FF/ DARK AND WILD/ BTS-BANGTAN/ pt. 2


Tittle                      : DARK AND WILD / part 2/
Author                  : Lee Ame

Cast      :

  • Kim Son Ae (OC)
  • Park Jimin (BTS’s Jimin)
  • Kim Taehyung (BTS’s V)
  • Jo Gaeun (OC)
  • Kim Namjoon (BTS’s Rapmon)
  • All member of Bangtan

 PicsArt_1410072139264

Length                  : Chaptered
Genre                    : Crime, Action, Romance, AU, School-life
Rating                   : PG-16 (Bisa berubah/bertambah sesuai jalan cerita.)

 

Summary

“Jangan harap aku akan melepaskanmu”

.

.

Preview Part 1

“Lepaskan!” elakku begitu kami sampai di sebuah jalanan yang sedikit lebih ramai. Aku menatap punggung orang asing ini dan ingin rasanya menghujami dirinya dengan sejuta pertanyaan dalam benakku. Kalau diingat-ingat, aku seperti pernah mengalami kejadian percis semacam ini.

“Siapa kau?!”

“Kau tak perlu tahu. Masih untung aku menyelamatkanmu.” Ia akhirnya angkat bicara. Suaranya yang teredam masker, membuatku tak dapat mengenalinya juga.

“Aku ‘kan tak menyuruhmu untuk menolongku! Lagi pula siapa kau?”

“Disana sangat bahaya. Gadis sepertimu bisa mati sia-sia”

“Cih, tahu apa kau tentangku? Aku bukan gadis lemah seperti yang kau sangka” aku berkacak pinggang. Dari cara ia bicara, aku bisa menebak bahwa ia sedang menghinaku. Apa dia tak tahu kalau aku ini memiliki kemampuan seperti laki-laki? Ya walaupun kusadari jika aksinya tadi memang keren. Tapi tetap saja ia tak harus berlagak sombong layaknya superhero ‘kan?

Melihatnya terdiam membuatku memiliki kesempatan, GRAAK―dengan sedikit berjinjit aku menarik paksa ikatan sapu tangan yang membalut setengah wajahnya itu. Begitu wajah aslinya terpampang sempurna, rahangku seketika ingin lepas dan mataku nyaris copot saking membulatnya.

“Pa-Park Jimin??!!”

.

.

 

“Park Jimin?!”

“Kim Son Ae!” suara lain berderu keras dari belakang. membuatku mengalihkan pandagan ke lain arah dan menemukan Taehyung sunbae mulai mendekat dengan nafas terengah-engah. “Kau tidak apa-apa?” tangannya tergerak menyentuh pundakku, memperhatikan wajahku lekat-lekat dengan raut khawatir.

Aku mengangguk sebagai jawaban dan lagi-lagi aku mencari sosok yang sempat tertunda untuk aku kenali. Hilang, lelaki yang ku pikir tadinya adalah Park Jimin ternyata lenyap bak ditelan bumi. “kau mencari apa?” ia akhirnya bertanya. ia memperhatikan gelagatku.

“Kau tidak lihat laki-laki yang tadi bersamaku?”

“Aku tidak melihat siapapun selain kau disini―Ah, apa katamu, laki-laki? Apa dia berbahaya?”

Aku terdiam cukup lama. “Lupakan” aku mencoba menepis pikiran yang bergumul di otakku, begitu pula mengenai sosok Jimin yang masih sulit untuk kuterima. Kemana dia? apa dia kabur karena kehadiran Taehyung sunbae?

“Bagaimana tadi? Maafkan aku karena meninggalkan kalian tiba-tiba”alihku dalam pembicaraan.

“Kali ini mereka memang kalah lagi oleh kami, tapi kupikir upaya mereka tak akan berakhir sampai disini.” Jawabnya seiring dengan langkah kami yang mulai bergerak.

Aku mengangguk.

“Jangan kapok-kapok membantu kami lagi ya. Lain kali aku yang akan menjagamu. Kupastikan kau tak akan celaka walaupun harus terlibat dalam perkelahian semacam ini” ujarnya ringan sembari menarik sudut bibirnya untuk tersenyum. Aku jadi berfikir kalau aku bukan gadis normal karena hatiku sama-sekali tak bergetar saat melihat pancaran senyum manisnya dengan jarak sedekat ini.

“Aku pegang janjimu”

Setelah kalimat terahkir itu, kami setengah berlari mendekat pada kawanan kami di tempat sebelumnya. Namun aku kembali teringat akan sesuatu. Apa jangan-jangan laki-laki tadi justru adalah si kekar yang sempat menolongku pada malam itu? kurasa aku harus menemukan jawabannya.

.

.

Sial sial sial. Well inilah konsekuensi yang harus kuterima. Membersihkan koridor di gedung barat sepulang sekolah seorang diri. Apalagi kalau bukan hukuman dari akibat bolosnya aku kemarin. Lalu kemana perginya anggota Bangtan Boys yang lain, padahal jelas-jelas mereka dalang di balik semua ini? tentu saja mereka sedang mengerjakan hukuman ‘lain’. Kepala sekolah tak lagi memberikan tugas fisik seperti yang kujalani, melainkan tugas yang memeras otak mereka habis-habisan yaitu dengan mengerjakan soal hitung-hitungan seperti matematika, fisika, dan kimia sebanyak 500 soal! Oh God, Aku berani menjamin mereka akan mual seketika. HAHA RASAKAN! Gini giliranku yang tertawa diatas penderitaan kalian, erangku dalam hati. Kurasa itulah hukuman yang paling pantas untuk mereka.

“Semangat Son-Ae, tinggal 10 meter lagi!” aku memotivasi diri sendiri sembari terus mengepel lantai dengan arah mundur. Langkahku terhenti tepat di depan kelas 2-B dimana ruangan itu adalah kelasku dan mendapati Jimin si anak baru sedang mengerjakan sesuatu di dalam. Mataku menyipit, sedikit berjinjit guna mengintip di balik jendela. “Kenapa dia belum pulang? Apa dia berniat mengerjakan pr di sekolah?”

Aku mulai bergelut dengan pikiranku.

“Berhenti memata-mataiku”

“Eh?” aku menerjab-nerjabkan mata. Terkejut dan kaget. “Se-sejak kapan kau sudah berdiri disitu?”

“Cukup lama begitu menyadari kau mengintip dibalik jendela”

Aish! Memalukan. Apa aku terlalu terlarut dalam lamunan sampai-sampai aku tak sadar Jimin sudah berdiri di hadapanku dengan tas menggantung pada punggungya. Haduh, kuharap dia tak merasa ilfeel―walau sedikit―karena aksiku ini. Dan jangan sampai dia menganggap ku sebagai sasaengnya karena diam-diam sudah memata-matainya. Idih, gila saja!

“He-hey tunggu!” sergahku dan ia berbalik mentapku datar. Sudah memergokiku dan sekarang seenaknya saja main tinggal. “Ka-kau, apa kau barusan sedang mengerjakan tugas hukuman karena ikut membolos?”

Ia mengernyit seraya membenarkan letak kacamatanya.

Aku menghela nafas panjang, “kau ‘kan kemarin yang menolongku? Saat perkelahian antar gangster di Myeongdo? Dan kau juga ‘kan yang menolongku pada malam itu?” Kataku akhirnya karena sudah tak dapat membendung kecurigaan terhadapnya. Menduga-duga respon apa yang akan ia berikan, namun―

“Apa maksudmu?”

“eh?”

“Maaf, aku sama-sekali tak mengerti apa yang kau bicarakan. Kau teman sekelasku bukan? sepertinya kau sedang sakit.” Ujarnya datar kemudian berbalik, meninggalkanku sendirian yang tengah mematung di tempat sambil tebengong-bengong.

.

.

“Aku pulang…” ujarku malas dan melempar asal tas milikku bersamaan dengan jatuhnya tubuhku di atas sofa beludru. Mataku segera terpejam, melepas lelah karena energiku sudah terkuras sejak menjadi tukang bersih di sekolah tadi.

“Selamat datang Son-Ae!” Teriakan semangat menggema keras dalam pendengaranku, memaksaku membuka mata dengan segera. Ugh siapa sih, baru saja aku memejamkan mata selama semenit. Dan apa ini? ketika mataku terbuka sempurna, aku sudah mendapati ke-6 cengiran khas para laki-laki idiot. Oh sial. Sepertinya ini pertanda buruk.

“Ayo bangun adikku, kau terlihat sangat lelah.” Oppa bergumam sok manis. ia menarik tanganku agar aku bangkit dari kediamanku di sofa.

“Kau pasti lapar ‘kan karena sudah seharian bersih-bersih? Tenang, kami sudah menyiapkan makanan untukmu” Hoseok sunbae tersenyum lebar sambil menyodorkan sepiring kimbab padaku.

“Wah wah, wajahmu pucat sekali. Kau membutuhkan vitamin untuk nutrisi tubuhmu.” Kali ini Yoongi sunbae yang menyodorkan segelas jus strawberry untukku.

“Apa badanmu sakit semua?” Jin sunbae ikut menimpali dan mulai memijiti pundakku.

“Ambilah, usap keringatmu dengan ini” Taehyung sunbae menyelipkan sapu tangan di genggamanku.

“Stop, stop, stop!” erangku lantang dengan tangan mengudara. Berniat menghentikan aksi-aksi mereka yang sangat menggangguku. Aku mulai muak. “kurasa kalian harus mengikuti klub teater terlebih dahulu sebelum mencoba merayuku dengan acting bodoh kalian ini” Aku menarik nafas, “sebenarnya kalian mau apa sih?!”

“Hehehe” cengiran mereka mengudara secara hampir bersamaan dan semakin melebar. Oh tidak, aku sudah dapat menangkap sinyal kesialan.

Jungkook sunbae mengeluarkan sesuatu dalam tasnya. Tumpukan kertas soal yang kini di letakkan diatas meja. Ia tersenyum polos, “Bantu kami ya, Son-Ae”

“HAH?!”

“Ayolah, kau kan sangat pintar. Walaupun ini soal kelas 3, kurasa otakkmu mampu mengerjakannya.” Yoongi sunbae mengedipkan manja sebelah matanya.

“Sebelum mengerjakannya, kau makan dulu supaya lebih bersemangat. Fighting Son-Ae!” lelaki berambut hitam ini kembali menepuk-nepuk pundakku. Dasar Jeon Jungkook, sialan.

“Adikku yang baik, nyawa kami kuserahkan padamu. 500 soal pasti terasa tanpa beban jika dikerjakan oleh orang segenius dirimu”

Aku hanya melongo dengan tatapan shock. Penderitaanku baru akan dimulai hari ini.

.

.

Park Jimin’s

Kyieeet-denyitan pintu tua rumahku berdenyit kala gangang pintu sudah kutarik.

“Kau baru pulang?” suara serak-serak basah berderu lembut di balik punggungku. Suara itu semakin mendekat kemudian tangannya mulai mengusap-usap punggungku.

“Aku ada pelajaran tambahan.”

Sosok wanita paruh baya itu tersenyum, membuat guratan-guratan penuaan di wajahnya terukir lebih jelas. “Sampai sesore ini?” ia menggeleng lemah sambil berdecak. “Kalau begitu kau segera mandi, ibu akan menyiapkan makanan untukmu.”

Aku membalasnya dengan anggukan dan senyuman. Entah kenapa aku selalu menurut atas apa yang di katakannya. Aku tahu ia juga lelah karena ia baru pulang bekerja. Tapi lihatlah sekarang ini, bagaimanapun keadaannya, ia selalu memperhatikanku dengan kasih sayang.

“Iya, bu”

“Jimin?”

Aku menghentikan langkah dan menoleh, “nde?”

“Kau berkelahi lagi?”

Aku refkeks menggaruk tengkuk. Pasti ibu sudah melihat goresan luka pada punggung tanganku. “Ani.” Elakku sekenanya. “Ibu percaya padaku kan? Aku tak akan mengecewakanmu lagi”

Terdengar kekehan kecil ibu. “Aku percaya padamu. Meskipun begitu kau harus tetap menjaga dirimu baik-baik, Jimin. Ibu tak ingin kalau kau sampai mengulang kembali kesalahanmu dulu.”

Aku mengangguk. “Arraseo

.

.

Kim Son Ae’s

Sejenak aku memijiti jemariku yang rasanya sudah mau copot ini. Ugh, ingin rasanya aku mengutuk ke-6 orang idiot itu menjadi katak! bisa-bisanya mereka memanfaatkanku. Betapa malangnya hidupku karena harus terlibat dengan mereka semua. Sudah di hukum membersihkan koridor, eh sekarang harus mengerjakan soal-soal kutukan ini. Apa jangan-jangan ini karma karena aku sudah menyumpahi oppaku sendiri? tapi tetap saja tak adil. Ini kan hukuman mereka. Kenapa harus aku yang menanggung? Konyol sekali kenapa aku selalu kalah oleh perintah mereka. Enam lawan satu, tentu saja aku tak akan menang. Tak ada satupun yang bisa membelaku. Dengan sabar aku kembali mengerjakan soal ini.

“Ugh, masih 320 soal lagi..”

“Annyeong Son Ae!” sapaan ceria tiba-tiba menghampiriku. Ini adalah Ga Eun yang sekarang sudah menaruh tasnya di atas mejanya dan duduk disampingku. “Tumben kau sudah datang sepagi ini? kau sedang apa?”

“Menurutmu?” aku tak begitu menggubrisnya dan masih berkutat pada soal-soal mengenaskan yang tengah kugarap.

Ga Eun mendekat. “Omo, 500 soal?!” ia terpekik cukup keras dan menggeleng. Ia membolak-balikan lembaran kertas usang itu “Aku tau kau pintar Son Ae, tapi untuk apa kau mengerjakan soal sebanyak ini?”

Aku sudah bisa menebak bagaimana respon anak ini. Benar saja, dan itu berhasil memecahkan konsentrasiku. “Menurutmu apa lagi yang menyebabkan otakku sampai berasap seperti ini?” aku berdecak. “Lebih baik kau bantu aku. Aku baru mengerjakan 180 soal tadi malam, dan tugas sialan ini harus dikumpul besok pagi.”

Ga Eun menatapku prihatin. Pikirannya terkoneksi cepat dan langsung membantu mengerjakan dengan memilih soal yang dirasa mudah. “Oppamu sungguh kejam Son Ae”

Aku mengangguk pasrah. “Sangat”

Kamipun langsung kembali menyibukkan diri sampai satu-persatu murid lain berdatangan memasuki kelas. Anehnya, saat Jimin yang masuk kelas, aku langsung tahu dan terfokus padanya. Pikiranku melayang di hari sore kemarin. Cih! Mengingat itu aku jadi teringat akan kalimat dimana ia berkata ‘Maaf, aku sama-sekali tak mengerti apa yang kau bicarakan. Kau teman sekelasku bukan? sepertinya kau sedang sakit.’ Garis bawahi kata sakit itu! apa maksudnya ia berkata demikian? Dia pikir aku sedang mengingau atau sedang sakit jiwa karena langsung menyangka dirinya adalah orang yang sempat menolongku di beberapa insiden. Tapi jika dipikir-pikir lagi, mungkin aku memang salah tebakan. Ayolah Son-Ae, berapa kali sih aku mengatakan bahwa penampilan Jimin dengan sosok itu berbeda? Pasti bukan Jimin orangnya. Lagipula, di dunia ini banyak sekali orang berwajah serupa.

Argghh betapa malunya aku karena sudah sempat menuduhnya. Pasti dia menyangka aku ini type gadis ‘sok kenal sok dekat’ dan aneh. Eits tunggu, kenapa aku harus merasa keberatan dengan hal itu?

“Hei, kau sedang memperhatikan Jimin?”

M-wo?”

Ga Eun menatapku curiga. “Apa sih” ujarku dingin dan kembali bergelut dengan soal.

“Kau tertarik padanya ya?” Ga Eun semakin menyeledik. Astaga, tatapannya itu menyebalkan sekali. Bisa tidak, tak perlu mencampuri urusan orang lain? Oke, kalau Ga Eun bukan sahabatku, aku sudah menjejalkan sepatu nike-ku agar dia terdiam.

Ish, kau meremehkan tipeku ya?” Aku bergidik. “Tipeku itu high class. Bukan orang secamam Jimin. “ aku mendengus, meralat dugaannya.

“Terserah kau saja. Tetapi menurutku Jimin juga tampan. Jadi benar kau tak tertarik?”

Aku menggaguk mantab.

“Kalau begitu buat aku saja”

Mwo?”

Wae?”

“Ah ani.” Aku terdiam seketika dan mendapati Ga Eun tersenyum jahil. Apa-apaan sih dia?

“Yasudah kalau begitu.”

“Ga Eun?”

“Hm?”

“Kemarin…” aku ragu-ragu untuk mengatakan ini atau tidak. Namun rasa penasaranku yang sudah diambang batas, akhirnya keluar juga. “Kemarin saat aku bolos, Apa Jimin juga tidak ada di kelas?”

Ga Eun nyaris tertawa kalau saja aku tidak membekap mulutnya dengan telapak tanganku. Aku mendelik padanya, mengisyaratkannya agar tak bertindak lebih. “Berhenti menggodaku. Aku hanya memastikan karena kemarin saat bolos, aku melihat ada orang yang mirip dengannya. Puas? Sekarang jawab pertanyaanku sebelumnya.”

Ia mengangguk kemudian menuntutku untuk melepas tanganku di bibirnya, nampaknya ia kehabisan nafas dan segera menghirup oksigen sebanyak-banyaknya. “Kau berniat membunuhku, eoh?” protesnya. “Awalnya sih 1 jam pelajaran ia ada di kelas. Tapi setelah beberapa menit setelahnya, dia ijin pergi ke UKS. Katanya, kepalanya mendadak sakit. “

Aku tercekat mendengar penjelasan singkat Ga Eun. “Ijin sakit?”

“Benar. Ia sampai merintih.”

Entah kenapa ada sesuatu yang ganjil disini. Apa ini sebuah kebetulan atau memang perencanaan? Park Jimin, kenapa kau begitu misterius dan membuatku ingin tahu lebih banyak tentangmu?

.

.

“Ayo, kuantar kau pulang”

“tidak mau.” Aku tetap berjalan dengan tangan terlipat di dada. Tak menghiraukan Taehyung sunbae yang masih saja mengekoriku.

“Kenapa lagi? kau marah padaku?”

Aku berhenti sejenak. Menatap wajahnya, kemudian segera membuang muka. “Kau kejam.”

“Hah? Aku?”

Aku memutar bola mata dan tetap gigih meneruskan langkah gusar.

“Ayolah Son Ae”

Akhirnya pertahananku runtuh. “Berhenti menggangguku. Kenapa sih sunbae dan oppa suka sekali mengerjaiku? kau pikir mengerjakan tugas hukuman kalian itu semudah membuang angin? Aku juga memiliki banyak tugas sekolah yang masih belum usai! Jangan kalian pikir dengan aku menurut saja itu tidak berarti aku kesal. Aku muak!”

Taehyung tercengang. Ia tak menyangka atas kalimat penuh emosi yang kulontarkan. Melihat responnya, untuk seperkian detik aku kembali melangkah menjauh lebih lebar.

“Hey-yaak Son Ae!” ia menahan lenganku. Membalikkan tubuhku untuk menatapnya tepat di hadapan. “Maafkan aku. Namjoon yang punya ide ini”

“Dan kau ‘pun ikut terlibat.” Ia hanya diam seribu bahasa. “Ah, sudahlah” aku menepis tangannya.

“Tunggu!” ia malah semakin mempererat genggamannya. “Baiklah, aku salah karena tak bisa melakukan apa-apa. Aku tahu aku sangat lemah dan tak bisa membelamu. Tapi bisakah kau memberiku kesempatan? Kupastikan kau akan lebih aman setelah ini.”

Oke, ini sudah keberapa kalianya ia berkata begitu dan hasilnya tetap nihil. Aku jadi merasa bodoh karena mau saja di bohongi oleh Taehyung sunbae. Dia bilang, dia akan berpihak padaku, padahal di kenyataan dia ada dalam pihak oppa. “Aku tak butuh omong kosongmu. Bukti saja sudah cukup.”

“Baiklah” Ia mengacak puncak rambutku kemudian mencolek hidungku. “Ayo kita buktikan mulai sekarang” Ia tertawa lepas, membuat bibirnya yang tipis terlihat semakin tipis. “Sebagai gantinya aku akan mentraktirmu ice cream”

Akhirnya aku menyerah dan memilih menurut padanya. Menikmati segelas ice cream bersama Taehyung sunbae kupikir bukanlah ide yang buruk.

.

.

Iris hitam legamku memandangi langit senja dari balik kaca ruangan. Gulungan awan orange bergumul dengan latar langit jingga. Goresan siluet-siluet hitam pepohonan ikut serta, menambah kesan keindahan alam yang kental.

“Maaf, aku merusak progam dietmu.” Kekehan kecil Taehyung membangunkanku dari lamunan.

Aku beralih menatapnya. “untuk kali ini aku akan memaafkanmu.” Ujarku lirih seraya kembali melahap sesuap topping caramel.

“Kenapa kau harus susah payah berdiet sih? Badanmu sudah pas. Dan kau sudah sangat cantik.”

Aku mengernyit. “Berhenti menggodaku sunbae” timpalku ketus. Jujur saja, aku kurang suka jika orang lain harus memujiku terang-terangan seperti ini. Bagiku, orang yang sedang memuji sambil tersenyum, itu bukan berarti ia mengatakannya dengan sepenuh hati. Bisa saja itu hanya sebuah bualan atau rayuan belaka. Dan percayalah, aku memang tidak terlalu cantik. Aku biasa-biasa saja. Mataku bulat tanpa lipatan pada kelopak dan hidungku tak begitu mancung. Bahkan teman-temanku mengatakan aku lebih cocok dianggap laki-laki karena wajahku terbilang bengas dan galak. Oke, walau terdengar memprihatinkan, aku sendiri mengakuinya.

Kami berdua saling terdiam cukup lama hingga akhirnya aku mendengar bel pintu berbunyi, menandakan ada seseorang masuk ke kafe ini. Di ujung sana ternyata aku mendapati seorang laki-laki yang mengenakan seragam seperti milik kami berdua. Rambutnya lepek dan kacamata yang ia kenakan terlihat kotor. Orang itu adalah Park Jimin. Oh.

Apa? Park Jimin?

“Maaf aku sedikit terlambat.” Jimin membungkuk sopan.

Sedangkan orang ber-blazer hitam dihadapannya itu menggeleng tak suka, “kau terlambat 20 menit. Ini hari pertamamu bekerja. Walaupun kau hanya karyawan sambilan, kau tetap harus mematuhi aturan yang ada.” Ia berintonasi tegas. Meski terdengar samar-samar, telingaku cukup jelas menangkap pembicaraan itu.

“Maaf. Sekali lagi aku minta maaf. Aku tak akan mengulanginya.” Gumam Jimin lirih. Dari rautnya, ia benar-benar merasa bersalah.

Ngomong-ngomong, kebetulan apa lagi ini? kenapa aku bisa bertemu dengannya di tempat seperti ini. Aku nyaris saja tersedak begitu mendapati Jimin berbalik, pandangan kami bertemu.

 

Park Jimin’s

Sungguh tak disangka aku bertemu dengan gadis itu lagi di tempatku bekerja. Ia tak sendirian kemari, melainkan bersama dengan seorang lelaki berponi rata. Aku memperhatikannya dari meja kasir. Dia adalah teman sekelasku, Kim Son Ae. Di kelas, ia duduk di bangku nomor dua dari belakang bersama dengan temannya yang berisik, Jo Gaeun. Apa kafe ini adalah tempat yang sering dikunjunginya? Sebenarnya Itu tidak terlalu penting bagiku.

Aku sudah mempergokinya berkali-kali mencuri pandang kea rah ku. Saat ketahuan, ia pasti langsung mengalihkan pandangannya dan menunduk.

Hitungan menit pun berlalu. Aku sedikit tersentak begitu menyadari kedua orang itu hendak bangkit dan menghampiriku. Kulihat Son Ae menunduk, ia bersembunyi di balik punggung lelaki yang bersamanya itu. Ia jadi terkesan mengindariku.

“Ini” lelaki itu mengeluarkan lembaran uang dari saku celananya. Aku mengambilnya dan memberikan struk serta kembalian kepadanya. “Tunggu dulu.”

Aku mendongkak, “Nde? Ada yang salah?” aku bertutur sopan layaknya karyawan kebanyakan.

“Apa sebelumnya kita bernah bertemu?”

Aku hanya menatapnya datar, sementara Son Ae terlihat terkejut. Akupun kembali tersenyum tipis. “Maaf. Apa anda mengenal saya? Tetapi ini pertama kalinya kami bertemu.”

Lelaki itu menatap wajahku lekat-lekat dengan mata menyipit. Ia berfikir cukup lama. “Ah, lupakan. Sepertinya aku memang salah orang.”

Setelah itu, ia mengambil uang kembaliannya dan melenggang pergi, aku membungkuk sopan. Padanganku terus tertuju pada keduanya hingga langkah mereka menghilang di balik pintu. Kali ini aku benar-benar tersenyum. Senyuman yang sebelumnya tak pernah kutujukan pada siapapun.

“Permainan kita baru akan di mulai Kim Taehyung. Dan kau Kim Son Ae, jangan harap aku akan melepaskanmu”

.

.

-TBC-

Hai^^ aku balik lagi membawa part 2 ini ^^ makasih ya buat yang udah baca ff aku dan thanks juga buat kritik dan sarannya. Mungkin di part ini juga gak begitu jelas, hehehe. Sengaja aku buatnya kayak gini. tetapi di setiap next part, bakal ada penjelasan yang bakal aku ulas kok. So, jangan lewatkan ya/apaan sih/

Mungkin part ini agak ngandet ya, sorry soalnya aku abis ditimbun tugas jadi rada ngaret deh *sok sibuk*

Dan pasti pada binggung ya, siapa sih yang sebenarnya nyelametin Son Ae di insiden-insiden sebelumnya? Jimin atau bukan. dan apa sih maksud kalimat Jimin yang terahkir itu. ditunggu aja next partya ya🙂

Semoga ff ini gak ngecewain kalian. Gamsahamnida^^

Jangan lupa tinggalakan komentar dan sorry for the typo~

About fanfictionside

just me

15 thoughts on “FF/ DARK AND WILD/ BTS-BANGTAN/ pt. 2

  1. Halo, aku kembali lagi di setiap fanfic dengan main cast Jimin.. :v
    .
    Aku penasaran sebenernya Jimin (di ff ini) orang yang seperti apa. Penasaran banget. Ff ini ga bakal berakhir tragis kan? Suka banget sama Jimin di sini (dari lahirnya Jimin juga udah suka #apaini). Tapi ff ini kurang panjang, kurang puaaasss. Jimin, puaskan aku >< #slapped
    .
    Next part jangan lama-lama ya. Hwaiting!! :3

  2. Hel , penasaran Jimin itu siapa ? Dia misterius terus juga dia punya dendam argh di pikir” gak akan kelar kelar di tunggu kelanjutannya

  3. oahh Jimin
    kenapa kesan’a kaya punya kepribadian ganda campuran gituh kaya pertandingan bulu tangkis😀 wkwkwkwk
    Permainan apa ya yg dia maksud….? Cepet lanjut lagi ya thor🙂

  4. It yg jdi pahlawan nya Son Ae siapa?? Jimin?? #semoga

    Knpa sih Son Ae mau bget d’suruh” ama oppa ny and sunbae” ny….. ??/ klo Nae jdi Son Ae udah gua bejek” tuh !!/ngekk

    Itsshh…. It tdi mksud ny ap “Permainan kita baru akan di mulai Kim Taehyung. Dan kau Kim Son Ae, jangan harap aku akan melepaskanmu” it kta siapa Jimin?? Atau siapa aah ~ bingung”…. Udah lanjut aj deh thorr jgan Lma” ya

  5. kalo fanfic jimin aku gak pernah ketinggalan bacanya.
    dan ff ini keren banget,alurnya juga rapih, tapi aku masih bingung sama karakter jimun

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s