FF/ HERO AND HEROINE/ BTS-BANGTAN/ pt. 3B


Author: Anditia Nurul||Rating: PG-13||Length: Chaptered||Genre: School-life, Friendship, Romance, a bit comedy||Main Characters: (BTS) Suga/Yoongi, & (OC) Geum Hajin||Additional Characters: (BTS) Jin/Seokjin, (BTS) J-Hope/Hoseok & (OC) Hajin’s Mother||Disclaimer: I own nothing but storyline and the OCs. Inspirated by a fiction story titled ‘Crazy’ By Emolicious. Original ver casted by (B1A4) Jinyoung & OC||A/N: Edited! Sorry if you still got typo(s). [!!!] Used some ‘frontal(?)’ words. Please don’t bash!

HERO-HEROINE-BTS

@@@@@

Saat ini aku sudah berada di rumah. Baru saja tiba tepatnya. Huff, sungguh melelahkan berjalan kaki dari Seoul Hospital ke rumahku. Uh, saat ini yang aku butuhkan adalah berendam di air hangat untuk menyegarkan tubuh dan pikiranku.

Kuletakkan tasku di atas meja belajar, lalu menanggalkan seragam sekolah dan menggantinya dengan jubah mandi. Ya, aku benar-benar butuh berendam kali ini. Kulangkahkan kakiku menuju kamar mandi, namun tepat di saat itu, kudengar ponselku berdering.

Baby baby geudaeneun caramel macchiato
Yeojeonhi nae ipgaen geudae hyanggi dalkomhae
Baby baby tonight~

Aku menunda keinginanku untuk masuk ke dalam kamar mandi. Bergegas melangkah menuju meja belajar, merogoh tasku, mengeluarkan ponsel, lalu membaca ID caller yang tertera di layar: SUAMIKU. Aku tersenyum lebar saat membaca ID caller itu. Ada apa ya Seokjin Sunbae meneleponku? Apa dia rindu? Apa dia ingin menanyakan keadaanku setelah tadi aku—ya, kau tahu kan maksudku? Aku hanya malas mengingatnya. Atau… dia mau membicarakan si Mashimaro KW1 itu lagi?

Ah, sepertinya yang terakhir itu paling besar kemungkinannya.

Sejujurnya, aku juga berat melakukan ini, tapi…

Reject saja ah~

Sepersekian detik setelah ku-reject panggilannya, aku langsung me-non aktifkan ponselku.

Mulai hari ini, besok dan seterusnya, aku tidak mau mendengar nama si pendek itu lagi. Aku tidak mau tahu tentang dia lagi. Aku tidak mau punya hubungan apa-apa dengan dia lagi. TITIK! BUKAN KOMA!

Aku pun kembali ke rencanaku yang sempat tertunda akibat telepon dari Seokjin Sunbae. Masuk ke kamar mandi, membiarkan bath tub terisi dengan air hangat yang cukup untuk merendam seluruh tubuhku. Setelah siap, aku pun berendam di dalam air hangat.

Huwaa… menyegarkan~

Rasanya seperti hidup kembali.

Tapi…, di tengah-tengah keasikanku berendam, kudengar seseorang mengetuk pintu kamar mandi.

“HAJIN-AH! KAU DI DALAM?”

Ah, eomma.

“Iya, eomma. Kenapa?” balasku.

“Di luar ada banyak laki-laki yang mencarimu!”

BANYAK LAKI-LAKI MENCARIKU?

ASTAGA!

“Apa mereka semua pacarmu? Kenapa kau punya pacar sebanyak itu, Hajin-ah?”

Uhuk! Aku terbatuk mendengar kata-kata eomma.

Ya, ampun, masa eomma berpikir seperti itu pada anak perempuannya yang cantik ini?

Memangnya aku perempuan apa?

“Bukan. Mereka bukan pacarku! Suruh saja mereka pergi eomma. Aku tidak kenal mereka!” Kudengar langkah kaki eomma menjauh dari depan pintu kamar mandiku.

Tiba-tiba jantungku berdebar-debar kencang. Apa jangan-jangan yang dimaksud eomma adalah teman-teman Suga? Tapi, untuk apa dia menyuruh anak buahnya datang menemuiku di rumah, hah? Apa si pendek itu belum puas memarahiku tadi?

“Hajin-ah, salah satu dari mereka mau bicara denganmu! Katanya keadaan penting!” Aku kembali mendengar suara eomma.

“Aish! Bilang saja pada mereka aku sedang sibuk, Eomma. Tidak mau diganggu!” teriakku.

Keadaan penting apanya? Keadaan penting karena mereka mendapat perintah dari Suga untuk menghabisi nyawaku, hah? Apa jangan-jangan Suga juga menyuruh mereka menghabisi nyawa keluargaku sampai mereka datang menemuiku di rumah? Aish! Si toko-emas-berjalan itu benar-benar keterlaluan!

“Hajin-ah, kata mereka… Suga hilang dari rumah sakit.”

Aku hampir tersedak air begitu mendengar ucapan eomma yang mengatakan bahwa Suga hilang dari rumah sakit. Hell ya! Dasar pembohong! Bagaimana laki-laki itu bisa hilang, sementara dia terus bersama mereka. Mau mencoba menipuku? Dasar! Kemampuan otak mereka cetek semua, ya? Mau menipuku dengan cara seperti itu. Cih!

Eommaya, katakan pada mereka aku tidak peduli lagi dengan laki-laki itu!” balasku. Ya, untuk apa memberitahuku tentang keadaan si Mashimaro itu, hah?

“Hajin-ah, sebaiknya kau keluar dan temui mereka. Sepertinya orang yang bernama Suga itu benar-benar hilang.”

Kalimat dari eomma itu membuat kenyamanan berendam dalam air hangat berakhir. Kalau bukan karena permintaan eomma, aku tidak akan menemui mereka. Lagi pula, aku juga tidak mau jadi anak durhaka karena menyuruh-nyuruh eomma-ku seperti itu.

Aku pun keluar dari kamar mandi, memakai baju, lalu menemui mereka.

Kedua mataku membulat sempurna begitu melihat ada… 6 ah, bukan, 8, ah, bukan… ng… 10!? Ya. Kedua mataku membulat sempurna begitu melihat ada 10 orang laki-laki berdiri di depan pagar rumah. 2 orang di antara mereka adalah… Seokjin Sunbae dan Hoseok.

“Ada apa?” tanyaku.

“Suga hilang,” jawab Hoseok, “Dia bilang mau jalan-jalan di sekitar rumah sakit. Sudah 2 jam, tapi dia belum kembali ke kamarnya,” lanjutnya.

“Kenapa kalian tidak menemaninya?” tanyaku dingin.

“Kau seperti tidak tahu Suga saja.”

Ah, ya. Pasti si Mashimaro itu melarang teman-temannya mengikuti dia. Huh!

“Lalu? Hubungannya denganku apa? Kalian pikir aku yang menculiknya dari rumah sakit?” tanyaku sinis.

“Bukan begitu maksud kami, Hajin-ssi. Kami datang untuk memberitahumu kalau Suga hilang dari rumah sakit. Kau tahu kan bagaimana keadaannya? Dia belum sembuh total,” jelas Seokjin Sunbae.

Aku mendengus, membiarkan bibirku menyungging senyum sinis. “Belum sembuh total bagaimana? Sunbae tidak lihat dia berteriak padaku tadi? Dia berteriak seperti biasa. Artinya, dia sudah sembuh total!”

“Hajin-ssi, ka—”

“AKU TIDAK MAU BERURUSAN DENGAN DIA LAGI! AKU TIDAK MAU BERURUSAN DENGAN KALIAN LAGI! KALAU DIA HILANG, KALIAN CARI SAJA SENDIRI! JANGAN AJAK-AJAK AKU! AKU BUKAN SIAPA-SIAPANYA LAGI, MENGERTI?” teriakku tegas.

“Tapi—” Seokjin Sunbae berusaha membujukku.

“PERGI SEKARANG JUGA!” bentakku. Uh, kenapa gaya bicaraku seperti laki-laki psikopat itu. Dia benar-benar membawa pengaruh buruk padaku.

Aku berjalan masuk kembali ke dalam rumah, menutup pintu rapat-rapat. Terserah mereka masih mau berdiri seperti segerombolan orang bodoh di luar atau mau pergi mencari si anak hilang itu.

TERSERAH!

@@@@@

Entah sudah berapa lama aku berganti posisi baring-duduk saat menonton drama di televisi di ruang keluarga. Aku merasa gelisah akan sesuatu, tapi… aku berusaha mati-matian untuk menyangkalnya. Masa aku gelisah hanya karena toko-emas-berjalan itu hilang?

Aish, Hajin-ah, keep calm.

Jangan pikirkan laki-laki itu lagi.

JANGAN!

JANGAN!

JANGAN!

JA—Kenapa semakin aku menyuruh pikiranku untuk tidak memikirkannya, tapi aku malah semakin memikirkan dia?

Aish, aku pasti sudah gila!

“Hei! Kau kenapa? Kau sakit?” tegur eomma saat melihat aku mengacak-acak rambutku sendiri.

Aku menatap beliau sambil menggeleng pelan. “Tidak apa-apa,” sahutku.

Apa perasaan gelisah ini karena aku mencemaskan Suga, hah? Ish! Untuk apa mencemaskan laki-laki sinting itu? Tapi—Ugh! Baiklah, untuk terakhir kali ini saja! Untuk terakhir kali, aku akan peduli tentang laki-laki itu.

Aku beranjak ke kamar, meng-aktifkan kembali ponselku yang sejak tadi sengaja aku non-aktif-kan. Tidak lama setelah aku mengaktifkannya, sebuah pesan masuk.

From: Kembaran Mashimaro

Mataku melotot ketika kulihat ID yang tertera di HP-ku. Sepersekian detik setelahnya, aku memencet tombol read.

“Maaf.”

Hanya satu kata itu yang tertera pada sebuah pesan yang ia kirim, tapi… entah kenapa… aku terenyuh. Dia, si manusia yang sok punya harga diri tinggi itu minta maaf padaku? Ini bukan mimpi, kan? Padahal, padahal, seharusnya aku yang minta maaf padanya. Aku sudah menamparnya sampai dia masuk rumah sakit. Aku malah memarahinya tadi, padahal… jelas-jelas aku tahu dia sakit.

TES….

Tanpa aku sadari, air mataku menetes dan membasahi layar ponselku. Cepat aku mengelapnya, lalu melihat jam yang tertera. Jam setengah 6 sore. Belum terlalu malam. Aku mencoba untuk menghubungi nomor ponsel Suga, tapi nomor itu tidak aktif. Ish!

Suga-ya, kenapa kau tidak mengaktifkan ponselmu, hah?

Aish!

Aku lantas mencari ID contact ‘SUAMIKU’ di list-contact. Di saat seperti ini, aku harus menghubungi Seokjin Sunbae dulu, siapa tahu dia sudah menemukan Suga.

“Halo?” Terdengar suara Seokjin Sunbae yang seksi itu.

HUSH! HAJIN-AH! Apa yang kau pikirkan?

“Ha-halo, Sunbae. Apa… apa Suga sudah ketemu?” tanyaku takut-takut. Bagaimana pun, tadi aku mengatakan kalau aku sudah tidak peduli lagi tentang Suga. Bahkan, sampai marah-marah pada Seokjin Sunbae.

“Kenapa? Bukankah kau tidak mau mempedulikan dia lagi?” balasnya dingin.

Tuh, kan!? Sudah kuduga Seokjin Sunbae marah padaku.

Sunbaenim, maaf. Aku tahu, aku salah. Sungguh, aku menyesal atas kelakuanku tadi. Maaf,” sesalku. “Aku mendapat pesan dari Suga, dia mengatakan ‘maaf’ padaku. Apa kau sudah menemukannya?” tanyaku kemudian.

Kudengar Seokjin Sunbae menghela napas berat. “Belum. Kami belum menemukannya. Kami sudah mencarinya ke semua tempat yang kemungkinan ia datangi, tapi… kami tidak menemukannya di sana.”

“Dimana saja sunbae dan yang lain sudah mencari si Mashima—maksudku Suga?” tanyaku, nyaris keceplosan menyebut Suga dengan nama Mashimaro.

“Di apartemennya, di café yang biasa kami kunjungi, di arena balap mobil, di lapangan basket dekat Sungai Han.”

Aku terdiam. Kugigiti bibir bawahku untuk mengalihkan kecemasanku sambil memikirkan, kira-kira dimana lagi Suga berada. Tapi—aish! Aku sama sekali tidak punya petunjuk. Aku bahkan baru beberapa hari ini bersama Suga dan Bangtan Boys. Mana aku tahu dimana mereka biasanya berkumpul. Aish! Menyebalkan!

Di saat aku hampir putus asa memikirkan dimana keberadaan Suga, tiba-tiba aku teringat percakapanku dengan Seokjin Sunbae saat istirahat tadi.

Sunbae…, Sunbae bilang kalau eomma-nya sudah meninggal, kan?” tanyaku.

“I-iya.”

Sunbae tahu dimana eomma-nya dimakamkan?”

“Ya. Kenapa?”

“Antar aku ke sana. Aku mohon. Perasaanku mengatakan kalau Suga ada di makam eomma-nya.”

Uh? Sejak kapan aku berkata ‘perasaanku’? Seperti aku punya hubungan batin saja dengan laki-laki gila itu. Ah, sudahlah. Bukan saatnya memikirkan hal yang tidak penting!

“Tapi, kenapa kau—”

Sunbae, aku mohon. Aku mohon bantu aku sekali lagi. Aku benar-benar ingin minta maaf padanya.”

“….”

Astaga, apa Seokjin Sunbae tidak mau membantuku lagi?

Sunbaenim?”

“Baiklah, 10 menit lagi, aku akan menjemputmu!”

Aku menghela napas lega. “Ya, Sunbae. Terima kasih.”

@@@@@

Aku berdiri di depan rumah menunggu Seokjin Sunbae datang menjemputku. Berkali-kali merapikan penampilanku, jangan sampai terlihat seperti gembel di hadapan senior ganteng tingkat dewa se-Shinhwa High School. Hohoho.

Aish! Apa-apaan aku ini!?

“BRRRRMMM….”

Dari kejauhan, aku sudah mendengar suara motor yang cukup keras. Suara yang bisa membuat siapa pun menjadi tuli mendadak. Kupicingkan mataku untuk melihat motor yang mendekat ke arahku. Motor merah muda. Ah, itu Seokjin Sunbae.

“CKIIIITTT!!!”

Motor merah muda berhenti tepat di hadapanku. Ia menaikkan kaca film helm-nya dan terlihatlah wajah tampan milik Seokjin Sunbae yang bisa membuat seluruh perawan di dunia bertekuk lutut padanya. Oh my God… orang ini benar-benar tampan. Ya, ampun, dia keren sekali dengan motornya…. Gyaaa~

AAA! GEUM HAJIN! KENAPA PERHATIANMU TERALIHKAN? FOKUS! FOKUS!

“Cepat naik!” perintah Seokjin Sunbae sambil memberi kode dengan gerakan kepalanya.

Aku pun bergerak mendekati motor pink itu. Menggunakan bahu lebar Seokjin Sunbae sebagai pegangan saat aku naik ke atas motornya dan… hap! Aku yang duduk tepat di belakangnya langsung disambut wangi maskulin dari parfumnya. Wanginya seksi sekali, Tuhan~~~

AISH! HAJIN! FOKUS! FOKUS!

Seokjin Sunbae mulai melajukan motornya. Mengendarai motornya dengan kecepatan tinggi. Selama perjalanan, aku memejamkan mataku. Sungguh, aku tidak mau melihat diriku berada di antara 2 truk besar lagi.

Sunbaenim, apa tadi Himchan datang menjenguk Suga di rumah sakit?” tanyaku agak berteriak. Sengaja mengajak Seokjin Sunbae berbicara untuk mengalihkan rasa takutku.

“Ah. Tidak. Mana mungkin hal itu terjadi. Kenapa?”

Jadi, tadi bukan mobil Himchan? Lalu, mobil siapa? Mirip sekali dengan mobil Himchan.

Aku menggeleng. “Tidak apa-apa, Sunbae.”

Seokjin Sunbae masih melajukan motornya kencang. Menyalip sana-sini seperti pembalap motor professional. Kupikir, tidak hanya Suga yang bertingkah seolah jalan raya adalah buatan nenek moyangnya. Tapi, semua member Bangtan Boys dan pengikutnya juga bertingkah seperti itu. Aish! Mau jadi apa Korea Selatan kalau anak mudanya berkendara ugal-ugalan seperti ini? Terlalu!

Di tengah-tengah Seokjin Sunbae yang asik menyalip kendaran-kendaraan di depannya, perlahan-lahan kurasakan kecepatan motor ini menurun. Jalannya pun terasa sedikit tidak stabil. Apa… terjadi sesuatu pada motor keren ini?

“Aish! Motor ini kenapa?” gerutu Seokjin Sunbae, menyadari ada yang salah dengan motornya.

“Kenapa, Sunbae?” tanyaku panik. Sepertinya memang ada sesuatu yang salah dengan motor pink Seokjin Sunbae.

Semakin kami melaju, kecepatannya semakin melambat. Jalannya pun terasa semakin tidak stabil. Apa jangan-jangan…

“Sepertinya ban motorku kempes.”

APA?

KENAPA TERJADI DI SAAT YANG TIDAK TEPAT???

AKH! MENYEBALKAN!!!

Seokjin Sunbae pun menepikan motornya. Kami berdua pun turun dan Seokjin Sunbae langsung mengecek keadaan ban motornya.

“Aish! Sial! Paku!” gerutunya ketika mendapati paku di ban depan motornya.

“Bagaimana ini? Sudah mau gelap, Sunbae,” kataku cemas.

Seokjin Sunbae melihat ke arahku. “Kita naik taksi.”

“Tapi, bagaimana dengan motormu?”

“Tinggalkan saja di sini.”

“Kalau dicuri orang bagaimana?” tanyaku khawatir. Ayolah, motor seperti ini tidak mungkin dibeli denga harga 10.000 won. “Ah, biar aku saja yang mencari Suga. Sunbae bawa saja motor Sunbae ke bengkel.”

Seokjin Sunbae menatapku ragu. “Kau yakin?”

Aku mengangguk mantap. “Ya.”

Pemuda tampan tingkat dewa itu pun menghela napas. “Baiklah~”

Aku dan Seokjin Sunbae akhirnya menunggu taksi lewat. Begitu melihat sebuah taksi tanpa penumpang, Seokjin Sunbae menghentikannya. Ia menyuruhku naik, lalu mengatakan tempat tujuanku kepada supirnya. Bahkan, ia langsung memberikan selembar uang 50.000 won kepada supir tersebut.

Bagaimana kalau ongkos taksinya lebih dari 50.000?

Aku kan tidak bawa uang….

“Kalau kau sudah menemukan Suga, cepat hubungi aku, oke?” pesan Seokjin Sunbae sebelum taksi melaju.

“Ya.”

Taksi pun melaju. Tapi, jalannya lambat sekali seperti nenek kura-kura. Di saat seperti ini, aku butuh supir yang punya kemampuan menyetir seperti Suga. Belum lagi kemacetan yang dan lampu merah yang membuat taksi ini terpaksa berhenti.

Aish! Rasanya aku ingin jalan kaki saja.

Ajussi, bisa lebih cepat tidak?” pintaku pada supir taksi.

“Iya, iya,” sahut si supir taksi, menaikkan kecepatan mobilnya… sedikit.

Uh! Bikin geregetan saja!

“Lebih cepat, Ajussi! Apa Ajussi tidak lihat kalau sebentar lagi gelap? Mana mau hujan pulan. Cepat Ajussi!” omelku.

“Iya, ini juga sudah cepat,” balas Ajussi tak kalah geregetannya. Aku masih beruntung dia tidak menurunkanku di tengah jalan.

Akhirnya, setelah 10 menit perjalanan menaiki taksi yang jalannya seperti kura-kura tua, aku tiba di depan gerbang sebuah kompleks pemakaman. Begitu keluar, aku langsung berlari ke arah gerbang.

“Semoga aku tidak bertemu hantu. Semoga aku tidak bertemu hantu,” ucapku sebelum masuk ke dalam kompleks pemakan.

Aku pun masuk dengan takut-takut. Berjalan perlahan di antara deretan makam yang entah kenapa terlihat menyeramkan. Uh, bagaimana kalau tiba-tiba ada hantu? Bagaimana kalau tiba-tiba ada kuburan yang terbelah dan ada zombie yang keluar dari dalamnya. Astaga!

Aish! Kenapa aku malah menakut-nakuti diriku sendiri?

“Suga-ya? Kau di sini?” tanyaku mulai berteriak.

Huu… di sini mengerikan.

“SUGA-YA?”

Aku pasti sudah sinting karena berteriak-teriak di tengah-tengah kuburan seperti ini. Langitnya sudah gelap pula. Aaah, ini semua gara-gara Min Suga itu! Ugh! Awas kau Min Suga! Kalau kutemukan kau di sini, aku akan menguburmu hidup-hidup!

“MIN SUGA?” teriakku.

“SUGA-YA???” teriakku lagi.

Aku terus berteriak sambil terus berjalan mencari Suga. Lalu, kurasakan setitik demi setitik air membasahi tubuhku. Ya Tuhan! Hujan!

Ugh, Mashimaro, kau dimana?

“SUGAAAA-YAAA? KAU DI SINI? MIN SUGA???”

Aku terus berjalan sampai akhirnya, kulihat sesosok orang yang duduk sambil memeluk sebuah batu nisan tidak jauh dari tempatku berpijak. Sosok orang yang memakai seragam pasien rumah sakit Seoul Hospital!

“SUGA-YA!?” seruku.

Aku berlari menghampiri laki-laki itu. Semakin dekat, aku semakin yakin kalau dia Min Suga. Dugaanku benar! Aku yakin kalau Suga pasti di sini. Aku yakin dia pasti ingin ‘bertemu’ eomma-nya.

“Suga-ya?” panggilku saat aku sudah berdiri di dekatnya. Ia menoleh pelan ke arahku, melihatku dengan tatapan sayu. Kulihat terdapat beberapa luka lebam di wajahnya dan bibirnya pun mulai memucat. Celana dan bajunya pun terlihat kotor. Dia pasti sudah lama di sini.

“Ha-Hajin-ah?” gumamnya dengan suara yang nyaris tidak terdengar. Lemah sekali. Ini pertama kalinya aku melihat Min Suga seperti ini. Dan, entah mendapat dorongan dari mana, aku langsung duduk di dekatnya, menariknya masuk dalam pelukanku.

“Ke-kenapa kau pergi? Kenapa? Katamu kau mau minta maaf padaku. Tapi, kenapa kau pergi? Aku hanya—” Suaranya terdengar lemah sekali di telingaku.

“Maaf…, maaf…. Aku mohon maafkan aku, Min Suga.” Aku memotong kalimatnya sampai ia terdiam. “Maaf. Aku benar-benar minta maaf,” sesalku. Aku tidak tahu sudah berapa kata maaf yang keluar dari mulutku.

“Aku pikir kau benar-benar membenciku. Aku pikir kau benar-benar membenciku,” bisiknya.

Wajahku terasa basah. Entah, ini air hujan atau air mataku. Aku tidak tahu. “Tidak. Aku tidak membencimu. Maafkan kata-kataku. Maafkan aku.”

“Rasanya aku ingin mati saja saat kau bilang itu padaku, Hajin. Rasanya aku ingin menyusul eomma-ku karena hanya eomma yang menyayangiku. Tidak ada orang yang menyayangiku selain eomma-ku, Hajin. Tidak ada,” lirih Suga. Pertama kalinya aku melihat dia begitu rapuh.

“Aku menyanyangimu, Suga. Aku menyayangimu. Seokjin Sunbae, Hoseok, kami semua menyayangimu. Jangan pernah berpikir kalau tidak ada orang yang menyayangimu,” bisikku dengan suara serak. Aku mempererat pelukanku pada tubuh ringkih Suga yang menggigil sejak tadi.

“Benarkah?” Aku hanya mengangguk. Aku tidak peduli lagi dengan kata-kata yang aku keluarkan barusan. “Kalau begitu, kau masih mau jadi pacarku, kan?”

“Iya, iya. Aku mau. Aku mau.”

“Terima kasih. Sekarang… sekarang aku bisa istirahat dengan tenang,” lirihnya.

Suasana mendadak hening. Suga… tidak berkata apa-apa lagi.

“Suga-ya?” panggilku cemas.

Tidak ada sahutan.

“Hei! Min Suga?”

Aku mengguncang tubuhnya pelan.

“Suga-ya?”

Aku melepas pelukanku untuk melihatnya. Betapa kagetnya aku ketika kudapati matanya terpejam. Ya Tuhan!

“SUGA-YA, BANGUN!” teriakku sambil mengguncang tubuhnya sedikit lebih kencang. Tubuh kami berdua sudah basah kuyup karena derasnya hujan yang turun.

“MIN SUGA, BANGUN!”

Tetap tidak ada respon.

Jangan-jangan Min Suga…

Tidak!

Dia tidak boleh mati sekarang!

Tidak boleh!

“MIN SUGAAAAA!!!”

-TaehyungBelumCebok (^/\^)-

Anditia Nurul ©2014

-Do not claim this as yours-

-Do not re-blog / re-post without permission-

About fanfictionside

just me

28 thoughts on “FF/ HERO AND HEROINE/ BTS-BANGTAN/ pt. 3B

  1. Ocidakk!!! Masa yonggi gue mati hahaha ga mungkin lah ya ampun thor sehatkan yoongi jaga diaㅠㅠ duh kan gue mulai gila:( masa nunggu lama2 cuma dpt yoongi nya mati kan gk asik:( eh btw sebenernya inipertma kali ngomen ff ini maaf ya thor bru smpet nih:( aduh mau ngomen apalgi , gue gak bakat ngomen tbh hahaha oh iyague harap chap slnjutnya cept ya thor . udh gue mau ngomen ini aja. Maaf komenan gue gak penting*kechupbatsah*

    • Haha… mati gak ya!?😄 *plak
      Iya iya. Yoongi akan saya jaga sepenuh hati, jiwa dan raga *halah
      Gak papa. Duh, komen kayaknya gak butuh bakat deh😄
      Kelanjutan FF ini langsung aku kirim ke admin kok kalo FF ini udah diposting. Kalo masalah cepat/tidak-nya di-publish itu dari admin-nya ya!? Nunggu antrian dengan FF teman2 author yang lain. ^^

      Oke.
      Gomawo udah RC, ya~ ^^

  2. Seperti kata saya di sms,saya akan berkomentar disini. Saya gak yakin Suga mati soalnya cerita masih panjang. Kemudian, saya inginnya Jin saja yang mati *lho? *abaikan

    Dan, apa? Suamiku? Seksi? Pink? OMG~ aku mau muntah sekarang. Sejak kapan aku suka Jin ya? Wah, kacau. Tapi, its okay lah.

    Oke, sekian saja komentarnya. Sepertinya udah cukup (padahal lupa mau komen apa, hehe). Di tunggu kelanjutannya ya!^^

    • Iya. Iya.
      Haha… mentang-mentang kamu sudah tahu FF ini sepanjang apa, makanya yakin gitu. Udah 100(?) kali eonni bilang, Jin gak bakal mati di sini😄

      Hidiiih~ kamu ini, saeng. Ngaku aja deh kamu suka Jin XP

      Oke.Oke.
      Gomawo udah RC, saeng ^^

  3. Gue penasaran kejer thor
    grEget gue bacanya kenap mesti kudu harus muncul si TaeBaeCe? Lagi asik thor bacanya eh nemu gtu bikin gue TBCinstan kan
    *abaikanmasbram

  4. yoongi jgn bilang gtu…aku jg sayang kamu kok wk~ /plakk/
    pacar gue dibikin knpa lg nih thor? -___- setelah kabur, muka lebam, baju compang-camping(?) dan skrng….bilang dia cuma pingsan atau tidur..huaaa yoongi oppa ㅠㅠㅠ
    next nya ditunggu ya ^^

  5. Iih motor Jin knpa???? Mogok atau ke habisan bensin……. Wkwkw motor keren kok bisa macet #ditabok…..

    Thor…….~~ Suga knpa?? Suga pingsan?? Tidur?? Mati ?/gak boleh…….
    Moga Suga gak ap”
    Lanjut thorr jgan Lma” ya hehe Hwaiting

  6. Mpret greget bnget SUGA ah GREGET BNGET SAOLOH …JAN MATI OY OY , CIE HAJIN CIE UDAH MULAI PEDULI..TPI TETEP LEBAY NYA GAK BSA ILANG KALAU LIAT JIN —

  7. Hajin lama2wataknya keras kaya Suga, yaampun
    abang Suga ini ternyata tempat pelariannya ke makam ckckck

    Suga knapa lagi, smoga cuma pinsan aj

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s