FF/ YOU ARE MY ADDICT/ EXO/ pt. 3


Author                              :     Deamin17

 

Cast                                  :     ~ KRIS (Wu YI Fan)

                                                                                     ~ Han Saerin (OC)

                                                                                     ~ D.O (Do Kyung Soo)

 

                                                                                     ~ Kai (Kim Jong In)

                                                                                     ~ Kim Lunna (OC)

                                                                                     ~ Tao (Huang Zhi Tao)

                                                                                     ~ Lee Minhyuk BTOB

                                           ~ Chanyeol (dan akan bertambah sesuai jalannya cerita)

Rate                                   :     +17

Genre                                 :     Fantasy, Romance, Drama

Summary                           :   “Aku memang tidak tahu sampai kapan tarikan napasku akan tetap bersamamu. Aku juga memang tidak tahu sampai kapan detakan jantungku akan tetap berada disisimu.”

 

                                           “ Tapi meskipun begitu, setidaknya aku tahu sampai kapan hatiku akan mencintaimu. Yaitu sampai akhir zaman, dimana akhir dari segala kehidupan”

 

**** HAPPY READING ****

AUTHOR POV

 

“UWEEK”

Lagi-lagi gadis itu memuntahkan darah yang diminumnya. Ini sudah ketiga harinya Saerin mendapatan darah manusia yang diantarkan oleh Chanyeol.

 

Gadis cantik itu mengerutkan dahinya. Kebingungan sukses mengambil alih keseluruhan pikirannya sekarang.

 

Yaah bagaimana tidak?

Ini adalah kejadian teraneh dalam seumur hidupnya. Bahkan lebih membingungkan lagi dari alasan mengapa dia bisa terkurung di kamar ini, di kediaman laki-laki gila yang sok bersikap manis di depannya.

 

“Bau ini-“ ucapan Saerin berhenti ketika melihat Kris yang masuk dari balik pintu. Gadis itu menahan napasnya ketika aroma tubuh Kris bersatu dengan udara dan menyebar ke seluruh ruangan kamarnya.

 

Tepat seperti sebelumnya, tubuhnya kembali bergetar setiap kali dia menghirup aroma Kris. Rasa darah laki-laki itu kembali membuncah lidahnya. Bahkan setiap sel didala tubuhnya kini berteriak memanggil-manggil nama Kris.

Namun dengan segenap kemampuannya, gadis itu tetap menutup mulutnya rapat. Meski hatinya mulai memujuknya untuk mencicipi darah manis laki-laki itu lagi.

 

“Apa yang terjadi?!” tanya Kris panik yang melihat darah yang kini menodai gaun Saerin.

 

Kris meronggoh sapu tangannya dari saku celananya. Tapi ketika dia mendekatkan tangannya untuk menyeka bibir Saerin yang berlepotan dengan cairan pekat berwarna merah itu, Saerin langsung menepisnya.

 

“JANGAN SENTUH AKU!!” teriak gadis itu frustasi. Air mata mulai bercucuran dimatanya. “Aku benar-benar muak dengan semua ini! Apa yang kau lakukan hingga membuatku selalu haus akan darahmu, HUH?!”

 

Saerin menyeka air matanya dengan kasar. Harga dirinya tidak mengizinkannya untuk terlihat menyedihkan di depan orang lain, terlebih lagi jika orang itu adalah musuh bebuyutan kaumnya.

“ Katakan padaku, Werewolf!!” teriaknya. “Sihir apa yang telah kau lakukan? Mantra apa yang telah kau bacakan padaku sampai membuatku kecanduan terhadapmu?! KATAKAN PADAKU , WERE-MMPPH”

Kris melumat bibir Saerin dengan ketenangan yang luar biasa. Meski Saerin terus berusaha mendorong tubuhnya agar menjauh dari tubuh gadis itu. Tapi itu percuma, tenaga Kris terlalu jauh diatasnya dan Saerin menyadari hal ini. Saerin bahkan merasa bahwa Kris bahkan lebih kuat dari werewolf pada umumnya.

 

Ciuman itu bukan ciuman panas yang menuntut, melainkan ciuman lembut yang menenangkan. Semakin lama Saerin semakin bisa merasakan ada taman kupu-kupu didalam perutnya.

 

Tanpa dia sadari, kedua tangannya kini tidak lagi berada di dada Kris, melainkan sudah melingkar di leher laki-laki tampan itu. Tapi sedetik kemudian, tiba-tiba saja- “MMPHH”

 

Saerin membulatkan kedua matanya ketika merasakan aliran eritrosit Kris yang manis mengalir dimulutnya, membasahi lidahnya dan bersatu dengan salivanya menuju kerongkongannya yang kering.

 

Laki-laki itu ternyata menggigit bibirnya sendiri dengan taringnya, lalu membiarkan darah yang mengalir karena lukanya tadi memasuki rongga mulut gadis itu.

 

Kris tahu bahwa jika dia begitu saja memberikan darahnya, harga diri gadis itu pasti akan menolaknya. Tapi dia tahu, dengan cara ini dia akan berhasil memberi makan gadis itu. Karena tidak ada vampir yang menolak darah setelah mereka mencicipinya.

 

“MMPPHH”

 

Saerin semakin memperdalam ciuman mereka. Bahkan semakin menekan tubuh Kris dengan tubuhnya. Membiarkan dirinya dikendalikan oleh insting vampirnya dan melupakan siapa Kris sebenarnya. Bibir Saerin semakin kasar mengisap bibir bawah Kris yang terluka.

 

“Ini tidak akan cukup” bisik gadis itu tepat di telinga Kris. “Aku menginginkan yang lebih banyak.”

 

Seolah lupa dengan sikapnya yang jual mahal selama ini, Saerin tiba-tiba saja sudah menancapkan taringnya di leher Kris, dan menghisap rakus setiap tetes darah yang telah menjadi candunya sekarang.

 

BRRUUK

 

Entah bagaimana tubuh Kris sudah terbaring di atas tempat tidur itu. Tubuh Saerin menindihnya, tapi gadis itu terlihat tidak perduli dengan keadaannya sekarang, dia benar-benar tenggelam dengan kegiatan yang sedang dia lakukan.

 

 

Dalam minimnya cahaya di ruangan itu, samar-samar terlihat sebuah senyuman di sudut bibir Kris.

‘Akhirnya aku mendapatkanmu’

 

 

 

********

 

 

Hari ini seluruh pelayan terlihat sibuk hilir mudik kesana dan kemari mempersiapkan segala hal untuk pesta. Nanti malam akan ada pesta tahunan yang di adakan oleh kerajaan vampir.

 

Segala jenis golongan darah ( O,A,B hingga AB) tersedia di setiap gelas mewah yang terbuat dari Kristal mahal. Bahkan ada beberapa manusia yang akan sengaja di undang (untuk menjadi makanan segar) di pesta itu.

 

Di saat kesibukan sedang menekan, Minhyuk malah duduk di tepi ranjang kamarnya. Dia hanya asyik mengamati sebingkai foto sambil meminum segelas darah di gelas wine-nya.

 

Matanya fokus menatap wajah seorang gadis yang terpajang di sana. Sebuah senyuman yang justru terlihat sendu terukir jelas di wajah tampannya.

 

Sekelebat ingatan tentang gadis itu kembali terputar di kepalanya.

Seharusnya gadis itu ada di sini bersamanya.

Seharusnya gadis itu ada di sini di pelukannya.

Yaah… seharusnya begitulah yang terjadi jika seandainya Minhyuk tidak melakukan hal bodoh tiga tahun yang lalu.

Dia terlalu marah saat itu. Terlalu kecewa. Hatinya terlalu terluka untuk berpikir dingin. Sehingga membuatnya lepas kendali dan mengamuk di saat itu juga. Di depan gadis yang dicintainya.

 

Dia lupa siapa dirinya saat itu. Dia bahkan lupa dengan segala kesabaran yang telah di pelajarinya selama ini. Dia hanya menuruti emosi dan nafsunya. Dan hal itulah yang masih membuatnya menyesal sampai detik ini.

 

‘Kau tidak bisa Move On ‘ itulah yang kawan-kawannya katakan. Tapi Minhyuk tahu bahwa sikapnya yang terluka ini bukan karena dia tidak bisa bangun dari bayangan kejadian buruk waktu itu.

 

Melainkan karena dia memang tidak ingin melupakannya. Dia memang sengaja ingin menghukum dirinya sendiri dengan sakitnya rasa sebuah penyesalan.

 

Dan tentang gadis yang di foto itu. Sampai detik ini pun Minyuk masih tidak bisa dan tidak mau menghapus segenap kenangan akan sosok gadis yang ada di foto itu dari pikiran dan perasaannya. Dari otak maupun hatinya.

‘Walaupun kita berpisah sekarang, aku yakin aku akan bisa memilikimu kembali. Karena aku percaya, kita tidak hanya diikat oleh cinta, tapi juga oleh sang takdir.’

 

TOK..TOK..TOKK…

Tiba-tiba suara ketukan pintu terdengar di telinganya. Memaksanya untuk kembali ke bumi yang sedang tidak ingin ia pijaki.

 

“Maafkan saya karena telah menganggu anda, Tuan. Tapi Yang Mulia Raja sedang mencari anda” jelas pelayan pribadinya dengan sopan.

 

Minhyuk menganggukkan kepalanya sekilas. Wajahnya terlihat engan untuk mengalihkan pandangannya dari wajah gadis yang ada di foto itu sekarang.

 

Tapi meskipun begitu dia tetap memaksakan dirinya.

 

Yaah~ Tidak mungkin dia dapat melewatkan panggilan dari seorang Raja, kan?

 

*******

 

Siang itu matahari terlihat malu-malu di balik awan tebal yang menutupinya. Lunna tengah asyik membaca novel sambil membaringkan tubuhnya di ayunan besi yang terpasang di bawah salah satu pohon besar di halaman samping rumah Kris.

 

Di saat dia mulai tenggelam di dalam cerita novel yang dia baca, tiba-tiba saja dia merasa seseorang tengah memperhatikannya. Lunna mengalihkan pandangannya dari novel itu dan menoleh ke arah laki-laki yang tengah tersenyum samar.

 

“Apa yang sedang kau lakukan disini?” Tanya Tao. Bahkan sebelum Lunna sempat bertanya hal yang sama padanya.

 

Lunna diam. Mata itu hanya menatap Tao dengan tatapan bosan yang tidak berniat untuk menjawab sama sekali. Dengan ekspresi datarnya gadis itu malah kembali menatap novel yang menurutnya 100x lebih menarik untuk di pandangi dari pada laki-laki yang ada di depannya sekarang.

 

Tanpa meminta izin Lunna, Tao sudah terlebih dulu mendudukkan dirinya di kursi ayunan yang merupakan pasangan dari kursi yang tengah Lunna baringkan.

 

Lunna menoleh ke arah Tao yang masih menatapnya dengan tatapan menunggu.

 

“Kau kan bisa melihat sendiri apa yang tengah aku lakukan, Tao. Itulah gunanya Tuhan memberikan kita sepasang mata.” Jawab Lunna akhirnya.

 

Tao menundukkan wajahnya sekilas lalu tersenyum tidak nyaman. Gadis ini memang selalu ketus setiap kali dia berusaha untuk bicara baik-baik padanya. Tapi tidak tahu kenapa dia tidak pernah bisa tersinggung jika sudah menyangkut gadis yang satu ini.

 

“Kau membaca buku apa sih?” Tao mencodongkan tubuhnya ke depan untuk melihat cover buku yang Lunna pegang. “Apa ceritanya begitu menarik?” Tanyanya lagi. Berusaha membuat bahan omongan untuk mereka berdua.

 

“Ya begitulah.” Jawab Lunna seadanya. “Kalau tidak menarik, aku pasti tidak akan membacanya, kan? ”

 

Lunna bangun dari posisinya dan mendudukkan dirinya di kursi ayunan. Membuatnya duduk berhadapan dengan Tao. Dia memutuskan untuk menghentikan kegiatannya sekarang.

 

 

Ketika Lunna menutup bukunya dan meletakkan buku itu di sampingnya. Ketika itu jugalah Tao dapat dengan jelas melihat tanda-tanda kemerahan di sekitar leher gadis itu.

 

Tanpa menanyakannya pada Lunna pun Tao sudah tahu betul tanda bekas apa itu. Tiba-tiba saja bayangan kemungkinan apa yang di lakukan Lunna dan Kai tadi malam membuat darahnya mengalir hingga ke ubun-ubun.

 

Jantungnya berpacu dengan cepat. Dia pasti sudah meninju tiang ayunan yang di naikinya sekarang jika saja Lunna tidak ada di sana.

 

‘Ada apa dengan ekspresinya?’ batin Lunna di dalam hati. ‘Kenapa wajahnya seperti melihat hantu begitu? Tidak mungkin kan ada hantu di siang bolong begini. Lagi pula… masa iya werewolf takut dengan hantu?’

 

Tao tersentak ketika merasakan punggung tangan Lunna menyentuh dahinya. Dia tidak pernah membayangkan kalau permukaan kulit Lunna akan terasa selembut ini.

 

Perasaan aneh melingkupi hatinya sekarang. Seolah ada ribuan kupu-kupu yang berada di perutnya sekarang.

“Hmm.. Sepertinya kau tidak sakit” kata Lunna bingung. Tapi terdengar begitu lembut dan perhatian di telinga Tao. Dalam waktu singkat, suara gadis itu sudah dapat menyerap semua amarah yang tadinya menyebar di hatinya.

 

Ketika Lunna bermaksud menarik tangannya dari dahi Tao, tiba-tiba saja laki-laki itu menahannya.

 

“A-ada apa, Tao?”

 

Mata tajam itu hanya menatap Lunna dengan pandangan yang sulit diartikan. Ada garis kekecewaan yang tergambar jelas di raut wajahnya yang tampan. Tapi disinilah masalahnya, Lunna tidak bisa menebak alasan tergambarnya kekecewaan disana.

 

Tao menangkupkan sebelah tangannya di pipi kanan gadis itu. Lunna tampak terkejut dengan hal ini, tapi dia tidak menepisnya, atau lebih tepatnya tidak berani menepisnya. Ekspresi Tao begitu berbeda dari biasanya. Lunna benar-benar tidak bisa mengenali Tao yang ada di hadapannya saat ini.

 

 

 

Tapi sedetik kemudian, Tao tampak tersadar dengan apa yang telah dia lakukan, dengan kecepatan kilat dia melepas tangannya dari tangan Lunna, dan melepas tangkupannya dari pipi gadis itu.

 

Tanpa mengucapkan sepatah kata apa pun, laki-laki berahang tajam itu segera menarik diri dari hadapan Lunna dan pergi begitu saja bahkan sebelum Lunna dapat menyadari apa yang sebenarnya terjadi di sana.

 

Lunna hanya bisa menyentuh pipi kanannya dan terpaku menatap punggung Tao yang semakin lama semakin menjauh dari pandangannya, lalu menghilang di balik pintu beranda samping rumah Kris.

 

Wajah cantiknya bahkan tidak bisa menyembunyikan ekpresi kebingungan yang melanda pikirannya saat ini.

 

‘Ada apa dengan anak itu?’

 

 

 

*******

 

Sementara itu, di salah satu ruangan yang terletak di sudut Kastil. Beberapa pelayan terlihat sibuk dengan membawa jas, sepatu , kemeja dan sebagainya yang menjadi keperluan Sang Pangeran untuk menghadiri pesta resmi kerajaan hari ini.

 

D.O tampak serius menatap penampilannya di depan cermin besar yang setinggi ukuran tubuhnya. Cermin itu terlihat mewah dengan balutan emas dan ukiran-ukiran rumit yang menghiasi tepi-tepinya.

 

Tapi tiba-tiba saja seorang laki-laki berwajah lembut berjalan masuk ke ruangan itu dan sedikit menundukkan kepalanya memberi hormat. “Hai Pangeran, lama tidak berjumpa denganmu”

 

D.O tampak terkejut dengan keberadaan laki-laki itu. Mata besarnya semakin terlihat membesar saat melihat senyuman yang tidak asing sama sekali untuknya. Senyuman yang selalu dilihatnya sejak kecil hingga sekarang. Laki-laki yang datang itu adalah sahabat kecilnya. Sahabat yang tumbuh besar bersamanya.

 

“ Chen ?”

D.O menghentikan kegiatannya lalu berjalan menyambut kedatangan laki-laki berwajah lembut yang ternyata bernama Chen itu. Dengan senyuman bahagia yang tidak dapat disembunyikan oleh wajah datarnya, D.O bertanya pada Chen “ Kapan kau tiba disini?”

 

“Kemarin malam” jawab Chen santai. “Tapi aku mengunjungi seseorang dulu sebelum kemari”

 

D.O tertawa ketika melihat senyuman Chen yang penuh arti. Saat laki-laki itu mengatakan ‘seseorang’ , maka yang dia maksud tentu saja tidak lain dan tidak bukan adalah tunangannya.

 

Tapi tidak lama kemudian, senyuman di wajah Chen berubah menjadi senyuman yang sedikit tidak nyaman. Terselip garis keprihatinan di balik lengkungan bibirnya yang indah “ Kau baik-baik saja?” tanyanya.

 

“Tentu temanku, seperti yang kau lihat, aku baik-baik saja”

 

“Kau tahu bukan itu yang ku maksud” ujar Chen sambil berjalan dan mendudukan dirinya di salah satu sofa panjang yang tersender di samping jendela kamar D.O.

 

D.O membuang wajahnya, tampak kekesalan dan ribuan ekpresi lainnya yang tergambar disana. Tapi lagi-lagi dia berhasil menyembunyikan perasaan itu dan kembali memakai ekspresi datarnya.

 

“Aku baik-baik saja” jawab D.O tenang. “ Aku akan mendapatkannya kembali, Chen. Tidak perduli apa pun yang mereka katakan tentangnya, aku akan membawanya pulang!”

 

Keseriusan terdengar kentara di setiap patah ucapan laki-laki itu. Jelas sekali dia sangat bulat dengan tekadnya kali ini. Sebagai teman, Chen hanya bisa mendukungnya. Lagipula, apa lagi yang bisa kau harapkan dari seseorang yang keras kepala akan cinta?

 

“Maafkan saya karena telah menganggu anda Yang Mulia”

 

Chen dan D.O langsung menoleh ke arah laki-laki berpakaian pelayan yang entah sejak kapan sudah berdiri disana.

 

“Beberapa menit yang lalu, saya melihat Tuan Minhyuk berjalan menuju ruangan Yang Mulia Raja, sepertinya ayah anda memanggilnya ke sana” jelas pelayan itu tenang tanpa menghilangkan senyuman ramah yang selalu terlukis di wajahnya.

 

“Kau Bilang Apa? Ayahku memanggil Minhyuk? ” meski wajahnya tetap terlihat datar. Tapi mata besar D.O terlihat semakin membesar menyerupai mata burung hantu ketika dia mendengar kabar yang mencurigakan dari pelayan pribadinya. “Apa yang ayahku inginkan darinya?”

 

“Saya tidak terlalu yakin, Pangeran. Tapi sepertinya ini tentang pencarian Nona Saerin yang tuan rencanakan dengan Tuan Minhyuk.”

 

“Baiklah jika begitu. Biar aku sendiri yang memastikan hal ini.” D.O menolehkan wajahnya pada Chen lalu memasang ekspresi tidak nyamannya.

 

Melihat hal itu, Chen sontak tertawa dengan penuh pengertian. “Aku mengerti, aku mengerti.” Ujar Chen sambil bangun dari duduknya

Dan dengan kecepatan yang tidak bisa di tangkap oleh mata manusia, dia sudah berdiri di samping pintu kamar D.O

 

“ Kau tidak perlu berwajah seperti itu, temanku. Sampai jumpa di pesta malam ini, ya?” kata Chen sebelum menghilang dari sana.

 

D.O tersenyum penuh terima kasih ketika melihat pemakluman Chen dan segera bergegas keluar dari ruangannya. Menghiraukan beberapa orang yang menundukkan kepala hormat kepadanya.

 

Terlalu banyak pertanyaan yang berputar-putar di kepalanya sekarang . Rasanya sangat aneh jika ayahnya yang super sibuk itu dengan segala urusan klan-nya akan memanggil Minhyuk.

 

Tapi jika ini memang untuk menanyakan tentang Saerin. Maka ini tentu bukanlah hal yang baik.

 

D.O sangat yakin bahwa ayahnya tidak mungkin memanggil Minhyuk dengan maksud membantunya. Apa lagi setelah pembicaraan mereka tadi malam.

‘Apa yang ayah inginkan sebenarnya?’ tanya D.O di dalam hati. Perasaannya kalut, berbanding terbalik dengan wajah datar yang sedang dipasangnya sekarang.

 

FLASHBACK

“Ayah telah mendiskusikan hal ini dengan para dewan mentri.” Ujar laki-laki paruh baya yang kini sedang duduk di balik meja kerjanya yang terbuat dari kayu cendana. “Untuk menjaga hubungan baik keluarga kerajaan dan keluarga Lee yang merupakan salah satu keluarga bangsawan tertua, yang juga memiliki pengaruh besar untuk kaum kita, kami memutuskan untuk menikahkanmu dengan putri tunggal mereka, yaitu Lee Chaesa.”

 

“Apa ayah bercanda? Bagaimana mungkin seseorang yang telah bertunangan akan bertunangan lagi dengan gadis lain?”

 

Laki-laki paruh baya itu mendengus kesal ketika mendengar ucapan anak semata wayangnya itu. “Tunangan mana yang kau maksud Do Kyungsoo?”

 

D.O tercekat ketika mendengar nada sindiran di setiap patah kata pertanyaan ayahnya.

“Apa pun yang ayah katakan, aku tidak akan menikah dengan Lee Chaesa atau dengan siapapun yang kalian inginkan.

 

“Aku akan menikah dengan gadis pilihanku sendiri.” Tegasnya dengan mata berapi-api. “Lagi pula, jika ayah memang menginginkan hubungan baik dengan keluarga Lee, kenapa tidak ayah saja yang menikahi Lee Chaesa?”

 

Ucapan D.O sontak membuat emosi ayahnya naik hingga ke ubun-ubun. Dia benar-benar marah sekarang. “Semakin lama kubiarkan, sepertinya kau malah semakin diluar batas! ”

 

D.O tidak sama sekali memperdulikan suara ayahnya yang meninggi. Dan dengan santainya dia malah berjalan keluar dari ruangan ayahnya.

FLASHBACK END

 

Dan sinilah dia sekarang. Di depan pintu ruangan yang biasanya sangat ingin dia hindari. Baru kali ini dari seluruh hidupnya, dia benar-benar ingin memasuki ruangan yang kini berada di depannya. Ruangan dimana tempat ayahnya berada.

 

“Pangeran” seorang laki-laki paruh baya berpakaian pelayan yang selalu bersama ayahnya semenjak D.O lahir di dunia ini menundukkan kepalanya di depan D.O dengan penuh hormat dan pengabdian.

Laki-laki tua itu adalah satu-satunya pelayan yang D.O beri respect hingga saat ini.

 

“Aku ingin menemui ayahku, Pak Han” jelas D.O pada laki-laki itu. Meskipun dia tak perlu mengatakkan lagi. Karena alasan apa lagi yang membuatnya berada disini jika bukan karena untuk menemui ayahnya?

 

“Saya mengerti, Pangeran. Tapi Yang Mulia sedang ada –“

 

“Sebenarnya, Pak Han, karena hal itulah aku kemari” potong D.O cepat. “Aku tahu bahwa tamuku, Minhyuk, sedang di panggil ayah untuk menjadi tamunya sekarang”

 

Tanpa bertanya lagi, pelayan yang di panggil D.O dengan Pak Han itu pun langsung membukakan pintu ruangan itu. D.O mengucapkan terima kasih sebelum memasuki ruangan yang luas dan megah tempat ayahnya berada.

 

“Jadi aku pinta padamu, Minhyuk. Sebagai seorang ayah yang putranya sedang tidak berpikir jernih, aku berharap kau mau menjernihkan otaknya“

 

“Kau tahu benar bahwa aku tidak sedang tidak berpikir jernih ayah” lancang D.O berani.

 

Ayahnya jelas tidak bisa memperlihatkan wajah terkejutnya ketika melihat anak semata wayangnya menunjukkan batang hidungnya di sana.

 

“Apa yang kau inginkan, D.O ?”

 

D.O menatap ayahnya dengan pandangan yang sulit diartikan. Dia menundukkan kepala. Memberikan hormat pada sang ayah sebelum berbicara pada beliau dengan keberanian yang sejak tadi telah di tabungnya.

 

“Aku disini karena ingin bertanya padamu, Ayah.”

 

D.O melirik Minhyuk yang tengah duduk di depan ayahnya. Laki-laki itu begitu terlihat tenang, hingga D.O tidak dapat membaca apa yang sebenarnya laki-laki itu pikirkan tentang permintaan ayahnya.

 

Kemudian D.O kembali menatap Sang Raja. Sekelebat ingatannya tentang pembicaraan mereka tadi malam benar-benar kembali membuatnya kesal.

 

“Apa yang ayah inginkan dengan memanggil tamuku kemari?” Suaranya terdengar datar. Tapi jika kau melihat ke arah matanya, kau akan melihat lautan api yang membara yang di sana.

FLASHBACK

Ketika langit telah di telan kegelapan malam, bintang-bintang tampak bersinar bagai ribuan berlian yang bertaburan di angkasa. Di sebuah hamparan ladang rumput yang luas, tampak sepasang kekasih yang sedang bermandikan sinar bulan purnama.

 

“Benar-benar tidak terasa ya?” Ujar D.O kepada gadis yang sekarang ini sedang dipeluknya dari belakang. “Beberapa bulan dari sekarang, kita akan resmi menjadi sepasang suami-istri.”

 

Gadis itu membaringkan kepalanya di cekungan bahu D.O. posisi ini begitu tampak nyaman untuknya. Kulit pucat kedua sepasang kekasih itu tertepa sempurna oleh cahaya bulan purnama.

D.O menciumi tengkuk gadis itu perlahan. Dengan kelembutan yang bahkan bisa mengalahkan kelebutan sehelai kain sutra.

 

Gadis itu tampak menikmati apa yang sedang D.O lakukan padanya. Tidak ada penolakkan yang dia tunjukkan sama sekali. Dia bahkan menutup matanya, berusaha lebih menikmati lagi setiap belaian yang D.O berikan.

 

Secara perlahan, gadis itu dapat merasakan D.O menggeranyangi tengkuknya, dan mulai perlahan naik ke daun telinganya sambil memegangi jari gadis itu lalu menyelipkan sesuatu di sana.

 

Dan ketika gadis itu membuka matanya. Dia benar-benar terkejut dengan apa yang tengah melingkar dan bersinar di jari manisnya.

 

“Oh Tuhan, a-apa ini ?” tanya gadis itu dengan ekspresi penuh kekaguman yang tidak dapat disembunyikan dari wajahnya.

 

D.O tersenyum ketika melihat gadis di depannya ternganga dengan apa yang diberikannya. Itu adalah cincin yang turun temurun diturunkan oleh setiap generasi keluarga kerajaan untuk seorang gadis yang akan menjadi istri seorang Putra Mahkota seperti dia sekarang.

“Apa Kau menyukainya ?”

 

Gadis itu menatap D.O dengan tatapan yang seolah-olah mengatakan bahwa pertanyaan yang D.O lontarkan adalah pertanyaan yang paling aneh yang pernah di dengarnya.

 

“Apa kau bercanda?” tanya gadis itu dengan dengan nada tidak percaya. “Bagaimana mungkin aku tidak menyukainya?”

 

D.O menarik gadis itu ke dalam dekapannya. Menghirup dalam aroma gadis yang dicintainya dengan hanya sekali tarikan napas yang panjang. Tidak ada kata-kata dari segala bahasa di dunia ini yang dapat menggambarkan bagaimana perasaanya pada gadis ini.

 

Gadis yang menurutnya adalah gadis terindah yang pernah ada di matanya.

Gadis yang menurutnya adalah gadis tersempurna yang pernah di cintainya.

Dan ini adalah pertama kali di dalam hidupnya, dia begitu menginginkan seseorang untuk tetap berada di sisinya selama keabadian yang dia miliki.

 

”Aku mencintaimu.” bisik D.O tepat di telinga kekasihnya itu.

“Aku sungguh-sungguh mencintaimu,, Saerin-ah” bisiknya sekali lagi sebelum mencium gadis berambut panjang itu dan menyampaikan seluruh perasaan yang di rasakannya pada gadis itu.

FLASHBACK END

*******

LUNNA POV

            Dengan langkah terburu-buru aku berjalan menuju kamar berpintu perak yang mencurigakan itu lagi. Aku benar-benar penasaran dengan apa yang sebenanarnya Kris dan si tiang listrik Chanyeol itu sembunyikan.

 

Ooh.. aku melakukan ini tidak sama sekali karena sikap Kepo-ku. Aku juga tidak melakukannya karena tertarik tentang Kris. Tapi lebih karena untuk memenuhi dahaga akan rasa penasaranku saja.

 

Kai dan sepupu-sepupunya itu sedang pergi untuk menemui anggota tim yang mereka pimpin masing-masing untuk menjelaskna rencana mereka yang entah apa itu.

Well.. harus ku akui. Aku tidak sama sekali tertarik dengan sikap militer mereka.

 

Kai bilang dia (mereka) akan kembali ketika matahari terbenam nanti. Tapi bagaimanapun juga aku harus bergegas. Sebelum si tiang listrik ChanChan memergokiku di sini. Karena dari perkataan Kai yang berhasil ku tangkap tadi pagi sebelum dia pergi, sepertinya Chanyeol tidak ikut dengan mereka.

 

Chanyeol, atau Laki-laki yang bertubuh gabungan antara tongkat galah dan tiang listrik itu akan menjaga rumah ini dan isinya. Termasuk aku. Tentu saja.

 

“Tuuh kan pintunya di kunci.”

 

Aku segera meronggoh kocek gaun pink mudaku. Mengeluarkan beberapa kunci yang di gabungkan dengan satu gantungan kunci yang berbandul dengan nama KRIS.

 

Aku sudah menduganya kalau kamar ini pasti di kunci. Jadi sebelum ke sini, aku sudah lebih dulu meminjam kunci ini dari kamar Kris tanpa seizin empunya.

 

CKLEK

 

‘Kamar apa ini? Kenapa gelap sekali ?’

 

Aku langsung menutup pintu perak itu lagi ketika memasuki ruangan ini, sebelum si ChanChan menyadari keanehan di sini. Tapi baru saja aku menutup pintu itu, tiba-tiba saja aku merasakan sebuah hawa dingin berada di belakangku. Bulu kudukku meremang.

 

Ada perasaan tidak nyaman melingkupi perasaanku sekarang. Aku mengenali hawa apa ini.

 

Yaaah.. aku tidak mungkin salah untuk ini. Aku tahu… ini adalah hawa seorang vam-

 

“Apa yang kau lakukan disini, manusia?”

 

 

*******

 

SAERIN POV

            Aku membuka mataku ketika indra penciumanku menangkap aroma yang asing. Aroma manis yang menggugah selera ini terasa semakin lama semakin menyerebak, menjadi tanda bahwa pemiliknya pasti semakin mendekat kemari.

 

Manusia . . .

Aku sudah lama tidak merasakan darah manusia segar hampir 1 bulan ini. bahkan indra penciumanku sudah lupa bagaimana manisnya aroma manusia jika saja aroma ini tidak tertangkap sekarang. Aah~ betapa menyenangkannya jika aku mendapatkannya.

 

Aku mendengar suara pintu kamarku terbuka, dan perlahan aroma itu menyebar ke seluruh ruangan kamarku. Aku bangkit dari tempat tidur, dan langsung berdiri di belakang manusia pemilik darah manis ini yang ternyata adalah seorang gadis muda.

 

“Apa yang kau lakukan disini, manusia?”

 

Punggung gadis itu terlihat bergetar. Aku bisa merasakan ketakutan menjalari tubuhnya. Hahaha tentu saja dia harus takut padaku. Bukankah aku adalah predator dan dia adalah mangsanya? Inilah hukum alam.

 

Awalnya, ku pikir gadis ini akan lari ketakutan ketika dia menyadari keberadaanku, tapi aku salah.

 

Diluar dugaanku, dia malah membalikkan tubuhnya dan menatap lurus ke arahku. Aku masih bisa melihat ketakutan berada di sana, tapi kepercayaan diri gadis itu menutupinya. Dan jujur saja, aku agak sedikit takjub melihat ini.

 

“Vampir…” bisiknya yang terdengar seperti untuk dirinya sendiri.

 

*******

 

AUTHOR POV

“Vampir…”

 

Lunna meneguk salivanya ketika memandang wanita bermata merah darah yang sedang berdiri di depannya. Detakan jantungnya terdengar keras di kesunyian yang menyelimuti keduanya.

 

“Kau tidak tampak terlalu takut, manusia”

 

Saerin berjalan perlahan sambil mengelilingi Lunna. Ada nada ketertarikan di setiap kata ucapannya. “Sepertinya kau pernah hidup di dalam dunia kaum kami, apakah ini benar?”

 

Lunna bergidik ketika merasakan hawa dingin menerpa kulitnya.

 

Dia benci hawa ini !!

Setiap kali merasakan hawa dingin ini dia selalu teringat hari dimana keluarganya habis dibantai seorang vampir yang tidak sama sekali ingin dia ingat wajah, bahkan namanya.

Sayang, otaknya berkata lain. Bagaimana dia bisa melupakan hal itu ?

Jika setiap malam kejadian mengenaskan itu dan wajah mengerikan Sang Vampir selalu hadir di setiap tidurnya.

 

“Kau pasti pernah memiliki hubungan dengan seorang vampir, iyakan? ”

 

“Aku rasa aku tidak punya kewajiban untuk menjawabnya” jawab Lunna penuh ketegasan yang luar biasa. Suaranya bahkan tidak bergetar sama sekali ketika dia berbicara tadi.

 

Saerin tersenyum mendengar jawaban Lunna. Entah kenapa Saerin begitu tertarik dengan gadis ini sejak pertama kali melihat aura gadis ini masuk ke kamarnya. Ada keberanian dan keterbiasaan yang terpancar dari gerak tubuh Lunna meskipun Saerin merasa kebencianlah yang mengdominasi di sana.

 

Sedangkan rasa takut ? entahlah.. garis ketakutan yang tampak dari wajah gadis itu seperti sebuah benang yang rapuh sekarang. Saerin tersenyum karena menyadari hal ini, gadis itu bukanlah gadis biasa.

 

Beruntung Saerin masih kenyang sekarang. Acara makannya tadi malam benar-benar membuatnya bersemangat. Kini dia sedikit lebih bisa menerima Kris. Cara laki-laki itu yang mengigit bibirnya, seperti menyuapi darah ke bibir Saerin dengan bibirnya sangat terkesan manis untuk Saerin.

 

Yaah. . . biarpun dia adalah seorang vampir, tapi bagaimanapun dia tetaplah seorang gadis, dan bukankah adalah hal yang wajar jika seorang gadis menyukai hal yang manis-manis?

 

Mungkin karena suasana baik hatinya dan ditambah juga dengan rasa kenyangnya inilah, Saerin justru menghiraukan aroma lezat darah Lunna dan lebih memilih untuk mencari tahu siapa gadis itu sebenarnya.

 

“Tentu kau tidak perlu menjawabnya. Lagipula aku sudah tahu jawabannya pasti iya

 

Lunna tampak sedikit terkejut, tapi tidak terlalu kentara ketika melihat Saerin yang tiba-tiba saja sudah duduk di tepi ranjangnya.

 

Seolah memang sudah terbiasa melihat segala keanehan yang dilakukan vampir, Lunna hanya terdiam menatap sosok Saerin yang kini tengah tersenyum di depannya.

 

“Aku tahu kau punya banyak pertanyaan juga untukku.” Ujar Saerin lebih ramah dari yang tadi. “Bagaimana jika kau duduk disampingku dan-?”

 

“Dan menjadi makan siangmu? Tidak. Terima kasih” potong Lunna cepat. “Aku lebih sudi untuk mati penasaran dari pada menjadi santapan vampir seperti kalian!”

 

Saerin tertawa ketika mendengar nada kebencian yang begitu terdengar jelas di telinganya. Jelas sekali gadis itu pernah punya kisah buruk yang terjadi anatara dirinya dan vampir.

 

“Bagaimana jika aku berjanji aku tidak akan mengigitmu?”tanya Saerin lagi. kali ini lebih semakinm terdengar bersahabat dari sebelumnya. “Aku hanya ingin berteman denganmu”

 

“Berteman? Kenapa? ”

“Karena aku sudah hampir mati bosan karena sendirian. Dan kau adalah satu-satunya gadis yang tidak takut padaku sekaligus satu-satunya gadis yang pernah ku jumpai selama aku disini.”

 

Ketika Saerin menyebutkan kata ‘satu-satunya gadis’ untuk kedua kalinya, logika baru saja mulai bekerja di otak gadis vampir itu

 

Segala pertanyaan dan hipotesis dengan spontan terdaftar dan tersusun rapi di setiap saraf pengingatnya.

 

“Ngomong-ngomong kenapa kau disini, manusia?Apa kau juga adalah gadis yang disandera Kris ?”

 

Bukannya menjawab, Lunna malah membelakkan matanya. “Kau bilang apa tadi? Gadis yang disandera Kris? ”

 

Sontak akal sehat Lunna langsung bekerja ketika melihat sebuah clue yang aneh ini. “Jadi menurutmu… Kris adalah orang yang menyanderamu disini?

 

Saerin memutar kedua matanya lalu kembali menatap Lunna sambil mendengus kesal.

 

“Ini bukan hanya menurutku, gadis manusia.Tapi dia, Kris, benar-benar menyanderaku disini.”

 

*** To Be Countinued ***

About fanfictionside

just me

5 thoughts on “FF/ YOU ARE MY ADDICT/ EXO/ pt. 3

  1. Eyyy.. Saerin, jangan2 setelah kecanduan darah kris ganti kecanduan orangnya nihh.. Kkkk~
    Akan adakah cinta segitiga antara Kai-Lunna-Tao ?
    Ditunggu next partnya thor..😀

  2. ahh ko rasa’a singkat bgt ya aku baca 😦 lagi enak2a baca eh…
    *** To Be Countinued *** muncul u,u

    lanjut thor
    apa kan Saerin akan kabur apa akan ttp tinggal di tempat itu ? Kan pintu itu kamar udh kebuka😀
    wkwkwkwk

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s