FF/ TEMPTATION/ EXO-F(X)/ pt. 1


poster temptation

Title: Temptation (Part 1)

Author: Bluemond

Cast: Oh Sehun (EXO) & Jung Soojung (f(x))

Genre: Married Life, Romance, Drama

Lenght: Chaptered

Rating: PG-15

Summary: Pernikahan tak selamanya indah. Apalagi jika harus menghadapi cobaan yang silih berganti menerjang bahtera rumah rangga. Ini bukanlah akhir, melainkan awal untuk menjadi lebih baik lagi.

Soojung membuka matanya perlahan. Hal pertama yang ia cari adalah jam beker yang masih menunjukkan pukul enam pagi. Kemudia ia mengecek ponselnya yang berada di nakas. Setelah ia rasa tak ada pesan atau telepon penting barulah ia menengok sisi tempat tidur, dimana suaminya berbaring. Tapi tak ada sosok suaminya yang semalam tidur di sampingnya. Tak ambil pusing, ia turun dari ranjang. Mungkin suaminya itu sudah lebih dulu berangkat kerja, begitu pikirnya. Ia melakukan aktivitasnya seperti biasa, membasuh muka, sarapan, dan berangkat bekerja seperti biasa. Sendirian. Beberapa hari ini, suaminya memang berangkat lebih pagi sebelum ia bangun. Soojung memakluminya, ia dan suaminya sama-sama CEO perusahaan besar. Tentu akan sangat sibuk setiap harinya. Dan karena itulah, pernikahannya menjadi sedingin es. Mungkin jika mereka dikaruniai anak, pernikahan mereka akan sedikit lebih baik. tapi nyatanya hingga tiga tahun usia pernikahan, Tuhan belum memberikan mereka kepercayaan untuk memiliki anak.

“Pagi, sajangnim.” Oh Seungah, karyawannya sekaligus kakak iparnya menyapa. Itu sedikit membuat paginya yang begitu dingin menjadi lebih hangat.

“Eonni!” Soojung tak ragu memeluk Seungah walau berada di depan kantor.

“Kau berangkat sendirian? Sehun tidak mengantarmu?”

“Dia sedikit sibuk akhir-akhir ini.”

“Dasar anak itu! sesibuk apapun harusnya dia tidak menelantarkan istrinya.”

“Bukan masalah eonni. Aku cukup mengerti sesibuk apa pekerjaan CEO perusahaan konstruksi seperti Sehun.”

“Aku benar-benar bersyukur dia memiliki istri sesabar dirimu. Jika wanita lain, pasti dia akan meminta cerai melihat sikapnya yang seperti itu.”

Soojung hanya tersenyum tipis mendengar ucapan Seungah. Sabar? Apa dia memang pantas dikatakan seorang istri yang sabar? Ia terlalu lelah dengan Sehun yang begitu sibuk hingga ia membalasnya dengan bersikap dingin.

***

“Soojung-ah, kau masih ada di dalam?” Seungah masuk ke ruangan Soojung. Waktu sudah menunjukkan lewat tengah malam. Ia baru akan pulang ketika melihat ruangan Soojung masih menyala.

“Ah, eonni. Sepertinya aku akan lembur malam ini. pekerjaanku sangat banyak.”

“Jangan memaksakan diri! Kau juga butuh istirahat. Pulanglah! Pekerjaanmu bisa kau lanjutkan besok.”

“Baiklah, sebentar lagi eonni.”

“Kau harus pulang dan istirahat. Jangan menginap di kantor! Aku akan menyuruh satpam kantor untuk mengecek ruanganmu dalam lima belas menit lagi. Pastikan satpam kantor tidak mendapatimu masih bekerja! Aku pulang dulu.”

“Hati-hati eonni!”

“Kau juga harus cepat pulang!”

“Ne, eonni.”

Soojung ingin sekali mengingkari perintah Seungah dan melanjutkan pekerjaanya. Tapi kepalanya tiba-tiba merasa pening. Ia memutuskan tidak melanjutkan pekerjaanya dan segera pulang.

Ia memasuki apartemennya. Mendapati ruangan yang masih gelap gulita pertanda tak ada keberadaan Sehun di sana. Ini sudah pukul dua pagi. Sehun tidak akan pulang jika sudah lebih dari tengah malam. Soojung merebahkan tubuhnya di sofa. Merasa penat dan letih. Di saat seperti ini seharusnya Sehun berada di rumah. Menyambutnya dengan pelukan hangat, menyiapkan air hangat untuknya mandi, dan membuat makan malam untuknya. Apakah itu berlebihan? Dulu, jika pekerjaannya sedang tidak banyak dan ia bisa pulang cepat, ia selalu melakukan pelayanan terbaik untuk Sehun. Bukankah wajar jika ia meminta sedikit pelayanan dari suaminya? Walau hanya untuk hari ini.

Soojung mengambil ponselnya dari dalam tas. Bahkan tak ada pesan atau panggilan dari Sehun. Paling tidak harusnya Sehun memberi kabar jika ia tak bisa pulang malam ini. soojung mencoba menghubungi Sehun. Lama terdengar nada sambung, tapi kemudian terdengar suara yang menandakan Sehun tak menjawab panggilannya. Ia melempar ponselnya asal. Kepalanya jadi terasa semakin pening. Ia menuju kamarnya, mengambil obat yang ia sembunyikan di dalam nakas. Setidaknya obat itu bisa meringankan peningnya dan membuatnya bisa sedikit tidur dengan nyenyak.

Paginya, tetap tak ada tanda-tanda kehadiran Sehun di apartemen itu. satu lagi pagi yang ia lewati tanpa Sehun. Ia bergegas pergi ke kantor sebelum hari semakin siang.

***

“Sajangnim, waktunya makan siang. Anda tidak ingin bergabung bersama kami? Kami akan makan siang di luar.”

“Ah, sudah waktu makan siang ya? Tidak terasa. Baiklah, sebentar lagi aku akan menyusul Sekretaris Kim.”

Soojung membereskan berkas-berkasnya dan mengambil tas jinjingnya, bersiap makan siang bersama karyawan sekretariatnya.

Sebuah restoran bulgogi menjadi tujuan mereka. Kebetulan Soojung juga sedang ingin makan daging. Akhir-akhir ini makannya sedikit tidak teratur. Bahkan ia sering makan makanan instan karena begitu sibuknya.

“Nah, sajangnim apa kau juga ingin minum soju?” salah seorang karyawan menawarinya.

“Tidak, terima kasih. Aku tidak minum.”

“Woohyun-ssi! Ini masih siang, kenapa juga kau minum soju?”

“Makan bulgogi tidak lengkap tanpa soju, Hayoung-ssi.”

“Asal jangan terlalu banyak saja Woohyun-ssi, setelah ini kau masih harus bekerja.” Soojung menasehati

“Tentu saja, sajangnim.”

Meja di samping mereka yang dipenuhi beberapa pekerja kantoran sedikit berisik. Membuat Soojung tak nyaman. Ia hendak menegur mereka tapi terkejut melihat salah satu lelaki di antara mereka. Sehun. Suaminya ada di sana. Mengobrol akrab dan beberapa kali tertawa bersama koleganya. Sudah berapa hari ia tak bertemu suaminya itu? ia bahkan lupa percakapan terakhir yang ia lakukan bersama Sehun. Lelaki itu tidak seperti orang sibuk yang tak punya waktu bagi istrinya. Ia tampak bahagia dan menikmati kebersamaannya dengan koleganya. Sedangkan dengan Soojung? Kapan terakhir kali Sehun tertawa di hadapan Soojung?

Hayoung, karyawannya menyadari arah pandang Soojung yang terus tertuju pada Sehun. “Omo! Bukankah itu Presdir Oh, suami anda sajangnim? Kenapa anda tidak menyapanya?”

“Ah, itu. bukan apa-apa. Kurasa dia sedang sibuk.”

“Tapi dia tidak seperti membicarakan hal yang penting dengan koleganya. Mungkin hanya makan siang biasa, anda sebaiknya menyapanya.”

“Tidak perlu! Itu bukan hal yang penting!” suara tegas Soojung membuat semua karyawannya terdiam. Suasana canggung seketika.

“Ah, bulgoginya sudah datang. Mari kita makan.” Woohyun mencoba mencairkan suasana. Walau suasananya kembali seperti semula, tapi Hayoung sadar ada yang salah dengan Soojung.

Soojung pulang larut malam. Ia membuka pintu apartemennya. Lampu ruang tengah mati. Mungkin malam ini Sehun tidak lagi pulang ke rumah. Ia masuk ke kamarnya. Ternyata Sehun ada di sana. Bersandar dashboard ranjang sambil mengutak-atik tabletnya.

“Baru pulang?” nada dingin Sehun sukses membuat mood Soojung semakin buruk.

“Kau sendiri kemana semalaman tidak pulang?”

“Harusnya kau yang paling tahu bagaimana sibuknya aku.”

“Paling tidak beritahu dulu jika tidak pulang.”

“Untuk apa memberitahu hal yang jelas-jelas kau mengerti? Buang-buang waktu saja.”

“Buang-buang waktu? Lalu apa orang sesibuk kau masih punya waktu bercengkrama dengan kolegamu?”

“Kau disana juga? Jika kau terganggu kau bisa saja menegur.”

“Tidak! Sama sekali tidak mengganggu! Aku sangat mengerti bagaimana sibuknya dirimu.”

“Mereka itu para pebisnis yang akan bekerja sama dengan perusahaanku. Jadi aku harus sebisa mungkin mendekatkan diri dengan mereka. Mereka itu sangat penting bagi perusahaanku.”

“Ya, aku tahu. mereka sangat penting bagimu.” Soojung malas lama-lama berdebat dengan suaminya. Pada akhirnya ia pasti akan kalah. Setelah mengganti blus kerjanya dengan piama, ia berbaring membelakangi Sehun. Tak peduli suaminya yang masih berkutat dengan pekerjaanya.

***

Esoknya untuk pertama kali setelah sekian lama, mereka sarapan bersama. Keduanya memilih diam dan berkonsentrasi pada makanannya masing-masing. Sehun melirik jam tangannya.

“Aku harus berangkat lebih dulu, ada rapat penting.” Sehun melenggang pergi tanpa menghabiskan sarapannya. Tanpa memberi salam pada Soojung, apalagi morning kiss. Soojung memandangi sosok suaminya hingga ia menghilang di balik pintu. Soojung jadi tak bersemangat. Ia membereskan meja makan dan bersiap ke kantor.

***

“Sajangnim!” Sekretaris Kim masuk ke ruangan Soojung.

“Ini dokumen yang harus anda tanda tangani.”

“Taruh saja di meja,” kata Soojung tanpa mengalihkan pandangannya dari komputer.

“Sajangnim, baru saja asisten Michelle Lee menghubungi bagian sekretariat dan mengatakan beliau punya waktu hari ini sebelum ia harus kembali ke Paris dengan penerbangan besok pagi.”

“Benarkah? Kenapa waktunya mendadak sekali?”

“Beliau begitu sibuk saat pagelaran Busan International Fashion Week. Setelah acara usai beliau juga punya banyak agenda sehingga hari ini beliau membatalkan salah satu agendanya untuk bertemu dengan anda.”

“Jam berapa penerbangannya?”

“Pukul dua pagi, sajangnim.”

“Kalau begitu aku harus cepat! ini tidak boleh di sia-siakan! Jika pertemuan kali ini berhasil dan Michelle Lee mau menanda tangani kerja sama kita, perusahaan kita akan semakin di akui di mata dunia. Sekretaris Kim, kau urus sisanya. Aku akan berangkat. Doakan pertemuan kali ini berhasil.”

“Tentu saja sajangnim. Hati-hati, semoga berhasil.”

***

Soojung melajukan mobilnya cepat. tujuannya adalah Busan. Sekretaris Kim sudah mengiriminya alamat hotel tempat menginap Michelle Lee. Michelle Lee adalah desainer Perancis berdarah Korea. Dia masuk dalam daftar desainer kenamaan dunia. Michelle Lee sendiri memiliki brand mulai dari pakaian, sepatu, tas, hingga parfum yang disukai kalangan sosialita. Sebagai desainer yang menjunjung tinggi keaslian produk buatannya, ia hanya membuka butik di dua tempat di dunia. Di Paris dan Rodeo Drive. Tapi sejak kunjungannya di beberapa pergaan busana yang sering kali berada di Korea, ia mulai berpikir untuk membuat cabang butiknya di negara yang sekarang menjadi pusat trend mode. Itulah yang membuat Soojung sebagai CEO perusahaan fashion bernama Krystal Fashion ingin menggaet Michelle Lee sebagai salah satu desainernya. Bukan desainer tetap, hanya kontrak kerja untuk mendesain beberapa produk terbatas Krytal Fashion. Soojung terpesona dengan desain Michelle yang sederhana tapi classy. Menurutnya itu sangat cocok dengan konsep Krystal Fashion. Ia juga yakin para pelanggan setianya terutama dari kalangan selebritas dan sosialita akan menyukai produknya yang di desain Michelle Lee. Michelle Lee yang berada di puncak tentu bukan sembarang orang yang mudah di temui kapan saja. Sejak desain terbarunya yang ia tampilkan di ajang New York Fashion Week beberapa bulan yang lalu mulai di pakai oleh selebritas setingkat Angelina Jolie, sang Dutchess Kate Midleton, hingga si penyanyi nyentrik Lady Gaga, banyak orang yang menginginkan produk desainnya. Saat peragaan Busan Fashion Week pun, ia di daulat sebagai salah satu tamu kehormatan di samping ia menyiapkan untuk peragaannya sendiri. setelah acara bertaraf internasional itu usaipun, ia harus memenuhi panggilan wawancara dari berbagai majalah, koran, hingga televisi. Juga pertemuan dengan para pengamat mode dan teman para desainer Koreanya.

Soojung sudah membicarakan rencananya itu pada Michelle Lee melalui e-mail. Desainer itupun menanggapi positif ajakan Soojung. Ia juga kagum akan kepiawaian Soojung mengangkat desainer biasa menjadi desainer ternama dibawah brand Krystal. Di Paris, para desainer membuat brand mereka sendiri dan membuat perusahaan untuk memproduksi produknya. Tapi Soojung membuat perusahaan dan mempekerjakan para desainer kelas bawah. Para desainer itu mulai menapak naik seiring penjualan Krystal yang semakin meningkat. Terutama karena Krystal Fashion selalu mencantumkan nama desainer di setiap produknya. Michelle Lee sangat menyukai cara Soojung bekerja. Desainer itu juga ingin para temannya memiliki kesempatan untuk menunjukkan kreativitas. Dan melalui Soojung, keinginan Michelle Lee itu sedikit mulai terwujud. Itulah salah satu penyebab Michelle Lee meneyetujui tawaran kontrak kerjanya bersama Fashion Style. Dan mereka mulai selangkah maju menuju tahap perundingan. Jika perundingan kali ini lancar dan kedua belah pihak setuju, Michelle Lee akan langsung menandatangani kontraknya dan Soojung tak perlu lagi mencari hari untuk rapat dengan desainer sibuk itu. Michelle Lee bisa mendesain dimana saja dan desainnya akan diproduksi Krystal Fashion. Intinya, pertemuan ini sangat penting dan pantang di lewatkan.

Soojung sangat bersemangat. Ia sudah sampai separuh perjalanan ketika ponselnya berdering dengan ID ‘Nyonya Oh’ yang memanggil. Soojung mengerutkan alisnya. Untuk apa ibu mertuanya itu meneleponnya di jam kerja seperti ini? ia terpaksa harus menjawab panggilan itu daripada ibu mertuanya marah.

“Halo.”

[Soojung, kau ada dimana?]

Suara ketus ibu mertuanya langsung menyapa.

“ Aku sedang berada dalam perjalanan bisnis, Nyonya Oh.”

[Perjalanan bisnis katamu? Kau harus pulang sekarang! Aku ada di depan apartemenmu!]

“Anda berada di apartemen kami? Untuk apa anda datang di saat jam kerja seperti ini?”

[Jangan banyak bertanya! Cepat kesini!]

“Tapi aku benar-benar sibuk sekarang, Nyonya Oh. Suruh saja Sehun yang ke sana.”

[Kau yang sebagai istri harusnya melayani mertuamu dengan baik! bukannya Sehun. Tugas Sehun mencari nafkah, dan kau yang mengurus rumah tangga!]

“Perjalanan bisnis ini sangat penting untuk perusahaanku. Aku benar-benar tidak bisa meninggalkannya.”

[Oh, jadi sekarang pekerjaanmu lebih penting daripada ibu mertuamu? Kau tinggal pilih, meninggalkan pekerjaanmu atau meninggalkan Sehun untuk selamanya!]

“Tunggu dulu Nyo—“

TUT!

Sambungan terputus . pikiran Soojung kalut. Ia menepikan mobilnya. Kelakuan ibu mertuanya sudah kelewat batas. Ia memang tidak pernah mau menoleri pekerjaan Soojung. Dan juga sangat suka memaksa kehendak dengan menyusahkan wanita itu. sikapnya itu tidak lain karena ia tidak menyetujui pernikahan Sehun dengan Soojung. Hanya karena ayah Sehun merestui, Nyonya Oh mau tak mau harus menuruti suaminya. Nyonya Oh yang perfeksionis itu selalu beranggapan Soojung tak cukup sempurna untuk Sehun. Keinginannya adalah mencari kesalahan-kesalahan Soojung dan membuat wanita itu bercerai dengan Sehun. Tapi walau begitu, tiga tahun ini Soojung masih bisa bertahan dengan tekanan dari ibu mertuanya itu.

Soojung segera menghubungi sekeretarisnya.

“Sekretaris Kim, apa wakil presdir ada di ruangannya?”

[Maaf, presdir. Wakil presdir sedang menghadiri rapat terbatas pemegang saham.]

Mendadak kepala Soojung terasa pening. Ia lupa jika sekarang ada rapat pemegang saham. Wakil presdir tentu menggantikannya hadir di rapat itu. rapat itu tidak akan berlangsung cepat. mau tak mau, Soojung harus membatalkan pertemuannya dengan Michelle Lee. Ia tahu konsekuensinya akan sangat besar. Mungkin tidak akan ada lagi kesempatan untuk menjalin kontrak dengan Michelle Lee. Tapi Nyonya Oh adalah ibu mertua yang ia anggap sebagai ibunya sendiri walau orang itu tak menginginkannya. Ia tentu harus berbakti pada Nyonya Oh.

“Kalau begitu, kau hubungi asisten Michelle Lee katakan aku ada urusan mendadak jadi pertemuannya dibatalkan.”

[Tapi presdir, apa tidak apa-apa? Michelle Lee mungkin bisa sangat marah mengingat beliau membatalkan agendanya demi menemui anda.]

“Mau bagaimana lagi? Ini lebih penting dari pekerjaanku.”

[Baiklah, akan saya sampaikan presdir.]

Sambungan berakhir. Soojung menghela nafasnya sambil mengurut keningnya. Sampai kapan ibu mertuanya itu tak lagi menyusahkannya? Ia membanting setir dan melajukan mobilnya kembali ke apartemen.

***

“Kenapa lama sekali? Kakiku sudah kesemutan menunggumu!” ucapan sinis Nyonya Oh langsung menyambut Soojung.

“Nyonya Oh, sudah kukatakan tadi, aku sedikit sibuk hari ini,” Soojung menjelaskan. Wajahnya terlihat letih dan lesu walau ia sudah mencoba memaksa sedikit senyum.

Soojung membuatkan teh herbal untuk Nyonya Oh. “Apa kau tidak pernah membersihkan apartemenmu?”

“Aku selalu menyuruh orang untuk mengurus pekerjaan rumah.”

“Seorang istri tidak seharusnya melalaikan tugas hanya karena dia seorang wanita karir. Sebaiknya jangan pekerjaan orang lagi. Apa kau tidak tahu akhir-akhir ini pembantu rumah tangga mulai tidak bisa dipercaya.”

“Tidak ada yang perlu dikhawatirkan, barang berharga di rumah ini tersimpan dengan rapi.”

“Tapi aku tetap tidak suka! Jangan membantah perintahku! Berhentikan pembantu itu dan kerjakan sendiri pekerjaan rumahmu!”

“Baiklah,” Soojung terpaksa menyetujuinya.

“Apa kau masih ke rumah sakit?” Nyonya Oh mengganti topik pembicaraan.

“Aku belum sempat punya waktu, pekerjaan terus menyitaku.”

“Bagaimana kau bisa punya anak jika kau terus mementingkan pekerjaanmu? Kau seharusnya diam di rumah dan melakukan perawatan itu! bukannya sibuk bekerja hingga menelantarkan suami, menelantarkan mertua! Menantu macam apa kau ini! bisanya hanya bekerja tapi tak bisa memberi keturunan! Tidak berguna!” ejekan pedas Nyonya Oh menyayat hati Soojung. Ya, selama tiga tahun ini alasan kenapa mereka belum saja dikaruniani anak karena Soojung mengalamai masalah pada sel telurnya. Ia harus melakukan berbagai terapi menyakitkan di rumah sakit dan meminum selusin obat. Sehun sudah sempat melarangnya karena takut jika terlalu berlebihan akan mengganggu fisik Soojung. Soojung yang hanya bisa pasrah pada ibu mertuanya terpaksa melanjutkan terapi itu diam-diam tanpa sepengetahuan suaminya.

“Aku tahu, aku tak bisa apa-apa selain bekerja. Maafkan aku.”

“Maaf saja tak bisa membuatmu hamil! Kau masih meminum obat dari dokter?”

“Ya, kalau itu masih kuminum.”

“Baguslah.”

Tiba-tiba ponsel Soojung berdering. Ia meminta izin kepada Nyonya Oh. Walau terganggu, Nyonya Oh tetap mengangguk setuju.

“Yeoboseyo!”

[Apa ini presdir Krystal Fashion, Jung Soojung?]

“Ya, saya sendiri. dengan siapa ini?”

[Asal anda tahu, Presdir Jung! Jangan mentang-mentang anda seorang CEO perusahaan fashion ternama, anda bisa membatalkan pertemuan sesuka anda! Anda harus tahu seberapa kerugianku karena membatalkan agenda demi anda! Tapi anda malah membatalkannya. Tidak profesionalitas sekali! Di sini saya tekankan bukan saya yang membutuhkan anda, tapi anda yang membutuhkan saya. Dan saya tidak suka dengan cara kerja anda yang terkesan bermain-main ini! walau saya mengalami kerugian, tapi saya ingatkan andalah yang lebih merugi karena menyia-nyiakan waktu seorang desainer sibuk seperti saya!]

TUT!

Sambungan terputus sebelum Soojung berkata apapun. Ia memejamkan matanya sambil berusaha menahan emosinya. Ini semua karena Nyonya Oh. Apa yang direncanakan Soojung tak ada yang berhasil. Sedangkan Nyonya Oh melirik Soojung sambil tersenyum sinis seolah tahu apa yang terjadi. Andai Nyonya Oh bukan ibu mertuanya, ia pasti sudah mencekik dan menjambak rambut nenek sihir itu. tapi setiap ia marah dan ingin menyakiti ibu mertua kejamnya itu, ucapan kakeknya yang bijak kembali terngiang. Di dunia ini kau punya tiga orang tua yang harus kau hormati. Orang tua kandungmu, gurumu, dan juga mertuamu setelah kau menikah nanti. Seburuk apapun mereka, hormatilah dan jangan pernah menyakiti perasaan mereka. Soojung tak lagi merasa ingin menghancurkan Nyonya Oh.

“Apa Sehun bisa pulang lebih awal hari ini?”

“Entahlah, akhir-akhir ini dia semakin sibuk.”

“Kalau begitu, telepon dia katakan padanya aku sekarang ada di apartemen kalian dan suruh dia pulang lebih cepat!” Soojung menurut dan mencoba menghubungi Sehun. Lama terdengar nada sambung tapi kemudian berhenti.

“Sehun tidak bisa dihubungi.”

“Kalau begitu, coba lagi sampai berhasil!” Nyonya Oh memaksa.

Soojung menghubungi suaminya lagi berulang kali. Hingga akhirnya Sehun menjawab setelah percobaannya ke sepuluh.

[Aku ini sibuk! Kenapa menelepon di jam kerja seperti ini?] suara dingin Sehun jelas menengaskan ia tidak suka diganggu.

“Ibumu datang. Apa kau bisa pulang lebih cepat?” Soojung berkata tanpa basa-basi.

[Di jam kerja seperti ini? lalu kau ada dimana?]

“Tentu saja di apartemen. Ibu tidak mungkin mau berada di apartemen sendirian.”

[Lalu pekerjaanmu?]

“Sudah ada yang mengurus. Kau cepatlah pulang! Ibu ingin sekali bertemu denganmu.”

[Baiklah, akan kuusahakan]

“Apa katanya?” Nyonya Oh bertanya begitu Soojung menutup telepon.

“Dia akan berusaha pulang lebih awal.”

“Baguslah! Kau bisa melakukan pekerjaan rumah! Jangan coba-coba untuk melarikan diri. Aku akan tetap di sini hingga Sehun datang.”

***

“Aku pulang!” Sehun menetapi janjinya dengan pulang lebih cepat. soojung mendengus kesal. Jika ia yang meminta, sampai kapanpun Sehun tak akan mau pulang lebih awal walau itu keadaan darurat.

“Kau sudah pulang nak?”

“Dimana Soojung?”

“Kenapa kau malah mencari istrimu itu ketika yang menyambutmu adalah ibumu sendiri?”

“Bukan begitu maksudku, ibu—”

“Dia ada di dapur menyiapkan makan malam!” Sehun menuju dapur menemui istrinya.

“Cepat sekali kau pulang,” ujar Soojung sinis tanpa mengalihkan perhatiannya pada masakannya.

“Kenapa kau membiarkan ibu tetap di sini? Lalu kau sendiri, kau tidak kembali ke kantor?”

“Itu keinginan ibu sendiri. aku juga tak mungkin meninggalkannya sendiri di sini. Kau tahu, kan, ibumu tak mau ditinggal sendirian.”

“Kau yakin pekerjaanmu sudah terurus?”

“Sebenarnya aku tak ingin mengatakan ini, tapi karena ibu datang, aku jadi membatalkan pertemuanku dengan desainer Michelle Lee. Ia baru saja meneleponku dan mengatakan ia tak mau menerima kontrak kerja sama dengan perusahaanku yang artinya kegagalan besar bagi perusahaanku!” kini Soojung menatap Sehun tajam.

“Jadi maksudmu kau tak suka jika ibuku datang kemari?”

“Tak masalah jika dia datang. Tapi harusnya dia sadar jika kita berdua ini sangat sibuk. Aku tak—“

“Pelankan suaramu! Ibu bisa mendengarnya!”

Soojung menarik nafasnya mencoba mengatur emosinya yang tertahan. “Baiklah. Kita lupakan saja, kau cepatlah ganti baju! Makan malamnya akan segera siap.”

***

“Ibu, setelah makan malam, aku antar pulang, ya.”

“Aku baru saja bertemu denganmu, tapi kau sudah ingin mengantarku pulang?”

“Ayah pasti khawatir jika ibu tidak pulang-pulang.”

“Orang itu mana mungkin sekalipun mengkhawatirkan ibu. Lagipula ayahmu juga sering tidak pulang ke rumah.”

“Ayolah, bu, aku sangat lelah dan ingin segera beristirahat.”

“Kau tidak suka ibu datang ke rumahmu?”

“Bukan begitu, akan lebih baik jika ibu datang saat akhir pekan ketika kita berdua tidak sibuk.”

“Percuma saja aku datang hari ini. anakku sama sekali tidak menyambutku dengan baik. aku akan pulang sendiri. kau tak perlu mengantarku, kau bilang kau ingin beristirahat, kan.”

“Setidaknya sebagai anak aku harus tetap melakukan tata krama dengan mengantar ibu hingga sampai rumah.”

“Terserah kau saja!”

***

Nyonya Oh akhirnya mau diantar Sehun pulang. Di tengah perjalanan, wanita itu mengajak Sehun berbincang.

“Sehun-ah, apa kau ingat teman ibu yang memiliki butik mewah di Gangnam? Ibu pernah bercerita padamu, dia teman SMA ibu dan kami tak sengaja bertemu saat ibu berbelanja di butiknya. Waktu itu ibu sama sekali tak menyangka dia adalah pemilik butik itu.”

“Maksud ibu Nyonya Lee?”

“Benar! Baru-baru ini dia menghubungi ibu, katanya putrinya yang bersekolah di luar negeri baru saja pulang. Ibu ingin kau bertemu dengan putrinya itu.”

“Bertemu? Untuk apa? Ibu, aku ini sudah beristri!”

“Hanya bertemu saja, jika tidak cocok tak usah kau lanjutkan hubungan kalian.”

“Jika awalnya saja aku sudah melunak, untuk seterusnya dia akan meminta bertemu. Bagimana kalau Soojung tahu?”

“Dia tidak akan tahu! aku sudah terlanjur berjanji pada Nyonya Lee. Anggap saja ini hiburan. Aku yakin kau juga sedikit bosan dengan Soojung. Putri Nyonya Lee ini jauh lebih baik daripada Soojung. Dia lulus Harvard University dengan nilai cumlaude. Sebentar lagi dia akan menjadi arsitek terkenal!”

“Ibu, jangan seperti ini! aku tak akan mau mengikuti kencan buta apapun yang ibu rencanakan! Bagaimana kalau ada orang yang tahu? apa ibu mau membuatku menjadi seorang penyelingkuh?”

“Tidak akan terjadi hal yang seperti itu! kau hanya bertemu, minum teh, dan berbincang saja! Orang hanya akan berpikir kalian teman atau rekan bisnis saja. Sehun-ah, ibu mohon kali ini saja turuti keinginan ibu.”

“Ibu, permintaan ibu kali ini sungguh kelewatan. Aku tak bisa menurutinya.”

“Kalau kau tak mau, biar turunkan saja ibu di sini. Ibu akan berjalan kaki sampai ke rumah.”

“Ibu! Jangan begitu!” Sehun sejenak menghela nafasnya.

“Baiklah, aku akan menemuinya.”

“Benarkah? Kau memang putra ibu yang bisa diandalkan,” Nyonya Oh tersenyum senang mendengar jawaban Sehun. Lelaki itu hanya menghela nafas pasrah. Ia memang menjadi putra kesayangan ibunya yang tak pernah sekalipun mengecewakan ibunya. Ia selalu menuruti setiap perkataan ibunya. Sehun tak tahu apakah keputusannya ini benar atau salah. Ia paling tidak bisa membuat ibunya sedih atau marah. Lelaki itupun tak tahu bahwa sebenarnya keputusannya itu membawanya memasuki pintu neraka.

To Be Continued

About fanfictionside

just me

14 thoughts on “FF/ TEMPTATION/ EXO-F(X)/ pt. 1

  1. ihh, nyonya Oh. bener-bener nyebelin, minta di cekek (?) deh, kan kasian krystal nya😦
    sehun bihun emang selalu cocok jadi suami yan dingin, sedingin es di kutub :p
    sehun seriusan mau ketemuan sama anaknya nyonya Lee? ihh, yaudah Krystalnya juga ikut selingkuh aja, biar impas kkk~ next partnya ditunggu..🙂

  2. Anjir bat nyonya oh #bahasa lu
    Kalo soojung orangnya rapuh mungkin dia udah nangis gitu. Salut buat soojung. Emaknya sehun nuntut banyak banget, kepala batu. Ffnya rapih banget suka deh. Lanjut jangan lama lama TT
    Semangat buat authornya yayayay

  3. wah ff nya daebakk banget….feel nya juga sangat dapet dan ff ini bikin nyesek….aku suka…dan aku harap ini happy ending..aku kasihan ama soojung…lanjut terus ya dan ditunggu part selanjutnya…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s