FF vignette/ FULL MOON/ EXO-F(X)


Untitled-1 (1)

Title: Full Moon

Author: Bluemond

Cast: Kim Joonmyeon (EXO) & Jung Soojung (f(x))

Genre: Fantasy, Mystery, Thriller, Dark, Romance

Length: Vignette

Ratting: PG-15

Summary: “Jangan pernah percaya padaku. Sampai kapanpun aku akan menjadi ancaman untukmu!”

Manik merah Joonmyeon memandang bulan purnama yang bersinar dari balik jendela besar di sudut ruang yang gelap itu. gelas anggur merah yang hanya tinggal seteguk berada di tangan kanannya. Kulit pucatnya yang berbalut tuxedo bersinar sewarna cahaya bulan yang mulai menelisik ruangan klasik itu. ia menarik nafasnya dalam. Menghirup dinginnya angin malam seolah itu udara sejuk yang menyegarkan. Ia tersenyum, lebih ke menyeringai. Membuat sepasang taring tajamnya menyembul. Sekonyong-konyong pintu jati tinggi pembatas antara dirinya dari dunia luar terbuka. Menimbulkan decitan tua yang memekakkan telinga.

“Waktunya makan malam, Tuan.” Seorang gadis cantik berambut pirang dengan gaun victoriannya masuk sambil membawa nampan berisi makanan dan segelas minuman. Joonmyeon menarik ujung bibirnya. Mata merahnya yang menyala kembali normal.

“Kau sudah datang, Soojung.” Lelaki itu menjauh dari jendela besar seiring purnama yang mulai tertutup awan mendung. Sang gadis menaruh nampan yang ia bawa di meja kerja yang berada di ruangan pribadi Joonmyeon itu. ia menyalakan lilin dan menuangkan kembali anggur merah pada gelas yang tinggal seteguk itu. ia menyiapkan segalanya sepeti sebuah makan malam mewah para bangsawan. Joonmyeon mencium aroma sedap. Bukan pada daging steak yang tersaji sempurna di piring. Melainkan cairan merah pekat yang mengisi separuh gelas di samping piringnya. Cairan merah itu lebih menggodanya daripada minuman anggur kesukaannya. Gadis yang menyiapkan makan malam itu duduk di atas sofa bak patung. Diam menunggu tuannya selesai.

“Kemarilah. Duduk di sini dan temani aku makan.” Joonmyeon mengajak gadis itu duduk di kursi seberang meja kerjanya. Gadis itu menurut saja dengan perintah Joonmyeon. Lelaki itu memotong daging steak dan memakannya dengan pelan seperti seorang pangeran. Manik merahnya menatap Soojung yang diam membisu di depannya. Tangan gadis itu tertutup perban yang kelihatan masih baru. Joonmyeon dapat mencium darah yang mulai mengering dari luka itu.

“Kau melakukannya lagi?” Joonmyeon meraih gelas berisi cairan berbau anyir itu. “Kau harusnya tidak perlu melakukan ini. sangat berbahaya jika kau terus melakukannya.” Lelaki itu meniman-nimang gelas yang ada di tangannya. Ingin sekali ia segera merasakan manisnya minuman itu.

“Ini sudah menjadi kewajibanku melayanimu, Tuanku.” Soojung menjawab dengan kaku.

Joonmyeon meletakkan kembali gelasnya. Ia bangkit mendekati Soojung. Tangan pucatnya membelai pelan rambut pirang Soojung dan berhenti pada sebuah tanda di leher jenjang Soojung. Tanda itu menyala ketika jemari Joonmyeon menyentuhnya. Tanda kepemilikan yang ia buat sejak gadis itu menginjakkan kakinya di kastil ini.

“Tidakkah kau ingin aku mengubahmu menjadi sama sepertiku? Kau tidak harus memberiku darahmu setiap purnama lagi.”

“Ini belum saatnya, Tuanku.”

“Bukankah manusia sangat ingin hidup abadi? Tapi ketika penawaran itu datang dengan cuma-Cuma, kenapa kau malah menolaknya? Kau sudah memilih pilihan yang salah. Masih belum terlambat untuk berubah pikiran.”

“Aku bukan menolaknya, hanya saja tidak sekarang.”

“Sampai kapan? Sampai kau perlahan mati kehabisan darah? Aku lebih baik mengubahmu sekarang daripada berlama-lama terlena akan kenikmatan darahmu. Darah murni sepertiku mampu bertahan berpuluh-puluh purnama tanpa darah manusia. Itu sebabnya hanya kami yang mampu mengubah manusia menjadi vampir. Kau tahu aku mencintaimu Soojung. Aku tidak ingin melihatmu perlahan menua dan mati. Hiduplah bersamaku di kastil ini. hanya kita berdua. Hidup abadi bersama sambil melihat manusia-manusia naif itu mati dimakan usia. “

“Tuanku…”

“Panggil saja namaku.” Joonmyeon memeluk Soojung hangat. Walau gadis itu sudah hidup berbulan-bulan bersamanya, rasa takut itu terkadang mucnul jika menghadapi wujud asli Joonmyeon kala purnama. Lelaki itu akan langsung merengkuh Soojung ketika mendapati binar goyah dari manik gadis itu. soojung merasa hangat. Sangat kontras dengan kulit pucat Joonmyeon yang selalu dingin. Ia selalu membenci ruang pribadi milik Joonmyeon itu. gelap dan lembab. Jendelanya hanya akan terbuka ketika bulan purnama. Dingin yang menusuk tulang langsung menghampirinya begitu membuka pintu. Tak peduli berapa lapis pakaian yang ia kenakan, ia tetap saja kedinginan. Tapi ketika pria itu memeluknya seperti sekarang, dingin itu serasa sirna. Darahnya berdesir dan jantungnya berdegup kencang. Cahaya perak rembulan yang kembali muncul seperti membawa kehangatan baginya. Tanpa sadar gadi itu mengukir senyum. Semenakutkan dan seberbahaya apapun Joonmyeon, Soojung akan sangat nyaman jika lelaki itu memperlakukannya seperti ini.

“Joonmyeon…”

“Itu terdengar lebih indah di telingaku.” Joonmyeon tersenyum. Senyumnya lebih seperti seringaian yang menakutkan. Tapi Soojung sudah terbiasa dengan senyum itu.

“Aku merasa sedikit haus. Akan kuminum apa yang telah kau berikan.” Joonmyeon mengambil kembali gelas berisi cairan pekat itu. hidungnya yang tajam sudah mencium aroma nikmat minuman itu. cairan itu memang membuatnya kembali kuat, tapi cairan itu juga bisa membuatnya lupa diri. Cairan itu masuk ke tenggorokan Joonmyeon. Soojung seolah mampu melihat cairan itu mengalir seiring tenggorokan Joonmyeon yang naik turun dari balik kulit tipisnya. Setetes cairan itu tersisa di sudut bibirnya. Joonmyeon menjilat tetes terakhir itu. kulit pucatnya bersinar, begitupun mata merahnya. Soojung merasa tubuhnya juga ikut bereaksi setiap Joonmyeon meminum darahnya. Secara tak langsung, ia sudah bersatu dengan lelaki itu. lewat darah yang mengaliri tubuhnya dan memberi Joonmyeon kekuatan. Lelaki itu berjalan menuju jendela besar. Ia bersandar pada bingkai dan menikmati sinar rembulan.

Tapi tiba-tiba, sinar itu tak bisa lagi ia rasakan. Kulit pucatnya yang bersinar meredup, begitupun matanya. Ia merasa tidak mampu bernafas. Tenggorokannya seperti terbakar. Ia membalikkan tubuhnya menatap Soojung.

“Soojung-ah, apa yang kau—“ susah payah ia menghampiri Soojung. Keringatnya mengalir deras. Ia jatuh sebelum tangannya yang menggapai-gapai itu meraih Soojung. “Kau! Sialan kau Soojung! Apa seperti ini kau sebenarnya? Kenapa kau lakukan ini kepadaku?”

“Joonmyeon…” Soojung mendekat. Ia tak takut sama sekali pada vampir sekarat yang bisa saja membunuhnya saat itu juga.

“Kau harusnya jangan pernah percaya pada manusia. Manusia dan vampir tidak ditakdirkan bersama. Apa kau tidak pernah berpikir kenapa aku dengan suka rela masuk ke dalam kastilmu walau aku tahu tempat ini sangat berbahaya? Itu karena aku menunggu saat yang tepat untuk menghabisimu, vampir terakhir dari klanmu. Walau aku tahu, kau tak pernah menyentuh para manusia itu, tapi keberadaanmu membuat mereka takut. Aku harus memusnahkanmu sebelum ketakutan mereka bertambah. Itu lebih baik daripada para penduduk desa yang memusnahkanmu.”

“Apa kau pikir mereka bisa melakukannya? Aku ini berasal dari klan terkuat bangsa vampir. Aku tak terkalahkan!”

“Ya, mereka memang tidak bisa. Tapi aku bisa. Kau bisa saja menyerang mereka dan membunuh mereka satu-persatu sebagai perlawananmu. Tapi kau tidak bisa melakukannya padaku. Kau tidak tega menyakitiku karena aku orang yang kau cintai. Aku memanfaatkan perasaanmu itu.”

“Jadi kau selama ini—“

“Kau harus tahu vampir tidak boleh hidup di dunia manusia!”

“Keparat kau Soojung! Aku tidak akan membiarkanmu lepas begitu saja!” Joonmyeon menarik kasar pergelangan Soojung. Tapi tiba-tiba darah keluar tanpa ampun dari mulutnya. Membuat gaun putih Soojung berubah warna.

“Jangan terlalu banyak bergerak! Semakin kau bergerak, semakin cepat kau mati!”

“Kenapa kau melakukan ini? aku begitu mempercayaimu. Tidakkah kau merasakan perasaan yang sama sepertiku walau sedikit saja? Tidakkah kau juga mencintaiku? Kenapa kau begitu tega melakukan ini padaku?” Joonmyeon semakin tidak berdaya. Soojung tak mampu melihat lelaki itu sekarat. Ia memang tidak bisa melihat lelaki yang ia cintai mati di tangannya. Ia tak punya pilihan lain. Ini kesalahannya karena tidak sejak awal menghabisi Joonmyeon. Semakin lama ia hidup bersama lelaki itu, semakin berat ia harus melaksanakan tugasnya. Ia telah jatuh cinta pada Joonmyeon. Makhluk yang menjadi musuh para manusia.

“Aku tak punya pilihan lain. Maafkan aku.” Soojung merengkuh tubuh yang tak berdaya itu. air matanya mengalir tanpa ia minta. Gadis itu terisak. Joonmyeon yang semakin tak berdaya tersenyum.

“Kurasa lebih indah mati di dalam dekapan orang yang kucintai daripada harus berakhir di tangan para penduduk desa.”

“…”

“Biarkan aku mengatakan hal terakhir sebelum aku pergi….” Joonmyeon mendekat ke tellinga Soojung.

“Aku mencintaimu Soojung, selamanya aku mencintaimu.” Joonmyeon berbisik dengan sisa kekuatannya. Tepat setelah itu, tubuhnya meredup dan akhirnya hancur menjadi debu. Soojung menangis. Ia masih mencium aroma Joonmyeon walau debunya perlahan diterbangkan angin.

“Aku juga mencintaimu, Joonmyeon.”

Sinar rembulan menerangi tubuh Soojung. Membuat kulitnya perlahan bersinar. Rambut pirangnya berubah menjadi hitam. Tanda di lehernya menghilang. Tapi tepat di sebelahnya terdapat sebuah bekas gigitan. Joonmyeon berhasil menjadikan gadis itu vampir seperti keinginannya. Sebelum ia mati ia menyalurkan seluruh sisa kekuatannya pada gadis itu.

Soojung bangkit. Mata merahnya menyala ditempa sinar rembulan. Ia mendekati jendela besar tempat favorit Joonmyeon. Angin bertiup menerbangkan anak rambutnya. Ia meraba perutnya. Soojung dapat merasakan kehadiran Joonmyeon di tubuhnya. Kisah hidup sang vampir terakhir dari klan terkuat tidak berakhir begitu saja. Bangsa vampir tidak akan musnah dengan mudah. Mereka selalu punya cara untuk mempertahankan eksistensi mereka di dunia manusia. Seperti yang dilakukan Joonmyeon. Menjadikan Soojung miliknya dan membuat gadis itu tetap menjaga garis keturunan klannya. Gadis yang demi membalaskan kematian keluarganya akibat dibantai oleh bangsa vampir harus masuk ke dalam kehidupan Joonmyeon. Melayaninya selama bertahun-tahun sambil mencari saat yang tepat. Bukan Joonmyeon yang terpedaya oleh Soojung, tapi kini gadis itulah yang terikat oleh statusnya yang berubah menjadi vampir. Kini ia harus tinggal di kastil itu dalam kesendirian. Hidup abadi sambil melihat satu-persatu manusia yang dikenalnya mati karena usia. Mungkin jika ia tak pernah memasuki kastil itu dan menjalani hidupnya seperti manusia biasa atau melupakan dendamnya dan memutuskan hidup bersama Joonmyeon akan membuatnya bahagia.

Hidup abadi bukan berarti tak bisa mati. Suatu saat Joonmyeon akan mati di tangan manusia yang mengincarnya. Entah itu seratus tahun, lima ratus tahun, atau seribu tahun ke depan. Tapi ia memilih mati di tangan gadis yang ia cintai. Hanya cinta Joonmyeon pada Soojung yang tak akan pernah mati. Cinta mereka akan tetap abadi. Tak bisa dihancurkan oleh apapun atau siapapun di dunia ini.

About fanfictionside

just me

2 thoughts on “FF vignette/ FULL MOON/ EXO-F(X)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s