FF/ CARAMEL MACCHIATO/ BTS-BANGTAN/ pt. 2


Tittle: Caramel Macchiato

Genre : school life, romance, comedy, love

Cast : Hwang Jihwa (OC)

Min Yoongi // Suga

Hwang Jira (OC)

(BTS member, other)

Author : Sherly

Length : Chaptered

[A/N]

Author balik lagi bawa chapter 2! Gimana gimana? Seneng ga? Oke, kayaknya author ngarep banget haha.

NO COPY JUSEYO! J

 

****

“Kau bodoh Jihwa! Kenapa kau bisa seperti ini hanya karna seorang namja yang sama sekali tidak kau kenal. Bahkan aku dan dia tidak saling mengenal dan tidak pernah saling berbicara atau hanya sekedar menyapa. Bahkan jika aku ingin melihatnya, aku hanya bisa melihatnya dari jauh saja. Bodoh!” tidak kusadari ternyata air mata-ku jatuh begitu saja. Ya! Kenapa kau bisa menangis seperti ini, Hwang Jihwa?!

Tiba-tiba saja ada yang memberikanku sebuah tissue. Nugu?

“K..kau” bukankah dia salah satu dari teman namja (Suga) itu. Ada perlu apa dia kesini? Dia menatapku dengan tatapan agar aku segera mengambil tissue yang Ia berikan.

“Aku tidak butuh.”

“Kau butuh.” Apa-apaan namja ini? Langsung saja ku ambil tissue itu dengan kasar.

“………..” aku hanya mendiamkan namja ini. Tidak melakukan sesuatu dan tidak berkata apa-apa. Hening. Karna hening, aku pun memilih untuk memainkan gitar yang ada di sampingku ini. Gitar yang selalu kumainkan saat jam istirahat.

“Jungkook imnida.” Namja itu memecahkan keheningan.

“Ya. Aku tau.”

“Adikmu sangat lucu dan manis.” Seketika aku menghentikan kegiatanku bermain gitar. Kenapa tiba-tiba saja dia berkata seperti itu? apakah dia menyukai Jira?

“Wae? Kau menyukainya?” ucapku dan langsung melanjutkan permainan gitarku yang sempat tertunda tadi.

“Aku sering melihatmu di Coffe Cafe.” Ucap namja itu, mengabaikan ucapanku. Oke, aku menganggap namja ini menyukai Jira, karna dia tidak menjawab pertanyanku. Tapi tunggu, bagaimana dia tau kalau aku sering sekali berkunjung ke Coffe Cafe?

“Darimana kau tau?” tanyaku.

“Karna aku sering berkunjung ke cafe itu.”

“Aku tidak pernah melihatmu.”

“Bukannya tidak melihat. Tapi karna kau terlalu memfokuskan matamu kepada Suga hyung.” Lagi-lagi aku menghentikan permainan gitarku. Kaget. Darimana dia kalau aku selalu memperhatikan Suga. Apakah dia stalkerku? Ya! Itu tidak mungkin. Aku bukan seorang artis.

“Apa maksudmu?”

“Jangan berpura-pura bodoh. Aku tau kau menyukai Suga hyung. Terlihat jelas dari matamu saat menatapnya.” Aku tidak bisa berkata apa-apa lagi.

“Aku selalu memperhatikanmu.” Ucapnya. Aku tidak bisa berkata apa-apa lagi.

“Setiap aku berkunjung ke cafe itu, aku selalu duduk di lantai dua. Tepat didepan tangga. Maka dari itu, aku dapat melihatmu dan Suga hyung dari atas. Dan jelas terlihat bahwa kau selalu memperhatikan Suga hyung. Setiap aku berkunjung ke cafe itu, tidak lama, kau juga pasti akan datang ke cafe itu. Begitu juga dengan Suga hyung. Apakah ini sebuah kebetulan? Ckck.” Lanjutnya.

“Ya..-“ aku berusaha mengelak perkataannya tetapi dia langsung melanjutkan bicaranya.

“Suga hyung tidak pernah mengetahui kalau aku sering berkunjung ke cafe itu. Bahkan, aku juga ada di cafe itu saat kau datang bersama Jira kemarin. Dan hebat sekali, Jira sama sekali tidak mengetahui kalau Suga hyung juga ada disana. Mungkin karna Suga hyung menggunakan masker dan kacamata hitam kemarin. Itulah stylenya Suga hyung.” Ucap namja itu panjang-lebar. Sungguh, aku tidak pernah melihatnya di cafe itu.

“Ya,ya. Aku memang menyukainya dan aku selalu memperhatikannya setiap kali dia berkunjung ke cafe itu. Dan sekarang, aku akan mencoba melupakannya. Karna dia sudah menjadi milik adikku, Hwang Jira.”

“Kakak yang baik.” Ya! Aku tau dia sedang menyindir dan mengejekku. Menyebalkan.

“Aku tau kau mengejekku, Jungkook-ssi.” Ucapku kesal.

“Panggil saja aku Jungkook sunbae. Jangan terlalu formal denganku.” Lagi-lagi dia mengabaikan ucapanku. Oke, aku baik-baik saja.

“Ne.”

“Ah, tapi kalau kau mau memanggilku dengan sebutan oppa juga tidak apa-apa.”

Andwae!” apa-apaan dia? Aku tidak akan pernah mau memanggilnya dengan sebutan oppa. Garis bawahi ucapanku tadi! Dan lihat, dia hanya tertawa mendengar penolakanku. Aku hanya menatapnya dengan tatapan sinis.

“Aku boleh menjadi sahabatmu?” ucapnya tiba-tiba. Apa maksudnya?

“Tidak.” Jawabku.

“Aku tidak suka ditolak. Mulai sekarang aku dan kau bersahabat.” Dia memaksaku? Ya!

“Dan aku tidak suka dipaksa.”

“Aku tidak mau tau. Kau sahabatku.” Ucapnya.

“Seenak jidat saja.” gumamku pelan.

“Aku bisa mendengarnya.” Ucapnya.

“Bagus kalau seperti itu.”

“Ckck. Kau sangat menyebalkan.” Dia mengacak-acak rambutku. Kenapa rasanya……..

“Kalau begitu jangan menjadi sahabatku!” kesalku sambil menatap matanya.

“Aku akan tetap menjadi sahabatmu, Jihwa-ya.” Dia balik menatap mataku.

“Kau adalah salah satu namja yang paling di idam-idamkan para yeoja di sekolah ini dan aku tidak mau menjadi korban dari fans-fans mu itu hanya karna aku dan kau bersahabat” Ya, jika aku terus dekat dengannya, aku yakin, para fansnya akan mencelakakan aku seperti di dalam drama-drama yang aku tonton.

“Aku akan membunuh mereka semua jika mereka mencelakaimu.”

“Bodoh. Terserahmu.”

“Permainanmu jelek. Biar aku ajarkan.” Ucapnya dan langsung mengambil gitar yang ada di tanganku. Mau dia apa?!

Dia bisa bermain gitar? dia mulai memposisikan jari-jari tangannya di senar gitar. Dia mulai memainkan sebuah lagu. Tunggu, sepertinya aku mengenal lagu ini. Bukankah ini lagu Coffe milik BTS? Ya, ku akui permainan gitarnya lebih bagus dariku. Aku baru tau, namja ini bisa memainkan gitar dengan bagus.

Kulihat dia sedang memejamkan matanya dan tersenyum sambil memainkan gitar itu. Dia….tampan. Ya, tapi aku tidak menyukainya. Aku hanya mengucapkan apa yang ada di pikiranku sekarang. Ku tatap terus wajahnya. Entah mengapa, aku berpikir, melihat wajah namja bodoh ini bisa membuat mood jelekku hilang. Tanpa sadari, aku sedikit tersenyum saat ini.

Tapi, aku bingung. Kenapa dia mau menjadi sahabatku? Padahal, kita baru saja berkenalan dan bertemu. Ya, walaupun dia sering melihatku di cafe. Tapi tetap saja, kami baru kenal dan ini pertama kalinya kita saling mengobrol. Aneh bukan?

“Kenapa kau mau menjadi sahabatku?” kata-kata itu tiba-tiba saja keluar dari mulutku. Ya. Aku tidak sadar saat mengatakannya!

“Ne?” dia menghentikan permainannya lalu menatapku.

“Ah, tidak. Lupakan saja.” ucapku menjadi salah tingkah dan langsung membuang mukaku. Ya! Kendalikan dirimu, Hwang Jihwa.

“Kau tau…”

“Tidak.”

“Ya, aku belum selesai berbicara, sahabatku.”

“Ah, baiklah. Lanjutkan.”

“Aku sudah lama menyukai adikmu. Sayangnya, dia lebih memilih Suga hyung dari pada aku. Tapi, aku berusaha biasa saja. Aku tidak mau terlalu memperlihatkan ke-kecewaanku.” Ucapnya sambil menatap ke lantai dengan tatapan kosong. Benarkah?

“Sudah berapa lama?” tanyaku.

“Ne?”

“Sudah berapa lama kau menyukai adikku?”

“Belum terlalu lama. Sejak satu bulan yang lalu.”

“Apakah Jira mengetahuinya?”

“Kurasa tidak.”

“Ah, baiklah.” Oke, ku anggap dia bersedia menjadi sahabatku hanya karna dia ingin dengan dengan adikku, Hwang Jira. Ya, mungkin kelihatannya seperti aku sedang di manfaatkan olehnya. Tapi, tidak masalah. Aku akan membantunya sebisaku. Tapi, aku tidak akan memaksa Jira untuk memilih namja bodoh ini. Aku membiarkan namja bodoh ini memanfaatkanku untuk mendekati Jira bukan karna aku berharap atau ingin Jira dan namja itu putus. Dan kurasa, mulai saat ini aku harus memanggil namja itu-namja di cafe-dengan sebutan Suga sunbae.

“Sabtu ini mau ke cafe bersamaku?” ajak namja bodoh ini.

“Tidak.”

“Aku tidak suka ditolak.”

“Aku tidak suka dipaksa.”

“Terserah, hari sabtu jam sepuluh pagi aku akan menjemputmu.”

“Kau tau rumahku?”

“Tentu saja. Aku akan mecari tau tentang orang yang ku sukai.”

“Baiklah, akan ku ajak Jira.” Mungkin namja bodoh ini akan senang jika aku mengajak Jira. Ckck.

“Dia akan pergi dengan Suga hyung.” Rasa itu. Rasa sakit itu kembali datang lagi.

“Oh, baiklah.”

“Kau sedih?”

“Tidak.”

“Selalu membohongi perasaan sendiri.” Ucapnya.

“Terserah apa katamu.”

Kajja, kembali ke kelas. Jam istirahat sebentar lagi akan habis.” Ajak namja bodoh ini.

“Kau duluan saja.”

Wae?”

“Kau bodoh atau apa? Aku tidak mau fans-fans mu melihat kita sedang bersama.”

“Baiklah.” Ucapnya kemudian keluar dari ruangan ini. Tidak beberapa lama aku pun menyusulnya keluar dan kembali ke kelasku.

****

“Sudah jam sembilan lewat dan aku masih bingung mencari celana jeans ku.” Ucapku. Ya, saat ini aku sedang bersiap-siap untuk pergi dengan Jungkook sunbae. Seperti janji kami kemarin.

Eonnie, kau sedang apa?” tanya Jira yang tiba-tiba masuk ke kamarku.

“Mencari jeans.”

“Jeansmu sedang di cuci, eonnie.” Bodoh sekali kau, Jihwa.

“Ah, ya.” Lalu aku pakai apa sekarang?!

30 minutes….

“Selesai!” ucapku bangga. Akhirnya aku hanya memakai baju biasa dan celana pendek, untuk sepatu aku menggunakan converse.

“Kau mau pergi, eonnie?”

Ne.”

“Dengan siapa?”

“Hm, sendiri.” Jira memang belum mengetahui tentang status ‘sahabatku’ dengan Jungkook sunbae.

“Ah, kau pasti ingin pergi ke cafe itu kan?! Aku pasti benar.” Tebak Jira dengan bangga.

Ne.” Jawabku dengan senyuman kecil. Tiba-tiba saja ada suara mobil di depan rumah.

“Ah, Suga oppa sudah menjemputku. Eonnie, aku pergi dulu! Annyeong!” pamit Jira kepadaku. Oke, tenangkan dirimu, Jihwa.

“Ne. Jangan pulang terlalu malam.” Pesanku.

“Pasti, eonnie. Muah!” ucapnya sambil memberikan sebuah kiss bye? Ckck.

Jira memang cantik, imut, baik. Tidak sepertiku. Pantas saja banyak namja yang menyukainya. Iri? Tidak. Aku hanya mengucapkan fakta. Haha. Dia memang cantik. Dia pantas dengan……..Suga sunbae. Mereka sangat cocok. Longlast untuk kalian.

Baiklah, lupakan masalah itu. Yang sekarang harus aku lakukan adalah menunggu Jungkook sunbae datang menjemputku.

Tidak berapa lama, tiba-tiba bel rumahku berbunyi. Tanda ada orang yang datang. Mungkin itu Jungkook sunbae? Aku langsung berjalan untuk membuka pintu. Benar, dia Jungkook sunbae.

Annyeong.” Sapa nya setelah aku membuka pintu. Benar kataku, entah mengapa, saat melihat wajahnya mood jelekku langsung hilang. Apa yang ada di dalam dirinya? Haha.

“Jangan banyak berbasa-basi. Kajja!” aku langsung menutup pintu rumahku dan menguncinya.

“Kau tidak sabar ingin pergi denganku?” ucapnya sambil tersenyum, bermaksud menggodaku.

“Ya! Bu…bukan seperti itu.” ucapku mengelak.

“Sudah, jangan banyak mengelak. Kajja!” ucapnya lalu menarik tanganku.

“Jangan menyentuhku.” Ucapku.

“Jangan terlalu jual mahal denganku, sahabat.” Ucapnya. Aku hanya mencibir ucapannya. Sunbae bodoh.

“Kita berjalan kaki?” tanyaku kemudian.

Ne, wae?” tanya namja itu balik.

“Tidak.” Ucapku.

“Kau tidak suka kita berjalan kaki?” tanyanya.

“Ani, aku suka.” Jawabku jujur. Aku memang lebih suka berjalan kaki.

“Bagus kalau seperti itu.” aku mulai mensejajarkan posisiku dengannya. Sedari tadi aku berada di belakangnya. Terlihat seperti hewan peliharaan bukan? Apalagi dengan tanganku yang ditarik olehnya.

“Hei, sunbae.” Panggilku.

Ne?”

“Bagaimana kalau kita bertemu dengan Suga sunbae dan Jira?”

“Lalu?”

“Ya!” kenapa dia masih bisa bertanya. Menyebalkan!

Wae?”

 

“Ani.” Sunbae bodoh ini sangat menyebalkan. Sungguh!

“Jangan memanggilku dengan sebutan sunbae, panggil saja oppa.”

Andwae.

Wae?”

“Itu membuatku risih.” Jawabku seadanya saja.

“Tapi aku tidak merasa risih.” Balasnya.

“Terserah apa katamu.” Ucapku kesal. Kulihat dari ekor mataku, Sunbae bodoh ini sedang tersenyum. Apakah dia ada gangguan jiwa?

Sudah 10 menit kami berjalan. Akhirnya, kami sampai juga di cafe ini. Kalian tau? Disepanjang jalan sunbae bodoh ini terus menggandeng tanganku dan itu membuatku risih. Ayolah, aku bukan hewan peliharaannya yang harus Ia jaga seperti itu. Sebelumnya, aku belum pernah jalan berdua dengan seorang namja. Dan inilah pertama kalinya aku berjalan dengan seorang namja. Ya! Tapi kenapa harus dengan sunbae bodoh ini?

“Duduk disana saja.” ucapku sambil menunjuk tempat duduk yang biasa ku duduki ketika berkunjung kesini.

“Kenapa disana?” tanyanya.

“Karna aku suka tempat itu.” jawabku.

“Tidak. Di sana saja.” ucap sunbae bodoh ini lalu menarik tanganku. Kenapa masih ada manusia sepertinya?!

“Disini lebih baik.” Ucapnya setelah kami duduk. Aku duduk di depannya dan dia duduk di depanku.

“Jangan memasang ekspresi seperti itu. Kau tambah jelek.” Ucapnya sambil tersenyum dan menatapku.

“Aish, kenapa kau menyebalkan sekali.” Gumamku pelan.

“Aku masih bisa mendengarnya.” Ucapnya.

“Oh, baguslah.” Ucapku acuh tak acuh.

“Permisi, ada yang bisa kami bantu?” tiba-tiba saja seorang pelayan datang ke meja kami.

“Kau mau pesan apa? Aku yang akan membayar.” Ucapnya. Benarkah? Apakah sifatnya memang aneh seperti ini? Bisa berubah-ubah setiap menitnya?

“Kau sedang tidak bercanda?” tanyaku.

“Tentu saja tidak.” Ucapnya sambil tertawa pelan.

“Aku pesan caramel macchiato.”

“Sudah kuduga.” Ucapnya.

“Kalau kau sudah tau pesananku kenapa kau masih bertanya?”

“Hanya memastikan saja.” aku hanya membalasnya dengan tatapan kesal.

“Baiklah, aku pesan dua caramel macchiato.” Ucap sunbae bodoh ini kepada pelayan itu. Tunggu dulu, kulihat pelayan itu terus menatap sunbae bodoh ini sedari tadi. Ada apa dengannya? Apakah dia menyukai sunbae bodoh ini? Ya! Apa yang pelayan ini lihat dari sunbae bodoh ini?

Aghassi!” panggilku. Pelayan ini bahkan sampai-sampai tidak menyadari kalau sunbae bodoh ini berbicara. Sebenarnya apa yang dia lihat dari Jungkook sunbae?! Aish, jinjja!

Aghassi, berhentilah melihatnya!” tiba-tiba saja aku sedikit berteriak ke arah pelayan ini. Ya! Kenapa aku bisa seperti ini? Jinjja! Aku benar-benar tidak sadar. Bodoh sekali kau, Hwang Jihwa! Bahkan, sunbae bodoh ini juga melihat ke arahku dengan tatapan…….bingung. Tapi, ku akui aku sedikit kesal saat pelayan ini tidak berhenti melihat ke arah sunbae bodoh ini.

“Ah, joesonghamnida aghassi.” Pelayan itu tersadar dari lamunannya dan langsung membungkukkan badannya.

“Bisa ulangi pesanan anda?” ucap pelayan ini kepada sunbae yang sedang berada di depanku sambil tersenyum.

“Biar aku saja yang berbicara.” Potongku sebelum Jungkook sunbae mengucapkan kembali pesanan kami. Kulihat, Jungkook sunbae sedang menatapku dengan tatapan bingung. Sama seperti tadi.

“Saya pesan dua caramel macchiato. Sudah dengar, aghassi?”

“Sudah. Silahkan tunggu pesanan anda.”

“Ah, aghassi, laki-laki di depan anda sangat tampan. Apakah kalian sepasang kekasih?” tiba-tiba saja pelayan yang sangat menyebalkan itu bertanya kepadaku.

“Bisakah kau melanjutkan pekerjaanmu saja? Dan dia bukan namjachinguku! Kau berminat dengannya? SILAHKAN! KAU AMBIL SAJA!” ucapku dengan kesal. Tanpa sadar aku berteriak sehingga pengunjung di cafe ini tidak sedikit yang melihat ke arahku. Peduli setan dengan mereka!

“Benarkah? Ah, khamsahamnida aghassi!” ucap pelayan itu dengan senang dan mengeluarkan aegyo nya yang menurutku sangat menjijikan! Tidak imut sama sekali.

“Tapi apakah dia mau denganmu?” ucapku kepada pelayan itu sambil tersenyum kecil.

“Tentu saja mau!” ucap pelayan ini dengan percaya diri.

Sunbae, kau mau dengannya?” tanyaku dengan kesal kepada sunbae bodoh ini.

Ne? Ah.. ti..tidak.” jawab sunbae bodoh ini dengan tampang bingung. Bagus!

“Kau dengar aghassi? Silahkan lanjutkan pekerjaanmu dan antarkan pesanan kami.” Ucapku kepada pelayan itu.

Jinjja, hatiku sangat sakit mendengarnya.” Ucap pelayan sambil berpura-pura menangis dan pergi meninggalkan kami.

“Pelayan gila.” Ucapku pelan.

“Kau cemburu?” tiba-tiba sunbae bodoh ini berbicara. Apa katanya? Cemburu? Ya!

“Ya! Untuk apa aku cemburu?”

“Jujur saja padaku.” Ucapnya sambil tersenyum ke arahku.

“Terserah.” Ucapku kesal.

“Ternyata perempuan dingin sepertimu jika sedang cemburu lucu juga.” ucapnya sambil tersenyum ke arahku. Sial, kenapa senyumannya manis sekali?

“Berhentilah menggodaku.”

Eonnie? Jungkook oppa?” tiba-tiba saja ada yang memanggil kami. Jira? Suga sunbae? Mereka juga disini?

Hyung? Jira? Kalian juga disini?” ucap Jungkook sunbae. Suga sunbae hanya menganggukan kepalanya. Omo! Jantungku mulai berdetak lebih cepat dan aku meras gugup sekarang. Ini pasti karna ada Suga sunbae. Aish, kendalikan dirimu, Hwang Jihwa.

Eonnie, kenapa kalian bisa bersama?” tanya Jira kepadaku.

“Kami tidak senga—-“

“Kami sedang berkencan.” Ucapanku dipotong oleh Jungkook sunbae. Mwo?! Berkencan?! Apa maksudnya?!

“Kalian… sudah jadian?! Aish! Eonnie, kenapa kau tidak bilang padaku? Omo! Akhirnya eonnieku yang satu ini mempunyai namjachingu. Senang sekali rasanya~” Jira berkata dengan sangat senang. Aku tidak tau harus berbicara apa lagi.

“Ya, kau benar, Jira.” Ucap Jungkook sunbae. Bagaimana bisa dari sahabat menjadi pacar? Apakah sunbae bodoh ini sudah gila?!

“Bagaimana kalau kita double date saja?!” usul Jungkook sunbae tiba-tiba. Ya! Sekarang apa lagi? Apakah dia sengaja?

“Ide bagus! Ah, oppa, ayo kita bergabung dengan mereka. Sepertinya akan menyenangkan!” ucap Jira sambil menarik tangan Suga sunbae. Akhirnya, Suga sunbae duduk disebelah Jungkook sunbae dan Jira duduk disampingku. Mimpi apa aku tadi malam?!

“Baiklah, kapan kalian jadian?” tanya Jira dengan semangat.

“Kemarin.” Jawab Jungkook sunbae. Sunbae bodoh! Apa yang sedang Ia rencanakan sekarang? Dia membuatku bingung ditambah lagi aku sedang gugup karna ada Suga sunbae disini. Aish!

To Be Continue…

Eottokhae? Gimana kelanjutan ceritanya? Mian agak lama ngelanjutinnya. Hm, di ending, author sengaja ga bikin penasaran gitu deh(?) hahaha. Mian kalau masih banyak typo, ga seru, aneh, mainstream. Yang penting ini emang bener-bener hasil dari pemikiran author. Haha.

Okelah, ditunggu next nya ya. No silent readers pleaseJ

THANKS FOR READING!

About fanfictionside

just me

7 thoughts on “FF/ CARAMEL MACCHIATO/ BTS-BANGTAN/ pt. 2

  1. Di chap ini knpa Suga gk ada dialog’a ya ?? *duh tapi makin seru .. Next thor jngn lama2 ya ntr aku lupa lagi jalan ceritanya😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s