FF/ CLAN/ INFINITE/ pt. 2


Title: Clan (Chapter 2)

Author: Junryu (former A-Mysty)

Genre: Fantasy, Slice of life, Adventure, Friendship, A little bit Thriller.

Length: Chapter

Cast:    Hyun Joo Rim (Original Cast)

            Urara Kim / Yamada Kim (Original Cast)

            Kim Myung Soo

            (And More… Coming soon)

Poster by: Arin Yessy (http://posterfanfictiondesign.wordpress.com/)

Simple Warn:             Already edited. Sorry if you still find any typo(s).

 request-pc32-junryu

Joo Rim’s

Apa dari namaku, kalian yakin aku adalah warga asli Korea? ‘Hyun’ nama yang sangat asing jika dijadikan marga. Berhubung ini tentang diriku yang sedang berbicara dengan kalian, aku ingin mengatakan sesuatu.

Hyun Joo Rim adalah gadis yang berasal dari Korea Selatan, tahun kelahiran 94, cantik , dan lain-lain. Aku rasa, kalian tak seharusnya percaya akan itu. Aku sebenarnya lahir tidak memiliki nama Korea sama sekali. Sebenarnya, aku adalah blasteran Australia.

Ibuku, Hyun Jun Gyo, yang berasal dari Korea Selatan ini, bertemu dengan Ayahku, Willem Jackocevic, di Fukuok –tak sengaja mereka bertemu disana. Mereka menikah, kemudian memiliki anak bernama Katarina Jackocevic–lihat, tidak ada unsur Koreanya bukan? Kemudian 4 bulan setelah aku dilahirkan, Ayahku mengalami kecelakaan kerja di laboratoriumnya. Ayahku bekerja sebagai peneliti ahli dalam virus dan bakteri.

Karena merasa sangat sedih, Ibuku membawaku ke kampung halamannya, Miryang kemudian mengubah namaku menjadi bermarga sama sepertinya. Tidak, bukan mengubah. Maksudku, ia hanya ingin membuat orang-orang tidak kesulitan mengucapkan namaku.

Berbicara tentang paras, kalian bisa mengetahui bagaimana parasku. Gen Ayahku sepertinya lebih mendominasi.

Lupakan soal tadi, anggap saja aku sedang mengigau ketika mengatakan itu semua.

Percaya atau tidak, aku merasa ada yang aneh dengan keberadaan Kim Myungsoo. Setiap harinya ia hanya diam, bertatapan mata yang tajam, memainkan tabletnya, dan mendelik. Mata sipitnya itu membuat tatapan tajam dirinya semakin kuat, hingga terkadang aku bergidik. Dan, aku merasa heran kenapa Urara bisa masuk ke dalam pesonanya.

Maksudku, apakah ada sesuatu yang menarik dari dirinya?

Secara keseluhuran fisik, ya, ia memang melewati kata ‘tampan’. Tapi, aku tidak yakin hatinya setampan fisiknya. Bukan bermaksud meledek, hanya saja aku selalu merasa ada yang ganjil dengan dirinya. Terkadang, aku sering memergokinya berbicara sendirian di dekat tangga menuju laboratorium penyimpanan bakteri.

Apa ia seorang indigo? Atau kelainan jiwa? Aneh, benar-benar aneh. Berbicara sendiri dengan begitu serius itu adalah hal yang ganjil, kecuali untuk… orang ber-IQ tinggi.

Kini, aku sedang menatap Urara yang sedang bersenang-senang ria dengan Myungsoo di seberang mejaku. Bukan untuk mencari perhatian, melainkan Urara dan Myungsoo memang secara kebetulan mendapatkan kocokan tempat duduk bersama untuk hari ini. Itu mungkin akan membuat hari ini adalah hari yang paling bahagia bagi Urara, tapi tidak bagiku.

///

Kelas ke-3 selesai. Dari urutan kelas dari awal sampai 3 ini, aku sama sekali belum berbicara dengan Urara yang masih ‘mendekatkan’ diri ke Myungsoo agar laki-laki itu menyadari kehadiran serta perasaannya itu. Mungkin untuk hari ini, aku merasakan kesepian. Tidak bukan kesepian, melainkan seperti ditinggalkan.

Brak!

Setumpuk kertas tebal yang sudah dijilid rapih membuyarkan lamunanku terhadap hari ini. Aku menerjapkan mataku berkali-kali, dan memutar bola mataku yang agak berwarna cokelat terang. Sayangnya, bola mataku ini bertemu dengan bola mata yang seertinya akan membuat mataku betus seperti balon yang ditusuk dengan jarum kecil. Myungsoo berdiri di depan mejaku dengan wajah datar, serta tatapan tajamnya.

“Apa?” Aku merespon tatapannya itu dengan ujaran ketus. Selain tidak suka dipandang seperti itu, aku juga merasakan rasa terkejut ditengah lamunanku.

“Ini materi Avian Influenza dan mutasi virus yang kau inginkan. Ini dari Guru Go.” ujarnya dingin, kemudian berbalik badan, dan… pergi.

Aku hanya menatap punggung laki-laki itu dengan tatapan sinis. Cibiran halus tak luput dari bibirku ini. Kemudian, tanganku menarik kertas yang sudah dijilid itu. Membacanya sekilas, kemudian selembar kertas memo terbang dari lembaran kertas itu.

Mataku memicing, hingga membuat kerutan di dahiku. Itu bukan memo tulisan tangan Guru Go. Melainkan, tulisan tangan yang belum lama aku lihat belakangan ini. Itu adalah tulisan tangan seseorang yang cukup misterius, yang bertulisan:

Kupastikan persahabatanmu tidak akan bertahan lebih lama lagi.

///

“Joo Rim!!” Urara datang menghampiriku di tengah waktu makan siang setelah selesai mempresentasikan sebuah karya ilmiah terhadap virus. Suara riang orientalnya mengalun tenang di gendang telingaku. Kemudian, ia juga memelukku riang. “Senangnya hari ini!” ujarnya yang kemudian duduk di sebelahku.

Oh, aku lupa. Sekarang sudah hari 3 ia mulai meninggalkanku hanay untuk mendekatkan diri dengan Myungsoo. Lagi-lagi, karena laki-laki aneh dan ‘setengah’ itu.

Aku hanya merespon sapaan riangnya dengan delikan mata, kemudian tersenyum tipis. Aku bingung ingin membicarakan apa dengannya kalau tentang persahabatan ini mulai merentang dalam jangka pendek.

“Ada apa denganmu? Belakangan ini aku tidak pernah melihatmu seceria dan seberisik yang dulu. Ada apa? Apa ada masalah?” tanya Urara. Ia menatap kedua mataku dengan kepala yang dimiringkan. Rambut hitam khasnya langsung tersampirkan ke meja.

Aku lantas menggeleng, kemudian mengunyah permen karetku keras-keras. Agar tidak terlihat seperti paksaan, sebisa mungkin aku tidak mengerutkan dahiku sinis. “Tidak ada masalah. Aku hanya banyak pikiran saja.”

“Kau serius?” tanya Urara yang tampaknya tidak yakin dengan jawabanku.

“Tentu.” jawabku, kemudian meletupkan permen karetku hingga menempel pada ujung hidungku.

“Kalau begitu…” Urara menggeser tempat duduknya sampai tubuhnya benar-benar mengimpitku. “Bolehkah aku menceritakan semua isi hatiku padamu? Hitung-hitung sudah 3 hari kitat idak berbicara. Aku rindu ledekkan mu ketika aku sedang menceritakan sesuatu.”

“Boleh saja,” AKu menganggukkan kepalaku seperti robot. Permen karet Mint yang kukunya sudah tidak terasa sama sekali. Tapi, aku menahan diriku untuk membuangnya. “Silakan.”

Bibir Urara langsung melengkung ke atas dengan sempurna. Ia sedikit menepuk kedua pipinya yang agak chubby itu sebelum memulai cerita. “Kau tahu? Aku rasa, aku dan Myungsoo sepertinya ada kemajuan! Dia tidak sedingin dan sesinis seperti yang kau kira. Ia sangat baik. Ya, meskipun tampangnya seperti itu.”

Baik? Yang benar saja. Pujian Urara terhadap Myungsoo membuatku sedikit bertohok. Sepertinya, hanya aku satu-satunya gadis yang menilai bahwa Myungsoo tidak memiliki sifat dan sikap baik, satupun tidak.

“Lalu?” Aku sengaja merespon seperti itu agar tidak menyinggung Urara. Menganggap aku benar-benar tertarik dengan curahan hatinya.

“Ya, aku harap semua ini akan ada kemajuan. Aku benar-benar sudah jatuh pada dirinya.” Urara tertawa renyah. “Senang sekali rasa, ketika orang yang kau sukai bersikap baik padamu.”

Aku hanya memasang senyum ‘pengertian’ yang dipaksakan, padahal senyum itu bermaksud kasihan. Kasihan karena Urara menyukai Myungsoo hanya dari latar belakang fisiknya yang rupawan. Kasihan karena ia sudah dibutakan oleh perasaannya sendiri.

“Pokoknya, Myungsoo tidak seberuk yang kau bayangkan! Percaya padaku, ia adalah laki-laki yang baik.” Urara menggenggam tanganku, dan meyakinkanku.

Aku hanay bisa menatapnya dengan tatapan kebingungan. Ia sepertinya ingin sekali aku mengatakan bahwa Myungsoo adalah ‘anak yang baik’. Seolah-olah, ia sedang meyakinkan ibunya agar merestuinya. Tunggu dulu, ia ‘kan lebih tua setahun dariku.

///

Ketika aku berjalan keluar dari toilet, aku tak sengaja memergoki Myungsoo sedang berkomunikasi lagi dengan seseorang di balik tangga. Kali ini, ia tidak berbicara sendirian–yang sebelumnya aku anggap ia sudah gila. Sebelah tangannya berada di dalam saku celananya, sedangkan tangan kirinya tengah memegangi ponsel yang ditempelkan ke telinganya.

Karena penasaran dengan apa yang ia bicarakan–hingga ia harus berkomunikasi setiap hari, apalagi dengan bersembunyi seperti itu, aku langsung menyandarkan punggungku ke dinding tikungan sebelum tangga. Berharap ia tidak melihatku sebelumnya.

“Kenapa kau selalu menghubungiku? Bukankah kau sudah ahli dalam mencari DNA yang pas?” Suara Myungsoo terdengar berbeda di telingaku. Suaranya saat ini terdengar lebih ringan dan keras. Berbeda dengan hari-hari, suaranya parau dan dingin.

“Kau ini bodoh atau bagaimana? Aish!” Aku terus mendengarkan percakapannya, meskipun aku tidak tahu ia sedang berbicara dengan siapa. Entah laki-laki atau perempuan, tapi sepertinya Myungsoo terlihat mencurigakan di sini.

“Aku sudah mendapat dua orang. Tapi DNA dari salah satu orang yangku dapatkan, tidak terbaca. Oleh karena itu, seharusnya suntikkan virus itu sudah jadi. Agar aku bisa menginfeksikan temannya yang DNAnya masih terbaca!”

DNA? Virus? Dia ini ingin membuat senjata biologi atau apa? Dua orang? Siapa? Aku tidak bisa menghentika pertanyaan yang keluar dari dalam otakku.

“Ya, kita harus membuat sahabatnya lebih dahulu terinfeksi. Dan, aku sudah dekat dengan target kita. Sangat dekat. Nama? Kau ingin mencari DNA-nya? Baiklah, nama target infeksi kita adalah… Urara Kim…”

Deg!

Urara? Apa hubungannya Urara dengan virus?

Sengatan rasa terkejut membuatku bertingkah gelagapan. Aku tidak dapat menarik kepalaku yang sebenarnya sednag mengintip gerak-gerik Myungsoo itu. Parahnya lagi, Myungsoo memergokiku. Karena terlalu panic, aku hanya bisa menarik badanku hingga benar-benar bersandar di dinding. Sayangnya, Myungsoo bergerak lebih cepat.

“Sejak kapan kau sudah berdiri di situ?” tanyanya padaku dengan bola mata yang begitu menusuk. Suaranya pun terdengar berat dan dingin. Parahnya lagi, ia mengurungku dengan kedua tangannya serta dinding yang menjadi sandarkanku.

“Belum lama,” jawabku basa-basi. Detak jantung terkejut membuatku gugup untuk menjawab pertanyaannya yang sebenarnya bisa menggunakan omong kosong belaka.

“Jangan berbohong,”

“Aku bersungguh,” Aku menatap bola matanya yang sedang menyorotku seperti laser. Jangan kira hanya kau saja yang memiliki tatapan tajam, Kim Myungsoo!

“Kau mendengar bagian apa saja?” ytanyanya lagi.

“Tidak banyak, hanya mendengar tentang infeksi virus dan…”

Bruk!

Pergelangan tangan kiriku digenggamnya keras, kemudian dibenturkan ke dinding dengan keras. Sakit memang. Aku juga tidak tahu kenapa ia melakukan hal itu. Aku kira aku akan mengalami seperti di film-film kebanyakkan. Seperti, pipiku di tekan dengan telunjuk dan jempolnya, lalu membenturkan kepalaku hingga berdarah. Atau jangan-jangan ini lebih parah? Mungkin, ia ingin mematah atau memutuskan pergelangan tanganku? Astaga!

“Sakit! Kau ini berperasaan tidak?!” bentakku sekeras-kerasnya.

“Ini hanya luka ringan,” ujarnya santai. Tetapi, tatapannya sama saja.

“Ringan?!”

“Rasa sakit ini akan lebih sakit, jika kau menyebar luaskan percakapanku dan apa yang aku bicarakan. Jika kau menyebar luaskan, aku tak segan membenturkan kepalamu ke kusen itu.” Myungsoo menunjuk kearah kusen besi yang cukup tajam pinggirannya.

“U… urara?” tanyaku spontan. Aku tidak menyangka mengapa Urara bisa memuji habisan-habisan kemarin. Ini karena ia ada maunya. Ia ingin menyuntikkan virus penginfeksi kepada Urara. Sebenarnya, ia ini manusia atau bukan?

Pikiranku melayang ke makhluk-makhluk fantasi . Vampire, werewolf, dan derze memiliki cara tersendiri untuk melakukan sesuatu terhadap targetnya agar bisa berubah menjadi seperti mereka. Apa mungkin Myungsoo termasuk dari ketiga pilihan mahkluk fantasi itu?

Astaga, Joo Rim! Apa yang kau pikirkan?! Ingat makhluk-makhluk itu masih mitos!

“Ah! Urara! Kau benar. Kalau sampai kau memberitahukan semuanya kepada Urara atau siapapun, tak segan aku akan melukaimu atau bahkan membunuhmu. Mengerti?” Myungsoo mengeratkan genggaman tangannya pada pergelagan tanganku yang tadi ia lukai.

Aku hanya mengangguk kaku dengan dahi yang mengerut, serta mata yang menyipit. Nyeri, perih, dan segala sesuatu yang dpaat idkategorikan ‘sakit menjadi satu.

“Bagus. Awas saja. Dan, jangan pernah kau mencoba untuk membocorkannya meskipun tidak ada aku. Karena kau… selalu mengawasimu.”

Tepat pada kalimat sebelum laki-laki itu pergi, ia melonggarkan genggamannya yang keras itu. Tanganku yang sangat sakit itu begitu lemas dan sulit digerakan. Mataku berkaca-kaca.

Kini, aku berada di dalam suatu kebimbangan.

///

Kain mitela biru melilit dari leher dan bahuku, kemudian menjadi kantung topang tangan kiriku. Genggaman keras yang Myungsoo benturkan itu berhasil membuat tanganku mebiru dan membengkak. Mitela ini hanya sebagai sampiran saja. Sampiran agar laki-laki itu menyadari kesalahannya. Kesalahan karena terlah menganiaya seorang gadis.

Daijobudesuka?” Aksen Nihon (read: Nihong) Urara kembali keluar. Biasanya, aksen itu hanya akan keluar ketika ia benar-benar senang dan benar-benar khawatir akan suatu hal.

I’m okay. Don’t worry about it.” Kini, aksen Australiaku yang keluar. Aku mengerti apa yang dikatakan Urara, tapi aku tidak tahu bahasa Jepangnya ‘aku baik-baik saja’.

“Kau selalu mengatakan bahwa kau baik-baik saja. Tapi, lihatlah keadaan tanganmu, Joo Rim!” Urara sedikit menyentuh kain mitelaku dan melihat kondisi tanganku yang membengkak.

Sebenarnya ini hanya bengkak biasa. Dikompres alcohol secara teratur juga akan kembal iseperti semula. Tapi, ingat tujuanku memakai mitela? AKu ingin menyadarkan bahwa perbuatan Kim Myungsoo adalah sebuah penganiayaan.

“Aku berkata sejujurnya, Urara. AKu baik-baik saja. Ini hanya bengkak biasa. Kau tidak perlu mengambil pusing akan tanganku. Don’t think it too much.” jawabku sambil mengibaskan tanganku.

“Kau harus sering-sering kompres!” Urara menasehariku seperti seorang ibu. Lihat, sekarang kami bertukar posisi.

“Siap!” jawabku spontan dengan nada prajurit.

Mendengar sahutanku yang seperti itu, Urara tak tahan untuk tidak tertawa. Melihat ia tertawa, akupun ikut tertawa. Sesaat kami berdua berbagi tawa pada pagi ini. Tetapi, tawa kami harus berhenti ketika sosok dari pelaku tangan ini datang.

Seperti biasa, Myungsoo sudah berdiri di belakangku tanpa mengatakan apapun. Tatapan dingin dan menusuknya, selalu menyapa bola mata terlebih dahulu. Lantas, aku langsung menyingkir dari ‘jalanannya’. Tetapi sebelum ia berjalan melewati jalanannya itu, ia mencondongkan tubuhnya ke arah telingaku. Dari delikan mataku, aku dapat melihat Urara mematung pasif. Aku harap ia tidak berpikir yang macam-macam.

“Jangan bersandiwara denganku, Joo Rim. Tanpa mitelapun kau tanganmu baik-baik saja, kan?” bisiknya dingin.

Mataku membulat karean tangannya kembali menganiaya tangan kiriku lagi. Tali mitelaku ditarik hingga putus, kemudian ia menggenggam tangan. Ia menatap bengkakku yang cukup parah itu, lalu tersenyum aneh. Perasaanku tidak enak.

Urara mengaitkan kelingkingku dengan kelingkingnya, menandakan ia iri atau apalah itu. Urara tak sepantasnya kau iri dengan keadaanku saat ini. Tugasku sekarang melindungi agar kau bisa menjauh dari orang yang kau anggap pesona fisik terindah ini. Andai kau tahu Urara, orang yang sukai ini berkemungkinan adalah seorang psikopat akut, atau mungkin kronis.

Myungsoo melemparkan tatapannya ke arah Urara. Tiba-tiba saja, tatapannya melembut. Sinyal siaga di dalam batinku menyala. Ia pasti sedang menarik ulur untuk menghipnotis Urara agar semakin mudah ia dapatkan. Ia menurunkan tanganku secara perlahan, kemudian mengulurkan tangannya ke hadapan Urara.

“Selamat pagi, Urara. Mau berkeliling universitas pagi ini?” tawar Myungsoo dengan di akhiri senyum. Melihatnya yang tiba-tiba melembut seperti itu, membuatku ingin melemparkan meja ini ke wajahnya.

Senyum sumringah Urara terlihat. Kelingkingnya yang semula mengait dengan kelingkingku sudah terlepas. Ia mulai mengulurkan tangannya untuk menyambur tangan Myungsoo itu. Karena aku takut terjadi sesuatu yang buruk pada Urara, aku langsung menepis tangan Myungsoo cepat. Kemudian menaruh telapak tanganku ke uluran tangan Urara yang seharusnya menyambut tangan Myungsoo.

Tatapan tajam Myungsoo kembali muncul, dan ini semakin menjadi-jadi. Sedangkan Urara melebarkan kedua matanya terkejut dengan aksiku. Masa bodo jika ia menganggapku menyukai Myungsoo. Yang terpenting sekarang, aku harus membuat jarak antara Urara dan Myungsoo merenggang. Sebelum, Urara akan ‘diambil’ oleh si licik dan kurang ajar itu.

“Maaf, Myungsoo.Pagi ini aku sudah mengajak Urara untuk berkeliling universitas ini terlebih dahulu,” Aku mengatakan hal itu dengan cepat, sambil mengamit lengan Urara. “Sampai jumpa.” timpalku, yang kemudian menarik Urara keluar ruang kelas itu.

Entah apa yang akan dilakukannya, Myungsoo menatapku tajam. Sedangkan, Urara menatapku kesal. Baiklah, aku rasa aku akan digencet dua orang sekaligus.

///

Urara memelintarkan tangannya untuk melepaskan lengannya yang mengamit lengannya di depan laborarotium bakteri. Ekspresi wajahnya sangat kesal dan terlihat bibirnya mengerucut. Aku tahu ia kesal dengan kelakuanku tadi. Kelakuan dimana aku memaksanya menjaga jarak dari laki-laki itu. Laki-laki yang akan membunuhnya secara perlahan. Maafkan aku.

“Kenapa kau melakukan itu?!” tanya Urara kesal. Ia sedikit menghentakkan kakinya keras. “Kau bilang padaku kau akan membantuku untuk semakin dekat dengan Myungsoo, tapi kau malah menarikku ketika momen itu datang!”

Aku mendecakan lidah. Urara sangat kesal ketika ia mengingat ucapanku, dimana aku bersedia membantunya untuk semakin dekat dengan Myungsoo. “Maafkan aku. Tapi, aku tidak mau kau dalam bahaya.” jawabku sebisanya. Aku berusaha agar maksud Myungsoo mendekatinya, hanya untuk memanfaatkan keluguan dan system imun yang lemah Urara.

“Bahaya? Apa maksudmu?” Urara bertanya dengan nada yang sedikit meninggi daripada sebelumnya. Dahinya mengerut ketika bertanya hal itu. Sudah kupastikan, ia benar-benar marah. “Jadi, kau bilang Myungsoo berbahaya untukku?” Urara menimpali kata-katanya lagi dengan sedikit dengusan.

“Bukan. Aku tidak bermaksud seperti itu.” jawabku kehabisan akal. Urara bisa meledak hebat jika urusan cintanya diganggu seperti ini.

“Apa?! Aku jadi heran dengan dirimu. Belakangan ini kau menyendiri, kemudian kau mendatangiku lalu mengatakan Myungsoo berbahaya? Joo Rim, ada apa denganmu?”

“Aku serius Urara. Myungsoo itu sangat berbahaya. Bukan karena pikirannya, tapi memang pada dasarnya ia berbahaya. Ia hanya memanfaatkanmu.” AKu mencoba menjelaskannya padanya. Tapi, sepertinya ia tidak akan percaya.

“Memanfaatkanku?” Urara kembali bertanya dengan dahi yang mengerut rapat.

“Ya. Myungsoo merupakan parasit yang menyamar. Dan… aku tidak ingin kau tertimpa masalah dan kemalangan.” ujarku dengan penuh keseriusan.

Urara memejamkan matanya sesaat, kemudian mendengus. Dengusan tawa itu menyisakan senyum yang meremehkan. Sudah aku duga, ia benar-benar sudah buta. Aku menggeleng kaku saat tak sengaja aku membaca pikirannya. Ia memang tidak percaya padaku. Ia percaya dengan kebaikan fisik Myungsoo. Ia lebih percaya dengan orang yang berhasil membuatnya jatuh cinta dalam hitungan hari, daripada percaya dengan sahabatnya yang sudah menemaninya selama beberapa tahun.

“Joo Rim, aku sungguh menyesal mengatakan ini padamu.” Urara menarik napas dalam, kemudian mengembuskan napasnya perlahan. “Tapi untuk saat ini, menurutku, kau adalah masalah bagi kehidupan cintaku, bukan Myungsoo. Sebaiknya, kau berpikir sebelum berbicara. Kau menjauhkanku ketika Myungsoo mulai mendekatiku. Aku mulai ragu dengan dirimu.”

“…” Aku hanya bisa menatap bola mata hitamnya dengan tatapan mengalah. Jujur saja, ucapannya itu juga menusuk hatiku.

“Aku mulai ragu…” Urara menerjapkan matanya. “Sepertinya, kau juga menyukai Myungsoo.” Setelah mengucapkan itu, Urara membalikkan badannya dan pergi.

Aku hanya bisa mematung kemana arah langkah Urara pergi. Aku sepertinya sudah meretakkan rasa percayanya atas nama persahabatan pada diriku. Tanganku mengepal dengan sendirinya. Urara sepertinya sudah dicuci otak oleh Myungsoo. Ini tidak bisa dibiarkan.

Ketika aku menoleh ke arah dinding tikungan, seseorang sepertinya sedang mengintipku. Hal itu membuatku yakin, karena aku sempat melihat seseorang menarik kepalanya cepat-cepat ketika aku menoleh ke arah tersebut. Itu adalah seorang laki-laki. Laki-laki yang tak dapat aku tangkap siapa pemiliknya.

Sekarang, aku merasa diriku seperti diawasi.

///

Aku sudah berapa hari Urara menjauhiku dengan cara semakin melekat pada Myungsoo. Hampir setiap hari aku mendapatkan tatapan kebencian dari Urara, serta tatapan meledek dari Myungsoo. Aku kalah. Kalah untuk menjaga sahabatku. Bahkan, sahabatku saja sudah buta akan semuanya.

Pukul 4 sore. Kelas sudah sepenuhnya sepi. Hanya aku dan tas Myungsoo saja yang masih setia di dalam kelas. Urara sudah pulang tanpa mengajakku seperti dulu. Sedangkan, Myungsoo masih harus berurusan dengan Guru Jung karena laporan praktikum yang salah susunan.

Aku mendelik menatap tas Myungsoo. Ada secercah rasa penasaran muncul pada diriku. Aku ingin membongkar dan menggeledah isi tasnya. Apa benar ia membawa virus dan akan benar-benar menyuntikkannya pada Urara? Aku tidak dapat menghentikan rasa penasaranku.

Aku menoleh ke segala arah untuk memastikan bahwa semuanya aman. Tidak ada tanda-tanda Myungsoo memasuki kelas. Kakiku bergerak untuk segera berdiri dan berjalan menuju kursi Myungsoo. Dengan gerakan tangan yang hati-hati, aku membuka resleting tas Myungsoo itu.

Blar!!!

Sebuah ledakan misterius membuatku terkejut setengah mati, hingga tak sengaja membuat tas Myungsoo terjatuh dan berserakan isinya. Aku menatapnya dengan panik. Bisa saja aku ketahuan.

Namun, manik mataku menatap sesuatu yang membuat mulut ternganga. Isi tasnya sama sekali tidak ada hubungannya dengan pelajaran perkuliahan ini. Melainkan isinya hanyalah apa yang aku pikirkan sebelumnya. Memang tidak ada toples atau cairan mencurigakan, hanya saja ada beberapa senjata tajam dan pistol di sana. Diantaranya handgun, shotgun, dan revolver.

Gun?”gumamku pelan. Aku membungkukkan tubuhku untuk mengambil salah sat udari senjata api atau pistol itu.

Ketika aku akan mengambil revolver dengan handle kayu mengkilat, sepasang sepatu berhenti di hadapanku. Itu adalah sepatunya Myungsoo. Tanpa basa-basi, kakinya itu menginjak jari telunjuk serta jari tengahku dengan hanya menggunakan ujungnya saja. Sakit, itu sudah pasti. Namun, keringat dingin mulai mengalir ketika kau mengadahkan kepalaku untuk menatapnya.

Sebuah gun lain terarah ke dahiku. Ujung pistol itu hanay berjarak 3 sentimeter dari ubun-ubunku. Sedangkan, jari telunjuk Myungsoo sudah berada di trigger pistol tersebut, seakan-akan ia benar-benar aku menembakkan peluru ke dalam otakku. Sebuah senyum licik nan meledek menghiasi ekspresinya saat ini.

“Kena kau.” ujarnya singkat.

To Be Continue

Author’s Note:

Mulai dari chapter ini, ceritanya akan menggunakan sudut pandang Joo Rim. Maafkan aku karena chapter ini tidak ada hubungan atau kelanjutannya dengan chapter sebelumnya. Anggap saja itu adalah akar dari sebuah pohon, dimana cerita yang bersudut pandang orang ketiga itu adalah materi dasar cerita ini. Dan, terima kasih sudah membaca karya terbaru, yaitu Clan.

 

About fanfictionside

just me

4 thoughts on “FF/ CLAN/ INFINITE/ pt. 2

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s