FF oneshot/ WAIT YOU (WHAT AM I TO YOU)/ BTS-BANGTAN


WAIT YOU

(WHAT AM I TO YOU?)

 

 

Author : @ismomos                                      

 

Cast :

– Kim Namjoon (BTS RapMonster)

– Hwang Soojung (OC)

– All member of BTS

 

Genre : Sad, Hurt, Dark-Romance

 

Length : Oneshoot

 PhotoGrid_1407313404889

 

What am I to you, girl? What am I to you?

I do love you crazy huh do you?

 

 

     Sakit. Sesak. Gelap. Kelam. Sepi. Sunyi. Sendiri. Berbagai macam perasaan menyelimuti lelaki itu dalam satu waktu. Sebenarnya ia tak benar-benar sendiri, tapi ia selalu merasa sepi. Sebenarnya ia tak benar-benar merasa sunyi, hanya saja ia tak dapat menggapai suara yang sedari dulu di dambanya. Tak hanya suara, bahkan hati sang pemiliknya pun tak dapat diraihnya meskipun mereka menjalin suatu hubungan cinta dan memutuskan untuk bersama.

     Kim Namjoon, seorang lelaki yang baru pertama kali merasakan cinta. Sayangnya, diusianya yang masih semuda itu, harus dihadapkan dalam sebuah cerita cinta yang menyakitkan. Cinta satu sisi. Dia yang mencintai, tetapi yang dicintai hanya menganggapnya sebagai sebuah ambisi. Menyedihkan, bukan? Namun memang begitulah kenyataannya.

     Namjoon memandangi sloki,-gelas kecil yang digunakan untuk meminum soju,- yang berada di tangannya. Kalau saja teman-temannya tidak membuang semua botol soju yang baru dibelinya, sebelum mereka pulang dari rumahnya, sudah dipastikan Namjoon akan meminum soju itu sampai habis. Dia memang bukan seorang pemabuk, hanya saja saat ini yang ia butuhkan adalah pelarian. Pelarian dari segala rasa sakitnya. Agar ia tak melampiaskannya pada satu sosok itu. Sosok gadis itu…

 

     “Maaf. Aku tak bermaksud meyakitimu.”

 

   Kata-kata itu terus terngiang dalam pikirannya. Andai saja, kalimat itu tak pernah terdengar di telinganya. Andai saja. Mungkin saat ini ia tak akan pernah merasa sesakit ini. Ucapan itu berbanding terbalik dengan apa yang dirasakannya saat ini. Ia sudah terlanjur merasa sakit, hanya dengan satu kata maaf sepertinya tak akan pernah cukup untuk menyembuhkan luka dihatinya.

     Demi Tuhan, ia bukan tipe lelaki yang cengeng. Bukan tipe lelaki yang rela menangis hanya karena cinta. Namun justru karena itu, semua rasa sesak bergerumul di dalam dadanya, meminta untuk segera dikeluarkan. Ingin rasanya ia menghilangkan semua rasa sakit yang dirasanya, hanya saja ia tak bisa. Lelaki itu tak tahu bagaimana caranya menangis.

     Namjoon mencengkram sloki yang dipegangnya dengan sangat erat. Kalau saja ia bisa meminta, ia akan meminta Tuhan untuk mengangkat semua rasa sesak yang ada di hatinya. Ia ingin Tuhan mencabut ingatannya tentang hal yang membuatnya merasa terpuruk seperti ini. Terpuruk dalam jurang kesakitan paling dalam. Ia hanya ingin Tuhan mengembalikannya menjadi Namjoon yang dulu.

 

 

         *     *     *     *     *     *     *     *

 

 

Baby you should know you change all my negatives to positives

I know you got the thorns but I can see your rose

 

 

     Bel pulang telah berbunyi. Hampir semua murid di Victory High School serempak berhamburan keluar kelas, beberapa dari mereka ada yang berjalan sambil mengobrol dengan teman-temannya. Berbeda halnya dengan Namjoon, lelaki itu sudah berdiri tepat di depan kelas 2-1, menunggu seorang gadis keluar dari kelas itu. Gadisnya.

     Tak lama ia menunggu, gadis itu pun akhirnya keluar dari kelasnya. Sontak saja senyum Namjoon melebar, memperlihatkan dua lesung pipitnya yang dalam. Namjoon langsung merangkul pundak gadis itu, merengkuhnya dengan sebelah tangan, lalu mereka berdua pun berjalan menuju gerbang sekolah sambil sesekali Namjoon mengacak rambut gadis itu dengan lembut.

     Tanpa diketahui keduanya, ada dua orang murid yang berada cukup jauh dibelakanh mereka, tengah melihat adegan itu dengan tatapan iri.

     “Huaah, aku iri dengan Namjoon hyung. Aku juga ingin punya pacar.” kata Taehyung,-adik kelas sekaligus sahabat dekat Namjoon,-dengan tatapan sedih yang dibuat-buat.

     Sedangkan Jimin, lelaki yang berdiri di sebelah Taehyung juga mengatakan hal yang sama melalui matanya. Ia juga iri melihat sahabatnya itu memiliki kekasih.

     “Tapi kau sadar tidak? Semenjak berpacaran dengan Soojung noona, Namjoon hyung berubah menjadi lebih baik.

     Taehyung mengangguk setuju, “Ya, memang benar kan apa kata orang? Cinta bisa merubah segalanya. Tapi—-bukannya Soojungnoona baru saja putus dengan Yoongi sunbae dua bulan yang lalu? Sedangkan mereka berpacaran satu bulan setelahnya, apakah itu tidak terlalu cepat? Aku takut jika Namjoon hyung hanya dijadikan—–“

     “Eyyy, Kim Taehyung! Kau tidak boleh berpikiran macam-macam. Siapa tahu mereka memang saling mencintai, kan? Sudahlah, daripada sibuk mengurusi mereka lebih baik kau cari kekasih saja. Memangnya kau tidak bosan apa dengan statusmu yang tidak memiliki kekasih?”

     “Yak! Kau juga tidak memiliki kekasih Park Jimin! Jangan mengataiku seperti itu!” teriak Taehyung tak terima.

     Jimin hanya terkekeh geli. Mereka berdua masih berdiri di tempat sambil memerhatikan kedua punggung sepasang kekasih itu sampai keduanya menghilang di balik gerbang sekolah mereka. Tanpa sadar, keduanya ikut berangkulan seperti halnya Namjoon yang merangkul pundak Soojung.

 

 

         *     *     *     *   *   *     *     *

 

 

Because I will always stand under you, “under-stand

Holding you up like a piggyback ride I can’t do anything

An awkward smile has become my new habit

 

 

     “Soojung-ah, bagaimana kalau kita makan dulu sebelum pulang ke rumah? Kudengar ada sebuah restoran yang baru buka di dekat sini.” tawar Namjoon saat dirinya dan Soojung sedang menunggu bus yang akan membawa mereka pulang.

     “Tidak, aku ingin langsung pulang kerumah.” jawab Soojung dengan singkat.

     “Bagaimana kalau kita pergi ke taman kota? Langit sore terlihat cerah, pasti akan sangat indah jika kita bisa menikmatinya di taman.” tawar Namjoon lagi, belum menyerah untuk mengajak Soojung pergi.

   Lagi-lagi Soojung menjawabnya dengan singkat, “Tidak. Aku ingin segera pulang kerumah.”

     “Kau yakin tidak mau? Sayang sekali, padahal—-“

     Soojung menatap Namjoon dengan gusar, “Bukankah sudah ku bilang tidak? Aku ingin langsung pulang kerumah, Kim Namjoon!” katanya penuh dengan penekanan.

     Namjoon mengusap bagian belakang lehernya. Sebenarnya ia masih ingin berusaha agar Soojung menerima ajakannya. Tapi melihat wajah Soojung yang terlihat kesal maka Namjoon memutuskan untuk mengalah.

     Lelaki itu tersenyum tipis, ah tidak, tersenyum miris lebih tepatnya.

     “Ah, baiklah kalau begitu. Aku tidak akan memaksamu lagi.”

     Soojung hanya diam saja, tak menanggapi ucapan Namjoon. Wajahnya malah sudah beralih ke arah lain. Tak lama, sebuah bus muncul di hadapan mereka dan beberapa orang yang sudah menunggu di halte.

     Namjoon meraih tangan Soojung dan menggenggamnya dengan erat. Soojung masih diam saja sambil menggigit bibir bawahnya, meskipun di dalam hatinya terbersit sebuah perasaan. Tetapi bukan perasaan hangat seperti layaknya sepasang kekasih yang sedang berpegangan tangan, melainkan sebuah perasaan bersalah.

 

 

         *     *     *     *     *     *     *     *

 

 

Why am I looking for some excuses to call you?

Even worse than before we met each other, is

“boyfriend” not enough for you?

 

 

   Malam ini Namjoon tengah duduk sendirian di taman kota. Suasananya tak begitu ramai tapi juga tak terlalu sepi, membuatnya merasa nyaman. Ia sedang malas berada di rumah. Rumahnya selalu sepi. Orang tuanya selalu pulang bekerja pada larut malam. Jadi ia memutuskan untuk pergi ke taman. Andai saja Soojung ada di sisinya saat ini, menikmati keindahan taman bersama. Tapi gadis itu tak pernah mau jika diajak keluar pada malam hari olehnya. Entah apa alasanya.

     Akhirnya Namjoon memutuskan untuk menelepon kekasihnya itu. Hanya sekedar ingin mendengar suaranya.

     “Yeoboseyo?”

     Suara Namjoon langsung terdengar di telinga Soojung setelah ia menggeser tanda hijau pada layar handphonenya, ketika Namjoon menghubunginya.

     “Ada apa?” tanya Soojung, dengan nada datarnya seperti biasa.

     Terdengar helaan nafas diseberang telepon. Soojung tahu Namjoon tengah menghela nafasnya.

     “Aniya, aku hanya ingin mendengar suaramu.”

     Soojung merasakan Namjoon tersenyum ketika mengatakannya, meskipun ia tak melihatnya. Sebersit perasaan itu muncul kembali. Namun dengan cepat ia mengeyahkannya.

     “Hanya itu? Kalau tidak ada yang ingin kau bicarakan lagi, sebaiknya kau akhiri saja teleponnya. Kalau hanya ingin mendengar suaraku, kita bisa bertukar voice note lewat KakaoTalk, kan?”

     “Tapi Soojung—–“

     “Maafkan aku Kim Namjoon, sepertinya aku harus menutup telepon darimu. Sampai jumpa besok. Hm…. saranghae.”

     Klik! Soojung langsung mengakhiri percakapan mereka melalui telepon, tanpa menunggu Namjoon membalas ucapannya.

     “Nado saranghae, Soojung-ah..”

     Jeongmal saranghe. Namjoon tetap membalas ucapan itu meskipun Soojung sudah mematikan teleponnya. Sebenarnya ia tak ingin berpikiran seperti ini, hanya saja ia merasa saat Soojung mengucapkan kata ‘saranghae’ terdengar sangat ragu di telinganya.

     Sementara itu, Soojung masih terpaku dengan handphone yang masih tergenggam di tangannya. Ia tidak tahu mengapa kata terakhir yang ia ucapkan untuk Namjoon tadi terucap dengan ragu. Lagi-lagi terbersit perasaan bersalah dalam hatinya, terlebih saat ada lelaki lain yang tengah merangkul pundaknya dengan lembut.

 

 

         *     *     *     *   *     *     *     *

 

 

You don’t say things are good nor bad again

Am I moving too fast? Wrong things are just wrong

My one-sided love with a lover, I just want the passionate love

 

 

     Namjoon memutuskan untuk meninggalkan taman dan berjalan menyusuri jalan sambil menikmati indahnya malam yang bertabur begitu banyak bintang. Lelaki itu menghela nafasnya, entah mengapa ada sedikit rasa sesak saat Soojung memutuskan teleponnya begitu cepat. Namun ia tak mau berburuk sangka, siapa tahu gadis itu memang sedang tidak ingin diganggu.

     Namjoon berjalan dengan kedua tangannya yang diselipkan di kantung hoodie yang dikenakannya. Sesekali wajahnya mendongak menatap langit. Melihat bintang-bintang yang seolah-olah berkedip dan bermain mata dengannya. Tanpa sadar hal itu membuat Namjoon tersenyum, sedikit menghibur dirinya. Setidaknya malam ini ia tak benar-benar sendiri.

     Namjoon terus berjalan sambil menendangi batu kecil yang menghalangi jalannya dengan asal. Namun langkahnya terhenti saat ia melihat dua sosok yang sangat dikenalnya. Yang satunya merangkul dan yang satunya dirangkul. Entah apa yang dirasakan Namjoon saat ini, yang pasti kedua tangannya sudah terkepal dengan kuat. Kalau saja ia tak bisa menahan emosinya, bisa dipastikan ia akan mendaratkan bertubi-tubi pukulan pada wajah salah satu dari mereka. Namun segala rasa sakitnya, membuatnya tak mampu untuk melangkah. Namjoon tetap berdiri di tempat.

     Berdiri di tempat, melihat dua orang yang sedang berangkulan dengan erat dan tertawa riang. Seolah tak peduli dengan seseorang yang hancur melihat mereka bersama.

     Soojung dan Yoongi.

     Seharusnya Namjoon sadar, sedari awal Soojung memang tidak pernah bisa,-atau bahkan tidak pernah mau,- melupakan masa lalunya bersama lelaki itu.

 

 

         *     *     *     *     *     *     *     *

 

 

What you say ahh baby don’t you play

I’ll walk up even though you are a flame

So please don’t look at me like a stranger

It just reminds me of the time that I was nothing to you

 

 

     Namjoon tak langsung pulang kerumah, ia memilih untuk menunggu di depan rumah gadis itu. Ia menunggu dalam kegusaran. Ia tahu, tak seharusnya ia kesini. Meskipun semuanya sudah sangat jelas untuknya, ia ingin mendengar semua penjelasan dari mulut gadis itu.

     Tangan Namjoon masih terkepal kuat, tubuhnya yang terasa bergetar ia senderkan ke dinding yang ada di dekat pagar rumah gadis itu. Ia merutuki kebodohannya selama ini. Ia bersikap seolah-olah tidak mengetahui apa yang sebenarnya dirasakan Soojung. Ia berpura-pura tidak peka. Padahal sudah sangat jelas Soojung tak pernah membalas perasaannya. Gadis itu yang selalu bersikap dingin kepadanya, gadis itu yang tak pernah mau diajak pergi olehnya, gadis itu yang selalu menghindar setiap kali ia mencoba untuk menghubunginya.

     Ya, Soojung tak pernah sedikitpun membalas perasaannya, meskipun gadis itu telah menerima cintanya waktu itu. Namjoon tertawa miris, baru menyadari selama ini ia hanya dikasihani. Soojung menerima cintanya pasti hanya karena tak tega untuk menolak.

     Tiba-tiba ada sepasang kaki yang mendekat ke arah Namjoon. Lelaki itu mendongakkan kepala, seketika pandangannya bertemu dengan tatapan terkejut dari gadis itu. Soojung, ia tak menduga bahwa Namjoon ada di depan rumahnya saat ini. Sontak gadis itu menggigit bibir bawahnya. Keadaan Namjoon saat ini terlihat sangat jauh dari kata baik. Rahang yang mengeras, kedua tangan yang mengepal kuat dan mata tajamnya menuntut penjelasan.

     “Darimana kau?” tanya Namjoon dengan nada dingin.

     Soojung tersentak kaget, baru kali ini ia mendengar Namjoon bertanya dengan nada sedingin itu. Bahkan lebih dingin daripada yang sering ia tujukan kepada lelaki itu. Soojung menelan ludahnya dengan susah payah, sebelum bicara.

     “K-kau se-sejak kapan disini?” tanya Soojung dengan terbata. Entah dimana sikap dinginnya selama ini, sekarang malah ia tak berani untuk membalas tatapan tajam Namjoon.

     “JANGAN MENJAWAB PERTANYAANKU DENGAN PERTANYAAN, HWANG SOOJUNG! AKU BERTANYA, KAU DARIMANA?!”

     Kini Namjoon benar-benar tak bisa menahan emosinya. Ia bahkan tak peduli jika tetangga Soojung merasa terganggu oleh teriakannya. Gadis itu menutup matanya, sambil menahan nafas. Sungguh, ia sangat takut dengan sosok Namjoon saat ini.

     “Maafkan aku, Kim Namjoon. Aku– a-aku—-“

     “Sebenarnya kau ini menganggapku apa, huh?! Siapa aku buatmu?!” Suara Namjoon sudah melunak, namun masih terdengar dingin dan tajam.

 

What am I to you, girl? What am I to you?

I do love you crazy huh do you?

 

     Soojung kembali menahan nafasnya. Pertanyaan Namjoon yang satu itu benar-benar menohok hatinya. Tepat mengenai sasaran, pusat dari segala rasa bersalahnya pada lelaki itu selama ini. Mungkin ini saatnya ia mengatakan yang sejujurnya, meskipun ia akan menyakiti hati lelaki itu nantinya. Tapi sudah terlanjur, lelaki itu sudah tersakiti sedari awal.

     “Maaf. Aku tak bermaksud menyakitimu.”

     Malah kalimat itu yang keluar dari mulut Soojung, membuat Namjoon mencengkram kedua bahu gadis itu dengan sangat kuat. Soojung sampai harus menahan sakit akibat cengkraman itu.

     “JAWAB PERTANYAANKU, HWANG SOOJUNG! SEBENARNYA KAU MENGANGGAPKU APA?! SIAPA AKU BAGIMU?”

     Namjoon mengguncang kedua bahu itu, emosinya benar-benar tidak dapat ditahan. Bahkan semua amarahnya menutupi perasaan cintanya kepada gadis itu. Soojung menghela nafas sekali lagi, mencoba untuk meyakinkan dirinya sendiri bahwa ini adalah waktu yang tepat. Ia sudah tidak bisa lagi membohongi perasaannya dan lelaki itu. Ia juga sudah siap menerima apapun yang terjadi setelah kejadian ini.

     Soojung membuka matanya, lalu membalas tatapan Namjoon dengan lekat. Ada pancaran rasa bersalah dari kedua mata gadis itu.

   “Maafkan aku, Kim Namjoon. Selama ini, aku—aku hanya menganggapmu sebagai pelarianku saja.”

 

 

FIN

 

 

 

 

Hello ismomos here~ I’m sorry if I make a bad story, but I’ve tried my best. I hope you like it. Dont forget to comment ya, readers. Enjoy!:)

About fanfictionside

just me

8 thoughts on “FF oneshot/ WAIT YOU (WHAT AM I TO YOU)/ BTS-BANGTAN

  1. Imiiiii, kenapa nyesek lagi? Huwaaaaa..

    Yaampun, kasihan Namjoon.. Apa gini ya rasanya kalo gak dicintai sama pacar?
    Aduh..
    Kok aku jadi nganu ya.. Hahaha..

    What am i to you? Pelarian mas.. Maaf.. *ajak Namjoon ke tempat rukiyah*

    ada typo tadi, alasanya..harusnya alasannya kan?
    Oke fighting imi^^

  2. Huuaaaaaaa galau banget ffnyaa T.T Kasian babang namjoon😥
    Sama aku aja sini bang, aku akan mencintaimu sepenuh hati *ditabok jiminsuga*
    Keren ffnya thor, sukses bikin aku galau ><
    Keep writing thor… fighting!!^^

  3. parah bangetkaaaan tapi ini keren bangeeet. aku baca sambil denger lagunya, makin sakit ajaahikks.
    tapi ini bagus bgt,berasa bgt jugaa. ngena deh ngenaa.

  4. Ah keren abis pemilihan katanya aku iri;;/? Eydnya juga oke bgtttt. Ampe gabisa berkata-kata:”) aduh aku ngefans nih sm tulisan kamu u.u
    Keep writing yaa~

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s