FF/ HE LIKES MY TEACHER/ BTS-BANGTAN/ pt. 1


header

He Likes My Teacher

[First Bad Meeting]

Pt.1

Jelvita Storyline

BTS Member & Kang Seulgi [OC]

Chapter|Romance,Angst,School life|PG17

Note:

Mungkin akan ada sedikit adegan yang tidak untuk anak-anak!

Cerita ini murni dari otak saya.

BTS member milik Tuhan dan Keluarga, sementara cerita ini milik saya, jadi no bash or copas dsb okey;]

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

10.00 pm

Itulah angka yang tertera di jam tangan digital-ku sekarang. Saat ini aku sedang berjalan menuju minimarket yang letaknya hanya empat blok dari apartement-ku. Langit malam yang mencekam juga rimbunnya pohon menemani setiap langkah kakiku. Jujur, aku sedikit takut, makanya langkah kakiku sedikit ku percepat. Demi cacing di perutku ini, aku berusaha tidak peduli dengan sepinya jalanan yang tengah kulewati ini, ya meskipun tanganku sudah mati rasa karena kedinginan. Bodohnya aku lupa membawa sarung tangan.

Sudah empat blok aku lewati, dan akhirnya terlihat jelas sebuah bangunan kokoh dengan pencahayaan yang terang diseberang jalan dari tempatku berdiri sekarang. Tampak beberapa manusia yang ingin mampir ke bangunan tersebut sama sepertiku. yap! Itu minimarket yang aku tuju, dan tanpa babibu segera saja aku menyebrang.

Sambil memasuki minimarket, aku menggosok-gosok tanganku, supaya hangat, ya walaupun sedikit. Ku tengokan kepalaku ke kanan dan ke kiri, lalu langkah kakiku membawaku ke bagian mie ramyun . Aku lapar, maklumi saja kalau musim dingin cacing-cacing di perutku jadi sering kelaparan, dan meminta asupan makanan lebih banyak, huh.

Segera saja aku ambil satu cup ramyun lalu beranjak ke kasir, mau minta tolong ahjumma yang ada di kasir, untuk buatkan aku ramyun itu, karena jujur aku tidak bisa menyeduh ramyun. Sewaktu duduk di sekolah dasar, aku memang pernah mencobanya sekali, tapi hasilnya benar-benar memalukan, mie ramyun buatanku jadi seperti bubur karena terlalu lama di diamkan di air panas. Memalukan bukan? Sangat.

Shin ahjumma -sang penjaga kasir- sudah tidak heran dengan kebiasaanku datang kesini malam-malam seperti ini, bahkan seringkali juga Shin ahjumma memperingatiku untuk datang kesini membawa teman, katanya kalau aku sendirian, nanti bisa terjadi ‘apa-apa’. Oh ayolah, beratku 44 kilogram, tinggiku 163 cm, mana mungkin ada orang iseng yang mau repot-repot mengangkatku dan menculikku. Lagipula atas dasar apa mereka ingin menculikku? Meminta tebusan? Orang tuaku saja tidak ada bersamaku. Haha, lelucon bodoh macam apa itu? Sama sekali tidak lucu.

“Mau ahjumma buatkan coklat panas, Seulgi?” Shin ahjumma menyodorkan ramyunku juga sebuah pertanyaan.

“Aniyo, Shin ahjumma. Kamsahamnida tapi, aku tidak lama, sudah malam.” Balasku sopan, tidak lupa aku menyertakan senyumanku.

“Makannya pelan-pelan Seulgi-ah, kau bisa tersedak.” Ucap Shin ahjumma lagi.

“Ne ahjumma?” tanyaku, aku terlalu sibuk mencerna ramyunku ini, sampai-sampai ucapan Shin ahjumma tidak aku hiraukan.

“Makannya pelan-pelan. Ini cemilan yang biasa kau beli sudah ahjumma siapkan. Ahjumma sudah tahu, pasti kau akan datang. Jadi kau tinggal membayar saja.” Ucap Shin ahjumma sambil mengakat sebuah kantong plastik besar dari balik meja kasir. Astaga, Shin ahjumma baik sekali.

“Ah, neomu kamsahamnida ahjumma.” Segera aku turun dari kursi yang kududuki dan membungkuk hormat ke arah Shin ahjumma.

Shin ahjumma tertawa kecil lalu berkata “kau sangat lucu Seulgi-ah.”

Aku pun ikut tertawa, dan untuk sekali lagi membungkuk hormat ke arah Shin ahjumma, lalu melanjutkan kegiatan makanku yang sempat tertunda. Dengan cepat aku menghabiskan ramyunku, tanpa melaksanakan perintah Shin ahjumma, untuk menyatap makananku pelan-pelan. Sudah habis, aku pun membayar belanjaanku dan pamit dengan Shin ahjumma.

“Hati-hati dijalan Seulgi-ah!” begitulah kata Shin ahjumma setelah aku pamit.

Dan sekarang aku sudah berhadapan kembali dengan udara dingin di luar minimarket Shin ahjumma. Kembali ku lihat jam digitalku yang sekarang menunjukan jam 10.30 pm, astaga malam sudah larut. Segera saja aku melangkah dengan cepat, kali ini langkah kakiku terdengar begitu nyaring ditelingaku, yang menandakan jalanan semakin sepi. Satu blok kulewati sudah, dan aku harus menyebrang lagi.

Tapi kulihat di seberang jalan ada sesosok mahkluk hidup, dengan postur tubuh yang lebih tinggi dariku, tubuhnya yang tegap dibalut dengan celana panjang dan jaket jeans, hmmm sepertinya dia memakai topi, setidaknya itu yang bisa aku gambarkan tentang sosok itu, dengan minimnya penerangan samar-samar kulihat dia sedang berkutat dengan rokoknya?

Nampaknya dia juga ingin menyebrang. Aku melanjutkan langkahku yang sempat terhenti karena mengamati sosok itu. Jalanan sudah sangat sepi, jadi aku tidak peduli dengan lampu penyebrangan yang menyala berwarna merah. Sosok itu nampaknya menyadari keberadaanku, lalu dia melangkah menyebrang juga. Saat dia melewatiku, entah sengaja atau tidak, dia menabrakku dan membuat belanjaanku jatuh dan menumpahkan setengah isinya di jalan raya itu, tanpa meminta maaf atau membantuku, sosok itu melenggang pergi begitu saja. Apa-apaan dia?

“Yak!!” teriakku

Sosok itu membalikan badan.

“Kau memanggilku?” tanya sosok itu. Dia seorang namja, terdengar dari suaranya yang berat.

“Ne. Ahjussi menjatuhkan belanjaanku!” ucapku berusaha sopan.

Sosok itu berjalan menghampiriku.

“Kau memanggilku ‘ahjussi’ ?” tanya sosok itu dengan nada datarnya.

Ups, aku salah memanggil. Saat ini wajahnya terlihat jelas, sulit untuk aku dekskripsikan, tapi yang jelas namja ini cukup tampan, mungkin umurnya sekitar 18 th, dan dia terlihat terlalu muda untuk dipanggil dengan sebutan ‘ahjussi’ tapi hey, dia merokok!

“Ne, waeyo?” ucapku polos.

“Apa aku terlihat begitu tua?” tanyanya lagi.

“Apa itu penting? Ahjussi harus membantuku! Belanjaanku jatuh karena ahjussi.” Balasku judes

“Hahahaha” Dia tertawa renyah. Lalu melanjutkan perkataannya. “Aku sengaja menabrakmu adik kecil.” Smirk menjijikan terpampang jelas di wajah tampannya. Aku berusaha untuk mengabaikan segala macam pemikiran buruk tentang sosok dihadapanku ini. Apa dia pencopet? Apa dia orang jahat? Atau mungkin dia penculik? Ah masa bodoh.

Aku mendengus kesal, tidak ingin memperpanjang masalah, aku langsung berjongkok, memunguti cemilanku yang terletak tidak berdaya dijalanan dan segera memasukannya ke dalam kantong plastik. Tenanglah makananku! Aku akan membawa kalian pulang,kasihan sekali kalian T^T batinku iba sambil memasukan cemilanku ke dalam kantong plastik.

Namja di hadapanku ini berjongkok dan ikut mengumpulkan cemilanku. Aku melihatnya sekilas. Ternyata masih berprikemanusiaan juga manusia ini. Huh, menyebalkan. Sebenarnya apa maunya sih?!

Setelah selesai acara ‘memungut’ cemilanku, segera saja aku beranjak dari ‘TKP’ itu, tanpa menghiraukan namja tadi.

Tiba-tiba langkahku terhenti, aku tersentak. Tanganku ditahan oleh namja tadi, atau lebih tepatnya dia menarik tanganku! Apa lagi maunya?

“Mwoya?!” tanyaku ketus, jujur rasa takut mulai menyelimutiku, lagi.

“Galak sekali. Kau ingin pergi begitu saja?” tanya namja itu, menampilkan wajah sok polosnya. Menjijikan.

“Lalu? Apa masalahmu ahjussi?” ucapku dengan nada kesal, berusaha menutupi rasa takutku.

“Kau tidak ingin berterima kasih padaku? Aku sudah menolongmu adik kecil.” Ucapnya dengan nada menggoda? Dan apa-apaan dia, memanggilku adik kecil, aku ini sudah duduk di tingkat akhir Junior High School. Aku bukan anak kecil!

“Untuk apa? Ahjussi sudah menabrakku, jadi ahjussi memang harus membantuku, jadii…aku tak perlu berterima kasih. Bukan? Sekarang tolong lepaskan tanganku, ahjussi!” Ucapku panjang lebar

“Aku ini masih 18 th asal kau tahu. Jangan memanggilku ahjussi.” Ucapnya, eh tebakanku benar tapi, ugh! Asap dari rokoknya benar-benar menggangguku.

“Cih! Kau bahkan terlihat seperti seorang haraboeji dengan rokok seperti itu. Menggangu.” Gumamku, lalu kusentakan tangannya, berharap bisa melepaskan cengkraman tangannya yang entah mengapa terasa semakin erat. Tapi sial, tenaganya kuat sekali.

“Yak! Ahjussi lepaskan tanganku!” ucapku berteriak. Tapi tidak dihiraukan oleh namja ini.

Namja ini justru melangkah maju menghampiriku, dia mendekatkan wajahnya ke arahku hingga hembusan nafasnya terasa di permukaan wajahku, cengkraman tangannya semakin mengerat, bahkan aku merasa ngilu di pergelangan tanganku.

Ini sudah tidak beres, aku ingin berteriak, tapi suaraku seperti tertahan di ujung tenggorokanku. Aku benar-benar tercekat, ditambah posisi wajah tampan ahjussi ini dengan jarak yang mungkin hanya 5 cm dari wajahku, astaga aku tidak bisa bernafas. Dan segala pemikiran buruk tentang ahjussi yang satu ini kembali berkecamuk di otakku. Dan satu kata yang terbersit cepat dikepalaku.

Byuntae!

Astaga, jangan-jangan dia ‘ahjussi byuntae’ yang sering diceritakan teman-temanku di sekolah. Aku takut! Siapa saja tolong aku!

“Kau, sudah menyalahkanku menabrakmu, berbicara tidak sopan padaku, memanggilku ‘ahjussi’, mengataiku haraboeji dan sekarang.. kau ingin pergi begitu saja?” ucap namja itu penuh penekanan disetiap kalimatnya. Mataku terbelalak kaget. Apa-apaan dia menuduhku yang tidak-tidak, sial.

Melihat reaksiku. Namja itu terkekeh.

“Kau… harus menemaniku dulu adik kecil.” Lanjutnya.

“M-mwo?!”

-TBC?-

Kurang panjang kah? Kalo kurang, aku emang sengaja sih buat -rada- pendek soalnya takut readers pada gak tertarik T^T

Btw, ini ff pertama aku loh, jadi maklumi kalau jelek dan masih berantakan. Dan untuk main character namja masih aku rahasiain ya, hehehe.

Kritik dan saran readers dong?! Lanjut apa gak nihh?!

About fanfictionside

just me

27 thoughts on “FF/ HE LIKES MY TEACHER/ BTS-BANGTAN/ pt. 1

  1. Ish thor jadi penasaran siapa cowonya..tinggi..seperti jin..tapi merekok ky suga cz suga yg cocok jd brandalan…tapi byuntae kaya si jimin yadong…hhiishh thorr sapa thor sapa penasarannn….nex jangan lama2 y dpostnya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s