FF/ FRENEMY/ BTS-BANGTAN/ pt. 1


Author : @ismomos

 

Cast :

– Kim Seokjin (BTS Jin)

– Min Yoongi (BTS Suga)

– Kim Namjoon (BTS Rapmon)

– Kim Taehyung (BTS V)

– Jung Chaemi (OC)

– Cha Hyesun (OC)

– Im Ahyeon (OC)

– Yoo Eunji (OC)

 

Genre : Romance, School Life, Friendship

 

Length : Chapter

 

 PhotoGrid_1413574472433

Annyeong, ismomos here~ Anyone miss me? Kekekekeke. Aku datang lagi membawa FF baru, gak tau kenapa tiba-tiba kepikiran untuk bikin FF ini hehehe. Semoga kalian suka ya~ Enjoy!^^

(NB: untuk FF ini aku membuat ketentuan untuk memutuskan FF ini akan berlanjut atau tidak. Jika komentar mencapai atau melebihi target yang aku tentukan, maka aku akan mempost part selanjutnya. Tapi jika tidak, dengan sangat terpaksa aku tidak akan melanjutkan FF ini. Jadi semakin banyak komentar semakin cepat part selanjutnya akan di buat. Dont be silent readers ya, mari kita hargai karya dan usaha para author disini. Terima kasih~)

 

 

What a friend for…

“Aku baru saja keluar kelas. Tadi ada pelajaran tambahan sampai jam 7 malam. Kau sedang apa?” tanya Yoongi kepada seseorang yang sedang di teleponnya, sambil mencari sesuatu dari dalam tas. Sebuah kunci motor. Handphonenya ia selipkan di antara telinga dan bahu kanannya. Setelah ia mendapatkan apa yang ia cari di dalam tas, ia langsung berjalan menuju parkiran sekolah.

“Aku sedang memikirkanmu. Kau tahu? Aku sangat merindukanmu, Min Yoongi,” jawab seseorang di seberang telepon itu.

Yoongi tertawa kecil mendengar jawaban gadis itu, Im Ahyeon, kekasih yang sudah dipacarinya selama 4 tahun.

“Aku juga merindukanmu, Im Ahyeon,” balasnya, masih dengan senyum yang menghiasi bibirnya.

Entah apa yang mereka bicarakan selanjutnya. Yang pasti, hanya mendengar suara gadis itu melalui telepon saja sudah membuat senyum Yoongi tak henti-hentinya melengkung.

Sesampainya di parkiran sekolah, Yoongi langsung menaiki motor sport hitamnya.

“Ahyeon-ah, mianhae. Aku harus mengendarai motor. Kalau sudah sampai rumah nanti, akan ku telepon lagi, ne? Annyeong~”

Setelah mendengar jawaban serta sebuah pesan agar berhati-hati di jalan dari Ahyeon, Yoogi memutuskan panggilan tersebut.

Dinyalakannya motor besar yang selalu dibawanya ke sekolah itu. Di parkiran motor hanya tersisa tiga motor, termasuk miliknya. Karena sebagian besar murid di sekolah Victory High School sudah pulang sejak jam 6 sore tadi.

Yoongi memakai helm yang berwarna sama dengan motornya. Hanya dalam hitungan detik, motor sport Yoongi sudah keluar melewati gerbang sekolah. Baru saja ia akan menambah kecepatan pada motornya, sepasang mata Yoongi terarah pada sosok gadis berkuncir kuda dengan poni yang menjuntai di atas dahi, yang ia kenal sebagai teman sekelasnya, tengah berdiri sendirian di halte yang ada di depan sekolahnya. Langsung saja ia melajukan motornya ke arah halte bus, menghampiri gadis itu.

“Kau sedang menunggu bus?” tanyanya pada gadis itu, setelah membuka kaca helm.

Kedatangan Yoongi secara tiba-tiba membuat gadis itu terlonjak kaget. Mata sipitnya bahkan melebar sempurna, seperti melihat makhluk halus di hadapannya.

Yoongi mendecak kesal melihat ekspresi berlebihan yang ditunjukkan gadis yang ada di hadapannya saat ini.

“Ap-apa? Tadi kau bilang apa?” tanya gadis itu dengan tergagap. Entah sengaja dibuat-buat atau memang dia kaget sungguhan.

“Kau sedang menunggu bus, Jung Chaemi?” tanya Yoongi sekali lagi, dengan nada penuh penekanan.

Gadis yang dipanggil dengan nama Jung Chaemi itu langsung menganggukan kepala, baru mengerti dengan maksud pertanyaan Yoongi.

“Sudah tahu aku berdiri di halte bus, sudah pasti aku menunggu bus kan? Seharusnya kau tidak usah bertanya lagi, Leadernim.” jawab Chaemi dengan nada biasa, namun tetap saja terdengar menjengkelkan bagi Yoongi. Apalagi Chaemi memanggilnya dengan sebutan “Leadernim”, hanya karena ia adalah seorang ketua kelas. Padahal Yoongi sudah memperingatkannya berkali-kali untuk tidak memanggil dengan sebutan itu, namun tetap saja Chaemi terus memanggilnya seperti itu.

“Sebenarnya tadi aku ingin mengajakmu pulang bersama. Tapi saat mendengar jawabanmu, aku jadi kehilangan minat untuk menawarkannya padamu,” ucap Yoongi dengan nada kesal.

Chaemi melebarkan matanya, tak percaya dengan ucapan yang baru saja didengarnya. Apalagi kata-kata itu keluar dari mulut Yoongi. Namun tiba-tiba sebuah senyuman jahil terbentuk pada sudut bibir Chaemi.

“Aah~ jadi kau ingin mengajakku pulang bersama? Aigo, Leadernim. Kalau kau memang ingin mengajakku pulang bersama, tak bisakah kau mengatakannya secara langsung? Tidak usah pura-pura bertanya apakah aku sedang menunggu bus atau tidak,” kata Chaemi sambil mengulum senyumnya.

Lagi-lagi Yoongi mendecakkan lidahnya. Berurusan dengan Chaemi memang selalu membuatnya kesal. Namun entah mengapa ia merasa tertarik dengan tingkah laku Chaemi. Bukan berarti ia suka atau bahkan jatuh hati pada gadis itu, hanya saja ada sesuatu yang membuatnya ingin selalu berurusan dengan gadis berkuncir kuda itu.

“Ah sudahlah, lebih baik aku pulang duluan. Selamat menunggu bus, Jung Chaemi. Annyeong~” kata Yoongi sambil menutup kaca helmnya dan berpura-pura akan melajukan motornya. Ia sudah tahu apa yang akan terjadi selanjutnya.

“Leadernim, chakkamanyooo!!” teriak Chaemi tiba-tiba, sambil menarik tas sekolah Yoongi. Lelaki itu tersenyum penuh kemenangan dari balik helmnya. Ia sudah menduga Chaemi akan menahan kepergiannya dan meminta untuk pulang bersamanya.

“Ada apa?” tanya Yoongi dengan nada sedatar mungkin. Chaemi menggigit bagian bawah bibirnya, terlihat ragu dengan apa yang akan diucapkannya.

“Hm–Bukannya tadi kau ingin menawariku untuk pulang bersama?” tanya Chaemi, masih sambil menahan tas sekolah Yoongi.

“Bukannya tadi aku sudah bilang kalau aku kehilangan minat untuk menawarimu pulang bersama? Aku tidak mau mengantarmu pulang kalau kau tidak memohon padaku lebih dulu,” balas Yoongi dengan senyum kemenangan yang tercetak jelas di bibirnya.

Chaemi menghembuskan nafas jengah. Sebenarnya ia tidak ingin melakukannya, karena itu pasti akan membuatnya terlihat bodoh di hadapan Yoongi. Namun apa boleh buat, daripada ia harus menunggu bus yang tak juga datang sampai saat ini.

“Baiklah, antarkan aku pulang, Leadernim. Kumohon…” rayu Chaemi dengan nada lembut dan raut muka memohon yang dipaksakan. Bahkan ia sampai menangkupkan kedua telapak tangannya tepat di hadapan wajah Yoongi.

Yoongi terlihat berpikir sejenak, padahal ia hanya ingin membuat Chaemi bertambah kesal. Karena melihat wajah gadis itu dengan raut wajah kesal sudah menjadi bagian dari hobi barunya.

“Baiklah, asal kau tidak mencuri kesempatan untuk memelukku dari belakang,” kata Yoongi sambil terkekeh jahil, membuat Chaemi mendengus kesal dan memukul bahu Yoongi dengan keras.

“Itu hanya terjadi di dalam mimpimu, Leadernim!”

&     &     &     &     &

Ahyeon masih tersenyum-senyum sendiri, meskipun sambungan telepon itu sudah terputus sejak beberapa saat yang lalu. Selalu seperti itu jika ia baru saja mendapat telepon dari kekasihnya, Yoongi.

“Im Ahyeon, doushita desuka? (kau kenapa?)”

Tiba-tiba ada seorang gadis yang masuk ke dalam kamarnya. Sebenarnya bukan kamarnya, karena kamar itu adalah milik mereka berdua, Ahyeon dan gadis itu. Yurika, namanya. Teman satu kamar Ahyeon di asrama sekolah selama menempuh pendidikan di salah satu sekolah ternama di Jepang.

Ya, Ahyeon bersekolah dan menetap di Jepang. Hal itu yang membuat ia dan Yoongi harus menjalani hubungan jarak jauh.

Yurika duduk tepat di sebelah Ahyeon, masih memandang gadis itu dengan tatapan heran. Bukannya menjawab, Ahyeon malah semakin melebarkan senyumnya.

“Ah, aku tahu. Pasti kau baru saja mendapat telepon dari kekasihmu itu, kan? Siapa namanya? Yoo-ngi?” tanya Yurika sambil melirik ke arah handphone yang masih berada dalam genggaman Ahyeon.

“Yoongi, namanya,” kata Ahyeon, membenarkan ucapan Yurika saat menyebut nama kekasihnya itu, “Ya, dia baru saja menghubungiku, Yu-chan. Ah, aku jadi semakin merindukannya…”

Ahyeon menatap langit-langit kamarnya, membayangkan wajah Yoongi dengan senyum lebarnya. Hal itu membuatnya tertawa sendiri.

Yurika hanya menggelengkan kepala melihat kelakuan sahabatnya itu. Ternyata benar, orang yang sedang jatuh cinta dan orang gila memang terlihat tak ada bedanya.

“Aku iri padamu, bisa menjalani hubungan jarak jauh seperti itu, bahkan sampai hampir tiga tahun lamanya,” kata Yurika yang terdengar seperti gumaman.

Namun karena Ahyeon tepat berada di sampingnya, ia mendengar apa yang baru saja dikatakan Yurika.

“Intinya, adalah kepercayaan,”

Yurika menatap ke arah Ahyeon, memandangnya dengan tatapan tak mengerti. Ahyeon tersenyum kecil sebelum menjawab tatapan heran dari Yurika.

“Untuk menjalin sebuah hubungan jarak jauh, yang dibutuhkan adalah sebuah kepercayaan. Kau hanya perlu memercayai kekasihmu, begitu juga sebaliknya.”

Yurika tertegun mendengar ucapan Ahyeon, namun kemudian ia menghela nafas berat.

“Saling percaya? Hah, kupikir tidak hanya itu. Aku sudah memercayainya, sangat memercayainya bahkan. Dia juga bilang kalau dia memercayaiku. Tapi nyatanya dia malah berkhianat…” kata Yurika dengan suara lirih, menundukkan kepalanya dalam-dalam. Perasaan sesak itu muncul lagi.

Kini, gantian Ahyeon yang tertegun. Ia merasa telah salah bicara. Ahyeon tahu siapa “dia” yang dimaksud Yurika. Dia adalah mantan kekasih sahabatnya itu, yang diputuskan Yurika dua bulan yang lalu, karena lelaki itu ketahuan berselingkuh. Ya, Yurika dan mantan kekasihnya tengah menjalani hubungan jarak jauh saat itu.

“Hubungan jarak jauh itu tidak mudah. Kau tidak pernah tahu saat ini kekasihmu sedang apa, sedang dimana dan dengan siapa. Dia bisa saja bilang sedang sendiri dan sedang berada di rumah, padahal nyatanya dia malah sedang jalan dengan gadis lain. Kau tidak bisa hanya memercayai kata-katanya.”

Terdengar isakan kecil disela ucapan Yurika. Ahyeon langsung memeluk sahabatnya itu.

“Maafkan aku, Yu-chan. Aku tidak bermaksud–”

“Tidak, seharusnya aku yang meminta maaf. Maafkan aku, Ahyeon. Seharusnya aku tidak menyamakan kekasihmu dengan mantanku dulu. Tidak semua lelaki sebrengsek itu. Aku hanya mengkhawatirkanmu. Tapi aku percaya jika kekasihmu itu sangat mencintaimu,” kata gadis Jepang itu dengan senyum kecilnya, menunjukkan dua buah lesung pipitnya.

“Tidak apa-apa. Aku malah ingin berterima kasih karena kau sudah peduli dan mengkhawatirkanku. Arigatou, Yu-chan,” ucap Ahyeon sambil mengeratkan pelukannya dan mengusap punggung Yurika dengan lembut.

Yurika semakin melebarkan senyumnya setelah mendengar ucapan Ahyeon, “Jangan berkata seperti itu. Bukankah itu memang gunanya seorang teman?”

Ahyeon mengangguk setuju di dalam pelukannya. Ya, ia beruntung memiliki Yurika sebagai sahabatnya. Sahabat pertama yang ia miliki sejak pertama kali ia menginjakkan kakinya di negara Jepang.

&     &     &     &     &

Motor sport hitam milik Yoongi baru saja menepi tepat di depan sebuah rumah berlantai tiga. Lelaki itu langsung mengernyit heran, saat melihat ada sebuah mobil yang terparkir tepat di depan rumahnya. Bukan, mobil itu bukan milik Appa atau Eommanya, tapi ia sangat mengenal mobil sport itu. Mobil milik Kim Seokjin, teman sekelas yang sekaligus menjadi sahabat baiknya.

Yoongi berjalan masuk ke dalam rumahnya, ternyata Seokjin sudah menunggu di bangku taman depan rumahnya.

“Kau darimana? Kenapa malah aku yang sampai lebih dulu?”

Bukannya menjawab, Yoongi malah langsung merebahkan dirinya di bangku taman. Wajahnya terlihat sangat lelah setelah mengikuti pelajaran tambahan tadi.

“Tadi aku mengantar Chaemi pulang terlebih dahulu..” jawabnya sambil menenggak minuman yang tersedia di meja yang ada di hadapannya.

Jawaban Yoongi membuat Seokjin mengernyit heran, “Chaemi? Jung Chaemi maksudmu?”

Yoongi mengangguk, “Ya, Jung Chaemi. Siapa lagi…”

Kemudian Seokjin menatap Yoongi dengan tatapan yang sulit diartikan. Suasana hening seketika, Yoongi masih sibuk menghabiskan minumannya.

“Kau menyukai Chaemi?” tanya Seokjin tiba-tiba, membuat Yoongi nyaris tersedak.

“Uhuk–kau sudah gila? Aku sudah memiliki Ahyeon!” jelas Yoongi disela batuknya.

Seokjin hanya mengedikkan bahu, lalu duduk di sebalah sahabatnya itu, “Ya, siapa tahu saja. Hati manusia sangat mudah terbagi, apalagi kalau menyangkut masalah cinta.”

Yoongi tertegun, tiba-tiba saja wajah dan cengiran khas milik Chaemi terlintas dalam pikirannya. Rambut gadis itu yang selalu dikuncir kuda, poni pendek yang menjuntai sampai di atas alis, suara kekehan gadis itu saat tertawa, dan raut wajah kesal gadis itu saat Yoongi atau temannya yang lain meledek atau mengerjainya.

Beberapa saat Yoongi tersadar dan langsung mencoba menghilangkan bayang-bayang wajah Chaemi dalam pikirannya. Ia kembali fokus dengan Seokjin yang sedang menikmati minumannya.

“Kau tenang saja. Aku—-hanya ingin bermain-main dengannya.”

“Ya, ku harap juga begitu. Jangan terlalu sering bermain-main, atau kau akan terjebak dengan permainanmu sendiri.” kata Seokjin dengan nada datar.

“Kau sendiri bagaimana dengan Eunji?” tanya Yoongi mengalihkan pembicaraan.

Seokjin langsung menoleh kaget ke arah Yoongi saat nama itu disebutkan, “Eunji? Kenapa dengannya?”

Yoongi malah tertawa melihat ekspresi Seokjin. Meskipun biasanya Seokjin terlihat sangat cool dan tidak mudah menunjukkan ekspresi melalui wajahnya, namun saat ia menyebutkan nama gadis itu, sontak wajah Seokjin berubah menjadi merah padam.

“Kau menyukai gadis itu, kan?” goda Yoongi dengan senyum jahilnya.

“Darimana kau tahu?” tanya Seokjin, mencoba untuk bersikap biasa saja, meskipun rona merah itu masih menghiasi wajahnya.

“Yak, Kim Seokjin! Kita ini sudah berteman sejak dalam kandungan, jadi aku sudah mengetahui semuanya tentangmu. Bahkan, aku tahu warna pakaian dalam yang sedang kau pakai saat ini,” kata Yoongi dengan tawanya yang terdengar semakin keras, membuat Seokjin mendengus sebal dan melempari lelaki itu dengan makanan ringan yang tergeletak di meja.

“Yak, Min Yoongi! Itu terdengar sangat menjijikan sekali!”

TBC

About fanfictionside

just me

7 thoughts on “FF/ FRENEMY/ BTS-BANGTAN/ pt. 1

  1. Wahh.. Keren🙂 Jdi Yoongi milih siapa nich,, Chaemi atau Ahyeon?? Jngan sampai salah pilih ya😉 tingkat ke ‘kepoan’ku meningkat nich,, ditnggu ya Next chapnya😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s