FF/ HERO AND HEROINE/ BTS-BANGTAN/ pt. 4A


Author: Anditia Nurul||Rating: PG-13||Length: Chaptered||Genre: School-life, Friendship, Romance, a bit comedy||Main Characters: (BTS) Suga/Yoongi, & (OC) Geum Hajin||Additional Characters: (BTS) Jin/Seokjin, (BTS) J-Hope/Hoseok, (BTS) Jimin & (FX) Sulli||Disclaimer: I own nothing but storyline and the OCs. Inspirated by a fiction story titled ‘Crazy’ By Emolicious. Original ver casted by (B1A4) Jinyoung & OC||A/N: Edited! Sorry if you still got typo(s). [!!!] Used some ‘frontal(?)’ words. Please don’t bash!

@@@@@

HERO-HEROINE-BTS (2)

Bikin kaget saja!

Aku pikir dia meninggal, ternyata cuma pingsan!

Fiuh~

Untunglah dia cuma pingsan.

Sungguh, kejadian di pemakaman tadi dramatis sekali. Walau sekali-kali aku juga menginginkan hal-hal dramatis terjadi dalam hidupku seperti di film-film atau drama-drama yang biasa aku tonton, tapi—ah! Sudahlah! Yang penting Suga sekarang sudah kembali ke tempat dimana dia seharusnya berada, Seoul Hospital.

“Hajin-ah, sebaiknya kau pulang. Ini sudah malam. Apa eomma-mu tidak mencarimu?” tanya Seokjin Sunbae padaku.

Saat ini, aku, Seokjin Sunbae dan Hoseok berada di dalam kamar tempat Suga dirawat. Untung aku langsung menghubungi Seokjin Sunbae, jadi ia, Hoseok dan para anak buah Bangtan Boys bisa segera datang untuk membantuku membawa Suga kembali ke rumah sakit.

Aku yang sedang duduk di kursi, di samping tempat tidur Suga pun menoleh ke arah Seokjin Sunbae yang duduk di sofa yang berada sekitar 1 meter dari tempat tidur Suga. “Tidak. Aku sudah mengirim SMS pada eomma, aku bilang menginap di rumah teman. Kalau kalian mau pulang, pulang saja. Aku mau menemani Suga di sini.”

Kulihat Hoseok menyunggingkan senyum menggoda, sedikit meledek. “Duuh, kau ini genit, ya? Maunya berduaan saja dengan Suga,” godanya dengan nada centil, sangat sukses membuat rona merah muda muncul di kedua pipiku. Ugh! Apa-apaan dia meledekku seperti itu?

Sementara Seokjin Sunbae hanya terkekeh dengan kalemnya. Meski begitu, bisa kulihat ia dari cara tertawanya, ia juga sedang meledekku.

Uh, awas ya Hoseok! Kalau aku sedang tidak capek sekarang, aku cakar wajahmu yang mirip kuda itu.

Seokjin Sunbae menghela napas. “Ya, sudah. Kalau begitu, kami titip Suga padamu. Kalau ada apa-apa, cepat hubungi kami, oke?” pesannya.

Aku mengangguk. “Ya.”

Seokjin Sunbae dan Hoseok pun berdiri dari sofa, berjalan mendekat ke tempat tidur Suga. Kedua senior itu menatap sahabatnya yang sedang tertidur pulas. Dari tatapan keduanya, aku—entahlah—tiba-tiba aku merasa kalau… para anggota Bangtan Boys ini benar-benar dekat 1 sama lain.

Get well soon, Brother~” gumam Seokjin Sunbae.

Hatiku terenyuh mendengarnya, meski itu bukan ditujukan untukku.

“Tidur yang lelap, Suga-ya. Mimpi yang indah,” lanjut Hoseok. Ah, orang ini juga bisa berkata-kata manis seperti itu. Sungguh Suga sangat beruntung memiliki sahabat seperti Seokjin Sunbae dan Hoseok. “Tapi, jangan memimpikan Hajin karena mimpimu pasti tidak akan indah!” lanjutnya.

Seandainya tatapanku setajam pisau, aku yakin Hoseok sudah mati—minimal luka parah—sekarang. Ish! Apa-apaan dia berkata seperti itu? Menyebalkan!

Seokjin Sunbae lagi-lagi hanya bisa terkekeh pelan mendengar ucapan sahabatnya yang 1 itu. Tidak lama, ia pun berkata padaku, “Aku dan Hoseok pulang sekarang. Jaga Suga baik-baik,” pesannya.

“Baik, Sunbae. Serahkan padaku,” jawabku.

Senior tampan itu mengacak-acak rambutku lembut sebelum ia dan Hoseok keluar dari ruangan Suga. Kini tersisa aku dan Suga saja. Yaaa, sebagai wujud dari permintaan maafku, aku akan menjaganya hari ini.

“Hoaaaahhh~~~”

Aku menguap. Kukeluarkan ponsel dari tas kecil yang sejak tadi terselempang di tubuhku. Uh, sudah jam 22.34. Pantas saja aku mengantuk. Baiklah, Suga sepertinya sudah lelap, aku juga harus tidur.

Beranjak dari kursi, aku berjalan menuju sofa yang tadi diduduki oleh Seokjin Sunbae dan Hoseok. Kulepaskan tasku, lalu kuletakkan begitu saja di lantai dekat kaki sofa. Kukencangkan jaket Seokjin Sunbae yang ia berikan padaku saat di pemakaman agar aku tidak kedinginan.

Hmmm~~

Bau parfum Seokjin Sunbae melengket di jaket ini. Hohoho….

Ya, ampun, jadi terasa seperti memeluknya saja… hehehe.

“Chorong-ah?” Sebuah gumaman terdengar dari Suga membuatku terkejut. Aku langsung menghampiri Suga untuk melihat keadaannya.

“Chorong-ah~ Chorong-ah~ Chorong-ah~” Berkali-kali Suga menggumamkan nama gadis itu. Aku rasa Suga mimpi buruk. Mulutnya masih saja menggumamkan—mungkin lebih tepatnya mengigaukan—nama gadis itu dengan mimik wajah terlihat seperti ingin menangis.

“Chorong-ah, jangan pergi!” igau Suga lagi. Dia benar-benar mimpi buruk! Harus segera dibangunkan.

“Hei! Min Suga, bangun!” kataku sambil mengguncang-guncang pelan tubuhnya.

“Chorong-ah~ Chorong-ah~ Chorong-ah~” igaunya. Kali ini sambil diiringi sebulir air mata yang menetes dari sudut mata kanannya. “Chorong-ah~”

Aku… aku jadi tidak tega membangunkannya.

Entah kenapa, hatiku lagi-lagi dibuat iba olehnya. Apa… apa sebegitu dalamnyakah perasaan Suga pada Chorong? Sampai-sampai… dia membawa gadis itu ke alam bawah sadarnya, bahkan ia sampai menangis dibuatnya.

Sekitar 10 menit lamanya aku menunda tidurku karena Suga. Hanya ingin memastikan ia berhenti mengigau dan kembali lelap dalam tidurnya. Begitu suara igauannya tidak terdengar lagi, aku pun beranjak ke sofa dan tidur di sana.

@@@@@

Aku terjaga ketika kudengar suara seseorang sedang batuk. Perlahan, aku membuka mataku, mengerjap-ngerjapkannya beberapa kali. Begitu seluruh nyawaku terkumpul, aku terkejut karena mendapati selembar selimut yang menutupi tubuhku.

Uh, apa Suga yang menutupi tubuhku dengan selimut?

Baik sekali dia~

Aku mengambil posisi duduk dan menoleh ke tempat tidur Suga. Kudapati ia juga sedang duduk bersila di atas tempat tidurnya sambil memencet-mencet ponselku. Di dekat lututnya juga ada tasku.

“Hei! Kau apakan ponselku, hah?” tegurku, beranjak menghampirinya.

Ia menatapku sinis. “Kenapa? Tidak boleh. Kau kan pacarku,” balasnya ketus.

Kedua mataku membulat sempurna. “Pacar?”

“Kau lupa, ya? Kemarin kan aku bertanya, ‘apa kau masih mau jadi pacarku?’. Terus kau jawab ‘iya, iya, aku mau’. Aku tidak salah ingat, kan?” Ish! Dia ingat sampai sedetil itu! Menyebalkan. Padahal, aku kan tidak bermaksud seperti itu kemarin. Aku hanya… aku hanya—Ah! Sudahlah!

“Kenapa? Kau menyesal?” tanyanya dengan nada ketus. Mungkin menyadari perubahan mimik wajahku.

Aku mendengus sebal. “Iya! Aku menyesal!”

“Terserah kau! Pokoknya kau bilang mau jadi pacarku lagi, itu artinya sekarang kau masih jadi pacarku. Jadi, apa salahnya kalau aku memegang ponselmu yang ketinggalan zaman ini?”

Dia sudah kembali ke sifatnya semula.

Uh, kemana Suga yang kemarin?

“Tentu saja tidak boleh!” Dengan kasar aku merebut ponselku dari tangannya. Sukses membuatku mendapat tatapan tajam darinya. “Apa kau tidak pernah mendengar istilah PRI-VA-SI?” balasku.

“Tahu apa kau tentang privasi, hah?!” ketusnya. Dia kemudian melirik tubuhku sejenak, lalu berkata, “Sepertinya aku mengenal jaket itu!”

Aku ikut melihat ke arah jaket yang aku kenakan. “Oh, ini jaket Seokjin Sunbae.”

“Lepas!” perintahnya.

“Tapi, aku kedinginan, Bodoh!” balasku sambil melihat kesal ke arahnya.

“Lepas! Kau pakai saja jaketku yang ada di lemari!”

Aku memanyunkan bibirku ke arahnya. Karena sedang malas berdebat dengannya, aku pun dengan terpaksa melepas jaket Seokjin Sunbae, kemudian mengambil jaketnya yang berada di lemari.

Jaket berwarna emas yang kelihatan mengkilat?

Norak sekali!

Uh, apa orang ini tidak punya benda berwarna lain?

Tapi, mau tidak mau aku harus memakainya dari pada dia berteriak dan membuatku naik darah. Oh ayolah. Ini masih terlalu pagi untuk bertengkar mulut dengan laki-laki sinting ini.

“Sudah aku pakai. Kau puas?”

“Ya. Sekalian kau cuci juga jaket itu sebelum kau kembalikan. Jaket itu sudah hampir 1 bulan tidak dicuci.”

Ukh! Untung kau sedang sakit, Min Suga. Jadi, aku baik hati tidak mematahkan tulang-tulangmu karena seenaknya saja menyuruhku mencuci jaket berwarna emas yang norak ini.

Dia pikir aku ini pembantunya apa?

ISH! AKU SEMAKIN TIDAK MENYUKAIMU, MIN SUGA!

JANGAN HARAP AKU AKAN MENYUKAIMU!

“Hei! Kenapa mimik wajahmu berubah? Kau tidak mau?” tanyanya ketus.

“Aish! Ya, nanti aku cuci. Sekalian aku gosok dan beri pewangi,” kataku kesal, namun kulihat ia menyunggingkan sedikit senyum di bibirnya.

Dia pasti sudah merasa menang sekarang. Cuih!

“Suga-ya, aku mau pulang sekarang. Hari ini aku mau sekolah,” kataku sambil berjalan menghampirinya.

“Ya.”

“Kau tidak apa-apa kan tinggal sendiri?”

Dia mengalihkan wajahnya dariku. “Tidak apa-apa. Di sini banyak suster yang cantik. Mereka pasti langsung menolongku kalau ada apa-apa.”

Uh, apa-apaan dia? Jadi, dia suka tinggal di rumah sakit ini karena banyak suster yang cantik? Baiklah, lain kali aku akan buat dia masuk rumah sakit biar puas. Ukh! Tapi, kenapa juga aku mesti kesal? Kalau dia suka dengan suster di sini, bukankah itu bagus? Dengan begitu, aku bisa putus dengannya, lalu kembali memuja Seokjin Sunbae… hohohoho.

“Ya, sudah. Hati-hati di sini. Jangan bikin keributan,” pesanku.

“Aku tahu!” ketusnya, masih mengalihkan wajahnya dariku. Uh, kenapa sekarang dia bersikap seperti ini? Ck! Terserah dia saja.

“Aku pulang sekarang~” pamitku, mengambil tasku yang berada di dekat lututnya, kemudian melangkah keluar dari kamarnya.

@@@@@

Shinhwa High School

Aku tiba di sekolah sekitar beberapa menit sebelum jadwal bel berbunyi. Fiuh, beruntung aku masih sempat mandi dan sarapan di rumah. Masih sedikit mengantuk dan leher yang terasa agak pegal, aku berjalan menuju kelasku. Hmm… sudah 2 hari ini sekolah tidak gempar dengan berita heboh. Ya, maklum saja, si ketua dari biang heboh sedang berada di rumah sakit.

“GEUM HAJIN!!!” teriakan Sulli langsung menyambutku yang baru saja masuk kelas. Sambil mencak-mencak, ia menghampiriku dan menarik tanganku, kemudian menyeretku ke bangku terdekat.

Seperti polisi yang hendak menginterogasi penjahat, Sulli menatapku dengan mimik wajah sangat serius. Ada apa ini?

“Kemarin kau dan Seokjin Sunbae kemana? Apa yang kalian lakukan?”

Pertanyaan Sulli langsung membuatku teringat akan sesuatu. Hohoho… iya, ya… kemarin gadis ini melihat aku dibonceng Seokjin Sunbae saat pulang sekolah. Ehm, kerjain ah~

“Ng~ kemarin… aku dan Seokjin Sunbae pergi ke café,” jawabku, menatap Sulli sambil tersenyum jahil.

Kedua mata Sulli melotot. “Apa? Kau ke café? Apa Suga Sunbae tidak tahu? Kau kan pacarnya. Bisa mati kau kalau dia tahu kau dan Seokjin Sunbae ke café,” ujarnya sewot. Hohoho, baru umpan pertama, dia sudah terpancing seperti ini. Hohoho. Ini perlu dilanjutkan!

“Suga tidak marah. Padahal, kemarin aku mesra-mesraan dengan Seokjin Sunbae, lho~~~”

Kulihat wajah Sulli merah padam. Hahaha… kena juga dia! Mana mungkin kemarin aku mesra-mesraan dengan Seokjin Sunbae. Justru kemarin aku hampir mati dibuatnya gara-gara dia mengendarai motor seperti orang gila!

“Mesra-mesraan? Dengan Seokjin Sunbae? Astaga… uh, kepalaku sakit,” respon Sulli sambil memegang kepalanya, pura-pura sakit.

“Iya, lho. Kemarin aku dan Seokjin Sunbae pegangan tangan.” Aku mengerjainya lagi.

“Aduh, kepalaku tambah sakit.”

“Suap-suapan juga.” Godaku keasyikan.

“Ya Tuhan, rasanya aku mau pingsan.”

“Kemarin juga Seokjin Sunbae mencium pipiku, lho~”

“HAAA?” seru Sulli, tiba-tiba dia limbung. Ufh, untung aku sigap menarik kedua tangannya hingga ia tidak terjatuh ke belakang. Meski lucu, tapi… aku juga tidak tega jika melihat Sulli terjungkir dari bangku.

“Ha-Hajin-ah, be-beraninya kau…,” gumamnya, lalu beranjak dari hadapanku.

HUAHAHAHAHAHAHA. Aku yakin seharian ini kepala Sulli akan cekat-cekot. Wkwkwkwkwk.

“GEUM HAJIN!!!”

Baru aku mau melangkah menuju bangkuku, tiba-tiba seseorang memanggilku lagi. Ya, maklumlah, artis gitu lho~

“Hei! Kemarin kau kemana? Aku datang ke rumahmu, tapi ajumma bilang kau menginap di rumah teman. Menginap di rumah siapa?” tanya Jimin.

“Oh, itu. Aku… kemarin aku di rumah sakit. Suga masuk rumah sakit,” bisikku.

Aku pun berjalan menuju bangkuku diikuti Jimin. Ya, bangku kami memang bersebelahan.

“Lalu, bagaimana keadaan Suga Sunbae sekarang?” tanya Jimin ketika kami sudah duduk di bangku masing-masing.

“Sepertinya dia sudah baikan. Tadi pagi saja dia sudah membuatku kesal setengah mati.” Jimin terkekeh.

“Pasti kau suka hidupmu sekarang, kan? Hampir mirip BBF… wkwkwkwk. Kau Jandi-nya, Suga Sunbae jadi Junpyo-nya, mm… Seokjin Sunbae jadi Jihoo-nya, Hoseok… Hoseok Sunbae jadi Yijeong-nya dan—”

“Dan kau jadi Gaeul-nya! Puas?” sahutku kesal.

Uh, dia tidak tahu apa kalau aku lebih menderita dari Geum Jandi!?

“Hei! Kenapa aku jadi Cha Gaeul? Aku ini laki-laki!” protesnya.

Aku menghela napas, lalu memutar kedua bola mataku malas. “Park Jimin, posisimu itu sangat pas dengan posisi Cha Gaeul. Kau sahabatku dan kau juga dekat dengan Hoseok Sunbae. Mirip kan dengan Cha Gaeul? Dia sahabat Jandi dan dekat dengan So Yijeong?”

Jimin protes. “Tidak! Aku tidak mau jadi Cha Gaeul. Aku mau jadi Song—”

“Kau jadi bos penjual bubur saja! Titik!” Aku memotong ucapan Jimin yang ingin mengatakan dirinya sebagai Song Woobin dan juga mengakhiri pembicaraan kami tentang hidupku dan drama itu. Lagi pula, aku kan tidak benar-benar menganggap Suga sebagai pacarku.

@@@@@

Waaaa~

Hari ini berlalu begitu cepat. Huf, biasanya juga lama. Mungkin karena hari ini mood-ku sedang dalam keadaan baik, ya?! Hohoho

Baby baby geudaeneun caramel macchiato
Yeojeonhi nae ipgaen geudae hyanggi dalkomhae
Baby baby tonight~

Aku yang sedang berjalan menuju pintu gerbang di jam pulang sekolah, langsung menghentikan langkah begitu kudengar ponselku berdering. Kurogoh saku kemejaku dan melihat ID caller si penelepon siang bolong ini.

‘SUAMIKU’

Wah, Seokjin Sunbae… hohoho.

Jangan-jangan mau mengajak pulang bersama… ohohohoho.

Ehm… ehm…. Aku berdehem untuk memperbaiki suaraku, lalu menjawab panggilan dari Seokjin Sunbae tersayang.

“Ya, halo?” kataku manis dan lembut saat kujawab teleponnya.

“Wah, manis sekali caramu menjawab teleponku.”

Kukernyitkan dahiku begitu suara yang didengar telingaku bukanlah suara lembut milik Seokjin Sunbae. Tapi, suara cempreng aneh milik seseorang yang entah siapa.

“Hei! Siapa ini?” bentakku.

“Kau tidak bisa membaca ID caller yang tertera di ponselmu, ya?”

Aku mengecek ID caller ponselku. Tuh, benar. Tulisannya: SUAMIKU. Dan, itu adalah ID caller untuk Seokjin Sunbae. Tapi, suaranya bukan suara Seokjin Sunbae. Suara cempreng bin aneh ini tidak asing sebenarnya. Tapi, suara siapa, ya?

….

….

A-ASTAGAAA!!!

Sontak kubulatkan kedua mataku begitu menyadari siapa pemilik suara cempreng yang merusak telinga ini. “HEI! MIN SUGA! INI KAU?”

“Aish! Keterlaluan! Lama sekali kau berpikir. Pacar macam apa kau? Kau tidak mengenal suara pacarmu sendiri!”

Tuh, kan? Ini benar Min Suga.

Tapi, kenapa ID caller-nya berubah?

ID caller Min Suga kan KEMBARAN MASHIMARO!?

“Hei! Geum Hajin.”

Kapan dia merubah ID caller-nya?

“Halooo… Hajin-ah!”

Dasar Min Suga! Mashimaro sialan! Seenaknya saja mengganti ID caller di ponselku.

“Geum Hajin, kau masih di sana?”

Oh, aku tahu! Pasti dia mengganti ID-nya pagi tadi. Dia kan mengutak-atik ponselku. Dasaaaar pendeeeeek! Toko-emas-berjalan!

“HEI! GADIS GENIT!”

APA?

“HEI! SIAPA YANG KAU BILANG GADIS GENIT, DASAR PENDEK?!” teriakku, membuat beberapa siswa-siswi yang berjalan di sekitar melihat ke arahku.

“APA KAU BILANG? KAU SUDAH BOSAN HIDUP?”

“ISH! KAU MENYEBALKAN!” teriakku lagi. Tidak peduli dengan siswa-siswi yang memandang aneh padaku.

Aku memutuskan panggilan dari Suga. Huff, panas-panas begini, dia malah mengajakku bertengkar! Benar-benar orang sinting!

Baby baby geudaeneun caramel macchiato
Yeojeonhi nae ipgaen geudae hyanggi dalkomhae
Baby baby tonight~

Kulihat layar ponselku. Tertera tulisan ‘suamiku’ di sana. Ugh, dia lagi. Ck!

“Hmmm?” gumamku malas.

“Kau harus ke rumah sakit sekarang!” perintahnya tanpa basa-basi.

“Kenapa? Aku mau pulang ke rumah, mau makan, tidur, mandi, kerja tugas. Besok saja!” balasku ketus.

“Tidak! Pokoknya kau harus datang hari ini!”

Ukh! Pemaksa sekali.

“Tidak mau! Aku mau pulang ke rumah, mengerti?”

“Kau harus datang, Geum Hajin!” Dia bersikeras.

“Aku tidak mau, Min Suga!” Aku pun balas bersikeras. Memangnya cuma dia saja yang bisa?

“Kalau kau tidak datang, kau tahu apa akibatnya!”

“Ish! Memangnya kenapa aku harus datang? Sakitmu tambah parah?

“….”

Kenapa dia diam?

“Hei! Min Suga!”

“….”

“Halooo?”

“….”

“Ya, sudah. Aku tu—”

“Aku rindu.

EHEEEMM~~

Dua kata darinya itu sukses membuatku diam. Aku tidak mampu menahan bibirku untuk menyunggingkan senyum. Ini pertama kalinya ada seorang laki-laki yang mengatakan ia rindu padaku. Walaupun laki-laki itu adalah Min Suga, tapi… tak apalah. Yang penting dia laki-laki… hohohoho.

“Baiklah. Aku ke sana,” jawabku manis.

“DARI TADI KEK! CEPAT!” bentaknya, lalu memutuskan panggilannya.

NYESSSS!!!

Apa-apaan dia?

Secepat itukah dia berubah dari romantis ke menyebalkan?

Min Suga aneh! Manusia aneh!

@@@@@

Grrr… Min Suga!

Kau memang manusia paling menyebalkan di muka bumi!

Aku sudah buru-buru ke rumah sakit, takut kau mati saking rindunya padaku, tapi… kenapa begitu aku tiba di kamarmu, kau malah tidur?

GUBRAAAK!

Aku langsung menjatuhkan tubuhku di sofa saat kudapati Suga terlelap di atas tempat tidurnya. Kulepas tas ransel yang sejak tadi membuat punggungku sakit. Huff, lelah rasanya. Haus pula. Suga benar-benar keterlaluan telah membuat seorang gadis seperti ini. Kalau dia sudah bangun, jangan harap aku akan bersikap manis padanya. Cih!

Sambil melepaskan rasa lelahku di sofa, aku memandang ke sekeliling kamar Suga. Mencari sesuatu yang bisa aku perhatikan untuk melepaskan kebosanan menunggu si kembaran Mashimaro ini bangun. Tapi, kenapa tidak ada satu pun yang menarik untuk dipandang di tempat ini?

Namun, sesaat kemudian mataku terpaku pada satu titik. Si psikopat ini kan sedang tidur. Mumpung dia tidur, pandangi wajahnya, ah~. Aku kan tidak pernah memandang wajah tidurnya. Orang-orang biasanya akan terlihat lebih menarik saat tertidur. Nah, aku ingin tahu seberapa menarikkah si toko-emas-berjalan ini saat tidur?

Beranjak dari sofa, aku melangkah menuju kursi yang berada di samping tempat tidurnya. Kutarik pelan kursi itu agar lebih dekat dengan posisi kepalanya. Setelah duduk, aku menangkup wajahku dan menumpukan kedua sikuku pada tempat tidurnya.

Ya, ampun.

Ternyata Min Suga saat tidur sangat tampan, ya?

Kulitnya muluuuuus sekali. Putih. Mungkin kuman-kuman akan terpeleset kalau berada di permukaan kulit Suga… heheheh. Matanya saat terpejam juga terlihat bagus. Hidungnya juga bagus. Dan, bibirnya… bibirnya… ng…. AH! APA YANG AKU PIKIRKAN?

ISH! HAJIN-AH! Jangan berpikir yang aneh-aneh! Bibir Suga itu jelek! Kalau dicium dengan bibir seperti itu pasti rasanya kayak mengemut permen yang sudah jatuh ke tanah dan dibiarkan selama 10 menit. Tidak enak! Tidak higienis! Dan tidak menyehatkan!

Aish! Aku ini memikirkan apa, sih?

Huft, dasar Min Suga bodoh. Kalau saja dia bisa bersikap baik, pasti banyak yang gadis yang mengejar-ngejarnya. Kecuali aku, ya? Aku masih tetap ingin berada di antara gadis-gadis yang menyukai Seokjin Sunbae.

Tapi, sesekali melirik Suga sedikit tidak apa-apa, kan? Toh, aku cuma suka dia pada saat tidur… kekekeke.

Entah sudah berapa kali aku tersenyum melihat wajah tidur Suga. Ya, ampun. Polos sekali. Bahkan suara dengkurannya pun begitu lembut. Kekekeke. Hmm…, momen seperti ini harus diabadikan.

Kukeluarkan ponselku dari saku seragam, lalu kuarahkan kameranya ke wajah Suga dan… yap, aku mengambil beberapa gambar wajah tidurnya.

Ya, ampun, tampan sekali~~~

Gyaaaaa~~~

“Wah, wah! Sepertinya kau asyik sekali melihat-lihat wajah Suga. Ilermu hampir jatuh, tuh! Pasti mikir mesum, ya?” ucap sebuah suara yang sukses membuatku terkejut dan buru-buru memasukkan ponselku kembali ke dalam saku.

Begitu aku menoleh ke asal suara, kudapati manusia berwajah kuda berjalan ke arahku sambil menunjukkan cengiran lebar khas kuda. Sementara di belakangnya, kulihat si tampan Seokjin Sunbae. Saking asiknya mengambil foto tidur Suga, aku sampai tidak mendengar mereka datang.

“Kau bilang apa? Siapa yang berpikiran mesum, hah?” kataku, membalas ucapan Hoseok.

“Suga pernah bilang padaku, katanya kau ini tipe gadis genit dan kecentilan. Tipe gadis yang suka berpikiran mesum juga,” terang Hoseok membuatku tertohok. Kutolehkan wajahku ke arah si jelek pendek yang sedang tertidur, Min Suga.

KAU PERNAH MENGATAIKU SEPERTI ITU, MIN SUGA?

Aku tarik kembali kata-kataku.

MIN SUGA, KAU ITU TIDAK TAMPAN! WAJAH TIDURMU SEPERTI WAJAH ORANG BODOH! JELEK! MENYEBALKAN! PSIKOPAT ANEH!

Entah, mungkin ia mendengar teriakanku dalam hati, kulihat kedua mata Suga bergerak. Uh, sepertinya dia sudah bangun. Perlahan, ia membuka sepasang mata indah—Ah! maksudku, sepasang mata jeleknya. Sepersekian detik kemudian, ia melihat ke arahku. “Oh, kau sudah datang?”

Memangnya apa yang kau lihat, Pendek?

Kemudian, melihat sekitar. Mendapati Seokjin Sunbae dan Hoseok berdiri di dekatku. “Uh? Kalian juga ada?”

“Tentu saja kami di sini. Kau pikir kami sahabat macam apa?” sewot Hoseok.

Pelan-pelan, Suga mengambil posisi duduk. “Bagaimana dengan orang-orang yang memukulku?” tanya kemudian.

“Tenang. Kami sudah membereskannya semalam,” jawab Seokjin Sunbae.

“Hei! Kenapa kalian bertiga selalu berkelahi? Kalian tidak tahu ya, kalian bertiga itu sudah terkenal sebagai kriminal kelas kakap di Shinhwa,” ucapku begitu saja.

“APA KAU BILANG?” seru mereka bersamaan.

GLEK!

Mati aku!

“Ti-tidak. Aku tidak bicara apa-apa.”

Aku lupa kalau di ruangan ini, hanya akulah satu-satunya manusia baik hati.

“Hei! Geum Hajin, kami melakukan itu untuk membela Suga, you know? Kami tidak terima kalau Min Suga babak belur sampai masuk rumah sakit gara-gara mereka. Itu merendahkan harga diri Bangtan Boys,” jelas Hoseok.

“Tapi, kan tidak harus berkelahi,” balasku.

“Sudahlah!” potong Suga. “Kau mana mengerti tentang men’s pride! Tidak usah mencampuri urusan kami,” lanjutnya.

Aku mendengus. “Terserah!”

Suga menatapku kesal dan tiba-tiba, entah ada angin apa, ia berkata, “Seokjin-ah, Hoseok-ah, kalian berdua bisa pulang sekarang, hah?”

Kulihat Hoseok dalam mode shock. “K-Kau… kau mengusir aku dan Seokjin?”

Suga mengangguk.

Jujur, aku juga sebenarnya terkejut. Kenapa Suga tiba-tiba mengusir 2 sahabatnya ini. Tapi, melihat Hoseok yang tidak terima, aku cukup senang. Memangnya enak diusir? Rasakan! Weeeek!

“Kenapa? Wah, kau tega sekali, Min Suga. Mentang-mentang ada Geum Hajin kau—”

“Ayo, keluar, Jung Hoseok.” Seokjin Sunbae memotong ucapan Hoseok yang tidak terima Suga mengusirnya. Dengan santainya pemuda tampan itu berjalan menjauh dari tempat tidur Suga.

“Tapi, Seokjin-ah, kau—Suga—” Hoseok masih tidak terima. Ukh!

“Ayooo~” Akhirnya, Seokjin Sunbae menarik telinga Hoseok. Menyeret laki-laki itu keluar dari kamar Suga. Hahahaha… huff, senangnya melihat Hoseok tersiksa.

“Eh! Aw… Ya! Kim Seokjin, apa yang kau lakukan? Yak! Lepaskan!” ringis Hoseok.

“Hahaha,” tawaku. Uh, ya ampun… puas sekali rasanya.

Si tampan, Seokjin Sunbae, dan si Manusia Kuda, Hoseok, sudah tidak terlihat lagi di dalam ruangan Suga. Suara ringisan Hoseok pun sudah tidak terdengar lagi. Ya, mungkin mereka berdua sudah benar-benar pulang.

“Aku lapar!” ucap Suga tiba-tiba.

Aku menoleh padanya. “Memangnya dari tadi kau belum makan?”

“Kalau aku sudah makan, tidak mungkin aku mengatakan kalau aku lapar sekarang!”

Kumanyunkan bibirku. “Ukh! Iya, iya.”

Kulirik nampan makan siang yang belum tersentuh di atas nakas di dekat tempat tidurnya. Tangan kananku terulur, meraih mangkuk berisi bubur, kemudian aku memberikan mangkuk itu pada Suga.

“Ini,” kataku.

Ia melihatku dan mangkuk berisi bubur itu bergantian.

“Kenapa? Tidak suka?” tanyaku.

“Suka,” jawabnya singkat.

“Lalu apa? Ini ambil…,” kataku sambil menyodorkan mangkuk itu sekali lagi, tapi dia tidak mau menerimanya. Sedikit kesal, aku melihat ke arahnya dan ia balas melihatku dengan tatapan memelas. Tatapan yang sama saat aku menemukannya kemarin di dekat makam eomma-nya.

Jangan-jangan minta disuapi.

Kuembuskan napasku. “Kau mau aku suap?” tanyaku lembut.

Dengan polosnya dia mengangguk. Hahaha, jangan-jangan ini alasan ia menyuruh Seokjin Sunbae dan Hoseok keluar dari kamar. Karena dia tidak mau dilihat makan sambil disuapi… wkwkwkwk. Dasar anak mami!

Aku tersenyum kecil, lalu berpindah duduk dari kursi ke tepi tempat tidurnya.

“Ayo buka mulutnya. Aaa~” kataku seperti seorang ibu yang sedang menyuapi anaknya. Sendok bubur yang kupegang pun mengarah ke mulutnya.

“Jangan bicara seperti itu! Kau pikir aku anak kecil?” tegurnya sebelum bubur di sendok masuk ke dalam mulutnya.

“Kau memang anak kecil, kan?”

“Apa? Siapa yang kau sebut anak kecil? Aku sudah 19 tahun!”

“Iya, iya. Ayo buka mulutnya lagi… Aaaaa… kereta mau masuk~~~ tuuut… tuuut… tuuut…,” godaku. Sekarang aku benar-benar mirip eomma saat dia menyuapiku bubur waktu aku sakit. Hihihi… lucu juga membayangkannya.

“Berisik! Jangan menyuapiku seperti itu atau aku tidak mau makan!”

“Ish! Iya, iya…, anakku sayang. Kenapa kau cerewet sekali?”

“Kau bukan eomma-ku! Kau istriku!”

AKU? AKU ISTRINYA???

“HIDIIIIH!!!” Aku sewot. “Sejak kapan kita menikah?”

“Kita memang belum menikah. Tapi, suatu saat kita pasti akan menikah.”

ONLY IN YOUR DREAM, MIN SUGA!!!

“Kalau aku tidak mau menikah denganmu, bagaimana?” balasku.

“Tentu saja kau harus mau! Ah, atau kau mau menikah dengan Seokjin? Begitu? Awas kau! Kudoakan kau jadi gadis tua kalau kau tidak mau menikah denganku.”

Jahat sekali laki-laki ini. Hiks.

Ya Tuhan, apa dosaku?

Aku mendengus kesal. “Iya, iya. Ayo, makan lagi…. Aaaa~~~”

“GEUM HAJIN!!!”

Waktu yang dibutuhkan Suga untuk menghabiskan satu mangkuk bubur itu hampir 1 jam. Ya, itu karena perdebatan kecil yang terjadi antara kami. Sedikit jengah bertengkar, aku pun mengalihkan topik pembicaraan.

“Oh, ya, Suga-ya…, tadi malam aku dengar kau menggumamkan nama Chorong,” ucapku, “Chorong itu… siapa?” tanyaku pura-pura tidak tahu. Aku hanya ingin mendengar penjelasan dari Suga saja.

Mendengar pertanyaanku, Suga mendadak gugup. “Bukan siapa-siapa,” jawabnya. “Aku sudah kenyang! Kau boleh pulang sekarang,” ujar Suga lagi, merebahkan tubuhnya, kemudian menarik selimut sampai seluruh tubuhnya tertutupi.

Uh, jadi aku dipanggil ke sini hanya untuk menyuapinya? Terlalu!

Hmm~

Min Suga, kau benar-benar punya perasaan yang sangat dalam pada gadis bernama Park Chorong itu?

“Hei! Min Suga, aku pulang sekarang. Cepat sembuh! Sekolah jadi aneh tanpa toko-emas-berjalan, tahu!” candaku, mengalihkan topik lagi.

“BERISIK! PULANG SANA!” Aku terkekeh. Dasar, Min Suga!

@@@@@

Setelah makan malam dan mengerjakan tugas dari sekolah, aku beranjak ke tempat tidur. Kusetel pemutar musik ponselku, lalu memang earphone di telingaku. Sambil berbaring dan mendengarkan lagu, pikiranku melayang pada kejadian semalam di rumah sakit.

Iya, kau benar, aku memikirkan Suga dan Chorong.

Walau tidak mengatakannya padaku, tapi… Suga masih sangat mengharapkan gadis bernama Chorong itu. Suga masih mencintai Park Chorong. Sangat mencintai mungkin…, karena itu Suga sampai meneteskan air mata pada saat memimpikan Chorong pergi meninggalkannya.

Suga sangat merindukan gadis itu.

Sayang…, gadis itu ada di luar negeri.

Bagaimana bisa mempertemukan mereka?

Uh, astaga, kenapa juga aku memikirkan hal yang bukan urusanku?

Suga merindukan atau mencintai Chorong kan tidak ada hubungannya denganku!?

UKH!

Kenapa aku tidak bisa berhenti memikirkan mereka?

Mengingat wajah Suga semalam, aku jadi kasihan padanya.

Apa aku harus membantu Suga bertemu dengan Chorong?

Tapi, bagaimana caranya?

-TaehyungBelumCebok (^/\^)-

Anditia Nurul ©2014

-Do not claim this as yours-

-Do not re-blog / re-post without permission-

A/N: Annyeong~ ^^/

Fiuh~, sudah sampai chapter 4A, nih. Masih lama banget ending😄

Btw, masih di chapter-chapter sebelumnya masih ada yang panggil saya ‘THOR’, ya!? Duh, saya gak seserem ‘THOR’ T.T , jadi kalo mau panggil, cukup sebut Kak/Eonni/Noona (kalo kalian merasa lahir setelah tahun 92 *uhuk) atau nama aku aja biar lebih enak dibacanya (panggil Dek/Saeng juga gak papa kalo ternyata ada yang lahir lebih dulu dari saya… hehe) *banyak maunya**plak*

Oke deh. Segini aja note tambahannya.😄

Selamatkan FF ini dari draft dan recycle bin laptop saya… hehehe😄 *apa sih?* Leave your comment ^^

About fanfictionside

just me

13 thoughts on “FF/ HERO AND HEROINE/ BTS-BANGTAN/ pt. 4A

  1. aku paling suka part ini.
    kocak banget suga, masih sakit aja ngeselin… semoga aja hajin gak kena serangan jantung gara gara kelakuan suga

  2. Eonni cerita nya makin koplak aku sukaaa sip bnget ska sma cerita nya,eonni d tunggu loh chapter berikut bya jgn lama” oke
    fighting eon😀

  3. suga nya makin lucu aja(?) wk~ skrng kok hajin udh dikit peduli sama suga sih? apa dia mulai suka suga?
    trs suga knpa msh aja nyebut2 chorong? aku cemburu oppa :<
    ceritanya lucu eon aku ketawa sendiri bacanya kekeke
    apalgi pas suga ganti nama kontak di hp hajin haha
    next nya aku tunggu ya ^^

  4. kenapa chorong dah _-_ ilangin ajalah chorongnya/? /digampar
    suga-hajin jjang/? aduh ini lucu bgt fav lah bagian debat nya suga-hajin. apalagi pas hajin ngerjain sulli hanzer terbahak😄
    fighting eonni(?) ‘-‘)/

  5. Uhuk~ Hajin in here!!!

    Hm… Suga itu bibirnya gak bagus, masih bagusan bibirnya Jin ato Mark, Eonni. Terus, Suga itu emang nyebelin banget deh. Aku sebel sendiri waktu bacanya. Tapi, Suga manis walaupun dia nyebelin begitu. Senyumnya benar-benar wow~

    Well, aku kurang suka pasang Suga-Hajin (sukanya Seokjin-Hajin) tapi ya udahlah. Ceritanya makin gila. Dan, seujurnya aku emang mesum sih tapi kalo sam Suga sih males banget, hehe. Kalo sama Jin ato Mark baru deh gak males, hihi.

    Oke, sekian aja deh. Pai!!!

    With Love,

    Siwan Lovely Wife

  6. Finally ff ini muncul juga haha,lumayan nunggu lama. Tp maaf bgt telat ngomen karna baru sempet baca juga sih huhuhuㅠㅠㅠ tp dri pada ga ninggalin jejak sma skli jdi lebih baik telat hehe.
    Duh duh ternyata suamiku(read:yoongi) gak mati haha hidupku tenang kembali,gue suka chapter ini eon dan ini kocak haha. Andai gue jdi hajin pasti yoongi udh gue masukin mesin cuci hahaa,dan gue heran knp suga ngigau chorong padahal chorong udh berani kiss sungjae huhuhu. kalo masalah diksinya tetep unyu hehe. Udah ah gatau mau nulis aplgi gue mau cabut dulu. Maaf ngotorin tempat komen dgn sampah serapah ini hehehe
    Ditunggu chap selanjunya kak!! See you😁

  7. Finally ff ini muncul juga stelah lumayan menunggu hehe. Bersyukur suami gue (read:suga) gak jadi mati hehe kalo mati pasti tamatlah ya cerita ini hohoho. Maaf loh kak gue telat ngomen karna gue baru sempet baca huhuhu ini aja gue ngomennya gak bisa panjang karna sibuk hehehe tp dri pada jadi silent reader jdi di usahain komen hehe. Nah udh ya kak , gue mau cabut. Maaf telah mengotori kolom komen dengan sampah serapah ini kkk.
    Ditunggu chap 4B nya . Pai pai!!!😉

  8. Ak suka ceritanya komedi tpi gak bikin risih. Kan ada tuh yg iuuh bgt ceritanya, tpi yg ini keren dan bikin ak ketawa2 sndri. Penasaran otak authornya terbuat dri apa. Btw, hajin kalo gak mau sama suga, sama ak aja. Aku terima dg ikhlas😀

  9. Author yg terhormat kenapa gk dilanjutin ff nya :’:'((

    Lanjutin dong thor … suka banget sama ini ff

    Keep writing and lanjutin ff ini ya thor =D

  10. aaa~
    Suga punya sisi manis juga😀 kakakaka
    Hajin berrencana nyatuin Suga sma Chorong? Awas nyesel sendiriloh nantinya -_-

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s