FF/ CLAN/ INFINITE/ pt. 1


Title: Clan (Chapter 1)

Author: Junryu (former A-Mysty)

Genre: Fantasy, Slice of life, Adventure, Friendship, A little bit Thriller and Horror, also Mystery.

Length: Chapter

Cast:    Hyun Joo Rim (Original Cast)

            Urara Kim / Yamada Kim (Original Cast)

            Kim Myung Soo

            (And More… Coming soon)

Simple Warn:             Already edited. Sorry if you still find any typo(s). And this is just the beginning of story.

                                             

 NewMoon

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Daejeon adalah salah satu kota terkenal dan ramai di Korea selatan. Terdapat hutan cukup lebat yang disebut hutan Gariwangsan. Hutan ini tidak seperti hutan yang berhawa hambar seperti hutan lainnya, melainkan hawanya sangat bersahabat. Berbeda dengan hutan Gariwangsan, hutan Pyojuk di belakang batas hutan Gariwangsan memiliki aura hitam dan mistis yang begitu menggigit. Sudah dapat dipastikan, hal itu berhubungan dengan hantu atau makhluk sakral yang mungkin tak terdefinisi.

Mayat-mayat misterius sudah pasti pernah ditemukan di Pyojuk. Namun, hal yang ditemukan oleh sergeant hanyalah sidik-sidik jari manusia yang tergolong aneh. Bahkan mesin pelacak pun tidak bisa menemukan contoh sidik jari yang sesuai.

Dulu, sepasang lansia ditemukan tergeletak tak berdaya, namun napasnya masih berembus. Ketika ditanya kenapa mereka bisa begitu, mereka hanya menunjuk ke bagian dalam hutan Pyojuk dan sisi lain hutan Gariwangsan.

Konon, sang nenek meninggal 4 hari setelah paru-parunya dipenuhi cairan aneh tepat setelah ia ditemukan. Sang kakek pun juga seperti itu. mereka meninggal secara bersamaan hanya dengan selesih waktu 0,6 detik.

Anehnya, jenazah keduanya tidak menunjukkan bahwa mereka sudah tua berkeriput. Melainkan, tubuh keduanya berangsur berubah menjadi wanita muda dewasa dan pria dewasa. Dokter yang menanganinya tak kuasa menahan kejut. Satu hari setelah diotopsi, kedua jasad lansia itu menghilang. Dan terdapat oecahan kaca disekitar ruang otopsi, namun tidak ada bercak darah sedikitpun.

Orang-orang memercayai ada hal gaib di hutan Pyojuk setelah kejadian misterius terhadap dua lansia itu. Ditambah, sosok lansia sudah kembali muda berkeliaran tepat pada gerhana bulan atau bulan mati. Mereka seperti mencari mangsa. Bukan untuk dimakan atau dihisap darahnya seperti vampire, melainkan menyebar virus yang merubah manusia biasa menjadi seperti mereka. Sebenarnya ada alasan khusus, namun tak dapat didefinisikan secara singkat.

Hingga pada akhirnya, kaum alien muncul denhan sikap netral terhadap kaum werewolf ataupun vampire. Bahkan, para derze sekalipun. Seperti halnya film twilight, dimana volturi adalah clan terkuat diantara semua clan vampire. Untuk alien pun sama, sebuah keluarga misterius tanpa ada keterangan memiliki kekuatan terkuat.

///

“Apa kau tidak pernah merasa bosan membaca novel itu?” tanya Urara yang menatap sahabatnya Joo Rim yang tengah asyik membaca buku fantasy. Gadis yang memang kelahiran Jepang ini, menatap sampul buku Joo Rim yang diletakkan di atas meja.

“Aku suka cerita reinkarnasi, vampire, werewolf, derze, dan semua hal yang berbau fantasy. Memangnya kenapa? Kau ingin pinjam?” sahut Joo Rim dengan kedua mata yang masih fokus membaca kalimat-kalimat diksi cerita.

Urara mengendus lesu. Buku bergenre fantasy yang berada digenggaman Joo Rim membuat Urara penasaran. Tanpa aba-aba, Urara menarik buku itu dari tangan Joo Rim. Joo Rim yamg sedang asyik membaca kalimat terakhir sebelum berganti halamanpun langsung memekik jengkel.

“Ya!! Apa-apaan kau ini?” omel Joo Rim sebal.

Urara tak menyahut sedikitpun. Gadis berwajah oriental itu mengerutkan dahi ketika membaca judul buku bergenre fantasy yang sedang dibaca oleh Joo Rim.

The Day Of The Death?” Urara menatap Joo rim bingung. “Ini tentang hari kematian?” tanyanya sambil menatap sampulnya dengan saksama.

“Tidak juga,” Joo Rim mengambil bukunya kembali dari tangan Urara sedikit memaksa. “Yang jelas, ini kisahnya nyata. Tentang gadis yang hidup hanya dengan setengah roh dan terror dari roh yang satunya.” jelasnya singkat.

“Darimana kau tahu kalau ini adalah kisah nyata?” tanya Urara lagi tak santai.

“Dari nama pengarangnya,” Kini, Joo Rim menatap sampul novel itu. “Ahn Yoo Min.” ujarnya dengan sedikit mengeja.

“Memangnya kenapa dengan Ahn Yoo Min itu? Apa dia mengalaminya?” tanya Urara lagi. Ia menatap sekelilingnya. Kelas mulai dipenuhi oleh mahasiswa-mahasiswi lain.

“Karena yang mengalami hal itu adalah adiknya sendiri. Namanya Ahn Hye Min.” ujar Joo Rim yang kembali membuka novelnya, kemudian membacanya kembali.

“Benarkah?” tanya Urara yang sepertinya senang sekali mengusik Joo Rim yang sudah masuk ke dalam dunia fantasynya, yaitu pikiran.

“Ehm.” Joo Rim hanya menyahutnya dengan dehaman tenggorokan.

///

Di saat pelajaran moving class dimulai, sosok wanita muda berwibawa masuk dengan dengan langkah kaki yang begitu terhentak. Tepat di belakang wanita itu, ada seorang laki-laki berparas dingin tanpa ekspresi. Jika disandingkan dengan wanita muda itu, laki-laki itu tampak seperti anaknya. Karena mereka berdua memiliki paras dingin yang sama.

Urara menatap laki-laki itu dengan tatapan yang sedikit berbinar. Ia memang asli Jepang, namun ia tinggal di Daejeon sejak ia menginjak tahun ke-6 ia sekolah. Dimana kedua orangtuanya bercerai, kemudian ibunya membawanya ke Korea. Sebenarnya, nama aslinya adalah Yamada Kim. Namun, ia memutuskan mengganti namanya ketika ia mulai mengerti tentang maslaah ibu dan ayahnya dulu. Jadi, ia memutuskan untuk menghapus nama ‘Yamada’-yang merupakan marga dari sang ayah-menjadi Urara.

Sedangkan Joo Rim, ia hanya bertopang dagu menatap wajah laki-laki itu. Entah mengapa, matanya seperti tertusuk pisau. Tatapan tajam dan dingin laki-laki tanpa ekspresi itu seperti sedang berperang. Entah perang dengan siapa, yang pasti kedatangan laki-laki ini membawa aura gelap.

“Dengarkan saya,” Guru Mo mengetuk meja podium belajar dengan tegas, sehingga mahasiswa-mahasiswi lain menoleh ke arah wanita muda itu. “Hari ini, kalian menerima mahasiswa baru. Ia bukan pindahan darimana-mana, ia hanya ingin melanjutkan kuliahnya yang sempat terhenti selama setahun. Jadi, bisa dibilang ia sempat cuti 1 tahun lamanya karena masalah pribadi.”

Ekspresi dan tatapan laki-laki itu tidak berubah sama sekali. Ia hanay mendecak lidah dan menggerakkan kepalanya. Mata sipitnya membuat tatapan tajam itu semakin terasa, dan Joo Rim tidak bisa menatap laki-laki itu lebih lama lagi. Berbeda dengan Joo Rim, Urara malah semakin terpaku dengan tatapan dingin serta tajam laki-laki itu. Baginya, tatapan laki-laki itu memiliki daya tarik tersendiri.

“Dan…, kau bisa memperkenalkan dirimu sekarang.” Guru Mo menunjuk laki-laki itu dengan kelima jarinya.

Laki-laki itu menoleh menatap Guru Mo malas, kemudian hanya terdengar decakan lidah sebelum ia menatap ke sekeliling kelas lagi. Jujur saja, laki-laki itu terbilang cukup-bahkan sangat-berani untuk bersikap tidak sopan terhadap Guru Mo. Padahal jika kita tidak sopan ataupun disiplin, Guru Mo bisa membawa kita ke dalam ruang karantina dan sebagainya.

Nyalinya besar sekali… Joo Rim membatin ketika melihat laki-laki itu mendecakkan lidahnya kepada Guru Mo.

“Namaku adalah Kim Myung Soo. Seharusnya aku berada 1 tahun di atas kalian, namun karena suatu masalah aku memilih cuti dan mengulang semester 2-ku ini. Terima kasih.” Laki-laki berparas dingin yang kini diketahui namanya adalah Myungsoo itu, memperkenalkan dirinya dengan postur tubuh malas dan kedua tangan yang dimasukkan ke dalam saku celana.

Dasar tidak soapan. Sudah postur dan tatapan seperti itu, ditamabh tidak ada kata ‘senang berkenalan dengan kalian’ atau semacamnya. Joo Rim menggerutu sendiri tanpa alasan. Ia memang tidak menatap langsung kedua bola mata laki-laki itu, ia hanya menatap cara laki-laki itu berdiri dan lagaknya.

Tampannya… Batin dan pikiran Urara tidak bisa lepas dari pesona Myungsoo itu. Bahkan, ia menatap bola mata tajam Myungsoo tanpa berkedip dengan cepat. Sepertinya, kelembapan mata gadis itu terjaga dengan sangat baik, seperti vampire-menurut Joo Rim.

Aku harap ia tidak duduk di belakangku… Seketika keduat angan Joo Rim saling menangkup untuk berdoa. Ia memejamkan matanya sangat rapat hingga tercipta kerutan kasar di dahi serta di ujung matanya.

“Kalau begitu, silakan duduk. Kau bisa duduk di kursi tepat di belakang Joo Rim.” ujar Guru Mo dengan santai menunjuk kursi kosong di sebelah Han Ju dan di belakang kursi Joo Rim.

Mendengar hal itu, terciptalah dua ekspresi yang berbeda. Joo Rim yang sebelumnya berharap agar laki-laki bermata sipit namun tajam itu untuk tidak duduk di belakangnya, langsung menggebrak meja secara reflek. Sedangkan Urara, ia berteriak kecil karena terlalu senang. Kedua suara gaduh singkat yang mewakili dua ekspresi yang berbeda itu membuat mahasiswa-mahasiswi yang berada di dalam kelas-begitu juga dengan Guru Mo-menatap Urara dan Joo Rim heran. Kecuali, Myungsoo. Laki-laki itu tampaknya ‘masa bodoh’ dengan suara gaduh girang yang tercampur gebrakan meja.

Karena menirima tatapan aneh, Joo Rim bisa merasakan jantungnya berdetak lebih cepat dan tubuhnya mendingin. Keringat dingin seakan-akan sudah membanjiri sekujur tubuh dalam waktu 0,09 detik. Telapak tangannya terasa basah dan tubuhnya mendadak sempoyongan. Serta, lidahnya seperti membeku.

“Ada apa dengan kalian berdua? Apa ada masalah?” tanya Guru Mo dengan memicingkan matanya.

“Ah… anu…” Sebelum Joo Rim dapat emperjelas alasan dan merapikan tata cara berbicaranya, dengan suara melengking girang yang ditahan Urara menyela.

“Tak ada apa-apa, sonsaengnim. Kami berdua baik-baik saja. Kami berdua seperti itu karena itu adalah tanda ucapan selamat datang dari kami,” Urara melambaikan kedua tangannya cepat. “Kami juga senang kalau ia duduk di belakang kami.” tambahnya, yang kemudian diakhiri dengan senyuman manis.

Kalau saja ia bisa menghilang seperti derze hanya dengan menjentikkan jarinya, Joo Rim ingin sekali melakukan itu. Namun pada kenyataannya, Joo Rim hanya bisa menepuk kemudian memijat dahinya. Jawaban Urara yang sebenarnya hanya mewakili perasaan gadis Jepang itu, membuat seperti dipukul ringan tepat dibagian ubun-ubunnya.

“Bagus kalau begitu,” Guru Mo menganggukkan kepalanya dengan senyum tipis, namun bibirnya terlihat hanya memanjang datar. Bukan melengkung ke atas seperti orang-orang kebanyakkan. “Baiklah Myungsoo-ssi­, silakan kau duduk di sana.” ujar wanita muda itu.

Tanpa mengatakan terima kasih atau membungkukkan badan sebagai rasa hormat kepada guru, Myungsoo melangkahkan kakinya di sela meja barisan 1 dan barisan 2. Sementara itu, Guru Mo berjalan keluar kelas dengan ekspresi dingin yang ia pertahankan. Seperti halnya tadi, Myungsoo tampak tidak peduli dengan orang-orang sekitarnya.

Selama Myungsoo berjalan di sela barisan 1 dan 2, Urara tidak bisa menahan rasa kagum dan senangnya. Gadis itu sepertinya jatuh cinta pada Myungsoo pada pandangan pertama, atau pandangan yang kesekian. Karena, Joo Rim ingat betul bahwa Urara sudah berpacaran sebanyak 3 kali namun tidak bertahan lama.

Karena ranselnya hanya disampirkan dibahu kanannya, secara tak sengaja wajah Joo Rim tertampar ransel hitam milik Myungsoo keras. Hidung dan bibirnya langsung memanas serta memerah karena tamparan ransel Myungsoo.

“Ya! Apa kau tidak bisa menyampirkan ranselmu dengan benar agar tidak melukai orang lain?!” Joo Rim bangkit dan membalikkan badannya menatap Myungsoo yang tengah meletakkan ranselnya di atas meja.

Urara yang sedang ‘meresapi’ segala kelebihan paras Myungsoo, hanya bisa menganga. Joo Rim membentak Myungsoo dengan sebelah tangan yang menekan pelan ujung hidung serta bibir bagian atasnya sekaligus. Sedangkan Myungsoo, ia hanya mendelik dan membuka risleting ranselnya tanpa mengatakan apapun lagi.

“Kau dengar tidak?” Joo Rim masih saja menekan ucapannya terhadap peristiwa sederhana tadi. Namun, Myungsoo tak kunjung menjawab. Ia malah sibuk dengan buku yang baru saja ia keluarkan dari dalam tasnya. “Ya!!”

Tanpa mengadahkan kepala ataupun menatap Joo Rim, Myungsoo menjawab dengan kedua mata fokus pada lembaran kertas yang berkumpul menjadi satu dalam bentuk buku. “Jika orang tersebut tidak menyahut, apa kau mengira ia tidak mendengar?”

Joo Rim menjauhkan tangannya yang tadi menekan bibir atasnya dalam keadaan tatapan yang begitu sengit. Urara yang melihat mata Joo Rim yang sudah memicing sengit, langsung bergerak cepat. Gadis oriental itu bangkit, kemudian menarik Joo Rim.

“Ia memang seperti itu. Maklumi saja.” ujar Urara dengan suara yang sedikit terbata dan salah tingkah. Lalu, menarik lengan Joo Rim cukup kencang keluar kelas.

Tepat saat Joo Rim dan Urara berlalu, bel pun berdering. Dan tepat pada saat itu pula, Myungsoo mendelik tajam menelusup arah langkah dua gadis itu dalam diam. Kemudian, kembali fokus pada kalimat yang tercetak pada buku itu.

///

Seorang remaja laki-laki tengah melompati pagar sebuah sekolah berjenjang menengah atas tanpa memerhatikan keselamatannya. Remaja laki-laki itu berderap dengan cepat, ketika ia berhasil turun dari pagar beton yang tingginya kurang lebih 3 meter itu. Tidak ada siapapun yang melihat aksinya itu, kecuali dirinya sendiri.

Ketika berada di tempat yang cukup sunyi, laki-laki itu mengeluarkan sesuatu dari ranselnya dengan gerakan cepat. Ia kembali mendelik ke segala arah memastikan bahwa ia aman. Sebuah tablet sedang ia operasikan dengan gerakan tangan yang sangat cepat, terlihat seperti orang yang terburu-buru.

“Ayolah, cepat.” Laki-laki itu menggoncangkan tungkainya hingga membuat tablet miliknya ikut bergoncang. Kedua mata sipit yang terlihat dingin sekaligus ceria itu menatap layar tablet miliknya yang tertera sebuah desktop yang masih dalam keadaan loading. “Tak bisa kah kau cepat sedikit?!” rutuknya dengan suara tak sabar.

Beberapa detik setelah ia merutuk tak sabaran, munculah sebuah tab yang memperlihat wajah seorang laki-laki yang terlihat begitu dingin dengan kedua mata yang sipit. Kalau diperhatikan, mereka berdua terlihat mirip. Hanya saja, wajah laki-laki yang muncul di new tab itu lebih terkesan dingin dan tatapan tajam yang begitu menusuk.

“Apa?” tanya laki-laki yang wajahnya muncul di new tab itu tanpa nada. Jangankan nada suara yang tidak jelas, ekspresi laki-laki itu juga sangat datar dan sedikit… menyeramkan, mungkin.

Sedangkan laki-laki yang lebih dahulu menghubunginya, hanya menghela napas lega. Kemudian ia berdeham, lalu mulai angkat bicara. “Hyeong, apa kau menemukan orang yang cocok? Jujur saja, lingkungan sekolah yang aku datangi ini sangatlah sepi. Tidak orang yang lewat satupun.”

Laki-laki yang dipanggil kakak itu terlihat menoleh ke kanan dan ke kiri. “Sebentar. Jangan kau matikan saluran penghubungnya.” ujarnya. Kemudian, new tab pada tablet laki-laki yang memanggil laki-laki itu hyeong itu menggelap. Namun, beberapa menit kemudian kembali menyala.

Hyeong, bagaimana?” Laki-laki itu mengulang pertanyaan sebelumnya, mengenai ‘orang’ yang mereka cari. Entah untuk apa, sepertinya kedua laki-laki itu memiliki hubungan saudara yang kental, yaitu kakak beradik.

“Aku tidak yakin. Aku telah menemukan dua orang sekaligus, sebenarnya bisa saja aku menambahkan orang lain ke dalam list. Tapi, menurutku kita harus menyisipkannya. Memangnya kau tidak menyusup masuk ke dalam sekolah yang kau targetkan?” Laki-laki itu menjawab dengan suara yang khas, namun masih terdengar tegas.

“Menyisipkan apa? Memangnya benda itu sudah selesai? Aku? Hyeong, kau harus tahu… aku harus melompati pagar setinggi 3 meter karena aku terlambat. Ini karena kau juga. Seharusnya, kau tidak menyusun nama samara yang baru. Aku sudah cukup senang dengan Ethan, karena itu adalah nama…”

“Sstt!” Laki-laki yang memang lebih tua, mendesikkeras ketika mendengar adiknya ingin mengatakan sesuatu yang masih berlanjut. “Kau jangan banyak bicara. Kerjakan saja tugas dan target yang telah kau buat sendiri. Dan, jangan membahas soal nama-nama itu. Gunakan namamu yang sekarang, usahakan orang-orang tidak ada yang tahu.”

Laki-laki yang sepertinya memiliki nama ‘Ethan’ itu mengangguk paham. Pelipisnya terasa basah karena keringat dingin ketika ia menerima tatapan tajam kakaknya itu. “Baiklah, hyeong. Kapan kau bisa menyisipkan benda itu pada orang yang sudah kau masukkan ke dalam listmu?”

“Secepatnya… sebelum clan sialan itu menyisipkannya terlebih dahulu.” jawab laki-laki itu dengan sedikit pandangan mata teralih, kemudian mematikan saluran penghubungnya tanpa mengucapkan apapun lagi.

///

Urara menarik lengan Joo Rim sekuat tenaga menuju toilet. Di dalam toilet–bukan bilik toilet–Joo Rm melepaskan cengkraman tangan Urara dengan paksa, hingga membuat tubuh mungil Urara sedikit terpelanting. Joo Rim menatap sengit Urara, sedangkanUrara meringis sambil memegangi pergelangan tangannya.

“Apa-apaan kau menarikku dan meminta maaf padanya? Wajar saja aku marah. Ia adalah laki-laki yang tidak tahu sopan santun dan merasa dirinya yang terbaik. Kenapa kau terlihat begitu panik ketika laki-laki itu menatapku dingin? Satu lagi, kenapa kau menarikku keluar kelas sementara pelajaran bersilabus akan segera dimulai?!” Joo Rim membentak Urara dengan suara yang sangat lantang. Sepintas, dapat di imajinasikan lubang hidung Joo Rim seperti mengeluarkan uap panas.

“Maafkan aku, tapi tak sepantasnya kau memarahi mahasiswa baru. Apalagi, ia setahun dua tahun di atasmu dan setahun di atasku. Sikapmu sebagai yang lebih muda harusnya lebih di jaga. Aku tahu rasanya tertampar ransel, tapi kau jangan sampai berlebihan seperti itu, Joo Rim­ah.” Urara menajawab sambil menggemgam tangan kiri Joo Rim perlahan.

Joo Rim mendelik sengit dan napasnya mulai beraturan. Deru uap panas dari lubang hidungnya juga mulai terasa sejuk ketika menyentuh bibir atasnya. Joo Rim melepaskan genggaman tangan Urara perlahan, kemudian berjalan menghadap cermin toilet, kemudian membasuh wajahnya.

“Ujaranku barusan bukan untuk berniat mendiskriminasimu yang memang pada kenyataannya, seharusnya kau adalah siswi SMA bukan mahasiswi.” Urara menambahi untaian kalimat yang menjadi ujarannya. “Tapi, aku tetap menganggapmu seumuran denganku.”

Joo Rim masih terdiam sambil terus membasuh wajahnya. Suara gemericik air yang mengalir dari keran atau dari wajah Joo Rim terdengar lebih mendominasi. Urara mulai berjalan mendekati Joo Rim, lalu menumpu sebelah tangannya disalah satu wastafel. Gadis oriental itu menatap Joo Rim yang berulang kali menempelkan kedua telapak tangannya yang basah ke wajah dan daerah sekitar matanya.

Setelah beberapa saat, Joo Rim akhirnya mematikan keran dan menumpakan kedua tangannya di pinggiran keramik wastafel. Ia membiarkan air yang masih membasahi wajahnya mengalir serta menetes jatuh ke dalam wastafel kembali.

“Joo Rim-ah, maafkan aku. Aku tidak bermaksud membelanya. Hanya saja…”

“Hanya saja… aku tidak suka orang yang aku sukai secara tiba-tiba dibentak?” Joo Rim mengatakannya sambil mengadahkan kepalanya. Tangan kanannya menarik lembaran tisu yang terletak tepat di sebelah cermin.

Mendengar selaan dan serangan sebuah kalimat dari Joo Rim, wajah Urara terlihat memucat dan napasnya tercekat. Tidak, sepertinya bukan memucat, melainkan memerah. Gadis yang dikenal memiliki kemampuan kendo itu mengalihkan pandangannya, agar Joo Rim tidak melihatnya.

“A-aku… tidak mengatakan itu!” ujar Urara membela dirinya sendiri.

Joo Rim yang sudah selesai mengelap wajahnya yang basah, langsung tersenyum meledek saat ia mendengar Urara mencoba membela dirinya sendiri. Namun senyum itu tidak bertahan lama, tak lama kemudian Joo Rim terkekeh. Kemudian, ia melemparkan tisu-tisu bekasnya ke dalam tong sampah di bawah wastafel.

“Tak usah membela diri. Aku tahu kau menyukai orang baru itu. Orang yang kau bilang dua tahun lebih tua dariku.” Joo Rim mengatakan hal itu dengan santainya. Tatapan serta senyuman meledek, membuat Urara merasa wajahnya memeanas. “Cinta pada pandangan pertama, ya? Atau cinta pada ‘kilasan mata’ pertama?” Joo Rim menahan tawa sekuat yang ia bisa.

Sebuah bentakan dengan suara melengking, memekak telinga Joo Rim. Urara membentak Joo Rim dengan bahasa yang tercampur-campur. Ada beberapa kata yang diselingi bahasa Jepang, namun tetap didominasikan oleh bahasa Korea.

“Hyun Joo Rim!! Aku tidak menyukainya!! Jangan salah paham!!” sangkal Urara dengan wajah yang semakin memerah, hingga membuat Joo Rim tidak bisa menahan tawanya lebih lama lagi.

“Urara, kau tidak usah menyangkal atau mengelak lagi. Dari kata-katamu, wajahmu, gerakanmu, dan beberapa perilaku di kelas ketika Myungsoo itu masuk sudah mencerminkan semuanya. Aku tahu kau menyukainya pada ‘kilasan mata’ pertama.” Joo Rim mengatakan ujarannya sambil tertawa lepas. “Kau juga tak perlu takut,”

“Takut untuk apa? Aku memang tidak pernah takut.” Dalam sekejap, raut wajah Urara berubah menjadi datar. Hanya saja, wajahnya yang memerah masih sangat terlihat. Ditambah rambut hitam lurusnya membuat gadis itu semakin lucu seperti boneka.

“Takut perasaanmu terhadap Myungsoo diketahui olehnya, ya kan?” Joo Rim kembali menyerang Urara dengan ungkapan spontannya. Sepertinya, lidah dan akal pikiran imajinasi gadis ini begitu luas.

Urara mengepal eratkan tangan serta menggigit bibir bagian bawahnya keras. Entah mengapa, ia tidak berani menatap tatapan yang begitu meledeknya itu. Karena merasa kalah, Urara mengembuskan napasnya perlahan. Kepalan tangannya mulai melonggar.

“Baiklah, aku mengaku,” Urara mengalihkan pandangan matanya dari Joo Rim. Wajah memerah yang seharusnya sudah mereda, kembali muncul. “Aku… aku memang tertarik dengannya ketika ia memasuki kelas tadi. Entah mengapa, aku suka cara ia berbicara, penampilannya, tatapannya yang menusuk itu, dan aku tidak tahu lagi. Rasanya, aku begitu menyukainya.”

Joo Rim tersenyum menang. Ia sudah melupakan semua kekesalannya terhadap Urara yang membela Myungsoo, serta wajahnya yang tertampar ransel Myungsoo. Semuanya telah berganti menjadi bahan tawa ketika ia mengetahui temannya yang satu ini menyukai mahasiswa ‘lanjutan’ baru. Joo Rim menjentikkan jarinya, kemudian berkata, “Sudahku tebak, Urara Kim.”

“Tapi,” Urara langsung menatap Joo Rim dengan tatapan tersipu. Ia menepuk kedua bahu Joo Rim dengan kedua tangannya, kemudian menekannya sedikit. Ia menatap Joo Rim dengan sangat serius.

“Apa?” tanya Joo Rim sedikit gugup. Ia paling tidak suka orang lain menatapnya dengan sangat serius seperti ini. Rasanya, ia seperti sedang diintimidasi.

“Tolong jangan berutahu hal ini kepada yang lain, terutama pelaku yang membuatku menyukainya. Aku tidak mau orang yang kusukai menjauhiku karena beredar gossip aku menyukainya.” Ujaran Urara terdengar sangat serius, tapi terdengar juga seperti memohon.

Joo Rim sedikit menatap hempasan napas bahwa ia akan tertawa lagi. “Ya, ya, ya. Kau tenang saja. Aku tidak akan menyebar luaskan rasa sukamu terhadap laki-laki itu kepada siapapun. Hmm… mungkin aku akan membantumu untuk mendekat diri kepadanya. Membantumu sampai kau bisa, ya…, pacaran mungkin.” Gadis itu menatap Urara tersenyum dengan kedua bibir yang merekah sempurna, meskipun agak kering.

“Sungguh?” tanya Urara. Bola matanya terlihat begitu berbinar. Joo Rim menjawabnya dengan anggukkan kepala yang terlihat sangat tegas dan pasti. “Terima kasih, Joo Rim-ah!!” ujar Urara yang spontan memeluk Joo Rim, kemudian berteriak girang.

“Sama-sama, eonnie.”

Tak seperti sebelumnya, Joo Rim menjawab rasa terima kasih Urara dengan sahutan yang menenangkan serta panggilan yang seharusnya. Eonnie, bukankah itu hal yang paling sopan untuk didengar oleh orang yang lebih tua.

///

Meanwhile…

Seorang laki-laki terduduk di atas batang kambium pohon yang sudah mati. Sebuah ponsel berlayar sentuh sudah menempel di telinga kirinya. Bola matanya sesekali mendelik ke arah ventilasi toilet wanita. Tempat dimana Urara dan Joo Rim sedang bercengkrama, ah bukan, berargumentasi atau sejenisnya. Mata laki-laki itu juga sudah menangkap sosok Urara dan Joo Rim yang terlihat sangat dekat, kemudian diakhiri dengan pelukan mengharukan.

Namun, bibir laki-laki itu merekah miring. Senyuman licik nan misterius begitu menghiasi dan menguatkan ekspresi laki-laki itu.

“Radarku sudah menangkap sinyalnya… Ya, aku tahu itu…” Laki-laki itu kembali mendelik ke arah ventilasi toilet wanita itu. Joo Rim dan Urara masih berpelukan erat. “Hey, aku punya ide baru.”

“Apa?” tanya seseorang dari seberang sana.

“Berhubung laki-laki malang itu sudah mendapatkan dua orang, bagaimana kalau kira adu domba dua orang yang sudah menjadi targetnya?” ujar laki-laki itu dengan tetap mempertahankan senyum liciknya.

“Maksudmu? Jujur saja, aku tidak mengerti apa maksud kata-katamu itu. Adu domba? Cara apalagi yang akan kau gunakan? Kalau bisa menggagalkan laki-laki malang itu demi menyelamatkan tunangannya, sepertinya bagus.” ujar orang yang berada di seberang sana lagi.

“Aku rasa ini cara efektif selanjutnya.” Laki-laki itu berusaha meyakinkan ucapannya kepada lawan bicaranya itu.

“Baiklah, akan aku dengarkan.”

“Kita akan menggagalkan rencana laki-laki malang itu… dengan cara mengadu domba dua targetnya dengan tema… pengkhianatan seorang sahabat. Salah satu dari mereka akan aku jebak, dan… begitulah seterusnya.” jelas laki-laki dengan mendelik ke arah ventilasi lagi. Namun, Joo Rim dan Urara sudah tidak di sana.

“Lalu? Bisakah kau memperjelas?”

“Tidak. Aku rasa aku akan menjalaninya sendiri… dengan menghipnotis gadis yang paling mudah terlebih dahulu. Kemudian, menusukkan virus ke dalam tubuhnya.” Laki-laki itu memutuskan teleponnya dengan kalimat yang cukup menggantung. Membiarkan lawan bicaranya masih kebingungan dengan rencana laki-laki itu.

“Baiklah… diantara kalian berdua manakah yang akan terinfeksi virus terlebih dahulu?” Laki-laki itu berkata denga nsenyum sinis, kemudian menghilang dengan cepat.

To Be Continue

Author’s Note:

Hai. Aku kembali dengan ff fantasy. Aku berharap kalian suka storyline-nya. Entahlah, aku tidak tahu apakah ada yang sudah pernah membuat ff seperti ini. Soal cast, aku harap kalian tetap bisa berimajinasi. Untuk ffku yang lain, terpaksa aku pause untuk sementara waktu. Aku ingin melihat respon kalian terhadap cerita ini.

Don’t forget to comment. I’ll appreciate it! Thank you🙂

About fanfictionside

just me

7 thoughts on “FF/ CLAN/ INFINITE/ pt. 1

  1. Wow infinite, aku suka cerita fantasi apalagi buatan author hehe

    itu ‘Unmarried lady’ kapan dilanjut? Udah penasaran nih, cepet lanjut ya, semangat

  2. o-ow, siapa myungsoo sebenarnya? akhirnya bikin genre fantasy lagi ~~~~
    adu domba? wah bakal jadi crita yg bikin sebel nih, apalagi ngeliat keakraban mereka, duh nggak kebayang gimana tegangnya ntar konfliknya, semangat semangaet, next capt sangat ditunggu…..

  3. Oo I like myungsoo..masih belum paham ceritanya ini hanya bisa menangkap intinya ada 2 kubu bermusuhan dengan media 2 wanita bersahabat joo rim dan urara..
    Sepertinya seru apalagi kalau nantinya myungsoo jatuh cinta beneran pada salah satu wanita itu yg notabene akan dijadiakan media permusuhannya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s