FF/ HERO AND HEROINE/ BTS-BANGTAN/ pt. 2


Author: Anditia Nurul||Rating: PG-15||Length: Chaptered||Genre: School-life, Friendship, Romance, a bit comedy||Main Characters: (BTS) Suga/Yoongi, & (OC) Geum Hajin||Additional Characters: (BTS) Jin/Seokjin, (BTS) J-Hope/Hoseok, (BTS) Jimin & (B.A.P) Himchan as Min Himchan||Disclaimer: I own nothing but storyline and the OCs. Inspirated by a fiction story titled ‘Crazy’ By Emolicious and Boys Before Flowers. Original ver casted by (B1A4) Jinyoung & OC||A/N: Edited! Sorry if you still got typo(s). [!!!] Used some ‘frontal(?)’ words. Please don’t bash!

Chp.1>>Chp.2

HERO-HEROINE-BTS(1)

HAPPY READING \(^O^)/

@@@@@

-Flashback-

-Hoseok’s POV-

Begitu bel tanda seluruh kegiatan belajar-mengajar di sekolah berakhir, aku, Suga dan Seokjin bergegas memasukkan buku-buku ke dalam tas. Setelah Lee Sonsaengnim keluar dari kelas, aku dan kedua sahabat baikku pun menjadi siswa-siswa yang pertama kali keluar dari kelas. Ya, salah satu keuntungan bersahabat dengan seorang Min Suga adalah SELALU MENJADI YANG PERTAMA! Tidak ada orang yang berani keluar dari kelas jika Suga belum keluar.

Saat kami berjalan menyusuri koridor menuju ruang loker pun, para siswa-siswi langsung menepi, memberi jalan kepada kami. Di sekolah ini benar-benar tidak ada 1 pun siswa yang berani pada Suga—kecuali kalau mereka sudah bosan hidup.

Tiba di ruang loker, aku, Suga dan Seokjin melangkah menuju loker masing-masing. Kebetulan, loker kami bertiga berdekatan.

“Hari ini kita ke tempat yang kemarin, bagaimana?” Kudengar Suga bertanya kepada aku dan Seokjin.

“Boleh juga,” sahutku setelah meletakkan buku-buku paket yang membuat tasku berat di dalam loker.

“Ah, aku tidak bisa. Aku ada pertemuan dengan tim basket!” tolak Seokjin seraya mengeluarkan satu pasang pakaian pemain basket Shinhwa High School dari lokernya. Ya, dia memang salah satu pemain inti tim basket sekolah, tapi sebentar lagi dia akan ‘pensiun’ mengingat dia sudah kelas 3.

“Sekali-sekali bolos kan tidak apa-apa, Seokjin,” bujukku, menepuk-nepuk bahu lebar Seokjin.

“Iya, aku tahu. Tapi, hari ini saja. Hanya hari ini aku tidak ikut ke tempat yang kemarin. Oke?” Seokjin melihat aku dan Suga bergantian, meminta persetujuan.

Suga mendengus. “Baiklah. Aku memberimu izin untuk hari ini, Kim Seokjin!”

“Ya, sudah. Aku pergi dulu!” ucap Seokjin, melambaikan tangannya kepada aku dan Suga setelah ia menutup lokernya. Ia pun berlari keluar dari ruang loker menuju tempat dimana para anggota tim basket sekolah biasanya berkumpul. Namun beberapa saat setelah laki-laki itu pergi…

PLUK

Sesuatu terjatuh dari lokernya.

Ah, tempelan Mario Bros-nya. Seokjin memang sangat menyukai karakter tukang-pipa-kumisan itu.

Suga lantas memungut tempelan itu dari lantai. “Dasar! Laki-laki macam apa dia? Kurang kerjaan sekali!” komentar lelaki bermata sipit itu. Untuk sesaat, kulihat dia menatap lekat tempelan itu, seperti sedang memikirkan sesuatu dan tiba-tiba…

“PLOK!”

Dalam gerakan cepat, Suga menempelkan benda itu di pintu lokernya, loker yang bersebelahan dengan loker Seokjin.

Aku terkejut. “Hei! Hei! Kenapa kau memasang benda itu di pintu lokermu, Suga-ssi?” tanyaku, terdengar sedikit protes.

Dia menoleh ke arahku, menatapku dengan tatapan mautnya. Aku ciut. Uh, bilang saja Min Suga-ssi. Bilang saja kalau kau juga suka Mario Bros. Ingin rasanya aku mengucapkan kalimat itu, tapi kutahan mengingat aku belum mau mati hari ini.

“Besok akan aku kembalikan ke Seokjin. Aku pinjam untuk hari ini saja!” ketusnya. “Ayo, kita pergi sekarang! Anak-anak sudah menunggu di depan!” ajaknya kemudian.

Suga pun berjalan di depan, sedangkan aku mengekorinya di belakang. Hari ini, kami akan pergi ke sebuah café, tempat genk Bangtan Boys Cs biasa berkumpul. Dari kejauhan, sudah terlihat mobil golden brown Suga yang terparkir khusus di area parkir sekolah. Bahkan kepala sekolah saja tidak mendapat layanan parkir seistimewa Suga. Entah bagaimana anak ini melakukannya.

“Ah!” seruku ketika aku baru saja mengingat sesuatu.

Suga berbalik melihatku dan bertanya, “Ada apa?”

“Ada sesuatu yang tertinggal di lokerku… hehehe,” jawabku sambil memberikan puppy-eyes-ku pada Suga ketika kulihat dia menatapku seolah ingin memakanku. Sudah bertahun-tahun aku bersahabat dengannya, tapi aku masih saja takut dengan tatapannya itu.

Payah sekali aku.

“Aish! Cepat!” gerutunya.

Dengan kecepatan cahaya, aku memutar balik langkahku, berlari menuju ruang loker. Tapi, setibanya aku di sana, kulihat seorang gadis berdiri di depan loker Suga. Ia terlihat menyelipkan sesuatu berwarna merah muda ke dalam loker itu. Uh? Siapa gadis itu? Apa yang dia masukkan ke dalam loker Suga? Beberapa detik kemudian, kulihat dia joget-joget tidak jelas setelah menyelipkan sesuatu yang mungkin saja itu surat ke dalam loker Suga.

Tidak lama kemudian, gadis aneh itu berjalan ke arahku, berniat untuk keluar dari ruangan loker. Buru-buru aku sembunyi di balik pot taman yang sebenarnya tidak bisa melindungi tubuhku sepenuhnya. Pot tanaman bonsai, sih.

Untungnya, gadis itu tidak melihatku berjongkok di samping tanaman bonsai. Sepertinya dia terlalu senang dengan apa yang baru saja dilakukannya. Fiuh~ Baguslah. Oh, astaga! Aku harus cepat-cepat sebelum Suga memutilasiku nanti!

Last Morning

Aku baru saja tiba di sekolah dan langsung berjalan menuju ruang loker untuk mengambil beberapa buku paket. Ketika aku tiba, kulihat Suga dan Seokjin sedang berbicara sambil memperhatikan selembar kertas yang dipegang oleh Suga.

“Apa itu?” tanyaku, menyeruak di antara Seokjin dan Suga yang terlihat serius membahas sesuatu.

Suga menunjukkan benda yang dipegangnya padaku. Selembar surat. “Ada surat di lokerku. Entah siapa yang menaruhnya, tapi aku yakin seorang gadis.”

Aku pun langsung teringat oleh gadis kemarin. “Ah, aku tahu! Kemarin aku melihat seorang gadis berponi berdiri di depan lokermu!”

Min Suga langsung memegang kedua bahuku, menatapku seolah-olah aku orang yang sangat penting berkaitan dengan hal ini. “Benarkah? Kau tahu siapa namanya?”

Aku menggeleng.

“Tapi, kau tahu wajahnya seperti apa?”

Aku mengangguk.

“Baiklah, kita geledah semua kelas sekarang!” ujarnya lantang.

-End Of Hoseok’s POV-

-End Of Flashback-

@@@@@

Next Day

Shinhwa High School

Aku berjalan memasuki gerbang sekolah dan sesuatu yang aneh mulai terjadi padaku. Para siswa-siswi yang berada di sekitarku langsung menepi, memberi jalan untukku. Mereka bahkan menatapku aneh sambil sesekali berbisik. Aku hanya bisa menghela napas panjang.

Sejak kemarin, sejak si Mashimaro KW1 itu menyatakan kalau aku adalah pacarnya, tidak ada lagi orang yang mau berdekatan denganku. Ya, tentu saja, siapa yang mau berdekatan dengan pacar seorang ‘kriminal’ kelas kakap se-Shinhwa? Bahkan, aku langsung dipecat dari posisiku sebagai ketua fansclub Seokjin Sunbae di kelas karena aku gagal menunaikan ‘tugas suci’. Huweeeeee.

Dasar Min Suga gila!

Seenaknya saja dia mengklaim diriku sebagai pacarnya.

Padahal, padahal, surat itu bukan untuknya, tapi untuk Seokjin Sunbae.

“HAJIINN-AAH!”

Oh, Jimin!

Aku berhenti dan menoleh ke belakang. Kulihat Jimin berlari ke arahku sambil memamerkan cengiran super lebarnya. “Kau sudah baikan?” tanyaku pada Jimin ketika ia sudah berdiri di hadapanku.

Ia mengangguk semangat. “Ya,” jawabnya. “Oh, ya, kemarin ada berita seru apa? Kudengar dari beberapa siswa yang bersamaku di bis sekolah, Min Suga Sunbae sudah punya pacar. Kau tahu siapa orangnya, Hajin-ah?”

Dalam hati aku tertawa miris. Orangnya sedang berjalan di sebelahmu, Park Jimin. Aku orangnya. Sahabatmu ini adalah pacar dari manusia pembawa sial itu! Karena kau tidak datang kemarin, tidak ada orang yang mau menolongku.

“Ah, aku hampir lupa, Jimin. Kemarin Seo Sonsaengnim memberi tugas untuk membuat karangan deskriptif dalam bahasa Inggris,” kataku mengalihkan topik pembicaraan.

Jimin terkejut. “Benarkah? Mampus! Apa kau sudah mengerjakannya, hah? Kita kerjakan bersama, ya?”

Aku mengangguk sambil diam-diam menghela napas. Beruntung, Jimin adalah tipe manusia yang sangat mudah dialihkan perhatiannya. Hahaha.

Berdua dengan Jimin, kami menyusuri koridor. Lagi-lagi, aku—kali ini bersama Jimin—mendapat perlakuan istimewa. Siswa-siswi langsung menepi, memberi jalan. Tidak lupa dengan tatapan-tatapan aneh dengan bisikan-bisikan yang—ah, aku tidak tahu harus mengatakan apa.

“Heh, kenapa orang-orang melihat ke arah kita?” tanya Jimin mulai merasa aneh dengan perlakuan siswa-siswi di sekitar kami. “Apa ada yang aneh padaku, Hajin-ah?” tanya Jimin kemudian.

Tidak ada yang aneh padamu, Jimin. Mereka hanya iba padamu karena kau berani mendekatiku. Bukannya bermaksud jahat, tapi… aku tidak mau memberitahumu tentang siapa wanita yang secara sial menjadi pacar Min Suga. Aku tidak mau kau menjauhiku.

Di saat Jimin semakin bingung dengan semua perlakuan aneh yang diterimanya hari ini, tiba-tiba…

“TUK!”

“Akh!” ringis Jimin ketika sesuatu mengenai kepalanya. Ketika aku melihat benda apa yang mengenai kepalanya, ternyata sebuah kaleng minuman isotonic.

“HEI! KAU!!!” Seseorang berteriak di belakang kami.

Aku dan Jimin menoleh ke asal suara dan… seketika kedua mataku membulat begitu melihat siapa yang berjalan menghampiriku dengan aura-aura kegelapan di sekitarnya. Dia beserta dua anggota genk Bangtan Boys dan para pengikutnya menghampiriku. Oh, lebih tepatnya menghampiri Jimin yang berada di sampingku.

“APA YANG KAU LAKUKAN? JANGAN DEKAT-DEKAT DENGAN GEUM HAJIN! DIA PACARKU!!!” Suga meraih kerah seragam Jimin dan berteriak di depan wajahnya.

Bisa kulihat Jimin mengalihkan wajahnya dari tatapan kematian milik Min Suga. Terlihat benar-benar sangat takut. “A-Aku—”

“HEH! JANGAN MEMBENTAKNYA! DIA INI SAHABATKU!” bentakku membela Jimin sebelum Suga bertindak lebih jauh dan sebelum Jimin pipis di celana.

Suga lantas mengalihkan pandangannya padaku, lalu melepas cengkaramannya dari kerah seragam Jimin dengan kasar. Jimin hampir jatuh di atas lantai koridor. Sepersekian detik kemudian, dalam gerakan cepat, ia menyeret tubuhku hingga aku bersandar pada dinding. Ia mengunci pergerakanku dengan meletakkan kedua tangannya di sisi kiri dan kanan kepalaku.

Aku menelan ludah. Mau apa dia?

“Hei! Berikan nomor ponselmu padaku!” pintanya, sangat tidak nyambung dengan kejadian barusan.

Aku mengenyitkan dahiku. “Untuk apa?”

“Aku ini pacarmu, Bodoh! Karena itu lekas berikan nomor ponselmu kalau kau tidak mau hidupmu berakhir hari ini!”

Grrr… laki-laki macam apa dia?

Masa meminta nomor ponsel seorang gadis sekasar itu?

Awas kau!

“010-XXXX-XXXX.”

“Ini benar nomor ponselmu, kan?” tanyanya memastikan setelah menyimpan nomor yang kusebutkan di list contact ponselnya.

“Ya,” jawabku.

Setelah itu, dia pun melenggang pergi begitu saja diikuti oleh teman-temannya. Meninggalkan aku yang menjadi pusat perhatian siswa-siswi yang masih berkerumun di sekitarku. Arrrghh! Dasar lelaki menyebalkan! Awas kau. Lain waktu, aku balas perbuatanmu!

@@@@@

Aku, appa, eomma dan adikku, Sujin, sedang makan malam bersama. Menunya seperti biasa, nasi, kimchi, ikan dan sup rumput laut. Sembari makan malam, appa dan eomma membicarakan rencana pindah rumah.

Ya, karena pekerjaan appa, kami sekeluarga akan pindah rumah lagi ke Busan. Awalnya, aku memang tinggal di daerah itu, tapi… ketika aku kelas 1 SMP—dan masih karena pekerjaan appa—kami pindah ke Seoul.

Appa akan mengurus surat pindah sekolah kalian,” kata appa memulai pembicaraan.

“Jadi, kapan kita pindah?” tanyaku.

Appa tidak langsung menjawab, tapi menelan kunyahannya terlebih dahulu. “Kurang dari satu bulan lagi. Karena itu, kau dan Sujin harus mulai memasukkan barang-barang kalian ke dalam karton yang appa bawa tadi, mengerti?”

“Ya~” seruku dan Sujin bersamaan.

“Lalu, di Busan, kita akan tinggal dimana, Appa? Apa tinggal di rumah yang dulu?” tanya Sujin.

“Ya, kita tinggal di rumah yang dulu.”

Di tengah-tengah pembicaraan kami sekeluarga tentang rencana pindah rumah, tiba-tiba ponsel appa yang berada di atas lemari pendek, berdering. Appa mengulurkan tangannya untuk meraih ponsel yang tidak jauh dari posisinya.

“Halo?” Appa menjawab panggilan masuk ke ponselnya.

Namun, beberapa detik kemudian, appa malah menggerutu, “Dasar orang kurang kerjaan!”

Oh, jangan-jangan yang menelepon barusan itu si pendek. Nomor ponsel yang kuberikan padanya tadi kan nomor ponsel appa… HUAHAHAHAHAHA. Rasakan! Itu balasannya kalau suka membentak Geum Hajin!

“Itu pasti orang bodoh, Appa. Tidak usah dipikirkan,” ujarku.

“Ya, ternyata di dunia ini masih ada orang bodoh,” kata appa.

Benar sekali appa. Dan salah satunya adalah laki-laki yang meneleponmu barusan.

Appa bermaksud meletakkan ponselnya kembali ke tempat semula, di atas lemari pendek yang berada di dekatnya, tapi…

PRAAAAKK

Dia malah menjatuhkannya.

“Aduh, ponsel appa rusak,” kata appa sambil memunguti ponselnya yang sudah berhamburan. Kasihan sekali appa-ku. Padahal dia sangat menjaga ponselnya itu sepenuh hati. Karena itulah, ponselnya masih bertahan walaupun sudah dibeli sejak 7 tahun lalu. Hah, ini pasti gara-gara si makhluk aneh itu menelepon appa. Orang itu memang pembawa onar. Dasar!

Baby baby geudaeneun caramel macchiato
Yeojeonhi nae ipgaen geudae hyanggi dalkomhae
Baby baby tonight~

Oh, ponselku berdering!

Aku bergegas lari ke kamarku, meraih ponselku yang kuletakkan di atas tempat tidur. Kulihat layar ponselku berkedap-kedip genit. Eh? Unknown? Nomornya 010-XXXX-0309

“Halo?” sapaku menjawab panggilan.

“Sudah kuduga yang kau berikan padaku pasti bukan nomor ponselmu!” bentak suara di seberang yang aku yakini sebagai suara… MIN SUGA!

Bagaimana bisa si Mashimaro KW1 ini mendapatkan nomor ponselku yang asli?

“Apa maumu?” bentakku.

“Hei, Gadis aneh! Besok kau harus ikut aku!” perintahnya.

Aku mendengus. “Tidak bisa. Aku sibuk. Jadwalku padat.”

“Heh, besok itu hari Minggu. Lagi pula kau bukan artis!”

“Aku mau membersihkan rumah.”

“Hei! Gadis sepertimu mana bisa membersihkan rumah? Membersihkan diri sendiri saja kau tidak becus!”

“KLIK!”

Kuputuskan panggilannya. Apa-apaan dia mengataiku seperti itu?

Baby baby geudaeneun caramel macchiato
Yeojeonhi nae ipgaen geudae hyanggi dalkomhae
Baby baby tonight~

Kulihat layar ponselku sekali lagi.

Ugh, dia lagi!

APA?

“Tunggu aku di taman dekat rumahmu besok! Kau harus ikut kalau kau tidak mau Park Jimin mati!” tegasnya, lalu memutuskan panggilan.

Pacar macam apa dia?

Belum pernah aku mendengar seorang laki-laki yang mengajak pacarnya jalan-jalan menggunakan kata-kata yang biasanya dipakai oleh para penculik.

Dia itu benar-benar psikopat!

PSIKOPAT GILA!

Tapi, bagaimana dia bisa tahu nama Jimin, hah? Dia kan… tidak tahu nama Jimin. Ah, atau jangan-jangan…

Lekas, aku memutuskan untuk menghubungi Jimin, memastikan dia baik-baik saja. Huft, bagaimana pun, hidup Jimin terancam bahaya karena aku.

“Hajin-ah! Hajin-ah! Kau tahu? Tadi Suga Sunbae dan teman-temannya membuntutiku dari sekolah ke rumah. Dia memaksaku untuk memberikan nomor ponselmu juga alamat rumahmu…,” panik Jimin ketika ia menjawab teleponku. Ia bahkan tidak mengatakan ‘halo’ terlebih dahulu. Dia… benar-benar sangat ketakutan.

Aku menghela napas. Terjawab sudah bagaimana Suga bisa tahu nomor ponselku dan nama Jimin. “Oh, jadi si psikopat itu tahu nomor ponselku dan alamatku dari kau?”

“Maafkan aku. Mereka mengancam mau memukuliku kalau aku tidak memberitahu mereka…,” jawab Jimin lirih.

“Kalau begitu, kau harus ikut denganku besok!” paksaku.

“HA? KEMANA?” Jimin berteriak.

“Menemui Min Suga! Dia mengajakku bertemu dengannya besok di taman!”

“APA? TIDAK MAU! KAU SAJA SENDIRI!”

“Park Jimin, kau harus ikut! Bagaimana pun, si jelek itu tahu nomor ponselku gara-gara kau! Jadi, kau harus turut bertanggungjawab!”

“TIDAK MAU, HAJIN-AH! AKU TIDAK MAU! AKU TIDAK MAU BERURUSAN DENGAN MEREKA LAGI!”

“KAU HARUS IKUT DENGANKU, PARK JIMIN! KAU TEGA MELIHAT SAHABATMU YANG PEREMPUAN INI BERSAMA DENGAN GENK BANGTAN BOYS BESOK, HAH? POKOKNYA KAU HARUS IKUT! KALAU TIDAK, AKU AKAN MENJAMBAK RAMBUTMU!”

“Ba-baiklah…,” nada suara Jimin melemah. Pasti dia trauma karena dulu aku pernah menjambak rambutnya. Maaf, Jimin, aku tidak bermaksud untuk membentakmu, tapi kau satu-satunya orang yang bisa aku andalkan untuk menemaniku menghadapi si toko-emas-berjalan itu besok.

@@@@@

From: Kembaran Mashimaro

Kau harus berada di taman sebelum jam 10!

Itu yang aku baca dari sebuah pesan yang masuk ke dalam ponselku jam 6 pagi. Sebuah pesan dari kembaran-Mashimaro yang dengan sangat menyebalkannya membangunkan aku dengan 10 missed call hanya untuk membaca 1 SMS tidak penting darinya.

Dasar orang gila!

Karena jam 10 masih sekitar 4 jam lagi, aku memutuskan untuk melanjutkan tidurku. Merapatkan kepalaku di atas bantal, menarik selimut menutupi seluruh tubuhku dan memeluk guling yang berada di dalam selimut. Akhir pekan memang menyenangkan. Aku bisa tidur sepuasnya.

Namun…

“Baby baby geudaeneun caramel macchiato
Yeojeonhi nae ipgaen geudae hyanggi dalkomhae
Baby baby tonight~”

Kudengar ponselku berdering. Uh, siapa lagi yang menggangguku kali ini?

“Halo?” sahutku, menjawab telepon malas-malasan.

“KAU DIMANA? AKU SUDAH MENUNGGU DI TAMAN, TAU!”

Si kembaran Mashimaro itu lagi.

“Memangnya sekarang jam berapa, hah? Bukannya kau bilang jam 10?” balasku.

“INI SUDAH JAM 10 LEWAT 10 MENIT, GEUM HAJIN! JANGAN BILANG KAU MASIH TIDUR!!!” teriaknya. Aku kaget sendiri. Ya ampun, sudah jam 10, ya? Padahal, rasanya aku baru saja tertidur. Tahu-tahu sudah jam 10.

“Iya, iya, aku sudah bangun, Bodoh!” balasku, bergerak mengambil posisi duduk di atas tempat tidur.

“APA? HEI! AKU SUDAH LAMA MENUNGGUMU! CEPAT! KAU HARUS TIBA DI TAMAN DALAM 10 MENIT!”

Aku membulatkan kedua mataku begitu mendengar ucapannya. “Hei! Kau gila? Aku belum mandi, belum makan, belum apa-apa!”

“POKOKNYA AKU TIDAK MAU TAHU! SEPULUH MENIT LAGI KAU HARUS BERADA DI TAMAN! KALAU TIDAK, KAU TAHU APA YANG AKAN TERJADI PADA JIMIN!”

DASAR MASHIMARO KW1 SIALAN!

Uh, tanganku gatal. Ingin rasanya aku mencungkil mata sipitnya itu. Ingin rasanya menaboknya pukulan kali. Ingin rasanya aku mengulitinya. Ingin rasanya aku—loh? loh? Kenapa sekarang aku yang jadi terlihat seperti psikopat gila?

Ukh! Ini gara-gara orang itu yang menularkan psikopat-nya padaku.

Sekitar 10 menit kemudian, aku dalam perjalanan menuju taman di dekat rumahku—jangan katakan pada siapa pun kalau aku hanya gosok gigi dan cuci muka—dan tentunya bersama Jimin yang saat ini bersusah payah aku seret untuk ikut. Pokoknya hari ini aku tidak mau sendirian menghadapi nasib sialku.

“Hei! Suga-ssi, itu pacarmu!” teriak Hoseok Sunbae sambil menunjuk-nunjuk ke arah kami—aku dan Jimin. Tubuh laki-laki berwajah kuda itu dibalut kaos berwarna biru dengan bawahan jeans pendek selutut dan sepasang sneakers berwarna hitam yang menutupi kedua kakinya.

Di sana, beberapa meter di depan, kulihat 2 anggota Bangtan Boys itu berdiri di dekat sebuah mobil berwarna golden brown yang tidak asing lagi di mataku. Mobil itu sudah sering aku lihat keluar masuk di halaman parkir Shinhwa High School.

Jangan-jangan, Suga mau mengajakku naik mobil golden brown-nya itu!?

Oh my God! Itu pasti mobil mahal. Dari kejauhan saja sudah kelihatan mengkilat sekali.

“Kenapa lama sekali, hah?” tegur Suga begitu aku berdiri di depannya. Meski sekarang wajahnya dihiasi kacamata hitam, tapi… bisa aku lihat dia sedang bête. Haha… biar saja. Toh! Dia masih menungguku.

“Aku ke rumah Jimin dulu!” jawabku, menunjuk Jimin yang berdiri dengan tubuh gemetaran di sebelahku. Dia bahkan merangkul lengan kananku. Oh, God. Jimin laki-laki macam apa kau? Kenapa malah berlindung padaku?

Suga melihat ke arah Jimin setelah ia melepas kacamata hitamnya, menyampirkan benda itu di atas kepalanya. Bisa kurasakan tangan Jimin semakin gemetaran ketika si pendek itu memperlihatkan tatapan kematian padanya.

“Kenapa kau bawa dia?” tanyanya sambil melipat kedua tangannya di depan dada. Well, hari ini Suga cukup menggodaku dengan otot lengannya itu. Yap, hari ini dia memakai kaos kotak-kotak tanpa lengan, celana jeans pendek selutut juga dan sepasang sneakers berwarna hitam.

“Memangnya kenapa? Aku tidak tenang kalau hanya sendiri. Sebaiknya ada orang yang aku kenal dengan baik untuk menemaniku. Jaga-jaga siapa tahu kau…” Aku memilih untuk tidak meneruskan ucapanku.

“Aku apa?” Suga sewot.

Jaga-jaga siapa tahu kau melakukan hal yang tidak-tidak padaku.

“Sudahlah!” Satu kata ini yang keluar dari mulutku.

“Huh, baiklah! Suruh dia duduk di belakang dengan Hoseok dan Seokjin!” titahnya.

Seokjin Sunbae? Jadi, Seokjin Sunbae ada di dalam mobil? Ohoho, syukurlah… ternyata tidak sia-sia aku datang ke tempat ini. Aku pikir dia tidak ikut… hehehe.

“Hei! Cepat! Masuk!” tegur Suga yang sekarang sudah duduk di belakang kemudi mobilnya. Uh, gara-gara keasikan melihat-lihat bayangan Seokjin Sunbae duduk di dalam mobil, aku sampai lupa untuk masuk ke dalam mobil.

Aku pun berlari ke sisi kanan mobil. Hmm… bagaimana ya rasanya naik mobil mahal?

“Hei! Cepat!” tegur Suga lagi!

Pasti menyenangkan… hehehehe.

Iya, iya,” balasku. Ih! Kenapa dia ini selalu menyuruh orang cepat-cepat, sih!?

Akhirnya, aku duduk juga di dalam mobil, bersampingan dengan Suga. Kusempat menoleh ke belakang dan mendapati Seokjin Sunbae tersenyum padaku. Alamaaaaaakkk… aku mau pingsan. Ah, dia sangat tampan dengan baju kaos putihnya. Dia duduk di pinggir kiri, kemudian Jimin di sampingnya (tengah), lalu Hoseok yang berada di belakangku.

Uh, rasanya aku ingin tukar tempat saja dengan Jimin.

“Hei! Pasang safety belt-mu!” perintah Suga.

Aku mendengus. “Iya, iya.”

Aku baru mau memasang safety belt-ku ketika si psikopat gila ini langsung menancap gas mobilnya. Dia melajukan mobil dengan saaaaaaangat cepat. Aku heran, kenapa dia tidak ikut F1 saja? Siapa tahu dia bisa membawa nama Korea Selatan mengingat dia mengendarai mobil seperti orang gila! Entah bagaimana caranya dia mendapatkan SIM dengan cara menyetir yang amat ekstrim seperti ini.

Uuuh, motion sickness-ku sepertinya akan kambuh.

Aku melihat ke kaca spion tengah, mengecek keadaan orang-orang di belakang. Jimin tampaknya baik-baik saja, terlebih dengan Hoseok dan juga Seokjin Sunbae. Pasti mereka berdua sudah terbiasa. Bahkan, aku masih sempat-sempatnya melihat Seokjin Sunbae meneguk air mineral langsung dari botolnya.

Oh, my God. Di saat minum pun laki-laki ini terlihat sexy.

Ya ampun, jakunnya itu amat menggoda. Hohohoho.

“SRET!”

Si Mashimaro KW1 ini sepertinya menyadari kalau aku sedang memperhatikan Seokjin Sunbae melalui spion tengah. Makanya, dia menggeser posisi spionnya.

Sialan! Merusak kesenanganku saja.

Dan gara-gara Min Suga merusak kesenanganku, motion sickness-ku sepertinya sudah tidak bisa ditahan. Uh, semoga dia tahu cara membersihkan muntah di mobilnya ini.

“CKIIIIITTTTT!!!”

Akhirnya, mobil ini berhenti dan hal pertama yang aku lakukan adalah membuka pintu mobil, lalu…

“UWEEEEKKK… UWEEEEKK… UWEEEEEKKK!!!”

Uh, aku muntah. Naik mobil mahal ternyata tidak semenyenangkan yang aku kira. Mungkin karena yang menyetir adalah pembalap-F1-gagal.

“Yaik! Menjijikkan! Ish, Suga-ssi, pacarmu muntah!” komentar Hoseok Sunbae. Uh, kau yang lebih menjijikkan, dasar Siluman Kuda! Mulai sekarang, aku tidak akan memanggilmu dengan sebutan ‘Sunbae’ lagi. Week!

“Hajin-ah? Kau tidak apa-apa?”

Aish, Jimin pakai bertanya keadaanku segala. Apa dia tidak lihat aku sedang muntah?

“UWEEEKKK… UWEEEKKK….”

“Hei! Hei! Hati-hati! Muntahmu itu mengotori mobilku!” ujar Suga. Grrr… orang ini…. Kenapa dia malah lebih mengkhawatirkan mobilnya dari pada pacarnya?

Tangan kananku terjulur mengambil selembar tisu dari kotak tisu yang berada di dashboard mobilnya, lalu aku mengelap mulutku sebelum memarahi si psikopat ini.

“HEI! KAU PIKIR GARA-GARA SIAPA AKU SAMPAI MUNTAH-MUNTAH BEGINI? GARA-GARA KAU YANG MENYETIR UGAL-UGALAN!” bentakku.

“Dasar kampungan! Naik mobil saja sampai muntah segala!”

Grr… pacar macam apa orang ini? Dia ini tahu bagaimana cara memperlakukan gadis tidak, sih? Kalau kekuatanku sudah benar-benar pulih, akan aku cekik lehermu itu, Min Suga!

“Hei! Sebaiknya kau minum air dulu,” kata seseorang sambil menyodorkan sebotol air mineral dengan tutup yang sudah dibuka kepadaku. Aku mendongak untuk melihat siapa orang yang baik hati ini dan ternyata… hohoho… dia adalah pangeranku, Seokjin Sunbae.

Uh, ya, ampun… Seokjin Sunbae jijik tidak, ya? Aduh, aku muntah di depannya seperti ini pula. Harusnya kan aku menjaga image-ku. Pasti sekarang Seokjin Sunbae menganggap aku gadis yang jorok. Huhuhuhu.

“Bolehkah?” tanyaku sebelum botol itu pindah ke tanganku. Ia mengangguk. Nah, seharusnya seorang pacar itu ya seperti Seokjin Sunbae ini. Hohohoho, laki-laki ini memang sempurna. Tipeku sekaleeeeee. Uh, aku makin menyukainya~~~

Botol air itu pun berpindah ke tanganku dan aku langsung menyadari kalau botol air ini sama dengan botol air yang diminum Seokjin Sunbae tadi.

Ohohoho, bekas bibir Seokjin Sunbae pasti masih menempel di bibir botol.

Dan, ia memberikan botol ini padaku!?

Ehm, walaupun ciuman tidak langsung, tapi yang penting aku bisa merasakan bekas bibir Seokjin Sunbae. Ohohohoho… YES! Senangnya hari ini~ lalalala~

“Hei! Berikan botol itu padaku!” sergah Suga, lalu merebut botol itu dari tanganku. Dan lagi-lagi, seolah ia bisa membaca apa yang ada di pikiranku, ia meminum air langsung dari botolnya, membuat bekas bibir Seokjin Sunbae terhapus oleh bekas bibirnya.

DASAR MIN SUGA JELEK! BENCI! BENCI! BENCIIIIIIIIII!!!

“Ini, minum!”

Dia lalu menyerahkan botol itu padaku. Iewwwh~

“Tidak mau!” tolakku.

Dia melotot. “Kenapa?”

“Pokoknya aku tidak mau!”

“Kenapa? Kau tidak mau minum bekasku?” Tuh, kan? Apa si psikopat ini menguasai ilmu membaca pikiran?

Aku mendengus. “Ukh!”

Mau tak mau, aku pun mengambil botol air itu. Kutatap bibir botol beberapa saat sebelum bersentuhan dengan bibirku. Walaupun ciuman tidak langsung, tapi aku tidak rela bibirku bersentuhan dengan bekas bibir si toko-emas-berjalan ini.

Bagaimana kalau dia punya penyakit menular?

Bagaimana kalau ternyata dia menderita rabies? Dia kan kembaran Mashimaro dan Mashimaro itu anjing!

Huwaa… bagaimana ini?

“Hei! Kenapa cuma dilihat? Lekas minum!” perintahnya. Sambil memejamkan mata, aku meneguk air langsung dari botol. Dengan berat hati aku membiarkan bibirku bersentuhan dengan bekas bibir Suga.

Ieeeewwwh~

@@@@@

Setelah aku mulai merasa baikan, aku baru menyadari kalau saat ini aku berada di tepi pantai. Seokjin Sunbae, Hoseok dan Jimin telah lebih dulu berjalan ke bibir pantai, bermain-main air seperti 3 orang anak kecil. Ada juga beberapa orang yang sepertinya pengikut Bangtan Boys, wajah mereka tidak asing, sudah sering aku lihat di sekolah.

“Hei! Kau sudah baikan, belum?” tanya Suga yang duduk di jok supir, di sebelahku.

Ini pertama kalinya dia menunjukkan sisi gentle-nya padaku. Dia dengan baik hati menunggu sampai aku merasa baikan di mobil.

“Ya,” jawabku.

“Ayo, ke pantai!” ajaknya.

Aku pun keluar dari mobil golden brown-nya yang keren itu, lalu berjalan duluan ke pantai. Bibirku tidak bisa berhenti tersenyum ketika kulihat ciptaan Tuhan yang sangat indah di depan mataku. Huwaaa… indah sekali. Sungguh, ini pertama kalinya aku datang ke pantai seindah ini.

“Hei!” Kudengar Suga memanggilku. Aku menoleh ke belakang, mendapatinya berdiri berkacak pinggang sekitar 5 langkah di sana.

“Ya?” balaksu.

“Kau menyukai Seokjin, ya?” tanyanya.

DEG!

Bagaimana ini? Dia tahu kalau aku sukanya pada Seokjin Sunbae, bukan dia. Duh, apa nanti dia akan macam-macam pada Seokjin Sunbae, kalau aku bilang iya? Ini gawat! Gawat! Gawat!

“Ti-tidak,” jawabku bohong. Ya Tuhan, maafkan aku. Aku bohong karena ingin menyelamatkan nyawa makhluk ciptaanmu yang paling tampan se-Shinhwa High School.

“Bohong! Lalu, kenapa tadi kau terus memperhatikan Seokjin? Kau pasti menyukainya, kan?”

Ih, orang ini ngotot juga! Tapi, dia benar juga. Uuh.

“Tidak! Aku tidak menyukai Seokjin Sunbae. Aku tidak menyukai seorang pun di antara kalian bertiga, terutama kau, Min Suga!”

“Lalu, surat itu?”

Uh, dia mengingatkanku tentang surat itu lagi.

“Sudah kubilang, kan? Surat itu bukan untukmu!”

“Lalu, untuk siapa? Seokjin?”

Ya, sejujurnya, surat itu memang untuk Seokjin Sunbae.

“Bukan! Ish! Harus berapa kali aku bilang kalau aku tidak menyukai Seokjin Sunbae, aku tidak menyukai Hoseok dan terlebih lagi, aku tidak menyukaimu!” tegasku.

Ia lalu berjalan menghampiriku, kemudian berbisik tepat di telinga kiriku, “Oh, ya? Aku bisa membuatmu menyukaiku. Aku akan membuatmu bertekuk lutut padaku. Itu masalah kecil, Geum Hajin. ” Dan ia pun meninggalkanku menuju pantai.

O, ya? Geum Hajin menyukai Min Suga.

Hal itu akan jadi fakta kalau otakku sudah bergeser 1 cm dari tempatnya semula. Weeeek!

@@@@@

Saat ini, aku dan Suga duduk berdua di atas karpet yang dibentangkan di atas pasir, sekitar 4 meter dari bibir pantai. Kedua mataku melihat ke arah Jimin dan Hoseok yang sekarang sedang menaiki banana boat. Entah bagaimana ceritanya, Jimin dan Hoseok terlihat sangat akrab. Seperti sepasang sahabat lama yang baru bertemu. Bahkan, celana boxer yang dipakai Jimin sekarang ada celana boxer milik Hoseok—Hoseok membawa celana boxer lebih di tasnya. Bukan memberikan celana boxer yang dipakainya pada Jimin.

Haha… mesra sekali mereka. Sampai berbagi celana boxer segala.

Lalu, Seokjin Sunbae. Dia sedang belajar berselancar. Beberapa kali dia terjatuh dari papan surfing itu. Hehehe… lucu sekali ketika ia jatuh dan terbawa ombak. Untung dia pandai berenang.

“Hei! Kenapa kau tidak bergabung dengan mereka?” tanyaku pada Suga yang duduk santai di sebelahku. Seems like too cool for beach, hah!? Cuih!

Ia balas menoleh padaku. “Tidak. Aku hanya ingin berdua denganmu. Tidak boleh?”

Aku menyunggingkan sedikit senyum saat mendengar jawabannya. “Astaga, Suga-ya, sebenarnya kalimatmu barusan itu adalah salah satu kalimat so sweet yang pernah diucapkan seorang laki-laki pada gadis. Sayangnya, kau mengucapkan kalimat so sweet itu dengan nada ketus.”

“Berisik!”

Huh! Laki-laki ini. Diberitahu malah ngeyel!

Aku menghela napas. “Hei! Min Suga!” panggilku lagi saat kulihat Suga mengalihkan pandangannya ke arah pantai

Lagi, dia menoleh padaku. “Apa?”

“Aku mau tanya….”

“Mau tanya apa? Kalau tentang matematika, fisika,biologi, bahasa inggris, kimia, aku tidak mau jawab!”

Uh, siapa juga yang mau bertanya tentang pelajaran padamu? Memangnya aku sudah gila apa, menanyakan pelajaran-pelajaran susah pada orang bodoh?

“Tentang genk Bangtan Boys. Ng, kenapa nama genk-mu Bangtan Boys?”

“Kenapa kau mau tahu?” tanyanya menyelidik.

“Aku hanya ingin tahu. Itu saja. Kenapa? Salah?” balasku, lalu memanyunkan bibirku.

Suga menghela napas, lantas memperbaiki posisi duduknya. “Bangtan Boys. Kami, aku, Hoseok dan Seokjin memilih nama itu karena kami ingin menjadi laki-laki yang kuat seperti tameng anti peluru. Kalau diibaratkan, peluru itu adalah sesuatu yang mengancam kami, sesuatu yang bisa menjatuhkan kami. Karena itu kami ingin kuat seperti tameng anti peluru, kuat dan bisa melindungi diri sendiri dari semua ancaman atau sesuatu yang bisa menjatuhkan kami,” jelasnya.

Oh, jadi itu alasan kenapa nama genk mereka adalah Bangtan Boys? Hmm… nama yang unik dengan arti yang dalam. Tidak kusangka Suga dan teman-temannya memilih nama Bangtan Boys dengan alasan yang agak filosofis. Padahal kalau dilihat dari luar, Suga ini kelihatan punya otak yang dangkal… hehehe.

Tapi kalau didengar-dengar, kata ‘bangtan’ itu malah mirip dengan hewan bekantan. Dibanding Bangtan Boys, sepertinya Bekantas Boys lebih cocok untuk mereka. Pffft! Kurasa itu lebih baik. Hahahahah.

“Hei! Kenapa kau senyam-senyum? Apa yang lucu?” tegur Suga, sepertinya merasa tersinggung karena aku tiba-tiba senyum-senyum sendiri setelah mendengar penjelasannya.

Aku menggeleng cepat. Duh, Suga tahu tidak ya kalau tadi aku mengejek nama genk-nya? Huft, semoga dia tidak sedang menggunakan kemampuannya membaca pikiran. Ya, itu kalau dia benar-benar bisa. Tapi, aku harap yang sebelum-sebelumnya itu hanyalah sebuah kebetulan.

Kembali aku melihat ke arah pantai. Tepat di saat itu, Seokjin Sunbae kembali ke tepi, berniat untuk bergabung bersama kami—aku dan Suga. Bajunya basah kuyup. Semakin dekat jarak dia dengan kami, semakin mataku tidak bisa lepas darinya.

Hohoho… tentu saja, mana mungkin aku melewatkan pemandangan indah yang berjalan ke arahku?

Seokjin Sunbae terlihat saaangat sexy dengan rambut basahnya. Apalagi baju putihnya yang basah itu menjadi transparan, membuat aku bisa melihat tubuh Seokjin Sunbae walaupun samar. Dadanya bidang dan perutnya rata. Sepertinya six-pack, tapi belum terbentuk amat.

Hohoho… ya, ampun. Ini hal langka! Aku benar-benar beruntung. Gyaa… gyaa… gyaa…. Aaaa~~ aku lebih maju selangkah dibanding Sulli dan teman-teman sekelasku… muahahahahaha.

Jarak Seokjin Sunbae semakin dekat dan aku bisa semakin jelas melihat bentuk badannya itu. Aku mulai kesulitan mengatur nafasku. Uh, rasanya aku ingin memeluk laki-laki itu sekarang. Tapi, segera kuurungkan niat ‘mulia’ itu ketika kurasakan hawa-hawa mencekam dari arah Suga. Aku tidak berani menoleh, hanya berani melirik dan… seperti yang kuduga, dia menatapku tajam seolah ingin menerkamku.

GLEK!

“A-Aku mau beli minuman dulu,” kataku, berniat kabur sebelum Suga benar-benar menerkamku. Tatapannya tadi itu benar-benar menyeramkan. Hiyyy!

Aku berjalan ke arah sebuah booth penjual minuman. Tiba di tempat itu, aku segera memilih beberapa macam minuman. Yah, sekalian saja aku belikan untuk Jimin, Suga, Seokjin Sunbae dan Hoseok.

Ajum— HEI!” Aku baru mau menanyakan kepada ajumma, berapa harga dari 5 botol minuman yang aku beli, tapi tiba-tiba ada seseorang yang merebut minuman-minuman itu dariku, 3 orang laki-laki. Laki-laki nakal lebih tepatnya. Mungkin preman pantai.

“Terima kasih telah membelikan minuman ini untuk kami, Cantik,” kata salah satu dari mereka.

“Hei! Kembalikan! Itu milikku, Kepala Botak!” Aku berusaha merebut kembali minuman-minuman itu.

“Wah… wah… wah… kamu galak sekali, ya!” Salah satu dari mereka mulai mencolekku.

“Ish! Apa yang kalian lakukan? Jangan sentuh aku!”

“Hehehe… ayo ikut kami bersenang-senang!” Mereka mulai menarik-narik aku.

“Tidak mau!”

“Ayo, ikuuuut!”

“Aku tidak mau!”

Mereka terus memaksaku, menarik-narikku. Bahkan pengunjung dan pemilik booth sepertinya tidak berani menolongku.

“SUGAAA-YAAA!!!”

Aku benar-benar tidak tahu harus minta tolong pada siapa. Makanya, aku meneriakkan nama laki-laki psikopat itu sekeras-kerasnya, berharap dia bisa mendengar teriakanku.

“MIN SUGAAAA!!!”

“BUKH!”

Tiba-tiba ada seseorang yang memukul laki-laki yang sedari tadi menarik tanganku. Laki-laki itu pun jatuh di atas pasir. Aku melihat ke arah ‘penyelamatku’.

Bukan, dia bukan Suga.

“Hei! Kau siapa? Jangan ikut campur!” kata si preman botak.

Laki-laki yang tadi menolongku pun tidak menggubris perkataan si preman. Dia langsung melayangkan pukulan-pukulan kepada mereka bertiga. Dari caranya berkelahi, aku rasa dia sudah sering melakukannya. Gerakannya begitu cepat dan tepat sasaran.

Coooool~

“ENYAH!” bentaknya pada ketiga preman tersebut. Sukses membuat ketiganya lari terbirit-birit. Setelah 3 pengganggu itu pergi, aku pun menghampirinya.

“Te-terima kasih,” kataku sopan.

Ia melihat ke arahku, lalu tersenyum. Uhh, tampan sekali~~~

“Sama-sama.”

“Aku… Aku Geum Hajin. Kau?” kataku memperkenalkan diri sambil mengulurkan tangan padanya. Dijabat, pleaseeeee~~~

“Himchan. Min Himchan,” jawabnya sambil menjabat tanganku. Ohohohoho~~~ gyaaaa… telapak tangannya lembut sekali. Uh, senyumnya manis dan wajahnya tampan. Hahaha, ini benar-benar hari keberuntunganku.

“HEI!” seseorang berteriak. Uh, dari suaranya, aku tahu pasti Min Suga. Dasar pahlawan kesiangan. Dia baru datang di saat ini.

Aku menoleh ke arahnya dan kudapati ia berjalan tergesa-gesa menghampiri kami—aku dan Himchan. O-ow. Dia pasti berpikir kalau Himchan mau merebutku darinya. Ya, aku bisa melihat kilatan emosi di kedua mata sipitnya itu.

“BUKH!”

Mataku melotot.

Dia langsung memukul Himchan sampai laki-laki tampan itu jatuh di atas pasir lengkap dengan luka di sudut bibirnya. Suga menghampiri laki-laki itu, duduk di atas perutnya dan memukuli wajah laki-laki itu lagi.

“MIN SUGA! HENTIKAN!” teriakku berusaha melerai.

“BUKH!”

“HEI!! SUGA-YA, HENTIKAN, DASAR BODOH!!!”

Aku berusaha menarik tubuh Suga sekuat tenaga dan aku berhasil. Begitu ia berdiri di hadapanku, tangan kananku pun refleks melakukan sesuatu.

“PLAAAKK!”

-TaehyungBelumCebok (^/\^)-

Anditia Nurul ©2014

-Do not claim this as yours-

-Do not re-blog / re-post without permission-

A/N2:

Annyeong~

Apa kabar kalian semua?

Gimana libur lebarannya?

Lebaran kemarin dapat THR berapa? Hehehe. Gegara aku udah selesai kuliah, dapat THR-nya cuma dikit T.T *kenapa curhat di sini?*

Terakhir, meski ini udah telat seminggu, saya mau minal aidin wal faidzin-an sama adik-adik(?)*ngerasa paling tua* semua. Maaf atas semua kesalahan saya ya yang suka telat balas komen (malah dari chapter 1 kayaknya belum ada komen yang saya balas T/\T), suka telat ngirim FF ke admin sampai jadinya FF ini telat di-post dan kesalahan-kesalahn lain yang tidak bisa saya sebutkan satu-satu. Dimaafin, ya~

Oke. Buat yang udah nunggu chapter 2 (ada yang nungguin gak sih?), ini buat kalian~ Hope you like it. Leave your comment, please. I’m waiting ^^

About fanfictionside

just me

12 thoughts on “FF/ HERO AND HEROINE/ BTS-BANGTAN/ pt. 2

  1. aku ngakak bacanya…tp pacarku dikatain mashimaro, pendek, psikopat, toko emas berjalan :< tp yoongi oppa ttp keren kok kekeke~~
    suga nya cemburu? apa dia mulai suka sama hajin? trs itu himchan siapa?
    next ya ^^ ppalli ppalli ppalli~~~~~

  2. Pertama, jujur aku emang suka ngulitin orang apalagi itu Kim Seok Jin. Tapi sayangnya di FF ini yang ingin ku kulitin adalah Min Suga🙂

    Kedua, sejak kapan aku doyan sama Kim Seok Jin? Aku malah jadi risih sendiri nih bacanya. Dan, Seok Jin itu enggak ada seksi2nya sama sekali, oke? Masih seksi Mark, Eonni -_-

    Ketiga, ini FFnya bikin aku ngakak mulu. Aku merasa banyak persamaan aku dan Hajin *yaiyalah kan orangnya sama *plakk😀

    Keempat, ada Mami Hime juga disini. Kirain gak jadi pake emak kandungnya Jin. Dan, Suga udah kurang ajar sama istri pertamanya T.O.P. Mampus tuh kalo tau orangnya.🙂

    Kelima, besok banyakin adegan Hajin ngeledek Suga ya? Rasanya bangga banget aku ngejek si mami tanpa dapat amarahnya. Tapi kalo bisa ngeledek si Jin aja. Aku malah lebih puas kalo itu😀

    Yang terakhir, di tunggu kelanjutannya. Kalo bisa, si Mark di masukin ke sini ya? Jadi, apanya Hajin gitu, Eonni *ngarep banget

    Oke, sekian saja. Bye~

    With Love,

    Siwan Wifey

  3. Ahak kok Baby nae gak ikut sih VKook V – Jungkook, cma ad Jimin hueee~
    Tpi gak pa” lah….

    Thorr entar d’part selanjutnya Taehyung ama Jungkook msuk ya….., terserah deh dpet peran ap yg penting Cool

    Tpi d’sni nae gak terlalu ska ama karakter Jimin soalny terlalu “Lemah” dan “penakut” #mianhaeOppa

    D’sni Yoongi kna pemarah banget yah…weeh #takuttt
    Daah, nae Daah Cuap – Cuap ny……..

    Oh iya stu lagi, entar tmbahin crta NC ny ya ?/ oke yg HOT #Plupp

    Next ~ Next Thorr. Inget ya Thorr V-Kook gabung entar ok ok Bye Bye

  4. Adohhhh entah mengapa aku suka bgt sama karakter Hajin… koplak bikin ngakak.wakakakaka…

    Chap 3 nya blm keluar yaa thor?? cpt2 yaa thor >_<

  5. waduh Hajin kelepasan apa udh niat tuh, kya’a nampar Suga ? Aduhh…..
    Suga juga sii main pukul aj,
    tadi di minta bantuan ga dateng
    dasar PAHLAWAN KESIANGAN😄
    wkwkwk

  6. oke… walaupun jalan ceritanya sama …gpp tetep aku baca..
    karena aku fansnya suga hahahaha…..
    keep writing, eon penasaran apakah nanti ada perbedaan atau engga

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s