FF/ DARK AND WILD/ BTS-BANGTAN/ pt. 1


Tittle                      : DARK AND WILD / part 1 /
Author                  : Lee Ame

Cast      :

  • Kim Son Ae (OC)
  • Park Jimin (BTS’s Jimin)
  • Jo Ga Eun (OC)
  • Kim Taehyung (BTS’s V)
  • Kim Namjoon (BTS’s Rapmon)
  • All member of Bangtan

Length                  : Chaptered
Genre                    : Crime, Action, Romance, AU, School-life
Rating                   : Bisa berubah/bertambah sesuai jalan cerita.

 9GnLhlDf

Summary

“Jangan harap aku akan melepaskanmu”

Disclaimer           : Cerita ini murni dari ide serta pemikiran saya. Apabila ada kesamaan cerita, itu bukanlah unsur ketersengajaan. Sesuai judul, ff ini terinspirasi oleh album “Dark and Wild” milik BTS ^^

Enjoy and Happy reading~

.

.

“Oh shit!” rasa kesalku tiba-tiba saja membeludak diikuti dengan penyesalan. Betapa bodohnya tadi aku harus memilih akses jalan ini untuk pulang ketika pukul sembilan malam sudah tertera pada arlojiku. Jika aku bersama yang lain, dengan anggunnya aku pasti berani berlalu begitu saja. Tapi jika sudah sendirian begini, aku bisa apa? aku ini hanya seorang gadis remaja SMA. Aku yakin mereka akan langsung menjahiliku habis-habisan setelah ini. Oh itu tentu saja, diantara mereka semua sudah pasti mengenalku. Sekelompok gangster berpakaian nyentrik disana tak akan melepaskanku begitu saja.

Hari ini aku baru pulang dari sekolah. Bukan sekolahku yang memberikan ijin untuk belajar hingga malam. Tapi aku sendirilah yang bermalam disana karena ada suatu hal besar. Sesuatu kebiasaan yang rutin kulakukan semenjak aku tak lagi menyantuni diriku sendiri. Aku tak pulang naik bus mengingat uang saku milikku sudah habis. Jadi aku memilih jalan ini karena kupikir adalah akses paling cepat agar sampai rumah walau dengan berjalan kaki. Tapi ternyata ini pilihan salah. Aku baru ingat kalau jalanan sepi yang hanya disinggahi mirimart kecil itu adalah tempat salah satu gangster sekolahku berkumpul.

“Cih!” Pandanganku beralih tepat pada seorang lelaki jangkung berambut blonde. Ia tengah meneguk cola sembari menyenggol lengan lelaki berambut hitam pekat. Sosok itu yang paling kukenal diantara yang lain. Apa aku harus berharap padanya untuk menyelamatkanku? Oh tentu itu tak akan mungkin. Walaupun dia orang yang jauh mengenalku dari siapapun, aku yakin dialah yang justru akan semakin menindasku. Sekarang ini aku sedang mengintip di belokan jalan dimana terdapat pepohonan besar.

“Apa yang kau lakukan?”

Aksi mengintipku secara sembunyi ini tiba-tiba terhenti begitu saja. Badanku seketika menegang begitu ada suara dingin berderu dibalik punggungku. Aku menelan ludah kuat-kuat. Mati aku! Apa seseorang di belakangku ini adalah salah-satu dari anggota gangster? Dengan berani aku membalik badan.

Seketika itu juga, berdiri siluet yang cukup kekar dan tak begitu tinggi. Rambutnya cokelat keemasan diterpa oleh remang-remang lampu jalanan. Mata tajamnya menyipit memperhatikan gelagatku yang sedikit panik. Ia menggunakan hoodie hitam diertai celana jeans yang sobek dibagian lutut. Jika sudah berpenampilan seperti itu, siapapun bisa menebak kalau orang ini cukup berbahaya dan harus dihindari. Dengan keberanian minim, aku pun mengambil ancang-ancang layaknya tokoh penggulat hebat.

“S-siapa kau? mau apa kau? jika kau mendekat, aku akan mengahajarmu!” walaupun badanku terasa gemetaran, aku tetap berusaha terlihat berani. Sedangkan ia hanya menautkan alisnya kemudian mendekat selangkah. Aku nyaris berteriak dan refleks mundur, “Kalau kau mendekat awas kau! aku ini atlet karate hebat! Kau jangan macam-macam padaku” ancamku dengan raut angkuh. Aku berkata begitu bukan semata-mata menakuti. Aku memang tahu teknik-teknik berkelahi, tapi ini tentu tak akan kulakukan mengingat kecurigaanku padanya bahwa ia salah satu anggota gangster. Bisa mati muda kalau sampai anggota lainnya berbondong-bondong kemari untuk membalas perbuatanku karena menghabisi rekannya.

Masalah terbesarnya adalah, aku sedang sendirian.

Dia tetap mendekat dan saat itu pula aku hendak melayangkan tinju. Belum sempat melayangkannya, aku merasakan tubuhku kehilaangan keseimbangan dan―BRUUKK

Kejadiannya begitu cepat layaknya menjentikkan jari. Kurasakan sesuatu naik turun dibawah dan hembusan nafas dingin berangsur-angur meniupi wajahku. Dengan perlahan aku membuka mata. Begitu berhasil, irisku menatap manik lain tepat dibawahku. Jantungku pun langsung berderu gelisah, takut, panik, dan entahlah, aku tak dapat lagi mendeskripsikannya. Bagaimana bisa aku dan terjatuh tepat diatas tubuhnya? Aku sampai berteriak sekencang-kencangnya begitu ia memegang pundakku. “KYAAAAAAA”

Begitu teriakanku berhasil menggema, aku mendengar suara-suara lain menyeruak dari kejauhan.

“Siapa disana?!” detik berikutnya, terdengar derapan langkah kaki mulai mendekat.

“Ikut aku” tiba-tiba seseorang dibawahku itu langsung bangkit dan menuntunku untuk berdiri. Jemarinya tanpa ijin langsung mencengkram kuat pergelangan tanganku begitu kami sudah dalam posisi awal.

“Ma-mau apa kau? kau mau menyerahkanku pada kelompok gengmu?!”

Dia tidak mendengarkanku dan malah menyeret langkahku untuk mengikutinya lebih cepat. Tetapi ada keanehan disini. Kenapa dia membawaku ke lain arah?

“T-tunggu! Kau mau membawaku kemana, hah?!” aku semakin curiga jika dia adalah penjahat. Aku pun dapat melihat bekas tindik pada kedua telinganya. Ah tamat sudah. Apa aku akan diculik lalu diperkosa?! Tidak kumohon. Aku masih ingin hidup normal seperti gadis-gadis remaja seusiaku, aku masih belum menamatkan sekolahku, aku masih terlalu polos untuk dinodai, dan Argh! Siapapun tolong selamatkan aku!

Ditengah kebimbanganku, suara hentakan sepatu semakin terdengar jelas. Aku yakin bahwa itu adalah para gangster tadi. Aku pun mendadak kalut. Mana yang harus kupilih? Ikut dengan brandal yang tengah memegang tanganku ini, atau malah dikerjai habis-habisan oleh mereka?

.

.

“Terimakasih” ujarku sekenanya begitu turun dari motor sport merah sembari melepas helm.

“No prop.” Balasnya tak kalah seadanya. Aku pun menyerahkan helm itu kepada pengemudi motor, atau lebih tepatnya seseorang yang telah menolongku. Ya benar, ternyata pilihanku untuk berlari bersama orang ini ternyata malah membawaku pada keamanan. Siapa lagi kalau bukan lelaki berbadan kekar?

“Oh iya, ngomong-ngomong kenapa kau juga berada disana? Dan kenapa kau mau menolongku?” tembakku langsung dengan pertanyaan. Aku heran saja karena kami ini tak saling mengenal sebelumnya. Mengapa ia mau menolongku? Dan kehadirannya yang tiba-tiba itu, apakah sebuah kebetulan? Ia bahkan sampai mau mengantarku pulang.

“Kebetulan saat aku akan ke minimart dekat sana, aku melihatmu seperti ketakutan dan aku juga menyadari ada sekelompok gangster disana”

“Eh? Kau tahu kalau mereka adalah gangster?” tanyaku kembali dengan pensaran.

“Tentu saja.”

“Ini rumahmu?” ia kembali berujar sambil memperhatikan gerbang rumahku dengan seksamasa dan serius. Aku berfikir kalau ia sedang mengalihkan pembicaraan.

Aku mengangguk, “memangnya kenapa?” aku mulai merasa aneh.

Ia menggeleng, “Hanya ingin tahu” kemudian dengan cepat ia menghidupkan motornya. “Sampai bertemu lagi, nona” ia segera menutup kaca helm dan melajukan motornya dengan gagahnya. Sebelum itu, aku ingat betul kalau ia sempat melemparkan senyum misterius padaku. Ada apa ini? apakah kejadian malam ini adalah sebuah perencanaan? Apakah dia memang salah satu anggota gangster yang ingin mengerjaiku? Karena menurutku, dari setiap apa yang ia katakan serta lakukan padaku, adalah settingan belaka.

“Tunggu dulu, bertemu denganku lagi katanya?”

Dan ada satu hal yang membuatku masih penasaran. Apa alasan dia mau menolongku?

.

.

Aku menjejalkan diriku diatas sofa besar di ruang keluarga. Rambutku basah dan wangi sabun mengoar melalui kulitku. Tanganku yang kiri asik membolak-balik lembaran majalah, sedangkan tangan kananku kugunakan untuk mengambil potongan keripik dalam toples. Televisi dihadapanku kubiarkan menyala tanpa kutonton. Kalau sudah begini, dunia terasa milikku setuhnya.

“Yak! kembalikan tidak?” hardikku begitu kurasakan toples keripik dipangkuanku berpindah alih.

“bukankah kau dalam progam diet? Ini sudah malam. Kau tak mau kan berat badanmu bertambah walaupun hanya 1 ons saja” cibirnya seraya menjulurkan lidahnya padaku. Hal itu membuatku mendengus.

“Yasudah, oppa ambil saja!” ucapku ketus kemudian meraih remote, mengganti channel TV dan pandanganku sudah teralih kesana dengan tangan terlipat di dada.

Tanpa rasa bersalah, ia malah duduk disampingku dan tertawa, “Kau mau cepat tua karena marah-marah terus? Kau ini setiap hari pms, ya?” ia menggelengkan kepalanya kemudian mengambil sebatang rokok yang ia keluarkan dari sakunya. “Ada korek?”

“Jangan merokok didekatku, Sana jauh-jauh!”

“Aish, kau ini kenapa sih? Sensi sekali padaku, huh? Biasannya kau tak seperti ini.” jawabnya acuh.

“Aku kesal padamu” kataku akhirnya. Dahinya menoreh guratan panjang.

“Gara-gara kau aku jadi tak berani pulang. Saat di perempatan jalan, aku melihat kau sedang bersama gengmu. Aku yakin jika aku nekad lewat, kalian pasti akan menggodaku” salah satu kelompok gangster berambut blonde yang kumaksud tadi adalah orang di sampingku ini, Kim Namjoon.

“Apa? ishh, kenapa kamu jadi kelewat percaya diri begitu? Kami tidak akan menggodamu. Kami hanya menjahilimu saja. Ekspresimu itu sangat lucu apabila sudah berhadapan dengan kami. Hahaha”

“Kau ini! aku ini kan adikmu!” Dasar Namjoon sialan. Meskipun dia kakakku, tapi dia ini sangat menyebalkan. Ya aku sangat benci pada perkumpulannya yang disebut-sebut sebagai Bangtan Boys itu. mereka semua selalu mengusikku saat disekolah. Dan oppaku inilah yang memprovokasi mereka untuk ikut menggangguku. Itu sebabnya mengapa aku mati-matian menghindari mereka. Aku juga sampai trauma pergi bersekolah. Menyesal sekali kenapa aku harus memilih bersekolah ditempat yang sama dengannya.

“Eh, tapi memangnya kau tadi pulang jam berapa?”

Belum sempat aku membalas pertayaannya, dari luar rumah kami sudah mendengar deru mobil yang kami yakini adalah milik kedua orang tua kami. Meskipun didalam rumah, aku maupun oppa dapat mendengar suara pintu mobil terbanting keras lalu di ikuti dengan umpatan-umpatan kasar. Detik berikutnya terdengar dobrakan pintu dan cacian pedas.

“Kau ini! kalau sudah begini kau menuntutku untuk apa?!”

“Menuntut untuk apa katamu? Aku ini suamimu! Bisakah kau lebih sedikit menghormatiku, hah?!”

Aku menutup mata sejenak begitu teriakan mereka teredam oleh suara pecahan vas bunga. Selalu seperti ini, disetiap harinya selalu begini. Cacian beserta makian selalu menggema di seluruh sudut ruangan rumahku apabila kedua orang itu datang.

“Aku mau kita cerai! Urus Namjoon dan Son Ae! Aku tak mau mereka membebani karirku―”

PLAAAKK―kali ini terdengar tamparan keras. Waktu terasa berhenti diikuti dengan mimic wajahku yang sedikit terpaku.

“Kalau mau cerai ya cerai saja sana!” suara baritone lain ikut berseru. Ini bukan milik ayah dan tak mungkin milik ibu. Kudapati oppa sudah berdiri dengan tangan terkepal. Wajahnya merah dan menatap kedua orang tuaku penuh benci dan lelah.

“Lagi pula aku tak butuh ibu sepertimu!” ucapnya kembali dengan lantang sampai-sampai aku dapat melihat urat-urat dilehernya menonjol. Dan saat itu juga, ia melangkah lebar meninggalkan rumah.

“Sejak kapan aku mengajarimu untuk kurang ajar seperti ini, hah!” emosi ibu semakin meluap-luap dan tanpa perhitungan langsung mengejar oppa. Sedangkan ayah mengangkat jemari guna memijit pelipisnya. Melihat pertikaian yang tak ada habisnya ini membuatku benar-benar ingin mati. Aku jadi menyesal karena orang berbadan kekar tadi bukanlah orang jahat. Aku lebih memilih dia menyakiti atau sampai membunuhku saja tadi. Daripada aku harus menyaksikan pemandangan terkutuk semacam ini, akan lebih baik kalau aku hanya tinggal nama saja.

Tanpa kusadari, air mataku menetes sampai deras.

.

.

Untuk sekian kalinya aku menguap. Kelopak mataku terasa lengket, sungguh sulit untuk dipaksakan terbuka. Sebisa mungkin kutahan hasratku untuk tertidur di kelas. Bisa mati jika aku tergeletak tak sadar di atas bangku di jam pelajaran Kyu Saem. Walaupun guru tampan nan rupawan itu terlihat bagaikan malaikat, jangan harap aku bisa melakukan apa yang ku mau. Bisa-bisa aku dibantai habis olehnya.

“Maaf apakah saya terlambat?” seketika keheningan kelas mendadak semakin hening. Bahkan hembusan angin pun ikut berhenti. Diambang pintu berdiri seorang lelaki berperawakan tak begitu tinggi dan sedikit kekar.

Tunggu dulu, kekar?

“Anda terlambat 20 menit jam pelajaran. Tapi mengingat anda adalah anak baru, saya akan memberikan toleransi.” ucap Kyu saem begitu lelaki itu sudah berdiri dihadapannya. Aku yang sudah mengetahui bagaimana watak Kyu saem hanya bisa menggelengkan kepala. Ia bahkan tak mempersilahkannya untuk mmperkenalkan diri dan langsung menyuruhnya duduk di bangku tengah. Walaupun teman-temanku yang lain terlihat biasa saja atas kedatangan anak baru itu, aku yakin dalam benak mereka pasti diliputi keterkejutan dan banyaknya keingin tahuan. Aku berani menjamin jika saat jam istirahat nanti, anak itu pasti sudah dikerubungi. Penampilannya yang cukup oke pasti banyak menarik perhatian siswi-siswi di kelasku.

Pandanganku pun beralih pada anak baru itu lebih menyeluruh dan intens seakan memberikan penilaian. Mataku memincing sampai bibirku terbengong-bengong dibuatnya. Meskipun aku adalah seorang pelupa, tapi ingatanku tentang dirinya masih terbesit jelas. Apakah dia lelaki yang semalam sudah menolongku? Namun, mengapa penampilannya sungguh berbeda? Tampilannya sekarang sangat jauh dari definisi urakan. Rambut cokelatnya dicukur rapi dengan balutan seragam melekat apik pada tubuhnya. Ia mengenakan kacamata minus ber-frame hitam, memberi kesan bahwa ia adalah seorang genius.

“Agh!” Aku memekik merasakan sesuatu menghantam keningku bersamaan dengan bubarnya argumentasi dalam benakku. Begitu aku sadar dengan sekitar, aku merasa diriku sudah menciut.

“Masih ingin melamun, Kim Son Ae?” tenyata pelakunya adalah Kyu songsaenim. Ia baru saja melempar keningku dengan tutup spidol papan. Ugh, apa aku barusan sedang melamun sampai-sampai aku tak menyadari jika aktivitas belajar kami sudah kembali berlanjut? Semua penghuni kelas memandangku heran.

Dan begitu aku mencuri pandang kea rah punggung anak baru yang kini sudah duduk dibangku seberangku, pandangan kami bertemu.

.

.

“Son Ae, tidakkah menurutmu Park Jimin itu memiliki charisma?” Ga Eun menyenggol lenganku sembari menyedot habis sisa bubble tea miliknya kemudian membuangnya pada tong sampah yang kebetulan kami lalui.

“Apanya, dia terlalu culun untuk mendapat predikat seperti itu” balasku malas dan duduk begitu saja di bangku taman belakang kantin sekolah. Seusai mengisi perut di kantin, biasanya aku akan mengistirahatkan diri di tempat ini sampai bel masuk berbunyi.

“Culun? Tidakkah kau lihat betapa kerennya cara dia berpenampilan? Memang rapi sih, tapi menurutku dia pantas untuk dijajarkan dengan teman-teman kakakmu itu.”

Mendengar perkataan Ga Eun, rasanya aku nyaris saja tersedak oleh permen karet dalam mulutku. “Apa yang kau maksud para anggota Gangster Bangtan Boys?” bisa-bisanya dia menyamakan Jimin dengan Bangtan Boys yang notabenya adalah kumpulan anak brandal namun berkelas dan tampan. Aku sendiri tak tahu harus membanggakan oppaku atau tidak karena ia sendiri adalah ketuanya. Ngomong-ngomong, entah mengapa kami jadi membahas anak baru yang bernama Park Jimin semenjak awal jam istirahat dimulai. Dari awal aku memang sangat ingin mengetahui banyak hal tentang dirinya. Aku masih curiga jika dia memang lelaki saat insiden penyelamatan kemarin malam walaupun menampilannya sungguh berbeda.

“Apa kalian berdua sedang membicarakan kami?”

“Eh?” Aku dan Ga Eun refleks saling berhadapan lalu menoleh kebelakang dan langsung menemukan sosok Taehyung tersenyum lebar menatap kami.

“Su-sunbae?” Gae Eun terlihat gelagapan.

“Kami sedang tidak membicarakanmu.” Tukasku dingin seolah tak menggubris kehadirannya.

Taehyung terlihat mengangguk-anggukan kepalanya kemudian berdeham, “Oh iya Ga Eun, bisa tinggalkan kami berdua sebentar? Ada hal penting yang ingin kubicarakan dengan Son Ae.” Ijin Taehyung sambil memerkan senyuman mautnya. Aku yakin dengan sihir itu Ga Eun akan membeku ditempat dan langsung menurut tanpa pertimbangan.

“Ya tidak bisa begitu! Apa-apaan kau ini, datang-datang sudah seenaknya mengusir” aku menahan tangan Ga Eun yang seolah sudah siap menjalankan perintah Taehyung, “Kau disini saja bersamaku. jangan kau urusi sunbae gila ini”

Ditempat Gae Eun nampak bimbang. Ia menoleh kearahku dan Taehyung secara bergantian. Dari sorot matanya, ia seolah berkata ‘aku harus bagaimana?’ aku pun mengisyaratkannya untuk tetap disampingku. Namun saat ia kembali menatap Taehyung, ia malah mengangguk pasrah dan melepaskan tangannya padaku secara perlahan dengan tatapan prihatin ‘maafkan aku’. Kemudian ia berlari kecil setelah sebelumnya ia mengepalkan tangan ke udara sebagai tanda menyemangati ‘fighting!’. Aku pun akhirnya memilih pasrah.

“Kau sudah terjebak. Aku tak akan membiarkanmu lepas begitu saja”

“Apa?”

“Rahasiamu ada padaku” Setelah kalimat itu tercetus, Taehyung tersenyum penuh kemenangan sembari merangkul pundakku, “Hahaha, menurut saja apa susahnya sih?”

“Kau menyebalkan” aku mendengus melihat Taehyung yang nampak puas ini.

Kim Taehyung, adalah sunbae 1 tingkat diatasku. Hobby anehku yang sekaligus menjadi rahasiaku pekan lalu berhasil diungkap olehnya. Yaitu adalah ketika aku sedang membaca novel serta majalah ber-rating dewasa dengan sengaja tertangkap basah olehnya saat menghadiri acara party besar-besaran yang diadakan oleh komunitas Gangster dari banyak sekolah. Aku yang saat itu dipaksa ikut oleh oppa, hanya bisa mengasingkan diri di sudut club sambil melaksanakan fantasy vulgarku. Dan bodohnya, Taehyung yang juga adalah anggota Bangtan berhasil memergokiku dan langsung memanfaatkan keadaan. Ia tahu kalau Namjoon oppa tak mengetahui hobby konyolku tersebut. Apabila ketahuan, tentu oppa akan semakin mengerjaiku dan memanggilku dengan sebutan Byuntae. Oh tidak! Bahkan kami sampai membuat perjanjian. Apabila aku menolak ajakan Taehyung lagi, ia akan membeberkan rahasiaku pada oppa. Ah sial!

“Kau tahu kan kalau aku menyukaimu, hm? Kau bahkan sudah menolakku puluhan kali.”

Aku berjengit. Bisa-bisanya orang aneh seperti Taehyung adalah anggota Gangster. Lihat saja wajahnya yang seperti anak kecil itu dan sifat 4Dnya. Aku sungguh ingat bagaimana pertama kali ia menyatakan perasaannya padaku. Kau tahu? dia menyamakanku dengan seekor domba? Dia bilang wajahku menggemaskan seperti bulu domba.

Mungkin aku bodoh karena tak bisa membalas perasaan lelaki setampan Kim Taehyung kala itu. Tetapi percayalah padaku, kalau saja Taehyung mau lebih dalam membuktikabbya padaku, kelak aku akan balik memperjuangkanya.

“Ah sudahlah, lupakan-lupakan. Tujuanku kemari bukan untuk itu. Sekarang ada hal penting dan kau tak bisa menolak.”

“Ada apa memangnya?”

Tanpa ijin, Taehyung sudah menggenggam tanganku erat dan memaksaku mengikuti langkahnya. Bel masuk berbunyi, namun Taehyung semakin mempercepat langkahnya dan menuntunku ke gudang belakang.

“H-hei!”

.

.

“Jadi kau yang menyuruh Taehyung sunbae membawaku kemari?” aku mendesah jengkel menatap oppa yang duduk dengan kaki terlipat diatas meja. Firasatku pun mendadak tak enak.

“Hari ini kau bolos saja. Kau harus membantu kami”

Mataku membulat sempurna begitu mendengar celetukan dari Yoongi sunbae. Disampingnya Hoseok berambut cokelat gelap tertawa sambil menggeleng karena melihat ekspresi shock dariku. Bagaimana aku tidak shock? Mereka bolos itu sudah biasa. Tapi bagaimana denganku yang dikenal dengan predikat siswi teladan ini? aku tak akan membiarkan mereka ikut membawaku dalam penyimpangan mereka. Aku bahkan sudah takut duluan begitu membayangkan hukuman apa yang kuterima apabila benar-benar membolos dan gunjingan-gunjingan pun pasti sudah menanti disana.

“Tak usah kaget begitu. Kali ini kami benar-benar membutuhkanmu Son Ae.” Kalimat tenang Jin ikut menengahi.

“Memangnya butuh bantuan apa? bisakah kalian berhenti mengganggu?”

“Maafkan aku dongsaeng karena sudah melibatkanmu. Tapi bantuanmu akan sangat membantu kami, ayolah. Ini demi nama baik gangster kita” Kini giliran oppa yang berbicara sambil memohon padaku. Baru kali ini aku melihat rautnya seserius dan seakan ia memang begitu membutuhkanku. Mungkin karena oppa berhasil mengambil simpatiku, aku akhirnya menurut.

“Kalau begitu apa strateginya?” kataku tajam sambil menggangguk mantab. Kami pun akhirnya menuju parkiran belakang sekolah dan memanjat dinding orange disana.

.

.

“Son Ae, kedua bocah bengasan itu kuserahkan padamu!” teriak Hoseok dari kejauhan sambil kewalahan menghindari hantaman tinju dari lelaki berbadan besar. Aku menahan nafas seraya mengumpat sebelum akhirnya menjawab, “Kau serahkan saja padaku!”

Aku memasang kuda-kuda begitu dua lelaki sudah yang dimaksudkan Hoseok sunbae tadi sudah menghadang di dedapanku. Diantaranya tinggi jangkung dengan rambut bob, sedangkan yang satunya berbadan gemuk dengan pipi menggempal bewarna merah. “Cih, kalian berdua ini anggota gangster atau pemeran badut sih?” ejekku santai bermaksud untuk memancing amarah mereka. Ini merupakan strategi handalku.

“Apa kau bilang?!” si laki-laki jangkung mulai terpancing dan segera menyerangku, disusul oleh si lelaki gemuk yang tergopoh-gopoh mengepal tangannya. Satu layangan pukulan nyaris saya menghantam perutku jika aku tak segera menghindar. Aku melakukan walk over kemudian beralih menggapai pergelangan tangan si jangkung. Aku menelitirnya kuat layaknya memeras pakaian yang hendak dijemur sembari memukul perutnya dengan sikutku. Kakiku pun tak tinggal diam, ia kugunakan untuk menjegal kaki si gemuk sampai membuatnya terhuyung.

Mereka berdua tampak garang, pukulan mereka yang bertubi-tubi berhasil kuhindari dengan gerakan gesit. Melihat mereka yang kelelahan karena terus saja melakukan aksi gagal berhasil membuatku semakin tertawa remeh. Kesempatan ini kugunakan untuk mempraktekan gerakan jituku, yaitu flikflak sambil meyangkan kaki ke objek sasaran. Sepatu nike tebalku nyatanya berhasil mengenai mangsa. Tepat di pipi gempal merah itu, aku mengukir cap indah disertai darah segar mengucur melaui lubang hidungnya.

“Lemah sekali. Apa hanya itu kemampuan kalian dalam menghadapi wanita perkasa sepertiku?” Ups, lagi-lagi ucapan sombongku harus terlontar. Aku melakukannya semata-mata bukan menyombongkan diri. Tapi kutegaskan, ini adalah strategiku.

Emosi mereka semakin terpancing. Bisa dilihat dari cara si jangkung menggembuskan nafasnya dengan buas. Ia menatapku seolah aku ini adalah santapan makan siangnya. Secepat kilat, ia segera bangkit dan lagi-lagi mencoba peruntungannya. Detak jantungku berpacu cepat begitu melihat telapak besarnya mengeluarkan benda berkilat tajam dari saku celananya.

“Jangan main-main pada kami nona. Kami tak akan membiarkan kalian mengalahkan kami lagi” ia menyeringai misterius dan tanpa takut mendekatiku.

Apa-apaan ini?! bukankah dalam peraturan tak boleh menggunakan benda tajam?

Aku refleks mundur beberapa langkah dan sialnya ada sesuatu yang mengunci tubuhku. Duniaku seketika runtuh begitu menyadari seseorang yang sedang memengang kuat pergelangan tanganku dari belakang ini adalah si gemuk. Oh tuhan, apa kemalangan akan menimpaku? Aku sedang merasa nyawaku berada di ujung tanduk. Aku jadi melupakan permohonanku tadi malam yang ingin mati karena ulah kedua orang tuaku. Pada kenyataannya, saat ini aku ingin hidup lebih lama. Aku jadi merasa bahwa aku adalah gadis plinplan.

Ah Namjoon oppa, aku jadi menyesal harus terlibat dalam situasi ini. Kau tahu kan kalau adik kesayanganmu ini belum pernah pacaran? Biarkan aku merasakannya dulu! Aku merancau tak jelas dalam hati. Ku mohon siapapun tolong selamatkan aku!

Bersamaan dengan doaku dalam hati, kilatan tajam itu semakin berkilau di bawah teriknya matahari. Jaraknya sudah diatasku, seakan siap untuk segera diayunkan padaku. Dengan segenap jiwa raga menahan takut saat menghadapi ajal, aku menutup mataku kuat-kuat. Kuharap Tuhan siap menerimaku di surga nanti.

“Agh!” aku menahan nafas dan merasakan ngilu luar biasa. Eits, tapi tunggu dulu! rasa ngilu dan perih ini tak berasal dari perutku, melainkan dari ujung kakiku. Kala mataku berhasil membuka sempurna, dibawah sana aku melihat kepala si jangkung tergeletak tak berdaya diatas telapak kakiku. Tanganku pun sudah terbebas dan pandanganku segera menyapu sekitar layaknya orang bodoh. Aku masih berusaha mencerna kejadian. Hingga mataku berhasil mengangkap seorang lelaki berseragam sekolah dan mulutnya dimaskeri oleh sapu tangan hitam sedang beraksi luar biasa. Ia berdiri diatas atap mobil kemudian melakukan terjun dengan melakukan arabian dan mendarat tepat diatas tubuh si lelaki gemuk yang baru saja mencoba bangkit. Ia kembali tumbang dan terkapar tak lemah. Saking terpukaunya, aku sampai tak sadar kalau sosok itu sudah menghampiriku. Bak malaikat tanpa rupa, aku menatapnya hanya dengan tatapan blank.

“Tempat ini berbahaya, ayo pergi dari sini!” ujarnya penuh penegasan. Aku tak dapat mengenali siapa dirinya karena ia mengenakan atasan jaket kulit bewarna hitam dan wajahnya tertutup oleh sapu tangan. Tetapi anehnya, aku tak membantah kala ia berlari dengan ikut membawaku bersamanya. Meninggalkan Hoseok, Taehyung, Oppa, Jin, Jungkook dan Yoongi sunbae yang masih terlibat perkelahian di lokasi tadi.

 

“Lepaskan!” elakku begitu kami sampai di sebuah jalanan yang sedikit lebih ramai. Aku menatap punggung orang asing ini dan ingin rasanya menghujami dirinya dengan sejuta pertanyaan dalam benakku. Kalau diingat-ingat, aku seperti pernah mengalami kejadian percis semacam ini.

“Siapa kau?!”

“Kau tak perlu tahu. Masih untung aku menyelamatkanmu.” Ia akhirnya angkat bicara. Suaranya yang teredam masker, membuatku tak dapat mengenalinya juga.

“Aku ‘kan tak menyuruhmu untuk menolongku! Lagi pula siapa kau?”

“Disana sangat bahaya. Gadis sepertimu bisa mati sia-sia”

“Cih, tahu apa kau tentangku? Aku bukan gadis lemah seperti yang kau sangka” aku berkacak pinggang. Dari cara ia bicara, aku bisa menebak bahwa ia sedang menghinaku. Apa dia tak tahu kalau aku ini memiliki kemampuan seperti laki-laki? Ya walaupun kusadari jika aksinya tadi memang keren. Tapi tetap saja ia tak harus berlagak sombong layaknya superhero ‘kan?

Melihatnya terdiam membuatku memiliki kesempatan, GRAAK―dengan sedikit berjinjit aku menarik paksa ikatan sapu tangan yang membalut setengah wajahnya itu. Begitu wajah aslinya terpampang sempurna, rahangku seketika ingin lepas dan pataku nyaris copot saking membulatnya.

“Pa-Park Jimin??!!”

 

-TBC-

 

Hai readers^^ bagaimana menurut kalian tentang FF ini? ya mungkin aku terlalu berani buat bikin FF bertajuk crime/action semacam ini mengingat aku masih seorang pemula dalam dunia peff-an. Tapi namanya juga nyari pengalaman hehe, jadilah aku sampai nekad. apalagi kalau bukan karena konsep comebacknya bangtan? Ya aku terpukau banget sama konsep mereka sampai ide ini pun muncul. Btw maaf ya kalau mungkin ceritanya aneh atau gimana. Tapi aku butuh banget nih krtitik dan saran dari kalian yang udh berniat baca ni FF

Dan mungkin kalian juga pada binggung dengan scene berantem yang tiba-tiba nongol gitu aja tanpa alasan jelas ‘kan? *sok tau* aku emg sengaja buat gtu soalnya aku bakal jelasin panjang lebar di part 2 latar belakang kerinciannya. Jadi part 1 ini semacam teasernya hehe. Okedeh aku sudahi ngocehnya sebelum ocehanku mengalahkan kepanjangan dari ff ini sendiri. Aku tunggu komentar kalian ya! karena lanjutnya ff ini tergantung respon kaliannya juga😀

About fanfictionside

just me

27 thoughts on “FF/ DARK AND WILD/ BTS-BANGTAN/ pt. 1

  1. Disitu ada kookie kan? Tapi kok kookie gangomong sama sekali ya.-. Gapapa lah yang pasti nanti di chap 2 kookienya ada bagian buat ngomong yaa heheheh:3 Ini pasti bakalan jadi ff yang keren:3 Chap 1 nya belom terlalu lurus masalahnya hahahah. Kalo bisa chap 2 jangan lama lama ya chingu:3

    • aku kurang memperhatikan-_-v iya ada kok. ne chingu part 2nya udh aku kirim kok. kkk ini aku buat semacam teaser, jadi alurnya masih ngacak /?makasih ya komentarnya🙂

  2. disini masih samar2 ya/? belom terlalu mudeng wakakak😄 yg nolongin son ae pas malem2 itu jimin juga? ‘-‘ okesip gue lemot -_- keren kok ‘-‘)b

  3. Ya ampun thor keren bgt cerira nya,kok namjoon jahat adek sendiri di jailin,lah kl si son ae pergi bangtan gimana nasib nya… haha nice story thor!!!

  4. masih agak agak mentah, aduuh namanya juga opening, kan masih pengenalan #jitakin diri sendiri wkwkwk

    suka karakter cewe yg jantan gituuuuu, penasaran ntar romance-nya gimana, apa bakal ada persaingan antara jimin sama v #sotau😄
    yyo~~~ namjoon jjang/?😄 next…….ㅠㅠㅠㅠㅠㅜㅜㅜㅜㅜㅜ

  5. Wessss aku mau ksh tepuk tgn buat author nya *prok prok prok xD
    Thor ceritanya ok bingits aku ska ff kyk gni xD trus cast utamanya suami saya chimchim >< bg namjoon jgn kyk gtu ma adek sendiri -_- taehyung aku uda bsa berimajinasi taehyung di ff itu kyk mana xD
    Di tunggu part 2 nya thor jgn lama2 ya
    Moga makin sukses!! Byk yg suka ma ff ini! Jaya terus /? Buat authornya ^^

    • gamsahamnida^^ waahh kita sama nih, chimchim juga suami saya hayo jgn direbut /tendang😄
      makasih bgt ya komentarnya, buat part selanjutnya udah aku kirim kok🙂

  6. Keren thor keren😄 beneran ska sma cerita nya,oh ya kookie jdi anggota bangtan boys baru tau setelah bca yg wktu author nulis saa son ae ninggalin bangtan boys -_- gk ada dialog kookie sih hehehe thor boleh kasih saran gk??
    jgn NC yah ini cerita nya udh seru🙂

  7. Keren thor keren😄 beneran ska sma cerita nya,oh ya kookie jdi anggota bangtan boys baru tau setelah bca yg wktu author nulis saat son ae ninggalin bangtan boys -_- gk ada dialog kookie sih hehehe thor boleh kasih saran gk??
    jgn NC yah ini cerita nya udh seru🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s