FF/ MY LOVE AND THE QUEEN/ BTS-BANGTAN/ pt. 4


Main Cast        :

-Jeon Jung Kook (Jung Kook’s BTS)
-Min Queen (Myeongseong Queen)

 

Support Cast    :

-Gojong King

-Kim Tae Hyung (V’s BTS)
-Park Jimin (Jimin’s BTS)
-Yoon Bok Ja (Oc)
-Park Hye Min (Oc)

-Min Yoongi (Suga’s BTS)

 My Love And The Queen_Poster(4)

Genre              : Historical, Romance, Comedy, Fantasy

Length             : Multi Chaptered

Author             : SunKi

 

 

 

         “Tunggu.. tunggu! Apa kau punya gambar atau foto dari Ratu Min?” tanya Jung Kook tiba-tiba yang memotong penjelasan dari Bok Ja.

         “Gambar ataupun foto? Ah.. sebentar” sahut Bok Ja yang kemudian membuka-buka lembar demi lembar buku catatannya tersebut.

         “Aku punya ini..” ucap Bok Ja sembari menunjukkan selembar foto.

         Mata Jung Kook membulat seketika tatkala ia melihat isi dari foto tersebut.

         “Tapi bagaimana bisa? Aku sedang tidak bermimpi, kan? Kenapa begitu mirip?” Jung Kook menajamkan pandangannya pada wajah seorang gadis yang ada pada foto tersebut. Ia merasa sangat tidak asing dengan wajah gadis tersebut. Namun jika di lihat lagi, gadis di foto itu tampak lebih muda dari orang yang kini tinggal di rumah atap. “K..kau dapat dari mana foto ini?”

         “Aku hanya memfoto ulang. Saat itu aku sedang berkunjung ke museum”

         “Apa kau bisa pergi?”

         “Ne?” Bok Ja yang sedari tadi mencoba untuk menjawab apa yang Jung Kook tanyakan seketika tersentak mendengar ucapan Jung Kook yang memintanya untuk pergi.

         “Ah.. maksud ku, sebaiknya kau pergi ke kantin dan makan sianglah” sanggah Jung Kook yang menyadari ucapannya terdengar seperti ‘mengusir’

         “B..baiklah..” Bok Ja bangkit dari duduknya dan meninggalkan Jung Kook yang masih menatapnya dengan arti tatapan menunggunya untuk segera pergi. “Kenapa dia tiba-tiba memintaku untuk pergi? Bukankah aku yang sedari tadi berada di perpustakaan?” ucap Bok Ja dalam batin.

         Sementara itu, Jung Kook tak henti-hentinya memandang foto yang ada di tangannya. Ia terus saja mengernyitkan keningnya tanda ia tengah memikirkan suatu hal.

         Jung Kook mengedarkan pandangannya pada setumpuk buku sejarah yang sudah Bok Ja siapkan untuknya. “Aku pasti sudah gila. Benar-benar sudah gila..”

         Jung Kook yang terkenal sebagai ‘Pangeran Tidur Saat Pelajaran’ dan ‘Si Anti Buku’, untuk pertama kalinya ia tampak begitu serius berkutat dengan buku sejarah yang tertumpuk tak jauh darinya. Rupanya, rasa penasarannya tersebut mematahkan kebiasaannya yang malas membaca buku. Terutama buku sejarah seperti yang ada dihadapannya.

 

*****

         “Kenapa Jung Kook tak kunjung datang?” gumam Tae Hyung sambil mengunyah menu makan siangnya di kantin.

         “Entahlah. Aku sudah beberapa kali menghubungi dia. Tapi dia tak menjawab. Tak biasanya dia seperti ini” sahut Jimin yang duduk di hadapan Tae Hyung sambil menyantap makan siangnya.

         Jimin menyunggingkan senyumnya tatkala ia melihat seseorang tengah kebingungan untuk mendapatkan tempat duduk. Pasalnya, saat-saat jam makan seperti ini selalu di penuhi oleh murid-murid yang tengah mengisi perutnya yang telah kosong.

         “YOON BOK JA! KEMARILAH!” pekik Jimin sambil melambaikan tangannya. Sementara orang yang tengah duduk di hadapannya hanya memasang tampang tak menyangka dengan apa yang Jimin lakukan.

         “Jimin-ssi, apa kau memanggilku?” tanya Bok Ja memastikan sambil membawa nampan berisi menu makan siangnya.

         “Duduklah” perintah Jimin dengan ramahnya. Tae Hyung yang merasa kurang nyaman dengan keberadaan Bok Ja tak henti-hentinya memasang tampang tidak suka atas perlakuan ‘manis’ Jimin tersebut.

         “N..ne” sahut Bok Ja dan langsung mengambil posisi duduk tepat disamping Tae Hyung.

         “Bok Ja-ah, apa kau melihat Jung Kook?” tanya Jimin membuka percakapan.

         “Dia sedang berada di perpustakaan. Apa kalian tak tau?”

         “Perpustakaan?” seru Jimin yang terkejut dengan jawaban Bok Ja. Sementara Tae Hyung hanya mengedarkan pandangannya pada Bok Ja, setelah dirinya tak menatap Bok Ja sedikitpun.

         “Ne. Dia bahkan memintaku untuk mencarikan buku sejarah” tambah Bok Ja.

         Tae Hyung dan Jimin saling berpandangan tak menyangka dengan apa yang baru saja mereka dengar.

         “Dia benar-benar aneh belakangan ini. Aku mulai khawatir, jangan-jangan ada yang merasuki jiwanya” Jimin bergidik ngeri membayangkan tingkah aneh Jung Kook akhir-akhir ini.

         “Tapi.. bukankah bagus kalau dia menjadi semangat belajar?” Bok Ja yang belum tau menahu tentang Jung Kook hanya memasang tampang bingung atas ucapan Jimin.

         Sementara Jimin dan Tae Hyung, mereka hanya terkekeh melihat reaksi Bok Ja yang tampak begitu polos.

 

*****

 

         “Kau sudah pulang?” tanya Ratu Min begitu mendapati Jung Kook datang lebih awal dari biasanya.

         “Noona, sebenarnya siapa kau?” tanya Jung Kook balik dengan tatapan seriusnya.

         “Ya! Pelayan, bukankah semalam aku sudah memberitahu mu?”

         “Benarkah? Lalu siapa orang yang ada di foto ini?” Jung Kook menunjukkan foto yang ia dapatkan dari Bok Ja yang menurutnya orang di foto tersebut sangat mirip dengan wanita yang ada di hadapannya.

         Ratu Min meraih foto yang Jung Kook tunjukkan. Kedua matanya langsung terpusat pada lembaran foto yang kini ada di tangannya.

         “Dari mana kau mendapatkannya?” tanya Ratu Min yang masih tak menyangka dengan benda yang ada di tangannya tersebut.

         “Itu tak penting! Beri tahu aku, siapa orang-orang yang ada di foto itu!”

         “Ini.. gadis di foto ini adalah aku..”

         “Tidak mungkin!” Jung Kook merebut kembali foto tersebut dari tangan Ratu Min. .

         “Kau boleh tak mempercayaiku. Tetapi.. gadis di dalam foto tersebut adalah aku. Dan lelaki yang di sampingku itu adalah suami ku, Raja Gojong”

         Lagi, Jung Kook dibuat tercengang oleh wanita yang ada di hadapannya. Pikirannya mulai kalut setelah ia mendengar hal yang mustahil dari Ratu Min.

         20 Maret 1866, anak gadis dari wangsa Min tersebut resmi menikah dengan Raja Gojong. Foto pernikahan mereka diambil di Aula Injeong di Istana Changdeok. Dan foto yang ada di tangan Jung Kook adalah foto yang di ambil ulang dari foto yang asli. Yaitu foto yang menggambarkan suasana pernikahan antara Ratu Min dengan Raja Gojong pada 148 tahun silam.

 

————————————————–

 

         “Ya! Jung Kook-aaaah!”

         Jung Kook menghentikan langkahnya begitu ia mendengar seseorang memanggilnya dari arah belakang. Tampak Hye Min dengan senyuman khasnya.

         “Kau akan ke kelas mu kan?” tanya seorang siswi bername tag Park Hye Min yang kini sudah berdiri berjajar dengan Jung Kook.

         “N..ne” sahut Jung Kook terbata-bata karena dibuat salah tingkah oleh Hye Min. Terlebih-lebih ketika Hye Min menggelayutkan lengan kanannya pada lengan kiri Jung Kook.

         “Kajja!” Hye Min menyunggingkan senyum antusiasnya. Sementara Jung Kook, ia hanya mengangguk menyahut ajakan Hye Min sebelum akhirnya mereka berjalan menuju kelas secara bersama.

 

         “Ya! Ya! Lihat itu!” dengan nada membisik, seorang siswi yang tengah bercengkrama bersama teman-temannya begitu terkejut mendapati Jung Kook dan Hye Min yang berjalan bersama dan tampak begitu mesranya seperti sepasang kekasih.

         “Mwoya? Kenapa mereka seperti itu?”

         “Apa mereka berkencan?”

         “Andwe.. Jika memang Hye Min sunbae adalah saingan kita, kita sudah tidak bisa apa-apa lagi!”

         “ARKH! WANITA SIALAN ITU! KENAPA DIA HARUS BERSEKOLAH DISINI?” Ahn Song Hwa, yang juga melihat kedekatan Jung Kook dengan Hye Min tampak begitu kesal dibandingkan dengan teman-temannya.

         “Sudahlah. Bukankah sudah jadi kebiasaannya mendekati semua siswa-siswa tampan di sini?”

 

KRIIIIIINGG..!!

         Bel pertanda masuk terdengar di seluruh sudut sekolah. Tampak murid-murid mulai bergegas menuju kelasnya. Tak lain halnya dengan Tae Hyung yang memilih untuk mengambil langkah seribu agar dirinya segera sampai ke kelasnya.

         “Tae Hyung-ssiiii!” terdengar sayup-sayup suara yang memanggil nama Tae Hyung.

         “KIM TAE HYUUUUNG..!”

         Tae Hyung menghentikan larinya tatkala kedua telinganya menangkap suara seseorang yang memanggilnya.

         Tae Hyung menghela nafasnya mendapati si pemilik suara tersebut adalah Bok Ja. Ia hanya memandang malas ke arah Bok Ja yang tengah berjalan mendekatinya dengan tumpukan buku tebalnya.

         “Tae Hyung-ss..ssi, tunggulah sebentar. Apa kau.. tidak keberatan jika kita menuju kelas secara berr..sama?” ucap Bok Ja sambil menahan berat pada kedua tangannya.

         “Aku keberatan!” sahut Tae Hyung singkat dengan nada dinginnya. Karena tak mau membuang waktu lama untuk berurusan dengan Bok Ja, Tae Hyung memilih untuk melanjutkan langkahnya dan tak mempedulikan si murid baru itu.

 

BRAK

         Baru saja Tae Hyung melanjutkan perjalanannya, kedua telinganya kembali mendengar suara benda jatuh. Lebih tepatnya seperti buku yang terjatuh.

         “YA! APA KAU TAK MEMPUNYAI MATA, HUH?”

         Lagi, terdengar suara yang memekikkan telinga Tae Hyung. Namun kali ini terdengar pekikkan seorang wanita yang seperti tengah emosi.

 

*****

         “M..mianhaeyo..” masih dengan posisi terduduk, Bok Ja berusaha merapikan buku-buku tebalnya yang berserakan saat dirinya terjatuh dan hampir menyebabkan seorang siswi ikut terjatuh.

         “YA! SETELAH KAU HAMPIR MEMATAHKAN LENGAN KU, BEGITU KAH CARAMU MEMINTA MAAF?” pekik seorang siswi bername tag Yoon Jae Kyung.

        Dengan kepala tertunduk, Bok Ja berusaha berdiri sambil menenenteng buku-bukunya yang sempat berserakan.

         “M..mianhaeyo, ss..sunbae.. Aku benar-benar tak bermaksud seperti itu. A..aku..”

         “TERLALU BANYAK ALASAN KAU!” Karena kesal dengan Bok Ja yang menurutnya tak mengenal sopan santun, ia mengangkat tangan kanannya untuk mendaratkan tamparan keras di pipi Bok Ja. Namun niatannya tersebut terhalangi oleh seorang pria yang kini sudah berdiri di sampingnya sambil menangkis tangannya.

        “Apa ini perlakuan seorang sunbae kepada seorang hobae? Sikap mu ini sangat norak, Sunbae” ucap pria tersebut yang tak lain adalah Tae Hyung dengan penekanan di akhir kalimat. Tak henti-hentinya ia menatap tajam seorang sunbae yang ada di hadapannya tersebut.

         “YA! KAU TAK PERLU IKUT CAMPUR!” Jae Kyung menghempaskan tangannya dengan keras agar bisa terlepas dari cengkraman erat tangan Tae Hyung.

         “Kajja! Sebaiknya kita pergi saja” Tae Hyung meraih tumpukan buku pada tangan Bok Ja seraya membawa pergi teman sebangkunya tersebut dari ‘amukan’ seorang sunbae.

 

*****

         “Tae Hyung-ssi, bukan kah kau seharusnya pergi ke kelas?” Bok Ja menghentikan langkah Tae Hyung sambil menatap khawatir pada pria yang ada di hadapannya tersebut.

        “Bagaimana dengan mu sendiri, huh?” sahut Tae Hyung dengan nada ketus.

         “T..tapi.. kau tak seharusnya menolong ku. Kau mungkin bisa ikut dalam masalah..” Bok Ja meraih buku-bukunya yang sedari tadi ada pada tangan Tae Hyung. Karena ia merasa hal tersebut merepotkan Tae Hyung.

         Tae Hyung tersenyum remeh pada Bok Ja. “Apa kau pikir aku menolong mu? Jangan terlalu percaya diri. Aku hanya tak ingin sekolah ini tercoreng karena ada kekerasan. Sudahlah! Kita sudah terlambat!” Tae Hyung kembali mengambil tumpukan buku pada tangan Bok Ja dan langsung melanjutkan langkahnya menuju ke kelas

 

*****

 

-Jung Kook’s POV-

         Memang benar, noona itu dan wanita yang ada di foto itu sangatlah mirip. Tapi apa mungkin dia benar-benar datang dari masa lalu? Bagaimana bisa orang dari masa lalu datang ke masa kini? Apa dia hantu? Hanya orang gila saja yang akan berkata seperti itu.

         Akh..! Bodohnya aku. Seharusnya aku bawa dia saja ke Rumah Sakit Jiwa! Apa aku harus menghubungi Rumah Sakit Jiwa Gaejim lagi? Tidak mungkin. Pasti akulah yang dianggap gila oleh petugas dari Rumah Sakit Jiwa.

 

-Author’s POV-

         “Jimin-ah, menurutmu.. apa mungkin seseorang dari masa kini yang mirip dengan seseorang dari masa lalu itu bisa saja terjadi?”

         Jung Kook yang masih bergelut dengan pikirannya sendiri, mencoba untuk mengurangi beban di pikirannya tersebut. Bagaimana tidak, Jung Kook yang merupakan seseorang yang rasional tiba-tiba di hadapkan pada seseorang yang menurutnya selalu mengatakan hal yang mustahil dan omong kosong.

         “Tentu saja. Hal seperti itu bisa saja terjadi. Bahkan ada beberapa selebritis yang disebut-sebut mirip dengan orang masa lalu. Tak hanya di luar negeri. Di Korea pun ada” sahut Jimin dengan nada membisik. Pasalnya ia tak mau perbincangannya tersebut di ketahui oleh Cha ssaem yang tengah mengajar.

         “Benarkah? Si…”

         Belum juga Jung Kook melanjutkan pertanyaannya, suasana kelas tiba-tiba hening. Ia pikir ia telah tertangkap basah tengah berbincang. Namun dugaannya salah. Di depan kelas, tampak Tae Hyung dengan tumpukan buku tebal di tangannya dan seseorang lagi. Yaitu Bok Ja.

         “Ya! Bagaimana bisa kalian datang terlambat, huh? Dari mana saja kalian?” tanya Cha ssaem memecah keheningan. Namun merubah suasana menjadi tegang.

         “J..josonghamnida, sonsaengnim. K..kami..” belum juga Bok Ja melanjutkan ucapannya, Cha ssaem justru meminta keduanya untuk keluar dari kelas.

         “Sudahlah. Kalian belajar sajalah di perpustakaan!”

         “T..tapi.. aku ingin belajar disini..”

         “Sonsaengnim, jika kau meminta kami untuk keluar dari kelas hanya karena kami telat 15 menit saja, tidakkah itu berlebihan? Lalu.. dimana hak seorang murid untuk mendapat bimbingan dari seorang guru?”

         Suasana hening. Seisi kelas terkejut sekaligus tak menyangka dengan ucapan Tae Hyung yang dinilai begitu ‘berani’ menolak perintah dari seorang guru. Sementara Cha ssaem, ia hanya mematung tak tahu apa yang harus ia katakan.

         “Daebak! Tae Hyung benar-benar menjadi manly sekarang” gumam Jimin sambil memandang kagum pada sahabatnya tersebut.

 

*****

KRIIIIIINGG..!!

 

         Bel pertanda berakhirnya kegiatan belajar mengajar terdengar di setiap sudut Daejin High School. Seluruh siswa siswi berhamburan keluar kelas. Ada yang memilih untuk segera pulang menuju rumah masing-masing, ada pula yang lebih memilih untuk bercengkrama.

         “Hye Min-ah, aku dengar kau sedang dekat dengan seorang hobae” terka seorang siswi bername tag Lee Ji Hyun yang tak lain adalah sahabat Hye Min.

         “Namanya Jung Kook. Kalian pasti tahu siapa dia” Hye Min menyunggingkan senyum penuh rasa bangganya tersebut.

         “M..mwo? Jung Kook si hobae yang sering dibicarakan itu?” Yoon Shi Eun, menatap tak menyangka pada Hye Min yang tak henti-hentinya menyunggingkan senyuman.

         “Kenapa kau begitu beruntung? Kau begitu mudahnya mendekati pria tampan. Sedangkan kita..” Ji Hyun menatap iri pada sahabatnya tersebut yang selalu berhasil mendekati siswa-siswa tampan di sekolah. Sudah tak terhitung jumlahnya. Bahkan sebagian dari mereka sudah ia kencani.

         “Teman-teman, bukan Park Hye Min namanya jika tidak bisa mendekati pria tampan di negeri ini” Hye Min terkekeh seraya menyombongkan dirinya. Sementara kedua sahabatnya, mereka hanya memasang tampang pasrah karena sahabatnya tersebut yang mulai menyombongkan diri.

         “Ada apa dengan kalian? Bukankah kenyataannya memang seperti itu?” lagi, Hye Min tersenyum dengan penuh arti rasa bangganya tersebut seraya merangkul kedua sahabatnya yang berjalan di sisi samping kanan-kirinya.

         “Aku akan mengadakan pesta khusus untuk kita bertiga jika aku berhasil mengencani Jung Kook” ucap Hye Min lirih yang sontak disambut senyum girang oleh kedua sahabatnya.

         “Tapi.. bagaimana dengan Yoongi? Apa kau akan mengencani dua orang pria sekaligus?” tanya Shi Eun yang seketika mengheningkan suasana diantara mereka.

         Hye Min hanya tersenyum sekilas mengingat Min Yoongi yang sekarang ini menjadi kekasihnya. “Kalian akan tahu nanti”

         Ji Hyun dan Shi Eun hanya saling berpandangan tak mengerti dengan ucapan Hye Min. Begitulah Hye Min, ia selalu melakukan hal yang tak diduga.

         “Hye..Hye Min-ah. Bukankah itu Jung Kook?” kedua mata Ji Hyun tiba-tiba saja menangkap sosok pria yang sedari tadi mereka bicarakan.

         “Aku pergi dulu, teman-teman. Annyeong” merasa kehadiran Jung Kook, Hye Min langsung menghampiri arah yang Ji Hyun tunjuk sebelumnya.

         “Aku akui, dia memang hebat dalam memikat pria. Tapi kelakuannya itu bisa saja membawanya bahaya. Aku jadi khawatir” gumam Shi Eun sambil menatap punggung Hye Min.

         “Sudah menjadi kehidupannya seperti itu. Kita tidak mungkin melarangnya. Bisa saja kita yang dalam bahaya” tambah Ji Hyun.

 

*****

 

         Tae Hyung menatap gelisah pada sebuah rumah berukuran minimalis. Perasaannya mulai berkecamuk. Ada perasaan ingin mengunjungi rumah tersebut. Namun disisi lain ada perasaan gugup menyertainya.

         Ia menghirup udara sekeliling dalam-dalam dan menghembuskannya secara perlahan. Perasaan gugupnya tersebut mulai berkurang. Dengan rasa yakinnya, Tae Hyung melangkahkan kakinya mendekati pintu rumah tersebut.

 

*****

 

         “Kau sedang apa?” tanya Jung Kook begitu dirinya memasuki rumah atap.

         “Entahlah. Aku menemukan buku ini. Jadi aku baca saja” sahut Ratu Min yang pandangannya kini terpusat pada Jung Kook. “Kau pulang telat hari ini..”

         “Ne. Aku pergi dengan seseorang hari ini. Aku kesini untuk membawakan noona makan malam” ucap Jung Kook seraya menaruh bungkusan kantung plastik yang berisi makanan.

         “Aku sudah kenyang..”

         Mendengar ucapan Ratu Min, Jung Kook menghela nafasnya menahan kekecewaannya. “Baiklah. Noona simpan saja makanannya untuk besok. Jadi aku tak perlu kembali mengantarkan makanan!”

         “Pe..”

         “Jangan panggil aku pelayan! Aku bukan pelayan mu” Entah apa yang membuat Jung Kook merasa enggan, ia memilih untuk segera pulang dan meninggalkan Ratu Min seorang diri.

         “Sebenarnya ada apa dengan dia? Kenapa dia begitu dingin pada ku?” Ratu Min menatap lesu ke arah pintu yang baru saja Jung Kook lewati untuk pergi dari rumah atap.

 

————————————————

 

-Queen Min’s POV-

 

         “Apa benar ini sekolahnya? Kenapa begitu besar sekali?”

         Aku memperhatikan sebuah bangunan yang di sebut Dae Jin High School dari luar pintu gerbang yang terbuat dari besi. Tampak begitu besar. Ya, itu penilaian pertama ku begitu aku melihat gedung sekolah yang kini ada di hadapan ku. Ingin aku memasuki gedung tersebut. Namun sayang, pintu gerbang ini tak segan untuk terbuka sedikitpun. Mungkin karena aku bukan bagian dari sekolah.

         “Apa ada yang bisa saya bantu?”

         Tiba-tiba seseorang datang menemuiku. Aku rasa dia seorang penjaga gerbang.

         “Aku sedang menunggu seseorang. Dia bersekolah disini” sahutku yang berusaha bersikap seperti orang biasa.

         “Sayangnya orang-orang selain warga sekolah dilarang masuk” ucap penjaga tersebut. Ada perasaan kecewa begitu aku mendengar ucapannya. “Jam pelajaran akan berakhir 3 setengah jam lagi. Setelah itu kau bisa bertemu dengan siswa yang kau sedang tunggu” tambahnya begitu ia melirik sebuah benda yang melingkar di pergelangan tangan kirinya.

         “3 setengah jam lagi? Baiklah, aku akan menunggu disini”

        Kau ingin tahu kenapa sekarang aku berada disini? Aku juga tak tau mengapa. Aku hanya merasa bosan dengan suasana rumah atap. Tak apa kan jika aku keluar sebentar sekaligus melihat keadaan jaman ini?

         Bagaimana aku bisa sampai disini? Ya, sebelumnya aku bertanya pada ayah Jimin.

 

#3SetengahJamKemudian

         Setelah menunggu cukup lama, pintu gerbang akhirnya terbuka. Tak lama kemudian berhamburan pula orang-orang dari dalam gedung. Aku rasa mereka murid-murid di sekolah ini. Karena bisa ku lihat dari pakaian yang mereka kenakan. Ya, mereka mengenakan pakaian yang sama.

         “Sabarlah. Aku akan merencanakan sesuatu pada Jung Kook..”

         “Jung Kook? Aku rasa nama itu tak asing” aku menatap tiga orang gadis yang berjalan keluar dari gerbang. Tapi entahlah, aku tak tau siapa mereka. Mendengar mereka menyebut ‘Jung Kook’, membuatku tertarik untuk mendengar lebih. Tapi sayang suara keributan dari murid-murid menghalangi pendengaran ku.

         “JA YEONG NOONA!” tiba-tiba terdengar seseorang memanggil nama ku di tengah-tengah keramaian.

         “Ja Yeong noona, kenapa kau ada disini?” tanya Tae Hyung yang kini tengah bersama Jimin.

         “Entahlah.. aku..”

         “Noona pasti sedang menunggu Jung Kook kan?” tanya Jimin yang sempat memotong ucapan ku.

         “Jung Kook?”

         “Ne”

         Jung Kook? Bukankah itu adalah nama yang gadis itu sebutkan? Apa gadis itu teman Jung Kook? Tetapi rencana apa yang akan dia lakukan?

         “Kebetulan. Itu dia Jung Kook!” Jimin menyunggingkan senyumnya begitu ia melihat seseorang yang tengah berjalan santai keluar dari gerbang.

         “YA! JEON JUNG KOOK!” pekik Jimin cukup keras. Orang yang dipanggilnya tampak menghentikan langkahnya dan langsung menghampiri kami.

         “Noona? Bagaimana bisa kau ada disini?” tanya pria yang baru ku ketahui namanya, Jung Kook.

         “Aku hanya bosan terus menerus berada di rumah atap tanpa ada kerjaan. Jadi aku datang kemari sekitar.. tiga setengah jam yang lalu”

         “M..MWO? TIGA SETENGAH JAM YANG LALU?”

         Mereka bertiga tampak begitu terkejut dengan ucapan ku. Terutama Tae Hyung dan Jimin yang bahkan dengan kompak mengulang ucapan ku.

         “Jung Kook-ah, kau dengar? Ja Yeong noona sudah rela menunggu mu lama”

         Aku tak tahu apa maksud ucapan Jimin. Namun Jung Kook langsung menatap ku seperti tatapan iba. Tatapannya begitu teduh.

         “JUNG KOOK-AH..!”

         Entah datangnya dari mana, tiba-tiba terdengar suara yang memanggil Jung Kook. Yang pasti bukan aku. Apalagi Jimin atau Tae Hyung. karena suara tersebut terdengar seperti suara seorang wanita. Karena penasaran, kami berempat langsung mencari-cari sumber suara.

         “Itu Hye Min sunbae” Jimin menunjuk ke sumber suara. Tampak seorang gadis tengah berdiri tak jauh dari.. sebuah kendaraan sambil melambaikan tangannya ke udara. Aku rasa itu mobil. Tapi entahlah. Aku tak begitu yakin.

         Gadis itu.. bukankah dia gadis yang aku dengar dia menyebut nama Jung Kook? Sepertinya dia dekat dengan Jung Kook.

         “JUNG KOOK, KEMARILAH!” pekik gadis itu lagi namun tetap bersikap manis.

         “Teman-teman, noona. Kalian tunggulah sebentar. Aku ingin menemui Hye Min sunbae”

 

-Author’s POV-

         Tak jauh dari mobil pribadinya, Hye Min tak henti-hentinya menyunggingkan senyumnya begitu orang yang ia tunggu yaitu Jung Kook, kini mulai menghampirinya.

         “Ada apa sunbae?” tanya Jung Kook begitu ia berpapasan dengan Hye Min, wanita pujaannya.

         “Aku sedang lapar. Temanilah aku makan”

         “Tapi aku…”

         “Ayolah. Kapan lagi aku bisa mengajak mu makan bersama. Ayolah..” pinta Hye Min yang sempat memotong ucapan Jung Kook sambil menggenggam tangan Jung Kook dengan manja.

         “Jebal..” pinta Hye Min lagi sambil memasang tampang memohon. Sementara Jung Kook, ia tak bisa apa-apa selain memenuhi permohonan Hye Min. Ia terlanjur jatuh kedalam Hye Min. Itulah yang membuatnya tak bisa apa-apa bila ia sedang bersama wanita yang ada di hadapannya tersebut.

 

-Tae Hyung’s POV-

         “Mau kemana Jung Kook? Ya! Kenapa dia justru masuk ke dalam mobil bersama Hye Min sunbae? Mau kemana mereka? Akh.. jinjja! Bagaimana bisa dia melupakan kita begitu ada Hye Min sunbae?”

         Gerutuan Jimin terdengar mengganggu telinga ku begitu Jung Kook pergi bersama sunbae yang ia sukai itu. Bukankah dia meminta kita untuk menunggu sebentar? Bocah itu.. benar-benar..!

         Kedua mataku tak sengaja mengarah pada Ja Yeong noona. Tampak jelas guratan kekecewaan pada dirinya. Bagaimana tidak? Bahkan aku saja kesal dengan kelakuan bocah itu. Apalagi Ja Yeong noona yang sudah menunggu dia berjam-jam. Tapi apa yang ia dapat. Orang yang sudah ia tunggu justru pergi begitu saja. Kelakuan mu keterlaluan, Jung Kook-ah.

         “Sudahlah, kita pulang saja” ajakku menyudahi kekesalan yang sempat melintas di benak.

         “Baiklah..” gumam Jimin yang langsung berjalan meninggalkan ku dan Ja Yeong noona.

         “Noona, kau sedang bosan kan?” tanya ku memecah keheningan. Ja Yeong noona hanya mengangguk menyahut pertanyaan ku.

         “Kalau begitu, ayo ikut dengan ku..”

 

#Tahun1872

         Raja Gojong mengamati dengan lekat benda berbentuk lingkaran dan berwarna emas yang kini ada di tangannya. Asing. Ya, satu kata yang menggambarkan benda tersebut yang sampai saat ini belum Raja Gojong pahami.

         “Kenapa ada benda macam seperti ini?” gumam Raja Gojong sambil terus mengamati.

         “0.. 1.. 2.. 4..? Kenapa jarum-jarum angka ini mengarah ke angka-angka ini?”

         Raja Gojong mengernyitkan keningnya yang mencoba untuk memahami angka dan jarum-jarum tersebut yang tak melainkan adalah 2 0 1 4. Yaitu masa dimana Ratu Min saat ini berada.

 

*****      

         “Aku dengar Panglima Seo sudah menemukan tempat dimana hilangnya Ratu Min” ujar salah seorang dayang istana pada dayang lainnya.

         “Benarkah? Dimana?”

         “Berdasarkan benda yang di temukan, kemungkinan Ratu Min hilang di sebuah jurang”

         “Apa? Jurang? Bagaimana bisa? Memangnya benda apa yang ditemukan oleh Panglima Seo?”

         “Entahlah. Aku tidak tau. Yang pasti, Panglima Seo menemukan patahan binyeo yang biasa Ratu Min pakai. Dan anehnya, di tempat yang sama ditemukan benda asing”

         “Benda asing? Benda asing apa?”

         “Aku juga tak tahu benda apa itu. Yang aku dengar, benda itu berbentuk lingkaran dan berwarna emas”

         Tak jauh dari gerombolan para dayang istana, Sarjana Choe Ik-hyeon yang tak sengaja mendengar pembicaraan para dayang istana begitu terkejut saat sang dayang menyebutkan ciri-ciri dari fisik mesin waktu yang tak lain adalah benda yang ia berikan pada Ratu Min.

         “Dari mana kalian mendengarnya?” tanya Choe Ik-hyeon yang seketika mengejutkan para dayang yang sedari tadi tak menyadari keberadaannya.

         “Ng.. saya mendengarnya dari salah seorang prajurit istana kebetulan saat itu.. dia ada di saat ditemukan benda itu..” sahut salah seorang dayang yang kini tampak lebih membungkukkan badannya.

         “Lalu.. dimana benda itu sekarang?”

         “Saya tidak tahu pasti. Namun dari ceritanya, benda itu kini ada di Raja Gojong”

         “Baiklah” Sarjana Choe Ik-hyeon menyunggingkan senyum simpulnya sebelum akhirnya ia memilih untuk berlalu dari para dayang istana.

 

*****

         “A..apa? Jadi mesin waktu yang diberikan kepada Ratu Min, kini ada di tangan Raja Gojong?”

         Sarjana Kim Jong Geun, yang termasuk dalam golongan sarjana tak kalah terkejutnya begitu Sarjana Choe Ik-hyeon menceritakan apa yang ia dengar dari para dayang istana.

         “Jika memang ternyata Ratu Min tersesat disuatu masa, itu artinya Ratu Min tak dapat kembali ke masa ini tanpa adanya mesin waktu?” tambah Sarjana Cho Myung Sik

         Sarjana Choe Ik-hyeon mengangguk menyahut ucapan Sarjana Cho Myung Sik. “Maka dari itu, aku harus cepat-cepat memberi tahu pada Raja Gojong”

         “A..apa?” Sarjana Kim Jong Geun dan Sarjana Cho Myung Sik terbelalak lantaran terkejut dengan pernyataan Sarjana Choe Ik-hyeon.

       “T..tapi bagaimana jika kita yang disangka penyebab hilangnya Ratu Min? Kita semua pasti akan mendapat hukuman” ujar Sarjana Cho Myung Sik yang terdengar begitu cemas sekaligus takut.

         “Kalian tenang saja, jika memang kita harus mendapatkan hukuman, maka akulah orang yang paling bertanggung jawab dalam kasus ini”

         Dirasa mendesak, Sarjana Choe Ik-hyeon langsung berlalu meninggalkan dua orang yang satu golongan dengannya. Sarjana Choe Ik-hyeon tak mempedulikan kekhawatiran Sarjana Kim Jong Geun dan Sarjana Cho Myung Sik. Yang terpenting baginya adalah Ratu Min harus cepat-cepat ditemukan atau tak akan kembali untuk selamanya.

 

*****

         “Yang Mulia, Sarjana Choe Ik-hyeon ingin bertemu dengan anda” dengan penuh hormat, Ajudan Im Da Hyuk melaporkan kepada Raja Gojong mengenai kedatangan Sarjan Choe Ik-hyeon.

         “Sarjana Choe Ik-hyeon? Mau apa dia kemari?” gumam lirih Raja Gojong. “Suruh dia masuk” perintah Raja Gojong.

         “Baik, Yang Mulia” Ajudan Im Da Hyuk membungkukkan tubuhnya dalam-dalam sebelum akhirnya berlalu menghampiri Sarjana Choe Ik-hyeon yang telah menunggu di luar.

         Tanpa menunggu lama, Sarjana Choe Ik-hyeon segera menghadap Raja Gojong dan memberikan bungkukkan dalam tanda hormat.

         “Yang Mulia, perkenankan hamba menyampaikan suatu hal. Ini berkaitan dengan Yang Mulia Ratu Min..”

         Raja Gojong yang sedari tadi hanya menatap datar ke arah Sarjana Choe Ik-hyeon kini berubah drastis menjadi tampak antusias sekaligus penasaran begitu orang yang ada di hadapannya tersebut menyebutkan nama Ratu Min.

         “Ada apa? Cepat kau ucapkan!”

 

#Tahun2014

#Restoran La Borchatta

 

         Suasana restoran dengan konsep Klasik Italia sangat terasa di restoran La Borchatta, dimana suasana Italia terasa dengan sentuhan wallpaper sudut kota besar seperti Venezia dan ikon kota Italia, Menara Pisa. Dan tak ketinggalan berbagai makanan khas Italia yang siap menambah suasana kekhasan Italia.

         “Kau mau pesan apa?” tanya Hye Min yang tampak sudah menentukan menu yang akan ia pesan dari buku menu.

         Sementara itu, Jung Kook yang baru pertama kalinya mendatangi restoran tersebut sedari tadi hanya membolak-balikkan tiap halaman buku menu. Bagaimana tidak? Ia sama sekali tak tahu menahu tentang makanan khas Italia yang menjadi makanan favorit bagi Hye Min. Jangankan mencicipi, mendengar nama makanannya saja terdengar begitu asing.

         “Umm.. aku.. pesan yang sama dengan yang sunbae pesan saja” ucap Jung Kook yang rupanya tak mau menunggu lama si pramusaji yang sedari tadi berdiri menunggu untuk mencatat pesanan.

         “Baiklah. Aku pesan dua porsi Fegatto alla Veneziana” ujar Hye Min pada sang pramusaji yang seketika itu pula mencatat dan segera menuju ke dapur restoran.

         “Umm.. Apa sunbae sering datang kesini?” tanya Jung Kook yang mencoba memecah kecanggungannya.

         “Ne. Karena restoran ini pula, aku jadi sangat menyukai makanan Italia”

         “Begitu rupanya. Pantas saja sunbae tampak tak begitu asing berada disini”

 

-Jung Kook’s POV-

 

         Aku mengamati sekilas makanan yang kini ada di atas meja. Tampak hampir mirip dengan steak yang sebelumnya pernah aku makan. Dari tampilannya saja tampak begitu lezat. Apalagi rasanya. Baiklah! Makanan, bersiap-siaplah aku santap!

         Mulutku tiba-tiba berhenti mengunyah potongan daging yang baru saja aku sayat dengan pisau kecil. Tapi.. kenapa rasanya begitu berbeda dari daging yang biasanya?

         “S..sunbae, ini daging apa?” tanyaku hati-hati takut ada sesuatu yang ‘meluncur’ karena di dalam mulutku masih terdapat daging yang belum sempat aku telan.

         “Itu bukan daging. Tetapi hati domba yang dimasak dengan bawang”

         “M..mwo?”

         Apa aku salah dengar tadi? Apa Hye Min sunbae bilang makanan ini sebenarnya hati? Oh tidak!

         Entah kenapa mendengar jawaban Hye Min sunbae, perutku tiba-tiba terasa mual dan mulutku seperti hendak mengeluarkan makanan yang ada di mulutku.

         “Jung Kook-ah, kau kenapa? Kau tak suka makanannya? Jika iya, aku akan memesankan makanan yang lainnya”

         Ah sial! rupanya Hye Min sunbae sadar dengan reaksi ku. Cepat-cepat aku telan dan kembali bersikap senormal mungkin.

       “A..aniyo. Aku suka makanannya” jawabku berbohong. Sudah dari dulu aku sangat anti memakan hati hewan walaupun sudah dimasak dengan apapun. Jangan tanyakan mengapa. Karena aku juga tidak tahu mengapa. Namun karena aku tak mau mengecewakan Hye Min sunbae, terpaksa aku makan tiap potong hati domba itu. Akh.. benar-benar.. Beberapa kali aku hampir memuntahkan makanan itu. Tapi apa daya. Aku harus tetap menelannya. Jeon Jung Kook.. Fighting!

         Di tengah-tengah perjuangan ku menghabiskan Fegatto, seorang pramusaji datang dengan nampan dan sebuah piring diatasnya.

      “Dalam rangka 1000 hari restoran La Borchatta, kami memberikan kejutan kepada para pelanggan. Yaitu memberikan gratis satu porsi makanan yang dipesan. Karena anda memesan Fegatto alla Veneziana, maka kami memberika satu porsi Fegatto alla Veneziana secara gratis”

         Kejutan? Iyakah? Lalu kenapa aku tak terkejut? Haha.. yang benar saja.

         “Jung Kook-ah, Aku sudah kenyang. Kau makan saja Fegattonya. Aku perlu pergi ke toilet sebentar”

         “N..ne, sunbae..”

         Daebak! Beginilah yang disebut kejutan! Baru saja aku berhasil menghabiskan makanan yang.. menyiksakan itu.. dan sekarang aku harus menghabiskannya lagi?

         “Mwoya? Akh.. jinjja!”

         Mata ku yang sedari tadi menatap frustasi pada Fegatto, tiba-tiba muncul sebuah ide yang cukup gila.

         Apa kau masih ingat dengan adegan ‘Mr.Bean’ yang sedang berada di restoran kemudian dengan konyolnya ia menyembunyikan tiap potong makanannya dan berpura-pura telah menghabiskannya dari para pramusaji restoran? Ya, itulah dasar munculnya ide gilaku.

         Tak jauh dari tempat duduk ku, terdapat sebuah tas jinjing yang terbuka. Rupanya tas itu milik seorang turis yang juga tengah menyantap makanan. Niatku bukan mencopet. Atau mencuri apapun. Melainkan ‘membuang’ Fegatto kedalam tas tersebut sebelum Hye Min sunbae kembali dari toilet. Gila bukan?

         Pertama, aku lihat keadaan sekitar. Baiklah, Aman. Kedua, aku bawa sepiring Fegatto dan ku masukkan hati domba tersebut kedalam tas milik turis itu. Berhasil. Dan ketiga aku taruh kembali piring diatas meja dan bertingkah seolah-olah aku telah menghabiskan semua makanannya.

         “Apa aku pergi terlalu lama? Tadi disana aku..”

         “Tak apa, sunbae” ucapku memotong ucapannya sambil ku sunggingkan senyuman. Andaikan saja tadi aku tak bertindak cepat, mungkin aku sudah tertangkap basah oleh Hye Min sunbae. Dan harga diriku pasti sudah menurun drastis. You should know that it’s not my style.

 

*****

         “Terimakasih untuk makan siangnya hari ini, sunbae. Aku benar-benar menikmatinya”

         Ku bungkukkan sedikit tubuh ku sebelum akhirnya aku keluar dari mobil Hye Min sunbae begitu mobilnya sudah tiba tepat di depan rumah ku.

         Tapi perlu digaris bawahi, yang ku nikmati bukan makanan yang sudah masuk ke perutku secara terpaksa. Namun kebersamaan dengan Hye Min sunbae-lah yang aku nikmati. Kau pasti tau bagaimana menyenangkannya ketika kau bersama dengan orang yang kau sukai kan? Itulah perasaan yang sedang ku rasakan.

         “Ne. Lain waktu lagi, aku akan mengajak mu kesana lagi jika kau mau. Terimakasih atas waktunya, Jung Kook-ah” ujar Hye Min sunbae yang mendongakkan kepalanya diantara jendela mobilnya yang terbuka.

         “Neee..” sahutku yang sedikit meninggikan suara lantaran kini aku sudah berdiri di depan gerbang rumah ditambah suara mesin mobil yang masih menyala.

         Dugaanku pada mobil Hye Min sunbae yang hendak langsung berlalu ternyata salah. Justru rupanya sang supir pribadi Hye Min sunbae mematikan mesin mobil. Tak lama kemudian, Hye Min sunbae keluar dari mobilnya sambil menatapku dengan tatapan teduhnya dan memperdekat jarak ku dengan dia. Entahlah, aku tak tahu ada apa gerangan.

         “Jung Kook-ah..”

         “N..ne sunbae?”

         Suasana berubah menjadi sunyi begitu Hye Min sunbae tak melanjutkan ucapannya. Ia justru diam sambil menundukkan kepalanya.

         “Kau boleh menganggapku perempuan tak tahu malu atau apapun itu. Aku rela dianggap seperti itu karena demi satu hal. Sudah lama aku diam dan hanya memperhatikan dari jauh. Dan aku sudah lelah selalu seperti itu. Maka dari itu, aku ingin melakukan satu hal. Yaitu mengatakan.. bahwa aku menyukai mu”

         Apa aku salah dengar? Atau.. aku sedang bermimpi? Tapi jelas-jelas aku sedang tidak bermimpi. Ini benar-benar nyata tetapi terasa seperti tidak nyata. Aku menatap lekat-lekat Hye Min sunbae yang sedari tertunduk.

         “Tak apa jika kau tak menyukai ku. Aku hanya ingin mengungkapkan. Setidaknya aku merasa lega sekarang..”

         Aku masih diam membisu karena aku begitu tak menyangka dengan apa yang barusaja aku dengar. Sementara, Hye Min sunbae kini sudah berjalan kembali ke mobilnya. Yang kini bisa aku lihat hanyalah punggung dan rambut panjangnya yang terurai.

       “S..sunbae..”

         Hye Min sunbae menghentikan langkahnya seketika begitu aku memanggilnya. Bahkan kini ia membalikkan tubuhnya sehingga aku dapat melihat wajahnya yang membuatku semakin berdebar.

         “Ne?”

         “Aku.. aku juga menyukai mu”

         Entah sihir dari mana, tiba-tiba aku berani mengatakannya. Dan seketika aku merasa lega seperti yang Hye Min sunbae ucapkan tadi. Beginikah rasanya mengungkapkan perasaan?

         Satu kecupan manis mendarat di bibir ku yang sontak mengejutkan ku. Sekilas aku menyentuh bibir ku dengan jari-jari tangan ku. Ciuman pertama dengan seseorang yang ku sukai? Apa aku baru saja benar-benar mengalaminya?

         “Mulai sekarang, kau milik ku. Kau paham itu, Jung Kook-ah?”

 

————————————————

 

-Author’s POV-

 

         Alunan musik disco yang menghidupkan suasana di salah satu club malam di Seoul membuat Hye Min, Ji Hyun, Shi Eun dan Yoongi semakin larut dalam pesta perayaan yang diadakan oleh Hye Min seperti yang ia janjikan sebelumnya.

         Bukan pesta perayaan hari jadinya dengan Jung Kook yang Hye Min rayakan. Melainkan pesta keberhasilan dirinya mendapatkan Jung Kook sebagai pembuktian jati diri Hye Min. Sementara itu Yoongi yang notabenenya adalah kekasih Hye Min saat ini sama sekali tak tahu menahu tentang hubungan kekasihnya dengan sang hobae. Hye Min dan teman-temannya sengaja menyembunyikan hubungan Hye Min dengan Jung Kook juga dibalik pesta malam tersebut dari Yoongi.

         “Chagiya, bisa kau jawab panggilan itu? getar dari ponsel mu sangat mengganggu aktivitas ku” umpat Yoongi setelah aktivitasnya mencumbu kekasihnya tersebut terganggu oleh ponsel Hye Min yang tergeletak di sofa yang mereka duduki sedari tadi bergetar.

         “Baiklah..” tanpa menunggu lama, Hye Min langsung bangkit dari duduknya dan mencari tempat yang sunyi.

         “Jung Kook?” Hye Min terheran begitu nama ‘kekasih barunya’ itu yang tertera di layar ponselnya. Cepat-cepat ia mengusap layar ponselnya tersebut.

         “Yeobosaeyo? Jung Kook-ah, maaf sudah membuat mu menelfon ku berkali-kali. Aku tak menyadari ada panggilan masuk”

         “Tak apa, noona. Aku jadi merasa bersalah karena sudah mengganggu noona”

         “Tentu saja tidak. Kau itu kekasih ku. Mana mungkin kau mengganggu ku”

         “Jinjjayo?”

         “Ne..”

       “Noona, dari sini terdengar sangat berisik. Apa kau sedang di luar?”

         “Ah.. iya. Aku sedang bersama teman-teman ku”

         “Ah.. begitu. Baiklah, nikmati waktu mu dengan teman-teman mu, noona. Maaf sudah mengganggu mu. Aku hanya ingin mendengaf suara mu. Dan.. mengatakan bahwa aku mencintai mu, noona. Sampai jumpa besok, noona”

         Hye Min menatap bingung ke arah layar ponselnya begitu panggilan dari Jung Kook terputus begitu saja. Namun tak lama setelah itu, sebuah senyuman seketika mengubah rona kebingungannya. Senyuman penuh rasa kemenanganlah yang kini menghiasi wajahnya.

         “Jung Kook-ah, kau ternyata jauh lebih mudah dari yang aku kira. Gomawo~ kau sudah menambah daftar koleksi ku” gumam Hye Min sambil tersenyum puas.

 

*****

         Berbeda dengan Hye Min yang tengah berpesta pora di club malam, Jung Kook yang tengah dirundung kasmaran tak henti-hentinya menyunggingkan senyumannya. Ia merasa menjadi orang yang paling berbahagia di dunia ini. Terlebih-lebih ketika orang yang ia cintai itu ‘mencuri’ ciuman pertamanya. Kau mungkin akan merasakan hal yang sama dengan Jung Kook jika kau mengalami hal yang sama bukan?

         “Akh.. aku sedang merasa bahagia, kenapa perut ku terasa aneh?” gumam Jung Kook sambil mengelus perutnya. “Apa jangan-jangan karena makanan Italia itu? Aisshh.. jinjja!”

         “Aku rasa aku harus memakan sesuatu. Apa aku harus makan daging panggang? Tapi dengan siapa aku makan? Jae Im noona? tidak mungkin! Jimin dan Tae Hyung? akh.. andwe! mereka pasti akan makan banyak. Lalu siapa? Umm.. baiklah. Aku rasa aku tau siapa!”

 

*****

         “Noona, ayo kita makan daging panggang bersama!”

         Jung Kook yang sedang dalam suasana hati yang baik, dengan antusias mengajak Ratu Min untuk makan bersamanya.

         “Daging panggang? Tapi aku sedang tidak lapar..”

         “Mwo? W..waeyo? Kenapa akhir-akhir ini setiap aku berbicara tentang makanan, noona selalu dalam keadaan tidak lapar?” umpat Jung Kook kecewa begitu mendengar sahutan Ratu Min.

         “Tadi Ta…”

         “Akh.. sudahlah! Sebaiknya noona cepat ikut aku atau aku akan mengusir mu dari sini!” ancam Jung Kook yang tetap bersikukuh untuk tetap mengajak Ratu Min.

 

*****

         “Tempat apa ini?”

         Ratu Min mengedarkan pandangannya disekeliling kedai yang menyediakan daging panggang kesukaan Jung Kook. Tampak asing. Begitu pula orang-orang yang tengah asik menyantap hidangannya. Tentu saja wajah mereka terasa asing bagi Ratu Min.

         “AHJUMMA! BUATKAN AKU DUA PORSI DAGING PANGGANG!” pekik Jung Kook ditengah-tengah keramaian para pembeli.

         “NEEE…!” terdengar lagi pekikkan. Namun kali ini bukan dari suara Jung Kook. Melainkan si pemilik kedai tersebut yang tengah sibuk memasak hidangan yang dipesan.

 

#10MenitKemudian

         “Sudah kuduga pasti akan lama..” Jung Kook menghela nafasnya mendapati pesanannya tak kunjung datang.

         “Apa ini?” tanya Ratu Min sambil memandang bingung dua botol kaleng yang baru saja Jung Kook beli di minimarket terdekat.

         “Itu minuman bersoda. Setelah memakan daging panggang, paling cocok minum dengan minuman bersoda”

         “Lalu.. kenapa kau tak beli disini saja? Aku lihat yang lainnya justru minum dari botol yang ukurannya lebih besar” tanya Ratu Min lagi sambil menunjuk pembeli lain yang tengah meminum soju.

         “Aku belum cukup umur untuk meminum soju. Soju itu minuman yang memabukkan” sahut Jung Kook sambil mulai menyantap daging panggang yang kini sudah tersedia di atas meja.

         “Ah.. begitu..” gumam Ratu Min yang juga mulai menyantap daging panggang. “Jung Kook-ah, kenapa gadis itu hanya berias saja? Sedangkan si pelayan itu tampak begitu sibuk melayani. Apa itu tidak adil?” ucap Ratu Min yang kini menunjuk seorang kassa yang tengah bersantai dan seorang pramusaji pria yang tengah sibuk dengan pekerjaannya.

         “Begitulah wanita. Wanita itu, tak suka diatur melainkan suka mengatur. Tak suka merasa lelah justru melelahkan kaum pria. Wanita itu selalu bertingkah layaknya seorang ratu yang selalu memerintah ini dan itu..”

         “M..mwo? Apa kau bilang tadi? APA DI MATA MU SEORANG WANITA ITU SANGAT MENYEBALKAN, HUH? DAN.. APA KAU TIDAK TAHU BAGAIMANA SULITNYA MENJADI SEORANG RATU?”

         Suasana menjadi hening seketika. Semua tatapan mengarah pada Ratu Min. Sementara Jung Kook, ia membulatkan mata dan mulutnya lantaran ia tak menyangka bahwa Ratu Min tampak begitu emosi. Ia melupakan satu hal, bahwa wanita yang ada di hadapannya tersebut adalah seorang ratu yang merasa tersinggung dengan ucapannya.

         “AHJUMMA, BAWAKAN AKU SEBOTOL SOJU!” pekik Ratu Min lagi yang berusaha bersikap seperti biasa dengan meniru apa yang Jung Kook tadi lakukan saat memesan makanan.

         “NEEE..” sahut sang ahjumma yang langsung memberikan satu botol soju pada Ratu Min.

         Tanpa basa basi, Ratu Min langsung nenuangkan soju kedalam gelas dan menegaknya dalam satu tegukan. Ekspresi wajah Ratu Min berubah seketika. Dahinya mengerut menandakan dirinya yang belum terbiasa dengan minuman beralkohol.

         Satu tegukan.. Dua tegukan.. Tiga tegukan.. Hingga tegukan yang terakhir. Tak terasa Ratu Min telah menghabiskan satu botol soju. Seiring waktu, tingkah dan ucapannya pun mulai berbeda karena efek dari alkohol. Sementara Jung Kook, ia hanya diam sambil menatap heran pada Ratu Min.

         “Akh.. sepertinya aku tahu sekarang. Kenapa Raja Gojong suka berpesta dan mabuk-mabukkan. Haha.. aku merasa seperti akan terbang sekarang.. wuussshhhh…” celoteh Ratu Min yang tengah mabuk. “Ahjumma.. bawakan aku satu botol minuman ajaib ini.. sekarang juga..”

         Jung Kook menghela nafasnya yang mulai tak tahan dengan tingkah Ratu Min. Cepat-cepat ia pergi ke kasir dan membawa Ratu Min pergi dari kedai.

         Dengan susah payah Jung Kook membawa Ratu Min ke rumah atap. Ditambah lagi aroma alkohol yang mulai mengganggu indra penciumnya.

         “SIAPA AKU? KAU TAK TAHU SIAPA AKU? HAHAHA.. BODOHNYA KAU TAK TAHU SIAPA AKU! AKU.. SEORANG RATU YANG BERKUASA DI KERAJAAN INI! YANG SUDAH BERHASIL MENGUSIR HEUNGSEON DAEWONGUN DAN SELIR YEONGBODANG YI YANG SIALAN ITU!”

         “Baiklah.. aku tahu.. aku tahu.. noona seorang ratu. Tapi saat mabuk pun kau tak berbeda dengan rakyat jelata mu” gumam Jung Kook menyahut umpatan Ratu Min.

         “YANG MULIA RAJA GOJOOONGG.. KAU BENAR-BENAR RAJA YANG MENJIJIKKAN! BAGAIMANA SESEORANG SEPERTIMU BISA MENJADI SEORANG RAJA, HUH? SEMENTARA KAU HANYA BERPESTA PORA DAN MENGHAMILI SELIR SIALAN ITU!”

         Jung Kook hanya menggeleng-gelengkan kepalanya mendengar umpatan dari Ratu Min. Ada perasaan penyesalan yang muncul dibenaknya. Seharusnya ia tak mengajak Ratu Min pergi ke kedai sehingga ia tak perlu melihat wanita secantik Ratu Min mabuk.

         “YANG MULIA RAJA GOJOOOOONNGGGGG…!!!”

         “YA! KAU PEMABUK! PERGILAH KE RUMAH SAKIT JIWA!”

         Rupanya, tak hanya Jung Kook saja yang merasa tak nyaman dengan umpatan Ratu Min. Seseorang yang tinggal di rumah yang mereka lewati merasa terganggu dengan umpatan Ratu Min yang tengah mabuk.

         “APA KAU BILANG? BERANI-BERANINYA KAU MENERIAKI SEORANG RATU!” balas Ratu Min yang tak mau kalah.

         Tak ada yang bisa Jung Kook lakukan selain sesegera mungkin membawa Ratu Min ke rumah atap. Kini ia menghiraukan umpatan-umapatan Ratu Min yang memekikkan telinga juga aroma alkohol yang tajam.

         “SIAPA AKU? KAU TAK TAHU SIAPA AKU? HAHAHA.. BODOHNYA KAU TAK TAHU SIAPA AKU! AKU.. SEORANG RATU..”

         Jung Kook langsung mendekap mulut Ratu Min begitu dirinya mendapati Jimin dan Tae Hyung tengah berada di depan rumah Jimin.

         “Ya. Jung Kook-ah. Apa itu Ja Yeong noona? Ada apa dengan dia?” tanya Jimin khawatir.

         “Dia tidak apa-apa. Aku akan segera kembali” sahut Jung Kook yang langsung membawa Ratu Min kedalam rumah atap.

         “Sebenarnya ada apa dengan Ja Yeong noona?” tanya Jimin sambil menoleh ke arah Tae Hyung berharap temannya tersebut dapat memberikan jawaban.

         “Entahlah. Aku rasa Ja Yeong noona sedang mabuk” jawab Tae Hyung singkat.

         “M..MWO?” Jimin langsung terbelalak begitu mendengar jawaban dari Tae Hyung. Pikirannya langsung tertuju pada dugaan-dugaannya yang pernah terbesit di pikirannya.

         “Ya. Tae Hyung-ah. Kalau benar saja Ja Yeong noona tengah mabuk, mungkinkah Jung Kook telah…”

         “Berhentilah berfikiran yang tidak masuk akal. Mana mungkin orang seperti Jung Kook akan melakukan hal seperti itu pada Ja Yeong noona. Bahkan dia merasa aneh saat mempelajari materi tentang Alat-Alat Reproduksi”

 

———————————————–

 

         Senyuman tak henti-hentinya Jung Kook sunggingkan sepanjang langkah kakinya di koridor sekolah. Terlebih-lebih saat ia teringat pada sosok seseorang yang kini menghiasi hari-harinya, yaitu Hye Min yang telah menjadi kekasihnya.

         “N..noona..?”

         Senyuman yang sedari tadi menghiasi wajah tampannya tiba-tiba pudar. Seluruh tubuhnya seketika terasa kaku.

         “J..jung Kook-ah…”

 

 

TO BE CONTINUED

 

 

Author’s note: akhirnya part ke-4 selesai juga. Sebelumnya author mau minta maaf sebesar-besarnya karena sudah terlalu lama ga ngepost ff ini. Mau tak mau, tugas yang diutamakan.

Author juga mau minta maaf kalo jalan ceritanya makin kesini makin ngebosenin. Cuma segitu yang author bisa sajikan untuk para reader. Maklumlah author bukan author yang ahli nyiptain ff. hehehe..

alright, readers. Kritik dan saran sangat author butuhkan. See you next part. Ppyong..~

About fanfictionside

just me

6 thoughts on “FF/ MY LOVE AND THE QUEEN/ BTS-BANGTAN/ pt. 4

  1. Hyemin jahat…mending jungkook buat aku aja gih
    Lanjutannya janganlama2 … ak suka ceritanya… baru pertama kali nemu yg kaya gini

  2. Hyemin ilangin aja sono! Ngapain juga tuh bang Yoongi yg jadi pacarnye tuh orang?! o.O
    Pengen tahu kelanjutannya Taehyung sama Bok Ja , deh.. *eh?

    -kkeut

  3. Ebuset, jungkook dijadiin pacar buat nambah panjang koleksi? Gila!! Haha. Eh, tapi itu ketauan ato apa ? Semoga aja ketauan dah..
    Next part ditunggu thor..🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s