FF/ HERO AND HEROINE/ BTS-BANGTAN/ pt. 4B


HERO-HEROINE-BTS (1)

Author: Anditia Nurul||Rating: PG-13||Length: Chaptered||Genre: School-life, Friendship, Romance, a bit comedy||Main Characters: (BTS) Suga/Yoongi, & (OC) Geum Hajin||Additional Characters: (BTS) Jin/Seokjin, (BTS) J-Hope/Hoseok, (BTS) Jimin & (FX) Sulli||Disclaimer: I own nothing but storyline and the OCs. Inspirated by a fiction story titled ‘Crazy’ By Emolicious. Original ver casted by (B1A4) Jinyoung & OC||A/N: Edited! Sorry if you still got typo(s). [!!!] Used some ‘frontal(?)’ words. Please don’t bash!

@@@@@

Begitu aku tiba di sekolah, aku tidak langsung menuju kelasku, tapi… berhenti sebentar di area parkir. Motor pink milik Seokjin Sunbae belum terlihat di antara beberapa motor yang telah terparkir. Itu artinya, dia belum datang. Aku memang ingin mengembalikan jaketnya yang ia pinjamkan padaku waktu itu, sekalian ingin membicarakan sesuatu dengannya, karena itu aku menunggu dia di tempat ini, di tempat ia memarkir motornya 2 hari yang lalu.

Baru beberapa menit aku berdiri, tiba-tiba telingaku mendengar deru motor sport yang sangat keras.

“BRRROOOOMMM.”

Aku menoleh ke asal suara untuk memastikan bahwa itu adalah suara motor Seokjin Sunbae. Tapi, dugaanku ternyata salah. Yang menderu itu adalah motor sport yang modelnya sama dengan model motor Seokjin Sunbae, tapi… yang ini berwarna hijau. Ada 2 orang lelaki yang berboncengan di atas motor itu.

“CKIIIT!”

Motor itu berhenti sekitar 3 cm di depanku.

“YAAAA!!!” jeritku. “Hei! Kau mau menabrakku?” bentakku pada si pengendara.

Si pengendara melepas helm dari kepalanya dan… ugh, ternyata dia adalah si Manusia Kuda, Hoseok. “Salah sendiri kenapa kau berdiri di situ. Weeek!” Dia membalas, lalu memeletkan lidahnya padaku. Ugh, mau aku cekik, ya?

“Apa yang kau lakukan di sini?” tanya Seokjin Sunbae, laki-laki yang duduk di boncengan, setelah dia turun dari motor Hoseok. Ia melepas helm-nya, menunjukkan ketampanan yang selama ini membuatku meleleh hohoho. Ya Tuhan, laki-laki ini benar-benar tipeku.

HUSH! HAJIN-AH!

“A-Ada yang ingin aku bicarakan dengan sunbae.”

Seokjin Sunbae saling berpandangan dengan Hoseok, kemudian memandang ke arahku. “Tentang apa?” tanyanya.

“Suga.”

“Astaga! Apa yang terjadi pada Suga? Kenapa kau tidak langsung memberi tahu kami?” seru Hoseok heboh.

“ISH! Ini bukan masalah kesehatannya, tapi masalah—”

“Apa?” tanya Seokjin Sunbae.

“Chorong.”

Keduanya saling berpandangan lagi. Sampai akhirnya, Seokjin Sunbae mengajak kami—aku dan Hoseok—menuju kantin. Setibanya di kantin, aku langsung menceritakan apa yang terjadi di malam yang lalu, saat Suga menggumamkan nama Chorong sampai ia meneteskan air mata.

“Karena itu…, aku rasa Suga merindukan Chorong, Sunbae,” kataku mengakhiri cerita, kemudian memandangi Hoseok dan Seokjin Sunbae, menunggu tanggapan dari mereka.

“Wajar kalau Suga merindukan Chorong. Mereka sudah 2 tahun tidak bertemu,” sahut Hoseok sambil menyedot lemon tea kalengan yang dibelinya tadi.

“Ya, tapi… apa Chorong tidak meninggalkan nomor telepon yang bisa dihubungi?” tanyaku. “Aku… aku kasihan melihat Suga,” lanjutku dengan suara lirih.

“Kalau masalah nomor telepon, aku yakin Himchan pasti tahu,” ucap Seokjin Sunbae.

Ah, ya. Kenapa aku tidak memikirkan hal itu, ya?

Berdasarkan cerita dari Seokjin Sunbae, Himchan kan cukup dekat dengan Chorong! Pasti Himchan tahu nomor telepon Chorong. Bagus! Sekarang tinggal menemui Himchan, lalu meminta nomor ponsel Chorong. Haha. Dengan begitu, Suga bisa bicara dengan Chorong. Hohohoho… kau memang pintar, Hajin!

“Memangnya kau mau apa? Kau mau minta nomor ponsel Chorong pada Himchan?” tebak Seokjin Sunbae.

Aku mengangguk.

“Himchan pasti tidak akan memberikan nomor ponsel Chorong padamu,” celetuk Hoseok yang sukses membuatku patah semangat!

Iya, ya? Kenapa aku tidak memikirkan hal itu? Lagi pula, dia pasti akan menanyakan kenapa aku meminta nomor ponsel Chorong. Kesannya, aku jadi ikut campur masalah ini. Hmph~

“Lalu, kita harus bagaimana?” tanyaku lesu. Sepertinya, niatku untuk membantu Suga bertemu dengan Chorong terancam batal.

“Tidak usah kau pikirkan! Suga memang selalu seperti itu. Lagi pula, memangnya kau tidak cemburu? Bukannya kau suka pada Suga?” ujar Seokjin Sunbae.

“Ya, kau kan pacarnya. Seharusnya, kau membantu Suga melupakan Chorong. Bukan membantu Suga bertemu dengan Chorong. Kau ini bagaimana? Dasar aneh!” tambah Hoseok.

Ah! Ini semua gara-gara surat itu!

Aku mendengus. “Kalian tidak mengerti! Aku sama sekali tidak menyukai Suga! Surat yang aku selipkan waktu itu sama sekali bukan untuk Suga. Karena itu, jangan pernah berpikir kalau aku benar-benar menyukai Min Suga!” tegasku, membuat Hoseok dan Seokjin Sunbae sedikit tercengang karena bicaraku yang panjang. “Huh! Aku mau ke kelasku saja!” kesalku, kemudian meninggalkan mereka.

Uh! Bicara dengan mereka tidak ada hasilnya. Yang ada, mereka malah mendukung aku pacaran dengan Suga. Terlebih Seokjin Sunbae. Aku kan menyukaimu, Sunbae!

@@@@@

Hari berikutnya. Aku berjalan melewati gerbang menuju koridor utama bangunan sekolah. Hari ini tepat 4 hari Shinhwa High School tidak dihiasi oleh si toko-emas-berjalan itu. Aku tidak tahu kapan dia akan keluar dari rumah sakit, padahal kondisinya sudah baikan. Dia… dia juga tidak menggumamkan nama Chorong lagi saat dia tidur. Aku tahu karena diceritakan oleh Seokjin Sunbae atau Hoseok. Bukan karena aku yang menunggu Suga seperti malam itu. Ih! Malas!

Apa jangan-jangan si pendek jelek itu betah di rumah sakit gara-gara suster-susternya yang cantik, ya? Keterlaluan!

“TIIIIIIN… Hajin-ah~ TIIIIIN.”

Mungkin ini kedengarannya bodoh atau apa, tapi… sekolah benar-benar jadi aneh tanpa ada suara teriakannya yang terdengar.

“TIIIIIN… TIIIIIIN… Geum Hajin~ TIIIIIIN.”

Dan… eum… ng… aku sedikit merindukan suara cemprengnya itu.

“TIIIIIN… TIIIIIIN… Geum Hajin~ TIIIIIIN.”

UHUK! Bahkan aku sudah mulai gila karena aku berpikir kalau aku merindukannya. Ih! Amit-amit!

“HOOOOIIII! GADIS GENIIIIT!!!”

Eeeeh?

Aku memutar balik tubuhku ke belakang dan…

“MIN SUGA?”

Kedua mataku terbelalak melihat mobil golden brown-nya di depan mataku. Wajah jeleknya terjulur keluar dari jendela, melihat ke arahku.

Tunggu!

Kapan si Mashimaro ini keluar dari rumah sakit?

Kenapa tidak memberitahuku?

Ia keluar dari mobilnya yang berhenti di tengah jalan, menghalangi siswa-siswi yang mau berjalan ke koridor utama. Begitu juga dengan Seokjin Sunbae dan Hoseok. Kemudian, ia menghampiriku bersama Seokjin Sunbae, Hoseok dan beberapa siswa pengikutnya yang tidak aku kenal. Salah satu dari pengikutnya itu membawakan tasnya. Seperti bos saja.

“Kapan kau keluar dari rumah sakit?” tanyaku ketika ia sudah berdiri di depanku.

“Kemarin,” jawabnya sambil menyelipkan kedua tangannya ke dalam saku celana.

Aku mendelik. “Kenapa tidak memberitahu aku?”

“Memang kau siapa?” balasnya dengan nada tersantai yang pernah aku dengar darinya.

Kukepalkan kedua tanganku. Grrr… Min Suga. Kau benar-benar mau aku hajar sekarang? Kau mau masuk rumah sakit lagi, hah?

“Aku lapar. Temani aku sarapan,” ujarnya, lalu tanpa ijin merangkul bahuku.

“Hei! Aku mau ke kelas dulu. Kau tidak lihat tasku besar?” Aku memperlihatkan tas ranselku yang memang cukup besar karena di dalamnya ada bahan praktikum untuk pelajaran biologi.

Ia lalu melihat ke arah beberapa anak buah Bangtan Boys, kemudian dengan santainya menunjuk seseorang. “Hei! Kau! Bawakan tas Hajin ke kelasnya!”

Laki-laki kurus yang ditunjuk oleh Suga pun menghampiriku. “Biar aku bawakan tasmu ke kelas,” pintanya sopan. Ya ampun, dia ini kenapa mau menuruti Suga begitu saja?

“Ini… hati-hati. Maaf merepotkan,” kataku sembari menyerahkan tasku yang agak berat itu padanya. Bagaimana pun, aku tahu kalau pengikutnya itu siswa kelas 2, berarti dia seniorku. Ya, meskipun laki-laki di sampingku ini lebih senior dari senior yang membawa tasku, tapi aku tidak bisa berlaku sopan padanya. Entah kenapa.

“Nah, tasmu sudah dibawa ke kelas. Ayo, ke kantin!” ajak Suga, tapi…

“Eeeh, mobilmu! Kau mau memarkir mobilmu di situ? Menghalangi jalan masuk!” ketusku.

Ia memutar bola matanya. Lagi, ia menoleh ke arah anak buahnya. “Parkir mobilku!” ucapnya sambil melemparkan kunci mobil pada seorang lelaki yang tubuhnya paling besar di antara semua anak buah Bangtan Boys yang ada. Siswa itu pun mengangguk paham.

Suga pun menoleh ke arahku, memamerkan senyumnya yang… ehm, manis itu. “Beres, kan? Sekarang temani aku ke kantin!”

Akhirnya, aku pun terpaksa menemaninya ke kantin. Kutundukkan kepalaku malu karena Suga merangkul bahuku sampai tubuh kami terlalu merapat. Belum lagi ia berjalan dengan gayanya yang sok berkuasa itu. Sementara Seokjin Sunbae, Hoseok dan beberapa anak buah Bangtan Boys lebih dulu ke kelas mereka.

Di kantin, Suga makan dengan sangat lahap. Aku baru tahu kalau nafsu makannya ternyata besar, tapi kenapa badannya cuma begitu-begitu saja?

“Kau ini lapar apa doyan?” tanyaku sambil melihat beberapa piring tteokbokki berserakan di atas meja kami.

“Dua-duanya,” jawab Suga cepat.

“Ya, ampun.”

Dia menghentikan kegiatan makannya dan menatapku. “Hei! Jangan begitu! Tinggal di rumah sakit selama 4 hari dan hanya makan bubur membuatku bosan, tahu! Kau pikir makan makanan lembek selama 4 hari itu enak?” protesnya, lalu kembali melanjutkan kegiatannya.

Aku diam saja dan memilih untuk memperhatikan ia makan sambil menyedot isi teh botol. Benar-benar seperti orang yang sudah seminggu tidak makan. Lahap sekali. Tapi, melihat dia makan seperti ini, aku jadi bisa melihat sisi lain dari seorang Min Suga. Mulutnya yang penuh makanan membuat ia terlihat sangat lucu.

UUUUH! UWEEEK! Demi apa aku mengatakan kalau Min Suga itu lucu? Perkataan tadi diralat! Cuih~

“Ehm, nanti malam kita kencan!” ucapnya tiba-tiba.

Aku terkejut! Saking terkejutnya, aku hampir saja menyemburkan teh yang berada di dalam mulutku ke wajahnya. “Ah? Apa? Kencan?” tanyaku memastikan.

“Ya.”

“Tapi, kau kan baru keluar dari rumah sakit,” cemasku.

Dia menatapku tajam. “Pokoknya, nanti malam aku mau kencan!”

Tuh, kan? Kenapa orang ini pandai sekali memaksa dan membuatku tidak bisa menolak paksaannya itu? Hmm… ya, sudahlah. Selama kami pacaran, dia belum pernah mengajakku kencan.

“Mau kencan dimana?” tanyaku.

“Terserah kau. Taman hiburan, bioskop, arena ice skating, terserah!”

Segera otakku bekerja untuk mencari lokasi yang bagus. “Mmmm… bagaimana kalau kencan di bioskop? Sudah lama aku tidak nonton film di layar yang lebar… hehehe.”

Dia mengangguk. “Baiklah.”

“Tapi…, kau yang bayar tiketnya, ya?”

“Tentu saja. Dimana-mana, kencan pertama itu semua biaya ditanggung si laki-laki!” tegasnya penuh percaya diri.

Aku tersenyum. “Iya, iya. Aku tahu.”

Enak juga punya laki-laki seperti Suga… hehehe. Asyiiik~~!

“Tapi, kencan kedua, kau yang bayar!”

Dan, perkataan Suga barusan langsung meruntuhkan pernyataanku beberapa detik lalu. Sangat tidak menyenangkan memiliki pacar seperti Min Suga! Aku tidak akan membiarkan terjadinya kencan kedua. TIDAK AKAN PERNAH!

@@@@@

Usai makan malam, aku langsung masuk ke dalam kamar. Kata Suga, dia akan menjemputku menungguku di taman dekat rumah tepat jam 7 malam. Sekarang baru pukul 6 lewat 30 menit lebih beberapa detik. Masih ada banyak waktu untuk mempersiapkan diri.

Di kamar, aku langsung mengeluarkan beberapa potong pakaian terbaik yang aku punya dan menyusunnya di atas tempat tidur. Aku lantas berdiri di depan cermin, mencoba 1 per 1 baju yang telah aku keluarkan dari lemari.

Kira-kira… Suga suka gadis yang bergaya seperti apa, ya?

Yang feminine?

Yang dewasa?

Yang cute?

Atau… yang tomboy?

Duh! Kenapa aku jadi pusing seperti ini, hm? Apa… karena ini kencan pertamaku? Meski dengan Suga, tapi… bagaimana pun ini akan menjadi pertama kalinya aku keluar dengan laki-laki yang bukan Jimin. Jantungku pakai acara berdebar-debar segala. Ish! Kenapa aku jadi norak seperti ini, padahal hanya kencan dengan si Mashimaro KW1, Min Suga. Uuh~

Setelah bermenit-menit menghabiskan waktu memilih pakaian yang cocok, akhirnya pilihanku jatuh pada sebuah mini dress berwarna biru muda berkerah sabrina dengan motif bunga-bunga kecil berwarna putih. Tinggal dipasangkan dengan stocking berwarna hitam dan… selesai!

Waktunya make-up sekarang!

Aku pun duduk di depan meja rias di kamarku. Pelan-pelan kusapukan BB Cream ke wajahku, meratakannya agar terlihat bagus. Setelah BB Cream, tangan kananku bergerak mengambil lip gloss. Sedikit hati-hati mengenakannya di bibirku. Beberapa kali aku menggerak-gerakkan bibirku melakukan ‘smooch~’ untuk melihat hasil dari lip gloss itu. Oke, sudah cukup.

Begitu semua persiapan selesai, aku pun melirik jam yang terpajang di dinding. Ow, ternyata… masih 5 menit lagi pukul 7. Masih ada waktu untuk mempersiapkan di—uh~ perutku! Perutku… tiba-tiba… mulas. Seperti ada yang bergerak-gerak di dalamnya. Uh, sepertinya aku mau…

“PREEEETTTT!!!”

Dalam sekejap, aku mencium bau yang sungguh tidak enak. Maaf, aku kentut dan sepertinya aku mau…

Dengan kecepatan cahaya aku berlari menuju kamar mandi. Panggilan alam kali ini benar-benar datang di waktu yang sangat tidak tepat. Uh, perutku benar-benar terasa mulas. Apa mungkin masuk angin? Atau jangan-jangan… karena aku gugup? Aish! Hajin-ah, kau benar-benar keterlaluan! Masa hanya mau kencan dengan Suga saja kau sampai sakit perut begini? Uuh~

Baby baby geudaeneun caramel macchiato
Yeojeonhi nae ipgaen geudae hyanggi dalkomhae
Baby baby tonight~

Kudengar ponselku berdering. Ah, itu pasti Suga. Dia pasti sudah berada di taman. Aaah, tunggu sebentar, Min Suga. Ada sesuatu yang sedang aku lakukan!

Baby baby geudaeneun caramel macchiato
Yeojeonhi nae ipgaen geudae hyanggi dalkomhae
Baby baby tonight~

Ponselku terus berdering dan berdering tanpa henti. Kali ini mungkin sudah yang ke-9 atau ke-10 kalinya. Aish! Orang itu apa tidak mengerti, hah? Kalau aku tidak menjawab panggilanmu, itu berarti aku sedang melakukan sesuatu yang darurat! Ugh, dia itu bodoh, tolol atau goblok, sih?

Baby baby geudaeneun caramel macchiato
Yeojeonhi nae ipgaen geudae hyanggi dalkomhae
Baby baby tonight~

Iya, iya. Tunggu sebentar, Bodoh!

Aku sudah selesai menunaikan ‘kewajiban’-ku. Buru-buru aku keluar dari kamar mandi, menghampiri ponsel yang sejak tadi tidak berhenti berdering. Sudah kuduga, yang menelepon adalah si Kembaran Mashimaro.

“Halo?” sapaku.

“Kenapa baru menjawab teleponku?” bentaknya.

“Maaf, aku sedang—”

Belum selesai aku bicara, dia sudah memotong ucapanku. “Cepat! Aku sudah ada di taman dekat rumahmu!” teriaknya lagi.

“Iya.”

Setelah memutuskan panggilannya, kulihat layar ponselku dan tertera 12 missed call di sana. Ckckck… orang ini benar-benar sinting!

Sebelum keluar dari kamar, kupatut diriku di depan cermin. Kurapikan poniku yang sedikit berantakan. Hajin-ah, kau memang gadis paling cantik di sekitar sini… hohoho. Melihat dandananku yang baik-baik saja, aku pun bersiap untuk memulai kencan pertama.

@@@@@

Dari kejauhan, aku sudah bisa melihat mobil golden brown-nya. Semakin dekat, semakin jelas pula kulihat dia berdiri sambil menyandarkan tubuhnya di bagian samping mobil. Tidak hanya itu, aku semakin jelas melihat dia berdiri sambil… merokok?

Ah! Seharusnya aku tidak heran. Dia nakal, jadi wajar kalau merokok. Tapi yang mengherankan, kenapa pihak sekolah tidak tahu kalau dia merokok, ya? Kalau pihak sekolah tahu, bisa-bisa dia di keluarkan.

“Kenapa lama sekali? Kau tidak punya jam di rumahmu, ya?” tanyanya kesal ketika jarak kami sudah dekat. Asap rokoknya keluar dari hidung, persis seperti banteng.

“Pencernaanku sedikit terganggu tadi,” jawabku.

Ia agak membulatkan kedua mata sipitnya. “Apa? Awas kalau nanti kau bercel.”

“Bercel? Apa itu bercel?” tanyaku polos.

“BER*K CELANA!”

“Ish! Tidak akan!” kataku. Aku kemudian celingak-celinguk, mencari keberadaan 2 makhluk yang biasa bersama Suga.

“Kau mencari siapa? Mencari Seokjin?” tanyanya.

Ish! Lagi-lagi dia tahu apa yang ada di pikiranku.

“Tidak!” elakku.

“Aku melarang dia dan Hoseok ikut!” ucapnya, seolah tahu kalau aku memang mencari keberadaan 2 makhluk yang selalu bersamanya itu.

Aku mengernyitkan dahiku, heran, “Kenapa?”

“Te-Tentu saja karena kita mau pergi kencan,” jawab Suga ketus seperti biasa. “It’s our time, right?” lanjutnya pelan, namun masih bisa terdengar oleh telingaku. Hohoho… Ya, Tuhan~~~

Aku tersenyum, lalu berkata, “Uuuh… romantis sekali~”

“BERISIK!”

Selalu seperti ini! setiap aku bermaksud untuk menggodanya, dia malah tidak suka dan malah menganggap hal itu adalah yang ‘BERISIK!’

“ISH!”

“Ya, sudah, ayo pergi!” Ia berbalik, bersiap membuka pintu mobilnya.

“Tunggu!”

Ia berbalik melihatku. “Apa?”

“Matikan rokokmu!” perintahku.

“Kenapa?”

“Aku tidak suka!”

“Tapi, aku suka!”

“Matikan atau aku tidak pergi,” ancamku sambil melipat kedua tanganku di depan dada. Haha, kali ini kau pasti menuruti keinginanku, Min Suga!

Ia menatapku kesal, lalu menghisap rokoknya dalam-dalam. Sepersekian detik setelahnya, ia menjatuhkan puntung rokoknya, kemudian menginjaknya, seolah hendak mematahkan rokok itu sampai hancur tidak berbentuk.

“Kau puas?”

Dan dengan sengaja, ia menghembuskan asap rokok dari mulutnya ke wajahku.

“Uhuuk… uhukkk.”

Grrr… kalau kita tidak sedang kencan Min Suga, kujahit mulutmu sekarang juga!

“Cepat!” perintah Suga yang sudah duduk di dalam mobil merahnya.

“Iya.”

Aku pun masuk ke dalam mobil golden brown Suga dan tanganku masih saja gemetaran saat tadi aku mau membuka pintu mobilnya. Suga bersiap melajukan mobilnya, namun langsung aku cegah.

“Tunggu!”

“Apa lagi?” gerutunya kesal.

Aku memasang safety belt-ku, lalu mengeluarkan sesuatu dari dalam mini-bag hitamku.

“Kenapa kau bawa kantong kresek?” tanya Suga heran ketika melihat kantong kresek yang kukeluarkan dari dalam mini bag-ku.

“Persiapan. Siapa tahu nanti aku muntah. Kau kan menyetir seperti orang gila.”

Dia melotot. “Apa katamu?”

“Bukan apa-apa.”

“Aish! Ya, sudah. Kita berangkat!”

“BRRRRRRMMMMMMMMMMMM!!!”

Suga melajukan mobilnya dengan saaaaangat cepat. Terpaksa aku meremas bagian samping jok untuk mengalihkan rasa takutku. Naik mobil yang disetiri oleh Suga terasa lebih menakutkan dari pada naik roller coaster.

Uh, ya, ampun… motion sickness-ku.

“CKIIIIIITT!!!”

“UWEEEEEKKK!!!”

Tepat di saat kami tiba di depan bangunan mall yang di lantai 3-nya ada bioskop, aku muntah. Untung saja aku bawa kresekan jadi aku tidak perlu membuka pintu untuk mengeluarkan ‘isi perut’-ku.

“Aish! Kau ini payah!” gerutu Suga, lalu keluar dari mobilnya.

Ukh! pacar macam apa dia?

Ish! Benar-benar tidak mengerti wa—

“UWEEEKKK!”

Uhhh… ya, ampun.

“Tok… tok… Hei! Buka kacanya!” teriak Suga dari luar, berdiri di dekat kaca jendela mobil tempat aku duduk.

Aku pun menurunkan kacanya. “Ini. Minum!” katanya seraya menyerahkan satu kantong kresek berisi sebotol air putih dan… 2 kotak susu rasa stroberi. Wah! Ini sebuah kebetulan atau Suga tahu aku suka susu kotak rasa stroberi?

“Kau membelikan semua ini untukku?”

“Tentu saja. Memangnya semua itu untuk siapa?”

Aku tersenyum. Kemajuan! Akhirnya dia perhatian padaku… hohoho. Baiklah, mungkin dengan begini bisa mengurangi sedikit kebencianku padamu, Suga.

“Terima kasih.”

“Tapi…, aku minta satu susuk kotak rasa stroberi itu,” sahutnya sedikit malu-malu.

“Iya.”

Setelah aku baikan, kami pun berjalan masuk ke dalam bangunan mall. Naik escalator menuju bioskop di lantai 3. Setibanya di bioskop, dia menyuruhku untuk memilih genre film yang akan kami nonton.

Hmm… film apa, ya?

Komedi romantis?

Boleh juga, sih. Biar setelah menonton film ini, Suga bisa romantis padaku… hohoho.

Tapi, sepertinya itu mustahil!

Film action?

Suga mungkin suka nonton film penuh dengan adegan perkelahian ini, tapi aku tidak.

Film animasi?

Ah, tidak! Apalagi filmnya si kuda zebra dan singa itu. Uh, yang ada aku malah ingat pada Hoseok.

Film horror…?

Hmm… film horror saja, ah~

Setelah menentukan pilihan film, Suga pun membelikan tiketnya. Kalian tahu? Aku sempat mengintip dompet Suga ketika dia membayar tiket. Dompetnya tebal, loh. Tebal! Banyak kartu-kartunya pula. Rumor yang selama ini beredar ternyata benar. Suga itu suka menaruh uang yang banyak di dompetnya.

Eit!

Tolong jangan anggap aku matre, oke?

“Ayo! Filmnya mau dimulai.”

Suga pun mengajakku masuk ke dalam ruang nonton.

Ehm! Alasan sebenarnya aku mau menonton film horror adalah… ya, kau tahu. Seperti di film-film, ada adegan dimana si gadisnya takut, terus dia memeluk laki-laki-nya. Lalu, laki-lakinya itu akan bilang, “Tenang. Ada abang(?) di sini.” Atau setidaknya, ia akan menepuk-nepuk lembut bahu gadisnya agar tidak ketakutan. Aku sangat ingin mengalami hal seperti itu.

Nah!

Aku sudah melakukan itu, berharap Suga akan memberikan respon yang sesuai dengan apa yang aku inginkan. Tapi…, nyatanya….

“Hei! Apa yang kau lakukan? Minggir!” Dia malah mendorongku sambil berteriak sampai semua penonton melihat ke arah kami.

Dia itu tidak peka sekali. Benar-benar tidak mengerti wanita! Hiks.

Adegan di dalam film itu pun semakin seram. Ya, walaupun semakin seram, jujur saja aku tidak begitu takut saat menontonnya. Film beginian sih aku sudah ‘kebal’, secara aku pecinta film gitu lho. Namun, yang menjadi perhatianku adalah… Min Suga yang duduk di sampingku.

Wajahnya pucat pasi dengan kedua mata yang terpaku pada layar besar di depan. Sesekali matanya melotot, lehernya tegang dan terlihat seperti sedang menahan napas. Malah aku sempat melihat sedikit peluh di dahinya. Kedua tangannya memegang erat pegangan kursi yang ada di samping kiri dan kanannya. Mungkin setelah ini dia tidak akan berani masuk ke kamar mandi seorang diri.

HUAHAHAHAHA!

Ternyata… dia takut sama yang beginian, ya?

Baiklah, lain kali aku akan datang ke rumahnya dengan dandanan setan dan membuat dia ketakutan setengah hidup.

Eh? Tapi, aku kan tidak tahu rumahnya dimana.

Ah, sudahlah.

Waktu terus berjalan dan tanpa terasa, yang muncul di layar besar di depan ada credit title dari film-nya. Satu per satu orang pun beranjak keluar dari ruangan termasuk aku dan Suga.

Karena kuperhatikan wajah Suga masih pucat begitu setelah menonton film horror, aku mengajaknya duduk di bangku di dekat loket penjualan tiket.

“Kau takut, ya?” tanyaku, sebenarnya bermaksud meledek sih.

Huuu~~~, gayanya sok berani, sama setan yang di dalam layar saja takut.

Dia menoleh padaku. “Siapa yang takut, Bodoh? Untuk apa takut pada orang yang di-make-up tebal dan menyeramkan? Film ini hanya untuk menakuti anak kecil! Justru kau yang ketakutan tadi. Berusaha mengambil kesempatan dalam kesempitan! Kau ini terlalu banyak nonton drama, ya? Pasti kau berharap aku akan memelukmu, kan?” tebak Suga tepat sasaran.

Aku gondok setengah mati!

Kenapa jadi terbalik seperti ini?

Niatnya aku yang ingin membuat dia gondok.

Kenapa malah aku yang gondok?

Sialan!

“Sudah jam 9 lewat. Kau mau pulang?” tanyanya.

Sebenarnya aku masih mau berdua dengan Suga. Tapi, melihat kondisinya…, lebih baik pulang saja.

Aku mengangguk. “Ya.”

Aku berdiri duluan, lalu disusul Suga. Kami berdua pun berjalan bersisian menuruni escalator. Dan tepat di saat itu, kurasakan Suga menyelipkan jari-jari tangan kanannya di jari-jari tangan kiriku. Awalnya aku kaget. Kusempat diri untuk melihat wajahnya, tapi dia cuek, pura-pura tidak melakukan apa-apa.

Terbawa suasana romantis, aku pun mempererat tautan jemari kami. Woohooo~

Tapi, jangan berpikir kalau aku benar-benar menyukai Min Suga, ya?

Ini hanya sebagai balasana karena Suga sudah berbaik hati mau mentraktirku nonton malam. Yah, walau labelnya ‘kencan’, tapi tidak apa-apalah.

Tiba di lantai dasar, kami berjalan keluar bangunan. Masih berjalan menuju mobil dengan jari-jemari kami yang saling bertautan. Namun, kedua mataku menangkap sosok wanita yang aku kenal sedang berdiri di dekat halaman parkir mobil.

“Hei! Mau kemana?” pekik Suga saat aku menariknya ke arah wanita itu.

“Park Chorong-ssi,” panggilku. Gadis yang beberapa saat lalu melihat jam tangannya pun menoleh padaku.

Wah, beruntung sekali aku bertemu dengan teman baruku di sini. Hehehe.

“K-Kau….” seru Chorong dan Suga bersamaan. Aku melihat mereka berdua bergantian, bingung.

“Kalian saling kenal?” tanyaku, masih melihat mereka berdua bergantian. Tapi, keduanya tidak ada yang menjawab pertanyaanku, sampai seorang laki-laki yang aku kenal menghampiri Chorong.

“Su-Suga-ya?!” gumam laki-laki yang tidak lain adalah Himchan. Laki-laki itu berdiri di samping Chorong.

Dan… di sinilah otakku baru menyadari sesuatu.

Park Chorong yang berdiri di depanku ini adalah Park Chorong yang dimaksud Seokjin Sunbae.

Park Chorong yang dicintai Suga.

Dan ini juga menjawab pertanyaanku pada Seokjin Sunbae beberapa hari yang lalu. Pasti pemilik mobil silver itu adalah Himchan. Himchan yang sedang menjemput Chorong di rumah sakit. Dan itu berarti, teman yang mau dijenguk Chorong kemarin adalah Suga.

Oh, my….

“Ayo pergi, Hajin!” ajak Suga ketus sambil melihat dua orang di depan kami. Tautan jari kami terlepas, namun tangan kanan Suga beralih memegang pergelangan tangan kiriku. Ia menarikku menjauh dari Chorong dan Himchan. Seiring dengan itu, pegangan tangannya semakin erat, membuatku kesakitan.

Kuberanikan diri untuk melihat wajah Suga dari samping. Rahangnya tegang, nafasnya berburu sehingga membuat bahunya naik turun. Satu yang bisa kusimpulkan saat ini.

SUGA CEMBURU!

Ya, aku yakin sekali dia pasti cemburu.

“Masuk!” perintah Suga seraya membukakan pintu mobil untukku. Aku menurut begitu saja. Begitu pegangan Suga terlepas, sempat kutengok pergelangan tangan kiriku. Ada bekas kemererahan yang memanjang secara horizontal di sana.

Begitu Suga duduk di balik kursi kemudi, ia langsung menginjak pedal gas dalam-dalam. Tapi, berbeda dengan saat kami pergi tadi, kedua mata sipit milik Suga menatap ke depan dengan sorot mata yang menyiratkan emosi.

Kau benar-benar cemburu, ya, Min Suga?

-TaehyungBelumCebok (^/\^)-

Anditia Nurul ©2014

-Do not claim this as yours-

-Do not re-blog / re-post without permission-

About fanfictionside

just me

20 thoughts on “FF/ HERO AND HEROINE/ BTS-BANGTAN/ pt. 4B

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s