FF oneshot/ I WANT THOSE TIME BACK/ EXO


Main Cast : Kim Minseok a.k.a Xiumin EXO, Aleyna Yilmaz

Another Cast : Han Daniel, Im Yoona

Genre : Romance, Fantasy

Length : Oneshot

Rating : Teen

Ride’s Maker : Knaraxo

Disclaimer : I own the story. The cast belongs to God.

Note : Halo! Knaraxo berharap Riders menyukai Ride yang satu ini. Ini pertama kalinya Knaraxo membuat Ride dengan meminjam Xiumin Oppa sebagai main cast. Selamat menikmati!😀

did-i

*****

Seorang namja sedang menangis di kamarnya. Tangannya menggenggam secarik kertas putih yang ternodai oleh merah darah. Di atas kertas itu, tergores beberapa kata yang tak beraturan. Namja itu menatap kertasnya lekat-lekat, lalu membacanya perlahan.

“Minseok, joahaeyo.”

Saat membaca kalimat itu, tangisan Minseok semakin keras. Hanya isakan tangisnya yang terdengar. Di rumah itu tak terdapat siapa pun, membuat namja itu dapat menangis dengan leluasa. Tapi sayangnya, tak ada seorang pun juga yang dapat menghibur namja itu.

Minseok memeluk kertas itu, lalu mengeluarkan sebuah foto. Di foto itu, seorang yeoja kecil tengah tersenyum manis di antara 2 namja kecil yang memeluknya dari kanan-kiri. Namja kecil di kanan yeoja itu tampak bersandar di bahu yeoja itu dengan tenang.

Minseok memandangi wajah yeoja kecil itu dengan pilu. Harusnya kini yeoja itu berada di sampingnya untuk menghiburnya, membuatnya tersenyum dengan keceriaannya. Tapi, semua itu tak akan pernah terjadi. Yeoja itu telah meninggal 15 tahun yang lalu. Dan yang terparah adalah… Minseok baru mengetahuinya hari ini.

FLASHBACK

Minseok sedang berdiri di depan pagar rumahnya sambil memandangi layar ponselnya. Minseok akan pergi ke perusahaan keluarganya sebagai pewaris tahta pemimpin yang baru. Oleh karena itu Minseok harus tinggal sendirian di rumah yang telah dibelikan Abeoji-nya agar namja itu bisa mandiri.

“Aisshh, namja itu. Bukannya mencari pekerjaan part time yang cocok untuknya, justru memintaku untuk membelikannya Bulgogi. Dan itu berarti, aku harus pergi ke rumah yang membuat sesak itu? Bukannya Jongin ingin tinggal di apartment? Mengapa Jongin menolak apartment itu? Aaarrgghh, ini bisa membuatku gila,” keluh Minseok sambil memasukkan ponselnya ke saku celana.

Minseok mengunci pagar rumahnya. Saat akan masuk ke mobil, tiba-tiba seseorang menariknya, lalu memukul Minseok tepat di pipinya. Minseok terjatuh ke tanah.

Yaa! Apa yang kau lakukan?” tanya Minseok sambil memegang pipinya yang memerah.

Namja yang memukul Minseok memutar bola matanya, lalu mencengkram kerah baju Minseok dengan kuat hingga Minseok berdiri. Minseok merasakan kemarahan namja yang berada di hadapannya.

“Kau, Hyung… Kau tak ingat aku? Apakah kau ingat aku?” tanya namja itu. Minseok hanya terdiam. Ia tak kenal dengan namja itu. Namja itu tampak kesal, lalu mengguncang-guncangkan tubuh Minseok.

Hyung kau tak ingat aku? Aku Daniel, sahabat kecilmu yang selalu menjadi rivalmu! Hyung, apakah terapi itu membuatmu melupakanku juga?” Namja itu membentak Minseok. Minseok tak tahan dibentak. Ia menepis tangan namja itu dengan kasar, lalu merapikan kerah bajunya.

“Apa maksudmu? Aku tak ingat pernah mempunyai sahabat bernama Daniel. Aku juga tak pernah melakukan terapi apa pun selama ini. Mungkin kau salah orang,” kata Minseok. Daniel menggelengkan kepalanya. Ia menunjukkan sebuah foto di tangannya.

Minseok memandang lekat-lekat foto itu, lalu terkejut. Di foto itu, ia melihat dirinya ketika kecil sedang memeluk yeoja kecil sambil menyandarkan kepalanya. Dan wajah yeoja kecil itu mengingatkannya dengan seseorang. Tapi ia tak tahu, siapa yeoja itu.

Hyung, ini aku, ini kau, dan ini yeoja kecil yang selalu tersenyum! Aleyna!” Daniel menunjukkan satu persatu orang yang berada di foto itu.

Minseok mencoba mengingat kembali pemilik nama itu. “Aleyna”. Siapa yeoja itu? Mengapa nama itu begitu familiar di otak Minseok? Minseok berusaha mengingat semua kenangan yang dapat mengingatkannya dengan Eun…

Minseok terdiam. Ia bergeming begitu saja saking syoknya. Otaknya sakit. Rasanya kenangan yang kini berada di otaknya menusuknya begitu tajam. Ia telah mengingat Aleyna, yeoja kecil yang selalu tersenyum. Tapi yang ia ingat adalah… saat yeoja itu tergeletak di jalan dengan darah yang mengalir dari sekujur tubuhnya.

“Aaaarrggg!!” Minseok berteriak. Kenangan itu menurutnya sangat mengerikan. Justru yang ia ingat adalah kenangan ketika yeoja kecil itu meninggal di hadapannya. Memangnya apa yang terjadi? Ia begitu tak mengerti.

Daniel tampak sedih. Ia memegang bahu Minseok, menatapnya dengan pilu. Bibirnya bergerak-gerak, hendak mengatakan sesuatu. Tapi bagi Daniel, apa yang dikatakannya akan terasa begitu berat.

Hyung, kau mau mendengarku?” tanya Daniel dengan lembut, tak seperti sebelumnya.

“Katakan padaku,” kata Minseok cepat. Ia sangat ingin tahu apa yang akan dikatakan oleh Daniel. Daniel menarik nafas panjang, lalu menghembuskannya pelan.

Hyung, kau ingat ketika Aleyna meninggal? Yang membuatnya meninggal adalah… kau.”

Minseok terbelalak. Hari ini, seseorang mengatakan tak langsung bahwa Minseok adalah seorang pembunuh. Minseok benar-benar tak menyangka. Apalagi yang dibunuhnya adalah… Aleyna.

Minseok tak percaya. Ia menggeleng keras, lalu mundur beberapa langkah. Daniel tampak merasa bersalah. Ia menarik tangan Minseok, lalu meletakkan foto itu di tangan Minseok.

“Simpanlah foto ini. Dan juga, periksa kotak mainan di kamar yang gagang pintunya berwarna biru. Kau akan menemukan sesuatu di sana,” ujar Daniel. Lalu meninggalkan Minseok yang masih sangat syok.

FLASHBACK END

Minseok menutup mulutnya. Ia merasa akan berteriak. Semua ini memberatkannya. Mengapa harus ia yang menjadi pembunuh Aleyna? Memangnya apa yang telah diperbuatnya? Mengapa ia bisa membunuh Aleyna?

Kreeeek

Hyung, boleh aku masuk?”

Minseok menoleh, dan mendapati bahwa Daniel sedang berdiri di depan kamarnya. Minseok memalingkan wajahnya, lalu kembali meratapi semua yang terjadi kepadanya. Daniel masuk dan duduk di samping Minseok.

Hyung, apa kau merasa sedih?” tanya Daniel, membuat Minseok menatapnya sinis. Sudah tentu aku sedih, pabo! Batin Minseok.

Setelah Minseok membatin, Daniel tertawa kecil. Namja itu mengangguk-angguk, lalu menepuk bahu Minseok.

“Mianhae, Hyung. Aku harusnya tak bertanya. Sudah pasti kau sedang sedih sekarang,” ujar Daniel. Minseok membulatkan matanya. Bagaimana Daniel bisa tahu apa yang dibatinnya?

Daniel hanya tersenyum melihat ekspresi terkejut Minseok. Ia mengeluarkan sesuatu dari saku celananya, lalu menggenggamnya erat-erat.

Hyung, aku punya sesuatu. Apa kau ingin tahu?” tawar Daniel. Minseok memandangnya sejenak, lalu mengalihkan pandangannya ke arah lain. Daniel meletakkan benda di tangannya di depan Minseok, mau tak mau membuat Minseok melihat benda itu.

Minseok terpana ketika melihat sebuah pecahan kristal berwarna ungu menyala tengah bersinar. Minseok menatap Daniel, meminta penjelasan tentang benda itu. Daniel mengambil kembali kristal itu, lalu menunjukkan benda itu di depan wajah Minseok.

“Ini kristal yang mampu membawamu ke masa lampau, mengubah segala sesuatu yang pernah terjadi di masa lalu. Sekali kau kembali, maka masa depan akan berubah meskipun kita tak melakukan apa-apa. Kau ingin ke sana? Mengubah masa lalu?”

Minseok sedikit terkejut sekaligus tak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Daniel. Bagaimana bisa seseorang dapat kembali ke masa lalu? Hal-hal seperti itu hanya ada di film-film atau cerita. Tentunya semua itu tidak nyata.

Minseok mencoba untuk menghiraukan apa yang dikatakan oleh Daniel. Ia berdiri, lalu berjalan menuju kasurnya agar menjauh dari bualan Daniel. Tapi itu membuat Daniel kesal. Dengan segera, Daniel menarik lengan Minseok dan meletakkan kristal itu di tangan Minseok.

Seketika, cahaya yang amat benderang muncul perlahan dari kristal itu. Minseok menutupi wajahnya dengan lengannya, menangkis cahaya yang mampu menyakitkan matanya. Tapi ia melihat Daniel sedang tersenyum kepadanya. Itu membuat Minseok tercengang. Daniel pun melambaikan tangannya.

Hyung, semoga kau berhasil. Hwaiting!”

Mwo?!”

Pyaaashh!

Seketika Minseok hilang bersama dengan kristal itu, meninggalkan Daniel sendirian di kamar itu. Daniel duduk di pinggir kasur dengan wajah khawatir.

Hyung, semoga kau baik-baik saja di sana.”

*****

Minseok sedang terdiam di depan sebuah rumah. Cahaya tadi begitu terang. Setelah cahaya itu perlahan pudar, tiba-tiba saja Minseok telah berada di lingkungan yang asing ini. Minseok memandangi sekelilingnya. Lingkungan itu tak pernah ia datangi, tapi ia merasa begitu kenal dengan lingkungan ini.

Seorang yeoja cantik keluar dari rumah itu. Ia terkejut ketika bertemu pandang dengan Minseok, begitu pula Minseok. Minseok mengamati yeoja itu dari bawah hingga ke atas. Ia merasa pernah melihat yeoja yang berdiri di hadapannya.

Nunuguseyo?” tanya yeoja itu. Minseok tersentak, lalu membungkuk hormat dengan kikuk.

Annyeonghaseyo, Kim Minseok imnida,” ujarnya.

Yeoja itu tampak terkejut, lalu menarik Minseok masuk ke dalam rumahnya. Minseok yang tak tahu apa-apa hanya mengikuti yeoja itu.

Mereka berhenti di ruang tamu rumah itu, lalu yeoja itu duduk di salah satu sofa. Minseok hanya terdiam, masih bingung dengan apa yang terjadi. Yeoja itu mempersilakan Minseok duduk. Minseok pun menurut.

Setelah Minseok duduk di sofa yang berada di samping sofa yeoja itu, yeoja itu menggenggam tangan Minseok. Minseok terkejut.

Waewaeyo?” tanya Minseok sedikit kebingungan. Yeoja itu menatap lembut Minseok.

“Apa kau… Minseok dari masa depan?”

Minseok membulatkan matanya begitu mendengar pertanyaan yeoja itu. Bagaimana yeoja itu bisa tahu?

Minseok hanya terdiam. Yeoja itu pun menepuk-nepuk punggung tangan Minseok sambil tersenyum lembut.

“Aku adalah Eomma Aleyna, Yoona,” ujar yeoja bernama Yoona itu. Minseok hanya diam. Ia pun bahkan tak mengenal nama itu. Yoona ikut kebingungan. Mengapa Minseok tak mengenal dirinya? Itu yang membuat Yoona kebingungan.

“Minseok, apa kau tak mengenal aku? Aku Yoona Ahjumma!” seru Yoona sambil menggenggam erat tangan Minseok. Sejenak Minseok terdiam, lalu menyunggingkan senyum paksa.

“Ne, Ahjumma. Aku ingat sekarang,” jawab Minseok berbohong. Yoona tersenyum lega, lalu menyenderkan punggungnya di sofa.

“Aku yakin kau bisa ke masa sekarang karena kristal ungu itu. Ahjumma benar, kan?” tanya Yoona. Minseok pun terkejut. Bagaimana bisa Yoona tahu bahwa Minseok datang karena kristal itu?

“Kristal itu adalah pemberian Halmeoni dari Ahjumma. Beliau mengatakan bahwa kristal itu mampu membawa siapapun datang ke masa lalu. Dulu Ahjumma pernah mengalaminya, tapi kini Minseok dapat mengalaminya juga,” kata Yoona sambil tersenyum ceria.

Minseok mengerti sekarang. Kristal itu adalah milik Yoona, Eomma dari Aleyna. Dan pasti Aleyna mendapatkan kristal itu dari Eomma-nya. Tapi mengapa kristal itu berada di tangan Daniel? Apa Yoona memberikannya kepada Daniel sebelum ia meninggal?

Yoona mendekati Minseok, membuat Minseok memundurkan badannya. Wajah Yoona tampak berseri-seri.

“Apakah Aleyna menjadi yeoja yang cantik? Apakah ia sudah punya namjachingu? Atau namjachingu-nya adalah kau? Oh, apakah Ahjumma telah menjadi tua? Pasti Ahjumma masih cantik seperti sekarang, kan?” Yoona memenuhi otak Minseok dengan pertanyaan.

Tapi Minseok tak tahu harus menjawab apa. Ia telah melupakan semuanya. Bahkan ia tak ingat dengan Aleyna, hanya mengingat kenangan tentang kematian itu. Dan kini Yoona menanyakan pertanyaan yang bahkan tak pernah ia tahu jawabannya. Minseok menggeleng lemah.

“Maaf Ahjumma, aku tak tahu.”

Mendengarnya, Yoona sedikit terkejut. Tapi melihat raut wajah Minseok yang menjadi suram, Yoona hanya bisa terdiam.

Eomma!”

Yoona dan Minseok menoleh, mendapati seorang yeoja kecil tengah berdiri di samping Yoona dengan pakaiannya yang telah kotor. Minseok menatap lekat-lekat yeoja itu, dan menyadari bahwa yeoja itu mirip dengan yeoja kecil yang ada di fotonya.

“Aleyna, apa yang kau lakukan? Mengapa bajumu menjadi kotor?” tanya Yoona sambil memperhatikan dress warna merah menyala itu kini telah kotor.

“Tadi Xiumin dan Daniel mengajak Aleyna bermain di lapangan sekolah. Tapi Xiumin mendorong Aleyna hingga terjatuh dan membuat baju Aleyna kotor. Bahkan rambut Aleyna ikut kotor,” keluh Aleyna sambil membelai rambutnya.

Yoona langsung menatap tajam Minseok, lalu memukul lengan namja itu. Minseok langsung mengaduh kesakitan. Minseok hanya bisa terheran-heran. Memangnya ia salah apa? Lagipula Aleyna tak menyebutkan namanya.

Aleyna memiringkan kepalanya, menatap namja di hadapannya dari atas sampai bawah. Lalu ia tersenyum gembira.

Eomma, siapa Oppa tampan ini?” tanya Aleyna antusias. Yoona dan Minseok saling berpandangan. Yoona pun mencari-cari nama yang tepat agar identitas Minseok tak diketahui Aleyna.

“Nama Oppa ini… Baozi Oppa!” ujar Yoona cepat, yang membuat Minseok langsung mendelik kesal. Bagaimana bisa ia dikatakan baozi (bakpao)? Memangnya ia mirip dengan baozi?

Aleyna memperhatikan wajah Minseok lekat-lekat, lalu mendekati namja itu dan menyentuh kedua pipi Minseok.

Ne, wajah Oppa ini seperti baozi!” seru Aleyna ceria. Minseok memperhatikan senyum manis Aleyna. Entah mengapa, hatinya menjadi luluh. Mungkin baozi bagus juga, pikir namja itu.

Setelah itu, Aleyna langsung berlari ke kamar mandi karena Yoona berjanji akan memberikannya apel yang enak. Yoona geleng-geleng kepala, lalu menoleh ke arah Minseok.

“Aku akan merahasiakan identitasmu sampai kau kembali ke masa depan. Jadi kau juga harus menyembunyikan identitasmu sendiri,” ucap Yoona dengan suara kecil.

Minseok mengangguk. Yoona memberikannya sebuah kunci kamar dengan gantungan kecil berbentuk kucing.

“Kau bisa memakai kamar ini. Maaf jika menurutmu kamarnya kecil, Ahjumma tidak punya kamar lagi selain kamar itu.”

Minseok mengerti. Yoona tersenyum sesaat, lalu pergi menyusul Aleyna. Minseok langsung menyandarkan punggungnya di sandaran sofa, lalu menghela nafas berat. Pikirannya masih kalut. Masa ini… ia tak tahu. Tapi rasanya ia memang pernah berada di sana, hanya saja ia tak ingat.

Minseok menghadap ke kiri, di mana ada sebuah meja dengan foto di atasnya. Foto Aleyna yang sedang tersenyum sambil memegang topinya. Minseok mengambil foto itu, lalu menatap foto itu lekat-lekat.

Senyuman Aleyna… Minseok merasa ia memang kenal senyuman khas itu. Tapi entah mengapa ia tak bisa mengingatnya. Dan kini, Minseok punya kesempatan untuk mengembalikan ingatannya.

Minseok keluar dari rumah itu. Ia menghirup nafas dalam-dalam. Matanya memandang sekeliling. Semua rumah berjajar dengan cat berwarna hitam. Jika berjalan ke arah kanan dan melewati 2 rumah, di sana terdapat taman bermain. Banyak anak kecil bermain dengan riang di sana.

“Aleyna!”

Minseok mendengar seseorang menyebutkan nama Aleyna. Ia memandang ke sisi kanan jalan, dan mendapati seorang namja kecil sedang berusaha mengayuh sepeda roda 2 berwarna merahnya. Minseok terkejut begitu menyadari bahwa namja kecil itu adalah sosok dirinya saat masih kecil.

Namja kecil itu berhenti di depan rumah Aleyna. Namja kecil itu menarik nafas sesaat, lalu terdiam ketika melihat Minseok. Minseok pun ikut terdiam. Tetapi, namja kecil itu langsung turun dari sepedanya, membiarkan sepedanya tergeletak. Ia berjalan mendekati Minseok sambil tersenyum manis. Minseok hanya bisa berdiam diri.

Annyeong, Hyung! Xiumin imnida,” sapa namja kecil itu sambil mengulurkan tangannya. Minseok merasa kebingungan. Mengapa namja kecil itu bernama Xiumin? Minseok tak pernah mendengar nama itu. Saat tangannya menjabat tangan kecil namja itu, ia melontarkan pertanyaan yang berada di benaknya.

“Mengapa namamu… Xiumin?”

Xiumin terdiam sejenak, lalu tersenyum kecil. “Seorang Ahjussi dari China memberikan Xiumin nama itu, jadi Aleyna dan Daniel juga memanggilku Xiumin. Aku juga senang dengan nama Xiumin, soalnya lucu.”

Minseok hanya mengangguk-angguk. Xiumin pun langsung melongos masuk ke dalam rumah Aleyna, diikuti oleh Minseok.

Di dalam, Aleyna telah memakai pakaian mainnya. Ia memakai dress polos berwarna biru muda, lengkap dengan topi jerami berhiaskan bunga kain berwarna biru. Minseok terpana menatap yeoja kecil itu. Aleyna manis, batinnya.

“Aleynaaa, mianhae! Aku tidak sengaja mendorongmu!” Xiumin langsung berlari ke arah Aleyna dan memeluknya. Aleyna tertawa kecil, dan membalas pelukan Xiumin.

Ani, gwenchana. Aleyna tidak marah, Xiumin. Sudah tidak apa-apa,kok,” ujar Aleyna. Tapi Xiumin masih merasa bersalah, tak mau melepas pelukannya.

Tiba-tiba, seorang namja kecil langsung masuk ke dalam dan menatap jengkel ke arah Aleyna dan Xiumin. Minseok tidak kenal namja kecil itu. Tapi ia ingat, namja kecil itu juga berada di fotonya. Aleyna langsung tersenyum ceria.

“Daniel! Aleyna pikir Daniel tidak akan datang. Bukannya Daniel tadi sedang dihukum guru?” Sontak Daniel membelalakkan matanya, lalu menutup mulut mungil Aleyna dengan cepat. Aleyna berusaha untuk mengelak, tapi Daniel tak mau melepaskannya. Hingga akhirnya gigitan kecil dari Aleyna berhasil mengalahkan Daniel. Daniel langsung berteriak kesakitan.

Yaa! Appo!” keluh Daniel sambil mengelus-elus tangannya. Aleyna menjulurkan lidahnya, lalu berlari ke arah Xiumin dan memeluk namja kecil itu.

“Xiumiiin, Daniel nakal! Hukum Daniel, Xiumin!” pinta Aleyna sambil memeluk erat Xiumin. Xiumin mengangguk. Ia melepas pelukan Aleyna, lalu mengejar Daniel yang sudah berlari keluar terlebih dahulu.

“Danieell, jangan lari!” Xiumin berusaha mengejar Daniel. Daniel berlari sambil sesekali mencuri pandang ke belakang, lalu tertawa. Aleyna pun ikut berlari-larian bersama mereka.

Mata Minseok mengekori setiap langkah Aleyna. Entah mengapa hatinya terasa sakit melihat senyuman Aleyna. Seperti pisau menusuk hatinya. Itu sangat menyakitkan.

“Minseok, kau mau menemani mereka bermain ke taman?”

Minseok menoleh. Yoona telah berdiri di belakangnya dengan senyuman hangat. Minseok merasa tawaran itu terasa memberatkannya. Tapi melihat Aleyna yang tersenyum begitu cerah membuat Minseok tak bisa menolak.

“Aleyna, Daniel, Xiumin!”

Ketiga anak kecil itu menoleh kepada Minseok. Minseok menarik napas perlahan, lalu menghembuskannya. Dipegangnya tengkuk dengan gugup.

“Kalian mau pergi ke taman bersamaku?”

*****

Minseok berjalan di belakang mereka, memperhatikan setiap gerak-gerik lincah dari ketiga anak kecil di depannya. Dan ia tak bisa melepaskan pandangannya dari Aleyna. Yeoja kecil yang Daniel bilang telah dibunuhnya membuatnya resah. Bagaimana mungkin ia membunuh Aleyna yang semanis itu?

Ketika mereka telah berada di taman, Daniel dan Xiumin bermain kejar-kejaran. Minseok duduk di salah satu kursi taman sambil menyandarkan punggungnya dengan santai. Ia memejamkan matanya, merasakan matahari yang menerpa wajahnya. Namun semua itu terhenti ketika Aleyna berlari ke arahnya.

Oppa, Aleyna mau es krim!” pinta Aleyna memelas sambil berupaya menarik tangan Minseok. Minseok terkejut mendengarnya. Ia bahkan tidak punya uang yang berlaku di masa kini, bagaimana bisa ia membayarnya?

Minseok mau menolak, tapi melihat wajah Aleyna yang manis ketika memohon membuat Minseok tak bisa menolak. Minseok menghela napas. Ini berarti ia harus kembali ke rumah Aleyna.

*****

Aleyna menikmati es krim vanilanya, sedangkan Minseok tampak kelelahan. Ia harus berlari bolak-balik, takut jika Aleyna akan menunggu terlalu lama.

Minseok melirik Aleyna yang dengan lahap memakan es krimnya. Hebatnya, es krim itu tidak belepotan di mulut Aleyna. Minseok ingat betul saat ia kecil, es krim selalu sukses membuat mulut dan bajunya kotor.

Oppa,” panggil Aleyna. Minseok menaikkan kedua alisnya sambil tersenyum kecil, tanda bahwa kini perhatiannya diberikan sepenuhnya kepada Aleyna. Aleyna menghabiskan es krimnya, lalu siap bercerita.

“Jika Aleyna sudah besar nanti, Aleyna akan menjadi cantik. Aleyna akan menggunakan Body Lotion, Body Cleanser, dan banyak produk-produk agar bertambah cantik!” seru Aleyna dengan semangat yang menggebu-gebu. Minseok tertawa terbahak-bahak begitu mendengar tekad Aleyna. Bagaimana bisa anak kecil sepertinya tahu hal-hal yang seperti itu?

“Aleyna, dari mana kau tahu semua itu?” tanya Minseok di sela-sela tawanya. Aleyna tidak mengerti kenapa Minseok tertawa, tapi ia melanjutkan ceritanya dengan semangat.

“Aleyna biasanya mendengar dari TV dan melihat Eomma selalu memakainya. Aleyna lihat Eonni-Eonni di TV dan Eomma tampak sangat cantik, membuat Aleyna ingin memakainya,” tutur Aleyna dengan wajah yang berseri-seri.

Tawa Minseok bertambah kuat ketika mendengarnya. Menurutnya Aleyna yang polos sangat manis dan lucu. Aleyna merasa kebingungan melihat Minseok. Perlahan rasa kesal menjalar di hatinya. Ia berdiri di atas kursi, lalu menyentuh kedua pipi Minseok.

Oppa, apa yang kau tertawakan?” tanya Aleyna sambil mengembungkan pipinya. Minseok menahan tawanya, lalu membelai kepala Aleyna dengan lembut.

“Tidak ada, hanya saja kau sangat lucu dan imut,” jawab Minseok jujur. Tapi untuk Aleyna yang polos, menurutnya itu seperti ejekan. Aleyna duduk menjauh dari Minseok, sedangkan Minseok menggaruk kepalanya yang tidak gatal karena bingung.

Xiumin dan Daniel berlari ke arah mereka. Daniel membisikkan sesuatu di telinga Aleyna. Mungkin hal yang lucu karena tiba-tiba Aleyna tertawa kecil. Ia menarik tangan Daniel dan menjauhi Minseok. Minseok memandang mereka dengan keheranan. Tiba-tiba Xiumin menarik tangan Minseok.

Hyung, kau mau bermain bersama kami?” tawar Xiumin sambil tersenyum ceria dengan pipinya yang bulat. Minseok tak tahu apa rencana mereka, tapi ia bersedia menerima ajakan Xiumin.

Xiumin memberi tanda kepada Aleyna dan Daniel, dibalas anggukan kecil oleh keduanya. Mereka dengan gesit berlari ke Minseok dan langsung menarik namja itu ke suatu tempat.

*****

Minseok sedang tertawa cerah dengan sebuah istana pasir di sampingnya, sedangkan ketiga anak kecil itu tampak merengut sambil memegang istana pasir mereka yang telah runtuh.

“Aku menang, kan? Oleh karena itu, kalian harus menurutiku,” ujar Minseok seraya mengibas-ngibaskan tangannya yang kotor karena pasir. Xiumin dengan pipinya yang chubby nampak tak setuju. Sebuah ide terlintas begitu saja di otaknya.

Hyung,” panggil Xiumin dengan suara yang kecil, namun Minseok masih bisa mendengarnya. Minseok menolehkan kepalanya sambil tersenyum miring.

Wae?” sahut Minseok berkacak pinggang. Xiumin yang awalnya berjongkok, lalu berdiri dengan kepala yang tertunduk. Minseok menaikkan sebelah alisnya. Xiumin terdiam sejenak. Kakinya memain-mainkan pasir.

“Xiumin, apa yang mau kau—“

“Aku akan menuruti Hyung, tapi kejar aku dulu!”

Dengan senyum nakal, Xiumin langsung berlari tanpa aba-aba. Ketiga orang itu terkejut dengan apa yang dilakukan oleh Xiumin. Aleyna dan Daniel tak tahu apa-apa, tapi mereka segera menyusul Xiumin. Minseok mengerti bahwa dirinya dengan sosok kecil itu ingin mengajaknya untuk bermain kejar-kejaran. Akhirnya Minseok meladeninya.

Mereka terus bermain kejar-kejaran tanpa hati. Terbentuk senyuman tulus dari wajah Minseok. Ia lupa dengan segala hal yang membuatnya resah tadi. Yang ada padanya kini keceriaan yang tak henti-hentinya memenuhi hatinya.

Mereka terus bermain hingga tiba-tiba Xiumin keluar dari arena taman bermain. Minseok terus berlari, namun tertegun ketika melihatnya. Tiba-tiba terbentuk rasa kekhawatiran di hatinya, apalagi beberapa mobil tengah berlalu lalang di jalan.

Aleyna dan Daniel mengikuti langkah Xiumin menuju luar arena. Minseok yang awalnya berlari santai, kini langsung mengerahkan seluruh tenaganya untuk mengejar ketiga anak kecil itu.

“Xiumin!”

Xiumin tak mendengar panggilan itu. Ia terus berlari hingga menyebrang jalan yang cukup ramai. Tapi untungnya ia menyebrang dengan selamat. Minseok bernapas lega melihatnya.

Aleyna!!

Tiba-tiba, Minseok mengingat kenangan itu. Satu-satunya kenangan yang ia ingat, di mana tubuh Aleyna terbaring dengan darah yang mengalir dari badannya.

Minseok langsung melemas, apalagi ketika ia melihat Aleyna dan Daniel hendak menyebrang. Minseok mempercepat langkahnya, berusaha untuk menghalangi mereka menyebrang.

“Aleyna!! Daniel!!”

Aleyna dan Daniel mendengar panggilan itu. Mereka yang berada di tengah jalan langsung menoleh kepada Minseok. Minseok tak percaya melihat mereka berdiri di sana dengan wajah yang tampak kebingungan dan polos.

Minseok melihat sebuah mobil melaju ke arah mereka. Minseok semakin cepat berlari. Ia ingin meneriakkan nama mereka berdua, menyuruh mereka untuk cepat menghindar.

Tapi terlambat.

Ciiit…. Braaak!!

Xiumin yang awalnya berlari dengan gembira, langsung berhenti ketika mendengar suara dentuman yang sangat keras dari arah jalan. Ia langsung membalikkan matanya, dan terkejut ketika melihat sosok kedua sahabatnya terbaring di jalanan. Apalagi mobil yang menabrak mereka telah berlari. Ia langsung berlari ke arah mereka.

“Aleyna!! Daniel!!”

Minseok menghampiri Aleyna dan Daniel. Minseok benar-benar tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Semua yang ia lihat di benaknya ternyata terjadi. Tapi, tubuh Daniel ikut terbaring di sana.

Xiumin dengan wajah khawatir langsung memeluk Daniel. Namja kecil itu tak perduli meskipun pakaiannya ternodai oleh darah yang berwarna merah. Ia menangis terisak melihat mereka.

“Daniel… Aleyna… maafkan Xiumin. Xiumin benar-benar… Aleyna….” Xiumin melepaskan pelukannya, lalu berjalan ke arah Aleyna dan memeluk yeoja kecil itu dengan penuh penyesalan. Xiumin memperhatikan wajah Aleyna dengan lekat. Ia tak melihat senyuman cerah dari Aleyna, membuatnya ketakutan. Ia menoleh kepada Minseok.

Hyung, apa yang harus aku lakukan?” tanya Xiumin di sela tangisnya. Minseok menatap nanar ke arah Xiumin, Begitu menyayat hatinya ketika sosoknya saat kecil dulu justru bertanya kepadanya. Minseok menggeleng lemah seraya memeluk lututnya.

“Aku… tidak tahu. Apa yang harus aku lakukan?” Minseok bertanya kepada dirinya sendiri. Pertanyaan yang saat kecil ia tujukan kepada dirinya sendiri.

Minseok melihat sebuah kertas tergeletak di samping tubuh Daniel. Kertas itu telah kotor karena terkena bercak darah. Minseok perlahan mengambil kertas itu. Ia sudah menduga apa yang tertulis di kertas itu.

Dan dugaannya benar. Kertas itu memanglah kertas yang ia baca. Kertas dengan pernyataan rasa suka dari yeoja kecil itu. Sama persis seperti kertas yang ia baca di rumahnya.

Dada Minseok terasa sesak, begitu menyiksanya. Air matanya mendadak mendesak untuk keluar. Ia tak tahan dan memeluk dirinya sendiri kuat-kuat.

Tiba-tiba, cahaya muncul dari sebuah kristal berwarna ungu yang telah berada di samping Minseok. Kristal itu telah pecah menjadi dua bagian. Cahaya itu semakin terang, membuat Minseok menutup matanya.

*****

Perlahan, mata Minseok mulai terbuka karena ia sudah tidak merasakan lagi cahaya yang amat terang. Ia mengedipkan matanya beberapa kali karena matanya sedikit buram.

Hyung, bagaimana?”

Minseok terbelalak ketika mendengar suara Daniel dewasa. Matanya yang kembali melihat dengan jelas melihat sosok Daniel berdiri di hadapannya dengan seorang yeoja berdiri di samping Daniel. Minseok mencoba untuk menebak siapa yeoja itu.

“Xiumin, aku di sini.”

Kembali, Minseok merasakan keterkejutan yang luar biasa. Yeoja itu adalah yeoja yang telah ia bunuh. Aleyna yang berwujud dewasa.

Minseok terdiam. Badannya terasa gemetar. Pikirannya menjadi kalut dengan segala kemungkinan yang terjadi saat ini.

Aleyna berjalan perlahan mendekati tubuh Minseok yang tetap gemetaran. Tangannya bergerak, menyentuh pipi Minseok yang mulai basah oleh air mata.

“Xiumin, kejadian saat itu… bukan salahmu. Bahkan bukan salah siapa pun. Jadi… jangan pernah melupakan kami lagi. Kami membawa ingatanmu kepada kami agar kau kembali mengingat kami berdua lagi.”

Senyuman Aleyna mampu membuat Minseok perlahan kembali mengingat semuanya. Ketika mereka bertiga bermain bersama, ketika Aleyna mengadu kepadanya, saat mereka bertiga sama-sama dihukum. Dan suara Aleyna kecil yang selalu menyebut nama China-nya.

Aleyna melepaskan pegangannya dari pipi Minseok. Ia berjalan ke belakang dan berdiri di samping Daniel. Mereka berdua berpegangan tangan.

“Xiumin, jangan pernah lupakan kami. Kami selalu ada di dalam ingatanmu. Kehangatan kami akan selalu ada di hatimu. Dan senyuman kami… akan selalu mengelilingimu. Jangan pernah melupakn itu. Janji?”

Minseok mengangguk lemah. Kini, Daniel langsung berlari ke dalam pelukan Minseok. Minseok tak kuasa menahan air matanya yang semakin banyak. Apalagi Daniel memeluknya dengan hangat.

Hyung, sejak kecil aku sangat iri dengan Aleyna. Aleyna lebih dekat denganmu, membuatmu kurang perhatian denganku. Tapi aku tak bisa membenci itu. Aku tahu Aleyna adalah yeoja yang kau sukai, sehingga kau lebih peduli kepadanya. Dan aku tahu, kau juga menyayangiku. Iya, kan Hyung?”

Minseok terdiam, mulai menyadari bahwa memang sejak kecil dirinya kurang memerhatikan Daniel. Perasaan bersalah membuatnya tidak bisa memandang Daniel. Tapi Daniel tersenyum lembut kepada Minseok, seakan ia tidak marah dengan semua itu.

Cahaya mulai muncul dari diri Aleyna dan Daniel. Minseok terpana. Cahaya itu membuat matanya mulai terasa sakit. Tanpa disadarinya, kedua matanya tertutup rapat. Minseok tertunduk, namun sebenarnya dia tak ingin matanya tertutup. Ia ingin melihat Aleyna dan Daniel.

Aleyna dan Daniel tersenyum. Perlahan, sosok mereka mulai menghilang, bersamaan dengan cahaya tubuh mereka yang semakin terang.

Minseok, jangan lupakan kami…

*****

Minseok memakai jasnya dengan buru-buru seraya berlari menuju mobilnya. Ketika ia telah sampai di samping mobilnya, jasnya belum terpasang dengan benar. Ia membetulkannya dengan hati yang kesal.

Tiba-tiba, ia melihat kristal ungu yang tergeletak di depannya. Ia tersenyum, lalu mengambil kristal itu.

“Aku… tidak akan melupakan. Meskipun aku yang membunuh mereka, aku tidak akan lupa. Lagipula mereka memintaku untuk terus mengingat mereka, pertanda bahwa mereka tidak ingin dilupakan.”

Minseok menatap langit biru dengan perasaan lega sekaligus bahagia.

Gomawo, Daniel, Aleyna.”

THE END

Bagaimana?? Gaje?? Hehe, sebenarnya Ride ini sudah lama dibuat, tapi baru hari ini bisa diwujudkan ke KFP. Maaf kalau ada typo yang tidak terkendali, lain kali akan diusahakan untuk membuat Ride bagi Riders yang lebih baik lagi.

Have a nice day!😀

About fanfictionside

just me

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s