FF/ MONSTER/ BANGTAN-BTS/ pt. 8


Title                : “Monster” [Part 8]

Author            : intan @sena_kuki

Rating                        : T (17+)

Genre              : school life,family, Angst, fantasy, romance, comedy, etc.

Cast                :

  • Han Se Na (OC)
  • Kim Nam Joon
  • Min Yoon Gi
  • Park Han Na (OC)
  • Kim Seok Jin
  • Jung Ji Hwa (OC)
  • Park Jimin
  • Park Sang In (OC)
  • Kim Taehyung
  • Jang Ok Jung (OC)
  • Jeon Jungkook
  • Jung Eun Shi(OC)
  • Jung Hoseok
  • Park Subyong (OC)

 Monster 8

***

Please, comeback..

***

 

“Oppa mianhae, jebal.. jangan membenciku..”

“MIANHAE!!!!”

“kau sudah sadar??” Tanya seseorang yang berada diruangan UKS itu yang tak lain adalah jin sang dokter pengganti sementara di jewelry.

Jin yang sedang menyeduh kopi panasnya itu pun dengan santai melangkahkan kakinya kearah sena untuk memeriksa kondisinya.

“apa kau sudah ditakdirkan untuk seperti ini semenjak lahir? Kenapa kau terlalu sering pingsan huh?” Tanya jin sambil menatap sena dengan heran.

“siapa yang membawaku??” Tanya sena dengan suaranya yang bergetar begitupun dengan tatapannya yang tajam lurus kedepan.

“masih sama saat kau pingsan diruangan basket..” jawab jin bingung.

“Yoon Gi oppa??” Tanya sena dengan tatapan mata meyakinkan dan menolehkan kepalanya menatap jin dengan ragu. Reaksi sena terlihat begitu berbeda bagi jin hingga tanpa berpikir panjang ia hanya mengangguk bingung.

“dia hanya mengantarmu dan kemudian pergi begitu saja, ada apa dengan kalian? Apa kalian punya masalah?” Tanya jin bingung.

Tidak mendapat respon dari sena membuat jin menjadi canggung dan lebih memilih untuk meninggalkan sena sendirian di UKS. Setidaknya bisa membuat sena sedikit lebih rileks dari sebelumnya.

Setelah jin pergi dari ruangan itu sena langsung bangkit dari rebahannya dan bersiap untuk pergi namun fisiknya terlalu lemah untuk bangun sehingga ia hanya duduk diatas tempat tidur itu. Ia hanya menekur memikirkan percakapann nya dengan Yoon Gi terakhir kali.

Sena bahkan menggigiti bibirnya hingga tanpa sadar ia meneteskan air matanya. Ia terlihat takut jika yoon gi membencinya dan meninggalkannya begitu saja seperti yang dilakukan kedua orang tua mereka.

“ullijima…” ucap seseorang pelan dari arah sebalik kasur UKS itu membuat sena langsung menolehkan kepalanya menatap arah suara. Terlihat jungkook yang menjaga taehyung berjalan kearah sena dengan wajah datarnya. Jungkook terlihat lebih dewasa dari sebelumnya.

“nuna.. semuanya akan baik-baik saja, yoon gi hyung hanya perlu waktu untuk menerima kenyataan” ucap jungkook sambil meletakkan tangannya dipundak sena bahkan juga membungkuk agar bisa menatap wajah sena dan menghapus air bening dipipinya itu.

Tatapan jungkook begitu tulus dan senyumannya bagaikan malaikat hingga bisa membuat sena sedikit lebih tenang. Jungkook memeluk nunanya itu dengan hangat agar sena bisa lebih tegar.

“permisi? Dimana Kim Taehyung??” tiba-tiba terdengar suara seorang wanita yang tidak terlalu tua dari pintu UKS membuat jungkook langsung melepaskan pelukannya pada sena.

“nuguya? Apa kau murid jewelry? Apa ini yang dilakukan murid jewelry di UKS? Berpelukan dan berbagi kasih di UKS huh??” Tanya wanita itu menatap jungkook dan sena dengan tajam membuat jungkook yang polos itu menjadi bingung sementara sena langsung mengangkat kepalanya tak terima.

“maaf, kupikir anda salah paham..” bantah sena dengan sedikit tak terima.

“kau meneriaki ku??” teriak seseorang itu juga tak terima.

“kenapa berisik sekali???” Tanya jin yang sudah kembali dari jedanya.

“ahh.. nyonya kim..” sapa jin ragu sambil membungkuk hormat namun tak ditanggapi dan wanita itu malah berjalan kearah ranjang dimana taehyung terbaring tak sadarkan diri atas kejadian tadi pagi.

“ahh anakku, Apa yang harus kulakukan? Apa aku harus membawanya ke rumah sakit??” ucap wanita itu sambil menyentuh kening dan pipi taehyung. Perhatian yang ditunjukkan oleh wanita itu terlihat berlebihan dan dibuat-buat membuat jungkook mendesah tak suka.

“gwaenchaneyo, dia hanya shock dan pingsan. Kupikir ia takut pada darah..” ucap jungkook yang kemudian melangkahkan kakinya kearah wanita itu.

“darah? MWO?? Kenapa bibir anakku terluka seperti ini apa yang tejadi???” tanya ibu taehyung cemas sambil menatap jungkook.

Dengan polosnya jungkook menjawab semuanya dengan benar dan teliti.

“dia mencium seorang gadis, namun gadis itu menolak hingga ia menggigiti bibir taehyung dan dia pingsan lalu juga ditam..”

“YYA!!! JEON JUNGKOOK!!!” teriak sena dari tempat tidur itu sambil berusaha berjalan kearah jungkook lalu mencubiti lengan jungkook membuat jungkook langsung meringis kesakitan sementara jin hanya memperhatikan jungkook dan sena yang terlihat lumayan dekat. Juga ada sesuatu yang aneh bagi jin kenapa sena memanggil jungkook dengan marga jeon sedangkan name tag itu tertulis marga kim.

“jeon jungkook??” Tanya wanita itu bingung.

“ne?” balas jungkook bingung.

“seolma?? Maldo andwae..” ucap wanita itu sambil menatap jungkook heran.

“waeyo??” Tanya jungkook juga bingung.

“lalu nametag?”

“ooh ini… uuhh..” jungkook terlihat bingung untuk menjelaskan semuanya karena ia sedang berada didekat sena, jungkook takut jika sena mengatakan hal yang tidak-tidak pada ibunya nantinya.

“dia kim jungkook adik sepupuku, dia bukan jeon jungkook..” ucap sena dengan lugas.

“jinjja?” tanya wanita itu tak percaya membuat jungkook langsung menatap wanita itu dengan tatapan bingung.

“waeyo?” Tanya jungkook heran.

“anni..” jawab wanita itu tak peduli sementara jungkook masih menatap wanita itu dengan tatapan marah. Jin yang masih berada disitu juga berusaha untuk menahan emosi jungkook.

***

 

Diluar ruangan UKS terlihat jungkook yang duduk sambil menatap lurus kedepan. Ditangannya terlihat ia sedang memutar-mutarkan ponselnya. Tatapan jungkook terlihat kosong, ia tengah memikirkan sesuatu. Sesuatu yang mengganjal dipikirannya.

“makanlah.. kau belum makan siang kan??” ucap jin sambil memeberikan roti dan sekaleng minuman jus pada jungkook.

“gomawo..” ucap jungkook dingin, terdengar tidak sopan namun jin berusaha untuk menahan amarahnya.

“apa yang kau pikirkan??” Tanya jin heran membuat jungkook langsung menatap jin bingung.

Sekitar 5 detik ia menatap jin jungkook langsung merebut roti dari tangan jin dan dengan segera memakannya dengan gigitan yang lumayan besar untuk menutupi kebingungannya. Ia terlihat ragu untuk menceritakan isi pikirannya kepada orang lain termasuk jin apalagi sena kakak sepupunya sendiri.

“kau seharusnya lebih sopan pada wanita itu, seberapapun mengerikan dan menjengkelkannya dia, dia tetap istri dari pemilik sekolah ini..” ucap jin membuat jungkook terbatuk-batuk terkejut dengan ucapan jin. Dengan segera jin langsung memberikan minuman itu pada jungkook dan menepuk-nepuk pundak jungkook agar bisa mencerna lebih baik.

“m-mwo? Istri pemilik sekolah? yang benar sajaa….” Ucap jungkook sambil membulatkan matanya. Kenyataan ini sungguh mengherankan bagi jungkook Karena yang ia tau pemilik sekolah ini adalah ibunya sendiri.

Lalu apa berarti ibunya adalah istri simpanan dari pemilik sekolah ini? atau ibunya adalah seorang wali dari pemilik saham sekolah ini? Atau ibu baru saja mempunyai sedikit saham dari sekolah ini? sekian pertanyaan yang membingungkan terus berputar diotak kecilnya membuat jungkook pusing.

“lalu siapa wanita itu? apa ia benar-benar ibunya taehyung??” Tanya jungkook penasaran.

“ini masalah keluarga taehyung, walaupun aku tau aku tak akan mengatakannya padamu. Jika kau temannya maka tunggulah sampai saat taehyung akan bercerita..” ucap jin sambil tersenyum ramah kemudian pergi meninggalkan jungkook yang masih terkejut dengan kenyataaan barusan.

Setelah berfikir cukup lama jungkook langsung mengeluarkan ponselnya dan mencari nomor kontak seseorang dengan cemas.

“yeoboseyo? Eomma?”

 

***

“apa itu benar jika taehyung menciummu tadi pagi??” tanya ji hwa dengan tatapan tak percayanya pada ok jung.

“apa kau masih bertanya terhadap sebuah kenyataan? Itu terdengar mengganggu jika didengar secara berulang-ulang..” ucap sang in sambil menatap sinis pada ji hwa.

“yya.. aku hanya ingin konfirmasi dari ok jung secara langsung, apa itu mengganggumu? Ok jung-ah?”

“jia kau merasa ia hanya menjawab beberapa pertanyaan kau hanya perlu menannyakan pertanyaan inti..” ucap eun shi tiba-tiba membuat sang in dan ji hwa langsung menatap eun shi penasaran.

“bagaimana rasanya? Apakah itu mencapai klimaks??” Tanya eunshi dengan polosnya sambil menyentuh bibirnya dan membulatkan matanya dengan nada suara penasaran.

“YYYA!!!” teriak sangin, ji hwa termasuk ok jung sendiri.

Eunshi yang takut diteriaki langsung menunduk dan meminta maaf lalu melahap makanannya dengan cepat agar ia bisa mengunci mulutnya itu dengan lebih rapat.

“lalu kenapa taehyung pingsan??” Tanya ji hwa pensaran dan dibalas dengan anggukan sang in dan eunshi.

“kupikir ia seorang hematophobia..” ucap seseorang yang datang kemeja kantin tempat para gadis itu sedang bergosip ria.

“annyeong hoseok…” sapa eunshi sambil melambaikan tangannya walaupun mulutnya dipenuhi makanan.

“apa taehyung pernah bercerita sesuatu pada kalian?” Tanya hoseok memastikan dan dibalas dengan gelengan kepala oleh semua gadis itu.

“kupikir jimin mengetahui sesuatu Karena jimin cukup dekat dengan taehyung..” ucap sang in pelan.

“kalau begitu panggil jimin..” balas ok jung ragu membuat semua orang menatap ok jung dengan heran.

“lihatlah.. ok jung mulai tertarik pada taehyung..” ucap hoseok pelan membuat eunshi sang in dan ji hwa langsung menatap detile wajah ok jung yang memerah karena malu itu.

“itu jimin.. JIMIN-AH!!!” teriak eunshi membuat sang in yang duduk disamping eunshi langsung menutup telinganya Karena terkejut dan berisik. Semua orang langsung menoleh pada jimin kecuali sangin, sang in terlihat tidak nyaman ketika melihat jimin.

“wae??” Tanya jimin yang kini duduk disamping sang in berhadapan dengan hoseok dan ok jung.

“apa kau tau sesuatu tentang taehyung? Dia pingsan ketika…”

“bibirnya berdarah digigit oleh ok jung?” sambung jimin terhadap pertanyaan hoseok membuat ok jung kembali menekur kan kepalanya malu.

Ia merasa bersalah dan malu terhadap kejadian ini. Murid jewelry memang tidak main-main gosip bagaikan sebuah kembang api bagi mereka, sungguh menarik untuk dipertontonkan dan diperhatikan walaupun nantinya akan dilupakan tetap saja ada memory yang tertinggal dibalik itu semua. Sepertinya kejadian kecil itu mempunyai sesuatu yang cukup serius dibaliknya bagi taehyung.

“ne.. taehyung takut darah ia phobia dengan darah..” ucap jimin santai.

“jinjja? kenapa begitu?” Tanya ok jung penasaran.

“jika kau penasaran ceritanya kau tanyakan padanya.. ini masalah pribadi hanya teman yang paling dekat termasuk kau pacarnya akan mengetahuinya juga jika kau bertanya secara langsung. Jadi pergi lihat taehyung..” ucap jimin tersenyum nakal membuat ok jung membulatkan matanya tak terima.

“ne.. setidaknya kau pergi melihatnya atau meminta maaf sepertinya ia benar-benar punya phobia..” ucap eunshi pelan.

“ne.. hal kecil itu jangan pernah dianggab sepele. Jika itu memang benar phobia itu bisa jadi serius. Sebenarnya aku juga punya phobia hingga membuatku buta arah..” ucap hoseok santai membuat semua orang menatap hoseok menunggu hoseok untuk meneruskan kalimatnya.

“buta arah? Apa laki-laki tampan juga buta arah??” Tanya ji hwa tak menyangka.

“dulu saat kelas 5SD aku tidak punya teman sama sekali aku hanya berdua dengan adik perempuanku yang berada dikelas 2SD”

“Saat itu aku sedang berada dilantai dasar dan tiba-tiba gempa yang cukup kuat datang. Saat itu adikku langsung menelfonku dengan suara terbata-bata ia seperti berada dikelas yang berada dilantai 3”

“Aku berlari menaiki jenjang tak peduli jika tembok atau jenjang itu rubuh aku hanya berjalan kemana arah mataku aku hanya terus berlari, berlari dan berlari untuk mencari adikku”

“Aku menemukan adikku dikelas sendirian dibawah mejanya, saat itu juga aku menggendongnya dipundakku dan terus berlari mencari jalan keluar, namun jenjang itu sudah rubuh aku terus mencari jalan namun koridor yang lurus dan panjang itu membuatku kesal. Tidak ada jalan satupun kecuali jendela ataupun koridor lurus yang panjang itu”

“aku memutuskan untuk meloncati jendela daripada terus bertahan didalam gedung. Ketika akan meloncati jendela tiba-tiba atap rubuh hingga sesuatu mengenai pundak adikku saat itu aku sangat cemas..”

“ketika aku menyentuh kepalanya, tanganku sudah dilumuri oleh darah. Gempa sudah berhenti namun gedung itu tak berhenti juga untuk rubuh. Seakan bumi tak ingin adikku merasa sedikit lebih tenang..”

“Setelah berada dirumah sakit adikku sudah meninggal. Semenjak saat itu aku selalu menyalahkan diriku, dan aku begitu takut ketika berada dijalanan lurus karena hal itu mengingatkanku kepada adikku. Namun setelah cukup lama untuk menyesuaikan diri entah mengapa aku jadi seperti ini.. aku tak tau kemana harus melangkah aku hanya mengikuti kemana orang pergi dan kembali, Karena itu lumayan bisa membantuku..” jelas hoseok panjang lebar membuat semua orang yang mendengar cerita hoseok terdiam tak percaya. Mereka semua seperti tak sanggub mengeluarkan kata-kata untuk menghibur si hoseok lelaki yang tegar dan terlalu ceria itu.

“kehilangan seorang adik perempuan itu pasti berat untukmu..” ucap jimin sambil menatap mata hoseok dengan iba.

“jadi hingga sekarang kau masih buta arah? Jadi itu mengapa kau tidak akan pergi dari kelas jika kami masih dikelas” Tanya eunshi heran dan dibalas dengan senyuman oleh hoseok.

“jika kau memberitahuku dari awal.. bukankah sena temanmu ketika di jepang? Aku mendengarnya..” Tanya eunshi.

“ne.. saat itu sena yang membantuku mengingat jalan sementara aku hanya memberikan informasi sebuah tempat yang akan kita tujui. Ketika sena pindah ke indonesia aku kembali menjadi penyendiri dan hanya mengikuti kemana orang lain pergi dari belakang..” ucap hoseok sambil tertawa ringan membuat jimin tak tau harus menghibur hoseok seperti apa.

“ok jung-ah.. phobia itu punya cerita menyedihkan dibaliknya, setidaknya kau menemui taehyung sebentar..” ucap hoseok pada ok jung dan dibalas dengan anggukan ragu oleh ok jung. Ok jung perlahan beranjak dari tempat duduknya dengan bingung dan kemudian pergi meninggalkan temannya untuk menemui taehyung.

***

“kau masih tidak akan masuk ke kelas? Apa kau benar-benar ingin aku menemui ibumu?” Tanya sena pada jungkook yang menyender didinding koridor sekolah itu menatap jendela yang menghembuskan poni hitamnya.

Jungkook benar-benar terlihat aneh sekarang, jungkook terlihat memikirkan Sesuatu yang aneh pada dirinya. Jungkook bukan seorang yang pemikir dan peduli terhadap sekitar namun sekarang hanya satu yang membuatnya bingung.

Kenapa perasaannya terasa sedih kektika melihat ibu taehyung?

“kau tidak mendengarku?” Tanya sena yang kali ini melangkahkan kakinya kearah jungkook sambil menyentuh pundaknya. Jungkook hanya mengangguk dan menghembus nafas panjangnya.

“kau bicara pada jin oppa, katakan padanya jangan beritahu orang lain tentang hubungan kita. Aku tak ingin ibumu memarahiku arra? Masuklah kekelas jika kau tak ingin dipindahkan ke amerika..” ucap sena dengan tatapan hangat namun nada suara kesal khas seorang nuna kepada dongsaengnya itu.

“jeon jungkook? Kim jungkook? Apa aku bodoh? Kenapa aku tidak bertanya kenapa eomma menyuruhku untuk mengganti nama ketika memasuki jewelry??” gumam jungkook kemudian ia menendang dinding itu membuat jendela bergetar dan pergi begitu saja.

***

Di UKS itu masih terlihat ibu taehyung yang masih menunggui anaknya dengan sabar dan penuh kasih sayang. Ibu taehyung terus menatap lurus kewajah anaknya, tatapan seperti sebuah penyesalan dan kesedihan. Sikap yang ditunjukkan ibu taehyung tadi berbeda sekali dengan sekarang saat ruangan itu benar-benar hanya ditinggali oleh taehyung dan ibunya.

Ok jung yang akan memasuki UKS dan akan membuka pintu terhenti ketika melihat ibu taehyung yang menatap anaknya seperti itu. Ok jung tersenyum simpul ketika melihat taehyung terbaring seperti itu, ia tak menyangka jika taehyung mempunyai sosok ibu yang sangat perhatian padanya.

“taehyung-ah?? Kau sudah sadar???” Tanya ibu taehyung ketika melihat taehyung sedikit bergerak dan meringis kesakitan terhadap bibirnya namun ketika melihat sosok wanita itu dihadapannya membuat taehyung terdiam tak percaya. Tatapan taehyung berubah tajam, ia bahkan tidak tersenyum sama sekali atas kedatangan ibu kandungnya kesekolah hanya untuk melihat keadaan anak semata wayangnya.

Ok jung yang memperhatikan tingkah taehyung pada ibunya sendiri juga merasa heran. Ada apa dengan taehyung? Apa ia tak suka dengan kehadiran ibunya disampingnya?
“kenapa kau disini?” Tanya taehyung dengan nada suaranya yang dingin.

“apa kau pan..”

“JANGAN MENYENTUHKU!!” bentak taehyung dengan suara besarnya ketika ibunya hendak menyentuh kening taehyung. Bahkan taehyung tidak sengaja menyenggol gelas yang berada diatas meja itu membuat gelasnya pecah menjadi beling-beling yang tajam.

Ok jung yang mendengar suara pecahan kaca itu tersentak kaget. Ok jung bahkan menyentuh dadanya yang berdetak kencang saking kagetnya dengan sikap taehyung pada ibunya.

“kau membuatku semakin merasa buruk..” gumam taehyung sebelum ia bangkit dari rebahannya untuk pergi keluar.

Ok jung yang terkejut melihat taehyung seperti itu pada ibunya terdiam tak menyangka. Melihat taehyung yang melangkahkan kakinya untuk membuka pintu ok jung langsung berlari untuk menyembunyikan diri. Ia tak tau apa yang akan ia lakukan jika taehyung tau jika ia berdiri didepan pintu itu menyaksikan apa yang dilakukan taehyung pada ibunya.

Taehyung hanya berjalan tanpa menyadari ok jung yang tengah bersembunyi dibalik tembok. Ok jung menghembuskan nafas leganya ia begitu takut pada taehyung sekarang. Ia takut terhadap urusan orang lain apa lagi jika orang itu adalah taehyung.

“i-ige mwoya…?? Y-yyaa??” tiba-tiba taehyung kembali dan menarik lengan ok jung membuat ok jung yang sebelumnya merasa lega menjadi merasa ketakutan. Apa taehyung akan memarahinya karena baru saja menguping pembicaraan ia bersama ibunya.

***

Dibawah pohon itu terlihat taehyung yang masih diam tak bicara sedikitpun begitu pula dengan ok jung. Ok jung hanya menggigit-gigit bibirnya karena gugup. Ia tak tau harus berbuat apa dan mengatakan apa pada taehyung.

“taehyung-ah, itu.. ehm..mianha..” belum sempat ok jung bicara taehyung sudah menyenderkan kepalanya dibahu ok jung membuat ok jung langsung terdiam.

“yya.. taehyung-ah.. neo micheosseo???” ucap ok jung dengan nada suara bergetar dan gugup.

“hanya sementara, biarkan seperti ini..” gumam taehyung. Mendengar taehyung memohon seperti itu ok jung hanya diam. Menurutnya taehyung punya masalah yang berat dengan ibunya. Taehyung butuh waktu dan sandaran untuk menenangkan dirinya. Tapi kenapa harus dengan ok jung?

“yang tadi pagi.. mianh.. aku tidak tau kau hematophobia..” ucap ok jung terbata-bata dan pelan namun masih dapat didengar oleh taehyung.

“lalu apa yang bisa kulakukan sekarang.. setidaknya itu impas kau sudah merebut ehm..” ucapan ok jung terpotong hingga ia menyentuh bibirnya wajahnya pun berubah kesal.

“pokoknya kita sudah impas dan mari melupakan kejadian tadi pagi.. juga tentang ibuku, besok ibuku akan dipindahkan kerumah sakit. Kau tidak perlu khawatir, selama ada pengacara ibuku akan baik-baik saja.. gumawoyo, Kim taehyung. Jika tidak ada kau waktu itu aku tidak tau apa yang akan terjadi pada ibuku.” ucap ok jung yang kali ini tersenyum mengingat kebaikan taehyung padanya kemarin.

“apa yang kau lakukan dnegan jungkook tadi pagi? Kenapa kalian tertawa seperti itu?” Tanya taehyung tiba-tiba membuat ekspresi wajah ok jung menjadi bingung.

“aah itu.. jungkook bilang ia adalah sepupu sena Karena tidak percaya aku hanya tertawa. Wae?”

“jinjja?? hanya itu??” Tanya taehyung yang kali ini mengangkat kepalanya dan menatap wajah ok jung.

“ne” jawab ok jung singkat sambil memperhatikan wajah taehyung yang kusut ditambah dengan luka dibibirnya.

Taehyung terlihat menghela nafasnya dengan berat. Ia hanya salah paham terhadap jungkook hingga membuat perasaannya menjadi buta. Namun paling tidak taehyung mulai berani untuk menunjukkan perasaannya pada ok jung melalui fisik. Taehyung memang ceroboh, ia tidak mempelajari watak seorang wanita sebelum bertindak.

Ok jung mengeluarkan sesuatu dari kantong seragamnya. Sebuah plester kecil untuk luka dibibir taehyung.

“kau diam..” ucap ok jung kemudian menempelkan plester itu dibibir taehyung dengan hati hati.

“pelan-pelan babo!!” ucap taehyung sambil menahan tangan ok jung.

Setelah selesai taehyung membuka matanya dan menatap ok jung yang berjarak sangat dekat dengannya. Taehyung tersenyum jahil menatap ok jung. Ketika ok jung menyadari tatapan taehyung ok jung langsung memundurkan kepalanya namun taehyung masih menahan tangannya membuat ok jung mengerinyutkan keningnya bingung dengan hal apa lagi yang akan dilakukan taehyung padanya.

“yya.. apa kau masih belum sadar? Apa kau masih ingin dipukul? Kali ini aku tidak akan peduli lagi denganmu. Jangan salahkan aku jika kau benar-benar terluka..” peringat ok jung namun tak ditanggapi oleh taehyung.

“ok jung-ah..”

“wae??” Tanya ok jung kesal namun taehyung malah mletakkan tangan ok jung didadanya.

“kau merasakannya??” Tanya taehyung bingung.

“detak jantungmu??” Tanya ok jung bingung.

“ini lebih cepat dari sebelumnya.. ini karena mu, itu berarti aku menyukaimu. Lalu apa yang harus kulakukan? Apa aku harus menjadi pacarmu?” Tanya taehyung polos membuat ok jung terdiam tak percaya terhadap kata-kata bodoh yang dikeluarkan taehyung.

“kau kubebaskan kali ini.. lain kali jangan pernah muncul dihadapanku..” ucap ok jung ketus kemudian melepaskan tangannya dari taehyung dan meninggalkan taehyung begitu saja.

“dia pikir aku hanya benda yang harus ia miliki ketika ia merasa benar-benar harus memilikinya??” gumam ok jung pelan.

“mwo??” Tanya taehyung pelan. Taehyung dapat mendengar suara itu samar-samar namun taehyung yang bodoh tidak menyadari dimana letak kesalahannya pada ok jung.

***
Sena memasuki kelasnya dengan langkah biasa. Ia sedikit telat masuk kedalam kelas namun karena alasan ia berasal dari UKS ia tetap diizinkan mengikuti jam pelajaran sebagaimana biasanya.

Ketika duduk disamping eunshi sena langsung menatap kearah sampingnya tepat pada sebuah kursi kosong didekat jendela yang katanya itu adalah tempat duduk nam joon. Seorang murid jewelry yang cukup pintar walaupun hampir tak pernah mengikuti jam pelajaran.

“aku sudah tidak melihatnya lagi, apa ia di atap?” pikir sena kemudian ketika ia menghadap kedepan ia mendapati sebuah stick note berwarna pink yang sudah tertempel dimejanya.

‘gwaenchana? Bagaimana kabarmu??’

Sena langsung menatap eunshi dan orang yang duduk didepannya ‘NaNa’. Eunshi terlihat focus mengerjakan soal MTK nya sementara NaNa hanya duduk sambil menyenderkan punggungnya dikursi.

Sena menatap nana tak percaya, nana yang selama ini sakit tak ingin didatangi oleh sena. Nana yang akhir-akhir ini menjauhi sena tanpa alasan yang jelas. Bahkan sena akhir-akhir ini juga tidak memikirkan nana teman pertamanya itu karena urusannya sendiri. Sena tampak merasa sangat-sangat bersalah pada dirinya sendiri.

Apa yang ia lakukan selama ini? kenapa ia tidak langsung datang pada Nana saat itu? kenapa Nana tidak menjadi orang pertama yang mau mendengarkan semua masalah yang ia dapati berturut-turut hingga saat ini.

Disore hari sena mengajak nana untuk bicara sebentar ditaman kolam air mancur yang mana tempat itu adalah halaman utama jewelry. Tempat pertemuan pertamanya dengan yoon gi ketika sudah berpisah sekian tahun lamanya.

“nana-ya.. mianhae..” ucap sena sambil menunduk tak berani menatap nana.

“harusnya aku yang meminta maaf, aku menjauhimu dengan alasan yang tidak jelas..” ucap nana pelan kemudian menyentuh tangan sena dengan kedua tangannya. Mengusap tangan sena dengan hangat layaknya seorang sahabat yang tulus padanya.

“aku bahkan tidak sempat mendatangi mu. Saat itu aku juga sakit, masalah datang bertubi-tubi padaku..”

“aku tau, kau masih belum terlalu sehat! kau butuh istirahat, kenapa kau terus memaksakan dirimu..” ucap nana pelan.

Nana terlihat berubah sedikit dewasa dari sebelumnya. Nana yang sebelumnya sangat cerewet dan terlalu ceria kini berubah menjadi NaNa yang hangat dan pendiam layaknya menutupi sebuah luka dihatinya.Tampaknya selama libur nana sudah menginstrospeksi dirinya sendiri. Bagian manakah yang tidak disukai oleh orang lain pada dirinya? Apa yang harus ia lakukan agar orang lain maklum terhadap dirinya.

“matamu bengkak! kau menagis?” Tanya nana bingung.

“hhmm..” jawab sena sambil mengangguk.

“wae? Berceritalah??” Pinta nana pada sena dengan nada suaranya yang bersahabat dan hangat itu membuat sena langsung menatap nana bingung.

Benar, ia butuh tempat bercerita. Setidaknya ini bisa membuat masalahnya lebih ringan, namun sena tampak bingung Karena masalah itu memang bersifat pribadi. Melihat nana seperti ini yang dengan senang hati mau mendengarnya membuat sena tak tega jika ia tetap akan merahasiakan masalah ini dari teman pertamanya, NaNa.

“m-mwo??” yoongi oppa kakak kandungmu?” Tanya nana tak percaya.

“aku juga berfikir begitu, bagaimana bisa? Yoongi oppa terlihat membenciku. Yoongi oppa ditinggalkan dipanti asuhan karena aku, yoongi oppa…” air mata sena kembali mengalir ia tak sanggub melanjutkan kata-katanya nana memeluk sena dan mengusap-usap rambut sena pelan.

“yoongi oppa hanya perlu waktu. Ia perlu waktu untuk tenang dan memikirkan hal ini. kau taukan aku dekat dengan yoongi oppa? Dia hanya terkejut dan sedang memikirkan apa yang akan ia lakukan kedepannya. Jika kau ingin aku bisa membantumu bicara dengan yoongi oppa..” ucap nana pelan.

“gumawo..” jawab sena pelan.

Ternyata benar seakan sebuah beton yang menghimpiti tubuh sena sudah terangkat walaupun masih meninggalkan bekasnya setelah ia berbagi cerita pada NaNa. Perasaannya terasa lebih baik begitu pula dengan hubungannya dengan NaNa yang sebelumnya renggang kembali terjalin erat seperti saat pertama kali mereka mulai berteman.

***

“eomma? Apa kau benar-benar sibuk? Pertanyaan ini terus mengganjal diotakku. Aku ingin bertemu denganmu eomma..” pesan jungkook pada ibunya. Sekitar beberapa detik ponsel jungkook kembali bergetar mendapati pesan balasan dari ibunya yang mengatakan.

“eomma di panti asuhan, jika ada keperluan sangat penting kau datang saja kesini. Eomma perlu mengurus sesuatu disini..” wajah jungkook berubah datar membaca pesan itu.

Jungkook terlihat malas untuk datang ke panti asuhan itu karena ia pikir panti asuhan itu tempat yang hanya dihuni oleh anak kecil yang nakal walaupun Jungkook kecil sering datang ke panti itu bersama ibunya bermain dengan Min Yoon Gi, berbagi informasi dengan yoongi tentang sena yang sudah menjadi kakak sepupunya itu.

Mengingat sena membuat jungkook mendapat ide. Kenapa ia tidak mengajak sena juga ke panti asuhan? Paling tidak sena bisa benar-benar mengingat bagaimana masa kecilnya di panti asuhan dulu. Saat itu juga jungkook langsung menghubungi sena melalui ponselnya, tak peduli dengan guru yang tetap menerangkan pelajaran didepan kelas jungkook masih tetap bergelut didunianya sendiri.

***

“apa kau akan terus begini? Apa kau akan tetap terus menutupi perasaanmu??” ucap seorang lelaki gemuk sambil memakan sebuah pizza pada seorang lelaki yang duduk disebuah kursi menghadap jendela apartment. Lelaki itu terlihat serius membaca buku dengan kacamata berbingkai hitam yang menggantung dimatanya.

“lalu apa yang bisa kulakukan? Subyong nuna akan terluka jika aku tetap disisinya..” jawab lelaki itu dengan suaranya yang berat.

“apa kau tau seseorang yang ditakdirkan untuk subyong sudah ada didekatnya..” jawab lelaki itu sambil mengambil potongan pizza lagi dengan tangan kirinya.

Mendengar hal itu membuat gerakan tangan lelaki itu dalam mengerjakan soal fisika terhenti begitu saja dan segera menatap lelaki itu dengan tatapan aneh.

“apa kau benar-benar utusan dewa? Apa dewa benar-benar mengenalku? Seberapa banyak? Jika dewa menyayangiku bisakah saat ini juga hidupku kembali seperti dulu??” ucap lelaki itu dengan matanya yang berkaca-kaca membuat lelaki itu meletakkan kembali pizza yang berada ditangannya.

“dewa menyayangi makhluk seperti mu, kau berada diantara dua dunia sekarang untuk itu dewa berada didekatmu. Ini adalah puncak dari penderitaanmu, kau hanya perlu mengatasinya semampumu. Hal yang harus kau ingat, takdir tidak selalu takdir saat melewati sebuah takdir yang diminta padamu hanyalah seberapa banyak kau bisa mengatasi dan bersabar terhadap masalahmu dan jangan pernah menyesali apapun yang sudah terjati padamu, arrasseo? Jika kau ingin hidupmu kembali seperti dulu apa kau ingin ibumu tetap hidup dalam penderitaan ayahmu?” ucap lelaki itu datar namun terdengar tulus dan serius.

“begitukah?” balas lelaki itu sambil mengeluarkan smirknya. Ia seperti tidak percaya dengan kata-kata lelaki yang ada diapartmentnya saat ini. Lelaki aneh yang tiba-tiba muncul di atap ketika ia mencium sena dan lalu juga muncul dihadapannya dan sekarang, hobeom.

“kau hilang lagi..” gumam nam joon sambil tersenyum pahit lalu menatap jendela apartmentnya yang memperlihatkan pemandangan kota dipadati oleh banyak kendaraan. Langit terlihat mendung membuat nam joon teringat pada subyong.

“nuna kau melewati waktu yang sulit karena ku kan? Bertahanlah hingga hujan turun..” gumam nam joon kemudian kembali mengerjakan soal-soalnya.

 

***

“aku tidak melihat subyong sejak tadi, jihwa-ya apa kau melihat subyong??” Tanya sang in pada ji hwa membuat ji hwa langsung menggeleng.

“lalu kau tidur dengan siapa semalam? Bukankah kau takut sendirian?” Tanya sangin menuntut membuat wajah ji hwa berubah panik tidak karuan.

“ada apa denganmu??” Tanya ok jung yang baru datang dari luar kelas.

“ji hwa seperti menyembunyikan sesuatu..” jawab sangin dengan wajah kesalnya menatap ji hwa yang masih tetap menutup rapat mulutnya.

“kau melihat jimin?? Aku ingin menanyakan sesuatu padanya..” ucap ok jung pada sang in membuat wajah sang in berubah canggung.

Sang in masih merasa canggung pada jimin semenjak ia menangis didepan jimin. Ia masih tetap ingin menjauhi jimin walaupun itu masih sulit. Namun, Karena kondisi mereka satu kelas membuat sangin tetap tidak bisa menjauhi jimin. Situasi seakan menuntut sang in untuk terus membuat jimin selalu berada dibayang-bayangnya. Ia benar-benar ingin melupakan jimin atau menganggab jimin sebagai temannya sebagaimana dulunya.

“bukankah kau dekat dengan jimin? bantu aku mencarinya, nomornya juga tidak aktif. Apa kau tidak kasihan denganku? Barusan aku bertemu dengan alien itu dia itu sungguh ahhh…” gumam ok jung sambil terduduk lemas dikursinya dan merebahkan kepalanya diatas meja. Hal ini membuat ji hwa mendapat ide untuk menghentikan sangin yang terus bertanya mengenai apa yang ia lakukan semalam pun menyuruh sang in untuk pergi mencari jimin. Dengan berat hatipun sangin mulai melangkahkan kakinya untuk mencari jimin.

Sebenarnya sang in juga bingung kemana ia harus mencari jimin? kenapa urusan jimin selalu disangkut-pautkan dengannya akhir-akhir ini? bukankah scene cerita sudah diatur oleh sang in bahwa ia harus melupakan jimin? sang in terlalu kesal dengan perasaan dan sikapnya pada jimin. Ia tidak tau apa yang harus ia perbuat ketika sudah berhadapan dengan jimin nantinya.

Sang in melangkahkan kakinya untuk menuruni tangga ia terlihat malas untuk melangkahkan kakinya namun ketika di belokan tangga langkah sangin terhenti. Matanya tertuju pada seseorang yang berdiri sambil bersender ditembok jenjang itu. Melihat ekspresi wajah jimin yang sedih membuat sangin tidak tega untuk terus menjauhi jimin bahkan meninggalkannya ataupun mengacuhkannya begitu saja.

Sangin sudah tau bagaimana sikap dan sifat jimin Karena jimin yang dulu selalu berada didekatnya tentu sangin sudah hafal betul apa yang dirasakan oleh jimin sekarang. Jika ekspresi ini yang ditunjukkan oleh jimin ini menandakan bahwa ia baru saja melihat sesuatu yang mengejutkan dan melalui nafasnya yang keluar secara perlahan menunjukkan bahwa ia sedang bersabar dan menahan emosi melalui kepalan tinjunya.

Jimiin terlihat menggigiti bibirnya saking kesalnya hingga kemarahan itu berada dipuncaknya dengan tangan kosong itu ia meninju tembok membuat jarinya memar bahkan berdarah karena tergesek oleh jendela.

“jimin-ah.. geu-GEUMANHAE!!!” teriak san gin ragu membuat jimin berhenti untuk terus meninju dinding itu atau lebih tepatnya menyakiti dirinya sendiri, namun tangan jimin tetap tertempel di dinding itu, kepalanya ia tekurkan kebawah begitu pula dengan tubuhnya bahkan nafas jimin terdengar tersengal-sengal saking kuatnya ia memukul dinding itu.

“apa kau gila? Kenapa kau seperti ini eoh?” Tanya sang in sambil menarik tangan jimin yang ternodai oleh darah itu. Sang in menghapus darah itu menggunakan cardigan yang ia pakai. Ia tak peduli jika cardigan itu kotor yang terpenting baginya adalah jimin berhenti melakukan hal bodoh seperti ini.

“apa yang kau lakukan? Lepaskan..” ucap jimin dengan suara dinginnnya membuat sang in terdiam kemudian perlahan mengangkat kepalanya untuk menatap jimin.

“jimin-ah..” gumam san gin tidak percaya terhadap hal apa yang dikatakan oleh jimin barusan.

“KUBILAN GLEPASKAN!!!!” teriak jimin menggema.

Mata sang in berkaca-kaca mendapati perlakuan dingin dari jimin. Kenapa jimin terlihat marah sekali? Apa ada hal buruk yang sudah ia lakukan pada jimin? Bukankah selama ia menjauhi jimin, jimin masih tetap tersenyum padanya? Bahkan saat jam istirahat pertama tadi jimin masih saja tersenyum padanya. Bagaimana bisa jimin bisa berubah 180o seperti ini dihadapan sangin?

Jimin mulai berjalan untuk meninggalkan sangin dengan menuruni jenjang. Jimin memasukkan kedua tangannya itu kedalam saku kemudian menjilati bibirnya pelan. Jimin terlihat memikirkan sesuatu, terlihat dari tatapan matanya yang tajam walaupun mata itu terlihat sedikit memerah.

“kau menyukaiku?” Tanya jimin pelan namun suara berat itu tetap terdengar cukup keras bagi san gin.

Pertanyaan spontan itu langsung membuat sangin mengangkat kepalanya untuk menatap jimin yang tak jauh berada didepannya.

“kubilang apa kau menyukaiku? Kenapa kau menyukaiku?” Tanya jimin lagi kemudian membalikkan tubuhnya menatap sangin dengan tajam. Tatapan itu terlihat bukan tatapan jimin sebelumnya, Jimin terlihat berbeda.

1 langkah..

2 langkah..

3 langkah..

Jimin sudah tepat berada dihadapan sangin bila 1 langkah lagi jimin melangkah maka jarak antara mereka berdua hanya tinggal beberapa jangkal dari mata.

“jimin-ah..” gumam sang in lagi sambil menunduk, entah mengapa ia terlihat takut pada jimin.

“kenapa kau menyukaiku? Aku tidak setampan yoongi maupun taehyung, aku tidak setinggi nam joon ataupun jin. Aku juga tidak sepintar dan selincah hoseok, lalu kenapa kau menyukaiku?? KUBILANG KENAPA KAU MENYUKAIKU???” teriak jimin lagi sambil mendorong tubuh sangin kedinding dengan kuat melalui kedua tangannnya pada bahu sang in.

“jimin.. s-sakit..” gumam sang in dengan suara paraunya, sangin terlihat hampir menangis menahan sakit atas perlakuan kasar jimin.

“kalau begitu ayo berpacaran..” ucap jimin santai dan tiba-tiba ia menarik pinggang sangin dan mencium sang in dengan kasar.

“apa yang kalian lakukan??”

To be continued..

***

Hai hai para readers, mianh author telat post lagi. Huwaaa keknya ff ini susah namatin ceritanya haha. Konfliknya ga selese”mulu mianhae.. selama ini author sibuk didunia nyata dan fangirl tentunya jadi itu yang membuat author sedikit telat mianhaeyo. Untuk next part mungkin juga akan telat selain mengikuti ujian juga ada project FF yang cukup mendesak im so sorry… hikzz.. hikzz..

Gwaenchana, next part author bikin part special.. just wait~^^ kalo mau Tanya” ke twt author aja langsung yah @sena_kuki gamsahabnida~^^

About fanfictionside

just me

20 thoughts on “FF/ MONSTER/ BANGTAN-BTS/ pt. 8

  1. Huaaaa tmbh seru *0* ,tmbh penasaran ini,apa jgn jungkook ank kandung ibu nya taehyung nah loh ngaco😄,itu si jimin knp tiba” jdi gtu ???
    Penasaran~~~~yaudah d tunggu kelanjutan nya yah thor ini aku nungguin part 8 smpe jamuran whahahah
    fighting

  2. huwaaaaaaa akhirnya d post jg😀

    aaaakkkkkkk gua greget am Taehyung – Ok Jung >_<
    jimin – sang in aigooooooo,.aaaarrrrggghhhttt kira" siapa yg memrgoki mreka ?
    dan subyong kmana ? koq gk nongol ? kan ksian jhope wkwkw :-V

    next thot jan lama2😄😀

  3. Sebenernya aku dh rada lupa sama ceritanya….efek kebanyakan baca ff lain.hehehe…
    Tp, stlh baca mulai inget2 lg.heheh..
    Yoonginya gx keluar…huhu…

    Next Chap jgn lama2 yaa thor >_<

  4. Author~ teganya kau mmbuatku nunggu lama. Part slnjtnya bag. Rapmon dtambhi dong. Ak pnsrn bgt sama karakternya di sini. Ppyong

  5. Taetae.. kasian taehyun.. tapi gak tau kenapa seneng liat taehyun yg kaya gitu.. apalagi pas ditaman, so sweet gitu jatohnya..
    Jimin.. ngajak cewe jadi pacar kamu tuh, caranya gak kaya gitu sayang.. itu gak so sweet, malahan jatohnya kaya pemaksaan..
    Gak ada momen namjoon-sena😦
    Dede kookie, jangan galau..

  6. suga tumben nggak muncul, pasti dia lagi menenagkan diru du ..
    konfliknya jimin sama sangin bikin tambah tegang ini cerita..
    jihop kayaknya penuh mistery nih, penasaran..
    jungkook? wahh semakin rumit ><

  7. sena kuki akhirnya back
    kangen sama ff ini
    tpi di sini yoongi sama namjjon gag terlalu bnyk scene.
    btw taeoppa & jimin so sweet ya.
    tpi jimin klau rada kasar
    dan masalah makin numpuk
    fighting den

  8. horeee akhirnya setelah nunggu sampe jamuran(?) ff ini update juga:) walau konfliknya makin banyak tapi makin seru juga ceritanya dan aku berharap sangat2 berharap ini semua akan happy ending aku ga suka sad ending:( ok ditunggu next part semangat thor:)

  9. Wah!! Aku suka banget Fanfict! Nya!!🙂 aku reader baru disini aku tau Blog ini juga karna fanfictmu thor! Seru cerita nya aku suka couple Jimin-SangIn
    Cepetan dinextyaa! Author! :):) figthing!😉

  10. Wah!! Aku suka banget Fanfict! Nya!!🙂 aku reader baru disini aku tau Blog ini juga karna fanfictmu thor! Seru cerita nya aku suka couple Jimin-SangIn
    Cepetan dinextyaa! Author! :):) figthing!😉.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s