FF/ WHY ME/ EXO/ PROLOG


Why Me

| Credit Poster: ARin Yessy @ Poster Channel |

This is Tokiarikajung presented to you

 

| Title: Why Me? [Prolog] |

| Author: TokiarikaJung (@TokiarikaJung) |

| Cast: Kim Rae In, Xi Luhan, Park Chanyeol, and other |

| Genre: Romance, School Life, Fantasy, A little action |

| Rating: Pg-15 (Pg bisa berubah-ubah setiap chapter) |

| Length: Chaptered |

| Disclaimer: Happy reading and be a good readers please. Siders and plagiarism not allowed to read my fanfict. Already posted on http://saykoreanfanfiction.wordpress.com/2014/08/28/why-me-prolog-by-arika/ |

© Arika 2014

Diantara yang lain, kenapa harus aku?

-Why Me?-

 

“Oh ayolah ! Ini sudah malam. Kau tidak akan tega membiarkanku ke sana sendirian bukan?” Seorang gadis berkata sambil menekankan ponselnya ke telinga.

Ada jeda beberapa saat sebelum akhirnya terdengar suara dari seberang. “Tapi kau meninggalkan bukuku di kelas, dan aku membutuhkan buku itu sekarang.”

Gadis itu menganga lebar mendengarkan jawaban dari lawan bicaranya. Ia membulatkan matanya tidak percaya.

“Ya ! Kau tega Park Chanyeol ! Ini sudah malam. Dan aku TIDAK SENGAJA meninggalkan bukumu di kelas.” Gadis itu berteriak sekeras yang ia bisa.

“Aku tidak peduli. Kau-harus-mengembalikan-bukuku-sekarang-juga.” Ucap pemuda yang bernama Chanyeol itu dengan penekanan di setiap katanya.

“Tapi─”

Tut… Tut… Tut…

Belum sempat gadis itu protes, Chanyeol sudah memutuskan sambungannya.

“Ya ! Ya ! Hallo ? Chanyeol ? Chanyeol ? Hallo?” gadis itu berkata dengan panik sambil terus menekankan ponselnya ke telinga─berharap Chanyeol masih belum memutuskan sambungannya. Tapi nampaknya sia-sia, Chanyeol benar-benar sudah memutuskan sambungan.

Gadis itu mengerang frustasi. Sungguh, ia merasa panik sekaligus kesal atas perilaku Chanyeol kepadanya.

Bayangkan saja ! Chanyeol menyuruhnya untuk kembali ke sekolah mengambil buku latihan milik Chanyeol yang tertinggal di kelas.

Ok, gadis itu –Kim Rae In– sadar bahwa dirinya salah. Ia lah yang meminjam buku latihan milik Chanyeol, dan ia dengan cerobohnya meninggalkan buku itu di kelas.

Sungguh, kalau saja Chanyeol tidak menelponnya ─menanyakan tentang buku latihan miliknya─ Rae In tidak akan ingat bahwa ia telah meminjam buku Chanyeol dan meninggalkannya di kelas.

Rae In melempar ponselnya ke kasur. “Park Chanyeol ! Berani-beraninya kau menutup teleponnya !” Rae In berkata dengan suara serendah dan sedingin mungkin. Rae In menatap ponselnya dengan tatapan membunuh–seakan-akan ponsel itu menyerupai wajah Chanyeol–.

Dapat di pastikan siapapun yang mendengar perkataan dan melihat raut wajah Rae In saat ini pasti mundur, menjauhinya dengan teratur. Sungguh, Rae In terlihat sangat menyeramkan sekarang. Belum lagi matanya yang menunjukkan kilatan-kilatan amarah.

“Ok baik ! Kalau itu maumu, aku… aku akan ke sekolah sekarang. Kau puas?” Rae In berteriak. Entah berteriak kepada siapa. Yang jelas sedari tadi ia hanya menatap ponselnya dengan marah.

Apa Rae In berteriak kepada ponselnya?

Rae In tidak peduli. Ia berteriak sekencang apapun, toh kedua orang tuanya tidak akan mendengarnya. Karena kamarnya kedap suara.

Tanpa berpikir dua kali Rae In langsung menyambar jaket yang berada di gantungan jaket, memasangnya di tubuh mungilnya dengan cekatan.

“Park Chanyeol. Kau benar-benar menyebalkan !” Lagi-lagi Rae In berteriak sambil menatap ke ponselnya ─yang tergeletak begitu saja di kasur─ dengan geram. Setelah itu, baru ia keluar dari kamarnya.

Dengan cepat Rae In berlari menuruni anak tangga satu per satu. Kamarnya yang berada di lantai dua, membuat ia harus menuruni tangga terlebih dahulu apabila ia ingin keluar rumah.

Selesai menuruni tangga, ia berlari menuju pintu rumah. Entah apa yang membuatnya terus berlari, mungkin karena ia sedang kesal atau mungkin karena─

“Kim Rae In ! Kau ingin pergi kemana malam-malam begini?”

Rae In terlonjak kaget begitu mendengar suara eomma-nya. Oh ayolah, ia sedang tidak ingin buang-buang waktu, dan berhadapan dengan eomma-nya hanya akan mengulur waktunya lebih lama lagi.

“Aku ada keperluan sebentar.” jawab Rae In seadanya. Ia kembali berlari –mengabaikan eomma-nya yang sedang menatapnya dengan bingung–.

Rae In membuka pintu rumahnya, ia langsung bergidik begitu merasakan udara dingin menerjang seluruh tubuhnya. Membuat tulang-tulangnya ngilu. Membuat badannya menggigil kedinginan.

Oh ! Persetan dengan badannya yang mulai menggigil, Rae In hanya merapatkan jaketnya lalu mendekap tubuhnya sendiri─berusaha menghangatkan tubuhnya─, meskipun Rae In tahu usahanya sia-sia belaka.

Rae In mengabaikan tubuhnya yang kedinginan. Ia kembali berlari menuju Hannyoung High School yang hanya berjarak sekitar empat blok dari rumahnya. Rae In bersyukur, letak rumahnya yang berdekatan dengan sekolahnya membuatnya tidak perlu menaiki kendaraan umum di malam-malam dingin seperti ini.

Itu akan sangat merepotkan.

Rae In terus berlari. Sampai saat di belokan jalan, ia terpeleset. Sepatunya secara tidak sengaja menginjak sisa-sisa salju yang licin.

Ini bulan Desember. Saatnya musim salju.

Rae In meringis kesakitan, ia merutuki kecerobohannya juga keteledorannya. Di musim salju seperti ini, seharusnya ia tidak perlu keluar malam-malam karena udaranya yang sangat menusuk. Dan saat musim salju seperti ini, seharusnya ia tidak perlu berlari-larian di antara salju yang menumpuk di sisi-sisi jalanan.

Ini membahayakan dirinya sendiri.

Rae In mengelus bagian tungkai kakinya yang terasa nyeri. Beruntung tak ada darah yang keluar dari kaki indahnya.

“Aku bersumpah ini adalah hari tersial selama hidupku.” Rae In bangkit lalu berjalan dengan terseok-seok.

Ok, kalau saja Rae In tidak meminjam buku latihan milik Chanyeol. Kalau saja Rae In tidak meninggalkan buku Chanyeol di kelas. Kalau saja Chanyeol tidak menelponnya, menanyakan tentang buku latihan Matematikanya yang tertinggal di kelas. Kalau saja tugas Matematika itu tidak di kumpulkan besok.

Ini semua tidak akan terjadi.

-Why Me?-

“Ahjussi tolong biarkan aku masuk. Buku ku tertinggal di kelas.” Bohong Rae In. Sebenarnya bukan buku miliknya yang tertinggal di kelas, melainkan buku milik Chanyeol.

“Ini sudah malam. Di dalam sangat berbahaya.” Kata ahjussi tersebut yang tak lain dan tak bukan adalah satpam di Hannyoung High School.

Rae In merasa janggal. Ada yang aneh dengan perkataan ahjussi tersebut.

Di dalam sangat berbahaya.

Perkataan ahjussi itu terus berputar di otak Rae In. Membuat berbagai macam pertanyaan muncul secara random di otaknya.

Memangnya di dalam ada apa? Hantu kah? Atau─

Rae In berusaha menghilangkan pikiran-pikiran negatif yang mulai bermunculan di otaknya. Ia sadar, ia sudah membuang-buang waktunya.

Rae In memutar otak. Berusaha mencari alasan yang tepat agar ahjussi tersebut mengizinkannya untuk masuk ke dalam sekolah.

“Buku latihanku tertinggal, besok Kim saem akan mengecek tugas yang ia berikan. Sedangkan aku belum mengerjakan tugasnya karena buku ku tertinggal di kelas.”

“Tapi─”

“Ok, aku akan menyalahkan ahjussi apabila besok Kim saem marah kepadaku karena aku tidak mengerjakan tugas darinya.” Potong Rae In.

Semua tahu betul bahwa Kim seonsaengnim terkenal akan kedisiplinannya, terutama yang berhubungan dengan tugas. Ia tidak akan segan-segan untuk mengomeli muridnya apabila diantara mereka ada yang tidak mengerjakan tugas darinya.

Oh mungkin itu yang membuat Chanyeol memaksaku untuk mengambil buku latihannya yang tertinggal. Pikir Rae In.

Ahjussi itu berpikir sesaat, nampaknya ia tengah menimang-nimang apakah Rae In di perbolehkan untuk masuk atau tidak. Sampai akhirnya ahjussi tersebut menganggukkan kepalanya.

“Kau boleh masuk.”

Rae In bersorak kegirangan. Ia mulai melompat bahagia ketika melihat ahjussi itu membukakan pintu gerbang sekolah untuknya.

Tak ingin membuang waktu lebih lama lagi, Rae In langsung masuk ke dalam. Namun ia segera menghentikan langkahnya begitu mendengar ahjussi itu berteriak.

“Hati-hati ! Di dalam berbahaya !”

Rae In lantas membalikkan badannya. Menatap ahjussi tersebut dengan bingung.

Di dalam berbahaya. Di dalam sangat berbahaya.

Rae In yang tidak mengerti apa-apa hanya menganggukkan kepalanya. Namun sepertinya ia memang harus ‘sedikit berhati-hati’, mengingat adanya nada khawatir sekaligus peringatan dari suara ahjussi tersebut.

Di dalam berbahaya.

Di dalam sangat berbahaya.

Hati-hati!

Rae In mengacak rambutnya frustasi. Ia bersumpah akan menyalahkan Chanyeol apabila’sesuatu yang buruk’ terjadi kepadanya.

“Ya ampun kenapa pikiranku jadi melantur seperti ini?” Rae In memukul kepalanya pelan. “Sudahlah tidak akan terjadi apa-apa.” Rae In meyakini dirinya sendiri. Setelah itu baru ia kembali melanjutkan langkahnya yang tertunda.

Rae In berjalan di koridor dengan langkah yang sengaja ia pelankan. Bukan tanpa alasan. Kakinya yang masih terasa nyeri sekaligus nyut-nyutan membuatnya terpaksa untuk berjalan dengan langkah pelan-pelan. Rae In menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Keadaan koridor yang gelap membuatnya was-was seketika. Di setiap langkahnya, ia selalu mengedarkan pandangannya ke segala arah.

Di sini tidak akan ada hantu bukan?

Rae In menelan salivanya takut. Meskipun ia bukanlah orang yang percaya pada hal mistis ataupun semacamnya, ia tetaplah seorang manusia.

Manusia yang takut apabila berada sendirian di sekolah, malam-malam, dingin, gelap pula. Lengkap sudah penderitaannya.

Ia tidak akan tahu apa yang akan terjadi di sini, dan ia tidak berani menebak apapun. Makanya sedari tadi ia membungkam mulutnya dan berusaha menghilangkan pikiran negatif yang bersarang di kepalanya.

Ini sudah malam. Di dalam sangat berbahaya.

Hati-hati ! Di dalam berbahaya !

Oh ya ampun, rasanya Rae In ingin menangis sekarang juga. Perkataan ahjussi itu terus berputar di otaknya. Dan jujur saja perkataan ahjussi tersebut membuatnya semakin ketakutan dan semakin membayangkan bahwa sesuatu yang buruk akan terjadi kepadanya.

Rae In terus menajamkan penglihatannya. Tak ada yang absen dari pandangannya sekarang. Kelas yang gelap. Koridor yang sepi. Lampu yang berkedip-kedip.

Astaga. Seperti film horor saja. Pikir Rae In.

Rae In tersenyum miris. Merutuki dirinya sendiri yang tidak bisa berpikir normal di saat-saat seperti ini.

Rae In menghentikan langkahnya sejenak begitu ia sampai di belokan koridor. Lalu ia melanjutkan langkahnya ke arah kanan, di mana tangga untuk naik ke lantai dua berada. Rae In terus berjalan, namun ia merasakan sesuatu yang aneh.

Udara sekitarnya menjadi hangat. Ralat, udaranya menjadi panas sekarang. Seingat Rae In, sekarang sedang memasuki musim salju. Lalu kenapa di koridor ini ia merasa kepanasan? Mungkin wajar saja kalau ia di dalam kelas, ia mungkin dapat menemukan pemanas ruangan. Tapi ini di koridor??

Mungkinkah di koridor ada pemanas ruangan?

Rae In menggelengkan kepalanya. Ia rasa ini semua tidak masuk akal.

Rae In lantas menundukkan kepalanya. Ia tidak berani melihat apapun yang berada di depannya. Entah kenapa, sekarang lantai koridor terlihat menarik di matanya.

Rae In mengerjapkan kedua matanya begitu melihat sebuah bayangan melintas di lantai yang sedang ia lihati. Bayangan itu bukan miliknya, tentu saja. Bayangan itu bahkan memiliki postur yang lebih besar di bandingkan postur tubuh miliknya. Bayangan itu juga di kelilingi oleh sesuatu yang berwarna merah. Sesuatu yang berwarna merah itu kelihatannya panas. Pikir Rae In dalam hatinya.

Tunggu! Panas? Panas?

Rae In mengangkat kepalanya. Ia menoleh ke sebelahnya, tempat di mana bayangan itu berasal. Rae In terkejut begitu melihat makhluk berwarna hitam berdiri di sebelahnya. Meskipun tidak benar-benar di sebelahnya, jarak antara Rae In dengan makhluk itu terlampau cukup jauh.

Dan Rae In tak dapat melihat dengan jelas seperti apa rupa makhluk itu.

Astaga. Hantu macam apa itu?

Rae In menelan salivanya takut. Ia ingin berteriak, namun tidak bisa. Kata-kata yang ingin ia keluarkan serasa tersangkut di tenggorokannya.

Tiba-tiba saja badan Rae In bergetar begitu melihat makhluk tidak jelas itu mendekatinya. Rae In mundur ke belakang ─terus─ sampai akhirnya ia berhenti karena badannya yang sudah menyentuh dinding. Ia tidak bisa mundur lagi, dan makhluk itu semakin mendekat ke arahnya.

Rae In menutup kedua matanya. Dalam hati ia menggumamkan rentetan doa yang isinya rata-rata sama.

Tolong jauhi makhluk absurd ini dariku. Tolong hilangkan aku sekarang juga. Tolong… Tolong… Tolong…

“Tolong jangan lakukan apapun padaku.”

Akhirnya ia bisa mengeluarkan kalimat itu dari tenggorokannya, meskipun dengan suara yang bergetar karena ketakutan.

Makhluk itu berhenti mendekati Rae In. Rae In menggunakan kesempatan itu untuk melihat bagaimana rupa makhluk itu.

Semoga dia bukan hantu.

Rae In berusaha menulusuri rupa makhluk itu. Jika di lihat-lihat makhluk itu seperti sosok manusia. (Postur tubuhnya seperti laki-laki, lumayan tinggi meskipun tidak setinggi Park Chanyeol (sahabat baiknya, sekaligus orang yang memiliki badan paling tinggi di kelasnya). Yang jelas makhluk ini lebih tinggi daripada dirinya. Setelah itu tak ada yang bisa Rae In lihat lagi selain aura merah yang mengelilingi tubuhnya.

Apakah wajahnya rata? Apakah wajahnya transparan? Apakah wajahnya hancur berantakan? Apakah wajahnya lecet sana sini? Apakah wajahnya tampan?

Rae In masih berusaha untuk melihat wajah makhluk itu.

Lalu, “Hah !” Rae In terlonjak kaget sekaligus menjerit tertahan begitu melihat makhluk itu hilang begitu saja. Lalu dapat Rae In rasakan udara yang tadinya panas menjadi dingin seperti semula.

Satu pertanyaan muncul di otaknya.

Bagaimana bisa makhluk itu datang dan menghilang begitu saja?

-Why Me?-

Masih dalam keadaan shock, Rae In menaiki tangga. Kelasnya memang berada di lantai dua.

Tadi setelah di tinggalkan makhluk itu begitu saja, Rae In hanya bisa mematung di tempatnya. Ia terlihat shock dan tak dapat menggerakkan anggota tubuhnya sama sekali. Tapi kemudian ia teringat Chanyeol dan buku latihannya yang tertinggal di kelas. Dengan sangat terpaksa ia harus segera menaiki tangga untuk mencapai lantai dua. Untuk mencapai kelasnya.

Hannyoung High School memliki gedung bertingkat tiga. Lantai satu untuk kelas X dan ruang guru. Lantai dua untuk kelas XI, ruang musik dan ruang tari. Lantai tiga untuk kelas XII, lab bahasa dan lab IPA. Sedangkan di atas lantai tiga terdapat rooftop yang biasa di gunakan oleh anak murid untuk melepas rasa penatnya ketika istirahat.

Krek…

Rae In telah berada di lantai dua dan sekarang ini ia sedang berada di depan kelasnya, kelas XI-I IPA.

Rae In membuka pintu kelas dengan perlahan. Dan ia dapat melihat keadaaan kelas yang remang-remang karena minimnya pencahayaan. Rae In segera masuk lalu berjalan ke sebelah pintu untuk mencari di mana panel lampu berada. Setelah menemukannya, ia menekan panel itu lalu kelas berubah menjadi terang.

Rae In menghela napas lega. Setidaknya di kelas ini tidak gelap. Dan kalau saja makhluk tidak jelas itu datang lagi, ia bisa melihat bagaimana wajah makhluk itu.

Jujur saja, Rae In masih penasaran dengan wajah makhluk itu sampai sekarang.

Ok. Rae In tidak ingin membuang-buang waktu lagi, karena jam dinding di kelasnya sudah menunjukkan pukul 8. Semakin larut, maka semakin banyak masalah yang bermunculan nantinya. Seperti;

Chanyeol akan mengomelinya dan berujung dengan dirinya yang harus mengerjakan tugas Matematika milik Chanyeol.

Ibunya akan menanyakan macam-macam yang membuatnya harus memutar otak untuk mencari alasan yang bagus.

Lebih parahnya lagi, Ibu nya akan melapor ke ayahnya. Lalu ayahnya akan memberlakukan jam malam.

Heolll….. Rae In tidak mau ! Ia tidak sudi !

Rae In menggelengkan kepalanya bersamaan dengan matanya yang mulai menyusuri seluruh isi kelas sampai akhirnya pandangannya terjatuh pada meja yang berada di tengah kelas.

Itu adalah mejanya.

Ia mulai melangkah ke arah mejanya. Matanya tampak berbinar begitu menemukan buku latihan Matematika milik Chanyeol tergeletak dengan rapi di atas mejanya.

Begitu sampai di mejanya, Rae In langsung mengambil buku bersampul cokelat itu dengan label nama Park Chanyeol di depannya. Rae In lantas mendekapkan buku itu ke dadanya. “Akhirnyaa….” Ucapnya lega. Dengan begini, masalahnya selesai.

Rae In memutuskan untuk pergi secepatnya dari kelas. Rae In membalikkan badannya, namun belum sempat ia melangkah, terdengar suara Brak ! yang sangat keras.

Hah !” Rae In tersentak. Refleks, Rae In menutup matanya beberapa detik sebelum akhirnya memaksakan kelopak matanya terbuka, untuk mengetahui dari mana suara Brak ! itu berasal, Rae In merasa panik dan ingin menangis saat itu juga.

Rae In men-scan keadaan kelas. Dan apa yang ia lihat benar-benar apa yang sedang tidak di inginkannya saat ini. Pintu kelas tertutup rapat. Panel lampu mati tiba-tiba, membuat kelasnya menjadi gelap seketika.

Oh sial. Apa-apaan ini. Kenapa keadaannya jadi gelap seperti ini? Aku tidak suka gelap !

Dan di saat Rae In tengah bergulat dengan rasa takutnya, sebuah pemikiran melintas di otaknya.

Seseorang masuk ke kelas dan menutup pintunya, lalu lampu di kelas mati tiba-tiba.

Bagus setelah ini aku-lah yang akan mati.

Rae In terus mundur ke belakang. Tidak dapat ia pungkiri lagi bahwa sekarang ia merasa ketakutan. Badannya mulai bergetar dan bulir-bulir keringat mengembun di keningnya.

Rae In menajamkan penglihatannya. Memang benar sekarang lampu di kelasnya mati, tapi itu tidak membuat kelasnya menjadi gelap total. Karena masih adanya cahaya rembulan yang menembus kaca-kaca jendela, membuatnya dapat melihat keadaan sekitarnya─meskipun samar-samar.

Rae In menemukan sebuah bayangan tengah berjalan mendekatinya.

Bagus, bayangan lagi. Lalu setelah ini udara akan menjadi panas, dan dia akan menghilang begitu aku memohon kepadanya.

Bukankah tadi kejadiannya seperti itu?

Dug….

Badan Rae In sudah bersentuhan dengan dinding kelas. Ini gawat, ia tidak dapat mundur lagi dan bayangan itu semakin mendekat ke arahnya.

Lutut Rae In menjadi lemas seketika.

Oh, ia merutuki dirinya sendiri yang tidak bisa lari dari situasi seperti ini.

“Tolong jangan lakukan apapun padaku.” Rae In berkata itu sekali lagi. Berharap bayangan itu menghilang seperti tadi.

1 detik.

3 detik.

5 detik.

Lalu tidak ada apapun yang terjadi setelah itu. Rae In mengeratkan dekapannya pada buku milik Chanyeol. Ia menundukkan kepalanya, takut apabila makhluk atau bayangan atau apalah itu berani menyentuhnya. Atau lebih parah lagi, membunuhnya.

Rae In merasa ingin menangis begitu mendengar gelak tawa dari si pemilik bayangan. Ia menelan salivanya takut. Tawa itu memang tidak seperti tawa-tawa kuntil anak dari film horor yang sering ia tonton ketika Chanyeol datang berkunjung ke rumahnya.

Tawa itu menyenangkan.

Seperti tawa manusia biasa. Tawa seorang gadis.

Karena penasaran, akhirnya dengan berani Rae In mengangkat kepalanya dan berusaha melihat ‘siapa’ makhluk yang sedang berjalan ke arahnya.

Rae In dapat melihat postur tubuh ‘makhluk’ itu. Makhluk ini beda dengan makhluk yang tadi ku temui di bawah. Kira-kira begitulah yang dapat Rae In simpulkan begitu melihat postur tubuh ‘makhluk’ di hadapannya.

Sepertinya orang ini adalah wanita, pikir Rae In dalam hatinya melihat rambut ‘makhluk itu’ yang panjang bergerak kesana kemari seiring dengan langkahnya yang terkesan anggun.

“Apa yang kau lakukan disini?”

Rae In terkesiap. Barusan ‘makhluk’ di hadapannya bertanya kepadanya. Sekarang Rae In semakin yakin bahwa ‘makhluk’ di hadapannya adalah seorang wanita. Mendengar suaranya yang tidak berat, malah terkesan lembut.

Rae In baru saja ingin menjawab. Tapi ‘makhluk itu’, maksudnya ‘gadis itu’ menginterupsi perkataannya. Bukan dengan perkataan, melainkan dengan perbuatan.

Rae In pun berteriak sekencang yang ia bisa. Ia melihat dengan kepalanya sendiri bahwa ‘gadis itu’ mengeluarkan pisau dari dalam kantung celananya. Lalu melemparkan pisau itu tepat ke dinding di sebelah kepala Rae In.

Sedikit saja ia memiringkan letak pisaunya, maka wajah Rae In tidak akan berbentuk lagi.

Rae In menahan napasnya lalu dengan cepat ia menoleh ke sebelahnya dan dapat menemukan pisau itu menancap di dinding.

Pisau. menancap. di dinding.

Bagaimana bisa? Pikir Rae In. Menurutnya ini semua tidak masuk akal.

Suara dehaman berhasil mengalihkan perhatian Rae In kembali ke ‘gadis itu’. Rae In nyaris memekik tertahan begitu melihat ‘gadis itu’ sudah berada tepat di hadapannya.

Rae In tidak dapat berkomentar apa-apa, gadis di hadapannya memang memiliki wajah yang nyaris sempurna, seperti malaikat ─di mata Rae In─. Wajah bulat, mata tajam, alis tebal, bulu mata lentik, sayangnya ketika Rae In melihat bibir gadis itu, gadis itu tidak menyunggingkan senyum manis sama sekali.

Gadis itu malah menunjukkan smirk-nya di hadapan Rae In. Dan anehnya, smirk itu terlihat sangat cocok di wajahnya yang cantik.

She has a Beautiful Smirk.

Tapi lama kelamaan Rae In semakin takut melihatnya. Melihat smirk cantik itu. Seakan-akan membuatnya lupa bagaimana caranya bernapas.

Oh tidak, smirk-nya terlihat berbahaya.

Rae In menelan salivanya gugup. Ia merasa akan terjadi sesuatu yang buruk sebentar lagi.

Dan ia bersumpah akan menyalahkan Chanyeol apabila hal itu terjadi.

“Kau tidak bisa melarikan diri lagi nona,” Gadis itu, gadis yang berada tepat di hadapan Rae In menggantungkan kalimatnya.

“Karena aku tidak akan membiarkanmu lolos begitu saja.”

A-apa?

-To Be Continued-

Ini prolog atau chapter 1 ? Panjang amat perasaan -_-

Hehehe hallo hallo kalian ^o^ aku memproduksi (?) ff gagal lagi dong :v *gabosen bosen ya udah tau gagal masih aja di produksi -,-)*

Kalau ada yang mau baca ya aku bersyukur banget…. Kalau enggak ada juga gapapa OuO

Maaf kalau emang masih membingungkan di sini. Alurnya gak jelas, bahasanya awut-awutan, typo everywhere, cerita mainstream, authornya gila seperti Jongin *eh -_-v Mohon maklumi ya, karena aku hanyalah manusia biasa. Bukan bidadari yang jatuh dari surga ‘-‘) /eh apa maksudnya/

Tapi kalau kalian mau bertanya sama adegan2 (?) yang membingungkan dari cerita ini silahkan tanya sama aku, lewat kolom komentar boleh dong ya ^w^ /modus/

RCL jangan lupa ya dear ({}) *iya kali ada yang mau baca ff ini -_-v*

Komen dong ya, karena dari kalian membangkitkan semangatku untuk ngelanjutin ff ini❤

Regards,

 

Arika

About fanfictionside

just me

4 thoughts on “FF/ WHY ME/ EXO/ PROLOG

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s