FF/ 30DAYS CUPID/ BTS-BANGTAN/ pt. 4


Author: Anditia Nurul||Rating: PG-13||Length: Chaptered||Genre: Fantasy, School-life, Friendship, Romanc, a bit Drama||Main Characters: (BTS) Jungkook, (BTS) Jin/Seokjin, (BTS) V/Taehyung & (OC) Oh Shina||Additional Characters: (OC) Jeon Junmi, (BTS) J-Hope/Hoseok, (BTS) Rap Monster/Namjoon, (BTS) Suga/Yoongi, (A-Pink) Bomi, (OC) Han Gyeoul, (BTS) Jimin, (OC) Chanmi & (OC) Han Ssaem||Disclaimer: I own nothing but storyline and the OCs. Inspirated by film My Name Is Love, Tooth Fairy 2 & Korean Drama 49 Days||A/N: Edited! Sorry if you still got typo(s).

30 DAYS CUPID(3)

“Saat ini kau adalah cupid-30-hari. Kau akan diberi kesempatan selama 30 hari untuk menjalankan hukumanmu. Jika kau gagal, kau tidak akan hidup sebagai manusia lagi. Kau akan menjadi cupid selamanya.”

Prolog | Chp.1 | Chp.2 | Chp. 3 >> Chp. 4

HAPPY READING \(^O^)/

@@@@@

Enam tahun yang lalu, di bawah sebuah pohon yang daun-daunnya berguguran ditiup angin, seorang gadis yang mengenakan seragam sekolah Paran High School, berdiri sambil memegang sebuah kotak bekal yang ia bungkus dengan selembar kain berwarna merah muda.

Rok berwarna birunya berkibar tatkala angin cukup kencang bertiup di pagi hari di musim gugur waktu itu. Memainkan anak rambutnya, menemani gadis itu menunggu seseorang. Sesekali ia melirik jam tangan yang melingkar manis di pergelangan tangan kirinya. Sesekali pula ia memperbaiki letak kacamatanya.

Ah, dimana dia? Kenapa dia belum kelihatan?

Gadis itu terus menoleh ke arah kanan, arah dimana biasanya pemuda itu—orang yang ia tunggu—datang. Yang ada hanya teman-teman sekolahnya, melintas dengan tas di punggung masing-masing menuju sekolah yang tidak jauh dari tempat gadis itu berdiri.

Tepat di saat gadis itu memutuskan untuk beranjak, pemuda yang ia tunggu muncul dari belokan. Gadis itu tersenyum begitu kedua irisnya melihat pemuda beransel merah yang berjalan ke arahnya. Pemuda itu nampak menyelipkan tangan kanannya ke dalam saku celana, sementara tangan kirinya memegang tali ransel yang tersampir pada bahu kirinya.

“Seokjin-ssi~”

Pemuda yang melintas di depan gadis itu langsung berhenti begitu mendengar namanya disebut. Ia menoleh ke arah gadis itu, orang yang memanggilnya. Sang gadis langsung tersenyum lebar melihat pemuda bernama Seokjin itu memandangnya.

“Kau memanggilku, kan?” tanya Seokjin memastikan. Kedua manik hitamnya memandang gadis berkacamata yang tidak dikenalnya.

Gadis itu mengangguk. “Ya.”

“Ada apa?”

“Ini untukmu!” Seketika gadis itu menjulurkan kotak bekal yang ia bungkus dengan kain berwarna merah muda ke arah Seokjin dengan kedua tangannya yang nampak bergetar.

Seokjin membulatkan kedua matanya. Ia sukses dikejutkan oleh seorang gadis yang tidak ia kenal—meski memakai seragam sekolah yang sama dengannya—tiba-tiba memberinya kotak bekal. Dalam sekejap, Seokjin bisa menebak bahwa gadis ini adalah satu dari sekian banyak gadis yang mengejar-ngejarnya di sekolah.

“Aku tidak mau menerimanya!” tolak Seokjin dengan nada ketus.

Kedua mata gadis itu membulat. Napasnya sedikit tersengal. Tangannya yang gemetar semakin terlihat gemetaran. “Ke-kenapa?” tanyanya kecewa.

Seokjin mendengus. “Siapa tahu kau memasukkan sesuatu yang bisa membuatku menyukaimu,” tuduh Seokjin. “Dengar, ya, kau bukan tipe idealku!”

Ugh! Kasar sekali ucapan pemuda itu.

“Lebih baik kau melihat dirimu sebelum mendekatiku, Nona…” Seokjin melirik name tag yang tersemat di bagian kanan seragam gadis itu, “… Jeon Junmi!” lanjut Seokjin, kemudian berlalu dari hadapan gadis itu.

Tidak peduli dimana dirinya berada, gadis itu langsung menumpahkan air matanya. Membiarkan aliran sungai kecil itu terbentuk di kedua pipinya. Ucapan kasar Seokjin terngiang jelas di telinganya. Sakit. Tentu saja itu yang ia rasakan.

Sementara Seokjin yang saat ini telah berada di dalam area sekolah, terlihat biasa-biasa saja. Tidak ada sedikit pun tanda-tanda yang menunjukkan ia merasa bersalah atas ucapannya kepada gadis pertama yang ia temui pagi ini. Tanpa tahu, sesuatu yang buruk tengah menantinya.

Ya, hukuman menjadi cupid-30-hari.

@@@@@

Jungkook langsung menelan ludah setelah mendengar bagaimana cerita cupid mentornya di masa lalu. Oh, God! Contoh nyata dari cupid-30-hari yang gagal menyelesaikan hukuman kini berada di hadapannya.

“Jadi, dulu kau…” Jungkook tidak meneruskan ucapannya. Merasa tidak sanggup, juga sedikit tidak enak.

Mengerti maksud dari kalimat Jungkook, Jin yang masih duduk di tepi tempat tidur pun mengangguk pelan. “Ya. Dulu aku adalah manusia, sama sepertimu. Dan dulu, aku juga pernah menjadi cupid-30-hari,” jelasnya. “Hanya sayang, aku… gagal.”

Lagi, Jungkook menelan ludah. Apa yang dilakukan Jin kepada sepupunya, Junmi, di masa lalu, sama dengan apa yang pernah ia lakukan kepada Oh Shina—dan sekarang menyebabkan ia menjadi cupid-30-hari. Oh, God! Bagaimana ini? Bagaimana jika aku gagal? Aku akan berakhir seperti Jin: MENJADI CUPID SELAMANYA!

“Mustahil. Ini tidak mungkin,” gumam Jungkook tidak percaya.

Jin tertawa tanpa suara, terlihat memaksakan diri. “Ah, aku belum pernah mengatakan satu fakta tentang cupid yang bertugas di istana Dewi Venus padamu, ya!? Tidak semua cupid di sana adalah makhluk yang memang terlahir sebagai cupid. Sebagian dari mereka ada yang terlahir menjadi manusia, lalu menjadi cupid setelah melakukan kesalahan dan gagal menjalankan hukuman,” katanya.

“Tapi…, tapi aku tidak mau menjadi sepertimu, Jin!” Jungkook berdiri dari duduknya, berjalan mondar-mandir di hadapan Jin. “Aku tidak mau menjadi cupid. Aku ingin tetap menjadi manusia dan selamanya! Aku tidak mau menjadi cupid!”

“Kau pikir dulu aku juga mau menjadi diriku yang sekarang!? Aku juga tidak mau, Jungkook! Aku juga tidak mau menjadi cupid!” tukas Jin. “Tapi…, aku sudah gagal. Aku gagal,” lirih Jin kemudian.

Jungkook mengacak rambutnya, mengerang frustasi, lantas kembali duduk di tempatnya. “Hah, kenapa harus ada hal bodoh seperti ini, Jin? Kenapa harus ada hukuman menjadi cupid 30 hari ini, eoh!?”

“Agar manusia tidak memandang sebelah mata perasaan cinta, Jungkook.”

Jungkook terdiam. Kepalanya menunduk, menatap lantai kamarnya yang sedikit kotor. Ucapan Jin barusan benar-benar meresap ke dalam pikirannya. Terbersit sedikit—ah, bahkan bisa dibilang terbersit begitu besar penyesalan terhadap apa yang pernah ia lakukan pada Oh Shina.

Seandainya dulu ia tidak berkata kasar kepada Shina.

Seandainya dulu ia tidak membuat gadis itu patah hati.

Seandainya dulu ia tidak membuat Shina berhenti mempercayai cinta.

Ya, seandainya.

Namun, sayang semua itu telah dilakukannya.

Jin menghela napas panjang. Ia lantas berdiri, kemudian menghampiri Jungkook. Tangan kanannya menepuk bahu kiri pemuda berambut merah marun itu, lantas berkata, “Sudahlah! Tidak ada gunanya kau menyesali apa yang telah terjadi. Yang harus kau lakukan adalah menyelesaikan misimu. Aku harus pergi sekarang. Sampai jumpa besok, Jungkook.”

Dan Jin pun menghilang. Seperti biasanya hanya meninggalkan selembar bulu sayap berwarna merah mudanya terayun-ayun dibawa angin, lalu mendarat lembut di lantai, di dekat kaki Jungkook. Membuat pemuda itu mengalihkan pandangannya ke arah bulu sayap itu.

Aku benar-benar tidak ingin seperti Jin.

Aku tidak mau menjadi cupid selamanya.

@@@@@

Udara masih terasa dingin, rerumputan bahkan masih basah karena embun, namun kedua gadis itu, Shina dan Bomi, tengah bersembunyi di salah satu sudut ruang loker. Keduanya tampak mengenakan seragam, lengkap dengan tas yang masih menempel di punggung. Bomi yang terlihat masih ingin melanjutkan tidurnya pun memilih untuk menyandarkan dirinya pada dinding, meski tas Shina yang berdiri di depannya sangat mengganggunya. Membuatnya merasa terjepit, sulit bergerak. Sementara Shina, sejak tadi pandangan mata gadis itu tidak lepas dari lokernya.

Seperti yang telah ia dan Bomi rencanakan kemarin, hari ini ia ingin mencari tahu siapa orang yang setiap pagi mengiriminya setangkai mawar. Rasa penasaran itu dengan sukses membuat Shina rela datang ke sekolah sepagi ini. Ah, dan jangan lupakan Bomi yang mau tidak mau menemani sahabatnya.

Sudah 10 menit kedua gadis itu berdiri di sana, namun… tidak ada satu siswa pun yang menghampiri loker Shina. Yang ada hanya siswa-siswi yang menghampiri loker masing-masing.

“Aish! Mana orang itu!? Kenapa dia belum muncul?” gerutu Shina, tidak sabar.

“Ck! Sudah kubilang, abaikan saja, Shina. Cepat atau lambat, orang itu akan menampakkan dirinya di depanmu,” komentar Bomi dengan nada malas.

“Apa jangan-jangan dia sudah tahu kalau kita menunggunya di ruang loker ini!?”

Bomi memutar kedua bola matanya, jengah. “Yang benar saja? Tidak ada yang tahu kita berada di sudut ruang loker yang sempit ini, Oh Shina!?” kesal Bomi. Waktu tidurnya yang terpotong membuat ia sedikit kesal hari ini.

“Lalu, kenapa dia belum muncul?”

“Mana aku tahu!?” Bomi mendengus sebal. Oh, ingin rasanya dia pergi dari tempat menyebalkan ini.

Para siswa dan siswi SOPA silih berganti memasuki ruang loker, menghampiri lokernya masing-masing, namun lagi-lagi tidak ada seorang pun yang menghampiri loker Shina. Hingga matahari mulai meninggi dan semakin banyak siswa-siswi yang keluar masuk ruang loker, orang yang ditunggu-tunggu Shina tidak kunjung muncul.

Kemana orang itu?

Kenapa hari ini dia malah tidak muncul?

“Shina-ya, lebih baik kita ke kelas sekarang. Kita sudah setengah jam di tempat ini. Mungkin orang itu memang tidak masuk sekolah,” bujuk Bomi.

Shina menghela napas. “Ya, mungkin kau benar. Mungkin dia memang tidak masuk sekolah hari ini,” responnya. “Ya sudah. Ayo ke kelas.”

Shina dan Bomi keluar dari tempat persembunyiannya. Seketika Bomi langsung bernapas lega, menghirup udara ‘kebebasan’ dan merayakan betapa cerahnya pagi ini. Berbeda dengan Bomi, Shina berjalan menghampiri lokernya. Sedikit kesal, gadis berambut panjang bergelombang itu membuka lokernya.

Ya, tidak ada mawar di sana seperti kemarin, dua hari yang lalu atau berhari-hari yang lalu.

Ah! Sungguh menyebalkan!

“Sudah. Tidak usah dipikirkan. Ayo, ke kelas.”

Shina mengikuti langkah Bomi keluar dari ruang loker tersebut. Menyusuri koridor menuju kelas mereka dengan perasaan sebal, juga kecewa. Namun, tanpa mereka ketahui, seorang lelaki berdiri di sebelah dinding ruang loker dengan setangkai mawar di tangannya. Melihat Bomi dan Shina baru keluar dari ruang loker di saat siswa-siswi telah ramai keluar masuk ruang loker, lelaki itu memasukkan kembali mawar yang dibawanya ke dalam tas.

Ya. Dia lelaki yang meletakkan setangkai mawar di loker Shina setiap pagi.

Dan, ya. Ia tahu rencana Shina hari ini.

@@@@@

Jungkook nampak berjalan memasuki gerbang sekolah. Sambil memegang kedua tali ransel di sisi kiri dan kanan dadanya, pemuda berambut merah marun itu berjalan santai menyusuri koridor. Tidak jauh di depan, ia melihat sesosok pemuda berambut light caramel. Ya, siapa lagi kalau bukan Kim Taehyung.

Pemuda berwajah bulat itu sedikit mempercepat langkahnya ketika melihat sosok sahabatnya di depan. Begitu jarak keduanya sudah dekat, dengan sengaja Jungkook mengejutkan Taehyung.

“BOOOM!” seru Jungkook sambil menepuk bahu Taehyung keras.

Taehyung menghentikan langkahnya, terperanjat. Beruntung ia tidak menjerit seperti seorang gadis. Ia menoleh ke arah Jungkook yang kini berdiri di sebelahnya, terlihat tertawa puas karena untuk pertama kalinya selama 6 bulan mereka bersama di SOPA, Jungkook berhasil mengejutkan Taehyung.

“Aish! Kau ini membuatku kaget, Jungkook-ah~” gerutu Taehyung, mengelus dadanya. “Bagaimana kalau aku mati terkena serangan jantung, eoh!? Aku akan menghantuimu seumur hidup!”

Jungkook terkekeh melihat reaksi Taehyung. Untuk sesaat ia berpikir, pantas saja Jin senang membuatnya terkejut. Rupanya membuat orang terkejut seperti ini sangat menyenangkan.

“Maaf,” sahut Jungkook singkat. “Oh, ya, tumben hari ini kau kembali datang lebih dulu dibanding aku. Sudah bosan datang terlambat, eoh?” tanya Jungkook. Kedua pemuda lantas melanjutkan perjalanan mereka menuju kelas.

Taehyung mengangkat kedua bahunya, cuek. “Ya, begitulah~”

Saat pintu kelas mereka sudah tampak di depan mata, keduanya melihat beberapa teman yang berada di depan kelas. Ada yang mengobrol, ada yang mengganggu siswi kelas lain yang melintas di koridor dan ada juga yang sibuk mengerjakan tugas piket membersihkan kelas.

Tidak lama, Bomi dan Shina terlihat keluar dari kelas tersebut. Keduanya berjalan menyusur koridor, hendak menuju kantin. Kedua gadis itu melempar senyum kala melihat teman sekelas mereka—Taehyung dan Jungkook—berjalan ke arah mereka. Begitu pun Taehyung, mengukir senyum di wajah ovalnya untuk membalas senyum kedua gadis manis di depannya. Jungkook? Ah! Lupakan pemuda ini. Dia malah memalingkan wajahnya, pura-pura tidak kenal.

“Kalian berdua mau kemana, hm?” tanya Taehyung basa-basi begitu berpapasan dengan Shina dan Bomi.

“Toilet,” jawab Bomi.

“Oh~” Taehyung hanya mengangguk, kembali berjalan, menyusul Jungkook yang kini berjalan beberapa langkah di depannya. “Hei! Kenapa kau meninggalkanku, eoh?” tanyanya, menepuk pundak Jungkook setelah ia berhasil berjalan di sisi kiri pemuda berambut merah marun itu.

“Tidak apa-apa,” jawab Jungkook seadanya.

Lagi, Taehyung mengangguk saja. Dia sudah paham apa yang terjadi antara Jungkook dan Shina. Keduanya… tidak berteman baik sejak kejadian di UKS beberapa minggu yang lalu.

Kedua pemuda itu masuk ke dalam kelas. Berjalan ke arah bangku masing-masing dan duduk di sana. Jungkook langsung mengeluarkan ponsel dari saku blazer-nya, memainkan game seorang diri. Sementara Taehyung, pemuda itu malah menoleh ke arah sekelompok siswi yang sedang membicarakan sesuatu, tidak jauh dari tempatnya. Pemuda itu menajamkan pendengarannya, ingin mendengar gossip apa yang ada hari ini.

“Ya. Kata Bomi hari ini Shina tidak mendapat mawar di lokernya.”

“Benarkah? Bagaimana bisa?”

“Mungkin karena orang itu tahu Shina dan Bomi sedang menyelidikinya. Bomi bilang, hari ini dia dan Shina datang pagi-pagi ke sekolah dan bersembunyi di ruang loker untuk mencari tahu siapa orang misterius yang suka meletakkan mawar di loker Shina.”

“Ah, apa jangan-jangan orang itu tahu kalau Shina dan Bomi sedang menyelidikinya, eoh!? Karena itu mungkin dia tidak muncul.”

“Entahlah. Kurasa juga begitu.”

“Hmmm… kira-kira menurutmu siapa yang melakukan itu?”

“Entah. Mungkin saja salah satu dari penggemarnya. Kau tahu sendiri, kan!? Semenjak Shina merubah gayanya, siswa dari kelas sebelah pun banyak yang naksir padanya.”

“Ya. Bahkan Youngjae Sunbae yang tampan itu juga mendekati Shina. Kemarin aku bahkan melihat Youngjae Sunbae mengantar Shina pulang.”

“Benarkah? Haaa… aku benar-benar iri pada Shina.”

“Shina benar-benar langsung populer. Ckckckck~”

Taehyung diam sejenak untuk mencerna kalimat-kalimat para penggosip di sekitarnya. Sesaat kemudian, ia menoleh ke arah Jungkook dan berkata, “Hei! Hari ini Shina tidak mendapat mawar di lokernya.”

Tanpa menoleh ke arah Taehyung—fokus dengan game di ponselnya, Jungkook membalas, “Terus? Apa hubungannya denganku?”

“Tidak ada,” jawab Taehyung datar. “Aku hanya memberitahumu saja.”

“Aku tidak butuh informasi tidak penting seperti itu, Taehyung-ah.”

Taehyung memanyunkan bibirnya. Untuk kesekian kalinya ia berpikir, “Ah, Jungkook benar-benar tidak seru untuk hal seperti ini.”

@@@@@

Jungkook dan Taehyung nampak asik menikmati jjajangmyeon di meja sudut kanan belakang kantin setelah berkutat dengan angka-angka pada pelajaran Matematika dan Fisika hari ini. Sembari mengunyah makanannya, Jungkook melihat-lihat ke sekitar kantin.

“Ehm, Jungkook-ah, kapan rencananya kita akan mengerjakan tugas kelompok Biologi?” tanya Taehyung diselam-sela acara makan mereka.

Mendengar Taehyung bertanya, Jungkook langsung menoleh ke arah pemuda itu. “Kau bilang apa?”

Taehyung mendengus. “Tugas kelompok Biologi, kapan kita akan mengerjakannya?”

Jungkook menghela napas. “Kau saja yang atur mau mengerjakan tugas itu dimana. Aku malas,” jawab Jungkook dengan nada tercuek yang pernah Taehyung dengar dari seseorang bernama Jeon Jungkook.

Taehyung memanyunkan bibirnya. “Kau ini bagaimana? Kau kan sudah ditunjuk oleh Han Sonsaengnim sebagai ketua. Kenapa malah melimpahkan tugasmu padaku?”

Jungkook tidak mengalihkan pandangannya ke arah jjajangmyeon yang tengah ia aduk sedikit kasar dengan sumpit besinya. “Sudahlah. Aku sedang tidak berniat untuk membahas hal itu.”

“Terserah kau saja. Kau ketuanya, jadi kau yang bertanggung jawab pada Han Sonsaengnim,” ucap Taehyung sedikit ketus.

Sekilas Jungkook melirik Taehyung. Nampak di matanya, pemuda berambut light caramel itu sedikit kesal. Ah, terserah! Hari ini Jungkook memang tidak berniat membahas masalah kelompok Biologi. Apalagi ada Shina yang menjadi teman kelompoknya. Hah! Membuat pemuda itu semakin malas saja.

“Aku sudah selesai,” ucap Jungkook, meletakkan kedua sumpit besinya di pinggir mangkuk. Karena Taehyung, ia jadi tidak nafsu menghabiskan jjajangmyeon-nya.

“Aku masih mau menghabiskan makananku,” sahut Taehyung agak dingin.

“Kalau begitu, aku ke kelas duluan.”

“Terserah kau saja!” balasnya, masih dengan nada dingin.

Haha… ayolah. Ini hal yang sering terjadi di antara hubungan persahabatan Jungkook dan Taehyung. Besok, keduanya akan terlihat akrab seperti tidak pernah terjadi apa-apa. Dasar!

Jungkook pun meninggalkan sahabatnya di kantin sendirian. Berjalan keluar dari area kantin, menyusuri koridor menuju kelas dengan wajah datarnya. Sampai… seseorang dengan sengaja melempar kepalanya dengan kertas yang diremas sehingga membentuk bola abstrak.

“Ish!” Jungkook mendesis kesal setelah benda itu mengenai kepalanya. Ia lantas celingak-celinguk mencari siapa orang yang melemparinya.

“Haha… aku yang melempar benda itu padamu.” Tahu-tahu seseorang bersuara di belakang Jungkook, sontak membuat pemuda itu memutar posisinya 180 derajat.

Ah, Hoseok Sunbae.

“Aku pikir siapa yang melempar,” ujar Jungkook melihat Hoseok berjalan menghampirinya.

Sang pelaku, Hoseok, terkekeh. “Habis kulihat kau berjalan serius sekali,” sahutnya. “Oh, ya, bagaimana? Apa kau sudah tahu apa yang akan kau lakukan untuk Namjoon dan target wanitanya, eumm, siapa namanya?”

“Han Gyeoul.”

“Ya, Han Gyeoul.”

Jungkook menggeleng pelan. “Belum. Belakangan aku tidak memikirkan tentang tugasku ini. Cupid mentorku pun setiap hari menanyaiku hal itu.”

Hoseok menghela napas. “Ya sudah. Kelihatannya kau benar-benar butuh bantuan Jung Hoseok yang tampan ini. Ayo, kita bicarakan di sana~” Hoseok menunjuk bangku taman yang berada di depan ruang kesenian.

Keduanya berjalan bersisian menuju tempat yang dimaksud Hoseok. Setibanya di sana, Hoseok langsung memulai pembicaraan.

“Sisa waktumu tinggal berapa hari lagi, eoh?”

“21 hari lagi, Sunbae.”

Hoseok menghela napas. “Kau benar-benar tidak punya banyak waktu.”

Jungkook menatap Hoseok lamat. “Lalu, apa yang harus aku lakukan, Sunbae? Apa saranmu?”

“Eung, pertama aku ingin mendengar apa yang kau ketahui tentang Gyeoul dan Namjoon.”

Jungkook mengambil napas panjang sebelum mulai menjelaskan. “Gyeoul Sunbae adalah siswa kelas 2.2, kutu buku yang setiap istirahat selalu membaca buku di perpustakaan sekolah, dia suka membawa bekal dan dia kerja part time di sebuah toko kue di Cheongdam-dong,” jelas Jungkook. “Kalau Namjoon Sunbae…,” Jungkook terdengar ragu, “… aku hanya tahu dia siswa tergalak di sekolah.”

“BUAHAHAHA!”

Sontak Hoseok tertawa mendengar penjelasan terakhir dari Jungkook. Well, dia berpikir Namjoon harus mengubah image-nya di depan para adik kelas. Ah, tidak. Sudah sangat terlambat mengubah image-nya, Namjoon sudah kelas 3.

“Oh, ya, ngomong-ngomong tentang Cheongdam-dong, aku dan Namjoon kursus Bahasa Inggris di sebuah tempat di situ.”

“Benarkah?”

Hoseok mengangguk.

“Lalu, apa yang harus aku lakukan selanjutnya, Sunbae?”

Hoseok menghela napas sekali lagi. Terdiam sejenak sembari mengelus-elus dagunya. “Hmm… kupikir kau harus melakukan sesuatu yang cepat memberikan hasil, eoh.”

“Sesuatu yang cepat memberikan hasil? Apa itu?”

Untuk beberapa saat, Jungkook memikirkan apa yang pernah dilakukan Jin ketika memberi contoh padanya. Oh, God! Yang benar saja? Jungkook… mencolek pantat Gyeoul? Sinting! Yang ada, dia malah dikeroyok habis-habisan.

Oke. Lupakan soal colek-mencolek pantat itu.

“Aku punya rencana. Ini pernah aku lakukan saat menyatukan target pertamaku, tapi…” Hoseok tidak meneruskan ucapannya.

“Tapi apa, Sunbae?” tanya Jungkook antusias.

“Kau… harus bersedia melakukan sesuatu,” lanjut Hoseok.

Jungkook mengerutkan keningnya. “Apa?”

Dan Hoseok pun memberitahukan rencananya kepada Jungkook. Rencana yang sontak membuat Jungkook membulatkan kedua matanya. Oh, well, mimpi buruknya tentang Kim Namjoon selama ini benar-benar akan terjadi.

“Bagaimana? Kau mau, hm?”

Mulut Jungkook menutup rapat. Ia terlalu shock mendengar rencana yang terucap dari mulut Hoseok. Oh, come on. Ini tidak ada bedanya dengan mencolek pantat target wanita. Aish!

“Pasti mentor cupidmu pernah berkata bahwa kau harus melakukan apa saja untuk menyatukan targetmu, bukan?”

Jungkook mengangguk pelan.

“Kalau begitu, aku yakin kau pasti tidak keberatan menjalankan rencana yang aku jelaskan.”

Jungkook menghela napas. “Tapi…, apa kau yakin cara ini bisa langsung berhasil, Sunbae?”

“Tentu saja. Kau tidak perlu meragukan Jung Hoseok. Hal ini sudah pernah terbukti. Aku jamin hal ini juga akan bekerja dengan baik untuk Namjoon dan Gyeoul. Aku akan membantumu. Tenang saja!” Hoseok menepuk-nepuk bahu kanan Jungkook, memberi semangat.

Jungkook menelan ludah, lantas berkata, “Baiklah. Aku… akan mengikuti rencana Hoseok Sunbae.”

Hoseok menyengir lebar. “Besok kita jalankan rencana ini. Persiapkanlah dirimu,” katanya, menepuk-nepuk bahu kanan Jungkook sekali lagi, lantas beranjak pergi.

Oh, God. Help.

@@@@@

“HEI! KAU, JEON JUNGKOOK! APA YANG KAU LAKUKAN, HAH?!” teriak Namjoon.

“Ampun, Sunbae. Aku benar-benar tidak sengaja.”

“KAU BUTA, HAH!?” bentak Namjoon. “LIHAT! SEKARANG SEPATUKU JADI KOTOR. BAGAIMANA KAU BERTANGGUNG JAWAB?”

“A-Aku… aku akan menggantinya, Sunbae.”

“GANTI! GANTI! KAU PIKIR SEPATU INI ADA BANYAK DI DUNIA? SEPATU INI HANYA ADA SATU DAN KAU TELAH MENGOTORINYA! MEMANGNYA KAU ORANG KAYA, HAH?”

Jungkook menggeleng.

“CIH! SOK MAU MENGGANTI SEPATU MAHAL INI. DASAR MISKIN!”

“Maaf, Sunbae.”

“AKU AKAN MEMAAFKANMU KALAU MENJILAT ES KRIM DI SEPATUKU INI!”

“A-Apa, Sunbae?”

“JILAT ES KRIM DI SEPATUKU INI ATAU AKU PUKUL WAJAH MENYEBALKANMU ITU!”

“Eeeh?”

“Ah, eh, ah, eh! CEPAT JILAT!”

Jungkook tidak bergerak sedikit pun. Oh, ayolah. Yang benar saja? Menjilat es krim di ujung sepatu itu!? Gila!

“KAU TIDAK MAU, YA!?” bentak Namjoon.

“Eh?”

“AISH! MEMBUANG-BUANG WAKTUKU SAJA! KALAU BEGITU, INI UNTUKMU!”

“BUKH!”

“Hah… hah… hah… hah… hah….”

Seketika Jungkook terbangun, langsung mengambil posisi duduk setelah untuk kesekian kalinya ia bermimpi buruk tentang Namjoon. Dahi dan lehernya tampak dibanjiri keringat. Begitu juga dengan tubuhnya. Membuat beberapa bagian kaos tanpa lengan yang membalut tubuhnya nampak basah.

Jungkook menghela napas panjang. Huft… syukurlah hanya mimpi.

Pemuda berambut merah marun itu lantas mengelap keringat yang mulai menyusuri pelipis dengan ujung kaosnya. Begitu juga untuk bagian lehernya. Untuk sesaat, pemuda itu terdiam, mengatur napasnya yang masih tersengal, menenangkan jantungnya yang berdetak kencang.

Beberapa detik kemudian, sayup-sayup Jungkook menndengar ada suara di luar, di ruang keluarga. Meski lampu di ruang keluar itu telah padam, namun ada cahaya lain yang terlihat. Seperti cahaya yang mungkin saja berasal dari televisi yang dinyalakan.

Apa Junmi Noona belum tidur?

Dalam satu kali gerakan, Jungkook menyibak selimut yang menutupi bagian bawah tubuhnya. Berjalan menuju pintu, keluar dari kamar dan… ya, ia mendapati sepupunya duduk di sofa, menonton sesuatu.

Noona-ya?” Jungkook menghampiri Junmi.

Seketika, gadis yang tengah mengenakan piyama berwarna biru muda itu menoleh ke asal suara, mendapati Jungkook berjalan ke arahnya sembari menguap dan mengucek mata sebelah kanannya. “Ah, Jungkook-ah. Apa suara televisi mengganggu tidurmu!?”

Jungkook yang telah duduk di sebelah Junmi, memeluk bantal, lantas menggeleng pelan untuk menjawab pertanyaan sepupu yang tengah melihat ke arahnya.

“Lalu, kenapa kau bangun di tengah malam seperti ini?”

“Mimpi buruk, Noona,” jawab Jungkook. Junmi hanya ber-‘oh’ saja. “Noona sendiri kenapa belum tidur?”

“Entahlah. Sepertinya insomniaku kambuh,” jawab Junmi, kemudian mengalihka pandangannya ke arah televisi yang sedang menayangkan sebuah drama yang diputar melalui DVD.

Jungkook mengangguk pelan, lalu ikut mengalihkan pandangannya ke arah televisi. Menyaksikan drama yang… ah, sudah sering ditonton oleh Junmi, Kkotboda Namja. Uh, mungkin karena drama ini sampai-sampai Jungkook memimpikan sepotong adegan dari drama ini. Buruknya, kenapa harus Kim Namjoon yang menjadi Gu Junpyo? Tapi yang lebih buruk, kenapa dia yang harus berada di posisi gadis yang dimarahi Gu Junpyo karena menjatuhkan es krim di sepatunya.

Haha! Bunga tidur!

Antara drama dan mimpi Jungkook sama sekali tidak ada hubungannya!

“Kau mau minum susu hangat?” tawar Junmi, menolehkan wajahnya pada Jungkook.

“Ya, Noona.”

“Baiklah. Tunggu sebentar, akan kubuatkan.”

Junmi beranjak dari sofa menuju dapur untuk membuat dua gelas susu hangat. Sementara, Jungkook masih setia duduk di sofa sembari memeluk bantal sofa, menonton adegan demi adegan drama yang ditayangkan. Tidak butuh waktu lama, Junmi kembali dengan dua gelas susu cokelat hangat, satu ia berikan untuk Jungkook dan satu lagi untuknya.

“Terima kasih, Noona~” ujar Jungkook begitu menerima gelas yang diberikan Junmi padanya.

“Ya~” balas Junmi singkat, kembali duduk di tempatnya semula.

Keduanya pun kembali tenggelam dalam setiap pergerakan adegan yang berada di televisi sambil sesekali menyesap susu hangat masing-masing. Sekitar 30 menit kemudian, Jungkook mulai merasa bosan. Sesaat, ia menoleh ke arah Junmi, memandang saudara sepupunya yang masih memfokuskan kedua matanya pada keempat aktor tampan dan seorang aktris cantik di televisi.

Tiba-tiba, Jungkook teringat akan Jin. Tepatnya, teringat akan cerita yang diceritakan Jin kemarin malam.

Noona?” panggil Jungkook pelan.

“Hmm?” balas Junmi tanpa menoleh ke arah Jungkook.

“Boleh aku tanya sesuatu?”

Junmi pun menolehkan wajahnya ke arah pemuda berambut merah marun yang berada di sebelahnya. “Kau mau tanya apa, Jungkook-ah?”

Jungkook menghela napas sejenak. “Apa kau pernah mengenal laki-laki bernama Kim Seokjin?”

Ck! Ini terlalu malam untuk menanyakan masa lalu orang lain, Jungkook-ah. Apalagi masa lalu itu berkaitan dengan perasaan.

Mendengar pertanyaan yang keluar dari mulut sepupunya, seketika Junmi tercekat. Perasaan terkejut tidak bisa ia sembunyikan karena kedua matanya seketika membulat sempurna. Ia memandang Jungkook lamat, begitu pun dengan Jungkook, balas memandang gadis yang 6 tahun lebih tua darinya itu lamat.

Beberapa detik kemudian, Junmi menghela napas sembari memutuskan kontak mata antara ia dan pemuda di sampingnya. “Ah, aku mengantuk sekarang. Waktunya tidur.” Junmi berdiri dari sofa. “Sebaiknya kau juga tidur sekarang, Jungkook-ah. Jangan sampai besok kau terlambat ke sekolah,” ucap Junmi, lantas beranjak menuju kamarnya.

Pemuda itu menatap punggung mungil sepupunya yang mulai menjauh, lalu menghilang saat gadis itu masuk ke dalam kamar dan menutup pintu. Sungguh, ia merasa menyesal telah menanyakan hal itu kepada Junmi.

Ck! Ini memang terlalu malam untuk menanyakan masa lalu seseorang, Jungkook-ah!

@@@@@

“Jungkook-ssi, Taehyung-ssi~”

Suara lembut seorang gadis memanggil nama dua pemuda yang tengah duduk di bangku taman depan kelas. Ya, mereka berdua sudah baikan lagi. Hampir bersamaan, kedua pemuda yang sedang membicarakan sesuatu—entah apa, menoleh ke asal suara.

“Ah, Chanmi-ssi, Shina-ssi, ada apa, hm?” tanya Taehyung ramah. Sementara Jungkook? Lupakan saja pemuda dingin ini.

Chanmi dan Shina, dua gadis itu tanpa izin duduk di bangku taman yang berhadapan dengan Jungkook dan Taehyung. Jungkook menundukkan pandangannya setelah tanpa sengaja ia dan Shina melakukan kontak mata untuk waktu yang kurang dari 2 detik. Dalam sekejap membuat keduanya terjebak dalam suasana canggung, meski Chanmi dan Taehyung mungkin tidak menyadarinya.

“Bagaimana dengan tugas kelompok Biologi? Kapan dan dimana kita akan mengerjakannnya?” tanya Chanmi, melihat wajah Jungkook dan Taehyung bergantian. “Waktu kita tinggal sedikit lagi,” lanjut gadis itu.

“Tuh, kan!? Apa yang kemarin aku bilang, Jeon Jungkook?!” celetuk Taehyung.

Jungkook mendengus, mengangkat sedikit pandangannya. “Terserah kalian. Aku ikut saja,” sahutnya datar.

“Hei! Mana bisa begitu, Jungkook-ssi?” protes Chanmi. “Kau ketua. Ayolah, katakan saja kapan kau dan Taehyung punya waktu. Masalah tempat, kita bisa belajar di rumahku atau di rumah Shina. Iya, kan, Shina?” Chanmi menoleh ke arah Shina yang sejak tadi menundukkan kepalanya, meminta persetujuan.

“I-iya,” gumam gadis itu pelan.

“Tuh, Jungkook, dengar! Kapan kau punya waktu? Kalau aku bisa lusa. Asal jangan besok atau hari Minggu karena ada sesuatu yang mau aku kerjakan,” ujar Taehyung.

Jungkook menghela napas pelan, lalu berkata, “Baiklah. Lusa saja.”

“Dimana?” celetuk Taehyung.

Jungkook menoleh ke arah pemuda berambut light caramel itu, menatapnya kesal. “Di rumah Chanmi!” tegasnya. Ya, tentu saja dia akan memilih rumah Chanmi, bukan?!

“Oke. Aku tunggu kalian bertiga lusa di rumahku jam 5 sore,” respon Chanmi.

“Sip!” seru Taehyung semangat.

“HOI! JUNGKOOK-AH!”

Suara teriakan itu sontak membuat Jungkook, Taehyung, Chanmi dan Shina menoleh ke asal suara, meski yang dipanggil hanya Jungkook. Hoseok berdiri di tepi koridor, melambai ke arah Jungkook, isyarat agar pemuda berambut merah marun itu menghampirinya.

“Uh, dia siapa?” tanya Taehyung.

“Senior,” jawab Jungkook. “Aku ke sana dulu,” pamitnya, meninggalkan teman-temannya.

Hoseok langsung mengajak Jungkook menuju tepi lapangan basket, menonton beberapa orang yang sedang asik men-dribble si oranye.

“Ada apa, Sunbae?” tanya Jungkook memulai pembicaraan. Menoleh ke arah pemuda berwajah lonjong yang berada di sebelahnya.

“Mengenai rencana yang aku katakan kepadamu kemarin,” sahut Hoseok, “Nanti malam kita jalankan. Bagaimana?”

Seketika Jungkook terlihat pucat. Uh? Nanti malam, ya!? Oh, astaga. Aku belum mau mati nanti malam.

“Hei! Kenapa diam saja, eoh?” tegur Hoseok.

“Uh, baiklah,” sahut Jungkook ragu. “Tapi, Hoseok Sunbae bisa jamin kan kalau… aku tidak akan mati dihajar oleh Namjoon Sunbae?”

Hoseok tertawa. “Tidak akan. Aku akan ada di sana untuk memastikan kau tidak dihajar oleh Namjoon. Tenang saja.”

“Baiklah kalau begitu,” respon Jungkook.

“Oke. Nanti malam di Cheongdam-dong. Jangan lupa memakai jaket yang ada tudungnya atau… yah, pakai apapun agar Namjoon tidak mengenali wajahmu, oke?”

Jungkook mengangguk.

“Baguslah,” sahut Hoseok. “Oh, ya, sekedar info, aku sudah terbebas dari hukuman cupid-30-hariku… hehehe.”

“Benarkah?” Jungkook membulatkan kedua matanya.

Hoseok tertawa. “Ya, tentu saja. Haha. Akhirnya aku terlepas dari hukuman bodoh ini dan tetap menjadi manusia,” serunya bahagia.

Jungkook menghela napas. “Aku harap aku juga seperti itu.”

Hoseok menepuk pundak Jungkook. “Tenang saja. Kau pasti bisa meyelesaikan hukuman ini! Semangat!” Hoseok mengepalkan tangannya, memberi dukungan kepada Jungkook. Sementara Jungkook hanya mengulas senyum di wajahnya.

Ya, aku benar-benar berharap aku bisa segera menyelesaikan hukuman ini.

@@@@@

Waktu telah menunjuk pukul 9 malam. Suasana jalan di kawasan Cheongdam-dong tidak sepadat 2 jam yang lalu. Pelataran pertokoan pun tidak ramai lagi dilalui orang-orang yang senang berbelanja di malam hari. Satu per satu toko yang berada di kawasan itu mulai menurunkan rolling door-nya, membuat suasana di sana semakin sepi.

Meski begitu, masih ada beberapa toko yang buka, termasuk sebuah toko kue yang berada di sudut jalan, tidak jauh dari lampu merah.

“Gyeoul-ah, sudah jam 9. Sebaiknya kau pulang sekarang. Nanti kau ketinggalan bis,” ujar seorang wanita paruh baya, pemilik toko kue dimana Gyeoul bekerja.

Gyeoul yang saat itu sedang sibuk membersihkan loyang yang digunakan untuk mengalas kue-kue yang dijual pun membalas, “Tidak apa, Bibi. Biar aku selesaikan ini dulu,” sahutnya sambil telaten mengelap loyang yang telah dicuci.

Pemilik toko pun menghampiri Gyeoul. “Sudah, tidak apa-apa. Biar Bibi yang menyelesaikan. Hanya tinggal dilap, bukan. Lebih baik kau pulang sekarang, hm. Jangan sampai ketinggalan bis seperti kemarin atau dua hari yang lalu~” ucap bibi pemilik toko sembari merebut lap yang dipegang Gyeoul. “Pulanglah. Tidak baik anak gadis pulang terlalu malam.”

“Tapi, Bibi…” gumam Gyeoul ragu.

“Tidak apa. Bibi bisa mengerjakan ini sendiri,” katanya, lalu tersenyum.

Gyeoul menghela napas. “Baiklah kalau begitu. Aku ganti pakaian dulu, Bibi,” ujar gadis tersebut, kemudian masuk ke salah satu ruangan di bagian belakang toko.

Di tempat lain, di sebuah tempat kursus yang hanya berjarak 2 blok dari toko roti tersebut, Hoseok, Namjoon dan beberapa remaja lainnya sedang duduk di dalam sebuah ruangan tampak serius menatap penjelasan dari seorang mentor di sana.

Okay. It’s enough for today. The day after tomorrow we will learn about the last tense, Past Future Perfect Continuous Tense.”

“Yes, Mam~”

“Okay. See you next time. Good night.”

Setelah mentor tersebut mengakhiri pertemuan, satu per satu siswa-siswi keluar dari ruangan. Namjoon nampak lebih dulu keluar dari ruangan, namun begitu menyadari Hoseok tidak mengikutinya, ia berhenti dan berbalik.

“Hei! Apa yang kau lakukan di sana, eoh?!” tegur Namjoon saat melihat Hoseok malah sedang mengirim pesan kepada seseorang ambang pintu ruangan.

To: Jungkook (010-xxxx-xxxx)

Kau bersiap di posisi sekarang! Aku dan Namjoon akan segera ke sana.

Usai menekan tombol sent, Hoseok memamerkan cengiran lebarnya dan menghampiri Namjoon.

“Kau sedang mengirim pesan ke siapa, eoh? Sejak tadi kulihat kau sering berkirim pesan,” tanya Namjoon.

Lagi, Hoseok menyengir. “Bukan siapa-siapa. Ayo, pulang.”

Hoseok dan Namjoon pun terlihat keluar dari bangunan tempat kursus mereka, lantas berjalan menuju halte yang berada sekitar 2 blok, tidak jauh dari lampu merah. Begitu juga dengan Gyeoul. Gadis itu terlihat keluar dari toko kue dengan tubuh mungilnya yang dibalut sweater berwarna orange pastel dengan bawahan rok bahan wol yang panjangnya selutut. Sebuah tas berisi seragam kerja, dompet dan ponselnya ia sampirkan di bahu kirinya. Dengan santai, gadis itu berjalan ke arah halte yang tidak jauh dari toko kue.

Halte itu cukup sepi. Hanya ada seseorang yang memakai hoodie biru tua dengan tudung kebesaran yang menutupi kepalanya. Duduk di ujung bangku sebelah kiri halte. Untuk sesaat, Gyeoul memperhatikan orang tersebut.

“Uh? Apa dia orang jahat?” Itu yang sempat terlintas di pikirannya.

Untuk berjaga-jaga, gadis itu memilih duduk di ujung lain bangku halte. Berpura-pura seolah orang ber-hoodie biru tua yang nampak mencurigakan itu tidak ada. Ya, semoga saja dia bukan perampok, pecandu narkoba atau orang yang berniat jahat.

Gyeoul mengarahkan pandangannya ke sekitar, melihat apa saja yang menarik perhatiannya. Setidaknya, itu cukup mengurangi rasa takutnya berduaan dengan seseorang yang mencurigakan.

Tidak lama kemudian, sayup-sayup ia mendengar suara tawa. Perhatiannya teralihkan ke asal suara, di arah kanan halte. Kedua mata gadis itu mendapati dua orang pemuda tengah berjalan menuju halte. Ditajamkan penglihatannya untuk melihat siapa dua pemuda itu.

Uh? Bukankah mereka siswa di SOPA? Yang satu itu… terlihat seperti… Namjoon Sunbae.

Gyeoul baru ingin bernapas lega ketika melihat akhirnya ada siswa yang satu sekolah dengannya menghampiri halte. Namun di saat itu, ia lengah. Seseorang ber-hoodie itu—entah sejak kapan mendekati Gyeoul—sontak merampas tas milik Gyeoul, kemudian segera berlari. Bodohnya, orang tersebut malah berlari ke arah dimana Namjoon dan Hoseok—dua pemuda yang dilihat Gyeoul—berjalan.

Seketika suara teriakan Gyeoul memecah keheningan yang terjadi di sekitar situ, “TOLOOOOONG! PENCURI! TOLOOOOOONG!! DIA PENCURI! TOLONG TANGKAP DIA!”

Pencuri itu melintas di sebelah Namjoon, sementara Gyeoul masih terus berteriak minta tolong.

“Hei! Dia pencuri! Pencuri! Kejar dia!” seru Hoseok, menepuk pundak Namjoon, lantas berlari mengejar orang ber-hoodie yang mencuri tas Gyeoul.

“Tangkap dia, Namjoon! Tangkap!” teriak Hoseok yang melihat Namjoon sudah beberapa langkah lebih jauh di depannya, lebih dekat dengan pencuri yang kabur itu.

“WOY! JANGAN KABUR KAU! WOY!” teriak Namjoon.

Pemuda berambut spike itu menambah kecepatan larinya melihat sang pencuri berlari cukup cepat. Sampai…, beberapa saat kemudian, Namjoon berhasil meraih pundak pencuri itu. Lekas ia menarik pundak tersebut, membuat sang pencuri kehilangan keseimbangan dan akhirnya jatuh.

“YA! LEPASKAN TAS ITU, DASAR PENCURI!” bentak Namjoon yang menunduk di depan si pencuri, meremas erat lengan sang pencuri yang wajahnya masih tersembunyi di balik tudung hoodie-nya yang kebesaran. Bisa pemuda rasakan tubuh sang pencuri agak gemetar.

Melihat Namjoon yang mengepalkan tangannya, pencuri itu melepas tas milik Gyeoul. Beruntung bagi si pencuri, tepat di saat Namjoon hendak melayangkan pukulannya, Hoseok langsung mencegah.

“Hei! Sudah! Jangan pukul dia! Jangan main hakim sendiri, eoh!?” Hoseok menahan tangan kanan Namjoon, melihat ke arah si pencuri.

Namjoon menoleh ke arah Hoseok, menatap pemuda itu agak kesal. “Cih! Dasar!”

Pemuda melepas cengkaramannya dari lengan si pencuri dan seketika pencuri itu melarikan diri, menghilang di salah satu belokan. Namjoon lantas memungut tas yang dilepaskan pencuri tersebut. “Lihat! Pencuri itu kabur!” gerutu Namjoon.

“Sudahlah. Biarkan saja,” sahut Hoseok. “Lebih baik kembalikan tas ini kepada pemiliknya!” usul Hoseok.

Kedua pemuda itu berjalan kembali ke arah halte, menghampiri Gyeoul yang terlihat duduk di tempatnya semula, menundukkan kepalanya sambil menangis. Berkali-kali gadis itu terlihat menyeka air mata yang mengalir di pipinya. Oh, ayolah. Uang hasil kerja part time-nya hari ini ada di tas itu.

“Nona, permisi, ini tas milikmu, kan!?” tanya Namjoon begitu ia dan Hoseok tiba di halte, di dekat gadis itu, Gyeoul.

Mendengar suara berat itu, Gyeoul bergegas menegakkan lehernya sembari menyeka air mata yang membasahi kedua pipi chubby-nya. “U-uh, i-iya, itu tasku,” sahutnya. Namjoon lantas memberikan tas itu kepada Gyeoul. “Terima kasih, Sunbae~” ucap Gyeoul kemudian.

Sunbae?” gumam Namjoon bingung.

“Dia siswi di SOPA, Namjoon-ah,” sahut Hoseok, menepuk pundak Namjoon pelan. “Masa kau tidak pernah melihatnya di sekolah?!” lanjut pemuda berwajah lonjong itu.

“Oh, kau siswi di SOPA?!” ulang Namjoon memastikan.

Gyeoul mengangguk pelan.

“Namjoon-ah, sebaiknya kau temani dia pulang. Kasihan kalau nanti terjadi sesuatu padanya,” celetuk Hoseok.

Namjoon terkejut mendengar kalimat yang keluar dari mulut sahabatnya itu. “Apa? Lalu, kau bagaimana?”

“Tenang saja! Aku laki-laki. Aku bisa menjaga diriku! Sudahlah. Lebih baik temani dia,” ucap Hoseok lagi. “Oh, ya, aku mau pergi ke suatu tempat dulu. Kau dan gadis itu hati-hati pulangnya, oke? Bye~”

“Hei! Jung Hoseok, kau mau kemana, eoh!?” teriak Namjoon ketika melihat Hoseok malah berlari meninggalkan dia dan Gyeoul di halte. “Ck! Apa-apaan dia?!” gumamnya.

Sementara itu, di tempat lain, di sebuah lorong kecil di antara bangunan toko, si pencuri tas Gyeoul tengah menyandarkan diri pada dinding. Kedua bahunya naik turun. Nafasnya tersengal setelah berlari beberapa saat lalu. Tudung kebesaran yang menutupi kepalanya pun ia singkirkan sehingga… wajah yang kelelahan itu pun terpapar sinar lampu jalan.

Wajah kelelahan milik Jeon Jungkook.

Ya, dia si pencuri, mungkin tepatnya disebut pencuri-20-menit yang tadi mengambil tas Gyeoul. Peran yang terpaksa harus dia lakukan demi menyelesaikan misi keduanya. Masih untung, malam ini ia selamat dari pukulan Namjoon. Setidaknya Hoseok, orang yang tega memberi peran sebagai pencuri padanya, benar-benar memastikan dirinya tidak dihajar habis-habisan oleh Namjoon.

Jungkook sedikit membungkukkan tubuhnya. Menumpu kedua tangannya pada kedua lututnya sembari mengatur nafasnya yang tersengal. Bandul kalung cupid-30-harinya nampak menggantung di lehernya, namun belum ada tanda bahwa apa yang telah dilakukannya beberapa saat lalu, berhasil. Bandul kalung itu belum berpendar-pendar.

Oh, ayolah. Jangan biarkan usahaku tadi sia-sia.

“Hah~ di sini kau rupanya! Aku mencarimu! Kau baik-baik saja?” Hoseok menghentikan langkahnya mana kala ia melihat Jungkook menyandarkan punggungnya pada dinding di antara dua bangunan toko.

Jungkook langsung menegakkan tubuhnya, sedikit terkejut dengan kehadiran Hoseok. “Ya, aku baik-baik saja, Sunbae,” jawab Jungkook. “Bagaimana dengan Namjoon Sunbae dan Gyeoul Sunbae?” tanya Jungkook kemudian.

“Aku menyuruh Namjoon untuk mengantar Gyeoul pulang.”

“Tapi, kenapa bandul kalungku belum berpendar-pendar? Apa… yang tadi gagal?” tanya Jungkook. Tersirat kecemasan di wajahnya yang terdapat bulir-bulir peluh di bagian dahi.

“Berdoalah semoga Namjoon benar-benar menemani gadis itu sampai ke rumahnya dan kau bisa dinyatakan berhasil.”

Jungkook menghela napas. “Oh. God! Aku berharap ini benar-benar berhasil. Aku hampir saja mati malam ini.”

Hoseok terkekeh. “Haha… untung ada aku, Jungkook-ah. Kau benar-benar hampir tamat dihajar Namjoon.”

Jungkook ikut terkekeh. Ya, masih beruntung ia diberi umur panjang.

“Oh, ya, setelah ini kau mau pulang?” tanya Hoseok.

Jungkook mengangguk. “Iya, Sunbae. Malam ini aku sangat lelah. Lebih baik aku menunggu hasilnya di rumah. Lagi pula, kau tidak membawa love-tablet-ku. Bukankah setelah ini aku harus tahu siapa targetku selanjutnya?”

Hoseok mengangguk paham. “Ah, ya, kau benar. Ya sudah. Semoga yang tadi berhasil!” Hoseok menepuk pundak Jungkook.

“Ya, Sunbae. Aku sangat berterima kasih atas bantuanmu.”

“Ya, sama-sama. Tapi ingat, kau masih punya utang 1 kali traktir padaku. Kapan-kapan aku akan menagihnya!”

Jungkook tertawa samar. “Ya, Sunbae. Aku ingat. Terima kasih banyak.” Jungkook membungkukkan tubuhnya ke arah Hoseok. Pemuda itu pun balas membungkuk sekilas ke arah Jungkook, kemudian pamit pulang.

@@@@@

Setiba di rumah, Jungkook langsung masuk ke dalam kamarnya. Melepas hoodie yang sukses membuatnya gerah dan menggantinya dengan kaos tanpa lengan. Pemuda itu lantas beringsut ke tepi tempat tidurnya setelah beberapa detik lalu ia mengeluarkan love-tablet dari laci meja belajarnya.

Tangan kanannya bergerak memegang bandul kalungnya yang sejak tadi belum menunjukkan reaksi apapun. Hah, ayolah bandul kalung bodoh! Berpendarlah. Katakan kalau aku berhasil menyatukan Namjoon Sunbae da Gyeoul Sunbae.

Namun kalung itu tetap tidak menunjukkan reaksi apapun.

God! Jangan bilang kalau yang tadi gagal! Aku benar-benar tidak mau menjadi cupid selamanya. Aku tidak mau!

-TaehyungBelumCebok (^/\^)-

Anditia Nurul ©2014

-Do not repost/reblog without my permission-

-Do not claim this as yours-

Also posted on author’s personal blog (Noeville) & Read Fanfiction (will be post on Fanfiction Side)

A/N2:

Annyeong ^^/

Gimana chapter 4-nya?

Hehe… ada kejutan, ya? Jin ternyata dulunya manusia… hehe.

Oya, buat chapter lalu udah komen, makasih, ya~

Makasih udah nyelametin(?) FF ini dari draft… hehe😄

Semoga suka sama chapter ke-4nya. Don’t forget to leave your comment ^^

About fanfictionside

just me

15 thoughts on “FF/ 30DAYS CUPID/ BTS-BANGTAN/ pt. 4

    • Ha? Kurang panjang ya?
      Duh… padahal ini udah hampir 20 halaman word loh😄
      Ah, iya. Jin jahat banget sama cewe-nya ya… hehe

      Makasih udah RC-in chapter ini dan chapter2 sebelumnya. Maaf banget baru bisa dibalas komennya sekarang >/\<

  1. kurang panjang, dan juga d part ini kurang seru kyak d part kemarin2
    semoga aja rencana jongkook brhasil, kasian kan kalau brakhir seperti jin mnjdi cupid selamanya
    kira2 siapa org yg setiap hari mmbri setangkai mawar buat shina thor, kasi tau donk d part selanjutnya. fighting

  2. Aih jadi Jin sama kakaknya jungkook ada apaapanya/? Kasian yah jin jdi cupid selamanya huhuu semoga jungkook enggak. Eh itu gimana jadinya sama si namjoon gagal ??? Oh jangan plis thor kasian si jungkook entar. Hha penasaran banget nanti part 5 nya gimana, next chap nya ditunggu ya thor ^^

  3. Ihh greget sama kookie shina.. gara-gara kookie sih, kalian jadi canggung kan heol~ tuhkan,bener.. jin sama sepupunya kookie punya hubungan dulu hemm.. mungkinkah taetae yg nyimpen bunga mawar? Bukan kookie? Next.. hoseok cool~♡

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s