FF/ TOMORROW/ BTS-BANGTAN/ pt. 5


Title : Tomorrow(Chapter 5)

Author : Elsa Kim -00-

Cast :

Kim Seok Jin

Kang Hye Ri (OC)

Min Yoon Gi

Han Jae Gil /Song Mina (OC)

Choi Se Ra (OC)

Jung Ho Seok

Kim Ha Ni (OC)

Park Ji Min

Cha Eun Mi (OC)

Jang Na Ra (OC)

Im Ji Hyun (OC – soon)

Kim Tae Hyung

Jeon Jung Kook

Jeon Jung Hee (OC – soon)

Kim Nam Joon

Support Cast : Min Ji Seok (Ceo Min Ji group/Yoongi father/Jin step-father), Han Jae Moo (Jae Gil father), Lisa Lang, Naomi Lang, Jung Hyo Jin (Ceo Ho Min group/Hoseok mother), Other coming soon.

Length : Chapter

Genre :NC, Sad, Romance, Drama, Friendship, Family, little bit Comedy.

Rating : PG 17

Tomorrow-poster-ch5

Warning! Mengandung unsur typo, kalimat berentet rentet, kalimat susah dimengerti, dan alur yang terkadang melenceng.

I Love Everything About You Except The Fact That You‘re Not Mine

_______________________________________________________________

Prev; Chapter

Tae Hyung mendengus malas, dia melipat tangannya didepan dada. “dengar ya, aku tidak akan memberikan informasi itu pada kalian. Jika kalian mau kalian harus membayarnya.”

“berapa kami harus membayarnya?”ujar Ji Min cepat. Dia tidak ingin memperpanjang masalah lagi.

Kedua sudut bibir Tae Hyung terangkat, dia menaikan sebelah alisnya dan tersenyum misterius.Tae Hyung menunjuk Ji Min dan Eun Mi secara bergantian.

“kalian berdua harus bekerja disini selama 1 bulan”

 

5th Chapter!

Entah yang keberapa puluh kalinya Eun Mi hanya bisa mendengus sebal. Dengan tidak niat ia mengelap salah satu meja caféitu dengan serbet merah mudanya sesekali meniup poninya kasar.

Ia benar benar tak habis fikir, bagaimana bisa Ji Min dengan bodohnya menerima tawaran itu. Akan lebih baik jika aku tadi memukulnya dan memaksanya agar mau memberi rekaman itu.batin Eun Mi.

Ia melirik kearah Ji Min yang tengah mengelap kaca tentunya dengan Naomi yang benar benar seperti permen karet yang memaksa untuk menempel pada tubuh lelaki itu.

Karena kesal, Ji Min menarik tubuhnya agak jauh yang membuat bocah tersebut agak terhuyung kedepan.Jika salah satu kaki mungilnya tidak bergerak refleks untuk menahan berat badannya, pasti dia sudah jatuh tersungkur dilantai sekarang.

Ji Min mendelik lalu melipat tangannya didepan dada, “hey hey hey, bisakah jauh sedikit?Kau menempeliku terus hampir setengah hari.”

Naomi menunjukan cengiran lebarnya, dia sedikit berjinjit untuk menggapai lengan lelaki tersebut lalu merangkulnya erat.Walaupun bisa dibilang Ji Min itu pendek, tentu lebih pendek Naomi.

“ayo kita keluar sebentar oppa, kita sudah bekerja keras.”

“kita? Yak ima, sedaritadi kerjaanmu hanya menempeliku. Apa itu yang dimaksud kerja keras?”

Naomi mengerucutkan bibirnya, “tentu saja!Aku bekerja keras untuk mendapatkan oppa heheh.”

Ji Min menatap bocah kelas 5 itu nanar, dia menggelengkan kepalanya sambil menatap Naomi malas. “oppa, ayolah.”

“shireo, aku tidak akan pergi.”

“oppa!”rengek Naomi.

Ji Min mendelik kesal, ia menutup kedua telinganya lalu menggeleng keras sambil berteriak. “aku tidak mau dengar lalalalalalalalalalala.”laluia berlari pergi sejauh mungkin yang dia bisa dari Naomi.

Dengan cepat Naomi menyusul Ji Min keluar café dengan cengiran manisnya, ia telah mengira bahwa Ji Min sudah setuju mengantarnya ke kedai es krim didepan.

Sementara itu, Eun Mi menatap kepergian dua insan itu. Lagi-lagi ia meniup poninya kasar, mencoba melampiaskan amarahnya lewat sana. “Bagaimana mungkin mereka pergi begitu saja, dasar orang orang idiot ishhh.”

Eun Mi melempar serbet tersebut kelantai dan menginjaknya.Ia meraih jaketnya berniat menyusul kedua orang yang baginya sangat menyusahkan itu.

baru ia hendak memakai jaketnya, ia merasakan seseorang mengambilnya. Lelaki itu, Kim Tae Hyung dengan angkuhnya menatap Eun Mi datar dan tangannya memegang jaket hitam gadis itu.

Tae Hyung menatap selidik Eun Mi sambil sedikit mencondongkan badannya kearah Eun Mi. “kau, mau kemana?”

Perlahan badan Eun Mi sedikit menjauh karena Tae Hyung terus mencondongkan badannya kearahnya yang membuat badan mereka akan menempel jika Eun Mi tidak segera menjauh. “aku sudah selsai”

“siapa bilang?”

“kau sendiri, apa yang kau lakukan disini?”

“aku sedang mengawasi karyawanku yang sedang bekerja.”

“karyawan? Kata siapa aku karyawanmu?!!”

“kata aku barusan.”

Eun Mi mendelik,ingin rasanya ia memukul lelaki itu sekarang. Jika saja kalo bukan soal rekaman cctv ada pada lelaki itu, Eun Mi tidak akan mati matian menahan rasa amarahnya sekarang.

“terserah kau saja!”ucap Eun Mi cepat kemudian pergi kedalam dapur meninggalkan Tae Hyung yang tengah tersenyum miring menatap kepergiannya.

***

Mina membereskan berkas berkas yang sudah selsai ia periksa, ia berjalan keluar ruangannya untuk memberikan berkas keuangan 2 tahun terakhir itu untuk diberikan kepada presiden Min sesuai permintaannya.

Disisi lain, Yoongi berjalan di koridor kantor menuju kamar mandi, langkahnya terhenti ketika melihat ayahnya tengah berbicara pada seseorang yang sedang membelakanginya. Niatnya menyapa ia lupakan begitu saja.

Perlahan ia mendekat dan bersembunyi dibalik dinding untuk mendengar percakapan ayahnya dengan orang misterius tersebut.

“dimana foto gadis itu? berikan padaku.”

“tentang itu, saya belum bisa-”

“sudah cepat berikan!”

Dengan ragu lelaki yang membelakangi Yoongi itu memberikan selembar foto seorang gadis cantik yang tengah duduk di café sambil tersenyum.Yoongi mengerinyitkan dahinya, ia mencoba menajamkan matanya untuk melihat orang dalam foto tersebut.

Seketika kepalanya terasa amat pusing, entah kenapa memori memori kabur mulai bermunculan diotaknya.

Entah sejak kapan Yoongi terduduk dilantai sambil memegangi kepalanya dengan kedua tangannya.Ia meremas rambutnya untuk menetralisir rasa pusing yang teramat dibagian kepalanya.

“kau tidak apa apa?”

Samar samar Yoongi dapat melihat seseorang menyentuh bahunya, semakin lama sosok itu semakin buram dan akhirnya semuanya gelap.

***

Seorang gadis tengah mengompres dahi Yoongi dengan air panas.Ia menatap lelaki berkulit pucat didepannya selidik. Entah kenapa wajahnya begitu tenang saat tertidur.

Satu hal yang ia bingung saat ini, apa yang sebenarnya terjadi pada lelaki itu sampai ia jatuh pingsan?

Belum rasa penasarannya terjawab, Yoongi perlahan membuka kedua kelopak mata sipitnya.Ia menatap gadis didepannya bingung.

“bagaimana bisa aku berada disini?”

“sudah merasa baikan?”

“yang kutanya bagaimana bisa aku berada disini? Kau direktur baru itu kan, Song Mina?”

“kau sangat memperhatikanku, direktur Min.”

Yoongi tertawa remeh, kemudian ia bangkit pergi dari ruangan Mina tanpa mengatakan sepatah apapun lagi.

Sementara itu, Mina menatap kepergiannya dengan senyuman miring yang terhias diwajahnya. “aku minta maaf, tapi sepertinya kau harus dikorbankan, Min Yoongi.”

***

Yoongi berjalan menuju kamar mandi, ia menatap pantulan dirinya dicermin. Ia mengeluarkan ponsel putih tersebut disakunya kemudian menatapnya lamat.

“bodoh.”gumamnya.

Ia meletakan ponsel tersebut dimeja wastafel. Fikirannya tidak fokus, “aku pasti benar benar gila sekarang.Kenapa aku tidak bisa ingat?”gumamnya pelan.

Dengan kasar ia melonggarkan ikatan dasinya, ia menggulung lengan kemejanya kemudian membasuh wajahnya dengan kedua tangannya. Setidaknya mungkin sekarang lebih baik.

Yoongi kembali menatap pantulan wajahnya yang basah dicermin tersebut, ia mengelap wajahnya kasar dengan sebelah tangannya.

“aishh”Yoongi meninju cermin itu sampai pecah berkeping keeping, tangannya memerah akibat pukulan yang ia lontarkan pada cermin yang tak bersalah itu.

Ia merasakan ponselnya bergetar didalam saku celananya, dengan helaan panjang ia merogoh sakunya, unknown number, dengan malas ia mengangkat panggilan tersebut.

“yoboseo?”

“Min Yoongi?”

“siapa ini?”

“ini Song Mina.”Yoongi mengerinyitkan dahinya heran.Bagaimana bisa gadis itu mendapatkan nomor ponselnya?

“aku sedang tidak mood berbicara denganmu. Soal tadi, aku akan bertrimakasih lain kali.”baru Yoongi hendak menutup panggilan tersebut, dengan cepat Mina berbicara.

“bisakah kita bertemu?”

“tidak bisa.”

“kau sibuk?Bahkan kau belum pulih seutuhnya.”

“tidak juga.”

“kalau begitu mari bertemu di café depan kantor. Aku tidak menerima penolakan, tuan Min. anggap saja sebagai balas budi saat aku menolongmu tadi. Kututup.”

Yoongi menjauhkan ponselnya pada telinganya setelah panggilan itu diakhiri secara sepihak oleh Mina.Tak lama setelah itu ponselnya kembali bergetar singkat tanda ada pesan masuk.

From : xxx number

Aku tidak selamanya menunggumu, tuan Min. Hanya diam dan datang. Aku memiliki informasi yang sangat harus kau ketahui, tentang masa lalumu.

Yoongi berdecak malas.Ia bergegas keluar, meninggalkan ponsel putih tersebut dimeja wastafel saking buru-burunya. Didepan pintu toilet, Yoongi menabrak Hoseok yang ternyata baru ingin masuk kedalam toilet tersebut.

Ia tidak mengidahkan tatapan aneh lelaki berpipi tirus itu melainakan berlari sekencang kencangnya menuju tempat yang Mina maksud.

Setelah Yoongi berlalu, Hoseok segera masuk kedalam toilet. Sebuah ponsel diatas meja wastafel menarik perhatiannya, ia meraih ponsel tersebut lalu menatap keluar toilet.

***

Entah sudah yang keberapa jam Hye Ri terus bediam diri didalam kamar, ia benar benar masih merasa canggung untuk bertemu dengan Jin setelah kejadian kemarin dimana saat Jin menciumnya.

Hal yang paling ia rutuki adalah kenapa ia tidak bisa menolak saat Jin menciumnya?

Kejadian itu benar benar membuatnya hampir gila.Ia menggelengkan kepalanya kuat, menepis semua pikiran aneh yang ada dikepalanya. Entah kenapa jantungnya bergetar begitu cepat ketika mengingat kembali kejadian itu.

“tidak tidak, ini tidak mungkin.”gumamnya.

Cklek..

Hye Ri sedikit terlonjak ketika mendapati Jin tiba tiba membuka pintu –yang menurutnya –tanpa diketuk terlebih dahulu.

“aku membawakan ini untukmu. Apa kau sakit?”

“iyakurasa aku benar benar sakit sekarang.”gumam Hye Ri pelan.

“apa kau mengatakan sesuatu?”

“ahh tidak tidak, tidak ada.”

“begitukah? Aku akan meletakannya disini.”Jin meletakan nampan berisikan semangkuk bubur panas dan air diatas meja dekat tempat tidurnya.

Entah kenapa suasana sangat canggung, Jin menggaruk tengkuknya yang tidak gatal kikuk sementara Hye Ri sama sekali tidak berani menatap kearah Jin.

“tentang itu.. aku-”

“tidak apa apa.”potong Hye Ri cepat. Dia menelan salivanya kuat kuat, embun embun keringat mulai bermunculan didahinya. “m-maksudku aku ti-tidak sakit. Kau tidak perlu khawatir.”

“kalau begitu, aku akan mengambil kembali ini.”Jin berlari kecil menuju nampan yang tadi ia bawa, Hye Ri berbalik kemudian menggeleng sambil menggerakan kedua tangannya kekanan dan kekiri.

“ti-tidak, tidak bukan itu maksudku. Aku tidak bermaksud menolak itu.”

Sial. Entah kenapa mata Hye Ri langsung menuju ke bibir Jin, bibir yang semalam menyentuh lembut bibirnya. Ia kembali merasakan tenggorokannya kering. Matanya tidak bisa lepas memandangi bibir indahnya.

Jin yang merasa ada yang aneh dengan Hye Rilantas bertanya, “kau lihat apa?” Hye Ri baru tersadar. Ia langsung mengalihkan pandangannya ke mata Jin. Jantungnya berdebar lebih kencang dari sebelumnya ketika menatap tepat dimanik mata lelaki itu.

“b,b-bukan apa apa. Hehh, a-aku hanya..aku.. aku hanya..”

“hanya?”

“aku-. Aku-, aku harus ke kamar mandi heheh.Iya.Aku permisi.”baru Hye Ri hendak berlari, Jin menahan lengannya. Ia kembali meneguk salivanya.

“kamar mandi disebelah sana.”

Hye Ri memukul dahinya pelan, dia nyengir kikuk kemudian berbalik arah, meninggalkan Jin yang masih bingung akan sikapnya.

Hye Ri terus berlari menuju kamar mandi lalu menguncinya. Ia menyenderkan kepalanya pada pintu kamar mandi lalu memukul kepalanya, “tidak tidak, ini hanya salah paham. Ya, hanya salah paham.Sadarlah.”

Ia menghela nafas panjang dan terus meyakinkan dirinya bahwa ini hanya salah faham sambil terus memegangi kedua belah pipinya.

***

Mina mengaduk aduk malas Cafe Lattenya dengan sendok kecilnya sambil memandang keluar.Ia melirik arlojinya, sudah 15 menit tapi orang yang ditunggu tidak kunjung datang.

Triinggg…

Lonceng café berbunyi menandakan ada pelanggan yang masuk.Disana, Yoongi tengah terengah mencari sosok Mina.

Mina mengangkat sebelah tangannya. “I’m here.”

Deg.

Deg.

Deg.

Ia merasakan ribuan bahkan puluhan juta jarum menusuk kepalanya. Sekelebat bayangan kabur kembali muncul didalam kepalanya.Ia ingat, ia pernah berada disini sebelumnya sambil melambai kearah gadis yang tengah terduduk sambil tersenyum manis.

Ia menggelengkan kepalanya, mencoba menghilangkan memori memori kabur itu.

“hey, mr. Min. Aku disini.”ucap Mina sedikit berteriak karena merasa ia tidak digubris sama sekali.

Perlahan Yoongi mengangkat kepalanya, “kau..”

“ada apa denganmu?”

“tidak, tidak ada. Katakan sekarang apa yang kau ketahui.”

“duduklah terlebih dahulu.”

Perlahan Yoongi meletakan bokongnya pada sofa empuk perwarna merah marun itu.kini ia menatap Mina serius, yang ditatap hanya asik memainkan gelas coffeenya.

“mau pesan sesuatu?”

“kubilang cepat dan katakan. Jika itu hanya omong kosong aku akan pergi sekarang.”

“tch, pergi? Bahkan dengan kepergianmu kau tidak akan mendapat informasi sama sekali. Lebih baik pesan sesuatu dan aku akan memberitahunya sambil duduk santai.”Mina menyodorkan daftar menu.

Yoongi membuang tatapannya.Ia menggeram kesal, lalu menunjuk asal. Mina tersenyum sekilas, ia bangkit menuju meja kasir.

“2 Iced Americano Regular.Dan 1 Bacon Crouton Salad.”

“totalnya 10,600 won.”

Mina meraba sakunya, dia melirik Yoongi yang tengah sibuk melamun. “psttt, tuan Min. bisakah kupinjam uangmu dulu? Aku tidak bawa dompet.”

Yoongi mendengus malas, “yang benar saja.”kemudian ia melempar dompetnya kearah Mina dan dengan sigap gadis itu menangkapnya.

Mina tersenyum tipis lalu mengambil beberapa lembar uang dan memberikannya pada kasir. “jika ini bergetar segera ambil pesanannya, silahkan datang lagi.”

Mina mengambil alat itu lalu meletakannya dimeja.“jadi, darimana kita harus mulai?”

Yoongi menatap Mina malas. “terserah kau saja. Bisakah percepat sedikit?Aku bukan tipe orang yang semudah itu menyia-nyiakan wakatu.”

Mina balik menatap Yoongi, “Kang Hye Ri, nama gadis itu bukan?”

***

Se Ra menatap Hye Ri dan Jin bergantian. Tidak seperti biasanya Jin dan Hye Ri saling diam. Dia menatap mereka berdua penuh selidik.

Yang ditatap hanya memasang tampang ‘pura-pura tidak tahu’. “apa yang sebenarnya terjadi?”

“NE??!”ucap mereka berbarengan. Mereka memandang satu sama lain kemudian kembali membuang muka.

Se Ra mengerinyitkan dahinya, “kalian tampak mencurigakan.”

“mencurigakan apa? Ahjuma jangan berbicara macam macam.”sambar Lisa tiba tiba. Ia duduk disebelah Se Ra kemudian memukul mukul meja dengan kedua tangannya.

“aku lapar.”

“ahh baiklah, aku akan membuatkannya untukmu.”ucap Hye Ri bersemangat.

“tidak tidak, kau istirahat saja. Aku yang akan membuatkannya untuk Lisa.”

“tidak tidak tidak apa apa. Aku yang akan membuatkannya.”

“kau terlihat pucat, lebih baik kau istirahat dan aku yang akan membuatkannya.”

“YAK!!Apa ini kontes adu ngomong? Kenapa kalian ribet sekali”omel Se Ra dengan nada banmalnya.Dia menarik salah satu ikatan rambut Lisa, “ayok makan, aku yang traktir.”

“yyaakk ahjuma! Sakit.”

Merekapun keluar dari rumah. Baru Hye Ri hendak masuk kedalam kamar, Jin menahan lengannya. Jantungnya terasa berdetak lebih kencang.

“bisakah kita hentikan ini semua? Tentang itu, aku benar benar minta maaf.”

Hye Ri terkejut ketika menyadari sebuah pelukan hangat memeluk tubuhnya dari belakang. Jin sedikit menunduk untuk meletakan dagunya pada bahu Hye Ri.

Jin mengeratkan pelukannya, “jangan hindari aku lagi, itu membuatku tidak nyaman.”

Entah kenapa lidahnya terasa kelu, ia tidak sanggup menolak maupun membalas setiap kata yang terlontar dari mulut Jin. sekujur tubuhnya terasa membeku seketika. Terlebih saat ia bisa merasakan deruan nafas Jin serasa meniup tengkuknya yang membuatnya merinding.

***

Lisa menatap Se Ra kesal, ia menyilangkan tangannya lalu menggeleng kuat. “ahjuma! Aku masih kecil, kenapa membawaku ketempat seperti ini?Disini sangat berisik.”

Se Ra menjitak kepala Lisa kencang yang membuat bocah itu meringis, “kau diam saja.Minum ini.”

“ini untuk orang dewasa. Oppa bisa membunuhku jika ia tahu.”

“jika dia membunuhmu aku yang akan membunuhnya duluan. Ini hanya wine.”

Lisa mendelik, ia menggeleng, “aku yang akan membunuh ahjuma jika berani macam macam pada oppaku.Sebenarnya ahjuma ini kenapa sih?Kok sangat aneh sekali.”

“aishh jika tidak mau letakan saja disana. Nih untukmu.”Se Ra menyodorkan sebatang eskrim pada Lisa, tentu ia tidak akan menolak dan langsung melahap es krim itu dengan rakusnya.

Sementara Lisa asyik menghabiskan es krimnya, Se Ra sibuk membuatkan pesanan kepada pengunjung.

Semakin malam pengunjung semakin banyak.Dentuman music terasa sampai ke jantung. Se Ra melirik Lisa yang tengah tertidur, dengan hati hati ia menyeretnya kedapur lalu menyelimutnya agar dapat tidur dengan nyenyak.

Saat ia kembali seorang lelaki berkacamata tengah duduk, ia membuka kacamatanya lalu menatapnya angkuh. “1 Screwdriver, nona.”

Se Ra menggeram, dengan malas ia mengambil gelas lalu mencampurkan vodka dan orange juice kedalam gelas tersebut. Setelah selsai ia menyodorkan pada pelanggan itu.

Pelanggan lelaki itu tersenyum miring, ia meneguk habis minuman itu kemudian menyodorkan kembali gelas gosong tersebut.

Se Ra melipat tangannya didepan dada, “sebenarnya apa maumu, ahjusshi mesum?”

Lelaki itu menggaduh pelan, tak terima dirinya disebut sebut sebagai ahjusshi mesum.Dia menyodorkan tangannya, “berikan ponselku.”

“mwo?”

“Terakhir aku mengunjungi bar ini, ponselku tertinggal. Berikan sekarang.”

“ponselmu? Ahh benar, ada dirumahku, maksudku dirumah pacarku.Jika kau ingin mengambilnya kau harus tunggu sampai bar ini tutup.”

“apa apaan, ambil sekarang juga.”

“shireo, ambil saja sendiri kalau mau.”Se Ra menjulurkan lidahnya lalu dengan angkuh meninggalkan lelaki berpipi tirus itu sendirian.

Lelaki itu mendengus, “sampai jam berapa aku harus menunggumu, hah?!?”

***

Yoongi mengepalkan tangannya erat, dengan kasar ia menghempaskan badannya kekasur king size miliknya. Penjelasan Mina benar benar tidak masuk akal baginya, tapi menurut pendapat Mina inilah kenyataannya.

Kata kata Mina masih terngiang dikepalanya yang membuatnya hampir gila setengah mati.

*flashback

“Kang Hye Ri, nama gadis itu bukan?”

Perlahan pandangannya terfokus pada Mina, menanti setiap kata yang akan terlontar dari bibir mungilnya. Mina tersenyum puas, sepertinya semua ini akan sangat seru -baginya-.

Alat itu bergetar, ia tersenyum sinis, “aku akan mengambilnya.”Mina bangkit lalu mengambil pesanan itu lalu meletakannya dimeja tempat dimana ia dan Yoongi duduk.

“apa kau suka salad? Aku butuh bantuanmu untuk menghabiskan ini.”

“apa kau mempermainkanku sekarang?”

Mina mengangkat kepalanya, tatapan lelaki itu begitu tajam. Entah apa yang membuatnya malah tersenyum seperti menantang lelaki itu, “ani, bahkan aku belum memainkan permainan yang sebenarnya.”

“aku sama sekali tidak berniat untuk bermain denganmu.”baru Yoongi hendak bangkit, kata kata Mina berhasil melumpuhkan seluruh tubuhnya.

“gadis itu, dia sudah mati, karenamu.”

“tidak mungkin. Jangan mengatakan omong kosong atau kubunuh kau.”desis Yoongi tajam.

Mina tersenyum miring, “dia mati karena ayahmu, waktu itu dia hendak memisahkan kalian dan kau juga ikut terseret dalam ini.Disaat kau sudah tidak bisa berlari, bukan berarti gadis itu selamat.Ia tertabrak mobil dan sekarat. Lalu mati.”

“hentikan!”Yoongi menutup kedua telinganya, memori kabur itu lagi lagi memenuhi isi kepalanya.Rasa pusing membuat kepalanya serasa ingin pecah.

Tapi Mina terus saja melanjutkan omongannya sampai ke titik klimaks. Tidak segan segan ia memberikan makian pada Yoongi karena membuat seseorang mati.

Seluruh tubuh Yoongi bergetar, Mina benar benar membuat seluruh tubuhnya mati rasa.Keringat dingin mulai mengucur dari dahinya.Tanpa disadari sebulir airmata mengalir dibagian pipi kanannya.

“tolong hentikan.”ucapnya dengan suara bergetar.

Entah kenapa mulutnya yang tadinya asyik berceloteh ria kini tertutup rapat melihat lelaki didepannya benar benar sakit sekarang. Otaknya memerintahkan untuk lebih membuatnya menderita, tapi entah kenapa hatinya merasa iba padanya.

“kau sakit? Ingin kuantar?”mungkin kali ini hati nuraninya yang menang, tapi lain kali ia tidak akan membiarkan itu terjadi untuk yang kedua kalinya.

*flashbackoff

Yoongi menggeleng, “tidak dia tidak mati, ini tidak mungkin.Ya, itu pasti hanya omong kosong.”gumamnya sambil menatap langit langit kamarnya. Perlahan matanya tertutup.

***

Ha Ni menatap ponselnya lamat, “oppa kemana ya? Kenapa belum pulang, membuat orang khawatir saja.”maki Ha Ni pada ponselnya.

“apa aku harus menelfonnya?”tanyanya pada diri sendiri.

Dengan cepat ia menelfon angka 1 yang langsung menghubungkannya dengan kakak lelakinya, tak lama setelah nada sambung terdengar kakak lelakinya langsung mengangkat telfonnya.

“oppa? Kau dimana?Apa masih banyak tugas?”Tanya gadis berambut lurus itu bertubi tubi.

“sepertinya oppa tidak akan pulang malam ini, jangan lupa mengunci pintu.”

“mau kubawakan sesuatu ke kantormu?”

“tidak usah, lebih baik kau tidur sekarang. Kau pasti lelah bekerja seharian.”

“shireo, aku akan kekantormu sekarang. Sampai nanti.”

Ha Ni langsung menekan tombol merah pada ponselnya. Dia tersenyum tipis lalu berjalan menuju kulkas dan membukanya. “coba kita lihat ada apa disini?”

***

Lelaki itu-Hoseok dengan malas memainkan kerikil kerikil kecil dengan ujung sepatunya.Ia melihat arlojinya, menunjukan pukul 4 pagi. Ia memasukan tangannya kedalam sakunya lalu mengeratkan jaketnya.

“kenapa dingin sekali bzzzz.”

“tidak apa, demi ponsel. Ya, demi ponsel.Tunggu, kenapa aku seperti orang gembel?Tidak tidak, ini namanya bukan orang gembel tapi pengorbanan.”

Se Ra yang baru keluar sambil menggandeng Lisa yang tengah menguap lebar hanya geleng geleng kepala melihat lelaki didepannya yang menurutnya seperti orang gila. Bagaimana tidak, ia berbicara sendiri, menyangkal sendiri, dan membenarkan sendiri.

“ahjuma, aku mengantuk.”ucap Lisa sambil menutup mulutnya dengan sebelah tangannya karena terus menerus menguap.

Ucapan Lisa membuat Hoseok menoleh, ia menatap Se Ra dan Hoseok bergantian. Lisa yang melihat lelaki didepannya langsung memelototkan mata, rasa kantuknya menghilang begitu saja. “ahjusshi nuguseyo?”

“kau siapa?”

“aku-.”baru saja Lisa hendak mengatakan namanya, Se Ra langsung menyumpal mulutnya dengan lollipop. “dia anakku, dengan pacarku.”

Lisa yang terlalu asyik mengulum lollipop sehingga tidak mendengar dan tidak mau mendengar percakapan mereka.

“kau- memiliki anak? Dengan pacarmu?Yyaak, bukankah itu dilarang melakukan ‘itu’ dengan orang yang belum kau nikahhi?!?”

“melakukan apa?”Tanya Lisa tiba tiba.

Se Ra mendelik kesal, ia menutup kedua lubang telinga Lisa lalu berbisik. “jangan dengarkan ahjusshi itu, dia orang cabul.”

“cabul?”

“iya, dia bisa menerkamu kapan saja. Seperti harimau.”

“ahjuma, jangan main main. Aku takut.”

“jika kau tidak ingin diterkam olehnya kau harus berpura pura menjadi anakku karena jika kau anggota keluargaku dia tidak akan macam macam.”

“tunggu, kau sangat mencurigakan ahjuma.”

“jika tidak mau yasudah, aku tidak bisa menjamin kau pulang dengan selamat.”

“ahh baiklah baiklah. Aku akan memanggilmu eomma.”

“baiklah, apapun yang kukatakan hanya membenarkannya saja dan kau akan pulang dengan keadaan selamat. Oke?”

Merasa dirinya hanya dibiarkan begitu saja, Hoseok memisahkan kedua insan yang tengah bisik membisik itu.“hey, bisakah berhenti acara bisik bisikan? Jawab pertanyaanku cepat.”

Se Ra melipat tangannya didepan dada, dengan cepat Lisa mengikuti apa yang Se Ra lakukan. “pertanyaan apa?”

“iya pertanyaan apa? Ahjusshi cabul, jangan dekat dekat dengan eommaku.”

Hoseok membelakan matanya, dia menarik Se Ra kasar agar sedikit menjauh dari Lisa. “yya, apa kau menceritakan hal semacam itu pada anakmu?”

Se Ra menaikan sebelah alisnya, “hal semacam apa?”

“yya, jangan memojokanku!”

Se Ra mendengus kesal, “siapa yang memojokan siapa.”

“jangan bahas kejadian kemarin.”

“aku tidak membahasnya.”

“jelas tadi kau bilang memojokan.”

“berarti kau ingat saat kau melakukannya, hah?!?”

Skak mat.Hoseok terdiam, diamnya Hoseok menandakan bahwa itu adalah kebenaran.Dengan cepat Se Ra memukul menendang bahkan menjambak rambut lelaki itu.

“yyakk, sakit awww serius ini sangat sakit.Awww aww yyakk!!”

“dasar cabul ugh terima ini.”

“oke oke aku minta maaf, bisa hentikan? Benar benar sakit tahu.Lihat, anakmu dia terbang.”baru saja Se Ra hendak mengalihkan pandangannya, Lisa lansung berkata, “aku bukan superman ahjusshi.” Yang membuatnya tambah memukuli Hoseok.

“sudah cabul pembohong. Dasar!”

Hoseok menangkap kedua lengan Se Ra, “cabul?” perlahan badannya mulai mendekat yang membuat Se Ra berjalan mundur hingga badannya sudah benar benar terpojok.

Hoseok menatap Se Ra tajam, “bagaimana jika aku benar benar cabul?”

Se Ra membalas menatap lebih tajam lelaki berpipi tirus itu, “berarti kau ingin aku memotong bagian privatmu lalu kujadikan sup daging.”

“yyaahhh, bagaimana bisa seorang gadis berbicara seperti itu?”

“aku bukan gadis lagi, ahjusshi. Sekarang mundur sebelum aku benar benar memakan mentah bagian ‘itu’mu.”

Hoseok menelan ludahnya,perlahan ia mundur beberapa langkah untuk memberikan Se Ra jalan. Se Ra menuntun Lisa yang tengah terkantuk kantuk untuk berjalan pulang.

Se Ra berbalik menatap Hoseok yang masih diam ditempatnya, “apa yang kau lakukan?Kau tidak ingin ponselmu kembali?”

“ahh baiklah, aku datang.”

Seperti anak ayam, Hoseok mengikuti Se Ra dari belakang.Lisa menarik ujung baju Se Ra, “aku mengantuk.”

“sebentar lagi akan sampai, tahanlah sedikit.”

“ini masih harus melewati 6 blok lagi.”rengek Lisa.

Hoseok berjalan mendahului mereka, ia berjongkok membelakangi Lisa lalu memiringkan kepalanya kekanan, memberi kode agar Lisa segera naik kepunggun lebarnya.

Baru saja Lisa hendak naik kepunggungnya, Se Ra langsung menahannya dengan menarik salah satu ikatan rambutnya. “tidak perlu, aku sama sekali tidak membutuhkan bantuanmu.”

“aku sama sekali tidak membantumu nona galak. Aku membantu anakmu, dia sudah mengantuk.Jangan kaitkan dia dengan masalah tadi.”

Se Ra mendengus sebal.Tanpa persetujuan dirinya, Lisa langsung memeluk leher Hoseok lalu melilitkan kakinya pada pinggangnya.Dengan perlahan Hoseok berdiri lalu mulai melangkah kedepan.

“siapa namamu?”Tanya Hoseok.

“Lisa. Lisa Lang.”

“Lisa Lang?”

“ne, bagaimana dengan ahjushhi?”

“aku Jung Hoseok. Yya ima, aku belum setua itu.Panggil aku oppa.”

“shireo. Jika kau ingin dipanggil oppa kau harus berbuat baik padaku sebanyak 3 kali.”

“sekarang yang kulakukan, apa bukan perbuatan baik namanya?”

“ahh benar, baiklah. Tinggal 2 kebaikan lagi.”

“okey, besok aku akan mengajakmu jalan jalan. Bagaimana?”

“kol.”

“yya, siapa bilang kau bisa mengajaknya jalan jalan?”Se Ra berjalan mendahului Hoseok.Ia melipat tangannya didepan dada sambil menunjukan wajah arogannya.

“aku yang bilang.”ucap Lisa.

Se Ra mengambil ancang ancang ingin menjitaknya tapi tidak jadi. “kau, jika tidak mengantuk jalan sendiri. Jangan membuatmu berhutang budi pada lelaki ini.”

“bawel sekali.Ahjusshi, bisa lebih cepat?”

Kedua sudut bibirnya terangkat, dengan cekatan lelaki berkepala lonjong itu berlari seperti yang Lisa inginkan.Dari arah belakang, Se Ra menatap kepergian dua orang yang menurutnya paling berbahaya yang ada dihidupnya.

“yya, tunggu aku!!”dengan cepat Se Ra mengimbangi langkah Hoseok dan Lisa.

Tak terasa 6 blokpun berlalu.Kini mereka berada tepat didepan sebuah rumah bercat krem yang terlihat sederhana namun terasa hangat.

“masuklah.”ucap Lisa langsung menarik tangan Hoseok kedalam.

Se Ra menghalangi pintu masuk. “kau lelaki cabul, tunggu disini. Lisa, masuk.”

Lisa mendelik kesal.Ia menurut saja dan langsung masuk kedalam mengikuti Se Ra. Tak lama setelah itu Se Ra kembali keluar membawa sebuah ponsel lalu melemparkannya pada Hoseok.

Hoseok menangkap ponsel tersebut lalu mengeceknya untuk memastikan bahwa ponsel itu benar benar miliknya.

“terimakasih. Kalau begitu aku akan pulang.”

“okey, dah.”dengan malas Se Ra masuk kedalam rumah tersebut.

Diluar, Hoseok menatap ponsel tersebut lamat.Ia tersenyum tipis lalu ia meninggalkan rumah tersebut.

***

Ji Min menghempaskan dirinya meja kerjanya. Lelaki itu memijit tulang hidungnya pelan mencoba menetralisir rasa pusing yang ia tengah rasakan saat ini.

“oppa!!”

“dia disini lagi.”

Ji Min mendengus sebal, dengan cepat ia menutup kepalanya dengan sebuah buku yang ada dimeja sebelahnya, berusaha sembunyi dari seseorang yang benar benar membuatnya sangat menderita.

“oppa, Ji Min oppa. Oppa.”

Terlambat.Bocah itu sudah melihat Ji Mn terlebih dahulu.Dengan agak memaksa bocah itu mengambil buku tersebut lalu meletakannya sembarang.

“mau apa lagi? Tidak puas menggangguku sepanjang hari?”

Bocah itu – Naomi tersenyum lebar, menampilkan deretan giginya yang putih. “ayo kita makan sesuatu. Aku lapar.”

“pergi ke Eun Mi. kau tahu, aku benar benar muak melihat wajahmu. Menjauh sedikit.”

Ji Min menjitak kepala Naomi, bukannya kesal ia malah memegangi bekas jitakannya sambil tersenyum penuh arti. “aku harus memberi plester. Ji Min oppa menyentuhku!! Oppa kau menyentuhku!”teriak Naomi kegirangan membuat beberapa orang yang ada didalam kantor polisi tersebut mulai berbisik bisik membicarakan mereka berdua.

Tentu Ji Min menangkap apa yang dipikirkan orang orang disekitarnya. Mereka salah pengertian. Apa mengerti maksudnya?/?

Ji Min membekap mulut Naomi, “yyak ima, apa yang kau lakukan?Kau benar benar ingin kuhajar ya?”

“ani, aku ingin oppa menciumku.”

“yyaakk!!”untuk yang kedua kalinya Ji Min menjitak Naomi. Sama seperti tadi, ia malah tersenyum makin lebar.

Ji Min mendengus kesal, “sepertinya hidupku serba salah.”gumamnya.

Ditengah tengah kegilaan mereka, seorang gadis tengah membawa sebuah rantang makanan.Semua mata tertuju padanya. Dengan dress selutut dan sepatu berwarna soft pink serta sebuah bando yang menghiasi kepalanya gadis itu terlihat sempurna.

Dengan anggunnya dia berjalan mencari bermaksud mewujudkan keinginannya kesini untuk mencari seseorang. Karena bingung ia menghampiri Ji Min karena letaknya paling dekat dengannya.

“chogio, apa kau tahu dimana letak meja polisi bernama Kim Nam Joon?”Tanya gadis itu.

Saat Ji Min menatap gadis itu matanya benar benar tidak bisa berkedip sekalipun.Dia berdiri dan dengan gugup bertanya, “a-anda siapa?”

“ne? ahh, aku Kim Ha Ni, adik Kim Nam Joon. Aku membawakan makanan untuknya.”

“Kim Ha Ni?Aku Park Ji Min. polisi paling tampan disini heheh.Boleh kuminta sesuatu untuk yaaa siapa tahu kita… bagaimana dengan nomor?”

Dengan sok basa basi Ji Min mengeluarkan ponselnya dari sakunya lalu memberikannya pada Ha Ni. Ha Ni menatap ponsel itu lamat. Ji Min menutup kedua kelopak matanya berharap gadis itu memberikan nomornya.

Hatinya bersorak sorai ketika merasakan ponselnya sudah tidak ada diatas telapak tangannya lagi.

“aww”ringisnya.

“apa yang sedang kau lakukan?”

Ji Min mengalihkan pandangannya begitu mengetahui yang menerima ponselnya bukanlah Ha Ni melainkan kakaknya.Dia mengelus kepalanya yang terkena pukulan oleh ponselnya sendiri.

“tidak, tidak ada. Benar benar tidak ada.”

Nam Joon menatap Ji Min tajam, mencari kebohongan yang tersembunyi dari Ji Min. percuma saja, dia bukanlah orang yang bisa membaca fikiran orang lain. Tentu saja dia tidak akan tau jika Ji Min berbohong.

“dimana Eun Mi? tumben sekali kau datang pagi. Kemana saja kalian seharian?”

“Eun Mi sedang mencari makanan. Ya untuk mencari info yang sunbae mau tentang café itu, mereka buka pada pukul 10 pagi dan tutup pukul 10-12 malam.”jelas Ji Min.

Nam Joon hanya mengangguk angguk mengerti, “kau sendiri, untuk apa kemari?”

Ha Ni nyengir lebar lalu mengangkat rantang putih yang ia bawa sedari tadi, “membawakan oppa makanan.”

“kau ini.”Nam Joon tersenyum tipis lalu menerima rantang itu.“gomawo, cepat pulang. Kau akan terlambat.”

“ahh benar. Geurom aku akan pulang, sampai nanti oppa.”Ha Ni melambai lambaikan tangannya kepada Nam Joon yang berjalan pergi ke ruangannya.

“ingin kuantar?”Tawar Ji Min.

Ha Ni yang baru saja hendak melangkahkan kakinya menatap Ji Min bingung harus menjawab apa. “heol. oppa! Aku masih ada disini!!”omel Naomi.

Dia berdiri diantara Ji Min dan Ha Ni seolah menjadi tembok pemisah diantara mereka.Dengan agak memaksa Ji Min menarik baju belakang Naomi membuat bocah itu terhuyung kebelakang.

Sedetik kemudian ia sudah ada disamping Ha Ni. “mari kuantar nona.”

Ha Ni tersenyum tipis, “baiklah.”

Sepanjang jalan Ji Min dengan sok akrabnya menceritakan pengalaman hidupnya kepada gadis yang baru saja dikenalnya itu.tanpa tahu malu ia menceritakan kejadian konyol yang pernah ia alami.

Ha Ni tertawa, bukan karena mendengar cerita Ji Min yang terkesan garing, tapi karena ekspresi lelaki itu saat menceritakannya sangat heboh. sesekali Ji Min ikut tertawa, tepatnya menertawai dirinya sendiri.

Sedangkah Naomi sesekali menyempil diantara Ji Min dan Ha Ni.Tapi dengan cepat, Ji Min berganti posisi sehingga Ha Nilah yang ditengah, bukan Naomi.

Tak terasa mereka sudah sampai disebuah gedung, ya gedung perusahaan Minji.“kau kerja disini?”Tanya Ji Min sambil memandang gedung itu dari bawah.

“iya, aku bekerja disini sebagai sekertaris.”

“sudah berapa lama bekerja disini?”tanyanya serius tanpa sedikitpun menoleh kearah Ha Ni.

“2 tahun.Kenapa?”

“ahh, bukan apa-apa. Kalau begitu aku akan kembali.”baru saja beberapa langkah ia meninggalkan Ha Ni yang sedari tadi masih ditempatnya ia kembali berbalik lalu memberikan secarik kertas. Setelah memberikannya ia menarik Naomi untuk berlari.

Bingung dengan apa yang dimaksud Ji Min, Ha Ni membuka isi kertas tersebut. Hubungi aku, xxxxxxxxxxx.^_^ -Ji Min tampan-.

Ha Ni tersenyum tipis lalu memasukan kertas tersebut kedalam sakunya. Ia memasang earphonenya lalu berjalan kedalam gedung tersebut.

Saat dilorong, ia tidak menyadari bahwa ada seseorang yang berjalan berlawanan arah dengannya. Tabrakan tidak bisa dihindari.

“awww”ringis Ha Ni. Ia menatap orang yang ditabraknya lalu membungkuk berkali kali. “maaf, aku benar benar minta maaf, direkur.”

Orang itu mendengus sebal, ia menatap ID Card Ha Ni. “Kim Ha Ni?”gumamnya.

Ia menatap Ha Ni sambil tersenyum misterius. “tidak apa apa.Aku baik baik saja. Sepertinya kita belum mengenal satu sama lain. Aku Mina, Choi Mina. Direktur baru disini.Dan kau, ahh aku tahu.kau adik Kim Nam Joon itu kan? Pembunuh ny. Park Ji Yon?”

Deg.

Deg.

Deg.

Jantungnya serasa mencelos mendengar pernyataan dari Mina.Matanya seperti ingin keluar dari tempatnya.“P-Pembunuh?”

“kau tidak tahu? bukankah kau ada ditkp? Kim Ha Ni-ssi?”

“k-kau..”

“aku Jae Gil. Han Jae Gil. Sekarang apa sudah ingat?”

 

TBC

Preview Next Chapter ;

“tenang saja. Aku tidak akan memberitahu semua orang. Asal kau tidak membuka kartuku aku juga tidak akan membuka kartu kakakmu. Yang jelas, aku sangat butuh bantuanmu sekarang.”

“apa itu?”

“bantu aku menghancurkan Min Yoon Gi.”

………..

“apa kau bisa tangani gadis ini, Nam Joon sunbae?”

“ada apa dengannya?”

“dia benar benar menolak untuk kutanyai. Kasus ini memang aku yang urus, tapi dia benar benar tidak ingin memberikan keterangan tentang Lee Han Min(cameo di chapter 3).”

“baiklah kalau begitu. Siapa namanya?”

“namanya Jeon Jung Hee”

………..

“Hye Ri. Bisakah kita bertemu?Ada yang harus kusampaikan padamu. Jam 7 malam taman hiburan.”

“ada apa? Kenapa tidak sekarang saja?”Tanya Hye Ri heran.

“tidak bisa. Kau harus dandan yang cantik, oke?”

“baiklah.”

………..

Hye Ri duduk dibangku taman. Ia melihat arlojinya, sudah jam 7 tepat tapi Jin belum kunjung datang. Dia melihat dirinya dicermin kecil yang sengaja ia bawa. Ia tersenyum senang.

Saat ia menurunkan cerminnya seorang lelaki berdiri didepannya. Jantungnya begitu mencelos ketika melihat sosok lelaki tersebut yang begitu familiar baginya.Seluruh tubuhnya bergetar hebat.“Y-Yoongi oppa?”

.

Hai, setelah hampir sebulan gak update update akhirnya kesampean juga wks. Maaf lama banget nih, soalnya aku udah gasemangat buat nulis ff ini T.T inspirasi aku ancur seketika dan ff ini makin absurd. Gatau faktor karena readers menurun atau faktor lain~_~ dan ff ini makin ganyambung aja-.- maaf ya /bow/.

 

About fanfictionside

just me

16 thoughts on “FF/ TOMORROW/ BTS-BANGTAN/ pt. 5

  1. Huwa~ Akhirnya FF ini keluar juga. Udah lama nih nunggunya, sampai lumutan tau, thor
    Chapter ini bikin gregetan deh, tapi aku suka, hehe😀
    Di tunggu kelanjutannya!!! Jangan lama-lama ya? Keep Writing! Semangat, kaka!!!^^

  2. woaaaahhhhh akhitnya lanjut jg😀

    ehhhh ehhhh itu yg d maksud pembunuh sape yeth?
    namjoon or ha ni ??

    gua ngakak pas part jhope hahha

    next thor jan lama”😀

  3. Ahiss dsar Naomi centil!!! Ama Jimin😀, Author nae minta entar bnyakin adgan Naomi ama Jimin ya, soal ny Nae gemes bget liatny hehe🙂

    Yess entar yoongi ama Hye Ri ktemu, Nae jdi pnasaran nih, mrka mau bicara ap ya???

    Lnjut ya thorr *jngan lma”ya*

  4. Pingback: FF/ Tomorrow/ Bangtan Boys | blackorchid28

  5. Thor kok yg part 6 nya belum muncul juga sih aku penasaran banget nih sama ff nya abis bagus banget ff nya biat next chapter jangan lama lama ya thor aku tunggu hwaiting ^_^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s