FF oneshot/ BECAUSE OF YOU/ BTS-REDVELVET


Tittle                      : Because of You
Author                  : Auntumn_25
Main Cast           : Lee Ji Hye (YOU) & Park Jimin BTS
Other Cast          : Kim Taehyung/V BTS, Park Sooyoung/Joy Red velvet

Length                  : Oneshoot
Genre                    : Romance, Sad, School-Life
Rating                   : PG-16

Warning              : Typos everywhere!

Poster FF_ BECAUSE OF YOU

 

Summary :

Tepat disaat runtuhan kelopak Cherry blossom pertama di musim semi kali ini, aku menemukannya kembali.

Aku tersadar, sudah waktunya aku bangun dari mimpiku.

“Terimakasih atas masa SMA yang indah ini, Park Jimin”

 

 

Enjoy and happy reading!

.

.

1

2

3

1

2

3

Bibirku bergerak-gerak. Menghitungi lembaran kelopak Cherry Blossom yang berjatuhan di atas telapak tanganku secara perlahan.

“Bodoh. Dasar kurang kerjaan”

Aku mendongak, menemukan Jimin sudah duduk di sampingku. Padangannya menengadah ke atas, memperhatikan pohon cherry blossom yang tengah bernaung di atas kami .

“Bukan urusanmu.” Jawabku sekenanya.

Nafasnya menyahut lelah, kemudian kepalanya menggeleng. “Dasar”

Sejenak ia melirik ke arahku. Sementara aku malah mengalihkan pandangan, lebih memilih memejamkan mata sembari merasakan hembusan angin hangat khas musim semi daripada harus menggubris kehadirannya. “Aku ingin sendiri. Pergi”

Ia berdecak. Untuk beberapa saat ia tak berucap hingga aku dapat mendengar kekehan kecil terlantun dari bibirnya. “Oke. Oke nona Ji Hye”

“Kau tak berubah. Selalu saja menyebalkan” lanjutnya.

Ia hendak berbalik. Namun, baru aku mendengar langkah kakinya menghentak sekali, aku kembali mendengar ia berbicara lagi. Kali ini sedikit lebih pelan dan nyaris saja aku tidak mendengarnya. “Ji Hye, apa kau masih tak sadar bahwa aku sangat menyukaimu? apa tak sedikitpun kau menggangap kehadiranku berarti untukmu?”

Aku menahan diri agar tak mengucapkan sepatah katapun.

Ia tersenyum pahit. “Aku mengerti. Aku akan berhenti mengharapkanmu”

Setelah kalimat terahkir itu terucap, aku hanya mampu membatu ditempat. Jimin benar-benar membuatku bungkam dan tak mampu bergerak. Setelah sore menjelang senja kala itu berahkir , Jimin membuktikan perkataannya. Ia tak pernah lagi berbicara padaku.

.

.

.

.

“Kau tak ke kantin?” Joy membereskan bukunya dan dengan cepat ia masukkan kedalam tas punggungnya.

Aku menggeleng. ”Aku diam di kelas aja”

“Ji Hye..” Panggil Joy sekali lagi dengan nada suara yang berbeda. “Sampai kapan kau harus seperti ini?” tatapan teduh itu. Aku benci jika Joy menatapku seperti itu.

“Sudahlah. aku benci jika kau mengucapkan kalimat itu lagi” ujarku dengan sedikit penekanan. “Dan jangan menatapku seolah aku adalah gadis yang baru saja patah hati!” nadaku meninggi disertai raut wajah yang nampak gusar. Hingga aku tersadar atas tersentaknya Joy oleh sikapku, aku menghela nafas. “Maaf, aku hanya benci dikasihani.”

Joy tak menjawab. Ia hanya melangkah pergi, berangsur meninggalkanku sendirian dikelas yang mulai sepi. Pasti dia sedang kesal. Sejujurnya, bersikap dingin semacam ini terhadapnya membuatku merasa bersalah dan tak enak hati mengingat sebelumnya kami selalu tertawa bersama. Tapi percayalah, aku sendiri tak tahu mengapa aku bersikap demikian. Semuanya terjadi begitu saja semenjak beberapa bulan terahkir ini.

Tak lama setelahnya, aku melihat sosok tegap Jimin sudah berdiri di ambang pintu kelas. Aku tersentak begitu pandangan kami bertemu, namun sayangnya ia malah beralih dan menuju bangku miliknya yang terbelakang. Ia sendirian. Kurasa ia baru saja menerima hukuman dari kepala sekolah karena beberapa hari lalu sempat membolos. Lihatlah, sekarang wajahnya pucat. Ia terlihat kelelahan.

Kami berdua saling diam, bergelut dengan pikiran kami ―atau hanya aku―masing-masing. Tak ada yang membuka pembicaraan seperti biasanya. Kalau dulu, ia pasti akan menjahilku, entah itu mengejekku atau mengacak puncak rambutku sampai aku marah dan mengejarnya. Ada saja ungkapan-ungkapan konyol yang ia celetukkan hingga membuatku tertawa terpingkal-pingkal. Atau tumpangan motornya yang tiap hari bersedia mengantarkanku pulang-pergi ke sekolah di setiap harinya. Kalau boleh jujur, aku sangat merindukan masa itu.

Graaak-pintu kelas tiba-tiba terbuka lagi dan kali ini yang datang adalah Kim Taehyung. Sama seperti Jimin, ia tak lagi mau menyapaku. Bahkan tatapannya menunjukkan bahwa ia begitu membenciku. Ia melenggang cepat dan duduk di samping Jimin. Mereka juga tak saling bicara atau sekedar menyapa satu sama lain seperti biasanya. Taehyung memakan rotinya dalam diam, sedangkan Jimin merebahkan kepalanya di atas mejanya dengan mata terpejam. Ah, apa kehadiranku benar-benar membuat persahabatan mereka jadi renggang?

.

.

“Lempar bolanya padaku!” seru seorang lelaki berponi rata kepada salah-satu rekannya. Begitu sang bola berhasil berada pada genggamannya, ia men-dribble benda bulat itu dan mengantarkannya masuk tepat ring dengan sekali lemparan. Ia lantas tersenyum puas.

“Awas saja kalau permainanmu saat bertanding nanti tak sekeren tadi, hyung” lelaki bertubuh lebih tinggi dengan rambut hitam gelap menyenggol lengan si lelaki berpoi rata. Mereka berdua berjalan beriringan meninggalkan lapangan basket sambil saling merangkul atau sekadar meneguk segelas botol air mineral dengan ganas.

Ia balas tertawa seraya menyikap keringat pada dahi dengan sapu tangan yang ia bawa, “Akan kubuktikan”

“Taehyung..” suaraku mengudara di sela-sela pembicaraan dua orang itu. Mereka terkejut, lebih tepatnya si lelaki berponi rata, Kim Taehyung yang segera membuang muka.

“kenapa harus kemari, sih?” Taehyung berkacak pinggang.

“Ada yang ingin kusampaikan.” ujarku datar tanpa memperdulikan sikapnya yang jelas-jelas menunjukkan ia tak ingin berurusan denganku.

Sejenak ia nampak berfikir. “Jungkook, kau duluan saja. Aku ada urusan” Titahnya santai dan orang yang dipanggil Jungkook itu langsung mengangguk dan pergi. Dari wajahnya yang sedikit asing, aku menerka-nerka bahwa ia adalah hobae satu tingkat di bawahku.

“Jadi kau ingin menyampaikan apa?”

“Eh?” aku menerjab-nerjabkan mata, suara Taehyung membangunkanku dari lamunan singkatku. Akupun berdeham sejenak. “Begini, kau ingat kan perihal tugas kelompok matematika yang Donghae Songsaengnim berikan pekan lalu? dia menyuruhku agar aku bergabung dengan kelompokmu”

“Apa?” dari responnya saja aku dapat menangkap sinyal penolakan.

“Saat itu aku sedang tak sekolah. Joy sudah bergabung dengan kelompok lain. Hanya kelompokmu saja yang kekurangan anggota, jadi―”

“Ya terserah saja”

“A-apa?”

“Kalau memang begitu kau masuk kelompokku saja”

Ada perasaan lega yang seketika mendera hatiku, namun masih saja ada sedikit keraguan yang bergurat disana. Karena masih menuntut kepastian, lantas aku kembali menggumam. “Kau tak keberatan ‘kan?”

Ia hanya mengangguk sebagai jawaban. Aku sebenarnya tahu ia merasa terpaksa melakukan ini. Bukanlah akan sulit apabila membayangkan seseorang harus membangun kekompakan bersama orang lain yang ia tak senangi. Taehyung membenciku, seharunya aku sadar diri. Tapi mau bagaimana lagi? kalau bukan karena terlibatnya tugas matematika ini aku tak akan berlagak memohon seperti ini.

“Taehyung-a”

“Hm?”

“Kalau saja―” kalimatku menggantung, membuat Taehyung menautkan alisnya. “Kalau saja kau lebih dulu menjadikan Jimin sebagai anggotamu, kau tak akan merasa terpaksa seperti sekarang.”

Tatapan malasnya berubah. Entah hanya pendapatku atau apa, yang jelas ia menampakkan wajah yang benar-benar tak suka. “Berhenti membahas Jimin lagi di depanku!”

“Tae―” langkahku menggiring mundur. Sementara Taehyung mendekat dengan emosi tertahan. “Aku benci jika kau terus saja menyebutkan namanya, Ji Hye!”

“Kau masih tak sadar? betapa menderitanya aku jika kau terus saja mengaitkan namanya seperti ini? bangun dari semua anganmu akan dia Ji Hye!”

Entah kenapa, kalimat Taehyung terasa menohokku, mataku memanas. Seakan tahu apa yang akan terjadi selanjutnya, maka aku segera berlari pergi, meninggalkan Tahyung yang mungkin tak lagi kuasa. Untuk kesekian kali, aku kembali menyakitinya.

Benar saja, begitu langkahku berpijak di koridor sekolah, aku menitikkan air mata dalam diam. Tak kusangka, disana aku menemukan Jimin tengah menengadahkan kepalanya sembari menyandarkan diri di balkon. Ia menyadari kehadiranku, tapi sayangnya lagi-lagi ia tak peduli. Sakit. Sungguh sakit melihatnya seperti ini. Tidakkah ia tahu akan keinginanku yang berharap ia bersikap seperti dulu? walaupun Taehyung membuatku semakin takut, setidaknya masih ada Jimin yang mau menemaniku. Seharusnya begitu.

.

.

Hari demi hari berlalu. Semuanya ku lalui secara monoton. Tak ada kesan yang berbeda, semuanya sama saja tanpa ada perubahan yang terasa. Joy selalu terkesan khawatir padaku, Taehyung masih betah bersikap dingin padaku, dan Jimin… lelaki itu tetap saja tak mau menghiraukanku.

Berjalannya dengan waktu yang terus berputar, rasa rinduku pun ikut semakin mendesak. Goresan-goresan memori tak jengah sekadar mengelabu dalam benakku. Ingatanku memaksaku untuk terus mengenangnya tanpa peduli bagaimana terpuruknya apabila hal itu kulakukan. Dan kini, aku sudah duduk manis di bawah pohon cherry blossom seorang diri dalam ketenangan. Kepalaku menengadah. Kelopak cherry blossom jatuh tepat diatas permukaan tanganku. Sudut bibirku tertarik membuat ulasan senyum tipis. Bunga pertama di awal musim semi. Aku adalah saksinya.

Tanpa kusadari, seseorang ikut duduk bersila di sampingku. Aku tak tahu sejak kapan ia sudah seenaknya menganggu ketentramanku. “Sudah setahun lamanya, kenapa baru sempat kesini lagi?”

Aku menoleh dan ternyata orang itu adalah Jimin. Heran, kenapa aku tak terkejut atas keberadaannya kali ini? bukankah ini yang kuharapkan setelah lamanya ia mengindariku? harusya aku senang, atau mungkin aku meloncat kegirangan sambil mengitari taman ini karena Jimin sudah kembali mau menghampiriku. Tapi nyatanya, yang kulakukan sekarang hanyalah mengatupkan bibir sambil menunduk.

Jimin menjulurkan kakinya. “Kenapa hanya diam?”

Aku masih betah membisu sampai cahaya matahari mulai berpendar lebih terang. Sinarnya menelusup melaui ranting-ranting pepohonan, semakin memperjelas lukisan siluet kami di atas permukaan rerumputan hijau.

“Aku benci tempat ini Jimin” aku akhirnya menggumam, memecah keheningan.

“Kenapa?”

“Karena setiap aku kemari, aku selalu ingat dirimu. aku benci itu”

Jimin menoleh. Melalui sudut mataku, aku bisa memastikan kalau ia sedang memperhatikanku. Aku pun balas menatapnya, persetan dengan rasa canggungku terhadapnya, aku hanya ingin menatapnya lekat-lekat sebelum menyesal untuk yang kedua kalinya. “bukankah seharusnya aku yang membenci tempat ini karena kau sudah menolakku di tempat ini?” ia tertawa renyah. “kau juga selalu mengusirku apabila aku menghampirimu disini”

“Sejahat itukah aku?” aku ikut tertawa konyol. “Percayalah, sesungguhnya aku sangat menyesal, Jim.”

Tak terdengar respon darinya. Sementara angin mulai berbisik-bisik.

“Aku―Aku suka padamu, Jim” meski kata sederhana itu terlantun dengan susah payah, nyatanya yang mendengar hanya diam. “Sangat suka….” wajahku mulai memanas, aku yakin sebentar lagi aku akan menangis. “Sebelum kau menyatakan perasaanmu padaku, aku sudah lebih dulu mengharapkanmu” entah dapat kekuatan dari mana akhirnya aku mampu mengatakan apa yang sudah lama ingin ku katakan. Ada perasaan berkecamuk, antara lega dan bimbang setelahnya.

“Kenapa Ji Hye? kenapa kau baru mengatakannya sekarang? kenapa harus sekarang setelah aku tak mungkin lagi bisa berada di sisimu?”

Aku menggigit bibir bawahku sejenak, sekeras mugkin menahan air mata agar tak tumpah. “Alasannya sederhana Jim” irisku menjelajahi langit biru di atas sana, mengumpulkan kepingan-kepingan memori, lalu mengumpulkannya jadi satu. “Dulu aku terlalu takut. Kau tampan, pintar, dan digilai banyak gadis. Sedangkan aku… hanya si itik buruk rupa. Pendek, jelek, dan bodoh. Bagaimana bisa kau memilihku sementara puluhan gadis cantik berharap bisa bersanding denganmu?”

“Kau selalu baik padaku. walaupun kau suka menjahiliku, tetapi aku sangat suka saat-saat dimana bekalku selalu di habiskan olehmu atau kekonyolan yang kau ciptakan untuk menghiburku. Mungkin dulu aku hanya menerima segala perlakuan dengan setengah hati. Tapi saat masa itu sudah habis, dengan bodohnya aku menuntut semua itu agar kembali.” lanjutku. Sesekali aku pun melihat kea rah Jimin. Ia diam saja, kuraka kali ini ia hanya memilih sebagai pendengar yang baik. “Kau membuatku terlalu terbang di atas awan, Jim. Aku sudah terlalu jauh.”

“Dan saat aku lupa atas siapa sebenarnya diriku, beberapa sunbae datang padaku. Mereka bilang kau hanya menjadikanku sebagai bahan leluconmu saja. ‘Sebaiknya kau membeli kaca besar dan lihat dirimu, mana mungkin Jimin mau dekat denganmu kalau bukan karena tujuan tertentu’ kalimat itu mendengung keras dalam telingaku, Jim. Kau tahu bagaimana keadaanku setelah mendengar kalimat itu? aku sangat menyesal karena sudah memilih untuk bahagia didekatmu. Hingga perlahan aku sadar diri dan membenarkan ucapan itu. Aku menjauhimu secara perlahan. Bahkan setahun lalu saat kau bilang kau menyukaiku, aku berani menyangkalnya dan tegas menolakmu meski pada kenyataannya aku harus menahan sakit.”

Jimin menderu pelan. Suaranya sayup, namun lembut dan bermakna. “Kau harusnya tak percaya pada mereka, Ji Hye. Tidakkah sikapku padamu terlihat tulus kala itu? harusnya saat aku datang kemari lagi untuk meyakinkan perasaanku padamu, kau bisa mempercayainya.”

Aku tersenyum getir.

“Dan apakah kau menyesal setelah kau sadar jika aku memang benar-benar mencintamu?” ujarnya kembali dengan lirih dan berhasil membuatku menjatuhkan buliran air mata yang sudah kutahan.

“Meski begitu, mungkin tak ada gunanya aku menyesal. Karena bagaimanapum, aku akan tetap melupakanmu, menghapus namamu dalam benakku, segala kebaikan yang pernah kau beri, dan segalanya… apapun tentangmu aku akan menguburnya, Jim. Aku tak mau sakit hati lagi hanya karena teringat oleh semua masa laluku” pipiku sudah benar-benar basah air mata.

“Tapi Ji Hye―”

Aku mencoba mengontrol diriku. “Setelah ini bersikaplah seperti biasa, anggap hari ini aku tidak mengatakan apa-apa padamu.”

“Ji Hye…”

“Sudahlah Jim. bukankah ini yang inginkan? kau kesini hanya ingin mendegarkan ini semua kan? kau sudah mendapatkannya, puas?”

“Ji Hye”

“Sekarang kau bisa pergi. Aku berjanji aku akan melupakanmu, percayalah”

“Ji―”

“Kumohon Jim, jangan ikat aku dalam kesedihan ini lagi!” aku memberontak begitu ia telapak besarnya menggenggam pergelangan tanganku kuat, ia berusaha menenangkanku.

“Ji Hye!” kali ini terdengar sentakan yang sangat keras, aku refleks memejamkan mata. “Berhenti bersikap seperti ini Ji Hye, sadarlah!” suara itu berderu semakin keras dan tubuhkku terasa di goyang-goyangkan hingga perlahan aku membuka mata. Begitu kelopakku berhasil membuka sempurna, ternyata Joy sudah berdiri di hadapanku dengan mata berkaca-kaca.

“Joy? se-sejak kapan kau disini?” aku menyempatkan diri menyeka air mataku kemudian pandanganku segera menyapu sekitar. “Dimana Jimin?” Joy tak menjawab. Ia hanya mentapku lamat dengan tatapan yang tak dapat ku jabarkan. “Aku Tanya dimana Jimin?!”

“Ji Hye” untuk sekian kali ia menyebut namaku, memegang pundakku kemudian memelukku begitu erat. Aku masih tak mengerti. “Hentikan semua ini Ji Hye, Kumohon. Disana Jimin akan sakit jika melihatmu seperti ini”

“Tapi―”

“Berhenti mengganggap Jimin seolah-olah masih hidup.. Ikhlaskan kepergiannya…” Joy mulai terisak.

Mendengar itu, hatiku terasa dihantam oleh sesuatu yang sangat besar. Mataku segera menyapu sekitar. Benar. Jimin memang tak ada disini. Lututku melemas, terlebih begitu aku sadar bahwa sedari tadi aku memang sendirian. Banyangan akan dirinya yang sedang duduk di bangku belakang, pertemuan-pertemuan acuh di sepanjang koridor, sikap diamnya akhir-akhir ini, atau obrolan singkat barusan, seketika sirna dihempas oleh angan-angan kelam. Aku tersadar, sudah waktunya aku bangun dari mimpiku. Atau lebih tepatnya khayalanku.

Perlahan aku terduduk dan air mataku kembali deras. Setelah itu, semuanya gelap.

.

.

“Bagaimana kabarmu, Jim? maafkan aku karena baru sempat mengunjungimu sekarang” Ji Hye mengusap batu nisan yang bertuliskan nama “Park Jimin” sambil tersenyum samar.

“Aku beruntung sekali karena Taehyung sudah memaafkanku. Dia sangat menyayangimu Jim, dia sudah mengganggapmu seperti saudaranya sendiri. Jadi wajar saja kalau sebelumnya ia begitu membenciku atas kematianmu kala itu. Ia bahkan sudah bersikeras menyadarkanku jika kau sudah tiada” matanya mulai berkaca-kaca. “Maafkan aku yang tak bisa menerima kepergianmu. Aku selalu menganggapmu ada disekitarku. Aku selalu berfikir kau tetap hidup dan duduk di bangkumu yang paling belakang sambil memandangiku dalam diam.” Ia tertawa sambil menangis. “Ah bodoh, tentu saja. Karena itu semua hanya halunasiku.”

“Bagaimana bisa kau meninggal setelah kau meyakinkanku atas perasaanmu padaku, hm? separah itukah penyakitmu? atau kau sampai putus asa karena aku sudah menolakmu?”

Ji Hye bangkit setelah sebelumnya meletakkan sebuket bunga dan hendak berkata. “Walaupun aku belum sempat mengatakan jika aku menyukaimu semasa hidumpmu, sekarang aku akan memberitahumu sesuatu…”

Ji Hye sebelumnya memang tak pernah bisa melepas sosok Jimin dalam benaknya. Semakin ia sadar bahwa Jimin telah tiada, Ji Hye semakin diingatkan oleh kematian lelaki itu. Ji Hye terlalu takut. Semakin ia sadar bahwa Jimin sudah tiada, sosok Jimin akan semakin kabur dalam ingatan. Ia tak mau itu terjadi. Dia tak mau jikalau Jimin hanya akan menyisakan kenangan tanpa lagi bisa terulang. Ia tak rela, sungguh. Baginya, Jimin masih hidup. Maka dari itu ia bersikap seolah-olah Jimin masih hadir di setiap hari-harinya.

Saranghae Park Jimin”

Jeongmal. Jeongmal Saranghaeyo

Namun, waktu terus berjalan tanpa memperdulikan apapun. Mau tak mau Ji Hye harus bisa menerima kenyataan. Waktu orang yang ia cintai sudah habis, sementara waktu dirinya sendiri masih panjang dan harus ia tempuh. Dia masih hidup, dia masih mampu. Akan ada datang saat―mungkin―dia tak ingat lagi bagaimana wajah Jimin, suaranya, tawa ringanya, caranya berjalan, kejahilannya, atau senyum yang hanya ditujukan untukknya. Tetapi tetap saja, Ji Hye harus mampu menghadapinya.

“Maafkan aku atas segalanya. Aku akan memulainya dari awal, Jim” Ia berusaha keras agar tak kembali menjatuhkan air matanya. Tidak lagi. Ia tak ingin Jimin kembali bersedih di sana.

“Aku yakin dia akan mendengarnya” Joy bergumam dan menepuk pundak Ji Hye. Gadis itu hadir di sisi Ji Hye, sebagai penguatnya, menegarkan perasaan sahabat yang sangat ia sayangi ini.

“Kuharap begitu”

“Melihat surat yang Jimin buat, aku bisa merasakan kalau dia sangat menyayangimu Ji Hye”

“Aku sangat bersyukur atas itu.” Mereka berdua akhirnya berjalan beriringan meninggalkan makam Jimin. Tetapi, sebelum itu Ji Hye berkata lirih. “Terimakasih atas masa SMA yang indah ini, Park Jimin”

Ketika kau membaca surat ini, bisa dipastikan saat itu aku sudah tak bisa lagi berada di sisimu. Kau pasti heran kenapa laki-laki seperti diriku menulis hal semacam ini. Tapi ketahuilah Ji Hye, waktuku tak banyak untuk bisa meyakinkanmu jika aku tulus mencintaimu. Taehyung menganggapku laki-laki bodoh karena mau menyia-nyiakan waktu hanya untuk gadis keras kepala sepertimu. Kau selalu tak percaya dengan kesungguhan yang sudah kuberi. Benar kan?

                Namun aku yakin suatu saat kau akan tahu apa yang sesungguhnya kurasakan. Aku mencintaimu. Sangat menyangimu, tak peduli apapun yang orang lain katakan. Bagaimana rupamu, bagaimana posisiku, atau bagaimana pandangan orang lain tentangmu, aku tak pernah peduli.

                Yang kutahu, aku hanya mencintaimu, tanpa alasan, dan tanpa paksaan. Semuanya terjadi begitu saja, tanpa perkiraan. Bukankah memang beginilah cinta? cukup merasakannya saja hatiku akan bergetar. Hanya Sesederhana itu, Jihye.

                Kau sudah memberi kesan mendalam untukku dan membuat sisa-sisa hidupku jauh lebih berarti atas kehadiranmu selama ini. Aku sangat berterimakasih akan hal itu dan maaf sudah membawamu masuk dalam kesedihan ini.

                p.s Jangan membenciku. waktu terus berjalan, aku sudah mati, tapi kau masih hidup. Sungguh, tak mengapa bagiku jika kelak kau akan melupakanku. Biarkan aku tetap mengenangmu, itu sudah lebih cukup dariku.

                Sekali lagi terimakasih atas kisah masa SMA yang indah ini, Lee Ji Hye.

FIN

Hai hai. Ini ff oneshoot pertama aku yang aku coba kirim ke fanfictionside. Mianhae ceritanya aneh, gaje, alur kecepetan, gak ngefeel typo dimana-mana, EYD gak sesuai, gak ada jluntrungannya (?) ya pokoknya aku ngrasa ff ini kurang gregettt. ff ini murni dari ide aku dan aku tau ide ini pasaran bgt. FF ini masih amatiran, aku masih belajar huhu. MIANHAE juga aku udh buat Jimin mati disini.. percayalah ini hanya cerita fiksi u,u gak tau kenapa bisa kepikiran buat ff sad ending macam begini. Jimin, u’re my ultimate bias and sorry about this story. And then, aku sangat membutuhkan kritik dan saranmu readers🙂 bagaimanapun komentar kalian, aku sangat berterimakasih karena sudah berkenan membaca ff ini^^

Bonus Pict

tumblr_lkhmatHIvT1qzgt9no1_500_large

Bayangkan itu si Ji Hye ama Jimin waktu lagi masa-masa bersama (?) ‘-‘)b

About fanfictionside

just me

9 thoughts on “FF oneshot/ BECAUSE OF YOU/ BTS-REDVELVET

  1. Huwaaaaa thor agak kget trnya chimchim nya udah meninggal ㅠ.ㅠ bgus thor pembawaan crita nya…mewek habis thor krna ff mu…AWESOME thorㅠ.ㅠ

  2. Keren.. awalnya aku gak ngerti sama awalnya. Aku pikir si ji hye itu terlibat cinta segitiga ama tae n jimin gtu.. ternyata endingnya diluar dugaan T.T
    Nyesss bgt
    Daebak bgt. Baca yg terahkir itu ngenak bgt feelnya><

  3. Sedih bgt thor ceritanya,feelnya dapet ahh ternyata jimin udah meninggal ya ampun aku samper berkaca2 loh bacanya thor:( ahhh suka bgt deh smcerita nya semangat thor bikin cerita semacam gini thor hehehe

  4. Sukses banget bikin nangis!!!
    Lebih keren kalo alurnya agak panjang, terus lebih diceritain gimana awalnya jihye bisa suka sama jimin terus pas masa-masa jimim masih ngejahilin jihyee..
    AAAAAHHH ITU BAKALAN LEBIH BAPER 😂😂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s