pikirannya yang jelas terpampang di mataku.

***

“Kenapa kau suka sekali mengoleksi wine?” aku melihat-lihat koleksi botol-botol wine yang tersimpan rapi di rak.

“Chateau d’Yquem, Romanee Conti, Bordeaux…..” aku membaca beberapa merk yang tertera di botol-botol wine itu.

“Aku tak terlalu mengerti tentang wine, tapi aku yakin harganya pasti sangat mahal,” aku mengambil sebuah botol yang berwarna biru laut.

“Yah, memang benar. Botol yang kau ambil itu Chateau Lafitte tahun produksi 1787. Harganya seratus enam puluh ribu dollar.”

“Bisa dipastikan sangat mahal setelah kau menyebutkannya dengan nilai dollar.”

“Hahaha… itu memang termahal yang kumiliki. Aku sengaja mengambilnya dari ruang penyimpanan. Kau bisa mencobanya.”

“Kurasa yang ini terlalu mahal, mungkin Bordeaux. Hanya itu yang kutahu.”

“Tak apa. Akan kuambilkan gelasnya dulu.” Ia beringsut mengambil gelas wine yang tersimpan dibagian bawah lemari wine. Ia membuka wine yang kupegan dan menuangkannya pada dua buah gelas hingga terisi seperempat. Wanginya yang manis dan kuat langsung membuat hidungku tergoda. Tak heran jika harganya bisa selangit.

“Kau belum menjawab pertanyaanku, kenapa kau suka mengoleksi wine?”

“Entahlah. Aku suka dengan rasanya yang manis dan kuat di mulut tapi hangat ketika mulai memasuki tenggorokanmu. Dan kemudian membawamu ke alam mimpi yang indah. Tak perlu lagi memusingkan persoalan sejenak. Mungkin terdengar lucu, tapi kau sama dengan wine.”

“Sama bagaimana maksudmu?”

“Saat bersamamu terasa manis dan bergairah. Kemudian kau mampu membawaku melayang seolah dunia hanya milik kita. aku jatuh cinta padamu sama seperti aku menggilai wine.”

Pipiku mendadak merah tanpa dikomando. Padahal aku belum meminum wine setegukpun. “Lihat, pipimu memerah. kau sangat lucu.”

Aku mencoba menghilangi kegugupanku dengan segera meminum wine ku. Tapi ia menahanku. “Wine mahal jangan diminum terburu-buru! Kita bersulang dulu, lalu nikmati rasa wine nya perlahan.” Aku hanya manggut-manggut menuruti perintanya.

“Chers!” ujar kami bersamaan.

Cairan wangi nan manis itu perlahan membasahi mulutku. Sensai anggur yang difermentasi begitu kuat terasa. Ditambah manis vanilla yang menggelitik rongga mulut. Perlahan turun menggangatkan tenggorokanku.

“Mau kutuangkan lagi?”

“Tidak saat perutku kosong.” Kuakui perutku belum terisi sejak terakhir kali aku sarapan tadi pagi. Kadar alkohol yang keras membuat perutku sedikit berkecamuk.

“Kalau begitu bagaimana dengan ramyun?”

“Semangkuk ramyun ditemani dengan wine seharga lima ratus dollar? Well, aku tahu di lemari mu hanya tersedia ramyun instan. Let’s order some Italian cuisins! Setidaknya itu lebih pantas disandingkan dengan wine mahalmu.”

“Baiklah. Permintaanmu adalah perintah buatku, Putri.”

Aku memutar bola mataku sambil tersenyum geli. “Cheesy!

Tak lama kemudian, pesanan kami datang. Ia menata meja sedemikian rapi hingga seperti tatanan meja di restauran Italia sungguhan. “Benar-benar seperti candle light dinner di restauran mewah,” komentarku.

“Bagaimana kalau dengan sentuhan musik jazz.”

“Kau yang paling tahu meningkatkan suasana, Tuan Im.”

Kami menikmati makan malam sederhana kami. Harus kuakui, aku tak bisa melepas pandanganku darinya. “Eat your dinner! Kau tak akan kenyang dengan hanya melihatku.” Seketika pipiku memerah karena malu. Ia menyadari sejak tadi aku memperhatikannya.

Kami selesai makan malam. Ia menautkan jemarinya dengan milikku. Kami saling menatap cukup lama. Seolah waktu berhenti begitu saja. “Ah! Aku baru ingat!” ia melepas tautan kami. Aku mengangkat sebelah alisku melihat geriknya. Ia kembali setelah mengambil sesuatu dari kamarnya. Sebuah kotak hitam berlapis beludru. Aku dengan mudah bisa menebak apa yang akan terjadi setelah ini. ia membuka kotak itu. manikku berbinar melihat isi kotak itu. sebuah kalung dengan liontin yang cantik. well, ini memang bukan pertama kalinya. Tapi tetap saja istimewa ketika yang memberi adalah orang yang kau cintai.

“Aku tak tahu kau suka atau tidak, tapi ketika melihat kalung ini pertama kali, aku langsung berpikir kalung ini sangat cocok untukmu.”

“Ini terindah yang pernah kulihat!”

Ia beranjak untuk memasangkan kalung itu di leherku. “You’re such a beautiful creature in this world!” suara beratnya berbisik di telingaku. Menimbulkan semu merah di pipiku. Aku benar-benar tak bisa menyembunyikan perasaanku ini.

“Kau tak ingin memberiku hadiah sebagai ucapan terimakasih?”

Aku menautkan alisku bingung. “Aku tak membawa apapun.”

Just give me a kiss! It’s more than enough for me!” ia menyeringai seduktif.

Pervert!” aku mencibirnya. Tapi kemudian aku tetap memberinya kecupan yang tak mungkin memuaskan baginya. Jadilah ia yang mengambil permainan. Memagut bibirku. Aroma wine yang baru saja kami minum tadi kembali menguar. Aku memejamkan mataku. Menikmati setiap sentuhannya. Membiarkan diriku larut terbawa alur permianannya. Hingga akhirnya, aku berakhir seperti malam-malam sebelumnya.

***

Aku bisa melihat garis-garis sinar matahari yang dengan malunya mulai muncul dari balik cakrawala. Aku melihat jam meja di atas nakas. Masih pukul lima. Aku membalikkan tubuhku menghadap Jaebum yang masih tertidur pulas. Tanganku mulai menyentuh pipinya yang mulus. Aku tak tahu jika yang kulakukan membuatnya sedikit tersadar. Maniknya masih terpejam tapi tangannya yang kekar menarik tubuhku, membuat kulit kami yang tak berbalut menempel. “Aku tahu aku tampan, tapi bukan berarti kau boleh menyentuh wajahku saat aku tidur.”

Aku hampir meledakkan tawaku. “Aku yakin kau bahkan melakukan hal yang lebih saat aku tidur.”

“Tak masalah jika kau tak menyadarinya.” Aku hanya memutar manikku malas.

“Sebagai hukuman, kau harus tetap seperti ini!” ia semakin menarikku ke dalam dekapannya.

“Kau gila! Aku bisa saja ‘dimangsa’ olehmu! Tinggal menunggu waktu hingga kau memakan seluruh tubuhku!”

“Tidak akan! Aku sangat lelah sekarang!”

You’re lie! Aku tahu kau tak akan kehabisan tenaga jika melakukan itu!”

Kali ini, ia tak menjawab. Sekarang aku baru yakin dia memang tak ingin melakukannya pagi ini. aku dapat melihat otot-otot tubuhnya. Terlalu jelas malah. Wangi parfum masih menempel di tubuhnya. Aku tak ragu lagi melingkarkan lenganku di pinggangnya. Memeluknya erat. Membuat tubuhku semakin melekat. Aku yakin dia sangat terganggu sekarang.

Aku bertahan seperti itu hingga Jaebum benar-benar terbangun. “Morning babe!” aku memberinya morning kiss. “Tidak bisakah kau menciumku lebih lama?”

You’re really such a pervert!” aku mencibirnya.

Dia tersenyum kecil kemudian menciumku pelan. Tidak seperti Jaebum biasanya. Aku menatap maniknya. Beberapa menit kami habiskan hanya untuk saling menatap satu sama lain. Tiba-tiba ponsel Jaebum berbunyi. Aku merasa terinterupsi dengan ponsel itu. aku bangkit untuk melihat nama kontak yang tertera. Suzy. Aku tak suka dengan nama kontak itu. aku menahan lengan Jaebum yang hendak mengangkat panggilan itu. tapi ia hanya tersenyum seolah memohon dan perlahan melepaskan tanganku.

“Yeoboseyo! Ada apa Suzy?” ia beringsut menghindari tatapanku, atau mungkin menghindariku agar teleponnya tak terdengar olehku. Aku memutuskan masuk ke kamar mandi, kemudian membersihkan tubuhku. Kurasa itu bisa mendinginkan tubuhku yang terbakar api cemburu. Satu fakta yang belum aku ceritakan. Bahwa Jaebum sebenarnya telah memiliki tunangan. Aku tak ingin disebut sebagai wannita penggoda yang merebut tunangan seseorang. Karena sesungguhnya akulah yang memiliki hati Jaebum. Pada dasarnya pertunangan mereka adalah keinginan orangtua. Jaebum sendiri merasa terpaksa mengikuti pertunangan itu. hingga akhirnya dia berakhir di klab tempat kami pertama kali bertemu dan kami menjalin hubungan tanpa banyak orang yang tahu. terkadang aku juga merasa bersalah pada Suzy. Biar bagaimanapun aku tetap wanita yang masih punya rasa kasihan terhadap sesama. Rasa egoku mengalahkan rasa kasihanku. Walau sebenarnya Jaebum tidak memperlakukanku lebih baik dari tunangannya. Well, bagaimana tidak? Mereka bersama selama hampir dua puluh jam sehari. Sedangkan waktunya denganku, hanya ketika akhir pekan di tengah malam hingga pagi menjelang. Kalung yang kukenakan sekarang, aku yakin Suzy mendapat lebih dari yang seperti ini.

Aku samar-samar mendengar perbincangan Jaebum. Sesekali ia tergelak. Aku membuka shower agar suara air menyamarkan suara perbincangan mereka. Selesai membersihkan tubuh, aku hanya memakai mantel mandi. Kemudian mengambil soda di dalam kulkas. Aku beranjak menuju balkon. Menikmati suasan pagi Seoul yang perlahan mulai sibuk. Tiba-tiba aku merasakan sepasang pergelangan tangan melingkar di pinggangku. Jaebum meyandarkan dagunya di pundakku. “Wangi… kau baru saja mandi?” ia berbisik di telingaku dan menciuminya. Aku masih kesal dan melepaskan lengannya dari pinggangku.

“Ada apa? Kau marah?”

Bravo! Dia benar-benar mengerti tentang aku. “Jangan marah!”

“Aku sama sekali tak berhak marah. Aku sudah sangat mengerti sejak awal.”

“Inhae-ya, kau tahu—“

“Aku sangat tahu!”

“Aku tak ingin kau jatuh cinta padaku…”

“Lalu kau akan bilang, karena kita tak punya kesempatan bersama,” aku memutar bola mataku malas.

“Mianhae, let’s just enjoy the now without looking ahead.”

“Sampai kapan?”

“Inhae, aku milikmu di malam apapun yang kau mau. Tapi kau harus tahu ada yang menungguku pagi harinya.”

“Kau bukan sepenuhnya milikku. Kau memang memberikan segalanya untukku. Tapi tidak dengan hatimu. Aku yakin hatimu kau berikan kepadanya.”

“Tidak, tentu ti—“

“Let’s just stop our argument. Aku tak ingin bertengkar denganmu.”

“Inhae-ya!”

“Aku mau pulang.”

“Biar kuantar!”

“Tidak! Bukankah kau ada janji satu jam lagi?”

“Masih ada waktu.”

“Lebih baik kau bersiap-siap saja. Aku juga tak ingin ia mendapatiku di sini.” Aku membalikkan tubuhku tapi tiba-tiba ia menarik lenganku. “Kau yakin?” aku mengangguk. Ia mengusap kepalaku lembut. kemudian mengecup keningku. Aku tak bisa untuk tidak memeluknya. Aku mendekapnya sebagai tanda perpisahan. Aku tak akan pernah tahu kapan kami bisa bertemu lagi. Mungkin saja ini pertemuan terkahir kami.

“Hati-hati.” Aku tersenyum tipis. Kemudian masuk ke kamar, memakai kembali pakaianku dan berdandan sebentar. Aku melangkah keluar apartemennya. Aku tak bisa mengalihkan pandanganku pada apartemennya. Siluetnya tak lagi nampak. Aku sekali lagi tersenyum tipis.

***

Perutku yang lapar memaksaku untuk mampir ke sebuah cafe. Memesan menu breakfast. Manikku menerawang jalanan yang mulai rami. Tanpa sadar aku menangkap sosok yang tak asing. Menaiki mobil sport dengan salah satu lengan yang tersampir di pundak wanita di sebelahnya. Keduanya tersenyum akrab menikmati cuaca yang indah. Indah, tapi tak sesuai dengan susana hatiku. Tak terasa air mataku jatuh begitu saja. Aku memalingkan wajahku tak ingin lebih lama melihatnya.

“You know, you’re such a heartbreaker!”

About fanfictionside

just me

5 thoughts on “FF vignette/ HEARTBREAKER/ GOT7

  1. ihhh, Im JaeBum nyebelin..!! kasiankan Inhye.. awalnya sih udah so sweet, adem ayem, tanpa kendala. aku pikir bakalan happy ending, ehh ternyata.. ihh, pokoknya dicerita ini Im JaeBum nye-be-lin pake banget..
    ceritanya seru chingu-ya.. walaupun bikin aku sedikit emosi kkk~🙂

  2. jaebum jahat banget sihh? padahal udah seneng banget kan di awal awal mereka ber lovedovey an. mana manis banget lagii sampe aku ngiri. tapi ternyata….

    hai bamiyaa, ff kamu keren banget lohh serius. feelnya juga dapet. mulai dari inhye sama jaebum yg dimabuk cinta sampe inhye yg sedih gara gara jaebum ngeselinn haha. keep writing yaaa^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s