FF/ 30DAYS CUPID/ BTS-BANGTAN/ pt. 5


Author: Anditia Nurul||Rating: PG-13||Length: Chaptered||Genre: Fantasy, School-life, Friendship||Main Characters: (BTS) Jungkook, (BTS) Jin/Seokjin, (BTS) V/Taehyung & (OC) Oh Shina||Additional Characters: (OC) Jeon Junmi, (BTS) J-Hope/Hoseok, (BTS) Suga/Yoongi, (A-Pink) Bomi, (OC) Min Chanmi & (TopDogg) Kidoh/Hyosang||Disclaimer: I own nothing but storyline and the OCs. Inspirated by film My Name Is Love, Tooth Fairy 2 & Korean Drama 49 Days||A/N: Edited! Sorry if you still got typo(s).

30 DAYS CUPID (1)

“Saat ini kau adalah cupid-30-hari. Kau akan diberi kesempatan selama 30 hari untuk menjalankan hukumanmu. Jika kau gagal, kau tidak akan hidup sebagai manusia lagi. Kau akan menjadi cupid selamanya.”

Prolog|Chp.1|Chp.2|Chp.3|Chp.4>>Chp.5

HAPPY READING \(^O^)/

@@@@@

Jungkook mematut dirinya di depan cermin. Tubuh proporsionalnya dibalut baju kaos berwarna putih lengan pendek dengan tulisan berbahasa inggris di bagian depannya. Selembar kemeja bermotif kotak-kotak berwarna hijau-hitam ia gunakan sebagai outfit. Lantas, ia menutup kakinya dengan jeans berwarna hitam.

Sore ini, seperti yang telah disepakati 2 hari yang lalu, Jungkook dan teman-teman kelompok biologinya akan berlajar di rumah Chanmi. Jujur, Jungkook agak malas mengerjakan tugas ini. Ya, kurasa kau tahu apa alasannya. Tapi, mau bagaimana lagi? Dia ketua! Tentu dia yang akan dimintai pertanggungjawaban dari Han Sonsaengnim jika tugas kelompoknya tidak selesai.

Memastikan semuanya tampak baik, Jungkook pun beringsut mengambil ransel hitamnya di atas meja belajar, kemudian menyampirkan salah satu tali ransel di bahu kirinya, bersiap menuju rumah Chanmi.

“Kau mau kemana?” tanya Junmi yang baru pulang dari kantor, mendapati Jungkook tengah mengunci pintu rumah dari luar.

Seketika Jungkook berbalik. “Uh, Noona. Kau sudah pulang!?” serunya sedikit terkejut. “Aku mau pergi ke rumah teman untuk mengerjakan tugas kelompok,” tutur Jungkook, menjawab pertanyaan sepupunya.

“Oh, ya, sudah,” balas Junmi. Namun, gadis itu tiba-tiba menyadari ada sesuatu yang aneh pada Jungkook.

“Kenapa melihatku seperti itu, Noona?” tanya Jungkook sedikit risih.

“Sejak kapan kau memakai kalung?” Junmi menunjuk kalung yang menghiasi leher Jungkook.

Sontak Jungkook melihat ke arah kalung tersebut. Astaga! Aku lupa! Bergegas pemuda itu menyembunyikan bandul kalung tersebut di balik kaos putihnya. “Ah, bukan apa-apa, Noona. Hehehe. Aku hanya iseng memakainya,” balas Jungkook, tersenyum kikuk.

Junmi menaikkan sebelah alisnya. “Iseng? Kalung berbandul hati seperti itu!?”

Lagi, Jungkook tersenyum kikuk. “Ya, begitulah,” sahutnya. “Sudahlah. Tidak usah dibahas. Aku harus pergi sekarang, Noona,” ujar Jungkook, berlalu dari hadapan Junmi.

Sekitar beberapa menit kemudian, Jungkook mendapati dirinya duduk di dalam bis, dalam perjalanan menuju rumah Chanmi yang berada di Jamsil-dong. Memilih duduk di bangku paling belakang, meski banyak bangku kosong lain yang berada di depan.

Dengan kedua mata yang memandang keluar jendela, Jungkook terdiam memikirkan satu hal. Mungkin kau bisa menebaknya. Ya, target ketiga. Usahanya untuk menyatukan Namjoon dan Gyeoul tidak sia-sia. Di bandul kalungnya kini terdapat dua buah bentuk hati.

Hanya saja… Jungkook tidak tahu harus melakukan apalagi untuk menyatukan target ketiganya. Terlebih, salah satu dari target ketiganya itu adalah… seseorang yang sangat dekat dengannya.

Dua malam yang lalu Jungkook benar-benar mengira dirinya gagal. Tangan kanannya tak henti bergerak memegang bandul kalungnya yang sejak tadi belum menunjukkan reaksi apapun. Hah, ayolah bandul kalung bodoh! Berpendarlah. Katakan kalau aku berhasil menyatukan Namjoon Sunbae da Gyeoul Sunbae.

Namun kalung itu tetap tidak menunjukkan reaksi apapun.

God! Jangan bilang kalau yang tadi gagal! Aku benar-benar tidak mau menjadi cupid selamanya. Aku tidak mau!

Sepersekian detik setelahnya, Jungkook baru bisa bernapas lega melihat bandul kalungnya mulai berpendar-pendar seperti saat ia berhasil menyatukan Jimin dan Hara. Bandul kalung itu berpendar-pendar untuk beberapa saat dan tidak lama kemudian, sebuah bentuk hati kecil pun muncul di dalamnya.

Jungkook berhasil menyatukan Namjoon dan Gyeoul!

“Oh, waw, selamat. Kau berhasil menyatukan target keduamu~” Jin tiba-tiba saja muncul di dalam kamar Jungkook. Duduk di kursi yang berada di dekat meja belajar.

Jungkook tidak bisa menyembunyikan mimik wajah bahagianya. “Ya, aku berhasil! Aku pikir aku akan gagal,” tuturnya, melihat ke arah Jin.

Jin mengulas senyum, lalu berkata, “Lain kali kau harus punya kepercayaan diri bahwa apa yang kau lakukan pasti akan berhasil. Optimis! Itu kunci dari hukuman ini!”

Jungkook mengangguk paham.

“Lalu, siapa target ketigamu? Kau sudah tahu?”

“Aku baru mau mengetahuinya sekarang,” sahut Jungkook.

Pemuda itu lantas menekan tombol pada love-tablet-nya, menunggu beberapa saat hingga foto dan nama target ketiganya muncul. Tidak lama kemudian, dua buah foto, lengkap dengan nama di bagian bawahnya tertera pada layar.

What?” Jungkook terkejut.

“Ada apa? Siapa target ketigamu?” tanya Jin.

Jungkook menatap Jin sejenak, lantas memperlihatkan dua buah foto yang tertera pada layar love-tablet-nya, kemudian berkata, “Min Sonsaengnim dan… Junmi Noona.”

@@@@@

Jungkook berjalan menyusuri halaman sebuah rumah bertingkat dua yang terletak di ujung jalan. Sebuah rumah bercat biru muda yang tampak cantik dengan hiasan beberapa buah pot bunga yang berderet rapi di sisi depan teras. Setelah menempuh sekitar 10 menit perjalanan, Jungkook tiba di rumah Chanmi.

“Ting… tong….”

Telunjuk kanan pemuda itu menekan bel. Berdiam diri beberapa saat, menunggu seseorang membukakan pintu untuknya. Tidak butuh waktu lama, suara langkah terdengar dari dalam rumah, mendekat ke arah pintu. Begitu pintu dibuka, Jungkook mendapati seorang wanita paruh baya yang mungkin saja ibu dari Chanmi.

“Selamat sore, Bibi,” sapa Jungkook. “Apa Min Chanmi ada?” tanyanya kemudian.

Wanita paruh baya itu tersenyum. “Ah, kau pasti teman yang ingin mengerjakan tugas bersama Chanmi, kan!?” Jungkook mengangguk. “Masuklah. Seorang temanmu juga baru saja datang. Dia ada di taman belakang menunggu Chanmi,” lanjut wanita paruh baya itu.

Jungkook mengikuti wanita itu masuk ke dalam rumah, berjalan menuju bagian belakang rumah. Sesekali pemuda itu melihat-lihat bagian dalam rumah Chanmi.

“Nah, itu temanmu. Kalian berdua tunggu Chanmi di sana, hm. Mungkin anak itu masih mandi,” kata si wanita paruh baya setelah mengantar Jungkook hingga ke pintu yang menghubungkan rumah dengan taman belakang. Sejenak Jungkook menoleh ke arah taman belakang, mendapati seorang gadis duduk di sana.

Ck! Shina!

Jungkook lantas tersenyum, memaksa dirinya tersenyum untuk menghormati ibu Chanmi. “Ya. Terima kasih, Bibi.”

Mau tidak mau, Jungkook terpaksa mengayunkan langkahnya menuju sebuah meja bundar di tengah taman. Meja yang dikelilingi 4 buah bangku yang terbuat dari semen yang dibentuk sedemikian rupa sehingga nampak seperti bekas pohon yang ditebang. Di salah satu bangku itu, Shina duduk dalam posisi membelakangi Jungkook yang tengah berjalan ke arahnya.

Gadis itu terkejut begitu melihat Jungkook tiba-tiba muncul tanpa suara dan mengambil tempat yang berhadapan dengannya. Satu-satunya tempat yang membuat ia tidak duduk berdekatan dengan Shina, meski dengan resiko ia harus berhadapan dengan gadis itu. Kedua mata Shina bisa melihat wajah Jungkook yang tampak sangat datar dan dingin. Dan seperti yang sudah kau duga, keduanya hanya diam tanpa saling bertegur sapa atau apapun, sibuk dengan kegiatan masing-masing; Shina dengan ponselnya, begitu pun Jungkook.

Sekitar beberapa menit kemudian, suasana yang beku di taman belakang rumah Chanmi perlahan-lahan meleleh tatkala Chanmi dan Taehyung muncul bersamaan, menghampiri Jungkook dan Shina.

“Ah, maaf membuat kalian berdua menunggu,” sesal Chanmi setelah ia duduk di bangku sebelah kiri Shina, di sebelah kanan Jungkook.

Shina mengulum senyum. “Tidak apa, Chanmi-ssi.”

“Jungkook-ah, kau… baik-baik saja kan selama berdua dengan Shina?” tanya Taehyung iseng dan langsung mendapat lirikan tajam dari Jungkook.

“Tentu saja Jungkook baik, iya, kan!?” celetuk Chanmi. “Kau pikir Shina akan memakan Jungkook? Dasar MongTae!” ledek Chanmi.

Taehyung membulatkan kedua matanya. “Hei! Min Chanmi! Aku bukan bertanya padamu! Cerewet!”

“Kau bilang apa!?”

“Hei! Kalian berdua! Kalau hari ini kalian mau bertengkar, aku lebih baik pulang!” seru Jungkook kesal.

Chanmi dan Taehyung menghela napas nyaris bersamaan, meredakan kekesalan satu sama lain. “Maaf~” gumam keduanya, lagi-lagi nyaris bersamaan.

“Ya, sudah. Lebih baik sekarang kita mulai supaya cepat selesai,” tegas Jungkook.

Beberapa menit kemudian, keempatnya sibuk membolak-balik halaman buku paket masing-masing sembari mendiskusikan jawaban dari tugas yang diberikan oleh Han Sonsaengnim. Ya, meski Jungkook dan Shina tetap tidak saling menganggap satu sama lain. Hah, kelompok macam apa ini?

“Selesai! Bagianku sudah selesai. Contoh protista yang menyerupai hewan!” seru Taehyung, menyerahkan selembar kertas yang bertuliskan sederet contoh-contoh protista yang menyerupai hewan kepada Shina yang dipercaya sebagai sekretaris kelompok. Hah! Ayolah, tentu saja bukan Jungkook yang memilihnya.

“Aku juga sudah selesai!” sahut Chanmi, ikut menyerahkan lembaran kertas miliknya kepada Shina.

“Kau belum selesai Jungkook?” tanya Taehyung, menoleh ke arah pemuda yang masih berkutat dengan buku biologinya.

“Belum,” jawabnya singkat, padat dan jelas.

Sementara Taehyung dan Chanmi menikmati istirahat mereka sembari meminum sirup yang baru saja dibuatkan oleh ibu Chanmi, Shina dengan telaten menulis jawaban dari teman-temannya di atas selembar kertas HVS. Sedikit menyebalkan memang. Di jaman modern seperti ini, masih saja ada guru yang menyuruh muridnya untuk menulis laporan secara manual. Ck!

“Oh! Kalian sudah dengar kabar, hm!? Gu Sonsaengnim akan mengadakan camping!” seru Taehyung di sela-sela belajar kelompoknya.

“Ah, ya. Temanku di kelas 1.1 juga mengatakan itu,” respon Chanmi.

“Uh, ini pasti seru! Sudah lama aku ingin merasakan yang namanya camping!” ucap Taehyung nampak bersemangat. Senyum lebar bahkan terukir di wajahnya kala membayangkan bagaimana serunya camping yang akan diadakan oleh Gu Sonsaengnim.

Namun, tiba-tiba Jungkook mendengus. “Kau pikir camping itu enak!? Tidur di hutan! Kedinginan! Makan susah!” gerutunya.

Taehyung melirik pemuda berambut merah marun itu agak jengah. “Tapi, pasti akan seru karena kita berkumpul dengan teman-teman sekelas, menceritakan cerita horror di malam hari atau sekedar menyanyi-nyanyi mengelilingi api unggun. Iya, kan, Chanmi? Shina?” Taehyung mencari dukungan.

“Ya, kupikir Taehyung benar,” dukung Chanmi, sontak disambut senyuman oleh Taehyung. “Aku pernah ikut camping saat SMP. Menyenangkan!”

“Tuh, kan!? Apa aku bilang, Jeon Jungkook!” kata Taehyung. “Ah, aku sudah tidak sabar.”

Lagi, Jungkook mendengus. “Apa serunya kegiatan itu? Ck!”

“Sudahlah! Kau tidak usah berkomentar, Jungkook. Kau tidak asik! Kerjakan saja tugasmu!” kesal Taehyung. Chanmi dan Shina terkekeh pelan melihat kedua lelaki di kelompok mereka malah memperdebatkan masalah kecil.

Sekitar 30 menit kemudian, tugas kelompok mereka telah selesai. Shina, Taehyung dan Jungkook bersiap untuk pulang. Ketiganya berjalan mengikuti Chanmi berjalan ke pintu depan, mengantar mereka hingga ke teras.

“Kau datang naik motor?” tanya Jungkook begitu tiba di teras, mendapati sebuah motor berwarna hitam yang tidak asing di matanya, terparkir manis di halaman rumah Chanmi. Ya, itu motor Taehyung. Beberapa kali pemuda itu pernah mengendarainya ke sekolah.

“Ya,” jawab Taehyung singkat, lalu berjalan menuju motornya.

“Chanmi-ssi, aku pulang dulu, ya. Maaf merepotkan,” pamit Shina.

Tiba-tiba Chanmi menyeletuk, “Hei! Taehyungie, rumahmu searah dengan rumah Shina, kan!? Kenapa tidak pulang bersama Shina saja?!”

Shina membulatkan matanya. “Ah, tidak. Tidak usah. Aku bisa pulang sendiri,” tolak Shina sembari mengibas-ngibaskan kedua telapak tangannya untuk mendukung ucapannya.

“Tidak apa, Shina,” sahut Taehyung, “biar aku antar kau pulang.”

Shina menoleh ke arah Taehyung, mengulum senyum. “Tidak usah, Taehyung-ssi. Aku tidak mau merepotkan.”

“Rumah kita kan searah. Ini tidak merepotkan~”

“Sudah. Pulang dengan Taehyung saja! Sebentar lagi malam,” ujar Chanmi, mendorong pelan Shina untuk segera naik ke motor Taehyung.

Sementara itu, Jungkook yang sejak tadi diam mendengar ucapan ketiga temannya pun bersuara, “Aku juga pamit pulang, Chanmi-ssi,” katanya. “Taehyung-ah, aku duluan~” lanjutnya, kemudian berlalu dari hadapan ketiga temannya.

Sepeninggal Jungkook, Taehyung pun pamit, begitu juga dengan Shina. Meski sempat menolak, namun gadis itu pada akhirnya pulang dibonceng oleh Taehyung.

“Sudah siap, hm?” tanya Taehyung, menanyakan posisi Shina di belakang sebelum ia melajukan motornya.

“Ya~” jawab Shina lembut.

“Chanmi-ssi, kami pulang dulu,” pamit pemuda bersuara deep husky itu, lantas melajukan motornya keluar dari halaman rumah Shina.

Beberapa meter di depan, Taehyung dan Shina dapat melihat Jungkook menyusuri trotoar, berjalan di bawah lampu jalan menuju halte terdekat. Begitu Taehyung melintas di sebelah Jungkook, pemuda itu membunyikan klakson motornya sembari berkata, “Aku duluan, Buddy~”

Jungkook tidak membalas teriakan Taehyung. Hanya melihat pemuda itu melintas bersama dengan Shina yang duduk di boncengan motornya. Shina dan Jungkook sempat berkontak mata untuk sepersekian detik hingga Jungkook memutuskan untuk mengalihkan pandangannya dari gadis itu.

Cemburu?

Entahlah.

Tapi, mimik wajah pemuda itu tampak kesal.

@@@@@

“Aku pulang~” ucap Jungkook saat masuk ke dalam rumah, terus melangkah hingga ke ruang tengah dan mendapati Junmi duduk di sofa. Tapi, ada yang aneh. “Noona mau kemana? Kenapa berpakaian rapi seperti itu?” tanya Jungkook heran.

Oke. Tidak biasanya Jungkook melihat Noona-nya tampak bersiap untuk pergi ke suatu tempat di malam minggu seperti ini.

Junmi yang menyadari keberaadaan Jungkook pun lekas berdiri, berbalik untuk menatap pemuda itu, lalu tersenyum. “Kita makan malam di luar hari ini,” jawabnya.

“Makan malam di luar!?” ulang Jungkook memastikan. Junmi mengangguk. “Tumben~” celetuknya.

Gadis yang tubuhnya dibalut brokat dress orange pastel selutut, lengkap dengan bolero cokelat sebagai outfit-nya, pun tersenyum mendengar komentar adiknya itu. “Hari ini aku dapat bonus dari bosku. Jadi, malam ini aku traktir kau makan,” jelasnya.

“Benarkah?” Jungkook tidak bisa menyembunyikan senyum lebarnya. “Asik!” Pemuda itu tampak excited. Ya, hanya di hadapan Taehyung atau Junmi ia bisa tampak ceria seperti barusan.

“Ya sudah. Kita berangkat sekarang!” ajak Junmi.

Sekitar 15 menit kemudian, Junmi dan Jungkook duduk di dalam sebuah restoran Italia. Duduk di meja yang dekat dengan kaca di bagian depan tokoh agar lebih leluasa melihat suasana di luar.

“Tadi kau belajar kelompok dimana?” tanya Junmi memulai pembicaraan sembari menunggu makanan yang baru saja mereka pesan.

“Di Jamsil-dong,” jawab Jungkook singkat.

“Oh, ya!? Rumah siapa?”

“Min Chanmi.”

Junmi membulatkan kedua matanya. “Gadis?”

Jungkook mengangguk sambil bergumam pelan, “Eung~”

“Tumben!” Seulas senyum jahil nampak di wajah gadis 24 tahun itu. Ya, dia tahu betul bagaimana sikap Jungkook terhadap gadis-gadis lain.

Jungkook mendengus pelan. “Aku ketua kelompoknya. Mau tidak mau aku harus datang,” jelas Jungkook, terdengar seperti sedang mengeluh.

“Ya. Memang harusnya begitu. Kau harus bertanggungjawab pada kelompokmu,” respon Junmi. “Eum, apa kau juga bersama Taehyung?”

Jungkook mengangguk.

Untuk beberapa menit, keduanya terdiam. Membiarkan suara penyanyi resto yang menyanyikan lagu Italia terdengar di telinga sembari menikmati apa yang terlihat oleh mata masing-masing. Junmi sibuk melihat orang-orang dan kendaran yang berada di luar restoran, sementara Jungkook membiarkan pandangannya berkeliaran melihat setiap sudut di dalam restoran.

Tidak lama kemudian, seorang pelayan menghampiri meja mereka. Dengan telaten menyajikan macaroni, salad, pasta, segelas orange punch dan segelas cranberry juice di atas meja. Sepeninggal si pelayan, Junmi dan Jungkook mulai menyantap makan malam masing-masing.

“Uuh~ sudah lama aku ingin makan makanan Italia~” seru Jungkook disela-sela kegiatan menikmati pastanya.

Junmi hanya mengulum senyum singkat mendengar ucapan adiknya itu. Gadis itu lantas menelan kunyahan macaroni di dalam mulutnya, meminum sedikit cranberry juice-nya, lantas bergumam, “Jungkook-ah?”

Jungkook yang tengah melihat pemandangan di luar jendela, seketika menoleh ke arah Junmi begitu mendengar namanya dipanggil. “Ada apa, Noona?” balasnya, kemudian menyuapkan seseondak pasta ke dalam mulutnya.

“Tentang pertanyaanmu 2 malam yang lalu. Apa kau mengenal pria bernama Kim Seokjin itu?”

Jungkook terkejut. Pemuda berambut merah marun itu bergegas menelan makannya, kemudian meneguk orange punch. Ia berdehem sejenak sebelum menjawab pertanyaan dari gadis yang saat ini menatapnya lamat.

“Ti-tidak juga, Noona,” jawabnya agak ragu.

“Kau pernah bertemu dengannya secara langsung?” tanya Junmi lagi.

Jungkook hanya mengangguk sebagai jawaban atas pertanyaan Junmi.

“Apa… dia pernah bercerita tentang sesuatu sehingga kau… menanyakan pertanyaanmu malam itu padaku, hm?” tanya Junmi lagi.

Oke. Saat ini Jungkook benar-benar merasa dirinya seperti sedang diinterogasi. “Be-begitulah,” tuturnya singkat.

Junmi menghela napas. Diletakkannya sendok yang sejak tadi ia pegang di tepi piring macaroni-nya.

“Aku mengenal pria bernama Kim Seokjin itu,” lirih Junmi. “Aku seangkatan dengannya semasa SMA,” tambahnya, lalu menundukkan kepala.

“Apa… kau mencintainya, Noona?” tanya Jungkook terdengar hati-hati.

Pelan, Junmi menegakkan lehernya, menatap ke arah Jungkook, lalu menjawab lirih, “Dulu…, ya.”

“Lantas, sekarang?”

“…”

Junmi tidak menjawab. Malah memalingkan wajahnya ke arah luar jendela. Dia sendiri masih bingung dengan perasaannya terhadap Seokjin saat ini. Apakah ia masih mencintai pria yang ia tidak tahu bagaimana keadaannya sekarang, hm? Entah. Junmi benar-benar masih bingung.

“Lebih baik kita lanjutkan makan kita, hm. Kalau makanannya dingin, nanti tidak enak,” ujar Junmi, kemudian sedikit menundukkan kepalanya, menyuapkan macaroni ke dalam mulutnya.

Jungkook menatap gadis yang terlihat memaksakan diri untuk menelan macaroni-nya. Untuk beberapa detik, tersirat rasa bersalah di benak Jungkook. Kenapa dia malah menanyakan perasaan Junmi sekarang? Ck!

Junmi Noona, kau… masih mencintai cupid bodoh itu, ya?

@@@@@

Paran High School tampak ramai di suatu pagi 6 tahun yang lalu. Siswa-siswi memenuhi beberapa sudut sekolah; koridor, taman baca, kantin dan juga lapangan basket. Di lapangan basket itu, tampak beberapa siswa sedang asik men-dribble si bola oranye, salah satunya… Kim Seokjin.

Pemuda berkulit putih bersih itu nampak sangat menikmati permainan basket. Beberapa bulir peluh nampak keluar dari pori-pori dahinya. Ah! Waktu baru menunjuk pukul 7 lewat, namun pemuda itu sudah keringatan.

Tidak jauh dari lapangan basket, seorang gadis berambut sebahu terlihat duduk di tepi koridor. Kedua mata yang bersembunyi di balik kacamata ber-frame bundar itu seolah tidak berkedip memandang Seokjin di tengah lapangan basket.

Ya, gadis itu… Jeon Junmi.

“Hei! Seokjin-ah, tangkap!” Seorang teman Seokjin melempar bola ke arah Seokjin, namun lemparan pemuda itu sedikit jauh dari posisi Seokjin sehingga ia tidak mampu menangkap bola tersebut. Bola itu keluar dari lapangan basket, jatuh di atas rerumputan, menggelinding dan berhenti tepat di depan kaki Junmi.

“Hei! Seokjin-ah, ambil bola itu!” perintah teman Seokjin.

Melihat bola basket tersebut berhenti di dekatnya, Junmi terkejut. Gadis berkacamata itu bergerak dari duduknya, mengambil si oranye dengan kedua tangannya.

“Hei! Berikan bola itu!” ucap Seokjin terdengar ketus saat ia menghampiri Junmi yang memegang bola basketnya.

Junmi menatap Seokjin. Takut-takut, gadis itu mengulurkan bola ke arah pemuda berwajah tampan yang balas menatapnya tajam. Dengan gerakan kasar, Seokjin mengambil bola itu dari tangan Junmi, lalu berkata, “Lain kali, kau jangan duduk di situ terus. Aku bosan melihatmu!”

Seokjin lantas kembali ke lapangan basket, melanjutkan permainan yang sempat tertunda. Sementara Junmi, gadis itu masih berdiri di tempat kedua kakinya berpijak. Terpaku. Bulir demi bulir air mata menggenangi kedua pelupuk matanya. Tidak! Dia tidak boleh menangis di tempat ini! Apa jadinya kalau orang lain melihat ia meneteskan air mata? Oh, jangan sampai kejadian 2 minggu yang lalu terulang. Kejadian dimana Seokjin mempermalukan gadis itu di kantin sekolah.

“Hah… hah… hah….”

Junmi terbangun dari tidurnya, mengatur nafasnya yang tersengal. Astaga! Kenapa barusan ia memimpikan kejadian 6 tahun lalu!? Ck!

Dalam posisi duduk di atas tempat tidur, gadis itu memandang ke seluruh penjuru kamarnya yang hanya dicahayai temaramnya lampu duduk di atas nakas di sebelah kiri tempat tidurnya. Tangan kanan gadis itu terulur meraih segelas air putih di dekat lampu duduk itu, meneguknya sedikit untuk menenangkan dirinya.

Ah, kenapa ia harus mengingat pria itu lagi?

Selama bertahun-tahun belakangan ini, gadis itu sudah bersusah payah untuk menghapus segala ingatannya tentang Seokjin, tapi… ia masih saja gagal.

Ia masih mengingat Kim Seokjin.

Ia masih merindukan Kim Seokjin.

Ia masih mencintai… Kim Seokjin.

@@@@@

Senin.

Hari yang dibenci (mungkin) semua orang, termasuk Jungkook!

Dan pemuda itu semakin membenci hari ini karena; pertama, Bang Sonsaengnim tidak masuk sehingga membuat ia dan teman-teman sekelasnya menghuni perpustakaan sekolah, kedua, waktunya untuk menyelesaikan hukuman sebagai cupid-30-hari tersisa 15 hari. Shit! Jungkook bahkan belum menemukan cara untuk menyatukan saudara sepupunya dengan… guru akuntansinya.

Jungkook duduk di sudut ruangan,tentu saja bersama Taehyung. Sambil mendengarkan lagu melalui earphone yang terhubung dengan ponsel, pemuda berambut merah marun itu memandang sekitarnya. Melihat satu per satu apa yang dilakukan oleh teman-temannya.

Ia lantas menghela napas. Sedikit—ah, maksudnya, cukup bosan berdiam diri di ruangan membosankan ini. Sepersekian detik kemudian, ia berdiri dari duduknya. Berhasil membuat Taehyung yang sedang asik membaca komik, mengalihkan perhatian ke arahnya.

“Kau mau kemana?” tanya Taehyung.

“Toilet,” jawab Jungkook seraya melepas earphone dari telinganya, kemudian memasukkan benda itu ke dalam saku celana bersama dengan ponselnya.

“Oh~” Taehyung hanya mengangguk paham, lalu kembali fokus dengan komik yang ia sembunyikan di balik buku Fisika Quantum.

Sementara itu, Jungkook berjalan keluar dari ruang perpustakaan menuju toilet. Membasuh wajahnya, menyegarkan diri dari penatnya duduk di perpustakaan. Tidak lama setelahnya, pemuda itu keluar dari toilet. Untuk sejenak, ia berpikir untuk kembali ke perpustakaan, namun… kedua mata elangnya cukup tajam menangkap sosok Min Sonsaengnim yang terlihat berjalan menuju kantin.

Kesempatan!

Jungkook mengurungkan niat untuk kembali ke perpustakaan, memilih untuk menyusul Min Sonsaengnim. Memasuki area kantin yang sepi, pemuda berambut merah marun itu mendapati Min Sonsaengnim duduk di salah satu kursi yang berada di tengah-tengah kantin, terlihat menunggu makanan pesanannya. Tanpa membuang waktu, Jungkook langsung mengayunkan langkah menghampiri Min Sonsaengnim.

“Selamat pagi, Ssaem~” sapa Jungkook, melihat Min Sonsaengnim sedang sibuk dengan ponselnya.

Min Sonsaengnim yang mendengar sapaan itu, sontak mengalihkan pandangan dari ponsel, mendapati Jungkook berdiri di sisi kirinya, tersenyum. “Ah, kau Jungkook. Apa yang kau lakukan di kantin? Ini masih jam pelajaran,” tanya Min Ssaem.

“Bang Sonsaengnim sedang tidak masuk, Ssaem,” jawab Jungkook. “Eum, boleh aku duduk di sini, Ssaem?” tanya Jungkook, menunjuk bangku kosong yang berhadapan dengan Min Sonsaengnim.

“Tentu saja,” jawab Min Sonsaengnim singkat.

Jungkook pun duduk di kursi yang ia maksud, lantas mengulum senyum saat mengetahui Min Sonsaengnim memperhatikannya. “Min Ssaem sedang tidak ada jadwal mengajar, hm?” tanya Jungkook, sekadar berbasa-basi.

Min Sonsaengnim mengangguk pelan sambil berkata, “Ya~”

“Oh, pantas saja Min Ssaem berada di kantin.”

“Aku lapar, belum sempat sarapan pagi tadi,” tutur Min Sonsaengnim.

Tidak lama setelahnya, bibi penjaga kantin menghampiri meja mereka. Membawakan semangkuk ramyeon dengan asap yang masih mengepul, makanan pesanan Min Sonsaengnim beberapa saat lalu.

“Kau tidak makan, hm?” tanya Min Sonsaengnim sambil mengaduk-aduk mi dengan sepasang sumpit stainlees-nya.

“Tidak. Min Sonsaengnim saja yang makan. Aku sudah sarapan tadi. Masih kenyang,” jelas Jungkook.

Min Sonsaengnim hanya mengangguk saja. “Oh, ya sudah. Kalau begitu aku makan, hm?!” Jungkook mengangguk.

Pria berusia 24 tahun yang hari ini membalut tubuhnya dengan kemeja berwarna biru muda bermotif garis-garis vertikal pun mulai menikmati sarapannya, meski ia juga merasa sedikit tidak enak karena pemuda di hadapannya tidak ikut makan.

Ssaem, kenapa kau tidak pernah lagi datang ke rumah, hm?” tanya Jungkook, sedikit menginterupsi acara sarapan Min Sonsaengnim.

“Ah, ya. Semenjak selesai kuliah, aku kembali ke kampung halamanku di Daegu. Baru sebulan yang lalu aku kembali ke Seoul karena dipanggil oleh Kepala Sekolah Seo untuk menggantikan Jung Sonsaengnim yang sedang cuti,” jelas Min Sonsaengnim.

Jungkook hanya mengangguk mendengar semua itu.

“Oh, ya, bagaimana kabar Junmi, hm? Dia bekerja dimana sekarang?” tanya Min Sonsaengnim. Setelah beberapa minggu mengajar di sekolah ini, baru saat ini ia punya waktu untuk berbicara dengan adik sepupu temannya.

“Junmi Noona baik-baik saja. Sekarang dia bekerja sebagai asisten akuntan di Kantor Akuntan Shim.”

“Ooh. Begitu!?” respon Min Sonsaengnim. “O, ya, nomor ponselnya masih yang dulu, kan!?”

“Ya~” jawab Jungkook, “Junmi Noona tidak pernah mengganti nomor ponselnya.”

Entah untuk keberapa kalinya Min Sonsaengnim mengangguk pagi ini. Ia lantas melanjutkan kembali sarapannya yang sempat tertunda akibat obrolan barusan. Sementara Jungkook pun sengaja tidak berbicara untuk sejenak, memberi kesempatan kepada gurunya untuk menikmati ramyeon-nya sambil menyusun kata-kata untuk menanyakan sebuah pertanyaan yang… yah, ia harap Min Sonsaengnim bisa memberikan sedikit informasi padanya tentang… masa lalu Junmi.

Ssaem, boleh aku bertanya sesuatu padamu?” tanya Jungkook terdengar hati-hati.

Min Sonsaengnim menelan ramyeon di dalam mulutnya terlebih dahulu sebelum berkata, “Ya. Mau tanya apa?”

“Eum… kau… teman Junmi Noona sejak SMA, kan?!”

“Tentu saja. Kau sudah tahu itu, kan!?”

“Kalau begitu…, apa… kau tahu pria bernama Kim Seokjin?”

Seketika raut wajah Min Sonsaengnim berubah. Tangan kanannya bergerak meraih teh botol di tengah meja, lantas meminum isinya sedikit. Sepersekian detik kemudian, ia menghela napas. “Ya. Tentu saja aku tahu,” jawabnya terkesan sedikit sinis. “Kenapa, hm?”

“Kau… bisa menceritakan sedikit tentang hubungan Seokjin dan Junmi Noona padaku, hm?”

Min Sonsaengnim menatap Jungkook untuk beberapa saat setelah ia meletakkan sumpit stainlees-nya di tepi mangkuk. “Ya,” jawabnya.

@@@@@

Sepulang sekolah, seperti biasa Jungkook langsung masuk ke dalam kamarnya. Meletakkan ransel di atas meja belajar, lalu melepas satu per satu seragam sekolah yang membalut tubuhnya, menggantinya dengan selembar kaos berwarna hitam dan celana panjang selutut bewarna biru dengan garis putih vertikal di kedua sisinya.

Pemuda berambut merah marun itu lantas membaringkan tubuh di atas tempat tidurnya. Menggunakan kedua tangannya sebai bantalan, menatap langit-langit kamarnya. Sepersekian detik kemudian, ia menghela napas. Pikirannya melayang pada cerita Min Sonsaengnim di kantin pagi tadi.

Dan kesimpulannya, kasus ketiganya ini memang lebih susah dari dua kasus sebelumnya. Setidaknya, dua kasus sebelumnya tidak memiliki sepenggal kisah masa lalu antara masing-masing target. Sementara yang ketiga ini? Parah! Kedua targetnya memiliki sekelumit masa lalu dengan seseorang yang sekarang ini telah menjadi makhluk bernama cupid.

“Ehm, ehm!”

Lamunan Jungkook terbuyarkan setelah suara deheman masuk ke dalam kedua lubang telinganya. Ia mengangkat sedikit kepalanya, melihat ke arah meja belajar dimana kedua matanya bisa melihat sosok berpakaian merah muda. Jungkook memutar kedua bola matanya, jengah, begitu tahu siapa yang menginterupsi lamunannya.

“Kalau kau mau bertanya sejauh mana kemajuan target ketiga, jawabanku adalah belum ada kemajuan,” ujar Jungkook tanpa melihat ke arah Jin yang duduk di kursi di dekat meja belajarnya. Malah kembali memandang langit-langit kamar.

Jin mengangkat sebelah alisnya. “Kenapa kau berkata seperti itu?”

Dalam satu kali gerakan, Jungkook mengambil posisi duduk, lantas menatap Jin dengan mata elangnya. “Ini semua karena kau, Kim Seokjin! Aku tidak bisa memaksakan diriku untuk menyatukan Junmi Noona dengan Min Yoongi karena noona-ku masih memiliki perasaan khusus padamu!”

“Jangan bicara yang tidak-tidak, Jeon Jungkook!” sergah Jin. “Mana mungkin Junmi masih memiliki perasaan padaku setelah apa yang pernah aku perbuat padanya! Tidak mungkin! Memangnya siapa yang bilang kalau Junmi masih memiliki perasaan khusus padaku, hm? Apakah dia sendiri yang bilang?”

Jungkook menghela napas. “Aku yang mengambil kesimpulan sendiri,” jawab Jungkook. “Setiap kali aku bertanya tentangmu pada Junmi Noona, ia pasti akan mengalihkan pembicaraan. Belum lagi cerita yang aku dengar dari Min Sonsaengnim.”

“Min Sonsaengnim?!” ulang Jin.

“Ya, Min Sonsaengnim. Guru akuntansi di sekolahku,” tutur pemuda berambut merah marun itu. “Kau masih ingat saat seorang guru yang menegurku saat aku memata-matai Gyeoul Sunbae di perpustakaan? Dia itu Min Yoongi, orang yang menjadi pasangan Junmi Noona. Teman Junmi Noona semenjak SMA!” jelas Jungkook dengan nada penekanan pada 5 kata terakhir.

“Teman… Junmi sejak SMA!?” ulang Jin sekali lagi.

Jin terdiam. Teman Junmi sejak SMA. Kalimat itu terngiang-ngiang di dalam kepalanya. Pelan-pelan membawanya pada suatu kejadian yang terjadi 6 tahun yang lalu. Ya, ketika ia masih berstatus siswa Paran High School.

Pagi itu, Seokjin terlihat memasuki gerbang Paran High School. Seperti hari-hari biasanya, banyak siswi yang berbisik-bisik atau tertawa centil ketika melihat Seokjin melintas di dekat mereka. Seokjin sudah terbiasa dengan semua itu. Tentu ia tahu betul bahwa… ya, ia tampan.

Seokjin nampak santai menyusuri koridor sekolah dengan telapak tangan kanan yang ia selipkan di saku celananya, sementara tangan lainnya memegang tali ransel yang tersampir manis di bahu kirinya.

Tidak jauh di depan pemuda tampan itu, terlihat Junmi yang juga berjalan menyusuri koridor. Kedua tangannya tampak erat memegang sebuah maket rumah yang terbuat dari stick es krim, tugas seni rupa yang harus dikumpul hari ini. Gadis itu tidak berjalan sendirian. Di sebelahnya ada pemuda manis bermata sipit yang sejak tadi terus mengajaknya bicara—tentu, pemuda itu juga memegang sebuah maket di tangannya.

“Aish! Maketmu bagus. Punyaku malah terlihat seperti gubuk!” komentar Yoongi, si pemuda manis, saat membanding hasil karyanya dengan hasil karya gadis di sebelahnya. Ya, tugas maket milik Yoongi bahkan—errr… bagaimana mengucapkannya?—tidak pantas disebut maket.

Junmi terkekeh mendengar komentar yang terucap dari mulut Yoongi. “Punyamu bagus. Yah, setidaknya bisa dapat nilai standar,” respon Junmi.

“Ish! Kau ini!” gerutu Yoongi. Sekali lagi Junmi terkekeh.

Di belakang, Seokjin masih santai berjalan menyusuri koridor. Melihat ke sekitar, memandang apa saja yang menarik untuk ia pandang, hingga…

“PLETAK!!!”

Seseorang tiba-tiba memukul kepalanya dari belakang, lantas berlalu mendahuluinya.

“HEI! JIN HYOSANG!” teriak Seokjin kesal saat tahu bahwa Hyosang, sahabatnya, yang memukul kepalanya dari belakang.

“JALANMU LELET SEPERTI PRINCESS, KIM SEOKJIN!” ledek Hyosang yang berada beberapa langkah di depan, menyempatkan diri memeletkan lidahnya ke arah Seokjin.

“Cih! Berani sekali kau memukulku, Slave! Awas kau!”

Seokjin sontak berlari mengejar Hyosang, sementara yang dikejar pun mempercepat larinya menyusuri koridor. Saking cepatnya Hyosang berlari, ada saat dimana ia nyaris tidak bisa mengontrol kecepatannya.

“Hei! Hati-hati!” tegur Yoongi ketika Hyosang melintas di sebelah Junmi, nyaris membuat gadis itu menjatuhkan maketnya, namun Hyosang tidak peduli. “Ck! Apa-apaan dia? Berlari di koridor!” gerutunya. “Kau baik-baik saja kan, Junmi?” cemas pemuda itu.

“Tidak apa, Yoongi, aku tidak baik-baik sa—uh, astaga.”

Seseorang tanpa sengaja menyenggol lengan Junmi dan berhasil membuat gadis itu menjatuhkan maketnya.

“PRAAKKK!”

Maket rumah yang terbuat dari stick es krim itu hancur berantakan di lantai koridor.

“HEI, KAU! BERHENTI!” teriak Yoongi kepada seseorang yang tadi menyenggol lengan Junmi.

Merasa dirinya yang dimaksud, Seokjin menghentikan larinya, lantas menoleh menghadap Yoongi. “Kau memanggilku?” tanyanya tanpa nada bersalah sedikit pun.

“TENTU SAJA!” bentak Yoongi. Kilatan emosi tampak jelas terpancar dari kedua mata sipitnya. “KAU MENJATUHKAN TUGAS TEMANKU!” tambahnya.

Seolah bukan perkara penting, Seokjin melihat ke arah Junmi yang berjongkok memungut sisa-sisa dari tugasnya, lantas melihat ke arah Yoongi, kemudian berkata dengan santainya, “Oh~”

Yoongi membulatkan kedua matanya. “Hei! Kenapa responmu santai seperti itu? Kau harus bertanggung jawab atas perbuatanmu!”

Seokjin melihat ke arah lain sekilas sembari memamerkan senyum sinisnya. “Bertanggung jawab untuk apa, hah? Bukan salahku benda jelek itu jatuh. Dia yang tidak memegangnya kuat-kuat!”

“Kau….” Yoongi mengepalkan tangan kanannya, bersiap menghampiri Seokjin untuk menghajar pemuda itu, namun… Junmi mencegahnya.

“Sudahlah, Yoongi. Aku bisa memperbaiki ini sendiri,” ucap gadis itu.

Yoongi menoleh ke arahnya. “Apa? Tidak bisa, Junmi-ya! Anak itu yang harus memperbaiki tugasmu!”

Sekilas, Junmi melirik Seokjin, mendapati pemuda itu memutar bola matanya, jengah. “Tidak usah. Aku bisa memperbaikinya. Ini masih bisa diperbaiki!”

Yoongi mendengus.

“Heh! Kau dengar apa yang dikatakan temanmu, kan!? Dia bisa memperbaikinya sendiri,” ujar Seokjin terkesan sinis.

Pemuda manis itu mengalihkan pandangannya pada Seokjin, lalu berkata, “Kalau begitu, kau harus minta maaf padanya!”

Seokjin tertawa samar. “Kau bilang apa? Minta maaf? Kau gila, hah!? Untuk apa minta maaf terhadap sesuatu yang bukan kesalahanku!? Bodoh!” Seokjin memamerkan senyum sinisnya sekali lagi, kemudian beranjak dari tempat itu.

“Apa-apaan anak itu? Kurang ajar sekali!” gerutu Yoongi kesal.

“Sudahlah, Yoongi. Abaikan saja.”

Yoongi kembali menolehkan wajahnya ke arah Junmi. “Aku tidak habis pikir, bagaimana bisa kau menyukai lelaki menyebalkan seperti Kim Seokjin!”

“Jin? Jin!? Jin!”

Suara Jungkook yang terdengar cukup nyaring di telinga, berhasil membuat Seokjin menyudahi petualangannya di masa lalu.

“Kenapa sejak tadi kau diam saja?” tanya Jungkook.

Jin menggeleng pelan, kemudian berkata, “Tidak. Tidak apa.”

Jungkook yang masih duduk di atas tempat tidurnya pun mengembuskan napasnya. “Junmi Noona masih merindukanmu, Jin~” desis pemuda itu.

Cupid itu menatap Jungkook lamat. “Kau benar-benar yakin dengan apa yang kau katakan?” tanya Jin terdengar sangsi.

Pemuda berambut merah marun itu mengangguk. “Yakin sekali.”

“Lantas kau mau bagaimana? Kau bilang kau tidak bisa memaksakan dirimu menyelesaikan misi ketiga ini. Kau harus ingat, Jeon Jungkook, waktumu tidak banyak lagi,” ujar Jin.

“Sebenarnya, aku punya rencana yang sejak tadi aku pikirkan, tapi…” Jungkook memilih untuk memberi jeda pada ucapannya.

“Tapi, apa?” tanya Jin antusias.

“… tapi, aku butuh bantuanmu,” jawab Jungkook. Jin nampak terkejut.

“Bantuanku?” ulangnya memastikan.

Jungkook mengangguk. “Hanya kau yang bisa membantuku kali ini, Jin~”

@@@@@

Waktu telah menunjuk pukul 5 sore. Setelah 8 jam berkutat di depan komputer, mengerjakan berbagai macam perintah dari bosnya, akhirnya Junmi dan rekan-rekan sekantornya yang lain pun bisa pulang ke rumah.

Gadis berambut sebahu itu terlihat berjalan keluar dari sebuah gedung di kawasan Mapo-gu. Mengayunkan langkahnya melintasi halaman gedung menuju halte yang tidak jauh dari tempat itu. Hah, hari ini dia benar-benar lelah. Langsung pulang ke rumah adalah satu-satunya hal yang ingin ia lakukan.

Tapi…

“Ddrrtt… ddrrtt…”

Sebuah pesan masuk ke dalam ponselnya. Bergegas gadis itu merogoh saku blazer ungu mudanya, mengeluarkan ponsel touchscreen yang dilayarnya tertera tulisan: one message received.

Uh? Jungkook?

From: Jungkook

“Noona, jika kau sudah pulang, tolong temui aku di taman dekat rumah sekarang.”

Junmi meliukkan kedua alisnya. Untuk apa anak itu memintaku bertemu di taman dekat rumah? Aneh!

To: Jungkook

“Untuk apa? Kita bisa bertemu di rumah.”

From: Jungkook

“Aku ingin bertemu dengan Noona di taman. Penting!”

Junmi mengembuskan napasnya. Oh, ayolah, kenapa Jungkook bersikap seperti ini di saat ia sedang benar-benar merasa lelah?

To: Jungkook

“Baiklah. Aku ke sana sekarang.”

Terpaksa, Junmi menuruti permintaan adik sepupunya itu.

Sekitar beberapa menit kemudian, Junmi mendapati dirinya duduk di salah satu bangku yang berada di taman dekat rumahnya. Baru saja gadis itu mengirim pesan kepada Jungkook yang berisi bahwa ia sudah berada di taman, sedang menunggu pemuda itu.

“Aish! Jungkook dimana?” gerutunya pelan.

Jungkook tak kunjung menunjukkan dirinya meski Junmi telah duduk di bangku itu selama 10 menit lamanya. Tepat di saat gadis itu hendak menghubungi Jungkook, sebuah suara berhasil menghentikan niatnya.

“Jeon Junmi?”

Gadis itu menoleh, namun seketika kedua matanya membulat begitu melihat siapa pria yang menghampirinya.

“Kau…?”

-TaehyungBelumCebok (^/\^)-

Anditia Nurul ©2014

-Do not repost/reblog without my permission-

-Do not claim this as yours-

Also posted on author’s personal blog (Noeville) & Read Fanfiction / Fanfiction Side

A/N2:

Annyeong~

Apa kabar kalian semua?

Gimana libur lebarannya?

Lebaran kemarin dapat THR berapa? Hehehe. Gegara aku udah selesai kuliah, dapat THR-nya cuma dikit T.T *kenapa curhat di sini?*

Btw, di postingan sebelumnya, aku udah minal aidin wal faidzin-an(?), ya!? Tapi sekarang mau minal aidin wal faidzin lagi… hehe. Maafin kesalah saya selaku author yang suka telat balas komennya, telat nge-post, dan kesalahan-kesalahan lain yang gak bisa saya sebutkan satu-satu. Pokoknya saya minta maaf. Dimaafin ya~~~

Oia, jangan panggil saya ‘Thor’ ya. Saya gak seseram(?) tokoh ‘Thor’ kok mukanya. Panggil Kak atau Eonni aja biar kesannya akrab gitu (ngomong-ngomong, saya *uhuk* 92 line *uhuk… tua*).

Buat yang dari 2 minggu lalu nunggu (ada yang nungguin gak sih?), nih… chapter 5-nya. Hope you like it. Leave your comment, please. I’m waiting ^^

About fanfictionside

just me

13 thoughts on “FF/ 30DAYS CUPID/ BTS-BANGTAN/ pt. 5

  1. junmi ketemu yoongi ya ‘-‘
    ending nya jungkook ama shina kan ya? pokoknya jungkook harus ama shina/? eh taehyung-shina jg gapapa😄
    masih penasaran bgt ama masa lalunya jin-junmi-yoongi wkwkwk

  2. akhirnya update juga part 5 nya eonni, ^^ seriusan sebel ihh sama tingkahnya kookie ke shina yang so cuek itu hohoho padahal kookie cemburu kan liat shina-tae deketan kkk~
    Berharap Junmi sama Jin deh, jangan sama suga entar aku jealous kkk~ semoga ada keajaiban,dimana Jin berubah jadi manusia lagi.. dan hidup bahagia sama Junmi ^^ next part ditunggu eonni ♡

  3. Hallo eonni aku reader baru^^ , eonni ceritanya seruu bangett aku suka sama jalan ceritanya , cara nulisnya kerenn feel nya dapet banget . Daebak eon , lanjutkan eon and keep fighting^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s