FF oneshot/ I HAVE GIVEN UP/ BTS-BANGTAN


Title : I Have Given Up

Author : Alphareita

Genre : Sad, Romance, Angst

Cast : Kim Seok Jin (BTS) – Min Ahra (OC) – Lee Ji Young (OC)

Length : Oneshot

Rating : General

JIN (64)

Disclaimer: Idk, hanya merasa jawaban Jin bernuansa galau di bagian interview keyword talk di album skool luv affair special addition, so I made this story. Beberapa detail aku ganti untuk kepentingan alur cerita. So, here it is. This story and this plot is mine, but Jin is not (maybe someday he’ll be mine hahaha). This story is just a fiction, not a reality. So happy reading and enjoy the story. Don’t forget to leave your comment. Thank you~ *deep bow with chim chim*

*****

“Jika Anda dan sahabat Anda menyukai satu gadis yang sama, apa yang akan Anda lakukan?”

Pertanyaan itu cukup mengejutkan, setidaknya untuk sang member tertua Bangtan Sonyeondan, Kim Seok Jin. Saat ini interviu dilakukan terpisah, tidak bersamaan dengan member lainnya. Mereka sengaja dipisahkan untuk mendapatkan kesan original dalam setiap jawaban yang dilontarkan para member BTS. Dan untuk saat ini saja, Jin merasa membutuhkan keenam membernya untuk setidaknya membuatnya tidak perlu berpikir jawaban seperti apa yang harus diberikan. Mungkin ia bisa mencontek jawaban Rap Monster, atau Jungkook yang bisa dipastikan penuh dengan semangat anak mudanya.

Ia terdiam sejenak, mencoba menetralkan ekspresinya. Ia tahu hasil jawabannya ini akan dimasukan dalam salah satu kepingan CD di album special addition yang akan segera rilis beberapa bulan setelah mini album kedua BTS rilis. Karena itu, ia mencoba menjawabnya dengan tenang.

“Pogi…hal geotgatayo,” rasanya cukup sulit bagi Jin mengatakan hal itu. Rasanya seperti membuka luka yang baru saja mengering hingga harus meneteskan darahnya lagi. Yah, menyerah. Dia akan menyerah. Menyerah seperti bertahun-tahun lalu.

“Saya..punya beberapa teman yang bertengkar karena masalah cinta.” Diam. Mencoba tersenyum, ia pun melanjutkan jawabannya.

“Saya mungkin akan mengamati gadis itu dari jauh, tidak mencoba untuk berkelahi ataupun berhenti mencintai gadis itu. Ya, Saya hanya akan mengamatinya dari jauh.”

Jin menatap staff BigHit yang baru saja menanyakan pertanyaan mengejutkan itu. Tidak, Jin tidak tahu ada pertanyaan itu. Bukan pertanyaan itu saja, tetapi semua pertanyaan yang ditanyakan. Baik Jin maupun member BTS lainnya tidak ada yang tahu, yah, sekali lagi karena ini adalah konsep yang disusun pihak manajemen.

Secara fisik memang namja itu ada disana, menjawab pertanyaan-pertanyaan yang terus dilontarkan seputar mimpi, kebahagiaan, dan cinta. Tetapi secara psikis, namja tampan itu tidak lagi berada di sana setelah pertanyaan itu. Sebagian jiwa dan ingatannya melayang ke waktu 3 tahun lalu. Waktu dimana pertanyaan yang baru saja ia jawab, benar-benar ia lakukan.

Gadis itu. Gadis yang gemar menggerai rambut panjangnya yang sehitam dan sekelam malam hari di Seoul. Gadis yang senang sekali tersenyum hingga kedua matanya tertutup menjadi garis lurus berwarna hitam. Gadis yang selalu gagal berjalan dengan heels setinggi 5 cm. Gadis yang ketika tertawa, akan mengambil perhatian seluruh orang didekatnya untuk bisa ikut merasakan tawanya yang menyenangkan. Gadis itu tidak cantik. Ia sama seperti gadis lainnya. Hanya saja ia berbeda. Ketika gadis lain bekerja keras untuk mempercantik diri, ia malah memilih menghabiskan waktunya dengan setumpuk buku-buku yang selalu menemaninya ke manapun gadis itu pergi. Gadis itu pintar. Ah, tidak hanya pintar, gadis itu cerdas. Jin mengagumi gadis itu melebihi apapun. Dan satu lagi ia mencintainya.

Jin masih ingat dengan jelas bagaimana ia pertama kali jatuh cinta pada gadis itu. Bagaimana ia merindukan setiap kata yang dilontarkan gadis itu. Bagaimana ia merindukan gelak tawa dan senyuman lebar gadis itu. Bagaimana ia mulai menyukai gerak –gerak kaku menggemaskan dari gadis itu. Bagaimana ia merasakan bahwa gadis itu telah menjadi segala-galanya bagi seorang Kim Seok Jin. Ya, Jin ingat dengan begitu jelas setiap waktu yang ia habiskan dengan gadis itu. Bahkan ia masih ingat dengan jelas rasa sakit ketika ia harus mengibarkan bendera putihnya atas gadis itu. Jin ingat semua detilnya dengan jelas, bahkan hari dimana Ji Young dengan lantang memberitahunya bahwa ia mencintai gadis itu. Jin masih ingat rasa sakitnya.

 

[Flashback]

“Ya! kau memanggilku keluar hanya karena ingin mengajakku makan tteokbokki?” keluh Jin sambil menatap tteokbokki yang terhidang di hadapannya.

Ji Young hanya nyengir mendapati sahabatnya itu mengeluh. Jelas, saja Jin akan mengeluh. Salahkan Ji Young karena meminta waktu beberapa jam untuk bertemu dengan sahabat lamanya itu dan mengambil waktu latihan Jin yang begitu berharga. Yah, Jin sedang menjalani masa trainee-nya di BigHit entertainment, mempersiapkan diri menjadi seorang actor, seperti yang selalu dicita-citakan namja tampan itu.

“Mwo? Memangnya kau tidak rindu pada sahabatmu ini, Kim Seok Jin-ssi?” canda Ji Young yang langsung disambut sanggahan dari Jin. Yah, sepadat apapun jadwalnya sebagai trainee, ia masih tetap saja memikirkan sahabat baiknya itu.

“Ji Young-ah, wae? Apa yang mau kau katakan?” Jin sudah hapal betul gerak-gerik dan bahasa tubuh Ji Young, sehingga ia tahu kapan sahabatnya itu bertindak aneh. Seperti sekarang ini, Jin merasa ada sesuatu yang ingin Ji Young katakan padanya. Dan dari pembawaan namja itu yang tertawa sedari tadi, Jin yakin pasti ada sesuatu yang membahagiakan yang ingin Ji Young bagi padanya.

“Aku sedang jatuh cinta, Seok Jin-a. Kau tahu, sahabatmu ini sedang jatuh cinta. Hahahaha.” Lihat sekarang, betapa bahagianya Ji Young mengatakannya. Bukan hal yang istimewa sebetulnya, hanya saja menjadi suatu hal yang istimewa bagi Jin karena namja itu tahu betapa sulitnya sahabatnya itu jatuh cinta. Yah, Jin tahu seberapa sulit bagi Ji Young untuk jatuh cinta kepada seorang gadis, tidak peduli semenarik apapun gadis itu. Jadi, jika namja itu jatuh cinta sudah bisa dipastikan gadis itu pastilah sangat spesial hingga bisa membuat seorang Ji Young jatuh cinta dan bertingkah bodoh seperti saat ini.

“Mwo? Jinjja? Nuguya? Geu yeojaneun nuguya?” tanya Jin penasaran.

“Min Ahra. Min Ahra. Dia gadis yang pernah kau kenalkan padaku beberapa bulan lalu.”

Seketika itu pula Jin menyesal bertanya tentang identitas gadis yang membuat Ji Young jatuh cinta. Min Ahra.

“Min Ahra? Gadis yang kau bilang kutu buku itu?”

“Eo! Beberapa waktu ini selama kau menjalani masa trainee-mu, aku selalu mengajaknya pergi. Dan benar seperti yang kau katakan waktu itu. Dia gadis yang menarik. Dia cerdas. Ternyata dia bukan sekedar kutu buku, dia benar-benar berbeda. Dia istimewa. Dia benar-benar istimewa,” Ji Young membicarakan gadis itu dengan semangat yang begitu besar, hingga tidak menyadari sekelebat perubahan ekspresi yang ada di wajah sahabatnya.

‘Ahra-ya, aku harus bagaimana?’

“Geurae, dia memang istimewa dan menarik.” Jin tidak bisa memberikan komentar lebih dari itu.

Jin pernah merasakan yang namanya sakit hati, tetapi sakit kali ini rasanya berkali-kali lipat lebih sakit dari sakit hati yang pernah ia rasakan. Naluri persaingan Jin sejujurnya tidak bisa dibendung ketika Ji Young mengatakan identitas gadis itu. Hanya saja Jin merasa persahabatannya dengan Ji Young terlalu berharga untuk dipertaruhkan. Tetapi gadis seperti Ahra pun belum tentu bisa ia temukan untuk yang kedua kalinya. Jin mengalami disonansi kognitif. Yah, disatu sisi ia menyayangi Ji Young, disisi lain ia pun mencintai Ahra.

“Kau sudah menyatakan perasaanmu padanya?” tanya Jin setelah ia cukup muak mendengarkan Ji Young bercerita tentang kisahnya dengan gadis itu.

“Ajik.”

“Eumm,” lagi-lagi Jin tidak bisa berkomentar lebih jauh.

“Mungkin lusa aku akan menyatakannya. Kau harus menemaniku, Kim Seok Jin! Kau harus ada disana saat aku menyatakan cinta padanya.” Pinta Ji Young yang sejujurnya sangat menyakitkan bagi Jin.

“Wae? Naega wae?” Tanya Jin berusaha sebiasa yang ia bisa.

“Karena kau sahabatku. Kau harus ada disana untuk memberiku support secara moral,” ujar Ji Young dengan mudahnya.

Jin terdiam, ia tidak bisa berpikir lagi. Pikirannya sudah benar-benar kacau. Hingga dengan berat hati ia mengiyakan permintaan Ji Young.

[End of Flashback]

 

Jika ditanya apa Jin masih mencintai gadis itu, maka jawabannya ya. Ya, Jin masih mencintai gadis itu hingga detik ini.

Jika ditanya mengapa ia tidak memperjuangkan gadis itu, maka jawaban Jin tidak lain adalah untuk kebahagiaan gadis itu sendiri. Yah, Jin sadar bahwa saat itu dengan statusnya yang sebagai trainee yang akan debut (meskipun belum tahu kapan waktunya), ia merasa lebih baik seperti ini. Jin tidak bisa menyakiti gadis itu dengan posisinya kelak sebagai idol. Jin sadar dan tahu benar bagaimana resiko terjun ke dalam dunia hiburan seperti itu. Jin tidak ingin menyakiti gadis itu, sekalipun ia sadar bahwa ia yang tersakiti jika begitu. Yah, setidaknya bukan gadis itu.

Jin tahu. Jin benar-benar tahu bahwa gadis itu memiliki perasaan yang sama dengannya. Jin tahu Ahra juga mencintainya. Tetapi, saat itu ia benar-benar berlagak seolah ia tidak tahu apa-apa. Ia memainkan perannya dengan apik hingga membuat gadis itu seolah merasakan cinta sepihak. Jin memilih jalannya dengan benar. Jalur acting sangat cocok untuknya, meskipun ia akan didebutkan melalui jalur idol. Setidaknya mimpinya tetap menjadi seorang actor suatu hari nanti.

Yah, Jin ingat setiap detail ketika ia memutuskan untuk menyerah mencintai gadis itu. Ya, ia menyerah tepat di depan gadis itu.

 

[Flashback]

“Jin, haruskah seperti ini?” tanya Ahra dengan segenap ekspresi kacau dan kalutnya mendengar penjelasan Jin.

“Keurom. Dia namja yang baik. Dan dia sahabatku,” ujar Jin mencoba santai sambil menyeruput lattenya yang terasa jauh lebih pahit di lidahnya.

“Lalu kau sendiri bagaimana?”

“Aku? Aku kenapa?” Tanya Jin seolah-olah ia tidak mengerti apa-apa.

“Kau mencintaiku, Jin. Kenapa kau tidak memperjuangkan aku?” Telak! Ucapan Ahra menohok Jin cukup telak.

“Memperjuangkan apa? Bukankah aku sedang memperjuangkan kebahagiannmu, Ahra-ya?” tanya Jin balik, melewati satu pertanyaan Ahra tentang cintanya.

“Kebahagiaanku? Kau tidak tahu aku mencintaimu? Ya! Kim Seok Jin, aku mencintaimu. Kau tahu?”

‘Ne, Ahra-ya. Aku tahu kau mencintaiku. Aku juga mencintaimu. Bahkan lebih mencintaimu.’

“Ahra-ya.” Jin benar-benar tidak tahu harus mengatakan apa.

“Apa aku tidak cukup pantas untuk kau perjuangkan, Seok Jin-a?” Jin mencoba menata hati dan perasaannya sendiri untuk menatap gadis itu.

“Mianhae. Jeongmal mianhae, Ahra-ya. Buatku kau tidak lebih dari seorang sahabat.”

“Sahabat?” Jin melihat bulir-bulir airmata itu terjun bebas dari mata indah Ahra. Tidak, ia tidak tahan melihat seorang gadis menangis, terlebih gadis itu gadis yang dicintainya.

“Ya, sahabat. Kau sahabat terbaikku, Ahra-ya.”

“Tidak bisakah disini tidak ada kebohongan? Tidak bisakah disini bukan hanya aku yang jujur akan perasaanku? Kim Seok Jin!” Ahra mencoba menahan diri tidak terisak.

“Ahra-ya, jebal. Jangan menangis. Mian, jeongmal mianhae.” Jin beranjak dari duduknya mencoba mendekati Ahra yang masih merasakan serangan telak yang baru saja Jin berikan padanya.

“Andwae, jangan mencoba menghiburku, Kim Seok Jin. Kau hanya akan membuatku semakin berharap,” Ahra menepis tangan hangat Jin yang hendak mengusap puncak kepalanya.

Jin menarik napas berat. Sangat berat. Rasanya seperti ada beban yang tiba-tiba saja dijatuhkan di jalur pernapasannya hingga menghalangi asupan oksigen yang akan masuk ke paru-parunya.

“Seok Jin-a,” panggil Ahra dengan suaranya yang bergetar menahan isakannya.

“Ne?”

“Kau benar-benar tidak mencintaiku?” Sungguh, Jin ingin sekali menjawab ‘tidak’.

Jin terdiam sejenak menatap Ahra. Gadis itu tidak menatap ke arahnya. Dia menundukkan wajahnya. Jin tahu Ahra sedang bersusah payah menahan tangisnya agar tidak lepas lebih jauh.

“Mianhae, Ahra-ya.” Ya, hanya itu jawaban yang bisa Jin berikan.

Ahra menengadahkan wajahnya. Jejak-jejak airmata itu masih terlihat jelas, tetapi tidak lagi dengan alirannya. Sudah tidak ada airmata. Gadis itu tersenyum, yang Jin tahu tidak dari hatinya. Gadis itu tersenyum pada Jin. Cantik. Rasanya Jin ingin sekali menarik kembali bualannya tentang tidak adanya cinta untuk gadis itu.

“Gwaenchanha, Seok Jin-a.”

[Flashback End]

 

Jin menatap staff BigHit yang sedang merekam segala gerak-geriknya. Interviu masih berlanjut. Jin sudah benar-benar tidak nyaman. Sejujurnya ia ingin segera masuk ke dorm dan tidur. Tidur obat paling ampuh untuknya. Ya, ingatkan lagi tentang kebiasaan Jin ketika sedang dalam kondisi mood yang buruk, maka satu-satunya obatnya adalah tidur. Dan ketika ia bangun nanti, ia sudah akan lupa segala hal yang merusak moodnya sebelumnya.

“Jin-a, gwaenchanha?” suara sang manager menyadarkannya.

“Nan gwaenchanha, hyung.”

“Jinjja?”

“Eo.”

“Geurae. Sebentar lagi selesai. Mungkin kau hanya terlalu lelah. Member lainnya sudah menunggu di luar. Setelah ini kalian bisa beristirahat di dorm sampai waktu latihan vokal nanti.”

“Ne!”

Jin butuh istirahat sekarang juga. Pikirannya terus saja berkelana ke masa lalunya. Gadis itu. Min Ahra. Ya, selalu saja gadis itu. Jika gadis itu tahu, sejak hari itu Jin tidak pernah berhenti sedetikpun untuk menjaga gadis itu. Tidak secara langsung memang. Hanya Jin yang tahu bagaimana caranya. Baginya ketika melihat gadis itu tersenyum, itu sudah lebih dari cukup untuk memberikan Jin penguatan bahwa ia tidak salah untuk menyerah memperjuangkan cinta gadis itu. Bukan berarti Jin lemah, hanya Jin butuh prioritas. Bagi Jin, jika gadis itu adalah semestanya, maka sahabatnya adalah pasak yang membuatnya tetap berpijak pada bumi dan tidak melayang tanpa arah di dalam semestanya.

“Ahra-ya, mungkin jika pemikiranku tidak sebodoh ini aku sudah bersamamu sekarang,” lirih Jin.

“Oke Jin-ssi, kita mulai take berikutnya.” Staff BigHit itu sudah mulai memfokuskan diri pada sesi pertanyaan berikutnya.

“Ne!” balas Jin lantang, mencoba menetralisir hatinya yang sedang merindukan sosok gadis yang sudah menghancurkan moodnya hari itu dengan kenangannya.

~FIN~

About fanfictionside

just me

One thought on “FF oneshot/ I HAVE GIVEN UP/ BTS-BANGTAN

  1. pingin manggang otaknya si jin biar agak encer dikit -.- tapi kalo aku ada di posisinya jin aku juga bakal ngelakuin hal yg sama sih /dirajam/
    aku jarang baca ff jin tapi ini aku suka aku suka ♥♥
    maap pagi” uda nyampah gak berguna macam ini
    keep nulis ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s