FF oneshot/ WISH HEAR YOUR VOICE AGAIN/ BTs-BANGTAN


Main Cast

  • Lee Kaeun (After School’s Kaeun)
  • Kim Tehyung (BTS’s V)
  • Kim Seokjin (BTS’s Jin)

 

Support Cast :

  • Min Yoongi (BTS’s Suga)
  • Yoon Bomi (APink’s Bomi)
  • Jeon Jungkook (BTS’s Jungkook)
  • Park Jimin (BTS’s Jimin)
  • Kim Taeyeon (Girls Generation’s Taeyeon)
  • Lee Hongbin (VIXX’s Hongbin)
  • The OCs

 

Genre                                   :               Sad, Romantic, School life, (+)17

Length                                  :               One Shoot

 

Song Recommendation :

  1. Annyeong (by. Hyorin of Sistar)*ost:you who came from the star*
  2. You’re My (by. BTS)
  3. Eyes, Nose, Lips (by. Taeyang of BIGBANG)

 

cover3

From author                       :              

Annyeong haseyeo^_^, perkenalkan, namaku Tiara @mtrtiara, ini adalah Fanfict pertamaku yang aku post, oh ya aku juga rekomendasi tentang lagunya, enak kan baca FF sambil denger lagu.. bisa kebawa suasana gimana gitu kkkk~~. jika FF ini banyak kesalahannya mohon dimaklumi dan mohon jangan lupa untuk meninggalkan komentar, kritik maupun saran, aku sangat membutuhkan itu. Terima kasih atas perhatian dan partisipasi kalian. Happy reading!

 

 

 

 

Prolog

“Lihatlah kelangit, dan tersenyumlah untuk itu..”

sebuah SMS gelap dari nomor yang tak diketahui muncul dilayar ponsel Kaeun, Kaeun terkejut saat menatap langit dan kelip-kelip bintang dibawah sungai Han, tiba-tiba muncul kembang api yang menari-nari dilangit

Bunyi petasan bertuliskan nama Kaeun, saat kembang api kedua diluncurkan tertulis would you be mine dan terakhir tertulis fr. Taehyung, Kaeun hanya bisa tertawa kecil

“would you be mine?” tanya Taehyung yang berada tepat dibelakang Kaeun, Kaeun terkejut karena tidak menyadari sosok Taehyung dibelakangnya

Maaf.. aku belum bisa menerimanya..

Untuk ukuran atahupun perasaan normal sepertiku pasti sudah bisa merasakannya, aku Lee Kaeun, hari ini aku menolak Kim Taehyung untuk kesekian kalinya, dia adalah siswa basket yang popular disekolahku, terkadang aku menyukanyai, aku suka melihatnya tersenyum, aku suka wajah seriusnya, tapi selama ini aku mencoba menutup hati demi seseorang yang pernah mengisi hatiku. Kim Seokjin namja yang telah pergi mendahuluiku…

***

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Lee Kaeun dan Kim Seokjin. Pasangan yang sangat serasi, mereka telah menjalani hubungan selama 1 tahun, namun hubungan romantic Kaeun dan Seokjin sangat ditentang oleh Bomi. Yoon Bomi salah satu siswa kelas 2 yang cantik disekolah ini, ia adalah seorang model yang baru debut di Seoul, diam-diam ia menyimpan perasaan pada Seokjin. yeoja di kelasnya membicarakan hal yang membuat mood Bomi semakin buruk, membicarakan apalagi kalau bukan tentang pasangan teromantis Kaeun dan Seokjin.

Waktu waktu luang yang ia gunakan untuk melepaskan penat hanya sekitar 1 atau 2 jam, selama itu ia bisa memandangi Seokjin yang sedang berlatih bersama teman-teman lainnya, tiba-tiba lewat disampingnya sosok yeoja berambut cokelat gelap selengan, ia berjalan tanpa menatap apalagi memberi sapaan terhadap Bomi, yeoja itu Lee Kaeun yang sedang membawakan sekotak untuk Seokjin yang sedang berlatih basket, Bomi memutar bola matanya dan tertawa hampa

sombong sekali dia…

…lihat apa yang akan terjadi pada kalian berdua

gumam Bomi, Bomi yang semula bersembunyi dibelakang pohon kini mengambil tasnya dan segera pulang setelah melihat dan menandai wajah Kaeun Dan Seokjin.

Sambil menatap Kaeun yang tiba-tiba menarik tangannya, Seokjin terkejut dan menuruti panggilan Kaeun, ia sedikit keheranan melihat tingkah pacarnya, Kaeun membawa Seokjin menjauh dari lapangan dan duduk dikursi taman sekolah

“siapa dia. Siswa yang memakai baju hitam?” Seokjin mengarahkan pandangannya mengikuti arah telunjuk Kaeun

“dia siswa SMP, namanya Kim Taehyung”

“bukan, maksudku namja yang berbaju hitam celana biru itu, dia lumayan keren” gerutu Kaeun yang membalikkan pandangan Seokjin yang sedari tadi memperhatikan seisi lapagan

“Min yoongi, dia pindahan dari California, dia jago basket. Kenapa?”

“tidak. Aku hanya penasaran, aku baru melihatnya hari ini”

“… Kim Taehyung, dia sedikit mirip denganmu”

”karena dia adal..” kalimat yang Seokjin ucapkan terpaksa tak ia lanjutkan karena pelatih sudah mengakhiri jam istirahat, Seokjin menepuk pundak Kaeun kemudian berlari kearah lapangan, Kaeun hanya menatapnya dengan tawa hampa

Nasib naas memang selalu berpihak kepada siapapun, tepat 2 hari setelah ulang tahun Seokjin, namja itu mengalami kecalaakan hebat yang membuat mobilnya rusak parah, langsung saja ia dilarikan kerumah sakit bersama beberapa saksi mata

 

“kami sudah berusaha sebaik mungkin, tak ada harapan bagi korban atas nama Kim Seokjin” seketika sekujur tubuh Kaeun terasa lemas, tangisnya terpecah seketika ia pingsan dipelukan Bomi yang barusan datang dibelakangnya bersamaan dengan Yoongi

Tak ada harapan bagi Kim Seokjin. salah satu tamparan keras untukku, kalimat-kalimat yang menusuk itu membuatku ingat akan percakapan dan pesan-pesan terakhir Seokjin oppa,

#flashback

2 hari sebelum peristiwa sial itu, Kaeun menemui Seokjin di restoran kimbab, hari itu adalah hari ulang tahun Seokjin yang 18, namja itu datang menemui Kaeun dengan wajah berseri-seri namun bisa dirasakan dari suasana hatinya yang tampak sedih.

“Jika aku menjauhimu apa yang kau lakukan?” Tanya Seokjin saat keheningan mulai menyelimuti mereka, Kaeun tahu dia bercanda, tentu saja ia merasa aneh dengan kata-kata yang baru saja keluar dari mulut Seokjin

“apa maksudmu? Memangnya setelah lulus kau akan keluar negri?” Seokjin terdiam,

“… amerika? Jerman?, perancis? arab? oppa mau kemana?” Tanya Kaeun lagi, saat itu mereka sedang berada di sebuah taman

“mungkin ini hari terakhir kita bertemu seperti ini” kalimat itu membuat Kaeun menghentikan langkahnya, jantungnya seakan mau pecah, nafasnya berat, sebelumnya yeoja itu berharap Seokjin bercanda, namun langkah kakinya mulai mundur dan menjauhi Seokjin, Kaeun mengambil jalan berlawanan arah, berlari tanpa menoleh kebelakang

#flashback end

***

bukan! Bukan karena aku..

… bukan aku pembunuhnya, ini tidak direncanakan, ini diluar dugaan

… jadi ini bukan salahku

“apa yang kau lakukan?” Taehyung memergoki Bomi yang sedang berdiri sendirian menatap makam Seokjin dan berkali-kali menggeleng-gelengkan kepalanya dengan tatapan ketakutan

                Bomi berusaha menutupi ekspressinya dengan senyuman, degup jantungnya mulai tidak beraturan, kali ini ia mencari cara agar Taehyung tak curiga dengan tingkahnya

“… semua sudah pulang, kenapa nuna masih disini?” lanjut Taehyung, namja itu juga mengeluarkan tatapan curiga

“aku tidak sempat datang di upacara pemakaman tadi, jadi aku baru datang sekarang.. lalu apa yang kau lakukan disini?”

“sepertinya aku menjatuhkan sesuatu disekitar sini”

“ahh.. kalau begitu aku akan pergi, sampai jumpa..” ketika melangkah menjauhi Taehyung, lagi-lagi Bomi dicegah

“tunggu!” Bomi berhenti, Ia terkejut dan dengan ragu menoleh keaarah Taehyung

“… kau baru saja tiba, kenapa sudah mau pergi?” Taehyung makin curiga dengan tingkah Bomi, Taehyung adalah calon siswa SMA, namun tingkahnya sudah seperti seorang detektif

“aku? Aku.. aku sudah lama disini, ehm.. aku tak punya banyak waktu” Bomi memutar bola matanya, ia bingung mencari jawaban yang pas, tanpa menunggu respon Taehyung, Bomi kembali melanjutkan langkahnya dengan cepat

“nuna..”

“… polisi mencarimu” Kalimat itu membuat dada Bomi sesak, ia mempercepat langkahnya menuju mobilnya, ia pura-pura tak mendengar kalimat yang Taehyung ucapkan terakhir

aku yakin seseorang dibalik ini adalah Yoongi!

                Gumam Bomi, lagi-lagi ia memikirkan masalah itu, sepertinya Taehyung mencurigainya, sudah 1 minggu sejak kematian Seokjin, namun Bomi belum melihat batang hidung Yoongi, segera saja sepulang sekolah ia mengunjungi apartement Yoongi

17 desember 2008 akan menjadi akhir dari separuh hidupmu Min Yoongi

                Sambil melirik layar ponselnya, Bomi memencet kasar bel pintu apartement Yoongi, setelah dibukakan pintu, Bomi langsung masuk tanpa seizin Yoongi

“kau berada dibalik semua ini kan?” Bomi berdiri dihadapan Yoongi, jarak mereka juga sangat dekat, Bomi tidak takut lagi jika disaat itu nyawanya harus hilang

“apa maksudmu? Apa sekarang kau menuduhku atas kematian Seokjin?” Yoongi memamerkan tawa sinisnya

“… sudahlah Bomi, untuk apa saling berburuk sangka, toh bukan aku yang menabraknya, kita juga masih SMA, kau berpikir terlalu jauh”

“Min Yoongi, beri tahu aku yang sebenarnya. kumohon mengaku lah..”

“… aku tak kan membocorkannya,” air mata Bomi langsung berjatuhan, ini adalah bagian dari akting nya. tiba-tiba Yoongi meraba pipi Bomi dan seketika Bomi tersungkur dilantai, kepalanya membentur sofa Yoongi, yeoja itu hanya bisa menangis dan menahan rasa pusing dikepalanya, Bomi ketakutan melihat sosok sangar Yoongi yang barusan menamparnya.

“kau memang gila!, kau memang gila Min Yoongi!” Bomi mencoba mundur agar Yoongi tak memberikan kekerasan fisik, ia mencoba kabur, Yoongi dengan sigap menarik mantel dan menjambak rambut Bomi, yeoja malang itu berulang kali berteriak kesakitan.

***

                Hari berganti hari, bulan berganti bulan, kini semua berjalan dengan baik. Nampak jelas dari raut wajah Kaeun yang saat ini masih dalam keadaan rapuh, kini ia memberanikan diri untuk mengunjungi makam Seokjin, ini adalah kali kedua ia mengunjungi makam Seokjin setelah kepergian namja itu

                Yeoja itu berjalan membawa rangkaian bunga ditangannya, satu persatu kata-kata Seokjin mulai terngiang-ngiang di pikirannya, semua yeoja akan sedih jika orang yang mereka sayangi pergi meninggalkan mereka, itu juga berlaku untuk Kaeun

               Setelah sampai dimakam Seokjin Kaeun langsung tersungkur, ia terduduk dan menangis, Disela-sela waktu Kaeun sempat melirik layar ponselnya, ia melihat wallpaper ponselnya terpampang wajahnya dan wajah Seokjin, saat itu mereka berfoto diperayaan ibadah sekolah, Kaeun juga melihat kalender ponselnya

“4 maret,. Apakah kau masih ingat apa yang kita lakukan 4 maret tahun lalu?” Kaeun bertanya melirik nisan Seokjin, namun tak ada jawaban yang ia dapatkan

“… maaf, aku baru sadar dengan kalimat terakhir yang kau ucapkan, aku salah.. saat itu aku langsung pergi begitu saja, apakah itu suatu salam perpisahan? Kau bilang akan selalu bersamaku., mana janjimu?” isakan tangis Kaeun mulai memecah seiringan dengan hembusan kencang angin musim gugur

“… saat itu aku berpikir kau mencampakanku dihari ulang tahunmu, aku menyesal.. selama 2 hari aku tidak bisa tidur dan tak makan dengan baik, aku hanya memikirkanmu, aku selalu berharap kau menelponku, namun dugaanku salah, harusnya aku yang menelponmu.. maafkan aku oppa”

                Setelah beberapa jam mengunjungi makam Seokjin, Kaeun memutuskan pulang, langit sudah mulai memerah, ia harus pulang tepat waktu, ia sudah bisa mengontrol emosinya, semua ia tumpahkan dimakam itu, dimana tak ada satupun orang yang mendengarkannya

***

                Kaeun berjalan dikoridor sekolah, suasana sekolah kembali seperti dulu, biasa dan membosankan menurut pendapat seorang Lee Kaeun. Tahun ini adalah tahun keduanya menjadi siswi SMA, akhir-akhir ini Kaeun jarang makan, bahkan kupon makannya ia berikan ke Jimin yang tak lain adalah sepupunya.

“sepertinya usaha diet besar-besaranmu itu berjalan dengan baik, sekarang kau bukannya langsing, kau malah kurus sekali” Jimin yang seharusnya berterima kasih malah tambah mengejek Kaeun kemudian berlalu seperti angin, yeoja itu hanya melirik sinis kepergian Jimin,

Koridor sekolah memang sangat ribut, namun tak menggangu konsentrasi Kaeun yang memikirkan Seokjin, jika Seokjin masih ada, mungkin sekarang ia akan melihat Seokjin mondar mandir dengan bola dan seragam basket, yeoja itu hanya mengandalkan senyum, namun hatinya kacau saat ini, ia melamun tak jelas, hingga menganggap Taehyung sebagai bayangan Seokjin

“Jangan pergi! teriakan Kaeun membuat Taehyung berbalik dan mendapati Kaeun memeluk tubuhnya, semua siswa/siswi menyoraki mereka berdua.

                Melihat Kaeun yang memeluknya begitu erat, Taehyung juga mengambil kesempatan, ia tersenyum bangga dan membalas dengan memberikan pelukan hangatnya ke Kaeun, Jimin yang ada disamping Taehyung jadi ikut tertawa kecil melihat tingkah bodoh sepupunya

                Taehyung merasa didadanya mengalir air hangat, ia melirik dan melihat Kaeun sedang menangis dipelukannya, ia tak sampai hati, selama ini ia juga menyukai Kaeun, Taehyung yang semula gembira karena Kaeun memeluknya kini menampakkan raut sedih, karena yang Kaeun kira dirinya adalah bayangan Kim Seokjin

“yang kau peluk itu sekarang bukan Seokjin, tapi Taehyung.. sadarlah!” Jimin berusaha memisahkan Kaeun dari Taehyung, ia menarik lengan Kaeun agar berhenti memeluk Taehyung, seketika Kaeun sadar pelukannya yang erat mulai mengendur, ia belum berani menatap mata Taehyung yang semula ia kira bayagan Seokjin,

Karena malu Kaeun langsung mengasingkan diri ke rooftop sekolah, Kaeun sempat berhenti dan menoleh belakang, ia menangkap tatapan datar dari Taehyung, lalu kembali ke tujuannya semula. Hari ini masih musim gugur, angin berhembus kencang, rasa dingin menusuk permukaan kulit Kaeun, tiba-tiba ada jaket yang menyelimutinya dari belakang, Kaeun bisa mengentarai pemilik suara itu

“kau dihukum juga?” Kaeun hanya menggelengkan kepala, Yoongi heran dengan sikap Kaeun yang memalingkan wajahnya

“… baiklah, aku yakin kau ingin sendiri, sampai jumpa” Yoongi meninggalkan Kaeun dengan sebuah jaket yang menyelimuti bagian belakang Kaeun, setelah Yoongi pergi beberapa langkah, Kaeun berbalik, ia menangkap tatapan dan senyuman Yoongi

***

                Berbagai kebahagian maupun cobaan datang silih berganti kekehidupan Kaeun, kini ia harus menerima cobaan berupa aksi penguntitan yang dilakukan oleh Taehyung namja yang suka mengikuti langkahnya, namja yang juga suka mencampuri urusannya, terlebih lagi ia harus tabah menghadapi Jimin sepupu satu-satunya yang menjadi tangan kanan Taehyung

“nuna!” panggil Jimin dari ruang tamu yang mengejar Kaeun menuju kamarnya

“JANGAN GANGGU AKU!!”

“Taehyung ingin menemuimu” Jimin menahan pundak Kaeun

“JANGAN BANYAK BICARA, JIKA KAU BICARA LAGI AKU AKAN MENENDANGMU KEMBALI KE BUSAN!” sikap Kaeun yang kasar seperti ini membuat Jimin, dan eomma Kaeun heran

“Jimin-ah kau apakan nunamu?” kata eomma Kaeun menghampiri Jimin dan melayangkan pukulan sendok nasi pundak namja usil itu, tidak terima dengan perlakuan bibinya, Jimin langsung menghela nafas dan beranjak menemui Taehyung

“sepertinya nunaku sedang dalam keadaan benar-benar tidak baik, bagaimana ini?” Jimin mengusap-usap tengkuknya, mencari-cari alasan yang benar

“begitu rupanya, baiklah aku akan datang dilain waktu, aku pamit pulang.. sampai jumpa” Taehyung menyembunyikan raut sedihnya, ia berjalan ke teras bersamaan dengan Jimin dan eomma Kaeun

“hujan akan turun nak, tidak bisakah kau tinggal disini sebentar, aku akan membujuk Kaeun agar mau menemuimu, Jimin Juga akan menemanimu..” rintik-rintik hujan turun, semakin lama semakin deras, membuat eomma Kaeun khawatir dengan Taehyung, namun Taehyung menolak ajakan eomma Kaeun dan Jimin, memilih untuk cepat pulang

                Dilantai kedua tepatnya dikamar, Kaeun sedang memandangi jendela, ia melihat sosok Taehyung yang mulai basah diguyur rintikan huja, raut wajahnya datar, namja itu terlihat sedih juga, Kaeun hanya bisa menghela napas dan merenungkan perbuatannya tadi

 

***

                Taehyung berhenti kemudian memarkirkan motornya didepan teras rumah, lalu memanggil Hodong ahjussi yang tak lain adalah supir pribadi keluarga Kim agar membereskan kendaraan kesayangannya, ia masuk melepas helm dan jaketnya yang basah karena guyuran hujan

“oh! Taehyung-ah, kau sudah pulang?” Taehyung tidak menggubris suara yeoja yang turun dari tangga, ia melanjutkan langkah menuju kamarnya

“… aku menunggumu sejak tadi, ayo makan bersama..” yeoja itu mengikuti langkah Taehyung

“aku sedang tidak enak badan, tinggalkan aku sendiri” kata Taehyung dari dalam kamarnya, yeoja itu menghela nafas dan hanya membatin

“besok aku, eomma, dan appa, akan mengunjungi makam Seokjin, kau harus ikut besok” kata yeoja itu yang tak lain adalah kakak perempuannya

“hey! Apa kau mendengarkanku?” ketuk yeoja itu, emosinya mulai tersulut

“sudahlah Taeyeon, mungkin adikmu benar-benar sedang tidak enak badan” sahut eomma mereka ketika melewati pintu kamar Taehyung

                Setelah mengganti baju, Taehyung membuka sebuah lemari coklat yang terletak disebelah lemari pakaiannya, ia mengambil selembar kertas foto yang terpampang jelas gambaran wajahnya dan wajah Kim Seokjin yang sedang tersenyum didalam foto itu

“hyung..” rintih Taehyung, ia mengusap foto itu, terlihat dilemari cokelat itu tertumpuk mainan anak-anak berupa robot dan lainnya

#flashback

3-juli-2000

                Seokjin datang kesebuah rumah besar bersama seorang pria tua yang membantunya mengangkat koper, Seokjin hanya bisa menatap kearah lantai, ia menyadari ada 6 mata yang memandang kearahnya berkali-kali

“hai, namaku Tae-hyung. Kim-Tae-Hyung, salam kenal” tiba-tiba sosok anak kecil berlari kearahnya membawa 2 mobil mainan kearah Seokjin, dan mengulurkan tangan sambil mengeja namanya

“selamat datang, aku Kim Taeyeon..” sapa sosok anak kecil rambutnya tengah dikucir 2

kau Seokjin ya? eomma sudah mendengar tentangmu dari appa..” seorang wanita menghampiri ketiga anak kecil itu dan memberi sapaan terhadap Seokjin, wanita itu menyembunyikan perasaan kecewanya

“anak-anak.. perkenalkan ini Seokjin, dia adalah saudara kalian, hari ini dan selamanya dia akan tinggal disini” appa mereka datang membawa tas Seokjin, dan mengantar Seokjin ke kamar barunya,

saudara? Aku tidak pernah melihat eomma hamil, yang aku tahu aku hanya mempunyai 1 adik, aku hanya mempunyai Taehyung,” appa dan eomma mereka saling bertatapan dan terdiam, perlahan Taeyeon mulai mengerti dan tidak pernah menyinggung permasalahan itu lagi

                Seokjin, dia adalah anak kedua dari pasangan Kim Jinhyung dan Hwang Jiseok, hasil dari perselingkuhan, ibu kandung Seokjin telah tiada, karena itu ayah mereka membawa Seokjin agar tinggal dan memulai hidup baru di Seoul, sebagai anak tiri tentu saja menjadi salah satu hal berat dalam hidup Seokjin, ia harus rela menjadi yang paling terakhir dalam segala sesuatu

6-desember-2009

“Taehyung-ah, aku tahu selama ini kau menyukai Kaeun.. kumohon jaga dia untukku” pinta Seokjin dengan suara terbata-bata tangannya, memegang erat jemari Taehyung, Seokjin menahan rasa sakitnya

“apa maksudmu? Jangan membicarakan yeoja itu dikeadaan seperti ini” kata Taehyung yang mencoba menyemangati Seokjin

“… Hyung? HYUNG!! BANGUN!! HYUNG!!! JANGAN BERCANDA!” kata Taehyung panik melihat Seokjin yang menutup mata dan melepas tautan tangan mereka

“… HYUUUUUUNG!!” para perawat menarik Taehyung keluar dari ruangan itu, Taehyung terduduk lemas dilantai rumah sakit, semua orang melihatnya, tak lama kemudian Taeyeon dan orangtuanya datang

#flashback end

***

                Taehyung bersembunyi, mengikuti langkah Kaeun, setiap hari ia lakukan kegiatan itu hingga Kaeun sampai dirumah dengan selamat. Yeoja mana yang tidak risih jika setiap hari dihantui dengan seorang penguntit, disaat itu juga Kaeun memergoki Taehyung yang sedang berjalan dibelakangnya

“kau mencari siapa?” Kaeun membuka pagar rumah, ia melihat Taehyung yang menghela napas dan terseyum padanya, kemudian memberanikan diri bertanya, ia risih sudah berhari-hari ia melihat Taehyung dibelakangnya

“ah.. aku, aku, hanya lewat”

                Bukan hanya hari itu, dihari-hari lain Taehyung juga melakukan hal yang sama, Kaeun merasa risih karena setiap pergerakannya dimata-matai Taehyung, terlebih lagi ia harus sabar jika teman-temannya menggoda kalau ia dan Taehyung sedang berkencan

Kemana yeoja itu? cepat sekali jalannya..

                Batin Taehyung yang mencoba keluar dari kerumunan masyarakat Seoul, ia tak lagi melihat punggung Kaeun karena dijalan itu sedang ramai sekali, tepat dibelakang Taehyung, Kaeun sudah berdiri dan melipat tangannya

“aku disini..” Kaeun memergoki Taehyung, Taehyung terkejut dan langsung mundur beberapa langkah

“… apa yang kau lakukan? kau membuntutiku lagi?”

“apa? Aku tidak tahu apa yang kau bicarakan” Taehyung menyembunyikan kegugupannya

“kau kira aku bodoh? Jimin memberi tahuku” Kaeun berbohong dan tersenyum sinis kearah Taehyung

“kau sendiri, apa yang kau lakukan malam-malam berkeliaran dijalan seramai ini?”

“ahh! Jadi benar selama ini kau membuntutiku? Dasar idiot! sekarang pergilah, aku tak mau melihatmu lagi”

“kau mau kemana?” Taehyung menahan bahu Kaeun yang melanjutkan jalannya, banyak pejalan kaki dijalan tempat Kaeun berada, saking banyaknya ia tak lagi melihat sosok Taehyung, Kaeun mencari-cari keberadaan Taehyung, saat menoleh kearah kanan ia kembali melihat Taehyung sudah berdiri disampingnya

“kau mengkhawatirkanku juga?” Kaeun tidak menjawab, ia berjalan cepat begitu pula Taehyung yang mengejarnya dan mengikutinya sampai Kaeun tiba didepan rumahnya

“… selamat malam tuan putri!!”

“… kuharap besok kau menjawabnya!!” Kaeun tertegun mendengar kalimat terakhir Taehyung,

Menjawab? Menjawab apa? Apa anak idiot itu masih menyinggung pertanyaan bodoh itu?

“Jadilah pacarku! Lee Kaeun saranghae!!” Kaeun kembali mengingat kejadian dimana Taehyung berteriak seperti oramg gila dikoridor sekolah

***

                Kaeun berjalan menuju ke koridor kelas 3, ia memegang sebuah tas kecil berisi jaket, ia berjalan dan berpapasan dengan Lee Hongbin yang tak lain adalah teman masa kecil Kaeun, Hongbin juga satu kelas dengan Yoongi

“oppa!” tegur Kaeun yang memukul belakang Hongbin dengan kelima jari mungilnya

“oh! Kaeun, ada apa tiba-tiba datang kemari?” tanya Hongbin langsung kepersoalan

“anu.. aku mencari senior Min Yoongi”

“dia sekarang di halaman belakang” tiba-tiba ada siswa lain yang melewati Kaeun dan Hongbin, yang langsung memotong pembicaraan mereka

“sedang apa dia?” Tanya Kaeun dan Hongbin bersamaan

“kalian bisa melihatnya sendiri..” jawab namja itu, tanpa memerdulikan Hongbin, Kaeun langsung berlari kearah halaman belakang, ia meninggalkan Hongbin yang memang sejak tadi tidak mau menemaninya

                Sesampainya di halaman belakang sekolah, Kaeun mencari-cari Yoongi sambil mengatur napas dan membenahi rambutnya, betapa terkejutnya Kaeun melihat 2 orang yang sangat Kaeun kenal sedang berciuman panas di bawah pohon besar yang daunnya berguguran, kaki Kaeun melemah, tas berisi jaket Yoongi yang pernah Yoongi pinjamkan langsung jatuh begitu saja dari tangannya, tiba-tiba ada yang menghalangi pandangannya menggunakan telapak tangan

Yoongi oppa?! Soojung?

“jangan dilihat..” pinta namja itu, Kaeun mengenali suara itu, itu suara milik Taehyung, Soojung tersadar akan keberadaan Kaeun dan Taehyung, ia mencoba melepaskan ciumannya dengan Yoongi, dengan cepat Taehyung menarik Kaeun dan berlari kearah lapangan basket

“kau baik-baik saja?” tanya Taehyung, yang melihat Kaeun pucat dan sedikit batuk, Kaeun hanya menggeleng dan memegang perutnya

“… tunggu disini, aku akan kembali” Taehyung berlari ke ruangan basket, membuka kulkas dan mengambil 2 botol air mineral

“terima kasih..” kata Terima kasih yang keluar dari mulut Kaeun, terasa indah ditelinga Taehyung, Hening. Itulah suasana yang saat ini menyelimuti mereka saat ni, Taehyung pun mencoba memecah keheningan

“nuna..” Kaeun hanya menoleh kearah Taehyung

“aku tidak bercanda dengan ajakanku kemarin, jadilah pacarku” Kaeun tersentak dengan kalimat terakhir Taehyung, ia menelan pudding yang Taehyung belikan dan berdiri, Taehyung juga ikut berdiri

“aku harus masuk dikelas bahasa.. berikan ini ke Yoongi” Kaeun memegang tangan Taehyung dan menyerahkan tas itu, langsung saja ia lari meninggalkan Taehyung sendiri dipinggir lapangan, setelah punggung Kaeun tak terlihat lagi, Taehyung kembali duduk sambil mengoreksi perkataannya tadi

***

                Selama liburan Taehyung selalu mengunjungi Kaeun, Jimin sampai jera untuk menemui Taehyung yang hanya memamfaatkannya demi mendapat perhatian dari Kaeun, suatu hari ketika keadaan rumah Kaeun sepi ditinggal eomma dan Jimin ke Busan, Taehyung datang dengan maksud tertentu, bel berbunyi, dengan malas Kaeun melihat bayangan Taehyung dimonitor

“ada apa lagi?” tanya Kaeun yang membukakan pagar rumahnya

“Jimin bilang kau sendirian dirumah..”

“lalu?”

“aku akan menemanimu”

“tidak perlu, cepat pergi!” Kaeun mencoba menutup pagar, namun tangan Taehyung menahan pintu pagar itu

“kau belum menjawab pertanyaanku, aku butuh jawabanmu sekarang.”

“… aku tidak pernah bermain-main denganucapanku”

“… apakah kau mau menjadi pacarku?” Pintu tertutup dengan keras, Kaeun membantingkan pintu pagar didepan Taehyung, Taehyung hanya bisa memejamkan mata, menghela nafas dan mengoreksi kalimat-kalimatnya tadi

“… BAIK!! AKU MASIH BISA MENUNGGU! AKU AKAN MENUNGGUMU DISINI, AKU AKAN MENUNGGU DAN MENJAGAMU DISINI!” teriak Taehyung dengan nada frustasi, ia masih duduk didepan pagar rumah Kaeun,

Kaeun hanya bisa menyaksikan kenekatan Taehyung yang masih menunggunya walaupun sekarang hujan mengguyur kompleks itu, hati Kaeun tersentuh melihat semua tingkah Taehyung ia juga merasa iba ketika melihat Taehyung yang basah kuyup dan kedinginan, segera saja Kaeun berlari menghampiri Taehyung dengan payung kuning bergambar matahari

“kau baik-baik saja? Ayo cepat masuk..” Kaeun menarik kaos Taehyung, namun Taehyung sangat berat dan susah untuk berdiri

“apa kau sudah memikirkannya? a.. Apa kau mau?” suara parau Taehyung membuat Kaeun gugup, Taehyung tidak mau berjalan sebelum Kaeun menjawab pertanyaannya,

“aku bisa menjelaskannya nanti” tanpa basa-basi Kaeun langsung menarik tangan Taehyung yang dingin dan menggiringnya keruang tamu

                Kaeun menyiapkan handuk beserta air hangat, dan seduhan vanilla latte untuk Taehyung, terpaksa ia harus masuk kekamar Jimin untuk menyiapkan air panas karena mesin penghangat air dikamar mandi Jimin sedang rusak

“masuklah, aku sudah menyiapkan air panas, kau bisa mandi dan menghangatkan tubuhmu, dan pakailah baju Jimin, kau bisa mengembalikannya kapanpun” Taehyung menuruti perintah Kaeun yang menngiringnya ke kamar Jimin

“apakah kau tidak pernah sedikitpun menyukaiku?” tanya Taehyung yang duduk berhadapan dengan Kaeun dimeja makan, Kaeun hanya terdiam, selama itu tak ada pembicaraan sedikitpun, Taehyung masih tetap menunggu kedatangan Jimin, ia masih terjaga walau sekarang matahari hampir menyinari kota Seoul,

***

                Bunyi bel berdering berkali-kali, Yoongi melihat 2 orang polisi melalui layar disebelah pintu, Yoongi panic luar biasa, ia berlari kekamar dan menelpon seseorang, setelah itu ia menelpon Bomi

“Bomi-ah! Kau dimana sekarang?”

“ada apa?”

“polisi mencariku sekarang! Cepat kesini!”

“maaf.. aku tidak bisa sekarang membantumu lagi”

“halo?? Bomi-ah, Yoon Bomi!”

                Yoongi dengan santai membuka pintu dan berpura-pura tak terjadi apa-apa, memberikan tatapan polos terhadap 2 polisi itu

“saudara Min Yoongi, kami dari kepolisian mendapat laporan penangkapan anda”

“ada apa ini? Aku salah apa?” tanya Yoongi santai walaupun kedua tangannya telah diborgol,

“itu bisa dijelaskan nanti di kantor polisi, sekarang anda ikut kami!” tarik polisi itu menggiring Yoongi kemobil tahanan

Bomi melirik Yoongi yang datang digiring oleh 2 polisi, ia hanya tersenyum sinis menangkap tatapan mematikan Yoongi, bisa ia lihat tatapan mengerikan itu, jika 2 polisi itu tak memegang Yoongi, mungkin namja itu sudah menghajar Bomi habis-habisan,

Selang beberapa menit Taehyung datang ke kantor polisi, ia menemui Bomi yang terduduk dikursi tamu

“kenapa kau tak mengatakannya sejak dulu? KENAPA?” bentak Taehyung, Bomi hanya menunduk

“… KENAPA??!” Taehyung menarik kerah baju Bomi, Bomi Nampak ketakutan, syukur saja polisi segera menenangkan Taehyung dengan tindakan lisan

“kau tidak tahu betapa sulitnya kehidupanku! Kau benar! salahkan saja aku! Salahkan! SALAHKAN!!” amukan Bomi memecah, Taehyung yang awalnya bersikap kasar pada Bomi dengan sendirinya luluh, membuat hati Taehyung tersentuh, untuk menenangkan Bomi, Taehyung menarik lengannya dan memeluk yeoja itu

“… kau tidak tahu apa-apa, kalian hanya bisa menyalahkanku saja! kalian tak tahu apa-apa” Bomi menangis dipelukan Taehyung, tangan mungil Bomi berkali-kali memukul dada Taehyung, itu semua terjadi bersamaan dengan kedatangan Kaeun yang berhenti didepan pintu masuk kantor polisi, Kaeun hanya menatap mereka dan menunjukkan wajah sedihnya, Kaeun pun pergi berpaling ketujuan lain

                Setelah beberapa jam penyelidikan, Yoongi dibiarkan keluar menemui Bomi dan Taehyung, Yoongi hanya tersenyum, namun tidak untuk Taehyung yang mengepalkan tangannya

“BAJINGAN! SELAMA INI AKU BAIK PADAMU, MENURUTI PERINTAHMU DAN INI YANG KAU BERIKAN PADAKU? MEMBUSUK LAH DIPENJARA!!” Taehyung mengamuk dan menghajar Yoongi, Yoongi sudah tak berdaya, polisi juga memisahkan mereka

“… tidak!, AKU AKAN MENGIRIM KAU KE NERAKA!!”

“nona Yoon Bomi-ssi, apakah bisa menunggu beberapa waktu lagi? Pemrosesan terdakwa Min Yoongi akan membutuhkan sekitar 2 jam lagi, penyelidikan lanjutan akan dimulai besok, membutuhkan 3-4 hari bahkan 1 minggu, kami akan mencari komplotan-komplotan mereka, terima kasih atas partisipasi anda”

“ne, bukti-bukti yang saya berikan sudah saya berikan kepada tuan Jung Joohwan”

#flashback

17 Desember 2008

“kau gila Yoongi!, kau memang gila!” kata Bomi yang mencoba menghindar dari Yoongi, ia merogoh mantel dan megeluarkan suatu benda bundar yang berdiamater 2cm, itu adalah alat perekam video mini yang sangat canggih, Bomi memang sengaja masuk lebih dalam dikediaman Yoongi, ketika Yoongi menyeret dan memukulinya Bomi langsung saja menempelkan alat perekam itu didinding-dinding lemari buku Yoongi

“AKU MEMANG DALANG DARI SEMUA INI? MUSTAHIL KAN?” Alat itu merekam semua suara dan gambar, Nampak jelas Yoongi menganiaya Bomi, memukuli menendang dan menyiram air mineral diatas kepala Bomi

#flashback end

Bomi dan Taehyung masih harus menunggu 2 jam untuk penyelidikan hari ini, Taehyung membuka ponselnya dan menerima 3 pesan, namun tak 1 pun pesan berasal dari Kaeun, ada rasa resah yang menghantuinya saat ini, ia mencoba mengecek pesan-pesan Kaeun sebelumnya

Aku akan segera kesana. Itu pesan terakhir Kaeun sebelum Taehyung mengakhiri panggilan sekitar 5 jam yang lalu, Taehyung tak henti-henti memerhatikan ponsel dan menghubungi Kaeun

“seminggu setelah Seokjin pergi, aku menemui Yoongi,” Taehyung yang mendengar Bomi langsung saja berhenti menghubungi Kaeun

“… sebelum menemui Yoongi, aku sudah merencanakan sesuatu, aku menempelkan mini recorder diapartemennya, itu merekam semua kejadian hari itu.. ,itu.. itu adalah bukti yang saat ini aku punya, Yoongi dalang dari semua kekacauan ini”

“… Yoongi menyewa supir bayaran untuk menabrak Seokjin, saat itu aku keluar menerima panggilan dari Yoongi.. ini semua diluar kendaliku, aku tak tahu kalau ini hanya jebakan, ini diluar kendaliku..” Taehyung meresap cerita Bomi dan hanya terdiam

                Dilain tempat Kaeun sedang berjalan meyusuri keramaian Seoul, ia teringat kejadian yang membuatnya lumayan terpukul, ia mengingat Taehyung yang memeluk Bomi, tak sadar air matanya jatuh, ia mulai sedih dengan drama kasih sayang yang diperankan Bomi dan Taehyung

Kenapa aku seperti ini?

… kenapa hatiku sedih sekali?

                Batin Kaeun yang menahan air matanya yang hampir menetes, bus terus melaju, Kaeun menyempatkan diri mengaktifkan ponselnya, ia melihat ratusan pemberitahuan miss called dan pesan dari Taehyung

“permisi..” sapaan itu membuat Kaeun terkejut dan menatap sumber suara

“… nona, bisakah anda menunjukan arah alamat ini?” tanya namja yang menyerahkan selembar kertas kepada Kaeun

“kita memiliki tujuan yang sama, kita akan sampai sebentar lagi..”

“ah.. terima kasih” kata namja itu dengan senyumannya, tak henti-hentinya ia memperhatikan Kaeun

                Kaeun dan namja itu turun bersamaan, namja itu nampak kebingungan mencari alamat yang tertera dikertas itu, Kaeun pun menghampirinya ketika namja itu berdiri didepan pintu pagar rumah Hongbin

“kau sepupunya Hongbin oppa?” tanya Kaeun memastikan, karena namja itu menekan bel rumah Hongbin berkali-kali,

“kau temannya Hongbin hyung? Ahh kalau begitu aku harus memaggilmu nuna.. aku siswa SMP”

“benaarkah?” Kaeun tak menyangka dengan postur mengalah-ngalahi tingginya anak itu ternyata adalah siswa SMP

”namaku Jeon Jungkook.. aku akan menetap disini, lain kali berkunjunglah” tiba-tiba Hongbin datang dari arah berlawanan

“eoh! Jungkook-ah kau sudah datang..” Jungkook hanya menatap sinis sepupunya itu, Hongbin mengalihkan pembicaraan ke Kaeun

“Kaeun-ah.. terima kasih kau telah mengantarnya, bisa kita bicara sebentar?” kata Hongbin yang awalnya santai

“… aku sudah mendengar kabar itu, aku tidak menyangka Yoongi menjadi dalang dibalik masalah ini, aku tak habis fikir”

“tidak apa-apa.. semua sudah terungkap”

“aku tadi kerumahmu.. tapi Jimin bilang kau sedang pergi dengan Taehyung, aku menemui Taehyung dikantor polisi tapi ia bilang kau tak menemuinya, kau dari mana saja?”

“… aku sampai lupa menjemput Jungkook di stasiun, aku khawatir jika orang-orang Yoongi mencelakakaimu..”

***

                Ke esokan harinya Kaeun berangkat sekolah dengan Hongbin, banyak mata memadang Kaeun, sepanjang hari ia di gossipkan, pihak polisi sudah memberitahu pihak sekolah tentang kejadian 1 setengah tahun yang lalu

                Beberapa hari kemudian, pihak polisi menghubungi Bomi dan menyatakan bahwa Yoongi telah tiada, ia melarikan diri dan jatuh dari lantai 5 apartementnya, Bomi lega mendengarnya, bukan hanya dia semua pun berpendapat sama terutama Kaeun

***

                Kaeun berjalan sendirian disekitar sungai Han, kini hatinya sudah tak serapuh dulu, sedikit demi sedikit masalah telah pudar dari kehidupannya, ia telah pasrah kepada tuhan untuk menjaga Seokjin, sekarang ia bisa bernafas lega karena kasus pembunuhan itu sudah ditutup, tahun ini adalah tahun ketiganya berada di SMA ia belum bisa membuka hatipada siapapun

Lihatlah kelangit, dan tersenyumlah untuk itu.. sebuah SMS gelap dari nomor yang tak diketahui muncul dilayar ponsel Kaeun, Kaeun terkejut saat menatap langit dan kelip-kelip bintang dibawah sungai Han, tiba-tiba muncul kembang api yang menari-nari dilangit

Bunyi petasan bertuliskan nama Kaeun, saat kembang api kedua diluncurkan tertulis would you be mine dan terakhir tertulis fr. Taehyung, Kaeun hanya bisa tertawa kecil, perasaannya sangat gembira malam itu

“would you be mine?” tanya Taehyung yang berada tepat dibelakang Kaeun, Kaeun terkejut karena tidak menyadari sosok Taehyung dibelakangnya

“… kau menangis?” Taehyung mengarahkan tangannya kepipi Kaeun, namun Kaeun menghindar dan meninggalkan Taehyung

                Taehyung kesal dengan perlakuan Kaeun, bunga mawar yang ia sembunyikan ditangan kanannya langsung ia rusak dan ia buang disungai, ia mengejar Kaeun. Taehyung menarik tangan Kaeun dan membawanya paksa kesebuah ruangan yang berada disebuah taman yang sedikit gelap, Kaeun terus memberontak, namun kekuatannya tak cukup untuk melawan namja itu,

“lepaskan! Apa maumu?” tanya Kaeun, pergelangan tangan kirinya memerah akibat genggaman kasar Taehyung

“… tempat apa ini? Cepat bawa aku pergi dari sini” Taehyung memojokkan Taehyung hingga Kaeun benar-benar terpojok

“… Taehyung-ah, kau kenapa?” tanya Kaeun lagi, kini ia ketakutan dan berusaha lari dari ruangan itu

“Apa bedanya aku dengan Seokjin hyung?” Taehyung mengelus-elus wajah Kaeun, jarak mereka dekat sekali

“… aku hanya menginginkanmu, haruskan aku menggunakan cara kasar?”

“… aku bukan anak kecil atau si idiot lagi, malam ini aku akan menunjukkannya”

                Kaeun semakin terhimpit didinding-dinding ruangan itu, ia melihat Taehyung seperti melihat monster saat ini, ia ketakutan sampai kakinya terasa lemas, Taehyung mulai menyerang Kaeun dengan mencium bibir Kaeun paksa dan menggigit bibir yeoja itu

“kau hanya akan memelukku jika kesakitan,” Taehyung meremas lengan Kaeun

“Taehyung.. jangan! Lepaskan aku” ronta Kaeun yang hampir kehabisan nafas

“apa Seokjin tidak pernah memberikanmu seperti?”

“… kenapa kau tak bisa menerimaku?”

                Tamparan keras cukup membuat Taehyung mundur dan sadar atas perlakuan yang ia berikan pada Kaeun, Taehyung bangkit dan mengusap pipinya yang memerah

“ah., ah mm maaf, aku tak bermaksud menamparmu” Kaeun melihat 5 jari kanannya yang ikut memerah, Taehyung hanya melihat Kaeun dengan tatapan kecewa

“Taehyung-ah” Taehyung sempat berbalik merespon panggilan Kaeun, namun selang beberapa detik Taehyung kembali berjalan kearah pintu membuka dan membanting keras, selang beberapa menit terdengar teriakan Taehyung, merasa belum puas Taehyung mengambil batu dan memukul kepalanya sendiri, ia mulai menyiksa dirinya

“TAEHYUNG!!”

“… KIM TAEHYUNG!! JANGAN LAKUKAN ITU!” pinta Kaeun yang berlari menuju tempat Taehyung mengamuk

“… Taehyung-ah kumohon.. jangan lakukan itu” ronta Kaeun memohon agar Taehyung berhenti memukuli wajahnya sendiri

“KENAPA? KENAPA KAU MEMPERDULIKANKU? KENAPA? KENAPA?”

“Taehyung-ah.. hentikan”

“… kumohon” Kaeun tak berhenti menangis sedari tadi

“LIHATLAH DIRIMU.. KAU AKAN MEMPERDULIKANKU JIKA AKU BERAKHIR SEPERTI SEOKJIN!”

                Kaeun memberanikan diri untuk memegang tangan Taehyung, semula ia takut dan berfikir kemarahan Taehyung akan mereda, namun semua itu bertolak belakang dengan harapan Kaeun, Taehyung membuang tangan Kaeun dan mendorong yeoja itu, amukannya tambah menjadi-jadi

“maaf.. aku benar-benar minta maaf.. jangan seperti ini!” Kaeun dengan luka dikedua lutut dan telapak tangannya bersusah payah berdiri dan memeluk Taehyung dari belakang, Taehyung sempat berhenti dari aksi bodohnya, berbalik dan melepaskan tangan Kaeun yang memeluk perutnya

“Kaeun-ah…” nada suara Taehyung mulai berubah, ia mengusap air mata Kaeun yang deras berjatuhan, pelukan erat Kaeun mulai mengendur

“Taehyung-ah..” ia mundur beberapa dan berlutut dihadapan Taehyung

“… melihatmu seperti membuatku lebih tersiksa.. jangan buat embuatku sedih seperti ini, jangan buat aku rapuh untuk kedua kalinya, kumohon”

“… jangan membuat wajahmu lebam karenaku, pukul saja aku..”

“… karena kau sangat beharga bagiku “

                Taehyung menarik Kaeun dan mengantar yeoja itu pulang, walaupun ia saat ini sangat marah pada Kaeun, ia tak akan pernah tega membiarkan Kaeun berjalan sendiri, Kaeun hanya terdiam dan pasrah dengan apa yang akan terjadi

“apapun yang terjadi malam ini aku tak mau kau mengingatnya”

“… mungkin setelah ini kita tak akan bertemu lagi” kata Taehyung sebelum ia turun membukakan Kaeun pintu, Kaeun hanya menahan kesedihannya

***

                Setiap hari Kaeun dan Taehyung selalu berpapasan, kelas mereka juga letaknya berdekatan, Taehyung yang setiap harinya memberikan senyumnya pada Kaeun sekarang tak pernah, malahan Taehyung tak pernah melihatnya, jika berpapasan Taehyung selalu menganggap Kaeun tak ada

                Taehyung yang suka membuntuti Kaeun sekarang tak pernah lagi, Taehyung menjadi anak nakal, ia ketahuan bolos, menonton film porno dan hal-hal yang seharusnya tak anak SMA lakukan, sebagai sahabat Jimin hanya bisa menghela nafas karena Taehyung juga mulai menjauhinya dan berteman dengan anak-anak nakal

“kau apakan Taehyung?” tanya Jimin langsung pada intinya, sudah lama ia melihat keadaan Kaeun dan Taehyung yang berbeda saat ini

“… Kaeun jawab aku!” Jimin bertanya semakin kasar dan tak sopan, Kaeun hanya bisa menahan air mata yang hampir jatuh

“… kau bodoh, apa namja yang bernama Seokjin itu pernah bersikap seperti Taehyung? Apa dia pernah mempertahankanmu? Hah dia hanya meninggalkanmu, apa kau tak bisa melihat hati Taehyung?”

“kajja Jimin-ah.. aku harus ke lapangan sekarang!” tiba-tiba Taehyung keluar dari kelasnya, menepuk pundak Jimin dan berjalan seolah Kaeun tak ada dihadapannya

                Selang berapa bulan setelah kejadian itu, keadaan mulai berbalik, sekarang Kaeun lah yang menghamba-hamba pada namja itu, Taehyung menjadi bertambah nakal setelah kejadian fatal yang menimpa kedua orang tuanya, terlebih lagi perlakuan Kaeun padanya

                Pemakaman pun berlangsung, jasad presdir Kim dan istrinya dikebumikan disabelah makam Seokjin, Taeyeon dan Taehyung nampak terpukul, mereka sudah tak punya siapa-siapa lagi, ditambah lagi Taeyeon harus menjadi pengganti kedudukan Presdir Kim Jinhyung, yang menurutnya sangat sulit. Setelah pemakaman selesai, Taehyung beranjak kemakam Seokjin, ia menumpahkan semua kesedihan dan kekesalan ditempat itu

“lama tak jumpa hyung..”

“… aku datang meminta izin untuk memiliki Kaeun,”

“… aku merasa sudah tak punya hak untuk hidup didunia ini, aku hanya memiliki Kaeun dan Taeyeon nuna”

“… izinkan aku memilikinya, walau hanya sekejap” kesedihan Taehyung memecah keheningan perkuburan itu

***

                Natal pun tiba, hari dimana Taehyung dan Taeyeon merayakan natal berdua saja, tak ada raut gembira kedua anak Kim Jinhyung untuk merayakan hari besar itu, seperti biasa dengan kebiasaan buruk yang dimiliki Taehyung sekarang, ia lebih memilih bersantai dengan segerombolan anak nakal ketimbang tinggal dirumah bersama Taeyeon

“mau kemana kau?” pertanyaan yang Taeyeon lontarkan hanya dianggap sebagai bunyi angin yang Taehyung abaikan

                Setelah sampai di markas, Taehyung segera turun dari motornya, membuka mantel lapisan dan masuk kedalam, ia mendapati yeoja yang sedang mundur karena terpojok, seperti biasa teman-teman Taehyung akan mulai memajaki yeoja-yeoja yang sedang berjalan sendirian dikawasan gelap itu, terlebih lagi pada yeoja yang satu ini yang sendiri ke tempat itu

“mau apa kalian?” Tanya yeoja itu ketakutan

“uang, serahkan tas mu!” gampar salah satu teman Taehyung kepada yeoja itu, Taehyung tahu persis siapa yeoja yang sedang dianiaya saat itu

Kaeun!?

“pergilah..” kata Taehyung, yang merogoh saku mantelnya, mengambil dompet dan membagikan uang masing-masing kepada temannya, Kaeun langsung menatap kesumber suara

“whoa.. Taehyung benar-benar baik saat ini, semoga tuhan memberkatimu” sorak ria teman-teman Taehyung yang akhirnya meninggalkan markas gelap itu

                Hening menyelimuti Taehyung dan Kaeun, Nampak Kaeun dengan raut wajah yang lelah berdiri memungut mantel, dompet dan tas nya

“terima kasih..” kata Kaeun, Taehyung tak kunjung menatapnya,

“kau tidak apa-apa?” Kaeun hanya menganguk. Taehyung berjalan keluar namun saat hendak menaiki motor Taehyung dicegat dengan pelukan Kaeun yang datang dari belakang, memeluk dan memasukkan kedua telapak tangannya disaku mantel Taehyung

“apa yang kau lakukan?” Tanya Taehyung mencoba menjadi dingin, namun ia tak bisa menutupi rasa bahagianya

“maafkan aku.. “ jawab Kaeun, Taehyung dengan sigap berbalik dan mengecup dahi Kaeun

“… kau adalah orang yang berharga bagiku, Taehyung-ah jangan pernah bertingkah bodoh apalagi sampai meningalkanku untuk yang kedua kali,”

“… apa kau masih mencintaiku?” tatap Kaeun yang berakhir dengan pelukan yang Kaeun berikan dengan menggangtungkan tangannya dileher namja itu

“aku tidak pernah berhenti mencintaimu.”

***

“nuna! Apa yang kau berikan kepada Taehyung? Wah.. hebat, dia memutuskan keluar dari kelompok anak nakal itu.. aku tak habis fikir!” jelas Jimin dengan wajah yang berseri-seri, Kaeun menanggapinya dengan senyuman

“… dia menata penampilan dan perilakunya, sekarang dia benar-benar anak SMA yang dewasa, semua komik, video game ia simpan, sebagian dari itu ia sumbangkan kepanti asuhan. Ah aku hampir lupa! Akhir-akhir ini dia jarang berkumpul dan mengutamakan pelajaran, anehnya dia juga mendatangkan guru mata pelajaran kelas 3. Sebenarnya apa yang terjadi pada si idiot itu?” ocehan Jimin memenuhi telinga Kaeun, anak itu menceritaan semua tentang Taehyung dari rumah hingga tiba disekolah

                Entah angin apa yang membawa Kaeun kembali mengunjungi perpustakaan kota setelah pulang sekolah, ini adalah pertama kalinya ia menginjakkan perpustakaan kota setelah Seokjin meninggal, mengingat pepustakaan kota adalah tempat favorit mereka berdua, Kaeun berjalan menyusuri ruas-ruas lemari aneka buku-buku pelajaran, Nampak sosok yang sangat ia kenal, namja itu adalah Taehyung, Kaeun menyimpan tasnya dikursi yang bersebelahan dengan Taehyung, karena asyik dengan pikirannya sampai-sampai Taehyung tidak menyadari keberadaan yeoja yang saat ia cintai. Kaeun melepas mantel yang melilit dilehernya

“kau melakukannya dengan baik” kata Kaeun melilitkan mantel kuning keleher Taehyung, Taehyung tidak terkejut namun hanya tersenyum dan menoleh sipemilik tangan lembut

“… apa yang kau lakukan?” Taehyung tidak menjawab, namja itu sedang berkonsentrasi

“..hei” sentil Kaeun tepan di jidat namja itu

“kau tidak lihat aku sedang berkonsentrasi? Aku juga belajar menjadi lebih dewasa..”

“… tahun ini aku akan ikut ujian, kita akan lulus bersama-sama” senyum dari Taehyung yang awalnya mencoba bersikap dingin

“jadi itu yang membuatmu belajar keras? Kau melakukannya dengan baik” sebagai hadiah Kaeun menngecup pipi Taehyung sekilas, Taehyung tekejut dan tentu saja senang dengan perlakuan Kaeun barusan

“apa yang kau lakukan?” Tanya Taehyung, berpura-pura marah

“aigoo.. kau sensitive sekali, ujian masih sebulan lagi.. kau hanya perlu bersantai” diakhiri dengan cubitan tangan mungil Kaeun

***

                Ujian telah berakhir, tentu saja Kaeun dan Taehyung lulus dengan nilai yang memuaskan. Taehyung membuat janji pada Kaeun untuk membawanya kesebuah tempat, namun didalam perjalanan nasib naas menimpa Taehyung, bunyi klakson memekik ditelinga Kaeun, semua orang mengerumuni tepat kejadian itu,

Apa yang terjadi?

                Gumam Kaeun, perlahan kemudian memperceat langkahnya menuju tempat kejadian itu, entah apa yang mendorongnya, rasa khawatir dengan cepat menyelimutinya

“ahjussi.. apa yang terjadi?” Tanya Kaeun kepada semua orang, namun tak satupun menjawabnya, ia mencoba menerobos kerumunan orang-orang, langsung saja ia menghubungi Taehyung

You’re my chocolate, my sweetest chocolate, I really wanna have you
Neomuna dalkom han neol, neol gajigo shipeo,
gajigo shipeo

You’re my candy, a lollipop candy
I really wanna kiss you, I really wanna love you,
yeah.. yeah

Kaeun tersentak mendengar soundtrack nada dering itu, ia mencari-cari keberadaan asal bunyi tersebut, lagu yang pernah Kaeun rekam bersama Taehyung. Kaeun mencari dan terus menghubungi Taehyung, perasaannya makin kacau, ia mencoba merunduk dan mendapati ponsel yang sedang dipegang oleh orang yang tergeletak berdarah

“AKKKHHH! AAAAAAAA” teriak Kaeun, mencoba menerobos kerumunan ketika melihat Taehyung tergeletak di aspal jalanan

Tidak mungkin.. tidak! Tidak mungkin!!

“uh, huh..” desah Kaeun menggeleng ketika berhasil menerobos, tak disangka orang yang tergeletak di aspal tersebut adalah Taehyung

“AAA! KIM TAEHYUNG!!” kata Kaeun menghampiri Taehyung memanggku dan memeluknya

“… TAEHYUNG-AH!! KIM TAEHYUNG BANGUN!!”

“… KUMOHON BANGUN!!” tangisan Kaeun memecah, para pejalan kaki membantu memisahkan Kaeun dan Taehyung, namun Kaeun masih berkuat

“… JANGAN TINGGALKAN AKU, KAU SANGAT BERHARGA BAGIKU! TAEHYUNG-AH..” jaket yang Kaeun gunakan kini berlumuran dengan darah yang keluar dari kepala Taehyung, Kaeun tak memerdulikan keadaan ia hanya menangis memanggku Taehyung

“ Kaeun-ah…” rintih Taehyung, mencoba mengapai rambut dan pipi Kaeun

“… jangan menangis” isakan Kaeun makin menjadi, ketika Taehyung mengusap air mata yeoja itu

“jangan tinngalkan aku.. kumohon, jangan untuk kedua kalinya”

“… kau adalah orang yang paling berharga bagiku, jangan membuatku menyesal” air mata Kaeun menetes mengalir dari pipinya kepipi Taehyung

“maafkan aku Lee Kaeun, aku tidak pernah bermaksud membuatmu menyesal.. “ Taehyung menutup matanya, masih tidak terima Kaeun kembali mengguncang-guncang diakhiri dengan kecupan hangat dibibir Taehyung

“… Saranghae Lee Kaeun, kuharap kau merasakan hal yang sama” dengan kecupan kecil, Taehyung berusaha membuka matanya

“… aku rasa aku tidak bisa lagi, biarkan aku bersamamu di akhir-akhir hidupku, aku hanya ingin menutup mata didalam dekapanmu”

“Taehyung-ah, jangan mengatakan hal itu..”

“aku mencintaimu Kaeun-ah, aku menyukai semua yang ada didalam dirimu, aku menyukai mata, hidung, dan bibirmu” Taehyung mengerahkan sisah tenaganya untuk merogoh saku mantel kemudian mengeluarkan gelang couple

“aku juga.. uh huh..” Kaeun menerimanya, memakai gelang warna pink dipergelangan tangganya, dan memakaikan Taehyung dengan gelang berwarna biru dipergelangan tangan namja itu, Taehyung pun tersenyum dan sempat mengeluarkan senyuman gigi khas dirinya, kemudian menutup mata dengan tersenyum indah

“Taehyung..?” guncang Kaeun lagi, berharap Taehyung membuka matanya seperti tadi

“… Taehyung-ah bangun..”

“… uh.. huh.. tidak! Tidak mungkin”

“… KIM TAEHYUNG… BANGUN.. JANGAN TINGGALKAN AKU.. AAAAAA! BANGUN.. KUMOHON” bukan hanya tangisan Kaeun yang memecah dikerumunan itu, semua saksi mata juga menjatuhkan air mata mereka melihat adegan sedih Kaeun dan Taehyung. Mobil ambulans datang bersamaan dengan hembusan nafas terakhir Taehyung

***

                Kaeun duduk disofa coklat disebuah ruangan, masuklah yeoja yang berpakaian sangat rapi keruangan itu bersamaan dengan pelayan yang membawa 2 gelas orange juice dan memberikan dengan sopan pada Kaeun dan yeoja itu

“namaku Kim Taeyeon” senyum yeoja itu sambil menyodor kartu nama, Kaeun mengambilnya dengan senyuman

“ne.. nama saya Lee Kaeun”

“aku sudah tahu, ada apa dengan rambutmu? Sangat berbeda dengan yang difoto” Tanya Taeyeon memerhatikan rambut pendek Kaeun

“aku menatanya.. memotong sejengkal lebih pendek”

“apa alasannya?” Kaeun sempat tak ingin menjawab pertanyaan Taeyeon tapi Taeyeon mendesak dan menunggu jawabannya

“aku.. tidak ada alasan untuk itu” Kaeun masih tidak berani menatap Taeyeon, orang yang baru ia kenal kemarin yang mengundangnya disebuah gedung kantor yang megah

“kau tahu apa yang membuatku mengundangmu datang kesini?” Tanya Taeyeon, Kaeun mencoba melirik yeoja itu, namun tak ada keberanian untuk itu

“… apa kau kenal Seokjin?” Tanya Taeyeon setelah beranjak dari kursi, mengambil sebuah kotak dari laci meja kerjanya, tak disangka Kaeun sedang menahan jatuhnya air mata

“… kalau memang benar, aku yakin kau mengenal Taehyung juga” tak bisa ditahan lagi, air mata Kaeun langsung mengair bergantian dengan isakan dalam hatinya, Taeyeon sedari tadi hanya memperhatikan Kaeun

“kotak ini.. aku tidak tahu apa isinya, tapi Taehyung memesan agar hanya kau yang tahu..”

“sebenarnya kau siapa?” Kaeun menatap kotak itu

“aku? Kakak dari Taehyung dan Seokjin” Kaeun membuang tatapan dan mencoba berfikir keras tentang apa yang baruan dikatakan presdir Kim Taeyeon

“Seokjin dan Taehyung itu bersaudara, saudara tiri,. Kau tidak tahu?”

“… apa Seokjin tak pernah menceritakannya?” Kaeun langsung mengingat kejadian 3 tahun lalu, saat ia bertanya kepada Seokjin tentang Taehyung.. namun Seokjin tak sempat menjawabnya, ia juga ingat kalau ia pernah mengatakan Taehyung dan Seokjin hampir mirip

”… ceritanya panjang, aku tak tahu akan memulainya dari mana, yang jelas aku ini kakak kandung Taehyung, saudara se-ayah. ibu Seokjin meninggal ketika Seokjin berumur 2 bulan, Seokjin dibawa ke Seoul saat umurnya beranjak 8 tahun..”

“lalu bagaimana aku bisa mempercayaimu? Bagaimana kau tahu aku?” Taeyeon tersenyum dan mengambil album foto, kemudian menyerahkannya pada Kaeun, album itu berisi foto masa kecil 3 bersaudara tersebut

#flashback

                Taeyeon sedang bersandar sambil memakan jeruk yang barusan ia kupas, tiba-tiba Taehyung menghampirinya dan duduk dikursi samping appa mereka

“ada apa lagi? Aku tahu kau sedang meminta sesuatu.. kau hanya akan duduk disini jika membutuhkan sesuatu..” kata appa mereka, Taeyeon hanya menatap lucu Taehyung

“appa.. nuna, ada yang ingin aku sampaikan..”

“… jangan menjodohkanku dengan anak presdir Cha, biarkan aku memilih yeoja yang aku sukai”

“siapa dia?” Tanya appa dan Taeyeon bersamaan

“sayangnya dia lebih tua 1 tahun dariku.., dia kakak sepupunya Jimin”

“yeobo..!” panggil eomma Taehyung, appa mereka Nampak terkejut

“appa tidak tahu.. terserah padamu saja, aku akan tidur duluan, selamat malam”

“OK! I LOVE YOU FATHER” jawab Taehyung, Taeyeon melirik Taehyung dan mulai melemparkan pertanyaan ketika appa mereka memasuki kamar

“hey! Bukannya kakak Jimin adalah mantan pacar hyung-mu?” Taehyung tak menjawab pertanyaan Taeyeon

“apa salahnya aku memilikinya?” ocehan Taehyung hanya menjadi bahan tawaan bagi Taeyeon

“dasar. Anak kecil ini, kapan lagi kau dewasa?”

2 hari sebelum ujian

                Taehyung menyiapkan semua peralatan untuk mengikuti ujian, setelah selesai ia melirik jam dan membuka lemari coklat dan mengambil kotak ia membuka lalu menutup kembali kotak itu, merangkul tasnya dan membawa kotak itu

“nuna.. bisakah aku menitipkan ini?” pinta Taehyung, saat sedang sarapan pagi

“apa ini?” Taeyeon yang penasaran mencoba membuka kotak itu

“jangan dibuka. Jangan pernah kau buka kotak itu” Taeyeon yang tadinya tersenyum langsung berubah menjadi raut suram

“aigoo.. untuk apa pula kau memberikanku ini?”

“aku tidak memberikan itu untuku.. itu untuk Kaeun, kau tahu Kaeun kan?”

“kenapa tidak sekalian kau yang memberikannya?” sinis Taeyeon, yang mengira Taehyung akan memberikannya hadiah

“kumohon simpanlah untuk beberapa waktu.. dan berikan itu pada Kaeun, OK?”

#flashback end

“sayang sekali mereka berdua tak ada yang bisa memilikimu,”

“… walaupun aku belum mengalami hal seperti itu tapi aku tahu perasaanmu saat ini, pasti berat sekali”

“… jika kau membutuhkan sesuatu, kau bisa menghubungiku” kata Taeyeon saat Kaeun hendak berpamian pulang

***

                Jungkook brerjalan menuju perpustakaan kota, ia menunjukkan kartu pengunjung dan dipersilahkan masuk oleh pengurus perpustakaan, saat berjalan menuju ruas buku-buku pelajaran SMA ia melihat Kaeun yang sedang berdiam diri memperhatikan deretan buku, Jungkook merasa aneh dan hawa disekitar ruas lemari itu menjadi dingin, dengan mata samar-samar dan sekilas ia melihat sosok Taehyung yang berseri-seri, yang sedang mencoba menyentuh rambut Kaeun, Jungkook terkejut namun ia hanya terdiam, karena masih bingung dengan sosok putih yang ia lihat barusan

Taehyung? Tidak mungkin..

                Saat hendak menyapa Kaeun, Kaeun telah diajak bicara dengan namja lain, Jungkook terus memperhatikan dan mengikuti jejak mereka

“apa kau Lee Kaeun? Kau harus ikut aku ke pusat informasi” kata namja itu, membawa Kaeun kembali ke pusat informasi

“ah! Lee Kaeun-ssi, maaf telah membuatmu menunggu lama.. untung saja kau berkunjung kembali di perpustakaan ini. Sudah lama sekali ya”

“menunggu apa?” Tanya Kaeun kebingungan, Nampak sebuah buku diary kecil diberikan ke Kaeun

“… apa ini?” Kaeun kembali bertanya sebelum membuka lembaran diary coklat itu

“ah.. itu titipannya Kim Taehyung, aku tidak tahu persis kapan yang jelas dia menitipkan itu sebelum kalian ujian” Kaeun hanya tersenyum hampa, meninggalkan pengurus perpustakaan itu sendiri di pusat informasi

“nuna!” sapa Jungkook ketika Kaeun sedang mencoba membuka halaman pertama buku diary itu

“ya? ah.. Jungkook-ah kau disini juga ya” dengan cepat Kaeun menutup diary itu, perlahan ia sembunyikan ditumpukkan buku lain

“apa yang kau lakukan di pusat informasi tadi?” Tanya Jungkook melirik pergerakan Kaeun yang menyembunyikan Diary itu

“ah.. bukan apa-apa,” senyum Kaeun menyembunyikan kesedihannya, lalu meninggalkan Jungkook menuju kepintu keluar

                Kotak dan diary, apa yang sebenarnya Taehyung lakukan? Membuat Kaeun bingung, ia berjalan menuju halte bis, memasukkan diary dan kotak kedalam tasnya dan mengikat rambutnya. Setibanya dirumah, ia memberanikan diri membuka diary itu dari halaman pertama sampai halaman terakhir, diary itu berisi foto dan komentar-komentar dengan tulisan tangan Taehyung, Kaeun terharu dengan semua itu, dan saat membuka halaman terakhir ia menangis ketika melihat foto mereka berdua yang Taehyung edit, dengan stiker anime uniform wedding dengan komentar “one day in future, I’ll marry you!”

“semua itu bohong, Taehyung-ah, kau pembohong” suara Kaeun yang parau memecah keheningan rumahnya

                Kaeun membuka kotak kado itu, dan mengambil semua kaset dan sebuah kotak warna merah berbentuk hati didalamnya, Kaeun memasukan itu di DVD dan sosok Taehyung yang rapi muncul dalam layar TV

“12 februari 2011”

“… Kaeun-ah, apa kau bisa melihatku?”

“… aku bingung mau mengatakan apa, tapi aku ingin kau senang melihatku didalam layar ini, aku hanya ingin kau tahu perasaanku yang sebenarnya..”

“bagiku kau adalah bintang, bintangku yang tak akan habis cahayanya, kau berbeda dengan matahari, walaupun sinarnya lebih terang dari bintang, tapi dia selalu menghilang jika malam tiba, berbeda denganmu wahai bintang kejoraku, bintang yang selalu mengisi pikiranku disetiap saat, seperti bintang yang bersinar terus menerus disepanjang siang dan malam”

“… kau juga orang yang berharga bagiku, jangan pernah mengacuhkanku lagi.. yang aku inginkan hanyalah dirimu..”

“… Kaeun-ah, jaga baik-baik apa yang pernah kuberikan padamu, termasuk ketulusan hatiku”

“… tentang buku catatan itu, aku memberikannya untukmu.. agar kau selalu mengingatku seperti aku mengingatmu, jangan pernah pikirkan namja lain selain diriku. Karena hanya kau yang aku pikirkan setiap hari”

“… saranghae Kaeun-ah, aku tahu cintamu pada Seokjin lebih besar dari cintamu padaku, tapi aku tidak apa-apa, aku akan menunggumu sampai kau mencintaiku lebih dari Kim Seokjin”

“12 februari 2011, Taehyung log end”

                Kaeun merundukkan kepalanya dan menyandarkannya dikedua lututnya sebagai penopang, ia menangis, menyesal telah menyia-nyiakan ketulusan seorang Kim Taehyung

“aaah maafkan aku Kim Taehyung, maafkan kebodohanku.. maaf, maafkan aku.. aku terlalu bodoh sampai menyia-nyiakan mu” Kaeun menangis dan memukul-mukul kepalanya, mencoba menyiksa dirinya

…aku yang membuatmu seperti ini.. Kim Taehyung

Gumam Kaeun yang berdiri didepan jendela kamarnya, air matanya masih menetes. Tiba-tiba muncul sosok bayangan putih yang memeluknya dari belakang, Kaeun tahu siapa pemilik dagu yang menyandar dipundaknya

“jangan melakukan hal-hal bodoh, aku benci itu” bisik Taehyung, walaupun ingin sekali berbalik niatan Kaeun untuk menatap wajah Taehyung Nampak mustahil, ia seakan terkunci dipelukan Taehyung, sulit baginya untuk mengeluarkan kata-kata, dirinya seakan melemah dipelukan namja yang pernah ia kecewakan

Apa kau sangat mencintaiku? Seokjin oppa yang kusayangi tak pernah hadir dimimpiku walaupun sekali, mengapa kau seperti ini Kim Taehyung?

… maafkan aku,

                Gumam Kaeun seketika bayangan putih yang memeluknya tadi hilang tanpa jejak, tak henti-hentinya ia mengucapkan kata maaf untuk Taehyung, ia menyiksa dirinya setiap kali mengingat-ingat kejadian dimana ia telah mencampakkan Taehyung berkali-kali, bayangan Taehyung selalu tergiang-ngiang dikepalanya

***

                Taehyung maupun aku sudah memunyai kehidupan baru, Taehyung memulai hidup barunya disana, dan aku menata dan mempersiapkan diri untuk menjalani kehidupan baru yang akan datang, memulai kehidupan baru dengan memotong rambut sejengkal dibawah pundak itu adalah hal yang benar-benar fantastis, aku sudah tak serapuh dulu.. ini adalah tahun ketiga setelah kematian Taehyung di 2011 yang lalu, dan menjadi tahun keenam sejak kematian Seokjin oppa, jika mereka menyinggung persoalan cinta, apakah lebih mencintai Seokjin atau Taehyung tentu saja aku menjawab Taehyung, namja yang hanya memperhatikanku, namja yang suka dengan bau rambutku, dan menjadi satu satunya namja yang pernah menyentuh bibirku

                Dengan bantuan Taeyeon eonni, ditahun 2014 ini aku bisa menjadi bagian dari Eunsung group, aku menjadi karyawan tetap dibidang busana dan menjadi instruktur fashion terkenal se-korea, hatiku membeku, yang pernah mencairkannya hanyalah Taehyung seorang, aku sudah tak bisa mencintai namja selain Taehyung, apakah ini kutukan cinta yang tuhan berikan padaku? Dan menunggu? Apakah Taehyung benar-benar mengawasi dan menungguku dari atas sana? Itu adalah pertanyaan yang belum bisa aku pecahkan sendiri

“nuna..”

“… jika aku sudah bisa mendapatkan uangku sendiri, aku berjanji akan membuatmu hidup bahagia, percayalah..” kata Jungkook, menatap Kaeun dengan yakin, raut sedih Kaeun muncul kembali

“… selama ini aku menyimpan perasaan padamu, aku menyukaimu pada awal kita bertemu, aku tidak bisa mengungkapkannya saat itu.”

“aku harap kau menerima perasaanku..” Jungkook menggenggam tangan Kaeun, dan menatap yeoja itu dengan mantap

“maaf.. “ Kaeun melepas tautan tangan itu, ia tak membalas tatapan Jungkook sama sekali

“… aku tidak pantas dicintai ataupun mencintai namja lagi”

“… tak peduli seberapa bodohnya aku, aku tidak bisa mencintai namja manapun selain Kim Taehyung” jelas Kaeun yang meninggalkan Jungkook sendirian ditaman tepi sungai Han, Jungkook hanya terdiam, hari ini adalah hari terakhirnya untuk mencairkan hati Kaeun yang memang sudah sangat membeku

                Kembang api menari-nari ditepi sungai han, sekarang adalah musim gugur, namun hawa kota Seoul masih juga menusuk kulit, dengan mantel dan syal tipis, Kaeun berjalan mengitari sungai Han, mengingat-ingat apa yang barusan ia katakan pada seorang Jeon Jungkook, hingga ia tiba disebuah tempat yang pernah ia kunjungi sekali saat itu

                Kim Taehyung apa kau melihatku? Apa kau mendengar jeritanku? Apa kau ingat tempat ini? Tempat dimana aku pernah mencampakkanmu, tempat yang pernah menjadi saksi bisu antara pertengkaran kita. benar kau juga seperti bintang bagiku, kau tak pernah luput dari ingatanku

Taehyung-ah, air mataku sudah mengering, aku lelah menangisimu setiap hari, kuasa tuhan yang masih memberiku air mata, apakah ini juga hukuman dari tuhan hingga dia menghukumku untuk menangisi dirimu setiap saat, aku tidak pernah bosan melihat rekaman video dan mendengar soundtrack lagu kita, apalagi untuk memikirkanmu

“aku selalu mengawasimu, aku bisa mendengar apa yang ada dalam hatimu..”

Taehyung? Tidak aku hanya bermimpi..

“… ini bukan mimpi, berbaliklah Lee Kaeun” Kaeun yang mengira suara itu hanyalah efek dari obat penenangnya saja, kini berbalik mengikuti perintah suara itu, tak bisa ia pungkiri, air matanya mengalir deras melihat sosok Taehyung dengan baju putih polos, ia datang bak malaikat yang turun dari langit

Apa itu kau. Kim Taehyung ku? Kim Taehyung yang bodoh dan idiot? Apakah itu kau?

“… benar, ini aku.. aku sangat merindukanmu, aku menunggu sekian lama akan datangnya hari ini”

“… apa kau tidak merindukanku?” Tanya Taehyung, Kaeun masih tidak percaya kembali pada posisinya semula yang membelakangi Taehyung, baginya ini hanyalah mimpi atau ilusi dari efek obat penenang yang setiap hari ia konsumsi

“… haruskah aku memelukmu seperti ini? Haruskah aku menyandarkan daguku tepat dipundakmu?” Taehyung berjalan mendekati Kaeun dan memeluk yeoja itu dari belakang, Kaeun mulai menangis, ia mecoba menahan tangisnya, namun tak Nampak kesedihan dari wajah bersinar Taehyung, namja itu hanya menampakkan senyum khas nya

“kau aku tak bisa berkata apa-apa, yang aku ingin katakan hanyalah maaf.. aku menyesal telah menyia-nyiakan ketulusanmu. Kim Taehyung.. Taehyung-ah maafkan aku..” Kaeun berbalik dan membalas pelukan Taehyung, menangis hingga membasahi baju Taehyung, Taehyung mengecup dahi Kaeun agak lama, menyembuhkan rasa rindunya pada sang pujaan hati

“… apa kau masih mencintaiku? Aku bukanlah Lee Kaeun yang dulu”

“… aku semakin jelek, kantung mataku melebar, hidungku tertutup dengan tumpukan lemak pipi, bibirku semakin mengering, aku sudah tak secantik dulu..”

“aku tidak pernah berhenti mencintaimu, aku tidak punya alasan untukku berhenti mencintaimu, mata, hidung, bibir, dan kelembutan tanganmu masih sama seperti Kaeun yang dulu, aku selalu mencintai semua yang ada dalam dirimu”

“maaf untuk pernah menyakitimu, terima kasih untuk semua ketulusan hatimu, dan tolong untuk berada disisiku untuk selama-lamanya” pinta Kaeun, namun Taehyung hanya terdiam dan terkesan senyum

                Taehyung dan Kaeun berjalan mengitari sepinya tepi sungai Han, mereka singgah ditempat gelap, tempat yang pernah menjadi pusat kekhilafan Taehyung yang hampir merusak masa depan Kaeun, mereka hanya tertawa mengingat-ngingat kejadian itu, canda tawa Taehyung menghiasi redupnya ruang hati Kaeun.

                Keadaan membaik, seperti yang Kaeun kira, memang hanya Taehyung lah yang bisa mencairkan suasana hatinya, hanya dalam beberapa menit saja Kaeun sudah bisa kembali tersenyum, kembang api menari-nari diatas awan, memeriahkan suasana hati Kaeun, kembang api terakhir bertuliskan I LOVE YOU LEE KAEUN, dengan penuh cinta Taehyung merangkul pinggul Kaeun yang duduk disampingnya, mengarahkan kepala Kaeun agar bersandar dilengannya sebagai penenang sesaat atas rasa haus kerinduan Taehyung

“aku sangat menyukai buku itu,” Kaeun mengeluarkan diary dalam tasnya, membuka halaman kehalaman satu persatu dan menemukan gelang pink yang terselip disalah satu halaman

“… apa kau masih mengenakannya? Gelang biru itu..”

“tentu saja” jawab Taehyung memperlihatkan pergelangan tangan kirinya, yang mantap dengan lilitan gelang biru

“aku ingin kau memasangkannya untukku..” pinta Kaeun, dengan senang hati dan kelembutan luar biasa, Taehyung memasangkan gelang pink itu dipergelangan tangan kanan Kaeun

“saranghae..”satu kata yang Kaeun lontarkan yang membuat hati Taehyung seakan meleleh, Kaeun kembali menidurkan kepalanya dilengan Taehyung

***

                Dimana aku? Kubuka mataku perlahan melawan rasa kantuk yang luar biasa, tubuhku seakan melayang, putih dan hanya ada aku, tunggu. Dimana Taehyung? Aku tak merasakan kehadirannya, kubuka selimut putih yang membalut badanku, dan melirik kemana-mana mencari sosok Taehyung

“aku disini..” kata Taehyung yang entah darimana datangnya

“tempat apa ini?” Tanya Kaeun terkesan curiga

“tempat yang hanya ada kau dan aku saja..” jawab Taehyung yang menjelaskan ruangan tak berujung, tak berjendela maupun berpintu

                Taehyung duduk diranjang tempat Kaeun berbaring, megelus pipi yeoja itu, dan memberinya rangkaian bunga mawar, Kaeun mengambil dan langsung memeluk Taehyung, menggantungkan tangannya dileher Taehyung, begitu pula Taehyung yang menanamkan dagunya dipundak Kaeun

“kenapa?” Tanya Taehyung mendapati mata Kaeun yang mengunci pandangannya saat saling baring berhadapan

“aku tak akan membiarkanmu pergi lagi” jawaban singkat Kaeun hanya membuat Taehyung tersenyum dan membuatnya tak bosan untuk mencium bibir Kaeun dengan lembut dan berakhir dengan kecupan dahi dari Taehyung

***

                Taeyeon membuka pintu rumah dan berencana memasuki dapur, hawa disana langsung berubah menjadi dingin, Taeyeon merasakannya, ia sudah terbiasa dengan temperature seperti ini, tapi kali ini adalah kali pertama ia merasa takut dan canggung untuk bergerak

“Taeyeon nuna..” suara Taehyung terbawa oleh angin yang menerpa wajah dan rambut Taeyeon, seketika badannya sulit digerakkan, gelas berisi air mineral yang akan ia minum seketika jatuh dan pecah, badannya melemas

“… jaga Kaeun untukku, jangan pernah membiarkannya menangis lagi” fenomena aneh itu sulit Taeyeon yakini, ia tak percaya apa yang terjadi, menanggap ia hanya kurang tidur dan sedang tidak enak badan

                Dilain tempat, Kaeun terbangun dan kembali melawan rasa kantuknya, pandangannya masih samar-samar, ia menoleh kesamping mendapati seikat bunga mawar pemberian Taehyung tanpa sosok namja itu, suasana di ruangan itu juga lain, memiliki pintu, jendela, lemari, meja, sofa, dan barang-barang lain yang terkesan bewarna gelap, dimana ia sekarang? Dimana pula keberadaan Taehyung?

                Kejadian yang barusan ia alami terus terngiang-ngiang dipikiran Taeyeon, ia terus memikirkan Taehyung, untuk membayar rasa rindunya ia segera melangkah menuju kamar Taehyung yang bersebelahan dengan tempatnya, betapa terkejutnya ia mendapati sosok Taehyung berdiri dipintu, sekejap bayangan itu menghilang, dengan hati-hati Taeyeon membuka pintu kamar Taehyung yang semula menjadi tempat berdirinya sosok Taehyung dengan raut datar terkesan sedih

                Pintu terbuka, perlahan-lahan Taeyeon masuk, dan lebih terkejutnya Taeyeon ketika melihat seorang yeoja yang sedang duduk memeluk kakinya sendiri, memegang seikat bunga mawar, terlihat yeoja itu sedang membenamkan kepalanya diatas lutut

“Kaeun? Kau kah itu?” Taeyeon melepaskan tongkat itu dari tangannya, mendekati Kaeun yang sedikit-demi sedikit mulai merintih sedih, kini yeoja berumur 27 tahun itu mengerti dengan apa yang barusan ia alami, ia menjadikannya suatu pengalaman berharga dalam hidupnya

***

                akhir cerita dari seperempat kisah hidupku, aku Lee Kaeun tak ingin menjadi rapuh lagi, membuka lembaran baru adalah kunci terlepas dari beban ini, persoalan kutukan? Aku memang sedang menerima hukuman berupa kutukan, tapi aku tetap menjalaninya dengan baik.

                Kesalahan terbesar yang pernah kubuat adalah menolak ketulusan hati seseorang, itu menjadi pelajaran yang sangat berharga dalam hidupku, belajar dari kesalahan membawaku menuju kebenaran. Kebahagiaan yang pernah kudapatkan adalah bertemu dengan seorang Kim Taehyung. Namja yang hanya memikirkanku, namja yang hanya menginginkanku, dan namja yang hanya menungguku.

                Terima kasih, sekaligus maaf kuucapkan untukmu Taehyung-ah, terima kasih untuk namja yang pernah menjadi bintangku, datanglah sesekali dimimpiku, dan aku masih menggantungkan harapan agar bisa mendengar suaramu lagi. Saranghaeyeo Kim Taehyung

 

END

 

                Gimana readers? Alurnya tidak jelas dan meresahkan ya? Kurang sedih ya? Atau kecewa sama pembagian cast nya? Ahh… maafkan aku *sound like Kaeun*//no. yah sampai disini saja kemampuanku, aku sangat senang jika kalian bersedia untuk mengeluarkan setetes airmata untuk ffku ini. Kutuk saja aku jika FF nya kurang menyenangkan. Tolong untuk kritik dan saran serta komentarnya yaa! Don’t be silent readers. Kalian bisa komen lewat twitter juga kok @mtrtiara . Kkkk~~ Gomawo. Saranghaeyeo Kim Taehyung//no

About fanfictionside

just me

12 thoughts on “FF oneshot/ WISH HEAR YOUR VOICE AGAIN/ BTs-BANGTAN

  1. Thor kmu berhasil buat aku nangis baca ff ini .. Pas SeokJin meninggal aku gk dpt feel sedihnya tpi pas Taehyung ya ampuun ngena bgt .. Tpi aq sedihh suami aku *baca:Suga* knpa jahat ya ?? .. Tapii buat keseluruhan ceritanya kereenn aku bener2 dpt bgt feel’a .. Fighting author .

  2. Thor! anjiiiirrr ini sedih gila ah gua nangis loh thor heuheu
    song reccomendnya ngebantu banget heuheu :,, selama baca denger lagu annyeong tambah sedih.
    akhirannya sama jongkuk kan kan kan? biar ga terlalu gantung dan udah greget juga kalo kaeun masih bersedih gitu hehe
    daeebaaak thor looking forward to your next ff lah! ^^

  3. sedih sumpah cerita nya …. mampu menjatuh kan air mataku #lagi #alay …
    apalagi cast nya aku suka bias aku ke dua nya V ,kaeun ,,,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s