FF oneshot/ DIMITTE/ BTS-BANGTAN


Dimitte

.

SunBell’s storyline

.

BTS Min Yoongi and Yoo Ahra (OC)

Vignette | Sad, Family, Friendship, Hurt, Comfort | G

Disclaimer:

Min Yoongi belongs to himself, BigHit ent, his family,and Semesta. The storyline is pure mine. This fic has been published on www.idorable.wordpress.com

                                                                                               ***

One pure simple thing.

***

dimitte

Segerombolan pemuda itu tak terlihat sepenuhnya sadar. Langkahnya limbung. Mereka berteriak dan mengumpat, tentu saja ucapannya tak enak didengar. Sesaat kekehan parau yang keluar dari mulut mereka. Terlampau keras dan memekakkan. Sudah jelas, mereka sedang mabuk. Ada kalanya mereka terdiam, entah untuk menghisap manisnya nikotin dari puntung rokok atau meneguk pahitnya soju. Dan di saat itulah salah satu dari mereka menyadari bahwa tak hanya mereka yang berada di taman itu. Isakan seseorang terdengar tak jauh dari sana, lirih namun cukup pilu untuk mengiris hati.

Hyung, apa kau mendengar suara itu?”

“Bagaimana aku bisa mendengar sesuatu kalau kalian terus berteriak? DIAM!”

Hiks…hiks…

Hyung, apakah mungkin itu arwah gadis yang pernah bunuh diri di sini? Kau tahu kan te…”

“YA! Gangster mana yang percaya akan hal seperti itu?! Biar aku yang melihatnya.”

“Tidak, hyungnim! Kita harus melihatnya bersama.”

Kelompok itu beranjak. Menderap menyusuri gelapnya taman yang terbengkalai. Suara dari dedaunan kering yang terinjak kaki-kaki mereka mengagetkan sang empunya tangis. Seorang gadis yang duduk seorang diri di sudut taman.

Nu…nugu?” Gadis itu menggigil. Takut akan kejadian buruk yang mungkin akan menimpanya.

“Wah, santapan bagus untuk malam ini. Tidakkah kau ingin bersenang-senang, hyungnim?”

Lelaki itu –yang disebut hyungnim– tak bergeming. Ia memicingkan matanya yang hanya segaris. Mencoba melihat lebih jelas gadis manis yang nampak ketakutan setengah mati di hadapannya. Ah benar, gadis itu Yoo Ahra, teman sekelasnya di kampus.

“Hyungnim?”

Pergilah! Kali ini biar aku saja yang mengurusnya. Sendiri.” Ia mempertegas kata terakhirnya. Menimbulkan ocehan dari antek-anteknya yang mulai melangkah pergi. Meninggalkan kedua insan itu di bawah cahaya temaram lampu putih yang kian meredup.

Pemuda itu mendekat. Tak sedikitpun kulitnya menyentuh gadis molek itu. Ia hanya duduk di sampingnya, masih dengan cerutu yang terselip di jemarinya. Menerawang jauh tanpa memerhatikan sang gadis yang masih ketakutan.

“Kkk..kau, Min Yoongi kan?” Gadis itu membuka suara dengan seluruh keberaniannya. Vibranya masih bergetar. Jelas.

“Ya. Kau tak perlu takut, aku bukan lelaki seperti itu.” Ia terdengar ketus namun ada sedikit kehangatan dari nada bicaranya. Walau sedikit, ia masih bisa mencium bau alkohol dari sosok di sampingnya.

Gadis itu mengangguk. Ragu. Ia masih was-was tapi ada sedikit kepercayaan di benaknya akan pemuda ceking itu.

Keheningan kembali merayap. Hanya suara jangkrik dan sesenggukan kecil gadis yang mulai lelah menangis itu.

“Yoongi-ssi. Pernahkah kau merasa hatimu sangat sakit? Rasanya seperti ngilu yang menjalar hingga ulu hatimu. Pernahkah?” Ahra tak sedikitpun memalingkan wajah untuk melihat lawan bicaranya. Ia menatap nanar pohon cemara yang digoyangkan angin. Menari dengan irama sendu dari gesekan ranting-rantingnya.

Pemuda itu membuka mulut. Mengepulkan asap berbau tembakau yang bergerak menjauh dengan partikel udara. Ujung sneakers-nya menginjak titik api batang racun yang telah menjadi candu. Ia angkat bicara.

“Tentu saja. Aku pernah. Aku memang belum pernah menjalin hubungan asmara atau sejenisnya. Tapi jika masalah dikhianati dan ditinggalkan. Aku sangat tahu sakitnya.”

“Ah, ne? Aku sudah berusaha melupakannya tapi semuanya sia-sia. Si brengsek itu tetap saja kembali ke ingatanku dan hal-hal di sekitarku membuatku memikirkannya terus menerus…”

“YA! Tidak ada orang yang pantas dilupakan! TIDAK ADA! Meski bagaimanapun, ia pernah singgah di kehidupanmu. Setidaknya ia pernah membuatmu bahagia, walau hanya sekali.”

“Kenapa kau malah marah padaku? Dia sudah menyakitiku!”

Min Yoongi menghela napas. Meredamkan emosinya yang sedikit tersulut. Ia memang sangat sensitif dengan hal itu, melupakan dan dilupakan.

“Ahra-ssi. Kau belum bisa melupakan masa lalumu karena kau belum bisa memaafkannya. Ah, tidak hanya dia tapi juga dirimu sendiri. Memaafkan kesalahannya dan kebodohanmu sendiri. Kau harus melakukan itu! Tak peduli betapa jahatnya ia padamu, cobalah lakukan itu. Aku yakin rasa sakitmu akan berangsur menghilang.”

Anak mata Yoo Ahra membesar. Ia tak percaya akan kalimat yang keluar dari pimpinan gangster itu barusan. Ia sadar bahwa apa yang ia lakukan selama ini salah. Membenci masa lalunya dan menunjukkan segala hal buruknya sama sekali tidak membantu. Itu hanya memperburuk keadaan.

“Yoongi-ssi. Apa kau sudah memaafkan masa lalumu?”

Seketika itu memori Yoongi kembali ke masa awal remajanya. Rekaman kepingan kisah kelam tiga tahun lalu terputar dengan jelas di otaknya. Saat ia mengetahui wanita jalang itu bermain dengan rekan ayahnya. Bagaimana mereka menjalin hubungan di belakang sang ayah yang berada jauh darinya. Cara wanita itu menguras harta ayahnya dan meninggalkannya. Dan ia ingat betul penderitaan yang dialami ayahnya hingga meninggal karena stroke. Saat semua itu terjadi, ia memang belum cukup dewasa tapi ia tahu benar bahwa apa yang dilakukan wanita itu sepenuhnya salah. Pedihnya, ia harus menerima kenyataan bahwa wanita itu adalah ibu kandungnya. Ibu yang sedang menantinya saat ini. Menunggu kedatangannya sebagai anak di keluarga barunya.

Rekaman itu dipercepat, kembali ke kejadian di akhir musim dingin lalu. Saat ibunya datang menemuinya di markas besarnya. Wanita itu datang sendiri, memberanikan diri memasuki daerah keras Seoul. Kawasan gelap yang jauh dari semarak lampu jalanan. Ia menangis, memohon, hingga berlutut di depannya. Mengemis akan eksistensinya kembali di kehidupan wanita itu. Kala itu, ia tak menggubrisnya sama sekali. Ia berteriak dan memaki ibunya sendiri. Memberikan perintah kepada antek-anteknya untuk mengusir wanita paruh baya itu. Ia menelan kembali salivanya. Tertegun. Mengapa ia bisa menjadi monster seperti ini? Menjadi bandit diktaktor di malam dan siang hari. Menghabiskan tiap harinya dengan botol soju dan pilinan tembakau. Ia termenung. Mencerna kembali apa yang telah diucapkannya.

“Yoongi-ssi?”

Ia membuka kedua kelopak matanya. Mengerjapnya sebentar. Menahan genang air di sudut matanya agar tidak jatuh.

“Aku…Aku sudah memaafkannya…”

Ia berdeham. Menghilangkan nada serak di suaranya.

“Kau tak ingin pulang? Biar aku mengantarmu. Ini sudah terlalu larut. Tidak baik untukmu. Kau seorang gadis.”

“Ah, baiklah. Tapi ku rasa kau sangat ingin pulang sekarang. Sepertinya ada yang ingin kau lakukan besok.”

Air muka Min Yoongi kembali dingin.

“Itu..itu bukan urusanmu.”

***

Jemari pucatnya telah menggapai tombol di samping pintu besi itu. Ia bisa merasakan dinginnya lapisan aluminium di interkom mewah yang bersuhu lebih rendah dari pendingin ruangan. Ia gemetar. Rasa bersalah dan malu merambati benaknya yang mulai menciut. Namun, niatnya lebih besar dari segalanya. Sudah cukup ia menjadi pengecut selama ini. Ditekannya tombol bel metalik itu.

Ting tong

Wanita itu tak mau repot-repot memeriksa kembali sosok yang terpampang di layar interkomnya. Tangannya dengan lihai memutar knop besi dari pintu apartemennya. Matanya berbinar mendapati pemuda itu berdiri di hadapannya saat ini.

Mianhapnida, eomma.”

Aniya, Yoongi-a. Eomma yang seharusnya minta maaf padamu dan mendiang ayahmu.”

Min Yoongi merengkuh tubuh sang ibu yang jauh lebih kecil darinya. Wanita itu jauh lebih kurus dari sebelumnya. Lingkar hitam di bawah matanya sudah tak dapat disamarkan eye concealer merk apapun. Terlalu gelap dan tebal. Bulir air mata wanita itu sudah membasahi bagian depan kaos putihnya. Deru tangisnya memecah kesunyian. Sedu sedan menggema di lorong lantai 21, tak hanya dari wanita mungil berbalut gaun merah itu, namun juga pemuda yang berpelukan erat dengannya, Min Yoongi. Mereka melepas rindu dan rasa sakit yang selama ini mengendap di setiap sel darah mereka. Hal yang dulunya menjadi momok di hati mereka. Menyembuhkan luka lama dengan pertemuan sederhana.

Eomma, aku mohon jangan pergi lagi. Ne? Nae saranghaneun eomma.”

Ne, Yoongi-a. Eomma tidak akan melakukan kesalahan itu lagi. Saranghaeyo.

Pintu apartemen 211 itu terbuka lebih lebar. Menyilakan masuk sang pendatang baru yang telah lama dinanti, bersama dengan koper cokelat tua yang dibawanya.

Mulai detik ini, benang kasih ibu dan anak itu kembali terjalin. Terikat kuat dengan simpul mati yang hanya akan terlepas oleh takdir baru di kehidupan mereka yang akan datang.

ende.

A/N:

Annyeong!

SunBell imnida^^

Sebelumnya saya mau memperjelas ini judulnya “Dimitte” ya bukan “Demit” biar gak ada yang salah, Kkk~

Fic ini sebenernya berasal dari chit-chat saya dengan seseorang yang sedang gundah gulana galau sepanjang masa, terus aku kasih dia quotes gitu dan quotes-nya aku taruh di fic ini.

Makasih banget buat kalian yang mau baca fic ini. Mohon kritik dan sarannya^^

  1. Bye!

XOXO<3

About fanfictionside

just me

7 thoughts on “FF oneshot/ DIMITTE/ BTS-BANGTAN

    • Hai!
      Thanks ya udah nyempetin waktu buat baca dan kasih komentar^^
      Wohoo, makasih pujiannya reader-nim /bows/
      Ah, entah kenapa kalo liat mukanya Suga berasa lihat kangmas yang kayak gitu…Maafkan daku, tak ada maksud untuk membuat Kangmaz Agus terlihat nakal…sungguh…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s