FF/ HERO AND HEROINE/ BTS-BANGTAN/ pt. 3A


Author: Anditia Nurul||Rating: PG-13||Length: Chaptered||Genre: School-life, Friendship, Romance, a bit comedy||Main Characters: (BTS) Suga/Yoongi, & (OC) Geum Hajin||Additional Characters: (BTS) Jin/Seokjin, (BTS) J-Hope/Hoseok, (BTS) Jimin, (FX) Sulli & (A-Pink) Chorong||Disclaimer: I own nothing but storyline and the OCs. Inspirated by a fiction story titled ‘Crazy’ By Emolicious. Original ver casted by (B1A4) Jinyoung & OC||A/N: Edited! Sorry if you still got typo(s). [!!!] Used some ‘frontal(?)’ words. Please don’t bash!

HERO-HEROINE-BTS(2)

@@@@@

“PLAAAKKK!!!”

Aku berhasil menjadi pusat perhatian orang-orang yang berada di sekitarku setelah apa yang aku lakukan pada Suga. Ya, aku menamparnya. Aku menampar pipi kirinya. Tidak peduli kalau setelah ini dia akan membunuhku, tapi aku tidak terima kalau dia memukul orang yang sudah menolongku.

“Be-beraninya kau,” geramnya.

“AKU BENCI KAU! AKU BENCI KAU, MIN SUGA!!!”

Tatapan matanya itu menatapku lebih tajam dari biasanya, rahangnya bergetar, bahunya naik turun dan tangan kanannya terkepal kuat sampai buku-buku jarinya memutih. Dia terlihat menahan keinginannya untung memukulku. Sepersekian detik setelahnya, ia berjalan cepat menuju mobil golden brown-nya.

Huh! Terserah saja! Dia pikir aku takut?

“Uuh,” ringis Himchan.

Gara-gara harus memberi pelajaran kepada psikopat itu, aku sampai lupa menolong Himchan.

“Hei! Kau tidak apa-apa?” tanyaku menghampirinya. Kubantu dia untuk mengambil posisi duduk perlahan.

Himchan menyeka darah yang berada di sudut bibirnya, lalu menjawab, “Tidak apa. Luka seperti ini sudah biasa bagiku.”

Aku mengernyit. Biasa? Oh, jadi orang ini benar-benar suka berkelahi juga?

“Kau bisa berdiri?” tanyaku. Ia mengangguk.

Setelah Himchan berdiri, aku dan Jimin—yang baru saja menghampiri kami—memapah laki-laki itu ke arah sebuah bangku di dekat pohon kelapa. Setibanya di sana, aku minta pertolongan Jimin untuk meminta air hangat dan selembar handuk pada warga di sekitar pantai. Luka Himchan harus segera dibersihkan.

“Apa laki-laki tadi itu pacarmu?” tanya Himchan padaku sembari menunggu Jimin. Aku menoleh ke arahnya.

“Bi-bisa dibilang seperti itu,” jawabku ragu.

Kulihat Himchan meliukkan kedua alisnya. “Maksudmu?”

“Kami… kami pacaran karena keputusan sepihak darinya. Aku bahkan belum menganggapnya sebagai pacarku, tapi dia sudah menganggapku seperti pacarnya,” jelasku polos. Ish! Harusnya kan aku tidak boleh menjelaskan sedetil itu pada orang yang baru aku kenal. Aish! Hajin-ah, kau benar-benar bodoh!

“HAJIN-AH, INI AIR HANGAT DAN HANDUKNYA~~~” teriak Jimin mengakhiri pembicaraanku dengan Himchan.

Pelan-pelan, aku membersihkan luka lebam di wajah Himchan dengan handuk yang telah dibasahi air hangat. Sesekali ia meringis kesakitan. Haduh, kasihan sekali wajah setampan ini harus dihiasi luka lebam. Semuanya gara-gara kembaran Mashimaro itu!

“Hei! Hajin-ah, sepertinya Seokjin Sunbae dan Hoseok Sunbae juga sudah pergi meninggalkan pantai,” kata Jimin yang duduk di samping kananku, celingak-celinguk mencari dua orang yang dikatakannya tadi.

“Terserah! Aku tidak peduli dengan mereka.”

“Tapi—”

“Cukup, Jimin-ah! Aku tidak mau membahas mereka!”

“Ya, aku mengerti. Tapi, bagaimana kita pulang ke rumah? Kau bawa uang? Jujur saja, aku tidak punya uang!” kata Jimin blak-blakan, membuat Himchan tertawa kecil. Aish! Jimin ini benar-benar.

“Tenang, aku yang akan mengantar kalian pulang,” sahut Himchan. Aku melihat Jimin sambil tersenyum. Hohoho… Himchan-ssi benar-benar seorang malaikat yang diutus Tuhan untukku hari ini. Lalalala~

Setelah aku selesai membersihkan luka Himchan, ia pun bersiap mengantar aku dan Jimin pulang. Kami bertiga, berjalan ke area parkir mobil pantai, kemudian masuk ke dalam mobil yang sama dengan mobil si pendek itu. Hanya saja, mobil Himchan berwarna silver.

Aaaah, perjalanan pulang ke rumah terasa lebih nyaman dengan Himchan. Cara membawa mobilnya bagus, sangat berbeda dengan orang yang tadi mengajakku ke pantai. Uh, bau mobilnya pun wangi. Ini baru yang namanya ‘perasaan menyenangkan naik mobil mahal!’.

Ditengah-tengah keasikanku menikmati perjalanan sambil mendengarkan musik yang terputar melalui MP3 Player yang ada di dashboard mobil, sayup-sayup kudengar ponselku berdering. Bergegas kurogoh saku pakaianku, mengeluarkan ponselku dari sana.

‘Unknown 010-XXXX-1204’

Itu yang tertera di layar ponselku yang berkedap-kedip centil. Ah, palingan si pendek itu. Huh, mau apa lagi dia meneleponku? Sebaiknya tidak usah aku angkat.

“Kenapa tidak dijawab?” tanya Himchan, menyadari aku hanya membiarkan ponselku berdering.

Aku menoleh ke arahnya, mendapati laki-laki itu menyetir sambil sesekali melihat ke arahku. “Tidak apa-apa.”

Begitu panggilannya putus, aku langsung menon-aktifkan ponselku. Siapa tahu dia menelepon lagi nanti. Aku benar-benar tidak mau berbicara dengan orang itu. Aku sungguh kesal padanya. Sangat kesal. Aku benci dia. BENCI! BENCI! BENCI! BENCIIII!!!

@@@@@

Gara-gara bangun kesiangan, aku jadi terlambat datang ke sekolah. Dari kejauhan, kulihat gerbang sekolah sudah hampir ditutup. Astaga! Aku yang sudah berlari sejak tadi pun menambah kecepatan lariku. Fuh, untung kakiku sudah terlatih untuk berlari dengan cepat berkat kebiasaanku yang suka mengutil uang eomma di dompet dan langsung kabur sebelum beliau memukuliku dengan sapu.

“TUNGGUUUUUUU!!!” teriakku pada Satpam Ryu yang berdiri di dekat gerbang, bersiap untuk menutup gerbang itu.

Satpam paruh baya berwajah kotak lengkap dengan kumis lebat itu pun berteriak,“CEPAT!”

Ya, ya, ini juga aku sudah berlari dengan cepat. Huf, mungkin Jang Sonsaengnim—guru penjaskes—harus memperhitungkan bakat lariku ini. Siapa tahu aku bisa jadi atlet lari yang nantinya mengharumkan nama Korea Selatan… hohoho.

Akhirnya, aku masuk ke dalam area sekolah tepat di saat bel berbunyi. Aku pun berjalan menuju kelas, namun saat aku melintasi area parkir, tidak ada mobil berwarna golden brown di sana. Si toko-emas-berjalan itu tidak masuk sekolah? Baguslah. Dengan begitu aku tidak perlu melihat wajah menjengkelkan miliknya di sekolah hari ini.

Begitu tiba di kelas, aku langsung berjalan ke bangku milikku, duduk di atasnya. Baru beberapa detik aku duduk, tiba-tiba Sulli menghampiriku. Wajahnya nampak panik. Sepertinya ada sesuatu yang heboh. Apa ada hubungannya dengan Seokjin Sunbae lagi?

“Hajin-ah, tadi Seokjin Sunbae dan Hoseok Sunbae datang mencarimu,” serunya. Tiba-tiba jantungku berdetak kencang. Mau apa mereka datang ke kelas? Apa jangan-jangan mereka mau memukulku karena kemarin aku menampar Suga?

Ah, tapi sepertinya itu mustahil!

Yang punya tampang psikopat di antara 3 member Bangtan Boys kan cuma si Mashimaro KW1 itu!

“Oh,” responku singkat.

“Ih! Kenapa cuma ‘oh’?” sewot Sulli.

Kuputar kedua bola mataku, jengah. “Terus, maumu aku harus bagaimana? Aku harus bilang ‘wow’ sambil dance gangnam style gitu?”

“Ish! Kau ini kenapa jadi tidak asik, sih?” gerutu Sulli, lalu berjalan kembali ke bangkunya.

Hmm… kira-kira ada perlu apa mereka datang mencariku? Apa mereka benar-benar mau memukulku? Walaupun Seokjin Sunbae dan Hoseok kelihatannya orang baik, tapi bisa saja mereka melakukan itu padaku. Mereka berdua kan sudah lama berteman dengan si toko-emas-berjalan itu.

Huff, pokoknya hari ini aku harus siap menghadapi mereka. Tapi, sejujurnya, dalam hati aku ngeri juga.

@@@@@

Dalam hati aku tidak bisa berhenti menggerutu melihat Ahn Sonsaengnim yang masih asik berceloteh di depan kelas tentang materi atmosfer pada mata pelajaran geografi. Padahal, bel tanda istirahat telah berbunyi sejak 10 menit yang lalu. Hampir semua temanku pun tidak konsentrasi memperhatikan penjelasan beliau. Sebagian ada yang gelisah melihat jam tangan masing-masing, sebagiannya lagi melihat ke arah pintu dan satu orang lainnya, Sulli, sibuk memenceti jerawat kecil yang tumbuh di hidungnya.

“Nah, baiklah, kalian boleh istirahat.”

Uuuh, dari tadi kek!

Aku dan teman-temanku langsung berhamburan keluar kelas.

“GEUM HAJIN!”

Sialnya, saat aku baru keluar beberapa langkah dari kelasku, seseorang berteriak memanggilku. Aku menoleh ke asal suara dan kudapati Seokjin Sunbae berjalan cepat ke arahku. Kulihat beberapa gadis—teman sekelasku—melirik iri. Hohohoho.

“Ada apa, Sunbae?” tanyaku manis, tapi jantungku berdetak kencang.

“Kenapa kemarin kau tidak menjawab teleponku?” tanya Seokjin Sunbae begitu ia berdiri di hadapanku.

Telepon? Telepon yang mana? Kemarin yang meneleponku hanya si toko-emas-berjalan dan seseorang-yang-kuduga-si-toko-emas-berjalan.

Ah, jangan-jangan! Jangan-jangan nomor akhiran 1204 itu nomor ponsel Seokjin Sunbae. Aish! Bodoh!

“I-Itu—” gumamku sambil menggigiti bagian bibir bawahku ragu.

“Ah, sudah, lupakan!” Seokjin Sunbae mengibaskan tangannya. “Eum, bisa ikut aku sekarang?” tanyanya kemudian.

Kemana, Sunbae? Ke penghulu? Oh, baiklah kalau begitu. Dengan senang hati.

Aku ingin mengatakan kalimat itu, tapi aku urungkan ketika aku lihat mimik wajah Seokjin Sunbae begitu serius.

“Kemana? Dan untuk apa?” tanyaku takut-takut.

Jangan-jangan dia mau membawaku ke gudang sekolah dan di sana, Hoseok dan pengikut Bangtan Boys yang lain sudah menungguku. Begitu aku datang, mereka akan mengeroyokku dan akhirnya aku mati mengenaskan. Tidak pernah kubayangkan hidupku harus berakhir di tangan Seokjin-ku.

Aish! Tidak mungkin!

Masa mereka setega itu pada seorang gadis cantik?

“Ada yang perlu dibicarakan tentang masalah kemarin,” jawab Seokjin Sunbae denga nada serius.

Cih! Mau membicarakan Suga?

“Maaf, Sunbae. Aku tidak berminat membicarakan orang itu,” kataku. Mungkin aku sudah gila karena menolak tawaran Seokjin Sunbae untuk mengobrol berdua, tapi kalau topik obrolannya adalah Min Suga, sepertinya aku belum gila. “Permisi,” lanjutku, meninggalkan Seokjin Sunbae.

“SUGA MASUK RUMAH SAKIT!”

Aku berhenti mendengar satu kalimat yang keluar dari mulut Seokjin Sunbae sebelum aku benar-benar menjauh darinya.

Suga masuk rumah sakit?

Kenapa?

Apa yang terjadi padanya?

“Ru-rumah sakit?” Aku berbalik untuk menatap Seokjin Sunbae yang berdiri sekitar 4 langkah dariku.

Seokjin Sunbae mengangguk. “Ikut aku! Nanti akan aku jelaskan!”

Aku berjalan mengekori Seokjin Sunbae. Gelisah! Aku mulai berpikir, jangan-jangan Suga masuk rumah sakit karena aku. Tapi, aku kan cuma menamparnya dan sepertinya tamparanku tidak terlalu keras. Masa cuma gara-gara itu dia sampai masuk rumah sakit?

Astaga, selemah itukah dia?

Aku dan Seokjin Sunbae pun tiba di area parkir sekolah. Ia menyuruhku duduk di sadel motor sport berwarna pink terang. Biar kutebak! Ini pasti motornya. Hmm… jadi, kalau tidak ada Suga, Seokjin Sunbae ke sekolah naik motor keren ini?

Sayang tadi aku datang terlambat.

Pasti Seokjin Sunbae sangat keren saat mengendarai motor ini… hohoho.

“Ehm!” Seokjin Sunbae berdehem, membuyarkan kegiatan kampunganku mengelus-elus sadel motornya yang keren ini. Kulihat dia duduk di sadel motor yang berada di sebelah kiri motornya. Entah motor siapa itu, tapi… mungkin saja itu motor milik si Manusia Kuda, Jung Hoseok.

“Ja-jadi, kenapa Suga masuk rumah sakit?” tanyaku berusaha serius.

Seokjin Sunbae menghela napas. “Kemarin, setelah kau menamparnya, dia menyetir mobilnya sendirian dalam keadaan emosi. Dia tidak sengaja menyenggol mobil milik Zico, musuh kami di Paran High School. Akhirnya, mereka berkelahi dan Suga kalah karena saat itu dia cuma sendiri, sedangkan Zico bersama 3 orang temannya,” jelas Seokjin Sunbae. “Suga babak belur!”

Aku diam saja mendengarkan ceritanya, sesekali membiarkan mataku menatap indah wajahnya. Hohoho.

Aish! Hajin-ah! Ini saat-saat yang serius!

“Ah, dan kau juga sepertinya perlu tahu satu hal,” kata Seokjin Sunbae lagi.

“A-apa?”

“Laki-laki yang kemarin, Min Himchan…,” Seokjin Sunbae mengambil jeda sejenak dan di sini baru aku tahu kalau dia juga mengenal Himchan, “Dia adalah kakak Suga.”

Aku tertegun mendengar kalimat itu.

KAKAK?

JA-JADI, MEREKA BERDUA BERSAUDARA?

“Ta-tapi, kenapa kemarin… mereka berdua terlihat seperti musuh?” tanyaku bingung.

Seokjin Sunbae menoleh ke arah lain sejenak, kemudian menjawab, “Karena hubungan mereka memang tidak akur.”

Aku mengernyitkan dahiku. “Tidak akur?”

“Ya. Dari kecil, Himchan dan Suga selalu dibanding-bandingkan oleh appa-nya. Himchan lebih pintarlah, lebih tampanlah, lebih ini, lebih itu… pokoknya dia selalu dianggap lebih dari Suga. Sehebat apapun Suga, di mata appa mereka, Suga selalu berada di nomor 2. Karena itu…, Suga tidak suka dengan Himchan.”

“Jadi…, Himchan anak kesayangan appa mereka, begitu?”

Seokjin Sunbae mengangguk. “Ya, kau benar. Aku dengar, dari kecil Himchan memang lebih dekat dengan appa-nya dan Suga lebih dekat dengan eomma-nya.”

“Lalu, apa masalahnya? Suga kan masih punya eomma-nya.”

Seokjin Sunbae menatapku sejenak. “Eomma mereka sudah lama meninggal,” lirih Seokjin Sunbae.

Aku tertegun sekali lagi.

Jadi…, Suga sudah tidak punya eomma?

Apa… apa gara-gara hal itu, Suga seperti sekarang? Karena tidak mendapat perhatian, dia jadi nakal dan tempramen?

“Belum lagi, mereka berdua menyukai seorang gadis yang sama,” lanjut Seokjin Sunbae, lagi-lagi membuatku terkejut.

“Gadis?”

Ia pun melanjutkan perkataannya, “Ya, nama gadis itu Park Chorong, tetangga mereka dulu. Chorong seumuran dengan Suga. Dan sejak eomma Suga meninggal, Suga sangat dekat dengan Chorong. Tapi, ternyata… Himchan juga menyukai Chorong.”

“Lalu? Apa yang terjadi?” tanyaku penasaran.

“Untuk menentukan siapa yang berhak mendapatkan Chorong, Himchan menantang Suga adu balap mobil. Kejadian itu terjadi saat kami kelas 1 SMA. Kau bisa menebak hasilnya?”

“Suga yang menang, kan!?” tebakku. Ya, tentu saja aku yakin Suga yang menang mengingat caranya menyetir seperti jalanan punya dia sendiri.

“Ya, Suga yang menang. Sayangnya, karena kejadian itu, Chorong marah pada Suga. Katanya, kenapa melakukan hal berbahaya seperti itu untuk mendapat perhatian Chorong. Sejak saat itu, Chorong tidak pernah menemui Suga lagi.”

“Ja-Jadi?”

“Tentu saja Suga kesal. Kau tahu Suga beberapa kali hampir celaka saat latihan dan juga pertandingan itu. Dia sudah berusaha keras untuk memenangkan pertandingan, tapi… dia tetap saja tidak mendapatkan apa yang dia inginkan.”

“La-lalu setelah itu a-apa Himchan dan Chorong pacaran?”

Seokjin Sunbae menggeleng. “Tidak. Saat itu berpapasan dengan saat Chorong mendapat beasiswa sekolah di Amerika. Jadi, Chorong… tidak berpacaran dengan salah satu dari mereka. Tapi, sejak kejadian itu, hubungan Chorong dan Suga… tidak begitu baik.”

Dia pasti sedih sekali.

Dia sudah berusaha untuk menang pertandingan, tapi… Chorong malah tidak melihat kerja kerasnya. Lagi pula, yang mengajak tanding balap mobil kan bukan Suga. Sepertinya… Chorong salah. Belum lagi, di mata appa-nya, Suga selalu di nomor dua kan. Walau bagaimanapun, Suga kan juga tetap anaknya. Seharusnya Min Ajussi tidak boleh seperti itu.

Uh, kasihan sekali Suga.

Pantas saja dia seperti ini.

Mungkin… agar dia mendapat pengakuan dari orang-orang.

“Ditambah kemarin kau juga lebih memilih Himchan dari pada dia.” Seokjin Sunbae mulai menyudutkanku.

“Itu karena Suga yang salah! Dia langsung memukul Himchan begitu saja. Padahal, Himchan kan hanya menolongku.” Aku membela diri dari perkataan Seokjin Sunbae.

“Sama saja!” bantah Seokjin Sunbae. “Bagi Suga, kau lebih memilih Himchan dari pada dia.”

“Aku kan tidak bermaksud seperti itu, Sunbae. Aku… aku hanya…”

“Padahal, Suga sangat senang begitu mendapat surat darimu. Dia senang karena ternyata ada gadis yang menyukainya. Karena itu dia langsung menjadikanmu pacarnya,” potong Seokjin Sunbae. Uh, andai Seokjin Sunbae tahu surat itu sebenarnya adalah surat untuknya. “Tapi, kau juga malah membela Himchan,” tambahnya lagi.

Iya, sih… kemarin kesannya aku lebih memilih Himchan dari pada Suga. Apa… jangan-jangan… aku membuat dia kecewa, ya?

Belum lagi aku menamparnya kemarin.

Duh, bagaimana ini?

Apa aku harus minta maaf?

Seokjin Sunbae turun dari motor yang didudukinya dan berkata, “Pulang sekolah nanti, aku, Hoseok dan anak-anak lain mau melihat keadaan Suga. Kalau kau mau ikut, kami tunggu di sini.”

Setelah berkata seperti itu, Seokjin Sunbae berjalan meninggalkanku.

Ya, aku rasa, aku memang harus ikut dengan mereka.

@@@@@

Seperti yang dijanjikan Seokjin Sunbae, ia akan menungguku di tempat parkir. Tapi, nyatanya aku yang menunggu dia di dekat motornya karena kelasku lebih dulu keluar. Tepat di saat aku ingin menelepon Seokjin Sunbae saking bosannya aku menunggu, dia, Hoseok dan beberapa pengikut Bangtan Boys muncul.

“Jadi, kau mau ikut?” tanyanya. Aish, sudah jelas, kan? Kalau aku berada di sini, artinya aku mau ikut menjenguk Suga. Kenapa Seokjin Sunbae jadi bodoh begini, sih? Pasti terlalu lama bergaul dengan si toko-emas-berjalan itu!

Aish! Hajin-ah!

Aku mengangguk. “Ya.”

“Ya, sudah. Aku yang memboncengmu,” kata Seokjin Sunbae yang sekarang duduk di atas motornya.

Ohohoho, mimpi apa aku semalam sampai aku dibonceng Seokjin Sunbae!?

“Naik!” perintahnya.

Tanpa menunggu lagi, aku langsung naik ke motor Seokjin Sunbae. Duh, jantungku berdebar-debar. Ohohohoho.

Perlahan, Seokjin Sunbae melajukan motornya, diikuti Hoseok dan teman-teman Suga yang lainnya. Jujur saja, aku merasa seperti ikut dalam konvoi motor anak-anak berandalan. Saat kami mau melewati gerbang sekolah, aku melihat Sulli beserta teman-teman sekelasku yang juga penggemar Seokjin Sunbae. Mereka melihat ke arahku dengan tatapan iri. Aku hanya melambai-lambai ala Miss Universe ke arahnya, bermaksud pamer atau apalah namanya. Sekalian balas dendam karena seenaknya mencabut posisiku sebagai ketua fansclub!

HAHAHA… I’M THE WINNER, BEYBEH!

Begitu keluar dari gerbang, Seokjin Sunbae menaikkan kecepatan laju motornya. Laki-laki ini ternyata 11-12 dengan Suga. Mereka sama-sama gila saat membawa kendaraan. Bahkan Seokjin Sunbae juga jago menyalip sana-sini. Beberapa kali dia membuat jantungku hampir copot karena dia melajukan motornya di antara dua mobil truk.

Ternyata, dibalik wajah kalemnya, Seokjin Sunbae liar juga.

Setelah kami tiba di Seoul Hospital, aku masih bersama Seokjin Sunbae, Hoseok dan teman-teman mereka. Beberapa orang di dalam rumah sakit melihat ke arah kami, memandang kami curiga. Tenang… bapak-bapak… ibu-ibu… diharap tenang. Kami datang ke sini untuk menjenguk teman, bukan mau menjarah rumah sakit.

Aku, Seokjin Sunbae, Hoseok dan yang lainnya masuk ke dalam lift. Karena jumlah kami yang banyak, ada 9 orang, mau tidak mau kami bersempit-sempitan di dalam lift. Tapi…, hohoho… aku beruntung karena aku berdiri di sudut kiri lift dengan Seokjin Sunbae di sebelah kananku. Ah, jadi bisa skinship-an dengan Si Ganteng Seokjin Sunbae… muihihihihi. Lalala~ I’m so happy today~~

Sayang, kesenangnku tidak terlalu lama. Begitu tiba di lantai 4, kami keluar dari lift. Aku masih berjalan mengikuti Seokjin Sunbae yang berada paling depan. Rupanya, kalau tidak ada Suga, Seokjin Sunbae yang memimpin. Mungkin saja dia wakil ketua di Bangtan Boys dan… bisa jadi Hoseok adalah… sekretaris di Bangtan Boys… hahaha.

Aish! Hajin-ah, apa yang kau pikirkan?

Ini bukan saat yang tepat untuk berpikir yang iya-iya.

“CKLEK.”

Seokjin Sunbae membuka pintu kamar inap Suga, kamar 123. Laki-laki itu lebih dulu masuk ke dalam ruangan Suga, diikuti oleh aku yang berjalan di belakangnya. Takut-takut, aku bersembunyi di belakang punggung bidang Seokjin Sunbae.

“Aku datang dengan Hajin,” kata Seokjin Sunbae memberi tahu Suga yang sedang duduk di tepi tempat tidurnya, memandang ke arah jendela, membelakangi kami. Pelan-pelan, aku menunjukkan diriku. Kudapati Suga menoleh ke arahku, menatapku sinis.

“Untuk apa kau ajak dia?” ketusnya, lalu memalingkan wajahnya ke arah jendela, seolah tidak mau melihatku. Saat Suga mengeluarkan kalimat itu dari mulutnya, entah kenapa aku merasa ada sesuatu yang sakit di dadaku. Aku tahu Suga selalu berkata ketus padaku, tapi… entah kenapa, yang barusan terasa berbeda.

“A-Aku datang untuk melihat keadaanmu, sekalian untuk minta maaf,” sahutku membuka mulut.

Suga lantas menoleh ke arahku sekali lagi, lalu mendecih pelan. “Melihat keadaanku? Aku baik-baik saja. Justru Himchan-lah yang harus kau lihat keadaannya! Kau tidak ingat kemarin aku memukulnya habis-habisan? Pasti keadaanya jauh lebih buruk dari keadaanku, kan? Sana! Lebih baik kau lihat keadaan pacar barumu itu!”

JLEB!

Aku merasa kata-kata Suga terlalu menusukku.

“Su-Suga-ssi, kenapa bicaramu seperti itu? Hajin sudah jauh-jauh datang ke sini,” tegur Hoseok.

“DIAM!” Hoseok tidak buka mulut lagi. “SURUH DIA PERGI DARI SINI!”

“Ta-tapi, Suga—” Seokjin Sunbae berusaha membujuknya.

“KIM SEOKJIN, SURUH GADIS ITU PERGI ATAU AKU AKAN MEMBUNUHMU SEKARANG! SURUH DIA PERGI! CEPAT!!!” teriaknya.

Ukh! Orang ini!

Dengan emosi aku berjalan menghampirinya dan berhenti tepat di hadapannya. Bisa kulihat ia menatapku sangat sinis, tapi aku juga tak mau kalah. Memang hanya dia saja yang bisa menatapku sesinis itu, hah? Aku juga bisa!

“BAIK! AKU AKAN PERGI! KAU TIDAK USAH REPOT-REPOT MEMBUNUH SEOKJIN SUNBAE! AKU DATANG KE SINI UNTUK MINTA MAAF PADAMU! MAAF KARENA AKU MENAMPARMU KEMARIN! TAPI, SEPERTINYA AKU SUDAH TAHU APA JAWABANMU! SEMOGA KAU CEPAT SEMBUH! AKU PERGI!”

Aku berlari keluar dari kamarnya dan aku masih bisa mendengar suara Hoseok berteriak memintaku kembali. Tapi, aku tidak mau. Aku tidak mau kembali. Sungguh. Aku merasa sangat sedih karena Suga memperlakukanku seperti tadi. Sampai-sampai, aku tidak menyadari sejak kapan mataku berair.

Ah, kenapa aku malah jadi cengeng begini?

Kemana Geum Hajin yang biasanya?

Karena tidak mau menangis sambil dilihat orang banyak, aku memutuskan untuk masuk ke dalam toilet. Aku memasuki salah satu stall yang ada di dalam, menguncinya, lalu duduk di atas kloset yang sudah aku tutup lubangnya.

“Dasar Min Suga jelek! DUUK! Pendek! DUUK! Mashimaro! DUUUK!” gerutuku sambil menendang-nendang pintu stall dalam keadaan duduk.

“Suga bodoh! DUUUK! Jelek! DUUUK! Si pendek jelek! DUUUK! MIN SUGA JE—”

“Tok! Tok!”

Aku langsung menghentikan kelanjutan dari kata-kataku ketika mendengar seseorang mengetuk pintu stall. Aduh, pasti ada orang yang masuk dan menyangka aku gadis sinting yang berteriak sendiri di dalam toilet wanita!

“Hei! Siapa di dalam? Apa kau tidak apa-apa?” tanyanya.

Buru-buru aku menyeka air mataku dengan satu-satunya benda yang bisa aku gunakan di dalam toilet: TISU TOILET.

Aku berdiri, kemudian membuka pintu stall. “A-aku tidak apa-apa,” jawabku saat kulihat sesosok gadis cantik ber-dress putih tulang yang berdiri di hadapanku. Jangan-jangan dia hantu toilet ini. Astaga~~

Ah, tapi, kakinya menyentuh lantai.

Gadis itu pun berjalan ke arah wastafel, mengeluarkan bedak dari dalam hobo bag yang dibawanya, kemudian menyapukan bedak itu di wajah cantiknya. Sedangkan aku, setelah mencuci wajahku dengan air dari kran wastafel, aku malah asik memperhatikan gadis yang sedang memperbaiki dandanannya tersebut.

“Kenapa kau berteriak-teriak di dalam toilet?” tanyanya, melihatku melalui cermin di atas wastafel.

“Ti-tidak.”

“Kau ada masalah, ya?” tanyanya lagi. Duh, dia penasaram juga.

“….”

“Ya sudah, tidak apa-apa kalau tidak mau cerita,” katanya. “Oh, aku Park Chorong. Kau?”

Di-dia… dia Park Chorong?

Ja-Jangan-jangan dia… dia… gadis yang dikatakan Seokjin Sunbae.

Ah! Park Chorong di Seoul kan banyak!

Lagi pula, Park Chorong yang dimaksud Seokjin Sunbae kan ada di Amerika.

“A-Aku Hajin. Geum Hajin.”

“Apa yang kau lakukan di rumah sakit? Kau sakit?” tanyanya. Kali ini dia membereskan beberapa peralatan make-up yang digunakannya tadi.

Aku menggeleng. “A-Aku… aku menjenguk teman yang sakit. Ka-kau?”

Dia menghela napas sejenak. “Aku mau menjenguk teman yang sakit juga. Tapi, sepertinya tidak jadi,” jawabnya.

“Kenapa?” Gantian aku yang penasaran.

“Tidak apa-apa,” balasnya.

Mr. Chu~ ipsul wie Chu~ dalkomhage Chu~
onmome nan himi pullyeo
nae mam heundeul heundeureo nal heundeureonwayo
I’’m falling falling for your love ~

Ponsel gadis itu berdering. Segera dia merogoh tasnya, kemudian mengeluarkan sebuah ponsel dari sana. Tidak lama kemudian, ia merapatkan ponsel itu di telinga kirinya.

“Halo?” sahutnya. “Aku… aku di Seoul Hospital sekarang. Ng, menjenguk teman yang sakit,” lanjutnya.

Hmm… kira-kira laki-laki seperti apa yang bisa menaklukkan hati gadis cantik seperti Chorong ini? Pasti dia laki-laki yang baik, perhatian… dan juga tampan.

“Ohehe… maaf, aku tidak memberitahumu. Aku juga buru-buru tadi. Lagi pula, kau juga sedang tidak enak badan, kan? Aku tidak mau menganggu istirahatmu,” kata Chorong lagi. Pasti pacarnya yang menelepon.

Aish! Hajin-ah… kenapa kau malah memikirkan hal yang seharusnya tidak kau pikirkan?

“Hmm… baiklah. Aku tunggu di depan rumah sakit. Bye~” Chorong kemudian berjalan kembali ke tempatnya semula.

“Pacar?” tebakku.

“Bukan,” balasnya. “Eum, aku permisi dulu, Hajin-ssi. Sampai ketemu lagi,” pamitnya. Gadis cantik itu pun keluar dari toilet.

Huff, sekarang apa yang harus aku lakukan?

Kalau aku keluar sekarang, apa aman?

Pokoknya, jangan sampai aku bertemu dengan Seokjin Sunbae, Hoseok atau teman-teman mereka.

Setelah meyakinkan diri, aku keluar dari toilet. Aku terus bergerak cepat sambil menoleh kanan-kiri, memastikan aku tidak diikuti oleh mereka. Dan…, fiuh, akhirnya aku berhasil keluar dari rumah sakit dengan aman. Tapi, tepat di saat itu, kulihat sebuah sedan silver yang melaju keluar dari area rumah sakit. Sedan silver yang tidak asing bagiku.

“Itu kan…, itu kan mobil Himchan!?”

-TaehyungBelumCebok (^/\^)-

Anditia Nurul ©2014

-Do not claim this as yours-

-Do not re-blog / re-post without permission-

A/N2:

Makasih ya untuk yang udah komen di chapter sebelumnya dan di chapter ini juga. ^^

Btw, di chapter lalu banyak yang nanya… Himchan itu siapanya Suga di FF ini. Kalian udah tahu sendiri kan jawabannya?

Oh ya, ada juga yang minta V sama Jungkook dimunculin di chapter ini. Mm, maaf banget ya, mereka berdua gak muncul. Ng, kalo Jungkook sih, tepatnya dia BELUM muncul. Bakal ada kok dia di FF ini, tapi kemunculannya masih lama… hehe. Kalo Taehyung emang gak dapat peran di sini (sama Rapmon juga XD). Ya, kecuali kalo ntar di tengah jalan saya berubah pikiran dan menyelipkan mereka sebagai cameo… hehe ^^v

Satu lagi nih, ngomong-ngomong tentang adegan, FF ini… ehm… maaf banget, gak bakal ada NC scene-nya. Meski dari segi umur, saya udah lolos syarat bikin NC 21 *uhuk ketauan tuanya*, tapi duh… gak bisa bikin FF begituan. Gak sanggup(?) |~.~|

Oke deh, segini aja note dari saya.

Leave your comment, please.

About fanfictionside

just me

16 thoughts on “FF/ HERO AND HEROINE/ BTS-BANGTAN/ pt. 3A

  1. ngenes deh ceritanya suga/? mesti bgt chorong gitu yg disukain suga?-_- /abaikan
    bikin penasaran oke tbc nya –” next jan lama ya thor huehue😄
    btw kalo mau ada nc21 gapapa kok /digampar

    • Hehe… sori ya kalo Chorong yang mesti disukain sama Suga. ^/\^
      Iya. Diusahakan next secepatnya
      Ha? Duh. Gak bakal ada NC-21 di FF ini, say~😄

      Gomawo udah RC-in chapter ini dan chapter2 sebelumnya. Maaf banget baru bisa balas komennya di chapter ini ^/\^

  2. What? Apa ini? Aku jadi suka sama Suga gitu?
    Eonni, bisa gak entar Jin di bikin mati aja? Jangan di bunuh ya? Dibuat kecelakaan gitu kek, ato apalah, yang penting dia musnah. Aku nggak suka sama makhluk konyol kayak dia.

    Oke, sekian sajalah. Di tunggu kelanjutannya ya, Eonni? Like it^^

    • Gitu deh. Kan eonni udah bilang di SMS dulu. Gimana sih, saeng?😄
      GAK BISAAA!!! *santai dong* Saeng mah, di 30DC malah protes part-nya Jin cuma seiprit, di sini malah pen Jin musnah(?). Haduuuh… eonni bingung -_\

      Oke, saeng.
      Maaf ya baru dibalas komennya di chapter ini.
      Gomawo udah RC ^^

      • Oke, aku tau. tapi gak nyangka kalo secepet ini sukanya eonni

        Aish! Bisa dong eonni. Biar dramatis gitu. Buat aku milih antara Jin sama Suga biar bisa tau mana yang bener2 aku cinta gitu lho eonni

        Haha, saya memang suka bikin orang bingung eonni. Soalnya kalo di FF Cupid aku minta Jin musnah, pasti susah. Kan dia cupid. Masa’ mau di musnahin sih? Entar gak ada orang jatuh cinta dong!😀

        Yup, gwaenchana!!! ^^

      • Di sini Hajin belum suka yg gimana gitu ke Suga. Msh banyak banget bencinya dari pada sukanya.
        Haha… ngga. Eonni punya cerita sendiri. Gak ada gitu2an(?)😄
        Di sini yg dilema gegara cinta(?) cm Suga😄
        Bisaaaaaa aja ya ngelesnya.😄

  3. suga kasian bgt sih thor…jgn dibikin tambah menyedihkan lg dong pacarku itu kekeke~
    trs chorong dan himchan? ada sesuatu kah? apapun itu kuatkanlah suga😄
    hajin nya baik2 jg dong sama si mashimaro jadi-jadian itu ^^
    next nya aku tunggu ya ….

    • Heheh… ini belum apa2(?).
      Btw, jangan panggil thor, ya. Kalo kamu di bawah 92 line, panggil Kak atau Eonni aja. Panggil nama juga gak papa ^^
      Hmmm… baca aja kelanjutan FF ini kalo mau tau ada sesuatu atau tidak di antara Chorong-Himchan ^^ *puk2 Suga*
      Haha… duh bisa gak si Hajin baik ke Suga!?

      Sip.
      Makasih udah RC-in chapter ini dan chapter2 sebelumnya.
      Maaf banget baru dibalas komennya dichapter ini ^/\^

  4. ini kocak min hahaha masa suga jadi mashimoru hahahahaha penasaran kelanjutan hub suga sama hejin moga gak putus ya next chapt ditunggu min ^_^

  5. Ksian aget hajin d’usir ama suga :&
    Oh gtu ya thorr…
    Oke deh nae tunggu k’lanjtany moga seru deh

    gak ap” lah klo ga ad NC ny he he bye bye~

  6. Ceilah motornye warna “PINK CERAH LAGI” hemeh-_-”
    *plak
    keren thor cemungut yeth gak sabar baca lanjutanya >3<
    lanjut~ semangat 45😄 LUPAKAN

  7. yaampun baru skarang bisa lanjutin bca ni ff yg ternyata udh di post lumayan banyak😀

    dunia di sini terasa sempit ya, semua bisa lgsung ketemu dan ada di sini tuh para tokoh :p

    dan smoga ‘SUGA GA BATU’ lagi, biar mau maafin Hajin🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s