FF/ SKOOL LUV AFFAIR/ BTS-BANGTAN/ pt. 1


Tittle            : SKOOL LUV AFFAIR (PART 1)

Author         : bangtaeseok (Author Freelance)

Genre         : Romance, School-life, Friendship

Length         : Chapter

Rated           : T

Main Cast   :

  • Kim Namjoon – Kim Yujeong
  • Kim Seokjin – Jung Soyeon
  • Min Yoongi – Bae Jinye
  • Jung Hoseok – Yeon Haein
  • Park Jimin – Kim Yulhee
  • Kim Taehyung – Ahn Solbin
  • Jeon Jungkook

 

Backsound  : La li:lalala by Laboum

                       Embarrased (Blanket Kick) by BTS

COVER (2)

 

Disclaimer   : Ide cerita pasaran tapi ini murni hasil karya author sendiri. Untuk cast yeoja author sengaja pilih member girlband biar bisa kebayang bentuk mukanya kyk apa (?). Buat yang gak suka sama cast yeojanya silahkan kalian ganti sesukanya asal gak copas dan buat yang gak tau cast yeojanya itu dari girlband mana kalian bisa cari digoogle dengan keyword ‘LABOUM’ :3 (promosi haha!). Karna tema ff ini berbau sekolah jadi beberapa cast akan dibuat OOC. Oh ya, disini mungkin akan bertebaran kalimat typo dan berhubung ini karya pertama author jadi mohon dimaklumi jika pengolahan kata-katanya agak sedikit ‘absurd’ HAHA! HAPPY READING!

                    

PART 1 // LUV IN SKOOL // SKOOL LUV AFFAIR

 

 

Monday, 1st March

“Yak! Kau tak tau sekarang jam berapa?”

“Hmmm…”

“Ibu menyerah. Jangan salahkan aku kalau kau tidak dibukakan pintu pada hari pertama sekolah.”

Bukannya bergegas untuk bangun, Yulhee malah mempererat pelukannya pada guling. Drama yang ia tonton semalam membuatnya harus begadang tanpa peduli bahwa hari ini adalah hari pertamanya berada dibangku SMA. Tapi ibunya tak bisa membiarkan gadis itu terus terlelap. Sedikit kesal ia mengambil jam weker yang berada tak jauh dari tempat tidur dan membunyikan alarmnya. Diletakannya jam itu tepat didepan wajah Yulhee dan benar saja, gadis itu langsung melebarkan matanya saat melihat angka yang ditunjuk oleh jarum panjang itu menunjuk pada angka 7.

“Ibu! Harusnya ibu lakukan ini padaku sejak tadi!”

“Dan kau juga harusnya membuka matamu sejak tadi.”

“Aisssh!”

Solbin menatap keluar dengan tatapan kosong. Sekolah baru tak cukup untuk membuatnya merasa senang. Selama orang-orang berbadan besar itu terus mengawasinya, tak ada alasan baginya untuk tersenyum.

“Bisakah kalian pergi?”

“Maaf nona, kami tidak bisa pergi sebelum jam pertama dimulai.”

Solbin menghembuskan nafasnya kasar. Ia benar-benar lelah dengan semua ini. Terlalu pagi untuk diawasi ditambah hari ini adalah hari pertamanya masuk sekolah menengah atas. Kesan apa lagi yang akan dibuat oleh orang-orang yang melihatnya? Kagum karna diusianya yang masih muda tetapi sudah dikelilingi oleh para bodyguard atau prihatin karna ruang geraknya yang tidak bebas?

BRAK~!

Perhatian seisi kelas yang awalnya tertuju pada Solbin dan bodyguardnya langsung beralih pada seseorang yang baru saja membuka pintu dengan kencangnya. Pria tinggi itu masuk dengan santainya seakan tak peduli dengan reaksi yang ditunjukan oleh beberapa murid dikelas.

“Mwoya? Siapa kalian? Apa tahun ini murid-murid diperkenankan memakai tuxedo?” Tanyanya saat mendapati tiga pria berbadan kekar dengan seragam tuxedo rapih berdiri disekitar Solbin. Suasana tampak hening karna tak ada satupun didalam kelas yang menjawab pertanyaan pria itu. Solbin sendiri hanya diam tak mau mengakui keberadaan bodyguardnya.

“Apa bangku ini kosong? Baiklah aku akan duduk disini.” Solbin menatap pria yang kini duduk disampingnya tak percaya. Solbin yakin sudah 20 menit sejak ia memutuskan untuk duduk dibangku ini dan ia tau tidak akan ada yang berani untuk duduk disampingnya. Bukan karna tempatnya berada paling belakang tapi orang-orang berbadan besar inilah yang membuat siapapun harus berpikir dua kali sebelum ingin duduk disini.

“Kenapa? Apa aku tidak boleh duduk disini?” Tanya pria itu heran melihat Solbin yang jelas sedang menatapnya.

“Ada dua bangku kosong didepan sana. Jika kau mau kau bisa kesana.”

“Kenapa aku harus duduk disana jika ada bangku kosong disini. Lagipula aku tidak suka mendapat perhatian lebih dari guru. Kau bisa lihat kan dari wajah ku ini kalau aku sama sekali tidak terlihat pintar.” Solbin hanya membalas ucapannya dengan tawa mengejek. Mungkin pria itu akan berbangga diri jika tau kalau ia adalah orang pertama yang berani melakukan hal ini.

“Ah ya, ada baiknya aku memperkenalkan diri pada teman sebangku ku. Jeon Jungkook. Kau bisa memanggilku Jungkook.”

“JIMINIE!!!” Jimin menghela nafasnya saat mendengar suara itu dari pintu masuk kelas. Tak lama setelah itu, sosok Haein sudah berada dihadapannya dan mencubit pipi pria itu dengan gemas.

“Gyaaaa~ tidak bisa dipercaya kalau aku sekelas lagi dengan mu.”

“Yak! Yak! berhentilah mencubit pipiku! Aku bukan lagi bocah 8 tahun yang kau kenal.”

“Aku tau. Tapi bagiku, kau yang dulu tak jauh berbeda dengan kau yang sekarang.”

“Ya ya terserah kau.”

Bagaimana pun menyebalkannya Haein, Jimin tak bisa membencinya. Walaupun Haein sering memperlakukannya seperti anak kecil tak membuatnya lelah berada disamping gadis itu. Gadis yang sudah mengganggu kehidupannya sejak 10 tahun lalu, tetangganya, teman masa kecilnya, seseorang yang menjadi cinta pertamanya, Yeon Haein.

“Apa kau sudah sarapan? Aku membawa daging asap kesukaanmu.”

“Bagaimana bisa kau menanyakan hal itu padaku? Kau membawa ku ketempat ini pagi-pagi buta dan jelas sekali aku belum menyentuh sarapan ku.”

“Hehe…aku lupa, baiklah ayo kita makan. masih ada sepuluh menit lagi sebelum jam pertama dimulai.” dengan sigap Haein menyiapkan kotak bekalnya. Paket lengkap daging asap dengan sedikit wijen juga saus bulgogi. Tak heran jika Jimin langsung tergiur dengan makanan yang kini berada dimejanya. Gadis itu benar-benar pandai memasak. Baginya, tak ada makanan seenak masakan ibunya dan juga Haein.

“Baiklah, mari makan.”

“Habiskan itu semua dan aku akan membuatkannya lagi lain kali.”

“Hmm.”

Haein terus tersenyum sembari melihat Jimin yang tampak lahap menyantap bekal buatannya. Tidak sia-sia ia bangun pagi hanya untuk mempersiapkan itu semua. Tapi fokusnya yang semula pada Jimin beralih pada seseorang yang baru saja melewati kelasnya.

“Yak! Jimin-ah! Apa kau lihat siapa yang baru saja lewat?”

“Kau kan tau kalau aku daritadi hanya sibuk pada makanan ini. Memangnya siapa?”

“Min Yoongi, senior kita yang sekarang duduk dikelas 3. Aigo~ sepertinya naik kelas membuatnya terlihat lebih keren dari sebelumnya.”

BRAK~!

Haein bingung melihat Jimin yang tiba-tiba saja menutup kotak bekalnya padahal ia yakin kalau makanan itu belum semuanya dihabiskan.

“Eoh? Kau sudah selesai? Kenapa tidak kau habiskan semuanya? Apa kau tidak suka?”

“Menurutmu? Sepertinya naik kelas membuat kemampuan memasakmu berkurang.”

“Mwo? Jelas-jelas tadi aku melihatmu memakannya dengan sangat lahap.”

“Aku hanya kelaparan.”

“Heol~ kau ini benar-benar menyebalkan.” Jimin memilih diam tak mau membalas perkataan Haein. Apa yang tadi diucapkan gadis itu benar-benar membuatnya kehilangan nafsu makan.

 

‘Min Yoongi, Min Yoongi, Min Yoongi, apa hanya pria itu yang memenuhi pikiran mu, Haein-ah?’

Hari pertama libur semester akhir. Yujeong tau harusnya ia bisa datang lebih pagi. Ia memang bukan salah seorang yang akan mengisi kursi kosong kelas 1. Jelas ia senior yang membutuhkan kelas baru tahun ini. Sekarang ia hanya bisa menghela nafasnya melihat keadaan koridor tempat dimana papan pengumuman kelas baru bagi senior berada. Penuh sesak murid-murid kelas 2 dan 3 yang ingin melihat kelas baru.

“Apa perlu aku yang mencari tau kelas mu?” Yujeong tau siapa pria pemilik suara yang kini berada dibelakangnya. Dengan malas ia membalikan badannya dan ia menyesal telah melakukan hal itu.

“Annyeong Yujeong-ssi. Tampaknya liburan kali ini tak membuatmu bertambah tinggi.” Ucap Jin sembari tersenyum tanpa merasa bersalah dengan kalimat yang barusan ia lontarkan. Yujeong berusaha menahan diri agar tidak segera memukul pria itu. Terlalu berbahaya untuknya mengingat hampir seluruh gadis yang ada disini menyukai Jin. Tidak bisa dipercaya, pria menyebalkan seperti Kim Seokjin mempunyai penggemar yang sangat banyak. Memang ia tampan dan terampil dalam banyak hal, tapi tingkat kepercayaan diri pria itu membuat segala hal yang positif terlihat negatif dimata Yujeong.

’Ah Kim Seokjin, kenapa kau begitu tampan?’ Pasti kalimat-kalimat itu yang sekarang memenuhi pikiran mu, aku tau itu.”

“Berhentilah beromong kosong. Kalau aku mereka mungkin saja iya, tapi maaf aku bukan salah satu dari mereka jadi, tutup mulutmu atau aku akan benar-benar meninju wajah tampan mu.” Entah sejak kapan tempat mereka berdiri kini sudah dikelilingi oleh beberapa siswi. Diantaranya ada yang sibuk memuji ketampanan Jin dan sisanya mengolok-ngolok Yujeong. Sebenarnya ini adalah hal yang biasa bagi Yujeong. Sudah setahun lebih sosok Kim Seokjin menghantui kehidupannya dan dalam waktu itu pula para penggemar pria itu terus membully dirinya. Awalnya ia cukup terganggu tapi akhirnya Yujeong tak mau ambil pusing.

“Aigo, kau tau? Sikapmu benar-benar tidak cocok dengan wajahmu.”

“Memangnya aku peduli.” Tak ingin mendengar celotahan yang lebih banyak dari Jin, Yujeong memutuskan untuk meninggalkan tempat ia berdiri. Tapi apa yang dikatakan Jin selanjutnya membuat Yujeong reflek menghentikan langkahnya.

“3A. aku tidak menyangka kau dan aku akan menjadi temen sekelas kembali.”

“MWO?!”

“Sampai kapan kau akan terus berdiri disini, eoh?”

“Kau bisa pergi duluan kalau kau mau. Lagipula kau sudah tau kan dimana letak kelas barumu?”

Jinye mendengus kesal menanggapi ucapan Hoseok. 15 menit sudah mereka berdiri dilobby utama sekolah dan Jinye tetap tidak tau apa alasan Hoseok melakukan ini. Mungkin lebih dari 15 menit karna sebelumnya Jinye sempat meninggalkan pria itu untuk melihat kelas barunya. Gadis itu cukup bersyukur mengetahui bahwa ia satu kelas lagi dengan Hoseok. Dan itu artinya pria itu masih berada dalam jangkauannya.

“Itu dia.” Jinye mengerutkan alisnya mendengar kata-kata yang baru saja diucapkan Hoseok. Sosok yang baru saja muncul kemudian membuat Jinye sadar kenapa pria itu rela berdiri menunggu ditempat ini untuk waktu yang cukup lama.

“Annyeong Soyeon-ssi” sapa Hoseok sembari tersenyum pada gadis yang saat ini tepat berada dihadapannya.

“Eoh? Annyeong.”

“Lama tak jumpa. Bagaimana dengan liburanmu?”

“Menyenangkan. Kau sendiri?”

“Sama halnya denganmu.” Jinye menatap Hoseok tak percaya. Ia tau betul bahwa Hoseok saat ini benar-benar berbeda dengan Hoseok yang ia kenal. Tampak ramah dan dibuat-buat. Harusnya ia tau itu. Jung Soyeon lah penyebab semua. Liburan kemarin membuatnya lupa kalau ada seseorang yang mengisi pikiran sahabatnya itu belakangan ini. Gadis manis dengan rambut coklat bergelombang dihadapannya lah yang dimaksud.

“Kau sudah tau dimana kelas barumu?”

“Belum, bagaimana aku tau kalau aku saja baru menginjakan kaki ditempat ini.”

“Hahahaha kau benar. Baiklah, ayo pergi. Kebetulan aku juga belum tau dimana kelas baru ku.” Mendengar itu tentu saja membuat Jinye membulatkan kedua matanya.

“Yak! Yang benar saja! Kau sekelas….mmmm!” ucapan Jinye terhenti begitu Hoseok membungkam mulut gadis itu dengan lengannya. Jelas Hoseok melakukan itu karna tidak ingin Jinye merusak rencananya untuk berkeliling sekolah dengan gadis yang ia suka. Terlalu kesal dengan apa yang dilakukan oleh Hoseok, Jinye pun menggigit lengan sahabatnya itu.

“ARRGGH! YAK! APA YANG KAU LAKUKAN?!”

“Ah sepertinya aku harus ke kelas baru-ku lebih dulu dan sebaiknya kalian berdua cepat mencari tau kelas kalian karna sebentar lagi jam pertama dimulai. Aku permisi.” Tanpa peduli dengan ekspresi terkejut yang ditampakan oleh wajah Soyeon, Jinye melangkahkan kakinya pergi. Harusnya Jinye tidak disana sejak awal. Ia benar-benar kesal mengetahui pria yang sudah 3 tahun ia sukai, menyukai orang lain.

“Aku tak tau apa yang sedang kalian pikirkan. Kalian murid baru dan kesan yang cukup buruk untuk hari pertama kalian masuk sekolah. Apa dirumah kalian tak ada benda yang disebut jam, hah? Kalian tau kapan jam pertama dimulai?”

“MAAFKAN KAMI.”

“20 putaran. aku akan mengawasi kalian.”

“BAIK!”

Yulhee tak henti-hentinya merutuki diri sendiri. Rasanya ia tak akan mau menonton ‘Shut Up Flower Boyband’ untuk kedua kalinya. Persetan dengan Sungjoon dan Myungsoo yang jelas ia tidak ingin terlambat lagi. Mimpi apa semalam sampai ia harus menerima hukuman dihari pertama masuk sekolah? 20 putaran dilapangan seluas ini? Benar-benar gila.

“Jika kalian berani melaporkan diri sebelum memutari lapangan ini sebanyak 20 kali, aku tidak akan segan menambah hukuman kalian, mengerti?”

“KAMI MENGERTI!” Yulhee bersyukur karna ia tidak dihukum sendirian. Paling tidak ada lima murid disini yang mengalami nasib serupa. Tapi tetap saja, apakah ada hal yang lebih buruk selain dihukum seperti ini?

“AISSH! KAU LAGI? SAMPAI KAPAN KAU AKAN TERUS TERLAMBAT SEPERTI INI?” Yulhee dan beberapa murid lainnya menghentikan kaki-kaki mereka begitu mendengar teriakan songsaengnim. Mata mereka langsung tertuju pada seseorang yang baru saja masuk ke lingkungan sekolah. Seorang pria dengan rambut hazelnut itulah yang mungkin menjadi alasan kenapa songsaengnim berteriak sekencang itu. Melihat tampang pria itu yang tampak tak peduli jelas sekali kalau ia sudah terbiasa dengan hal ini.

“Aigo, Gong-songsaengnim kenapa kau galak sekali? Jam dirumah ku mati jadi aku tidak tau waktu yang tepat untuk berangkat ke tempat ini.”

“YAK! KIM TAEHYUNG! BAGAIMANA BISA KAU MENGATAKAN HAL SEPERTI ITU PADA KU, EOH?”

“Aku mengerti, aku mengerti. 20 putaran bukan? Akan ku kerjakan songsaengnim.”

“YAAAK!” Yulhee dan yang lainnya menatap pria itu dengan mulut ternganga. Mereka mungkin kagum sekaligus takut pada apa yang baru saja dilakukan oleh Taehyung. Siapa dia sampai-sampai berani melakukan hal seperti itu pada seseorang yang mungkin paling ditakuti disekolah ini? Yang jelas dari kharisma yang ada di pria itu, mungkin ia sama menakutkannya dengan Gong-songsaengnim.

“Hei~ kenapa kalian menatap ku seperti itu? sebaiknya kalian melanjutkan kembali hukumannya kalau tidak ingin membersikan toilet sekolah ini.” Mendengar itu membuat semua yang semula mengalihkan perhatian pada Taehyung kembali berlari memutari lapangan.

Solbin berusaha fokus pada apa yang sedang diterangkan oleh songsaengnim. Tapi wajah tertidur pria itu benar-benar membuatnya sulit untuk berkonsetrasi. Disaat semuanya sedang sibuk dengan pensil dan buku, mencatat beberapa poin penting yang tengah dijelaskan, Jungkook malah menyandarkan kepalanya pada meja dan tertidur dengan pulasnya. Memang benar apa yang dikatakan sebelumnya jika ia tidak suka mendapat perhatian lebih dari guru. Karna itu ia memilih duduk dikursi paling belakang tepat disamping Solbin.

“Ck! Bagaimana bisa kau tertidur disaat seorang songsaengnim sedang menjelaskan?”

Entah sejak kapan Solbin mulai mengalihkan pandangannya pada pria itu. Ia baru sadar jika teman sebangkunya ini memiliki wajah imut dan tampan bersamaan. Walaupun pria itu terlihat polos saat berbicara, Solbin yakin Jungkook bukanlah seseorang yang mudah untuk dihadapi.

“Sebaiknya kau memperhatikan apa yang sedang diterangkan nona.” Solbin terkejut melihat Jungkook yang tiba-tiba saja membuka matanya. Reflek ia menjadi salah tingkah tak bisa menyembunyikan rasa malunya.

“Apa wajahku terlihat tampan karna itu kau betah untuk berlama-lama menatapnya?”

“Bu-bukan seperti itu. Aku heran kenapa kau bisa dengan santainya tertidur dijam pelajaran.”

“Tidak perlu heran. Aku sudah melakukannya sejak duduk dibangku SMP.”

“Kalau begitu untuk apa kau pergi sekolah jika yang kau lakukan disini hanyalah tidur?”

“Aku hanya melakukan apa yang harus dilakukan.”

“Mworago? Benar-benar konyol.”

“Kau sendiri bukankah tidak jauh berbeda dengan ku? Kau pergi sekolah hanya untuk memandangi pria tampan yang sedang tertidur.”

“YAK!”

“Ahn Solbin! Jeon Jungkook! Apa yang sedang kalian bicarakan!” Teriakan Solbin ternyata menghentikan penjelasan yang sedang diberikan oleh songsaengnim. Solbin akhirnya hanya bisa menahan kesalnya tak ingin memperburuk suasana sedangkan Jungkook tanpa peduli dengan apa yang barusan terjadi melanjutkan tidurnya.

Yulhee mengacak rambutnya kesal. Ia tidak menyangka hari pertamanya masuk akan seburuk ini. Dimulai dari mengelilingi lapangan dan sekarang membawa sebuah kardus besar ke gudang yang entah dimana letaknya. Ia tak henti-hentinya bertanya kenapa ibunya bisa mendaftarkannya ke sekolah dimana guru-gurunya hanya bisa menghukum dan menyuruh seorang siswi yang bahkan tak tau menau mengenai seluk beluk tempat ini. Rasanya masa-masa SMAnya akan menjadi masa-masa tersulit dalam hidupnya.

“Kelas, kelas, kelas, apa hanya ada kelas disekolah ini?” Yulhee yakin ia sudah mengecek satu-satu lantai yang ada dan tetap tak menemukan gudang sekolah. Bahkan sejak tadi ia berkeliling ia tidak melihat adanya toilet siswa. Apa ada yang salah dengan matanya atau memang benar-benar hanya ada kelas ditempat ini?

“Maaf permisi, apa kau tau dimana letak gudang sekolah?”

“Kau tak tau? Ah, kau pasti murid kelas 1. Tepat diujung sana, ruangan dengan pintu kayu itu adalah gudang.” Yulhee menghela nafasnya lega. Bodohnya ia tak bertanya sejak awal. Dengan cepat ia melangkahkan kakinya menuju ruangan yang tadi dimaksud dan akhirnya ia menemukannya.

“Haruskah aku melakukan selebrasi? Sepertinya membuang waktu.” Perlahan Yulhee membuka pintu ruangan itu dan mencoba masuk kedalam. Nyaris saja ia melempar kardus besar yang ia bawa saat ia mendapati seseorang sedang berbaring pada sofa (jelas sofa yang sudah tak dipakai oleh sekolah) sembari membaca komik.

“Gyaaa! Siapa kau?!” yang ditanya seperti tak menyadari kehadiran Yulhee dan terus asik dengan komiknya. Melihat itu wajar saja membuat Yulhee sedikit takut. Tempat ini benar-benar tertutup, dipenuhi debu dan barang tak terpakai, cahaya yang ada juga hanya berasal dari sebuah jendela, tentu saja tak akan ada orang yang betah berlama-lama disini kecuali …

“Aku bukan hantu.” Ucap pria itu seakan mengetahui apa yang sedang dipikirkan Yulhee.

“Ah..ne? ten..tentu saja kau bukan. Ha..hahahaha.” Meskipun mendengar pernyataan seperti itu tetap saja Yulhee merasa takut. Tak mau berlama-lama disana, ia pun segera meletakan kardus besar yang ia bawa ke ujung ruangan. Tapi tiba-tiba ia teringat sesuatu. Wajah pria itu terlihat familiar baginya.

“Bukankah kau yang dihukum karna terlambat tadi?”

“Eoh.”

“Kebetulan, tadi aku juga dihukum karna itu aku tau.”

“Benarkah? Maaf aku tidak mengingatmu.” Yulhee agak kesal melihat betapa tidak pedulinya pria itu padanya. Bukannya ingin diperhatikan, Ia tau kalau pria itu sedang sibuk dengan pekerjaannya (membaca komik), hanya saja tidak menatap lawan bicara saat mengobrol, bukankah itu tidak sopan?

“Maaf mengganggu mu. Aku permisi.”

“Ya, tidak masalah.” Yulhee mulai geram. Dengan sengaja ia menghentakan kakinya keluar dan menutup pintu gudang itu dengan kerasanya.

“Aisssh! Apa tempat ini hanya dipenuhi oleh orang-orang menyebalkan?”

Melihat kantin yang tampak begitu ramai membuat Yujeong mengurungkan niatnya untuk makan siang. Tapi belum jauh ia melangkah pergi, seseorang menariknya hingga ia akhirnya duduk disebuah kursi. Matanya membulat melihat siapa pelakunya.

“Kau pikir apa yang baru saja kau lakukan, hah?”

“Hanya ingin mengajakmu untuk makan bersama.” Yujeong menatap sinis Jin sedangkan yang ditatap malah membalasnya dengan senyum.

“Apa kau tak bisa sehari saja untuk tidak menggangguku?”

“Aku tidak tau tapi akan ku pikirkan jawabannya.”

“Yak!” Yujeong menghela nafasnya berat, tak tau apa yang sebenernya diinginkan oleh Jin. Dan suasana semakin tidak menyenangkan karna ditempatnya duduk kini dikelilingi oleh beberapa ‘penggemar’ dari pria itu.

“Baiklah, karna ini kantin dan kau sudah duduk disini, kenapa kita tidak memesan makanan?”

“Apa kau benar-benar ingin membunuhku, Kim Seokjin-ssi?”

“Tidak. Memangnya pertanyaanku tadi seperti seseorang yang akan membunuh?” tak berniat menjawabnya dengan kalimat, Yujeong mengalihkan pandangan tajamnya pada beberapa gadis disekeliling Jin.

“Ah, kau terganggu dengan mereka?”

“Menurutmu?”

“Baiklah..baiklah..” Yujeong tak habis pikir dengan apa yang dilakukan Jin selanjutnya. Pria itu berdiri dari kursinya dan meminta gadis-gadis itu untuk meninggalkannya berdua saja.

“Lihat, mereka sudah pergi. Ayo kita pesan makanan.”

“Kau gila. Kau benar-benar ingin membunuhku.”

“Apa yang salah? Aku sudah mengusir mereka dan lagipula..”

“KAU INI BODOH ATAU APA? KAU TAU? KAU BENAR-BENAR MEMBUATKU BERADA DALAM MASALAH! APA YANG SEBENARNYA KAU INGINKAN, HAH?” Yujeong tak peduli jika saat ini banyak murid yang menatapnya. Ia sudah tak tahan dengan sikap Jin padanya. Masa bodo dengan reputasi juga para penggemar dari pria itu, yang jelas saat ini Jin sukses membuatnya kesal.

“Maaf sudah meneriakimu. Aku minta kau untuk tidak mengganggu ku lagi.” Tanpa menunggu kata-kata dari Jin, Yujeong pun beranjak dari kursinya meninggalkan tempat itu. Tapi kalimat yang baru saja Jin teriakan membuat Yujeong yakin, akan sangat sulit terlepas dari sosok Kim Seokjin.

“AKU TIDAK AKAN MELAKUKANNYA.”

Jam menunjuk pukul 11, tapi teriknya matahari tak membuat Yoongi menghentikan kegiatan mendribbling-nya. Sebenarnya ia sendiri tau sekarang bukan saat yang tepat untuk bermain basket, hanya saja lapangan ini lebih menarik perhatiannya dibanding dengan laboratorium bahasa. Lagipula, kapan lagi ia bisa bermain sebebas ini? Berharap lapangan kosong saat jam istirahat benar-benar tidak mungkin baginya.

3 kali, 4 kali, 5 kali. Semua shot yang Yoongi lakukan berhasil mencetak angka. Tak heran karna ia adalah seorang kapten tim basket sekolah. Walaupun sebentar lagi Yoongi harus menyerahkan jabatannya karna status murid kelas 3 yang ia punya, tapi itu tak cukup untuk membuatnya berhenti bermain basket.

Sudah 10 menit berlalu dan Yoongi mulai lelah dengan aktifitas yang telah ia lakukan. Ia merebahkan dirinya ditengah lapangan, membiarkan matahari membakar kulit putihnya. Tapi belum lama Yoongi berbaring disana, seseorang menghalangi cahaya yang terarah padanya.

“Ada apa?” Tanya pria berambut cokelat gelap itu seolah tau siapa yang telah melakukannya.

“Tidak ada, kebetulan aku lewat dan melihatmu sedang berbaring disini jadi..”

“Bukankah kau sudah berada disini sejak 20 menit yang lalu?”

“Be..benarkah?”

“Aku tau kau, Jung Soyeon.”

“Baiklah aku tertangkap basah.” Yoongi bangun dari posisinya semula lalu berjalan kearah bangku yang berada diujung lapangan diikuti oleh Soyeon. Keduanya duduk disana dan tak ada yang memulai percakapan sampai akhirnya mata Yoongi tertuju pada sebuah kotak bekal yang dibawa oleh Soyeon.

“Apa itu untukku?”

“Ah ya, tentu. Aku sengaja membuat dua bekal hari ini. semoga kau menyukainya.” Ucap Soyeon sembari memberikan kotak bekal berwarna biru itu pada Yoongi. Tak perlu menunggu lama, Yoongi pun langsung membukanya dan mendapati makanan kesukaannya terpampang disana. Bibimbap dengan saus pedas gochujang.

“Kau yakin tidak memasukan sesuatu yang aneh kedalam makanan ini?”

“Y..yak!”

“Aku bercanda. Baiklah aku akan mencicipnya.” Suapan pertama yang masuk ke mulut Yoongi benar-benar membuat Soyeon merasa gugup. Memang ini bukan pertama kalinya ia membuat bekal untuk pria itu tapi sesuatu yang menyangkut Min Yoongi pasti membuatnya berdebar-debar.

“B..bagaimana?”

“Tidak buruk.” Soyeon tersenyum lega. Walaupun pria itu tidak berkomentar lebih tentang masakannya, setidaknya ia tau kalau Yoongi menyukainya. Tak bisa menyembunyikan rasa senangnya, Soyeon terus saja menatap pria itu dengan senyum yang mengembang diwajahnya.

“Bagaimana dengan kelas baru mu?” Tanya Yoongi yang kembali membuka percakapan ditengah-tengah makan siangnya.

“Lebih ramai dibandingkan dengan dulu dikelas 1.”

“Benarkah?”

“Begitulah.”

“Apa ada pria tampan dikelas yang menarik perhatianmu?”

“Tentu saja…m..mwo?” Soyeon terkejut dengan apa yang baru saja ditanyakan oleh Yoongi, sedangkan Yoongi sendiri tetap asik menyantap makanannya tak menghiraukan ekspresi yang ditunjukan Soyeon.

“Tidak perlu terkejut, aku hanya bertanya.”

“Ma..maaf.” Soyeon menghela nafasnya. Ada sedikit rasa kecawa yang muncul saat mendengar pernyataan Yoongi tadi. Benar, untuk apa terkejut. Memangnya jika seseorang menanyakan hal seperti itu menandakan kalau ia menyukaimu? Kau bodoh, Jung Soyeon.

“Baiklah, terima kasih untuk makanannya.” Ucapan Yoongi membuyarkan lamunan Soyeon.

“kau menghabiskannya?”

“Tentu.” Dikembalikannya kotak bekal itu pada Soyeon dan apa yang dikatakan Yoongi memang benar, tak ada sisa-sisa makanan disana.

“Sepertinya aku harus kembali dan kau juga, mengintipku bermain disini, tidak mungkin jika kau tak membolos kelas.” Mendengar itu Soyeon hanya bisa mengusap tengkuknya malu.

“Sampai jumpa.” Yoongi pun berlalu dari hadapan Soyeon. Tapi belum 500m jarak yang dibuat, pria itu menoleh ke belakang, mengatakan sesuatu yang tak pernah Soyeon pikirkan sebelumnya.

“Aku harap kau bisa membuatkan ku bekal lagi.”

“N..ne? Tentu! Tentu saja!”

Wednesday, 13th March

 

 

You might’ve seen her on every cover

Of every magazine but can’t nobody get her but me

Uh-oh, there she go, uh-oh, there she go

Uh-oh, there she go, can’t nobody get her but me*)

 

*)Chris Brown – Picture Perfect

 

Nafas hoseok yang terengah-engah mengakhiri latihan yang ia lakukan sore itu. Ia menyenderkan tubuhnya pada dinding kaca yang ada dihadapannya. Belum ada dua minggu setelah dimulainya semester pertama tapi pentas seni yang akan diadakan akhir maret nanti membuatnya harus berlatih. Nama Jung Hoseok mungkin sudah tidak asing bagi para murid yang mengikuti kegiatan seni disekolahnya. Ia seorang street dancer yang selalu membawa nama baik sekolah sejak duduk dikelas 1. Walaupun penampilannya dipentas seni bukan untuk mengharumkan nama sekolah, tapi ia tetap ingin menampilkan yang terbaik.

“Kemana saja kau?” Tanya Hoseok begitu mendengar pintu ruangan terbuka. Dengan lemas Jimin menyeret kakinya masuk dan kemudian membaringkan tubuhnya pada sofa yang terletak disamping pintu.

“Mengantar Haein pulang.”

“Mwo? Kau pikir gadis itu seorang bocah? Kau kan tau kalau hari ini ada jadwal latihan.”

“Aku tau. Aku hanya merasa harus melakukannya.” Hoseok hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala mendengar alasan Jimin yang terdengar berlebihan.

“AKU DATANG!” sapa Jinye yang baru saja datang dengan dua kantong besar berisi makanan ditangannya.

“Kau tepat waktu. Aku benar-benar lapar sekarang.” Ucap Hoseok yang langsung menghampiri gadis itu, membantunya.

“Aissh kau menyuruhku datang disaat aku benar-benar sedang sibuk.” Protes Jinye.

“Hei~ memangnya ada yang lebih penting daripada sahabatmu ini?” Mendengar pertanyaan seperti itu membuat Jimin tak henti-hentinya mencibir Hoseok.

“Baiklah, tugasku sudah selesai.” Hoseok mengerutkan kedua alisnya melihat Jinye yang tiba-tiba saja bersiap untuk pulang.

“Mau kemana kau? Bahkan kau belum melihat ku latihan.”

“Aku sudah membawakan apa yang kau minta dan kau juga sudah menerimanya. Ada banyak tugas yang harus ku kerjakan. Apa kau lupa dengan tugas kelompok yang diberikan oleh Nam songsaengnim?” Hoseok berusaha mengingat apa tugas yang dimaksud oleh Jinye dan ia langsung menepuk dahinya begitu ia berhasil mengingatnya.

“Mwoya? Kenapa harus ada tugas seperti itu? Dan kau bilang tadi apa? Kelompok? Baiklah aku satu kelompok dengan mu.”

“Maaf aku sudah punya kelompok.”

“Yak! Siapa? Kenapa kau tidak satu kelompok saja dengan ku, hah?”

“Aku pikir kau sudah punya kelompok. Kau tidak pernah membicarakan tugas ini denganku dan juga…”

“Memangnya sudah berapa lama kau berteman dengan ku, hah? Biasanya juga kau satu kelompok dengan ku kan? Dan lagipula siapa? Siapa yang satu kelompok denganmu?” Tanya Hoseok bertubi-tubi.

“Kim Namjoon. Ketua kelas kita. Kemarin tiba-tiba saja ia menghampiriku dan menawarkan diri untuk satu kelompok denganku.” Hoseok membulatkan matanya begitu mendengar nama seseorang yang sudah tidak asing baginya.

“MWO? KAU BILANG SIAPA? KIM NAMJOON? PRIA BERAMBUT ANEH YANG SOMBONG ITU?” Jinye mengangguk mengiyakan pertanyaan Hoseok.

“B..BAGAIMANA BISA KAU SATU KELOMPOK DENGAN..”

“Dia ramah dan juga pintar. Apa yang kau pikirkan tentang pria itu selama ini tidaklah benar. Walaupun terkadang dia aneh dan terlihat sombong tapi dia pria yang cukup baik.” Hoseok jelas menunjukan wajah tidak sukanya begitu mendengar penjelasan Jinye. Kim Namjoon, seseorang yang sudah menjadi teman sekelas mereka sejak dikelas satu. Pria berambut blonde yang memang memiliki kemampuan akademik diatas rata-rata. Tapi justru karna kelebihannya itu terkadang ia terlihat sombong. Hoseok benar-benar tak suka pada pria itu, terlebih ia sering mendapat teguran karna sering membuat kegaduhan dikelas.

“Sudah ya, Namjoon bilang ia sudah menungguku di halte. Aku akan melihat latihan mu lain kali.”

“Y..yak!” Hoseok hanya mengacak rambutnya gusar melihat Jinye yang sudah meninggalkan ruangan itu. Ia benar-benar tak suka jika Jinye terlibat dengan pria itu.

“Memangnya apa yang salah jika Jinye satu kelompok dengan orang itu?” Tanya Jimin heran.

“Tentu saja salah, bagaimana bisa gadis itu aisssssh!!”

“Kau cemburu?” Tak lama setelah Jimin melontarkan pertanyaan itu, tawa Hoseok pecah memenuhi ruangan.

“HAHAHA! KAU BILANG APA? AKU? CEMBURU? PADA GADIS ITU? YANG BENAR SAJA. HAHAHA.”

“Ini semakin mencurigakan.” Awalnya Jimin ingin menggoda Hoseok tapi melihat tatapan menyeramkan yang diberikan olehnya membuat Jimin memilih untuk membungkam mulutnya dan beranjak dari sofa.

“Baiklah, baiklah. Ayo, kita mulai lagi latihannya.”

“Ahhh! Punggungku! Benar-benar menyebalkan!!”

Tak membawa buku dan juga terlambat mengumpulkan tugas. Dua hal itu mengharuskan Yulhee untuk membersihkan toilet sekolah. Ia tak tau kutukan apa yang sedang menghantuinya, namun jelas sekarang predikatnya sebagai murid yang gemar menerima hukuman sudah menyebar diseluruh sekolah. Ingin sekali ia meminta ibunya untuk memindahkannya ke tempat lain. Tapi kata-kata yang selalu keluar dari mulut ibunya hanyalah ‘nikmati saja masa SMA mu’.

“Apa aku harus merekam semua kegiatan ku dan memberikannya pada ibu? Tidak. Jika aku lakukan itu ibu pasti akan menyalahkanku.”

Yulhee menghela nafasnya panjang. Ia baru sadar jika suasana sekolah tampak sepi. Begitu ia melihat jam, wajar saja karna sekarang sudah lewat dari jam pulang.

“Lihat dirimu Kim Yulhee. Kau terlambat pulang hanya karna membersihkan toilet yang bahkan jarang kau pakai. Harusnya setelah ini semua orang memberiku penghargaan.” Dengan lemas Yulhee melangkahkan kakinya ke loker dan merapihkan barang-barang yang memang perlu ia bawa pulang. Tapi tiba-tiba kegiatannya terhenti saat ia mendengar suara musik yang entah darimana asalnya.

“Ck! Ck! Kenapa masih ada orang yang betah berlama-lama ditempat ini? Menggelikan.”

KIIIT~

“GYAAA!!” Yulhee nyaris saja melempar semua barang-barang yang ia sudah rapihkan sebelumnya begitu mendapati seseorang yang baru saja keluar dari loker disampingnya.

“S..si..siapa kau?” Semula Yulhee hanya dapat melihat punggung orang itu dan ia tak menyangka bahwa seseorang yang ternyata pria itu adalah..

“K..kau?” Taehyung tak menjawab pertanyaan Yulhee. Ia malah asik merenggangkan tubuhnya yang sudah hampir 30 menit berada didalam loker itu. Begitu ia selesai, ia melihat sekeliling dan menemukan Yulhee dengan ekspresi terkejutnya.

“Kenapa? Apa ada yang salah dengan wajahku?” Tanya Taehyung.

“Ti..tidak. Hanya saja, apa yang kau lakukan di dalam loker itu?”

“Tidur siang, mendengarkan musik, hanya itu saja.” Yulhee hanya bisa melongo mendengar jawaban Taehyung. Terakhir kali ia bertemu dengan Taehyung, pria itu tengah sibuk membaca komiknya ditempat yang bahkan tak akan ada seseorang yang mau berkunjung ke sana. Dan sekarang ia menemukan pria itu ditempat yang siapapun tak akan berpikir untuk tidur siang disana. Pria ini aneh, gila atau apa?

“Kau mungkin berpikir jika aku ini aneh, gila atau apa. Aku tak suka kebisingan karna itu aku mencari tempat-tempat yang tak mungkin bisa diganggu oleh seseorang.”

“B..bagaimana bisa kau tau apa yang sedang aku pikirkan?”

“Kau bukan satu-satunya orang yang berpikir seperti itu.”

“Ah benarkah?” Tak mau terlibat percakapan yang lebih panjang, Yulhee pun kembali melanjutkan kegiatannya yang sempat terhenti. Tapi matanya tak berhenti mencuri pandang pada Taehyung yang saat ini tengah merapikan lokernya juga. Ia heran kenapa ada murid seperti itu disekolah ini. Jelas sekali pria itu terlalu santai dalam menjalani kehidupannya sebagai murid SMA. Memakai gudang sekolah sebagai ruang pribadinya membaca, menjadikan loker sebagai tempat tidurnya dan apalagi? Tiba-tiba saja Yulhee menjadi penasaran, seperti apa sosok Kim Taehyung yang sebenarnya?

“Bukankah ini sudah lewat dari jam pulang? Kenapa kau masih berkeliaran ditempat ini?” Tanya Taehyung kembali memulai pembicaraan.

“Hukuman. Aku dihukum untuk membersihkan toilet.” Jawab Yulhee sedikit merasa malu dengan alasannya.

“Ah~ begitu.”

“Kau tidak ingin menertawakanku?”

Taehyung mengerutkan alisnya. “Untuk apa?”

“Karna alasanku tadi.”

“Memangnya mendapatkan hukuman adalah sesuatu yang harus ditertawakan? Aku juga sering mengalaminya jadi aku tau apa yang kau rasakan.” Yulhee kembali melongo mendengar ucapan Taehyung. Ia memang sudah mengira jika pria itu pasti seseorang yang sering mendapatkan hukuman tapi, entah kenapa perasaan senang menyelimuti Yulhee. Senang karna nyatanya bukan ia sendiri yang sering mengalami nasib seperti itu.

“Kau tidak ingin pulang?” Tanya Taehyung menyadarkan Yulhee dari lamunan singkatnya.

“N..ne? Tentu saja aku ingin pulang.”

“Dimana rumahmu?”

“Eh? Distrik Yongsan.”

“Kalau begitu kita searah.” Yulhee beberapa kali mengerjapkan matanya. Apa maksud pria itu pulang bersama?

“Ayo, apalagi yang kau tunggu?” Dengan cepat Yulhee kembali merapihkan lokernya dan kemudian menghampiri pria itu. Awalnya sedikit canggung tapi melihat Taehyung yang tampak biasa saja, ia pun berusaha mengontrol sikapnya.

 

“Jam 5 sore akan ada les piano. Setelahnya kau akan menemui Jang songsaengnim untuk belajar privat.”

Apa adalagi?”

“Tidak nona. Jadwalmu cukup sampai disitu.”

“Baiklah.” Tanpa basa-basi, Solbin menekan tombol power pada remote yang sedang ia pegang dan itu membuat percakapan singkatnya dengan Sekretaris Jung melalui mini televisi yang ada dimobil berakhir. Ia memijat kepalanya ringan. Terlalu lelah mengingat betapa padatnya hari ini. Bahkan umurnya belum menginjak 18 tahun, tapi jadwal yang ada seolah ia akan menerima warisan dari ayahnya besok. Ya warisan, entah sudah keberapa kalinya Solbin menyesal tak bisa menerima kenyataan bahwa ia adalah seorang pewaris tunggal perusahaan Ahn. Tak bisa melakukan apa yang biasa gadis seumurannya lakukan dan selalu mengikuti perintah ayahnya layaknya sebuah robot. Sebenarnya ia bisa saja terlepas dari semua itu. Tapi syarat yang ayahnya berikan membuatnya tak bisa berbuat banyak kecuali mengubur dalam-dalam harapannya.

‘Terima pertunangan itu dan kau bebas melakukan apa yang ingin kau lakukan.’

 

Pertunangan? Solbin berkali-kali menertawakan hal itu. Ia belum lama menyandang status murid SMA tapi ayahnya memintanya melakukan hal yang mungkin pantas dilakukan oleh seseorang yang sudah berumur 20 tahun.

 

“Tolong berhenti ditoko kelomtong itu.” Perintah Solbin pada supir pribadinya. Tiba-tiba saja Solbin ingin menghabiskan waktunya ditempat itu dan memakan ramyeon sebelum ia kembali melanjutkan aktifitasnya. Walaupun makanan yang ada dirumah jelas lebih mewah dibandingkan dengan semangkuk ramyeon tapi semua itu sama sekali tak menggugah selera Solbin.

“Pergilah dan bilang pada orang-orang itu untuk tidak menunggu ku. Jarak rumah dengan toko ini hanya beberapa meter. Aku bisa pulang sendiri.”

“Tapi nona..”

“Soal ayah biar aku yang mengurus dan bilang pada Sekretaris Jung, aku akan pulang tepat waktu.”

“Baik.” Akhirnya permintaan Solbin disetujui. Dengan perasaan lega Solbin pun melangkahkan kakinya masuk ke dalam toko, memesan semangkuk ramyeon dan membeli sekaleng susu soda. Senyum tipis terus menghiasi wajah gadis itu, mengetahui dirinya bisa terlepas dari pengawasan walaupun hanya untuk sementara waktu.

“Jungkook-ssi?” Tanya Solbin yang sedikit terkejut mendapati teman sebangkunya itu tengah menyantap ramyeon tak jauh dari tempatnya berdiri.

“Eoh? Apa yang kau lakukan disini?”

Solbin mengambil kursi disamping Jungkook dan duduk disana. “Sama sepertimu, hanya ingin menyantap semangkuk ramyeon sebelum pulang kerumah.”

“Apa koki dirumahmu sedang sakit?”

“Mwo? Memangnya salah jika aku makan makanan ini?”

“Tidak. Hanya saja ini terlihat aneh bagiku.”

“Kalau kau terganggu, pura-pura saja tidak melihatku.”

“Aku bercanda nona.” Solbin hanya menanggapi ucapan Jungkook dengan tawa renyahnya.

“Apa rumahmu disekitar sini?”

“Mungkin ia, mungkin tidak.” Solbin mengernyit, heran mendengar jawaban Jungkook. Tapi ia tak mau mempertanyakan hal itu dan mulai menyantap ramyeon yang ada dihadapannya. Perasaan senang kembali muncul saat kuah mie instant itu memenuhi indra pengecapannya. Ia lupa kapan terakhir ia mencicipi makanan ini. Mungkin makanan yang selalu tersedia dimeja makan rumahlah yang menjadi alasan kenapa ia jarang memakan ramyeon.

“Aku tidak pernah melihat seseorang yang sangat bahagia saat menyantap makanan seharga 3000 won.”

“Kalau begitu berbanggalah karna sekarang kau sudah melihatnya.”

“Ya, ya. Ngomong-ngomong dimana orang-orang berbadan besar itu?“ Tanya Jungkook heran melihat Solbin yang tampak bebas tanpa adanya pengawasan seperti biasanya.

“Aku tidak yakin jika rasa ramyeon ini akan sama jika aku diawasi, karna itu aku menyuruh mereka untuk pergi.”

“Ah begitu.” Solbin kembali melanjutkan makannya sampai ia tersadar jika keadaan dimeja tempatnya makan sangat berantakan. Dipenuhi banyak kertas dan juga sisa karet penghapus. Tak sengaja matanya menangkap sebuah tulisan yang tertera pada kertas yang nampak lecak.

“Kau menulis lagu?”

“Sepertinya kau sudah membaca salah satu karya gagalku.”

“Jangan katakan jika kau juga bisa bernyanyi?” Solbin terperangah begitu melihat Jungkook menganggukan kepalanya. Ia pikir yang bisa pria itu lakukan hanyalah tidur dikelas tapi nyatanya ia salah. Jungkook mungkin bisa membuat seseorang kagum pada sosoknya.

“Bisakah kau nyanyikan aku sebuah lagu?”

“Baiklah. Eyes, Nose, Lips dari Taeyang? Atau Boyfriend dari Justin Bieber?”

Solbin menggeleng. “Ini. Aku ingin kau menyanyikan karya gagalmu.”

“Mwo?”

“Kau bilang kau bisa menyanyi kan? Cepat nyanyikan aku lagu ini.” Awalnya Jungkook ragu dengan apa yang diminta oleh gadis itu. Tapi sesuatu mendorongnya untuk melakukannya. Ia mengambil kertas lecak yang memang tadi sempat ia buang dan mulai menyanyikan liriknya.

  몰라    몰라 제발 닥쳐주겠니
나는 걱정 좋아 너보다 앞으로도 그럴 테지
예전부터  무시했던 친구들
 어디 있어 We on
이건 장난 같은  아냐
보여줄게 I promise ya, we on

 

I don’t know you and you don’t know me so please shut up

Don’t worry about me, I’m better than you and will continue to be so

Where are all the friends who looked down on my since before? We on

This isn’t a joke, I’ll show you, I promise ya, We on*)

 

*)BTS – We On

 

Friday, 15th March

 

 

“Pentas seni akan diadakan beberapa minggu lagi jadi aku harap kalian dapat berlatih lebih giat.”

“NE SONGSAENG!”

“Baiklah selamat menikmati akhir pekan kalian.” Semua siswi grup vokal memberi salam sebelum pelatih itu meninggalkan ruangan, setelahnya mereka bergegas untuk pulang terkecuali Soyeon yang sama sekali tak mempersiapkan diri untuk kembali ke rumah.

“Kau tidak pulang?” Tanya Nana salah seorang siswi yang juga satu grup vokal dengan Soyeon.

Soyeon menggeleng. “Sepertinya aku ingin meminjam piano sekolah dan berlatih lagi. Aku tidak puas dengan latihan tadi.”

“Benarkah? Baiklah, semangat Soyeon-ah!” Soyeon tersenyum mengiyakan ucapan Nana.

Setelah yakin semua sudah meninggalkan ruangan, Soyeon menghampiri piano yang berada diujung kelas. Dibukanya tutup piano itu dan ia mulai memainkan nada lagu yang akan dibawakannya bersama grup vokal.
사람이
하나가 된다는건
결코 쉽지않아
하지만 너와 함께
함께 할수 있다면, 두렵지 않아
그대와 영원히

Oh~yeah
너만 보고싶어
Oh~yeah
함께 있어도

Still forever in love
처음처럼 오늘도 그대로
Still forever in love
영원토록 영원히 이대

For two people to become one
It’s never easy
But I’m with you.
If we’re together, there’s nothing I’m afraid of
Being with you forever

 

Oh~yeah
It’s only you that I want to see
Oh~yeah
Even when we’re together

 

Still forever in love
Today, just like the first time, I’m with you
Still forever in love
Eternally, forever, I’m like this*)

*)As One – 2=1

 

Prok! Prok! Prok! Prok! Soyeon menoleh kearah pintu, dimana suara tepuk tangan itu berasal. Didapatinya Yoongi yang sedang berdiri dengan senyum diwajahnya. Tak lama Yoongi melangkahkan kakinya memasuki ruangan, menghampiri Gadis itu yang tak bisa menyembunyikan rasa malunya.

“Se..sejak kapan kau berdiri disana?”

“Sejak kau memulai pertunjukan yang indah itu.” Rona merah dipipi Soyeon semakin jelas terlihat dan Yoongi hanya tersenyum mengetahui hal itu.

“Kenapa kau belum pulang?” Tanya Soyeon.

“Kau lupa? Aku ini kelas 3 dan ada jam tambahan yang harus aku ikuti.”

“Hehe, aku lupa tentang yang satu itu.”

“Kau sendiri? Kenapa kau belum pulang?”

“Ini. Aku ingin meminjam piano ini untuk menemaniku berlatih vokal.” Yoongi membulatkan bibirnya seperti huruf ‘O’ tanda paham dengan apa yang diucapkan Soyeon.

“Kau ingin request?” Tanya Soyeon yang semula ragu dengan penawarannya.

“Sepertinya menyenangkan tapi terserah kau saja, disini kan aku hanya menonton gratis.” Yoongi tertawa renyah begitupun dengan Soyeon. Beberapa detik Soyeon sempat sibuk dengan pikirannya, mencari-cari lagu yang pas untuk dinyanyikan agar terlihat baik didepan Yoongi.

“Baiklah, lagu ini saja.” Soyeon kembali menekan tuts yang ada pada piano, menghasilkan alunan nada yang manis. Dengan perasaan berdebar-debar ia mulai menyanyikan sebuah lagu.

이제와? 기다렸단 말야
이리 걸어와서 맘을 안아줄래요?
이제와? 외로웠단 말야
나의 남자가 되어줄래요?
Would you be my love?

 

Why did you come now? I waited for you
Will you walk over here and hug my heart?
Why did you come now? I was lonely
Will you be my man?
Would you be my love?

 

*) LABOUM – Pit a Pat

 

“Ba..bagaimana?” Tanya Soyeon gugup melihat Yoongi yang diam tak menunjukan reaksi apapun.

“Apa kau yang membuat sendiri lagu itu?” Tanya Yoongi tak menjawab pertanyaan Soyeon sebelumnya. Soyeon mengangguk dan menjadi heran karna Yoongi hanya menunjukan ekspresi datarnya.

“Apa kau membuatnya untuk ku?”

“N..ne?”

“Berhentilah menyukaiku.” Soyeon merasa seperti sesuatu menghantam dirinya. Terlalu sulit untuk mencerna kalimat-kalimat itu sampai ia tak sadar jika air mata sudah menggenang diujung pelupuk matanya. Apa yang baru saja dikatakan Yoongi benar-benar membuatnya tak bisa mengontrol emosi. Bahkan pria itu pergi tanpa mengucapkan satu patah kata pun. Soyeon tak mengerti apa maksud Yoongi mengatakan hal itu. Padahal belum lama ia masih bercengkrama dengan pria itu juga membawakannya bekal makan siang.

‘Apa yang salah? Kenapa tiba-tiba seperti ini? Ada apa denganmu, Min Yoongi?’

 

 

PART 1 // LUV IN SKOOL // SKOOL LUV AFFAIR // TBC

About fanfictionside

just me

6 thoughts on “FF/ SKOOL LUV AFFAIR/ BTS-BANGTAN/ pt. 1

  1. Huaaaa~ ide ceritanya keren! :3

    Itu Jungkook kenapa jadi tukang molor begitu? Ngahaha

    Taehyung juga freak nya ketara bgt😀

    Bagian Namjoon nya gak ada ya? Cuma namanya aja yg lewat..

    Itu si Agus wkwk maksudnya apa coba pake ngomong ‘berhentilah menyukaiku’ huaaa~ bang! Lo kan tau gue udah suka berat sama lo! :p

    Udah bagus! Daebak! Masalah typo, tadi cuma ngeliat satu kata aja kok yg salah huruf🙂
    Ada kelanjutannya? Ditunggu~

    • muehehehe gomawo ne udah mau review :3
      repmonnya dikantongin dulu ntar kalo udah waktunya dikeluarin (?)
      mian tampilannya berantakan, harusnya sih ada jeda tiap perscenenya, next part bakal dibetulin lagi (maklum karya pertama :’3)

  2. bagus thor ffnya,
    cuma kok aku rada ga nalar ya sama ceritanya? entah gara gara tampilan di akunya salah apa gimana. yang bikin aku bingung itu ketika cerita itu ganti latar, itu ga ada tanda apa-apa.
    jadi, nama cast yang hampir sama + ga ada tanda2 pengen ganti latar itu yang bikin bingung thor. jadi aku mikir ini tadi kok ceritanya tiba2 ngarah kesini sih? kok ganyambung? apalagi castnya umurnya beda-beda kan? dan castnya banyak? gitu aja sih thor. intinya idenya bagus kok^^

    • hueeee mianhae, sebenernya tampilannya harusnya gak kyk gini :’3
      file aslinya udah aku kasih tanda tapi gak tau kenapa disini jadi ke gabung-gabung gini, buat next part aku usahain bakal dirapihin lebih rapih lagi :’3
      gomawo ne udah mau review :3

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s