FF/ UN.TITLED/ BTS-BANGTAN/ pt. 6


Title: Un.Titled

Author: Choco96

Genre: Romance, Sad, Friendship, School-Life, Family

Length: Chapters

Rating: PG-17

Main Cast: Jung Merry (OC) || Jeon Jungkook (BTS) || Kim Taehyung (BTS) || Min Yoongi (BTS)

Support Cast:

Disclaimer:  100% hasil dan punya saya. Chara idol milik Tuhan, keluarganya, dan agensi masing-masing! Please, Don’t be silent readers. Don’t be plagiarist ppl!

Summary:

Merry-ah, menolehlah padaku. Aku ingin kau menatapku sebagai lelaki bukan sebagai teman

-Jungkook

 

WARNING! Terdapat typo. Terdapat flashback tiba-tiba.

 

 

 

Un.Titled (Part 6)

 

/Taehyung/

 

Aku terkekeh melihat sesuatu di sudut bibir gadis ini. terdapat noda coklat. Aku memandangnya dengan santai, walaupun aku memandangnya dengan tatapan yang sedikit menyeringai sedikit.

“Merry-ah, aku tahu kau manis sekali hari ini. Tapi tak usah menambahkan coklat itu di sudut bibirmu untuk mempermanis wajahmu itu.”

“Apa?” Merry terperanjat kaget sesudah kukatakan barusan. aku tertawa lepas.

“Ah! Benarkah?” jarinya dengan segera membersihkan mulutnya yang belepotan. Namun gerakannya kurang cepat dari tanganku. Jemariku sudah berada di wajahnya untuk mengusap noda es krim rasa coklat.

“Kau ingin menggodaku?”seringaiku kali ini terasa di sudut bibirku, entah dari mana asalnya. Tatapanku saat ini ingin menggodanya—ataupun aku yang tergoda.

Sudahlah aku ingin menikmati pemandangan di depanku ini.

“Aku tak sengaja, sungguh.” Memandangku dengan tampang polos dan datar. Selalu saja ia menampakkan tatapan itu pada semua orang. Terlebih lagi denganku. Bukankah statusku dengannya lebih dari teman?

“Merry-ah.” Panggilku. Sekarang aku memanggilnya dengan nada serius.

“Iya?”

Aku mendekat, mengarah pada salah satu telinganya untuk berbisik padanya, “Bahagialah bersamaku.” Kupeluk dia secara tiba-tiba.

“Ada apa denganmu, Taehyung-ah?”

“I’ll be there for ya, Merry-ah.”

Terdapat gumaman pada Merry, tak kentara untuk didengar. Apa mungkin ia mengiyakan pernyataanku barusan? Sungguh, aku begitu ingin mengatakan ini sewaktu pertama kali aku bertemu dengannya. Mungkin kala itu, waktunya masih belum pas untuk memberiku keberanian, apalagi mengatakan ini.

Mungkin kalian berpikir kalau tindakan ini sangatlah lancang ketika seorang yang belum kita kenal, tiba-tiba mengatakan yang kupikir terlalu mendadak.

Aku merenggangkan pelukan yang berhasil menghangatkan suasana yang awalnya dingin. Aku memandangnya lekat-lekat, membenahi rambut yang menghalangi eksistensi wajahnya dan menyelipkan  diantara dua telinganya. Aku bersyukur bisa diberi kesempatan melihat sosok ini, bertemu dengannya, dan menjadikan dia seseorang yang mengunci hatiku selamanya.

Hanya untuknya seorang yang berdiri di hadapanku.

Dalam senja yang tak langsung menjadi saksi bisu.

 

Cup.

 

I love you.

 

∞∞∞

 

/Merry/

 

“Kamu tahu jeon jungkook?” Suara teman bergosip tepat di sebelahku.

Awan yang melindungi permukaan bumi dari ultraviolet sang surya seharusnya lebih baik digunakan untuk bersantai, seperti bermain kartu besama kawan atau membolos sekalipun, bukan bergosip yang tak ada gunanya seperti ini. Seharusnya di tempat ini juga hanya dibuat untuk bersantai, entah tiduran, makan bekal dengan teman ataupun bermain game di ponsel.

Mengapa minggu-minggu ini gossip tentang dia selalu menggema seoantero sekolah?

Kalian tahu mengapa aku paling anti dengan topik bahasan mereka? Hal yang kuhindari sementara waktu—Ya, seseorang yang kujauhi sampai detik ini. Mengapa seorang yang sangat mengganggu hidupku malah dianggap sebagai idola? Batinku seraya mendengus sebal.

Namun kuakui laki-laki itu awal mulanya dia tidak semenyebalkan layaknya sekarang. Dia masih punya dunia sendiri, berkutik dengan handphone dan earphone. Hanya itu yang kuingat pertama kali duduk di samping dia. Setelah itu aku tak pernah memperhatikan secara detail—kemana dia waktu jam istirahat, tempat favoritnya untuk membolos atau apapun yang menurutku lebih detail, aku tak peduli.

Ya, aku tak peduli dengannya dan lingkunganku.

“baru-baru ini ada yang menyatakan perasaannya pada jungkook.”

Sudah kuduga bocah itu banyak yang mengincarnya. Maklum lah, dia seorang yang diidolakan dan digemari oleh semua gadis di sekolah ini, tak terkecuali dengan kakak kelas.

Dret, dret~~

 

//YOU HAVE A NOTIFICATION//

 

[KAKAOTALK]

From: Mom

Hari ini ibu mau ke rumah teman ibu.

Merry mau menemani ibu?

 

Mataku yang seketika membaca pesan singkat dari ibu, mendadak terasa ada beban menimpa kepalaku. Entah karena perasaanku sudah berprasangka yang tidak-tidak atau memang efek dari gossip yang tak berguna di sampingku ini.

 

Hari ini ibu mau ke rumah teman ibu.

 

Hanya kalimat itu saja pikiranku otomatis menuju pada masalah itu.

Ya, apalagi bukan tentang perjodohan.

 

[KAKAOTALK]

To: Mom

Maaf bu, hari ini jadwal kelas Merry sangat padat sampai petang

Ibu berangkat sendiri saja. Maaf.

 

[KAKAOTALK]

From: Mom

Oh ya sudah.

 

Kunyahan terakhir berhasil tertelan, walaupun sensasi enak dari bekal yang kubawa ini semakin lama semakin hambar, seperti selera makanku tiba-tiba dicuri orang. Pada akhirnya aku mati-matian membuka mulut, mengunyah dan sekedar menelan bekalku—hanya ingin tak mengecewakan jerih payah ibu memasak bekalku saat pagi buta.

Aku tahu ibu ingin bertemu dengan calon yang ibu jodohkan ke aku bukan?

Mudah ditebak!

Apa manfaatnya juga aku dijodohkan? Apa ibu kekurangan uang sampai menelantarkan perasaan anak semata wayang sepertiku ini? Apa aku sangatlah merepotkan ibu sampai-sampai menjodohkan seseorang yang tak kukenal?

Aaargh!

Kenapa semakin lama semakin rumit—cukup pria itu yang merusak perasaan ibu dan aku, jangan diperparah dengan kedatangan tokoh baru yang menambah konflik di dalam kehidupan ibu dan aku.

“Jeon Jungkook sangat pas denganku. Kelihatannya dia baik denganku. Kamu tahu kan kalau Jungkook tak begitu dekat dengan teman-temannya apalagi perempuan, dia hanya bergaul dengan teman laki-lakinya. Jarang sekali dia perhatian denganku—“

Apa mereka bodoh, dia mudah bergaul dengan semua orang di luar sana, bodoh!

“Jangan bicara kalau kau tahu semuanya tentang Jungkook!”

Seketika di area atap hening. Kumpulan gadis yang berada disebelahku terdiam karena sentakan yang tiba-tiba. Salah satu dari mereka melihatku dengan wajah kaget dan ada juga yang bermuka kecut. Dua orang dari mereka angkat kaki dari sana—mereka tahu kalau aku lebih mengganggu mereka jika mereka melanjutkan gossip mereka.

Sepersekian detik, teman-teman dari mereka membuntuti temannya yang berada di depannya. Muka mereka sejenis—bermuka masam dan tak enak dipandang.

“Kau bukan siapa-siapanya Jungkook tapi berani-beraninya kamu berkata seperti itu ke temanku. Kau bukan pacarnya—“

“Ya aku bukan pacarnya!” aku angkat bicara dengan nada meninggi, tak terasa emosiku semakin melonjak tanpa ada control.

 

Kalian tahu, aku muak dengan apa yang dikatakan kalian, orang-orang di sekitarku terhadap dia.

Mengapa orang-orang dengan mudah merusak agenda ‘menghindarku’ ketika aku ingin mulai menghindari yang bersangkutan tentang laki-laki tersebut?

Apa aku tak berhak untuk mengikuti agendaku itu dengan tenang?

 

Aku mendengus kesal, kemudian langsung merapikan kotak bekal dan pergi dari sana. Perasaanku semakin lama semakin berat jika berlama-lama di sana.

 

Ini salahmu Jungkook.

 

 

∞∞∞

 

Ketukan yang dihasilkan oleh guru di depan kelas terasa nyaring di telingaku. Entah mengapa rasanya sangat menggangguku. Pelajaran ini sangat menyita waktu karena menghabiskan untuk menulis. Mata pelajaran yang kumaksud adalah matematika.

“Merry-ah, kau bisa mengajariku soal nomor 15?” Tanya seorang teman sebangkuku. Yang jelas yang bertanya ini bukan laki-laki yang biasanya menggangguku.

“Kalau pertanyaan ini ada di halaman 134. Coba kamu cek rumusnya di halaman itu.” Jawabku ala kadarnya.

Maaf, aku sedang tak bersemangat tentang apapun. Walaupun saat ini pelajaran yang berlangsung adalah mata pelajaran yang membuat sekolahku bangga atas keberadaanku.

Pikiranku tak sedang berada di kelas. Sungguh, pikiranku menerawang entah kemana tujuannya. Kalian bisa menebak pikiranku tertuju kemana—Ya, pikiranku tak berada di kelas karena apa. Ya, “perang” yang barusan terjadi di balkon sekolah—dengan teman seangkatan.

“Merry, bisa maju bantu temanmu di depan ini?”

Aku terkesiap mendengar panggilan dari mrs. Eunah. Aku mengangguk mengiyakan apa yang dititahkan oleh mrs. Eunah. Tak mungkin aku tak mengiyakan apa yang disuruh oleh mrs. Eunah karena beliaulah aku bisa mendapatkan medali perak dalam beberapa waktu singkat, walaupun kakak tingkatku yang diakui oleh sekolahpun luput dari seleksi hanya karena rekomendasi mrs. Eunah.

Banyak yang bilang mrs. Eunah ini sudah diberi amanah untuk memilih siapa yang bisa masuk untuk mengikuti olimpiade dan sudah ada bukti kalau siswa yang ditunjuk itu akan mendapat medali yang diinginkan oleh sekolah. Aku tak habis piker mengapa mrs. Eunah bisa sehebat itu untuk memilih calon olimpiade.

Hahaha lupakan, yang terpenting adalah aku maju ke depan.

Namun ada hal yang membuatku tak nyaman. Ada sepasang mata yang mengikuti langkahku. Memang bukan dari penglihatan sentral, tapi penglihatan periferku bisa merasakan kedua mata itu mengikutiku.

Apa dia tak punya pekerjaan lain selain memandang seseorang yang akan maju ke depan?

Mencoba untuk tak menghiraukan, secepat mungkin aku menuju ke depan dan mengambil sebuah kapur tulis. Membagi ilmu ke teman sekelas dan itulah yang bisa kulakukan untuk tak berpikiran yang lain.

Memikirkan orang yang sedang memandangiku…

 

∞∞∞

 

/Jungkook/

 

Jendela kelas memberi kesempatan angin masuk ke dalam kelas. Udara sejuk seketika menyeruak di sekitarku—itu menurutku, entah yang lain setuju dengan pendapatku apa tidak. Saat ini juga tak ada pelajaran dikarenakan guru pelajaran sejarah masih dalam masa pemulihan pascaoperasi. Mungkin sebab inilah yang membuat suasana semakin nyaman untuk terlelap di bangku.

Ayolah, aku bukan pemalas seperti yang kalian pikir. Aku punya alasan sendiri mengapa aku menyempatkan tidur di kelas. Akhir-akhir ini jadwal Tariku semakin padat dan akhir pertengah musim panas harus karantina.

Sesekali aku meregangkan otot-otot ekstremitas atasku hanya sekadar mengurangi efek kaku karena tidur posisi yang tak seharusnya. Kemudian membenarkan posisi jaketku sebagai bantalan kepala untuk—sekadar mendapatkan posisi yang benar-benar nyaman untuk ke alam mimpi.

walaupun keadaan kelas sedikit gaduh. Aku tak memperdulikan itu. Aku lebih memfokuskan pikiranku pada satu kata.

Merry.

‘Apa yang sedang ia lakukan sekarang?’

Sesekali aku kembali duduk tegak hanya untuk melihat keberadaan gadis itu tapi nihil, aku tak menemukannya di kelas ini. Apa mungkin dia sedang di tempat lain? Tak biasanya dia seperti ini.

Kembali ke posisi semula, mataku otomatis mengatup dan menutup wajahku dengan jaket berbahan levis.

Tok, tok~

Suara ketukan yang sepersekian detik mengganggu acara tidurku. Terpaksa aku membuka jaketku dari wajahku—siapa yang mengganggu acara tidurku ini?

“Jungkook-ah…”

Kalian tahu siapa yang ada di depanku?

Seorang gadis yang  tak kukenal. Pandangannya seperti takut-takut melihatku. Tanpa kulupakan disamping gadis di hadapanku ini terdapat seorang gadis lain—mungkin temannya yang menemani gadis ini.

“Ada apa?” Tanyaku heran.

“mm… Ju-jungkook apa kau punya waktu sebentar?” tanyanya seraya kepalanya sedikit menunduk membuat mataku tak bisa membaca.

“Ada apa?” tanyaku semakin heran—aku curiga ada sesuatu yang disembunyikan oleh kedua gadis ini. Aku tak jago menerawang apa yang dipikirkan orang lain. Ayolah jangan membuat teka-teki sepagi ini.

“Aku minta tolong Jungkook ke taman belakang.” Perempuan yang tadinya berhadapan denganku itu langsung saja meninggalkan aku dan temannya yang tadinya berada di belakangnya. Kemudian temannya yang tadi menyusul, ”jangan kecewakan temanku.”

 

Apa?

Mengecewakan dia?

Apa yang kuperbuat dengan gadis itu, kenal saja tidak.

 

∞∞∞

 

“Merry, bisa maju bantu temanmu di depan ini?” mendengar suara yang berasal dari pita suara mrs. Eunah, rasanya kepalaku otomotis tegak—melihat orang yang disuruh oleh beliau.

Secara otomatis mataku mengarah pada sosok yang kucari dari tadi. Pikiranku tak bisa fokus pada pelajaran ini—tahu sendiri aku tak begitu jago dengan pelajaran ini dan ditambah lagi sesuatu yang ingin kubicarakan pada gadis yang akan mengarah ke papan tulis.

Sekilas aku melihat matanya melirik ke arahku, tak sempat aku membisikkan sesuatu, dia sudah jauh dari jangkauanku.

 

Apa mungkin dia masih marah sampai detik ini?

Hanya karena aku mengutarakan hal yang sebenarnya kurasakan?

 

Ayolah, apa salahnya untuk lebih terus terang dengan perasaan. Aku sulit mencerna yang dilakukan oleh Merry, susah ditebak dan direka. Seakan-akan ia, dunianya tak ingin diusik oleh siapapun, tak terkecuali olehku.

Mataku masih tertuju padanya. aku menunggu dia berbalik dan kembali ke bangkunya. Aku tak sebangku dengannya dan tak terasa aku seperti dijauhi dengan Merry.

Sampai akhirnya dia meletakkan kapur tulis di tempat asalnya dan beralih dari sana—menuju kearah bangkunya. Aku merobek bagian ujung kertas buku tulis, menuliskan dua kalimat. Saat dia melewatiku, aku menggapai pergelangan tangannya kemudian memberikan sobekan kertas yang berisi beberapa kalimat. Matanya memandangku sekilas kemudian ia edarkan ke genggamannya.

Tolong baca dulu aku mengatakan tanpa suara yang keluar dari pita suaraku.

 

Aku sangat  berharap kedatanganmu, Merry-ah.

 

Temui aku di taman belakang.

aku serius.

 

∞∞∞

 

/Yoongi/

 

1 Maret.

Melirik pada tanggalan yang bertengger di meja belajar. Mungkin untuk kalian tanggal ini hanya tanggal biasa, tapi menurutku tidak. Pasalnya, tanggal 1 Maret adalah tanggal dimana ibuku mengundang Ibu Merry ke rumah. Bukan karena Bibi, tapi yang kutakutkan adalah kedatangan gadis itu ke rumahku.

Merry.

 

Apa dia akan ikut makan malam di rumah?

 

Dari kemarin pikiranku tak tenang hanya karena tanggal ini akan tiba. Bodoh, bukan?

Perhatianku kemudian kufokuskan pada sebuah buku agenda berwarna coklat. Kubuka agenda tersebut dengan mengambil sebuah tali yang berada terselip diantara ratusan lembar kertas.

Ratusan tulisan tanganku sudah tertera di atas kertas. Entah tulisan yang bermakna seperti catatan not balok sampai dengan coretan tak bermakna. Entah dari mana asalnya pikiran ini, aku menuliskan beberapa kalimat di atas kertas yang masih polos.

Beberapa menit kemudian, bel rumah berdering memanggil seseorang untuk keluar membuka pintu luar. Kemudian aku beranjak dari meja belajar, mengambil setelan baju yang sudah ditentukan oleh Ibu.

 

Jujur, aku belum siap bertemu Merry.

 

∞∞∞

 

Hari ini yang kutakutkan ternyata masih diberi kesempatan oleh Tuhan untuk bernapas lega. Makan malam masih berjalan lancar, walaupun tanpa ada kehadiran gadis itu.

“Yoongi-ah, ibu ke toilet dulu ya. Mengobrol dengan Bibi, okay?” Ibu memegang pundakku dengan lembut, kemudian berlalu.

“Iya, Bu.”

“Maafkan bibi, Yoongi-ah. Bibi sudah janji dengan ibumu untuk memperkenalkan Merry dengan ibumu, tapi—” matanya yang sarat akan penyesalan yang seharusnya tak ditampakkan padaku. Ini bukan salah Bibi seluruhnya. Hanya saja…

 

Aku belum siap kalau Merry tahu kalau aku yang dijodohkan dengannya. Itu saja yang kutakutkan sampai detik ini.

 

“Tak apa, Bi. Bukan salah Bibi juga. Aku tahu perasaan Merry—Bi, apa boleh saya bertanya sesuatu?” Mungkin lebih baik aku bertanya sekarang saja daripada tidak sama sekali.

“Dengan senang hati.” Sudut mataku melihat sekilas bibir Bibi tertarik keatas—tersenyum lembut. Ibu Merry kuakui cantik seperti Merry, hanya saja terdapat garis-garis halus yang menghiasi sekitar matanya.

“Apa alasan Bibi untuk menjodohkan Merry denganku? Bibi tahu sendiri kan usia Merry itu masih memikirkan teman-teman, belajar, ataupun pacaran.”

Bukannya aku menghakimi Bibi dengan pertanyaan ini tapi aku sangat penasaran alasan dari Bibi. Coba bayangkan, gadis yang masih berusia 17 tahun sudah dijodohkan dengan laki-laki berusia 20 tahun. Kalian pasti punya spekulasi—sebagian besar perjodohan itu lebih mengarah pada masalah financial.

Namun aku tak menemukan pemikiran tak dewasa itu pada Bibi. Aku yakin kalau Bibi bukan tipe orang yang sangat licik seperti itu, apalagi kalau kulihat sekilas Bibi tak pernah memeras ibuku sepeser pun.

“Ibumu dan Bibi punya janji diantara janji itu adalah ini.” Kepala beliau sedikit menunduk. Mungkin ia sedang memikirkan alasan yang pas untuk disampaikan padaku.

“Bukankah itu egois, Bi? Bukan berarti saya tak menghormati apa yang ibu saya dan Bibi janjikan di masa lalu, tapi apa Bibi tak berpikir dampaknya akan sebesar ini?” Jujur aku memang tak setuju perjodohan ini dilaksanakan. Jauh-jauh hari, saat aku mendengar kabar ini yang tak secara langsung aku mendengarnya dari mulut ibuku sendiri. Awalnya aku kaget dengan kabar itu dan mungkin ibu hanya ingin bercanda denganku saja.

Namun tak lama kemudian, Ibu menghampiriku dan mengabarkan tentang perjodohan. Ternyata ibu serius akan melangsungkan perjodohan itu. Tapi saat itu Ibu tak mengatakan apapun alasan mengapa aku dijodohkan.

 

Yoongi-ah, Ibu berpikir kalau kau lebih baik kujodohkan dengan anak dari teman ibu.

 

Yang kuingat tempo hari ketika ibu menyuruhku duduk di ruang keluarga. Hanya aku dengan Ibu. Tanpa kusadari, pikiranku tak bisa mencerna baik dengan kabar tersebut.

“Bibi tahu itu egois, tapi kamu ketahui Yoongi-ah janji tetaplah janji.”

Memang benar, janji seharusnya ditepati. Tapi masalahnya, janji yang beliau-beliau buat itu tak memikirkan dampak sedetail dan serumit seperti sekarang? Apa janji mereka seperti anak kecil—yang hanya ingin ditepati dikemudian hari tanpa mereka bagaimana kelanjutan dari janji tersebut.

Aku bukan menjelekkan perjanjian mereka, tapi… kau tahu sendiri, aku masih punya hal yang ingin kulakukan sebelum menikah. Belajar, sukses, ataupun memiliki teman sebanyak mungkin. Apa salahnya?

“Aku percaya kalau kau tak akan menyakiti perasaan anak Bibi.” Setetes air dari sudut mata wanita di hadapanku terlihat jelas di kedua mataku. Aku tahu Bibi menutupi isakannya dariku hanya untuk tak khawatir dengan beliau.

 

Sial! Apa yang kukatakan tadi? Tarik kata-katamu, Yoongi-ah!

 

Kau harus membahagiakan anak dari wanita yang ada di hadapanmu ini. Tapi…

 

Apa benar aku seseorang yang terbaik untuk Merry?

 

XX TO BE CONTINUED XX

NB:

Gimana ceritanya? Maaf ya readers kalo selama ini ceritaku gak bikin kalian seneng dan parahnya aku hiatus tanpa ada pengumuman TT_TT ini udah tahun ke 2 hiatus yg tiba-tiba. Kalian tahu sendiri aku punya prioritas yg harus kulakuin. Oh iya aku beritahu ya, sebenernya aku mau nerusin ceritanya itu 2 tahun yg lalu dan karena ada musibah “scriptku yg ada di hape lamaku ke format grgr hpku tbtb eror”.

Bayangiiiiinnnn itu udah sampe part 10 TT_TT syedihh tauk. Jadi ya bener bener gatau buat ceritanya hanya karena kerangkanya ke format.

Makasih yang sudah meluangkan waktu kalian buat baca fanfic ini~

THANK YOU! Don’t forget to rate and comment ya~!

About fanfictionside

just me

8 thoughts on “FF/ UN.TITLED/ BTS-BANGTAN/ pt. 6

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s