FF/ 30DAYS CUPID/ BTS-BANGTAN/ pt. 6


Author: Anditia Nurul||Rating: PG-13||Length: Chaptered||Genre: Fantasy, School-life, Friendship, Romance||Main Characters: (BTS) Jungkook, (BTS) Jin/Seokjin, (BTS) V/Taehyung & (OC) Oh Shina||Additional Characters: (OC) Jeon Junmi, (BTS) Suga/Yoongi, (OC) Gu Sonsaengnim||Disclaimer: I own nothing but storyline and the OCs. Inspirated by film My Name Is Love, Tooth Fairy 2 & Korean Drama 49 Days||A/N: Edited! Sorry if you still got typo(s).

“Saat ini kau adalah cupid-30-hari. Kau akan diberi kesempatan selama 30 hari untuk menjalankan hukumanmu. Jika kau gagal, kau tidak akan hidup sebagai manusia lagi. Kau akan menjadi cupid selamanya.”

Prolog|Chp.1|Chp.2|Chp.3|Chp.4|Chp.5>>Chp.6           

30 DAYS CUPID (2)

HAPPY READING \(^O^)/

@@@@@

Angin sore bertiup lembut membelai masing-masing pipi dua orang yang sedang duduk di bangku taman itu. Sudah 10 menit waktu berlalu semenjak mereka bertemu, namun… tidak ada satu pun di antara mereka yang bernisiatif untuk mencairkan kecanggungan yang sangat terasa di sekitar mereka.

Junmi, salah satu dari dua orang yang duduk di bangku taman itu mengembuskan napasnya. Beberapa saat yang lalu, sempat terlintas dibenaknya bahwa… Jungkook yang sengaja membuatnya bertemu dengan pemuda yang duduk sebangku dengannya saat ini. Ya, pasti Jungkook. Sekarang saja pemuda berambut merah itu tidak menampakkan batang hidungnya.

Sementara pemuda di dekat Junmi sesekali mencuri-curi pandang ke arahnya. Ia ingin mengajak gadis itu bicara mengingat memang itu tujuan ia menemui Junmi, tapi… ada sesuatu yang membuat mulutnya menutup rapat kala ia ingin melontarkan sebuah kata untuk mengajak Junmi berbicara.

“Jungkook. Dia yang menyuruhmu ke sini, kan?” tanya Junmi memecah keheningan. Sengaja tidak mengalihkan wajah ke arah lawan bicaranya.

“Jika ya, kenapa?” tanya Jin, pemuda yang menjadi lawan bicara gadis itu, mengalihkan wajahnya ke arah gadis berbaju ungu di sebelahnya.

“Aku hanya ingin memastikan pertemuan ini adalah sesuatu yang sudah diatur, bukan sebuah kebetulan,” ucap Junmi datar.

Jin mengangguk. “Kau benar. Pertemuan kita ini sudah diatur oleh Jungkook.”

“Bagaimana bisa kau mengenal anak itu, hah?” tanya Junmi lagi.

“Ceritanya panjang,” jawab Jin.

Junmi menghela napas. “Kalau begitu, apa yang ingin kau bicarakan denganku?”

“Apa?”

“Kau bekerjasama dengan Jungkook untuk pertemuan ini, itu berarti ada sesuatu yang ingin kau bicarakan denganku,” tutur Junmi. “Apa yang ingin kau bicarakan?” tanyanya dingin.

“Kenapa nada bicaramu seperti itu, hm?”

“Jangan menjawab pertanyaan dengan pertanyaan! Aku tidak suka itu! Sebaiknya kau cepat karena hari ini aku benar-benar sangat lelah.”

Jin tersenyum miris. “Jadi, semudah itu perasaanmu berubah, hm? Dulu kau bahkan tidak pernah bicara sedingin ini meski aku—”

“Aku bukan manusia yang hidup di masa lalu. Jadi, jangan mengungkit cerita yang sudah aku kubur dalam-dalam,” potong Junmi.

Jika Jin masih manusia, pasti hatinya mencelos mendengar ucapan bernada sinis dari mulut seorang gadis yang dulu memujanya. “Kau sedang berbohong, kan?”

Seperti ada sesuatu yang menghentak dada gadis itu. Ya, dia memang sedang berbohong. Bohong mengenai perasaan yang ia katakan telah ia kubur dalam-dalam. Haha, ayolah, Junmi. Kau tahu sendiri bahwa kau—sampai detik ini—masih menaruh perasaan kepada sosok lelaki di dekatmu.

Junmi akhirnya menoleh ke arah Jin. Dari sorot matanya, ia nampak tak suka Jin menuduhnya berbohong—meski memang benar ia berbohong. “Setelah bertahun-tahun tidak bertemu, sekarang kau menjadi sok tahu!” ketusnya.

Jin tersenyum samar. “Sudahlah. Percuma saja kau menyembunyikan perasaanmu. Sekeras apapun kau mengelak, perasaan itu tidak bisa disembunyikan!”

“Kalau kau hanya ingin bersikap sok tahu, lebih baik aku pulang,” ujar gadis itu, berdiri dari duduknya, namun tangan Jin lebih dulu menarik tangan gadis itu.

“Kalau kau pulang, masalah di antara kita tidak akan pernah selesai.”

Junmi mendengus seraya memutar kedua bola matanya, jengah. Tidak lama, ia menghentakkan tangannya sehingga pegangan Jin terlepas dengan mudah. “Masalah kita sudah selesai sejak kau tiba-tiba menghilang, Kim Seokjin!”

Jin terhenyak. Ya, dulu dia memang tiba-tiba menghilang. Menghilang karena ia gagal menjalani hukuman cupid-30-harinya dan mau tidak mau, ia harus meninggalkan kehidupannya sebagai manusia dan hidup menjadi cupid di istana Dewi Venus. Tapi, Jin tidak mungkin menjelaskan sebab mengapa ia menghilang kepada Junmi. Gadis itu tidak akan mungkin percaya bahwa Kim Seokjin yang ia lihat hari ini bukanlah manusia.

“Kalau begitu, aku minta maaf,” ujar Jin, lalu berdiri untuk menyamakan posisinya dengan Junmi.

“Apa?” gumam Junmi.

“Aku minta maaf karena aku tiba-tiba menghilang. Aku minta maaf karena aku sudah menyakitimu. Aku minta maaf untuk semua yang aku perbuat padamu. Aku benar-benar minta maaf, Jeon Junmi,” lirih Jin.

Junmi menatap pemuda yang tubuhnya dibalut jaket kulit hitam itu lamat. “Setelah 6 tahun menghilang dan sekarang kau muncul di hadapanku untuk minta maaf?”

Mulut Jin menutup rapat. Ia tidak tahu harus merespon seperti apa.

“Kau terlambat, Kim Seokjin,” desis Junmi, kemudian beranjak meninggalkan Jin. Sengaja mengambil langkah lebar dan cepat agar ia bisa segera menghilang dari pandangan lelaki yang kini menatap punggungnya yang mulai menjauh.

Hah. Jin tahu ini pasti tidak akan mudah.

@@@@@

Noonaya, kau kenapa?” tanya Jungkook terkejut saat ia membuka pintu dan mendapati Junmi pulang dengan pipi yang basah oleh air mata.

Tidak menjawab pertanyaan adiknya, Junmi melintas begitu saja di samping Jungkook. Berjalan langsung menuju kamarnya, menutup pintu sedikit keras sehingga menimbulkan suara ‘brakk’ yang sukses membuat Jungkook membulatkan kedua matanya.

Merasa ada sesuatu yang tidak beres, Jungkook beringsut ke depan pintu kamar Junmi.

Noonaya, kau baik-baik saja?” tanya Jungkook lagi.

“….”

Tidak ada jawaban.

Noonaya, kenapa kau menangis?” Pemuda berwajah bulat itu kemudian merapatkan daun telinganya pada permukaan daun pintu kamar Junmi.

Noona?”

Tidak ada. Tidak ada satu sahutan pun yang terdengar di telinga Jungkook. Ia menghela napas, lalu bergerak menjauh dari pintu kamar Junmi, menghempaskan tubuh di atas sofa di ruang keluaga.

“Pasti terjadi sesuatu tadi,” gumam Jungkook.

“Memang terjadi sesuatu.” Jin tiba-tiba muncul di sebelah pemuda itu, namun kali ini ia memakai baju cupidnya.

Lekas, Jungkook menoleh. “Memangnya apa yang terjadi? Kau apakan Junmi Noona sehingga ia menangis?” tanya Jungkook sedikit sewot.

“Aku tidak melakukan apa-apa padanya, Jeon Jungkook. Aku hanya minta maaf padanya seperti apa yang aku katakan padamu sebelum menemuinya di taman. Tapi, Junmi sepertinya tidak senang bertemu denganku.”

“Maksudmu?” Kerutan muncul di dahi Jungkook.

Jin menyandarkan punggungnya pada sandaran sofa, lantas berkata, “Dia membenciku.”

“Tidak mungkin!” elak Jungkook. “Aku yakin Junmi Noona masih menyukaimu.”

“Sudahlah, Jeon Jungkook. Junmi sudah tidak punya perasaan apapun padaku. Dia sendiri yang bilang. Dia mengatakan kalau masalah di antara kami sudah selesai sejak aku hilang—maksudku, sejak aku menjadi cupid,” jelas Jin. “Jadi, tidak ada alasan untukmu mengatakan bahwa kau tidak bisa menyatukan Junmi dengan teman SMA-nya itu karena Junmi masih memiliki perasaan padaku,” lanjut Jin, lalu menepuk bahu Jungkook pelan. “Aku harus pergi sekarang. Besok kita akan bertemu lagi.”

Jungkook menghela napas panjang sembari memperhatikan selembar bulu sayap Jin yang terayun-ayun di udara. Aish! Kenapa malah seperti ini? Aku yakin sekali Junmi Noona masih menyukai cupid bodoh itu!

“CKLEK!”

Suara pintu yang dibuka sekitar 20 menit setelah Jin meninggalkan Jungkook, sontak membuat pemuda berambut merah marun itu menoleh ke arah dari mana asalnya suara. Kamar Junmi. Melihat sepupunya itu berjalan dengan wajah datar, mata sembab dan hidung kemerahan. Sangat jelas gadis itu baru saja menangis. Seolah tidak ada Jungkook yang memperhatikannya atau memang tidak sadar Jungkook sedang memperhatikannya, Junmi berjalan begitu saja menuju dapur.

Ah, ini sudah jam 7 malam.

Jungkook bisa mendengar suara sesuatu yang sedang dipotong-potong, disusul suara kompor gas yang sedang dinyalakan. Tidak lama terdengar suara sodet yang beradu dengan wajan. Satu kesimpulan yang diambil Jungkook, Junmi sedang memasak.

Pemuda berwajah bulat itu lantas menyusul Junmi menuju dapur. Pelan ia mendekat, kemudian dengan nada hati-hati, ia melontarkan pertanyaan, “Noonaya, kau baik-baik saja?”

Hanya suara sodet yang beradu dengan wajan yang terdengar.

Noonaya, apa kau marah padaku?”

Junmi nampak mengembuskan napasnya. “Aku tidak marah padamu,” sahutnya. Akhirnya, ia bicara juga.

Untuk sesaat Jungkook merasa sedikit lega, sampai…

“Aku hanya kecewa padamu,” ujar Junmi kemudian.

DEG!

Jantung Jungkook seketika berdegup kencang.

Beberapa detik kemudian, Junmi mematikan api kompor, lantas berbalik dan melihat ke arah Jungkook yang berdiri tidak jauh darinya. Untuk kedua kalinya, ia mengembuskan napas. “Kenapa kau tidak bilang bahwa kau ingin mempertemukan Seokjin dengan noona, hm? Kenapa kau harus menjebak noona dengan berpura-pura kalau kau ingin menemui noona di taman sore ini? Kenapa, Jungkook?”

Lidah Jungkook kelu. Ia tidak bisa langsung menjawab pertanyaan Junmi. Butuh waktu baginya untuk menyusun kata-kata. Dia tidak ingin membuat Junmi kecewa untuk kedua kalinya setelah mendengar alasannya, bukan!?

“Aku… aku… hanya ingin membantu Noona.”

Junmi membulatkan kedua matanya. “Membantuku?” ulangnya memastikan.

Jungkook mengangguk pelan. “Ya. Aku hanya ingin membantu noona. Aku tahu noona merindukan Seokjin, bukan!? Noona masih mencintai lelaki itu, kan!? Karena itu, selama ini kau tidak pernah mendekati lelaki mana pun karena kau masih mencintai Kim Seokjin!”

Junmi tertawa samar. “Sejak kapan kau menjadi sok tahu seperti itu, Jungkook? Apa sejak berkenalan dengan Seokjin?” tanyanya. “Sebaiknya kau jauhi lelaki itu sebelum kau menjadi orang sok tahu seperti dia!” ucap Junmi santai seraya memindahkan masakannya dari wajan ke piring. Gadis itu lantas berjalan menuju meja makan untuk meletakkan piring masakan tersebut, namun…

“Aku bukan sok tahu, Noona!” tegas Jungkook, sukses membuat Junmi menghentikan langkahnya. Jungkook menatap Junmi yang kini berada tepat di hadapannya, meski dalam posisi menyamping. “Noona memang masih mencintai pria itu, bukan?”

Lagi, Junmi tertawa samar. “Aku tidak mencintai pria itu, kau mengerti!?” jawabnya, lalu melanjutkan langkahnya yang sempat tertunda. Gadis itu meletakkan piring di atas meja, tapi tiba-tiba… Jungkook memutar tubuh gadis itu menghadapnya. Kedua tangannya ia letakkan di masing-masing bahu Junmi, menatap gadis itu lamat. “Apa yang kau lakukan, Jungkook?” tanya Junmi sewot, sedikit terkejut.

“Kalau memang noona tidak mencintai orang itu, lihat ke dalam mataku dan katakan bahwa noona benar-benar tidak mencintainya lagi. Dengan begitu, aku akan percaya apa yang noona ucapkan!” tegas Jungkook.

Junmi sedikit mendongak untuk menatap kedua mata adiknya beberapa detik, lalu mengalihkan wajahnya. “Aku tidak mencintainya,” lirih Junmi. Suaranya terdengar bergetar seperti menahan sesuatu.

“Katakan sambil melihat ke mataku, Noona!” perintah Jungkook terkesan menuntut.

Gadis itu masih mengalihkan wajahnya dari tatapan Jungkook. Perlahan, Junmi terlihat menggigit bibir bawahnya yang nampak bergetar. Sedikit demi sediki cairan bening mulai menggenang di kedua pelupuk matanya. Dia tahu dirinya tidak bisa menghindar kali ini. Ia tidak bisa mengelak. Semua yang dikatakan Jungkook adalah benar.

“Kau benar! Aku masih mencintai pria itu. Aku masih mencintai Kim Seokjin. Aku hanya tidak siap untuk bertemu dengannya setelah bertahun-tahun aku mati-matian untuk mengubur perasaanku padanya. Semua yang kau katakan benar, Jungkook,” tutur Junmi sedikit terbawa emosi, tidak peduli air mata kini membentuk sungai kecil di kedua belah pipinya. “Aku masih mencintainya,” tuturnya pelan, lalu menundukkan kepalanya. Gadis itu terisak.

Sementara Jungkook terdiam dengan pengakuan yang baru saja dilontarkan gadis yang tengah menangis di hadapannya. Seharusnya ia tidak perlu kaget mendengar apa yang dikatakan Junmi karena memang seperti itu dugannya, namun… pemuda itu tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya melihat sisi terlemah dari gadis yang selama ini selalu terlihat kuat di matanya.

NooNoona~” lirih Jungkook. Hanya itu yang bisa ia ucapkan.

Junmi tidak bisa mengucapkan satu patah kata pun. Sedih yang melingkupi perasaannya seperti membekukan seluruh tubuhnya. Bahkan menggerakkan tangannya untuk menyeka air mata yang membasahi seluruh wajahnya, ia nampak tak sanggup.

Dan, sepersekian detik kemudian, gadis itu merasa hangat. Ya, Jungkook memeluknya. Entah dari mana pemuda 18 tahun itu mendapat inisiatif memeluk seorang gadis yang sedang menangis.

“Ma-maaf, Noona. Aku… aku tidak bermaksud membuat Junmi Noona menangis.”

@@@@@

“PRIIIITTT!!!”

Suara peluit yang terdengar membuat Jungkook dan teman-teman sekelasnya segera berkumpul di dekat kolam renang sekolah yang terletak di dalam sebuah ruangan besar. Setelah diberi kesempatan untuk mengganti pakaian olahraga dengan pakaian renang masing-masing, Jungkook dan teman-temannya berdiri membuat beberapa barisan di depan Gu Sonsaengnim, guru olahraga.

“Oke, anak-anak. Hari ini saya akan mengambil nilai untuk olahraga renang. Tapi sebelum turun ke kolam, kita lakukan pemanasan dulu,” terang Gu Sonsaengnim. “Kim Taehyung, kau yang memimpin pemanasan kali ini,” perintah Kim Sonsaengnim kepada Taehyung yang berdiri di barisan pertama, paling depan.

“Baik, Sonsaengnim~” ucap Taehyung. Pemuda berambut light caramel itu pun mengambil tempat di hadapan temannya, kemudian memulai memimpin pemanasan.

Untuk beberapa gerakan pertama, Taehyung mencontohkan gerakan pemanasan seperti yang biasa dilakukan Gu Sonsaengnim atau teman-teman yang mendapat guliran memimpin pemanasan, tapi… setelah Gu Sonsaengnim pergi ke suatu tempat untuk menjawab panggilan yang masuk ke ponselnya, Taehyung mulai mencontohkan gerakan asal-asalan.

“Sekarang, rentangkan kedua tangan dan kaki kalian ke samping, lalu putar kedua tangan kalian dengan cepat seperti ini, kemudian lakukan gerakan seperti Goku yang mengeluarkan jurus kameha-meha seperti ini! Hyaaaa!” Taehyung mencontohkan gerakan yang dijelaskannya.

Tentu saja tidak semua teman-teman Taehyung mau mengikuti gerakan bodoh itu. Ada beberapa yang hanya berdiri melihat Taehyung mencontohkan gerakan pemanasan-ala-idiot dan ya, ada juga beberapa yang mau saja mengikuti gerakan bodoh Taehyung.

Jungkook?

Kupikir kau sudah tahu dia berada di kelompok yang mana.

Ya. Di kelompok orang yang berdiri melihat Taehyung mencontohkan gerakan bodohnya.

“Hei! Kim Taehyung, apa yang kau lakukan, hah?! Sejak kapan ada gerakan pemanasan seperti itu?” tegur Gu Sonsaengnim yang menghampiri anak-anak muridnya.

Sontak Taehyung berhenti melakukan gerakan anehnya diikuti cekikikan kecil dari beberapa teman-temannya.

Gu Sonsaengnim mendengus. “Ya, sudah. Cukup pemanasannya,” kata beliau. “Kim Taehyung, silakan kembali ke barisanmu,” perintah Gu Sonsaengnim.

Setelah Taehyung kembali ke barisannya, Gu Sonsaengnim kembali menjelaskan sesuatu. “Sebelum memulai pengambilan nilai, ada hal yang ingin saya sampaikan kepada kalian,” kata guru olahraga yang usianya sekitar 40 tahunan itu.

“Pasti tentang perkemahan~” bisik Taehyung pada Jungkook yang berdiri di sebelahnya, menyengir lebar.

Sekilas Jungkook menoleh ke arah sahabatnya, lantas memamerkan senyum kecut.

“Akhir minggu ini, kita akan mengadakan perkemahan selama 2 hari 3 malam. Tentu saja bukan hanya kelas kalian, tapi seluruh siswa kelas 1 akan ikut bersama kita dan beberapa guru pendamping. Hari Jumat sore, kita akan berangkat ke lokasi dan pulang pada hari Minggu pagi. Karena itu, saya berharap mulai hari ini kalian menyiapkan peralatan dan perlengkapan perkemahan. Untuk pemberitahuan yang lebih lengkap, besok setelah jam pelajaran selesai, kalian berkumpul di aula sekolah, paham?”

“PAHAM, SSAEM!”

“Baik. Kalau begitu, kita mulai pengambilan nilai renang sekarang. Saya mulai dari para siswi dulu. Untuk para siswa, silakan duduk di sana menunggu giliran kalian~”

Jungkook, Taehyung dan para siswa lainnya beranjak menuju bangku yang berada di dekat dinding ruangan. Beberapa siswa memilih untuk melakukan gerakan pemanasan ulang, sementara yang lain memilih duduk, termasuk Jungkook dan Taehyung.

“Hei! Bagaimana kalau saat perkemahan nanti, kita 1 tenda. Kau mau, kan?” tanya Taehyung pada Jungkook, memulai pembicaraan.

Jungkok mendengus malas. “Aku sedang tidak berminat membicarakan hal itu, Kim Taehyung!” ujarnya.

“Kenapa, hah?” Taehyung bertanya lagi. “Lebih baik rencanakan dari sekarang agar perkemahan nanti lancar,” jelas pemuda berambut light caramel itu sok menasehati.

Lagi, Jungkook hanya mendengus.

Ya, dia terlalu malas memikirkan perkemahan dan segala macam hal yang berkaitan dengan kegiatan menyebalkan itu. Yang ingin dan sedang ia pikirkan saat ini adalah… menyelesaikan misi ketiganya. Ia tidak punya banyak waktu. Terlebih, sebentar lagi ia akan ikut perkemahan. Kalau tidak cepat, ia bisa gagal menjalani hukuman. Lagi pula, bisa saja kan target terakhirnya jauh lebih susah dari target ketiga!

Aish! Kenapa targetnya harus orang dewasa seperti Min Sonsaengnim dan Junmi?

“Hei! Apa yang kau lakukan? Sudah giliran kita!” tegur Taehyung, membuyarkan lamunan Jungkook.

Waktu terasa begitu cepat saking sibuknya Jungkook memikirkan langkah apa yang harus ia lakukan untuk menyelesaikan misinya, tahu-tahu sudah tiba giliran untuk para siswa mengambil nilai. Huh~

Jungkook menyusul Taehyung yang telah lebih dulu berdiri di dekat Gu Sonsaengnim, menunggu giliran bersama beberapa siswa lainnya. Di sana, di tepi kolam telah berdiri 4 teman Jungkook, bersiap untuk beradu cepat. Sesaat setelah sumprit ditiup, keempat siswa itu langsung terjun ke dalam kolam sepanjang 100 meter dengan dalam 3 meter.

Beberapa siswi yang berdiri di sekitar kolam mulai heboh, sekedar menyemangati teman-temannya. Beberapa lainnya hanya menonton atau sama sekali tidak peduli, malah membicarakan hal lain.

“Selanjutnya, Jang Kwangpil, Jeon Jungkook, Jung Yongdae dan Kim Hwasok,” sebut Gu Sonsaengnim setelah mengambil nilai untuk 4 siswa di putaran pertama.

Jungkook dan ketiga teman yang disebut namanya pun mengambil posisi di tepi kolam. Bergerak mengikuti aba-aba yang diteriakkan Gu Sonsaengnim, lalu melompat setelah sumpritan ditiup.

“BYUURRR!”

Keempat pemuda itu mulai saling adu cepat berenang hingga ke tepi kolam yang lain, kemudian kembali ke tepi kolam semula. Sebisanya, Jungkook berusaha untuk berada di posisi depan, meski ia harus bersaing ketat dengan Jung Yongdae yang berada di lintasan sebelahnya.

“YAAA! JUNGKOOK! CEPAT! CEPAT!” teriak Taehyung heboh di tepi kolam.

Jungkook terus mengayunkan kedua lengan dan kakinya bergantian, menambah kecepatan renangnya. Ya, tidak sia-sia karena ia peserta pertama yang kini mulai berenang kembali ke tepi kolam semula, disusul Yongdae, Kwangpil dan Hwasok.

Persaingan sangat ketat terlihat di antara Jungkook dan Yongdae. Keduanya terlihat saling kejar-mengejar posisi, beda tipis. Namun tiba-tiba…, Jungkook merasa kakinya tidak bisa digerakkan. Astaga! Pemuda itu kram!

“To… blup… blup… long… blup… TOLONG… blup… blup….” Jungkook muncul-tenggelam di tengah kolam.

“JUNGKOOK TENGGELAM! JUNGKOOK TENGGELAM! CEPAT TOLONG JUNGKOOK!” Siswa-siswi di tepi kolam mulai berteriak heboh.

Yongdae, Kwangpil dan Hwasok yang berada di kolam lekas berenang menolong Jungkook, lalu berenang sambil membawa Jungkook yang tidak sadarkan diri ke tepi kolam. Berhasil dibawa ke tepi, Jungkook langsung dibaringkan. Dalam sekejap, ia menjadi pusat kerumunan.

“Ada yang bisa melakukan pertolongan pertama? Sepertinya Jungkook terlalu banyak menelan air,” kata Taehyung setelah ia mengecek tubuh Jungkook.

“Shina, kau bisa, kan!? Kau anggota klub kesehatan sekolah,” bisik Bomi, mendorong pelan Shina.

Ya, tentu saja gadis itu bisa. Gadis itu juga mau menolong Jungkook, tapi…

“Shina-ssi, kau bisa, hm? Tolong~” pinta Taehyung dengan mimik wajah memelas.

Shina terdiam, menggigit bibir bawahnya. Tampak ragu untuk menolong Jungkook yang masih tidak sadarkan diri.

“Ayolah, Shina,” gumam Bomi, membujuk gadis itu.

Shina menghela napas. “Baiklah~”

Gadis berambut panjang itu mendekati tubuh Jungkook. Menekan bagian ulu hati pemuda itu agar air yang menyumbat pernapasannya keluar. Hal itu ia lakukan berkali-kali, namun… Jungkook sama sekali tidak bereaksi.

“Dia butuh napas buatan,” ucap Shina kemudian.

“Kalau begitu, lakukan!” celetuk Yongdae.

Shina membulatkan kedua matanya, begitu juga dengan Taehyung.

“Apa?” seru Shina dan Taehyung bersamaan.

“Tidak! Jangan! Kalau Jungkook tahu kau melakukan itu padanya, bisa-bisa…” kata Taehyung berusaha mencegah.

“Sudahlah, Taehyung! Jungkook tidak akan marah,” potong Yongdae. “Shina-ssi, lakukan saja! Cepat! Nanti Jungkook meninggal!”

Shina melihat teman-temannya yang nampak mendukung apa yang dikatakan Yongdae. Sedangkan Taehyung hanya garuk-garuk kepala melihat sahabatnya masih terbaring tidak sadarkan diri.

“Cepat, Shina-ssi!” paksa Yongdae.

Shina menghela napas. Mau tidak mau, dia harus memberikan napas buatan kepada lelaki yang membencinya. Oh, well, Jungkook, sepertinya sebentar lagi kau akan punya utang budi kepada gadis yang kau benci.

Gadis itu bergerak menjepit hidung Jungkook, lalu perlahan-lahan mendekatkan mulutnya ke mulut pemuda itu. Jantung Shina berdegup sangat kencang kala ia mengeleminasi jarak di antara wajahnya dengan wajah tampan yang memucat milik Jungkook. Bibir keduanya pun bersentuhan seiring Shina meniupkan udara ke dalam rongga mulut pemuda itu.

Satu kali tiupan, namun Jungkook tetap bergeming.

Dua kali tiupan, Jungkook masih belum sadarkan diri.

Tiga kali tiupan, dan…

“Uhuk… uhuk… uhuk….” Jungkook terbatuk, memuncratkan air dari mulutnya.

Ia telah sadar.

@@@@@

Gadis itu, Oh Shina, berbaring di dalam kamar yang didominasi warna biru muda. Kedua matanya lekat menatap hiasan kamar yang bergantung mengelilingi lampu di langit-langit. Sejak tadi, gadis manis itu tidak henti menyentuh bibirnya. Ya, bibir yang hari ini mendapat kesempatan menyentuh lembutnya bibir Jungkook yang—ah, bagaimana mengatakannya? Shina bahkan tidak yakin bisa melupakan bagaimana sensasi saat bibirnya menyentuh bibir Jungkook.

“Tok! Tok!”

Gadis itu sontak mengalihkan pandangannya ke arah pintu kamar. Sedetik kemudian, ia beranjak membuka pintu.

“Bomi?” seru gadis itu terkejut saat melihat sahabatnya berdiri di depan pintu kamarnya. “Mau apa kau ke sini? Kenapa tidak memberitahuku?”

Bomi mengembuskan napasnya. “Bisakah kau menyuruhku masuk lebih dulu sebelum kujawab semua pertanyaanmu itu?”

“Baiklah. Silakan masuk, Yoon Bomi,” gumam Shina.

Setelah Bomi masuk ke dalam kamarnya, Shina lantas menutup pintu. Gadis itu berjalan kembali ke tempat tidur, duduk di tepinya. Melihat ke arah Bomi yang saat ini duduk di bangku yang berada di dekat meja belajarnya.

“Sekarang kau mau apa ke sini?” tanya Shina kemudian.

“Hanya ingin berkunjung ke rumahmu saja. Tidak boleh? Aku bosan di rumahku~” jawab Bomi.

“Mentang-mentang rumahmu dekat,” komentar Shina.

Bomi yang mendengar itu hanya menggidikkan bahunya. “O, ya, tadi kau sedang apa sebelum aku datang, hm?”

Shina berbaring di atas tempat tidurnya, lalu menjawab, “Tidak melakukan apa-apa. Hanya berbaring seperti ini.”

Gadis yang duduk di kursi itu tertawa samar. “Berbaring sambil memikirkan sesuatu pasti,” goda Bomi.

“Memangnya menurutmu aku memikirkan apa?” tanya Shina.

Bomi nampak mengelus-elus dagunya, sok berpikir. “Eumm… mungkin… kejadian saat kau memberi napas bantuan untuk Jungkook.”

Seketika Shina langsung terbatuk pelan. Ck! Kenapa Bomi bisa menebak setepat itu!?

Tidak lama, terdengar suara tawa lembut dari Bomi. “Hehehe… aku benar, kan!? Kau pasti sedang mengingat kejadian saat kau memberi napas buatan untuk si anak menyebalkan itu,” ujarnya terdengar puas. “Bagaimana? Seperti apa rasanya bibir Jungkook? Hehehe.”

Wajah Shina memerah. Gadis itu bergerak cepat mengambil posisi duduk, lalu melemparkan sebuah boneka beruangnya ke arah Bomi. Beruntung, gadis yang dilempari boneka itu cukup tangkas.

“Biar aku tebak! Pasti bibir Jungkook agak pahit, iya, kan!? Dia selalu bicara ketus, tidak pernah bicara dengan nada manis. Oh, atau mungkin…”

Belum sempat Bomi menyelesaikan tebakannya, Shina melemparkan boneka kedua yang beruntung kali ini mendarat tepat di kepala gadis itu. “Kau menyebalkan, Yoon Bomi!” gerutu Shina. “Jangan bahas kejadian itu lagi!” tambahnya.

Bomi masih terkekeh meski kepalanya terkena boneka. Ah, menggoda Shina seperti ini adalah salah satu kesenangan tersendiri untuknya. “Oke. Oke. Baiklah. Aku tidak akan membahas kejadian itu lagi,” sahut Bomi.

Gadis itu lantas memandang ke seluruh penjuru kamar Shina. Semacam mencari sesuatu untuk dijadikan bahan obrolan berikutnya. Sampai… kedua iris gadis itu menemukan belasan tangkai mawar di dalam sebuah vas yang di letakkan di atas sebuah lemari kabinet tempat buku-buku Shina.

“Oh, ya, itu bunga yang setiap pagi kau dapat dari Tuan Mawar?” tanya Bomi berjalan mendekati vas tersebut.

“Tuan Mawar?” Shina mengernyitkan dahinya.

“Ya. Sebut saja orang yang selalu menaruh mawar di lokermu itu adalah Tuan Mawar!” ujar Bomi.

“Memangnya kau tahu dia laki-laki?”

Bomi melihat ke arah Shina, lantas berkata, “Aku yakin Tuan Mawar ini adalah salah satu dari penggemarmu! Mungkin Yugyeom, Jackson Sunbae, Jongin Sunbae, Youngjae Sunbae, Jaebum Sunbae atau ya… siapa saja. Firasatku mengatakan kalau dia adalah salah 1 dari para laki-laki yang setiap hari menemuimu!”

Shina terdiam. Ya, ucapan Bomi ada benarnya. Tapi…, siapa? Siapa yang menjadi Tuan Mawar di antara laki-laki yang disebutkan Bomi?

“Sudah ada berapa tangkai, hm?” tanya Bomi kemudian.

Shina yang kekesalannya mulai sedikit menghilang pun menjawab, “Ya. Sudah ada 11 tangkai.”

Bomi mengeluarkan setangkai mawar itu dari vas, kemudian berkata, “Ckckck… siapa ya orang yang menaruh bunga ini? Aku benar-benar penasaran dengannya.”

“Kau pikir hanya kau yang penasaran? Terlebih aku. Aku yang selalu mendapat bunga dari orang itu.”

Bomi melangkah mendekati Shina sambil memegang setangkai mawar yang tadi diambilnya dari vas seraya berkata, “Iya, aku tahu. Hmm… menurutmu, sampai kapan dia akan terus menaruh mawar di lokermu?”

Shina menggidikkan bahunya. “Entahlah. Tapi, aku berharap agar dia secepatnya membongkar identitasnya.”

“Kalau kau sudah tahu dia siapa, memangnya… apa yang akan kau lakukan, hm?” tanya Bomi, menatap Shina lamat.

Mendengar pertanyaan itu, Shina langsung terdiam. Ya, apa yang akan ia lakukan kalau ia sudah tahu siapa yang meletakkan mawar itu di lokernya? Memarahinya? Mengomelinya? Atau… menyukainya?

@@@@@

Jungkook terbaring lemah di atas tempat tidurnya. Setelah insiden yang membuatnya nyaris kehilangan nyawa—yang sukses membuatnya kehilangan ciuman pertamanya, pemuda itu mendadak kurang sehat. Ia tiba-tiba demam. Beruntung, ia diijinkan pulang lebih awal oleh guru piket.

“CKLEK!”

Pintu kamar pemuda itu terbuka, lalu Junmi masuk sambil membawa nampan dengan semangkuk bubur dan air putih di atasnya.

“Bagaimana keadaanmu, hm?” tanya gadis itu, mendapati adiknya berbaring dengan mata terbuka, terlihat sayu.

Jungkook tidak menjawab. Hanya membiarkan kedua matanya mengikuti arah kemana noona-nya bergerak. Setelah meletakkan nampan di atas nakas di sebelah tempat tidur, gadis itu menyentuh dahi Jungkook, bermaksud mengecek kondisi pemuda itu.

“Tubuhmu masih hangat,” katanya. “Sebaiknya kau makan dulu, setelah itu minum obat dan kembali tidur,” tambahnya.

“Ya, Noona~”

“Perlu disuap?”

Jungkook mengangguk begitu saja.

Junmi terkekeh. “Dasar manja!” celetuk Junmi, lalu menarik kursi di dekat meja belajar Jungkook menuju sisi tempat tidur.

Pemuda berambut merah marun itu hanya mengulum senyum, lalu perlahan mengambil posisi duduk. Junmi dengan telaten menyuapi pemuda yang lebih muda 6 tahun darinya. Sesekali membersihkan makanan yang berada di sekitar bibir pemuda itu dengan selembar tisu. Ah, Jungkook benar-benar sangat manja hari ini.

“Oh, ya, noona, hari ini kau tidak pergi ke acara pernikahan temanmu, hm? Bukankah acaranya hari ini?” tanya Jungkook setelah menelan buburnya.

Junmi menyuapkan sesendok bubur lagi ke dalam mulut pemuda itu sembari menjawab, “Tidak. Kondisimu saat ini jauh lebih penting dibanding pergi ke acara pernikahan temanku.”

Jungkook menelan buburnya lagi, lalu bergumam, “Tapi, noona…”

“Tidak apa-apa. Dia akan maklum kalau aku mengatakan adikku yang sangat manja ini sedang sakit,” ucap Junmi, lalu terkekeh.

Jungkook ikut terkekeh. Gadis itu lantas menyuapkan bubur lagi.

Noona?” gumam Jungkook setelah menelan buburnya.

“Ya?” Junmi menatap pemuda itu lamat.

“Apa kau tidak pernah berpikir untuk menikah?” tanya Jungkook, sontak membuat Junmi terkejut. “Ma-maksudku…, paling tidak… memiliki seorang kekasih,” ralatnya kemudian.

Junmi menghela napas panjang, lalu tersenyum samar. “Apa saat ini kau memintaku untuk berbicara mengenai Kim Seokjin?” tanyanya, masih menatap Jungkook.

Pemuda itu menggeleng pelan. “Tidak, Noona. Aku… hanya teringat kalau… selama ini aku tidak pernah melihat kau berkencan atau keluar dengan teman laki-lakimu. Apa… kau tidak pernah berpikir untuk menyusul teman-temanmu yang sudah menikah?”

“Kenapa kau tiba-tiba bertanya seperti itu?”

“Tidak apa-apa. Aku hanya iseng saja.”

Lagi dan lagi Junmi mengukir senyum samar di wajahnya. “Memangnya kau ingin aku menikah dengan siapa? Kim Seokjin?”

Jungkook menggeleng pelan. “Bukan dia.”

“Lantas?”

“Bagaimana dengan Min Sonsaengnim? Ah, maksudku Yoongi Hyung?”

Junmi terpaku. Ia tidak tahu harus merespon seperti apa. Mendengar nama Yoongi disebut dalam perbincangan seperti ini membuatnya kembali teringat sebuah kejadian 6 tahun lalu. Sebuah kejadian yang… membuatnya menyimpan rasa bersalah terhadap pria bernama Min Yoongi itu.

Noona?” gumam Jungkook.

Mendengar suara yang lemah itu, Junmi tersadar dari sikap diamnya. Sepersekian detik kemudian, ia mengukir senyum di wajah. “Cepat, habiskan makananmu. Ini suapan terakhir,” katanya, mengalihkan topik pembicaraan seraya memasukkan satu suapan terakhir ke dalam mulut Jungkook. “Setelah ini kau harus minum obat dan langsung tidur, oke?”

Jungkook hanya memandang Junmi yang bergerak meninggalkan kamarnya. Baru saja dia menyadari bahwa… dia salah bicara lagi. Tapi, entah kenapa… pemuda itu menyadari ada sesuatu yang aneh dari raut wajah Junmi saat ia mengucapkan nama Min Son—maksudnya, Yoongi tadi.

Apa… pernah terjadi sesuatu di antara mereka di masa lalu?

@@@@@

Suasana yang sangat berisik di dalam sebuah bis cukup membuat Jungkook menyumbat kedua telinganya dengan earphone. Memilih mendengarkan lagu yang terputar melalui MP3 player-nya dibanding mendengar suara deep husky milik Taehyung yang duduk di sebelahnya, sedang bernyanyi bersama beberapa teman sekelas mereka di dalam bis.

Yap! Hari perkemahan telah tiba!

Duduk di bangku kedua dari belakang di sisi kiri bis, Jungkook memandang keluar jendela. Menikmati lantunan musik yang keluar dari earphone-nya, cukup bosan untuk sekedar membayangkan apa yang akan ia lakukan jika telah tiba di lokasi perkemahan.

Sementara itu, Taehyung dan bebeberapa siswa lainnya masih asik bernyanyi riang gembira. Terlihat sangat menikmati perjalanan itu. Beberapa siswi yang duduk di bangku bagian depan terlihat asik mengobrol dengan teman di sebelah masing-masing.

“Anak-anak, sebentar lagi kita akan tiba di lokasi! Persiapkan diri kalian!” teriak Min Sonsaengnim, salah satu dari 3 orang guru yang mendampingi Gu Sonsaengnim dalam acara perkemahan selama 2 hari 3 malam ke depan.

“YA, SONSAENGNIM~!!!” seru hampir semua siswa-siswi kelas 1.2 yang berada di dalam bis itu.

Suara nyanyian super ribut yang bisa membuat telinga orang-orang mendadak tuli pun lenyap. Setelah mendengar penyampaian dari Min Sonsaengnim, para siswa bergegas mempersiapkan diri untuk turun di lokasi perkemahan.

“Hei! Jungkook!” Taehyung mencolek lengan kanan Jungkook.

Pemuda berwajah bulat itu kemudian menoleh ke arah Taehyung seraya melepaskan earphone yang terpasang di telinganya. Tidak lama, ia bertanya, “Ada apa?”

“Sebentar lagi kita tiba di lokasi perkemahan~” jawab Taehyung.

“Oh~” respon Jungkook singkat, lalu kembali memasang earphone-nya. Tidak peduli Taehyung yang mengerucutkan bibir ke arahnya.

Sekitar 5 menit kemudian, bis tersebut pun berhenti disusul 3 bis lain yang berada di belakang mereka. Para siswa-siswi keluar dari bis setelah diperintahkan oleh guru pendamping kelas masing-masing, lalu berkumpul di sebuah tanah kosong, tidak jauh dari lokasi pemberhentian bis, mendengar arahan dari Gu Sonsaengnim.

“Lokasi pendirian tenda tidak jauh dari sini. Kita perlu berjalan kaki sekitar 400-500 meter lagi ke dalam hutan. Karena hari mulai gelap, saya harap kalian tetap berada di dalam barisan kelompok kelas kalian agar tidak tersesat di dalam hutan, mengerti?”

“YA, SONSAENGNIM~”

“Baiklah. Kita akan menuju ke lokasi pendirian tenda.”

Para siswa—berdasar urutan kelasnya—pun berjalan mengikuti Gu Sonsaengnim masuk ke dalam hutan sambil membawa ransel dan barang bawaan masing-masing. Sesekali terdengar suara guru pendamping yang menegur siswa yang bermain-main saat perjalanan.

“Astaga! Aku lelah,” keluh Taehyung yang nampak kesusahan membawa ransel besar juga tenda gulung yang sejak tadi ia tenteng.

Jungkook yang berjalan di sebelahnya pun melirik sekilas, kemudian terkekeh. “Ini yang kau sebut asik? Sudah kubilang berkemah itu tidak ada asiknya!” ucap pemuda berambut merah marun itu.

Taehyung menghela napas. “Tidak! Aku hanya sengaja mengeluh! Ini pasti akan menjadi acara yang menyenangkan!” ujar Taehyung yang tiba-tiba semangat setelah sekitar 5 detik lalu ia mengeluh. Pemuda berambut light caramel itu pun mempercepat langkahnya, mendahului Jungkook yang tersenyum tidak percaya melihatnya.

Pemuda berambut merah marun itu berhenti sejenak. Beristirahat. Membiarkan beberapa teman mendahuluinya berjalan, meski ada beberapa yang sempat menanyakan kondisinya. Keadaan tubuh pemuda itu belum pulih betul. Ia bisa saja mendapat izin untuk tidak mengikuti acara ini, namun… ada sesuatu hal yang membuatnya ikut.

Min Yoongi—atau bagi Jungkook adalah Min Sonsaengnim—ikut sebagai guru pendamping dalam kegiatan kali ini. Beruntungnya lagi, Min Sonsaengnim menjadi guru pendamping untuk para siswa di kelasnya. Bukankah… ini kesempatan untuk menanyakan beberapa hal yang yah, mudah-mudahan saja bisa ia ketahui dari Min Sonsaengnim.

“Kau baik-baik saja, Jungkook-ah?” Min Sonsaengnim menghampiri Jungkook yang terdiam di tempatnya, menepuk bahu pemuda itu.

Jungkook menoleh ke arah pria 24 tahun itu, mengulum senyum. “Ya, aku baik-baik saja, Sonsaengnim.”

Min Sonsaengnim ikut mengulum senyum. “Kalau kau kurang sehat, lekas bilang padaku, mengerti?”

Jungkook mengangguk.

“Ya, sudah. Kalau begitu, ayo jalan. Kita harus cepat, bukan!?”

Untuk kedua kalinya pemuda itu mengangguk, lalu mengikuti Min Sonsaengnim yang berjalan beberapa langkah di depannya.

Sekitar beberapa menit kemudian, terdengar suara teriakan Gu Sonsaengnim, “ANAK-ANAK, DI TEMPAT INILAH KITA AKAN MENDIRIKAN TENDA~~~!!!”

Sepersekian detik setelahnya, para siswa-siswi menghambur di atas tanah lapang, lokasi perkemahan. Menikmati pemandangan sebuah danau kecil di depan mereka. Permukaan danau tampak berkilau keemasan akibat pantulan sinar matahari yang sebentar lagi akan tenggelam di balik sebuah gunung di kejauhan sana.

Ya, benar-benar tempat yang sangat pas untuk berkemah.

@@@@@

Malam yang indah.

Taburan bintang di langit gelap menghiasi serunya pesta api unggun di sekitar danau. Puluhan siswa-siswi duduk mengelilingi api unggun super besar yang berada di tengah lokasi tenda didirikan. Beberapa siswa-siswi tampak asik menari-nari mengelilingi api unggun diiringi suara petikan beberapa gitar yang dimainkan beberapa siswa. Tidak sedikit siswa-siswi bernyanyi, ikut mengiringi teman-teman mereka yang sedang menari.

Di luar lingkaran, Jungkook tampak duduk tepat di depan pintu tenda. Memilih duduk di sana, melihat Taehyung dan teman-temannya menarikan gerakan aneh yang Jungkook bersumpah tidak akan melakukannya. Sebuah jaket merah yang cukup tebal, lekat memeluk tubuh atletis pemuda itu. Sesekali ia tersenyum melihat gerakan lucu teman-temannya atau sekedar menikmati suara akustik gitar yang mengiringi tarian aneh itu.

“Kau tidak bergabung dengan teman-temanmu yang lainnya?” Min Sonsaengnim menghampiri Jungkook yang menyendiri dari kerumunan.

Jungkook menoleh ke asal suara, mendapati pria yang mengenakan jaket abu-abu duduk di sebelahnya, lengkap dengan topi rajut berwarna hitam yang menutupi kepalanya. “Tidak,” jawab Jungkook singkat.

“Kenapa?”

“Tidak apa-apa. Hanya ingin duduk di sini,” jawab pemuda itu lagi.

“Oh,” gumam Min Sonsaengnim singkat. “Jadi…, Junmi sendiri di rumah sekarang, hm?” tanyanya kemudian, mengalihkan topik pembicaraan.

“Tidak. Ada bibi tetangga yang menemaninya~”

Min Sonsaengnim terkekeh. “Dia masih takut tinggal sendirian?”

“Ya, begitulah,” respon Jungkook, lalu tertawa samar.

Keduanya pun terdiam. Memandang ke arah siswa-siswi yang mengelilingi api unggun. Kali ini terlihat beberapa siswa-siswi menari mengelilingi api unggun, saling berpegangan pada punggung teman di depannya. Terlihat seperti ‘kereta-manusia’ yang tidak akan putus.

“Yoongi Hyung~” gumam Jungkook.

Min Sonsaengnim menoleh, sedikit terkejut mendengar Jungkook memanggilnya dengan sebutan akrab seperti itu.

“Tidak apa-apa kan kalau sekarang aku memanggilmu ‘Yoongi Hyung’, Sonsaengnim?”

Untuk sesaat, Min Ssaem menatap pemuda itu. Beberapa detik kemudian, ia mengangguk seraya berkata, “Ya, tidak apa. Sekarang bukan dalam keadaan formal.”

“Boleh aku bertanya sesuatu padamu?”

“Kau mau bertanya apa?”

“Apakah… selama sekolah atau kuliah… Junmi Noona tidak pernah dekat dengan lelaki mana pun selain kau, hm?”

Pemuda itu, Yoongi, tersenyum samar. “Memangnya kenapa kau bertanya seperti itu padaku? Bukankah lebih baik jika kau menanyakan hal itu langsung pada noona-mu?”

Jungkook menghela napas. “Aku tahu. Tapi, kau tahu bagaimana Junmi Noona, kan!? Dia sedikit tertutup untuk masalah seperti ini.”

“Ya. Kau benar,” sahut Yoongi.

“Aku hanya penasaran dengan Junmi Noona. Bukankah diusianya yang sekarang, ia… ya, setidaknya mencari kekasih untuk calon pendamping hidupnya.”

Yoongi terkekeh mendengar ucapan pemuda berambut merah marun itu. “Kau takut Junmi akan menjadi perawan tua, hah?!”

“Tidak. Bukan begitu maksudku. Aku… hanya tidak pernah melihatnya dekat dengan pria mana pun. Padahal, wajah Junmi Noona cukup manis. Apa… laki-laki di sekitarnya buta?”

“Bukannya buta, Jungkook-ah. Tapi, Junmi terlalu mencintai lelaki bernama Kim Seokjin sehingga ia tidak mau membuka hatinya untuk laki-laki mana pun,” kata Yoongi membenarkan. “Asal kau tahu saja, ada seseorang yang sangat menyukainya sejak dulu. Orang itu bahkan pernah menyatakan perasaannya pada Junmi.”

Jungkook membulatkan kedua matanya, terkejut. “Benarkah, Hyung? Siapa?”

“Kau sedang melihat orang itu saat ini.”

-TaehyungBelumCebok (^/\^)-

Anditia Nurul ©2014

-Do not repost/reblog without my permission-

-Do not claim this as yours-

Also posted on author’s personal blog (Noeville) & Read Fanfiction / Fanfiction Side

About fanfictionside

just me

8 thoughts on “FF/ 30DAYS CUPID/ BTS-BANGTAN/ pt. 6

  1. Jadi yoongi ditolak gitu kah sama noona nya kookie? Ohmygod.. berharap jin bisa jadi manusia lagi deh, terus bisa bersatu sama noona nya kookie..
    Kookie, ciuman? Astaga.. hahahahaha i like it🙂 next part ditunggu..

  2. Omegat kau apakan jungkookku thor??!! 0.o AKU TAK RELA AKU TAK RELA~(·_·~)(~·_·)~ /G
    Makin seru aja ceritanya, bingung lebih milih junmi sama siapa.. dan entah kenapa aku ngira ngira target keempat taehyung sama shina wkwkwk

  3. Heol, kepo banget sama akhir cerinya.. pengennya sih junggok berhasil jadi manusia lagi amiin. Thor kira2 berapa chap ?? Biasanya post berapa hari sekali ? Biar akunya bisa langsung baca hehee buat yoongi fighting ara ? Kalo ga dapet junmi lagi ke aku ya ?😉

  4. Cieeeeee yoongi curhat sama kookie wkwkwk
    Bagaiman kelanjutan nya thor, Kira Kira kookie tuh sebenernya udh tau apa blum klo ug ngasih napas buatanitu shina??

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s